Mariafobia

Hari Raya Maria Diangkat ke Surga [C]

15 Agustus 2022

Lukas 1:39-56

Umat ​​Katolik sering dituduh menghormati Maria secara berlebihan. Beberapa orang bahkan melihat kita memberikan Maria sebuah penyembahan yang hanya untuk Tuhan. Tuduhan ini tentu tidak benar, tetapi akar kesalahpahaman dapat ditelusuri lebih lanjut. Saya menemukan setidaknya tiga alasan dari apa yang saya sebut ‘Mariaphobia’ ini.

Penyebab pertama adalah sebagian orang bingung antara penyembahaan dan doa. Ketika kita berlutut dan berdoa kepada Maria, kita tidak menyembahnya. Kata ‘berdoa’ di sini sejatinya sama dengan ‘meminta bantuan’ atau ‘mengajukan permohonan’. akar kata bahasa Inggris ‘prayer’ adalah bahasa Latin, ‘praegare’ yang berarti ‘memohon bantuan’. Sama dengan kata ‘doa’ yang berakar dari kata Arab yang artinya juga ‘memohon’. Apa yang sebenarnya terjadi ketika kita mendekati Maria adalah kita memintanya untuk berdoa bagi kita kepada Tuhan. Sama halnya ketika kita meminta kepada orang tua atau orang yang kita anggap dekat dengan Tuhan untuk mendoakan kita. Maria sangat dekat dengan putra-Nya, dan kita bisa sangat yakin bahwa Yesus mendengarkan permintaannya. Sementara itu, tindakan penyembahan baik dalam Kitab Suci maupun tradisi Katolik, selalu hadir dalam bentuk persembahan kurban. Kita hanya mempersembahkan kurban kepada Allah, dan ini terjadi dalam Ekaristi, saat kita mempersembahkan kurban sempurna Yesus Kristus kepada Bapa dalam Roh Kudus.

Akar kedua adalah bahwa beberapa orang masih bingung tindakan penyembahan dan tindakan penghormatan. Sementara menghormati dan menyembah saling berhubungan erat, mereka dapat dibedakan dengan benar. Dalam teologi Katolik, kita menggunakan kata-kata Yunani ‘latria’ dan ‘dulia’. Latria adalah tindakan penyembahan yang pantas hanya untuk Tuhan, sedangkan dulia adalah tindakan penghormatan kepada makhluk ciptaan (seperti para kudus dan malaikat). Sementara latria datang dalam bentuk persembahan kurban, dulia dapat hadir dalam berbagai cara. Kita bisa menghormati seseorang dengan memeluk mereka, memberi mereka bunga, menundukkan kepala, dan bahkan memberikan gelar kehormatan. Jadi, ketika kita mempersembahkan bunga kepada Maria atau menyimpan foto-fotonya, itu tidak berarti suatu tindakan penyembahan, melainkan tindakan kasih dan kehormatan.

Alasan ketiga adalah bahwa sebagian orang masih melihat hubungan antara Tuhan dan makhluk ciptaan-Nya sebagai relasi oposisi. Ada paham yang menyatakan bahwa jika kita menghormati dan mencintai ciptaan, kita tidak menghormati dan mencintai Tuhan. Namun, relasi ini tidak tepat. Seperti seorang ayah yang baik yang membekali anak-anak-Nya dengan hal-hal duniawi agar mereka bertumbuh dan berhasil, demikian pula Tuhan memberikan karunia-karunia rohani-Nya agar putra-putri-Nya bertumbuh dalam kekudusan. Bagaikan seorang ayah yang bangga dengan prestasi anak-anaknya, demikian pula Allah bersuka cita dengan pertumbuhan rohani anak-anaknya. Ketika Maria diangkat ke surga, itu hanya karena Tuhan. Dan, ketika Maria dihormati karena dia ada di surga, tubuh dan jiwanya, kehormatan yang sejati adalah milik Allah.

Kita tidak perlu takut mendekat kepada Maria, karena dia membawa kita kepada Yesus. Kita tidak perlu takut menghormati Maria, karena sejatinya ini menghormati Allah. Kita tidak perlu takut mencintai Maria, karena kita mencintai Allah melalui Maria.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus, sang Setan, dan Sabda Allah

Minggu Prapaskah ke-1 [C]
6 Maret 2022
Lukas 4:1-13

Minggu Prapaskah ke-1 [C]
6 Maret 2022
Lukas 4:1-13

Pada Minggu pertama Prapaskah, Gereja selalu memberikan bacaan Injil tentang Yesus di padang gurun selama 40 hari. Ada beberapa alasan untuk pilihan ini. Pertama, karena Yesus tinggal selama empat puluh hari di padang gurun, kita juga diundang untuk memasuki padang gurun Prapaskah selama 40 hari. Kedua, karena Yesus berpuasa dan berdoa di padang gurun, kita juga dipanggil untuk berpuasa dan berdoa selama masa Prapaskah ini. Ketiga, Yesus mengajar kita bagaimana melawan iblis dan godaannya. Karena saat ini kita berada di Tahun Liturgi C, kita dapat belajar dari kisah Yesus di padang gurun dari sudut pandang Lukas. Salah satu yang menonjol dalam perdebatan antara Yesus dan sang iblis adalah bagaimana firman Tuhan digunakan.

Pada Minggu pertama Prapaskah, Gereja selalu memberikan bacaan Injil tentang Yesus di padang gurun selama 40 hari. Ada beberapa alasan untuk pilihan ini. Pertama, karena Yesus tinggal selama empat puluh hari di padang gurun, kita juga diundang untuk memasuki padang gurun Prapaskah selama 40 hari. Kedua, karena Yesus berpuasa dan berdoa di padang gurun, kita juga dipanggil untuk berpuasa dan berdoa selama masa Prapaskah ini. Ketiga, Yesus mengajar kita bagaimana melawan iblis dan godaannya. Karena saat ini kita berada di Tahun Liturgi C, kita dapat belajar dari kisah Yesus di padang gurun dari sudut pandang Lukas. Salah satu yang menonjol dalam perdebatan antara Yesus dan sang iblis adalah bagaimana firman Tuhan digunakan.

Yesus menghadapi tiga godaan Iblis. Ini adalah tiga area di mana pribadi manusia secara rohani lemah. Yang pertama adalah godaan kedagingan, dan hal ini menyerang keinginan kita untuk kenikmatan badani seperti makanan dan hubungan suami-istri. Yang kedua adalah godaan keserakahan, dan hal ini mengeksploitasi keinginan kita untuk memiliki hal-hal yang kita lihat. Terakhir tapi paling mematikan, adalah godaan keangkuhan. Godaan ini membingungkan cinta-diri yang sejati dengan perilaku narsistik. Godaan ini adalah yang terburuk karena keangkuhan akhirnya menyedot kita ke dalam gagasan palsu bahwa kita bisa menjadi tuhan-tuhan kecil.

Ini adalah godaan yang Iblis lemparkan kepada Yesus. Godaan kedagingan diluncurkan ketika Yesus lapar dan diminta untuk mengubah batu dan roti. Godaan keserakahan dimulai ketika Yesus dibawa untuk melihat keajaiban dunia dan ditawarkan untuk memiliki semuanya. Terakhir, godaan keangkuhan dimulai ketika Yesus diundang untuk memamerkan kuasa-Nya karena Dia memiliki otoritas untuk memerintahkan para malaikat.

Tentu saja, iblis gagal total. Namun, yang lebih menarik adalah cara Yesus melawan iblis. Setiap kali iblis melancarkan serangan, Yesus dengan bijak membalasnya dengan kutipan dari Perjanjian Lama. Sungguh, Firman Tuhan adalah senjata ampuh melawan serangan dan godaan iblis. Jadi, penting bagi kita untuk mengenal Alkitab kita dan mempelajarinya dengan baik.

Namun, itu bukan akhir dari cerita karena iblis pun menggunakan ayat Alkitab. Dia mengutip bagian dari Mazmur 91, “Dia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya tentang kamu, untuk menjaga kamu… [Mzm 91:11]”. Apa yang lebih luar biasa adalah bahwa Mazmur 91 secara tradisional digunakan untuk pengusiran setan. Iblis menggunakan kata-kata yang digunakan untuk mengusirnya! Bagaimana ini mungkin? Pasalnya, iblis menggunakan ayat alkitab di luar konteks dan hanya sesuai dengan tujuannya, yaitu menjebak Yesus.

Dari kisah ini, kita mendapat pelajaran berharga. Kata-kata Kitab Suci, bila digunakan dengan cara yang tidak tepat dan hanya sesuai dengan tujuan kita, menjadi alat Iblis. Kita dipanggil untuk meneladani Yesus dalam menjalankan firman Tuhan. Hanya jika kita benar-benar membaca Alkitab dalam konteks yang tepat dan dalam relasi kasih dengan Tuhan, ini benar-benar menjadi Firman Tuhan yang penuh kuasa.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Agape

5th Sunday in Ordinary Time [C]
January 30, 2022
Luk 4:21-30
1 Cor 12:31 – 13:13

What is the greatest gift of the Holy Spirit for Paul? Is it speaking in tongue? Gift of understanding intricate mysteries of God? Gift of performing mighty deeds or healing? For Paul, it is love.

photocredit: Brett Jordan

Paul himself says that if we have the gift of tongues to speak foreign languages or the language of angels, it will be useless without love. If we have the gift of prophecy or possess the knowledge and understanding of the mysteries of faith or the faith to move the mountains, they will be meaningless without love. If we donate everything we have, and to the point of sacrificing ourselves, but the motive is not to love, then it will be useless.

But, what makes this love is special? In Greek, several words can be translated as ‘love,’ namely ‘eros,’ ‘filia,’ and ‘agape.’ Eros is a love that unites man and woman in marriage and is open to new life. Filia is the love of friendship. People who have the same interest or vision in life tend to like and stick together as friends. Then, we have ‘Agape.’ This kind of love is radically different from Eros and Filia. While the other two are love moved by emotional power, agape primarily is the willpower and commitment. No wonder it is also called sacrificial love.

One powerful element that Paul introduces to the agape as a gift of the Holy Spirit is that it is not a static gift. It is not only something received and then given. Paul calls it ‘the most excellent way.’ The word ‘way’ points to journey, process, and growth. Agape is dynamic and growth-oriented. We do not only love, but we also grow in love.

In English, the words used to describe agape are adjectives, but these words are verbs in original Greek. Agape is not something static but action-oriented and dynamic. Agape is not simply patient, but agape is trying to be patient. Agape is not merely kind, but it is performing kindness. There is a transformation from someone who does not care about others to someone who learns to show compassion. Agape is not simply quick-tempered but is making a great effort not to be destructive in expressing anger.

What is fantastic about agape is that it is a gift of God for every Christian, and we possess the ability to learn and grow in love. We might not have the gift of healing, or the gift of prophecy, or the gift of performing miracles, but we can learn to be more patient with one another. We might not have the charism to teach or the authority to govern our communities, but we can decide not to be rude to people we do not like. We might not be the most brilliant guys in the group or someone who contributes a lot to others, but we can always be someone who patiently listens.

Agape is both the most fundamental as well as the most excellent. We are called to grow in love each time because, in the end, all things will cease, and only love remains.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rahasia Pernikahan yang Bahagia

Minggu ke-2 Masa Biasa [C]
16 Januari 2022
Yohanes 2:1-11

Saya benar-benar beruntung dapat mengunjungi kota Kana di Galilea tepat sebelum pandemi covid-19 merajalela. Di sana, saya berkesempatan memimpin pembaruan ikrar janji nikah pasangan-pasangan yang ikut dalam perziarahan. Salah satunya adalah orang tua saya, dan tentu saja, itu adalah saat yang cukup membuat saya canggung. Namun, saya sangat bersyukur ketika saya menyadari kesetiaan mereka, melalui suka dan duka kehidupan pernikahan, tetapi yang terpenting, saya bersyukur atas rahmat Tuhan yang berkerja dalam hidup mereka.

Masyarakat modern kita ditandai oleh banyaknya pasangan suami istri yang menghadapi masalah pelik pernikahan dan juga orang-orang muda yang tidak lagi melihat pernikahan sebagai bagian mendasar dari kehidupan mereka. Perceraian menjadi normal baru, dan perselingkuhan merajalela. Kekerasan dalam rumah tangga mewarnai media berita dan media sosial kita. Ada pasangan-pasangan menolak untuk memiliki anak atau hanya menyerahkan anak kecil mereka ke babysitter. Beberapa orang bahkan menolak sama sekali pernikahan, dan menganggap pernikahan dan keluarga sebagai beban dan ‘penjara’. Beberapa lebih memilih hewan peliharaan daripada membesarkan keluarga manusia yang nyata.

Pernikahan dan membesarkan anak tentunya tidak mudah, tetapi itu sangat penting bagi masa depan kita sebagai umat manusia. Namun, hal ini bukan hanya masalah kelansungan kita sebagai spesies, tetapi juga merupakan rencana Tuhan bagi kita untuk berpartisipasi dalam kepenuhan hidup. Jika kita melihat lebih dekat pada Alkitab, kita akan menemukan tempat sentral dari pernikahan di dalam Kitab Suci. Kisah penciptaan memuncak dengan pria dan wanita menjadi satu dalam perjanjian pernikahan. Mukjizat pertama Yesus terjadi dalam konteks pernikahan dan bagi pasangan yang sedang menikah. Buku terakhir dari Alkitab, Kitab Wahyu, berakhir dengan pesta pernikahan Anak Domba.

Lalu, bagaimana kita mengatasi masalah-masalah besar yang menimpa pernikahan? Tentu banyak hal yang perlu kita lakukan, namun ada satu cara mendasar yang tidak boleh kita lewatkan. Injil memberitahu kita bahwa masalah kekurangan anggur dihindari karena pasangan itu mengundang Yesus, dan ibu-Nya. Maria memperhatikan masalah serius yang ada dan meminta Putranya untuk campur tangan. Yesus melakukan mukjizat-Nya yang pertama, dan bukan hanya masalah anggur terpecahkan, tetapi mereka juga mendapatkan anggur terbaik. Semua ini terjadi bahkan tanpa disadari oleh pasangan yang berpesta tersebut tersebut.

Ini adalah pelajaran berharga dari Pernikahan Kana. Sudahkah kita mengundang Yesus dan sang Bunda-Nya ke dalam pernikahan dan keluarga kita? Apakah kita mengandalkan Tuhan dalam upaya kita membesarkan anak-anak kita? Sudahkah kita mendekatkan satu sama lain kepada Tuhan? Jika kita membawa Tuhan dalam pernikahan dan keluarga kita, saya percaya bahwa Tuhan telah melakukan hal-hal yang luar biasa bahkan tanpa kita sadari.

Kembali ke Injil ini, kepala pelayan memuji pengantin pria karena anggur terbaik yang bertahan sampai akhir. Ketika pernikahan dan keluarga kita berhasil melewati badai kehidupan, kita diundang untuk menyadari bahwa anggur terbaik adalah dari Tuhan. Pernikahan yang bahagia terdiri dari pasangan yang bersyukur.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Orang Majus adalah Kita

Hari Raya Penampakan Tuhan [C]

2 Januari 2022

Matius 2:1-12

Masa Natal mencapai puncaknya pada hari raya Epifani. Kata Epifani sendiri berasal dari kata Yunani yang berarti ‘penampakan’. Dari nama ini, kita bisa menyimpulkan bahwa Epifani merayakan penampakan Yesus ke bangsa-bangsa yang diwakili oleh orang-orang Majus. Kita tidak yakin siapa sebenarnya orang Majus ini, tetapi tradisi mengatakan bahwa mereka adalah orang bijak dari Timur, kemungkinan besar dari Persia atau Iran saat ini. Alkitab tidak memberi kita jumlah pastinya, apalagi namanya, tetapi tradisi mengatakan bahwa mereka adalah Baltazar, Gaspar dan Melchior.

photocredit: Rod Long

Jika kita mencoba kembali ke awal Injil Matius, kita akan menemukan silsilah Yesus Kristus. Matius mulai dengan Abraham, bapa bangsa Israel, lalu Daud, raja terbesar Israel dan hingga pada Yusuf, seorang pria Yahudi yang sederhana namun benar. Matius menunjukkan kepada kita bahwa Yesus adalah penggenapan janji Allah kepada Abraham, kepada Daud, dan kepada Israel. Dia datang sebagai Mesias Yahudi. Seorang filsuf dan teolog Katolik, Peter Kreeft, merangkum Injil Matius sebagai ‘Sebuah Injil dari seorang Yahudi, untuk orang-orang Yahudi tentang Mesias Yahudi’.

Namun, penginjil yang sama memberi kita gambaran yang jauh lebih besar. Meskipun Yesus berasal dari garis keturunan Daud dan dibesarkan sebagai orang Yahudi oleh keluarga Israel yang taat, Yesus bukanlah Mesias yang ‘eksklusif’. Yesus bukan hanya Mesias untuk orang-orang Yahudi saja, tetapi Dia adalah Juruselamat bagi seluruh dunia. Identitas ini diwujudkan dalam kunjungan orang-orang Majus.

Ketiga orang Majus itu bukan orang Israel, dan kenyataannya, mereka mungkin tidak menyembah Allah yang benar. Namun, mereka tahu bahwa jauh di lubuk hati, ada sesuatu yang masih hilang. Dalam kebijaksanaan manusiawi, mereka terus mencari kebenaran yang akan memuaskan kerinduan terdalam mereka. Penelitian dan penyelidikan mereka mendorong mereka untuk mencari raja yang baru lahir. Ketika akhirnya mereka melihat bayi Yesus, mereka sujud menyembah sang bayi, dan mengakui bahwa bayi ini bukan hanya raja biasa dari sebuah bangsa kecil di Timur Tengah. Dia adalah raja dari segala raja, dan Dia hadir bagi semua orang yang dengan tulus mencari-Nya.

Kita adalah orang Majus. Sebagian besar dari kita bukan orang Yahudi, apalagi berasal dari garis keturunan Daud, tetapi kita sedang mencari sesuatu yang akan memenuhi keinginan terdalam kita. Namun, kita jauh lebih beruntung daripada orang Majus. Mereka perlu belajar dan mencari kebijaksanaan selama bertahun-tahun, dan terkadang, mereka tersandung ke dalam kesalahan karena kelemahan manusia.

Dengan menjadi manusia, Tuhan memberikan arah yang lebih jelas menuju kebenaran dan keselamatan. Dialah jalan, kebenaran dan hidup [Yohanes 14:6]. Firman-Nya adalah pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita [Mzm 119:105]. Tubuh-Nya adalah sungguh-sungguh makanan, dan darah-Nya adalah sungguh-sungguh minuman, dan kita yang mengambil bagian di dalam Dia akan memiliki hidup [Yohanes 6:51-57].

Dibandingkan dengan orang Majus, kita seperti memiliki jalan toll menuju kebahagian yang sejati. Sekarang, pertanyaan sebenarnya adalah apakah kita mau rendah hati seperti orang Majus untuk mengakui bahwa kita membutuhkan Tuhan dan berkomitmen untuk berjalan di jalan-Nya?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kenapa Yohanes Membaptis

Minggu Adven Kedua [C]
5 Desember 2021
Lukas 3:1-6

Pada Minggu Adven kedua, kita bertemu dengan sosok Yohanes Pembaptis. Dia adalah salah satu tokoh yang paling menonjol dan berpengaruh dalam Injil. Keempat penginjil menyebut dia dan sering menggambarkan dia sebagai orang yang tak kenal takut yang bahkan berani menantang orang yang paling berkuasa di Galilea, Herodes Antipas. Dari padang gurun Yudea, ia datang dan memposisikan diri pada tempat strategis di lembah Yordan. Tempat adalah jalan utama yang menghubungkan Yerusalem dengan seluruh Israel, dan Yohanes memanfaatkan momen itu untuk menyatakan kedatangan Mesias. Kita bisa membayangkan suaranya yang kuat menggelegar di seluruh lembah dan mengguncang setiap hati yang mendengarkan.

Mesias akan datang, dan jalan-Nya harus dipersiapkan. Namun, kita tidak mempersiapkan kedatangan-Nya dengan karpet merah, karangan bunga, atau parade musik besar. Dia tidak akan datang dan menyelami para pejabat dan disambut dengan perjamuan pesta. Dia tidak membutuhkan persiapan eksternal tetapi menuntut transformasi internal. Maka, Yohanes berteriak dengan suara nyaring, “Bertobatlah!”

Satu pertanyaan mungkin membuat kita bertanya-tanya: mengapa Yohanes membaptis orang? Membaptis berarti membasuh diri dengan air, dan dalam tradisi Yahudi, ini adalah sebuah ritual Yahudi yang umum untuk membersihkan diri dari kenajisan. Para peziarah Yahudi akan membasuh diri sebelum mereka memasuki Bait Allah Yerusalem, dan ada banyak kolam kecil untuk tujuan ini yang disebut ‘mikvah’ di kota Yerusalem. Satu tradisi mengatakan bahwa Yohanes berasal dari sekte Yahudi bernama Essenes. Kelompok ini terkenal karena kepatuhan mereka yang ketat terhadap Hukum Musa. Bahkan, mereka memiliki standar ekstrim dalam hal menjaga diri dari kenajisan, dan mereka akan melakukan ritual pembasuhan bahkan beberapa kali sehari. Jika tradisi ini benar, Yohanes tahu betul betapa pentingnya pembaptisan dengan air.

Namun, Yohanes tidak hanya mengulangi ritual pentahiran Yahudi yang lama. Dia merevolusi hal ini. Yohanes membaptis orang dengan air sebagai tanda eksternal dari pertobatan internal. Bagi Yohanes, tidak ada gunanya jika orang pergi ke Bait Allah dan melakukan berbagai ritual, tetapi hati mereka jauh dari Tuhan.

Yohanes Pembaptis mengingatkan inti Adven: persiapan rohani untuk kedatangan Yesus. Kita menyadari bahwa Adven adalah masa persiapan untuk kedatangan Kristus, tetapi seringkali kita tidak tahu bagaimana mempersiapkannya. Terkadang, kita menghabiskan waktu dan uang kita untuk membeli hadiah, menyiapkan dekorasi Natal, dan merencanakan liburan. Terkadang, kita sibuk berlatih untuk Misa Natal, atau mempersiapkan diri untuk pesta dan perayaan. Namun, jika kita lupa mempersiapkan diri secara rohani, kita bisa kehilangan segalanya.

Warna liturgi Adven adalah ungu, dan ungu yang sama yang kita gunakan pada masa Prapaskah. Jika ungu di Prapaskah berarti warna pertobatan, ungu Adven memiliki karakter yang sama. Ketika Yohanes Pembaptis mengingatkan orang-orang untuk mempersiapkan jalan bagi Mesias dengan perubahan hati, Gereja juga memanggil kita untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan kita dengan pertobatan dan latihan rohani.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

[JANGAN LUPA SUBSCRIBE DAN SHARE YA UNTUK MENDUKUNG KARYA RM. BAYU, OP]

Kristus, Raja Hidup Kita

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam [B]

21 November 2021

Yohanes 18:33-37

Minggu Kristus Raja adalah hari Minggu terakhir dalam Tahun Liturgi. Perayaan ini adalah peringatan yang tepat bagi kita semua bahwa pada akhirnya, Yesus adalah raja kita. Namun, bagi banyak dari kita, kita tidak benar-benar tahu apa artinya menjadi hamba pada seorang raja. Beberapa dari kita mungkin memiliki raja atau ratu sebagai kepala negara kita, tetapi biasanya mereka tidak terlibat dalam kehidupan kita sehari-hari. Faktanya, di dunia, kita hanya memiliki sedikit monarki absolut seperti Sultan Brunei, Raja Arab Saudi, dan Paus!

Hidup dalam masyarakat modern, kita menghargai dan menjaga kebebasan dan otonomi pribadi. Kita memperjuangkan hak-hak dasar kita, dan kita bahkan berjuang ke pengadilan untuk menuntut keadilan atas hak-hak kita. Pelanggaran hak asasi manusia dianggap sebagai kejahatan berat. Di alam demokrasi, kita memutuskan bagaimana kita ingin diatur dengan memilih pejabat publik yang kita inginkan. Kita memilih di mana, bagaimana, dan dengan siapa kita ingin hidup. Mereka yang ingin membatasi kebebasan kita adalah tiran dan diktator. Jadi, ketika kita merayakan Hari Raya Kristus Raja, gelar rajawi Yesus ini tidak terlalu berarti bagi kita. Kita dapat dengan mudah melihat Yesus sebagai sahabat dan saudara kita, tetapi Yesus sebagai raja kita adalah konsep yang asing.

Namun, dalam Injil, Yesus sebagai raja adalah salah satu identitas-Nya yang paling mendasar. Yesus disebut Kristus, yang berarti yang diurapi, dan gelar ini terutama mengacu pada seorang raja seperti raja Daud. Yesus memulai pelayanan-Nya dengan membangun Kerajaan Allah dan memilih dua belas rasul sebagai suku baru Israel. Tindakannya hanya masuk akal jika Yesus adalah raja kerajaan itu. Dalam Injil hari ini, Pilatus bertanya kepada Yesus apakah Dia seorang raja, dan Yesus memberikan jawaban tegas-Nya. Di kayu salib, penjahat yang bertobat berkata kepada Yesus, “Ingatlah aku ketika kamu datang sebagai raja!” Bahkan, di salib-Nya, identitas-Nya tertulis dengan jelas, “Yesus Raja orang Yahudi.”

Apa artinya memiliki Yesus sebagai raja kita? Mengapa itu penting bagi kita? Jawabannya adalah yang paling penting bagi kita. Yesus bukan hanya seorang raja, sama seperti raja-raja lainnya, tetapi Dia juga pencipta hidup kita. Dia merancang kodrat kita bahwa kita hanya akan sampai pada tujuan sejati kita di dalam Tuhan. Jadi, menerima Yesus sebagai raja kita, dan hidup sesuai dengan rencana-Nya, adalah jalan pasti kita menuju kemuliaan dan kebahagiaan sejati.

Iblis mengetahui hal ini dengan sangat baik, dan dia menggoda orang tua pertama kita untuk percaya bahwa mereka bisa menjadi ‘tuhan’ tanpa Tuhan. Strategi yang sama masih digunakan sampai hari ini, dan kita dibuat untuk percaya bahwa kebebasan tanpa Tuhan adalah apa yang kita butuhkan. Kita mencoba untuk mengendalikan segala sesuatu dalam hidup kita, kita membesarkan ego kita, dan kita berperilaku seperti raja-ratu kecil. Namun sejatinya, ini adalah sumber frustrasi, kekhawatiran, dan ketidakbahagiaan kita. Hanya saat kita mati bagi diri kita sendiri dan sekali lagi mengizinkan Yesus meraja di dalam hati kita, kita menjadi sungguh merdeka, autentik dan bahagia.

Hidup Kristus Raja!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertobatan dan Akhir Zaman

Minggu Biasa ke-33 [B]
14 November 2021
Markus 13:24-32

Kita mendekati akhir tahun. Kita berada di pertengahan November, dan kita akan mengakhiri 2021 setidaknya 50 hari lagi. Pada saat yang sama, kita berada pada hari Minggu ke-33 pada Masa Biasa, dan minggu depan, kita akan merayakan Kristus Raja, hari Minggu pamungkas dalam tahun Liturgi. Dengan demikian, Gereja memberi kita Injil yang berbicara tentang akhir zaman.

photocredit: Austrian National Library

Yesus sedang bersama murid-murid-Nya di Bukit Zaitun tepat di sebelah timur Yerusalem, menghadap Bait Allah. Salah satu murid-Nya mengklaim bahwa Bait Allah dibangun dengan megah dan sungguh, Bait Allah menjadi salah satu keajaiban kuno. Bangunan ini dibangun dengan mengumpulkan ribuan batu besar. Satu balok batu bahkan bisa mencapai lebih dari 10 ton. Tidak hanya megah, itu juga indah. Emas dan batu mulia menghiasi bangunan suci ini. Tidak heran jika banyak orang berharap bahwa Bait Allah akan bertahan selamanya.

Namun, Yesus memiliki pandang berbeda. Dia menyatakan penghakiman-Nya atas Yerusalem, dan Bait Allah akan dibakar dan dihancurkan hanya dalam satu generasi setelah Yesus. Sungguh, penghakiman Yesus menjadi kenyataan ketika pada tahun 70 M, Titus dan tentara Romawinya mengepung dan akhirnya meratakan Yerusalem. Josephus, seorang sejarawan Yahudi, menceritakan bahwa selama pengepungan, ratusan orang disalibkan setiap hari dan orang-orang di dalam kota terpaksa melakukan praktik kanibalisme untuk bertahan hidup. Bait Allah terbakar, dan setelah beberapa waktu, bangunan paling indah di zaman kuno tinggal reruntuhan dan puing-puing saja.

Mengapa Yesus mengucapkan penghakiman yang begitu mengerikan ke kota Yerusalem, ke tempat suci di Israel? Itu karena Yerusalem, terutama para penatua, menolak Yesus, dan menolak Yesus berarti menolak Tuhan sendiri. Namun, penghakiman semacam ini bukanlah pertama kalinya. Dalam Perjanjian Lama, para nabi terus memperingatkan bangsa Israel untuk kembali kepada Allah. Namun, Israel, yang diwakili oleh raja dan imamnya, menolak panggilan itu, dan bahkan menganiaya para nabi Allah. Kerajaan Israel akhirnya menghadapi penghakimannya. Kerajaan utara dihancurkan oleh kekaisaran Asyur pada 721 SM, dan kerajaan selatan diasingkan oleh kekaisaran Babilonia pada 587 SM.

Yesus tidak bertindak seperti seorang nabi malapetaka yang pesimistis. Yesus pada dasarnya membangkitkan pesan para nabi pendahulu-Nya. Pesan Injil Yesus adalah pertobatan. Kita dipanggil untuk percaya kepada Yesus, dan ini bukan hanya di bibir kita, tetapi juga dalam hidup kita. Yesus mengkritik para pemimpin agama di zaman-Nya, baik para imam maupun kaum awam, yang melakukan tugas keagamaan mereka sebagai sebuah pertunjukan, tetapi secara diam-diam melakukan kejahatan terhadap kaum miskin Israel. Jika kita gagal untuk bertobat, kita mungkin akan menghadapi bencana yang sama.

Sering kali, saya mendengar beberapa orang berkata, “Saya akan mengakui dosa-dosa saya ketika saya sudah tua.” Atau, “Saya tidak perlu berubah karena ketika saya sekarat, saya akan menerima pengurapan orang sakit, dan saya akan pergi ke surga.” Pemikiran seperti ini berbahaya. Mengapa? Pertama, ini adalah penyalahgunaan rahmat, sebuah dosa serius. Kedua, jika kita tidak bertobat sekarang, semakin keras hati kita, dan semakin sulit untuk keluar dari jeratan dosa kita.
Penghakiman Yesus mungkin tentang akhir Yerusalem dan akhir zaman, tetapi intinya adalah tentang pertobatan kita di sini dan sekarang.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Janda Miskin: Kritik untuk Gereja

Minggu Biasa ke-32 [B]

7 November 2021

Markus 12:38-44

Kita memiliki dua karakter utama dalam Injil kita hari ini. Yang pertama adalah para ahli Taurat dan yang kedua adalah sang janda miskin. Ahli Taurat adalah kelas elit masyarakat Israel kuno. Mereka adalah orang-orang terpelajar karena mereka tahu cara membaca dan menulis, keterampilan yang sangat berharga pada masa itu. Kemampuan dan hak istimewa mereka untuk mengakses Kitab-Kita Taurat membuat mereka sangat berpengaruh karena mereka mengerti dan mengajarkan Hukum Allah, dan orang-orang biasa harus mendengarkan mereka. Di sisi lain, ada janda miskin. Menjadi seorang wanita di zaman Yesus tentu bukan hal yang mudah. Selain menghadapi diskriminasi, wanita umumnya tidak diperbolehkan memiliki atau mewarisi properti. Hal ini menyebabkan mereka sangat bergantung pada anggota keluarga laki-laki mereka, seperti ayah, saudara laki-laki, atau suami. Jadi, jika seorang wanita kehilangan suaminya, dia kehilangan pelindung dan pemberi nafkahnya, dan jika seorang janda yang tidak memiliki anak laki-laki, dia adalah yang paling miskin di antara para janda. Tapi, Tuhan Yesus memberikan kejutan.

Yesus memuji janda miskin dan mengecam para ahli Taurat. Kemiskinan dan kesengsaraan janda miskin tidak menghentikannya untuk bermurah hati. Mungkin, dia mempersembahkan kepada Tuhan dua koin kecil terakhir yang dia miliki, dan dia mungkin akan kelaparan sepanjang hari. Namun, kasih dan imannya kepada Tuhan sangat besar. Dia tidak berpegang koin yang dapat penyelamatan hidupnya, tetapi dia percaya bahwa Tuhan akan menjaganya.

Sementara itu, tanpa berpikir dua kali, Yesus mengecam ahli-ahli Taurat. Yesus mengungkapkan alasan-Nya: ahli-ahli Taurat berada di puncak masyarakat Israel dan hierarki agama Yahudi, tetapi yang mereka pedulikan adalah kepentingan diri mereka sendiri. Mereka menggunakan setiap kesempatan untuk menambah kemuliaan dan popularitas mereka. Mereka menginginkan kursi terbaik, tempat tertinggi, dan kehormatan terbesar dari orang-orang di sekitar mereka. Aksi-aksi megalomania ini dapat ditolerir, tetapi ada satu hal yang hampir tidak bisa dimaafkan. Menggunakan pengetahuan mereka akan Hukum untuk memanipulasi dan mengeksploitasi sesama mereka yang miskin. Ada kemungkinan bahwa janda miskin menjadi salah satu korban mereka. Dengan hak-hak istimewa dan kebijaksanaan, mereka seharusnya membantu dan meningkatkan kehidupan orang-orang Israel yang miskin. Namun, mereka melakukan yang sebaliknya, dan menjadi penyebab penderitaan dan penindasan yang lebih besar bagi orang-orang sederhana ini. Mereka adalah ahli hukum Taurat, tetapi mereka menjadi pelanggar pertama hukum Allah ini, “Jangan mengambil keuntungan dari seorang janda atau anak yatim!” [Kel 22:22].

Injil hari ini adalah tamparan bagi banyak dari kita, terutama bagi kita yang dipercayakan dengan pewartaan Sabda Allah, dengan posisi otoritas di Gereja, dan dengan kuasa sakramen. Berkali-kali, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya bahwa yang terbesar harus menjadi hamba dari semua. Semakin tinggi posisinya, semakin besar kasih dan pelayanannya, terutama kepada orang miskin dan yang membutuhkan. Sebagai imam, saya harus bertanggung jawab dalam menggunakan properti dan harta benda Gereja, saya dipanggil untuk melayani dengan penuh dedikasi, saya harus mempersembahkan hidup saya untuk umat, jika tidak, saya akan melakukan ketidakadilan yang serius kepada umat Allah. Kita berdoa agar kita tidak menerima penghukuman yang sama seperti para ahli Taurat.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Poor Widow: A reminder for all of us

32nd Sunday in Ordinary Time [B]
November 7, 2021
Mark 12:38-44

We have two main characters in our Gospel today. The first one is the scribes and then the poor widow. The scribes are the elite class of the ancient Israelite society. They are the learned ones because they know how to read and write, extremely precious skills during those times. Their ability to access the Torah makes them powerful because they read and teach the Law, and ordinary people should listen to them. At the other end of the spectrum, we have the poor widow. Being a woman in the time of Jesus is undoubtedly not the best time. Women generally are not allowed to possess or inherit properties. This causes them to rely heavily on their male family members, like their father, siblings, or husbands. Thus, if a woman loses her husband, she loses her protector and provider, and a widow with no sons is the neediest. But, here comes the surprise.

photocredit: Connor Hall

Jesus praises the poor widow because her poverty and misery do not stop her from becoming generous. Perhaps, she offers to the Lord the last two small coins she has, and she may go hungry for the rest of the day. Yet, her love and faith in God are enormous. She does not hold to her life-saving coins, but she trusts that God will take care of her.

Meanwhile, without a second thought, Jesus condemns the scribes. Jesus reveals His reason: the scribes are at the top of the Israelite society and Jewish religious hierarchy, but they care about their self-interests. They use every opportunity to advance their glories and fame. They desire the best seats, the highest place, and the greatest honor from the people around them. This megalomanic tendency can be tolerated, but there is one thing that is almost unforgivable. By using their knowledge of the Law, they are manipulating and exploiting the poor neighbors. There is a possibility that the poor widow is one of their victims. No wonder that Jesus calls them ‘the devourers of the poor widows. With their privileges and wisdom, they are supposed to aid and improve the lives of the poor Israelites. Yet, they do the opposite and turn to cause greater suffering for these simple people. They are masters of the Law, but they stand in direct opposition to God’s Law, “Do not take advantage of a widow or an orphan” [Exo 22:22].

Today’s Gospel is a slap on the face for many of us, especially for the people who are entrusted with God’s Word, with positions of authority in the Church, and with the power of the sacraments. Time and again, Jesus reminds His disciples that the first shall be the servant of all. The higher the position is, the greater love and service will be, especially to the poor and the needy. As priests, we must be responsible for using Church’s properties and goods, we are called to serve with dedication, we are to offer our lives for the people, otherwise, we shall commit grave injustice to the people of God. We pray that we will not receive the same condemnation as the scribes.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP