Featured

Sabda Bahagia: Jalan Kebahagiaan yang Tidak Biasa

Minggu Biasa Keempat [A]

1 Februari 2026

Matius 5:1-12a

Khotbah Yesus di Bukit dimulai dengan Delapan Sabda Bahagia. Saat Paus Santo Yohanes Paulus II mengunjungi Bukit ini di tahun 2000, ia menyebut bahwa Sabda Bahagia adalah “Magna Charta Kristiani,” membandingkannya dengan Sepuluh Perintah Allah dalam Perjanjian Lama. Ia menyatakan bahwa, “Sabda Bahagia bukan daftar larangan, tetapi undangan untuk hidup baru yang menarik.” Undangan ini memang menarik karena menyentuh cita-cita fundamental yang kita semua miliki: menjadi bahagia. Namun, saat kita membaca Sabda Bahagia ini, kita menyadari bahwa jalan Yesus menuju kebahagiaan bukanlah jalan biasa. Mengapa demikian?

Kita cenderung percaya bahwa memiliki kekayaan adalah tanda berkat Allah dan sarana menuju kebahagiaan kita. Namun, Yesus mengajarkan, “Berbahagialah orang-orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah empunya Kerajaan Surga.” Meskipun pada dasarnya harta duniawi adalah baik adanya, keinginan kita untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar, mengumpulkan kekayaan yang lebih banyak, dan tetap di puncak seringkali menyebabkan berbagai masalah kesehatan, kelelahan mental, dan juga masalah dalam relasi dengan orang-orang kita kasihi. Pada akhirnya, pengejaran ini melemahkan jiwa kita, menjauhkan kita dari Tuhan, dan kita menyadari bahwa kita sebenarnya tidak bahagia.

Kita sering berpikir bahwa tawa dan “good vibes” adalah tanda-tanda paling pasti dari kebahagiaan, tetapi Yesus berkata bahwa orang yang berdukacita akan dihibur. Terkadang, kita lupa cara bersedih dan berduka, secara khusus saat ketika kehilangan sesuatu yang berharga, seperti orang yang kita cintai. Alih-alih, kita mencoba melarikan diri dari kesedihan dengan menikmati kesenangan instan seperti bermain HP berjam-jam, menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas atau bahkan menjadi “workaholic”, atau bahkan menyalahkan Tuhan. Namun, kemampuan berduka membantu kita menghadapi kenyataan hidup dan berdamai dengan keterbatasan manusiawi kita. Kitapun lebih bergantung pada kerahiman Tuhan, dan pada akhirnya menemukan penyembuhan dan penghiburan.

Kita biasanya menganggap bahwa melalui kekuatan, agresi, dan dominasi, kita dapat memperoleh apa pun yang kita inginkan. Namun, Yesus mengajarkan hal yang sebaliknya: orang yang lemah lembut akan mewarisi bumi, orang yang berbelas kasih akan menerima belas kasihan, dan orang yang membawa damai akan disebut anak-anak Tuhan. Meskipun ini terdengar bertentangan dengan asumsi kita, ketika kita melihat sekitar kita, kita menyadari bahwa begitu banyak masalah dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan disebabkan oleh keserakahan manusia, agresi dan kekerasan, dan juga balas dendam. Hanya ketika kita belajar untuk menjadi lembut, mampu memaafkan, dan menbawa damai, kita menciptakan damai tidak hanya dalam diri kita sendiri tetapi juga bagi orang-orang di sekitar kita.

Seringkali, kita tanpa sadar mengisi hati kita dengan ambisi untuk menjadi yang terbesar, paling berkuasa, dan paling berpengaruh. Kita membiarkan hasrat akan kesenangan dan kepuasan instan mengendalikan kita. Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa hanya orang yang hatinya suci yang dapat melihat Allah. Oleh karena itu, sangat penting untuk menyadari apa yang mencemari hati kita, mengakui noda-noda tersebut, dan memohon rahmat Allah untuk membersihkannya. Dalam tradisi Katolik, proses ini disebut pemeriksaan batin dan pengakuan dosa, di mana rahmat Allah hadir, membersihkan hati kita dan mempersatukan kita kembali dengan-Nya, sumber kebahagiaan kita.

Akhirnya, Yesus menutup Sabda Bahagia dengan menempatkan diri-Nya sebagai tujuan akhir kebahagiaan kita. Yesus bukan sekadar guru bijak atau “coach” yang mempromosikan prinsip-prinsip “self-help” untuk kesuksesan, tetapi Dia adalah sumber kebahagiaan itu sendiri. Hanya saat kita berpegang pada-Nya dan menyerahkan hati kita kepada-Nya, hidup kita menemukan makna, dan kebahagiaan abadi menjadi tujuan akhir kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno,

Pertanyaan Refleksi:

Ambisi duniawi apa yang saat ini menguras energiku, dan bagaimana melepaskan ambisi tersebut dapat membawa kedamaian bagiku? Apakah ada konflik dalam hidup saya di mana saya mencoba “menang” melalui dominasi atau agresi, daripada menyelesaikannya melalui kelembutan dan belas kasihan? Jika saya melihat kebiasaan harian saya, apakah mereka menunjukkan bahwa saya mencari kebahagiaan terutama dalam pencapaian duniawi, atau dalam hubungan dengan Yesus?

Yesus, Anak Domba Allah

Minggu Biasa Kedua [A]

18 Januari 2026

Yohanes 1:29-34

Hari ini, Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa Yesus  sebagai “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” Bagi kita umat Katolik, gelar ini adalah salah satu yang paling familiar, karena kita mengucapkannya setiap Misa sebelum menerima Komuni Kudus. Namun, apakah kita memahami artinya? Mengapa kita harus mengucapkan pengakuan ini sebelum menerima komuni?

Untuk memahami makna gelar ini, kita harus kembali ke Perjanjian Lama. Domba adalah hewan kurban yang paling khas di Israel. Domba digunakan sebagai kurban Paskah, yang melalui kurban ini, Allah menyelamatkan Israel dari kematian dan membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Domba juga menjadi pusat ibadah di Bait Allah: sebagai “Tamid,” persembahan harian (Kel 29:39); “Olah,” persembahan bakaran (Im 1:10); “Shelamim,” persembahan damai (Im 3:7); dan “Hattat,” persembahan dosa (Im 4:32).

Kita mungkin bertanya, “Mengapa domba?” Alasannya sebagian praktis. Domba melimpah di zaman kuno, tetapi berbeda dengan ternak lain, domba memberikan perlawanan paling sedikit saat menghadapi kematian. Domba tidak melawan; tidak juga berteriak. Kesunyian ini menginspirasi Nabi Yesaya untuk menggambarkan figur “Hamba yang Menderita,” … “Seperti domba yang dibawa ke pembantaian, dan seperti domba yang diam di hadapan pemotong bulu, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya (Yes 53:7).”

Namun, Yesus bukanlah domba biasa. Dia adalah Domba Allah. Frasa Yunani “ho amnos tou Theou (ὁ ἀμνὸς τοῦ θεοῦ)” tidak hanya berarti domba milik Allah, tetapi juga domba yang berasal dari Allah. Yesus adalah korban yang sempurna, disiapkan bukan oleh tangan manusia, tetapi oleh Bapa sendiri. Dia menjadi penggenapan nubuat Abraham kepada Ishak, saat Ishak bertanya dimanakah hewan untuk kurban, “Allah sendiri akan menyediakan domba (Kej 22:8).” Karena Dia adalah dari Allah, Dia adalah satu-satunya persembahan yang benar-benar berkenan bagi Allah.

Yesus, oleh karena itu, adalah Anak Domba Allah karena Dia adalah pemenuhan sempurna dari setiap korban Perjanjian Lama.

  • Seperti Anak Domba Paskah, Dia disembelih, darahnya dicurahkan dan dagingnya dimakan agar kita terhindar dari kematian kekal dan perbudakan dosa.
  • Seperti “Tamid”, Dia dipersembahkan setiap hari dalam Ekaristi.
  • Seperti “Olah”, Dia memberikan diri sepenuhnya dalam ketaatan kepada Bapa.
  • Seperti “Shelamim”, Dia adalah sarana pendamaian kita dengan Bapa (Ef 2:14).
  • Seperti “Hattat”, Dia menjadi persembahan yang membersihkan kita dari dosa-dosa (2 Kor 5:21).

Itulah mengapa kita berseru, “Domba Allah… kasihanilah kami.” Kita mengakui bahwa tanpa kurban-Nya yang sempurna, kita tidak dapat diselamatkan dari dosa-dosa kita. Dan akhirnya, ketika kita berseru, “Berikanlah kami damai,” kita mengaku bahwa tanpa Yesus—kurban damai sejati kita—tidak ada rekonsiliasi antara kita dan Bapa.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk refleksi:

“Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menerima kurban Yesus dalam Ekaristi dengan layak? Bagaimana kita berpartisipasi dalam Misa? Apakah tindakan kita selama liturgi mendekatkan kita pada Yesus, ataukah justru mengalihkan perhatian kita? Akhirnya, bagaimana kita mempersembahkan hidup kita kepada Allah melalui aktivitas sehari-hari kita?”

Mengapa Yesus Dibaptis?

Pembaptisan Tuhan [A]

11 Januari 2026

Mat 3:13-17

Salah satu pertanyaan yang sering membingungkan kita adalah: mengapa Yesus perlu dibaptis oleh Yohanes Pembaptis? Yohanes sendiri menyatakan bahwa baptisannya adalah tanda pertobatan. Mereka yang datang kepadanya harus terlebih dahulu mengakui dosa-dosa, sehingga baptisan air menjadi tanda dari penolakan terhadap dosa dan perubahan hidup. Namun, kita tahu bahwa Yesus itu tanpa dosa [Ibr 4:15; 1 Pet 2:22]. Lalu, bagaimana kita memahami baptisan Yesus?

Domenico Ghirlandaio, The Baptism of Christ, 1486-90

Pertanyaan yang sama juga telah membingungkan banyak teolog besar sepanjang sejarah. Meskipun tidak mungkin mencantumkan setiap tafsiran di sini, Santo Proklus, Patriark Konstantinopel abad ke-5, memberikan wawasan yang mendalam. Dalam khotbahnya berjudul, “Holy Theophany,” ia mengajak kita untuk menyaksikan sebuah paradoks, “Mari datang dan lihatlah mukjizat baru dan mengagumkan: Matahari Keadilan membasuh diri di Sungai Yordan, api terendam dalam air, Allah dikuduskan melalui pelayanan manusia.” Pada dasarnya, Santo Proklus melihat baptisan Yesus bukan sebagai kebutuhan untuk pengampunan, tetapi sebagai “mukjizat kerendahan hati.”

Ketika orang Israel datang kepada Yohanes untuk dibaptis, itu tentu merupakan tindakan kerendahan hati, mengakui di hadapan Allah akan dosa-dosa mereka dan kesediaan untuk bertobat. Namun, ketika Yesus yang ilahi dibaptis oleh Yohanes yang manusia, hal ini melampaui kerendahan hati biasa; itu adalah kerendahan hati yang luar biasa, bahkan bersifat adikodrati. Santo Proclus mengajarkan bahwa meskipun kerendahan hati yang mengagumkan ini sudah ada sejak kelahiran Yesus, pembaptisan berbeda dari Natal. Kelahiran adalah mukjizat yang tersembunyi, tetapi Pembaptisan adalah peristiwa publik yang disaksikan oleh banyak orang, di mana Allah Bapa secara terbuka menyatakan bahwa Ia berkenan dengan tindakan pengosongan diri Putra-Nya.

Hal ini memberikan pelajaran penting bagi kita semua: melalui kerendahan hati ilahi, kita menerima keselamatan dan dikuduskan. Dalam kerendahan hati-Nya, Putra Allah menjadi manusia dan menempatkan diri-Nya di bawah Yusuf dan Maria. Dalam kerendahan hati-Nya, Yesus dibaptis oleh Yohanes, menjadi satu dengan orang-orang yang Dia akan selamatkan. Dalam kerendahan hati-Nya, Kristus dengan sabar menanggung salib, menerima kematian sebagai korban yang sempurna untuk penebusan kita. Yesus mencintai Bapa dengan sempurna; dari kasih yang mendalam ini, kerendahan hati lahir; dari kerendahan hati yang luar biasa ini, ketaatan terlahir; dan melalui ketaatan Yesus sepanjang hidup-Nya, kita diselamatkan.

Santo Filipus Neri dikenal sebagai rasul orang-orang Roma. Sekali peristiwa, Paus pernah meminta dia untuk menyelidiki seorang biarawati yang dikabarkan menerima penglihatan dari Tuhan dan melakukan mukjizat. Dalam perjalanan ke biara tersebut, hujan turun dengan deras, dan jalan-jalan menjadi berlumpur. St. Filipus itu terus melanjutkan perjalanannya, meskipun pakaiannya basah kuyup dan sepatunya berlumpur. Setibanya di sana, biarawati itu menyambutnya dengan gembira, ingin berbagi penglihatannya dengan seorang imam yang dikagumi di kota Roma. Namun, hal pertama yang diminta Santo Filipus adalah agar biarawati itu membantunya melepas sepatunya yang kotor penuh lumpur. Biarawati itu marah, menegurnya, dan menyatakan bahwa permintaan seperti itu terlalu menghina bagi seorang wanita rohani seperti dirinya.

Santo Filipus segera kembali ke Vatikan. Ia melaporkan kepada Paus, “Bapa Suci, dia bukan seorang yang kudus.” Ketika Paus bertanya bagaimana ia bisa mencapai kesimpulan itu begitu cepat, Filipus menjawab, “Ia tidak memiliki kerendahan hati. Dan di mana tidak ada kerendahan hati, tidak ada kekudusan.”

Seperti yang Yesus ajarkan kepada kita hari ini, mari kita memohon kepada Tuhan untuk keutamaan yang sama, agar kita dapat mengikuti kerendahan hati-Nya dan benar-benar tumbuh dalam kekudusan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apakah saya cenderung memisahkan diri dari orang-orang yang saya anggap “lebih rendah”? Apakah saya memandang kerendahan hati sebagai kelemahan yang merusak reputasi saya, atau apakah saya melihatnya sebagai kekuatan ilahi yang harus saya praktikan? Jika saya kesulitan untuk taat kepada Tuhan atau otoritas Gereja, apakah sebenarnya karena saya tidak memiliki kerendahan hati dan kasih?

Para Majus dan Herodes

Epifani [A]

4 Januari 2026

Matius 2:1-12

Cerita tentang Para Majus mengingatkan kita akan sesuatu yang sangat mendasar saat kita mencari Yesus. Apakah hal itu?

Para Majus bukanlah berasal dari bangsa Yahudi, namun mereka dengan tulus mencari Raja Israel yang baru lahir. Identitas Para Majus tetap menjadi misteri. Kata Yunani magos—dari mana kata Inggris Majusc berasal—merujuk pada seseorang yang ahli dalam ilmu-ilmu kuno. Ilmu-ilmu kuno ini sangat berbeda dengan ilmu modern: eksperimen dan mitos, pengamatan alam dan ritual, seringkali saling terkait. Ini adalah masa ketika astronomi erat terkait dengan astrologi, dan kimia dengan alkimia.

    Meskipun tidak dinyatakan secara eksplisit dalam Kitab Suci, banyak tradisi mengidentifikasi para Majus sebagai tiga raja dari Timur. Tertullian (wafat tahun 225 M), menafsirkan kisah Epifani berdasarkan Mazmur 72 dan Yesaya 60, merujuk pada para Majus sebagai raja. Meskipun para Majus tidak mesti raja, mereka kemungkinan besar adalah orang-orang berkedudukan tinggi, karena Herodes, raja Yerusalem, menerima mereka dan memperlakukan mereka dengan hormat. Angka tiga umumnya berasal dari tiga hadiah yang diberikan kepada Kristus: emas, kemenyan, dan mur. Bukti tertulis tertua tentang “tiga” Majus muncul dalam mozaik abad keenam di Gereja Sant’Apollinare Nuovo di Ravenna, Italia. Nama-nama Melkior, Gaspar, dan Balthasar muncul dalam tradisi Latin pada periode yang sama.

    Kisah para Majus menjadi lebih mencolok ketika dibandingkan dengan rekan-rekan Yahudi mereka: Herodes, raja Yerusalem, dan para cendekiawan Yahudi. Ketika Herodes mendengar berita tersebut, ia segera berkonsultasi dengan para ahli agama di istananya. Setelah memeriksa Kitab Suci dengan cermat, mereka mengonfirmasi penemuan para Majus dan mengidentifikasi Betlehem sebagai tempat kelahiran raja baru. Namun, berbeda dengan para Majus—yang menggunakan kebijaksanaan dan pengetahuan mereka untuk menghormati anak itu—Herod dan penasihat-penasihatnya menggunakan pemahaman mereka tentang Kitab Suci untuk merencanakan kehancuran Mesias yang dijanjikan.

    Perbedaan antara para Majus dan Herodes menjadi pola bagi apa yang akan terjadi pada Yesus. Pada awal hidup-Nya, Yesus dihormati oleh para Majus yang bukan Yahudi tetapi dicari untuk dihancurkan oleh Herodes dan penasihatnya. Demikian pula, pada akhir hidup-Nya di bumi, Yesus dihukum oleh imam-imam kepala dan pemimpin agama, dituduh sebagai Mesias palsu, sementara Ia diakui oleh kepala pasukan Romawi sebagai Anak Allah (Mat 27:54).

    Akhirnya, setelah para Majus menemukan Yesus dan memberi hormat kepada-Nya, mereka pulang melalui “jalan yang berbeda”. Rincian ini mengandung simbolisme yang mendalam: bertemu dengan Yesus membawa kepada pertobatan sejati dan transformasi. Kita mungkin sibuk mempelajari Kitab Suci, terlibat dalam karya amal, atau melayani di pelayanan Gereja, tetapi jika kita tidak benar-benar menemukan Yesus di dalamnya, tidak ada pertobatan yang sejati. Tanpa menemukan Yesus, kita mungkin hanya menemukan diri kita sendiri. Bahayanya adalah hal ini dapat menyebabkan frustrasi ketika kita gagal atau kesombongan ketika kita berhasil. Dalam kedua kasus ini, kita tidak menemukan kebahagiaan sejati. Seperti Herodes dan penasihatnya, kita bahkan dapat menyalahgunakan pengetahuan iman kita dengan cara yang merusak kehidupan rohani kita dan melemahkan iman kita pada Kristus.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan Panduan:

    Apakah saya lebih mirip para Majus atau seperti Herodes dan penasihatnya dalam cara saya mencari Yesus? Bagaimana saya menggunakan pengetahuan dan talenta yang Tuhan berikan kepada saya? Apakah kegiatan keagamaan saya benar-benar membawa saya ke dalam pertemuan dengan Yesus? Dalam hal apa pertemuan dengan Kristus telah mengubah arah hidup saya? Apa yang menghalangi saya untuk mengenali Kristus ketika Dia datang dengan tenang dan rentan?

    Featured

    St. Yusuf: Pelindung Keluarga Kudus

    Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria, dan Yusuf
    28 Desember 2025 [A]
    Matius 2:13–15, 19–23a

    Saat kita merayakan Pesta Keluarga Kudus, kita merenungkan apa yang membuat keluarga ini kudus. Tentu saja, di pusatnya adalah kehadiran Yesus, Allah yang menjadi manusia. Namun, kekudusan tidak berarti pasif dan diam saja. Baik Maria maupun Yusuf secara aktif menerima peran unik dan vital dalam rencana Allah dalam keluarga mereka. Injil hari ini dari Matius khususnya berbicara tentang misi Yusuf, pelindung dan kepala Keluarga Kudus. Apa yang dapat kita pelajari dari kesaksiannya?

    Matius menceritakan bagaimana Yusuf memimpin keluarganya ke pengasingan. Diperingatkan dalam mimpi tentang niat jahat Herodes, ia membawa Maria dan Yesus dan melarikan diri pada malam hari ke Mesir. Setelah kematian Herodes, seorang malaikat kembali memerintahkan Yusuf untuk kembali—hanya untuk mengetahui bahwa putra Herodes, Archelaus, memerintah Yudea dengan kekejaman yang lebih besar. Jadi, Yusuf membimbing keluarganya bukan ke Betlehem, tetapi ke utara ke Nazaret di Galilea, di mana mereka dapat bersembunyi dan hidup dengan aman.

    Kisah Keluarga Kudus bukanlah kisah kenyamanan atau kesuksesan duniawi. Mereka mengalami penderitaan pengasingan, kerentanan para pengungsi, kelaparan, kemiskinan, serta tekanan memulai hidup dari awal. Di tengah cobaan-cobaan itu, Yusuf tetap teguh sebagai pelindung dan penyedia bagi keluarga kudus. Ia adalah penjaga yang tenang dan teguh yang memastikan keselamatan Yesus dan Maria.

    Yusuf tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun dalam Injil, namun perbuatannya berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Sebagai kepala keluarga, dia memahami apa yang harus dilakukan dan melaksanakannya dengan kesetiaan yang tenang. Dia adalah pria yang berani, rela menghadapi bahaya, ketidakpastian, dan kesulitan. Pada saat yang sama, dia adalah pria yang penuh cinta, siap mengorbankan waktunya, tenaganya, masa depannya, bahkan nyawanya untuk mereka yang dipercayakan padanya—Yesus dan Maria.

    Di atas segalanya, Yusuf adalah seorang pria yang memiliki iman dan doa yang mendalam. Kehendak Allah diungkapkan kepadanya melalui mimpi, yang dengan mudah dapat ia abaikan sebagai khayalan atau tipu daya sang jahat. Namun, Yusuf mengenali suara Allah yang berbicara melalui malaikat-Nya. Lebih dari sekadar mengenali asal usul ilahi mimpi tersebut, ia merespons dengan ketaatan yang segera dan tanpa ragu. Sadar akan risiko yang dihadapinya, Yusuf menaruh kepercayaan penuh pada Allah. Yusuf menunjukkan kepada kita bahwa kepemimpinan spiritual yang sejati dibangun atas mendengarkan, iman, dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah.

    Kita diundang untuk menjadi Yusuf yang baru dalam keluarga kita sendiri. Meskipun kita jauh dari sempurna, kita dapat memulai dengan meniru Santo Yusuf dalam cara-cara kecil dan setia. Seorang imam Dominikan, juga sahabat saya, pernah berbagi cerita tentang ayahnya. Dia mengakui bahwa ayahnya tidak terlalu religius, namun dia sangat berkomitmen pada satu praktik esensial: setiap Minggu, dia membawa seluruh keluarganya—istri dan lima anaknya—ke Misa. Selain itu, setiap dua bulan, dia memastikan semua anak-anaknya pergi ke pengakuan dosa. Yang paling mengesankan bagi romo ini adalah bahwa ayahnya selalu pergi ke pengakuan dosa terlebih dahulu, dengan tenang memberikan contoh bagi anak-anaknya. Saksi sederhana namun kuat itu meninggalkan bekas yang mendalam di hatinya dan akhirnya membawanya ke imamat.

    Banyak dari kita—termasuk saya sendiri—perlu belajar dari Santo Yusuf dan memohon perantaraannya untuk menjadi suami, orang tua, dan anggota keluarga yang lebih baik. Seperti dia, semoga kita menempatkan Tuhan di atas segalanya, melakukan pengorbanan harian karena kasih, menahan diri dari kemarahan, dan memilih pengampunan saat paling dibutuhkan.

    Santo Yusuf, doakanlah kami!

    Roma
    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan Refleksi:

    • Apakah kita mencintai Allah lebih dari diri kita sendiri?
    • Apakah kita bersedia melakukan pengorbanan kecil setiap hari karena cinta?
    • Bagaimana kita mengekspresikan amarah, terutama saat merasa frustrasi?
    • Bagaimana kita merespons saat hal-hal tidak berjalan sesuai rencana kita?
    • Apakah kita siap untuk memaafkan, bahkan saat itu sulit?

    Pekerjaan sebagai Berkat

    Minggu Biasa ke-33 [C]

    16 November 2025

    2 Tesalonika 3:7-12

    Bekerja merupakan bagian esensial dari kehidupan manusia. Kita dapat mendefinisikannya sebagai aktivitas yang membutuhkan usaha untuk menyelesaikan suatu tugas, baik itu mengumpulkan makanan, membangun rumah, atau merawat orang lain. Namun, bekerja bukanlah hal yang unik bagi manusia. Di dunia hewan, kita melihat kerja keras yang luar biasa: lebah pekerja membangun, membersihkan, dan melindungi sarang mereka, mencari nektar, bahkan mengatur suhu sarang, sementara berang-berang membangun bendungan kompleks sebagai tempat tinggal aman dan tempat penyimpanan makanan selama musim dingin.

    Meskipun kita dan hewan sama-sama bekerja, ada perbedaan mendasar. Sebagian besar hewan bekerja berdasarkan insting untuk memastikan kelangsungan hidup dan kelangsungan spesies mereka. Sementara, tujuan kita dalam bekerja bukan hanya sekedar demi kelangsungan hidup. Kita bekerja juga untuk berkembang dan membangun dunia yang lebih baik bagi diri kita sendiri dan anak-anak kita. Hal ini dimungkinkan karena anugerah unik yang kita miliki, yakni akal budi. Dengan akal budi, kita mampu memahami rahasia alam semesta, dan kemudian membangun alat, dan mengembangkan teknologi untuk memanfaatkan alam demi kebaikan bersama.

    Akal budi ini adalah anugerah fundamental dari Allah, yang diberikan kepada kita sebagai makhluk yang diciptakan menurut citra-Nya. Melalui akal budi ini, kita diberi kuasa untuk berpartisipasi dalam karya penciptaan Allah sendiri. Dalam Kejadian 1:28, Allah memerintahkan Adam dan Hawa untuk “menaklukkan” bumi. Penaklukan ini bukan izin untuk merusak, melainkan panggilan untuk menjadi pengelola yang baik. Hal ini dijelaskan lebih lanjut di Kejadian 2:15, di mana Allah menempatkan Adam di taman “untuk melayani dan menjaga taman itu.” Tugas pria dan wanita adalah menggunakan akal budi yang diberikan Allah untuk mengolah dunia sesuai kehendak-Nya—untuk kebaikan semua orang, termasuk generasi mendatang, dan melindunginya dari keserakahan dan eksploitasi manusia.

    Ketika kita bekerja dengan jujur dan tekun, kita benar-benar menjadi rekan kerja Allah dalam membangun dunia yang lebih baik. Dengan berpartisipasi dalam pekerjaan suci-Nya, usaha kita sendiri menjadi sarana pengudusan kita. Itulah mengapa Santo Paulus dengan tegas menegur orang-orang Tesalonika yang meninggalkan pekerjaan dan bergantung pada orang lain untuk penghidupan mereka (2 Tes 3:10). Kemalasan tidak memiliki tempat dalam rencana Allah; bahkan, ini termasuk di antara tujuh dosa pokok.

    Namun, kesalahpahaman tentang tujuan kerja juga menimbulkan bahaya spiritual. Ketika pekerjaan menghabiskan sebagian besar waktu dan energi kita, kita dapat mulai mengidentifikasi diri sepenuhnya dengan profesi kita. Kita menghadapi risiko untuk percaya bahwa “kita adalah apa yang kita lakukan.” Kitapun hidup dalam ketakutan kehilangan pekerjaan, keunggulan kompetitif, atau kemampuan untuk mencapai kesuksesan. Terkadang, kita bahkan tenggelam dalam pekerjaan, bersembunyi di balik gelar “pekerja yang sukses” untuk menghindari tanggung jawab lain atau bahkan untuk menyembunyikan kegagalan kita sebagai seorang suami atau ayah.

    Inilah kebijaksanaan mendalam dari istirahat Allah pada hari ketujuh (Kej 2:1-3). Allah tidak beristirahat karena lelah, tetapi untuk mencontohkan kebebasan yang harus kita klaim: kita tidak boleh menjadi budak pekerjaan kita. Identitas kita jauh lebih besar daripada profesi kita. Meskipun pekerjaan memberi makna pada hidup kita, itu bukanlah makna satu-satunya, dan tentu saja bukan makna akhir kita. Pada hari istirahat, kita diundang untuk meletakkan status, prestasi, dan kesuksesan kita, dan mengingat identitas utama kita sebagai anak-anak yang dikasihi Allah.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan untuk Refleksi:

    • Bagaimana saya memandang pekerjaan dan profesi saya? Apakah itu panggilan, sekadar pekerjaan, atau sesuatu yang lain?
    • Ketika saya takut kehilangan pekerjaan, apa sumber sebenarnya dari ketakutan itu? Apakah itu kehilangan stabilitas finansial, atau ketakutan yang lebih dalam akan kehilangan arah dan identitas saya?
    • Apakah saya benar-benar mengamalkan hari istirahat, meletakkan pekerjaan untuk terhubung kembali dengan Allah dan orang-orang terkasih, atau apakah saya membiarkan pekerjaan mengganggu waktu kudus ini?

    Basilika Santo Yohanes Lateran

    Pesta Pendirian Basilika Lateran di Roma [C]

    9 November 2025

    Yohanes 2:13-22

    Hari ini, Gereja merayakan Peresmian Basilika Santo Yohanes Lateran di Roma. Mungkin banyak dari kita tidak tahu dengan basilika ini, dan yang lain mungkin bertanya-tanya mengapa pemberkatannya dirayakan dengan begitu khidmat. Untuk memahami hal ini, kita harus kembali ke sejarah awal Gereja Katolik.

    Komunitas Kristen pertama di Roma kemungkinan didirikan sekitar tahun 33-34 M. Kisah Para Rasul menceritakan bahwa para peziarah Yahudi dari Roma hadir pada Hari Pentekosta, mendengarkan khotbah Petrus, dibaptis, dan membawa iman kembali ke ibu kota kekaisaran (Kis 2:1-42). Inilah benih Gereja di Roma. Ketika Santo Petrus sendiri tiba di sana, ia diakui sebagai pemimpin—Uskup Roma pertama.

    Selama berabad-abad, Gereja muda ini mengalami penganiayaan yang brutal. Penganiayaan pertama yang disahkan negara dimulai di bawah Kaisar Nero pada tahun 65 M, yang menyalahkan orang-orang Kristen atas kebakaran besar di Roma. Penganiayaan Nero menewaskan Rasul besar Petrus dan Paulus. Namun, penganiayaan yang paling sistematis dan kejam datang kemudian di bawah Kaisar Diocletian (303-311 M), yang memerintahkan penghancuran kitab suci, tempat-tempat suci, dan eksekusi dari anggota Gereja di seluruh kekaisaran.

    Era kegelapan ini berganti menjadi cahaya. Setelah Diocletian, kekaisaran Romawi terjerumus ke dalam perang saudara. Beberapa jenderal, termasuk Konstantinus, bertarung untuk takhta. Pada malam sebelum pertempuran di jembatan Milvian yang menentukan, pada tahun 312 M, Konstantinus melihat penglihatan salib di langit dengan kata-kata, “En Toutō Nika”—“Dalam tanda ini, engkau akan menang.” Setelah penglihatan ini, ia memerintahkan pasukannya untuk menandai perisai mereka dengan simbol Chi-Rho (☧), dua kata huruf pertama dari Kristus di dalam bahasa Yunani. Setelah kemenangan dan menjadi kaisar, Konstantinus tidak hanya mengakhiri penganiayaan terhadap umat Kristiani tetapi juga menjadi pelindung kuat bagi Gereja.

    Sebagai ungkapan syukur, ia mendonasikan tanah milik keluarga Lateran kepada Gereja. Di tanah tersebut, ia membangun basilika besar yang didedikasikan untuk Kristus Sang Penyelamat—basilika kepausan publik pertama (kemudian, basilika ini juga didedikasikan kepada Santo Yohanes Pembaptis dan Santo Yohanes Penginjil). Paus Silvester menerima hadiah ini dan menetapkannya sebagai katedralnya – tahta resmi Uskup Roma. Ini adalah pergeseran monumental: Gereja keluar dari katakombe yang tersembunyi ke ruang publik, tanda kuat akan penyelenggaraan Allah dan kemenangan iman.

    Itulah mengapa Basilika Santo Yohanes Lateran memegang gelar “Omnium Urbis et Orbis Ecclesiarum Mater et Caput”—“Ibu dan Kepala Semua Gereja di Kota dan Dunia.” Meskipun para paus memindahkan kediaman mereka ke Vatikan pada abad ke-14 setelah kebakaran, Lateran tetap menjadi katedral kota Roma. Oleh karena itu, dalam merayakan pendiriannya, kita merayakan sejati dasar Gereja Roma, Takhta Petrus, dan kemenangan Gereja Kristus atas dunia dan kejahatan.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan panduan:

    Apakah kita benar-benar menyadari sejarah yang kaya dan panjang dari Gereja kita? Apakah kita menyadari bahwa kita merupakan bagian dari keluarga Katolik yang lebih besar dan universal yang tersebar di seluruh dunia? Seberapa dalam kita hidup dalam iman kita setiap hari? Apakah kita pernah mengalami penganiayaan, ataukah kita diberkati dengan kebebasan untuk mengekspresikan iman kita secara terbuka? Apa yang kita lakukan—secara pribadi dan sebagai komunitas—untuk membantu Gereja kita tumbuh dalam iman, kasih, dan kesaksian?

    St. Yusuf dan Kematian yang Bahagia

    Peringatan Semua Arwah Orang Beriman

    2 November 2025

    Yohanes 6:37-40

    St. Yusuf, ayah angkat Yesus, dikenal sebagai teladan kudus bagi suami, ayah, dan pekerja. Namun, ia juga memiliki gelar yang jarang orang tahu: santo pelindung bagi kematian yang bahagia. Namun, apa artinya gelar ini? Bagaimana kematian, yang seringkali dipenuhi dengan ketakutan dan kesedihan, bisa dianggap bahagia?

    Untuk memahaminya, kita harus terlebih dahulu mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: Apa yang dimaksud dengan kematian yang bahagia? Apakah itu berarti dikelilingi oleh keluarga saat ajal menjemput di usia tua, dan bebas dari rasa sakit? Atau saat kita mati, kita menerima ibadat kematian yang indah di pemakaman yang terawat dengan baik? Sejatinya, kebahagiaan dan kematian tampaknya merupakan dua konsep yang tak dapat dipertemukan. Kita secara alami diciptakan untuk hidup; kita secara naluriah menolak rasa sakit dan penderitaan yang mengingatkan kita pada kematian. Jadi, bagaimana kita bisa menemukan kebahagiaan dalam kematian, sebuah peristiwa yang ditolak oleh seluruh keberadaan kita? Mencari kematian yang bahagia terasa seperti hal yang mustahil.

    Di sinilah St. Yusuf datang untuk membantu kita. Hidupnya memberikan jawaban atas teka-teki mendalam ini. Tradisi Katolik mengajarkan bahwa pada saat kematiannya, Yusuf tidak sendirian. Ia berada dalam pelukan Yesus dan Maria. Kebersamaan suci ini pada akhir hidup Yusuf merupakan puncak dari kehidupan yang dijalani dalam persekutuan yang konstan dengan Allah. Kunci kematian yang bahagia adalah hidup yang dijalani bersama Allah.

    Dalam iman Katolik, kematian adalah tindakan akhir dan menentukan dalam hidup, yang secara kekal mengukuhkan pilihan kita untuk atau melawan Allah. St. Yusuf mewakili teladan ideal: di ranjang kematiannya, ia berpaling kepada Yesus, anak angkatnya dan juga Tuhan yang maharahim, serta kepada Maria, istrinya dan juga Bunda Allah. Kematiannya bahagia karena Yesus yang ia peluk dengan napas terakhirnya adalah Yesus yang sama yang menyambutnya ke dalam kebahagiaan abadi surga.

    Namun, St. Yusuf tidak hanya hanya mengajarkan tentang bagaimana menghadapi kematian, tetapi secara mendasar bagaimana kita hidup. Injil menggambarkannya sebagai “orang yang benar” (Mat 1:19). Seluruh hidupnya adalah “ya” yang setia kepada Allah. Sebuah pengabdian kepada kehendak Allah yang seringkali membawa Yusuf pada penderitaan. Ia menghadapi ketidakpastian, pengasingan, dan kesulitan demi keluarga yang dipercayakan kepadanya. Karena ia menghabiskan hidupnya mencari Tuhan dalam setiap keadaan, maka sangat alamiah baginya untuk mencari Yesus pada saat terakhirnya. Kematiannya yang baik adalah buah dari hidup yang setia.

    Saat kita berdoa untuk orang-orang terkasih yang telah meninggal, Santo Yusuf memberikan kita harapan yang mendalam. Ia mengingatkan kita bahwa bagi mereka yang hidup dengan setia bersama Kristus, kematian tidak menghancurkan kehidupan tetapi menyempurnakannya. Kematian bukan akhir, tetapi gerbang menuju sukacita yang tak terpadamkan. Inilah kematian yang bahagia.

    Santo Yusuf, pelindung kematian yang bahagia, doakanlah kami!

    Rome

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan Panduan untuk Refleksi:

    Apakah kita menumbuhkan kehidupan bersama Kristus yang mempersiapkan kita untuk menghadapi kematian dengan damai? Apakah kita melihat kematian sebagai akhir yang menakutkan, atau sebagai jalan menuju kehidupan abadi? Dalam pilihan-pilihan harian kita, apakah kita membangun kebiasaan untuk berpaling kepada Yesus, seperti yang dilakukan Yusuf? Apakah kita mencari perantaraan Santo Yusuf, memintanya untuk berdoa bagi kematian yang suci bagi diri kita sendiri dan bagi semua yang paling membutuhkannya?

    Salib yang Menyembuhkan

    Pesta Salib Suci [C]

    14 September 2025

    Yohanes 3:13-17

    Salib adalah simbol universal Kristiani. Orang-orang Kristen mengenakannya sebagai bentuk perhiasan, seperti kalung, cincin, dan anting-anting, baik sebagai tanda devosi atau iman, maupun sekadar sebagai fashion. Gereja, dan berbagai institusi Kristiani memiliki salib sebagai penandanya. Namun, meskipun kita mungkin sudah familiar, sejarah dan makna mendalam salib sering kali diabaikan.

    Pesta Salib Suci [C]
14 September 2025
Yohanes 3:13-17

Salib adalah simbol universal Kristiani. Orang-orang Kristen mengenakannya sebagai bentuk perhiasan, seperti kalung, cincin, dan anting-anting, baik sebagai tanda devosi atau iman, maupun sekadar sebagai fashion. Gereja, dan berbagai institusi Kristiani memiliki salib sebagai penandanya. Namun, meskipun kita mungkin sudah familiar, sejarah dan makna mendalam salib sering kali diabaikan.

    Secara historis, salib bukanlah simbol keagamaan, melainkan alat teror. Salib adalah metode eksekusi Romawi yang ditujukan untuk penjahat dan pemberontak. Orang yang dihukum akan ditelanjangi, dipaku pada tiang kayu besar, dan dibiarkan mati perlahan, secara publik, terpapar elemen alam dan juga hujatan. Itu adalah simbol kekejaman dan kebengisan manusia. Inilah siksaan yang dialami Yesus.

    Namun, Yesus tidak melarikan diri dari salib-Nya. Ia menerimanya, dan melalui kebangkitan-Nya, Ia mengubah salib dari alat penyiksaan menjadi sarana belas kasihan dan penyembuhan Allah. Dalam Injil, Yesus sendiri membuat hubungan tipologis antara salib-Nya dan ular tembaga yang diangkat oleh Musa di Buku Bilangan (Bil 21). Sama seperti orang-orang Israel yang tersengat ular dan memandang ular tembaga disembuhkan, semua yang memandang salib Yesus dengan iman akan diselamatkan dari maut.

    Hal ini membawa kita pada pertanyaan mendalam: bagaimana salib menyembuhkan kita?

    Pertama, salib menyembuhkan melalui kasih. Ketika kita memandang salib, kita melihat bukti kasih Allah yang paling luhur: Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi manusia, dan menyerahkan diri-Nya sebagai korban demi mendamaikan kita dengan-Nya. Seperti yang ditulis Santo Paulus, “Tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, karena ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rom 5:8).

    Setiap dosa melukai jiwa kita dan memisahkan kita dari Allah. Setiap  kali kita melihat salib Kristus, ini menjadi panggilan permanen akan kasih Allah untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Dan rahmat perdamaian dan penyembuhan dari Salib mengalir kepada kita terutama melalui Baptisan dan Sakramen Rekonsiliasi.

    Kedua, salib menyembuhkan melalui kehadiran Allah. Salib menunjukkan bahwa Allah bukanlah ilah yang jauh, terpisah dari penderitaan kita. Ia memilih untuk menjadi salah satu dari kita, untuk berbagi pengalaman manusiawi kita dengan segala penderitaannya. Di salib, Yesus menerima penderitaan manusia yang paling berat, menunjukkan bahwa ketika kita menyatukan penderitaan kita dengan-Nya, salib kita sendiri dapat diubah dan disembuhkan.

    Ketika penderitaan menimpa kita, mudah untuk mengeluh dan putus asa. Tetapi salib mengingatkan kita bahwa kita tidak sendirian. Sama seperti Yesus menggunakan penderitaan-Nya untuk menjadi berkat bagi dunia, kita pun dapat menawarkan penderitaan kita kepada Allah dan menjadi sumber kekuatan dan belas kasihan bagi orang lain.

    St. Fransiskus dari Assisi pernah mencari kemuliaan sebagai seorang ksatria. Setelah ditangkap dalam pertempuran dan jatuh sakit parah, ia pulih secara fisik tetapi masih merasa kekosongan rohani. Segalanya berubah saat ia berdoa di sebuah kapel yang rusak. Ia melihat penglihatan Yesus di salib, yang berkata kepadanya, “Fransiskus, pergilah dan perbaiki rumah-Ku yang sedang runtuh.” Momen ini memberikan penyembuhan sejati yang dibutuhkan Fransiskus, membantunya menemukan jati dirinya dan apa yang seharusnya ia lakukan, yaitu menjadi alat Tuhan untuk damai dan penyembuhan.

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan panduan:

    Apa salib-salib dalam hidup kita? Bagaimana salib Yesus menyembuhkan kita? Apakah kita menjadi sarana penyembuhan Tuhan bagi orang lain juga? Bagaimana caranya?