Kubur Kosong

Minggu Paskah

12 April 2020

Yohanes 20: 1-9

empty-tomb-29306808Hari ini adalah hari kebangkitan Yesus. Hari ini adalah hari Yesus mengalahkan dosa dan maut. Hari ini adalah hari kemenangan kita. Tidak mengherankan di antara perayaan liturgi Gereja, Paskah adalah yang termegah, terpanjang dan paling spektakuler. Inilah saatnya gereja dibanjiri oleh umat beriman. Inilah saatnya umat paroki terlibat dalam banyak kegiatan, persiapan, dan pelayanan. Inilah saatnya keluarga berkumpul dan merayakan. Inilah saatnya para imam menerima lebih banyak berkat!

Namun, sesuatu yang aneh tahun ini. Perayaan Paskah kita sunyi dan sederhana. Hal ini seperti sebuah makam kosong, sunyi dan gelap. Dan seperti makam kosong, gereja-gereja kita juga kosong, bangku tanpa umat, dan bangunan kita lebih gelap. Paskah ini, kita tidak memegang lilin yang menyala di tangan kita. Paskah ini, kita tidak bernyanyi bersama Exultet. Paskah ini, kita masih belum menerima komuni suci.

Kita mungkin seperti Maria Magdalena atau Petrus yang menemukan makam kosong. Maria Magdalena bingung dan bingung ketika dia melihat makam kosong itu. Dia menangis di depan kuburan karena dia pikir tubuh Yesus telah dicuri. Dia sangat mengasihi Yesus, tetapi dia harus melihat Tuhannya disiksa, disalibkan dan dikuburkan. Itu adalah pengalaman yang menyakitkan dan menghancurkan untuk melihat seseorang yang dikasihinya mati seperti binatang. Seolah tidak cukup dengan semua rasa sakit, kali ini, tubuh itu hilang. Petrus juga mengalami hal sama. Setelah dia memberi tahu Gurunya bahwa dia akan memberikan hidupnya untuk-Nya, kurang dari beberapa jam, dia menyangkal Yesus, tidak hanya sekali, tidak dua kali, tetapi tiga kali. Dia menyadari bahwa dia adalah seorang pengecut, dan ini membawa rasa sakit dan penghinaan yang mengerikan. Untuk memperburuk keadaan, dia menemukan makam itu kosong dan dia gagal untuk mengerti.

Tahun ini berbeda karena Tuhan telah mengundang kita untuk masuk lebih dalam ke dalam kubur. Pada tahun-tahun sebelumnya, kita mungkin terpesona oleh malaikat yang bersinar. Kita memfokuskan diri pada berbagai persiapan, pada lagu-lagu indah, pada dekorasi bunga, pada suasana gembira, atau mungkin pada para imamnya! Tetapi tahun ini, Tuhan meminta perhatian kita pada makam kosong, untuk sendiri dalam kesunyian, hening dalam kegelapan, dan untuk merenungkan lebih dalam tentang bagaimana Yesus bangkit.

Yesus tidak menunjukkan pertunjukan yang spektakuler tentang bagaimana Ia menaklukkan maut. Yesus tidak mengambil foto narsis apa pun ketika Ia kembali dari kematian! Sebaliknya, Yesus bangkit dalam rahasia gua. Yesus menang atas maut dalam keheningan kubur. Yesus menyelamatkan kita dengan cara yang tersembunyi dan misterius. Namun, ini adalah kebangkitan, dan ini adalah momen paling indah dalam sejarah manusia.

Tahun Paskah ini memberi kita pelajaran yang kuat. Tuhan telah bangkit bahkan di kuburan kosong kehidupan kita. Tuhan itu hidup bahkan kita jauh dari gereja yang kita cintai dan layani. Tuhan itu hidup bahkan ketika kita merasakan yang paling tidak berdaya di dalam rumah kita. Tuhan itu hidup bahkan ketika kita berjuang dengan banyak kesulitan yang disebabkan oleh pandemi ini.

Mungkin, inilah saatnya kita lebih banyak merenungkan bagaimana Tuhan bekerja dengan lembut dalam hidup kita. Mungkin, inilah saatnya untuk memikirkan kembali prioritas kita dalam hidup dan menempatkan Tuhan sebagai prioritas kita. Mungkin, inilah saatnya untuk menghargai orang-orang yang mencintai, untuk berdamai dengan orang-orang yang dekat dengan kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Getsemani

Jumat Agung

10 April 2020

Yohanes 18 – 19

Jesus praysJika ada satu hal yang menyatukan orang-orang dari berbagai negara, bahasa, dan agama, ini adalah penderitaan. Dengan coronavirus yang menyebar sangat cepat, orang-orang dengan latar belakang yang berbeda, muda dan tua, kaya dan miskin, dan bangsawan dan rakyat jelata, dan awam dan klerus jatuh tersungkur dan gemetar. Memang, virus mikroskopis ini telah meluluh lantahkan kehidupan banyak orang. Orang-orang sakit kerah, rumah sakit kewalahan, kota-kota terisolasi, keluarga-keluarga terpisah, pekerja-pekerja menganggur, pemerintah-pemerintah tak berdaya, dan gereja-gereja kosong. Penderitaan memaksa kita untuk mengakui kelemahan manusiawi kita dan semua yang kita banggakan, ternyata hampa.

Saya mendengar semakin banyak pertanyaan dari beberapa teman dan umat, “Kapan ini akan berakhir? Aku rindu untuk melakukan rutinitas, kapan kita dapat kembali ke Gereja? Apakah kita akan selamat? Apakah kita akan mati? Di manakah Tuhan dalam masa yang paling sulit ini?” Sebagai seorang imam yang bekerja di sebuah paroki, adalah tugas saya untuk menguatkan umat Allah di saat-saat pencobaan ini, namun saya tidak bisa begitu saja memberikan kata-kata penghiburan namun tidak berisi. Saya tidak bisa hanya mengatakan, “itu akan segera berakhir” meskipun, mereka tahu bahwa itu tidak akan berakhir secepat itu. Adalah kebohongan ketika saya memberi tahu orang-orang, “Tidak apa-apa, jangan khawatir.” Sementara saya sendiri berjuang dengan rasa sakit dan kekecewaan. Ini adalah tahun pertamaku sebagai romo, namun, saya mendapati diri saya terasingkan dari orang-orang yang saya layani. Realitas yang paling menyakitkan adalah bahwa saya tidak dapat merayakan Pekan Suci, waktu yang paling suci dengan orang-orang yang saya kasihi, dan umat yang saya cintai.

Pada saat kebingungan, kesakitan, dan penderitaan ini, saya ingin mengajak Anda semua untuk melihat salib, namun dari balik salib itu, mari kita bersama Yesus dalam sakratul maut-Nya.. Yesus bersama dengan ketiga murid-Nya, pergi ke bukit Zaitun, dan ke bagian bawah bukit ini, ada sebuah taman yang disebut Getsemani. Nama Getsemani berarti “tempat memeras zaitun” dan tempat ini menjadi salah satu penyuplai minyak zaitun bagi kota Yerusalem. Zaitun sendiri adalah minyak yang banyak kegunaannya namun juga berharga. Minyak ini digunakan untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari seperti bumbu makanan dan membakar lampu. Minyak berfungsi sebagai obat dan mengurapi orang sakit. Itu juga digunakan untuk tujuan sakral. Minyak zaitun dipersembahkan sebagai bagian dari kurban harian di Bait Suci [Bil. 28: 5]. Dan para imam seperti Harun dan raja-raja seperti Daud diurapi dengan minyak zaitun. Dengan berbagai kegunaan, dari rumah tangga hingga penggunaan sakral, tidak mengherankan bahwa dalam tradisi Yahudi kuno, pohon zaitun disebut sebagai pohon kehidupan di tengah taman Eden.

Namun, untuk menghasilkan minyak, buah zaitun harus dihancurkan dan diperas. Pertama, buah akan digiling oleh batu kilangan besar. Kedua, setelah hancur menjadi bubur, ini diperas untuk mengekstraksi minyak. Buah dari pohon kehidupan harus dihancurkan untuk menghasilkan kehidupan itu sendiri. Dan Yesus mengerti bahwa Dia adalah pohon kehidupan baru, dan Dia harus dihancurkan terlebih dahulu untuk menghasilkan kehidupan yang benar.

Yesus menghadapi saat yang mengerikan dalam hidup-Nya dan Dia memiliki semua pilihan untuk menghadapinya. Yesus bisa saja lari, Dia bisa memanggil pasukan malaikat untuk membela-Nya, atau Dia bisa dengan mudah menempatkan orang lain untuk disalibkan. Namun, Yesus memilih untuk merangkul salib dan kematian-Nya karena Dia tahu ini adalah cara yang berbuah. Hanya melalui penderitaan dan kematian, Dia dapat mengasihi kita sampai akhir, dan kita mungkin memiliki hidup yang berlimpah.

Dalam menghadapi penderitaan kita, kita dipanggil seperti Yesus untuk merangkulnya, dan bahkan dihancurkan olehnya, sehingga kehidupan sejati dapat mengalir. Memang benar bahwa pada tahun pertama saya sebagai seorang imam, Tuhan memiliki rencana yang berbeda untuk saya, dan saya tidak dapat merayakan Minggu Suci dengan umat yang saya kasihi, tetapi Dia bahkan memberi saya hadiah berharga untuk berpartisipasi dalam penderitaan dan kematian-Nya secara lebih penuh.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Olive

Good Friday

April 10, 2020

John 18 – 19

jesus prays 2If there is one thing that unites people from different nations, languages, and religions, that is the experience of suffering. With the ultra-fast spreading coronavirus, covid-19, people with different backgrounds, young and old, rich or poor, and noblemen or commoners, and laypeople or clergy fall in their knees and tremble. Indeed, this microscopic virus has shattered countless lives. People are dying, hospitals are overwhelmed, cities are isolated, families are separated, workers are jobless, governments are at loss, and churches are empty. Pope Francis notes that “we are just one the same boat”, and this boat is sinking. Suffering forces us to admit our human frailty and all that we are proud of, are a mere breath.

I heard more and more questions from some of my friends, “When is it going to end? We miss to do our ordinary routine, when can we go back to the Church? Are we going to survive? Are we going to die? Where is God in this most troubling time?” As a priest working in a parish, it is our duty to strengthen the people of God in this moment of trials, yet I cannot simply offer a consoling yet untrue words. I cannot simply say, “it is going to end soon” though, at the back of their minds, they know that it is not. It is a plain lie when I tell people, “It is fine, don’t worry.” While I am myself struggling with pain and disappointment. This is my first year as a priest, yet, I find myself exiled from the people of I serve. The most painful reality is that I cannot celebrate the Holy Week, the most sacred time with the people I love and care for.

At this moment of confusion, pain, and suffering, I would like to invite all of you to see the cross, and yet before the cross, let us be with Jesus on His agony in the garden. Jesus together with His three disciples, went to the mount of Olivet, and to the part of this mount, the garden called Gethsemane. The name Gethsemane means “olive press” and some of the olive oil needed by the city of Jerusalem came from this place. Olive itself is a basic and yet precious oil. It is used for daily household needs like cooking, seasoning, and burning the lamp. Since it has a therapeutic effect, the oil serves as a medicine. It is also used for sacred purposes. Olive oil is offered as part of daily sacrifice in the Temple [Num 28:5]. And the priests like Aaron and kings like David were anointed with olive oil. With a wide range of utilities, from household to sacred use, no wonder that in ancient Jewish traditions, the olive tree was considered as the tree of life in the middle of the garden of Eden.

However, to produce the oil, the fruits have to be two-step crushing process. Firstly, the fruits shall be ground by a huge millstone. Secondly, the olive pulp shall be squeezed to extract the oil. The fruits of the tree of life have to be crushed to produce life itself. And Jesus understood that He is the new tree of life, and He has to be crushed first to yield the true life.

Jesus is facing the horrifying time in His life and He has all the options to deal with it. Jesus could have run, He could have summoned the legions of angels to defend Him, or He could simply place someone else to be crucified. Yet, Jesus chooses to embrace His cross and death because He knows this is the most fruitful way. Only through suffering and death, He can love us to the end, and we may have life abundantly.

In the face of our suffering, we are called like Jesus to embrace it, and even be crushed by it, so that true life may flow. It is true that in my first year as a priest, God has a different plan for me, and I cannot celebrate the Holy Week with the people I serve, but He gives me even a precious gift to participate in His suffering and death more fully.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hosanna

Palm Sunday of the Lord’s Passion

April 5, 2020

Matthew 21:1-11 and Matthew 26:14—27:66

palm at homeToday, we are celebrating the Palm Sunday of the Lord’s Passion. In many countries, today is a big celebration where people excitedly throng the Church. I remember when I was still studying in the Philippines, the faithful would pack almost all the 11 masses in our Church, Santo Domingo Church. It was a festive celebration as many people were carrying palm branches of a coconut tree.

However, something bizarre takes place this year. The churches in many countries are temporarily closed, the faithful are asked to avoid gathering, including the Holy Eucharist, and people are confused about what to do with the Celebration of the Holy Week. A parishioner once painfully asked me, “Father, since the Church is closed, what shall I do with the palm branches I have?” Surely, there is always a pastoral solution to any problem that the faithful have. Yet, the real issue is not so much about how to clear up the confusion, but how to deal with the deep pain of losing what makes us Catholics. No palm in our hands, no kissing of the crucifix, and no Body of Christ.

Reflecting on our Gospels’ today, we are somehow like the people of Jerusalem who welcomed Jesus and shouted, “Hosanna!” The Hebrew word “Hosanna” literally means “save us!” or “give us salvation!” It is a cry of hop `e and expectation. We need to remember that the people of Israel during this time was were under the Roman Empire’s occupations. Commonly, lives were hard and many people endured heavy taxation under severe punishment. Many faithful Jews were anticipating the promised Messiah, who like David, would restore the lost twelve tribes of Israel, deliver them from the grip of the Romans and bring them into a glorious kingdom. They saw Jesus as a charismatic preacher, miraculous healer, and nature conqueror, and surely, Jesus could be the king that would turn the Roman legions upside down. We need to remember also the context of the Gospel that in few days, the Jewish people would celebrate the great feast of Passover, and thousands of people were gathered in Jerusalem. With so much energy and euphoria, a small incident could ignite a full-scale rebellion. And Jesus was at the center of this whirlpool.

Jesus is indeed a king and savior, but He is not the kind of king that many people would expect. He is a peaceful king, rather than a warmonger, that is why He chose a gentle ass rather than a strong horse. His crown is not shining gold and diamond, but piercing thorns. His robe is not purple and fine-linen, but skin full of scars. His throne is neither majestic nor desirable, but a cross.

We may be like people of Jerusalem, and we shout “Hosanna!” to Jesus, expecting Him to save us from this terrible pandemic, to bring our liturgical celebrations back, and to solve all our problems. However, like people of Jerusalem, we may get it wrong. Jesus is our Savior, but He may save us in the way that we do not even like.

The challenge is whether we lose patience and dismiss Jesus as a preacher of fake news, rather than good news, or endure the humiliation with Him; whether we get discouraged and begin to shout, “Crucify Him!” or we stand by His cross. The challenge is whether we get bitter and start mocking the church authorities for their incompetence handling the crisis or we continue to support them in time of trial; whether we are cursing the grim situations or we begin to spread the light however small it is.

Why does God allow us to endure this terrible experience, or to be more precise, why does God allow Himself to endure this terrible experience? Let us wait at the Good Friday.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hosanna

Minggu Palma Mengenang Sengsara Tuhan

5 April 2020

Matius 21: 1-11 dan Matius 26: 14—27: 66

palm n crossHari ini, kita merayakan Minggu Palma. Di banyak negara, hari ini adalah perayaan besar dan umat dengan penuh semangat memenuhi Gereja. Saya ingat waktu masih kecil saya selalu paling semangat ikut perarakan romo yang memasuki Gereja dan kami mengikutinya dengan membawa daun palma kami masing-masing.

Namun, sesuatu yang memilukan terjadi tahun ini. Gereja-gereja di banyak negara ditutup sementara, umat beriman diminta untuk tidak berkumpul, termasuk menghadiri Ekaristi suci, dan orang-orang bingung apa yang harus dilakukan dengan Perayaan Pekan Suci. Seorang umat paroki bertanya dengan sedih kepada saya, “Romo, karena Gereja ditutup, apa yang harus saya lakukan dengan cabang-cabang palma yang saya petik?” Tentunya, selalu ada solusi pastoral untuk hal-hal ini, tetapi masalah sebenarnya bukan tentang bagaimana mengatasi kebingungan, tetapi bagaimana menghadapi kepedihan yang mendalam karena kehilangan apa yang membuat kita menjadi Katolik. Tidak ada palma di tangan kita, tidak ada ciuman kaki salib, dan tidak ada Tubuh Kristus.

Orang-orang Yerusalem yang menyambut Yesus dan berteriak, “Hosanna!” Kata Ibrani “Hosanna” secara harfiah berarti “selamatkan kami!” atau “beri kami keselamatan!” Itu adalah seruan harapan. Kita perlu ingat bahwa orang-orang Israel pada masa ini berada di bawah pendudukan Kekaisaran Romawi. Umumnya, kehidupan itu sulit dan banyak orang menanggung pajak berat dan peraturan yang membebankan. Banyak orang Yahudi yang setia mengharapkan Mesias yang dijanjikan, yang seperti Daud, akan memulihkan dua belas suku Israel yang hilang, membebaskan mereka dari cengkeraman bangsa Romawi dan membawa mereka ke kerajaan yang mulia. Mereka melihat Yesus sebagai pewarta karismatik, penyembuh ajaib, dan penakluk alam yang ganas, dan tentunya, Yesus bisa menjadi raja yang akan menjungkirbalikkan pasukan Romawi. Kita perlu mengingat juga konteks Injil hari ini, bahwa dalam beberapa hari, orang-orang Yahudi akan merayakan pesta besar Paskah, dan ribuan orang berkumpul di Yerusalem. Dengan begitu banyak energi dan euforia, insiden kecil bisa memicu pemberontakan skala besar. Dan Yesus berada di pusat pusaran ini.

Yesus memang seorang raja dan penyelamat, tetapi Ia bukan raja yang diharapkan banyak orang. Dia adalah raja damai, bukan jendral perang, itulah sebabnya Dia memilih keledai yang lembut daripada kuda yang kuat. Mahkotanya bukan emas dan berlian yang bersinar, tetapi duri yang tajam. Jubahnya bukan kain halus ungu, tetapi kulit yang penuh luka. Takhta-Nya tidak megah, tetapi sebuah salib yang hina.

Kita mungkin seperti orang-orang di Yerusalem, dan kita berteriak “Hosanna!” kepada Yesus, mengharapkan Dia untuk menyelamatkan kita dari pandemi yang mengerikan ini, untuk mengembalikan perayaan liturgi kita, dan untuk menyelesaikan semua masalah kita. Namun, seperti orang-orang Yerusalem, kita mungkin keliru. Yesus adalah Juru Selamat kita, tetapi Dia mungkin menyelamatkan kita dengan cara yang bahkan tidak kita sukai.

Tantangannya adalah apakah kita kehilangan kesabaran dan mengatakan bahwa Yesus sebagai pewarta hoax, dan bukan kabar baik, atau menanggung penghinaan dengan-Nya; apakah kita berkecil hati dan mulai berteriak, “Salibkan Dia!” atau kita berdiri di dekat salib-Nya. Tantangannya adalah apakah kita menjadi pahit dan mulai mengejek otoritas gereja karena ketidakmampuan mereka menangani krisis, atau kita terus mendukung mereka pada masa pencobaan; apakah kita mengutuk situasi yang suram, atau kita mulai menyebarkan cahaya sekecil apa pun itu.

Mengapa Tuhan membiarkan kita menanggung pengalaman mengerikan ini, atau lebih tepatnya, mengapa Allah membiarkan diri-Nya menanggung pengalaman mengerikan ini? Mari kita tunggu jawabannya di Jumat Agung.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

God’s Loving Touch

Fifth Sunday of Lent [A]

March 29, 2020

John 11:1-45

Daniel Bonnell, "Jesus Wept." Oil on canvas, 34 x 46 in. Tags: LazarusAmong the five human senses, the sense of touch is the most basic and foundation to other senses. The sense of sight needs to be in touch with the light spectrum. The sense of taste requires to be in contact with the chemical in the food. The sense of hearing must receive air vibration or sound waves. This sense makes us a human being, a bodily being. No wonder that many traumatic experiences [even mental problems] are rooted in the lack (or excess) of touch.

God, our creator, understands our fundamental need of touch. Thus, to fulfill our deepest desire, He made a radical choice and became a man like all of us. Because Jesus is true God and true man, the disciples were able to see, hear, touch and feel Him. Yet, He gave a more radical gesture as He offered Himself as food to eat and drink to eat, “for my flesh is true food and my blood is true drink [Jn 6:55].” While the pagan deities were feasting on the human blood and sacrifice, our God does the opposite. He gave up His life so that we may live and feel His love.

Following the example of our Savior, the Church is filled with tangible means and bodily gestures as a sign and symbols of the divine presence. No wonder our churches are equipped with beautiful crucifixes, adorned with flowers, and mystified by the burning candle and incense. A sacrament is no other than the visible sign of the invisible grace, and sacraments really intend to connect to our bodies, like blessed water and oil that touch our forehead, the bread that we consume, and words of forgiveness that we need to hear. Amazingly, the Church is called the body of Christ, and our call is to unite as one people of God around this table of Eucharist.

However, the terrible thing befalls our Church. The pandemic caused by the Covid-19 is basically reversing the movement of our faith. We are facing a reality that touching can mean illness, the gathering may bring disaster, and worship may mean death. For the good of the flock, our leaders are forced to close the churches. We now feel the pain of separation from the Body of Christ.

Perhaps, we are like Lazarus who are experiencing spiritual suffering and death. Perhaps, we are like Martha who is asking the Lord, “why are you not coming sooner?” Perhaps, we are like Mary who cannot do anything but mourns and is reduced into silence.

The Gospel of John tells us that Jesus loves Lazarus, Martha and Mary as His close friends. Yet, Jesus did not rescue Lazarus when he got gravely ill, and even Jesus visited them after Lazarus died four days. Jesus allowed terrible things to take place in the life of Lazarus, Martha, and Mary, not because He wanted to punish them, or He does not care, but because He loves them.

In His love, God allows us to endure the sense of losing God, and experience suffering and even death. God knows too well that through suffering, we may love even deeper, we grow in faith, and re-discover God, alive and even closer. After all, there is no true resurrection, unless we enter the darkness of the tomb.

My deepest gratitude and prayer for our medical personal who give their all in to fight the disease and save lives.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sentuhan Kasih Allah

Minggu Kelima Masa Prapaskah [A]

29 Maret 2020

Yohanes 11: 1-45

lazarus africanDi antara lima indra manusia, indra peraba [sentuhan] adalah yang paling dasar dan fondasi bagi indra yang lainnya. Indra penglihatan perlu bersentuhan dengan spektrum cahaya. Indra perasa perlu bersentuhan dengan bahan kimia dalam makanan. Indra pendengaran harus menerima getaran suara di udara. Sentuhan menjadikan kita manusia, makhluk yang bertubuh. Tidak mengheran jika banyak pengalaman traumatis [bahkan masalah mental] berakar pada sentuhan yang kurang diterima atau tidak seharusnya diterima.

Tuhan, pencipta kita, memahami kebutuhan mendasar kita akan sentuhan. Dengan demikian, untuk memenuhi hasrat terdalam kita, Dia membuat pilihan radikal, dan menjadi manusia seperti kita semua. Karena Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia, para murid dapat melihat, mendengar, menyentuh dan merasakan Dia. Namun, Dia memberi sesuatu yang lebih radikal ketika Dia mempersembahkan diri-Nya sebagai makanan dan diminum, “karena dagingku adalah makanan yang benar dan darahku adalah minuman yang benar [Yohanes 6:55].” Sementara para dewa berhala menikmati darah manusia dari menjadi korban, Tuhan kita melakukan yang sebaliknya. Dia menyerahkan hidup-Nya sehingga kita dapat hidup dan merasakan kasih-Nya.

Mengikuti contoh Juruselamat kita, Gereja dipenuhi dengan sarana jasmani sebagai tanda dan simbol kehadiran ilahi. Tidak heran gereja-gereja kita dilengkapi dengan salib yang indah, dihiasi dengan bunga, dan diagungkan dengan lilin dan dupa. Sakramen tidak lain adalah tanda yang terlihat dari rahmat yang tak terlihat, dan sakramen benar-benar bermaksud untuk menyentuh tubuh kita, seperti air dan minyak suci yang menyentuh dahi kita, hosti yang kita santap, dan kata-kata pengampunan yang perlu kita dengar. Bahkan, Gereja sendiri disebut sebagai tubuh Kristus, dan panggilan kita adalah untuk bersatu sebagai satu umat Allah di sekitar meja Ekaristi ini.

Namun, hal yang mengerikan menimpa Gereja kita. Pandemi yang disebabkan oleh Covid-19 pada dasarnya membalikkan gerakan dasar iman kita. Kita menghadapi kenyataan bahwa menyentuh dapat berarti penyakit, berkumpul dapat membawa bencana, dan ibadah dapat berarti kematian. Demi kebaikan umat, para pemimpin kita dipaksa untuk menutup gereja. Kita sekarang merasakan sakitnya perpisahan dari Tubuh Kristus.

Mungkin, kita seperti Lazarus yang mengalami penderitaan dan kematian rohani. Mungkin, kita seperti Marta yang bertanya kepada Tuhan, “seandainya Engkau datang, hal ini tidak perlu terjadi?” Mungkin, kita seperti Maria yang tidak bisa berbuat apa-apa selain berduka dan berdiam.

Yesus tidak menyelamatkan Lazarus ketika dia sakit parah, dan bahkan Yesus mengunjungi mereka setelah Lazarus meninggal empat hari. Kenapa Yesus membiarkan hal-hal buruk terjadi dalam kehidupan Lazarus, Marta dan Maria? Apakah Yesus ingin menghukum mereka atau tidak peduli dengan mereka? Injil Yohanes menyatakan bahwa Yesus mengasihi Lazarus, Marta dan Maria sebagai sahabat dekat-Nya. Yesus mengizinkan hal buruk terjadi terhadap sahabat-sahabat-Nya justru karena Dia mengasihi mereka.

Dalam kasih-Nya, Allah mengijinkan kita untuk merakan Tuhan yang jauh, dan mengalami penderitaan dan bahkan kematian. Tuhan tahu betul bahwa melalui penderitaan, kita dapat mencintai lebih dalam, kita tumbuh dalam iman, dan menemukan kembali Tuhan, yang lebih hidup dan bahkan lebih dekat. Kita perlu mengingat bahwa tidak ada kebangkitan sejati, kecuali kita berani memasuki kegelapan makam.

Terima kasih dan doa terdalam saya untuk pribadi medis kami yang telah memberikan segalanya untuk memerangi penyakit dan menyelamatkan nyawa.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Spittle and Eyes

Fourth Sunday of Lent [A]

March 22, 2020

John 9:1-41

In healing the blind man, Jesus did something a bit unusual: He spat on the ground, made clay with His spittle, and smeared the clay on the blind man’s eyes. In this time we are battling the Covid-10, the fast-spreading strain of the coronavirus, we are educated that one of the media of contamination is the human droplets like our saliva, and the entire point of this virus is contact with our eyes. When the infectious saliva meets the eyes, it is the sure reason we fall victim to this terrible virus.

However, Jesus was using the very same means of illness and transforming it into the means of healing both physical and spiritual blindness. Indeed, this kind of reversing action is the favorite pattern of Jesus. St. John Chrysostom, bishop of Constantinople, in his homily, mentioned that three means used by the devil to destroy humanity are the same means utilized by Jesus to save humanity. The three means of the devil are the tree of knowledge of evil and good, the woman which is Eve who disobeyed, and the death of Adam who brought along all his descendants. Jesus then transformed three means into His own ways of salvation: for the tree of knowledge of evil and good, there is the tree of the cross, for Eve, there is Mary who obeys, and for the death of Adam, there is the death of Jesus who saves us all. The devil thought he could outsmart God, but truly, it is God who has the final victory.

In Genesis 2, when God created the man, He was acting like a craftsman or a sculptor. In ancient Rabbinic tradition, God used His own spittle to create a formable clay from the ground. The act of Jesus in healing the blind man brings us back to this story of creation. Jesus is not merely healing, but He is recreating the man into His own image. Even the means of ugliness and illness can be transformed into the means of beauty and salvation.

The covid-19 virus has destroyed many aspects of human life. It spreads fear and panic. It forces the government to take drastic measures, including locking down cities and stop economic activities. It separates people from their friends and loved ones. The faithful are obliged to be far from the houses of the Lord. These are a painful and confusing time for many of us. Even some of us would cry, “Eli, Eli, Lama sabacthani?”

Yet, we must not forget that Jesus can always employ the same means of death and destruction to be His way of salvation. We ask the Lord to open our eyes of faith to see how God works through this time of crisis.

We thank for the gifts of our medical practitioners who put their lives on the line to care for those are sick; for our government officials who tireless work to contain the virus; for volunteers who spend their own resources to help battling the illness; for the priests and Church’s servants who serve the spiritual needs of the people despite many limitations. My prayer also goes for an Italian priest who made the final sacrifice as he asked not to be treated so that the limited respiratory machines may be used by younger and having a better chance to survive.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ludah dan Mata

Hari Minggu Prapaskah Keempat [A]

22 Maret 2020

Yohanes 9: 1-41

blind manDalam menyembuhkan orang buta, Yesus melakukan sesuatu yang agak tidak biasa: Ia meludah ke tanah, membuat tanah liat dengan air liurnya, dan mengolesi tanah liat itu di mata orang buta tersebut. Saat ini kita sedang melawan Covid-19, jenis virus korona yang menyebar dengan cepat, kita dididik bahwa salah satu media kontaminasi adalah tetesan manusia seperti air yang keluar dari mulut kita. Ketika air yang sudah terkontaminasi dengan virus bersentuhan dengan mulut, hidung dan mata, itu menjadi titik awal berjangkitnya si virus di tubuh kita.

Namun, hari in, Yesus menggunakan media yang dipakai virus ini untuk menyebar dan mengubahnya menjadi jalan penyembuhan baik kebutaan fisik maupun spiritual. Memang, tindakan pembalikan semacam ini adalah pola favorit Yesus. St. Yohanes Krisostomus, uskup Konstantinopel, dalam homilinya, menyebutkan bahwa tiga cara yang digunakan oleh iblis untuk menghancurkan umat manusia adalah sarana yang sama yang digunakan oleh Yesus untuk menyelamatkan umat manusia. Tiga cara iblis adalah pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat, wanita yaitu Hawa yang tidak taat, dan kematian Adam yang membawa serta semua keturunannya. Yesus kemudian mengubah tiga sarana ini menjadi sarana keselamatan-Nya: untuk pohon pengetahuan, ada pohon salib, untuk Hawa, ada Maria yang setia, dan untuk kematian Adam, ada kematian Yesus yang menyelamatkan kita semua. Iblis mengira dia bisa mengakali Tuhan, tetapi sesungguhnya, Tuhanlah yang memiliki kemenangan akhir.

Dalam Kejadian 2, ketika Tuhan menciptakan manusia, Dia bertindak seperti seorang seniman atau pematung. Dalam tradisi Yahudi kuno, Tuhan mengambil tanah, dan kemudian agar bisa dibentuk, Dia menggunakan ludah-Nya sendiri untuk membuat tanah liat. Tindakan Yesus dalam menyembuhkan orang buta membawa kita kembali ke kisah penciptaan ini. Yesus tidak hanya menyembuhkan, tetapi Dia menciptakan kembali manusia itu seturut citra-Nya sendiri. Bahkan sarana keburukan dan penyakit dapat diubah menjadi sarana keindahan dan keselamatan.

Virus covid-19 telah menghancurkan banyak aspek kehidupan manusia. Virus ini menyebarkan ketakutan dan kepanikan. Virus ini memaksa pemerintah untuk mengambil tindakan drastis, termasuk “lockdown” kota-kota dan menghentikan kegiatan perekonomian. Virus ini memisahkan orang dari sahabat dan orang yang mereka kasihi. Orang beriman diwajibkan untuk menjauhi rumah Tuhan. Ini adalah waktu yang menyakitkan dan membingungkan bagi banyak dari kita. Bahkan beberapa dari kita akan menangis, “Eli, Eli, Lama sabacthani?”

Namun, kita tidak boleh lupa bahwa Yesus selalu dapat menggunakan sarana-sarana kematian dan kehancuran yang sama untuk menjadi sara keselamatan-Nya. Kita meminta Tuhan untuk membuka mata iman kita untuk melihat bagaimana Tuhan bekerja melalui masa krisis ini, dan saat mata kita terbuka, kita bisa melihat betapa banyaknya kebaikan ditengah-tengah kita.

Kita berterima kasih atas  berkat Tuhan yang menjelma sebagai berbagai praktisi medis kita yang mempertaruhkan nyawanya untuk merawat mereka yang sakit; untuk pejabat pemerintah kita yang bekerja tanpa kenal lelah untuk mencegah penyebaran virus; untuk para sukarelawan yang menyumbangkan sumber daya mereka sendiri untuk membantu memerangi penyakit ini; untuk para imam dan pelayan Gereja yang melayani kebutuhan rohani umat meskipun ada banyak keterbatasan. Doa saya juga tertuju bagi seorang imam Italia yang membuat pengorbanan terakhir saat dia meminta untuk tidak dirawat sehingga mesin pernapasan yang terbatas dapat digunakan oleh yang lebih muda dan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk bertahan hidup.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus, Our Bridegroom

Third Sunday of Lent [A]

March 15, 2020

John 4:5-42

jesus n samaritan woman 3We relate to Jesus in many ways. Some consider Him as a teacher, some call Him as a friend, and some others would simply acclaim Him as Lord and Savior. However, little known to us that the Gospel introduces Him as the bridegroom.

The idea that Jesus as our spouse is awkward and difficult to accept. One may say, “If I am a woman, it is fine to have Jesus as my husband. One may think, “If I am single, it is ok to get married to Jesus. But if I am already married, does it mean Jesus would be my second husband, or shall I divorce my first husband?” These kinds of concerns are surely valid, yet these are rooted in our human and even sexual understanding of marriage. Then, what kind of bridegroom Jesus is?

In order to answer this, we need to understand some symbols in today’s Gospel. Jesus went into a well and John the evangelist made it clear that it is not just ordinary well, but Jacob’s well. A Samaritan woman then came to fetch water and met Jesus there. For us, it is just an ordinary story of Jesus’ meeting any woman, just like when Jesus visited Mary and Martha, or Jesus helped a woman caught in adultery. Yet, when we know our Scriptures, the meeting is far from ordinary. It is something to do with a man finding a bride. In Gen 29, Jacob found beautiful Rachel near the well when she was about to water the sheep. In Exo 3, after Moses fled from Egypt, he went to the land of Midian, and near the well, he defended the women being harassed by unruly shepherds. One of these women would eventually become his future wife.

However, the Gospel clearly shows that Jesus neither sought any wife nor married the Samaritan woman. Yes, it is true that Jesus remained single for his entire life, but again, we are not speaking in the human and literal level. If Jesus is the divine Bridegroom, the Samaritan woman stands also for the true bride of Christ. No wonder, the fathers of the Church, would identify the Samaritan woman as the symbol of the Church. Like the Samaritan woman who is a gentile, the Church is also coming from many nations. Like the Samaritan woman who struggled with her marriage life, the Church also are struggling with many sin and weakness. Like the Samaritan woman who was waiting for a Messiah, the Church also is in need of a Savior.

It is truly weird to see Jesus as our groom especially when we are stacked in too humanly understanding. Yet, on spiritual level, to have Jesus as our groom means we have someone who loves us dearly and intimately, someone who will protect and provide for us, someone who will accept our imperfections and someone who will willingly give his life for our sake.

The covid-19 virus has wreaked havoc the world. What is terrible with this virus is not only it extremely contiguous and has no definite cure yet, it forces humanity to show its basic survival instinct: fear and even selfishness. However, this is the best opportunity to grow in faith. Our faith is not empty because we hold on to someone, and He is our Bridegroom.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP