Transfigurasi dan Salib

Pesta Transfigurasi [A]

6 Agustus 2023

Matius 17:1-9

Hari ini Gereja merayakan Transfigurasi. Ini adalah peristiwa luar biasa dalam kehidupan Yesus dimana Yesus berubah rupa atau memanifestasikan kodrat ilahi-Nya kepada murid-murid-Nya yang terpilih, yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes. Tidak hanya penampilan-Nya yang menjadi putih menyilaukan, agung dan ilahi, tokoh-tokoh yang paling menonjol dalam Perjanjian Lama, Musa dan Elia juga muncul. Musa dan Elia menyaksikan Tuhan di gunung pada masa mereka. Sekarang, mereka menyaksikan Tuhan yang sama di Gunung Transfigurasi. Melihat Yesus dalam keilahian-Nya pastilah merupakan pengalaman yang fenomenal bagi Petrus, Yakobus dan Yohanes.  Tentunya, Petrus ingin menikmati pengalaman itu selamanya dan dengan demikian, ia menawarkan untuk membangun sebuah tenda agar mereka dapat tinggal selama mungkin dalam momen yang luar biasa itu.

Namun, Yesus memiliki rencana lain, dan berubah penampilan-Nya kembali menjadi manusia biasa. Yesus kemudian turun dari gunung dan berjalan menuju Yerusalem. Di sana, Dia memikul salib-Nya, mengalami penderitaan yang brutal dan kematian yang mengerikan. Dia diperlakukan sebagai penjahat terburuk, dan ditinggalkan oleh murid-murid terdekat-Nya. Mungkin, beberapa murid kecewa dan kehilangan harapan, dan beberapa lainnya marah dan frustrasi. Bahkan Petrus, Yakobus dan Yohanes tampaknya melupakan pengalaman mulia di gunung Tranfigurasi. Yakobus melarikan diri. Petrus bahkan menyangkal Dia. Hanya Yohanes yang tetap tinggal dan menemani ibu Yesus di kaki salib. Namun, justru inilah inti dari transfigurasi. Yesus yang ilahi di atas bukit transfigurasi adalah Yesus yang sama dengan Yesus yang menderita di bukit Kalvari. Yesus yang paling indah di atas awan yang ditemani oleh Musa dan Elia, adalah Yesus yang tersiksa di kayu salib yang diapit oleh dua penjahat.

Transfigurasi mengajarkan kita pelajaran yang sangat berharga. Seringkali, seperti para murid, kita hanya ingin tetap bersama Yesus ketika Yesus berada di saat-saat yang bercahaya. Namun, ketika Yesus disalibkan dan terlihat sengsara, kita gagal melihat-Nya, melarikan diri dan bahkan menyangkali-Nya. Kita lupa bahwa Dia adalah Yesus yang sama. Sangat mudah bagi kita untuk mengenali Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya ketika hidup kita diberkati dengan stabilitas finansial, kesehatan yang baik, atau karier yang sukses. Dan tentu saja, kita berkata kepada Tuhan, kita ingin tinggal selamanya di saat-saat yang mulia ini. Namun, apakah kita melihat Yesus ketika hidup kita sedang sulit? Mungkin, seperti para rasul, kita marah, frustrasi, dan menyalahkan Yesus.

Jadi, bagaimana kita dapat melihat Yesus di kayu salib? Kita perlu belajar dari rasul Yohanes, terutama  bagaimana Yohanes dapat melihat Yesus dan tetap setia? Pertama, Yohanes dapat melihat Yesus di kayu salib karena ia tidak sendirian. Ia melihat Yesus bersama dengan ibu Yesus. Ia belajar dari teladan Maria yang berdiri di depan salib Putra-Nya. Jika kita ingin melihat Yesus di kayu salib dan tetap setia kepada-Nya, kita harus bersama dengan ibu-Nya dan belajar darinya.  Apakah kita mengundang Maria ketika hidup kita sulit? Apakah kita berdoa rosario pada saat pencobaan?

Kedua, Yohanes juga tidak hanya dengan Maria, tetapi juga dengan murid-murid lain yang setia di kaki salib.  Merka mewakili Gereja. Apakah kita menyadari bahwa kita adalah bagian dari Gereja, Tubuh Kristus, dan penderitaan kita adalah penderitaan seluruh Gereja? Apakah kita mengijinkan Gereja untuk menemani kita saat kita berjalan melalui masa-masa sulit kita?

Ketiga, Yohanes berdiri di kaki salib Yesus, menyimbolkan kesatuannya dengan Yesus yang sengsara. Penderitaan itu sendiri sia-sia dan tak bermakna, tetapi saat kita menyatukannya dengan salib Yesus di dalam doa dan Ekaristi, maka penderitaan kita memiliki nilai penebusan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sang Penabur dan Jalan-Nya yang Misterius

Hari Minggu ke-15 dalam Waktu Biasa [A]
16 Juli 2023
Matius 13:1-23

Ada yang aneh dengan perumpamaan Yesus ini. Penabur itu melakukan sesuatu yang tidak patut dicontoh sebagai seorang petani. Penabur itu menyia-nyiakan benihnya. Ia membiarkan benih-benih itu jatuh ke jalan setapak, tanah berbatu, dan semak duri, tempat-tempat yang pasti akan membunuh benih ini. Jika benih-benih ini adalah sumber hidup petani, maka, dia sedang membunuh dirinya sendiri. Mengapa penabur melakukan sesuatu yang tampaknya tidak berguna dan bahkan bodoh?

Untuk menemukan jawabannya, kita harus memahami tujuan dari perumpamaan-perumpamaan Yesus. Banyak dari kita percaya bahwa perumpamaan adalah cerita sederhana yang digunakan Yesus untuk menyampaikan dan menyederhanakan ajaran-Nya. Itulah sebabnya seorang teolog mendefinisikan perumpamaan sebagai ‘ajaran-ajaran surgawi dalam cerita-cerita duniawi’. Sampai batas tertentu, definisi ini benar, tetapi tidak menangkap keseluruhan tujuan perumpamaan. Ketika Yesus ditanya, “mengapa Ia mengajar dalam perumpamaan? Yesus menjawab, “Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka, sebab mereka melihat tetapi tidak melihat, mendengar tetapi tidak mendengar dan tidak mengerti (Mat. 13:13).” Yesus menggunakan perumpamaan bukan untuk mengungkapkan ajaran-Nya, tetapi justru untuk menyembunyikan ajaran-Nya. Mengapa? Yesus menjelaskan bahwa dengan menggunakan perumpamaan, hanya mereka yang percaya kepada Yesus yang akan mengerti perumpamaan tersebut dan mempelajari pesannya, sementara mereka yang tidak percaya, hanya akan bingung.

Sekarang, bagaimana kita memahami penabur yang tampaknya menyia-nyiakan benihnya? Sekali lagi, kuncinya adalah iman kepada Yesus. Kita diundang untuk membaca perumpamaan ini dari sudut pandang iman. Jika berbagai jenis tanah melambangkan kondisi jiwa kita, dan benihnya adalah firman Tuhan, maka siapakah penaburnya? Bagi kita, orang-orang percaya, jawabannya sudah jelas. Penaburnya adalah Allah sendiri. Sekarang, jika kita mengetahui semua makna dari karakter dan elemen-elemen perumpamaan ini, kita dapat lebih memahami cerita ini. Sama seperti sang penabur di perumpamaan, Allah menyampaikan firman-Nya bukan hanya kepada satu jenis jiwa, tetapi kepada semua jiwa. Mengapa? Karena Dia mengasihi semua jiwa, dan ingin agar semua jiwa datang kepada keselamatan. Allah mengasihi semua orang, bahkan mereka yang melakukan hal-hal yang jahat, mereka yang tidak mengenal-Nya, dan mereka yang membenci-Nya.

Dia mengirimkan sinar matahari dan hujan bagi kita semua, meskipun kita tidak bersyukur. Dia menyediakan banyak hal baik dalam hidup kita, meskipun kita menganggapnya remeh. Pada akhirnya, Dia mengutus Yesus, Firman-Nya yang menjadi manusia, untuk menyelamatkan kita yang berdosa. Karena begitu besar kasih-Nya akan dunia ini, sehingga Ia telah mengutus Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Allah, sang penabur ilahi, tidak mengukur segala sesuatu dengan ukuran ekonomi duniawi, tetapi mengasihi kita dengan cuma-cuma.

Namun, kita tidak boleh lupa bahwa kita juga harus melakukan bagian kita. Kita diundang untuk mengubah jiwa kita menjadi tanah yang subur. Mungkin, pada awalnya, pikiran dan hati kita keras, atau penuh dengan batu keraguan, atau penuh dengan duri kemarahan. Namun, Tuhan memberi kita kebebasan dan juga rahmat pertobatan untuk mengubah hati kita menjadi tanah yang subur di mana Firman Tuhan dapat bertumbuh. Sebagian dari kita mungkin memiliki hati yang subur, tetapi kita tidak boleh lalai, melainkan terus menyuburkan tanah kita agar firman Tuhan dapat berbuah berlimpah.

Jenis tanah seperti apakah kita sekarang? Apakah kita mengenali karya Allah dalam hidup kita? Apa yang kita lakukan untuk menerima firman Tuhan dan membiarkan firman itu bertumbuh dan berbuah?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kuk Yesus

Minggu ke-14 dalam Masa Biasa

9 Juli 2023

Matius 11:25-30

Saya sangat diberkati karena diberi kesempatan untuk mengambil program S3 di bidang Kitab Suci (Teologi Biblis) di Roma, di jantung Gereja Katolik. Izinkan saya berbagi mengapa saya memilih bidang ini dan bagaimana kecintaan saya pada Sabda Allah dimulai. Dan hal ini berkaitan erat dengan Injil hari ini.

Ketika saya masih di Novisiat (awal hidup biarawan), saya membaca ayat ini di mana Yesus berkata, ‘Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang… karena kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan (Mat 11:28-30).”  Kuk adalah alat yang digunakan manusia atau hewan, seperti lembu atau keledai, untuk memikul beban. Kuk biasanya dibawa di pundak. Awalnya, saya membayangkan bahwa kita memiliki kuk yang harus kita pikul, yang memberatkan. Kuk ini melambangkan berbagai beban dan masalah dalam hidup kita. Kemudian, Yesus meminta kita untuk melepaskan kuk yang tidak perlu ini dan memikul kuk yang telah Yesus persiapkan untuk kita. Jadi, pada dasarnya ini adalah tentang ‘menganti’ kuk. Kuk Yesus lebih ringan daripada kuk kita; oleh karena itu, kuk ini memberi kita kelegaan dan istirahat.

Namun, seorang imam yang waktu itu masih belajar S3 dalam bidang Kitab Suci pernah mengunjungi kami. Dia membagikan sebagian pengetahuannya kepada kami, dan pada satu titik, dia memberi tahu kami tentang kuk. Di Palestina kuno (seperti di banyak tempat lainnya), ada jenis kuk yang dapat dibawa oleh dua orang atau hewan. Kuk ini dirancang untuk mendistribusikan beban ke kedua pundak secara merata. Jadi, ketika Yesus berkata, “Pikullah kuk yang Kupasang…” Yesus tidak hanya memberikan kuk kepada kita, tetapi Dia berbagi kuk dan memikulnya bersama kita. Kemudian, ketika kita lelah, Yesus akan memikul sebagian besar beban itu sehingga kita mendapatkan kelegaan.

Penjelasan imam ini cukup sederhana karena saya sudah pernah melihat jenis kuk seperti ini karena saya sering melihatnya ketika saya masih kecil. Namun, ketika dia menghubungkannya dengan kuk Yesus dan menemukan kelegaan, hal itu membuka pikiran saya dan memukau hati saya. Sungguh, saat saya pikir saya sudah tahu tentang Sabda Allah, ternyata saya tidak tahu apa-apa. Firman Tuhan itu kaya dan menarik hati. Jika sebuah kata sederhana seperti ‘kuk’ dapat memiliki makna yang dalam, maka demikian pula halnya dengan kata-kata, kalimat, dan realitas lainnya di dalam Alkitab. Kemudian, saya mulai membaca banyak tafsiran dan penjelasan tentang berbagai ayat Alkitab. Semakin banyak saya belajar, semakin saya ditarik ke dalam misteri yang tak berdasar namun indah. Seiring dengan perkembangan panggilan saya, saya memutuskan untuk memfokuskan studi saya di bidang ini.

Apakah kisah tentang Kuk ini berakhir dengan penemuan saya di Novisiat? Tidak! Ketika saya memasuki studi teologi saya di Manila, saya menyadari satu teologi Katolik yang khas: teologi partisipasi. Teologi ini mengajarkan kita bahwa Allah memang pelaku utama penebusan, tetapi Dia tidak memperlakukan kita hanya sebagai penerima yang pasif. Dia menjadikan kita sebagai partisipan aktif dalam karya keselamatan-Nya. Ya, Yesus telah wafat dan bangkit bagi kita, tetapi kita juga perlu berpartisipasi dalam misteri penebusan ini melalui iman, pengharapan dan kasih.

Kemudian, ketika saya menghubungkannya dengan ‘kuk’, teologi partisipasi menjadi lebih bermakna. Jika kita memikul kuk kita sendiri, maka kuk itu tidak lebih dari beban yang tak bermakna. Tetapi, ketika kita berpartisipasi dalam kuk Kristus, beban kita akan menjadi lebih ringan dan memiliki nilai rohani. Ya, kita sering kali tidak dapat melepaskan diri dari banyak situasi yang membebani dalam hidup kita, tetapi ketika kita menyatukannya dengan salib Yesus dan dengan setia memikulnya, semua itu akan menjadi berkat rohani dan sarana keselamatan.

Apakah kuk kita sehari-hari? Apakah kita memikulnya sendirian? Apakah kita mempersembahkannya kepada Tuhan? Apakah kita mengambil bagian dalam kuk-salib Yesus?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Takut

Minggu ke-12 dalam Masa Biasa [A]

25 Juni 2023

Matius 10:26-33

Takut adalah salah satu emosi manusia yang paling mendasar dan primitif. Rasa takut dapat didefinisikan sebagai reaksi emosional dan fisiologis terhadap bahaya atau ancaman yang dirasakan. Pada manusia dan banyak hewan, bagian kuno dari otak kita yang disebut amigdala memainkan peran penting dalam mengatur rasa takut. Ketika potensi ancaman terhadap kehidupan kita dirasakan, amigdala melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Hormon-hormon ini meningkatkan kewaspadaan kita dan memperkuat tubuh kita, dan dengan demikian, meningkatkan peluang kita untuk menyelamatkan hidup kita. Amigdala (dan rasa takut) bertanggung jawab atas kelangsungan hidup kita.

Akan tetapi, ada masalah besar. Otak kita, tidak seperti otak hewan, jauh lebih kompleks dan pintar. Amigdala hanyalah bagian yang kecil dari sistem yang lebih besar. Seiring dengan semakin majunya otak kita, pemahaman kita akan rasa takut pun semakin rumit. Kita tidak hanya takut pada bahaya fisik di depan mata kita, seperti api atau hewan buas, tapi juga pada potensi ancaman dan bahaya yang sebenarnya belum ada, atau bahkan tidak akan pernah ada. Dalam batas-batas tertentu, jenis ketakutan ini sesuatu yang normal, tetapi saat ketakutan ini berlebihan, ini menjadi permasalahan serius dalam hidup kita. Ketakutan ini muncul dalam berbagai bentuk seperti ‘overthinking,’ ‘comfort zone’, dan ‘insecurity (minder)’. Ketakutan ini melumpuhkan kita dan bahkan menekan pertumbuhan otentik kita.

Apa yang Yesus ajarkan kepada kita tentang rasa takut? Kita sering membaca dalam Injil bahwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jangan takut!” Namun, apakah ini berarti Yesus ingin kita menekan emosi kita? Apakah Yesus memerintahkan kita untuk bersikap gegabah dan mengabaikan rasa takut sama sekali? Injil hari ini memberi kita kebijaksanaan yang lebih dalam tentang ajaran Yesus tentang rasa takut. Yesus berkata, “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam Gehena (mat 10:28).” Yesus tidak meminta kita untuk mati rasa terhadap semua jenis takut, melainkan untuk mengetahui apa atau siapa yang benar-benar harus kita takuti.

Yesus sangat memahami bahwa rasa takut adalah emosi dasar manusia. Rasa takut memiliki tujuan penting untuk bertahan hidup; tanpa rasa takut, spesies manusia sudah lama punah. Oleh karena itu, membedakan antara objek ketakutan yang nyata dan yang semu sangat penting untuk menangani rasa takut kita dengan benar. Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa kita bukan hanya makhluk duniawi tetapi terutama makhluk yang diciptakan untuk Tuhan. Oleh karena itu, kita perlu lebih takut pada hal-hal yang akan memisahkan kita dari Allah, terutama dosa. Ya, secara alamiah kita takut akan hal-hal yang membahayakan tubuh kita, tetapi kita harus lebih takut akan hal-hal yang membahayakan jiwa kita, bahkan jika hal-hal tersebut memberikan kenyamanan dan keamanan bagi tubuh kita. Ajaran Yesus selaras dengan hikmat Perjanjian Lama: takutlah akan Tuhan (lihat Pkh. 12:13; Mzm. 34:9). Kita tidak takut kepada Tuhan karena Dia menakutkan, tetapi kita takut kehilangan Dia untuk selama-lamanya.

Sekarang, saatnya kita mengevaluasi hidup kita. Apa saja objek takut yang semu dalam hidup kita yang menghalangi kita untuk bertumbuh dan mengasihi Tuhan dan sesama kita? Apakah kita lebih takut pada hal-hal yang membahayakan kehidupan duniawi kita atau hal-hal yang menjauhkan kita dari kehidupan kekal? Apakah kita siap untuk menghadapi rasa takut kita demi Yesus?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ekaristi dan Manna

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus (Corpus Christi)
11 Juni 2023
Yohanes 6:51-58

Hari ini, Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, atau juga disebut Hari Raya Corpus Christi (bahasa Latin yang berarti “Tubuh Kristus”). Melalui hari Minggu ini, Gereja mengundang seluruh umat beriman untuk merenungkan sekaligus merayakan salah satu misteri dan mukjizat agung iman Katolik, yaitu kehadiran Yesus Kristus yang nyata dalam setiap Ekaristi. Seperti yang kita dengar dari Injil Yohanes, Yesus benar-benar memberikan Tubuh dan Darah-Nya sebagai makanan yang nyata, dan mereka yang makan Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya akan memiliki hidup yang kekal (Yohanes 6:51). Namun, apakah kita benar-benar memakan Tubuh dan Darah Yesus? Apakah itu berarti kita memakan daging manusia, dan dengan demikian, kita melakukan kanibalisme?

Ya, kita memang makan dan minum Tubuh dan Darah Kristus, tetapi kita tidak melakukan tindakan kanibalisme. Mengapa demikian? Cara termudah untuk menjawab tuduhan ini adalah dengan pergi ke Gereja dan mengamati liturgi Ekaristi itu sendiri. Dalam perayaan misa, tidak ada orang yang memakan daging mentah atau vampir yang menghisap darah segar. Tidak ada yang bersifat kanibal sama sekali dalam Ekaristi. Jadi, di manakah Tubuh dan Darah Kristus? Jawabannya mungkin sedikit rumit. Roti dan anggur yang dipersembahkan dan dikonsekrasikan oleh imam bukan lagi roti dan anggur biasa. Ya, apa yang terlihat tetap sama, tetapi kodratnya berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus yang sesungguhnya. Dalam perspektif ini, kita mengambil bagian dalam Yesus bukan dengan cara kanibal, melainkan dengan cara ekaristi.

Namun, ada hal yang lebih menarik lagi jika kita membaca perkataan Yesus dengan seksama. Ketika Yesus menjelaskan tentang realitas Tubuh dan Darah-Nya sebagai makanan yang sejati, Yesus membuat perbandingan tipologis dengan Manna yang diterima bangsa Israel di padang gurun. Apakah Manna itu? Banyak dari kita beranggapan bahwa Manna hanyalah sejenis roti biasa. Namun, jika kita membaca dengan seksama Kitab Keluaran 16, reaksi orang Israel yang melihat dan mengambil Manna itu sangat terkejut karena mereka tidak pernah melihat makanan semacam itu sebelumnya. Faktanya, kata Manna berasal dari bahasa Ibrani מָן הוּא (baca: man hu; Kel 16:15), yang secara harafiah berarti “apakah ini?” Orang Israel ragu-ragu, tetapi Musa meyakinkan mereka bahwa ini adalah roti yang datang dari surga untuk menopang mereka dalam perjalanan melalui padang gurun.

Dari perbandingan tipologis ini, Yesus ingin kita melihat Tubuh-Nya seperti Manna dalam Perjanjian Lama. Sebagaimana Manna adalah makanan sejati yang berasal dari surga, demikian juga Tubuh Yesus adalah makanan sejati yang berasal dari surga. Sebagaimana Manna adalah makanan yang menopang perjalanan bangsa Israel di padang gurun, demikian juga Tubuh Yesus adalah makanan yang menopang perjalanan kita di bumi. Sebagaimana Manna terlihat seperti roti biasa, namun pada kenyataannya merupakan sesuatu yang melampaui pemahaman bangsa Israel, demikian juga Tubuh Kristus terlihat seperti roti biasa, namun pada kenyataannya merupakan rahmat terbesar yang melampaui pemahaman kita.

Kita bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan Tubuh dan Darah-Nya, seluruh diri-Nya kepada kita sebagai roti kehidupan yang menyehatkan dan melestarikan kita di lembah duka ini. Ekaristi menjadi bukti kasih-Nya, bahwa Dia akan menyertai kita sampai akhir zaman.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengapa Kita Percaya kepada Tritunggal Mahakudus

Hari Raya Tritunggal Mahakudus
4 Juni 2023
Yohanes 3:16-18

Pada hari Minggu setelah Pentekosta, Gereja merayakan misteri dari segala misteri, yaitu Tritunggal Mahakudus, Satu Allah dalam Tiga Pribadi, Bapa, Putra dan Roh Kudus. Tidak diragukan lagi, kebenaran ini sangat sulit untuk dipahami, apalagi dijelaskan. Namun, mengapa Gereja bersikeras untuk mengajarkan hal ini dan bahkan merayakan misteri ini? Mengapa Gereja tidak mengajarkan sesuatu yang lebih sederhana daripada misteri Tritunggal, dan mungkin, Gereja dapat memperoleh lebih banyak pengikut?

Gereja tidak dapat mengubah ajaran tentang Tritunggal Mahakudus. Mengapa? Karena ini adalah kebenaran Injil! Seandainya Gereja memproklamasikan versi Allah yang telah dipermudah, Gereja akan berada dalam kesalahan besar dan kehilangan identitasnya sebagai Gereja yang didirikan oleh Kristus. Kenyataannya, ada upaya-upaya untuk mengubah misteri ini sejak awal sejarah Gereja. Ada beberapa teolog yang mengusulkan bahwa Allah itu hanya satu satu pribadi (bukan tiga), dan Dia hanya menampakkan diri dalam berbagai ‘mode’ ketika berhadapan dengan ciptaan. Dia adalah Bapa ketika Dia menciptakan dunia, Putra ketika Dia menyelamatkannya, dan Roh Kudus ketika Dia menguduskannya. Ajaran ini secara tradisional disebut sebagai modalisme, dan Gereja menolak tegas ajaran ini.

Ajaran lain mengatakan bahwa Bapa adalah satu-satunya Allah, sementara Yesus (dan Roh Kudus) bukanlah ilahi, dan dengan demikian tidak ada ‘Tritunggal’. Salah satu pencetus pandangan ini adalah Arius dari Aleksandria dari abad ke-4 Masehi. Dia mengatakan bahwa Yesus bukanlah ilahi, melainkan makhluk ciptaan yang dikaruniai kekuatan super. Pada masa itu, hal ini menjadi kontroversi besar, dan kesederhanaan ajaran Arius menarik banyak orang. Gereja tahu bahwa ajaran ini tidak benar dan dengan tegas menyatakannya sebagai ajaran yang salah, dan karena itu Gereja harus mengalami penganiayaan. Banyak umat beriman memilih mati daripada meninggalkan misteri Tritunggal Mahakudus.

Mengapa kita tidak memilih ajaran tentang Tuhan yang lebih sederhana? Mengapa Gereja mempertahankan kebenaran yang sangat kompleks dan sulit tentang Tritunggal Mahakudus? Ajaran-ajaran yang sederhana mungkin menarik dan mudah diterima, tetapi bukan berarti ajaran-ajaran yang lebih kompleks secara otomatis salah atau tidak relevan. Sebagai contoh, penjumlahan dan pengurangan adalah hal yang paling mendasar dan paling sederhana dalam matematika, tetapi matematika juga mengandung aljabar dan geometri yang kompleks. Apakah ini berarti kita dapat dengan mudah mengabaikan aljabar dan menganggapnya salah karena terlalu rumit untuk kita pahami? Tentu saja tidak! Kebenaran tidak berubah meskipun kita tidak menyukainya atau mengabaikannya. Kebenaran tetap ada meskipun kita mencoba untuk menggantinya.

Bagi Gereja, misteri Tritunggal Mahakudus bukanlah satu kebenaran di antara kebenaran lainnya, melainkan kebenaran dari segala kebenaran. Bahkan, kebenaran inilah yang menyelamatkan. Seperti halnya mempelajari kebenaran matematika yang dapat membantu kita dalam membangun rumah dan dengan demikian, meningkatkan kehidupan kita. Demikian pula mempelajari dan menghayati kebenaran tertinggi, misteri Tritunggal, dapat membawa kita lebih dekat kepada kehidupan kekal. Akan tetapi, jika kita mempercayai dan mengajarkan pemahaman yang salah tentang Allah kita, hal ini dapat menyesatkan kita dan bahkan membahayakan keselamatan jiwa kita. Inilah sebabnya mengapa kita senantiasa percaya, mengajarkan dan menghidupi misteri Tritunggal Mahakudus.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengapa Pintu Gerbang

Minggu Keempat Paskah [A]
30 April 2023
Yohanes 10:1-10

Hari ini adalah hari Minggu keempat Paskah dan tradisi Gereja Katolik menyebutnya juga sebagai Minggu Gembala yang Baik. Alasannya bisa kita temukan dalam Bacaan Injil dimana Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai sang Gembala yang Baik. Namun, tidak hanya sebagai Gembala yang baik, tetapi Yesus juga menyebut diri-Nya sebagai ‘Sang Pintu Gerbang’. Ketika Yesus menyatakan bahwa Dia adalah pintu gerbang bagi domba-domba, ini berarti bahwa hanya melalui Yesus, kita, domba-domba-Nya, dapat menemukan kelegaan dan keselamatan yang sejati. Namun, mengapa Yesus menyebut diri-Nya sebagai pintu gerbang? Bukankah menjadi gembala yang baik sudah cukup bagi kita? Jawabannya terletak pada kehidupan dan tugas seorang gembala pada zaman Yesus, dan salah satu tugas utama seorang gembala adalah sungguh menjadi ‘pintu gerbang.’

Domba pada umumnya adalah hewan yang berada di padang rumput terbuka daripada di dalam kandang tertutup. Oleh karena itu, untuk mengumpulkan dan melindungi domba-domba pada malam hari, para gembala membangun ‘kandang terbuka’ yang terbuat dari struktur tembok batu melingkar, kurang lebih setinggi 1,5 meter di padang terbuka. Ukuran struktur ini pasti akan tergantung pada banyak atau sedikitnya domba yang ada. Kemudian, umumnya kandang tersebut hanya memiliki satu jalan masuk, dan yang membuat pintu ini unik adalah sang gembala akan menempatkan dirinya di jalan masuk tersebut, dan seolah-olah berfungsi sebagai pintu gerbang. Dengan berada pada posisi tersebut, sang gembala mencegah domba-dombanya keluar dan melindungi mereka dari binatang buas yang mencoba masuk. Gembala juga harus waspada dan berjaga-jaga terhadap pencuri yang akan melompati tembok kandang dan mencelakakan domba. Sekarang, kita tahu bahwa gembala secara harfiah menjadi pintu gerbang kandang domba. Pada pagi hari, gembala akan memanggil domba-dombanya dan mereka akan mengikutinya saat mereka keluar melalui gerbang dan berjalan menuju padang rumput yang hijau.

Yesus adalah pintu gerbang. Ini berarti bahwa hanya di dalam Dia dan melalui Dia, kita menemukan keselamatan sejati dari bahaya yang datang dari yang jahat (dilambangkan sebagai ‘binatang buas’ dan ‘pencuri’). Meskipun benar bahwa hidup di dunia ini, kita terus-menerus menghadapi bahaya dalam bentuk penyakit, krisis keuangan, masalah mental dan relasi, dan bahaya fisik lainnya, satu-satunya bahaya yang dapat memiliki konsekuensi kekal adalah bahaya yang menghancurkan jiwa kita. Tidak ada makhluk lain yang bekerja tanpa henti untuk menyakiti jiwa kita kecuali iblis dan tentaranya. Menghadapi musuh-musuh rohani yang sangat berbahaya ini, kita hanya dapat mengandalkan Yesus, Gembala dan Pintu Gerbang kita.

Sekali lagi, kita perlu diingatkan bahwa kasus-kasus kerasukan dan serangan fisik dari roh jahat adalah cara-cara yang luar biasa. Cara-cara yang biasa dan lazim untuk mencelakai jiwa kita adalah melalui godaan-godaan untuk berbuat dosa. Dengan demikian, hanya di dalam Yesus dan melalui sarana yang Dia berikan kepada kita melalui Gereja-Nya, kita menemukan keamanan sejati kita dari serangan si jahat. Melalui penerimaan Ekaristi secara teratur dan saleh, kita terus merumput di ‘padang rumput hijau rohani’. Melalui sakramen rekonsiliasi, Gembala yang Baik sekali lagi membawa kita, domba-domba yang hilang, ke kandang. Melalui berbagai latihan rohani, seperti devosi, puasa dan amal, kita bertumbuh dalam kepekaan terhadap suara Gembala kita dan juga melindungi diri dari musuh-musuh rohani kita. Hanya di dalam dan melalui Yesus, pintu gerbang sejati, kita menemukan keamanan dan kedamaian yang sejati.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jalan menuju Emaus, Jalan menuju Ekaristi

Minggu ke-3 Paskah [A]

23 April 2023

Lukas 24:13-35

Dua orang murid Yesus pergi ke sebuah desa bernama, Emaus. Salah satu dari mereka adalah Kleopas, dan rekan seperjalanannya yang kemungkinan adalah istrinya sendiri, Maria [lihat Yoh. 19:25]. Mengapa mereka pergi ke Emaus? Mungkin mereka takut dengan penguasa Romawi dan Yahudi yang mengejar murid-murid Yesus setelah jenazah Yesus diketahui hilang. Oleh karena itu, mereka bersembunyi di Emaus. Alasan lainnya adalah keputusasaan. Meskipun Injil tidak secara eksplisit mengatakan bahwa Emaus adalah kampung halaman Kleopas, namun ada kemungkinan besar bahwa Emaus memang tempat asal Kleopas. Harapan dan ekspektasi mereka hancur ketika Yesus, Mesias yang mereka harapkan, dikhianati dan disalibkan. Mereka tidak lagi memiliki alasan untuk tinggal di Yerusalem. Akhirnya, mereka memutuskan untuk meninggalkan murid-murid yang lain dan kembali ke rumah mereka di Emaus.

Namun, Yesus memiliki rencana khusus untuk mereka. Di tengah perjalanan, Yesus menampakkan diri, meskipun mereka tidak dapat mengenali-Nya. Yesus memulai dialog dengan menanyakan keadaan mereka. Dengan sedih, mereka mulai menceritakan kepada-Nya bagaimana mereka mengharapkan Yesus untuk menebus Israel, tetapi Dia gagal, dan wafat di kayu salib. Bahkan dalam kekecewaan mereka, Kleopas menganggap Yesus hanya sebagai seorang nabi, bukan lagi Mesias. Kemudian, Yesus menegur mereka karena kelambanan mereka untuk mempercayai apa yang telah dinubuatkan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama tentang Mesias. Kemudian, Yesus mulai menjelaskan ‘Musa dan para nabi’ (yaitu Kitab Suci Perjanjian Lama) kepada mereka. Ini adalah bible study pertama pasca kebangkitan dan diberikan oleh Yesus sendiri!

Lukas memberikan kita detail yang menarik tentang bagaimana metode Yesus dalam melakukan bible study. “Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Diadalam seluruh Kitab Suci… [Luk 24:27].” Pusat gravitasi dari bible study ini adalah Yesus. Dia menunjukkan bagaimana Musa dan para nabi telah bernubuat tentang Dia, dan bagaimana sekarang Yesus telah menggenapi nubuat-nubuat tersebut melalui penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya. Dalam tradisi Gereja, metode ini disebut ‘katekese tipologis’ [lih. KGK 129). Sederhananya, tipologi adalah sebuah cara untuk melihat tokoh-tokoh, tempat-tempat, dan peristiwa-peristiwa dalam Perjanjian Lama digenapi dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam diri Yesus Kristus. Faktanya, Gereja mula-mula juga menggunakan metode Yesus ini. Sebagai contoh, Paulus dalam suratnya, menyebut Yesus sebagai Adam yang baru atau Adam yang kedua [lih. Rm. 5:12-21; 1 Kor. 15:45-49]. Namun, Yesus lebih dari sekadar Adam yang baru. Dia juga Musa yang baru, Daud yang baru, dan banyak lagi.

Namun, Bible Study Yesus bukan hanya tentang metode yang baik. Bahkan, ini bukan tentang pendalaman ilmu Kitab Suci. Ada sesuatu yang lebih dalam. Kisah Kleopas dan rekannya tidak berakhir dengan berakhirnya Bible Study, walaupun mereka ingin Yesus tinggal lebih lama bersama mereka. Maka, Yesus tinggal bersama mereka, tetapi dengan cara yang baru dan kekal. Dia mengambil roti, memberkati, memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada mereka. Setiap umat Katolik yang rajin ke Gereja akan segera mengenali tindakan Yesus ini sebagai Ekaristi, dan Ekaristi adalah Yesus sendiri. Demikian juga, mata Kleopas dan rekannya terbuka, dan mereka mengenali Yesus dalam Ekaristi pertama pasca-kebangkitan ini. Jadi, tujuan akhir dari bible study Yesus adalah untuk membawa kita kepada Ekaristi.

Kisah Cleopas dan perjalanannya ke Emaus selalu menjadi inspirasi pribadi saya. Sebelum saya pergi ke Roma, saya biasa memberikan Bible Study setiap Sabtu malam. Dalam program ini, saya menjelaskan bacaan-bacaan pada hari Minggu besoknya. Kegiatan ini bukan hanya untuk mendalami Alkitab terutama melalui metode Yesus, tetapi tujuan sebenarnya adalah untuk membantu kita mengalami perjumpaan yang lebih dalam dengan Yesus dalam Ekaristi. Jika sebuah Bible Study tidak membawa kita kepada Yesus dalam Ekaristi, maka ini bukanlah Bible Study Yesus.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kerahiman Ilahi dan Sakramen Pengakuan Dosa

Minggu Kedua Paskah [A]

Minggu Kerahiman Ilahi

16 April 2023

Yohanes 20:19-31

Pada 30 April 2000, Paus Yohanes Paulus II mendeklarasikan Minggu Paskah Kedua sebagai Minggu Kerahiman Ilahi. Lalu, pertanyaannya adalah “Mengapa Paus Yohanes Paulus II memilih hari Minggu Paskah kedua sebagai Hari Minggu Kerahiman Ilahi?” Jawabannya terkait dengan catatan harian St. Faustina yang menulis instruksi Yesus untuk menjadikan hari Minggu kedua Paskah sebagai Hari Raya Kerahiman Ilahi. Melalui St Faustina, Yesus tidak hanya meminta untuk merayakan Minggu Kerahiman, tetapi juga mengundang umat beriman untuk melaksanakan pengakuan dosa dan menerima komuni pada hari itu. Namun, apa yang sebenarnya membuat hari Minggu kedua Paskah ini layak disebut sebagai Minggu Kerahiman Ilahi dapat kita temukan pada Injil hari ini. Mari kita telusuri lebih jauh.

Yohanes Penginjil menceritakan dua peristiwa penampakan Kristus yang telah bangkit kepada para murid-Nya, yaitu pada hari Minggu kebangkitan dan pada hari Minggu berikutnya. Tentunya, tokoh utama penghubung dua penampakan adalah Tomas, rasul. Namun, selain kisah Tomas, ada detail khusus yang sering kita lewatkan. Yesus bangkit dari kematian untuk memberikan rahmat khusus Roh Kudus kepada Gereja-Nya, “Damai sejahtera bagimu! Seperti yang telah diutus oleh Bapa, demikianlah sekarang Aku mengutus kamu.” Dan setelah berkata demikian, Ia menghembuskan nafas-Nya atas mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus! Jika kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni; jika kamu tidak mengampuni dosa orang, dosanya tetap ada (Yoh 20:21-23).”

Yesus datang bukan hanya untuk membuktikan kebangkitan-Nya dan menawarkan damai kepada murid-murid-Nya yang takut. Dia juga mengutus murid-murid-Nya sebagaimana Bapa mengutus-Nya ke dunia. Ketika Dia mengutus para murid-Nya, Yesus menghembuskan Roh Kudus kepada mereka. Tindakan Yesus ini secara khusus merupakan pengulangan dari apa yang Allah lakukan ketika Allah menciptakan manusia pertama (lihat Kej. 2:7). Dengan demikian, Dia datang untuk menjadikan murid-murid-Nya sebagai ciptaan baru, dan kemudian mengutus mereka untuk sebuah misi. Apakah misi itu?

Ini adalah misi pengampunan dosa, atau misi kerahiman. Yesus secara khusus menciptakan kembali murid-murid-Nya untuk memungkinkan mereka menerima kuasa ilahi, yaitu mengampuni dosa. Kita ingat dalam Injil bahwa Yesus dituduh melakukan penghujatan ketika Dia mengampuni dosa karena orang-orang Farisi mengetahui bahwa pengampunan dosa adalah hak prerogatif Tuhan. Namun, Yesus bangkit dari kematian dan membuktikan keilahian-Nya. Dengan demikian, Dia sungguh memiliki otoritas untuk mengampuni dosa. Namun, Dia tidak berhenti sampai di situ. Dia menghendaki agar Gereja-Nya melanjutkan misi kerahiman-Nya. Dengan demikian, Dia memberikan otoritas ilahi untuk mengampuni dosa ini, kepada para murid-Nya.

Inilah dasar alkitabiah dari sakramen rekonsiliasi. Peristiwa ini juga menjawab sebuah keberatan, “mengapa kita perlu mengakui dosa-dosa kita dan meminta pengampunan kepada manusia yang juga berdosa?” Jawabannya sederhana: karena Allah menghendakinya. Memang benar bahwa manusia tidak memiliki kuasa untuk mengampuni dosa, tetapi situasinya berubah secara radikal ketika Allah membagikan otoritas ilahi ini kepada para wakil-Nya di bumi dan menugaskan mereka untuk membawa lebih banyak orang kepada Kerahiman Ilahi.

Sebenarnya, sakramen pengakuan dosa telah dipraktikkan sejak Gereja primitif. St. Yakobus mencatat dalam suratnya bahwa umat beriman mengakui dosa-dosa mereka di hadapan Gereja, dan kemudian para penatua Gereja akan membawa kesembuhan dan pengampunan melalui doa mereka (lihat Yak 5:14-16). Setelah ribuan tahun, ritus sakramen rekonsiliasi memang telah berevolusi, tetapi tetap mempertahankan struktur dasarnya, yaitu penyesalan, pengakuan dosa, dan penitensi (lihat KGK 1448). Lebih mendasar lagi, sakramen ini tetap menjadi bukti Kerahiman Allah kepada kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengapa Daun Palma

Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan
2 April 2023
Matius 21:1-11

Minggu Palma menandakan dimulainya pekan suci dalam liturgi Gereja. Pada saat yang sama, perayaan liturgi pada hari Minggu ini merupakan salah satu yang paling unik di antara hari Minggu lainnya. Hari ini dinamakan ‘Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan’ karena ada dua bacaan Injil yang berbeda: Yesus yang memasuki kota Yerusalem dan Kisah Sengsara dari Injil Sinoptik (Matius, Markus, atau Lukas, tergantung pada tahun liturgi). Namun, jika kita membaca Injil Matius ini dengan cermat, kita tidak akan menemukan kata ‘palma’. Jadi, di manakah kita dapat menemukan kata ‘Palma’?

photocredit: Grant Whitty

Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, saya akan berbagi sedikit pengalaman pribadi saya dengan Minggu Palma. Pengalaman pertama saya dengan kegiatan kudus ini tentu saja di Indonesia, secara khusus di Jawa. Umat akan membawa daun palma ke Gereja untuk diberkati dan kemudian dibawa pulang untuk diletakkan pada salib. Jenis daun yang biasa digunakan adalah dari palem bambu. Dulu saya percaya bahwa ini adalah satu-satunya jenis ranting dan daun yang digunakan Gereja di seluruh dunia. Namun, ketika saya datang ke Filipina untuk pendidikan imamat, saya menemukan bahwa orang Filipina menggunakan daun pohon kelapa. Kemudian, ketika saya datang ke Roma, saya menemukan bahwa umat beriman menggunakan jenis ranting yang berbeda-beda!

Kembali ke pertanyaan kita, ‘di mana kita menemukan palma dalam Injil?’ Jawabannya adalah tidak dalam Injil Sinoptik, tetapi dalam Injil Yohanes (lihat Yoh 12:13). Namun, meskipun bacaan Injil hari ini tidak menyebutkan kata “palma,” kemungkinan besar banyak orang di Yerusalem yang menggunakan ranting-ranting palma karena pohon kurma (juga termasuk jenis pohon palma) berlimpah di daerah tersebut. Namun, pertanyaan yang paling penting adalah ‘mengapa kita menggunakan ranting dan daun pohon palma?’

Dalam Perjanjian Lama, Mazmur 118:25-27 menggambarkan bagaimana orang-orang menyambut Mesias dengan arak-arakan ranting-ranting pohon saat Dia memasuki Yerusalem. Demikian pula dalam 1 Makabe 13:51, orang-orang Yerusalem memasuki benteng dengan ranting-ranting pohon palma setelah musuh-musuh mereka diusir. Kisah-kisah ini menggambarkan bahwa ranting-ranting pohon, terutama palma, adalah simbol kedatangan Mesias dan kemenangan-Nya.

Namun, jika kita melihat dari sudut pandang yang lebih luas, kehadiran ranting-ranting pohon dalam peristiwa masuknya Yesus ke Yerusalem menjadi simbol akan misi keselamatan-Nya. Pada mulanya, Adam dan Hawa tinggal di taman di mana berbagai macam tanaman dan pohon tumbuh. Dosa dan ketidaktaatan mereka yang pertama adalah memakan buah dari sebuah pohon. Sekarang, dalam penebusan-Nya, Yesus membalikkan kutukan itu. Sengsara-Nya dimulai di taman Getsemani. Tindakan kasih dan ketaatan-Nya yang terakhir juga melibatkan pohon (kayu salib).

Saat kita memegang dahan palma, semoga ini tidak menjadi ritual tahunan untuk pamer. Palma mengingatkan kita akan komitmen kita untuk berpartisipasi dalam misi penebusan Yesus, untuk berjalan ke dalam sengsara-Nya, dan memikul salib kita masing-masing bersama-Nya. Hal ini tidak pernah mudah, tetapi kita tidak pernah sendirian dan pahala yang akan kita terima tidak dapat kita bayangkan. Semoga kita juga terinspirasi oleh saudara-saudari kita yang memilih untuk mati bagi Kristus, dan bukannya hidup menyangkal Dia. Para martir ini telah berjuang dalam pertandingan yang baik, telah sampai pada garis akhir, dan telah memelihara iman (lih 2 Tim. 4:7). Sekarang, mereka telah menerima daun-daun palma sebagai tanda kemenangan mereka (lihat Why. 7:9)!

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP