Miracle for a Better World

23rd Sunday in Ordinary Time [B]
September 5, 2021
Mark 7:30-37

A miracle is something extraordinary. Miracles make ordinarily impossible things possible. Yet, some miracles are more powerful and cause more wonder than others. In today’s Gospel, Jesus performed yet another stunning miracle. He healed a person with hearing and speech impairment. At first, the miracle seems familiar and another routine for Jesus, but we may discover remarkable details if we got closer to the story’s context.

photocredit: david knudsen

The person who begged for healing was struggling with several disabilities. The man was deaf, and if he could not hear sounds and voices since birth, he would not be able to speak as well. His speech impediment significantly worsened the condition. He could not say not only because he never heard a word but also his speech faculty had defects. It was an almost impossible case.

Another detail is that the way Jesus healed the man. He did not act the usual routines. He neither touch the afflicted person nor performs distant healing. His actions were somewhat ‘eccentric’. Mark described that Jesus placed His fingers inside man’s ears as if He tried to clear what blocked the hearing passages. He also spat on his hands and put his wet hands on the man’s tongue, as if He tried to soften what was dry and petrified. Jesus looked up to heaven and uttered ‘Ephatha!’ as if giving the command to various body parts that were tightly closed. Then, a remarkable miracle took place.

What happened was truly unique. The man could not only hear, but he could speak plainly. A man who was deaf since birth would need some time to learn how to say, but the great miracle was that Jesus infused the man with the gift of language. Jesus did heal not only the bodily infirmities but also enlighten the man with knowledge and understanding. It was a whole package miracle!

However, the miracle did not stop there. The effects of Jesus’ miracles ripple through the ages. We may not always see miracles of healing like in the Gospel, but we can always perform a miracle of love and mercy. As disciples of Christ, we continue to build a better place for people with disabilities. Now, our world may not be perfect, but it is a much better place for our afflicted brothers and sisters. If we see the bible, the early Church was concerned with how to take care of the most disenfranchised and how the apostles appointed seven deacons to minister to the poor widows. St. James, in his letter, denounced a practice in some ancient parishes that gave a seat to the rich and not to the poor [Jam 2:1-5]. The culture to help the poorest of the poor and even building structures like hospitals, shelters for the homeless, orphanages dramatically begins with Jesus and His Church. This spirit will continue until the age of time.

We thank our brothers and sisters who continue becoming the miracles of Christ for those people with disabilities. They spend time and resources to take care of abandoned babies, learn sign language to introduce Good News to the people who cannot hear, and create a better place for everyone.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mukjizat untuk Dunia yang Lebih Baik

Minggu Biasa ke-23 [B]
5 September 2021
Markus 7:30-37

Dalam Injil hari ini, Yesus melakukan mukjizat yang sungguh menakjubkan. Dia menyembuhkan seseorang yang tidak bisa mendengar dan mengalami gangguan berbicara. Jika dibaca sesaat, tampaknya mukjizat ini tidak berbeda dari mukjizat Yesus yang lain, tetapi jika kita melihat lebih dekat ke dalam konteks kisah ini, kita akan menemukan detail-detail yang luar biasa.

photocredit: Aswin

Yesus berhadapan dengan seorang pria yang tidak bisa mendengar atau tunarungu, dan jika dia tidak dapat mendengar suara sejak lahir, dia tentunya tidak akan dapat berbicara juga. Kondisinya diperparah oleh adanya gangguan pada kemampuannya berbicara. Dia tidak bisa berbicara bukan hanya karena dia tidak pernah mendengar sebelumnya, tetapi juga adanya cacat di bagian mulut atau lidahnya yang membuat dia kesulitan untuk membentuk kata. Bisa kita bayangkan penderitaan yang harus dihadapi orang ini.

Detail lainnya yang menarik adalah cara Yesus menyembuhkan orang ini. Yesus tidak melakukan rutinitas seperti biasanya dalam melakukan mukjizat. Dia tidak hanya menyentuh orang yang menderita atau melakukan penyembuhan jarak jauh. Gaya-Nya kali ini agak ‘anti mainstream’. Markus menggambarkan bahwa Yesus meletakkan jari-Nya di dalam telinga sang pria, seolah-olah Dia mencoba membersihkan apa yang menghalangi saluran pendengaran. Dia juga meludahi tangannya, dan meletakkan tangannya yang basah di lidah pria itu, seolah-olah Dia mencoba melunakkan apa yang kering dan membatu. Yesus menengadah ke langit dan mengucapkan ‘Efata!’ – seolah memberi perintah pada berbagai bagian tubuh yang tertutup rapat untuk terbuka. Kemudian, mukjizat yang luar biasa terjadi!

Apa yang terjadi benar-benar luar biasa. Pria itu tidak hanya bisa mendengar, tetapi dia bisa berbicara dengan jelas. Seorang pria yang tidak bisa mendengar sejak lahir akan membutuhkan beberapa waktu untuk belajar berbicara, tetapi mukjizat yang luar biasa adalah bahwa Yesus memberi orang ini karunia bahasa. Yesus tidak hanya menyembuhkan kelemahan dan cacat tubuh, tetapi juga menerangi manusia dengan pengetahuan dan pengertian. Itu adalah mukjizat seluruh paket!

Namun, mukjizat tidak berhenti di situ. Efek dari mukjizat Yesus terpancar selama berabad-abad. Kita mungkin tidak bisa melakukan mukjizat penyembuhan seperti dalam Injil, tetapi kita selalu dapat melakukan mukjizat cinta dan belas kasihan. Sebagai murid Kristus, kita diundang untuk terus membangun tempat yang lebih baik bagi orang-orang yang terpinggirkan secara khusus, para penyandang disabilitas. Jika kita melihat Alkitab, Gereja perdana juga fokus dengan bagaimana melayani mereka yang paling lemah, dan bagaimana para rasul menunjuk tujuh diakon untuk melayani para janda miskin [Kis 6]. St Yakobus dalam suratnya mengkritisi praktik di beberapa paroki kuno yang memberikan kursi kepada orang kaya dan bukan kepada orang miskin [Yakobus 2:1-5]. Budaya untuk membantu orang miskin dan terpinggirkan, dan bahkan membangun struktur seperti rumah sakit, tempat perlindungan bagi tunawisma, panti asuhan, secara dramatis dimulai dengan Yesus dan Gereja-Nya, dan semangat ini akan berlanjut sampai zaman.

Kita berterima kasih kepada saudara-saudari kita yang terus menjadi mujizat Kristus bagi mereka yang miskin, lemah dan para penyandang disabilitas. Mereka adalah orang-orang yang menghabiskan waktu dan sumber daya untuk merawat bayi terlantar, yang belajar bahasa isyarat untuk memperkenalkan Kabar Baik kepada orang-orang yang tidak dapat mendengar, dan yang menciptakan tempat yang lebih baik bagi semua orang.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Law, Traditions and Heart

22nd Sunday in Ordinary Time [B]
August 29, 2021
Mark 7:1-23

The Pharisees came to scrutinize Jesus, and these were not just ordinary Galilean Pharisees who often debated with Jesus. They were the leading Jewish authority, and they came to pass judgment on Jesus: whether Jesus is an orthodox Jew or a false prophet. Yet, we may ask, who are these Pharisees who often collided with Jesus and His disciples? The pharisaic movement was one of the Jewish religious movements in first-century Palestine. Though not always in a good relationship, they were contemporaries with other groups like the Sadducees, Zealots, and Essenes. However, Pharisees were the most popular because many of their members were Jewish laypeople compared to other groups.

photocredit: priscilla du preez

What is unique to the Pharisees? We need to understand first about the ceremonial purity in the Old Testament. The Law of Moses commanded those men and women who were entering the sacred place like the Temple to be ceremonially clean. If they were in contact with dead bodies, they became unclean and could not enter the holy ground. Thus, they were required to do ceremonial washing to clean this impurity. The purpose of this ceremonial purity is not about morality [what is right or wrong] but to train the Israelites to see and honor the sacred places as God’s dwellings.

The Pharisees were zealous for the Law, and they were responsible for bringing this ceremonial purity to the context of the Israelite household. They wanted to be ceremonially clean, not only in the Temple but also when they entered their houses, when they ate and drank, and even when they went to bed. The thing was that Moses never gave laws about this pharisaic thing. Thus, as a solution, the teachers or the rabbi came up with their set of rules and regulations. Eventually, these became the (pharisaic) traditions of the elders.

Going back to Jesus, we note that what the Pharisees from Jerusalem discovered was Jesus did not observe those traditions. They did not find any shred of evidence that Jesus violated the Law of Moses. Indeed, Jesus was fulfilling the Law. Jesus then criticized the Pharisees for being over-zealous on traditions to the expense of the Word of God. Jesus reminded the true essence of the Law, which is the formation of the heart. The laws and the traditions are good if they bring us closer to God. They become twisted when they chain us and keep us far from God. It would be useless if we are ceremonially clean, but our hearts are impure and sinful.

Jesus’ reminder to the Pharisees is always timely and proper to us. Do we keep our religion as mere collections of traditions, rituals, and customs that keep us from the Lord? Do we read the Word of God to help us understanding and loving the Lord better or simply to put up a show? Do we gather images, statues, and other religious articles just for collections, or do these help us honor God who perfects His creatures? Do we get involved in various services and ministries to feel good about it or serve our brothers and sisters in need?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hukum Allah, Tradisi dan Hati

Minggu Biasa ke-22 [B]
29 Agustus 2021
Markus 7:1-23

Orang-orang Farisi datang untuk menyelidiki Yesus, dan ini bukan hanya orang-orang Farisi dari Galilea yang sering berdebat dengan Yesus. Mereka adalah otoritas Yahudi terkemuka di Yerusalem, dan mereka datang untuk menghakimi Yesus: apakah Yesus adalah seorang Yahudi yang ortodoks atau seorang nabi palsu. Namun, kita mungkin bertanya-tanya siapakah orang-orang Farisi yang sering berdebat dengan Yesus dan murid-murid-Nya? Gerakan Farisi adalah salah satu gerakan dan kelompok keagamaan Yahudi di Palestina abad pertama. Mereka sezaman, meskipun tidak selalu dalam hubungan yang baik, dengan kelompok lain seperti Saduki, Zelot, dan Eseni. Namun, dibandingkan dengan kelompok lain, orang Farisi adalah yang paling populer dan banyak anggotanya adalah orang awam Yahudi.

photocredit: jametlene

Apa yang membuat orang-orang Farisi unik? Kita perlu memahami terlebih dahulu tentang hukum nahir dan najis dalam Perjanjian Lama. Hukum Musa memerintahkan para pria dan wanita yang memasuki tempat suci seperti Bait Allah untuk bersih atau tahir. Sebagai contoh, jika mereka bersentuhan dengan tubuh yang mati, mereka menjadi najis dan tidak diizinkan memasuki tempat suci. Oleh karena itu, mereka diharuskan melakukan ritual pembasuhan dengan air untuk membersihkan kenajisan mereka. Tujuan dari hukum tahir-najis ini bukan tentang moralitas [apa yang benar atau salah], tetapi untuk melatih bangsa Israel untuk menghormati tempat-tempat suci sebagai tempat tinggal Tuhan.

Kontribusi orang-orang Farisi ini adalah mereka bertanggung jawab untuk membawa hukum tahir-najis ini ke dalam konteks rumah tangga dan kehidupan sehari-hari orang Israel. Mereka ingin tahir, tidak hanya di Bait Allah, tetapi juga ketika mereka memasuki rumah mereka, ketika mereka makan dan minum, dan bahkan ketika mereka pergi tidur. Masalahnya adalah Musa tidak pernah memberikan hukum tentang hal-hal ini. Jadi, sebagai solusi, para guru atau rabi mengajarkan dan membuat aturan tentang hal-hal yang tidak ada di Kitab Suci untuk mendukung hidup tahir ini. Akhirnya, aturan-aturan inilah yang disebut sebagai tradisi para penatua.

Kembali kepada Yesus, kita perhatikan bahwa apa yang ditemukan oleh orang-orang Farisi dari Yerusalem adalah Yesus tidak menjalankan tradisi itu. Mereka justru tidak menemukan sedikit pun bukti bahwa Yesus melanggar Hukum Musa. Sungguh, Yesus menggenapi Hukum dengan setia. Yesus kemudian mengkritik orang-orang Farisi karena terlalu fokus pada tradisi dengan mengorbankan Firman Tuhan. Yesus mengingatkan hakekat Taurat yang sebenarnya, yaitu pembentukan hati. Hukum dan tradisi akan menjadi baik jika membawa kita lebih dekat kepada Tuhan. Mereka menjadi batu sandungan ketika mereka merantai kita dan menjauhkan kita dari Tuhan. Tidak ada gunanya jika kita secara seremonial bersih, tetapi hati kita tidak murni dan kotor penuh dosa.

Peringatan Yesus kepada orang Farisi selalu tepat dan relevan bagi kita. Apakah kita menjalankan agama kita hanya sebagai kumpulan tradisi, ritual, dan adat istiadat yang menjauhkan kita dari Tuhan? Apakah kita membaca Firman Tuhan untuk membantu kita memahami dan mengasihi Tuhan lebih baik atau hanya untuk pamer? Apakah kita mengumpulkan gambar, patung dan benda-benda keagamaan lainnya hanya untuk tujuan koleksi, ataukah ini membantu kita untuk memuliakan Tuhan yang telah menyempurnakan ciptaan-Nya? Apakah kita terlibat dalam berbagai pelayanan hanya untuk merasa senang dan dipuji, atau benar-benar melayani saudara-saudari kita yang membutuhkan? Apakah hati kita sungguh untuk Tuhan atau masih terus dipenuhi dengan hal-hal buruk?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Amazing Faith

21st Sunday in the Ordinary Time [B]
August 22, 2021
John 6:60-69

For the past five Sundays, we have listened to John chapter 6. Jesus introduced Himself as the bread of life, and His flesh and blood are authentic food for eternal life. Today’s Gospel serves as the summit of our journey through John 6, and the Gospel begins with the response of Jesus’ listeners, “It is a hard saying.”

photocredit: Nathan Dumlao

Jesus’ teaching this time is hard saying because it runs contrary to the essential Jewish tenets. It shocked their Jewish faith. To offer His flesh as food, is as appalling as cannibalism. Presenting His blood as a real drink is even blasphemous because it directly hits God’s commandment against eating blood [Lev 17:10]. Yet, Jesus did not waver.

Jesus’ followers were facing a tough decision. They had seen Jesus performing miracles, healing the sick and feeding thousands. Many of them were expecting that Jesus would be the Messiah like King David. However, things did not go smoothly according to their plans. If they accepted Jesus as the Messiah, they had to take Jesus’ words and indeed eat His body and blood. Eventually, many could not accept Jesus’ tough teaching, and perhaps, they considered Him another lunatic or even possessed man.

Fortunately, not everyone deserted Jesus. Peter, representing the twelve disciples, said that they believed in Jesus’ words. Peter might not be different from the rest of the crowd who failed the grasp Jesus’ hard teachings. Yet, Peter accepted Jesus’ hard teachings because he accepted who Jesus is, the Holy One of God. It is impossible for Jesus, the Holy One of God, to tell a lie. What the divine Son of God said must be real and true, however mysterious it may be. This is Peter’s faith, and this should be our faith.

Many aspects of our life and faith remain big question marks for us. We may not be able to understand the reality of the Trinity. We may still scratch our heads every time a priest speaks about the two natures of Christ. We may still feel dizzy every time a preacher explains about the transubstantiation. Yet, despite these hard sayings, we believe.

If we can have faith in Jesus despite the hard saying, we can have the same faith also despite hard lives. If we can say Yes to Jesus in the Eucharist, we shall be able to say Yes to Jesus in our lives, however, broken and disfigured it may be. This time of Pandemic, we often ask why God allows this terrible time and suffering. If we do not have the Eucharistic faith, we can easily fall into despair. Yet, we trust that God is in control with true faith, and He has a great plan for us. We might not understand the meaning of the suffering we endure, but we know it will make sense someday.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Iman yang Mengagumkan

Minggu ke-21 Waktu Biasa [B]
22 Agustus 2021
Yohanes 6:60-69

Selama lima hari Minggu terakhir, kita telah mendengarkan Yohanes bab 6. Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai roti kehidupan, dan tubuh dan darah-Nya adalah makanan sejati untuk hidup yang kekal. Injil hari ini hadir sebagai puncak dari perjalanan kita melalui Yohanes 6, dan Injil dimulai dengan tanggapan dari pendengar Yesus, “Itu adalah perkataan yang keras. Siapa yang sanggup mendengarkannya.”

photocredit: Josh Applegate

Ajaran Yesus kali ini sulit diterima karena bertentangan dengan prinsip dasar agama Yahudi. Bahkan hal ini benar-benar mengejutkan iman Yahudi mereka. Mempersembahkan daging-Nya sendiri sebagai makanan sama menjijikkannya dengan kanibalisme. Memberikan darah-Nya sebagai minuman bahkan merupakan penghujatan karena secara frontal melanggar perintah Tuhan untuk tidak makan darah [Im 17:10]. Namun, Yesus bergeming.

Pengikut Yesus menghadapi dilema. Mereka telah melihat Yesus melakukan mukjizat, menyembuhkan orang sakit dan memberi makan ribuan orang. Banyak dari mereka mengharapkan bahwa Yesus akan menjadi Mesias seperti Raja Daud. Namun, hal-hal tidak berjalan lancar sesuai dengan rencana mereka. Jika mereka menerima Yesus sebagai Mesias, mereka harus menerima perkataan Yesus dan memang memakan tubuh dan darah-Nya. Pada akhirnya, banyak yang tidak dapat menerima ajaran Yesus yang keras dan mungkin, mereka menganggap Dia sebagai orang gila atau bahkan orang yang kerasukan.

Hal yang menarik adalah tidak semua orang meninggalkan Yesus. Petrus, mewakili kedua belas murid, mengatakan bahwa mereka percaya pada kata-kata Yesus. Petrus mungkin tidak berbeda dari orang banyak yang gagal memahami ajaran Yesus yang keras. Namun, Petrus dapat menerima ajaran Yesus yang keras karena ia menerima siapa Yesus, yakni Yang Kudus dari Allah. Mustahil bagi Yesus, Yang Kudus dari Allah untuk berbohong. Apa yang dikatakan Putra Allah yang Ilahi pastilah nyata dan benar, betapapun misteriusnya hal itu. Ini adalah iman Petrus, dan ini harus menjadi iman kita.

Ada banyak aspek kehidupan dan iman kita yang masih menjadi tanda tanya besar bagi kita. Kita mungkin tidak dapat memahami realitas Trinitas. Kita mungkin masih menggaruk-garuk kepala setiap kali seorang imam berbicara tentang dua kodrat Kristus. Kita mungkin masih merasa pusing setiap kali seorang pengkhotbah menjelaskan tentang transubstansiasi. Namun, terlepas dari perkataan keras ini, kita percaya.

Jika kita dapat memiliki iman kepada Yesus terlepas dari perkataan yang sulit, kita dapat memiliki iman yang sama juga meskipun kehidupan yang sulit. Jika kita dapat mengatakan YA kepada Yesus dalam Ekaristi, kita akan dapat mengatakan YA kepada Yesus dalam hidup kita, betapa pun sulitnya hidup ini. Di masa Pandemi ini, kita sering bertanya-tanya mengapa Tuhan mengizinkan masa dan penderitaan yang mengerikan ini. Jika kita tidak memiliki iman Ekaristi, kita dapat dengan mudah jatuh ke dalam keputusasaan. Namun, dengan iman seperti Petrus, kita percaya bahwa Tuhan memegang kendali, dan Dia memiliki rencana yang besar bagi kita. Kita mungkin tidak mengerti arti dari penderitaan yang kita alami, tetapi kita tahu bahwa itu akan masuk akal suatu hari nanti.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ibu Kita di Surga

Hari Raya Asumsi [B]

15 Agustus 2021

Lukas 1:39-56

Selain ibu saya, Bunda Maria adalah perempuan pertama dan paling penting dalam hidup saya. Saya mengenalnya sangat awal dalam hidup, dan devosi saya terus tumbuh sejak saat itu. Ketika saya pindah ke Filipina untuk formasi Dominikan, saya menyaksikan devosi yang hidup dan membara dari orang-orang Filipina terhadap Bunda kita, namun pada saat yang sama, saya juga merasakan serangan yang ganas terhadap sang Bunda. Bagaimana mungkin orang-orang yang menyebut dirinya pengikut Yesus berani menyerang ibu-Nya? Bagi saya, itu tidak terpikirkan! Biasanya, tuduhan yang sering saya dengar adalah, “Mengapa berdoa kepada Maria? Mengapa begitu menghormatinya seolah-olah dia adalah tuhan?” Jelas bagi kita, umat Katolik, bahwa Maria layak mendapat kehormatan besar karena perannya dalam misteri keselamatan, tetapi juga jelas bagi kita bahwa dia adalah seorang manusia.

Pada awalnya saya ingin membelanya habis-habisan, namun ketika saya membawa ini dalam doa, saya bertanya kepada Bunda Maria, apa yang akan dia lakukan terhadap mereka yang menyerang dan mengejeknya? Dia menjawab, “Saya terus berdoa dan mengasihi mereka. Mereka juga anak-anakku.” Jawabannya membuka mata, dan saya mulai memasuki dialog dengan mereka untuk memahami alasan di balik kebencian mereka terhadap Maria. Salah satu alasan yang saya temukan adalah bahwa bagi mereka, iman pada dasarnya adalah “tentang Yesus dan saya.” Yesus adalah penyelamat dan Tuhan pribadi saya, dan hanya Dia saja sudah cukup. Maria dan orang-orang kudus lainnya adalah penghalang, Gereja dan sakramen tidak diperlukan, dan tradisi adalah beban yang tidak perlu. Ini adalah iman saja [sola fide] yang paling murni.

Saya setuju bahwa iman harus murni, tetapi tidak individualistis. Saya percaya kepada Yesus sebagai penyelamat pribadi saya, tetapi Dia juga memanggil kita ke dalam persekutuan orang-orang kudus. Jika kita meneliti Alkitab, Tuhan memanggil orang-orang dalam konteks keluarga: Adam dan Hawa, Nuh dan keluarganya, Abraham dan Sarah, Israel dan anak-anaknya, Musa bersama Harun dan Mariam, dan Daud dengan keluarganya. Sebenarnya, kata kunci ‘perjanjian’ yang menyatukan seluruh Alkitab berarti sumpah agung untuk membangun sebuah ikatan keluarga. Yesus sendiri memanggil kedua belas murid untuk menjadi figur bapa dalam kerajaan-Nya, yakni keluarga Allah.

Jika Tuhan memanggil kita ke dalam sebuah keluarga, kita tidak sendirian dalam perjalanan menuju Yesus ini. Kita memiliki saudara dan saudari di surga yang mendukung kita, dan membantu kita dengan cara yang luar biasa. Kita juga memiliki saudara dan saudari di bumi ini, dan merupakan tanggung jawab kita untuk mendukung dan membimbing mereka dalam perjalanan ini. Dogma Maria diangkat ke surga menyatakan bahwa, kita bukan hanya realitas duniawi, tetapi bagian dari keluarga surgawi, dan kabar yang menggembirakan adalah bahwa kita memiliki ibu yang baik di surga.

Saat Maria mengantisipasi kebutuhan pasangan di Kana bahkan sebelum mereka menyadarinya, Maria menjadi perantara bagi kita bahkan sebelum kita menyadarinya. Saat Maria dengan setia mengikuti Putranya di bumi, Maria dengan setia menemani kita dalam perjalanan duniawi kita. Saat Maria berdiri kokoh di samping salib Putranya, Maria juga berdiri di samping kita dalam pencobaan hidup ini.

Bunda Maria, doakanlah kami!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Our Mother in Heaven

The Solemnity of the Assumption [B]

August 15, 2021

Luke 1:39-56

Together with my mother, Blessed Virgin Mary are the women in my life. I knew her very early in my life, and my devotion has continued to grow since then. When I moved to the Philippines for my Dominican formation, I witnessed the lively and vibrant devotion of the Filipinos toward our Lady. Yet, at the same time, I experienced the ferocious assault against her. How come people who call themselves followers of Jesus dare to attack His mother? For me, it was unthinkable! Usually, the usual accusations are, “Why pray to Mary? Why honor her so much as if she is a god?” It is clear for us Catholics that Mary deserves incredible honor because of her role in the mystery of salvation, but it is also clear that she is a human.

photocredit: Kelly Sikkema

In the beginning, I was more than eager to defend her, yet as I brought this in prayer, I ask our Lady, what would she do to those who attack and mock her? She answered, “I continue to pray and love them. They are also my children.” Her answer was an eye-opener, and I began to enter their shoes to seek the reason behind their hatred toward Mary. One of the reasons I discovered is that for them, faith is basically “about Jesus and I.” Jesus is my personal savior and Lord, and He alone is enough. Mary and other saints are obstacles, the Church and the sacraments are not needed, and the traditions are unnecessary burdens. It is faith alone at its purest.

I do agree that faith needs to be pure but not simplistic and individualistic. I believe in Jesus as my personal savior, but He also calls us into a communion of saints. If we survey the Bible, God calls people in the context of a family: Adam and Eve, Noah and his family, Abraham and Sarah, Israel and his children, Moses together with Aaron and Mariam, and David with his family. The keyword ‘testament’ or ‘covenant’ that unites the entire Bible means a solemn oath to build a family. Jesus Himself called the twelve disciples to be the father figures in His kingdom, His family of God.

If God calls us into a family, we are not alone in this journey toward Jesus. We have our brothers and sisters in heaven who are cheering for us and helping us in ways we could never imagine. We also have brothers and sisters here on earth, and it is our responsibility to support and guide them in this journey. The dogma of the Assumption tells us that we are not just earthly realities but belong to a heavenly family, and what is more edifying is that we have a good mother in heaven.

As Mary anticipated the couple’s needs in Cana before they even noticed, Mary intercedes for us even before we realize. As Mary faithfully followed her Son on earth, Mary loyally accompanies us in our earthly journey. As Mary firmly stood before the cross of her Son, Mary also stands beside us in these trials of life.

Our Blessed Mother, pray for us!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

St. Dominic’s Prayer

The Solemnity of St. Dominic de Guzman

August 8, 2021

Mat 28:16-20

Today, the Dominican family is celebrating the solemnity of St. Dominic de Guzman, the founder and father of the Order of Preachers. This year’s celebration is extraordinary because we also commemorate the 800th anniversary of Dominic’s death. We call it dies Natalis, the day of birth. It is the birthday of the saint in heaven. Indeed, it has been 800 years since the death of St. Dominic, and the Order he founded is growing vital and ever young.

The Order of Preachers may not be the biggest congregation in the Catholic Church [we have only around six thousand brothers], but indeed, we continue to be blessed with vocations. In Indonesia alone, we have a good number of young brothers in the formation. In the Philippines, the formation house is packed with brothers.

Why is the reason behind this growth? Indeed, there are many overlapping reasons, yet may I highlight one of those: the prayer of St. Dominic himself. At his deathbed, St. Dominic promised his brothers, “Do not weep, for I shall be more useful to you after my death and I shall help you then more effectively than during my life.” [his words are powerful that they are quoted in CCC 956]

His prayers have been proved effective. The Order has been through thick and thin of the world and Church’s history, and it is not always glorious. The Order also shares some painful past and memories. There are times that the Order seemed to collapse under its weight or split into smaller and quarreling factions. Yet, the Order can overcome those. I do believe that the reason cannot be explained by purely human strength. It is God’s mercy and Dominic’s great love for his brothers and sisters.

What is impressive is that St. Dominic is not alone. He is also joined by other Dominican saints, like St. Thomas Aquinas, St. Martin de Porres, St. Catharine of Siena, and countless Dominicans who have entered heaven. Every day, the prayers are getting stronger and louder as more holy people join their chorus.

The Order of Preachers is a family and community, and what is marvelous is that the members are not limited to those who are here on earth but those in heaven. Our brothers and sisters in heaven are doing even more amazing things for us. I am maybe alone here preaching, but my heavenly family members are supporting and cheering for me. I am perhaps alone in my study time, but the Dominican saints are at the forefront in guiding me. The letter of Hebrews speaks of the cloud of heavenly witness surrounding us [Heb 12:1], and I know some of them. We may be small, but our strength is not only here on earth. The more excellent works are done in heaven for the sake of the Order and the salvation of souls.

Many of us may not be a member of Dominican Order, but we are part of a larger family of God, the Church. We have one Father in heaven, and there is no other greatest joy for a father to see his children helping and loving one another. As we help and love our brothers and sisters here on earth, we shall not forget to give thanks to our brothers and sisters in heaven who constantly love and support us till we meet them in heaven.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Doa St. Dominikus

Hari Raya St. Dominikus de Guzman

8 Agustus 2021

Mat 28:16-20

Hari ini, keluarga Dominikan merayakan hari raya St. Dominikus de Guzman, pendiri dan bapak Ordo Pewarta. Perayaan tahun ini sangat khusus karena kita juga memperingati 800 tahun wafatnya Dominikus. Ini adalah ‘Dies Natalis’, hari kelahirannya di surga. Dan 800 tahun sejak kematian St. Dominikus, Ordo yang ia dirikan semakin kuat dan muda.

Ordo Pewarta mungkin bukan kongregasi terbesar di Gereja Katolik, [kita hanya memiliki sekitar enam ribu saudara], tetapi tentu saja, kita terus diberkati dengan panggilan-panggilan baru. Di Indonesia sendiri, kita memiliki banyak frater-frater dalam formasi. Di Filipina, rumah formasi Dominikan dipadati oleh frater-frater.

Apa alasan di balik pertumbuhan ini? Tentu saja, ada banyak alasan yang bisa dikemukakan, namun saya dapat menyodorkan satu alasan: doa St. Dominikus sendiri. Di saat kematiannya, St Dominikus berjanji kepada saudara-saudaranya, “Jangan menangis, karena saya akan lebih berguna bagimu setelah kematian saya dan saya akan membantumu di sana lebih baik daripada selama saya hidup.” [kata-katanya ini bahkan dikutip dalam KGK 956]

Doa-doanya terbukti berfaidah. Ordonya telah menjadi bagian sejarah panjang dunia dan Gereja, dan tidak semuanya baik. Ordo juga ambil bagian dari beberapa peristiwa kelam dan memori yang menyakitkan. Bahkan, ada kalanya Ordo tampak runtuh karena bebannya sendiri atau terpecah menjadi faksi-faksi yang lebih kecil. Namun, Ordo dapat mengatasinya. Saya percaya bahwa penjelasannya tidak dapat dijelaskan dengan kekuatan manusia saja. Ini adalah belas kasihan Tuhan dan cinta Dominikus yang besar bagi saudara-saudaranya.

Yang sungguh menakjubkan bahwa St. Dominikus tidak sendirian. Dia berdoa bersama dengan orang-orang kudus Dominikan lainnya, seperti St Thomas Aquinas, St Martin de Porres, St Katarina dari Siena, dan banyak Dominikan yang telah masuk surga. Setiap hari, doa-doa mereka semakin kuat dan riuh, karena semakin banyak orang suci bergabung dengan paduan suara mereka ini.

Ordo Pewarta adalah sebuah keluarga dan komunitas, dan yang menakjubkan adalah bahwa anggotanya tidak terbatas pada mereka yang ada di bumi, tetapi juga mereka yang di surga. Saudara-saudari kita di surga melakukan hal-hal yang lebih menakjubkan lagi bagi kita. Saya mungkin sendirian di sini saat saya memberi renungan, tetapi anggota keluarga surgawi saya mendukung dan menyemangati saya. Saya mungkin sendirian dalam waktu belajar, tetapi para kudus Dominikan berada di garis depan dalam membimbing saya. Surat Ibrani berbicara tentang awan para saksi surgawi yang mengelilingi kita [Ibr 12:1], dan sebagai anggota Ordo, saya mengenal beberapa di antara mereka. Kita mungkin kecil, tapi kekuatan kita bukan hanya di dunia ini. Bahkan, pekerjaan yang lebih besar dilakukan di surga demi Ordo, Gereja dan keselamatan jiwa.

Banyak dari kita mungkin bukan anggota Ordo Dominikan, tetapi kita adalah bagian dari keluarga Allah yang lebih besar, Gereja. Ordo St. Dominikus hanya sebuah cerminan dari Gereja Kristus. Kita memiliki satu Bapa di surga, dan tidak ada sukacita yang lebih besar bagi seorang ayah kecuali melihat anak-anaknya saling membantu dan mengasihi. Selama kita membantu dan mengasihi saudara-saudara kita di bumi ini, tidak lupa kita bersyukur kepada saudara-saudara kita di surga yang senantiasa mengasihi dan mendukung kita, sampai kita bertemu di surga.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP