Martha, Martha

16th Sunday in Ordinary Time [C] – July 21, 2019 – Luke 10:38-42

To perform works to serve the Lord is certainly good and praiseworthy. And these works are numerous and varied. These acts may directly serve Him in the Church, especially during the liturgy. We may participate in the worship as the choir members, lectors, altar servers, ministers of the Holy Communion, or even as the presiders of the Eucharist itself, the priest. Yet, we may also serve Him through others as we involve in charitable initiatives to help the poor, to fight for justice and peace and integrity of creation. We have many ways, but the goal is one: to honor and glorify Him.

In today’s Gospel, we encounter Martha and Mary of Bethania. They both are serving Jesus, and they perform it according to their unique characters. Mary, more reserved and perhaps an introvert, chooses to stay close to the Master and listen to Him. While Marta, predominantly active and perhaps extrovert, prefers to provide Jesus with the best accommodation. Both want to make Jesus feel welcome in their way. However, there is a little problem. It seems that Jesus is playing little favoritism. He favors Mary over Martha and tells Martha that Mary has chosen a better part.

Surely Jesus does not play favoritism, and surely it is not because Mary is more beautiful than Martha!  Yet, we still have to explain Jesus’ choice. First, we need to see that both are good, but one is just happened to be better than the other. Is it the act of listening better than the act of giving hospitality? In an ancient Jewish context, to provide the hospitality to a guest is one of the prime values. We remember how Lot was offering even his daughters to protect his guests [see Gen 19]! By this standard, Martha is doing a better thing, but Jesus insists that it is not hers. Why?

Again, we need to understand better our Scriptures. The act of listening is fundamental in both Old and New Testament. Every devout Jew in the time of Jesus as well as in our time, daily prays a creedal prayer they call as “Shema Israel” – it was taken straight from Deu 6:4-5 “Hear, O Israel! The LORD is our God, the LORD alone! Therefore, you shall love the LORD, your God, with your whole heart, and with your whole being, and with your whole strength.” Acts of listening do not only mean to hear voices and receive information, but it is also to obey what one has heard. Jesus Himself says, “Everyone who listens to these words of mine and acts on them will be like a wise man who built his house on the rock. (Mat 7:24)” Mary is taking a better part because she has listened to Jesus, who is the LORD, and she listens because she loves her LORD.

Martha has a little problem with her service because she imposes her ways to Mary, perhaps thinking her way of service is the best one. But more than that, Martha becomes overburdened in her serving, and Jesus points out that Martha is anxious and worried with many things. Martha is losing the purpose of her service; she is losing Jesus in the process of serving. What a loss!

Learning from Mary and Martha, we may ask ourselves, “What is the point of our services? Where are we going with many activities we have in the Church? Do we hear the voice of Christ in our ministries? Do we love Jesus in our serving or we discover ourselves in the end?”

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Marta, Marta

Minggu Biasa ke-16 [C] – 21 Juli 2019 – Lukas 10:38-42

martha-and-mary-1Melakukan sesuatu untuk melayani Tuhan tentu baik dan terpuji. Dan karya-karya ini sangat banyak dan beragam. Tindakan-tindakan ini dapat secara langsung melayani Dia di Gereja, terutama dalam liturgi. Kita dapat berpartisipasi dalam ibadat sebagai anggota paduan suara, lektor, putra altar, asisten imam, atau bahkan sebagai imam yang mempersembahkan Ekaristi itu sendiri. Namun, kita juga dapat melayani Dia melalui sesama ketika kita terlibat dalam inisiatif amal untuk membantu orang miskin, untuk memperjuangkan keadilan dan perdamaian dan integritas ciptaan. Kita memiliki banyak cara, tetapi tujuannya adalah satu dan itu adalah untuk memuliakan Dia.

Dalam Injil hari ini, kita bertemu Marta dan Maria dari Bethania. Mereka berdua melayani Yesus dan mereka melakukannya sesuai dengan karakter unik mereka sendiri. Maria lebih pendiam dan mungkin seorang introvert, memilih untuk tetap dekat dengan Tuan dan mendengarkan-Nya. Sementara Marta, yang sebagian besar aktif dan mungkin ekstrovert, lebih suka memberi Yesus akomodasi terbaik. Keduanya ingin membuat Yesus merasa disambut dengan cara mereka sendiri. Namun, ada sedikit masalah. Tampaknya Yesus pilih kasih. Dia lebih menyukai Maria daripada Marta dan memberi tahu Marta bahwa Maria telah memilih bagian yang lebih baik.

Tentunya Yesus tidak pilih kasih, dan tentu saja itu bukan karena Maria lebih cantik dari Marta! Namun, kita masih harus menjelaskan pilihan Yesus. Pertama, kita perlu melihat bahwa keduanya baik, tetapi yang satu lebih baik dari yang lain karena sebuah alasan. Apakah tindakan mendengarkan lebih baik daripada memberi keramahan? Dalam konteks Yahudi kuno, memberikan keramahan pada seorang tamu adalah salah satu nilai utama. Kita ingat bagaimana Lot menawarkan bahkan putrinya sendiri untuk melindungi tamunya [lihat Kejadian 19]! Dengan standar ini, Marta melakukan hal yang lebih baik, tetapi Yesus berpendapat lain. Mengapa?

Sekali lagi, kita perlu lebih memahami Kitab Suci kita. Tindakan mendengarkan adalah tindakan mendasar baik dalam Perjanjian Lama maupun Baru. Setiap orang Yahudi yang saleh di zaman Yesus maupun di zaman sekarang, setiap hari mendaraskan doa syahadat yang mereka sebut sebagai “Shema Israel” – itu diambil langsung dari Ul 6: 4-5 “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Tindakan mendengarkan tidak hanya berarti mendengar suara dan menerima informasi, tetapi juga untuk mematuhi apa telah didengarkan. Yesus sendiri berkata, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. (Mat 7:24)” Maria mengambil bagian yang lebih baik karena dia telah mendengarkan Yesus yang adalah TUHAN, dan dia mendengarkan karena dia mengasihi TUHAN.

Marta memiliki sedikit masalah dengan pelayanannya karena dia memaksakan jalannya kepada Maria, mungkin dia berpikir cara pelayanannya adalah yang terbaik. Tetapi lebih dari itu, Marta menjadi terlalu terbebani dalam pelayanannya, dan Yesus menunjukkan bahwa Marta sendiri penuh kecemasan dan khawatir dengan banyak hal. Marta kehilangan tujuan pelayanannya; dia kehilangan Yesus dalam proses melayani. Betapa malang ya!

Belajar dari Maria dan Marta, kita dapat bertanya pada diri sendiri, “Apa gunanya pelayanan kita? Kemana kita akan pergi dengan banyak kegiatan yang kita miliki di Gereja? Apakah kita mendengar suara Kristus dalam pelayanan kita? Apakah kita benar-benar mencintai Yesus dalam pelayanan kita atau pada akhirnya kita melayani diri kita sendiri?”

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Merciful Samaritan

Fifteenth Sunday of the Ordinary Time [C] – July 14, 2019 – Luke 10:25-27

do it anyway 2The journey from Jericho to Jerusalem was notoriously dangerous. The path was narrow, steep, filled by sudden turnings. The road became the favorite spot for the robbers to ambush any unguarded traveler. Some criminals were often violent, not only they took everything from the victims, but they would beat them mercilessly. Up to early twentieth century, some tourists and pilgrims were caught off guard when they passed this path, as their cars were ambushed and robbed. The brigands would swiftly escape before the police came.

When the teacher of the Law asks Jesus, “who is our neighbor whom we shall love?” Jesus offers him three models to imitate. They are a priest, a Levite and a Samaritan. The priest and the Levite are a privileged social class in ancient Jewish society. They are consecrated to serve in the Temple of Jerusalem. The priests who are the descendants of Aaron, are to accept sacrifice from the people and offer the sacrifice to the Lord at the altar. Meanwhile the Levites are assigned to take care of the temple, to do other liturgical services and assist the priests. Both the priest and the Levite represent a group of people who are dedicating themselves to the Lord, the Law and the Temple, who love their religion dearly. Meanwhile the Samaritan represents what the Jews hate. The pure Jews look down the Samaritans because they are products of intermarriage between unorthodox Jews and other pagan nations as well as idolaters who worship God plus other smaller gods.

By religious standard, the priest and the Levite outrank the Samaritan, but Jesus drops the nuclear bomb as He makes the Samaritan as the hero of the story. We may ask why the priest and Levite refuse to help? One reason is that the priest needs to be away from any blood or dead body, otherwise he would be impure for seven days and he will not be able to serve the Temple [see Num 19:11]. The Levi seems to do little better as he goes nearer to the victim, but he decided not to help perhaps because he is afraid that the guy just serves a decoy to ambush him. Here comes the Samaritan who helps without hesitation. Not only coming to his rescue, the Samaritan makes sure that the victim will be healed and recover, though he must spend his own resources.

Placing ourselves in the shoes of the Samaritan man, we know that his decision to help the victim is daring and even reckless. What if it was just a set-up for ambush? What if he runs out of money? What if the victim would never thank him and even hate him even more? Yet, this is what to love our neighbor means. To love someone is to show mercy and to show mercy means to give beyond what is due.

One of the memorable works Mother Teresa did in Calcutta was to establish a home for the dying. One day, she walked pass a hospital and saw a woman who terribly sick. The mother rushed her to the hospital. Yet, the person in the hospital refused her, saying, “there is no room for her in the hospital!” Mother Teresa stayed outside of the hospital, embracing the dying lady till she breathed her last. Since then, the saint promised that she would make sure that the dying would die with dignity. In the early days of this hospice, Mother Teresa was ridiculed and criticized, yet she and her sisters persevered because they knew that for those who were dying, this may be the last act of mercy they received before they passed away.

If we expect something big in return, it is not love, it is investment. If we just want to be appreciated after doing good, it is not love, it is a showoff. If we do not want to get hurt, it is not love, it is comfort zone. Love is tough, mercy is heroic.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Orang Samaria yang berbelas kasih

Minggu Biasa Kelima belas [C] – 14 Juli 2019 – Lukas 10: 25-27

do it anywayPerjalanan dari Yerikho ke Yerusalem terkenal berbahaya. Jalan itu sempit, terjal, dipenuhi belokan mendadak sehingga jalan itu menjadi tempat favorit para perampok untuk menyergap setiap pejalan yang tidak siap. Beberapa penjahat sering melakukan kekerasan, bahwa mereka tidak hanya mengambil semua barang dari para korban, tetapi mereka juga akan memukuli mereka tanpa ampun. Hingga awal abad kedua puluh, beberapa turis dan peziarah menjadi korban ketika mereka melewati jalan ini. Setelah mobil para turis dirampok, para perampok akan dengan cepat melarikan diri sebelum polisi datang.

Ketika ahli Hukum Taurat bertanya kepada Yesus, “siapakah sesama kita yang akan kita kasihi?” Yesus menyodorkan tiga model. Mereka adalah seorang imam, seorang Lewi dan seorang Samaria. Imam dan orang Lewi adalah kelompok istimewa dalam masyarakat Yahudi kuno. Mereka ditahbiskan untuk melayani di Bait Suci Yerusalem. Para imam yang merupakan keturunan Harun, akan menerima pengorbanan dari orang-orang Yahudi dan mempersembahkannya kepada Tuhan di altar. Sementara itu orang-orang Lewi mendapat tugas untuk mengurus Bait Allah, untuk melakukan pelayanan liturgi lainnya dan membantu para imam. Baik imam dan orang Lewi mewakili sekelompok orang terpilih yang mendedikasikan diri mereka kepada Tuhan, Hukum Taurat dan Bait Allah. Tanpa keraguan, mereka sangat mencintai agama mereka. Sementara itu, orang Samaria mewakili apa yang dibenci orang Yahudi. Orang-orang Yahudi memandang rendah orang-orang Samaria karena mereka dianggap sebagai produk perkawinan antara orang-orang Yahudi yang sesat dan bangsa-bangsa kafir lainnya. Orang Samaria juga dianggap sebagai para penyembah berhala karena menyembah Tuhan Yahwe tapi dengan tambahan dewa-dewa kecil lainnya.

Menurut standar agama Yahudi, imam dan orang Lewi jauh mengungguli orang Samaria, tetapi Yesus menjatuhkan bom nuklir ketika Ia menjadikan orang Samaria sebagai pahlawan dalam cerita. Kita mungkin bertanya mengapa imam dan orang Lewi menolak untuk membantu? Salah satu alasannya adalah bahwa imam harus menjauh dari darah atau mayat apa pun, jika tidak ia akan najis selama tujuh hari dan ia ingin melayani Bait Suci [lihat Bil 19:11]. Lewi tampaknya sedikit lebih baik ketika dia mendekati korban, tetapi dia mengurungkan niatnya mungkin karena dia takut orang itu hanya menjadi umpan untuk menyergapnya. Tetapi, orang Samaria datang dan membantu tanpa ragu-ragu. Tidak hanya datang menyelamatkannya, orang Samaria memastikan bahwa sang korban akan disembuhkan dan pulih, meskipun ia harus menghabiskan uangnya sendiri.

Menempatkan diri pada posisi orang Samaria, kita tahu bahwa keputusannya untuk membantu korban yang adalah orang Yahudi adalah sangat berani dan bahkan gegabah. Bagaimana jika itu hanya sebuah jebakan? Bagaimana jika dia kehabisan uang? Bagaimana jika korban tidak pernah mengucapkan terima kasih dan bahkan lebih membencinya? Namun, inilah arti mengasihi sesama kita. Mencintai seseorang berarti menunjukkan belas kasihan dan menunjukkan belas kasihan berarti memberi melampaui apa yang sudah seharusnya.

Salah satu karya yang tak terlupakan yang dilakukan Bunda Teresa di Kalkuta adalah membangun rumah bagi orang yang kritis. Suatu hari, dia berjalan melewati rumah sakit dan melihat seorang wanita sangat sakit. Sang suster bergegas membawanya ke rumah sakit. Namun, orang di rumah sakit menolaknya, mengatakan, “tidak ada ruang untuknya di rumah sakit!” Bunda Teresa tetap berada di luar rumah sakit, memeluk wanita yang sekarat itu sampai dia menghembuskan nafas terakhir. Sejak itu, suster Teresa berjanji bahwa dia akan memastikan bahwa orang dapat meninggal dengan martabat. Pada hari-hari awal karyanya ini, Bunda Teresa diejek dan dikritik, namun ia dan saudara-saudaranya bertahan karena mereka tahu bagi mereka yang kritis, ini mungkin merupakan belas kasih terakhir yang mereka terima sebelum mereka meninggal.

 Jika kita mengharapkan imbalan besar, itu bukan kasih, tapi investasi. Jika kita hanya ingin dihargai setelah berbuat baik, itu bukan kasih, itu hanya pamer. Jika kita tidak ingin terluka, itu bukan kasih, itu tidak lebih dari omong kosong. Kasih sesungguhnya itu tangguh, belas kasihan itu sesuatu yang heroik.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Seventy

14th Sunday in Ordinary Time [C] – July 7, 2019 – Luke 10:1-12, 17-20

by twoIn today’s Gospel, Jesus is sending His seventy disciples for a mission. Yes, we are reading it correctly; it is not just twelve disciples, but seventy. While we are used to the celebrated mission of the Twelve, Luke informs us about the less famous mission of the seventy. We are not sure who are these people, but for sure, these are people who have the same commitment, dedication, and passion like the big names like Peter, John, Andrew, and Matthew. They follow Jesus, leave everything and are willing to be dispatched into a difficult mission to preach the Kingdom, to heal the sick, and to drive out the demons. The story of the seventy disciples gives us a hint about those dedicated and more numerous disciples of Jesus and yet somehow forgotten. While the Twelve represents the well-known figures of the Church like the pope and the bishops, the seventy bring to mind the nameless yet countless priests, religious men and women, and laity who are tirelessly building up the Body of Christs.

We might also ask why seventy? If Twelve apostles represent the twelve tribes of Israel, what will the seventy signify? Surprisingly, when we go back to the Old Testament, seventy is also a significant figure. It is the sum number of the descendants of Jacob who migrated to Egypt [Gen. 46:27]. It was the number of the elders who were elected to help Moses in his task in leading Israel and to offer sacrifice in the wilderness [Exo 24:1]. Thus, seventy become the symbol of both Israel itself and the leaders of Israel. According to Jewish tradition, seventy is also the number of nations that came down from Noah [see Gen 11]. By choosing and commissioning His seventy disciples, Jesus sends His message to the world that He is establishing His New Israel with its leaders, and this Israel will include all people from all nations.

One powerful lesson we can learn from these seventy is humility. When the disciples return in joy for the successful tasks, Jesus tells about enigmatic words, “I saw Satan fall like lightning from the sky!” One possible interpretation is that the disciples have rendered demons powerless in the name of Jesus. The disciples’ success is the failure of Satan. Another explanation is the temptation of pride. According to Christian tradition, Satan was formerly the highest angel who fell from heaven because he is too proud to serve God who became a man. Thus, Jesus reminds the disciples that their mission is essentially Jesus’ mission, and they are nothing without Christ. It is much important that their names are written in heaven instead of being boastful about their success.

Humility is a principal virtue of all disciples’ identity, while ambition and pride kill our identity as disciples. Lucifer used to be one of the seraphim, the highest ranks of angels, and the name Lucifer means “the bearer of Light.” Surely, there is no problem with serving God, but when Lucifer knew about the plan of God the Son to become man, and be born of a woman, and die for the salvation of humanity, he could not accept it. How can be God as well as spiritual beings like angel serve lowly and sinful creatures like humans? In his pride, he declined God’s plan; he refused to serve God. “Non Serviam.” I will not serve. He and his cohorts were then banished from heaven, and Lucifer turns to be Satan, the chief of demons.

When we serve God in humility, we do not get the medals, we do not receive the glory, and we are forgotten, but we are sure that our names are written in heaven.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tujuh Puluh

Minggu ke-14 dalam Waktu Biasa [C] – 7 Juli 2019 – Lukas 10: 1-12, 17-20

two disciplesDalam Injil hari ini, Yesus mengirim tujuh puluh murid-Nya untuk bermisi. Bukan hanya dua belas murid, tetapi tujuh puluh. Sementara kita terbiasa dengan misi Dua Belas Rasul yang lebih terkenal, Lukas memberi tahu kita tentang misi tujuh puluh murid yang kurang terkenal. Kita tidak yakin siapa orang-orang ini, tetapi yang pasti, mereka adalah orang-orang yang memiliki komitmen, dedikasi, dan semangat yang sama seperti Petrus, Yohanes, Andreas dan Matius. Mereka mengikuti Yesus, meninggalkan segalanya dan bersedia dikirim ke misi yang sulit untuk memberitakan Kerajaan Allah, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir setan. Kisah tujuh puluh murid memberi kita petunjuk tentang murid Yesus yang berdedikasi dan lebih banyak secara jumlah, namun terlupakan. Sementara Dua Belas Rasul mewakili tokoh-tokoh terkenal dari Gereja seperti paus dan para uskup, tujuh puluh murid mengingatkan kita akan para imam, biarawan-biarawati, kaum awam yang tak terkenal namun tak terhitung jumlahnya, dan yang tanpa lelah membangun Tubuh Kristus.

Kita mungkin juga bertanya mengapa tujuh puluh? Jika Dua Belas rasul mewakili dua belas suku Israel, apa yang akan dilambangkan dengan tujuh puluh? Ketika kita kembali ke Perjanjian Lama, tujuh puluh juga merupakan angka penting. Ini adalah jumlah total keturunan Yakub atau Israel yang bermigrasi ke Mesir [Kej. 46:27]. Tujuh puluh adalah jumlah para penatua yang dipilih untuk membantu Musa dalam memimpin Israel dan untuk mempersembahkan korban saat mereka masih di padang gurun [Kel 24: 1]. Menurut tradisi Yahudi, tujuh puluh juga merupakan jumlah bangsa yang turun dari nabi Nuh [lihat Kej 11]. Dengan memilih dan menugaskan tujuh puluh murid-Nya, Yesus mengirimkan pesan-Nya kepada dunia bahwa Ia sedang membangun Israel yang Baru, lengkap dengan para pemimpinnya, dan Israel ini akan mencakup semua orang dari segala bangsa.

Satu pelajaran penting yang dapat kita dapat dari tujuh puluh murid ini adalah kerendahan hati. Ketika para murid kembali dengan sukacita karena misi mereka berhasil, Yesus memberi mereka kata-kata yang cukup aneh, “Saya melihat Setan jatuh seperti kilat dari langit!” Salah satu interpretasi adalah bahwa para murid telah menjadikan Setan dan kerajaannya tidak berdaya dalam nama Yesus. Keberhasilan murid adalah kegagalan Setan. Penjelasan kedua adalah godaan kesombongan. Menurut tradisi Bapa Gereja, Setan dulunya adalah malaikat tertinggi yang jatuh dari surga karena dia terlalu sombong untuk melayani Tuhan yang menjadi manusia. Dengan demikian, Yesus mengingatkan para murid bahwa misi mereka pada dasarnya adalah misi Yesus, dan mereka bukan apa-apa tanpa Kristus. Yang jauh lebih penting adalah nama-nama mereka dituliskan di surga daripada sekedar menyombongkan keberhasilan mereka.

Kerendahan hati adalah kebajikan utama dari identitas semua murid Yesus, sementara ambisi dan keangkuhan membunuh identitas kita sebagai murid. Lucifer dulunya adalah salah satu dari seraphim, malaikat tertinggi di surga, dan nama Lucifer sendiri berarti “pembawa Cahaya.” Tentunya, tidak ada masalah dengan melayani Tuhan, tetapi ketika Lucifer tahu tentang rencana Allah untuk menjadi manusia, dan dilahirkan dari seorang wanita, dan mati untuk keselamatan umat manusia, dia tidak bisa menerimanya. Bagaimana bisa Tuhan dan makhluk spiritual seperti malaikat melayani makhluk rendahan dan berdosa seperti manusia? Dalam kesombongannya, dia menolak rencana Tuhan; dia menolak untuk melayani Tuhan. “Non Serviam.” Dia dan para pengikutnya kemudian diusir dari surga, dan Lucifer berubah menjadi Setan, kepala para roh jahat.

Ketika kita melayani Tuhan dalam kerendahan hati, seringkali kita tidak mendapatkan penghargaan, kita tidak menerima kemuliaan, dan kita dilupakan, tetapi kita yakin bahwa nama kita tertulis di surga.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

No Excuse

Thirteenth Sunday of the Ordinary Time [C] – June 30, 2019 – Luke 9:51-62

carrying cross 2Today we listen to one of the most demanding and perhaps harsh teachings of Jesus. For those who follow Him, He demands total allegiance, and He shall become no less than their top priority in life. In both Jewish and Christian tradition, to honor our parents is one of the highest commandments. In fact, it is not a mere honoring, but it is to glorify [Hebrew word used is “kabad”] our parents. But, when a man asks Jesus to bury his father, Jesus tells him, “Let the dead bury the dead.” To one who requests to say goodbye to his family, Jesus says, “No one who sets a hand to the plow and looks to what was left behind is fit for the kingdom of God.” Very harsh. Is this truly Jesus whose heart is moved with pity towards the poor people? Is Jesus no longer observing the Ten Commandments?

We may uncover the reason at the beginning of the Gospel reading. Jesus knows the time has come for Him to go to Jerusalem, and He has set His face toward this city that will persecute, torture, and kill Him. The way of the cross has begun, and for those who wish to follow Him, it is no longer the time to be amused by His miracles or to be inspired by His preaching. They who desire to follow Jesus, shall also carry their cross with Jesus, and to walk with Jesus to His Calvary, one cannot but surrender his life to Jesus and make Jesus’s mission as his utmost concern.

However, we need to clarify also Jesus’ remarks that may sound too harsh. When Jesus says, “Let the dead bury the dead,” most probably the parent of that man is still very much alive, and he wishes to follow Jesus after his parent passes away. A subtle excuse not to follow Jesus. When Jesus says, “No one who sets a hand to the plow and looks to what was left behind is fit for the kingdom of God,” Jesus is alluding to the story of Elijah who called Elisha to follow him [1 Kgs 19:19-21]. When a prophet calls, the one summoned must respond immediately. Otherwise, the opportunity is gone for good. Jesus also points to the story of Lot’s wife. When the city of Sodom and Gomorrah were destroyed by God, the angel instructed Lot and his family to run and not to look back, and yet, his wife looked back. She became the pillar of salt [Gen 19:26]. Someone cannot effectively follow God’s words and new life in Christ if he always looks back and attaches himself to the past. Jewish farmers also know well the irony that when one plows the soil and keeps looking back at the result, he will just ruin the entire field. It is when one is focused and determined in his goal and decision, he will get the best result.

There is a story of an angel who appears to John. The angel said, “John, God calls you to serve Him.” John said, “Not now, I am still 18, and I want to focus on my study.” Then, the angel came again after some years. John said, “Not now, I am just 30, and I have my career.” Then, the angel appeared again after some year. John said, “Not now. I am just 40, and I have my family.” Then, the angel returned for the last time when John was 70. John said, “Now, I am ready to answer God’s calling.” The angel responded, “Yes, God calls you, but not to serve Him, but to see Him!”

A Christian who has a lot of excuses for Jesus is not a real Christian. It is only when we follow Him with determination, walk on His way of the cross without excuse, make Him as our top priority, we can humbly say that we are His disciples.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tanpa Melihat ke Belakang

Minggu Ketiga Belas pada Masa Biasa [C] – 30 Juni 2019 -Lukas 9: 51-62

carrying cross 3Hari ini kita mendengarkan salah satu ajaran Yesus yang paling sulit dimengerti dan diikuti. Bagi mereka yang ingin mengikuti Yesus, Dia menuntut kesetiaan total, dan menjadi prioritas utama mereka dalam hidup. Baik dalam tradisi Yahudi maupun Kristiani, untuk menghormati orang tua kita adalah salah satu perintah tertinggi dalam Sepuluh Perintah Allah. Tetapi, ketika seseorang meminta Yesus untuk menguburkan ayahnya, Yesus mengatakan kepadanya, “Biarkan orang mati menguburkan orang mati.” Kepada orang yang meminta untuk mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya, Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Tidak terbayangkan! Apakah ini benar-benar Yesus yang hatinya tergerak oleh belas kasihan kepada orang-orang miskin? Apakah Yesus tidak lagi memperhatikan Sepuluh Perintah? Bagaimana kita bisa mengerti kata-kata Yesus yang keras ini?

Kita dapat mengungkap jawabannya di awal pembacaan Injil hari ini. Yesus tahu waktu-Nya telah tiba bagi-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Dia telah mengarahkan wajah-Nya ke kota ini yang akan menganiaya, menyiksa, dan membunuh-Nya. Jalan salib Yesus telah dimulai, dan bagi mereka yang ingin mengikuti-Nya, bukan lagi waktunya untuk terhibur oleh mukjizat-mukjizat-Nya atau terinspirasi oleh khotbah-khotbah-Nya. Mereka yang berhasrat untuk mengikuti Yesus, juga harus memikul salib mereka bersama Yesus, dan berjalan bersama Yesus ke Kalvari. Mereka tidak bisa tidak menyerahkan hidup mereka kepada Yesus dan menjadikan misi Yesus sebagai perhatian utama mereka.

Namun, kita perlu mengklarifikasi juga ucapan Yesus yang mungkin terdengar terlalu keras. Ketika Yesus berkata, “Biarkan orang mati menguburkan yang mati,” orang tua dari yang bersangkutan sebenar masih hidup, dan dia ingin mengikuti Yesus setelah orang tuanya meninggal, yang tidak tahu kapan akan terjadi. Ini menjadi sebuah alasan halus untuk tidak mengikuti Yesus. Ketika Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Yesus sebenarnya mengingatkan para pendengar-Nya tentang kisah Elia yang memanggil Elisa untuk mengikutinya [1Raj 19:19 -21]. Ketika seorang nabi memanggil, orang yang dipanggil harus segera merespons. Kalau tidak, kesempatan itu hilang untuk selamanya. Yesus juga menunjukkan kisah istri Lot. Ketika kota Sodom dan Gomora dihancurkan oleh Tuhan, malaikat itu memerintahkan Lot dan keluarganya untuk lari dan tidak melihat ke belakang, namun, istrinya melihat ke belakang. Dia menjadi tiang garam [Kej 19:26]. Seseorang tidak dapat secara efektif mengikuti kata-kata Tuhan dan memiliki kehidupan baru di dalam Kristus jika dia selalu melihat ke belakang dan melekatkan dirinya pada masa lalu. Para petani Yahudi juga tahu betul ironi bahwa ketika seseorang membajak tanah dan terus melihat ke belakang untuk mengecek hasilnya, dia hanya akan merusak seluruh ladang. Ketika seseorang fokus dalam tujuan dan keputusannya, ia akan mendapatkan hasil terbaik.

Ada kisah tentang seorang malaikat yang menampakkan diri kepada John. Malaikat itu berkata, “John, Tuhan memanggilmu untuk melayani Dia.” John berkata, “Tidak sekarang, aku masih 18 tahun, dan aku ingin fokus pada studiku.” Kemudian, malaikat itu datang lagi setelah beberapa tahun. John berkata, “Jangan sekarang, aku hanya 30, dan aku punya karier.” Kemudian, malaikat itu muncul lagi setelah beberapa tahun. John berkata, “Jangan sekarang. Saya baru berusia 40 tahun, dan saya punya keluarga. ”Kemudian, malaikat itu kembali untuk terakhir kalinya ketika Yohanes berusia 70 tahun. Yohanes berkata,“ Sekarang, saya siap untuk menjawab panggilan Tuhan.” Malaikat itu menjawab, “Ya, Tuhan memanggil kamu, tetapi tidak untuk melayani Dia, tetapi untuk menghadap Dia di surga!”

Seorang Kristiani yang memiliki banyak alasan untuk tidak mengikuti Yesus, dia bukanlah seorang Kristiani sejati. Hanya ketika kita mengikuti Dia dengan tekad, berjalan di jalan salib-Nya tanpa alasan, menjadikan Dia sebagai prioritas utama kita, kita dapat dengan rendah hati mengatakan bahwa kita adalah murid-murid-Nya.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Eating God

The Solemnity of the Body and Blood of Christ [June 23, 2019] Luke 9:11-17

benedict n first communicantToday the Church is celebrating the solemnity of the Body and Blood of Jesus Christ. In many countries like Indonesia, today is the best time for the children who are already prepared to receive their first Holy Communion. I still recall the day I partook of the sacred host and the holy wine. Many of us were around 10 years old, old enough to recognize the presence of Christ in the Eucharist and we were dressed in white. I was wearing long-sleeved white shirt with a tie and black pants. When the priest dipped the white bread into the chalice of wine and said, “the body and blood of Christ”, I said “Amen.” It was my first time to savor the sweetness of wine, and of course, alcoholic beverage!

At that moment, I just knew the reception of sacred host is necessary to complete the Eucharist, and I was aware I was receiving a blessing, but I never truly comprehend the profound meaning of the great mystery. For me, it was just enough that I attend the mass and consume the consecrated host. It has become a routine and tradition, from Sunday to Sunday, to from month to month, from year to year. Till we become parents and we also bring our children for their first communion. And when somebody asks us, “why do you bring your children to the first communion?”, our answer may be like, “Well, we want our kids to be like us. It is just a family tradition.” The answer is simple, but too simple that it draws more questions: why bread and wine? Why Body and Blood of Jesus? Why does it have to be eaten?

We often forget to realize that this sacred host and wine are the entire Jesus Christ Himself, with all humanity and divinity. Thus, God offers Himself to be eaten. Why eating God? The answers lie on the pages of our Old Testament. Firstly, we recall that our first parents fell because of the act of eating. Now, in the Eucharist, God uses the same act of eating to restore men and women into grace. Secondly, in the middle of the garden of Eden, there were two trees, the forbidden tree, the tree of the knowledge of good and evil, and the tree of life [Gen 2:9]. Unfortunately, our first parents chose to eat the fruits from the forbidden tree. Thus, to restore humanity to grace, now God offers us the fruits from the tree of life, the tree of the cross of Christ. Thirdly, we remember the first Passover was about the story of how God liberated Hebrew people from the slavery of Egypt. The Passover began with the slaughter of the lamb, and its blood was sprinkled on the doors of the Israelite house so that their firstborns would be saved from death. Yet, the slaughter and the sprinkling of blood were not the summit of Passover. The Hebrew people had to consume the lamb as to complete their first Passover [Exo 12:8]. Now, Jesus the Lamb of God, has been sacrificed on the cross, yet it is not the end. Like the Hebrew Passover, we need to consume the Lamb of God to complete our New Passover, the Eucharist.

There are so much themes and aspects we may ponder on the Eucharist, and particularly today, the Church reminds us that the Eucharist, especially the reception of the Holy Communion is not just our Sunday routine, a family tradition. It is of the essential plan of God for our salvation, so that we may have heaven, our Communion with God, the Holy Trinity.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Memakan Tuhan

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus [23 Juni 2019] Lukas 9: 11-17

VATICAN-POPE-MEMORIALHari ini Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Di banyak negara seperti Indonesia, hari ini adalah waktu terbaik bagi anak-anak yang sudah siap untuk menerima Komuni Suci pertama mereka. Saya masih ingat hari saya menerima hosti dan anggur suci. Banyak dari kami berusia sekitar 10 tahun, cukup dewasa untuk mengenali kehadiran Kristus dalam Ekaristi. Saya ingat bahwa saya mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan dasi kecil dan celana hitam. Ketika pastor mencelupkan hosti putih ke dalam piala anggur, dan berkata “tubuh dan darah Kristus”, saya berkata “Amin.” Ini adalah pertama kalinya saya menikmati manisnya anggur, dan tentu saja, minuman beralkohol!

Pada saat itu, saya hanya tahu bahwa penerimaan hosti yang kudus diperlukan untuk melengkapi perayaan Ekaristi, dan juga menerima berkat, tetapi saya tidak pernah benar-benar memahami makna mendalam dari misteri agung ini. Bagi saya, cukuplah bahwa saya menghadiri misa dan mengonsumsi hosti yang dikuduskan. Hal ini telah menjadi rutinitas dan tradisi, dari Minggu ke Minggu, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun. Mungkin banyak dari kita berpikiran yang sama dengan saya bahwa  ini hanyalah sekedar tradisi yang dihidupi sebagai seorang Katolik. Sampai saat kita menjadi orang tua dan kita juga membawa anak-anak kita untuk komuni pertama mereka. Dan ketika seseorang bertanya kepada kita, “mengapa Anda membawa anak-anak Anda ke komuni pertama?” Jawaban kita mungkin seperti, “Ya, kami ingin anak-anak kami seperti kami. Ini adalah tradisi keluarga. ”Jawabannya sederhana, tetapi terlalu sederhana sehingga memunculkan lebih banyak pertanyaan, seperti: Mengapa Tubuh dan Darah Yesus? Kenapa harus Tuhan harus dimakan?

Kita sering lupa untuk menyadari bahwa roti dan anggur yang kudus ini telah menjadi adalah Yesus Kristus yang seutuhnya, dengan segala kemanusian dan keilahian-Nya. Jadi, Tuhan sungguh menawarkan diri-Nya untuk dimakan. Kenapa harus memakan Tuhan? Jawabannya ada di Perjanjian Lama kita. Pertama, kita ingat bahwa orang tua pertama kita jatuh karena sebuah tindakan yakni makan. Sekarang, dalam Ekaristi, Tuhan menggunakan tindakan makan yang sama untuk memulihkan putra-putri dari Adam dan Hawa dalam rahmat. Kedua, di tengah taman Eden, ada dua pohon, yakni pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat yang adalah pohon terlarang, dan pohon kehidupan [Kej 2:9]. Sayangnya, orang tua pertama kami memilih untuk memakan buah dari pohon terlarang. Dengan demikian, untuk mengembalikan manusia kepada rahmat, sekarang Allah memberikan kepada kita buah-buah dari pohon kehidupan, dari pohon salib Kristus. Ketiga, kita ingat Paskah pertama adalah tentang kisah bagaimana Allah membebaskan orang-orang Ibrani dari perbudakan di Mesir. Paskah dimulai dengan penyembelihan anak domba, dan darahnya dipercikkan di pintu rumah orang Israel sehingga anak sulung mereka akan diselamatkan dari kematian. Namun, penyembelihan dan percikan darah bukanlah puncak dari Paskah Yahudi. Orang-orang Ibrani harus memakan domba untuk menuntaskan Paskah pertama mereka [Kel 12:8]. Sekarang, Yesus, Anak Domba Allah, telah dikorbankan di atas kayu salib, namun itu bukanlah puncaknya. Seperti Paskah Ibrani, kita perlu mengonsumsi Anak Domba Allah untuk menuntaskah Paskah Baru kita, yakni Ekaristi.

Ada begitu banyak tema dan aspek yang dapat kita renungkan tentang Ekaristi, dan khususnya hari ini, Gereja mengingatkan kita bahwa Ekaristi, khususnya penerimaan Komuni Kudus bukan hanya rutinitas hari Minggu kita, sebuah tradisi keluarga. Itu adalah rencana esensial Allah untuk keselamatan kita, agar kita bisa menerima kepenuhan hidup, bersekutu dengan Allah, Tritunggal Maha kudus.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP