Yesus, Damai Sejahtera Kita

Minggu ke-16 dalam Masa Biasa [B]

21 Juli 2024

Efesus 2:13-18

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Santo Paulus menyebut Yesus sebagai “Damai Sejahtera Kita”. Namun, mengapa Santo Paulus memberikan gelar yang aneh ini kepada Yesus? Apakah arti sebenarnya dari gelar ini? Dan, bagaimana gelar ini mempengaruhi iman kita?

Untuk memahami Paulus, kita juga harus memahami Perjanjian Lama. Bagaimanapun, Paulus pernah menjadi anggota kelompok Farisi, dan dengan demikian, bukan hanya seorang Yahudi yang taat tetapi juga terpelajar. Ketika Santo Paulus menyebut Yesus sebagai ‘damai sejahtera’, ia mengacu pada kurban atau persembahan perdamaian di Bait Allah Yerusalem. Persembahan perdamaian (dalam bahasa Ibrani, Shelomin) adalah salah satu kurban binatang yang diperintahkan oleh Tuhan kepada bangsa Israel melalui Musa (lihat Imamat 3). Ritual kurban yang dimulai dari zaman Musa ini terus berlangsung sampai bangsa Romawi menghancurkan Bait Suci Yerusalem pada tahun 70 Masehi, sekitar dua dekade setelah kemartiran Paulus. Sehingga Paulus sendiri tidak asing dengan kurban yang satu ini, dan bahkan pernah mempersembahkan kurban jenis ini.

Sesuai namanya, tujuan dari kurban ini adalah untuk perdamaian (rekonsiliasi) antara Tuhan, Allah Israel, dengan orang Israel yang telah bersalah kepada Tuhan. Namun, tidak seperti kurban jenis lain yang menekankan pada penghapusan dosa dan pelanggaran, seperti kurban penghapus dosa (Imamat 4) dan kurban penghapus salah (Imamat 5), kurban perdamaian berfokus pada hasil pengampunan Tuhan, yaitu perdamaian. Ketika manusia menyakiti hati Tuhan karena dosa-dosanya, manusia menjadi jauh dari Tuhan, bahkan seperti layaknya orang asing dan bahkan musuh. Ada permusuhan antara Tuhan dan manusia karena dosa, dan karena ada permusuhan, maka tidak ada damai. Namun, ketika orang tersebut diampuni, dan dosa-dosanya dihapuskan, persahabatannya dengan Tuhan dipulihkan, dan ada perdamaian antara Tuhan dan manusia. Kedamaian ini menyebabkan sukacita dan ucapan syukur. Persembahan perdamaian melambangkan sukacita pengampunan, ucapan syukur atas perdamaian yang telah dicapai.

Ketika Santo Paulus menyebut Yesus sebagai ‘damai sejahtera kita’, Santo Paulus mengenali bahwa Yesus mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban perdamaian di kayu salib. Yesus tidak hanya menghapus dosa-dosa kita, tetapi juga memperdamaikan kita dengan Bapa. Yesus adalah damai sejahtera karena Dia telah menghancurkan permusuhan kita dengan Allah, dan membawa kita kembali kepada Allah dalam persahabatan. Hanya di dalam Yesus, kita berdamai dengan Allah.

Namun, kurban perdamaian juga merupakan jenis kurban yang istimewa karena tidak dibakar seluruhnya (tidak seperti kurban bakaran, Imamat 1). Bagian yang berlemak dibakar karena itu untuk Tuhan, beberapa bagian lain dari hewan tersebut untuk dikonsumsi oleh para imam dan bagian lainnya untuk mereka yang mempersembahkan kurban. Dengan demikian, kurban perdamaian menjadi makanan yang dibagikan kepada semua orang. Kurban ini menjadi simbol perdamaian karena hanya orang-orang yang berdamai dengan satu sama lain yang dapat berbagi meja dan makanan yang sama.

Namun, yang lebih luar biasa lagi adalah Gereja Katolik memiliki kurban perdamaian ini. Sesungguhnya, persembahan perdamaian kita adalah Ekaristi. Dalam Ekaristi, Yesus dipersembahkan kepada Allah Bapa, dan kemudian, dikonsumsi tidak hanya oleh imam, tetapi juga oleh umat beriman yang berpartisipasi dalam perayaan tersebut. Yesus Kristus adalah damai sejahtera kita karena dalam Ekaristi, kita berpartisipasi dalam perjamuan yang sama dengan Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kuasa untuk Mengasihi 

Hari Minggu ke-15 dalam Masa Biasa

14 Juli 2024 

Markus 6:7-13

Dalam Injil hari ini, Yesus mempercayakan kuasa kepada para murid-Nya. Kuasa ini terdiri dari beberapa kuasa seperti mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, dan mewartakan pertobatan. Pertanyaan yang perlu direnungkan adalah mengapa Yesus memberikan otoritas seperti ini kepada murid-murid-Nya? Mengapa Yesus tidak memberikan kuasa yang lebih berguna seperti kuasa untuk mengendalikan orang, atau kuasa untuk menghasilkan uang?

Pertama, dari kisah ini, kita melihat bahwa Yesus mengasihi murid-murid-Nya dan sebagai bukti kasih-Nya, Ia berani mempercayakan otoritas-Nya kepada murid-murid yang lemah dan terkadang tidak dapat diandalkan. Yesus tidak menimbun segala sesuatu untuk diri-Nya sendiri, melainkan membagikan diri-Nya kepada murid-murid-Nya agar murid-murid-Nya dapat bertumbuh, bahkan melalui kegagalan dan kelemahan.

Kedua, otoritas yang Yesus berikan bukanlah sesuatu yang bertujuan untuk memanipulasi orang. Memang, Yesus bisa saja memberikan kuasa untuk mengendalikan pikiran orang kepada murid-murid-Nya, dan kuasa ini bisa sangat berguna untuk menarik lebih banyak orang kepada Yesus secara instan. Orang-orang akan melakukan segalanya untuk Yesus atau untuk murid-murid-Nya, tetapi ini bukanlah kuasa yang sesungguhnya karena hal ini hanya akan mengobjektifikasi (menjadikan benda mati) orang-orang dan ini tidak lebih dari sekadar manipulasi. Ya, Yesus dapat menciptakan otoritas untuk mengendalikan ekonomi bagi murid-murid-Nya, dan hal ini dapat menghasilkan kekayaan yang luar biasa bagi Yesus dan kelompok-Nya. Namun, pada akhirnya, pengendalian kekayaan melalui manipulasi hanyalah korupsi dan keserakahan.

Ketiga, jika kita perhatikan dengan saksama, kuasa yang dipercayakan Yesus kepada murid-murid-Nya adalah kuasa untuk melayani dan mengasihi. Menyembuhkan orang sakit tanpa meminta imbalan, mengusir setan yang menyiksa manusia, dan memberitakan pertobatan demi keselamatan jiwa-jiwa adalah kuasa yang membawa kekudusan bagi manusia, untuk membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan. Namun, yang luar biasa adalah bahwa otoritas untuk mengasihi ini melahirkan lebih banyak lagi kasih, kasih yang penuh kesabaran, gigih, antisipatif tetapi tersembunyi. Sebagai contoh, untuk mewartakan pertobatan, para murid harus berjalan bermil-mil jauhnya, menahan rasa lapar dan teriknya matahari, serta mempersiapkan apa yang harus mereka katakan. Mereka juga harus menghadapi rasa takut akan penolakan, dan pada akhirnya berdamai dengan hasil yang tidak memuaskan. Ini adalah langkah-langkah kecil dan tersembunyi untuk mencapai pemberitaan tentang pertobatan, dan langkah-langkah ini juga merupakan tindakan-tindakan kasih.

Kita, murid-murid Kristus, diberi otoritas untuk mengasihi. Sebagai suami, kita memiliki otoritas untuk mengasihi pasangan kita. Sebagai orang tua, kita memiliki otoritas untuk mendidik anak-anak kita. Sebagai imam, kita dipercayakan otoritas untuk melayani umat Allah. Namun, otoritas ini bahkan dibangun di atas tindakan-tindakan kasih yang kecil dan tersembunyi namun gigih. Untuk mengasihi anak mereka yang masih kecil, pasangan suami istri harus rela kurang tidur, menyiapkan dan menyediakan makanan bayi pada waktu yang tepat, membeli dan mengganti popok bayi, dan masih banyak lagi hal-hal kecil lainnya. Dan, ketika anak kita tumbuh besar, dia mungkin tidak akan menyadari apa yang telah dilakukan oleh orangtuanya. Apa yang dia sadari adalah bahwa dia sekarang adalah seorang gadis yang sehat dan percaya diri dengan masa depan yang cerah. 

Kasih tidak selalu megah dan sensasional, tetapi sering kali, kecil, konstan dan tidak dihargai. Namun, kasih seperti inilah yang memberdayakan kita untuk memenuhi misi kehidupan kita. Ini adalah otoritas kita untuk mengasihi.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Duri dalam Daging

Minggu ke-14 dalam Masa Biasa

7 Juli 2024

2 Korintus 12:7-10

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus mengungkapkan kepada kita bahwa ia bergumul dengan ‘duri dalam daging’ yang disebabkan oleh mailakat Setan. Namun, apa yang dimaksud dengan ‘duri dalam daging’ bagi Santo Paulus? Bagaimana Paulus menghadapi situasi ini?

Setidaknya ada tiga kemungkinan jawaban untuk duri dalam daging ini. Kemungkinan pertama adalah bahwa duri tersebut mengacu pada serangan rohani yang berasal dari roh-roh jahat. Entah dalam bentuk serangan fisik atau godaan batin yang terus menerus. Kemungkinan jawaban kedua merujuk pada kondisi kesehatannya, terutama masalah matanya. Suatu kali Santo Paulus mengeluh tentang kondisi kesehatan matanya. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus menulis, “Kamu tahu, bahwa oleh karena penyakit fisiklah aku mula-mula memberitakan Injil kepadamu, dan kamu tidak menunjukkan sikap meremehkan atau menghina karena pencobaan yang ditimbulkan oleh keadaan badanku… Sungguh, aku dapat memberi kesaksian tentang kamu, bahwa sekiranya boleh, kamu telah mencungkil matamu dan memberikannya kepada-Ku.” (Gal. 4:13-15). Kemungkinan ketiga, duri tersebut mungkin menunjuk pada pergumulan dan kesulitan yang dialaminya ketika St. Paulus berurusan dengan komunitas-komunitas Gereja lokal. Dia sering menceritakan bagaimana dia difitnah, ditikam dari belakang, dan dikhianati.

Manakah di antara ketiga kemungkinan tersebut yang paling mungkin terjadi? Paulus mungkin saja menghadapi ketiga kondisi tersebut dalam perjalanan pelayanannya, tetapi menurut saya pribadi, ‘duri’ ini berbicara mengenai pergumulan Paulus dengan komunitas Kristen yang dilayaninya. Pada akhirnya, kita tidak tahu pasti, tetapi yang penting adalah bagaimana Paulus menghadapi duri ini.

Pertama, Paulus mengakui bahwa Tuhan mengizinkan setan untuk menyebabkan duri ini. Ini sejatinya adalah teologi yang baik. Allah yang sempurna tidak secara langsung menyebabkan hal buruk karena hanya kebaikan yang berasal dari-Nya, tetapi Allah dapat mengizinkan hal buruk terjadi selama Dia memiliki alasan yang cukup, yaitu untuk memunculkan kebaikan yang lebih besar dari hal buruk ini. Kedua, Paulus meminta agar duri tersebut disingkirkan. Namun, doanya tidak dikabulkan karena Allah ingin duri itu tetap ada dan Dia akan menggunakannya untuk kemuliaan-Nya.

Paulus mengakui bahwa duri tersebut adalah untuk menjauhkan Paulus dari kesombongan. Paulus menerima banyak karunia rohani dari Tuhan, dan karunia-karunia ini dapat menimbulkan kesombongan rohani karena ia dapat membandingkan dirinya dengan orang-orang Kristen yang kurang dewasa. Dengan demikian, duri tersebut berfungsi sebagai pengingat bahwa ia juga bergumul seperti murid-murid Yesus yang lain.

Lebih jauh lagi, Santo Paulus menyadari bahwa Tuhan mengijinkan Paulus untuk menderita duri karena Dia menyediakan rahmat yang dibutuhkan oleh Paulus. Tuhan berkata kepada Paulus, “Cukuplah rahmat-Ku bagimu.” Rahmat Tuhanlah yang menopang Paulus dalam menghadapi penderitaan yang menyulitkan itu. Paulus menyadari bahwa ia dapat bertahan dan bahkan berkembang melalui penderitaan dan kelemahan karena rahmat Allah. Paulus tidak dapat memegahkan diri, kekuatannya, kepandaiannya, dan kefasihannya karena semua itu akan runtuh di hadapan beban penderitaan. Paulus hanya dapat membanggakan kelemahannya, penderitaannya, kesulitannya, duri yang dialaminya karena justru di dalam kelemahannya itulah, orang-orang dapat melihat bagaimana rahmat Allah bekerja dan menopang Paulus.

Apakah duri dalam hidup kita? Apakah kita marah karena Tuhan tidak mengambil duri-duri kita? Apakah kita hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri? Apakah kita memohon kasih karunia yang cukup untuk bertahan dan bertumbuh melalui penderitaan?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Misteri Iman

Hari Minggu ke-13 dalam Masa Biasa [B]

30 Juni 2024

Markus 5:21-43

Iman adalah hal yang sangat penting bagi keselamatan kita, tetapi juga merupakan salah satu konsep yang paling sering disalahpahami. Kisah kesembuhan anak perempuan Yairus dan perempuan yang mengalami pendarahan membantu kita untuk lebih memahami arti iman dan bagaimana kita harus menghidupi iman kita.

Pengertian iman yang paling mendasar adalah sebuah kepercayaan kepada Allah, atau bagi kita orang Kristen, kepercayaan kepada Yesus Kristus. Pengertian iman yang paling mendasar ini sangat bergantung pada penerimaan intelektual atau akal budi kita akan keberadaan Allah dan Yesus sebagai Putra-Nya yang tunggal, Juruselamat kita. Namun, bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk mengenal Yesus secara intelektual? Misalnya, putri Yairus yang sakit parah dan akhirnya meninggal. Dia tidak dapat memiliki kepercayaan dalam pikirannya bahwa Yesus akan datang untuk menyelamatkannya. Namun, ia diselamatkan dari kematian, bukan karena imannya, tetapi karena iman ayahnya. St. Yakobus juga mengingatkan kita bahwa bahkan roh-roh jahat pun percaya dan mengetahui dengan baik bahwa Allah itu ada, tetapi iman intelektual tidak menyelamatkan mereka.

Jenis iman yang kedua adalah iman dengan keyakinan. Iman jenis ini tidak hanya melibatkan pengenalan intelektual akan Allah tetapi juga keyakinan yang kuat dan mendalam. Iman seperti ini biasanya diekspresikan dalam emosi yang kuat dan tindakan tubuh yang terlihat seperti meneriakkan nama Yesus atau bersujud dalam doa. Namun sekali lagi, Santo Paulus mengingatkan kita bahwa iman seperti ini tidak membawa keselamatan. Ia menulis, “Jika aku mempunyai segala iman, sehingga dapat memindahkan gunung-gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, maka aku tidak ada artinya” (1 Kor. 13:2).

Akhirnya, jenis iman yang ketiga adalah iman yang bekerja melalui kasih. Iman ini tidak hanya menerima Allah secara intelektual dan penuh pengharapan, tetapi juga diwujudkan dalam perbuatan kasih. Dibandingkan dengan dua iman sebelumnya, iman ini lebih sulit diwujudkan, tetapi juga menyelamatkan. Kita dapat melihat hal ini dari iman Yairus. Kasihnya yang mendalam kepada putrinya mendorongnya untuk percaya kepada Yesus, dan pada gilirannya, imannya kepada Yesus memberdayakannya untuk mencari dan memohon kesembuhan mukjizat Yesus sebagai bentuk kasih terhadap putrinya.

Kisah wanita yang mengalami pendarahan lebih menarik. Ia tampaknya memiliki jenis iman yang kedua atau iman dengan penuh keyakinan. Ia dengan tulus percaya bahwa ia akan disembuhkan jika ia menyentuh Yesus, tetapi jika kita menyelidiki lebih dalam, kita akan menemukan bahwa imannya lebih dari sekadar keyakinan. Ketika ia memutuskan untuk mendekati Yesus, ia tidak langsung memegang tubuh atau kaki Yesus. Sebaliknya, ia dengan hati-hati memilih untuk menyentuh rumbai jubah Yesus. Mengapa? Perempuan itu sadar bahwa ia memiliki pendarahan, dan ini membuatnya najis, dan siapa pun yang disentuhnya dapat terkontaminasi oleh kenajisan ini (lihat Im. 15:25-30). Oleh karena itu, dengan memastikan bahwa dia tidak bersentuhan langsung dengan Yesus, wanita itu menunjukkan perhatian yang sangat baik untuk menjaga kemurnian Yesus. Detail sederhana ini dapat menunjukkan kepada kita kasihnya kepada Yesus terlepas dari keterbatasannya. Kemudian, Yesus mengenali iman yang benar dari perempuan itu, dan ia pun sembuh.

Apakah kita memiliki iman yang menyelamatkan? Iman seperti apakah yang kita miliki, dan bagaimana kita bertumbuh? Apakah kita mewujudkan iman kita kepada Allah dalam kasih kepada Yesus dan sesama kita?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kasih Kristus menguasai kita.

Hari Minggu ke-12 dalam Masa Biasa

23 Juni 2024

2 Korintus 5:14-17

Hubungan antara Santo Paulus dan Gereja di Korintus cukup rumit. Paulus adalah misionaris pertama yang mengabarkan Injil di kota Korintus dan mendirikan Gereja di sana. Namun, setelah Santo Paulus pergi untuk misi lain, beberapa anggota Gereja mulai tidak menaati Paulus dan mendiskreditkannya. Dalam suratnya yang kedua, Santo Paulus mencoba untuk mengatasi masalah ini. Apakah masalahnya? Lalu, bagaimana Paulus menjawab masalah ini?

Korintus adalah salah satu kota besar di semenanjung Akaya (Yunani kuno), dan lokasinya yang strategis membuat kota ini kaya dan menjadi pusat perdagangan utama di Kekaisaran Romawi. Situasi ini membuat kota ini menarik bagi banyak orang, termasuk para misionaris dan pewarta Injil. Ketika Santo Paulus meninggalkan kota itu untuk mewartakan Injil di tempat lain, orang-orang yang disebut sebagai ‘rasul’ datang dan mulai mengajar umat Kristiani di Korintus. Beberapa di antara mereka tampaknya sengaja menjelekkan nama Paulus dengan mengatakan bahwa ia bukan rasul sejati. Mereka menunjukkan beberapa bukti seperti Paulus mewartakan Injil yang berbeda, Paulus bukanlah orang Israel asli, dan Paulus tidak menerima dukungan dari Gereja (seorang pewarta atau misionaris diharapkan untuk menerima nafkah dari Gereja). Namun, sekarang Paulus meminta sumbangan dari Gereja di Korintus.

Dalam suratnya, Paulus membela diri. Dia hanya memberitakan Injil yang benar (2 Kor. 11:1-6). Dia adalah orang Israel sejati dari suku Benyamin dan, pada kenyataannya, dari kelompok Farisi. Dan, seringkali, ia tidak menerima dukungan dari Gereja di Korintus, dan bekerja sebagai pembuat tenda karena ia tidak ingin menjadi beban bagi Gereja (2 Kor. 11:7-10). Namun, Paulus lebih lanjut menjelaskan bahwa sumbangan yang ia cari bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Gereja di Yerusalem (2 Kor. 8:9).

Paulus membela lebih lanjut pelayanan kerasulannya yang ia terima dari Allah untuk menumbuhkan Gereja-Nya. Dia menghadapi penganiayaan baik dari orang Yahudi maupun Yunani; dia dipukuli di Sinagoga dan dipenjara oleh karena penghakiman orang-orang Yunani dan Romawi. Banyak orang yang marah dan mengincarnya. Orang-orang Yahudi menentang Paulus karena ia memberitakan Yesus Kristus. Orang-orang Yunani membenci Paulus karena ia menarik banyak orang dari kuil-kuil dewa-dewi kuno. Paulus juga mengalami bahaya yang mengancam nyawanya dalam perjalanannya: perampok, cuaca yang tidak bersahabat, dan kapal karam. Selain itu, ia juga bekerja di siang hari untuk menghidupi dirinya sendiri dan berkhotbah di malam hari, dan tenaganya dihabiskan dengan penuh kegelisahan untuk menangani berbagai masalah Gereja (lihat 2 Korintus 11:23-29). Paulus menjelaskan mengapa ia melakukan semua hal ini: “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami (2 Kor. 5:14).”

Kasih Kristus sanggatlah besar; kasih itu memberdayakan Paulus untuk melakukan hal yang mustahil, yakni mengasihi seperti Yesus. Bukan hanya Paulus yang menerima kasih Yesus yang luar biasa ini, tetapi juga kita semua. Yesus sangat mengasihi kita sampai-sampai Ia menyerahkan nyawa-Nya untuk kita sehingga kita dapat menjadi ciptaan baru di dalam Dia (2 Kor. 5:17). Pertanyaannya adalah apakah kita mau menerima kasih ilahi ini dan menjadikannya berbuah dalam hidup kita? Apakah kita cukup berani untuk mengasihi seperti Yesus, seperti yang dicontohkan oleh Santo Paulus? Apakah kita siap menghadapi bahaya dan kesulitan dalam memberitakan Injil? Apakah kita bersedia bekerja keras siang dan malam untuk orang-orang yang dikasihi Yesus?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Adam dan Kita

Minggu ke-10 dalam Masa Biasa [B]

9 Juni 2024

Kejadian 3:9-15

Bacaan pertama kita dimulai dengan sebuah pertanyaan dari Tuhan kepada Adam, “Di manakah engkau?” Namun, ini adalah pertanyaan yang aneh. Bukankah Tuhan seharusnya mengetahui di mana Adam berada? Apakah ini menunjukkan ‘ketidaktahuan Tuhan’, atau ada sesuatu yang lebih dalam dari pertanyaan tersebut?

Pertama, kita harus menyadari bahwa bahasa pasal-pasal awal kitab Kejadian jauh berbeda dengan bagian Alkitab lainnya. Gereja mengajarkan, “kisah kejatuhan dalam Kejadian 3 menggunakan bahasa kiasan tetapi menegaskan sebuah peristiwa purba, sebuah perbuatan yang terjadi pada awal sejarah manusia (KGK 390).” Para ahli Kitab Suci sepakat bahwa penulis kitab suci menggunakan ‘bahasa antropomorfis’, yaitu Allah digambarkan bertindak dan berperilaku seperti manusia pada bab ini. Dengan demikian, Allah digambarkan sebagai seseorang yang berjalan-jalan di taman dan tiba-tiba menyadari ketidakhadiran Adam dan Hawa.

Beranjak dari ‘bahasa antropomorfis’, pertanyaan Tuhan kepada Adam sebenarnya bukanlah tentang lokasi geografis. Allah pasti tahu persis di mana Adam berada. Toh, tidak ada yang bisa disembunyikan dari-Nya. Tuhan tidak menanyakan posisi geografis Adam, melainkan hubungan pribadi Adam dengan Tuhan. “Di manakah engkau dalam hubungan dengan-Ku? Apakah engkau bersama-Ku atau melawan-Ku? Apakah engkau berada di pihak-Ku atau di pihak ular itu?”

Adam menjawab, “Aku takut.”  Hubungan primitif antara Allah dan manusia sebenarnya didasarkan pada kasih dan rasa hormat yang sejati. Namun, setelah dosa, rasa takut mendominasi. Adam tidak lagi melihat Allah sebagai Bapa yang penuh kasih, tetapi sebagai hakim yang penuh dendam. Oleh karena itu, dia melarikan diri dan menyembunyikan diri karena dia sepenuhnya sadar akan penghakiman yang menunggunya. Dia telanjang di hadapan Tuhan karena dia menyadari bahwa tanpa Tuhan, dia bukan apa-apa.

Tuhan kemudian bertanya, “Apakah engkau memakan buah pohon itu?” Tentunya, Tuhan tahu Adam telah melanggar hukum-Nya, tetapi Tuhan mengungkapkan fakta tersebut dalam sebuah pertanyaan retoris karena Tuhan ingin mendengarkan pengakuan Adam. Sayangnya, bukannya mengakui dan meminta maaf, Adam malah menyalahkan sang perempuan. Namun, jika dilihat lebih dekat, Adam tidak benar-benar menyalahkan sang perempuan, “Perempuan yang Engkau berikan kepadaku, dialah yang memberikan buah itu kepadaku.” Secara tidak langsung, Adam sebenarnya menyalahkan Tuhan! Sungguh keterlaluan! Adam pantas menerima kematian saat itu juga! Namun, apakah dia langsung mati? Tidak! Allah mengizinkan Adam untuk terus hidup dan juga menunjukkan Adam bahwa penolakan Adam terhadap kasih Allah telah membawanya kepada kesulitan dan penderitaan yang tidak perlu.

Apa yang akan terjadi jika Adam mengakui dosanya dan memohon ampun kepada Allah? Mungkin Adam dan keturunannya akan hidup di dunia yang lebih baik. Namun, Adam terlalu angkuh untuk memohon pengampunan, dan dia dan keturunannya (kita) harus berjalan melalui lembah duka sampai kedatangan Yesus Kristus.

Tentu saja, tidak ada gunanya menyalahkan Adam atas kondisi kita, tetapi kita selalu bisa belajar dari kisah purba ini. Dosa adalah hal yang memisahkan kita dari Tuhan dan mengubah hubungan kasih kita menjadi mimpi buruk. Entah kita melihat diri kita sebagai budak yang melakukan sesuatu karena takut dihukum, atau seorang pemberontak yang terus melawan dan melanggar hukum. Namun, sering kali, seperti Adam, kita terlalu arogan untuk mengakui dosa kita dan bahkan menyalahkan orang lain, situasi, dan, pada akhirnya, Tuhan. Namun, kabar gembiranya adalah kita semakin belajar siapa Allah kita. Dia bukanlah Tuhan pendendam yang langsung melenyapkan Adam, melainkan seorang ayah yang penuh kasih yang dengan sabar mendidik anaknya yang keras kepala. Dia bukanlah Tuhan yang kejam yang akan menghukum sesuka hatinya, melainkan Tuhan yang penuh belas kasihan yang menginginkan anak-anak-Nya yang tersesat untuk kembali kepada-Nya melalui kedatangan Putra-Nya.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kita dan Ekaristi

Hari Raya Corpus Christi [B]

2 Juni 2024

Markus 14:12-16, 22-26

Hari ini, kita merayakan hari raya Corpus Christi, atau hari raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Melalui perayaan ini, Gereja mengingatkan kita akan nilai Ekaristi yang tanpa batas. Santo Yohanes Paulus II pernah menulis, “Ekaristi, sebagai kehadiran Kristus yang menyelamatkan dalam komunitas umat beriman dan makanan rohaninya, merupakan harta paling berharga yang dapat dimiliki Gereja dalam perjalanannya melalui sejarah.” (Ecclesia de Eucharistia, 9). Dalam refleksi ini, saya mengundang semua untuk menghargai berkat yang paling berharga ini; semoga kita menjadi lebih layak untuk menerima Ekaristi, dan juga menjadi lebih kudus karenanya.

Banyak dari kita yang telah menghadiri Ekaristi selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Namun, sayangnya, alih-alih bertumbuh dalam rasa hormat dan devosi, beberapa dari kita kehilangan devosi yang sejati dan bahkan menjadi tidak hormat terhadap Ekaristi. Kita melewatkan misa-misa hari Minggu tanpa alasan yang sah. Kita merasa cukup menghadiri misa pada saat Paskah dan Natal saja. Kita terlambat mengikuti misa dengan alasan yang tidak tepat. Kita sibuk dan terganggu dengan banyak hal dalam Ekaristi dan mencari kesempatan untuk menggunakan gadget kita. Beberapa orang tidak lagi mau repot-repot menghadiri Misa dan tidak lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang berarti. Beberapa dari kita masih menerima Komuni Kudus dalam kondisi yang tidak layak.

Namun, hal-hal yang tidak pantas ini tidak hanya dilakukan oleh umat awam, tetapi juga oleh kami, para imam. Beberapa mempersembahkan Ekaristi dengan cara-cara yang tidak pantas. Di satu sisi, ada yang memperlakukan Misa seperti sebuah pertunjukan atau teater; dengan demikian, kami bertindak berlebihan, melanggar ritus (tata ibadat yang benar) hanya untuk menghibur umat dan mencari tepuk tangan. Di sisi lain, beberapa dari kami terlalu malas untuk merayakan Misa Kudus; oleh karena itu, kita secara tidak adil datang terlambat atau tidak mempersiapkan homili dan bahkan mempersembahkan misa secara ugal-ugalan. Ini adalah pelanggaran! Ini sangat serius karena pelanggaran-pelanggaran ini dapat menyebabkan domba-domba tersesat, dan para gembala bertanggung jawab atas hilangnya jiwa-jiwa ini.

Memang, ada banyak alasan, tetapi alih-alih saling menyalahkan, saya ingin fokus pada satu hal. Kita perlu mengenali dan menghargai apa itu Ekaristi. Dengan kata-kata yang paling sederhana, Ekaristi adalah Yesus Kristus sendiri. Menerima komuni berarti menerima Yesus sendiri. Ekaristi terutama adalah tentang Allah, bukan tentang kita dan bagaimana kita dihibur. Oleh karena itu, cara kita menghormati (atau menghina) Allah dalam Ekaristi akan secara signifikan memengaruhi keselamatan kita. Memang, Ekaristi diperlukan untuk keselamatan kita justru karena Ekaristi adalah tentang Allah, yang mengasihi kita dan ingin kita menjadi kudus seperti Dia yang kudus.

Kabar baiknya adalah kita masih memiliki waktu untuk bertobat. Kita dapat menerapkan prinsip “lex orandi, est lex credendi, est lex vivendi.” (secara harfiah, hukum berdoa adalah hukum percaya, adalah hukum hidup). Ini berarti cara kita berdoa dan beribadah akan membentuk kepercayaan kita, dan pada gilirannya, kepercayaan kita akan membentuk hidup kita. Jika kita dengan setia mengikuti cara-cara beribadah yang benar, dengan niat dan disposisi batin yang benar, gerakan dan tindakan yang benar, dan dengan upaya untuk menghindari gangguan, kita memperdalam iman kita kepada Tuhan. Kemudian, saat kita memiliki iman yang dalam kepada Tuhan, kita akan hidup dengan cara-cara yang berkenan pada Tuhan. Semakin kita beribadah dengan benar, semakin dalam iman kita. Begitu juga sebaliknya, semakin kita beribadah dengan salah, semakin dangkal iman kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tritunggal Mahakudus dan Pembaptisan

Hari Raya Tritunggal Mahakudus [B]
26 Mei 2024
Matius 28:16-20

Hari ini, kita merayakan misteri Tritunggal Mahakudus, dan Gereja mengundang kita untuk merenungkan Pembaptisan kita. Kita dibaptis dalam rumusan yang diberikan oleh Yesus sendiri. Yesus memerintahkan para murid-Nya, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus (Mat 28:19).” Namun, apa artinya dibaptis dengan rumusan Tritunggal ini?

Kita dibaptiskan ‘di dalam’ nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, kata depan ‘di dalam’ adalah ‘εἰς’ (baca: eis), dan ini menunjukkan perpindahan dari satu tempat ke tempat lain atau dari suatu kondisi yang lama ke kondisi yang baru. Dengan demikian, Baptisan memungkinkan kita untuk memasuki tempat, keadaan, dan status yang baru.

Dalam Pembaptisan, kita tidak lagi berada di luar Allah, tetapi sekarang kita berada di dalam Allah. Kita tidak lagi menjadi milik dunia, tetapi sekarang menjadi milik Allah. Kita tidak lagi berada di bawah pengaruh Iblis, tetapi sekarang kita digerakkan oleh rahmat Allah. Rahmat Baptisan menciptakan kembali kita dari anak-anak Adam yang telah jatuh ke dalam dosa, menjadi anak-anak Allah yang kudus. Rahmat yang sama mengubah kita menjadi anggota yang telah ditebus dari Tubuh Yesus. Dan akhirnya, rahmat ini juga menguduskan kita dan membuat kita menjadi bait Roh Kudus.

Karena Pembaptisan membawa kita kepada persekutuan dengan Tritunggal Mahakudus dan surga tidak lain adalah persekutuan yang permanen dengan Allah, maka Pembaptisan sangat penting bagi keselamatan kita. Tidak heran jika Santo Petrus mengajarkan dengan penuh otoritas bahwa Baptisan menyelamatkan kita (1 Pet. 3:21). Namun, kita harus ingat bahwa rahmat yang kita terima dalam Pembaptisan harus diterima dengan benar dan dinyatakan dalam hidup kita.

Persatuan dengan Allah bukan hanya sesuatu yang bersifat rohani dan tidak terlihat, tetapi juga nyata dan dapat dilihat. Di dunia ini, kita percaya bahwa keluarga Allah, Tubuh Kristus, dan Bait Roh Kudus memiliki manifestasi yang dapat dilihat, yakni Gereja. Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa Baptisan juga merupakan pintu gerbang menuju keanggotaan kita di dalam Gereja. Oleh karena itu, kita menunjukkan bahwa kita milik Tritunggal Mahakudus ketika kita menyatakan keanggotaan kita dalam Gereja lokal, di paroki-paroki, dan juga Gereja universal, yakni kesatuan dengan Paus.

Kita mengekspresikan persatuan rohani kita dengan Tritunggal Mahakudus ketika kita merayakan liturgi Ekaristi dengan layak. Dengan demikian, kita tidak dapat mengatakan bahwa kita berada dalam kesatuan dengan Tritunggal Mahakudus, tetapi kita tidak pernah menghadiri misa karena kemalasan atau menerima Komuni dengan tidak layak.

Kita menyatakan kasih kita kepada Tritunggal Mahakudus ketika kita mengasihi sesama umat Kristiani dan bahkan mereka yang belum percaya kepada Tritunggal. Itulah sebabnya Santo Yohanes berkata, “Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, ia adalah pendusta, sebab barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang telah dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya (1 Yoh. 4:20).”

Kita menunjukkan persekutuan kita dengan Tritunggal Mahakudus ketika kita memisahkan diri kita dari Iblis dan pekerjaannya. Kita tidak dapat mengatakan bahwa kita adalah anak-anak Allah, tetapi kita hidup dalam dosa, kita mencuri dan merugikan dari orang lain, kita terlibat dalam praktik-praktik esoterik, dan kita percaya pada takhayul.

Sakramen Baptisan tidak berhenti dengan penuangan air, tetapi diwujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Iman kita kepada Tritunggal tidak hanya berarti penerimaan intelektual atas kehadiran Allah tetapi juga mengubah hidup kita di dunia.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kapan Hari Ulang Tahun Gereja?

Pentekosta [B]

19 Mei 2024

Yohanes 20:19-23

Hari raya Pentekosta biasanya disebut sebagai hari ulang tahun Gereja. Namun, apakah hal ini benar adanya, atau hanya mitos yang cukup populer?

Jika kita mencoba masuk ke dalam ajaran resmi Gereja, kita akan menemukan ajaran penting di Katekismus Gereja Katolik, khususnya paragraf 766. Di sini, saya mengutip, “Tetapi Gereja lahir terutama karena penyerahan diri Kristus secara menyeluruh untuk keselamatan kita, yang didahului dalam penciptaan Ekaristi dan direalisasikan pada kayu salib. “Permulaan dan pertumbuhan itulah yang ditandakan dengan darah dan air, yang mengalir dari lambung Yesus yang terluka di kayu salib” (LG 3). “Sebab dari lambung Kristus yang berada di salib, muncullah Sakramen seluruh Gereja yang mengagumkan” (SC 5). Seperti Hawa dibentuk dari rusuk Adam yang sedang tidur, demikian Gereja dilahirkan dari hati tertembus Kristus yang mati di salib (Bdk. St. Ambrosius).

Singkatnya, hari ulang tahun Gereja adalah pada hari Jumat Agung. Gereja mengakui dirinya sebagai Hawa yang baru, yang lahir dari hati Kristus untuk menjadi mempelai-Nya. Oleh karena itu, menyebut hari raya Pentekosta sebagai hari ulang tahun Gereja tampaknya salah. Namun, kebenarannya lebih dalam daripada yang terlihat.

Jika kita mengamati dengan saksama liturgi Pentekosta, terutama dalam prefasi Pentekosta (doa yang diucapkan oleh imam sebelum Doa Syukur Agung), kita akan menemukan sebuah informasi yang menarik. Saya mengutip, “…kami selalu dan di mana pun bersyukur kepada-Mu, Tuhan, Bapa Yang Kudus… Engkau menganugerahkan Roh Kudus kepada mereka yang Engkau jadikan anak-anak angkat-Mu melalui persekutuan dengan Putra Tunggal-Mu. Roh yang sama, pada awal kelahiran Gereja, telah menganugerahkan pengetahuan akan Allah kepada semua bangsa…”  Singkatnya, liturgi Pentekosta juga merupakan perayaan ulang tahun Gereja.

Jadi, bagaimana kita memahami informasi yang tampaknya saling bertentangan ini? Mengapa ajaran resmi Gereja tampaknya bertentangan dengan liturgi Gereja? Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat kelahiran Gereja bukan sebagai satu kejadian yang terjadi seketika, melainkan sebagai sebuah proses melahirkan. Sebagaimana kepala bayi adalah yang pertama kali keluar, dan kemudian seluruh tubuhnya, kita dapat melihat ‘kepala Gereja’ muncul pertama kali di bawah salib Kristus dan kemudian seluruh ‘tubuh’ pada hari Pentekosta. Yohanes, rasul yang dikasihi, dan Maria, ibu Yesus, mewakili kepala. Pada hari Pentekosta, di bawah kuasa Roh Kudus, Petrus dan murid-murid lainnya mulai memberitakan perkara-perkara besar Allah kepada segala bangsa, dan membaptis mereka menjadi anggota Gereja.

Cara lain untuk melihat kebenaran ini adalah bahwa Gereja memang dilahirkan dua kali, pertama dari Kristus dan kedua dari Roh Kudus. Mengikuti Santo Paulus, Gereja adalah tubuh dari Kristus (Ef. 1:22; KGK 792), dan Gereja juga adalah bait Roh Kudus (1 Kor. 6:16, KGK 797). Sebagai tubuh Kristus, kita adalah satu kesatuan organik antara kita dan Kristus, sumber keselamatan kita. Sebagai bait Roh Kudus, kita dipersatukan dengan Roh Kudus, sumber kekudusan kita dan alasan kita untuk menguduskan sesama.

Selamat ulang tahun untuk Gereja Katolik!

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kebahagiaan Sejati dan Di Mana Menemukannya

Minggu ke-6 Paskah [B]
5 Mei 2024
Yohanes 15:9-17

Manusia ingin bahagia, dan kebahagiaan sendiri datang dari terpenuhinya kebutuhan dan keinginan kita. Karena manusia adalah makhluk yang memiliki berbagai jenis kebutuhan, maka manusia juga mengalami berbagai jenis kebahagiaan. Sebagai contoh, kita merasa senang saat kita kenyang, dan kita juga merasa senang saat kita lulus sekolah, namun kita menyadari bahwa ini adalah dua bentuk kebahagiaan yang berbeda. Yang pertama bahagianya terasa intens tapi singkat, sementara yang kedua, tidak intens tapi mendalam. Lalu, kebahagiaan seperti apa yang perlu kita cari?

Untuk memahami kebahagiaan manusia, kita perlu memahami bahwa kita, manusia, adalah makhluk yang memiliki banyak jenis kebutuhan. Ada kebutuhan biologis, psikologis, dan intelektual. Kebutuhan biologis seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal, dan jika terpenuhi, akan menjamin kelangsungan hidup kita. Inilah sebabnya hal-hal ini memberi kita kesenangan secara cepat dan intens. Karena jika tidak memberikan rasa bahagia yang cepat, maka manusia akan menunda untuk mencari makan, dan terlalu lalu lama menunda maka kita akan mati.

Selain kebutuhan biologis, kita juga memiliki kebutuhan psikologis. Kita mencari kenyamanan, afirmasi, dan dukungan emosional. Kita membutuhkan orang-orang yang menyayangi kita dan juga kita butuh untuk mengekspresikan emosi kita dengan baik. Pemenuhan kebutuhan psikologis menghasilkan kebahagiaan yang lebih mendalam dan membantu mengatasi berbagai masalah dan gangguan mental.

Lebih dari itu, kita juga adalah makhluk yang memiliki akal budi dan kehendak bebas. Akal budi membuat kita mencari kebenaran, sementara kehendak bebas mendorong kita untuk mengekspresikan kebebasan dan kreativitas kita. Namun, tidak seperti kebutuhan lainnya, kebutuhan intelektual ini menuntut kita untuk mengeluarkan banyak usaha dan waktu, dan sering kali tidak memberikan kita kesenangan yang cepat dan intens. Contohnya, menyelesaikan pendidikan yang baik menuntut banyak waktu dan tenaga. Namun, saat kita bisa menyelesaikan pendidikan, kita akan mengalami kepuasan yang jauh lebih mendalam dari sekedar makan kenyang. Karena kita tahu bahwa, melalui pendidikan, kita telah bertumbuh, memperoleh keterampilan dan pengetahuan, dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Namun, Injil mengajarkan bahwa kita bukan hanya makhluk yang memiliki kebutuhan biologis, psikologis, dan intelektual. Kita diciptakan tidak hanya untuk dunia ini. Sebagai citra Allah, kita dirancang untuk melampaui kehidupan duniawi ini. Para Bapa Gereja berbicara tentang pribadi manusia sebagai ‘capax Dei’, yang berarti ‘mampu untuk (hidup bersama) Allah.’ Dengan kata lain, pria dan wanita diciptakan untuk hidup bersama Tuhan. Lalu, bagaimana kita memenuhi kebutuhan rohani ini?

Jika kita memperhatikan dinamika antara kebutuhan dan kebahagiaan, kita akan menemukan bahwa semakin tinggi jenis kebutuhan yang kita penuhi (seperti kebutuhan intelektual), semakin dalam kebahagiaan yang kita terima. Namun, jenis kebutuhan yang tinggi membutuhkan usaha yang lebih tinggi pula. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan kita akan Tuhan (kebutuhan yang paling tinggi), kita harus siap untuk memberikan usaha yang paling luar biasa, yakni mempersembahkan diri kita sendiri. Bagaimana caranya?

Yesus mengajarkan bahwa kasih yang paling besar adalah mempersembahkan hidup kita kepada orang yang kita kasihi. Inilah paradoks dari kebahagiaan sejati. Sementara jenis kebahagiaan lainnya terkait dengan pemenuhan kebutuhan untuk diri kita sendiri (kita adalah pusatnya), sukacita rohani bergerak berlawan arah, yakni pengosongan diri. Semakin kita kehilangan diri kita sendiri dalam kasih, semakin kita terbuka kepada Tuhan, semakin kita mengalami sukacita surgawi di dunia ini.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP