Jangan Takut

Minggu ke-12 dalam Masa Biasa [A]

21 Juni 2020

Matius 10: 26-33

little sparrowYesus tidak pernah berjanji bahwa murid-murid-Nya akan memiliki kehidupan yang mudah dan makmur. Yesus menuntut yang sebaliknya. Setelah dipilih, kedua belas murid diutus untuk mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, namun mereka tidak akan pergi seperti utusan kerajaan duniawi dengan pengawalan voorijder. Tidak! Mereka akan pergi sebagai orang sederhana yang berjalan kaki dan membawa persediaan ala kadarnya. Mereka akan mengandalkan kemurahan hati tuan rumah mereka, dan bagian terburuknya adalah mereka akan menghadapi penolakan.

Secara alami, mereka akan merasa takut. Namun, Yesus mengatakan kepada mereka bahwa misi ini hanya semacam “magang” karena mereka akan menjalani sesuatu yang bahkan lebih sulit di masa depan. Sungguh terjadi, setelah Pentekosta, mereka akan mewartakan bahwa Yesus adalah Tuhan, dan mereka menghadapi penolakan yang keras, penganiayaan yang mengerikan, dan bahkan kematian yang keji. Seperti yang Yesus ajarkan kepada mereka, “para murid tidak lebih besar dari gurunya.” Jika Yesus, guru mereka, ditolak, dihina, dan dihukum mati, para murid akan mengikuti jalan yang sama. Petrus disalibkan terbalik, Yakobus, saudara Yohanes, dipenggal kepalanya, dan Yakobus anak Alfeus, dilempari batu sampai mati.

Yesus memahami ketakutan manusiawi mereka, tetapi Yesus mengatakan kepada mereka bahwa mereka jangan takut. Mengapa? Jawaban Yesus sederhana. Mengapa kita harus takut mati jika kita toh akan mati juga akhirnya? Pilihannya adalah apakah kita mati sebagai saksi Kristus atau mati lari dari Kristus?

Lebih jauh, Yesus mengungkapkan alasan sebenarnya mengapa kita tidak perlu takut: kita memiliki Allah, yang adalah Bapa yang pengasih dan peduli. Yesus memberikan penjelasan yang cerdas namun sederhana: bagaimana Tuhan memperlakukan seekor burung pipit yang kecil. Pipit adalah jenis burung  yang tidak berharga di mata kita, tetapi bagi Tuhan, burung kecil ini adalah ciptaan-Nya, dan ketika Dia menciptakan sesuatu, Dia memiliki rencana yang baik untuknya, dan Dia memastikan bahwa rencana ini akan mencapai kepenuhannya. Dalam kata Filsuf Katolik Peter Kreeft, Tuhan pun mengasihi nyamuk. Jika Tuhan peduli dan mencintai burung pipit, akankah Dia tidak peduli dan mengasihi kita? Sekali lagi, Yesus menunjukkan kebenaran yang indah: Tuhan lebih mengenal daripada kita mengenal diri kita sendiri, bahkan Ia menghitung rambut kita!

Ketika seekor burung gereja jatuh dan mati, itu tidak lepas dari rencana Allah yang sempurna, dan ketika para murid mengalami penolakan, pencobaan, dan bahkan kematian, itu juga merupakan bagian dari penyelenggaraan Allah. Ya, seringkali, penderitaan kita tidak bisa mengerti. Mengapa kita harus kehilangan seseorang yang kita cintai? Mengapa kita menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan? Kita tidak mengerti, tetapi bahkan hal-hal mengerikan dalam kehidupan ini juga merupakan bagian dari penyelenggaraan Allah.

Kita mungkin tidak melihatnya sekarang, tetapi mungkin kita melihatnya di lain waktu, atau mungkin, kita tidak pernah menemukan alasannya karena pikiran kita terlalu sempit. Namun, di mata Tuhan, hal-hal terlihat sebagai sebuah lukisan yang sempurna, walaupun ada warna-warna gelap di dalamnya. Kematian para martir yang mengerikan, misalnya, tidak masuk akal. Tetapi, Tertullianus, seorang apologis Katolik pada abad ke-3, melihatnya dalam perspektif yang lebih dalam dan menulis, “Semakin kamu menghancurkan kami, kami pertumbuh semakin banyak: darah para martir adalah benih Gereja.”

