Garam Kristus

Minggu Kelima dalam Waktu Biasa [A]

9 Februari 2020

Matius 5: 13-16

salt making 2Membaca dengan teliti, kita mungkin bertanya-tanya, “Apakah mungkin jika garam kehilangan rasa asinnya?” Dalam pengalaman sehari-hari, kita tidak pernah menemukan garam yang hambar. Namun, ketika kita kembali ke zaman Yesus, kita akan terkejut bahwa garam yang kehilangan rasanya adalah kenyataan sehari-hari. Di Israel kuno, orang-orang akan pergi ke Laut Mati, laut yang memiliki kadar garam paling tinggi di bumi, dan mengambil bongkahan-bongkahan garam yang terbentuk di sekitar danau. Kemudian, mereka akan dimasukkan ke dalam kantong kecil, seperti kantong teh, dan ketika dibutuhkan untuk bumbu, kantong itu akan dicelupkan ke dalam air atau sup. Setelah digunakan berulang-ulang, garam akan kehilangan rasa asinnya karena kandungan kimia yang tidak sempurna. Bongkahan garam pun berubah menjadi batu biasa, dan akan dibuang dan diinjak-injak.

Garam adalah bumbu yang sangat penting, tetapi karena jumlahnya sedikit, kita tidak menghiraukannya. Ketika saya masih di seminari menengah, salah satu pantang Prapaskah di seminari adalah makan makanan yang dimasak tanpa garam. Rasanya benar-benar ngak enak. Saya memaksakan diri untuk menelan makanan, tetapi itu hanya membuat saya merasa ingin muntah. Saya tidak pernah berpikir bahwa makanan tanpa garam hampir tidak bisa dimakan.

Bagi banyak dari kita, garam hanyalah bumbu yang biasa saja. Namun, bagi sebagian orang, garam berarti hidup dan mati. Dari waktu ke waktu, kita mengalami diare. Penyakit itu sendiri sebenarnya mudah diobati, tetapi jika tidak cepat ditangani, hal ini bisa mematikan karena menyebabkan orang mengalami dehidrasi parah. Salah satu cara tradisional untuk mengobatinya adalah “oralit” atau larutan rehidrasi oral. Ini adalah minum air dalam jumlah yang tepat dengan tambahan gula dan garam. Bagaimana garam kecil menyelamatkan nyawa orang!

Namun, kita perlu mengingat bahwa garam adalah bumbu dan bukan menu utama. Seseorang tidak dapat bertahan hidup hanya dengan garam saja. Terlalu banyak garam dalam tubuh kita akan menyebabkan tekanan darah tinggi, dan tekanan darah tinggi bisa berakibat fatal bagi banyak organ tubuh kita. Yesus menyebut kita “garam” karena kita dipanggil untuk memberikan citarasa yang pas pada sang Roti Kehidupan. Ketika saya masih belajar di Manila, saya diperkenalkan dengan salah satu sarapan favorit orang Filipina, “pan de sal.” Ini adalah bahasa Spanyol untuk “roti garam” karena sedikit garam ditambahkan ke tahap akhir pembuatan adonan roti ini. Bentuk rotinya sederhana, namun enak dan gurih, dan membuat orang ketagihan.

Seperti garam di Pan de Sal, misi kita sebagai umat Kristiani adalah membawa Yesus kepada orang lain dan menjadikan orang lebih merindukan Yesus. Ini adalah pekerjaan yang sulit karena hidup dan tindakan kita harus pas, tidak terlalu asin, dan tidak hambar. Semakin kita menarik perhatian pada diri kita sendiri, semakin banyak orang akan merasa “terlalu asin.” Namun, tanpa melakukan upaya kita, Kristus akan tampak “hambar.”

Setiap kali kita pergi ke Misa, kita menerima Tubuh Kristus dalam bentuk roti putih, kecil, dan tanpa rasa, sebuah hosti. Mengapa tidak berasa? Karena saat kita pulang, kita perlu menjadi rasa bagi Roti hidup ini. Jadi, bukan lagi kita, tetapi Kristus yang hidup di dalam kita (lihat Gal 2:20).

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus’ Ideal Parents

The feast of Presentation

February 2, 2020

Luke 2:22-40

presentation 2If we are given a chance to choose our parents, what kind of parents will be our choice? Perhaps, some will prefer billionaire parents so that we can sing like Bruno Mars, “I wanna be a billionaire… Buy all of the things I never had… I wanna be on the cover of Forbes magazine, and Smiling next to Oprah and the Queen.” Perhaps some of us want to become the children of a king. So, royal blood is flowing through our vein, and people call us as a prince, princess, or royal highness. Perhaps, we want to be born from Korean megastars, because we want to become the prettiest or the most handsome.

Yet, if we ask the same question to the Lord, what would be His choice? The choice is obvious, Joseph and Mary. But, why?  Joseph and Mary are not wealthy, and even poor. They can only afford turtle dove, the offering of the poor. Indeed, Joseph is the descendant of King David, but in reality, he is a humble carpenter from the unknown village, Nazareth. I do believe that Joseph is handsome and Mary is beautiful! From here, we can deduce that richness, fame, and physical beauty as God’s criteria for His parents. So, what is it?

If we look closer into today’s Gospel and some other verses, we may discover the best character of Joseph and Mary as a couple and parents are their love and fidelity to God. Mary and Joseph know well the Law of God, and they are faithfully observing His Law.

Today’s feast is traditionally called the Presentation. Jesus is presented and consecrated to God in the Temple. Why do Joseph and Mary offer Jesus in the Temple? Because they are aware of the Jewish Law that any firstborn shall be consecrated to the Lord because they belong to the Lord [see Exo 13:2]. The feast of Presentation is also called the feast of the Purification of Mary. She is purified not because she is sinful, but because, according to the Mosaic Law, any woman who gives birth will be ritually unclean or unfit for the worship. She has to undergo 40 days of purification period, and at the end of the period, she offers a sacrifice to the priest [Lev 12:1-8]. From the Gospel of Matthew, Joseph is described as “the righteous man.” This means that Joseph is not only well-versed in Mosaic Law, but he is faithfully observing them.

Jesus does not concern Himself with His parents’ economic condition, social status, or physical appearance. Jesus is looking for whether His parents love God, whether His parents know and observe God’s law, and whether His parents have faith in God. Why are these characteristics crucial for Jesus’ parents? Because Jesus understands the best inheritance parents can give to their children is faith, because money can only provide you with security in this life, but faith will bring us to heaven.

The primary duty of parents is not merely to provide food, shelter, and clothing, not only send their children to schools and not only bring them to the doctors when they are sick but primarily to walk with them to heaven. Like Mary and Joseph present Jesus to God, we are also offering our children to God.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Orang Tua Ideal Yesus 

Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

2 Februari 2020

Lukas 2: 22-40

presentation 1Jika kita diberi kesempatan untuk memilih orang tua kita sendiri, orang tua ideal seperti apa yang akan menjadi pilihan kita? Mungkin, beberapa akan lebih suka orang tua miliarder, supaya hidup terjamin, mendapatkan Pendidikan terbaik, dan masa depan cerah. Mungkin sebagian dari kita ingin menjadi anak-anak raja. Jadi, memiliki darah ningrat, dan orang-orang memanggil kita sebagai pangeran, puteri atau bangsawan. Mungkin kita ingin dilahirkan dari megabintang Korea, karena kita ingin menjadi yang tercantik atau paling tampan.

Namun, jika kita mengajukan pertanyaan yang sama kepada Tuhan, apa yang akan menjadi pilihan-Nya? Pilihannya jelas, Yusuf dan Maria. Tapi kenapa? Yusuf dan Maria tidak kaya, dan bahkan miskin. Mereka hanya mampu membeli burung merpati, persembahan orang miskin. Memang, Yusuf adalah keturunan raja Daud, tetapi dalam kenyataannya, ia adalah seorang tukang kayu sederhana dari desa yang tidak dikenal, Nazareth. Saya tetap percaya bahwa Yusuf itu tampan dan Maria cantik! Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa kekayaan, ketenaran, dan kecantikan fisik sebagai kriteria Allah bagi orang tua-Nya. Jadi, apa?

Jika kita melihat lebih dekat Injil hari ini dan beberapa ayat lainnya, kita dapat menemukan karakter terbaik dari Yusuf dan Maria sebagai pasangan dan orang tua adalah cinta dan iman mereka kepada Tuhan. Maria dan Yusuf mengetahui dengan baik Hukum Allah dan mereka dengan setia mematuhi Hukum-Nya.

Pesta hari ini secara tradisional disebut sebagai Yesus dipersembahkan di Bait Allah [Presentation]. Yesus dipersembahkan kepada Allah di Bait Suci. Mengapa Yusuf dan Maria mempersembahkan Yesus di Bait Suci? Karena mereka sadar akan Hukum Taurat bahwa setiap anak sulung akan dikuduskan bagi Tuhan karena mereka adalah milik Tuhan [lihat Kel 13: 2]. Hari ini juga disebut pesta Pemurnian Maria [Purification of Mary]. Dia dimurnikan bukan karena dia berdosa, tetapi karena menurut Hukum Musa, setiap wanita yang melahirkan akan menjadi “tidak bersih” secara ritual atau tidak layak untuk penyembahan, dan dia harus menjalani 40 hari periode pemurnian, dan pada hari ke-40, dia mempersembahkan korban kepada imam [Im 12: 1-8].

Yesus tidak peduli dengan kondisi ekonomi, status sosial, atau penampilan fisik orang tua-Nya. Yesus mencari apakah orang tua-Nya benar-benar mencintai Allah, apakah orang tua-Nya tahu dan mematuhi hukum Allah, dan apakah orang tua-Nya memiliki iman kepada Allah. Mengapa karakteristik ini penting bagi orang tua Yesus? Karena Yesus memahami warisan terbaik yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anak mereka adalah iman, karena uang hanya dapat memberi Anda keamanan dalam kehidupan ini, tetapi iman akan membawa kita ke surga.

Tugas utama orang tua bukan hanya menyediakan makanan, tempat tinggal, dan pakaian, tidak hanya mengirim anak-anak mereka ke sekolah, dan tidak hanya membawa mereka ke dokter ketika mereka sakit, tetapi terutama berjalan bersama mereka ke surga. Seperti Maria dan Yusuf mempersembahkan Yesus kepada Allah, maka kita juga mempersembahkan anak-anak kita kepada Allah.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kingdom of God

Third Sunday of Ordinary Time [A]

January 26, 2020

Matthew 4:12-17

giving lettersAfter the arrest of John the Baptist, Jesus begins His public ministry. Jesus left Nazareth, His hometown, and moved to a more crowded and bigger town, Capernaum. Crudely speaking, Jesus did urbanization. This strategic move of Jesus was to support His mission. With a dense population and with better access to neighboring towns, Jesus could minister to more people in a more efficient way.

However, Jesus’ movement from Nazareth to Capernaum is not just about practicality and preaching strategy. Jesus was fulfilling the prophecy of Isaiah. “Land of Zebulun and land of Naphtali…the people who sit in darkness have seen a great light…” For many of us, Zebulun and Naphtali do not make any sense, and we tend to skip these verses. Yet, for the first-century Jews, this prophecy is a game-changer because God will gather the lost twelve tribes of Israel, and re-establish the Kingdom of Israel.

Let us go back to the Old Testament a little bit. In 2 Samuel 7, God promised that the throne of David will last forever, however after the reign of Salomon, David’s son, the kingdom of David was divided into two. After some hundred years, these two kingdoms, one by one, were destroyed by the enemies, and the twelve tribes were scattered among the Gentiles. Among the tribes of Israel, only Judah, and Benjamin were able to return to the land of Israel, while the rest, including Zebulun and Naftali, were lost. Jewish people in the time of Jesus knew well that one of the missions of the expected Messiah is to restore the Kingdom and to gather the lost tribes of Judah.

Jesus, the Messiah, came indeed to fulfill this expectation, and no wonder if the first thing He did was to preach that the Kingdom of God is at hand. It is called the Kingdom of God because it is the Kingdom promised by God, built by God, and governed by God. It is the restored kingdom of David, and much bigger than the first David’s kingdom.

However, there is a fundamental difference between David’s kingdom and Jesus’. David’s kingdom was established to fight Israel’s enemies. His kingdom was filled with nobilities, generals, and armies. It was characterized by political rivalry, a struggle for power, and treachery. Finally, it is no different from other kingdoms in the world. All is about “game of thrones”. And like other earthly kingdoms, the kingdom of David was bound to crush as well.

The Kingdom of God basically goes in the opposite direction. It is the Kingdom built upon faith in God, service, and love for others, even to the point of sacrifice. When we were baptized, we become the members of this Kingdom, and in fact, we are transformed into the children of God, calling Him as our Father. However, despite being heirs to the Kingdom, we are not princes, lords or generals. We are servants and lovers. The higher our positions in the Kingdom, the more love and service we shall render. That is why the priests do not have wives, because they are busy serving the people! No wonder St. John of the Cross would say, “in the twilight of life, God will not judge us on our earthly possessions and human success, but rather on how much we have loved.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno

Kerajaan Allah

Minggu Ketiga pada Masa Biasa [A]

26 Januari 2020

Matius 4: 12-17

giving waterSetelah penangkapan Yohanes Pembaptis, Yesus memulai pelayanan publik-Nya. Yesus meninggalkan Nazaret, kampung halamannya, dan pindah ke kota yang lebih ramai dan lebih besar, Kapernaum. Sebenarnya, Yesus melakukan urbanisasi. Langkah strategis Yesus ini tentu saja untuk mendukung misi-Nya. Dengan populasi yang padat dan dengan akses yang lebih baik ke kota-kota lain, Yesus dapat melayani lebih banyak orang dengan cara yang lebih efisien.

Namun, pergerakan Yesus dari Nazareth ke Kapernaum bukan hanya tentang strategi marketing. Yesus menggenapi nubuat Yesaya. “Tanah Zebulon dan negeri Naphtali … orang-orang yang duduk dalam kegelapan telah melihat cahaya yang besar …” Banyak dari kita tidak tahu apa itu Zebulon dan Naphtali, dan kita cenderung melewati ayat-ayat ini. Namun, untuk orang Yahudi abad pertama, nubuat ini sangat penting karena Allah akan mengumpulkan dua belas suku Israel yang hilang, dan membangun kembali Kerajaan Israel.

Mari kita lihat kembali ke Perjanjian Lama. Dalam 2 Samuel 7, Tuhan berjanji bahwa takhta Daud akan bertahan selamanya, namun setelah masa pemerintahan Salomon, putra Daud, kerajaan Daud terjadi perang saudara dan terpecah menjadi dua. Setelah beberapa ratus tahun, kedua kerajaan ini, satu per satu, dihancurkan oleh musuh. Kedua belas suku Israel itu tersebar di antara bangsa-bangsa lain. Di antara suku-suku Israel, hanya Yehuda dan Benyamin yang dapat kembali ke tanah Israel, sementara sisanya hilang. Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus tahu betul bahwa salah satu misi Mesias yang dinantikan adalah memulihkan Kerajaan dan mengumpulkan suku-suku Yehuda yang hilang.

Yesus, sang Mesias, memang datang untuk memenuhi harapan ini, dan tidak heran jika hal pertama yang Dia lakukan adalah memberitakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Kerajaan ini disebut sebagai Kerajaan Allah karena Kerajaan ini dijanjikan oleh Allah, dibangun oleh Allah, dan diperintah oleh Allah. Ini adalah kerajaan Daud yang dipulihkan, dan jauh lebih besar dari kerajaan Daud yang pertama.

Namun, ada perbedaan mendasar antara kerajaan Daud dan Yesus. Kerajaan Daud didirikan untuk memerangi musuh-musuh Israel. Kerajaannya dipenuhi bangsawan, jenderal, dan tentara. Kerajaan yang diwarnai oleh persaingan politik, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan. Akhirnya, tidak ada bedanya dengan kerajaan lain di dunia. Sama seperti serial TV “Game of Thrones”. Dan seperti kerajaan duniawi lainnya, kerajaan Daud pasti akan hancur juga.

Kerajaan Allah pada dasarnya pergi ke arah yang berlawanan. Itu adalah Kerajaan yang dibangun di atas iman kepada Allah, pelayanan dan kasih bagi orang lain, bahkan sampai pada titik pengorbanan. Ketika kita dibaptiskan, kita menjadi anggota Kerajaan ini, dan pada kenyataannya, kita diubah menjadi anak-anak Allah, memanggil Dia sebagai Bapa kita. Namun, meskipun pewaris Kerajaan, kita bukan pangeran, raja atau jenderal. Kita adalah pelayan bagi sesama. Semakin tinggi posisi kita di Kerajaan, semakin banyak kasih dan pelayanan yang akan kita berikan. Itulah sebabnya para romo tidak memiliki istri, karena mereka sibuk melayani orang-orang! Tidak heran St. Yohanes dari Salib akan berkata, “di masa senja kehidupan, Tuhan tidak akan menghakimi kita atas dasar harta duniawi dan keberhasilan manusia, tetapi lebih pada seberapa besar kita telah mengasihi.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno

Ignoring Jesus

Second Sunday of the Ordinary Time [A]

January 19, 2020

John 1:29-34

reading the bibleWe begin the ordinary time of the liturgical year. In the Church, we have three cycles of the liturgical year: A, B, and C. every year, we have a different set of readings. In year A, the Gospel readings are mainly from the Gospel of Matthew, meanwhile, year B is from Mark and year C is from Luke. The Gospel of John does not have its separate year, but the readings from John are scattered through the years, especially in the Easter season.

The first reading is usually taken from the Old Testament and it is thematically related to the Gospel. While the second reading is coming from the letters of the apostles like St. Peter, St. John and the letter to the Hebrews, yet the majority of the second reading comes from letters of St. Paul. The second readings have their own sequence and it is not necessarily thematically related to the Gospel. The reason behind why we have this kind of liturgical setting is that to help us, the regular mass-goers, to read the Scriptures together with the Church. If we are faithfully attending the mass every Sunday, or even every day, and attentive to the readings, we will have a good grasp of the Scriptures and especially the life and works of Jesus.

However, not all the Scriptures are there in the Mass. If we go every day to participate in the Eucharist for three years, we only listen to around 30 percent of the Bible. We still have 70 percent to complete the Bible! Thus, it is highly recommended that we take the initiative to read the Bible on our own. Three to four chapters a day, and hopefully, within a year, we are able to read the entire Bible cover to cover.

I guess one of the “great sickness” of Catholics nowadays is the ignorance of the Scriptures. When I ask some Catholics whether they have the Bible, they unanimously answer that they have a Bible, and in fact, they have a collection of Bible coming from different countries. However, when I inquire whether they read the Bible regularly, only a few would confidently reply that they do.

The task of reading the Bible is getting difficult in our time because young generations or the millennials and generation Z, despite their high education, prefer to playing electronic gadgets rather than to read books, and printed materials become an obsolete. Yes, it is easy now to install a Bible on our cellphone but to spend time to read it is another thing. With so many other competing applications in our handheld device, reading the Word of God is easily relegated to the sideline.

St. Jerome reminds us that ignorance of Scriptures is ignorance of Christ. Indeed, it is too easy to say “I love Jesus”, but in reality, we are ignoring Him because we never read or attentively listen to the Scriptures. St. Paul in the beginning of his letter to the Corinthians reminds us that we are called to saints or holy. And holiness for Paul is nothing but living in Christ, but how we can live in Christ, if we do not know Christ, worse ignore him? Reading a Bible on a daily basis can become a simple yet concrete act of loving Jesus, and in fact, the way to holiness as we become more and more like Christ.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengabaikan Yesus

Minggu Kedua dari Masa Biasa [A]

19 Januari 2020

Yohanes 1: 29-34

joseph marie lagrangeKita memulai masa biasa pada tahun liturgi ini. Di Gereja Katolik, kita memiliki tiga siklus tahun liturgi: A, B, dan C. Di setiap tahun, kita memiliki serangkaian bacaan yang berbeda. Pada tahun A, bacaan Injil terutama dari Injil Matius, sementara tahun B dari Markus dan tahun C dari Lukas. Injil Yohanes tidak memiliki tahun yang khusus, tetapi bacaan dari Yohanes tersebar di sepanjang tahun, terutama di masa Paskah.

Bacaan pertama biasanya diambil dari Perjanjian Lama dan secara tematis terkait dengan bacaan Injil. Sementara bacaan kedua berasal dari surat-surat para rasul seperti St. Petrus, St. Yohanes dan surat kepada orang-orang Ibrani, namun mayoritas bacaan kedua berasal dari surat-surat St. Paul. Bacaan kedua memiliki urutannya sendiri dan tidak harus secara tematis terkait dengan Injil. Alasan di balik mengapa kita memiliki pengaturan liturgi semacam ini adalah untuk membantu kita untuk membaca Kitab Suci bersama dengan Gereja. Jika kita dengan setia menghadiri misa setiap hari Minggu, atau bahkan setiap hari, dan memperhatikan bacaan, kita akan memiliki pemahaman umum yang baik tentang Kitab Suci dan khususnya kehidupan dan karya Yesus.

Namun, tidak semua Alkitab ada dalam tahun liturgi ini. Jika kita pergi setiap hari untuk berpartisipasi dalam Ekaristi selama tiga tahun, kita hanya mendengarkan sekitar 30 persen dari Alkitab. Kita masih memiliki 70 persen untuk menyelesaikan Alkitab! Karena itu, sangat disarankan agar kita mengambil inisiatif untuk membaca Alkitab sendiri. Tiga hingga empat bab sehari, dan semoga, dalam waktu satu tahun, kita dapat membaca seluruh Alkitab.

Salah satu “penyakit berat” yang menjakiti umat Katolik dewasa ini adalah ketidaktahuan akan Kitab Suci. Ketika saya bertanya kepada beberapa orang Katolik apakah mereka memiliki Alkitab, mereka dengan mantab menjawab bahwa mereka memiliki Alkitab, dan pada kenyataannya, mereka memiliki lebih dari satu Alkitab di rumah. Namun, ketika saya menanyakan apakah mereka membaca Alkitab secara teratur, hanya sedikit yang akan menjawab dengan yakin.

Tugas membaca Alkitab semakin sulit di zaman kita karena generasi muda atau genarasi milenial dan generasi Z, meskipun berpendidikan tinggi, lebih suka bermain gadget elektronik daripada membaca buku. Ya, sekarang mudah untuk menginstal Alkitab di ponsel kita, tetapi meluangkan waktu untuk membacanya adalah hal lain. Dengan begitu banyak aplikasi lain yang bersaing dalam perangkat genggam kita, membaca Firman Tuhan dengan mudah dikesampingkan, dan bahkan kadang-kadang kita lupa ada Kitab Suci di HP kita.

St. Heronimus mengingatkan kita bahwa mengabaikan Kitab Suci adalah sama saja dengan mengabaikan Kristus. Memang, sangat mudah untuk mengatakan “Aku cinta Yesus”, tetapi dalam kenyataannya, kita mengabaikan Dia karena kita tidak pernah membaca atau mendengarkan dengan penuh perhatian Kitab Suci. Santo Paulus di awal surat pertamanya kepada jemaat Korintus mengingatkan kita bahwa kita dipanggil untuk orang-orang kudus. Dan kekudusan bagi Paulus tidak lain adalah hidup di dalam Kristus, tetapi bagaimana kita dapat hidup di dalam Kristus, jika kita tidak mengenal Kristus, lebih buruk mengabaikannya? Membaca Alkitab setiap hari dapat menjadi tindakan sederhana namun konkret untuk mengasihi Yesus, dan pada kenyataannya, jalan menuju kekudusan saat kita menjadi semakin mirip Kristus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Why Jesus Has to be Baptized

Baptism of The Lord [A] – January 12, 2020 – Mat 3:13-17

baptism of the lord 2One question that always baffles attentive readers of the Scriptures is that why should Jesus be baptized by John the Baptist? John himself proclaimed that his baptism is a sign of repentance. Those who are baptized by John must first acknowledge their sinfulness and unworthiness, and baptism of water becomes the visible token of turning away from sins and promise of a new and better life. Yet, we all know that Jesus is sinless [Heb 4:15; 1 Pet 2:22]. Does it mean Jesus is sinful? Is John the Baptist greater than Jesus?

The Gospel of Matthew has pointed out clearly that John the Baptist is not worthy to baptize Jesus and he is in need of Jesus’ baptism. It is Jesus Himself who insists to be baptized by John. Why? Jesus told John, “to fulfill all righteousness.” These words of Jesus certainly difficult to understand, and many theologians have come up with different interpretations to understand better Jesus’ actions and words in this baptism.

 St. Augustine of Hippo, one of the greatest Fathers of the Church, told us in his sermon, “The Savior willed to be baptized not that He might Himself be cleansed, but to cleanse the water for us.” St. Augustine pointed to us that Jesus entering the water as to prepare the sacrament of baptism, and so everyone who is baptized in the name of Trinity will receive the grace of forgiveness and new life. Meanwhile Catechism of the Catholic Church notes that Jesus’ submission to John’s baptism is an act of self-emptying [CCC 1224].

However, Pope Emeritus Benedict XVI has exposed some interesting in his book, Jesus of Nazareth, that Jesus applied the word “baptism” also to His Passion, Death, and Resurrection [see Mrk 10:38; Luk 12:50]. From here, we discover that Jesus’ insistence to be baptized by John because Jesus’ baptism turns to be a symbolic act of His Cross. As Jesus needs to be baptized, so He shall pass through suffering and death as to reach resurrection and bring salvation for all. From the moment of the baptism in the Jordan, Jesus has set His foot to Calvary.

In the Scriptures, righteousness is being faithful to the Convent, and God as the most righteous fulfills His covenant by saving His people (Deut 32:4; Is 5:16; 42:6). Now, Jesus fulfills that same “righteousness” with a perfect and definitive way by His Cross and Resurrection.

So, what all these biblical and theological stuff are for us?  As we know deeper the meaning of the Baptism of the Lord, we shall also follow the footsteps of Jesus. If baptism means His way of the Cross, then all of us who have been baptized, whether as infants or adults, shall share in Jesus’ cross. We are lucky that we are living comfortably as Christians, but more many, to be Christians means discriminations, persecution, and even death. It may be shocking, but Christians remain the most persecuted people on the earth. For us who are more fortunate, we can manifest our baptism with living authentically as disciples of Christ: to be honest despite the possibility of losing earthly gains, to be loving despite many sufferings, and to be honest despite living without fame.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengapa Yesus Harus Dibaptis

Pembaptisan Tuhan [A] – 12 Januari 2020 – Mat 3: 13-17

baptism of the lordSatu pertanyaan yang selalu membingungkan para pembaca Kitab Suci adalah mengapa Yesus harus dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptis? Yohanes sendiri menyatakan bahwa baptisannya adalah tanda pertobatan. Mereka yang dibaptiskan oleh Yohanes harus terlebih dahulu mengakui keberdosaan dan ketidaklayakan mereka, dan baptisan air menjadi tanda nyata berpaling dari dosa dan memulai kehidupan yang baru dan lebih baik. Namun, kita semua tahu bahwa Yesus tidak berdosa [lih. Ibr 4:15; 1 Pet 2:22]. Apakah ini berarti Yesus berdosa? Apakah Yohanes Pembaptis lebih besar dari Yesus?

Injil Matius telah menunjukkan dengan jelas bahwa Yohanes Pembaptis tidak layak untuk membaptiskan Yesus dan ialah membutuhkan baptisan Yesus. Namun, Yesus sendiri yang bersikeras untuk dibaptiskan oleh Yohanes. Mengapa? Yesus memberi tahu Yohanes, “untuk menggenapi semua kebenaran.” Kata-kata Yesus ini tentu sulit untuk dipahami, dan banyak teolog muncul dengan tafsiran yang berbeda untuk memahami tindakan dan kata-kata Yesus dalam baptisan ini.

 St Agustinus dari Hippo, salah seorang Bapa Gereja terbesar, mengatakan kepada kita dalam khotbahnya, “Juruselamat ingin dibaptis bukan agar Dia sendiri dapat dibersihkan, tetapi untuk menyucikan air bagi kita.” Santo Agustinus menunjuk kepada kita bahwa Yesus memasuki air untuk mempersiapkan sakramen baptis sehingga setiap orang yang dibaptis dalam nama Tritunggal akan menerima rahmat pengampunan dan kehidupan baru. Sementara itu Katekismus Gereja Katolik mencatat bahwa penyerahan Yesus kepada baptisan Yohanes adalah tindakan pengosongan diri [CCC 1224].

Namun, Paus Emeritus Benediktus XVI telah mengungkap beberapa yang menarik dalam bukunya, Jesus of Nazareth, bahwa Yesus menerapkan kata “baptisan” juga untuk Sengsara, Kematian, dan Kebangkitan-Nya [lihat Mrk 10:38; Luk 12:50]. Dari sini, kita menemukan bahwa keinginan Yesus untuk dibaptiskan oleh Yohanes karena pembaptisan Yesus menjadi tindakan simbolis dari Salib-Nya. Sebagaimana Yesus perlu dibaptis, maka Ia perlu melalui penderitaan dan kematian untuk mencapai kebangkitan dan membawa keselamatan bagi semua. Dari saat pembaptisan di sungai Yordan, Yesus telah menginjakkan kaki menuju Kalvari.

Jadi, apa arti semua diskusi alkitabiah dan teologis bagi kita? Semakin dalam kita mengerti arti Pembaptisan Tuhan, kita juga akan semakin dalam mengerti arti pembaptisan kita juga. Jika baptisan berarti jalan Salib-Nya, maka kita semua yang telah dibaptis, baik saat bayi atau dewasa, akan ambil bagian dalam salib Yesus. Kita beruntung bahwa kita hidup dengan nyaman sebagai umat Kristiani, tetapi bagi banyak orang, menjadi umat Kristiani berarti mengalami diskriminasi, penganiayaan, dan bahkan kematian. Ini mungkin mengejutkan, tetapi umat Kristiani tetap menjadi orang yang paling teraniaya di dunia. Bagi kita yang lebih beruntung, kita dapat memanifestasikan baptisan kita dengan hidup secara otentik sebagai murid Kristus: menjadi jujur ​​meskipun ada kemungkinan kehilangan keuntungan duniawi, untuk terus mengasihi di tengah banyak penderitaan, dan untuk menjadi rendah hati ​​meskipun hidup tanpa ketenaran.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sincere Pilgrimage

The Solemnity of the Epiphany of the Lord – January 5, 2020 – Matthew 2:1-12

They were overjoyed at seeing the star (Mat 2:10

three magiThe journey of the three wise men from the East embodies the deepest human longing for a meaningful life and true happiness. Balthazar, Melchior and Gaspar, as the tradition called them, were neither Jews nor baptized Christians. In Greek ancient manuscripts of the Gospel, the word used to describe them is ‘magos’, meaning ‘someone with magical power’ or ‘magicians’, and practicing magic is detestable in the eyes of the Jews (2 Cro 33:6). Though we cannot be sure what kind of magic they crafted, but one thing is sure that they read the sign of times and followed the star. Because of this, they were instantaneously accused as one of those astrologers, star-readers who predict the human behaviors and the future, but I would argue that they were actually early astronomers instead astrologers. Like ordinary seamen who gazed the stars and hoped that they would guide them home, the magi did look at the star and believed that they would navigate their way to the true end.

They were people heatedly called the “Gentiles”; people who knew nothing about God and His mighty acts; and people who would fatefully perish because they were far from God’s Law. Yet, God always turns His eyes toward those who are sincerely looking for Him. They became one among the first persons to whom God chose to reveal Himself, and together with them were the simple shepherds. Surprisingly, these people were not learned Jews, wealthy aristocrats and definitely not King Herod the great.

The journey of the wise men is rightly considered as a pilgrimage for a very simple yet essential reason: they have God as their end. It was not a recreational picnic to reenergize oneself. It was never an educational tour to add up knowledge. Surely, it was not a business trip to make one richer. The Gospel tells us they was searching for the “newborn King of the Jews” and intending to pay homage. But, why did they have to give utmost respect to this weak baby whereas there were a lot of powerful kings around them? It was because they were aware that this King was not a typical warlord nor a power-addict politician, but a King that would answer their heart’s desire: the fullness of life and true wisdom. They indeed looked for God Himself and this made them truly wise.

Deep inside us, there is always yearning for real happiness and genuine completeness. Yet, we are often like Herod the Great who boxed himself in his own man-made palace and we seek the answer within ourselves, in richness, power and bodily pleasure. This brings us nothing but frustration and emptiness. The pilgrimage of the three wise men from the east should be ours as well. The three magi give us an authentic example by looking the answer not in ourselves but in God, and only in Him we may find our joy.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP