Bersukacitalah Selalu!

Minggu Gaudete. Minggu ke-3 Adven [B]

13 Desember 2020

Yohanes 1: 6-8, 19-28

Minggu ini cukup istimewa. Kita masih dalam masa Adven, namun kita melihat warna liturgi yang berbeda. Itu adalah warna mawar atau merah muda. Warna indah ini melambangkan kegembiraan dan harapan, dan ini sejalan dengan semangat Minggu Adven ketiga, Minggu Gaudete. Gaudete adalah kata Latin yang berarti “Bersukacitalah!” Nama ini berakar pada introit atau antiphon pembukaan Misa, dari Filipi 4: 4-5, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!  Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat !” Dalam bacaan kedua, Santo Paulus mengulangi motif yang sama, “Bersukacitalah senantiasa.  Tetaplah berdoa.  Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. [1 Tesalonika 5:16]. ”

Namun, pertanyaan sebenarnya adalah “Apakah Gereja tidak naif dalam mengajak kita untuk bersukacita di masa-masa sulit ini?” Virus covid-19 yang mematikan dan cepat menyebar ini praktis telah meluluh lantahkan seluruh planet. Meskipun tidak menghancurkan bumi secara fisik seperti bom nuklir, hal ini membunuh banyak orang. Virus ini memperlambat ekonomi dan memaksa banyak pemerintah, bahkan yang terkuat sekalipun, menjadi panik dan bergulat. Jumlah korban terus meningkat dan tidak ada tanda-tanda mereda. Pastinya, kita akan mengalami pengalaman Natal yang berbeda tahun ini. Natal yang tidak lagi ceria. Tentunya, covid-19 bukanlah satu-satunya hal yang membuat hidup kita jadi buruk. Masalah pribadi, masalah keluarga, konflik di masyarakat dan banyak hal lainnya masih menghantui kehidupan kita. Bagaimana Gereja mengharapkan kita untuk bersukacita? Jika kita meneliti perkataan Santo Paulus dalam 1 Tes 5:16, kita menemukan bahwa bersukacita bukanlah pilihan, tetapi kehendak Tuhan bagi kita! Ini memberi kita lebih banyak alasan untuk bertanya bagaimana mungkin?

Kuncinya adalah memahami sukacita bukan hanya sebagai ketiadaan rasa sakit atau kesenangan fisik dan emosional. Kata Yunaninya adalah “kaire” dan ini adalah kata yang sama digunakan oleh Malaikat Gabriel untuk memanggil Maria [Luk 1:28]. Jika kita melihat kehidupan Maria, dia tidak memiliki kehidupan yang penuh dengan kesuksesan duniawi. Hidupnya berantakan saat Yesus hadir, pedang menembus jiwanya dan dia melihat putranya sendiri mati di kayu salib. Tidak ada yang sensasional tentang hidup Maria! Namun, Bunda Maria mampu berkata, “… Hatiku bergembira karena Allah, Juru selamatku [Luk 1:47]! Maria dapat menemukan sesuatu yang berharga di tengah-tengah banyak hal buruk dalam hidupnya. Dia menemukan Yesus.

Dalam 1 Tesalonika 5:16, bersukacita tidak lepas dari doa yang tak henti-hentinya dan mengucap syukur dalam segala keadaan. Itu adalah kunci kedua untuk bersukacita. Melalui doa, kita terhubung dengan Tuhan, dan dalam doa, kita belajar untuk melihat Tuhan dan rencana-Nya dalam hidup kita. Kadang-kadang, kita hanya mau melihat hal-hal yang baik pada saat yang baik, tetapi Injil mengatakan sebaliknya: ada Tuhan di palungan yang kotor dan bahkan ada Tuhan di salib yang mengerikan. Saat kita melihat Tuhan bahkan dalam kegelapan hidup kita, kita akan dimampukan untuk mengucap syukur. Dan, saat kita selalu bersyukur, kita terinspirasi untuk bersukacita. Inilah semangat Natal, dan kita dilatih di sekolah Minggu Gaudete.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: @stevenkyleadair

Mark and His Gospel

Second Sunday of Advent [B]

December 6, 2020

Mark 1:1-8

On the second Sunday of Advent, we are reading from the beginning of the Gospel of Mark. After all, this is the beginning of liturgical year B, and it is fitting to start with the first chapter of Mark. Yet, unlike Matthew and Luke, Mark has neither infancy narratives nor the childhood stories of Jesus. Mark commences his Gospel with John the Baptist, who announces the repentance and the coming of Christ.

Mark, among the four gospels, is arguably the least popular. This happens for understandable reasons. Mark is the shortest Gospel, and it has only 16 chapters and around fifteen thousand Greek words. [Matthew has around twenty-three thousand while Luke has twenty-five thousand]. Many stories in Mark are also found in Matthew and Luke, but many materials in Matthew or Luke are absent in Mark. Thus, people who read Matthew tend to skip Mark because they believe they have read Mark. This is certainly unfortunate because Mark has its characters and emphasis.

Mark is action-oriented Gospel. It immediately starts with a man of action, John the Baptist. Mark presents Jesus as someone who always in the move and is active. Mark does not write much about Jesus’ preaching but focuses on what Jesus does. He preaches the good news, heals the sick, exorcises the demons, does miracles, calls disciples, and travels a lot. Mark’s Gospel is also fast-paced, yet, despite the fast-moving events, Mark often paints more details in his accounts, like the Gerasene demoniac story [Mar 5:1-20].

The traditional symbol for Mark is a lion. He acquires this symbol because his Gospel starts with John, who boldly preaches repentance, just like a lion. Yet, the Gospel of Mark itself displays the character of a lion: it delivers his point powerfully and effectively. Mark was not the twelve disciples of Jesus, and he might be an eyewitness, especially when Jesus was arrested [Mark 14:51]. The Acts of Apostles calls him John Mark, a companion of Paul and Barnabas in their missionary journey. Still, unfortunately, Mark became a source of disagreement between Paul and Barnabas [Act 15:39]. Yet, he finally reconciled with Paul [Col 4:10]. Along the way, he turned to be the companion and disciple of St. Peter in Rome [1 Pet 5:13]. Later, in the early second century, Papias, bishop of Hierapolis, testified that Mark was the interpreter of Peter and wrote down Peter’s teachings of Jesus. Because of Peter’s authority, we understand why Mark’s Gospel was selected as one of the canonical gospels.

What can we learn from Mark and his Gospel, especially this season of Advent? Mark gives us an example that we can approach Jesus in our unique characters. While Mark is writing about Jesus, he does not have to compose like John. Like Mark, we do not have to be someone else in loving God. While the saints serve as role models, we are invited to love Him with our unique personalities and ways. While we are united in one Church, our personalities do not disappear but rather enhanced in serving one another. Unless we recognize who we are fundamentally in Christ, we are going to fail to love authentically.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: samantha-sophia

Markus dan Injilnya

Minggu Kedua Adven [B]

6 Desember 2020

Markus 1: 1-8

Pada Minggu kedua Adven, kita membaca dari awal Injil Markus. Kita ingat bahwa ini adalah awal dari tahun liturgi B sehingga awal Injil Markus adalah bacaan yang tepat. Namun, tidak seperti Matius dan Lukas, Markus tidak memiliki narasi kelahiran maupun kisah masa kecil Yesus. Markus memulai Injilnya dengan Yohanes Pembaptis yang mewartakan pertobatan dan kedatangan Kristus.

Markus di antara keempat Injil, bisa dibilang paling tidak populer. Mengapa? Markus adalah Injil terpendek dan hanya memiliki 16 bab dan sekitar lima belas ribu kata Yunani. [Matius memiliki sekitar dua puluh tiga ribu sedangkan Lukas memiliki dua puluh lima ribu]. Banyak cerita dalam Markus juga ditemukan dalam Matius dan Lukas, tetapi banyak materi dalam Matius atau Lukas tidak ada dalam Markus. Jadi, orang yang membaca Matius cenderung melewatkan Markus karena mereka yakin mereka telah membaca Markus. Hal ini tentunya sangat disayangkan karena Markus memiliki karakter dan penekanan tersendiri.

Markus adalah Injil yang berorientasi pada tindakan. Injil ini dimulai dengan Yohanes Pembaptis, “man of action”. Markus menampilkan Yesus sebagai seseorang yang selalu bergerak dan aktif. Markus tidak banyak menulis tentang pengajaran Yesus, tetapi berfokus pada apa yang Yesus lakukan. Yesus memberitakan kabar baik, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, melakukan mukjizat, memanggil murid dan mengunjungi banyak tempat. Injil Markus juga bergerak cepat, namun, meskipun bergerak cepat, Markus sering menuliskan lebih banyak detail dalam ceritanya di bandingkan Matius atau Lukas, seperti kisah orang yang dirasuki roh jahat di Gerasa [Mar 5: 1-20].

Lambang tradisional Markus adalah seekor singa. Dia memperoleh simbol ini karena Injilnya dimulai dengan Yohanes yang dengan berani memberitakan pertobatan, layaknya seekor singa. Namun, Injil Markus sendiri menampilkan karakter seekor singa: Injil ini menyampaikan pesannya dengan kuat dan efektif. Markus sendiri bukanlah dua belas rasul Yesus, dan ada kemungkinan bahwa dia adalah menjadi saksi mata, terutama ketika Yesus ditangkap [Markus 14:51]. Dari Kisah Para Rasul, nama lengkapnya adalah Yohanes Markus yang pada awalnya adalah rekan Paulus dan Barnabas dalam perjalanan misionaris mereka. Namun, sayangnya, Markus menjadi sumber ketidaksepakatan antara Paulus dan Barnabas [Kis 15:39]. Akhirnya dia berdamai dengan Paulus [Kol 4:10]. Markus kemudian menjadi pendamping dan murid St. Petrus di Roma [1 Pet 5:13]. Menurut kesaksian Papias, uskup Hierapolis, pada awal abad kedua, Markus adalah penerjemah dari St. Petrus dan menuliskan ajaran Petrus tentang Yesus secara akurat tapi tidak secara kronologis. Karena otoritas Petrus inilah, Injil Markus dipilih sebagai salah satu Injil kanonik.

Apa yang dapat kita pelajari dari Markus dan Injilnya terutama pada masa Adven ini? Markus memberi kita teladan bahwa kita dapat melayani Yesus dengan kepribadian kita yang unik. Saat Markus menulis tentang Yesus, dia tidak menulis seperti Yohanes. Saat Lukas mengutip Markus, dia tidak sekedar menjiplak Markus, tetapi menulis dengan gayanya sendiri. Seperti Markus, kita tidak harus menjadi orang lain dalam mengasihi Tuhan. Sementara para kudus memberikan teladan, kita diundang untuk mengasihi Dia dengan kepribadian dan cara kita yang unik dan terbaik. Saat kita menjadi bagian dalam satu Gereja, kepribadian kita tidak hilang, melainkan ditingkatkan dalam melayani satu sama lain. Kecuali kita mengenali siapa kita secara fundamental di dalam Kristus, kita akan gagal untuk mengasihi secara otentik.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

 

Sign of Hope

First Sunday of Advent [B]

November 29, 2020

Mark 13:33-37

We are entering a joyful season of Advent. The first Sunday of Advent is also the beginning of the liturgical year of the Catholic Church. Advent is from the Latin word “adventus” meaning “the coming.” From this name alone, we can already deduce the purposes of this lovely season. It is to prepare us for the coming of Jesus, yet we must not forget that the Church teaches us that there are two comings. The first coming is two thousand years ago in Bethlehem, as a baby at Mary’s hands. The second coming is Jesus’ arrival at the end of time as the glorious king and the judge.

Our Gospel points to this fundamental truth of the second coming. Jesus will surely come, but He does not give us the timetable, and thus, we need to be prepared and be watchful. The illustration Jesus presents is a master who is travelling abroad. In ancient times, travelling is stunning different from our time. Nowadays, with the advances of technologies and modern transport systems, we can determine even the exact location of a particular train and even an airplane. We are used to following a fixed schedule of travel itineraries. However, the ancient people knew nothing about the internet or GPS, and travelling was often hard to endure. People who needed to cross the sea may get stranded because of the unpredictable storms. Some people had to spend weeks in a  town because the winter was unbearably chilling for travellers. Paul, the apostle to the gentiles, knew well how punishing travelling was. Robbers ambushed him, his ship was capsized several times, and he had to spend hours on the sea. The master will come, but nobody knows when, and thus, the servants have to be watchful.

Humanity is living in a time of great sadness and fear. We are still battling the covid-19 that kills thousands, renders countless people jobless, and changes the way we live and interact. Aside from this tiny virus, we are constantly scared by possible global catastrophe caused by nuclear wars, global warming, even zombies and alien attacks. Yet, this season of Advent gives us a reason for hope. Despite everything, Jesus will surely come, and He remains in control.

We learn from the advent wreath. This tradition attached to advent season comes from northern Europe, who knew well how dark and cold winter could be, especially in December. Unlike us, who live in tropical, our brethren living near the arctic zone sometimes experience brutal winter. They are living in freezing temperatures and often without sunlight. These gloomy and dark conditions may affect our mental health. However, our brothers and sisters refused to give up and look for the sign of hope. They discovered the evergreen leaves that decline to wither and found out that small light shines brighter in the dark. This advent wreath points to us Christ, our Hope. Every time we enter the season of Advent, we are assured that there is always hope, even in the face of our world’s brokenness.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: joanna kosinka

Tanda Harapan

Minggu Pertama Adven [B]

29 November 2020

Markus 13: 33-37

Kita memasuki masa Adven. Minggu pertama Adven juga merupakan awal tahun liturgi Gereja Katolik. Adven sendiri berasal dari kata Latin “adventus” yang berarti “kedatangan”. Dari nama ini saja kita sudah bisa menyimpulkan tujuan dari masa liturgi yang satu ini. Masa Adven mempersiapkan kita bagi kedatangan Yesus, namun kita tidak boleh lupa bahwa Gereja mengajarkan kita bahwa ada dua kedatangan Yesus. Kedatangan pertama terjadi dua ribu tahun yang lalu di Bethlehem, sebagai bayi kecil di tangan Maria. Kedatangan kedua adalah kedatangan Yesus di akhir zaman sebagai raja dan hakim yang mulia.

Injil kita menunjukkan kebenaran mendasar tentang kedatangan yang kedua kali ini. Yesus pasti akan datang, tetapi Dia tidak memberi kita waktunya, dan karena itu, kita perlu bersiap-siap selalu. Ilustrasi yang diberikan Yesus adalah seorang tuan rumah yang bepergian ke luar negeri. Di jaman dahulu, perjalanan jauh sanggatlah berbeda dengan zaman kita. Saat ini, dengan kemajuan teknologi dan sistem transportasi modern, kita dapat menentukan bahkan dengan tepat lokasi sebuah bus, kereta dan bahkan pesawat terbang. Jadwal keberangkatan dan kedatangan sudah tetap, dan kita tinggal mengikutinya saja. Namun, orang-orang kuno tidak memiliki internet atau GPS, dan perjalanan panjang sering kali sulit dilakukan. Orang yang perlu menyeberang laut mungkin harus tinggal di kota Pelabuhan karena badai yang tidak terduga. Sementara sebagian orang harus menghabiskan waktu berminggu-minggu di tempat tertentu karena musim dingin datang dan jalan dipenuhi salju. Rasul Paulus tahu betul betapa sulitnya bepergian pada waktu itu. Dia pernah disergap oleh perampok, kapalnya karam beberapa kali, dan dia pernah juga berjam-jam terombang-ambing di lautan. Yesus mengajarkan bahwa sang tuannya akan datang kembali, tapi tidak ada yang tahu kapan, dan karenanya, para pelayan harus waspada.

Sekarang ini, umat ​​manusia hidup di masa penuh kecemasan dan ketakutan yang luar biasa. Kita masih berjuang melawan Covid-19 yang membunuh ribuan orang, membuat banyak orang kehilangan pekerjaan, dan mengubah cara kita hidup dan berinteraksi. Selain virus covid ini, kita terus-menerus cemas oleh kemungkinan bencana global yang disebabkan oleh perang nuklir, pemanasan global, bahkan serangan zombie dan alien! Namun, masa adven ini memberi kita alasan untuk berharap. Terlepas dari segala hal buruk yang terjadi, Yesus tetap memegang kendali, dan Dia akan datang sebagai Raja yang adil dan penuh kasih.

Mari kita belajar dari pesan yang dibawa oleh lingkaran adven. Ini adalah satu tradisi masa adven yang berasal dari orang-orang Eropa utara kuno yang tahu betul betapa gelap dan dinginnya musim dingin, terutama di bulan Desember. Tidak seperti kita yang tinggal di daerah tropis, saudara-saudara kita yang tinggal di dekat zona artic terkadang mengalami masa dingin yang brutal. Mereka hidup dalam suhu beku, dan sering kali tanpa sinar matahari. Kondisi yang suram dan kelam ini bisa mempengaruhi kesehatan mental kita. Namun, saudara-saudari kita menolak untuk menyerah dan mencari tanda harapan. Mereka menemukan daun cemara yang tidak pernah layu, dan menemukan bahwa cahaya kecil bersinar lebih terang dalam gelap. Karangan bunga adven ini menunjuk pada kita Kristus, Harapan kita. Setiap kali kita memasuki masa Adven, kita diyakinkan bahwa selalu ada harapan bahkan di tengah-tengah hal-hal yang tidak pasti di dunia kita ini.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: waldemar brant

King of Mercy

The Solemnity of Our Lord Jesus Christ, King of the Universe [A]

November 22, 2020

Matthew 25:31-46

To be the subject of a king is a foreign experience for many of us. I was born in Indonesia, and our country is a republic, and we espouse democracy to elect our leader. Some of us are citizens of kingdoms like Great Britain, Belgium, Thailand, and Japan, but the kings or queens here are serving under the constitution. When we speak of absolute monarchs, we are reminded of the powerful ancient kingdoms like Assyrian, Babylonian, and Persian empires. Here, the king’s words are the highest law, and disobedient to the king’s wish is acts of treason. Surprisingly, we still have some existing absolute monarchs in our time, like Brunei, Saudi Arabia, and the Vatican!

Today we are celebrating the solemnity of Jesus Christ, the King of the Universe. Yet, it is a bit difficult to imagine Christ as a king. He never wears a crown except for thorns. He never sat on the throne except for the cross. And, He never possessed an army except for a bunch of coward disciples.  Is Jesus truly a king? The answer is an absolute yes. Jesus, as the king, is one of the dominant topics in the Gospels. Angel Gabriel announces to Mary, “the Lord God will give to him [Jesus] the throne of his ancestor David. He will reign over the house of Jacob forever, and of his kingdom there will be no end. [Luk 1:32-33]” One of the criminals crucified with Jesus cries, “Jesus, remember me when you come into your kingdom. [Luk 23:42]” And throughout His public ministry, Jesus is tirelessly proclaiming and building the kingdom of God.

In today’s Gospel, Jesus reveals that he is not just an ordinary king, not just a king among many kings. He is the king of kings, and only He can bring people to eternal life and everlasting damnation. We are reminded that since Jesus is the king of the universe, we are all His subjects. However, whether we are good subjects or bad ones, we still have to choose. Like with other kingdoms, we still need to at least two basic things: acknowledging Jesus as our king and being His loyal servant.

The good news is that He does not require us, His subjects, to wage war against other countries or pay taxes! He is the king of mercy, and thus, His order is: do the Works of Mercy. In the Catholic tradition, there are seven corporal works of mercy. These are: to feed the hungry, give water to the thirsty, clothe the naked, shelter the homeless, visit the sick, visit the imprisoned, and bury the dead. The seven corporal works of mercy are not complete with the seven spiritual works of mercy. These are: to instruct the ignorant, counsel the doubtful, admonish the sinners, bear patiently those who wrong us, forgive offenses, comfort the afflicted, and pray for the living and the dead.

Doing these are not always easy, but it is necessary because it proves our loyalty to the great king. Negligence to do works of mercy brings a serious consequence: to be expelled from the kingdom. The choice is ours, and the time is now.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: robert nyman

Raja Belas Kasih

Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus, Raja Semesta Alam [A]

22 November 2020

Matius 25: 31-46

Menjadi abdi seorang raja adalah pengalaman asing bagi banyak dari kita. Saya lahir di Indonesia, dan negara kita adalah republik dan kita menjunjung demokrasi sebagai cara untuk memilih pemimpin kita. Mungkin kita pernah ke negara kerajaan seperti Inggris, Belgia, Thailand, dan Jepang, tetapi raja atau ratu di sini juga berdasarkan konstitusi atau undang-undang dasar. Ketika kita berbicara tentang monarki absolut, kita diingatkan tentang kerajaan kuno yang kuat seperti kerajaan Asyur, Babel, dan Persia. Di sini perkataan raja adalah hukum tertinggi, dan tidak mematuhi keinginan raja adalah tindakan pengkhianatan. Sebenarnya, kita masih memiliki beberapa monarki absolut yang ada di zaman kita, seperti Kerajaan Brunei, Arab Saudi dan Vatikan!

Hari ini kita merayakan Hari Raya Yesus Kristus, Raja Semesta Alam. Namun, agak sulit membayangkan Kristus sebagai seorang raja. Dia tidak pernah memakai mahkota kecuali dari duri. Dia tidak pernah duduk di singgasana kecuali salib. Dan, Dia tidak pernah memiliki pasukan kecuali sekelompok murid-murid yang pengecut. Apakah Yesus benar-benar seorang raja? Jawabannya ya! Faktanya, Yesus sebagai raja adalah salah satu topik dominan dalam Injil. Malaikat Gabriel menyatakan kepada Maria, “…Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,  dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan [Luk 1: 32-33].” Salah satu penjahat yang disalibkan bersama Yesus berseru, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja [Luk 23:42].” Dan sepanjang pelayanan publik-Nya, Yesus tanpa lelah mewartakan dan membangun kerajaan Allah.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengungkapkan bahwa dia bukan hanya raja biasa, bukan hanya raja di antara banyak raja. Dia adalah raja dari segala raja, dan hanya Dia yang dapat membawa orang ke kehidupan kekal atau maut yang abadi. Kita diingatkan bahwa karena Yesus adalah raja alam semesta, kita semua adalah abdi-Nya. Namun, kita tetap harus memilih, apakah kita abdi yang baik atau buruk. Seperti halnya kerajaan lainnya, kita masih melakukan setidaknya dua hal dasar: mengakui Yesus sebagai raja kita dan menjadi abdi-Nya yang setia.

Kabar baiknya adalah untuk menjadi abdi-Nya yang setia, Dia tidak menuntut kita untuk berperang melawan negara lain, atau bahkan membayar pajak! Dia adalah raja belas kasih, dan dengan demikian, perintah-Nya adalah: lakukan karya-karya Belas Kasih. Dalam tradisi Katolik, ada tujuh karya belas kasih jasmani. Ini adalah: memberi makan yang lapar, memberi air kepada yang haus, memberi pakaian bagi yang telanjang, melindungi para tunawisma, mengunjungi yang sakit, mengunjungi yang dipenjara, dan menguburkan yang meninggal. Tujuh karya belas kasih jasmani tidak lengkap tanpa tujuh karya belas kasih rohani. Ini adalah: Menasihati orang yang ragu-ragu, mengajar orang yang belum tahu, menegur pendosa, menghibur orang yang menderita, mengampuni orang yang menyakiti, menerima dengan sabar orang yang menyusahkan, dan berdoa untuk orang yang hidup dan mati.

Melakukan hal-hal ini tidak selalu mudah, tetapi perlu karena itu membuktikan kesetiaan kita kepada sang raja agung. Kelalaian melakukan perbuatan belas kasih membawa konsekuensi serius: diusir dari kerajaan. Pilihan ada di tangan kita dan waktunya sekarang.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: Arturo Rey

The Master’s Trust

33rd Sunday in Ordinary Time

November 15, 2020

Matthew 25:14-30

The original meaning of talent is not God’s given ability, but a unit of weight and value, normally gold and silver. More importantly, talent is a huge amount of money. One talent is equal to around six thousand denarii. If one denarius is the wage of ordinary daily labor, one talent means six thousand days of works or approximately seventeen to twenty years of work.

To seek the value of this parable, we need to discover the surprising twists in the story. This time, I would like to invite you all to focus on the master of the servants. The master is giving a total of 8 talents to his three servants [literally slaves]. If we pause a moment, we begin to realize how fantastic amount of money they receive. The act of giving presupposes either two things: either the master is unimaginable rich that he does not care really about these talents, or he is utterly generous and trusting. I believe it is the second reason.

To entrust these talents entails grave risks. One possibility is that the servants may fail in their trading, and thus, the master may lose his money. Another chance is the servants may run away with talents, and therefore, the master may lose both his money and his servants. Yet, despite these nightmarish possibilities, the master is firm in his decision. He trusts his servants, and it pays off. Except for his lazy servant, the master earns double!

From this, we learn a precious lesson. The best way to expand our talent is by sharing it with others. The usual way to develop our talents is by practicing it often. However, this method does not bring us exponential growth. Yet, by sharing the talents, the possibility of growth is unimaginable. Yet again, the parable is not simply about talents, but the relationship between the master and the servants, on the trust and faith of the master and gratitude of the servants. Indeed, the ability to recognize the master’s trust produces gratitude, and gratitude propels the servants to do their best.

One probable reason that the servant becomes lazy is that he fails to recognize his master’s trust and focuses on the smallness of his talent. Ironically, one talent is still a huge amount of wealth! Thus, instead of gratitude, envy creeps in, and laziness prevails. We also notice that the servant is not losing the talent, but he still receives the punishment. Though the talent is not missing, the trust of the master has been lost. And when this trust’s lost, everything is lost.

Learning from this parable, we are called to have that ability to recognize God’s “trust” and love in us. Different talents we have are just a simple manifestation of this love. Slaves as we are, we do not deserve anything from God, but God has given us superabundantly. From this realization, only gratitude shall naturally flow. But, if we miss the point, we may fall into many other sins: envy, anger, slander, or simply laziness. Again, it is not about the talents we have, but the trust and love God has in us.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Di Balik Talenta

Minggu ke-33 di Masa Biasa

15 November 2020

Matius 25: 14-30

Sejatinya talenta bukanlah bakat atau kemampuan yang diberikan Tuhan, tetapi sebuah unit bobot dan nilai, biasanya dari emas dan perak. Mudahnya, talenta adalah jumlah uang yang sangat besar. Satu talenta setara dengan sekitar enam ribu dinar. Jika satu dinar adalah upah kerja satu hari, satu talenta berarti enam ribu hari kerja atau sekitar tujuh belas hingga dua puluh tahun kerja.

Untuk mencari makna dari perumpamaan ini, kita perlu menemukan bagian dari cerita yang mengejutkan. Kali ini, saya ingin mengajak kita semua fokus pada tuan para hamba ini. Tuannya memberikan total 8 talenta kepada hamba-hambanya [secara harfiah adalah budak]. Jika kita berhenti sejenak, kita mulai menyadari betapa fantastisnya jumlah uang yang mereka terima. Tindakan memberi mengandaikan salah satu dari dua hal: entah sang tuan adalah orang yang sangat kaya sehingga dia tidak benar-benar peduli dengan talenta-talenta ini, atau dia sangat murah hati dan percaya kepada para hambanya. Saya percaya dia adalah orang yang murah hati dan percaya kepada hambanya.

Mempercayakan talenta ini memiliki risiko besar. Salah satu kemungkinannya adalah bahwa para hamba bisa gagal dalam usaha mereka dan dengan demikian, tuannya bisa kehilangan uangnya. Kemungkinan lain adalah para hamba bisa saja kabur dengan membawa talenta, dan dengan demikian, tuannya bisa kehilangan uang dan para hambanya. Namun, terlepas dari kemungkinan sangat buruk ini, sang tuan teguh dalam keputusannya. Dia mempercayai para hambanya, dan kepercayaannya berbuah. Kecuali untuk hambanya yang malas, sang tuan mendapat dua kali lipat!

Dari sini, kita mendapat pelajaran berharga. Cara terbaik untuk mengembangkan talenta kita adalah dengan membagikannya kepada orang lain. Cara yang biasa untuk mengembangkan talenta kita adalah dengan menggunakannya. Namun, metode ini tidak membawa kita pertumbuhan eksponensial. Namun, dengan berbagi talenta, kemungkinan untuk berkembang tidak terbayangkan. Lebih dari itu, perumpamaan ini bukan hanya tentang talenta, tetapi tentang hubungan antara tuan dan hambanya, tentang kepercayaan dan kasih sang tuan dan rasa syukur para hamba. Memang, kemampuan untuk melihat kepercayaan sang tuan akan menghasilkan rasa syukur, dan rasa syukur mendorong para hamba untuk melakukan yang terbaik.

Salah satu kemungkinan alasan hamba menjadi malas adalah karena dia gagal mengenali kepercayaan tuannya dan berfokus pada kecilnya talenta yang ia terima. Ironisnya, satu talenta masih merupakan kekayaan yang sangat besar! Jadi, alih-alih bersyukur, iri hati menghancurkan jiwanya dan kemalasanlah yang menang. Kita juga memperhatikan bahwa hamba ketiga tidak kehilangan talenta, tetapi dia masih menerima hukuman. Meskipun talentanya tidak hilang, kepercayaan tuannya telah hilang. Dan saat kepercayaan ini hilang, semuanya akan hilang.

Belajar dari perumpamaan ini, kita dipanggil untuk memiliki kemampuan untuk mengenali kepercayaan dan kasih Tuhan kepada kita. Berbagai talenta yang kita miliki hanyalah perwujudan sederhana dari kasih ini. Sebagai hamba kita, kita tidak pantas mendapatkan apa pun dari Tuhan, tetapi Tuhan telah memberi kita secara berlebihan. Dari kesadaran ini, hanya rasa syukur yang mengalir dengan sendirinya. Tetapi, jika kita tidak bisa melihat hal ini, kita mungkin jatuh ke dalam banyak dosa lain: iri hati, kemarahan, fitnah, atau sekadar kemalasan. Sekali lagi, ini bukan tentang talenta yang kita miliki, tetapi kepercayaan dan kemurahan yang Tuhan berikan kepada kita.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Foolish Virgins

32nd Sunday in Ordinary Time

November 8, 2020

Matthew 25:1-13

A wedding ceremony is one of the most beautiful events in many cultures and societies. This includes the Jewish community in the first century AD Palestine. For the Hebrew people living in the time of Jesus, the wedding ceremony has two stages. The first one is the exchange of vows or betrothal. The couple is officially married, and they are recognized as husband and wife in the eyes of the Jewish community. Yet, they are going to wait for around one year before they are living together. The husband will prepare for the house as well as the reception celebration that may last for seven days.

The second stage is the wedding party. It begins with the groom fetch the bride from her ancestral house, and bring her to his home with a procession of dance and music. Since the procession usually takes place in the evening, fire and torches are indispensable. The ten virgins are part of the wedding ceremony which we may call today as the bridesmaids. They may be some of the close friends of the bride and even relatives of the couples. They are stationed not far from the wedding place to welcome the married couple. Since there is no internet and GPS, the ten virgins may not be able to locate precisely where the procession is, but they are expected to be ready.

It is interesting to see the attitude of the five foolish virgins. In Greek, the virgins are called as “moros” where we get the English word moron. It is undoubtedly a harsh word. Jesus applies the same word after His sermon on the Mount and points to people who listen to His preaching without practising them, “like a foolish man who built his house on sand [Mat 7:26].” Yet, if we observe, what we see that the virgins are doing foolish things. Not only they fail to prepare for the unexpected arrival of the groom, but they also look for the oil in the middle of the night. They are not living in the modern era where we can easily purchase it at the 24-hour convenient stores. The merchants are expectedly unavailable, and we can imagine how they rushingly search the vendors, and frantically knock their doors. This may cause unnecessary inconveniences and bring absolute shame to the couples. This may be the reason also why the wedding’s host refuses to admit these five foolish virgins.

This parable of Jesus gives us a potent reminder not to become foolish in living our lives as Christians. We are given a particular role and mission in our lives. Some of us are called to be married couples and parents.  Some of us are serving as priests or religious men and women. Some of us are teachers of the faith; some of us are leaders of the community, and others are servants. In whatever role we are, Jesus asks us to be wise in doing our ministries and demands us not to do foolish things as to scandalize others or even cause others unnecessary suffering.

If we, as Christians, act foolishly, we bring shame, not only to ourselves but Christ Himself. But, if we think and produce wise deeds, we bring glory to the Lord, and more people will praise our God.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP