Featured

Debu dari Bumi

Minggu Pertama Prapaskah [A]

22 Februari 2026

Kejadian 2:7-9, 3:1-7

Secara tradisional, bacaan Injil untuk Minggu Pertama Prapaskah adalah kisah Yesus di padang gurun selama empat puluh hari, di mana Dia berpuasa dan dicobai oleh Setan. Namun, dalam refleksi ini, kita akan menyelami lebih dalam bacaan pertama dari Kitab Kejadian.

Gereja menggabungkan dua kisah dalam bacaan pertama ini: penciptaan Adam (Kej 2:7-9) dan kejatuhan orang tua pertama kita (Kej 3:1-7). Karena hal ini, kita melewatkan sekitar 16 ayat (Kej 2:10-25), secara khusus menghilangkan aktivitas Adam di Taman Eden dan juga kisah penciptaan Hawa. Saya percaya alasan utamanya bukan sekadar praktis (menghindari bacaan yang terlalu panjang), tetapi Gereja ingin menunjukkan kebenaran tersembunyi yang menghubungkan kedua kisah tersebut.

Pertama, kita harus menyadari bahwa kisah penciptaan Adam bukan sekadar pelajaran biologi, tetapi kebenaran teologis yang mendalam. Adam diciptakan dari debu tanah (עפר מן־האדמה – apar min ha-adama). Kita, sebagai manusia, hanyalah tanah belaka—lemah, kotor, dan pada dasarnya tidak berharga. Yang menarik, adanya permainan kata dalam bahasa Ibrani untuk mengingatkan kita akan asal-usul kita yang rendah: kata Adam (manusia pertama) hampir identik dengan kata untuk tanah dalam bahasa Ibrani (Adama).

Kitab Kejadian seolah-olah ingin mengingatkan kita bahwa kita hanyalah debu dan bukan apa-apa, Allah adalah segalanya; kita adalah tak berdaya, Allah adalah Mahakuasa. Namun, meskipun ada jurang yang tak terukur antara Allah dan kita, penulis Kitab Kejadian juga mengungkapkan kasih Allah yang tak terhingga bagi umat manusia. Digambarkan sebagai Sang Seniman ilahi dengan tangan-Nya yang terampil dan nafas-Nya yang menghidupkan, Allah membentuk debu yang tak berharga ini menjadi salah satu makhluk-Nya yang paling mulia. Selain itu, Allah menjadikan kita sebagai mitra kerja di Taman-Nya, mempercayakan kita untuk merawat makhluk-makhluk yang lain. Kita adalah siapa kita sepenuhnya karena kasih Allah.

Beralih ke bab 3, ular datang dan menggoda Adam dan Hawa. Strateginya sederhana namun sangat efektif. Ia mengklaim bahwa Allah tidak berkata jujur dan bahwa Allah tidak ingin Adam dan Hawa menjadi seperti-Nya, sehingga melarang mereka memakan buah pengetahuan baik dan buruk. Ide bahwa Adam dan Hawa bisa menjadi seperti Allah sangatlah menarik, dan kesombongan mulai merusak hati mereka. Mereka menginginkan untuk menjadi seperti Allah tanpa Allah, bertindak sebagai saingan-Nya daripada hidup sebagai hamba-Nya. Mereka melupakan kebenaran paling mendasar tentang diri mereka: mereka hanyalah debu, dan segala kebaikan yang mereka miliki berasal dari Allah. Akibatnya, mereka pun jatuh.

Dengan menggabungkan kisah penciptaan Adam dan kejatuhannya, Gereja mengajarkan kepada kita bahwa ketika kesombongan meracuni hati kita, kita mulai mengabaikan asal-usul kita yang rendah dan akhirnya kita jatuh dalam dosa. Seperti yang dinyatakan oleh Santo Yohanes Krisostomus dalam khotbahnya pada abad ke-4, “[kisah penciptaan Adam] adalah untuk mengajarkan kita pelajaran tentang kerendahan hati, untuk menekan semua kesombongan, dan untuk meyakinkan kita akan kelemahan kita sendiri. Sebab, ketika kita mempertimbangkan asal-usul alamiah kita, meskipun kita mungkin mencapai puncak kesuksesan, kita memiliki alasan yang cukup untuk rendah hati dengan mengingat bahwa asal-usul pertama kita berasal dari bumi.”

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Di bidang mana dalam hidup, saya melupakan asal-usul yang rendah (“debu”) dan gagal menyadari bahwa semua berkat, talenta, dan kesuksesan pada akhirnya berasal dari Allah? Bagaimana kesombongan muncul dalam pilihan-pilihan harian saya? Apakah saya kadang-kadang mencoba menjadi “seperti allah tanpa Allah” dengan mencari kendali total atas hidup saya, daripada mempercayai-Nya sebagai hamba dan rekan kerja-Nya? Ketika saya “melambung ke langit” dalam pencapaian duniawi saya, praktik-praktik praktis apa yang dapat saya terapkan untuk tetap berpijak dan mengingat ketergantungan dasar saya pada kasih Allah?

Pemurnian Hati

Minggu Biasa Kelima [A]

8 Februari 2026

Matius 5:13-16

Dalam kelanjutan Khotbah di Bukit, Yesus mengungkapkan identitas kita sebagai “terang dunia.” Sebagai terang, kita harus bersinar dan terlihat oleh orang lain. Menariknya, hanya satu bab setelah pengajaran ini, Yesus memberi perintah kepada pendengarnya, “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka…” (Mat 6:1). Sepertinya Yesus mengajarkan dua hal yang saling bertentangan. Bagaimana kita memahami hal ini?

Meskipun perintah-perintah ini tampak bertentangan, pada dasarnya mereka saling melengkapi. Jembatan antara kedua pernyataan ini adalah “niat” kita. Apakah tindakan baik atau keagamaan yang kita lakukan untuk memuliakan Tuhan atau sekadar mencari kemuliaan pribadi? Jika kita melakukan perbuatan yang baik untuk mendapatkan pengakuan dan pujian dari orang lain, tindakan-tindakan ini kehilangan nilainya di hadapan Tuhan. Namun, jika kita dengan tulus ingin membawa orang kepada Allah, usaha kita benar-benar akan berkenan bagi Allah.

Mengenali niat atau intensi di balik tindakan-tindakan kita sejati bukanlah hal yang mudah. Hal ini menuntut kita untuk meluangkan waktu untuk merenung dalam keheningan dan memikirkan secara mendalam tentang tindakan kita serta motivasi di baliknya. Dalam tradisi Katolik, proses spiritual ini disebut “discernment” (pembedaan roh); dalam tradisi Dominikan, hal ini merupakan bagian penting dari kontemplasi. Dalam istilah ilmiah modern, ini disebut meta-kognisi atau proses “berpikir tentang berpikir.”

Untuk mempraktikkan “discernment” ini, kita dapat mengikuti tiga langkah sederhana:

  1. Memohon keutamaan Kerendahan Hati. Kemampuan untuk mengenali niat terdalam kita dimulai dengan rahmat Allah yang melembutkan hati kita. Tanpa kerendahan hati, kita mungkin tidak pernah mempertimbangkan bahwa ada sesuatu yang “tidak beres” dengan tindakan-tindakan kita. Kerendahan hati memberdayakan kita untuk menghadapi bagian-bagian yang belum sempurna dari kemanusiaan kita dengan penyesalan, yang mengarahkan kita pada pertobatan. Kerendahan hati bertindak sebagai “sensor,” mendeteksi motif tersembunyi yang berasal dari kesombongan atau kepentingan diri sendiri.
  2. Bertanya pertanyaan sulit dan memperhatikan reaksi emosional kita. Saat discernment, kita perlu bertanya pada diri sendiri: “Ketika orang lain mengabaikan atau tidak menghargai perbuatan baik saya, apakah saya merasa sedih, marah, atau kecewa? Apakah saya kehilangan motivasi untuk terus melakukannya?” Jika jawabannya ya, niat kita mungkin masih bersifat egois. Pertanyaan penting lainnya adalah: “Jika perbuatan baik ini diambil dari saya, apakah saya merasa sangat sakit hati atau dendam?” Reaksi semacam ini sering kali menunjukkan keterikatan yang tidak sehat, dan kita cenderung memandang karya baik tersebut sebagai “milik kita” daripada “milik Tuhan.”
  3. Meminta permurnian niat. Setelah kita menyadari motivasi batin kita, kita tidak boleh putus asa atau berhenti berbuat baik. Ini juga godaan dari sang jahat untuk menjauhkan kita dari Tuhan. Meskipun niat kita tercampur dengan keinginan egois, rahmat Allah terus bekerja untuk menyucikan kita. Untuk memurnikan hati kita, ada beberapa hal praktis yang bisa kita lakukan:
  • Belajar bersyukur. Bersyukurlah atas setiap kesempatan untuk berbuat baik, baik karya besar maupun kecil, sukses maupun gagal.
  • Alihkan pujian: Ketika orang lain menghargai perbuatan Anda, ajaklah mereka untuk bersyukur kepada Tuhan bersama Anda.
  • Terima kritik: Bersyukurlah kepada mereka yang mengkritik Anda, karena mereka dapat menjadi alat permurnian rohani Anda.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apa saja perbuatan baik yang saya lakukan untuk keluarga, komunitas, dan Gereja? Ketika orang lain mengabaikan atau tidak menghargai perbuatan baik saya, apakah saya merasa sedih, marah, atau kecewa? Apakah saya kehilangan motivasi untuk terus melakukannya? Jika perbuatan baik ini diambil dari saya, apakah saya akan merasa sangat sakit hati atau dendam? Apakah saya memprioritaskan pelayanan ini lebih dari keluarga saya?

Sabda Bahagia: Jalan Kebahagiaan yang Tidak Biasa

Minggu Biasa Keempat [A]

1 Februari 2026

Matius 5:1-12a

Khotbah Yesus di Bukit dimulai dengan Delapan Sabda Bahagia. Saat Paus Santo Yohanes Paulus II mengunjungi Bukit ini di tahun 2000, ia menyebut bahwa Sabda Bahagia adalah “Magna Charta Kristiani,” membandingkannya dengan Sepuluh Perintah Allah dalam Perjanjian Lama. Ia menyatakan bahwa, “Sabda Bahagia bukan daftar larangan, tetapi undangan untuk hidup baru yang menarik.” Undangan ini memang menarik karena menyentuh cita-cita fundamental yang kita semua miliki: menjadi bahagia. Namun, saat kita membaca Sabda Bahagia ini, kita menyadari bahwa jalan Yesus menuju kebahagiaan bukanlah jalan biasa. Mengapa demikian?

Kita cenderung percaya bahwa memiliki kekayaan adalah tanda berkat Allah dan sarana menuju kebahagiaan kita. Namun, Yesus mengajarkan, “Berbahagialah orang-orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah empunya Kerajaan Surga.” Meskipun pada dasarnya harta duniawi adalah baik adanya, keinginan kita untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar, mengumpulkan kekayaan yang lebih banyak, dan tetap di puncak seringkali menyebabkan berbagai masalah kesehatan, kelelahan mental, dan juga masalah dalam relasi dengan orang-orang kita kasihi. Pada akhirnya, pengejaran ini melemahkan jiwa kita, menjauhkan kita dari Tuhan, dan kita menyadari bahwa kita sebenarnya tidak bahagia.

Kita sering berpikir bahwa tawa dan “good vibes” adalah tanda-tanda paling pasti dari kebahagiaan, tetapi Yesus berkata bahwa orang yang berdukacita akan dihibur. Terkadang, kita lupa cara bersedih dan berduka, secara khusus saat ketika kehilangan sesuatu yang berharga, seperti orang yang kita cintai. Alih-alih, kita mencoba melarikan diri dari kesedihan dengan menikmati kesenangan instan seperti bermain HP berjam-jam, menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas atau bahkan menjadi “workaholic”, atau bahkan menyalahkan Tuhan. Namun, kemampuan berduka membantu kita menghadapi kenyataan hidup dan berdamai dengan keterbatasan manusiawi kita. Kitapun lebih bergantung pada kerahiman Tuhan, dan pada akhirnya menemukan penyembuhan dan penghiburan.

Kita biasanya menganggap bahwa melalui kekuatan, agresi, dan dominasi, kita dapat memperoleh apa pun yang kita inginkan. Namun, Yesus mengajarkan hal yang sebaliknya: orang yang lemah lembut akan mewarisi bumi, orang yang berbelas kasih akan menerima belas kasihan, dan orang yang membawa damai akan disebut anak-anak Tuhan. Meskipun ini terdengar bertentangan dengan asumsi kita, ketika kita melihat sekitar kita, kita menyadari bahwa begitu banyak masalah dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan disebabkan oleh keserakahan manusia, agresi dan kekerasan, dan juga balas dendam. Hanya ketika kita belajar untuk menjadi lembut, mampu memaafkan, dan menbawa damai, kita menciptakan damai tidak hanya dalam diri kita sendiri tetapi juga bagi orang-orang di sekitar kita.

Seringkali, kita tanpa sadar mengisi hati kita dengan ambisi untuk menjadi yang terbesar, paling berkuasa, dan paling berpengaruh. Kita membiarkan hasrat akan kesenangan dan kepuasan instan mengendalikan kita. Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa hanya orang yang hatinya suci yang dapat melihat Allah. Oleh karena itu, sangat penting untuk menyadari apa yang mencemari hati kita, mengakui noda-noda tersebut, dan memohon rahmat Allah untuk membersihkannya. Dalam tradisi Katolik, proses ini disebut pemeriksaan batin dan pengakuan dosa, di mana rahmat Allah hadir, membersihkan hati kita dan mempersatukan kita kembali dengan-Nya, sumber kebahagiaan kita.

Akhirnya, Yesus menutup Sabda Bahagia dengan menempatkan diri-Nya sebagai tujuan akhir kebahagiaan kita. Yesus bukan sekadar guru bijak atau “coach” yang mempromosikan prinsip-prinsip “self-help” untuk kesuksesan, tetapi Dia adalah sumber kebahagiaan itu sendiri. Hanya saat kita berpegang pada-Nya dan menyerahkan hati kita kepada-Nya, hidup kita menemukan makna, dan kebahagiaan abadi menjadi tujuan akhir kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno,

Pertanyaan Refleksi:

Ambisi duniawi apa yang saat ini menguras energiku, dan bagaimana melepaskan ambisi tersebut dapat membawa kedamaian bagiku? Apakah ada konflik dalam hidup saya di mana saya mencoba “menang” melalui dominasi atau agresi, daripada menyelesaikannya melalui kelembutan dan belas kasihan? Jika saya melihat kebiasaan harian saya, apakah mereka menunjukkan bahwa saya mencari kebahagiaan terutama dalam pencapaian duniawi, atau dalam hubungan dengan Yesus?

Petrus dan Matius

Minggu Bisa Ketiga [A]

25 Januari 2026

Matius 4:12-23

Saat ini kita menjalani Tahun Liturgi A, dipandu oleh Injil Matius. Salah satu ciri khas Injil ini adalah penghargaannya yang tinggi terhadap Simon Petrus. Namun, mengapa demikian?

Contohnya adalah kisah pengakuan Petrus (Mat 16:13-20; Par: Mar 8:27-30; Luk 9:18-20). Meskipun Injil-injil lain menceritakan bahwa Simon dengan benar mengidentifikasi Yesus sebagai Mesias, hanya Matius yang menyertakan berkat unik yang diberikan Yesus kepadanya: nama baru “Kephas” (Batu) dan wewenang kunci Kerajaan Allah. Contoh lain adalah kisah Yesus berjalan di atas air (Mat 14:22-33). Meskipun peristiwa ini juga dicatat oleh Markus (6:45-52) dan Yohanes (6:15-21), hanya Matius yang mengungkapkan cerita Petrus yang secara ajaib berjalan di atas air, meskipun hanya beberapa langkah sebelum tenggelam dan diselamatkan oleh Yesus.

Mengapa Matius menggambarkan Petrus dalam pribadi yang luar biasa? Jika saya boleh berspekulasi, sejatinya Simon dan Matius sudah saling mengenal jauh sebelum Yesus memanggil mereka, karena keduanya berasal dari Kapernaum. Danau Galilea merupakan milik Kekaisaran Romawi, dan para nelayan diwajibkan membayar pajak yang berat untuk menangkap ikan di sana. Kita dapat membayangkan: selama bertahun-tahun, Simon si Nelayan berdiri di hadapan Matius si Pemungut Cukai. Simon, yang berbau ikan dan keringat, dengan marah menyerahkan uang hasil jerih payahnya kepada Matius, sang kolaborator Romawi, dan pengkhianat rakyatnya. Ada kebencian dan permusuhan di antara mereka.

Matius mungkin kaya raya, mungkin memiliki properti besar, namun dia dibenci oleh banyak orang, dan beberapa mungkin bahkan ingin dia mati. Dalam hatinya, Matius kemungkinan besar tidak menemukan kedamaian, dan hidup dalam ketakutan dan isolasi. Jadi, ketika Matius akhirnya berdiri untuk mengikuti Yesus, dia sejatinya memasuki kandang singa. Dia tidak hanya meninggalkan meja pajaknya, tetapi juga dia bergabung dengan sekelompok pria yang membencinya, terutama para nelayan Galilea.

Namun, bagaimana dia bisa bertahan dalam kelompok itu? Mengapa Matius akhirnya menulis dengan begitu hormat tentang Simon? Saya percaya ini karena Simon Petrus, sang pemimpin para rasul, memilih untuk memaafkannya, meneladani apa dilakukan Yesus. Petrus mau menerima Matius sebagai saudara dan rekan kerjanya. Mungkin Simon bahkan mendorong para rasul lainnya untuk menerima Matius karena Yesus telah memanggilnya. Dalam mengikuti Kristus, Matius menemukan bukan hanya damai dan pengampunan dosa, tetapi juga persahabatan sejati dan keluarga baru. Oleh karena itu, penghormatan mendalam yang ditunjukkan Matius dalam Injilnya tidak hanya berasal dari peran Petrus sebagai pemimpin yang ditunjuk Yesus, tetapi juga dari persahabatan pribadi mereka.

Teori ini mungkin hanya dapat dibuktikan ketika kita bertemu mereka di surga, tetapi pelajaran ini penting bagi kita semua. Yesus memanggil kita secara pribadi, tetapi bukan terisolasi. Dia memanggil kita ke dalam sebuah keluarga. Mudah untuk mencintai Yesus yang kita temui dalam doa; jauh lebih sulit untuk mencintai “Matius” atau “Petrus” yang duduk di samping kita di bangku gereja. Tidak jarang kita gagal mencintai sesama kita, menolak untuk mengampuni atau menyambut mereka. Mungkin tanpa sadar, kita memegang dendam, yang berkontribusi pada keputusan mereka untuk meninggalkan Gereja. Namun, jika Petrus dapat memeluk pria yang pernah berbuat jahat padanya, tentu kita dapat menerima mereka yang sulit kita cintai. Jangan sampai kita menjadi alasan seseorang merasa tidak diterima di rumah Bapa kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan refleksi:

Siapakah “pemungut cukai” dalam hidupku, orang yang paling sulit aku maafkan atau sambut dalam keluargaku, komunitas, dan Gereja? Apakah aku menggunakan aktivitas keagamaan dan devosiku sebagai tameng untuk menghindari tugas mencintai saudara-saudariku? Bagaimana caraku membawa orang-orang lebih dekat kepada Yesus?

Yesus, Anak Domba Allah

Minggu Biasa Kedua [A]

18 Januari 2026

Yohanes 1:29-34

Hari ini, Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa Yesus  sebagai “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” Bagi kita umat Katolik, gelar ini adalah salah satu yang paling familiar, karena kita mengucapkannya setiap Misa sebelum menerima Komuni Kudus. Namun, apakah kita memahami artinya? Mengapa kita harus mengucapkan pengakuan ini sebelum menerima komuni?

Untuk memahami makna gelar ini, kita harus kembali ke Perjanjian Lama. Domba adalah hewan kurban yang paling khas di Israel. Domba digunakan sebagai kurban Paskah, yang melalui kurban ini, Allah menyelamatkan Israel dari kematian dan membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Domba juga menjadi pusat ibadah di Bait Allah: sebagai “Tamid,” persembahan harian (Kel 29:39); “Olah,” persembahan bakaran (Im 1:10); “Shelamim,” persembahan damai (Im 3:7); dan “Hattat,” persembahan dosa (Im 4:32).

Kita mungkin bertanya, “Mengapa domba?” Alasannya sebagian praktis. Domba melimpah di zaman kuno, tetapi berbeda dengan ternak lain, domba memberikan perlawanan paling sedikit saat menghadapi kematian. Domba tidak melawan; tidak juga berteriak. Kesunyian ini menginspirasi Nabi Yesaya untuk menggambarkan figur “Hamba yang Menderita,” … “Seperti domba yang dibawa ke pembantaian, dan seperti domba yang diam di hadapan pemotong bulu, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya (Yes 53:7).”

Namun, Yesus bukanlah domba biasa. Dia adalah Domba Allah. Frasa Yunani “ho amnos tou Theou (ὁ ἀμνὸς τοῦ θεοῦ)” tidak hanya berarti domba milik Allah, tetapi juga domba yang berasal dari Allah. Yesus adalah korban yang sempurna, disiapkan bukan oleh tangan manusia, tetapi oleh Bapa sendiri. Dia menjadi penggenapan nubuat Abraham kepada Ishak, saat Ishak bertanya dimanakah hewan untuk kurban, “Allah sendiri akan menyediakan domba (Kej 22:8).” Karena Dia adalah dari Allah, Dia adalah satu-satunya persembahan yang benar-benar berkenan bagi Allah.

Yesus, oleh karena itu, adalah Anak Domba Allah karena Dia adalah pemenuhan sempurna dari setiap korban Perjanjian Lama.

  • Seperti Anak Domba Paskah, Dia disembelih, darahnya dicurahkan dan dagingnya dimakan agar kita terhindar dari kematian kekal dan perbudakan dosa.
  • Seperti “Tamid”, Dia dipersembahkan setiap hari dalam Ekaristi.
  • Seperti “Olah”, Dia memberikan diri sepenuhnya dalam ketaatan kepada Bapa.
  • Seperti “Shelamim”, Dia adalah sarana pendamaian kita dengan Bapa (Ef 2:14).
  • Seperti “Hattat”, Dia menjadi persembahan yang membersihkan kita dari dosa-dosa (2 Kor 5:21).

Itulah mengapa kita berseru, “Domba Allah… kasihanilah kami.” Kita mengakui bahwa tanpa kurban-Nya yang sempurna, kita tidak dapat diselamatkan dari dosa-dosa kita. Dan akhirnya, ketika kita berseru, “Berikanlah kami damai,” kita mengaku bahwa tanpa Yesus—kurban damai sejati kita—tidak ada rekonsiliasi antara kita dan Bapa.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk refleksi:

“Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menerima kurban Yesus dalam Ekaristi dengan layak? Bagaimana kita berpartisipasi dalam Misa? Apakah tindakan kita selama liturgi mendekatkan kita pada Yesus, ataukah justru mengalihkan perhatian kita? Akhirnya, bagaimana kita mempersembahkan hidup kita kepada Allah melalui aktivitas sehari-hari kita?”

Mengapa Yesus Dibaptis?

Pembaptisan Tuhan [A]

11 Januari 2026

Mat 3:13-17

Salah satu pertanyaan yang sering membingungkan kita adalah: mengapa Yesus perlu dibaptis oleh Yohanes Pembaptis? Yohanes sendiri menyatakan bahwa baptisannya adalah tanda pertobatan. Mereka yang datang kepadanya harus terlebih dahulu mengakui dosa-dosa, sehingga baptisan air menjadi tanda dari penolakan terhadap dosa dan perubahan hidup. Namun, kita tahu bahwa Yesus itu tanpa dosa [Ibr 4:15; 1 Pet 2:22]. Lalu, bagaimana kita memahami baptisan Yesus?

Domenico Ghirlandaio, The Baptism of Christ, 1486-90

Pertanyaan yang sama juga telah membingungkan banyak teolog besar sepanjang sejarah. Meskipun tidak mungkin mencantumkan setiap tafsiran di sini, Santo Proklus, Patriark Konstantinopel abad ke-5, memberikan wawasan yang mendalam. Dalam khotbahnya berjudul, “Holy Theophany,” ia mengajak kita untuk menyaksikan sebuah paradoks, “Mari datang dan lihatlah mukjizat baru dan mengagumkan: Matahari Keadilan membasuh diri di Sungai Yordan, api terendam dalam air, Allah dikuduskan melalui pelayanan manusia.” Pada dasarnya, Santo Proklus melihat baptisan Yesus bukan sebagai kebutuhan untuk pengampunan, tetapi sebagai “mukjizat kerendahan hati.”

Ketika orang Israel datang kepada Yohanes untuk dibaptis, itu tentu merupakan tindakan kerendahan hati, mengakui di hadapan Allah akan dosa-dosa mereka dan kesediaan untuk bertobat. Namun, ketika Yesus yang ilahi dibaptis oleh Yohanes yang manusia, hal ini melampaui kerendahan hati biasa; itu adalah kerendahan hati yang luar biasa, bahkan bersifat adikodrati. Santo Proclus mengajarkan bahwa meskipun kerendahan hati yang mengagumkan ini sudah ada sejak kelahiran Yesus, pembaptisan berbeda dari Natal. Kelahiran adalah mukjizat yang tersembunyi, tetapi Pembaptisan adalah peristiwa publik yang disaksikan oleh banyak orang, di mana Allah Bapa secara terbuka menyatakan bahwa Ia berkenan dengan tindakan pengosongan diri Putra-Nya.

Hal ini memberikan pelajaran penting bagi kita semua: melalui kerendahan hati ilahi, kita menerima keselamatan dan dikuduskan. Dalam kerendahan hati-Nya, Putra Allah menjadi manusia dan menempatkan diri-Nya di bawah Yusuf dan Maria. Dalam kerendahan hati-Nya, Yesus dibaptis oleh Yohanes, menjadi satu dengan orang-orang yang Dia akan selamatkan. Dalam kerendahan hati-Nya, Kristus dengan sabar menanggung salib, menerima kematian sebagai korban yang sempurna untuk penebusan kita. Yesus mencintai Bapa dengan sempurna; dari kasih yang mendalam ini, kerendahan hati lahir; dari kerendahan hati yang luar biasa ini, ketaatan terlahir; dan melalui ketaatan Yesus sepanjang hidup-Nya, kita diselamatkan.

Santo Filipus Neri dikenal sebagai rasul orang-orang Roma. Sekali peristiwa, Paus pernah meminta dia untuk menyelidiki seorang biarawati yang dikabarkan menerima penglihatan dari Tuhan dan melakukan mukjizat. Dalam perjalanan ke biara tersebut, hujan turun dengan deras, dan jalan-jalan menjadi berlumpur. St. Filipus itu terus melanjutkan perjalanannya, meskipun pakaiannya basah kuyup dan sepatunya berlumpur. Setibanya di sana, biarawati itu menyambutnya dengan gembira, ingin berbagi penglihatannya dengan seorang imam yang dikagumi di kota Roma. Namun, hal pertama yang diminta Santo Filipus adalah agar biarawati itu membantunya melepas sepatunya yang kotor penuh lumpur. Biarawati itu marah, menegurnya, dan menyatakan bahwa permintaan seperti itu terlalu menghina bagi seorang wanita rohani seperti dirinya.

Santo Filipus segera kembali ke Vatikan. Ia melaporkan kepada Paus, “Bapa Suci, dia bukan seorang yang kudus.” Ketika Paus bertanya bagaimana ia bisa mencapai kesimpulan itu begitu cepat, Filipus menjawab, “Ia tidak memiliki kerendahan hati. Dan di mana tidak ada kerendahan hati, tidak ada kekudusan.”

Seperti yang Yesus ajarkan kepada kita hari ini, mari kita memohon kepada Tuhan untuk keutamaan yang sama, agar kita dapat mengikuti kerendahan hati-Nya dan benar-benar tumbuh dalam kekudusan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apakah saya cenderung memisahkan diri dari orang-orang yang saya anggap “lebih rendah”? Apakah saya memandang kerendahan hati sebagai kelemahan yang merusak reputasi saya, atau apakah saya melihatnya sebagai kekuatan ilahi yang harus saya praktikan? Jika saya kesulitan untuk taat kepada Tuhan atau otoritas Gereja, apakah sebenarnya karena saya tidak memiliki kerendahan hati dan kasih?

Para Majus dan Herodes

Epifani [A]

4 Januari 2026

Matius 2:1-12

Cerita tentang Para Majus mengingatkan kita akan sesuatu yang sangat mendasar saat kita mencari Yesus. Apakah hal itu?

Para Majus bukanlah berasal dari bangsa Yahudi, namun mereka dengan tulus mencari Raja Israel yang baru lahir. Identitas Para Majus tetap menjadi misteri. Kata Yunani magos—dari mana kata Inggris Majusc berasal—merujuk pada seseorang yang ahli dalam ilmu-ilmu kuno. Ilmu-ilmu kuno ini sangat berbeda dengan ilmu modern: eksperimen dan mitos, pengamatan alam dan ritual, seringkali saling terkait. Ini adalah masa ketika astronomi erat terkait dengan astrologi, dan kimia dengan alkimia.

    Meskipun tidak dinyatakan secara eksplisit dalam Kitab Suci, banyak tradisi mengidentifikasi para Majus sebagai tiga raja dari Timur. Tertullian (wafat tahun 225 M), menafsirkan kisah Epifani berdasarkan Mazmur 72 dan Yesaya 60, merujuk pada para Majus sebagai raja. Meskipun para Majus tidak mesti raja, mereka kemungkinan besar adalah orang-orang berkedudukan tinggi, karena Herodes, raja Yerusalem, menerima mereka dan memperlakukan mereka dengan hormat. Angka tiga umumnya berasal dari tiga hadiah yang diberikan kepada Kristus: emas, kemenyan, dan mur. Bukti tertulis tertua tentang “tiga” Majus muncul dalam mozaik abad keenam di Gereja Sant’Apollinare Nuovo di Ravenna, Italia. Nama-nama Melkior, Gaspar, dan Balthasar muncul dalam tradisi Latin pada periode yang sama.

    Kisah para Majus menjadi lebih mencolok ketika dibandingkan dengan rekan-rekan Yahudi mereka: Herodes, raja Yerusalem, dan para cendekiawan Yahudi. Ketika Herodes mendengar berita tersebut, ia segera berkonsultasi dengan para ahli agama di istananya. Setelah memeriksa Kitab Suci dengan cermat, mereka mengonfirmasi penemuan para Majus dan mengidentifikasi Betlehem sebagai tempat kelahiran raja baru. Namun, berbeda dengan para Majus—yang menggunakan kebijaksanaan dan pengetahuan mereka untuk menghormati anak itu—Herod dan penasihat-penasihatnya menggunakan pemahaman mereka tentang Kitab Suci untuk merencanakan kehancuran Mesias yang dijanjikan.

    Perbedaan antara para Majus dan Herodes menjadi pola bagi apa yang akan terjadi pada Yesus. Pada awal hidup-Nya, Yesus dihormati oleh para Majus yang bukan Yahudi tetapi dicari untuk dihancurkan oleh Herodes dan penasihatnya. Demikian pula, pada akhir hidup-Nya di bumi, Yesus dihukum oleh imam-imam kepala dan pemimpin agama, dituduh sebagai Mesias palsu, sementara Ia diakui oleh kepala pasukan Romawi sebagai Anak Allah (Mat 27:54).

    Akhirnya, setelah para Majus menemukan Yesus dan memberi hormat kepada-Nya, mereka pulang melalui “jalan yang berbeda”. Rincian ini mengandung simbolisme yang mendalam: bertemu dengan Yesus membawa kepada pertobatan sejati dan transformasi. Kita mungkin sibuk mempelajari Kitab Suci, terlibat dalam karya amal, atau melayani di pelayanan Gereja, tetapi jika kita tidak benar-benar menemukan Yesus di dalamnya, tidak ada pertobatan yang sejati. Tanpa menemukan Yesus, kita mungkin hanya menemukan diri kita sendiri. Bahayanya adalah hal ini dapat menyebabkan frustrasi ketika kita gagal atau kesombongan ketika kita berhasil. Dalam kedua kasus ini, kita tidak menemukan kebahagiaan sejati. Seperti Herodes dan penasihatnya, kita bahkan dapat menyalahgunakan pengetahuan iman kita dengan cara yang merusak kehidupan rohani kita dan melemahkan iman kita pada Kristus.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan Panduan:

    Apakah saya lebih mirip para Majus atau seperti Herodes dan penasihatnya dalam cara saya mencari Yesus? Bagaimana saya menggunakan pengetahuan dan talenta yang Tuhan berikan kepada saya? Apakah kegiatan keagamaan saya benar-benar membawa saya ke dalam pertemuan dengan Yesus? Dalam hal apa pertemuan dengan Kristus telah mengubah arah hidup saya? Apa yang menghalangi saya untuk mengenali Kristus ketika Dia datang dengan tenang dan rentan?

    Featured

    St. Yusuf: Pelindung Keluarga Kudus

    Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria, dan Yusuf
    28 Desember 2025 [A]
    Matius 2:13–15, 19–23a

    Saat kita merayakan Pesta Keluarga Kudus, kita merenungkan apa yang membuat keluarga ini kudus. Tentu saja, di pusatnya adalah kehadiran Yesus, Allah yang menjadi manusia. Namun, kekudusan tidak berarti pasif dan diam saja. Baik Maria maupun Yusuf secara aktif menerima peran unik dan vital dalam rencana Allah dalam keluarga mereka. Injil hari ini dari Matius khususnya berbicara tentang misi Yusuf, pelindung dan kepala Keluarga Kudus. Apa yang dapat kita pelajari dari kesaksiannya?

    Matius menceritakan bagaimana Yusuf memimpin keluarganya ke pengasingan. Diperingatkan dalam mimpi tentang niat jahat Herodes, ia membawa Maria dan Yesus dan melarikan diri pada malam hari ke Mesir. Setelah kematian Herodes, seorang malaikat kembali memerintahkan Yusuf untuk kembali—hanya untuk mengetahui bahwa putra Herodes, Archelaus, memerintah Yudea dengan kekejaman yang lebih besar. Jadi, Yusuf membimbing keluarganya bukan ke Betlehem, tetapi ke utara ke Nazaret di Galilea, di mana mereka dapat bersembunyi dan hidup dengan aman.

    Kisah Keluarga Kudus bukanlah kisah kenyamanan atau kesuksesan duniawi. Mereka mengalami penderitaan pengasingan, kerentanan para pengungsi, kelaparan, kemiskinan, serta tekanan memulai hidup dari awal. Di tengah cobaan-cobaan itu, Yusuf tetap teguh sebagai pelindung dan penyedia bagi keluarga kudus. Ia adalah penjaga yang tenang dan teguh yang memastikan keselamatan Yesus dan Maria.

    Yusuf tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun dalam Injil, namun perbuatannya berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Sebagai kepala keluarga, dia memahami apa yang harus dilakukan dan melaksanakannya dengan kesetiaan yang tenang. Dia adalah pria yang berani, rela menghadapi bahaya, ketidakpastian, dan kesulitan. Pada saat yang sama, dia adalah pria yang penuh cinta, siap mengorbankan waktunya, tenaganya, masa depannya, bahkan nyawanya untuk mereka yang dipercayakan padanya—Yesus dan Maria.

    Di atas segalanya, Yusuf adalah seorang pria yang memiliki iman dan doa yang mendalam. Kehendak Allah diungkapkan kepadanya melalui mimpi, yang dengan mudah dapat ia abaikan sebagai khayalan atau tipu daya sang jahat. Namun, Yusuf mengenali suara Allah yang berbicara melalui malaikat-Nya. Lebih dari sekadar mengenali asal usul ilahi mimpi tersebut, ia merespons dengan ketaatan yang segera dan tanpa ragu. Sadar akan risiko yang dihadapinya, Yusuf menaruh kepercayaan penuh pada Allah. Yusuf menunjukkan kepada kita bahwa kepemimpinan spiritual yang sejati dibangun atas mendengarkan, iman, dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah.

    Kita diundang untuk menjadi Yusuf yang baru dalam keluarga kita sendiri. Meskipun kita jauh dari sempurna, kita dapat memulai dengan meniru Santo Yusuf dalam cara-cara kecil dan setia. Seorang imam Dominikan, juga sahabat saya, pernah berbagi cerita tentang ayahnya. Dia mengakui bahwa ayahnya tidak terlalu religius, namun dia sangat berkomitmen pada satu praktik esensial: setiap Minggu, dia membawa seluruh keluarganya—istri dan lima anaknya—ke Misa. Selain itu, setiap dua bulan, dia memastikan semua anak-anaknya pergi ke pengakuan dosa. Yang paling mengesankan bagi romo ini adalah bahwa ayahnya selalu pergi ke pengakuan dosa terlebih dahulu, dengan tenang memberikan contoh bagi anak-anaknya. Saksi sederhana namun kuat itu meninggalkan bekas yang mendalam di hatinya dan akhirnya membawanya ke imamat.

    Banyak dari kita—termasuk saya sendiri—perlu belajar dari Santo Yusuf dan memohon perantaraannya untuk menjadi suami, orang tua, dan anggota keluarga yang lebih baik. Seperti dia, semoga kita menempatkan Tuhan di atas segalanya, melakukan pengorbanan harian karena kasih, menahan diri dari kemarahan, dan memilih pengampunan saat paling dibutuhkan.

    Santo Yusuf, doakanlah kami!

    Roma
    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan Refleksi:

    • Apakah kita mencintai Allah lebih dari diri kita sendiri?
    • Apakah kita bersedia melakukan pengorbanan kecil setiap hari karena cinta?
    • Bagaimana kita mengekspresikan amarah, terutama saat merasa frustrasi?
    • Bagaimana kita merespons saat hal-hal tidak berjalan sesuai rencana kita?
    • Apakah kita siap untuk memaafkan, bahkan saat itu sulit?

    Yusuf, Orang yang Benar

    Minggu Keempat Advent [C]

    21 Desember 2025

    Matius 1:18-24

    Seiring mendekati Natal, Injil memperkenalkan kita pada tokoh-tokoh kunci yang mengelilingi kelahiran Sang Mesias. Di antara mereka adalah Yusuf, ayah angkat Yesus. Matius, sang Injil, memberinya gelar yang mendalam: seorang “yang benar” (kata “tulus hati” sebenarnya kurang tepat). Apa artinya menjadi seperti Yusuf? Apa artinya menjadi benar?

    Matius menggunakan kata Yunani “δίκαιος” (dikaios), yang biasanya diterjemahkan sebagai “adil” atau “benar.” Dalam Alkitab, menjadi benar berarti hidup dalam ketaatan yang setia terhadap Hukum Allah, khususnya Taurat yang diberikan melalui Musa di Sinai. Kata sifat ini sangat penting bagi seorang Israel. Kitab Suci secara konsisten mengaitkan orang yang “benar”—yang hidup menurut Hukum Allah—dengan kebahagiaan dan berkat yang sejati. Mazmur 1 menyatakan, “Berbahagialah orang yang… bersukacita dalam hukum Tuhan, dan merenungkan hukum-Nya siang dan malam.” Amsal juga memuji, “Ingatan akan orang yang benar diberkati” (10:7). Mengapa hidup yang benar begitu layak dipuji dan memberikan berkat?

    Jawaban terletak pada cara orang Israel memahami Hukum Allah. Mereka tidak memandangnya sebagai pembatasan kebebasan, tetapi sebagai anugerah kasih dan identitas. Allah memberikan Hukum di Sinai setelah memilih Israel sebagai bangsa-Nya yang kudus. Oleh karena itu, hidup menurut Hukum bukanlah sekadar kewajiban; itu adalah tanda kesetiaan perjanjian mereka dan identitas mereka sebagai umat Allah. Pada dasarnya, mereka melihat Hukum sebagai bimbingan kasih Allah—jalan untuk menghindari jurang kesengsaraan dan rambu untuk mendekati-Nya, Sang Sumber segala berkat.

    Oleh karena itu, Yusuf disebut “benar” karena ia adalah orang Israel sejati yang merenungkan, mencintai, dan hidup menurut Hukum Allah. Selama masa pembentukannya, Yesus pasti menerima dari Yusuf tidak hanya pengetahuan tentang huruf-huruf Hukum, tetapi juga cinta Yusuf terhadap Allah dan perintah-perintah-Nya. Dalam Yusuf, Yesus dan Maria melihat seorang pria yang bahagia dan benar.

    Dari Santo Yusuf, kita belajar mencintai Allah melalui ketaatan yang setia. Namun, kita juga harus menghindari jebakan kekakuan dan legalisme, yang mengabsolutkan huruf-huruf hukum. Jika Yusuf memilih legalisme yang kaku, ia mungkin akan menerapkan hukuman terberat pada Maria saat mengetahui kehamilannya, yaitu rajam. Namun, keadilannya disempurnakan oleh kerahiman. Ia menyadari bahwa tujuan akhir Hukum adalah mengasihi Allah dan sesama, dan ini mendorongnya untuk melindungi hidup Maria. Yusuf adalah pria yang bahagia karena, melalui Hukum, ia mengasihi Allah dengan mendalam.

    Akhirnya, Yesus sendiri menghargai orang-orang yang “benar” dengan tinggi. Ia mengajarkan, “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran” (Mat 5:6), dan berjanji, “Maka orang-orang yang benar akan bersinar seperti matahari di kerajaan Bapa mereka” (13:43). Meskipun Yusuf tidak disebutkan secara eksplisit dalam ayat-ayat ini, pantaslah kita melihat dalam ayat-ayat ini cerminan kebajikan-Nya—kebajikan yang membentuk Keluarga Kudus Nazaret.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan untuk Renungan:

    Apakah saya berusaha mengenal Hukum Allah yang diwahyukan dalam Kitab Suci dan diajarkan oleh Gereja?

    Apakah saya merenungkan perintah-perintah Allah, mencari cara terbaik untuk hidup sesuai dengan cinta kepada Allah dan sesama?

    Apakah saya mengikuti aturan secara buta, atau apakah saya berusaha memahami roh dan tujuan di baliknya? Bagaimana saya memperlakukan mereka yang kesulitan hidup sesuai dengan aturan tersebut?

    Harapan Kita

    Minggu Ketiga Advent [A]

    14 Desember 2025

    Matius 11:2-11

    Yohanes Pembaptis mengutus murid-muridnya untuk menanyakan kepada Yesus, “Apakah Engkau yang akan datang, atau haruskah kami mencari yang lain?” Momen ini mengungkapkan ketidakpastian yang mendalam dalam diri Yohanes—seorang pria yang telah mengabdikan hidupnya untuk mempersiapkan jalan bagi Mesias. Lalu, mengapa ia ragu?

    Bagi kita umat Kristiani, identitas Yesus jelas. Namun, apa yang jelas bagi kita tidak selalu jelas bagi orang lain, bahkan bagi seseorang yang besar seperti Yohanes. Alasan mendasar mengapa banyak orang kesulitan mengenali Yesus sebagai Yang Dijanjikan adalah karena Ia seringkali tidak memenuhi ekspektasi manusia kita.

    Situasi Yohanes menggambarkan hal ini. Ia telah mendedikasikan dirinya sepenuhnya pada misi Allah—untuk mempersiapkan kedatangan Mesias. Namun, setelah menantang Herodes untuk bertobat, ia malah dipenjara dan menghadapi bahaya maut. Di saat gelap itu, ia bertanya-tanya: Apakah ia telah memenuhi kehendak Allah, ataukah ia telah bekerja sia-sia? Sejatinya, Allah telah mengungkapkan identitas Yesus kepada Yohanes di Sungai Yordan (Mrk 1:9; Mat 3:13-17; Luk 3:21-22; Yoh 1:29-34), namun keraguan tetap ada. Yesus tidak sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi Yohanes.

    Apa ekspektasi- ekspektasi itu? Seperti banyak orang Israel, Yohanes mungkin menantikan seorang Mesias seperti Daud—seorang pembebas politik yang akan mempersatukan Israel, menggulingkan kekuasaan Romawi, dan memulihkan kemuliaan nasional. Atau mungkin Yohanes mengharapkan seseorang yang mencerminkan gaya hidup asketisnya sendiri: seorang yang hidup dengan kesederhanaan yang ketat, puasa, dan mati raga. Namun, Yesus tidak datang sebagai pahlawan nasionalis, dan Ia juga tidak hidup seperti Yohanes. Sebaliknya, Ia menunjuk pada mukjizat-mukjizat yang Ia lakukan: “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta disembuhkan, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan…” (Luk 7:22). Ini adalah karya-karya ilahi, tanda-tanda yang mengesahkan identitas dan misi-Nya, meskipun Ia tidak sesuai dengan ekspektasi manusia.

    Dari kisah Yohanes, kita belajar pelajaran yang sangat penting: Allah tetap Allah, entah Dia memenuhi ekspektasi kita atau tidak. Memang, Allah seringkali tidak sesuai dengan gambaran terbatas kita tentang-Nya. Hal ini mendorong kita untuk terus-menerus memeriksa ekspektasi kita sendiri dan menyesuaikannya sesuai dengan wahyu-Nya. Menyadari ekspektasi kita dan merubahnya tidaklah mudah, bahkan Yohanes Pembaptis—nabi terbesar—mengalami ketidakpastian dan memiliki ekspektasi yang perlu disempurnakan.

    Seiring pertumbuhan rohani kita, kita dipanggil untuk mencari Allah lebih dari mencari keinginan kita sendiri. Hal ini membutuhkan refleksi jujur: Apa harapan kita terhadap Allah? Apakah harapan-harapan itu mendekatkan kita kepada-Nya atau justru menjauhkan kita? Kita percaya Allah adalah baik, tetapi bagaimana kita mengharapkan kebaikan-Nya itu terwujud? Apakah itu berarti kita selalu mendapatkan apa yang kita inginkan? Apakah doa-doa kita dijawab persis seperti yang kita harapkan? Apakah kita akan terhindar dari penderitaan? Dan ketika Allah tidak memenuhi ekspektasi kita, bagaimana kita merespons? Jika kita menjadi sedih, frustrasi, marah, atau bahkan dipenuhi kepahitan, masalahnya mungkin tidak terletak pada Allah, tetapi pada ekspektasi kita. Masa Advent ini sekali lagi mengajak kita untuk membersihkan ekspektasi kita dan mengizinkan Allah sungguh menjadi Allah kita.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan untuk refleksi:

    Apa ekspektasi- ekspektasi yang saya miliki tentang Allah? Bagaimana saya membayangkan Allah bekerja dalam hidup saya? Bagaimana saya merespons ketika Allah tidak memenuhi ekspektasi saya? Apakah ekspektasi saya mendekatkan saya kepada Allah, atau justru menciptakan jarak?