Yesus tidak memanggil kita untuk menikmati kehidupan yang sukses tetapi untuk menjadi saksi-Nya. Meskipun segala sesuatu dapat berbalik melawan kita, Yesus menyatakan bahwa kita tidak perlu takut dan khawatir karena, pada akhirnya, semua akan bekerja sesuai dengan rencana-Nya yang indah karena Dia mengasihi kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tubuh Kristus dan Tubuh Kita

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus [Corpus Christi] – A

14 Juni 2020

Yohanes 6: 51-58

monstranHari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus berawal dari inisiatif St. Juliana dari Liege, yang meminta uskupnya dan sahabat-sahabatnya untuk menghormati  secara khusus sakramen Ekaristi, dan kehadiran nyata Yesus Kristus dalam Sakramen Mahakudus. Berdirinya Ekaristi sendiri terjadi dalam Perjamuan Terakhir Tuhan, dan setiap Kamis Putih, Gereja merayakan peristiwa ini. Namun, karena Kamis Putih adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Trihari suci Paskah, perhatian diberikan pada persiapan bagi umat beriman untuk memasuki misteri Sengsara dan Kebangkitan Tuhan kita. Karena berakar di Kamis Putih, Hari Raya Corpus Christi dirayakan pada hari Kamis setelah hari Minggu Tritunggal. Namun, di beberapa negara seperti Indonesia, perayaan dipindahkan ke hari Minggu berikutnya untuk mengakomodasi partisipasi yang lebih besar dari umat beriman.

 Dalam Injil, Yesus menegaskan bahwa tubuh-Nya adalah makanan yang nyata, dan setiap orang yang ingin memiliki hidup yang kekal perlu menyantap tubuh-Nya. Kita mungkin bertanya-tanya: mengapa dalam kebijaksanaan-Nya, Yesus memutuskan untuk memberikan tubuh-Nya sebagai makanan rohani kita? Mengapa Yesus tidak langsung menanamkan rahmat langsung ke jiwa kita? Jawabannya mungkin sangat sederhana. Hal ini dipilih Tuhan karena tubuh kita ini adalah nyata dan baik. Jika kita kembali ke kisah penciptaan di Buku Kejadian, Tuhan menciptakan pria dan wanita dalam kodrat manusia, termasuk tubuh kita, sebagai sesuatu yang sangat baik. Meskipun tubuh kita berasal dari tanah, tubuh kita telah dirancang dengan luar biasa untuk menerima roti ilahi, kehidupan rohani. Tubuh kita pada dasarnya baik, dan begitu baik sehingga tubuh kita bisa menerima rahmat. Dalam perkataan St Agustinus, “Capax Dei” (memiliki kemampuan untuk mengenal dan menerima Tuhan).

Sejak awal berdirinya, Gereja telah memerangi sebuah ajaran sesat yang disebut Gnostisisme. Intinya, gnostisisme mengajarkan ada dualisme dalam ciptaan, bahwa dunia spiritual itu baik dan dunia material, termasuk tubuh kita, adalah jahat. Jadi, setiap aspek ragawi dari kemanusiaan kita harus dibuang dan dihancurkan. Gereja dengan keras menentang ini karena Allah telah menciptakan dunia secara totalitas sebagai yang baik dan indah. Pertempuran berlanjut pada masa St. Dominikus de Guzman, pendiri Ordo Pengkhotbah, yang berhadapan melawan kelompok Albigensia [adaptasi gnostisisme pada abad pertengahan). Syukurlah, kaum Albigentia tidak ada lagi, tetapi sayangnya, gnostisisme terus hidup.

Sebagai umat Kristiani, kita bersama Gereja terus memerangi gnostisisme modern. Jenis gnostisisme sangat sederhana dan tanpa disadari kita pun telah menjadi korban dari virus mematikan ini. Setiapkali kita memperlakukan tubuh kita hanya alat untuk mencapai kesuksesan dan popularitas, ketika kita menyalahgunakan tubuh kita untuk merasakan kenikmatan instan, ketika kita menjual tubuh kita sebagai keuntungan ekonomi belaka, kita tanpa sadar jatuh ke dalam perangkap ini ajaran sesat ini.

Pesta Corpus Christi membawa kita kebenaran yang lebih besar dari tubuh kita. Dengan menjadi manusia dan akhirnya memberikan tubuh-Nya, Yesus mengajarkan kepada kita bahwa tubuh tidak hanya mampu menerima rahmat, tetapi juga mampu menjadi rahmat dan kasih bagi sesama. Dalam Perjamuan Terakhir, Yesus telah memberikan tubuh-Nya sebagai ekspresi kasih tertinggi. Namun, untuk dibagikan, tubuh-Nya harus dihancurkan, namun meski hancur, tubuh mulia ini dipersembahkan dalam ucapan syukur.

 Pada masa pandemi ini, kita tidak dapat menghadiri Misa Kudus, dan kita sangat merindukan Tubuh Kristus. Namun, kabar baiknya adalah bahwa inilah saatnya bagi kita untuk menjadi Tubuh Kristus bagi sesama kita yang membutuhkan. Hanya dengan membagikan tubuh kita dalam kasih, kita memenuhi tujuan kita sebagai makhluk ragawi yang diciptakan menurut citra-Nya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Christ’s Body and Our Body

Solemnity of Body and Blood of Christ [Corpus Christi] – A

June 14, 2020

John 6:51-58

eucharist 3The solemnity of the Body and Blood of Jesus Christ takes its origin from the initiative of St. Juliana of Liege, who asked his bishop and his friends to honor, in a special way, the institution of the Eucharist, and the real presence of Jesus Christ in the Blessed Sacrament. The institution of the Eucharist itself took place in the Last Supper of the Lord, and every Holy Thursday, the Church celebrates this event. However, since Holy Thursday is an inseparable part of the Easter Triduum, the attention is given to the mystery of the Passion and Resurrection of our Lord. Because of its rootedness in Holy Thursday, the solemnity of Corpus Christi is celebrated on Thursday after the Trinity Sunday. Yet, in several countries, the celebration is moved to the next Sunday to accommodate the greater participation of the faithful.

 In the Gospel, Jesus insists that His body is real food, and everyone who wants to have eternal life shall consume His body. We may wonder: why does in His infinite wisdom, Jesus decide to give His body as food for our spiritual nourishment? Why not infuse the grace directly to our souls? The answer may surprisingly simple. It is because our body is real and good. God created man and woman in their fulness human nature, including their bodies, as something very good. Though our body comes from the ground, it has been marvelously designed to receive the bread of God, the spiritual life. Our bodies are fundamentally good, and so good that our bodies are inclined to grace. In the word of St. Augustine, “Capax Dei” (capable of knowing and receiving God).

Since the earliest time, the Church has battling perennial heresy called Gnosticism. In essence, gnosticism teaches there is dualism in our creation, and that the spiritual realm is good and the material world, including our body, is evil. Thus, any material aspect of our humanity has to be disposed of. The Church vehemently opposed this because God has created our material world as good and beautiful. The battle continues in time of St. Dominic de Guzman, the founder of Order of Preachers, who fought the Albigensians [the middle age adaptation of gnosticism). Gratefully, the Albigentians were no more, but unfortunately, the gnosticism lives on.

As Christians, we carry the battle of the Church against the modern-day gnosticism. The kind gnosticism is surprisingly simple without any need to learn a complex system of belief. When we consider our body a mere instrument to achieve success, when we abuse our bodies to feel instant pleasures, when we treat our bodies as mere economic gain, when we say that my body is my right, we unconsciously fall into the trap of this heresy.

But wait, there’s more! The feast of Corpus Christi brings us even greater truth of our body. By becoming man and finally giving His body, Jesus teaches us that body is not only capable of receiving grace, but it is also capable of becoming grace and love for others. In the Last Supper, Jesus has given as a supreme expression that is to offer His own body in love. And yet, to be shared, it has to be broken, and yet despite broken, it is offered in thanksgiving.

 In this time of the pandemic, we are not able to attend the Holy Mass, and we miss a lot the Body of Christ. Yet, the good news is that it is our time also for us to become the Body of Christ for our neighbors in need. Only through sharing our body in love, we fulfill our purpose as bodily creatures created in His image.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Image of the Trinity

Solemnity of the Most Holy Trinity [A]

June 7, 2020

John 3:16-18

Trinity 2We are re-entering the ordinary season of the Church, and one of the greatest feasts within the ordinary time is the solemnity of the Most Holy Trinity. The Church has placed the celebration of the great feast on Sunday after the Pentecost. The reason may not be that obvious, but if we look at the bigger picture, it is nothing but a natural procession of truth. In Easter, we are celebrating the resurrection of Jesus that cements the divinity of Christ. On the Pentecost, we witness the divinity of the Holy Spirit being affirmed [see last Sunday’s reflection]. Now, we are rejoicing for the Three divine persons in God.

The Trinity Sunday is admittedly the most dreaded by many preachers because many are still at a loss of how to show the beauty of this most profound truth, and others are afraid to explain the Trinity because they may spread erroneous concepts. After all, we are facing the source and summit of all mysteries, the mystery of all mysteries. However, it is not the right excuse not to bring forth the beauty of the Holy Trinity. The preachers have to roll up their sleeves and spend more time in researching and preparing our homilies.

In my reflection, I would like to bring you to the Old Testament. In the Old Testament, the reality of the Trinity is hidden in most parts, and yet the sacred truth comes up in the surprisingly key moments. Let us read Gen 1:1-3, “In the beginning when God created the heavens and the earth, the earth was a formless void and darkness covered the face of the deep, while a wind from God swept over the face of the waters. Then God said, “Let there be light,”; and there was light.” The early Christians like St. Irenaeus of Lyon, immediately saw this as Trinity working as one, God, the Spirit, and the Word. The good news is that the creation is the masterpiece of the Holy Trinity, and to a certain degree, it reflects the perfection of the Trinity.

And wait, something more! In Gen 1:26, when God created the man and the woman, God said, “let us create the man and woman in our image and likeness.” This passage is a bit strange because why God, who is one, suddenly self-refer in plural? The Jewish tradition would interpret that God is addressing His heavenly council, the angels, but again, the Christian tradition instinctively saw them as the three divine persons. The good news is that if we are created in the image of God, and if our God is the Trinity, then we are created in the image of Trinity.

This explains a lot of things. Indeed, we cannot fully comprehend the mystery, but we surprisingly are very close to this mystery. Trinity is both our origin and destiny. As the image of Trinity, we cannot discover real joy by hoarding things to ourselves. We cannot be selfish and truly delighted at the same time. Like the Father and the Son love each other in the Holy Spirit, we are called to give ourselves to others in life.

Why does the Catholic Church fearlessly defend the sacredness of marriage? Because through marriage, the man and woman may give themselves totally to each other in love. Their love is so strong that love can give birth to life. When this new life [children] come to their lives, their love can grow even exponentially. In loving and giving ourselves, we may find the fullness of our identity, the image of Trinity. Indeed, it is tough, but the good news is that we are designed to give love and life. Holy Trinity is our origin, and Holy Trinity is our destiny.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Citra Trinitas

Hari Raya Tritunggal Mahakudus

7 Juni 2020

Yohanes 3: 16-18

trinity 3Kita memasuki kembali masa biasa Gereja, dan salah satu perayaan terbesar dalam masa biasa adalah kesungguhan Tritunggal Mahakudus. Gereja telah menempatkan perayaan besar ini pada hari Minggu setelah Pentekosta. Alasannya mungkin tidak begitu jelas bagi kita, tetapi jika kita melihat gambaran yang lebih besar, itu sebenarnya adalah prosesi kebenaran yang wajar. Di Paskah, kita merayakan kebangkitan Yesus yang mengukuhkan keilahian Kristus, dan pada hari Pentekosta, kita menyaksikan keilahian Roh Kudus ditegaskan [lihat refleksi hari Minggu lalu]. Sekarang, kami bersukacita karena Tiga pribadi Ilahi di dalam Tuhan.

Tritunggal Minggu diakui sebagai yang paling ditakuti oleh banyak pastor atau romo karena banyak yang masih bingung bagaimana menunjukkan kebenaran yang paling dalam ini dan yang lain takut untuk menjelaskan Tritunggal karena bisa-bisa menyebarkan konsep yang keliru. Lagipula, kita berhadapan dengan sumber dan puncak semua misteri iman. Namun, itu bukan alasan yang tepat untuk tidak menampilkan keindahan Tritunggal yang mahakudus. Para imam harus bekerja keras dan menghabiskan lebih banyak waktu dalam belajar dan mempersiapkan homili.

Dalam renungan ini, saya ingin membawa kita semua kembali ke Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama, realitas Tritunggal tersembunyi di sebagian besar ayat, namun kebenaran suci ini tampak di saat-saat fundamental. Mari kita baca Kejadian 1: 1-3, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk  dan kosong gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang” Lalu terang itu jadi” Umat Kristiani perdana seperti St. Irenaeus dari Lyon, segera melihat ini sebagai Trinitas yang bekerja sebagai satu, Allah, Roh dan Firman. Kabar baiknya adalah bahwa dunia dan segala ciptaan adalah mahakarya dari Tritunggal Mahakudus, dan sampat tingkat tertentu, ciptaan itu mencerminkan kesempurnaan Tritunggal.

Selain itu, dalam Kejadian 1:26, ketika Tuhan menciptakan pria dan wanita, Tuhan berkata, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” Perikop ini sedikit aneh karena Allah yang satu tiba-tiba menyebut diri sendiri dalam bentuk jamak. Tradisi Yahudi menafsirkan hal ini bahwa Allah berbicara kepada dewan surgawi-Nya, para malaikat, tetapi sekali lagi, tradisi Kristiani melihat ini sebagai tiga pribadi Ilahi. Kabar baiknya adalah bahwa jika kita diciptakan menurut citra Allah, dan jika Allah kita adalah Tritunggal, maka kita adalah citra Tritunggal.

Memang benar bahwa kita tidak dapat sepenuhnya memahami misteri Ilahi, tetapi kita sebenarnya tidak jauh dari misteri ini. Bahkan, kita diundang untuk seperti Trinitas. Sebagai citra Trinitas, kita tidak dapat menemukan sukacita sejati dengan menimbun hal-hal duniawi seperti kekayaan, ketenaran untuk diri kita sendiri. Seperti Bapa dan Putra saling mengasihi dalam Roh Kudus, kita dipanggil untuk memberikan diri kita kepada sesama dalam kasih.

Ini mengapa Gereja Katolik terus menjaga kesakralan pernikahan. Karena melalui pernikahan, pria dan wanita dapat memberikan diri mereka sepenuhnya satu sama lain. Cinta kasih mereka begitu kuat sehingga cinta kasih ini bahkan bisa melahirkan kehidupan baru. Dan saat kehidupan baru ini [anak] datang di tengah hidup sang pria dan wanita, kasih mereka dapat semakin tumbuh bahkan secara eksponensial. Dan dalam pernikahan dan keluarga, kita menemukan identitas kita sebagai citra Trinitas, dan saat kita menemukan hal ini, kita menemukan makna terdalam hidup kita.

Memang mengasihi sangat sulit, tetapi kabar baiknya adalah kita dirancang untuk memberikan kasih dan kehidupan. Tritunggal Mahakudus adalah asal usul kita, dan Tritunggal Mahakudus adalah tujuan kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Birthday of the Church

Pentecost Sunday [A]

May 31, 2020

John 20:19-23

pentecost coptic“Happy Birthday!” today is the feast of Pentecost, and today is the birth of the Church. We should rejoice because our Church is getting older by age, but getting ever stronger by vitality and creativity in preaching the Good News. Yet, the question is why we celebrate the birthday of the Church on the Pentecost Sunday?

To answer this, we need to understand the biblical meaning of the celebration of Pentecost and what took place to the disciples on the day the Holy Spirit descended upon them. The word Pentecost means the fiftieth, and the feast of Pentecost takes place on the fiftieth day after Sunday Easter. However, the Christian feast itself is originally a Jewish religious festival: the feast of Shavuot or the Feast of Weeks. The feast took place seven weeks after the grand celebration of the Passover. Together with Passover and the Feast of Tabernacle (Booths), Pentecost are the major pilgrimage festivals that require any male Jews to make their way to Jerusalem. Initially, the feast is agricultural in nature. The people of Israel gave thanks for the successful harvests and offered the fruits of their harvest to the Lord. Yet, it also gained a religious meaning. In the feast of Shavuot, the Israelites commemorate the giving of the Law and the making of the covenant with the Lord God in Mount Sinai.

This explains why many people from different nations gathered in around the place of the disciples: they were pilgrims of Pentecost. This answers a more fundamental question about the identity of the Holy Spirit: Why did the Holy Spirit have to present Himself as fire, and no other image like a dove? If we go back to the Sinaitic event itself, we are going to find something remarkable. When God made His covenant and handed down His Law, He appeared Himself to entire Israel as fire [see Exo 19:18]. The Holy Spirit appeared in fire simply because He was the same God who manifested Himself in Sinai. The Pentecost Sunday reveals the fundamental truth about the Holy Spirit that the promised Paraclete is divine.

In Sinai, the Israelites received the Law and entered into a covenant with the Lord. God embraced them and made them “a priestly kingdom and a holy nation [see Exo 19:6]. Israelites became a nation that belongs to God. In the new Pentecost, the Holy Spirit came upon the disciples and instilled in them the New Law of Love. He fashioned them to be new People of God [see Pet 2:9]. The new community of God’s family has been born!

Yet, these new people are even greater. The Holy Spirit empowered the disciples to preach the Good News to people from different nations and languages. The Pentecost reversed the negative effect of the tower of Babel [see Gen 11:1-9]. When people were so proud of themselves and tried to become like God with their power, different languages turned out to be a curse that divides them. Yet, with the Holy Spirit that transformed the hearts and instilled humility, languages become a blessing that unites the different people.

We thank the Holy Spirit that gave birth to the Church. We give thanks to the Holy Spirit that has called us to part of the new people of God.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Selamat Ulang Tahun, Gereja!

Minggu Pantekosta [A]

31 Mei 2020

Yohanes 20: 19-23

pentecost 3“Selamat ulang tahun!” Hari ini adalah hari raya Pentekosta, dan hari ini adalah kelahiran Gereja. Kita harus bersukacita karena Gereja kita bertambah dalam usia, tetapi semakin kuat, bijaksana dan kreatif dalam memberitakan Kabar Baik. Namun, pertanyaannya adalah mengapa kita merayakan ulang tahun Gereja pada hari Minggu Pentekosta?

Untuk menjawab ini, kita perlu memahami makna alkitabiah dari perayaan Pentekosta dan apa yang terjadi pada para murid pada saat Roh Kudus turun ke atas mereka. Kata Pentekosta berarti “yang kelima puluh”, dan hari raya Pentekosta terjadi pada hari kelima puluh setelah Minggu Paskah. Namun, pesta Gereja itu sendiri pada awalnya adalah sebuah festival keagamaan Yahudi: Hari Raya Shavuot atau Hari Raya Tujuh Minggu. Perayaan itu berlangsung tujuh minggu setelah perayaan akbar Paskah. Bersama-sama dengan Paskah dan Hari Raya Pondok Daun, Pentekosta adalah perayaan perziarahan utama yang mengharuskan setiap pria Yahudi untuk melakukan perjalanan ke Yerusalem. Awalnya, ini adalah perayaan agrikultural. Orang-orang Israel bersyukur atas panen yang berhasil dan mempersembahkan hasil panen mereka kepada Tuhan. Namun, itu juga memiliki makna religius. Dalam perayaan Shavuot, orang Israel memperingati pemberian Hukum dan pembuatan perjanjian dengan Tuhan Allah di Gunung Sinai.

Ini menjelaskan mengapa banyak orang dari berbagai bangsa berkumpul di sekitar tempat para murid: mereka adalah peziarah Pentekosta. Perayaan ini juga menjawab pertanyaan yang lebih mendasar tentang identitas Roh Kudus: Mengapa Roh Kudus harus menampakkan diri-Nya sebagai api, dan tidak dengan citra yang lain seperti merpati? Jika kita kembali ke peristiwa di gunung Sinai itu sendiri, kita akan menemukan sesuatu yang luar biasa. Ketika Allah membuat perjanjian-Nya dan menyerahkan Hukum-Nya, Dia menampakkan diri-Nya kepada seluruh Israel sebagai api [lihat Kel 19:18]. Roh Kudus hadir dalam api hanya karena Dia adalah Allah yang sama yang memanifestasikan diri-Nya di Sinai. Hari Minggu Pentekosta mengungkapkan kebenaran mendasar tentang Roh Kudus bahwa Parakletos yang dijanjikan itu adalah Tuhan.

Di Sinai, orang Israel menerima Hukum dan masuk ke dalam perjanjian dengan Tuhan. Allah menjadikan mereka “kerajaan imamat dan bangsa yang kudus [lihat Kel 19: 6]. Bangsa Israel menjadi bangsa yang kepemilikan Tuhan. Dalam Pentekosta yang baru, Roh Kudus turun ke atas para murid dan menanamkan dalam diri mereka Hukum Cinta Kasih yang Baru. Dia membentuk mereka untuk menjadi Umat Allah yang baru [lihat Pet 2: 9]. Komunitas baru keluarga Allah telah lahir hari ini!

Namun, umat Allah baru ini bahkan lebih besar. Roh Kudus memberi kuasa kepada para murid untuk memberitakan Kabar Baik kepada orang-orang dari berbagai bangsa dan bahasa. Pentekosta membalikkan efek negatif dari menara Babel [lihat Kejadian 11: 1-9]. Ketika orang-orang begitu bangga pada diri mereka sendiri dan berusaha menjadi seperti Tuhan dengan kekuatan mereka, berbagai bahasa berubah menjadi kutukan yang memecah belah mereka. Namun, dengan Roh Kudus yang mengubah hati dan menanamkan kerendahan hati, bahasa menjadi berkat yang menyatukan orang-orang yang berbeda.

Kita bersyukur kepada Roh Kudus yang telah melahirkan Gereja. Kita bersyukur kepada Roh Kudus yang telah memanggil kita untuk menjadi bagian dari umat Allah yang baru.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pray like Jesus

7th Sunday of Easter

May 24, 2020

John 17:1-11a

man in prayer 2We are aware that prayer is a fundamental part of Jesus’ life. He prays on a regular basis, and especially when He is preparing to embrace decisive events, like Baptism on the Jordan [Luke 3:21], the election of the twelve apostles [Luke 6:12], transfiguration [Luke 9:28], and the Passion [Matt 26:36–44]. However, we seldom hear what Jesus says in His prayers. In the Synoptic Gospels [Matthew, Mark, and Luke], we are fortunate enough to hear Jesus’ compact and emotional prayer in the Garden of Gethsemane before He enters into His Passion. However, John the evangelist makes sure that we are going to discover what Jesus prays, and it is substantially longer than we ever heard before.

John devotes the entire chapter of His Gospel for this prayer [John 17:1-26]. As expected, He prays to the Father with extraordinary affection and confidence. Yet, what makes it noteworthy is that Jesus does not say only about Himself and His mission, but also prays for His disciples. Jesus is acting as the priest who is interceding on behalf of His disciples. That is why we call this section the high priest’s prayer of Jesus Christ.

From Jesus’ prayer, we unearth some powerful lessons:

Firstly, if prayer is essential in the life of Jesus, it is because Jesus understands that prayer is His line of communication to the Father. Jesus knows well that communication is the key to every flourishing relationship. Perhaps, we fail to see this truth, and that is why we feel prayer is burdensome. We are not eager to attend the mass because we simply understand it as an obligation. We relegate personal prayer to the sideline as we make other things as our priority. Sadly, we immediately blame God if our plans do not work according to our whim, or we even threaten God to grant our wishes. Thus, changing perspective about prayer is crucial and even life-transforming.

Secondly, if prayer is communication, then it should always be a dialogue. Often when we start growing in prayer, we think that we need to always say something to the Lord. I remember one seminarian asked me, “Father, what else should I say if I am running out of words in my prayers?” I told him, “Perhaps, it is time to listen to God.” The next expected question is, “How do I listen to God?” Surely there is no one-size-fits-all answer to this, but I like what St. Jerome says, “You pray: You speak to the bridegroom. You read [scriptures]: He speaks to you.” Yet, we need to remember that dialogue of words is not the end of the communication. The end is the unity of the persons in dialogue. Jesus says, “I am in my Father, and you are in me, and I am in you [John 14:20].”

Lastly, our prayer involves the third person. This is the direct consequence of Jesus’ priestly prayer. Prayer is a dialogue, but just like other dialogue, it may speak about other persons. This is when we pray to God for others. Because Jesus leaves us an example in His priestly prayer, it is all the more imperative for us to care for others through prayers. In time we cannot reach other people who need our help; prayers remain the best way to love them. Indeed the saints in heaven continue to care for us despite not able to physically appear to us through their prayers.

Prayer unites us with God in love and prayer also unites us with people we love in God.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Berdoa seperti Yesus

Minggu Paskah ke-7

24 Mei 2020

Yohanes 17: 1-11a

man in prayer 4Doa adalah bagian mendasar dari kehidupan Yesus. Dia berdoa secara teratur, dan terutama ketika Dia bersiap untuk merangkul peristiwa-peristiwa yang menentukan, seperti Pembaptisan di Sungai Yordan [Lukas 3:21], pemilihan kedua belas rasul [Lukas 6:12], transfigurasi [Lukas 9:28], dan jalan salib-Nya [Mat 26:36-44]. Namun, kita jarang mendengar apa yang Yesus katakan dalam doa-doanya. Dalam Injil Sinoptik [Matius, Markus dan Lukas] kita cukup beruntung mendengar doa Yesus yang pendek dan emosional di Taman Getsemani sebelum Dia memasuki sengsara-Nya. Namun, penginjil Yohanes memastikan bahwa kita akan menemukan apa yang Yesus doakan dan hal ini jauh lebih panjang daripada yang pernah kita dengar sebelumnya.

Yohanes mencurahkan seluruh bab untuk doa ini [Yohanes 17: 1-26]. Yesus berdoa kepada Bapa dengan kasih dan keyakinan yang luar biasa. Namun, yang membuat doa ini  penting adalah bahwa Yesus tidak hanya berdoa tentang diri-Nya dan misi-Nya, tetapi juga berdoa untuk para murid-Nya. Yesus bertindak sebagai imam yang menjadi perantara bagi para murid-Nya. Itulah sebabnya kita menyebut bagian ini sebagai doa Yesus Kristus sebagai imam besar.

Dari doa Yesus, kita menggali beberapa pelajaran yang penting:

Pertama, jika doa sangat penting dalam kehidupan Yesus karena Yesus mengerti doa adalah jalur komunikasi-Nya kepada Bapa. Komunikasi adalah kunci untuk setiap hubungan untuk berkembang, dan Yesus mengetahui hal ini dengan baik. Mungkin, kita gagal melihat kebenaran ini, dan itulah sebabnya kita merasa doa itu membosankan. Kita malas menghadiri misa karena kita hanya memahaminya sebagai kewajiban. Kita menempatkan doa pribadi hanya sebagai tambahan karena kita menjadikan hal-hal lain sebagai prioritas kita. Anehnya, kita segera menyalahkan Tuhan jika rencana kita tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita, atau kita bahkan mengancam Tuhan untuk mengabulkan keinginan kita. Jadi, mengubah perspektif tentang doa adalah penting dan bahkan akan mengubah kehidupan.

Kedua, jika doa adalah komunikasi, maka harus selalu berupa dialog. Sering kali ketika mulai tumbuh dalam doa, kita berpikir bahwa kita harus selalu mengatakan sesuatu kepada Tuhan. Saya ingat seorang frater bertanya kepada saya, “Romo, apa lagi yang harus saya katakan jika saya kehabisan kata-kata dalam doa saya?” Saya mengatakan kepadanya, “Mungkin, ini saatnya untuk mendengarkan Tuhan.” Pertanyaan selanjutnya adalah, “Bagaimana saya mendengarkan Tuhan?” Tentunya tidak ada jawaban yang baku, tetapi saya suka apa yang dikatakan St Heronimus, “Kamu berdoa: kamu berbicara kepada mempelai laki-laki [Yesus]. Kamu membaca [Kitab Suci]: Dia berbicara kepadamu. ” Namun, kita perlu ingat bahwa dialog kata-kata bukanlah akhir dari komunikasi. Akhirnya adalah orang-orang dalam dialog menjadi satu. Yesus berkata pada dirinya sendiri, “Aku di dalam Bapa-Ku, dan kamu di dalam Aku, dan Aku di dalam kamu [Yohanes 14:20].”

Terakhir, doa kita melibatkan orang ketiga. Ini adalah konsekuensi langsung dari doa imam Yesus. Doa adalah dialog, tetapi sama seperti dialog lainnya, doa dapat berbicara tentang orang lain. Inilah saatnya kita berdoa kepada Tuhan untuk orang lain. Karena Yesus memberi kita teladan dalam doa-Nya, maka semakin penting bagi kita untuk memelihara sesama melalui doa. Pada saatnya kita tidak dapat menjangkau orang lain yang membutuhkan bantuan kita, doa tetap menjadi cara terbaik untuk mencintai mereka. Sesungguhnya orang-orang kudus di surga terus memelihara kita meskipun tidak mampu secara fisik menampakkan diri kepada kita, melalui doa-doa mereka.

Doa menyatukan kita dengan Tuhan dalam kasih dan doa juga menyatukan kita dengan orang-orang yang kita kasihi di dalam Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Paraclete

6th Sunday of Easter

May 17, 2020

John 14:15-21

holy spirit dove 4In the last supper, Jesus promised the disciples that He would send another advocate to be with them forever. Who is this other advocate?

We all know that He is the Holy Spirit, the third person of the Most Holy Trinity. Yet, how did Jesus describe Him in the Gospel of John, and why did He call the Spirit as such? Jesus named Him as the Paraclete, or in Greek, “Parakletos.” This exceptional word comes from two more basic Greek words, “para” means “at the side,” and “kaleo” means “to call.” Thus, “parakletos” can be understood as someone who is called to be at our side, especially in times of need. It is crucial to see the original setting where this word came: it was the courtroom. No wonder that the word “parakletos” may be translated into English as an advocate like a lawyer who assists us, defend us and speak on our behalf in the legal trial. Yet, as we know, a good lawyer does not only assist within the courtroom, he is there before and after the trial. He gives his advice and prepares us for the proceedings. In the end, he consoles us if we face severe judgment as well as rejoices if we emerge victoriously. No wonder in English, the word “paraclete” can be translated as an advocate, comforter, counselor, and even helper. But why did Jesus choose this image in the first place?

The reason is that Jesus knew that as the disciples preached His Gospel, they would face many trials. Peter and John faced trial before the Sanhedrin [Acts 4:5 ff]. Stephen was accused of blasphemy and stoned to death [acts 7]. And Paul was put under many judgments before he gave up his life for Jesus. In this kind of reality, Jesus did the right thing: to send the Paraclete. The Holy Spirit would be at the side of the disciples facing trials and hardship as they were preaching Jesus. Indeed, it is inconceivable for these disciples to endure and even give up their lives without the Holy Spirit that were at their side.

In our time, as disciples of Christ, we are facing a global trial caused by the virus covid19. Some of us are luckier because we just need to stay at home. Some of us are fortunate because we can enjoy the livestreaming mass, even twice a day! But for many, the pandemic means losing their livelihood and even their lives. For many, they cannot go to the church even when there was no pandemic.

We indeed need the Paraclete, but one of the gifts of the Holy Spirit is that we are also empowered to be a little paraclete to our brothers and sisters. The moment we, the Dominican community in Surabaya, was required to close the church temporarily for the public service, we immediately were eager to provide an online service to our parishioners. We are thankful that many people donate relief goods to our parish, and our parish priests assisted by lay partners work hard to channel this help to those who are in need.

Instead of complaining that we cannot go to the Church or blaming others for the situations, we should ask the Holy Spirit to empower us to become little paracletes and find ways to be advocates, comforters and at the side of our brothers and sisters in need.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP