Abu

Rabu Abu 2018 [14 Februari 2018] Matius 6: 1-6, 16-18

pope francis ashesRabu Abu adalah awal dari Masa liturgi Pra-paskah di Gereja Katolik. Nama ini berasal dari tradisi kuno di mana setiap orang Katolik yang menghadiri misa pada hari ini akan menerima tanda salib abu di dahinya. Abu ini biasanya berasal dari daun palma yang telah diberkati pada Minggu Palma tahun sebelumnya, dan kemudian dibakar.

Mengapa  harus abu? Apakah ini sesuai dengan Kitab Suci? Dalam Alkitab, abu (atau debu) melambangkan kemanusiaan kita yang fana dan rapuh. Kita ingat bagaimana Tuhan menciptakan manusia dari debu bumi (Kej 2:7). Dan, ketika Adam jatuh dalam dosa, Tuhan mengingatkan kembali Adam akan kemanusiaannya yang fana, “Sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu (Kej 3:19).” Karena dosa, kematian masuk ke dalam hidup manusia, dan membawa Adam dan semua keturunannya kembali ke tanah. Jadi, ketika seorang imam menandai dahi kita dengan abu, kita diingatkan tentang siapa diri kita sesungguhnya. Kita adalah manusia, dan hanya mengandalkan kekuatan dan kemampuan kita sendiri, terlepas dari segala kesuksesan dan keberhasilan, kita akan mati dan kembali ke bumi.

Abu juga merupakan tanda kerendahan hati dan pertobatan. Setelah Yunus bernubuat, orang-orang Niniwe kemudian bertobat, dan sebagai bentuk pertobatan, mereka memakai kain kabung dan duduk di atas abu (Yun 3: 5-6). Di bawah pimpinan Nehemia, warga Yerusalem berkumpul dan meminta pengampunan dari Tuhan. Mereka semua berkumpul “sambil berpuasa dan memakai kain kabung, kepala mereka tertutup debu (Neh 9: 1).” Hal ini menjelaskan mengapa imam mengatakan, “bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” saat menandai kita dengan abu. Sama seperti bangsa Israel di masa lalu, abu ini adalah tanda dan ajakan bagi kita untuk mengubah hidup kita dan memohon belas kasih dan pengampunan dari Tuhan.

Salib abu adalah tanda kemanusiaan kita yang terbatas. Namun, abu ini juga adalah simbol kekuatan sejati dan sukacita kita. Ketika kita menyadari dan mengakui bahwa kita hannyalah abu di tangan Tuhan, inilah juga saat kita menjadi sekali lagi benar-benar hidup. Salib abu berubah menjadi momen penciptaan kembali bagi kita. Sama halnya seperti Tuhan yang menghembuskan roh-Nya pada manusia pertama yang terbuat dari debu, Tuhan juga menghembuskan rahmat-Nya kepada kita yang mengakui bahwa kita adalah debu, bahwa kita tidak berdaya tanpa Dia. Dengan rahmat-Nya, kita menjadi benar-benar hidup karena kita sekarang mengambil bagian dalam hidup Tuhan. St. Paulus berkata, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku (Gal 2:20).” Debu menjadi sebuah paradoks kepenuhan hidup.

Terkadang, abu membawa kita pada suasana sedih dan suram karena kita mulai menyadari dosa dan kelemahan kita. Karena kita menjalankan pantang dan puasa pada hari ini, kita juga merasa lapar dan lesu. Namun, kita tidak boleh berhenti di situ saja. Salib abu yang sejati harus membawa kita kepada Injil, yang adalah Kabar Baik. Saat kita bertobat, kita menghapus semua hal yang membebankan dan menjauhkan kita dari Tuhan. Kita menjadi sekali lagi ringan dan energetik. Saat kita menyerahkan diri kita kepada Tuhan, yang adalah sumber kehidupan, kita tidak bisa tidak menjadi hidup dan penuh dengan sukacita. Ini adalah abu yang membawa kita kepada Injil, sukacita Injil. Ini adalah Kabar Baik karena kita sekarang telah diselamatkan!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Come and Experience!

Second Sunday in the Ordinary Time [January 14, 2018] John 1:35-42

They said to him, “Rabbi, where are you staying?” He said to them, “Come and see.”  (Jn 1:38-39)

children praying
photo by Harry Setianto Sunaryo, SJ

In the Gospel of John, we will not discover the word “apostle” or one who is sent to preach the Gospel. John the Evangelist consistently calls those who faithfully gather around Jesus as the disciples. Why so? Perhaps, John the Evangelist wants to show us that the most important and fundamental aspect of being a follower of Jesus is truly to be a disciple.

What is a disciple in the time of Jesus? We usually understand a student as one who studies at a particular school with its buildings, facilities and system of learning. Like Br. Bayu is a student of the University of Santo Tomas, and every Monday to Friday, he has to attend classes at the Manila campus. I am expected to learn particular knowledge, like the theology of St. Paul or master certain skills like preaching. At the end of the semester, I need to pass the exams in order to prove that I have learned those set of knowledge or skills. If I fail, I have to take a remedial or retake the subject all over again. Surely, this is a simplistic way of imagining learning in our time, but if we want to be a disciple in the time of Jesus, we have to enter a different world.

When Andrew and Peter become the disciples of Jesus, it does not mean that they will attend lectures of Jesus. They literally follow Jesus wherever Jesus goes. That is why the first question Andrew asks is not how much the tuition fee is or what lesson Jesus will impart, but rather “Rabbi, where are you staying?” because it is clear in the mind of Andrew that if he wants to become a disciple, he has to follow Jesus literally for 24 hours a day, seven days a week. He is going to walk where Jesus goes, eat what Jesus eats, to sleep where Jesus lays His head, to experience what Jesus experiences, the joy, sadness, the suffering, and resurrection! Learning then is not simply about gaining knowledge or skills, but it is about sharing life, giving and receiving life.

It is interesting also to note that Jesus’ response to Andrew is oft-quoted “come and see”, yet in some ancient Greek manuscripts the words used are “erkesthe kai opheste ”. If they are translated literally, it sounds like “come and experience!” To become a disciple is to experience the life of Jesus, to experience Jesus Himself. Surely, it is a total experience of Jesus. Thus, the end of learning is not the grades, but a new life in the likeness of Jesus, the Master. It is the imitation of Christ in the real sense.

However, to become this kind of disciple, the price is also extremely high. To follow and experience Jesus’ life, we need to give up our lives. A life for life. We cannot be the disciples of Jesus only 8 AM to 3 PM, but the rest of the day, we are free.  We cannot say that we are disciples of Jesus when we are at the Church only, but not in the workplaces and homes. We become like Jesus both in good times and bad times. The questions now are: Are we willing to sacrifice our old lives? Are we ready to follow Jesus day and night? Are we making our full effort to become like Christ?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno , OP

Datanglah dan Alamilah!

Minggu di Biasa ke-2 [14 Januari 2018] Yohanes 1:35-43

“Kata mereka kepada-Nya: ‘Rabi, di manakah Engkau tinggal?’ Ia berkata kepada mereka, ‘Datang dan lihatlah.”  (Yoh 1: 38-39)

children praying - bnw
photo by Harry Setianto Sunaryo, SJ

Dalam Injil Yohanes, kita tidak akan menemukan kata “rasul” atau seseorang yang diutus untuk memberitakan Injil. Yohanes Penginjil secara konsisten memanggil orang-orang yang dengan setia mengikuti Yesus sebagai seorang murid. Kenapa demikian? Mungkin, Yohanes penginjil ingin menunjukkan kepada kita bahwa aspek terpenting dan mendasar dari menjadi pengikut Yesus adalah benar-benar menjadi seorang murid.

Apa artinya menjadi murid di zaman Yesus? Kita biasanya memahami bahwa seorang murid sebagai orang yang belajar di sekolah tertentu yang dilengkapi dengan bangunan, fasilitas dan sistem pembelajarannya. Seperti Frater Bayu adalah murid di Universitas Santo Tomas, dan setiap hari Senin sampai Jumat, dia harus menghadiri kelas di kampus Manila. Saya diharapkan untuk memahami ilmu teologi, seperti teologi St. Paulus atau menguasai keterampilan khusus seperti berkhotbah. Pada akhir semester, saya diharuskan lulus ujian untuk membuktikan bahwa saya telah menguasai ilmu atau keterampilan yang diharapkan. Jika saya gagal, saya harus mengambil ujian ulang atau mengulang kembali mata kuliah yang gagal. Tentunya, ini adalah cara sederhana untuk membayangkan sistem pembelajaran di zaman kita, tetapi jika kita ingin menjadi murid pada masa Yesus, kita harus memasuki dunia yang berbeda.

Ketika Andreas atau Petrus menjadi murid Yesus, ini tidak berarti bahwa mereka akan menghadiri kelas-kelas yang diadakan Yesus. Mereka benar-benar mengikuti Yesus ke manapun Yesus pergi. Itulah sebabnya pertanyaan pertama yang diajukan Andreas bukan berapa biaya kuliah atau pelajaran apa yang akan diberikan Yesus, melainkan “Rabi, di manakah Engkau tinggal?” Karena jelas di dalam benak Andreas bahwa jika dia ingin menjadi seorang murid, dia harus mengikuti Yesus secara penuh, 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Mereka akan berjalan ke tempat Yesus pergi, makan apa makanan yang Yesus makan, tidur di mana Yesus meletakkan kepala-Nya, mengalami semua yang Yesus rasakan, sukacita, kesedihan, penderitaan dan kebangkitan! Belajar kemudian bukan hanya tentang mendapatkan pengetahuan atau keterampilan, tapi juga tentang berbagi hidup, memberi dan menerima kehidupan.

Menarik juga untuk dicatat bahwa tanggapan Yesus terhadap Andreas adalah “come and see” atau “datang dan lihatlah”, namun jika kita kembali ke teks Yunani kuno, kata yang digunakan adalah “erkesthe kai opheste”. Jika diterjemahkan secara harfiah, ini adalah “datang dan alamilah!” Untuk menjadi murid adalah mengalami kehidupan Yesus, untuk mengalami Yesus sendiri. Tentunya, ini adalah pengalaman total tentang Yesus. Dengan demikian, akhir pembelajaran bukanlah nilai, melainkan kehidupan baru dan sungguh menjadi citra Yesus, sang Guru. Ini adalah mengikuti Kristus dalam arti sebenarnya.

Namun, untuk menjadi murid semacam ini, tidaklah mudah. Untuk mengikuti dan mengalami kehidupan Yesus, kita harus menyerahkan hidup kita. Hidup untuk hidup. Kita tidak bisa menjadi murid Yesus hanya dari jam 8 pagi sampai 5 sore, tetapi setelah itu, kita bebas. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita adalah murid Yesus ketika kita berada di Gereja saja, tapi bukan murid-Nya di tempat kerja dan rumah. Kita menjadi murid Yesus pada saat-saat indah maupun masa-masa sulit. Pertanyaannya sekarang adalah: Apakah kita bersedia mengorbankan kehidupan lama kita? Apakah kita siap untuk mengikuti Yesus siang dan malam? Apakah kita berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi seperti Kristus?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Challenging Our Image of God

28th Sunday in Ordinary Time. October 15, 2017 [Matthew 22:1-14]

“Go out, therefore, into the main roads and invite to the feast whomever you find!” (Mat 22:1)

made-in-the-image-of-godJesus is already in Jerusalem. The confrontations between Jesus and the Jewish authorities have turned bitter, and Jesus is approaching His final days on earth. With this context, the parable may be understood easily. The invited guests stand for some elite Israelites who refuse Jesus, and thus, reject God Himself. The burning of their towns and cities may point to the invasion of the Roman Empire and the destruction of Jerusalem in 70 AD. The commoners who are later invited represent the people from all nations who accept Christ. Yet, some people who are already at the Wedding banquet do not wear the expected wedding garment. This proper dress decorum is a basic sign that the guests are honoring the host, and also becomes the symbol of our faith, our good works and our holy lives. For those who fail to honor the King through their garment are thrown out from the banquet.

At that level, the parable is indeed easy to comprehend. We are called not to imitate the example of some elite Israelites but to receive eagerly God’s invitation. As to the wedding garment, we are also expected to live out our faith to the fullest. However, something continues to bother me within this interpretation. It presents a conflicting image of a king that is authoritarian and vengeful and a king who is exceptionally generous, seen in his persistence to invite his first set of guests, and his openness to accept the ordinary people. As to the first image, he exacts his justice in violent ways. Like any king in ancient times, he will destroy the people who dishonor him, to the point of burning their towns or throwing them into darkness. If we are not careful enough, we may identify this king with our image of God. We may believe that our God is a God who rewards the good and punishes the wrongdoers even with severe and violent ways. He is easily offended by simple mistakes, and is not compassionate enough as to give a second chance.

We remember that we are created in the image of God. Now if we have this kind of vindictive and unforgiving God, then we gradually behave like that image of violent God. In the Philippines, where the majority are Christians, the killings of alleged criminals are in steady rise. Surprisingly, some people seem to approve it and even happy with this bloody happenings. This attitude might be a reflection of our image of God that is vengeful and violent.

This kind of God’s image may manifest also in more subtle ways. Despite their sincere apology, it is difficult to forgive a friend who has hurt us, a husband who has betrayed us, or a boss who has acted unjustly. As husband and father, we act like a supreme leader, and refuse to listen to our wives and other family members. As priests, religious sisters, or lay leaders, we think that we are always right and do not accept any correction. We focus on the weakness of others, rather than their struggles to become better. Instead helping them to rise from their failures, we ridicule them and enjoy gossiping about them. These are some instances that we are influenced by the false image of God. This kind of image is only preventing our growth in faith, but also destroying our healthy relationship with others.

I believe that some asects of the parable remain true and relevant, like God’s radical openness to all people, and our faith that has to be lived fully. Yet, in more profound level, the parable challenges our false image of god, the god who is vindictive and violent. It invites us to rediscover God’s image in the person of Jesus who loves us to the end, and dies so that we may live.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sang Raja dan Citra Allah

Hari Minggu Biasa ke-28 [15 Oktober 2017] Matius 22: 1-14

Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu!” (Mat 22:9)

king's banquetYesus sudah berada di Yerusalem. Konfrontasi antara Yesus dan pemimpin bangsa Yahudi semakin memanas. Yesus pun mendekati hari-hari terakhir-Nya. Dengan konteks ini, perumpamaan hari ini tidak terlalu sulit untuk kita pahami. Tamu yang diundang mewakili elit Israel yang menolak Yesus, dan dengan demikian, menolak Allah sendiri. Pembakaran kota mungkin mengarah pada invasi Kekaisaran Romawi dan penghancuran Yerusalem pada tahun 70 Masehi. Orang-orang biasa yang kemudian diundang dan datang, mewakili orang-orang dari semua bangsa yang menerima Kristus. Namun, beberapa orang yang sudah ada di pesta pernikahan tidak memakai baju pernikahan yang diharapkan.  Pakaian yang tepat menjadi pertanda bahwa para tamu menghormati sang tuan rumah, dan juga ini menjadi simbol iman, perbuatan baik dan kehidupan kudus kita. Bagi mereka yang gagal menghormati Raja melalui pakaian mereka akan diusir dari perjamuan.

Pada tahapan ini, perumpamaan ini memang mudah untuk dipahami. Kita dipanggil untuk tidak meniru beberapa elit Israel yang menolak Yesus, tapi untuk menerima undangan Allah dengan penuh suka cita. Mengenai pakaian yang layak, kita juga diharapkan bisa menghidupi iman kita sepenuhnya. Namun, ada sesuatu yang terus mengganjal dalam hati saya. Apakah itu? Penafsiran ini menyajikan dua citra Raja yang bertentangan. Di satu sisi, sang raja sangat murah hati, gigih untuk mengundang para tamunya, dan terbuka untuk menerima orang-orang biasa. Tapi, di sisi lain, dia adalah raja yang otoriter dan menuntut keadilannya dengan cara-cara kekerasan. Seperti raja di zaman dahulu, dia akan menghancurkan orang-orang yang mencemarkan nama baiknya, sampai-sampai membakar kota mereka atau melemparkan mereka ke dalam kegelapan. Jika kita tidak cukup hati-hati, kita bisa mengidentifikasi raja ini dengan citra Allah yang kita miliki. Kita mungkin mulai percaya bahwa Allah kita adalah Allah yang suka menghukum orang-orang yang jahat bahkan dengan cara-cara yang keras. Dia adalah Allah mudah tersinggung oleh kesalahan-kesalahan sederhana, dan tidak berbelas kasih untuk memaafkan.

Kita ingat bahwa kita diciptakan menurut citra Allah. Sekarang jika kita memiliki Allah yang pendendam dan tak kenal ampun, kita secara tidak sadar berperilaku seperti citra Allah yang penuh kekerasan ini. Di Filipina, di mana mayoritas adalah orang Katolik dan Kristen, pembunuhan tanpa proses hukum terhadap para terduga kriminal meningkat dengan tajam. Anehnya, beberapa orang tampaknya menyetujui dan bahkan senang dengan kejadian berdarah ini. Sikap ini mungkin merupakan cerminan dari citra Allah yang penuh dendam dan kekerasan.

Citra Allah semacam ini bisa mempengaruhi kita juga dengan cara yang lebih halus. Meskipun sudah minta maaf secara tulus, sulit bagi kita untuk memaafkan seorang teman yang telah menyakiti kita, suami yang telah mengkhianati kita, atau atasan yang telah bertindak tidak adil. Sebagai seorang ayah dan suami, kita bertindak otoriter dan bahkan tak mau mendengarkan pendapat anggota keluarga lain. Sama halnya dengan pastor, suster, atau atasan yang bertindak sendiri tanpa mau menerima koreksi. Terkadang, Kita fokus pada kelemahan orang lain, dan bukan pada usaha mereka untuk menjadi lebih baik. Dari pada membantu mereka bangkit dari kegagalan mereka, kita memilih untuk menertawakan mereka dan membuat gosip. Citra Allah seperti ini hanya menghambat pertumbuhan iman kita, tapi juga merusak hubungan kita yang sehat dengan sesama.

Saya percaya bahwa beberapa aspek perumpamaan tetap benar dan relevan, seperti keterbukaan radikal Allah bagi semua orang, dan iman kita yang harus dihidupi sepenuhnya. Namun, dalam tahapan yang lebih mendalam, perumpamaan ini menantang citra Allah kita yang tidak benar, seperti Allah yang penuh dendam dan kekerasan. Injil mengundang kita untuk menemukan kembali citra Allah di dalam pribadi Yesus yang mengasihi kita sampai akhir, dan mati agar kita bisa hidup.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Good Intention

26th Sunday in Ordinary Time. October 1, 2017 [Matthew 21:28-32]

“Which of the two did his father’s will?”  (Mat 21:31)

two_sonsThe road to hell is paved with good intentions. This old proverb attributed to St. Bernard of Clairvaux may sound rather morbid and threatening, but the truth remains. If we have only good intentions, marvelous plans, or great designs, but we never lift a finger to begin the first step, nothing will happen. We want to focus on our study, yet we are distracted by Facebook’s status and newsfeeds, our online chatting, or endless videos in YouTube, we will not make any progress. We wish to accomplish a lot of works, but our attentions and energy are consumed by so many other concerns. Then, our wish stays a wish.

The parable Jesus shares this Sunday speaks of a good intention or ‘yes’ that can be completely useless if it does not materialize in concrete actions. Yet, more than achieving the highest productivity, the parable teaches us some more primordial truth. At the end of the parable, Jesus asks the Jewish elders, “Which of the two did his father’s will?” The parable teaches us about doing the Father’s will.

From the two sons, we learn that doing God’s will can be tough and demanding. Once I had an exposure with poor farmers in Indonesia. I was staying with a family who tilled their own small and almost barren land, and every morning, they went to the field and make sure that their plants were still alive. Part of my exposure was that I had to help them. Used to the comfort of seminary life, I barely lasted for an hour working under the scorching summer heat, and then rested the entire day while looking at the family working so hard. I imagine that the two sons in the parable are aware of the challenges that they will endure working at the vineyard, and it is expected that the resistance will build up. The first son immediately declines his father’s wish, while the second son says yes.

We might wonder why the second son changes his mind. Perhaps, he has no plan to work there, and what he says is utter lie and deception. Yet, I tend to believe that he has actually a good intention to fulfill his duty, but he is discouraged by the looming hardship he will face in vineyard, and ends up doing nothing at all. Perhaps many of us are like this second son. We intend to help more our Church, yet we are always late going to the Mass, complaining about the priest’s homily, and not participating in the various activities or organizations in the parish. We wish to give glory to God, yet our lives do not manifest a good Christian life as we indulge in gossiping, are envious with other members of the Church, and become choosy in our services. No wonder for some, the Church feels like hell!

We remember that these two men are the sons of the vineyard’s owner and thus, the vineyard essentially belongs to them. If they refuse to work, they will lose their vineyard. The poor family where I stayed for exposure, were working extremely hard despite many difficulties. I realize that all this they did because their small land was what gave them life. Doing God’s will is often challenging, yet in the end, it is for our good. I believe it is not too late to act on our good intentions, and from the second son, we transform into the first son. We are working in the Lord’s vineyard because the vineyard is also ours.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Niat baik

Minggu Biasa ke-26 [1 Oktober 2017] Matius 21: 28-32

Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” (Mat 21:31)

working-landSt. Bernardus dari Clarivaux pernah berpendapat bahwa Jalan menuju neraka dibuat dengan niat baik. Ucapannya mungkin terdengar agak mengerikan, tapi dia berbicara sebuah kebenaran. Jika kita hanya memiliki niat baik atau rencana yang luar, tapi kita tidak pernah bergerak untuk memulai langkah pertama, tidak akan terjadi apa-apa. Kita ingin fokus pada pendidikan kita, namun kita terus terganggu oleh status di Facebook, Online chat, atau menonton ribuan video di YouTube, maka kita tidak akan membuat kemajuan. Kita ingin menyelesaikan banyak pekerjaan di tempat kerja, tapi perhatian dan energi kita terkonsumsi oleh begitu banyak hal-hal lain. Maka, niat baik kita tetaplah sebuah niat.

Perumpamaan pada hari Minggu ini berbicara tentang niat baik yang sama sekali tidak berguna jika tidak terwujud dalam tindakan nyata. Namun, lebih dari sekedar mencapai produktivitas, perumpamaan tersebut mengajarkan kita sebuah kebenaran yang lebih primordial. Di akhir perumpamaan ini, Yesus bertanya kepada para penatua bangsa Yahudi, Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Perumpamaan ini mengajarkan kita tentang melakukan kehendak Bapa.

Dari kedua anak tersebut, kita belajar bahwa melakukan kehendak Tuhan bisa menjadi sangat sulit dan penuh tuntutan. Saya pernah menjalani program “live-in” dengan keluarga petani di Wonosari, Yogyakarta. Saya tinggal dengan keluarga yang menggarap tanah mereka yang kecil dan terkesan tandus. Setiap pagi, mereka pergi ke ladang dan memastikan tanaman mereka masih hidup. Tugas saya adalah membantu mereka di ladang. Namun, karena terbiasa dengan kehidupan seminari, saya hanya mampu bertahan selama satu jam bekerja di bawah terik matahari, dan kemudian hanya beristirahat sambil melihat keluarga ini bekerja sangat keras. Saya membayangkan bahwa kedua anak dalam perumpamaan ini mengetahui bekerja di kebun anggur tidaklah mudah, dan mereka tidak menyukai hal ini. Anak pertama segera menolak keinginan ayahnya, sementara anak kedua mengatakan ya, namun tidak jadi berangkat.

Kita mungkin bertanya-tanya mengapa anak kedua berubah pikiran. Mungkin, dia tidak punya rencana untuk bekerja di sana, dan apa yang dia katakan adalah kebohongan belaka. Namun, saya cenderung percaya bahwa sebenarnya dia memiliki niat baik untuk memenuhi tugasnya, namun dia berkecil hati setelah membayangkan kesulitan yang akan dia hadapi di kebun anggur, dan akhirnya tidak melakukan apa-apa. Mungkin banyak dari kita yang seperti anak kedua ini. Kita ingin membantu lebih banyak Gereja kita, namun kita selalu terlambat menghadiri misa, mengeluh tentang homili pastor, dan tidak berpartisipasi dalam berbagai kegiatan atau organisasi di paroki. Kita ingin memuliakan Tuhan, namun hidup kita tidak mencerminkan kehidupan seorang Kristiani yang baik karena kita menikmati gosip, iri dengan anggota Gereja lainnya, dan  pilih-pilih dalam pelayanan kita. Tak heran bagi beberapa orang, Gereja terasa seperti neraka!

Kita ingat bahwa kedua orang ini adalah anak dari pemilik kebun anggur dan dengan demikian, kebun anggur itu sejatinya adalah milik mereka. Jika mereka menolak bekerja, mereka akan kehilangan kebun anggur mereka. Keluarga petani tempat saya tinggal beberapa waktu, bekerja sangat keras meski mengalami banyak kesulitan. Saya menyadari bahwa semua ini mereka lakukan karena tanah mereka yang kecil memberi mereka kehidupan. Melakukan kehendak Tuhan sering kali penuh kesulitan, namun pada akhirnya, semua untuk kebaikan kita. Saya percaya tidak terlambat untuk mewujud nyatakan niat baik kita, dan dari anak kedua, kita bisa berubah menjadi anak pertama. Kita bekerja di kebun anggur Tuhan karena kebun anggur itu adalah milik kita juga.

Frater. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Dialogue of Truth

Sunday of Advent. December 11, 2016 [Matthew 11:2-11]

 “Are you the one who is to come, or should we look for another? (Mat 11:3)”

dialogue The truth is born out of a conversation. Genuine conversation is coming from our ability to listen. And listening to one another is not easy because it presupposes great humility. The turning point of St. Dominic de Guzman, the founder of the Order of Preachers, was inside the pub. He had an overnight conversation with the innkeeper, an Albigensian whose religion denied the goodness of creation. This long yet open dialogue did not only bring the innkeeper back to the Catholic faith, but also led Dominic to discover his mission in life. This encounter revealed the truth both for the innkeeper and Dominic.

Unfortunately, not everyone is trained to listen. Not everybody is humble enough to open their minds and heart to vast possibilities the truth offers. Not many have the endurance and perseverance to involve in long and tedious dialogue. We rather shut out ears and minds. We prefer to stay in our comfortable yet small world. Then, we are suspicious of those who are different from us. We even become violent towards those who initiate the conversation of truth with us.

Last week, we listened to John who preached the truth and invited people to conversion. Today, we discover that John was already in jail. He was imprisoned apparently because some people did not like to listen to what John said. These people did not want to be disturbed by the truth, and thus, they decided to silence John. I guess that situation is just not much different nowadays. Those who are able to listen and converse, simply come up with instant yet deadly solutions. Those who try to begin a dialogue of truth in social media immediately fall victims into online buzzing and bullying. In more serious situations, people involved in crimes and corruptions try to bribe, threaten or even kill those who begin to speak the truth. Pierre Claverie, OP, bishop of Oran in Algeria, dedicated his life in dialogue with his Muslim brothers and sisters, yet eventually he was murdered by the terrorists who hated his effort in building peace and harmony in Algeria.

In a dialogue of truth, we need to learn from John. In the prison, he was in doubt because Jesus was not behaving like the expected Messiah. Perhaps like other Jews, John also expected a Messiah who was a military and political leader, or perhaps he wanted a Messiah that dealt severely with sinners and outlaws. Jesus simply did not meet his standards. Yet, instead shutting down the possibilities and dealing with his own problems, he opened the conversation with Jesus through his disciples. Jesus graciously answered him by giving some concrete evident of His identity as the Messiah. Jesus also unlocked the new paradigm that helped John unearthed a more profound truth. The truth that set John free from his self-imprisonment.

The season of Advent invites us to this dialogue of truth. We are invited to be more listening to our family members even to the youngest member. We are challenged not to immediately condemn those people who have a different opinion with us but to find the truth in them. St. Thomas Aquinas always included the arguments of those who had opposing views because he believed that there were grains of truth in them as well as they sharpened his own position. It is time for us go out from our small and solitary world and to seek the vast and spacious truth. The Truth that liberates us.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Dialog Kebenaran

Minggu Advent ketiga. 11 Desember 2016 [Matius 11: 2-11]

 “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain? (Mat 11:3)

dialogue

Kebenaran terlahir dari sebuah percakapan, dan percakapan sejati berasal dari kemampuan kita untuk mendengarkan. Dan mendengarkan satu sama lain bukanlah hal mudah karena membutuhkan kerendahan hati. Titik balik dari St. Dominikus de Guzman, pendiri Ordo Pengkhotbah, adalah ketika ia berada di dalam penginapan dan kedai. Dia berdialog semalam suntuk dengan pemilik penginapan, yang adalah seorang Albigensian, sebuah agama yang menolak kebaikan ciptaan. Dialog panjang, melelahkan namun terbuka ini tidak hanya membawa pemilik penginapan itu kembali ke iman Katolik, tetapi juga membawa Dominikus untuk menemukan misi hidupnya. Pertemuan ini mengungkapkan kebenaran baik bagi pemilik penginapan maupun Dominikus.

Sayangnya, tidak semua orang dididik untuk mendengarkan. Tidak semua orang cukup rendah hati untuk membuka pikiran dan hati mereka untuk sebuah kemungkinan baru yang kebenaran tawarkan. Tidak banyak yang memiliki daya tahan dan ketekunan untuk terlibat dalam dialog panjang dan membosankan. Kita terkadang menutup telinga dan pikiran. Kita lebih memilih untuk tinggal di dunia kita yang nyaman tetapi kecil. Kemudian, kita menaruh curiga kepada orang-orang yang berbeda dari kita, yang mencoba membawa kita ke dunia yang lebih besar. Kita bahkan menggunakan kekerasan terhadap mereka yang memulai dialog kebenaran dengan kita.

Minggu lalu, kita mendengarkan Yohanes yang memberitakan kebenaran dan mengajak orang-orang untuk bertobat. Hari ini, kita mendengar bahwa Yohanes sudah berada di penjara. Ia dipenjarakan mungkin karena beberapa orang tidak suka mendengarkan apa yang ia katakan. Orang-orang ini tidak ingin diganggu oleh kebenaran, dan dengan demikian, mereka memutuskan untuk membungkam Yohanes. Saya kira situasi yang tidak jauh berbeda terjadi juga saat ini. Mereka yang mencoba untuk memulai dialog kebenaran di media sosial langsung menjadi korban intimidasi dan ‘bullying’ secara online. Dalam situasi yang lebih serius, orang yang terlibat dalam kejahatan dan korupsi mencoba untuk menyuap, mengancam atau bahkan membunuh mereka yang mulai berbicara kebenaran. Pierre Claverie, OP, uskup Oran di Algeria, mendedikasikan dirinya dalam dialog persahabatan dengan kaum Muslim, namun akhirnya ia dibunuh oleh para teroris yang membenci usaha-usahanya dalam membangun perdamaian dan harmoni.

Dalam dialog kebenaran, kita perlu belajar dari Yohanes. Di dalam penjara, dia ragu-ragu karena Yesus tidak berperilaku seperti Mesias yang diharapkan. Mungkin seperti orang Yahudi lainnya, Yohanes juga berharap Mesias yang adalah seorang jendral militer dan pemimpin politik, atau mungkin ia ingin Mesias dapat menghadapi orang-orang berdosa dengan tegas seperti dirinya. Yesus tidak memenuhi standar Yohanes. Namun, bukannya menutup kemungkinan dan terus berpegang teguh pada pendiriannya, Yohanes membuka percakapan dengan Yesus melalui murid-muridnya. Yesus menyambut dialog ini dengan baik dan Yesus pun menjawab dia dengan memberikan beberapa bukti konkret identitas-Nya sebagai Mesias. Yesus juga membuka paradigma baru yang membantu Yohanes menggali kebenaran lebih mendalam. Kebenaran yang membebaskan Yohanes dari penjara yang sempitnya.

Masa Adven membawa kita pada dialog kebenaran ini. Kita diajak untuk lebih mendengarkan anggota-anggota keluarga kita bahkan terhadap anggota keluarga yang termuda. Kita ditantang untuk tidak segera mengadili orang-orang yang memiliki pendapat yang berbeda dengan kita, tetapi untuk menemukan kebenaran di dalamnya. St. Thomas Aquinas selalu memasukan argumen dari mereka yang memiliki pandangan yang berlawanan dengannya karena ia percaya bahwa ada benih-benih kebenaran di dalamnya dan juga mereka memperdalam pandangan St. Thomas sendiri. Sudah saatnya bagi kita keluar dari dunia kecil dan soliter dan untuk mencari kebenaran yang lebih luas dan membebaskan.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Salvation: Gift and Choice

21st Sunday in Ordinary Time. Luke 13:22-30 [August 21, 2016]

 “Lord, will only a few people be saved? (Luk 13:23)”

jesus the gateSalvation is both a gift and a choice. It is free yet it is never cheap. It is a gift because it is freely given by God and no one earns it. Yet, it is a choice because we make all the efforts to receive it and make it ours. Through His death and resurrection, Jesus has made available the grace of salvation for everyone. But, we need to participate in His work of salvation by living out the gift of faith in our daily lives.

There is a story of a rabbi who visited a soap maker to buy a supply for his household. Suddenly, the soap maker asked, “What good is religion? Look at all the suffering and evil in the world! Still there, even after years and thousand years of teaching about goodness and peace. Still there, after all the prayers and preaching. If religion is good and true, why should we continue to suffer?” The rabbi said nothing. He then noticed a child playing in the gutter in front of the shop, and the rabbi said, “Look at that child. You say that soap makes people clean, but do you see the dirt on that kid. Of what good is soap? With all the soap in the world, over thousand years, the child is still dirty. I wonder how effective your soap is, after all?” The soup maker protested, “But, Rabbi, soap cannot do any good unless it is properly used.” The rabbi replied, “Exactly!”

To make the gift of salvation ours is not an easy job. Jesus Himself admitted, “Strive to enter through the narrow gate, for many, I tell you, will attempt to enter but will not be strong enough (Luk 22:24).” It is tough because it demands radical transformation of our hearts, or metanoia. All external forces, like rules, regulations and commands, will not last. The gift of salvation cannot be forced from the outside, but has to grow from within us so that it will be stable and permanent in us. Yes, we are saved, but we are also saved each day of our lives.

The call for living out our salvation is the call of the prophets of the Old Testament. The prophets reminded the Israelites that they indeed have been chosen by God as His own precious possessions, saved from Egypt and dwelt in the land of milk and honey. Yet, this wonderful gift will not last unless they also reform their hearts and truly become God’s people. God, through prophet Ezekiel, demanded this, “I will give you a new heart and place a new spirit within you, taking from your bodies your stony hearts and giving you natural hearts (Ezekiel 36:26).”

It is a radical choice to live up our salvation daily. We can be baptized as Catholics or Christians, yet we never go to the Church. We profess our belief in only one God, but we enjoy reading horoscopes, consulting fortunetellers and use religious items as mere protective amulets. We can easily shout, “God is good all the time,” but we have a lot of complaints in our lives. We are often instructed by Jesus Himself to love our enemies, yet we maintain hatred, remain vengeance-oriented and take pleasure when our enemies suffer misfortunes. We enjoy the worship and good preachings, yet we simply look for feeling-good experiences.

God shall remove our stony hearts and replace them with natural hearts if we make the way. We are saved if we shall make every gift of salvation counts. We shall enjoy the Kingdom, if together with Jesus, we enter our daily narrow gate.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP