Yesus, Mempelai Pria Kita

Hari Minggu Prapaskah Ketiga [A]

15 Maret 2020

Yohanes 4: 5-42

jesus n samaritan womanKita melihat Yesus sebagai beberapa figur. Beberapa orang menganggap Dia sebagai guru, beberapa memanggilnya sebagai sahabat, dan beberapa yang lain hanya akan menyatakan Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Namun, sedikit yang kita ketahui bahwa Injil memperkenalkan Dia sebagai mempelai laki-laki.

Gagasan bahwa Yesus sebagai mempelai kita agak canggung dan sulit diterima. Seseorang mungkin berpikir, “Jika saya single, tidak apa-apa menikah dengan Yesus. Tetapi jika saya sudah menikah, apakah itu berarti Yesus akan menjadi suami kedua saya, atau haruskah saya menceraikan suami pertama saya?” Kekhawatiran semacam ini tentu saja valid, namun ini berakar pada pemahaman manusiawi dan bahkan seksual kita tentang pernikahan. Lalu, mempelai laki-laki macam apa Yesus ini?

Untuk menjawab ini, kita perlu memahami beberapa simbol dalam Injil hari ini. Yesus pergi ke sebuah sumur dan Yohanes sang penginjil menegaskan bahwa itu bukan hanya sumur biasa, tetapi sumur Yakub. Seorang wanita Samaria kemudian datang untuk mengambil air, dan bertemu Yesus di sana. Bagi kita, itu hanya kisah biasa tentang pertemuan Yesus dengan seorang wanita, seperti ketika Yesus mengunjungi Maria dan Marta, atau Yesus membantu seorang wanita yang terjebak dalam perzinaan. Namun, ketika kita mengetahui Alkitab kita, pertemuan itu jauh dari biasa. Adegan di sumur adalah saat seorang pria menemukan pengantin wanitanya. Dalam Kejadian 29, Yakub menemukan Rahel di dekat sumur ketika dia akan memberi minum domba. Dalam Kel 3, setelah Musa melarikan diri dari Mesir, ia pergi ke tanah Midian, dan di dekat sumur, ia membela para wanita yang diganggu oleh para gembala. Salah satu dari wanita ini akhirnya akan menjadi istrinya.

Namun, Injil dengan jelas menunjukkan bahwa Yesus tidak mencari istri atau menikahi wanita Samaria itu. Yesus juga tetap sendiri selama seluruh hidupnya, tetapi sekali lagi, kita tidak berbicara di tingkat manusia dan literal. Jika Yesus adalah Mempelai Pria yang ilahi, wanita Samaria juga melambangkan mempelai wanita Kristus yang sejati. Tidak heran, para Bapak Gereja, akan mengidentifikasi wanita Samaria sebagai simbol dari Gereja. Seperti wanita Samaria yang bukan Yahudi, Gereja juga datang dari banyak bangsa. Seperti wanita Samaria yang bergumul dengan kehidupan pernikahannya, Gereja juga bergumul dengan banyak dosa dan kelemahan. Seperti wanita Samaria yang sedang menunggu Mesias, Gereja juga membutuhkan seorang Juru Selamat.

Sungguh aneh melihat Yesus sebagai pengantin laki-laki kita terutama ketika kita terbiasa dalam pemahaman yang terlalu manusiawi. Namun, dalam tingkat spiritual, untuk memiliki Yesus sebagai mempelai laki-laki kita berarti kita memiliki seseorang yang sangat mengasihi kita, seseorang yang akan melindungi dan merawat kita, seseorang yang akan menerima ketidaksempurnaan kita dan seseorang yang akan rela menyerahkan hidupnya demi kita.

Virus Covid-19 hanya dalam waktu tiga bulan telah mendatangkan malapetaka di dunia. Apa yang mengerikan dengan virus ini bukan hanya sangat menular dan belum memiliki obat yang pasti, tetapi juga memaksa manusia untuk menunjukkan naluri bertahan hidup dasarnya: ketakutan dan bahkan keegoisan. Namun, ini adalah juga kesempatan terbaik untuk bertumbuh dalam iman. Iman kita tidak kosong karena kita berpegang pada seseorang, dan Dia adalah Yesus, Mempelai Pria kita yang akan memberikan hidup-Nya bagi kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

True Glory

Second Sunday of Lent [A]

March 8, 2020

Matthew 17:1-9

transfiguration 2The Church has selected the story of Transfiguration as the reading of the second Sunday of Lent.  We may ask how this kind of powerful story may fit into the entire season of Lent. The key is that the Transfiguration is fundamentally linked to the Cross of Jesus. In Luke’s version of the transfiguration, Jesus was talking to Moses and Elijah about His “exodus.” This reminds the ancient Israelites who exited Egypt, walked through the desert, and entered the Promised Land. Yet, the real end of the exodus is the city of Jerusalem, and eventually the holy Temple where God dwelled among His people. Just like the ancient Israelites, Jesus’ exodus has to end in Jerusalem.

The glorious moment of transfiguration is not intended to last long. Jesus has to go down and walk again toward Jerusalem. However, the disciples got it wrong when Peter offered to put a tent and to stay in the wonderful moment for good. Jesus reminded them that they need to go down. The disciples cannot stay there, and they must continue their journey.

There are moments in our lives that we believe that we have seen and reached the glory of God. We feel so blessed when we pray before the Blessed Sacrament. We experience peace during our retreat and meditation. We are inspired after we listen to the insightful preaching. We are re-energized by songs and praises. These things are good, but they are never intended to be the end of the journey. We must go down together with Jesus, and to carry our daily crosses. Jesus understands that there is no real love without suffering, no true glory without pain, and no salvation without the cross.

I am currently in the Holy Land, and I was walking in the same way Lord Jesus has set His feet. I was truly blessed that God allowed me to be on this Promised Land just months after my ordination. The joy is overwhelming. Israel is truly a land flowing with milk and honey, a truly beautiful land. I am studying the Bible for years, but only now that I truly see and touch these biblical places. My faith becomes truly alive. The more I walk through the land and places, the more I want to stay and learn. I have seen the glory of the Lord, and I want to pitch my tent. However, I cannot wait too long, and I need to go back because my mission is not [yet] at this Promised Land.

Last March 4, 2020, the house for the elderly and disabled run by the Missionaries of Charity in Aden, Yemen, was attacked by the terrorists. Four sisters were killed during the ambush. Their works for the elderly in one of the poorest countries is in itself a heroic act, but their true glory lies when they gave their lives totally for God and the people they loved. Every morning, the sisters always prayed together in the community, and this prayer [attributed to St. Ignatius of Loyola] have inspired them through the last moment of their lives:

“Lord, teach me to be generous. Teach me to serve you as you deserve; to give and not to count the cost, to fight and not to heed the wounds, to toil and not to seek for rest, to labor and to ask for reward, save that of knowing that I do Your holy will.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kemuliaan Sejati

Minggu Kedua Prapaskah [A]

8 Maret 2020

Matius 17: 1-9

transfiguration 3Gereja telah memilih kisah Transfigurasi sebagai Injil Minggu Prapaskah kedua. Kita mungkin bertanya bagaimana kisah kemuliaan semacam ini dapat masuk ke dalam seluruh konteks Prapaskah. Kuncinya adalah bahwa Transfigurasi secara mendasar terkait dengan Salib Yesus. Dalam versi transfigurasi dari Lukas, Yesus berbicara kepada Musa dan Elia tentang “eksodus” -nya. Ini mengingatkan kita akan bangsa Israel kuno yang keluar dari Mesir, berjalan melewati padang pasir, dan memasuki Tanah Perjanjian. Namun, akhir eksodus yang sebenarnya adalah kota Yerusalem, dan akhirnya Bait suci tempat Allah tinggal di antara umat-Nya. Sama seperti bangsa Israel kuno, eksodus Yesus harus berakhir di Yerusalem.

Momen mulia transfigurasi tidak dimaksudkan untuk bertahan lama. Yesus harus turun dan berjalan lagi menuju Yerusalem. Namun, para murid salah kaprah ketika Petrus menawarkan untuk memasang tenda dan tetap tinggal di gunung itu. Yesus mengingatkan mereka bahwa mereka harus turun. Para murid tidak dapat tinggal di sana, dan mereka harus melanjutkan perjalanan mereka bersama Yesus di Yerusalem.

Ada saat-saat dalam hidup kita bahwa kita percaya bahwa kita telah melihat dan mencapai kemuliaan Allah. Kita merasa sangat diberkati ketika kita berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus. Kita mengalami kedamaian selama retret dan meditasi kita. Kita terinspirasi setelah kita mendengarkan khotbah yang penuh semangat. Kita diberi energi kembali oleh lagu dan pujian. Hal-hal ini baik, tetapi mereka tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi akhir dari perjalanan. Kita harus turun bersama dengan Yesus, dan memikul salib kita sehari-hari. Yesus mengerti bahwa tidak ada kasih sejati tanpa penderitaan, tidak ada kemuliaan sejati tanpa rasa sakit, dan tidak ada keselamatan tanpa salib.

Saat ini saya berada di Tanah Suci, dan saya berjalan di tempat yang sama seperti Tuhan Yesus telah menginjakkan kaki-Nya. Saya benar-benar diberkati bahwa Allah memberi kesempatan untuk berada di Tanah Perjanjian ini hanya beberapa bulan setelah tahbisan saya. Sebuah sukacita luar biasa. Israel benar-benar tanah yang penuh dengan susu dan madu, tanah yang benar-benar indah. Saya belajar Alkitab selama bertahun-tahun, tetapi baru sekarang, saya benar-benar melihat dan menyentuh tempat-tempat alkitabiah ini. Iman saya menjadi benar-benar hidup. Semakin saya berjalan, semakin saya ingin tinggal dan belajar. Saya telah melihat kemuliaan Tuhan, dan saya ingin mendirikan kemah saya. Namun, saya tidak bisa tinggal terlalu lama, dan saya harus kembali karena misi saya bukan [belum] di Tanah Perjanjian ini.

4 Maret 2020 lalu, rumah bagi orang tua dan orang cacat dijalankan oleh Misionaris Cinta Kasih di Aden, Yaman, diserang oleh para teroris. Empat suster terbunuh dalam serangan itu. Pekerjaan mereka untuk merawat orang tua di salah satu negara termiskin itu sendiri adalah tindakan heroik, tetapi kemuliaan sejati mereka terletak ketika mereka memberikan hidup mereka sepenuhnya bagi Tuhan dan orang-orang yang mereka cintai. Setiap pagi, para suster selalu berdoa bersama di komunitas, dan doa ini [dipercaya berasal dari St Ignatius dari Loyola] telah menginspirasi mereka melalui saat-saat terakhir kehidupan mereka:

“Tuhan, ajari aku untuk bermurah hati. Ajari aku untuk melayani-Mu sepantasnya; untuk memberi dan tidak menghitung imbalan, untuk berjuang dan tidak mengindahkan luka, bekerja keras dan tidak mencari istirahat, untuk bekerja dan tidak meminta imbalan, kecuali mengetahui bahwa aku melakukan kehendak suci-Mu. ”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Temptations

First Sunday of Lent

February 26, 2020

Matthew 4:1-11

Jesus is tempted - Matthew 4:1-11

The first Sunday of Lent begins the story of Jesus in the desert, fasting and being tempted by the devil. St. Matthew gives us more details in the story temptations, and from Matthew, we discover the threefold temptations of Christ. Why did Satan tempt Jesus? Why three temptations?

The temptation of Jesus took place after the baptism of Jesus and right before His public ministry of Jesus. His temptation brings us back to the first temptation in the garden of Eden. As Satan engineered the fall of humanity in deceiving the first Adam, the same evil agent executed the same assault to Jesus, the new Adam.

Why three? The ancient Jewish rabbis believe that the serpent who represented the Devil tempted Adam and Eve with three things. “..when the woman saw that the tree was good for food, and that it was a delight to the eyes, and that the tree was to be desired to make one wise [Gen 3:6].” Firstly, the devil made the fruit as something good to eat. Secondly, the devil made Eve perceive that the fruit was a sight to behold. Lastly, the devil made Eve believe that the fruit is the source of wisdom. The first temptation is called the sin of the belly since it attacks our weak flesh [gluttony and sexual sins]. The second is the sin of the sight because through the eyes, we see things we do not have, and we desire to possess them [envy, possessiveness, and stealing]. Lastly, but most potent is the sin of pride. This temptation makes people think that they can dethrone God and put themselves as the new gods.

When dealing with Jesus, the devil applied the same technique. The devil offered Jesus to use His power to satisfy His hunger. The devil brought Jesus to see all the beautiful things in the world to possess. And, the devil asks Jesus to demonstrate His power to show His divinity and authority to the people. However, Jesus did not fall into the temptation, and thus, undid the first Adam’s failure.

How did Jesus counter the devil’s attack? Three things: fasting and abstinence, almsgiving, and prayer. Fasting and abstinence have been an ancient practice to moderate one’s desires. While the devil wants us to fall into the sin of the flesh and enjoy the bodily pleasures, fasting and abstinence put in check our passions. While the devil influences us to get more and possess things even at the expense of other people, almsgiving enables us to be generous and feel sufficient with what we have.  While the devil tries to convince us that we can be the master of our lives, prayers remind us that there is God, and we are not Him.

This Lenten season is precisely a time for us to be aware of our human weaknesses and how the devil exploits them. Yet, we are not without hope; Jesus gives us His grace to counter this temptation and three Lenten practices [fast, abstinence, almsgiving and prayer] as our weapons.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Godaan

Hari Minggu Prapaskah Pertama

26 Februari 2020

Matius 4:1-11

temptation of jesus 2Hari Minggu Prapaskah pertama dimulai dengan kisah Yesus di padang gurun, berpuasa dan dicobai oleh iblis. Matius memberi kita lebih banyak perincian dalam kisah pencobaan, dan dari Matius, kita menemukan tiga pencobaan Kristus. Mengapa Setan menggoda Yesus? Kenapa tiga godaan?

Pencobaan Yesus terjadi setelah pembaptisan Yesus dan tepat sebelum Yesus memulai karya-Nya. Pencobaan-Nya membawa kita kembali ke pencobaan pertama di taman Eden. Ketika Setan merekayasa kejatuhan umat manusia dengan menipu Adam yang pertama, Setan yang sama melakukan serangan yang sama kepada Yesus, sang Adam yang baru.

Mengapa tiga? Para rabi Yahudi kuno percaya bahwa ular yang mewakili Iblis menggoda Adam dan Hawa dengan tiga hal. “… ketika wanita itu melihat bahwa pohon itu baik untuk makanan, dan buah itu menyenangkan mata, dan bahwa pohon itu diinginkan untuk membuat orang bijak [Kej 3: 6].” Pertama, iblis menjadikan buah sebagai sesuatu yang baik untuk dimakan. Kedua, iblis membuat Hawa merasakan bahwa buah itu adalah pemandangan yang harus dilihat. Terakhir, iblis membuat Hawa percaya bahwa buah adalah sumber kebijaksanaan. Pencobaan pertama disebut dosa perut karena ia menyerang kedagingan kita yang lemah [kerakusan dan dosa seksual]. Yang kedua adalah dosa penglihatan karena melalui mata, kita melihat hal-hal yang tidak kita miliki, dan kita berhasrat untuk memilikinya [iri, posesif, dan mencuri]. Terakhir, tetapi yang paling ganas adalah dosa kesombongan. Godaan ini membuat orang berpikir bahwa mereka dapat melengserkan Tuhan dan menempatkan diri mereka sebagai tuhan-tuhan baru.

Ketika berhadapan dengan Yesus, iblis menerapkan teknik yang sama. Iblis menawarkan Yesus untuk menggunakan kuasa-Nya untuk memuaskan rasa lapar-Nya. Iblis membawa Yesus untuk melihat semua hal indah di dunia untuk dimiliki. Dan, iblis meminta Yesus untuk menunjukkan kuasa-Nya untuk menunjukkan keilahian dan otoritas-Nya kepada orang-orang. Namun, Yesus tidak jatuh ke dalam pencobaan, dan dengan demikian, membatalkan kegagalan Adam yang pertama.

Bagaimana cara Yesus melawan serangan iblis? Tiga hal: puasa dan pantang, amal, dan doa. Puasa dan pantang telah menjadi praktik kuno untuk mengontrol hasrat kita. Sementara iblis ingin kita jatuh ke dalam dosa kedagingan dan menikmati kesenangan tubuh, puasa dan pantang mengendalikan nafsu kita. Sementara iblis memengaruhi kita untuk mendapatkan lebih banyak dan memiliki barang-barang bahkan dengan mengorbankan orang lain, amal memungkinkan kita untuk bermurah hati dan merasa cukup dengan apa yang kita miliki. Sementara iblis berusaha meyakinkan kita bahwa kita dapat menjadi penguasa dalam hidup kita, doa mengingatkan kita bahwa Tuhan itu ada, dan kita bukan Dia.

Masa Prapaskah ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk menyadari kelemahan manusia kita dan bagaimana iblis mengeksploitasi mereka. Namun, kita bukannya tanpa harapan; Yesus memberi kita rahmat-Nya untuk melawan pencobaan ini dan tiga praktik Prapaskah [puasa, pantang, amal, dan doa] sebagai senjata kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Love at the Heart

Seventh Sunday in Ordinary Time [A]

February 23, 2020

Matthew 5:38-48

praying n persecutionAt the heart of Jesus’ teaching in the Mount is the formation of the heart. However, the heart in the Bible is not limited to our affective side or emotions. It also stands for the center of intellectual capacity and freedom. The heart is the seat of life itself, and thus, represents who the man or woman is.

Last week, Jesus told us to purify our hearts from evil thoughts and wicked desires [Mat 5:17-37]. It is not enough not to do violence to others, but it is necessary to cleanse our hearts from anger and vengeance. It is not sufficient not to commit adultery, but we are required to remove from our hearts the lustful desires. Forming the hearts is more fundamental rather than simply and blindly following the written laws and regulations. The formation of the heart is about building up good habits, and virtuous character. A virtuous person is avoiding evil, not because of fear of the external laws, but strong motivation from within.

However, in today’s Gospel, Jesus demands even something higher. The purifying of the heart is just the first step, and we need to go to another and more difficult step: to love. It is precisely tougher because love is not merely about removing impure desires in our hearts or preventing us from doing evil, but it is about actively doing good. Moreover, this love [agape] is only real and meaningful if we are doing good, not in the conditions that are favorable to us, but rather in the face of evil and sufferings.

Since its foundation around two millennia ago, Christians remain the most persecuted people. Opendoorusa.org reported that numbers of persecutions and violence against Christians are on the rise. In 2019, more than 260 million Christians [one out of nine Christians in the world] are living in the places where they experience a high level of persecution. Almost 3 thousand Christians were killed because of their faith. More than 9 thousand churches and Christian buildings like schools were attacked. In Nigeria, priests and seminarians were abducted and tortured. Some were lucky to return alive, but many were found lifeless. In China, the government made national crackdown against Christians and shut down the churches. In Indonesia, things are better for the Christians because our rights are enshrined in the constitutions. Yet, in the grassroots, we continue to feel discriminated against and fear of being targeted by the extremists and terrorists.

Our destiny as Christians are not better than our brothers and sisters who belonged to the early Church. However, as our brothers and sisters in the past, our mission remains the same: to love our enemies, to respond evil with utter generosity, and be ready to fight for justice with gentleness. Christians are accused as weak people, but this is plain wrong. The world that is built by violence and bitterness is self-destruct, and unless we dare to be true followers of Christ, we cannot stop the downward mobility towards total ruin. We thank our predecessors who refused to be controlled by violent anger despite so much evil they had to endure. The world is a much better place with whose hearts are pure. St. Tertullian believed that the blood of martyrs is the seed of Christianity, and we believe also that the love of Christians are the seed of a better world.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kasih di Hati

Minggu Ketujuh dalam Masa Biasa [A]

23 Februari 2020

Matius 5: 38-48

persecutionDi hati pengajaran Yesus di atas gunung adalah pembentukan hati. Namun, hati dalam Alkitab tidak terbatas pada sisi afektif atau emosi kita. Ini juga berarti pusat kapasitas intelektual dan kebebasan. Hati adalah pusat kehidupan itu sendiri, dan dengan demikian, mewakili totalitas seorang manusia.

Minggu lalu, Yesus mengatakan kepada kita untuk menyucikan hati kita dari pikiran jahat dan keinginan jahat [Mat 5: 17-37]. Tidaklah cukup untuk tidak melakukan kekerasan kepada orang lain, tetapi perlu untuk membersihkan hati kita dari kemarahan dan pembalasan. Tidaklah cukup untuk tidak melakukan perzinahan, tetapi kita diharuskan untuk menghapus dari hati kita nafsu birahi. Membentuk hati lebih mendasar daripada sekadar dan secara buta mengikuti hukum dan peraturan tertulis. Pembentukan hati adalah tentang membangun kebiasaan yang baik, dan karakter yang luhur. Orang yang berbudi luhur menghindari kejahatan, bukan karena takut akan hukum eksternal, tetapi motivasi yang kuat dari dalam.

Namun, dalam Injil hari ini, Yesus menuntut sesuatu yang lebih tinggi. Pemurnian hati hanyalah langkah pertama, dan kita perlu menuju ke langkah lain yang lebih sulit: untuk mengasihi. Hal ini justru lebih sulit karena kasih bukan hanya tentang menghilangkan hasrat yang tidak murni di hati kita atau mencegah kita dari melakukan kejahatan, tetapi hal ini tentang melakukan kebaikan secara aktif. Terlebih lagi, kasih [agape] ini hanya nyata dan bermakna jika kita berbuat baik, bukan dalam kondisi yang menguntungkan bagi kita, tetapi saat kita berhadapan dengan kejahatan dan penderitaan.

Sejak didirikan sekitar dua ribu tahun yang lalu, umat Kristiani tetap menjadi golongan yang paling teraniaya. Situs opendoorusa.org melaporkan bahwa sejumlah penganiayaan dan kekerasan terhadap umat Kristiani terus meningkat. Pada tahun 2019, lebih dari 260 juta umat Kristiani [satu dari sembilan umat Kristiani di dunia] tinggal di tempat-tempat di mana mereka mengalami penganiayaan tingkat tinggi. Hampir 3 ribu umat Kristiani terbunuh karena iman mereka. Lebih dari 9 ribu gereja dan bangunan milik umat Kristiani seperti sekolah diserang. Di Nigeria, para imam dan seminaris diculik dan disiksa. Beberapa beruntung kembali hidup, tetapi banyak yang ditemukan mati. Di Cina, pemerintah melakukan penumpasan nasional terhadap umat Kristiani dan menutup gereja-gereja. Di Indonesia, segalanya lebih baik bagi umat Kristiani karena hak-hak kami dilindungi dalam undang-undang dasar. Namun, di akar rumput, kami terus merasa didiskriminasi dan takut menjadi sasaran para ekstremis dan teroris.

Nasib kita sebagai umat Kristiani tidak lebih baik daripada saudara-saudari kita yang menjadi anggota Gereja perdana. Namun, sebagai saudara dan saudari kita di masa lalu, misi kita tetap sama: untuk mengasihi musuh kita, untuk menanggapi kejahatan dengan kemurahan hati yang besar, dan bersiap untuk memperjuangkan keadilan dengan kelembutan. Umat Kristiani dituduh sebagai orang lemah, tetapi ini jelas salah. Dunia yang dibangun oleh kekerasan dan kepahitan akan hancur dengan sendirinya, dan kecuali kita berani menjadi pengikut Kristus yang sejati, kita tidak dapat menghentikan arus menuju kehancuran total. Kita bersyukur kepada para pendahulu kita yang menolak untuk dikendalikan oleh kemarahan meskipun begitu banyak kejahatan yang harus mereka tanggung. Dunia adalah tempat yang jauh lebih baik dengan orang-orang berhati murni. St Tertullianus percaya bahwa darah para martir adalah benih Gereja, dan kita percaya juga bahwa kasih umat Kristiani adalah benih dunia yang lebih baik.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Return to Our Hearts

Sixth Sunday in Ordinary Time [A]

February 16, 2020

Mat 5:17-37

heart 2Jesus is accused of unfaithful to the Law of Moses and the traditions of the elders. He no longer requires His disciples to performs ceremonial washings and many traditions of the elders [Mat 15:2]. Jesus heals people even during the Sabbath [Mark 3:1-6]. Jesus declares that all food is clean [Mark 7:19]. The worst part is when Jesus commands His disciples to drink His blood [see Lev 17:14; Mat 26:27-28]. Is Jesus breaking and changing the Law of Moses?

Today, Jesus makes a bold statement against His accusers, “Do not think that I come to abolish the Law, but to fulfill it.” The real and tough question is how Jesus completes the Law? Jesus’ answer is simple: by returning to original plans of God, or simply put, by going back to the essential. However, to go back to the essential, Jesus has to unload centuries-old unnecessary addition to the fundamental Law. Jesus has to remove tons of unessential.

Yet, the basic logic is: before we set aside the unessential, we need to know first what the essential is. For Jesus, what is essential and the original plan of God? Simply put, God wants us to share His divine life and happiness. To share this life, men and women have to give their hearts totally to God. And, Jesus understands that to give our hearts for the Lord, we need to purify our hearts. “… because from the heart comes to all evil things…[Mar 7:21]” and “Blessed are the pure in heart because they will see God [Mat 5:8].” No wonder, in today’s Gospel, to fulfill the Law, we need to purify our hearts from all negative emotions and thoughts. We must cleanse our hearts from prolonged anger, hatred, and vengeance because these things will breed violence and worse evil. We shall clean our hearts from lust because it simply leads to sexual immorality. Even Jesus hates divorce because it is the product of the hardness of our hearts.

One time, when I was still a brother, I listened to the sharing of some people who have become the victims of a child abused. Here I meet Rio [not his real name]. He told me that he was sexually abused by his father when he was around ten years. The incidents left him deeply traumatized, he grew up with some problems, and the situations brought him into despair. He event attempted to commit suicide, but fortunately, his friends came to his rescue. However, years later, when he heard that his father got a stroke, and it left him paralyzed, he decided to go home and take care of his father. I asked him what made him return and forgive his father? He said that it was challenging because of anger and hatred, but he realized that he had to forgive his father not because his father asks for it, but because he deserved peace of mind. Now, he returned to purify his broken heart with a sacrificial love towards his father.

Are we willing to remove non-essentials from our hearts? Are we willing to offer our hearts to the Lord? Are our hearts pure enough to be offered to the Lord?

Kembali ke Hati

Minggu Biasa ke-6 [A]

16 Februari 2020

Matius 5: 17-37

heart 1Yesus dituduh tidak setia dengan Hukum Musa dan tradisi. Dia tidak lagi meminta murid-murid-Nya untuk melakukan ritual pembasuhan, dan banyak tradisi lain [Mat 15: 2]. Yesus menyembuhkan orang bahkan pada hari Sabat [Markus 3: 1-6]. Yesus menyatakan bahwa semua makanan halal [Markus 7:19]. Dan yang paling parah adalah ketika Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk minum darah-Nya [lihat Im 17:14; Mat 26: 27-28]. Apakah Yesus melanggar dan mengubah Hukum Musa?

Hari ini, Yesus membuat pernyataan tegas terhadap para penuduh-Nya, “Jangan mengira bahwa aku datang untuk menghapuskan Taurat, tetapi untuk menggenapinya.” Pertanyaan sekarang adalah bagaimana Yesus menggenapi Hukum Taurat? Jawaban Yesus sederhana: dengan kembali ke rencana Allah yang paling awal, atau dengan kembali ke essensi. Namun, untuk kembali ke esensi, Yesus harus membongkar banyak tambahan-tambahan yang tidak perlu yang melekat pada Hukum Allah yang paling dasar. Yesus harus menghilangkan banyak hal yang tidak penting. Namun, di sisi lain, Dia juga meletakan hal-hal essensi ini pada standar yang lebih tinggi.

Logika dasarnya adalah: sebelum kita mengesampingkan hal yang tidak penting, kita perlu tahu dulu apa yang esensial itu. Bagi Yesus, apa yang penting dan rencana awal Allah? Membaca Kitab Suci dengan cermat, kita bisa menyimpulkan bahwa Tuhan ingin kita berbagi kehidupan dan kebahagiaan ilahi-Nya. Untuk berbagi hidup ini, pria dan wanita harus memberikan hati mereka sepenuhnya kepada Tuhan. Dan, Yesus mengerti bahwa untuk memberikan hati kita bagi Tuhan, kita perlu memurnikan hati kita ini. “… karena dari hati datang segala yang jahat … [Mar 7:21]” dan “Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah [Mat 5: 8].” Tidak heran, dalam Injil hari ini, untuk memenuhi Hukum Taurat, kita perlu memurnikan hati kita dari semua emosi dan pikiran negatif. Kita harus membersihkan hati kita dari kemarahan, kebencian, dan pembalasan yang berkepanjangan, karena hal-hal ini akan melahirkan kekerasan dan kejahatan yang lebih buruk. Kita akan membersihkan hati kita dari nafsu karena itu hanya mengarah pada amoralitas seksual. Bahkan Yesus membenci perceraian karena itu adalah hasil dari kekerasan hati kita.

Suatu ketika, ketika saya masih seorang frater di Manila, saya berkesempatan mendengarkan sharing dari beberapa orang yang telah menjadi korban pelecehan sexual. Di sana saya bertemu Rio [bukan nama sebenarnya]. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia mengalami pelecehan seksual oleh ayahnya sendiri ketika dia berusia sekitar 10 tahun. Insiden itu membuatnya sangat trauma, ia tumbuh dengan berbagai masalah, dan situasinya membuatnya putus asa. Dia pernah berusaha bunuh diri, tetapi untungnya, teman-temannya datang untuk menyelamatkannya. Namun, bertahun-tahun kemudian, ketika dia mendengar ayahnya terserang stroke dan membuatnya lumpuh, dia memutuskan untuk pulang dan merawat ayahnya. Saya bertanya kepadanya apa yang membuatnya kembali dan memaafkan ayahnya? Dia mengatakan bahwa itu benar-benar sulit karena kemarahan dan kebencian, tetapi dia menyadari bahwa dia harus memaafkan ayahnya bukan karena ayahnya memintanya, tetapi karena dia ingin mendapatkan kedamaian hati. Sekarang, dia kembali untuk memurnikan hatinya dengan kasih pengorbanan terhadap ayahnya.

Apakah kita mau menyingkirkan hal-hal yang tidak essensi di hati kita? Apakah kita bersedia mempersembahkan hati kita kepada Tuhan? Apakah hati kita sungguh murni untuk dipersembahkan kepada Tuhan?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Salt of Christ

Fifth Sunday in Ordinary Time [A]

February 9, 2020

Matthew 5:13-16

salt makingReading carefully, we may wonder, “Is it possible if the salt loses it, saltiness?” In everyday experience, we never experience tasteless salt. However, when we go back to the time of Jesus, we will be surprised that a salt losing its taste is a daily reality. In ancient Israel, the people would go to the Dead Sea, the saltiest body of water on earth, and gathered the “pillar of salt” formed surrounding the lake. Then, they would put inside a small bag, like a teabag”, and when it was needed for seasoning, the bag would be dipped into the water or soup. After some repeated use, the salt would lose its saltiness due to the chemical impurities. It turned to be nothing but an ordinary pebble, and shall be thrown away and trampled underfoot.

Salt is potent seasoning, but because of its small quantity, we hardly notice it. When I was still in the minor seminary, one of our Lenten observances was to eat our meals cooked without salt. The taste was totally awful. I forced myself to swallow the food, but it just made me feel terrible and feel like vomiting. I never thought that food without salt could hardly be edible.

For many of us, salt is just nothing but seasoning that we can add if lacking, or we only complain to the cooks if the menu is too salty. Yet, for some people, salt literally means life and death. From time to time, we have experienced diarrhea or a loose bowel movement. The sickness itself is easily treatable, but if left untreated, it can be deadly as it causes people to severe dehydration. One of the traditional ways to treat it is “oralit” or oral rehydration solution. It involves drinking the right quantity of water with added sugar and salt. How tiny salt saves people’s lives!

Yet, salt is seasoning and not the real menu. One cannot survive just salt alone. Too much salt in our body will lead to higher blood pressure, and high blood pressure can be fatal to many human organs. Jesus calls us “salt” because we are called to give an excellent flavor to the Bread of Life. When I was still studying in Manila, I was introduced to one of the favorite breakfasts of the Filipinos, “pan de sal.” It is Spanish for the bread of salt because a small amount of salt was added into the final phase of making the dough. The shape of the bread is simple, yet tasty, and make people crave more.

Like salt in Pan de Sal, our mission as Christians is to bring Jesus to others and to make people to long for Jesus more. It is a tough job because our lives and actions shall be right, not too salty, and not to bland. The more we draw attention to ourselves, the more people will just feel “too salty.” Yet, without making our effort, Christ will appear as rather “bland.”

Every time we go to the Mass, we receive the Body of Christ in the form of white, small, and tasteless bread, a host. Why is it flavorless? Because as we go home, we need to become the taste of this Bread of life. So, it is no longer we, but Christ who lives in us (see Gal 2:20).

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP