Damai Paskah

Minggu Kedua Paskah [C]

27 April 2025

Yohanes 20:19-31

Kata-kata pertama Kristus setelah bangkit kepada para murid-Nya adalah, “Damai bagi kamu!” Dalam bahasa Ibrani, “Shalom lakem” (שָׁלוֹם לָכֶם), sebuah ucapan yang sering ditemukan dalam Perjanjian Lama (Hakim 6:23; 1 Samuel 1:17; 20:42; 25:6; dll.). Variasi Yahudi lainnya, meskipun tidak ada dalam Alkitab, adalah “Shalom aleichem” (שָׁלוֹם עֲלֵיכֶם), yang artinya kurang lebih sama. Namun, apakah salam Yesus hanya sekadar sapaan budaya, atau apakah salam itu memiliki makna yang lebih dalam?

Untuk memahami hal ini, pertama-tama kita harus menyelidiki makna alkitabiah dari kata “shalom”. Shalom adalah salah satu kata yang paling umum dalam Alkitab, muncul sebanyak 237 kali dalam Perjanjian Lama. “Shalom” sering kali diterjemahkan sebagai “damai”. Namun, kata ini memiliki arti yang lebih luas: kesejahteraan yang total dari seseorang, yang berakar pada hubungan yang benar dengan diri sendiri, sesama, dan Tuhan.

Ketika Kristus yang telah bangkit menampakkan diri kepada para murid, mereka dicengkeram oleh rasa takut akan “orang-orang Yahudi”. Menariknya, “orang Yahudi” ini dapat merujuk pada tiga hal: penguasa bangsa Yahudi, Yesus sendiri, karena dia seorang Yahudi, dan bahkan para murid sendiri karena mereka juga adalah orang Yahudi. Mereka takut kepada para penatua bangsa Yahudi yang telah membunuh Yesus, karena mereka tahu bahwa mereka bisa saja menjadi korban berikutnya. Mereka takut kepada Yesus, mengingat kegagalan mereka sebagai murid: pengkhianatan Yudas, penyangkalan Petrus, dan mereka yang lari dan bersembunyi. Akankah Dia sekarang menghukum mereka? Dan mereka takut akan diri mereka sendiri: mereka merasa tidak layak dan tidak mampu menjadi murid; mereka tidak layak menerima kerahiman dan pengampunan Yesus; mereka hancur karena dosa. Mereka takut akan hidup dan masa depan mereka sendiri.

Namun, kata-kata Yesus menembus rasa takut mereka: “Damai bagi kamu.” Ini bukanlah sapaan biasa. Ini adalah sebuah berkat dan peneguhan ilahi. Mereka tidak perlu takut kepada penguasa, karena jika mereka tidak dapat menghentikan Yesus, mereka tidak dapat menghentikan para pengikut-Nya. Mereka tidak perlu takut kepada Yesus, karena Ia datang bukan untuk menghukum, melainkan untuk berbelas kasihan dan mengampuni kelemahan mereka. Ketika Ia mengulangi, “Damai sejahtera bagi kamu,” dan menambahkan, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikianlah Aku mengutus kamu,” Ia menegaskan panggilan mereka terlepas dari kekurangan mereka. Yesus meyakinkan mereka sekali lagi bahwa meskipun mereka tidak layak, mereka tetap terpilih, dan meskipun mereka lemah dan gagal, rahmat Allah cukup untuk menyempurnakan apa yang kurang dari mereka. 

Damai yang sejati hanya mengalir dari Kristus yang telah bangkit, sebuah rahmat yang mendamaikan kita dengan Allah, menyembuhkan hubungan kita, dan menghapus rasa takut di dalam diri kita.  Kita tahu bahwa kita adalah orang berdosa, namun kita telah ditebus sehingga kita berada dalam damai dengan Allah. Kita tahu bahwa kita sering kali memiliki hubungan yang sulit dengan sesama, tetapi kita diundang untuk memohon belas kasihan dan berbelas kasihan kepada sesama. Kita sadar bahwa kita lemah dan tidak mampu untuk mengasihi Allah dan sesama, tetapi rahmat Allah cukup untuk melengkapi apa yang kurang dari diri kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apakah ada damai dalam hidup kita? Apa yang kita takuti? Apakah kita memiliki kedamaian dengan Allah? Apakah kita memiliki kedamaian dengan sesama kita? Apakah kita memiliki damai dengan diri kita sendiri? Hal-hal apa saja yang membuat kita gagal mencapai shalom?

`

Cross and the Tree of Life

Easter Sunday [C]

April 20, 2025

John 20:1-9

Some Church Fathers, like St. Ephrem the Syrian, St. Ambrose, and St. John Chrysostom, saw Jesus’ Cross as the new Tree of Life. The Tree of Life first appears in Genesis 2:9, where God planted it in the center of Eden alongside the Tree of the Knowledge of Good and Evil. Though Scripture doesn’t elaborate, the Tree of Life’s central placement hints at its profound significance. Just as eating from the forbidden tree brought death, partaking of the Tree of Life would have granted eternal communion with God.

Adam, Eve, and their descendants could have lived forever with God—if only they had chosen the Tree of Life over the Tree of Knowledge. Tragically, they chose disobedience, bringing death upon themselves and all humanity. Banished from Eden, they were cut off from the Tree of Life, guarded by cherubim (Genesis 3:24). Without it, humanity was doomed to perish.

Yet we are not without hope. God so loved the world that He gave His only Son (John 3:16), and Jesus, in turn, loved us “to the end” (John 13:1), laying down His life so we may “have life abundantly” (John 10:10). For Jesus, the Cross was not an inescapable fate but a free choice of love. Though crucifixion was a brutal, shameful death, Christ transformed the Cursed Tree into the Blessed Tree of Life. He teaches us that by embracing our own crosses—and uniting them to His—we find true life and resurrection.

The cross is a reality in our lives that brings us sufferings. The cross manifests in two ways. Type-One Crosses is unavoidable suffering.  These are trials we don’t choose: betrayal, illness, financial struggles, or injustice. In these moments, we ask God for grace to endure, offering our pain in union with Christ’s Cross so it may bear spiritual fruit.

Type-Two Crosses is suffering born of love. These arise from commitment and sacrifice. Good example will a dedicated mother who commits to love her young baby. In the process, she is going to lose her time, energy, and other resources. Raising and protecting little child is both physically and mentally exhausted. She also forfeits her opportunity to live more freely, to earn more money or to enjoy life more. Outwardly, she is carrying her cross, but deep inside, she is fully alive and discovering a deeper meaning in her life, then just the world can offer. Her cross becomes the tree of life for her child. That’s the true resurrection.

Happy Easter!

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:

What are our Type-One crosses? How do we face them? What are our Type-Two crosses? How do they bring life to others? Do our crosses—borne with love—become a Tree of Life for those around us?

Salib dan Pohon Kehidupan

Minggu Paskah [C]

20 April 2025

Yohanes 20:1-9

Beberapa Bapa Gereja, seperti Santo Efremus dari Siria, Santo Ambrosius, dan Santo Yohanes Krisostomus, melihat Salib Yesus sebagai Pohon Kehidupan yang baru. Pohon Kehidupan pertama kali muncul dalam Kejadian 2:9, di mana Allah menanamnya di tengah-tengah Taman Eden di samping Pohon Pengetahuan tentang yang Baik dan yang Jahat. Meskipun Alkitab tidak menjelaskan lebih lanjut, penempatan Pohon Kehidupan di tengah-tengah mengisyaratkan maknanya yang mendalam. Sama seperti memakan buah dari pohon terlarang akan membawa kematian, menyantap buah dari Pohon Kehidupan akan memberikan hidup kekal dan persekutuan dengan Tuhan.

Adam, Hawa, dan keturunan mereka dapat hidup selamanya bersama Allah, jika saja mereka memilih Pohon Kehidupan daripada Pohon Pengetahuan. Tragisnya, mereka memilih ketidaktaatan, sehingga membawa kematian atas diri mereka sendiri dan seluruh umat manusia. Diusir dari Eden, mereka terpisah dari Pohon Kehidupan yang dijaga oleh malaikat kerubim (Kej 3:24). Tanpa pohon itu, umat manusia berjalan menuju binasa.

Namun, kita bukannya tanpa pengharapan. Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Dia memberikan Putra-Nya yang tunggal (Yoh 3:16), dan Yesus, pada gilirannya, mengasihi kita “sampai pada kesudahannya” (Yoh 13:1), menyerahkan hidup-Nya agar kita “mempunyai hidup dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10). Bagi Yesus, Salib bukanlah sebuah takdir yang tak terhindarkan, melainkan sebuah pilihan bebas untuk mengasihi. Meskipun penyaliban adalah kematian yang brutal dan memalukan, Kristus mengubah Pohon Terkutuk ini menjadi Pohon Kehidupan yang kudus. Dia mengajarkan kepada kita bahwa dengan memeluk salib kita sendiri, dan juga menyatukannya dengan salib-Nya, kita akan menemukan kehidupan yang penuh dan kebangkitan yang sejati.

Salib sejatinya adalah sebuah kenyataan dalam hidup kita yang membawa penderitaan. Salib terwujud dalam dua bentuk. Salib jenis pertama adalah penderitaan yang tidak dapat dihindari. Ini adalah cobaan yang tidak kita pilih: pengkhianatan, penyakit, pergumulan keuangan, atau ketidakadilan. Pada saat-saat seperti ini, kita memohon rahmat kepada Tuhan untuk bertahan, mempersembahkan penderitaan kita dalam persatuan dengan Salib Kristus sehingga dapat menghasilkan buah-buah rohani.

Jenis Salib yang kedua adalah penderitaan yang lahir dari kasih. Ini muncul dari komitmen dan pengorbanan kita. Contoh yang baik adalah seorang ibu yang berkomitmen untuk mengasihi bayinya yang masih kecil. Dalam prosesnya, ia akan kehilangan waktu, tenaga, dan sumber daya lainnya. Membesarkan dan melindungi anak kecilnya secara fisik dan mental sangat melelahkan. Ia juga kehilangan kesempatan untuk hidup lebih bebas, mendapatkan lebih banyak uang, atau lebih menikmati hidup. Secara lahiriah, ia memikul salibnya, tetapi jauh di dalam dirinya, ia tahu bahwa ia hidup berkelimpahan dan menemukan makna yang lebih dalam di hidupnya, lebih dari yang dapat ditawarkan oleh dunia. Salibnya menjadi pohon kehidupan bagi anaknya. Itulah kebangkitan yang sejati.

Selamat Paskah!

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apa saja salib-salib jenis pertama kita? Bagaimana kita menghadapinya? Apa saja salib jenis kedua kita? Bagaimanakah salib-salib itu membawa kehidupan bagi orang lain? Apakah salib kita, yang dipikul dengan kasih, menjadi Pohon Kehidupan bagi orang-orang di sekitar kita?

Jesus, Not Our Ordinary King

Palm Sunday of the Lord’s Passion

April 13, 2025

Luke 19:28-40 and Luke 22:14–23:56

Palm Sunday is one of the most unique liturgical celebrations in the Church because it features two Gospel readings: Jesus’ triumphal entry into Jerusalem (Luke 19:28-40) and the Passion of Christ (Luke 22:14–23:56). These readings are not accidental; the Church intentionally pairs them to reveal their profound connection. But what is this relationship?

The first Gospel presents Jesus entering Jerusalem, the city of King David and his successors. His disciples follow closely while some residents welcome Him, proclaiming Him as king. Yet the Gospel clarifies that Jesus is no ordinary earthly ruler. He isn’t a militarily powerful king riding a stallion, but a humble sovereign on a donkey. He comes in the name of the Lord – not through royal lineage, political systems, or deception. He reigns not over a single nation, but over all creation, as even “the stones will cry out” to declare His kingship.

The second Gospel, the Passion narrative, further reveals Christ’s kingship. He doesn’t rule through violence but embraces it and bring it to an end on the cross. His kingdom operates not through terror but through law of love, sacrificing Himself so His people might be redeemed from sin and then live.

As we enter Holy Week, we’re invited to examine our identity as God’s people. Do we love our King or fear Him? If we truly love Him, we must learn to love as He loved. For two thousand years, countless martyrs have followed Christ’s example to the point of death. Even today in the 21st century, Christians face persecution: Nigerian priests abducted and murdered; Syrian Christian communities attacked and displaced; growing anti-Christian hostility in Israel.

Many of us live where faith can be expressed freely, yet these environments present different dangers – materialism, complacency, or cowardice in witnessing to Christ. We’re tempted to prioritize self over God, to love ourselves rather than Jesus

We consider St. Catherine of Siena’s example. During her time, the pope was residing in Avignon, France rather than Rome since he was afraid of dealing with people who opposed him there. However, rather than becoming a leader in faith and example of moral, the pope involved himself more in politics. She courageously went to Avignon and confronted Gregory XI, urging his return, “If you die in Rome, you die a martyr – but if you stay here, you die a coward.” Her actions flowed from radical love for Christ the King.

If Jesus is our King, how then shall we follow Him?

Guide Questions:

Do we truly love Jesus as our King? How does our love for Christ manifest practically? Are we prepared to profess our faith in challenging environments? Would we sacrifice for others out of love for Jesus? Are we ready to endure hardship as Christians?

Yesus, Bukan Raja Biasa

Minggu Palma Sengsara Tuhan

13 April 2025

Lukas 19:28-40 dan Lukas 22:14-23:56

Minggu Palma adalah salah satu perayaan liturgi yang paling unik dalam Gereja karena memberikan dua bacaan Injil: Yesus memasuki kota Yerusalem sebagai Raja (Lukas 19:28-40) dan kisah Sengsara Kristus (Lukas 22:14-23:56). Bacaan-bacaan ini bukan kebetulan ada, tetapi Gereja mendampingkan keduanya untuk mengungkapkan hubungan yang mendalam antara kedua bacaan ini. Namun, apakah hubungan ini?

Injil pertama menggambarkan Yesus memasuki Yerusalem, kota Raja Daud dan para penggantinya. Para murid-Nya mengikuti-Nya sementara penduduk Yerusalem menyambut-Nya, menyatakan Dia sebagai raja. Namun Injil ini menjelaskan bahwa Yesus bukanlah seorang penguasa duniawi biasa. Dia bukanlah seorang raja yang berkuasa secara militer dengan menunggang kuda perang, tetapi seorang raja yang rendah hati dan cinta damai dengan menunggang keledai. Dia datang dalam nama Tuhan – tidak melalui garis keturunan kerajaan, sistem politik modern, atau tipu daya. Dia memerintah bukan atas satu bangsa, tetapi atas semua ciptaan, bahkan “batu-batu akan berseru” untuk menyatakan kerajaan-Nya.

Injil kedua, kisah Sengsara, lebih jauh mengungkapkan Kristus sebagai Raja. Dia tidak memerintah dengan kekerasan tetapi merangkulnya dan mengakhirinya di kayu salib. Kerajaan-Nya beroperasi bukan melalui teror tetapi melalui hukum kasih, mengorbankan diri-Nya sendiri agar umat-Nya dapat ditebus dari dosa dan kemudian hidup.

Saat kita memasuki Pekan Suci, kita diundang untuk memeriksa identitas kita sebagai umat kerajaan Allah. Apakah kita mengasihi Raja kita atau takut akan Dia? Jika kita sungguh-sungguh mengasihi Dia, kita harus belajar untuk semakin menyerupai Dia dan juga mengasihi seperti Dia mengasihi. Selama dua ribu tahun, banyak sekali martir yang mengikuti teladan Kristus hingga mati. Bahkan saat ini di abad ke-21, umat Kristiani terus menghadapi penganiayaan: Para imam di Nigeria diculik dan dibunuh; komunitas Kristiani di Suriah diserang dan diusir; juga meningkatnya permusuhan anti-Kristen di Israel.

Banyak dari kita yang hidup di tempat di mana iman dapat diekspresikan dengan bebas, namun lingkungan ini menghadirkan bahaya yang berbeda – materialisme, rasa puas diri, atau kepengecutan dalam bersaksi tentang Kristus. Kita tergoda untuk memprioritaskan diri sendiri di atas Tuhan, untuk mencintai diri kita sendiri daripada Yesus.

Kita bisa belajar dari teladan St. Katarina Siena. Pada masanya, paus lebih memilih tinggal di Avignon, Perancis daripada di Roma karena ia takut berurusan dengan orang-orang yang menentangnya di sana. Namun, alih-alih menjadi pemimpin dalam iman dan teladan moral, paus lebih banyak melibatkan diri dalam politik. Maka, St. Katarina dengan berani pergi ke Avignon dan menghadapi Gregorius XI, mendesaknya untuk kembali, “Jika Anda mati di Roma, anda mati sebagai seorang martir – tetapi jika anda tetap di sini, anda mati sebagai seorang pengecut.” Tindakannya mengalir dari cinta yang radikal kepada Kristus Sang Raja.

Jika Yesus adalah Raja kita, bagaimana kita harus mengikuti-Nya?

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Yesus sebagai Raja kita? Bagaimanakah kasih kita kepada Kristus diwujudkan secara praktis? Apakah kita siap untuk menyatakan iman kita dalam lingkungan yang penuh tantangan? Apakah kita mau berkorban untuk orang lain karena kasih kita kepada Yesus? Apakah kita siap untuk menanggung penderitaan sebagai orang Kristen?

Love and Betrayal

5th Sunday of Lent [C]

April 6, 2025

John 8:1-11

The story of the woman caught in adultery is one that frequently appears during Lent, especially in Year C. What lessons can we draw from this story?

At first glance, the narrative seems straightforward, yet it carries profound lessons worth unpacking. While we often associate it with God’s mercy and forgiveness—which is certainly true— there is more to it than what meets the eyes. In Scripture, adultery is not merely a grave sin; it also serves as a metaphor for idolatry, the gravest of spiritual betrayals. The prophet Hosea, for instance, was called to marry an unfaithful woman to symbolize God’s covenant with wayward Israel (Hosea 1–3). Ezekiel condemns Jerusalem and Samaria as “adulterous sisters” who chased after foreign gods (Ezekiel 23:30). Similarly, in the New Testament, James rebukes those who prioritize worldly “friendship” over God, calling them “adulterers.” (James 4:4).

This connection between adultery and idolatry reveals a deeper truth about our relationship with God. He did not create us as slaves driven by fear or as mindless robots bound by programming. Instead, He made us free and capable of love, desiring a relationship with us; one built on devotion rather than obligation. In mystical terms, God invites us to become His spiritual lovers, meaning we must love Him above all else and serve Him not out of fear, but out of deep, sincere love.

One of the earliest saints to speak of this “spiritual marriage” was St. Catherine of Siena. As young as six years old, she declared herself the bride of Christ, refusing earthly marriage to devote herself entirely to Jesus. At the age of 20, she experienced the spiritual marriage with Christ. And her profound love united her deeply to Christ to the point of sharing His wounds. She received stigmata around five years before she passed away.

The Church constantly teaches that we, collectively, are the Bride of Christ. Just as Eve was formed from Adam’s side while he slept, the Church was born from the pierced side of Jesus on the cross. Through baptism, we are reborn as members of His Church—His beloved. Through the Eucharist, we are nourished and sustained by His Body and Blood. Thus, our love for God must surpass all others, and even our love for family and friends should flow from our love for Christ.

This is why preferring anything above God constitutes spiritual adultery. The story of Jesus forgiving the adulterous woman illustrates both God’s unwavering love and mercy and our own unfaithfulness. Lent calls us back to our first and truest love—the only love that brings lasting happiness.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Reflection Questions:

How do we relate to God—as a servant obeying a master, or as a lover responding to Love Himself? Do we love God above all else? Do we love others for the sake of God? What unhealthy attachments to the world do we need to examine? How can we return to my true love—God alone?

Kasih dan Pengkhianatan

Minggu Prapaskah ke-5 [C]

6 April 2025

Yohanes 8:1-11

Kisah perempuan yang tertangkap dalam berzina merupakan kisah yang sering muncul pada masa Prapaskah, terutama pada Tahun C. Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah ini?

Sekilas, kisah ini tampak sederhana, namun mengandung pelajaran yang sangat dalam yang perlu kita gali. Meskipun kita sering mengaitkannya dengan belas kasih dan pengampunan Allah, yang tentunya benar, ada hal yang lebih dalam dari sekadar apa yang terlihat. Dalam Alkitab, perzinaan bukan hanya merupakan dosa besar; perzinaan juga merupakan metafora untuk penyembahan berhala, sebuah pengkhianatan rohani yang paling berat. Nabi Hosea, misalnya, dipanggil untuk menikahi seorang wanita yang tidak setia untuk melambangkan relasi Allah yang setia dengan Israel yang tidak setia (Hosea 1-3). Yehezkiel mengutuk Yerusalem dan Samaria sebagai “saudara perempuan yang berzina” karena mengejar ilah-ilah asing (Yehezkiel 23:30). Demikian pula, dalam Perjanjian Baru, Yakobus menegur mereka yang memprioritaskan “persahabatan” duniawi di atas Tuhan, dengan menyebut mereka sebagai “pezina”. (Yakobus 4:4).

Hubungan antara perzinaan dan penyembahan berhala mengungkapkan kebenaran yang lebih dalam tentang hubungan kita dengan Tuhan. Dia tidak menciptakan kita sebagai budak yang dikendalikan oleh rasa takut atau sebagai robot yang tidak berpikiran yang terikat oleh program. Sebaliknya, Dia menciptakan kita sebagai orang yang bebas dan mampu mengasihi, yang menginginkan sebuah relasi kasih dengan kita; hubungan yang dibangun di atas pengabdian dan bukan kewajiban. Dalam istilah mistik, Tuhan mengundang kita untuk menjadi kekasih rohani-Nya, yang berarti kita mengasihi-Nya di atas segalanya dan melayani Dia bukan karena takut, tetapi karena cinta yang dalam dan tulus.

Salah satu orang kudus yang paling awal berbicara tentang “perkawinan rohani” ini adalah St. Katarina dari Siena. Pada usia enam tahun, ia menyatakan dirinya sebagai mempelai Kristus, menolak pernikahan duniawi untuk mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada Yesus. Pada usia 20 tahun, dia mengalami pernikahan rohani dengan Kristus. Dan cintanya yang luar biasa menyatukannya secara mendalam dengan Kristus sampai-sampai ia ikut merasakan luka-luka-Nya. Dia menerima stigmata sekitar lima tahun sebelum dia meninggal dunia.

Gereja secara terus-menerus mengajarkan bahwa kita, secara kolektif, adalah Mempelai Kristus. Sama seperti Hawa yang dibentuk dari sisi Adam ketika dia tidur, Gereja lahir dari sisi Yesus yang tertusuk di kayu salib. Melalui pembaptisan, kita dilahirkan kembali sebagai anggota Gereja-Nya, yakni Kekasih-Nya. Melalui Ekaristi, kita dipelihara dan ditopang oleh Tubuh dan Darah-Nya. Oleh karena itu, kasih kita kepada Allah haruslah melebihi segala sesuatu yang lain, dan bahkan kasih kita kepada keluarga dan teman-teman haruslah mengalir dari kasih kita kepada Kristus.

Inilah sebabnya mengapa lebih mengutamakan sesuatu yang lain di atas Tuhan merupakan perzinaan rohani. Kisah Yesus yang mengampuni perempuan yang berzina menggambarkan kasih dan kerahiman Allah yang tak tergoyahkan dan juga ketidaksetiaan kita. Masa Prapaskah memanggil kita kembali kepada cinta kita yang pertama dan yang paling sejati; satu-satunya cinta yang membawa kebahagiaan abadi.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi:

Bagaimana kita berelasi dengan Allah – sebagai seorang hamba yang taat kepada tuannya, atau sebagai seorang kekasih yang merespon Cinta-Nya? Apakah kita mengasihi Allah di atas segalanya? Apakah kita mengasihi orang lain demi Tuhan? Keterikatan tidak sehat apa terhadap dunia yang perlu kita periksa? Bagaimana kita dapat kembali kepada cinta sejati kita?

The Prodigal Father

4th Sunday of Lent [C]

March 30, 2025

Luke 15:1-3, 11-32

The story of the Prodigal Son is one of the most beautiful parables in the Gospel. Not only is it masterfully told, but it also teaches profound lessons—especially about parenthood.

Raising children is no easy task. Each child has a unique personality, and each can bring both joy and heartache. Many of us struggle to know how to be good parents. Some rely on the wisdom passed down from their own parents and elders, drawing from memories of how they were raised. Others turn to social media or self-proclaimed parenting “experts” for guidance. A few make the effort to consult real specialists—paediatricians, child psychologists, and educators. Yet, in the end, our children are not carbon copies of us. There will always be surprises beyond our control. All we can do is pray and hope they that will grow into their best selves.

The father in the parable offers us a powerful example. Despite doing his best to raise his two sons, he faced painful relationships with both. The younger son demanded his inheritance, severed ties, and left to live a sinful life. Imagine the father’s heartbreak—his son treated him as disposable, not as a parent. The elder son was no better. When his brother returned, he refused to enter the house and join the celebration. He never called his father “Father,” referring to his brother as “your son” instead of “my brother.” He saw himself not as a son but as a servant, even saying, “Look! All these years I’ve worked for you like a slave! Again, the father’s heart must have ached—he had raised a son, not a slave.

Yet, despite these struggles, the father never gave up. He never stopped hoping for his younger son’s return. When the prodigal son came home, humbled and expecting to be a servant, the father is the first one who saw his son, ran after him, and embraced him. He called him “my son” and not servant. When the first son refused to go home, the father sought him and pleaded with him, calling him “my son” and not servant, explaining that everything he has, belongs also to his son.

Many of us are blessed with children but endure strained relationships. Despite our best efforts, our children may not turn out as we hoped. Some, like the younger son, reject our love or wish us gone. Others, like the elder son, see us as taskmasters, not parents. Yet the parable calls us to love perseveringly, and till the end, because that is true parenthood. That is holiness.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Reflection Questions:

How do we raise our children well? What is the state of our relationship with them? Do we face difficulties in relating to our children? How do we respond to these challenges? Do we rely on God’s grace to guide us?

Kisah Seorang Ayah

Minggu ke-4 Masa Prapaskah [C]

30 Maret 2025

Lukas 15:1-3, 11-32

Kisah Anak yang Hilang adalah salah satu perumpamaan yang paling indah dalam Injil. Tidak hanya diceritakan dengan indah, tetapi juga mengajarkan pelajaran yang mendalam – terutama tentang menjadi orang tua.

Membesarkan anak bukanlah tugas yang mudah. Setiap anak memiliki kepribadian yang unik, dan masing-masing dapat membawa sukacita, namun juga sakit hati. Banyak dari kita yang bergulat menjadi orang tua yang baik. Beberapa mengandalkan kebijaksanaan yang diturunkan dari orang tua kita dan orang sekitar kita, atau  dari pengalaman dan memori bagaimana kita dibesarkan. Sebagian lagi beralih ke media sosial atau influencers yang menyebut diri sebagai “pakar parenting.”  Beberapa orang melakukan langkah lebih jauh dengan berkonsultasi dengan spesialis yang sebenarnya, seperti dokter anak, psikiater dan psikolog anak, dan pendidik. Namun, pada akhirnya, anak-anak kita bukanlah fotokopi dari diri kita. Akan selalu ada kejutan-kejutan di luar kendali kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa dan berharap mereka tumbuh menjadi diri mereka yang terbaik.

Sang ayah dalam perumpamaan ini memberikan teladan yang baik kepada kita. Meskipun telah melakukan yang terbaik untuk membesarkan kedua putranya, dia menghadapi relasi yang menyakitkan dengan keduanya. Anak bungsunya menuntut warisannya, memutuskan hubungan, dan pergi untuk menjalani kehidupan yang penuh dosa. Bayangkan betapa hancurnya hati sang ayah karena putranya memperlakukannya sebagai barang yang bisa dibuang, bukan sebagai orang tua. Anak sulungnya juga tidak lebih baik. Ketika adiknya kembali, dia menolak untuk masuk ke rumah dan bergabung dalam perayaan. Dia tidak pernah memanggil ayahnya dengan sebutan “Ayah,” dan memanggil saudaranya dengan sebutan “anakmu” daripada “saudaraku.” Dia melihat dirinya bukan sebagai anak tetapi sebagai hamba, bahkan berkata, “Lihat! Selama ini saya telah bekerja untukmu seperti seorang budak!” Sekali lagi, hati sang ayah pasti hancur karena ia telah membesarkan seorang anak, bukan seorang budak.

Namun, terlepas dari semua pergulatan ini, sang ayah tidak pernah menyerah. Dia tidak pernah berhenti berharap anak-anaknya kembali. Ketika anak yang hilang itu pulang dan berharap untuk menjadi seorang hamba, sang ayah adalah orang pertama yang melihat anaknya, berlari mengejarnya, dan memeluknya. Dia memanggilnya “anakku” dan bukan hamba. Ketika anak pertama menolak untuk pulang, sang ayah mencarinya dan memohon kepadanya, memanggilnya “anakku” dan bukan hamba, menjelaskan bahwa semua yang dia miliki, adalah juga milik anaknya.

Banyak dari kita yang dikaruniai anak tetapi mengalami hubungan yang tidak selalu sempurna. Terlepas dari upaya terbaik kita, anak-anak kita mungkin tidak menjadi seperti yang kita harapkan. Beberapa, seperti anak bungsu, menolak cinta kita atau berharap kita pergi. Yang lainnya, seperti anak sulung, melihat kita sebagai bos atau atasan, bukan sebagai orang tua. Namun, perumpamaan ini memanggil kita untuk mengasihi dengan tekun, dan sampai akhir. Itulah orang tua yang sejati. Itulah kekudusan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan Refleksi:

Bagaimana kita membesarkan anak-anak kita dengan baik? Bagaimana hubungan kita dengan mereka? Apakah kita menghadapi kesulitan dalam berhubungan dengan anak-anak kita? Bagaimana kita menanggapi tantangan-tantangan ini? Apakah kita mengandalkan kasih karunia Allah untuk membimbing kita?

Moses

3rd Sunday of Lent [C]

March 23, 2025

Exodus 3:1-8a, 13-15

Moses is undoubtedly one of the greatest figures in the Old Testament. He led the Israelites out of slavery in Egypt, mediated the Sinaitic covenant, taught God’s laws, and even performed miracles. His life and teachings are recorded in four books of the Bible: Exodus, Leviticus, Numbers, and Deuteronomy. However, when we look deeper into his life, we discover that his story is not solely about greatness and success. Moses also had a dark past.

Moses was born into the Levite clan during a time when Egypt had ordered the killing of all Hebrew baby boys. To save him, his mother devised a plan to place him in a basket on the Nile River, where he was found by an Egyptian princess. She drew him from the water and named him “Moses” (Exodus 2:10). Though an Israelite by birth, Moses was adopted by the princess and raised as part of the royal family, enjoying the privileges reserved for Egyptian nobility.

Moses’ story might have had a “happy ending” had he not involved himself in the struggles of the Hebrew slaves. He could have lived comfortably as an Egyptian official, married an Egyptian woman, raised a family, and enjoyed a peaceful old age. However, he could not ignore the injustice inflicted on his people. In a moment of anger, he killed an Egyptian who was oppressing an Israelite. Moses believed he had hidden his crime, but he was wrong. When he tried to mediate a dispute between two Israelites, they revealed his secret, exposing him as a murderer. His comfortable life was shattered, and he was forced to flee Egypt. Once drawn from the water, Moses now found himself drowning in despair.

In Midian, Moses started a new life. He protected the daughters of a Midianite priest from harassing shepherds, and as a sign of gratitude, the priest welcomed him and gave him his daughter Zipporah in marriage. This marked Moses’ second life. Though not as luxurious as his life in Egypt, it was peaceful. Yet, when Moses was around 80 years old, God appeared to him in a burning bush and called him to be His instrument in liberating the Israelites from Egyptian slavery. Moses doubted himself deeply. After all, he was a murderer and a fugitive who had betrayed the kindness of the Egyptians, while distrusted his fellow Israelites. He was also old and content with his life in Midian.

Despite Moses’ dark and sinful past—and his current doubts—God insisted on choosing him. Why? Because Moses’ story is ultimately not about Moses but about God, who redeemed Israel through an imperfect man. Yet, Moses was not merely an instrument. As he journeyed with God, he also found his own redemption.

Like Moses, we are far from perfect. We are broken, struggling with sin and disordered attachments. We fail as parents, spouses, children, and friends. We hurt others and ourselves. We doubt our worth and often settle for less. Yet, God insists on bringing out the best in us and invites us to walk with Him to find redemption. In the end, we can only be grateful, for despite our brokenness and imperfections, God makes us beautiful.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Questions:

What do we remember about Moses?  Do we have something in common with Moses? If so, what is it? Do we have a dark past like Moses? Do we experience failures like Moses? Do we doubt God’s plan for us, as Moses did? What can we learn from Moses as he accepted God’s calling?