Minggu Gaudete. Minggu ke-3 Adven [B]
13 Desember 2020
Yohanes 1: 6-8, 19-28
Minggu ini cukup istimewa. Kita masih dalam masa Adven, namun kita melihat warna liturgi yang berbeda. Itu adalah warna mawar atau merah muda. Warna indah ini melambangkan kegembiraan dan harapan, dan ini sejalan dengan semangat Minggu Adven ketiga, Minggu Gaudete. Gaudete adalah kata Latin yang berarti “Bersukacitalah!” Nama ini berakar pada introit atau antiphon pembukaan Misa, dari Filipi 4: 4-5, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat !” Dalam bacaan kedua, Santo Paulus mengulangi motif yang sama, “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. [1 Tesalonika 5:16]. ”
Namun, pertanyaan sebenarnya adalah “Apakah Gereja tidak naif dalam mengajak kita untuk bersukacita di masa-masa sulit ini?” Virus covid-19 yang mematikan dan cepat menyebar ini praktis telah meluluh lantahkan seluruh planet. Meskipun tidak menghancurkan bumi secara fisik seperti bom nuklir, hal ini membunuh banyak orang. Virus ini memperlambat ekonomi dan memaksa banyak pemerintah, bahkan yang terkuat sekalipun, menjadi panik dan bergulat. Jumlah korban terus meningkat dan tidak ada tanda-tanda mereda. Pastinya, kita akan mengalami pengalaman Natal yang berbeda tahun ini. Natal yang tidak lagi ceria. Tentunya, covid-19 bukanlah satu-satunya hal yang membuat hidup kita jadi buruk. Masalah pribadi, masalah keluarga, konflik di masyarakat dan banyak hal lainnya masih menghantui kehidupan kita. Bagaimana Gereja mengharapkan kita untuk bersukacita? Jika kita meneliti perkataan Santo Paulus dalam 1 Tes 5:16, kita menemukan bahwa bersukacita bukanlah pilihan, tetapi kehendak Tuhan bagi kita! Ini memberi kita lebih banyak alasan untuk bertanya bagaimana mungkin?
Kuncinya adalah memahami sukacita bukan hanya sebagai ketiadaan rasa sakit atau kesenangan fisik dan emosional. Kata Yunaninya adalah “kaire” dan ini adalah kata yang sama digunakan oleh Malaikat Gabriel untuk memanggil Maria [Luk 1:28]. Jika kita melihat kehidupan Maria, dia tidak memiliki kehidupan yang penuh dengan kesuksesan duniawi. Hidupnya berantakan saat Yesus hadir, pedang menembus jiwanya dan dia melihat putranya sendiri mati di kayu salib. Tidak ada yang sensasional tentang hidup Maria! Namun, Bunda Maria mampu berkata, “… Hatiku bergembira karena Allah, Juru selamatku [Luk 1:47]! Maria dapat menemukan sesuatu yang berharga di tengah-tengah banyak hal buruk dalam hidupnya. Dia menemukan Yesus.
Dalam 1 Tesalonika 5:16, bersukacita tidak lepas dari doa yang tak henti-hentinya dan mengucap syukur dalam segala keadaan. Itu adalah kunci kedua untuk bersukacita. Melalui doa, kita terhubung dengan Tuhan, dan dalam doa, kita belajar untuk melihat Tuhan dan rencana-Nya dalam hidup kita. Kadang-kadang, kita hanya mau melihat hal-hal yang baik pada saat yang baik, tetapi Injil mengatakan sebaliknya: ada Tuhan di palungan yang kotor dan bahkan ada Tuhan di salib yang mengerikan. Saat kita melihat Tuhan bahkan dalam kegelapan hidup kita, kita akan dimampukan untuk mengucap syukur. Dan, saat kita selalu bersyukur, kita terinspirasi untuk bersukacita. Inilah semangat Natal, dan kita dilatih di sekolah Minggu Gaudete.
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
photocredit: @stevenkyleadair

On the second Sunday of Advent, we are reading from the beginning of the Gospel of Mark. After all, this is the beginning of liturgical year B, and it is fitting to start with the first chapter of Mark. Yet, unlike Matthew and Luke, Mark has neither infancy narratives nor the childhood stories of Jesus. Mark commences his Gospel with John the Baptist, who announces the repentance and the coming of Christ.
Pada Minggu kedua Adven, kita membaca dari awal Injil Markus. Kita ingat bahwa ini adalah awal dari tahun liturgi B sehingga awal Injil Markus adalah bacaan yang tepat. Namun, tidak seperti Matius dan Lukas, Markus tidak memiliki narasi kelahiran maupun kisah masa kecil Yesus. Markus memulai Injilnya dengan Yohanes Pembaptis yang mewartakan pertobatan dan kedatangan Kristus.
We are entering a joyful season of Advent. The first Sunday of Advent is also the beginning of the liturgical year of the Catholic Church. Advent is from the Latin word “adventus” meaning “the coming.” From this name alone, we can already deduce the purposes of this lovely season. It is to prepare us for the coming of Jesus, yet we must not forget that the Church teaches us that there are two comings. The first coming is two thousand years ago in Bethlehem, as a baby at Mary’s hands. The second coming is Jesus’ arrival at the end of time as the glorious king and the judge.
Kita memasuki masa Adven. Minggu pertama Adven juga merupakan awal tahun liturgi Gereja Katolik. Adven sendiri berasal dari kata Latin “adventus” yang berarti “kedatangan”. Dari nama ini saja kita sudah bisa menyimpulkan tujuan dari masa liturgi yang satu ini. Masa Adven mempersiapkan kita bagi kedatangan Yesus, namun kita tidak boleh lupa bahwa Gereja mengajarkan kita bahwa ada dua kedatangan Yesus. Kedatangan pertama terjadi dua ribu tahun yang lalu di Bethlehem, sebagai bayi kecil di tangan Maria. Kedatangan kedua adalah kedatangan Yesus di akhir zaman sebagai raja dan hakim yang mulia.
To be the subject of a king is a foreign experience for many of us. I was born in Indonesia, and our country is a republic, and we espouse democracy to elect our leader. Some of us are citizens of kingdoms like Great Britain, Belgium, Thailand, and Japan, but the kings or queens here are serving under the constitution. When we speak of absolute monarchs, we are reminded of the powerful ancient kingdoms like Assyrian, Babylonian, and Persian empires. Here, the king’s words are the highest law, and disobedient to the king’s wish is acts of treason. Surprisingly, we still have some existing absolute monarchs in our time, like Brunei, Saudi Arabia, and the Vatican!
Menjadi abdi seorang raja adalah pengalaman asing bagi banyak dari kita. Saya lahir di Indonesia, dan negara kita adalah republik dan kita menjunjung demokrasi sebagai cara untuk memilih pemimpin kita. Mungkin kita pernah ke negara kerajaan seperti Inggris, Belgia, Thailand, dan Jepang, tetapi raja atau ratu di sini juga berdasarkan konstitusi atau undang-undang dasar. Ketika kita berbicara tentang monarki absolut, kita diingatkan tentang kerajaan kuno yang kuat seperti kerajaan Asyur, Babel, dan Persia. Di sini perkataan raja adalah hukum tertinggi, dan tidak mematuhi keinginan raja adalah tindakan pengkhianatan. Sebenarnya, kita masih memiliki beberapa monarki absolut yang ada di zaman kita, seperti Kerajaan Brunei, Arab Saudi dan Vatikan!
The original meaning of talent is not God’s given ability, but a unit of weight and value, normally gold and silver. More importantly, talent is a huge amount of money. One talent is equal to around six thousand denarii. If one denarius is the wage of ordinary daily labor, one talent means six thousand days of works or approximately seventeen to twenty years of work.
Sejatinya talenta bukanlah bakat atau kemampuan yang diberikan Tuhan, tetapi sebuah unit bobot dan nilai, biasanya dari emas dan perak. Mudahnya, talenta adalah jumlah uang yang sangat besar. Satu talenta setara dengan sekitar enam ribu dinar. Jika satu dinar adalah upah kerja satu hari, satu talenta berarti enam ribu hari kerja atau sekitar tujuh belas hingga dua puluh tahun kerja.
A wedding ceremony is one of the most beautiful events in many cultures and societies. This includes the Jewish community in the first century AD Palestine. For the Hebrew people living in the time of Jesus, the wedding ceremony has two stages. The first one is the exchange of vows or betrothal. The couple is officially married, and they are recognized as husband and wife in the eyes of the Jewish community. Yet, they are going to wait for around one year before they are living together. The husband will prepare for the house as well as the reception celebration that may last for seven days.