The Story of Samaritan Woman

Third Sunday of Lent [A]
March 12, 2023
John 4:5-42

For the third Sunday of Lent, the Church has selected for us the story of Samaritan woman from the Gospel of John. This story does not only appear in the current liturgical year (Year A), but also other years (Year B and C). Why does the Church select this reading for the season of Lent? What makes it very special that every year we are invited to listen and reflect on the story?

The story of the Samaritan woman is a story of repentance. Thus, it is fitting for the season of Lent. Let us go deeper into the story. John the evangelist does not give us the name of this woman as well as her other details, but there is a particular information that stands out. The woman had five husbands, and presently, is living with another man. Again, we don’t have details on this issue. It seems that the woman has lived through cycle of marriage, divorce, and remarriage. For unknown reason, her former husbands kept dismissing her (see Deu 24). Perhaps, there were serious marital issues. Perhaps, there were problems with her personalities as well as her husbands’ characters, that rendered them unable to live in a permanent and healthy relationship. Again, we are not sure, but we may say that she has been through hell, and the experience was deeply painful and traumatic, to the point that she decided to live with a man without a proper marriage. At the same time, she had to avoid her people because of shame, and run away from her God.

At first, to hear that this woman had five marriages sounds unbelievable. Yet, this is not totally impossible. However, what more important is that the Samaritan woman has become a reflection of some of us, or some people close to us. Before I began my study in Rome, I served as an assistant parish priest in Surabaya, Indonesia. Being in the parish of a big city, my ministry was inevitably tied to Catholic marriages and families. I am fortunate that I was given the opportunity to solemnize more than fifty marriages. Yet, unfortunately, I also encountered many couples as they sought help facing their marital problems. As I was listening to their stories, I could not but feel the pain, frustration and sometimes anger. The consequences are deeply painful and traumatic: relationships are fractured, families are broken, and children are suffering.

Fortunately, the story of Samaritan woman does not end in a tragedy. Jesus unexpectedly waited for her and mercifully offered her the forgiveness and a new life. Though she was initially hesitated, she confessed her sins and found the true Messiah. We are not told what happened exactly to her life, but we can assume that she changed her life because she had the new-born courage to face her own people and proclaim Jesus.

As I accompany men and women who are struggling with their marriages, things are tough and painful, but not hopeless. Some couples eventually reconciled, but there are some who face more difficult situations. Yet, despite their challenging situations, many refuse to fall into sinful life, but choose to grow in holiness. I honored to encounter some of them. Despite being abandoned by their spouses, they refuse to retaliate with violence. They also resiste the temptation to live with another man or woman outside of marriage but committed to rise their children alone. They have all the right to become angry and disappointed with God because of their conditions, but they did not allow negative emotions to control them. More remarkably, they decided to serve also in the Church.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Concupiscentia

Hari Minggu Prapaskah ke-2 [A]
5 Maret 2023`
Matius 17:1-9

Masa Prapaskah ditandai dengan tindakan silih serta latihan rohani yang intensif seperti pantang, puasa dan amal. Salah satu tujuan dari kegiatan-kegiatan ini adalah untuk menguatkan otot-otot rohani kita melawan kelemahan jiwa atau ‘Concupiscentia’, yaitu kecenderungan kita untuk jatuh ke dalam dosa karena kodrat kita yang terluka (sering disebut juga sebagai ‘kedagingan’ kita). Namun, mengapa kita masih memiliki kelemahan ini jika kita telah ditebus? Bahkan Paulus dalam suratnya kepada Timotius dengan tegas mengatakan, “… kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa (2 Tim. 1:10).” Namun, kenapa kita masih bergulat dengan kedagingan kita?

photocredit: Nicolai Chernichenko

Pertama, kita harus mengakui bahwa kita berhadapan dengan misteri iman. Seperti misteri-misteri iman lainnya, realitas penebusan dan juga keberadaan ‘Concupiscentia’ adalah sebuah kenyataan, tetapi alasan di balik realitas tersebut sebagian besar masih tersembunyi karena kebenaran-kebenaran tersebut lebih besar daripada kemampuan akal budi kita. Namun, bukan berarti kita tidak mengerti sama sekali. Melalui para teolog dan orang-orang kudusnya, Gereja telah merefleksikan masalah ini selama dua ribu tahun, dan mengajarkan bahwa ‘Concupiscentia’, yakni cenderungan pada kejahatan, tetap ada dalam diri manusia karena Tuhan memanggil kita ke dalam peperangan rohani (lih. KGK 405).

Kehadiran ‘Concupiscentia’ membuka kesempatan bagi kita untuk menjalankan keutamaan-keutamaan dan bertumbuh dalam kekudusan melalui berbagai latihan rohani. Dengan demikian, meskipun ‘Concupiscentia’ tetap ada setelah pembaptisan, hal ini bukanlah halangan yang tidak dapat diatasi untuk menjalani hidup yang kudus, dan pada kenyataannya membuat perjalanan kita menjadi lebih bermakna. Dengan bantuan rahmat Allah, kita dapat melawan keinginan-keinginan yang tidak teratur ini dan bertumbuh dalam kekudusan.

Dalam Injil hari ini, kita mendengar bahwa Yesus bertransfigurasi di atas gunung. Bagi Petrus, Yohanes dan Yakobus, ini adalah pengalaman yang luar biasa yang dipenuhi dengan sukacita. Mereka tidak ingin kehilangan pengalaman yang menggembirakan ini, dan dengan demikian, Petrus mengusulkan untuk membangun tenda agar mereka dapat tinggal lebih lama di atas gunung. Namun, Yesus tidak tinggal lama dalam keadaan ilahi-Nya, tetapi memanggil para murid-Nya untuk turun dan mengikuti-Nya. Ke mana? Setelah transfigurasi, Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem di mana penderitaan dan kematian-Nya telah menanti. Yesus sangat memahami, “tidak ada kebangkitan tanpa salib”. ‘Concupiscentia’ adalah salah satu salib kita di dunia ini, dan ini bisa menjadi sarana menuju kekudusan.

Seorang teman baik saya pernah bertanya, “Mengapa Tuhan mengizinkan ‘Concupiscentia’ tetap ada di dalam jiwa kita? Bukankah akan lebih baik dan lebih mudah bagi kita jika ‘kedagingan’ itu dihilangkan pada saat pembaptisan?” Saya dapat membayangkan bahwa tanpa ‘Concupiscentia’, kita tidak perlu lagi berurusan dengan banyak godaan. Hidup akan jauh lebih mudah dan dunia akan menjadi tempat yang lebih baik karena orang-orang tidak lagi melakukan hal-hal jahat karena egoism dan hawa nafsu. Situasi tanpa ‘Concupiscentia’ ini, kurang lebih sama dengan kondisi orang tua pertama kita, Adam dan Hawa, sebelum mereka jatuh ke dalam dosa. Ini adalah sebuah Firdaus!

Namun, kemudian, saya menyadari bahwa bahkan tanpa adanya ‘Concupiscentia’, orang tua pertama kita tetap saja jatuh dalam dosa. Tidak adanya ‘Concupiscentia’ tidak secara otomatis mencegah kita jatuh ke dalam dosa. Faktanya, pada saat kita berbuat dosa di luar kebebasan total kita dan tanpa pengaruh ‘Concupiscentia’, kita akan jatuh dengan sangat keras, sama seperti Adam dan Hawa. Mungkin untuk mencegah kita mengalami apa yang dialami oleh orang tua pertama kita, Allah mengizinkan ‘Concupiscentia’ untuk tetap ada.

Pada akhirnya, kita masih menghadapi sebuah misteri ini, tetapi kita percaya bahwa kehadiran ‘Concupiscentia’ pada akhirnya adalah untuk kebaikan kita.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Concupiscence

2nd Sunday of Lent [A]
March 5, 2023
Matthew 17:1-9

Lenten Season is characterized with acts of penance as well as intensified spiritual exercises like fasting and almsgiving. One of the purposes of these activities is to strengthen our spiritual muscles against the weaknesses of the soul or ‘concupiscence’, that is a tendency to fall into sins due to our wounded nature. Yet, why do still have this weakness if we have been redeemed? St. Paul in his letter to Timothy emphatically says, “… the appearance of our savior Christ Jesus, who destroyed death and brought life and immortality to light through the gospel (2 Tim 1:10).”

photocredit: corina rainer

I must admit that we are dealing with mystery of faith. Like other mysteries, the reality of redemption as well as the presence of concupiscence are a reality, but the reasons behind these realities remain largely hidden because these truths are greater than our minds’ capacity. However, it does not mean that we are clueless. Through her theologians and saints, the Church has reflected on the matter for two thousand years, and taught that the consequences for nature, weakened and inclined to evil, persist in man and summon him to spiritual battle (CCC 405).

The presence of concupiscence opens up an opportunity for us to exercise the virtues and to grow in holiness through the practice of spiritual exercises. Thus, even though concupiscence remains after baptism, it is not an insurmountable obstacle to living a holy life, and in fact make our journey a lot more meaningful. With the help of God’s grace, we can resist their disordered desires and grow in holiness.

In today’s gospel, we hear that Jesus was transfigured in the mountain. For Peter, John and James, this was an ecstatic experience overflowing with joy. They did not want to lose this elating experience, and thus, Peter proposed to build tents so that they could stay longer up on the mountain. But, Jesus did not stay long in His divine state, but summoned his disciples to go down and follow Him. Where? After transfiguration, Jesus set His eyes to Jerusalem where His suffering and death awaited. Jesus understood well, ‘there is no resurrection without the cross.’ Concupiscence is one of our crosses here on earth, and it becomes a means to holiness.

One good friend of mine once asked me, “Why did God allow concupiscence to remain in our soul? It could have been better and easier for us if concupiscence had been removed during baptism.” The point was clearly taken. I can imagine that without concupiscence, I would not have to deal with many temptations. Life would be much easier, and the world would be a better place because people would no longer commit evil things out of selfish interests. However, our first parents still sinned even without concupiscence. The absence of concupiscence does not automatically prevent us from falling into sin. In fact, the moment we sin out of our total freedom and without the influence of concupiscence, we will fall extremely hard, just like Adam and Eve. Perhaps to prevent us from experiencing what our first parents had suffered, God allows concupiscence to remain.

Eventually, we still face the mystery, but we believe that even the presence of concupiscence is ultimately for our good.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Masa Prapaskah, Adam dan Yesus

Hari Minggu Pertama Masa Prapaskah [A]
26 Februari 2023
Matius 4:1-11

Sekarang kita berada di hari Minggu pertama masa Prapaskah. Bagi sebagian dari kita, masa Prapaskah sudah menjadi sebuah rutinitas tahunan. Kita berpantang makan daging atau hal-hal lain yang membuat kita nyaman dan berpuasa setidaknya dua kali dalam setahun (Rabu Abu dan Jumat Agung). Kita juga diminta untuk menghabiskan lebih banyak waktu untuk berdoa dan didorong untuk beramal lebih banyak. Warna dan suasana liturgi juga berubah di gereja-gereja kita. Dan di banyak paroki, pengakuan dosa juga tersedia. Beberapa dari kita mungkin tidak benar-benar mengerti mengapa kita harus melakukan hal-hal ini, tetapi karena kita adalah orang Katolik dan orang lain mempraktikkannya, kita juga melakukannya. Beberapa dari kita mungkin menyadari alasan di balik berbagai olah rohani ini karena kita mendengarkan katekese yang diberikan oleh para imam atau katekis awam, atau penjelasan yang diberikan di media sosial. Sebagai seorang imam, saya berusaha untuk mengambil setiap kesempatan untuk mendidik umat beriman pada masa yang indah ini (lihat juga katekese dan refleksi saya di tahun-tahun sebelumnya). Namun, kita masih bertanya-tanya mengapa kita harus terus melakukan hal-hal ini setiap tahun?

Jawabannya terletak pada kodrat manusia kita yang terluka. Berbicara tentang kodrat manusia, kita harus kembali kepada orang tua pertama kita, Adam dan Hawa. Dalam bacaan pertama Minggu ini, kita menemukan bagaimana Adam diciptakan dari debu tanah dan menerima nafas kehidupan. Tidak hanya itu, Tuhan menempatkan mereka di taman yang dekat dengan Allah sendiri. Hal ini menjadi simbol bahwa mereka hidup dalam keselarasan dengan Tuhan, alam semesta dan diri mereka sendiri. Ini adalah kondisi rahmat yang asli (original state of grace). Namun, terlepas dari semua hak istimewa itu, Adam dan Hawa, yang berasal dari tanah, berani menentang Tuhan semesta alam. Sungguh, dosa mereka layak berbuah kematian. Namun, Tuhan berbelas kasih, mencegah kematian, dan memberikan kesempatan kedua bagi pria dan wanita. Sayangnya, dosa telah melukai jiwa mereka dan menghancurkan persahabatan mereka dengan Tuhan. Kodrat yang terluka sekarang menjadi lemah terhadap godaan dan cenderung melakukan lebih banyak dosa.

Sayangnya, Adam bukan hanya seorang individu yang terisolasi. Ia merupakan kepala umat manusia. Oleh karena itu, Santo Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Roma (bacaan kedua Minggu ini), mengungkapkan kebenaran bahwa dampak dari dosa Adam mengalir ke seluruh umat manusia. “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa (Rm. 5:12).” Ketika kita dikandung, kita menerima kodrat manusia yang terluka. Kita berada dalam kondisi yang jauh dari Allah. Tradisi Katolik kita menyebutnya sebagai ‘dosa asal’.

Namun, kita tidak perlu putus asa. Juga dalam surat yang sama, St. Paulus memberitakan kabar baik bahwa Yesus telah menyelamatkan kita dan membawa kita kembali ke dalam persahabatan dengan Allah, yaitu kondisi rahmat (state of grace). “Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi rahmat Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. (Rm. 5:15).”

Lalu, pertanyaannya yang tetap ada: “Jika kita sudah ditebus, mengapa kita masih harus melakukan olah rohani yang intensif di masa Prapaskah? Ya, kita telah ditebus, tetapi jiwa kita masih memiliki beberapa kelemahan karena dampak dari dosa asal. Kita masih memiliki kecenderungan dan ketidakteraturan untuk melakukan dosa (para theolog menyebutnya sebagai ‘concupiscentia’ – KGK 405). Oleh karena itu, untuk menguatkan otot-otot rohani kita melawan kedagingan, dunia, dan iblis, dan semakin hidup di dalam rahmat, Yesus memberi kita tiga kiat berikut ini: berpuasa, berdoa secara intensif, dan beramal. (Untuk mengetahui mengapa ketiga hal ini harus dilakukan, lihatlah renungan saya tahun lalu).

Namun, ada satu pertanyaan yang tersisa: “Mengapa Allah mengizinkan ‘concupiscentia’ untuk tetap ada di dalam jiwa kita meskipun ada kita sudah ditebus?” Nantikan jawabannya Minggu depan!

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lent, Adam and Jesus

1st Sunday of Lent [A]
February 26, 2023
Matthew 4:1-11

We are now on the first Sunday of Lent. For some of us, the Lenten season is just another routine. We abstain from meat or other things that bring us comfort and fast at least twice a year (Ash Wednesday and Good Friday). We are also asked to spend more time in prayer and encouraged to give more alms. The liturgical color and atmosphere also change in our churches. And in many parishes, confessions are made available. Some of us may not really understand why we must do these things, but since we are Catholics and others are practicing it, we do it too. Some of us may be aware of the reason behind these spiritual exercises because we listen to the catechesis given by the priests or lay catechesis, or explanations given on social media. As a priest, I take every opportunity to educate the faithful on this beautiful season (check also my catechesis and reflections in previous years). Yet, we still wonder why we have to keep doing this every year.

creation of Adam by Michelangelo at Sistine Chapel

The answer rests on our wounded nature. Speaking about our nature, we cannot but go back to our first parents Adam and Eve. In our first reading, we discover how Adam and Eve were created from the dust of the earth and received the breath of life. Not only that, God placed them in the garden close to Himself. This becomes a symbol that they lived in harmony with God, nature, and themselves. This is the state of original grace. Yet, despite all the privileges, Adam and Eve, the dirt of the earth, dared to defy the Lord of the universe. Truly, their sin merited death. God was merciful, prevented total death, and gave a second chance for man and woman. Unfortunately, sin has wounded their souls and destroyed their original friendship with God. The wounded nature is now weak to temptations and prone to commit more sins.

Regrettably, Adam is not just an isolated individual. He is also the head of humanity. Thus, St. Paul, in his letter to the Romans (our second reading), expressed the truth that the effects of Adam’s sin flow to all humanity. “Therefore, as sin came into the world through one man and death through sin, and so death spread to all men because all men sinned (Rom 5:12).” When we are conceived, we receive a wounded human nature. We are in a state far from God. Our tradition calls this original sin.

However, we are not doomed to hopelessness. St. Paul, also in the same letter, preached the good news that Jesus has saved us and brought us back into the friendship of God, the state of grace. “For if many died through one man’s trespass, much more have the grace of God and the free gift in the grace of that one man Jesus Christ abounded for many (Rom 5:15).”

Then, the question remains: ‘If we are already redeemed, why must we do intensive spiritual exercises in the Lenten season?’ Yes, we have been redeemed, but our souls retain some weaknesses due to the effects of original sin. We still have this tendency to commit sin and disorder. Thus, to strengthen our spiritual muscles against the flesh, the world, and the devil, Jesus gives us these three tips: fast, intensive prayer, and almsgiving. (For why these three actions, see my last year’s reflection.)

Yet, one question remains: ‘Why did God allow concupiscence to remain in our souls despite the work of redemption?’ Wait for the answer next Sunday!

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apakah Yesus mengajarkan kita untuk menjadi lemah?

Minggu ke-7 dalam Waktu Biasa [A]
19 Februari 2023
Matius 5:38-48

Pada hari Minggu ini, kita akan menemukan salah satu ajaran moral Yesus yang paling kontroversial. Karena ajaran ini, kita, umat Kristiani, sering dituduh sebagai orang yang lemah, bodoh, dan tunduk pada hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup kita. Namun pada saat yang sama, ketika kita mencoba memperjuangkan keadilan, lawan-lawan kita dengan mudah menggunakan ayat-ayat ini untuk melemahkan kita. Mereka menuduh kita tidak berbelas kasih dan tidak tahu mengampuni. Jadi, bagaimana kita memahami ajaran ini? Apakah ini berarti bahwa seorang istri harus pasrah saja dengan perlakuan kasar suaminya? Apakah itu berarti kita harus menutup mata terhadap kejahatan dan ketidakadilan di sekitar kita?

Yesus membuka pengajaran-Nya dengan mengutip Hukum Taurat Musa, “Mata ganti mata dan gigi ganti gigi (lih. Kel. 21:24).” Bagi telinga orang modern, hukum ini terdengar kejam dan primitif, tetapi tujuan sebenarnya dari hukum ini adalah untuk mencegah pembalasan yang berlebihan. Ketika seseorang mencuri seekor domba, ia harus mengembalikan seekor domba atau hal yang setara. Musuh-musuhnya tidak dapat menuntut seluruh rumahnya sebagai ganti seekor domba. Hukum ini bertujuan untuk menumbukan rasa keadilan, untuk mengekang eskalasi kekerasan yang tidak perlu.

Kemudian, Yesus mengubah hukum Musa ini dengan mengucapkan ajaran baru, “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat!” Bagi Yesus, kita harus lebih dari sekadar mencari pembalasan yang setimpal. Namun, apakah itu berarti kita harus menerima semua dengan pasrah dan pasif? Jika kita melihat lebih dalam ke dalam Perjanjian Lama, kita akan menemukan ajaran yang serupa seperti Amsal 24:29, “Janganlah engkau berkata: “Aku akan berbuat kepadanya seperti yang diperbuatnya kepadaku.” (lihat juga Yes 50:6). Dengan demikian, ajaran Yesus untuk tidak membalas kejahatan bukanlah ajaran yang unik bagi Yesus. Jadi, apakah Yesus benar-benar memperbaharui Hukum Taurat Musa?

Ajaran Yesus yang inovatif bukanlah tentang menerima kejahatan secara pasif, melainkan secara aktif menaklukkan kejahatan dengan kebaikan. Kita dapat memahami hal ini jika kita memperhatikan dengan seksama contoh yang Yesus berikan. “Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu (Mat 5:40).” Baju (bahasa Yunani: χιτών, chiton) biasanya merupakan kain sederhana yang dipakai untuk menutupi tubuh, sedangkan jubah (bahasa Yunani: ἱμάτιον, himation) merupakan pakaian yang lebih mahal, dan dikenakan di atas baju. Jadi, Yesus mengatakan bahwa jika seseorang meminta pakaian sederhana kita, jangan hanya memberikan pakaian yang biasa saja, tetapi juga pakaian yang lebih berharga. Tindakan ini pasti akan membingungkan banyak orang, tetapi ini juga menunjukkan ketulusan dan upaya kita untuk mengakhiri permusuhan, serta membuka kemungkinan rekonsiliasi dan bahkan persahabatan.

Tantangan yang sebenarnya adalah bagaimana menerapkan ajaran Yesus dalam kehidupan kita sehari-hari. Saya harus mengakui bahwa tidak ada resep tunggal untuk semua orang. Penerapannya tergantung pada konteks dan kebijaksanaan kita. Salah satu contoh kasus yang baik adalah Santo Yohanes Paulus II dan Ali Agca. Pada tanggal 13 Mei 1981, Ali berusaha membunuh Paus di Lapangan St. Petrus, Roma. Dia menembak beberapa kali dan melukai bapa suci. Namun mukjizat terjadi. Paus lolos dari maut, dan selamat dari upaya jahat tersebut. Ali ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara. Apa yang dilakukan Paus Yohanes Paulus II terhadap Ali? Dia memaafkan Ali dan bahkan mengunjunginya di penjara. Tindakan ini cukup berani, karena Ali bisa saja menyerang Paus dan membunuhnya. Namun, pertemuan itu berlangsung dengan baik, dan keduanya berjabat tangan. Ya, Ali diampuni, tapi, apakah itu berarti Ali bisa langsung keluar dari penjara? Tidak sama sekali, Ali tetap menjalani hukuman penjara selama dua puluh tahun, karena itu adalah keadilan, tetapi pada saat yang sama, rekonsiliasi terjadi.

Menjadi pengikut Yesus sungguh sulit karena kita tidak hanya mencari keadilan, tetapi juga harus membawa musuh-musuh kita lebih dekat kepada Yesus. Namun, dengan rahmat Allah, hal ini bisa terjadi.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Winning Your Enemies

7th Sunday in Ordinary Time [A]
February 19, 2023
Matthew 5:38-48

This Sunday, we encounter one of the most controversial of Jesus’ moral teachings. Because of these teachings, we, Christians, are often accused as being weak, stupid, and submissive in face of evil. Yet at the same time, when we try to fight for justice, our opponents readily utilize these verses against us. They accuse us as not being compassionate, loving and forgiving. So, how do we understand this? Does it mean that a wife simply must endure her abuse husband? Does it mean we do close our eyes to evil and injustice around us?


Jesus opens His teaching with quoting the Law of Moses, “An eye for an eye and a tooth for a tooth (see Exo 21:24).” For modern ears, this law sounds cruel and even barbaric, but the real purpose of this law is to prevent excessive retaliation. When someone stole a lamb, he shall return a lamb or its equivalent. His enemies cannot demand his entire house in place of a lamb. The law is to promote sense of justice, to curb unnecessary violence, and escalation.


Then, Jesus transforms this law of Moses by pronouncing a new teaching, “do not resist evil!” For Jesus, we must go beyond seeking an equal retribution. But, does it mean we have to helplessly become a punching bag?
If we look deeper into the Old Testament, we will discover similar teachings like Proverbs 24:29, “Do not say, “I will do to him as he has done to me.” (check also Isa 50:6). Thus, Jesus’ teaching to resist no evil is not unique to Jesus. So, does Jesus truly transform the Law of Moses then?


Jesus’ ground-breaking teaching is not on passively receiving evil, but rather actively conquering evil with goodness. We can understand this if we look carefully Jesus’ examples. “If anyone wants to go to law with you over your tunic, hand him your cloak as well (Mat 5:40).” Tunic (Greek: χιτών, chiton) is usually a simple cloth and worn to cover the body, while clock (Greek: ἱμάτιον, himation) is more expensive garment, and put over the tunic. Thus, Jesus is saying that if someone demands your simple cloth, do not only give the ordinary one, but also the more precious garment. The action will surely puzzle many people, but it also shows our sincerity and effort to end enmity, as well as open the possibility of reconciliation and even friendship.


The real challenge is how to apply Jesus’ teaching in our daily lives. I must admit there is no one-size-fits-all answer. The application depends on your context and our prudence. One good example will be St. John Paul II and Ali Agca. On May 13, 1981, he attempted to assassinate the Pope. He shot several times and wounded the holy man. Miraculously, the Pope escaped death, and survived the evil attempt. Ali was arrested and sentenced to prison. What did Pope John Paul II do to Ali? He forgave Ali and even visited him in prison. The act was daring enough, because Ali might attack the Pope, and kill him for sure. Yet, the meeting was cordial, as both shook hands. Yes, Ali was forgiven, but, does it mean Ali can immediately walk out of prison? Not at all, Ali served his imprisonment for twenty years, because it is justice, but at the same time, the reconciliation takes place.
Being followers of Jesus is truly tough because we do not only look for justice, but also we need to bring our enemies closer to Jesus. Yet, with God’s grace, this is made possible.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hukum Allah dan Hati yang Setia

Minggu ke-6 dalam Masa Biasa
12 Februari 2023
Matius 5:17-37

Setelah kita mendengar pengajaran Yesus tentang kunci kebahagiaan (Sabda Bahagia) dan identitas kita (sebagai Garam Dunia dan Terang Dunia), kini kita masuk ke dalam inti ajaran moral Yesus. Di sini, Yesus menegaskan bahwa Dia tidak meniadakan ‘Hukum Taurat dan kitab para nabi’ (nama tradisional dari Perjanjian Lama), tetapi menggenapinya. Ajaran-ajaran Yesus tidak bertentangan dengan Perjanjian Lama, tetapi Dia menyempurnakan dan mentransformasikannya. Namun, mengapa Yesus harus menyempurnakannya?

Alasan pertama adalah karena banyak hukum dalam Perjanjian Lama yang diberikan oleh Tuhan untuk membentuk bangsa Israel sebagai bangsa yang kudus. Di sini, kudus berarti ‘dipisahkan’ untuk Tuhan Allah saja. Bangsa Israel kuno hidup di tengah-tengah bangsa-bangsa lain yang menyembah banyak dewa-dewi, dan hidup dalam perilaku yang tidak bermoral. Tuhan Israel adalah satu-satunya Tuhan yang benar, dan Dia ingin agar bangsa Israel menyembah Dia saja dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Oleh karena itu, Dia memberikan Sepuluh Perintah Allah. Mereka tidak boleh menyembah dewa-dewi lain (berhala), dan mereka tidak boleh hidup menurut kebiasaan bangsa-bangsa lain, seperti melakukan pembunuhan, perzinaan, pencurian, dan hal-hal jahat lainnya.

Namun, hukum-hukum Tuhan di Perjanjian Lama tidak hanya mengenai moralitas, tetapi juga berbagai detail dalam kehidupan liturgi (misalnya, Kitab Imamat) dan juga perilaku bermasyarakat (misalnya, Kitab Ulangan). Hukum dan peraturan Allah dalam Perjanjian Lama sangat banyak dan terperinci. Mengapa ada begitu banyak aturan? Bukankah 10 Perintah Allah saja sudah cukup untuk membentuk Israel sebagai bangsanya Allah?

Salah satu alasan mendasarnya adalah ketegaran hati. Pembentukan bangsa Israel sebagai umat Allah terbukti merupakan proses yang sulit. Ketika mereka jatuh ke dalam gaya hidup penyembahan berhala dan kembali berdosa dengan mengikuti jalan bangsa-bangsa lain, Tuhan menempatkan hukum-hukum baru yang lebih ketat. Pada saat yang sama, Allah memberikan kelonggaran-kelonggaran tertentu seperti mengizinkan perceraian (Ul. 24:1-4). Ini juga karena ketegaran hati bangsa Israel.

Yesus paham betul bahwa jika hati kita tidak dibentuk dengan benar, maka banyaknya peraturan akan sia-sia. Oleh karena itu, Yesus berkata, “Karena dari hati timbul segala macam pikiran jahat, pembunuhan, perzinaan, percabulan, pencurian, sumpah palsu, fitnah (Mat. 15:19).” Hukum dan peraturan pada umumnya adalah baik karena memandu kita untuk melakukan sesuatu dengan benar. Hukum dan peraturan juga melindungi kita dari bahaya, serta memberikan kejelasan di tengah-tengah kebingungan. Namun, tidak peduli seberapa baik hukum itu, selama hati manusia keras dan tegar, kita akan selalu menemukan cara untuk membengkokkan hukum.

Jadi, bagaimana kita dapat memiliki hati yang lembut dan mau diperbarui? Faktor pertama dan yang paling penting adalah rahmat Allah. Hanya rahmat-Nya yang dapat membuat hati kita yang keras menjadi hati yang hidup dan baru (lihat Yeh. 36:26). Inilah sebabnya mengapa kehidupan sakramental benar-benar fundamental, terutama melalui partisipasi dalam Ekaristi kudus setiap hari Minggu (bahkan lebih baik lagi, setiap hari) dan pengakuan dosa secara teratur.

Kedua, hati dibentuk oleh keutamaan, dan keutamaan tidak lain adalah kebiasaan yang baik. Memang benar bahwa membentuk kebiasaan yang baik bisa jadi sangat sulit, namun kita selalu dapat memulai dengan langkah yang sederhana namun konsisten. Daripada mengucapkan kata-kata buruk dan kasar saat kita marah, kita bisa berhenti sejenak dan memilih alternatif lain yang lebih baik, seperti mendoakan mereka yang membuat kita marah. Kita juga bisa bereksplorasi dengan kebiasaan-kebiasaan lainnya.

Terakhir, hati kita perlu dibimbing oleh rasionalitas yang benar. Adalah tindakan bijaksana untuk berusaha memahami alasan dan latar belakang di balik hukum-hukum yang kita ikuti. Mengetahui bahwa hukum (terutama Hukum Allah) ada untuk kebaikan kita, membuat kita lebih mudah untuk mengikutinya. Tuhan adalah Bapa yang sempurna dan Dia membuat Hukum-Nya agar putra-putri-Nya mencapai kedewasaan yang sejati.

“Ya Tuhan, ciptakanlah hati yang murni dan setia di dalam diriku!”

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Laws of the Hearts

6th Sunday in Ordinary Time
February 12, 2023
Matthew 5:17-37

Having heard Jesus’ teachings on the keys to happiness (the Beatitudes) and our identities as the Salt of the Earth and the Light of the World, we are now delving into the heart of Jesus’ moral teachings. Here, Jesus makes it clear that He has come not to abolish the Law and the Prophets, but to fulfil them. Jesus’ teachings are not at odds with the Old Testament, but instead perfect and transform it. Yet, why does Jesus have to transform it?

photocredit: Levi Meir

The first reason is that many laws in the Old Testament were given by God to consecrate and separate the Israelites as a holy nation for the Lord alone. The ancient Israelites were living among the gentiles who worshiped many gods, and lived immoral conducts. The God of Israel is the only true God, and He wanted the Israelites to worship Him alone and live according to His true goodness. Thus, God gave the Ten Commandments, forbidding the worship of other gods (idols) and prohibiting behaviours such as murder, adultery, theft, and other evil practices that were common among the gentiles.

However, God’s laws do not only about morality, but also various details in liturgical life (for example, the Book of Leviticus) and also civil conducts (for example, the Book of Deuteronomy). God’s laws and regulations in the Old Testament are numerous and details. Why are so many rules?

One of the fundamental reasons is the hardness of the hearts. The formation of Israelites as the people of God was proven to be tough process. As they lapsed into previous idolatrous and sinful lifestyles, God placed new and stricter laws. At the same time, God allowed certain concessions like permitting divorce (Deu 24:1-4).

Jesus understands the true purpose behind his Father’s giving of the Law and why the Israelites were given so many laws – because of the hardness of their hearts. Jesus is well aware that without proper heart formation, an increase in rules will be ineffective. Thus, Jesus says, “For out of the heart come evil intentions, murder, adultery, fornication, theft, false witness, slander (Mat 15:19).” Laws and regulations are generally good because they guide us in doing something properly. They also protect us from harms, as well as give clarity in midst of confusion. Yet, no matter how good the laws are, as long as the hearts are hard, the men will always find a way to bend the laws.

So how can we have a renewed and humble hearts? The first and the most important factor is the grace of God. Only God’s grace can make our stony hearts into a living and new hearts (see Eze 36:26). This is why sacramental life is truly fundamental, especially through the participation of the holy Eucharist every Sunday (even better, every day) and regular confessions.

Secondly, hearts are formed by virtues, and virtue is no other than a good habit. Forming good habits can be difficult, but we can always begin with simple, consistent steps. Instead of saying bad words when we are angry, we can pause and choose another better alternative, like saying prayers. We can also explore with other habits.

Lastly, our hearts should be guided by our right reasons. It is wise to seek to understand the reasons behind the laws we follow. Knowing that laws (especially the Laws of God) are there for our goodness make us docile to follow them. God is the perfect Father and He made His Laws for the true maturity of His children.

“O Lord, create a pure and humble hearts in me!”

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Engkaulah Terang Dunia

Minggu ke-5 Waktu Biasa [A]
5 Februari 2023
Matius 5:13-16

Setelah Yesus membuka pengajaran-Nya di bukit dengan Sabda Bahagia, Ia melanjutkan dengan menjelaskan identitas murid-murid-Nya. “Engkau adalah terang dunia.” Mengapa Yesus menyebut murid-murid-Nya sebagai terang dunia? Terang adalah salah satu tema penting dalam Alkitab. Kembali ke kisah penciptaan, salah satu hal pertama yang Tuhan ciptakan adalah terang. “Jadilah terang! Dan terang itu jadi (Kejadian 1:1).” Sekali lagi, mengapa terang menjadi topik penting dalam Alkitab?

Ini ada hubungannya dengan kodrat dasar manusia itu sendiri. Manusia pada dasarnya adalah makhluk cahaya atau terang. Hidup kita bergantung pada cahaya di sekitar kita. Yang paling penting adalah cahaya matahari, tetapi juga cahaya yang berasal dari sumber-sumber lain baik yang alami maupun buatan. Kita membutuhkan cahaya untuk menavigasi dunia kita. Untuk bekerja, bergerak, membaca, menggunakan gadget adalah beberapa aktivitas yang bergantung pada cahaya. Mata kita, salah satu organ yang paling kompleks dalam tubuh kita, pada dasarnya adalah reseptor (penerima) cahaya yang baik. Cahaya tidak hanya menjadi dasar untuk navigasi dan aktivitas kita, tetapi juga sangat penting untuk pertumbuhan dan fungsi biologis kita. Cahaya matahari yang tepat membantu tubuh kita menghasilkan beberapa senyawa kimia penting, seperti vitamin D dan hormon dopamin. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kekurangan cahaya matahari dapat menyebabkan depresi, penurunan fungsi kognitif dan gangguan siklus bangun-tidur (ritme sirkadian).

Allah yang menciptakan kita dan juga terang, sangat mengetahui hubungan antara manusia dan terang. Oleh karena itu, Yesus menyebut kita sebagai terang dunia. Seperti halnya terang bagi tubuh kita, adalah misi kita untuk membantu orang lain di sekitar kita untuk menavigasi kehidupan mereka menuju kebahagiaan sejati (silakan cek refleksi saya minggu lalu mengenai kebahagiaan) dan bertumbuh menjadi pribadi dewasa dan kudus.

Namun, bagaimana cara kita menjadi terang dunia? Yesus memberikan jawabannya, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga (Mat 5:16).” Kita diharapkan untuk melakukan perbuatan baik bagi orang lain, dan perbuatan baik dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Dalam tradisi Katolik, kita memiliki tujuh karya kasih jasmani dan juga rohani. Karya-karya tersebut contohnya adalah memberi makan orang yang lapar, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, merawat orang sakit, mengajar orang lain tentang iman, mengingatkan orang lain untuk bertobat dari dosa-dosa mereka, dan mendoakan orang yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Kita juga dapat memulai perbuatan baik kita dari rumah dan keluarga, seperti memberi makan anak-anak kita dengan makanan yang sehat, dan mengajar anak-anak kita dalam iman dan moralitas.
Namun, kita juga harus berhati-hati karena sebagai terang, godaannya adalah untuk bersinar dan menarik orang lain kepada diri kita sendiri, bukannya menuntun mereka kepada Kristus. Kita harus ingat bahwa terang kita adalah agar orang lain dapat ‘memuliakan Bapa kita yang di surga’ bukan memuliakan diri kita sendiri. Bahaya kedua adalah kita kehabisan bahan bakar. Kita merasa lelah setelah melakukan banyak pekerjaan baik. Solusinya bisa sesederhana dengan beristirahat dan tidur yang cukup, serta pola hidup yang sehat, atau mungkin kita perlu mengatur ulang prioritas hidup kita. Namun, secara rohani, kita harus ingat bahwa terang yang sejati adalah Kristus sendiri. Dia berkata, “Akulah terang dunia (Yoh 8:12).” Kita adalah terang dunia karena kita ada di dalam Kristus dan berpartisipasi dalam dan merefleksikan terang-Nya (lih. Gal 2:20). Kita tidak boleh lupa untuk menyatukan diri kita dalam terang yang sejati melalui doa-doa kita dan sakramen-sakramen kudus, terutama Ekaristi.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP