Keselamatan: Rahmat dan Pilihan

Minggu dalam Pekan Biasa ke-21. Lukas 13: 22-30 [21 Agustus 2016]

 “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan? (Luk 13:23)”

narrow gateKeselamatan adalah sebuah rahmat dan juga pilihan. Keselamatan adalah cuma-cuma, tetapi bukan berarti murahan. Keselamatan adalah rahmat karena diberikan oleh Allah secara cuma-cuma. Namun, ini juga adalah pilihan karena kita perlu membuat semua upaya untuk menerimanya dan menghidupinya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah membuka pintu anugerah keselamatan bagi semua orang. Tapi, kita perlu berpartisipasi dalam karya keselamatan-Nya dengan menghidupi secara penuh karunia iman ini di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ada sebuah kisah tentang seorang pastor mengunjungi pembuat sabun guna beli pasokan untuk parokinya. Tiba-tiba, pembuat sabun bertanya, “Apa baiknya agama? Lihatlah semua penderitaan dan kejahatan di dunia! Penderitaan tetap ada, bahkan setelah agama bertahun-tahun mengajar tentang kebaikan dan perdamaian. Kejahatan tetap ada, setelah semua doa dan khotbah. Jika agama yang baik dan benar, mengapa kita harus terus menderita?” Sang pastor diam saja. Kemudian dia melihat seorang anak bermain di selokan depan toko sabun, dan pastor berkata, “Lihatlah anak itu. Kamu mengatakan bahwa sabun membuat orang bersih, tetapi kamu melihat banyak kotoran pada anak itu. Apa baiknya sabun? Dengan semua sabun di dunia, anak itu masih kotor. Aku bertanya-tanya seberapa efektif sabun buatanmu sebenarnya?” Sang pembuat sabun pun protes, “Tapi, Pastor, sabun tidak berguna kecuali saat digunakan dengan benar.” Sang Pastor pun menjawab, “Tepat sekali!”

Untuk menjadikan rahmat keselamatan bagian hidup kita bukan pekerjaan mudah. Yesus sendiri bersabda, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat (Luk 13:24).” Hal ini sulit karena menuntut transformasi radikal dari hati kita, atau metanoia. Setiap kekuatan eksternal yang dipaksakan kepada kita, seperti aturan, hukum dan perintah, tidak akan bertahan lama. Karunia keselamatan tidak bisa dipaksakan dari luar, tetapi harus tumbuh dari dalam diri kita sehingga efeknya akan stabil dan permanen dalam diri kita.

Panggilan untuk menghidupi karya keselamatan ini sebenarnya adalah panggilan sejak dari nabi-nabi Perjanjian Lama. Para nabi mengingatkan Israel bahwa mereka memang telah dipilih oleh Allah sebagai bangsa pilihan-Nya, diselamatkan dari Mesir dan tinggal di tanah terjanji. Namun, rahmat yang indah ini tidak akan bertahan kecuali mereka juga mereformasi hati mereka dan benar-benar menjadi umat Allah. Allah, melalui Nabi Yehezkiel, menuntut ini, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat (Yehezkiel 36:26).”

Ini adalah pilihan yang radikal untuk menghidupi keselamatan kita sehari-hari. Ya, kita bisa dibaptis sebagai Katolik atau Kristen, namun kita tidak pernah pergi ke Gereja. Kita beriman kepada Allah yang Esa, tapi kita juga membaca horoskop, konsultasi peramal dan menggunakan jimat pelindung. Kita bisa dengan mudah berteriak, “God is good all the time!” tapi kita memiliki banyak keluhan dalam hidup kita. Kita diperintahkan oleh Yesus sendiri untuk mengasihi musuh kita, namun kita tetap benci dan dendam, bahkan senang ketika musuh kita tertimpa kemalangan.

 Allah akan menghapus hati berbatu dan menempatkan hati alami, jika kita membuka hati kita. Kita diselamatkan jika kita menghidupi rahmat keselamatan. Kita akan masuk ke Kerajaan-Nya, jika bersama-sama dengan Yesus, kita memasuki pintu yang sesak setiap harinya.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Demand of Love

 13th Sunday in Ordinary Time. June 26, 2016 [Luke 9:51-62]

 “Let the dead bury their dead (Luk 9:60).”

Follow meFollowing Jesus is difficult. In today’s Gospel, He demands that we let go three things. The first is our concern for our enemies. It seems easy to ignore those people whom we don’t like, but in reality, they consume our attention and energy. My friend shared to me how he was bullied at his officemates, and this drained so much of his productivity and focus in work. Often, like James and John, our anger moves to seek revenge and even violence. “Lord, do you want us to call down fire from heaven to consume them (the Samaritans who rejected them)?” Yet, Jesus reminds us to leave these behind.

The second thing is our pursuit for life security and comfort. Jesus put simply, the Son of Man has nowhere to rest his head.” It is part of our nature to look for comfort and enjoyable life, often through seeking material possession. Our modern mentality also trains us to love work and compete for highest position and biggest success. When we work hard and achieve in various fields of our live, like in our career, even our service in the Church, this gives us immeasurable sense of fulfillment. Yet, Jesus also wants us to put this aside.

Thirdly, and I believe most difficult for many of us, it is the family. When a follower wanted to bury his father, Jesus made a strong yet symbolic statement, “Let the dead bury the dead.” Being an Asian, particularly Indonesian, I have strong sense of family-orientation. In almost all major events of my life like graduation and solemn religious profession, my parents were proudly present. Though, it means they needed to fly to Manila and spent a lot of money. For my Filipino brothers in the community, it is unthinkable to totally detach from their families. Yet, even this most precious possession we have, Jesus wants us to set it aside.

It looks like that Jesus’ demand is not only difficult but also impossible. Why does it have to be like this? We read today’s Gospel closely, we realize that by this time, Jesus has fixed His course to Jerusalem. He knew well that nothing but failure, frustration and death awaited Him there. Yet, He still did this because He obeyed His Father’s radical demand. What is this demand of the Father? It is no other than the demand of love: You shall love the Lord, your God, with all your heart, with all your soul, and with all your mind.” Jesus invites us to this radical reorientation of our love. When we love God, then the rest will fall into its proper place.

When we see God first, we will try our best to love those who hate us because people unworthy of our love bear God’s image as well. When we seek God first, the material possession, successful career and life security are seen as blessing from God. Then, they are also blessing to share with others. When we love God first, our love for our family will be purified, as we will bring them to closer to God.

A friend told me how his family is so dear to him. But, thing began to fall apart, as his younger brother was trapped into drug addiction. Initially, he did not like his brother to undergo rehabilitation and be separated from the family for indefinite time. But, after long prayer and discernment, he decided to bring his brother into a center of recovery. It was a painful decision, but his love for God has brought him into a bigger love for his brother. Now, he becomes even more pious as he attends mass every day for the recovery of his brother.

To follow Jesus is difficult and demanding, but it is necessary as we expand our love for God and others.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tuntutan Kasih

Minggu Biasa ke-13/26 Juni 2016 [Lukas 9:51-62]

 “Biarlah orang mati menguburkan orang mati (Luk 9:60).”

following jesusMengikuti Yesus itu sulit. Dalam Injil hari ini, Dia menuntut ada tiga hal penting yang harus kita berani lepaskan. Hal pertama adalah fokus kita pada musuh atau orang tidak kita sukai. Sepertinya mudah untuk mengabaikan orang-orang yang tidak kita sukai, tetapi dalam kenyataannya, mereka mengambil banyak perhatian dan energi kita. Seringkali, seperti Yakobus dan Yohanes, kemarahan kita mendorong kita untuk membalas dendam, bahkan dengan cara kekerasan. Pikiran dan emosi kita terkuras oleh kebencian dan menunggu saat pembalasan. “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka (orang Samaria yang menolak Yesus)?” Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa hal ini harus kita lepas.

Hal Kedua adalah hasrat kita untuk keamanan dan kenyamanan hidup. Untuk mencari kenyamanan dan kehidupan yang menyenangkan adalah bagian dari sifat kita, dan ini tidak lepas dari usaha kita mengumpulkan kekayaan. Mentalitas modern juga melatih kita untuk mencintai kerja dan bersaing untuk posisi tertinggi dan sukses terbesar. Ketika kita bekerja keras dan berprestasi di berbagai bidang hidup kita, seperti dalam karir, bahkan dalam pelayanan kita di Gereja, ini memberi kita kepuasaan. Namun, Yesus juga menginginkan kita untuk lepaskan hal ini. Yesus secara sederhana mengatakan, “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.

Hal ketiga adalah yang paling sulit. Ini adalah keluarga. Ketika seorang pengikut Yesus ingin menguburkan ayahnya, Yesus membuat pernyataan kuat namun simbolik, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati.” Sebagai orang Indonesia, saya memiliki rasa kekeluargaan yang kuat. Hampir semua peristiwa besar dalam hidup saya seperti wisuda dan kaul kekal, orang tua saya hadir dengan bangga. Meskipun, ini berarti mereka perlu terbang ke Manila dan menghabiskan banyak uang. Sama halnya juga dengan frater-frater OP Filipina, tidak terpikirkan bagi mereka untuk benar-benar melepaskan diri dari keluarga mereka. Namun, bahkan yang paling berharga ini, Yesus ingin kita sisihkan.

Sepertinya permintaan yang Yesus tidak hanya sangat sulit, tetapi juga mustahil. Mengapa harus seperti ini? Membaca Injil hari ini, kita melihat bahwa Yesus telah menetapkan tujuan-Nya ke Yerusalem. Dia tahu betul bahwa tidak ada apa-apa selain kegagalan dan kematian-Nya di sana. Namun, Dia tetap melakukan ini karena Dia taat pada kehendak Bapa-Nya. Apakah kehendak Bapa? Hal ini adalah tuntutan kasih: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Yesus mengajak kita untuk membenahi prioritas kasih kita secara radikal. Ketika kita mengasihi Allah, maka selebihnya akan berada di tempat yang tepat.

Ketika kita melihat Allah terlebih dahulu, kita akan mencoba sebaik mungkin untuk mengasihi orang yang membenci kita karena mereka juga diciptakan sebagai citra Allah juga. Ketika kita mencari Tuhan terlebih dahulu, harta benda, kesuksesan dan keamanan hidup dipandang sebagai berkat dari Tuhan. Dan, sebagai berkat, kita dengan mudah berbagi dengan sesama. Ketika kita mengasihi Allah terlebih dahulu, kasih kita untuk keluarga kita akan dimurnikan, karena kita akan membawa mereka lebih dekat dengan Tuhan.

Seorang teman bercerita bagaimana keluarga sangat penting baginya. Tapi, semua mulai berantakan, karena adiknya terterat dalam kecanduan narkoba. Awalnya, ia tidak suka adiknya menjalani rehabilitasi dan terpisah dari keluarga untuk waktu yang lama. Tapi, setelah doa yang panjang, ia memutuskan untuk membawa adiknya untuk masuk pusat pemulihan. Ini adalah keputusan yang menyakitkan, tapi kasihnya kepada Allah telah membawa dia ke sebuah kasih yang lebih besar untuk sang adik. Sekarang, ia menjadi lebih saleh dan ia menghadiri misa setiap hari untuk pemulihan adiknya.

Untuk mengikuti Yesus adalah sulit, tetapi ini adalah bagian dari tuntutan kasih. Dan hanya kasih kita kepada Allah membawa kita pada kepenuhan hidup.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

“Who Do You Say that I Am?”

12th Sunday in The Ordinary Time. June 19, 2016 [Luke 9:18-24]

 simon n jesus - for blogWhat will be your answer to Jesus’ question “Who do you say that I am?” We may come up with multiple answers. He is my God, my savior, my friend or my brother. But, we seldom ask, “Do we really understand Jesus’ question? Do we get the right answer? Why is it that Peter would confess that Jesus is Christ of God in the first place?

Christ comes from a Greek ‘Christos’, meaning Messiah or the Anointed One. In the Old Testament, the Anointed One of God refers to the great kings of Israel like Saul and David. Less often, the anointed one applies to prophets and priests. They were called as such because they were anointed with the sacred oil before they assumed the important office. They are leaders of the people as well as God’s representative. When God chose David to lead His People, He instructed Prophet Samuel to go to Bethlehem to house of Jesse and look for David. When the holy prophet found him, he anointed David with the sacred oil. The Spirit of the Lord then rushed and filled upon David (1 Sam 16:1-14). Under King David, Israel reached its pinnacle. Yet, after his demise, Israel’s glory slowly fading and even disappeared altogether. Since then, the Israelites long for the coming of the Anointed One who will restore their glory.

Jesus definitely was aware that He is the Anointed One. In the beginning of his preaching ministry, Jesus went to the synagogue in Nazareth and proclaimed, “The Spirit of the Lord is upon me, because he has anointed me to bring glad tidings to the poor. (Luk 4:18).” Yet, Jesus avoided public proclamation that He is the Christ. He knew well that He would be misunderstood by the Jews. He never came as a political liberator nor a military chieftain. Thus, He waited until the best time arrived.

The time reached fulfillment when Peter was able to answer correctly. Tired of Roman oppressions, the entire Israel, including Peter, was impatient for the coming of the Messiah. When Jesus nodded that He is the Christ, Peter and other disciples would not have a second thought. They would follow their Messiah until the New Israel is born. For Peter, his answer is more than making a confession on Jesus’ identity, but promising firm allegiance to Jesus. Yet, again Jesus had to remind them of the false image of Messiah. He would be rejected, persecuted and even murdered. Following Him means also suffering the same fate as their Master.

When Jesus confronts us with this question “Who do you say that I am?” it is not about giving personal and favorite status of Jesus. Following Peter, our answer is fundamentally about radical commitment to Jesus. It means to follow Him for better or worse. It entails sufferings and cross. Even we may lose our life. We can easily and joyfully sing and praise Jesus in worship meetings, but do we get involved in dirty works of helping the poor? We are proud to have our wedding at the big Church with glamorous celebration, but are we patient enough to endure the trials of marriage life ‘until death do us part’? We are called Christian, because we bear Christ in us. But, do we live like Christ’s image in the world?

To answer rightly, we need to get the question correctly. Have we understood Jesus’ question “Who do you say that I am?” Have we dared to give the right answer? May St. Paul reminded us who we are, “I have been crucified with Christ; yet I live, no longer I, but Christ lives in me (Gal 2:19-20)”

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

“Menurut Kamu, Siapakah Aku ini?”

Minggu Biasa ke-12. 19 Juni 2016 [Lukas 9:18-24]

quo vadisApa yang akan menjadi jawaban kita saat Yesus bertanya “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Kita mungkin menjawab: Dia adalah Tuhan, Juruselamat, sahabat atau saudara. Tapi, apakah kita sudah mengerti dengan baik pertanyaan Yesus? Apakah jawaban kita inilah yang Yesus harapkan? Mengapa jawaban Petrus adalah Kristus dan bukan jawaban lainnya?

Kristus berasal dari kata Yunani ‘Christos’ yang berarti Mesias atau Yang Terurapi. Dalam Perjanjian Lama, Yang Terurapi mengacu pada raja-raja besar Israel seperti Saul dan Daud. Tapi kadang juga, Mesiah berlaku bagi para nabi dan imam. Mereka disebut seperti itu karena mereka diurapi dengan minyak suci sebelum mereka mengemban tugas penting. Mereka adalah pemimpin bangsa Israel dan juga wakil Allah. Ketika Tuhan memilih Daud untuk memimpin umat-Nya, Dia memerintahkan Nabi Samuel untuk pergi ke Betlehem ke rumah Isai dan mencari Daud. Ketika sang nabi menemukannya, ia mengurapi Daud dengan minyak suci. Roh Tuhan kemudian bergegas dan memenuhi Daud (1 Sam 16: 1-14). Di bawah Raja Daud, Israel mencapai puncak kejayaannya. Namun, setelah kematiannya, kejayaan Israel perlahan memudar dan bahkan hilang sama sekali. Sejak saat itu, Israel merindukan kedatangan Mesias yang akan mengembalikan kejayaan mereka.

Yesus menyadari bahwa Dia adalah Kristus. Pada awal misi pewartaan-Nya, Yesus pergi ke rumah ibadat di Nazaret dan menyatakan, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku (Luk 4:18). Namun, Yesus menghindari proklamasi publik bahwa Dia adalah Kristus. Dia tahu betul bahwa ia akan disalahpahami oleh orang-orang Yahudi. Dia tidak pernah datang sebagai tokoh politik ataupun seorang pemimpin militer. Dengan demikian, Ia menunggu sampai waktu yang tepat.

Waktunya tiba ketika Petrus mampu menjawab dengan benar. Lelah dengan penindasan Romawi, seluruh Israel, termasuk Petrus, tidak sabar akan kedatangan Mesias. Ketika Yesus mengamini bahwa Ia adalah Kristus, Petrus dan murid-murid lainnya tidak akan berpikir dua kali. Mereka akan mengikuti Mesias mereka sampai Ia membawa Israel yang baru. Bagi Petrus, jawabannya lebih dari sekedar pengakuan tentang identitas Yesus, tetapi menyatakan kesetiaannya kepada Yesus. Namun, sekali lagi Yesus harus mengingatkan mereka akan ide salah tentang Mesias di kepala mereka. Dia akan ditolak, dianiaya dan bahkan dibunuh. Mengikuti Yesus berarti juga menderita nasib yang sama seperti Guru mereka.

Ketika Yesus menghadapkan kita dengan pertanyaan Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Ini bukan saja tentang memberikan jawaban personal dan favorit tentang Yesus. Seperti Petrus, jawaban kita pada dasarnya adalah komitmen radikal kepada Yesus. Ini berarti untuk mengikuti-Nya dalam suka dan duka. Hal ini menuntut penderitaan dan salib. Bahkan mungkin kita akan kehilangan hidup kita. Kita dengan mudah bernyanyi dan memuji Yesus dalam prayer meeting, tapi apakah kita mau terlibat dalam karya sulit untuk membantu orang-orang miskin? Kita bangga mengalami pernikahan kita di Gereja besar dan indah, tapi apakah kita mampu sabar untuk menanggung cobaan hidup perkawinan ‘sampai kematian memisahkan kita’? Kita dipanggil Kristiani, karena kita adalah milik Kristus. Tapi, apakah kita bisa hidup sebagai citra Kristus di dunia?

Untuk menjawab dengan benar, kita perlu mengerti pertanyaan Yesus dengan benar. Saat, kita mengerti pertanyaan Yesus “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Apakah kita berani memberikan jawaban yang benar? St. Paulus mengingatkan siapa kita sebenarnya, “Aku telah disalibkan dengan Kristus;  namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. (Gal 2: 19-20).”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

God of Life

 10th Sunday in Ordinary Time. June 5, 2016 [Luke 7:11-17]

“He stepped forward and touched the coffin; at this the bearers halted, and he said, “Young man, I tell you, arise! (Luk 7:14)”

Jesus raises the son of the Widow of NainThe bible seems to contain a lot of death. Almost all the characters in the Bible tasted death. Some were lucky and enjoyed peaceful end, like Abraham, David and Joshua. Yet, a lot more endured tragic one. Abel was murdered by his own brother. Moses passed away just at the doorstep of the Promised Land. James the son of Zebedee was beheaded, and countless unnamed individuals who were victims of wars, diseases and calamities. In today’s Gospel, a young man died presumably due to illness and left his widowed mother alone. The Bible time was bad period to live.

We are living in a better world where life expectation is significantly higher than the time of Jesus. With modern medical technologies and well-trained and professional medical practitioners, we are enjoying the greater possibility to live longer. Had the young man of Nain lived today, he would not have died early. Yet despite all these advancements, death remains a most certain reality. As Benjamin Franklin said, “In this world nothing can be said to be certain, except death and taxes!” This may lead us to think that God is a kind an uncaring God that allows even His people to suffer and receive violent death.

Jesus then came into the rescue and moved by his compassion, He brought the young man to life. To raise people from the death is one of the greatest miracles of Jesus, and this not only recorded in Luke, but in all the four Gospels. This story of young man of Nain resembles the story of the daughter of the synagogue official in Matthew 9 and Mark 5, and the story of Lazarus, the brother of Mary and Martha in John 11. Yet, we understand that the miracle will not last long. The young man would finally die again. Jesus seemed to cheat death and gives false hope to the widow and the crowd who expected the ‘the great prophet’.

Jesus’ miracles are not a quick-fix to many problems we have, but basically pedagogical, meaning they were designed to teach us a core value. Jesus comes into the story precisely to correct the mindset of the people on God. While the sorrowful widow and the lethargic crowd marched toward certain graveyard, a symbol of despair, Jesus stopped them and pointed to a different direction. They cannot find God among the dead, since He is not the god of the dead, but of the living (Mrk 12:27). Undeniably, we are going to die, but live is not about dying, but about living, and living life to the fullest.

    Yes, we die every day because of our sins, failures, and problems. Like the crowd, we march hopelessly toward our graveyard and despair. We are crushed by the weight of the financial issues. We are down by heavy workload. We are depressed by difficulties in the family. We forget to live fully as we focus our attention on death. But, we must not be hopeless, because our God is not the god of death, and His Son comes to bring us to life once again. “I came so that they might have life and have it more abundantly (John 10:10).”

 Together with St. Paul, we shall boldly say, “We are afflicted in every way, but not constrained; perplexed, but not driven to despair; persecuted, but not abandoned; struck down, but not destroyed; always carrying about in the body the dying of Jesus, so that the life of Jesus may also be manifested in our body (2 Cor 4:8-10).”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tuhan Kehidupan

Minggu Biasa ke-10. 5 Juni 2016 [Lukas 7: 11-17]

“Yesus berkata, Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah! (Luk 7:14)”

Jesus raises the son of the Widow of Nain 2Tampaknya Alkitab mengandung banyak kematian. Hampir semua tokoh di dalam Alkitab meninggal dunia. Beberapa dari mereka beruntung karena meninggal dalam damai, seperti Abraham, Daud dan Yosua. Namun, kebanyakan mengalami kematian tragis. Abel dibunuh oleh saudaranya sendiri. Musa meninggal sebelum ia bisa masuk Tanah Perjanjian. Yakobus, rasul pertama yang menjadi martir setelah dipenggal. Dan kita tidak lupa sangat banyak individu yang tak bernama menjadi korban perang, penyakit dan bencana alam di Alkitab. Dalam Injil hari ini, seseorang meninggal dalam usia muda dan meninggalkan ibunya yang janda sendirian. Masa ini adalah masa buruk untuk tinggal dan hidup.

Kita bersyukur karena kita hidup di dunia yang lebih baik di mana ekspetasi hidup jauh lebih tinggi daripada zaman Yesus. Dengan teknologi medis modern dan praktisi medis yang terlatih dan handal, kita bisa menikmati kwantitas dan kualitas hidup yang lebih baik. Jika saja pemuda dari Nain hidup hari ini, dia tidak akan mati dalam usia muda. Namun, dengan semua kemajuan yang kita miliki, kematian tetap menjadi realitas yang tidak terhidarkan. Tak salah jika Benjamin Franklin berkata, Di dunia ini tidak ada hal yang pasti kecuali kematian dan pajak. Hal-hal ini dapat memdorong kita untuk berpikir bahwa Allah adalah tuhan yang tidak peduli dengan ciptaan-Nya dan mengizinkan kita untuk menderita dan akhirnya kehilangan hidup ini.

Tergerak oleh belas kasihan, Yesus menghidupkan kembali sang pemuda. Membangkitkan orang dari kematian merupakan salah satu mujizat terbesar Yesus, dan ini tidak hanya tercatat dalam Injil Lukas, tetapi dalam keempat Injil. Kisah pemuda dari Nain menyerupai kisah anak perempuan dari kepala rumah ibadat di Matius 9 dan Markus 5, dan kisah Lazarus, saudara Maria dan Marta di Yohanes 11. Namun, kita paham bahwa sang pemuda yang dihidupkan kembali akhirnya akan menemui kematian lagi. Yesus tampaknya sekedar mensiasati kematian dan memberikan harapan palsu kepada sang janda dan orang banyak yang mengharapkan kedatangan ‘nabi besar’.

Kita perlu memahami bahwa mujizat-mujizat Yesus bukanlah solusi instan untuk permasalah kita, tetapi pada dasarnya adalah pedagogis, yang berarti mujizat dirancang untuk mengajari kita nilai-nilai utama. Yesus datang untuk memperbaiki pola pikir bangsa Israel dan kita tentang Tuhan. Saat ibu janda yang berduka dan kerumunan yang lesu berjalan menuju kuburan, yang menjadi simbol keputusasaan, Yesus menghentikan mereka dan menunjuk ke arah yang berbeda. Mereka tidak dapat menemukan Allah di antara orang mati, karena Dia bukan Tuhan orang mati, melainkan orang hidup (Mrk 12:27). Tak dapat disangkal, kita semua akan menghadapi kematian, tetapi hidup bukanlah tentang kematian, tapi tentang hidup, dan bagaimana kita menghidupi hidup sepenuhnya.

Ya, kita mati setiap hari karena dosa-dosa kita, kegagalan, dan permasalahan. Seperti orang-orang yang menyertai sang janda, kita berjalan menuju kuburan keputusasaan. Kita remuk oleh beratnya masalah keuangan. Kita luluh karena beban kerja yang berat. Kita tertekan oleh kesulitan dalam keluarga. Kita lupa untuk hidup secara penuh karena kita memusatkan perhatian kita pada kematian. Tapi, kita tidak boleh putus asa karena Allah kita bukanlah Allah kematian namun kehidupan, dan Putra-Nya datang untuk membawa kita sekali lagi kepada hidup. Aku datang supaya mereka memiliki hidup dan memiliki lebih berlimpah (Yoh 10:10).”

Bersama dengan St. Paulus, kita akan berani mengatakan, Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. (2 Kor 4: 8-10).”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Christian Life, Authentic Life?

Palm Sunday of the Lord’s Passion. March 20, 2016 [Luke 19:28-40/Luke 23:1-49]

 “Blessed is the king who comes in the name of the Lord (Luk 19:38).”

palm sundayPalm Sunday or Jesus’ entrance to Jerusalem marks the beginning of the most important drama of the Gospel, the drama of the Holy Week. The memory was so significant to the early Christians that the episode was recorded in all four Gospels (Mat 21:1-11, Mark 11:1-11, and John 12:12-19), though with some different emphases. Why was Jesus’ entrance to the ancient city Jerusalem so significant?

His entrance was unusual and less triumphant because he preferred to ride a meek donkey rather than a combat-ready horse. Yet, his unique entrance was not unexpected by the Jewish people looking forward for the Messiah. By riding on the donkey, he was fulfilling the prophecy of Zechariah, “Rejoice heartily, O daughter Zion, shout for joy, O daughter Jerusalem! See, your king shall come to you; a just savior is he, Meek, and riding on an ass, on a colt, the foal of an ass.” (Zec 9:9). The people who gathered in Jerusalem for annual Jewish festival, could not hide their excitement to this Jesus who had been rumored as the expected Christ. Indeed, the people welcome Him as a king as they shouted, “Blessed is the King who comes in the name of the Lord! (Luk 19:38)” Through his action, Jesus no longer hid His true identity, but revealed publicly that He is the Messiah.

Unfortunately, the moment Jesus revealed who He was, both the Jewish authority and the Roman rulers were ready to pin him down. They did not care whether Jesus came as the peaceful and humble leader or war-freak king. Jesus was the potential troublemaker and the sooner they get rid of him, the better. True enough, lest than a week, Jesus was betrayed, deserted by his followers and condemned to death. The people who acclaimed Him king, now cried to the top of their voice, “Crucify him!” The entrance to Jerusalem is significant because Jesus made a firm decision to live and die to the fullest. Jesus knew this horrifying possibility would take place, but He did not run and look for safety. He freely embraced his identity and mission, and because of this, his death was not in vain. He has made a difference that mattered most.

We are called Christian because we indeed the follower of Jesus Christ, but our name is worthless if we fail to follow Him up to Jerusalem. For some of us, being Christian or Catholic is just a matter of social convenience or family tradition. Our family, our society is Christian then we should be Christians. Often we just remember that we are Christians during special events in our life. In the Philippines, there are KBL Catholics, those who attend the Mass only for ‘Kasal’ or marriage, ‘Biyag’ or baptism and ‘Libing’ or funeral mass. In Indonesia, we are familiar with ‘Na-Pas’ (literally means ‘breath’) Christians, those who only go to the Church during ‘Natal’ or Christmas and ‘Paskah’ or Easter.

But, we must not forget that for some being Christians means hardship, sufferings and death. Christians in war-zones like Syria and Iraq, or when the Christians were minority, live in constant danger and discriminations are so real. Just few weeks ago, four sisters of Missionaries of Charity were brutally executed by the terrorists in Yemen. While they were fully aware of the extent of the danger, they refused to live behind the people they served, the elderly and the disabled. They are the disciples of Christ who lived their authentic Christianity to the end. Both in death and life, their faith has made the world a better.

Philosopher Abraham Kaplan noted that if Socrates said ‘unexamined life is not worth living’, so ‘the unlived life is worth examining. As we are entering the most solemn week in our liturgy, we ask ourselves: have we live our lives to the fullest? Is our Christian faith making any difference? Are we willing to make the change that matters most in our lives?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menuju Hidup yang Otentik

Minggu Palma. 20 Maret 2016 [Lukas 19:28-40/Lukas 23:1-49]

 “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan (Luk 19:38).”

palm sunday 2Minggu Palma atau disaat Yesus memasuki kota Yerusalem menandai awal dari drama yang paling penting di Kitab Suci. Ini adalah drama Pekan Suci. Memori ini begitu signifikan bagi Gereja Perdana, sampai-sampai episode ini tercatat di keempat Injil (Matius 21:1-11, Markus 11:1-11, dan Yohanes 12:12-19). Pertanyaannya adalah: Mengapa Minggu Palma begitu penting bagi kita?

Yesus memasuki kota tua Yerusalem dengan cara yang tidak biasa dan tidak begitu meyakinkan karena ia lebih memilih menaiki keledai yang lembut daripada kuda kuat yang siap tempur. Namun, cara yang unik ini sebenarnya tidak dianggap aneh oleh orang-orang Yahudi yang menantikan Mesias. Dengan mengendarai keledai, Yesus memenuhi nubuat nabi Zakharia, Hai penduduk Sion, bergembiralah! Hai penduduk Yerusalem, bersoraklah! Lihatlah! Rajamu datang dengan kemenangan! Ia raja adil yang membawa keselamatan. Tetapi penuh kerendahan hati ia tiba mengendarai keledai, seekor keledai muda (Zak 9:9). Orang-orang yang berkumpul di Yerusalem untuk festival Yahudi tahunan, tidak bisa menyembunyikan kegembiraan mereka kepada Yesus yang telah dikabarkan sebagai Mesias yang diharapkan. Memang, orang-orang menyambut Dia sebagai raja dan merekapun berseru, Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi! (Luk 19:38)Melalui peristiwa ini, Yesus tidak lagi menyembunyikan identitas-Nya, tetapi mengungkapkannya secara terbuka bahwa Dia adalah Mesias bagi bangsa Israel.

Sayangnya, saat Yesus mengungkapkan identitasnya, baik otoritas Yahudi dan penguasa Romawi siap untuk menjatuhkan-Nya. Mereka tidak peduli apakah Yesus datang sebagai pemimpin damai dan rendah hati atau raja yang siap berperang. Yesus adalah sebuah potensi keonaran dan semakin cepat mereka menyingkirkan dia, semakin baik. Benar saja, kurang dari seminggu, Yesus dikhianati, ditinggalkan oleh para pengikutnya dan dihukum mati. Orang-orang yang menyambut-Nya sebagai raja, sekarang berteriak, “Salibkan Dia!” Minggu Palma adalah peristiwa penting karena Yesus membuat keputusan tegas untuk hidup dan mati secara total. Yesus sadar akan kemungkinan mengerikan ini, tetapi Dia tidak lari dan mencari keselamatan pribadi. Dia dengan bebas memeluk identitas dan misi-Nya, dan karena ini, kematian-Nya tidak sia-sia. Pilihan-Nya telah membuat perbedaan yang paling penting di dalam sejarah umat manusia.

Kita dipanggil sebagai Kristiani karena kita memang pengikut Yesus Kristus, tetapi nama kita tidak ada gunanya jika kita gagal untuk mengikuti-Nya ke Yerusalem. Bagi sebagian dari kita, menjadi Kristen atau Katolik hanyalah masalah kenyamanan sosial atau tradisi keluarga. Keluarga kita dan masyarakat kita adalah Kristiani maka kita harus menjadi Kristiani. Seringkali kita hanya ingat bahwa kita adalah Kristen atau Katolik saat acara penting dalam hidup kita. Di Filipina, ada namanya Katolik KBL, orang-orang yang hanya menghadiri Misa ketika ‘Kasal’ atau pernikahan, ‘Biyag’ atau baptisan dan ‘Libing’ atau misa arwah. Di Indonesia, kita mengeenal dengan Katolik ‘Na-Pas’, orang-orang yang hanya pergi ke Gereja saat ‘Natal’ dan ‘Paskah’.

Tapi, kita tidak boleh lupa bahwa untuk sebagian orang, menjadi Kristaini berarti kesulitan, penderitaan dan bahkan kematian. Umat Kristiani di dalam zona perang seperti Suriah dan Irak, atau ketika orang-orang Kristiani adalah minoritas, akan terus hidup dalam bahaya dan diskriminasi yang begitu nyata. Hanya beberapa minggu yang lalu, empat suster dari Missionaries of Charity secara brutal dieksekusi oleh teroris di Yemen. Sementara mereka sepenuhnya menyadari situasi yang membahayakan di Yemen, mereka menolak untuk meninggalkan orang-orang yang mereka layani, para lansia dan kaum difabel. Mereka adalah murid-murid Kristus yang meghidupi panggilan mereka secara otentik sampai akhir. Baik dalam kematian dan kehidupan, iman mereka telah membuat dunia menjadi lebih baik.

Filsuf Abraham Kaplan berpendapat, “Jika Socrates berkata unexamined life is not worth living maka the unlived life is worth examining.” Saat kita memasuki minggu paling kudus dalam liturgi Gereja, kita diajak berefleksi dan menjawab pertanyaan penting bagi hidup kita: Apakah kita telah menjalani hidup secara penuh? Apakah hidup kita sebagai orang Apakah kita bersedia untuk membuat perbedaan yang paling penting dalam hidup kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP