Jesus and Mary, our Wedding Guests

Second Sunday in Ordinary Time [C}

January 19, 2025

John 2:1-12

In every wedding, we naturally expect the bridegroom and bride to take center stage. After all, it is their marriage—their happiest moment. However, the story of the wedding at Cana in Galilee offers us a different perspective, one that is often overlooked. What is it?

The wedding at Cana is not primarily about the bride and groom. Surprisingly, their names are never mentioned, and they barely feature in the story. The only time the bridegroom is mentioned is when he is praised for providing an abundant supply of high-quality wine. Instead, this Gospel account focuses on Jesus and His interaction with Mary, His mother. It reveals a deeper truth about Christian marriages that transcends the visible celebration.

The story begins with an introduction: Jesus’ mother, Jesus Himself, and His disciples are invited to the wedding. This detail carries profound significance. Whom do we invite to our wedding? Too often, we focus only on ourselves—preparing the venue, planning ceremonies and programs, selecting food, and choosing the perfect wedding attire. We become preoccupied with pleasing relatives, friends, and guests. But do we make it a priority to invite Jesus and His mother to our wedding?

Many of us might respond, “Yes! We invite Jesus to our wedding because it takes place in the Church!” Yet, is Jesus truly present in our hearts? For some, the wedding is held in a church simply because we happen to be Catholic. Others choose a church wedding for its beauty or prestige. Many attend pre-marriage catechetical courses merely out of obligation, complying with diocesan requirements to secure a church wedding. But how many of us make a conscious and heartfelt effort to truly invite Jesus to our wedding? Do we spiritually prepare for the sacrament through retreats or confession? Do we ask for His grace and guidance as we embark on this sacred journey?

The story of the wedding at Cana also highlights Mary’s unique role. She notices the wine is running out and alerts Jesus to the problem. After a brief exchange, she instructs the servants: “Do whatever He tells you.” This leads to Jesus performing His first miracle. These events reveal Mary’s deep involvement in the wedding. She is not just an ordinary guest; she has access to the inner workings of the household and is aware of the practical needs, such as the shortage of wine. Instead of informing the bridegroom or his family, she turns to Jesus. Out of love for His mother, Jesus uses the simple resources available—water—and transforms them into the finest wine.

This truth is both profound and beautiful. If we want the “best wine” in our marriage, it is essential not only to invite Jesus and Mary to our wedding day but to welcome them into our “kitchen,” and to allow them to be involved in everyday moments of our lives. The Gospel reminds us that the best wine comes from ordinary water. In the same way, the greatest blessings in marriage often arise from simple, unseen acts of love for our spouse and children.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Reflection Questions

Have we truly invited Jesus and Mary into our marriage, family, and daily lives? Do we recognize Jesus working miracles in our marriages? Have we entrusted our marriage and family to the care of Mary?

Yesus dan Maria, Tamu Pernikahan Kita

Minggu Kedua dalam Masa Biasa [C]
19 Januari 2025
Yohanes 2:1-12

Dalam setiap pernikahan, kita tentu mengharapkan mempelai pria dan wanita menjadi pusat perhatian. Bagaimanapun juga, ini adalah pernikahan mereka – momen paling membahagiakan bagi mereka. Namun, kisah pernikahan di Kana di Galilea menawarkan perspektif yang berbeda, yang sering kali diabaikan. Apakah itu?

Pernikahan di Kana bukan tentang kedua mempelai. Bahkan, nama mereka tidak pernah disebutkan, dan mereka hampir tidak muncul dalam cerita. Satu-satunya momen mempelai pria disebutkan adalah ketika dia dipuji karena menyediakan anggur berkualitas tinggi yang melimpah. Sebaliknya, kisah Injil ini berfokus pada Yesus dan interaksi-Nya dengan Maria, ibu-Nya. Kisah ini mengungkapkan kebenaran yang lebih dalam tentang pernikahan Kristiani yang sering kali tidak terlihat oleh mata.

Kisah ini dimulai dengan sebuah pengantar: Ibu Yesus, Yesus sendiri, dan para murid diundang ke pesta pernikahan. Detail ini memiliki makna yang mendalam. Siapa yang kita undang ke pesta pernikahan kita? Terlalu sering, kita hanya berfokus pada diri kita sendiri-mempersiapkan tempat, merencanakan acara, memilih makanan, dan memilih pakaian pernikahan yang sempurna. Kita menjadi sibuk untuk menyenangkan kerabat, teman, dan tamu. Namun, apakah kita memprioritaskan untuk mengundang Yesus dan ibu-Nya dalam pernikahan kita?

Banyak dari kita mungkin menjawab, “Ya! Kami mengundang Yesus ke pernikahan kami karena pernikahan kami dilangsungkan di Gereja!” Namun, apakah Yesus benar-benar hadir di dalam hati kita? Bagi sebagian orang, pernikahan diadakan di gereja hanya karena kita beragama Katolik. Yang lainnya memilih pernikahan di gereja karena keindahan atau prestisenya. Banyak yang mengikuti kursus persiapan pernikahan hanya karena kewajiban, memenuhi persyaratan keuskupan untuk mendapatkan izin pernikahan di gereja. Namun, berapa banyak dari kita yang secara sadar dan sepenuh hati berusaha untuk benar-benar mengundang Yesus dalam pernikahan kita? Apakah kita mempersiapkan diri secara rohani retret atau pengakuan dosa sebelum menerima sakramen pernikahan? Apakah kita memohon rahmat dan bimbingan-Nya saat kita memulai perjalanan sakral ini?

Kisah pernikahan di Kana juga menyoroti peran Maria yang unik. Dia menyadari bahwa anggur hampir habis dan memberitahukan Yesus tentang masalah tersebut. Setelah berdiskusi singkat, dia menginstruksikan para pelayan: “Lakukanlah segala sesuatu yang diperintahkan-Nya kepadamu.” Kemudian Yesus melakukan mukjizat-Nya yang pertama. Peristiwa ini menunjukkan keterlibatan Maria yang mendalam dalam pernikahan tersebut. Ia bukan hanya seorang tamu biasa; ia memiliki akses ke dalam kehidupan rumah tangga dan mengetahui kebutuhan praktis, seperti kekurangan anggur. Alih-alih memberi tahu mempelai pria atau keluarganya, ia justru berpaling kepada Yesus. Karena kasih-Nya kepada ibu-Nya, Yesus menggunakan sumber daya sederhana yang tersedia – air – dan mengubahnya menjadi anggur terbaik.

Kebenaran ini sangat dalam dan indah. Jika kita menginginkan “anggur terbaik” dalam pernikahan kita, penting untuk tidak hanya mengundang Yesus dan Maria ke hari pernikahan kita, tetapi juga menyambut mereka di “dapur” kita, dan mengizinkan mereka untuk terlibat dalam momen-momen keseharian dalam hidup kita. Injil mengingatkan kita bahwa anggur terbaik berasal dari air biasa. Dengan cara yang sama, berkat terbesar dalam pernikahan sering kali muncul dari tindakan kasih yang sederhana dan tak terlihat bagi pasangan dan anak-anak kita.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi
Apakah kita sudah sungguh-sungguh mengundang Yesus dan Maria ke dalam pernikahan, keluarga, dan kehidupan kita sehari-hari? Apakah kita menyadari bahwa Yesus telah melakukan mukjizat dalam pernikahan kita? Sudahkah kita mempercayakan pernikahan dan keluarga kita dalam pemeliharaan Maria?

What is Baptism?

The Baptism of the Lord [C]

January 12, 2025

Luke 3:15–16, 21–22

Jesus began His public ministry after being baptized by John the Baptist. Similarly, we start our new lives as God’s children and begin following Jesus on His path of the cross through baptism. But what exactly is baptism, and why is it associated with the beginning of something so important?

Jewish Ritual Purity

The Greek word “βαπτίζειν” (baptizein) originally means “to dip into water” or “to wash with water.” In the Old Testament, particularly in the Septuagint (the Greek translation of the Old Testament), βαπτίζειν refers to the rite of purification (e.g., Judith 12:7). What is this rite of purification in the Old Testament? To understand it, we need to recognize that ancient Israel adhered to the concept of ritual purity or cleanliness.

Although not strictly moral in nature, the purity laws were integral to the Torah. These laws determined whether a Jew was ritually clean or unclean. When Jews were considered “pure,” they could enter holy places like the Temple in Jerusalem to offer sacrifices. Offering sacrifices enabled them to worship the Lord God and receive blessings, such as the forgiveness of sins and communion with God and fellow believers.

A Jew could become impure through physical contact with various things, such as: dead bodies, bodily discharges (e.g., menstrual blood, male semen), certain animals (e.g., pigs, camels, or specific insects), and skin diseases. If they became impure, they needed to perform a ritual cleansing, typically by washing with water (βαπτίζειν). Thus, the purity laws ensured that they approached the holy place worthily.

John’s Baptism

John the Baptist introduced a significant shift. His baptism was no longer a ritual of purification but a symbolic gesture of repentance. For John, what mattered was not being ritually clean but living morally upright lives before the Lord. Thus, it was meaningless to undergo ritual cleansing while continuing to live in sin.

John told his followers that he baptized with water as a symbol of repentance, but someone greater than him would come to baptize with the Holy Spirit and fire. What does it mean to be baptized “in the Holy Spirit and fire”? Throughout Church history, this phrase has been interpreted in various ways: St. John Chrysostom taught that Jesus’ baptism refers to Pentecost, where the Holy Spirit descended like fire and filled Jesus’ disciples with various graces. Origen, on the other hand, argued that baptism in the Holy Spirit is for those who believe and repent, while baptism in fire is for those who refuse to believe and repent.

The Church’s Teaching on Baptism

Although interpretations differ, it is important to receive Jesus’ baptism, and Jesus baptizes us through His body, the Church. Thus, sacramental baptism performed by the Church, comes from Jesus and is essential for salvation (1 Peter 3:21). It imparts sanctifying grace upon the soul (2 Peter 1:4) and transforms us, empowering us to live as children of God. Unlike John’s baptism, which was an external sign of repentance, Jesus’ baptism—administered through His Church—truly transforms our souls and enables us to live worthily in God’s grace.

Addendum: Does Baptism Always Mean Full Immersion?

The word βαπτίζειν in the Bible does not always imply full-body immersion. For instance, in Mark 7:4–8, βαπτίζειν is used to describe ritual washing of specific body parts, such as hands, or even the washing of utensils. The Catholic Church teaches that baptism is valid whether performed by full immersion or by pouring water on the head (Catechism of the Catholic Church 1239–1240).

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Reflection and Guide Questions

Have you received Jesus’ baptism performed through His Church? Do you encourage your family members, relatives, and friends to be baptized? Are you aware of the extraordinary graces we receive through baptism? Do you live out the spirit of your baptism in daily life?

Apakah yang dimaksud dengan Pembaptisan?

Pembaptisan Tuhan [C]

12 Januari 2025

Lukas 3:15-16, 21-22

Yesus memulai misi pewartaan-Nya setelah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Demikian pula, kita memulai kehidupan baru kita sebagai anak-anak Allah dan mengikuti Yesus di jalan salib-Nya melalui sakramen baptis. Namun, apakah sebenarnya baptisan itu, dan mengapa pembaptisan dikaitkan dengan permulaan dari sesuatu yang begitu penting?

Ritual Kemurnian Yahudi

Kata Yunani “βαπτίζειν” (baptizein) pada mulanya berarti “mencelupkan ke dalam air” atau “membasuh dengan air.” Dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani, kata βαπτίζειν merujuk pada ritual pemurnian atau pentahiran (lih. Yudit 12:7). Apakah ritual pentahiran dalam Perjanjian Lama ini? Untuk memahaminya, kita perlu menyadari bahwa Israel kuno menganut hukum tahir-najis.

Meskipun tidak sepenuhnya bersifat moral, hukum tahir-najis merupakan bagian integral dari Taurat. Hukum ini menentukan apakah seorang Yahudi secara ritual murni/tahir atau najis. Ketika orang Yahudi dianggap “tahir”, mereka dapat memasuki tempat-tempat suci seperti Bait Allah di Yerusalem untuk mempersembahkan kurban. Dengan mempersembahkan kurban, mereka dapat menyembah Tuhan Allah dan menerima berkat-berkat, seperti pengampunan dosa dan persekutuan dengan Allah dan sesama.

Seorang Yahudi dapat menjadi najis melalui kontak fisik dengan berbagai hal, seperti: jenazah, cairan tubuh (misalnya, darah menstruasi, air mani pria), hewan tertentu (misalnya, babi, unta, atau serangga tertentu), dan beberapa penyakit kulit. Jika mereka menjadi najis, mereka harus melakukan ritual pentahiran, biasanya dengan membasuh dengan air (βαπτίζειν). Dengan demikian, hukum tahir-najis memastikan bahwa mereka dapat memasuki tempat kudus dengan layak.

Pembaptisan Yohanes

Yohanes Pembaptis memperkenalkan sebuah perubahan yang signifikan. Pembaptisannya (pembasuhan dengan air) bukan lagi sebuah ritual pentahiran tetapi sebuah simbol pertobatan. Bagi Yohanes, yang terpenting bukanlah menjadi bersih atau tahir secara ritual tetapi hidup bermoral benar di hadapan Tuhan. Dengan demikian, tidak ada artinya menjalani ritual pentahiran sementara terus hidup dalam dosa.

Yohanes mengatakan kepada para pengikutnya bahwa ia membaptis dengan air sebagai simbol pertobatan, tetapi seseorang yang lebih besar darinya akan datang untuk membaptis di dalam Roh Kudus dan api. Apa artinya dibaptis “dalam Roh Kudus dan api”? Sepanjang sejarah Gereja, frasa ini mendapatkan banyak tafsiran. St. Yohanes Krisostomus mengajarkan bahwa baptisan Yesus merujuk pada Pentakosta, di mana Roh Kudus turun seperti api dan memenuhi para murid Yesus dengan berbagai rahmat. Origen, di sisi lain, berpendapat bahwa baptisan dalam Roh Kudus adalah untuk mereka yang percaya dan bertobat, sementara baptisan dalam api adalah untuk mereka yang menolak untuk percaya dan bertobat.

Ajaran Gereja tentang Pembaptisan

Meskipun penafsirannya berbeda-beda, sangat penting untuk menerima baptisan Yesus, dan Yesus membaptis kita melalui tubuh-Nya, Gereja. Dengan demikian, sakramen baptis  yang dilakukan oleh Gereja, berasal dari Yesus dan penting untuk keselamatan (1 Pet 3:21). Baptisan ini juga memberikan rahmat pengudusan kepada jiwa (2 Pet 1:4) dan mengubah dan memberdayakan kita untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Tidak seperti baptisan Yohanes, yang merupakan tanda pertobatan secara eksternal, baptisan Yesus – yang diberikan melalui Gereja-Nya – benar-benar mengubah jiwa kita dan memampukan kita untuk hidup layak di hadapan Allah.

Tambahan: Apakah Pembaptisan Selalu Berarti ditenggelamkan?

Kata βαπτίζειν dalam Alkitab tidak selalu berarti seluruh tubuh masuk air. Sebagai contoh, dalam Markus 7:4-8, βαπτίζειν digunakan untuk menggambarkan ritual pembasuhan bagian tubuh tertentu, seperti tangan, atau bahkan pembasuhan perkakas. Gereja Katolik mengajarkan bahwa pembaptisan adalah sah baik dilakukan dengan memasukkan seluruh tubuh ke dalam air atau dengan menuangkan air ke kepala (KGK 1239-1240).

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi dan Panduan

Sudahkah kita menerima baptisan Yesus yang dilakukan melalui Gereja-Nya? Apakah kita mendorong anggota keluarga, kerabat, dan teman-teman untuk dibaptis? Apakah kita menyadari rahmat yang luar biasa yang kita terima melalui baptisan? Apakah kita menghidupi semangat baptisan kita dalam kehidupan sehari-hari?

Jesus, Our King

Solemnity of Christ the King [B]

November 24, 2024

John 18:33b-37

In today’s world, the concept of kingship might feel weird and even obsolete. Many of us live in democratic societies, where we elect persons we like to be our leaders and choose someone else when we feel they are no longer fit for the office. We value our freedom and ensure our leaders will not take our freedom. The pomp and grandeur of royalty—palaces, castles, robes, and noble ceremonies—are often viewed as relics of the past. Yet, as Christians, we are called to reflect on and embrace the kingship of Jesus. How can we truly appreciate Jesus’ identity as our King?

First, Jesus, the King who serves. Yes, Jesus is King, but unlike any other. Gabriel, the archangel, announced his royal birth, “He will reign over the house of Jacob forever, and of his kingdom there will be no end (Luk 1:33).” Yet, Jesus revealed how He was going to be a king, “For the Son of Man came not to be served but to serve, and to give his life a ransom for many (Mar 10:45).” Here, the roles are reversed. Instead of demanding service from His subjects, Jesus serves His people with unparalleled humility. His ultimate act of service was offering Himself on the cross for our salvation. Even now, as the risen King in heaven, Jesus continues to serve by interceding for us before the Father (Heb 7:25).

Second, Jesus, the King of the universe. Though Jesus was born as a Jew and prophesied as the Messiah of Israel, His dominion is universal. After His resurrection, Jesus told His disciples, “All authority in heaven and earth has been given to me. (Mat 28:18)” Jesus is not only King of all men but also of all things. From the biggest stars to the smallest sub-atomic particle and even realities that modern science has yet to discover, all are within His governance and providence. Not only visible realities but also invisible beings are under Jesus. Then again, since Jesus’ kingship is about service, Jesus also serves all things by sustaining their existence, otherwise, all things will collapse to nothingness.

Third, Jesus is our King. Jesus’ kingship is not distant or abstract—it is deeply personal. As the King of all creation, He governs everything for our good because He knows and loves each of us dearly. The intricate design of the universe, from the laws of physics to the fine-tuned conditions that allow life on earth, reflects His loving care. Our bodies, composed of countless atoms and cells, are held together under His command. The visible cosmos and even spiritual beings are under His commands to protect and lead us to true happiness.

While we are often consumed with our daily concerns, the King is taking care of us through His governance of the universe, both visible and invisible. His kingship is nothing but love, service and care.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for reflections:

What is your concept of a king? Do you see Jesus as a king? What kind of King? Or, are you more comfortable with other titles of Jesus, such as the good shepherd? Do we follow Jesus our King? How do we serve our King? Do we obey Him, or do we rebel against Him? Do we also care for other creations because they serve the same King as us? Do we thank the angels for guarding us?

Yesus, Raja Kita

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam [B]

24 November 2024

Yohanes 18:33b-37

Di zaman sekarang, konsep raja mungkin terasa aneh dan bahkan ketinggalan zaman. Banyak dari kita hidup dalam masyarakat yang demokratis, di mana kita memilih orang-orang yang kita sukai untuk menjadi pemimpin kita, dan memilih yang lain ketika kita merasa bahwa mereka tidak lagi cocok untuk memimpin. Kemegahan dan keagungan kerajaan-istana, benteng, jubah, dan upacara-upacara kebangsawanan-sering kali dipandang sebagai peninggalan masa lalu. Namun, Gereja memanggil kita untuk merenungkan dan menerima Yesus sebagai Raja. Bagaimana kita dapat benar-benar menghargai identitas Yesus sebagai Raja kita?

Pertama, Yesus adalah raja yang melayani. Ya, Yesus adalah raja, tetapi tidak seperti raja-raja lainnya. Gabriel, sang malaikat agung, mengumumkan kelahiran-Nya sebagai raja, “Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan (Luk. 1:33).” Namun, Yesus menyatakan bagaimana Dia akan menjadi raja, “Karena Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mar 10:45).” Alih-alih menuntut pelayanan dari umat-Nya, Yesus melayani umat-Nya dengan kerendahan hati yang luar biasa. Tindakan pelayanan-Nya yang paling utama adalah mengorbankan diri-Nya di kayu salib demi keselamatan kita. Bahkan sekarang, sebagai Raja yang telah bangkit di surga, Yesus terus melayani dengan menjadi pengantara kita di hadapan Bapa (Ibr. 7:25).

Kedua, Yesus, raja semesta. Meskipun Yesus dilahirkan sebagai seorang Yahudi dan dinubuatkan sebagai Mesias Israel, kekuasaan-Nya bersifat universal. Setelah kebangkitan-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. (Matius 28:18)” Yesus bukan hanya raja atas semua manusia, tetapi juga atas segala sesuatu. Dari bintang terbesar hingga partikel sub-atom terkecil, dan bahkan realitas yang belum ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern, semuanya berada dalam pemerintahan dan penyelenggaraan-Nya. Tidak hanya realitas yang terlihat, tetapi juga makhluk-makhluk yang tidak terlihat juga berada di bawah kekuasaan Yesus. Kemudian, karena kerajaan Yesus adalah tentang pelayanan, maka Yesus juga melayani segala sesuatu dengan melestarikan keberadaan mereka, jika tidak, segala sesuatu akan runtuh menuju ketiadaan.

Ketiga, Yesus adalah Raja kita. Kerajaan Yesus tidaklah jauh atau abstrak, tetapi sangat personal. Sebagai Raja atas segala ciptaan, Dia mengatur segala sesuatu untuk kebaikan kita karena Dia mengenal dan mengasihi kita masing-masing. Desain alam semesta yang rumit, dari hukum fisika hingga kondisi yang disesuaikan dengan baik yang memungkinkan kehidupan di Bumi, mencerminkan perhatian-Nya yang penuh kasih. Bahkan tubuh kita sendiri, yang terdiri dari atom dan sel yang tak terhitung jumlahnya, disatukan di bawah perintah-Nya. Tidak hanya alam semesta yang terlihat, bahkan makhluk-makhluk spiritual pun berada di bawah perintah-Nya untuk melindungi dan menuntun kita menuju kebahagiaan sejati.

Sementara kita sering kali sibuk dengan urusan sehari-hari, sang Raja memelihara kita melalui pemerintahan-Nya atas seluruh alam semesta, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Pemerintahan-Nya sebagai raja tidak lain adalah kasih, pelayanan dan perhatian.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Apa konsepmu tentang seorang raja? Apakah kamu melihat Yesus sebagai seorang raja? Raja yang seperti apa Dia itu? Atau, apakah kamu lebih nyaman dengan sebutan lain Yesus seperti gembala yang baik? Apakah kita mengikuti Yesus sebagai Raja kita? Bagaimana kita melayani Raja kita? Apakah kita menaati-Nya, atau kita memberontak terhadap-Nya? Apakah kita juga menjaga ciptaan lain karena mereka melayani Raja yang sama seperti kita? Apakah kita berterima kasih kepada para malaikat yang telah menjaga kita?

We and the Saints

33rd Sunday in Ordinary Time [B]
November 17, 2024
Mark 13:24-32

When someone asks if we want to go to heaven, we quickly say, “Yes!” But if asked if we want to become saints, our enthusiasm often fades. This is surprising because everyone in heaven is a saint. To be a saint means to be in heaven. So why do we separate the idea of heaven from being a saint?

At least, there are three reasons:

  1. Misunderstanding the Catholic Faith: Some of us may not fully understand our faith. We might think there are two groups in heaven: well-known saints like the Blessed Mother, St. Joseph, St. Dominic, and St. Francis, and a second group of non-saints. We assume saints are only those who have been officially recognized and celebrated with feast days. But this is not true. All people in heaven are saints, even if we don’t know their names. That’s why we celebrate All Saints’ Day, honoring every person who by God’s grace has reached heaven. One of those saints could be a relative or ancestor!
  2. Thinking It’s Too Hard to Be a Saint: We read stories about saints and feel like we could never be as good as them. Saints seem perfect—extremely lovely, always praying, and some even performed miracles. And martyrs faced painful deaths for their faith. This level of holiness feels impossible for us because we are aware of our weaknesses and sins. But here’s the truth: saints didn’t become holy by their efforts alone; they depended on God’s grace. They were imperfect humans, like all of us, who allowed God’s love to transform them.
  3. Fear of Death: We might think that becoming a saint means we must die first, and we do not want to die! However, not all death is physical and biological. We need to die also to ourselves. This means letting go of worldly attachments and sinful desires.

In today’s Gospel, Jesus speaks about His return in glory and the signs that will come before it—darkened skies, a dim moon, and falling stars. This can mean the end of an era or even the end of the world. Yet, this can also tell us a deeper lesson: the world we know is temporary, destructible, and if we cling too tightly to it, we will lose everything. We need to choose: will we die to this world and live for God, or die with this world, and losing God.

We ask God to help us dying to ourselves, letting go of the world, and live more for Christ. Then, whenever Jesus comes, we will be ready to stand before Him, truly alive, just like the saints in heaven.

Rome

Valentinus B. Ruseno, OP

Questions for Reflection:

What do we think heaven is like? How do we view the saints and their roles in our lives? Do we want to become saints, or are we too attached to the world? What are the things we cling to in this life? How are we preparing for Jesus’ coming?

Kita dan Para Kudus

Minggu ke-33 dalam Masa Biasa [B]

17 November 2024

Markus 13:24-32

Ketika seseorang bertanya apakah kita ingin masuk surga, kita dengan cepat menjawab, “Ya!” Namun, jika ditanya apakah kita ingin menjadi santo atau santa, antusiasme kita sering kali memudar. Hal ini mengejutkan karena semua orang di surga adalah orang kudus. Menjadi santo-santa berarti berada di surga! Jadi mengapa kita memisahkan gagasan tentang surga dengan menjadi orang kudus?

Setidaknya, ada tiga alasan:

  1. Kesalahpahaman akan Iman Katolik: Beberapa dari kita mungkin tidak sepenuhnya memahami iman kita. Kita mungkin berpikir bahwa ada dua kelompok di surga: orang-orang kudus yang terkenal seperti Bunda Maria, Santo Yosef, Santo Dominikus, dan Santo Fransiskus, dan kelompok kedua adalah mereka yang bukan orang kudus. Kita menganggap orang-orang kudus hanyalah mereka yang telah dikanonisasi (diakui secara resmi) dan memiliki hari-hari peringatan pada kalender liturgi Gereja. Namun, hal ini tidaklah benar. Semua orang di surga adalah orang-orang kudus, bahkan jika kita tidak mengetahui nama-nama mereka. Itulah mengapa kita merayakan Hari Semua Orang Kudus, untuk menghormati setiap orang yang karena rahmat Allah telah mencapai surga. Salah satu orang kudus itu bisa jadi adalah kerabat atau leluhur kita!
  2. Ide bahwa Terlalu Sulit untuk Menjadi Orang Kudus: Kita membaca kisah-kisah tentang orang-orang kudus dan merasa bahwa kita tidak akan pernah bisa sebaik mereka. Orang-orang kudus tampak sempurna, sangat baik, selalu berdoa, dan beberapa bahkan melakukan mukjizat. Dan bahkan para martir menghadapi kematian yang sangat kejam karena iman mereka. Tingkat kekudusan ini terasa mustahil bagi kita karena kita sadar akan kelemahan dan dosa-dosa kita. Tetapi sejatinya, orang-orang kudus tidak menjadi kudus karena usaha mereka sendiri; mereka bergantung pada rahmat Allah. Mereka adalah manusia yang tidak sempurna, sama seperti kita semua, namun mengizinkan kasih Allah untuk mengubah mereka.
  3. Takut akan Kematian: Kita mungkin berpikir bahwa menjadi orang kudus berarti kita harus mati terlebih dahulu, dan kita tidak ingin mati! Namun, tidak semua kematian itu terjadi secara biologis. Kita juga harus mati atas diri kita sendiri. Ini berarti melepaskan keterikatan duniawi dan hasrat-hasrat dosa kita.

Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara tentang kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan dan tanda-tanda yang akan terjadi sebelum kedatangan-Nya, langit menjadi gelap, bulan dan matahari yang redup, dan bintang-bintang yang berjatuhan. Hal ini dapat berarti akhir dari sebuah era atau bahkan akhir dari dunia. Namun, hal ini juga dapat memberikan pelajaran yang berharga: dunia yang kita kenal ini bersifat sementara, akan hancur, dan jika kita berpegang teguh padanya, kita juga akan hancur dan kehilangan segalanya. Kita harus memilih: apakah kita akan mati bagi dunia ini dan hidup untuk Tuhan, atau mati bersama dunia ini dan kehilangan Tuhan.

Kita memohon kepada Tuhan untuk menolong kita mati bagi diri kita sendiri, melepaskan dunia, dan hidup lebih bagi Kristus. Sehingga, kapan pun Yesus datang, kita akan siap untuk berdiri di hadapan-Nya, benar-benar hidup, seperti orang-orang kudus di surga.

Roma

Valentinus B. Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk Refleksi:

Seperti apakah surga itu? Bagaimana kita memandang orang-orang kudus dan peran mereka dalam hidup kita? Apakah kita ingin menjadi orang kudus, atau kita terlalu melekat pada dunia? Hal-hal apakah yang kita lekatkan dalam hidup ini? Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk kedatangan Yesus?

The Faith of the Poor Widow

32nd Sunday in Ordinary Time [B]

November 10, 2024

Gospel: Mark 12:38-44

In the Gospel of Mark, Jesus commends a poor widow who gives her last two small coins to the Temple. He points out why her act is so remarkable: “Out of her poverty, she gave everything she had, all she had to live on” (Mark 12:44). Jesus admires her because, despite her extreme poverty, she displays extraordinary generosity. But there’s a deeper message here. What is it?

We need to ask, “Why is this widow poor?” In Jesus’ time, widows were among the most vulnerable, especially if they had no family to support and protect them. Because of this, God instructed the Israelites to care for widows (see Deu 14:29 and Isa 1:17). Yet, in this Gospel passage, there is a clue to why this widow has been pushed into poverty. Before praising the widow, Jesus condemns the scribes not just for seeking popularity, but for a more sinister reason, “They devour widows’ houses” (Mark 12:40).

How did the scribes take advantage of widows? There are a few possibilities:

Firstly, Abuse of Legal Authority. The scribes, experts in Jewish law, were trusted as legal advisors or trustees, especially for widows who needed help managing their affairs after their husbands’ death. Afterall, these scribes were men of God! Sadly, some of them abused this trust, using their legal knowledge to manipulate proceedings for personal gain, sometimes even committing fraud.

Secondly, Predatory Lending. Some scribes engaged in predatory lending practices. Under the guise of providing financial help, they would lend money to widows and gradually entrap them in severe debt. When the widows couldn’t repay these debts, they were forced to give up their homes and possessions, ultimately becoming destitute.

While we don’t know the exact way the widow in this story was exploited, we do know she suffered injustice. Despite this, her response is remarkable. Instead of feeling embittered or blaming God, she remains generous and devoted. Even in her suffering, she loves God with all her heart, strength, and life. Why? Because her faith rests in God Himself, not in flawed human representatives like the scribes. While people can fail or act unjustly, God does not. She believes God is watching her, and indeed, Jesus is watching her actions and recognizing her faith and sacrifice.

This story opens our eyes to harsh realities that can exist even within religious institutions. Yet, the widow’s example also teaches us how to respond to these challenges without losing our faith.

Reflection Questions:

Do we help bring people closer to God, or do we push them away? Do we use our position and knowledge to assist others or to take advantage of them? When bad things happen, do we blame God or maintain our trust in Him? Do we stand against injustice and wrongdoing within our communities and Church, or do we remain silent?

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Iman Janda yang Miskin

Hari Minggu ke-32 dalam Masa Biasa [B]

10 November 2024

Markus 12:38-44

Dalam Injil Markus, Yesus memuji seorang janda miskin yang memberikan dua peser uang terakhirnya ke Bait Allah. Dia menunjukkan mengapa tindakan janda itu begitu luar biasa: “Janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh hidupnya.” (Markus 12:44). Yesus mengaguminya karena, meskipun sangat miskin, dia menunjukkan kemurahan hati yang luar biasa. Tetapi ada pesan yang lebih dalam di sini. Apakah itu?

Kita perlu bertanya, “Mengapa janda ini miskin?” Pada zaman Yesus, para janda termasuk golongan yang paling rentan, terutama jika mereka tidak memiliki keluarga yang mendukung dan melindungi mereka. Karena itu, Allah memerintahkan bangsa Israel untuk memperhatikan para janda (lihat Ul. 14:29 dan Yes. 1:17). Namun, dalam perikop Injil ini, ada petunjuk mengapa janda ini jatuh miskin. Sebelum memuji janda tersebut, Yesus mengecam ahli-ahli Taurat bukan hanya karena mereka mencari popularitas, tetapi karena sesuatu yang lebih jahat, “Mereka menelan rumah-rumah janda” (Mrk. 12:40).

Bagaimana para ahli Taurat mengeksploitasi para janda? Ada beberapa kemungkinan:

Pertama, Penyalahgunaan Otoritas Hukum. Para ahli Taurat, sesuai gelarnya adalah ahli dalam hukum dan implementasi hukum Musa atau Taurat. Oleh karena itu, mereka dipercaya sebagai penasihat hukum atau bahkan wali, terutama bagi para janda yang membutuhkan bantuan untuk mengatur urusan mereka setelah kematian suami mereka. Bagaimanapun juga, para ahli Taurat ini adalah hamba-hamba Allah! Sayangnya, beberapa dari mereka menyalahgunakan kepercayaan ini, menggunakan pengetahuan hukum mereka untuk memanipulasi proses hukum demi keuntungan pribadi, bahkan melakukan penipuan.

Kedua, Pinjaman berbunga tinggi. Beberapa ahli Taurat terlibat dalam praktik pinjaman dengan bunga tinggi. Dengan kedok memberikan bantuan keuangan, mereka meminjamkan uang kepada para janda dan secara bertahap menjebak mereka dalam utang yang sangat besar. Ketika para janda tidak dapat melunasi utang-utang tersebut, mereka terpaksa menyerahkan rumah dan harta benda mereka, yang pada akhirnya menjadi miskin.

Meskipun kita tidak tahu persis bagaimana janda dalam cerita ini dieksploitasi, kita tahu bahwa dia menderita ketidakadilan. Meskipun demikian, responsnya sangat luar biasa. Alih-alih merasa sakit hati atau menyalahkan Tuhan, ia tetap bermurah hati. Bahkan dalam penderitaannya, ia tetap mengasihi Tuhan dengan segenap hati, kekuatan, dan hidupnya. Mengapa? Karena imannya bertumpu pada Tuhan itu sendiri, bukan pada perwakilan manusia yang memiliki kekurangan seperti para ahli Taurat. Sementara manusia dapat gagal atau bertindak tidak adil, Allah tidak. Ia percaya bahwa Allah menjaganya, dan memang, Yesus melihat tindakannya dan mengakui iman dan pengorbanannya.

Kisah ini membuka mata kita akan kenyataan pahit yang dapat terjadi bahkan di dalam Gereja kita. Namun, teladan sang janda juga mengajarkan kita bagaimana merespons tantangan-tantangan ini tanpa kehilangan iman.

Pertanyaan Refleksi:

Apakah kita membantu membawa orang lain lebih dekat kepada Allah, atau justru menjauhkan mereka dari Tuhan? Apakah kita menggunakan posisi dan pengetahuan kita untuk menolong orang lain atau mengambil keuntungan dari mereka? Ketika hal-hal buruk terjadi, apakah kita menyalahkan Allah atau tetap percaya kepada-Nya? Apakah kita berusaha melawan ketidakadilan di dalam komunitas dan Gereja kita, atau apakah kita diam saja?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP