Rumah Tuhan

Minggu Biasa ke-33 – 17 November 2019 – Lukas 21: 5-9

church in tacloban

Pada masa pemerintahan Herodes Agung, Bait Allah di Yerusalem diperbaharui, dihiasi oleh emas dan batu-batu mulia lainnya, diperluas, dan dengan demikian menjadikannya sebagai kebanggaan bangsa Yahudi. Namun, Bait Allah itu bukan hanya bangunan yang megah, tetapi terutama pusat ibadah agama Yahudi. Setiap pagi dan sore, korban dipersembahkan, dan setiap tahun, orang-orang Yahudi dari seluruh dunia melakukan ziarah ke Bait ini, dan memberi penghormatan kepada Tuhan Allah. Itu adalah tempat di mana Allah memilih untuk tinggal, tempat di mana orang Israel bertemu dengan Allah mereka, dan ini adalah rumah Allah.

Melihat pemandangan Bait Allah yang agung, banyak orang akan percaya bahwa Bait Allah itu akan bertahan selamanya karena Allah Sendiri akan mempertahankan rumah-Nya. Namun, Yesus bernubuat dan memberi tahu para murid-Nya bahwa Bait Allah yang indah ini akan dihancurkan. Tentunya, kata-kata Yesus menyinggung banyak orang Yahudi pada zaman-Nya dan salah satu tuduhan terhadap Yesus adalah Yesus berbicara menghujat Bait Allah, yang berarti melawan Allah Sendiri. Namun, 40 tahun kemudian setelah Yesus diangkat ke Surga, pada tahun 70 Masehi, orang-orang Romawi di bawah komando Jenderal Titus, membakar Bait Allah dan menghancurkan kota Yerusalem sampai rata dengan tanah.

Nubuat Yesus membuka kita pada kebenaran mendalam bahwa bahkan Allah mengizinkan rumah-Nya di dunia dihancurkan. Hagia Sophia di Konstantinopel (sekarang Istanbul) adalah gereja termegah di abad ke-4 dan ke-5 dan dianggap sebagai keajaiban arsitektur. Namun, ketika Konstantinopel jatuh ke tangan orang Turki, gereja ini berhenti berfungsi sebagai tempat ibadah Kristiani. Pada zaman kita, Katedral Notre Dame adalah bangunan Gotik ikonis di jantung kota Paris. Namun, pada 15 April 2019, api menghancurkan banyak bagian bangunan suci ini. Baru bulan ini, beberapa gereja di Chili menjadi sasaran para demonstran yang melakukan kekerasan. Mereka dengan paksa memasuki gereja-gereja, mengambil bangku dan benda-benda religius lainnya, dan membakar mereka di luar gereja, belum lagi, penodaan terhadap tabernakel. Rumah-rumah Tuhan telah menjadi objek vandalisme, brutalitas, dan kehancuran yang tak terhitung, dan Tuhan mengizinkan hal-hal ini terjadi di tengah-tengah kita. Tapi kenapa? Apakah Tuhan cukup lemah untuk menghentikan ini terjadi? Apakah Tuhan tidak peduli? Sudahkah Tuhan meninggalkan kita?

Gereja-gereja sebagai rumah Allah melambangkan iman kita. Serangan terhadap Gereja berarti serangan terhadap iman kita yang berharga. Jika Tuhan membiarkan rumah-Nya dihancurkan, Tuhan juga mengizinkan iman kita ditantang, dikejutkan, dan diguncang. Tuhan mengizinkan pencobaan menerpa hidup kita, keraguan atas iman kita, dan kegelapan untuk menyelimuti visi kita. Tapi kenapa?

Ketika api yang membakar Gereja Notre Dame padam, banyak hal telah hilang, tetapi di pusat Gereja, satu benda selamat dari nyala api yang menyala-nyala: salib besar berdiri tegak. Tuhan membiarkan rumah-Nya hancur, dan iman kita terguncang untuk menunjukkan kepada kita apa yang benar-benar penting dalam hidup dan perjalanan iman kita. Hanya Tuhan. Hal-hal yang kita bangun untuk Tuhan atau pekerjaan dan misi untuk-Nya, bahkan talenta, karisma, dan buah doa kita, dapat diambil oleh Tuhan dari kita. Ini memang penting, tetapi ini tidak kekal. Hanya satu yang kekal yakni Tuhan saja. Tuhan membiarkan kita terguncang sehingga kita dapat menemukan-Nya lagi, secara mengejutkan lebih hidup dan semakin dekat.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Like Angels

32nd Sunday in Ordinary Time – November 10, 2019 – Luke 20:27-38

In today’s Gospel, the Sadducees attempt to test Jesus. Sadducees are a religious faction in first-century Judaism, but unlike the popular Pharisees, they only hold Torah as the only valid source of Jewish religious teachings and practices, and refuse the writings of the prophets, the wisdom books, and later traditions. One of their main doctrines is that they do not believe in the resurrection of the body. Jesus and the Pharisees though always in debate, share in a common fundamental belief in the bodily resurrection. Thus, to ridicule this kind of belief, the Sadducees are using the practice of the levirate marriage. In the Law of Moses, there is a practice to secure the bloodline and inheritance of a man who does not have any offspring. As a solution, the brothers or relatives of the deceased man will marry the widow and produce offspring on his behalf. Then, the Sadducees move to checkmate position. “In the resurrection, whose husband, this woman be?”

However, the Sadducees forget that nobody could win against Jesus in a debate. Jesus thoroughly destroys their plot by revealing what will happen in heaven: we will be like the angels. Who are these angels? Angel or “angelos” in Greek means the messenger. This points to their function, but their true nature is spirit. As a spirit, they have no physical body, and because of this, they are no longer bonded into the limitations of the body. They have no sexual desire or any desire, and therefore, they are not multiplying like humans. What attracts spirit is only a spiritual thing, and since God is the most perfect spirit [John 4:24], only God can give them perfection.

To be like angels in heaven is our destiny. One day, Mother Angelica, the founder of EWTN, talked with two men who had many titles behind their names, and they are proud of those achievements. Yet, during the conversation, they were amazed by Mother Angelica’s wisdom and serenity. She reminded them that the most important title is not what placed behind their names, but one put before their names, and this only has two letters: St. or Saint.

Our journey in this earth only makes sense if we are marching toward a destination beyond this world, and Jesus has pointed out to us that this goal is something spiritual, life like angels. Thus, it is important for us to examine our lives whether we are preparing ourselves every day to life like angels, or we keep ourselves busy with this earthly life. How we are going to prepare ourselves? We give more time to the spiritual things as well as spiritual aspects of our lives. Do we pray enough? Do we worship God often? Do we consult the Holy Spirit in our decision in our lives? Do we read Bible regularly? Do we spend quality time with Jesus? Do we help and love others sincerely?

It is important to remember that our God is the God of the living, thus our lives continue even beyond death. Thus, the kind of life we live here on earth will simply continue to the next life. If we live like an angel in heaven even now in earth, we will not have problem to adjust in the next life. Heaven starts here and now.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Seperti Malaikat

Minggu ke-32 dalam Masa Biasa – 10 November 2019 – Lukas 20: 27-38

angel n manDalam Injil hari ini, orang-orang Saduki berusaha untuk menguji Yesus. Saduki adalah faksi religius dalam agama Yahudi pada zaman Yesus, tetapi tidak seperti orang-orang Farisi yang populer, kaum Saduki hanya memegang Taurat sebagai satu-satunya sumber yang sah dari ajaran dan praktik keagamaan Yahudi, dan menolak tulisan para nabi, dan tradisi selanjutnya. Salah satu doktrin utama mereka adalah bahwa mereka tidak percaya pada kebangkitan badan. Meskipun, Yesus dan orang-orang Farisi selalu berdebat, Yesus dan orang Farisi berbagi kepercayaan dasar yang sama tentang kebangkitan tubuh. Dengan demikian, untuk menyangkal kepercayaan ini, orang Saduki menggunakan Hukum Taurat untuk membuat malu Yesus. Dalam Hukum Taurat, ada praktik untuk mengamankan garis keturunan dan warisan seorang pria yang tidak memiliki keturunan. Sebagai solusi, saudara-saudara lelaki yang meninggal akan menikahi jandanya dan diharapkan memperoleh keturunan bagi sang saudara yang telah meninggal. Kemudian, para Saduki mengajukan kesimpulan seolah-olah kebangkitan badan tidak masuk akal. “Dalam hari kebangkitan, siapakah yang menjadi suami istri ini?”

Namun, orang Saduki lupa bahwa tidak ada yang bisa menang melawan Yesus dalam debat. Yesus benar-benar menghancurkan argumentasi mereka dengan mengungkapkan apa yang akan terjadi di surga: kita akan menjadi seperti para malaikat. Siapakah malaikat ini? Malaikat atau “angelos” dalam bahasa Yunani berarti pembawa pesan. Ini menunjuk pada fungsi mereka, tetapi kodrat sejati mereka adalah roh. Sebagai roh, mereka tidak memiliki tubuh fisik, dan karena itu, mereka tidak lagi terikat pada keterbatasan tubuh. Mereka tidak memiliki hasrat seksual atau keinginan apa pun, dan karena itu, mereka tidak berkembang biak seperti manusia. Yang dapat menarik roh hanyalah hal rohani, dan karena Allah adalah roh yang paling sempurna [Yoh 4:24], hanya Allah yang dapat memberi mereka kesempurnaan.

Menjadi seperti malaikat di surga adalah tujuan akhir kita. Suatu hari, Sr. Angelica, pendiri EWTN (Eternal Word Television Network), berbincang-bincang dengan dua pria yang memiliki banyak gelar, dan mereka bangga dengan prestasi itu. Namun, selama percakapan, mereka kagum dengan kebijaksanaan dan ketenangan Sr. Angelica. Dia mengingatkan mereka bahwa gelar yang paling penting bukanlah yang diletakkan di belakang nama mereka, tetapi yang diletakkan di depan nama mereka, yakni Santo atau Santa

Perjalanan kita di bumi ini hanya masuk akal jika kita berziarah menuju tujuan di luar dunia ini, dan Yesus telah menunjukkan kepada kita bahwa tujuan ini adalah sesuatu yang spiritual, hidup seperti malaikat. Karena itu, penting bagi kita untuk memeriksa kehidupan kita apakah kita mempersiapkan diri kita setiap hari untuk hidup seperti malaikat, atau malah kita masih sibuk dengan kehidupan duniawi ini. Bagaimana kita akan mempersiapkan diri kita? Apakah kita memberi lebih banyak waktu untuk hal-hal rohani maupun aspek spiritual kehidupan kita? Apakah kita memiliki waktu berdoa? Apakah kita sering menyembah Tuhan? Apakah kita berkonsultasi dengan Roh Kudus dalam mengambil keputusan kita? Apakah kita membaca Alkitab secara teratur? Apakah kita menghabiskan waktu berkualitas bersama Yesus? Apakah kita membantu dan mengasihi sesama dengan tulus?

Penting untuk diingat bahwa Allah kita adalah Allah yang hidup, sehingga hidup kita terus berlanjut bahkan setelah kematian. Dengan demikian, jenis kehidupan yang kita jalani di dunia ini akan berlanjut ke kehidupan selanjutnya. Jika kita hidup seperti malaikat bahkan sekarang di bumi, kita tidak akan memiliki masalah untuk menyesuaikan dalam kehidupan selanjutnya. Surga dimulai di sini dan sekarang.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Zacchaeus the Tax Collector

31st Sunday in Ordinary Time [C] – November 3, 2019 – Luke 19:1-10

zacchaeus 1In the time of Jesus, there are at least two kinds of taxes. The first tax goes to the Temple of Jerusalem. This is a “sacred tax”. Those who collect them are performing a sacred duty, and those who pay are fulfilling their due to God. Yet, the second tax is exacted by the Roman government. In order to effectively get the taxes, the Romans employs the local collaborators. The Jews are heavily burdened by this tax because they are unjustly hefty, and often collected by coercion. The Jews understandably loathe those Jewish tax collectors who willingly betray their own people and are involved in greedy malpractices. These are the worst sinners, unclean, corrupt and traitors.

Certainly, Joseph, Mary and Jesus as a poor family, are having a difficult time to pay taxes themselves, and perhaps, fall victims to greedy tax collectors. However, despite this bitter reality, Jesus has a different attitude towards tax collectors. He is known to be the friends of tax collectors and sinners [Mat 11:19]. He shares his table with tax collectors [Luk 5:30]. He presents the tax collector as the protagonist in his parable, while the Pharisee as the bad guy [Luk 18:9ff]. One of His disciples, Matthew, is used to be a tax collector before he leaves everything and follows Jesus.

Today, we listen to the story of Zacchaeus, not ordinary tax collector, but the chief. Despite his high position and richness, he is a small stature. Thus, people look down on him both in a physical and religious sense. Yet, Jesus does something remarkable: He takes the initiative to look upon Zacchaeus who climbs the sycamore tree, calls him by name, and gets Himself invited to Zacchaeus’ house. This is unthinkable: the God-man calls and enters the house of the number-one public enemy in town. We notice that Jesus does not perform any earth-shattering miracles, but Jesus’ simple and loving gesture touches deeply Zacchaeus’ heart. Right there and then, he repents and ready to repair the damages he causes. Jesus declares, “Today salvation has come to this house (Lk. 19:2).”

What Jesus does deeply disturb the minds of orthodox Jews who prefer to distance themselves from the sinners, to avoid the contamination. Thus, they jeer at Jesus. Yet, Jesus takes the opposite direction: to enter the house and share a table even with the worst kind of sinners, chief tax collector, for one reason: “For the Son of Man has come to seek and to save what was lost.” (Lk. 19:10).

The Gospel offers us two attitudes towards our brothers and sisters who are struggling in their lives. We can choose whether like the crowd, to distance ourselves, and let them rot in hell, and even discourage any effort to embrace them, or like Jesus to takes the initiative to help them, even with simple gestures. It is true that when we open ourselves, there is no guarantee that our effort will be successful, and sometimes, we will get betrayed and hurt. Mother Teresa of Calcutta took care hundreds of homeless, but some of them turned against her and threw nasty gossips, and yet Mother Teresa continued to serve till the end of her life. Jesus has made His choice, so also many of His followers, now the choice is ours to make.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Zakheus, sang Pemungut Cukai

Minggu Biasa ke-31 [C] – 3 November 2019 – Lukas 19:1-10

zacchaeus 2Pada zaman Yesus, setidaknya ada dua jenis pajak atau cukai. Pajak pertama adalah untuk Bait Allah di Yerusalem. Ini adalah “pajak suci”. Mereka yang memungutnya melakukan tugas mulia, dan mereka yang membayar memenuhi kewajibannya kepada Allah. Namun, pajak kedua dibebankan oleh pemerintah Romawi. Untuk mendapatkan pajak secara efektif, orang-orang Romawi mempekerjakan kolaborator lokal. Orang-orang Yahudi sangat terbebani oleh pajak ini karena sangat berat, tidak adil, dan dengan paksaan. Orang-orang Yahudi pada umumnya tentu saja membenci para pemungut pajak Yahudi yang dengan sukarela mengkhianati rakyatnya sendiri dan terlibat dalam praktik korupsi yang tamak. Ini adalah pendosa terburuk, karena najis, korup dan pengkhianat.

Tentu saja, Yusuf, Maria dan Yesus sebagai keluarga miskin, mengalami kesulitan untuk membayar pajak sendiri, dan mungkin, menjadi korban pemungut pajak yang rakus ini. Namun, terlepas dari kenyataan pahit ini, Yesus memiliki sikap yang berbeda terhadap pemungut pajak. Ia dikenal sebagai sahabat para pemungut cukai dan pendosa [Mat 11:19]. Dia berbagi mejanya dengan pemungut cukai [Luk 5:30]. Ia menghadirkan pemungut pajak sebagai protagonis dalam perumpamaannya [Luk 18: 9 dst]. Salah satu murid-Nya, Matius, pernah juga menjadi pemungut pajak sebelum dia meninggalkan segalanya dan mengikuti Yesus.

Hari ini, kita mendengarkan kisah Zakheus, bukan pemungut pajak biasa, tetapi kepala kantor pajak di kota besar Yeriko. Meskipun posisinya tinggi dan kaya, ia memiliki perawakan kecil. Jadi, orang memandang rendah dia baik secara fisik maupun agama. Namun, Yesus melakukan sesuatu yang luar biasa: Dia berinisiatif untuk memandang Zakheus yang memanjat pohon ara, memanggilnya dengan nama, dan mengundang diri-Nya ke rumah Zakheus. Ini tidak terpikirkan: Yesus memanggil dan memasuki rumah musuh publik nomor satu di kota. Kita memperhatikan bahwa Yesus tidak melakukan mukjizat yang menghancurkan bumi, tetapi gerakan sederhana dan penuh kasih dari Yesus menyentuh hati Zakheus. Di sana dan kemudian, dia bertobat dan siap untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkannya. Yesus menyatakan, “Hari ini keselamatan telah datang ke rumah ini (Luk 19: 2).”

Apa yang Yesus lakukan sangat mengganggu pikiran orang Yahudi ortodoks yang lebih suka menjauhkan diri dari orang berdosa, untuk menghindari kenajisan. Karena itu, mereka bersungut-sungut. Namun, Yesus mengambil arah yang berlawanan: untuk memasuki rumah dan berbagi meja bahkan dengan orang yang paling berdosa sakali pun, kepala pemungut pajak, untuk satu alasan: “Karena Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Luk. 19:10).

Injil menawarkan kita dua sikap terhadap saudara dan saudari kita yang bergulat dalam kehidupan mereka. Kita dapat memilih seperti kerumunan, untuk menjauhkan diri dari mereka, dan membiarkan mereka hilang, dan bahkan mencegah segala upaya untuk merangkul mereka, atau seperti Yesus untuk mengambil inisiatif untuk membantu mereka, bahkan dengan tindakan-tindakan yang sederhana. Memang benar bahwa ketika kita membuka diri, tidak ada jaminan bahwa upaya kita akan berhasil, dan kadang-kadang, kita akan dikhianati dan terluka. Bunda Teresa dari Kalkuta merawat ratusan tunawisma, tetapi beberapa dari mereka berbalik menyerangnya dan melemparkan gosip bahwa ia hanya mencari ketenaran sendiri. Inilah pilihan Yesus, inilah pilihan yang perlu kita buat.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

External and Internal

30th Sunday in Ordinary Time [October 27, 2019] Luke 18:9-14

pharisee n tax collectorIn Jesus’ time, they were several Jewish religious groups and one of them is the Pharisees. These are the people who love the Lord and devoutly observe the Law of Moses and the traditions of the elders even in their daily lives. Thus, Jewish people regard them as righteous because they are faithful to the Law, and pious because they pray often. Many Pharisees turn to be the caretakers of the local synagogues and zealously teach the Law during Sabbath days. No wonders, the Jewish people offer the Pharisees the best places in the worship places and the parties. The leaders are called the Rabbis or teachers.

In contrast, we have tax collectors. This is the profession that most Jews hate at least for two reasons. Firstly, tax collectors tend to corrupt by demanding more than what is due. Secondly, the tax collectors work for the Roman Empire, a gentile and oppressive nation. This makes them both sinners and unclean.

When Jesus presents these two characters in His parable, His Jewish listeners immediately see that the Pharisee is the good guy and the tax collector is the bad guy. The Temple of Jerusalem consists of several courts, from the Holy of Holies going out to the court of the Gentiles. The Pharisee as a devout and clean Israelite will pray at the inner court of the Temple, closer to the sanctuary. While the tax collector is standing perhaps at the court of the Gentiles, where the unclean people and sinners are allowed to get closer.

However, Jesus once again twists the minds of His listeners. The tax collector comes up as the hero of the story, as God hears his prayers and accepts his sincere repentance.

Before God, we are judged not so much by external appearance and social standing, but primarily by internal disposition, by faith. The Pharisee is full of himself and doing nothing but praying to himself [see verse 11]. How can a person pray to himself? He boastfully compares himself with others and puts down others. This is not a prayer, but rather a litany of self-praise. But, the tax collector in all humility recognizes himself as a sinner and asks nothing but God’s mercy.

Appearances and social standing do not guarantee our holiness, and this has a massive implication in our daily lives. We cannot simply judge that a priest who celebrates the mass, who stands on the sanctuary, is holier than an ordinary man who prays at last pew of the Church. We cannot judge a woman who visits the adoration chapel and recite the rosary every day is holier than a woman who has no time to visit the Church because she has to work hard to feed her children. We cannot judge that a man who is active in the parish is holier than a man who is inside the jail. In the first place, it is not our duty to judge others’ holiness. If we are busy judging others, we are no different from the Pharisee in the story who even prays to himself.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Eksternal dan Internal

Minggu ke-30 dalam Waktu Biasa [27 Oktober 2019] Lukas 18: 9-14

pharisee n tax collector 2Pada zaman Yesus, ada beberapa kelompok di dalam agama Yahudi dan salah satunya adalah orang-orang Farisi. Inilah orang-orang yang mencintai Tuhan dan dengan taat mematuhi Hukum Musa dan tradisi para penatua bahkan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Jadi, orang Yahudi menganggap mereka sebagai orang benar karena mereka setia kepada Hukum, dan saleh karena mereka sering berdoa. Banyak orang Farisi menjadi pengurus sinagoga dan dengan tekun mengajarkan Hukum saat hari-hari Sabat. Tidak heran, orang-orang Yahudi memberikan kepada orang-orang Farisi tempat-tempat terbaik di tempat-tempat ibadah dan pesta-pesta, dan memanggil beberapa dari mereka sebagai Rabi atau guru.

Sebaliknya, ada juga sang pemungut cukai. Ini adalah profesi yang dibenci oleh kebanyakan orang Yahudi setidaknya karena dua alasan. Pertama, pemungut cukai cenderung korup dengan menuntut lebih dari yang seharusnya. Kedua, para pemungut cukai bekerja untuk Kekaisaran Romawi, sebuah bangsa kafir dan penindas. Ini membuat mereka berdosa dan najis.

Ketika Yesus menampilkan dua karakter ini dalam perumpamaan-Nya, para pendengar yang adalaha orang Yahudi-Nya segera melihat bahwa orang Farisi adalah orang baik dan pemungut cukai adalah orang jahat. Bait Allah Yerusalem terdiri dari beberapa lapisan, dari tempat yang  Mahakudus di pusat Bait Allah, dan yang paling luar adalah tempat bagi bangsa-bangsa yang bukan Yahudi. Orang Farisi sebagai orang Israel yang saleh dan bersih, akan berdoa di dalam Bait Suci, lebih dekat ke tempat kudus. Sementara pemungut pajak berdiri mungkin di tempat yang ditujukan bagi mereka yang bukan orang Yahudi, di mana orang-orang najis dan orang berdosa diijinkan untuk lebih dekat.

Namun, Yesus sekali lagi memelintir pikiran para pendengar-Nya. Pemungut cukai muncul sebagai pahlawan dalam cerita ini, ketika Tuhan mendengar doanya dan menerima pertobatannya yang tulus.

Di hadapan Tuhan, kita dihakimi bukan karena penampilan luar dan kedudukan sosial, tetapi terutama oleh disposisi internal, iman kita. Orang Farisi penuh dengan dirinya sendiri dan tidak melakukan apa-apa selain berdoa kepada dirinya sendiri [lihat ayat 11]. Bagaimana seseorang bisa berdoa pada dirinya sendiri? Dia dengan sombong membandingkan dirinya dengan orang lain dan menjatuhkan orang lain. Ini bukan doa, melainkan litani pujian diri. Tapi, pemungut cukai dalam segala kerendahan hati mengakui dirinya sebagai orang berdosa dan tidak meminta apa pun selain belas kasih Tuhan.

Penampilan dan kedudukan sosial tidak menjamin kekudusan kita, dan ini memiliki implikasi besar dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita tidak bisa begitu saja menilai bahwa seorang imam yang merayakan misa, yang berdiri di tempat kudus, lebih suci daripada seorang bapak yang berdoa di bangku terakhir Gereja. Kita tidak dapat menilai seorang wanita yang mengunjungi adorasi kapel dan berdoa rosario setiap hari lebih suci daripada seorang wanita yang tidak memiliki waktu untuk rajin ke Gereja karena dia harus bekerja keras untuk memberi makan anak-anaknya. Kita tidak dapat menilai bahwa seorang pria yang aktif di paroki lebih suci daripada seorang pria yang berada di dalam penjara. Pertama, itu bukan tugas kita untuk menilai kekudusan orang lain. Jika kita sibuk menilai orang lain, kita tidak berbeda dengan orang Farisi dalam cerita yang bahkan berdoa untuk dirinya sendiri.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus, Women, and Perseverance

29th Sunday in Ordinary Time [C] – October 20, 2019 [Luke 18:1-8]

widowsThe widows are one of the most disfranchised groups in ancient Israel. In those times, women, in general, were considered to be less human. Every time a Jewish man in first-century Palestine woke up, he would pray and thank the Lord for he was not born as a Gentile, a slave or a woman. Often, women were treated as the properties of the patriarchs. While adult men were working outside the house, women were expected to stay behind to take care of the children and the household. Since many women were supported by their husbands, being a widow means loss of both financial foothold and honor. They were lucky if they had mature sons who would take care of them, but those widows without sons were the most pitiful.

However, Jesus comes to bring a fresh air of transformation. Especially, the Gospel of Luke, Jesus allows women to seize the center stage, and be protagonists. Jesus calls both men and women to follow Him and become His disciples. Jesus even allows Himself to be supported by the women [Luk 8:1]. Jesus has a close friendship with Martha and Mary [Luk 10:38-42]. Jesus places women as the main character of his parables like the story of the lost coin [Luk 15:8-10]. Today’s parable is even mind-blogging. Jesus presents a widow, representing the weakest group in the Jewish community, who is persistently pushing her cause against a corrupt judge, the most powerful person in the society. Beyond any expectation, the widow won her cause!

From this parable, we may learn several lessons. Firstly, the key to success is perseverance. While the context of our parable is on how we to pray, the value of perseverance can be applied also in many aspects of our life, like study, work, friendship, relationship, family life, and happiness. If we want to succeed, we need to be persistence and persevering. There is a saying attributed to Thomas Edison, “Success is one percent of inspiration, and ninety-nine perspiration.” Another one is by Isaac Newton, “If I have ever made any valuable discoveries, it has been owing more to patient attention, than to any other talent.” However, the problem with this view is that it is all about my persistence, my success, my glory. It is just too narrow and self-centered.

The second lesson we can draw from this parable is that Jesus empowers the women of His time and allows them to take leading roles. By doing this, Jesus introduces a wider understanding of salvation. When we encounter the word “salvation”, the first that comes to our mind is the salvation from sin, from sickness or from evil spirits. While this understanding is true, it does not capture the bigger mission of Jesus. Salvation also means to lead back into God’s original plan for the world. In the beginning, men and women were created equal in dignity despite their different roles and characters. It was because of sin that men and women were facing each other as enemies. Jesus is building the Kingdom of God, where men and women become truly the image of God. Yet, this is not easy because it is not only about our individual success and happiness. Thus, we need a lot of perseverance because if we want to follow Jesus and His mission of the Kingdom for all, we need to go even against our own selfish interest.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus, Perempuan dan Ketekunan

Minggu ke-29 dalam Masa Biasa [C] – 20 Oktober 2019 [Lukas 18: 1-8]

persistent widowPara janda adalah salah satu kelompok yang paling terpinggirkan di Israel kuno. Pada masa itu, wanita pada umumnya dianggap sebagai manusia yang lebih rendah. Setiap kali seorang pria Yahudi di Palestina abad pertama bangun, dia akan berdoa dan bersyukur kepada Tuhan karena dia tidak dilahirkan sebagai orang bukan Yahudi, budak atau wanita. Seringkali, perempuan diperlakukan sebagai properti para kepala keluarga. Sementara para pria dewasa bekerja di luar rumah, para perempuan diharapkan tetap tinggal untuk menjaga anak-anak dan rumah. Karena banyak perempuan yang tergantung pada suami mereka, menjadi janda berarti kehilangan pijakan ekonomi dan kehormatan. Mereka beruntung jika mereka memiliki putra yang dewasa yang akan merawat mereka, dan ini membuat para janda tanpa putra adalah yang paling menyedihkan.

Namun, Yesus datang untuk membawa angin segar perubahan. Terutama, di Injil Lukas, Yesus mengizinkan perempuan untuk berada di panggung utama, dan menjadi protagonis. Yesus memanggil pria dan wanita untuk mengikuti-Nya dan menjadi murid-Nya. Yesus bahkan membiarkan diri-Nya didukung oleh para wanita [Luk 8: 1]. Yesus memiliki persahabatan dekat dengan Marta dan Maria [Luk 10: 38-42]. Yesus menempatkan perempuan sebagai karakter utama dari perumpamaan-perumpamaannya seperti kisah koin yang hilang [Luk 15: 8-10]. Perumpamaan hari ini bahkan sangat mengejutkan. Yesus menghadirkan seorang janda, yang mewakili kelompok terlemah dalam komunitas Yahudi, yang terus-menerus berurusan dengan hakim yang korup, yang sejatinya adalah orang yang paling kuat di masyarakat. Tanpa disangka, janda itu memenangkan perjuangannya!

Dari perumpamaan ini, kita dapat melihat beberapa nilai. Pertama, kunci kesuksesan adalah ketekunan. Sementara konteks perumpamaan kita adalah tentang bagaimana kita berdoa, nilai ketekunan dapat diterapkan juga dalam banyak aspek kehidupan kita, seperti belajar, bekerja, persahabatan, relasi, keluarga dan kebahagiaan. Jika kita ingin sukses, kita harus gigih, tekun, dan ulet. Ada pepatah yang berasal dari Thomas Alva Edison, “Sukses adalah satu persen inspirasi, dan sembilan puluh sembilan keringat.” Perkataan bijak lain adalah oleh Isaac Newton, “Jika saya pernah membuat penemuan berharga, itu lebih karena perhatian dan kesabaran, daripada talenta-talenta yang lain.” Namun, permasalahan dengan pandangan ini adalah bahwa ini semua tentang kegigihan saya, kesuksesan saya, kemuliaan saya. Itu terlalu sempit dan egois.

Pelajaran kedua yang dapat kita ambil dari perumpamaan ini adalah bahwa Yesus memberdayakan para perempuan pada zaman-Nya dan memungkinkan mereka untuk mengambil peran utama. Dengan melakukan ini, Yesus memperkenalkan pemahaman yang lebih luas tentang arti keselamatan. Ketika kita berhadapan dengan kata “keselamatan”, hal pertama yang muncul di pikiran kita adalah keselamatan dari dosa, dari penyakit atau dari roh jahat. Sementara pemahaman ini benar, ini tidak mewakili misi Yesus yang lebih besar. Keselamatan juga berarti mewujudkan kembali ke rencana awal Allah bagi dunia. Pada awalnya, laki-laki dan perempuan diciptakan setara dalam martabat meskipun peran dan karakter mereka berbeda. Karena dosa laki-laki dan perempuan saling berhadapan sebagai musuh. Yesus sedang membangun Kerajaan Allah, di mana pria dan wanita benar-benar menjadi gambar Allah. Namun, ini tidak mudah karena ini bukan hanya tentang kesuksesan dan kebahagiaan individu kita. Karena itu, kita membutuhkan banyak ketekunan karena jika kita ingin mengikuti Yesus dan misi Kerajaan-Nya bagi semua orang, kita perlu melawan kepentingan egois kita sendiri.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Suffering and God’s Way

28th Sunday of the Ordinary Time – October 13, 2019 – Luke 17:11-19

Jesus_Mafa_Healing_of_LeperSuffering, sickness, and death do not care whether you are Jews or Samaritans, whether you are rich or poor, whether you are old or young. When it strikes, it strikes. In time of Jesus, leprosy or Hansen’s disease was still one of most dreadful sicknesses. It ate you your skin and made you ugly. It is highly contagious, and thus, cut you from your community. It was incurable and thus brought you a slow and agonizing death.

While it is true, and we thank God, that leprosy is now curable, humanity continues to battle with deadly diseases that bring untold suffering and death. When I was still in a brother in the formation, he was assigned to the hospital in Manila to be a chaplain. My duty was to accompany those people who were struggling with terrible sickness. Some were battling cancers and they had to endure painful chemotherapy. Some were having kidney failures and had to patiently undergo hemodialysis. Some were helpless victims of HIV and had to bear various complications.

I never forgot to meet one young man in that hospital. We just call him John. He was a new college graduate, and he had high hopes for his future life. Yet, all were changed when just several weeks after his graduation, he was diagnosed with cancer, stage 3. Thus, to survive he must take up severe medication like surgery and chemotherapy. In the hospital, I learned how painful chemotherapy was and there was no assurance that the treatment would succeed. In fact, it may destroy the body in the process. He lost his hair, he lost his appetite, and every time he tried to eat, he would throw up. He became terribly weak and sickly.

One day, I decided to visit him and had a little chat. I was expecting a very depressing case, but to my surprise, he said that he was doing fine and in fact grateful. Initially, I thought the medication was working, but it was not really the case. I was confused with his answer. In dealing with patients with grave sickness, the chaplains were told about the five stages of grieving: denial, anger, bargaining, depression, and acceptance. Nowhere in the process, a sick person will be grateful. Yet, John was thankful for his condition. Why?

When I asked further, I heard an unforgettable answer. He said that in his sickness and suffering, he discovered what is truly important and indispensable in his life. He learned how the love of his parents made his life more meaningful. He saw how God has given life that is simple and yet totally free. A very breath, a very heartbeat, a very memory is precious gift from God. He cannot but be grateful for simple blessings from God, despite his deadly sickness.

John teaches me that suffering is sometimes God’s way to remind us to discover what is truly essential in our life. When we are suffering, we realize our beautiful bodies are no longer important, our richness is empty, and our ambitions are just like passing air. We thank the Lord that we are not suffering like John, but we do not have to wait until we get sick, to find the essentials. The time is now and the place is here.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP