Adam and Us

10th Sunday in Ordinary Time [B]

June 9, 2024

Genesis 3:9-15

The story begins with a question from the Lord to Adam, “Where are you?” Yet, this is a strange question. Wasn’t God aware of where Adam was? But He is God, and He is supposed to know everything! Does it demonstrate ‘ignorance of God,’ or is there something deeper in the question?

Firstly, we must recognize that the language of the early chapters of Genesis is much different from the rest of the Bible. The Church recognizes that “the account of the fall in Genesis 3 uses figurative language but affirms a primeval event, a deed that took place at the beginning of the history of man (CCC 390).” Scholars agree that the sacred author used an ‘anthropomorphic language,’ that is, God is described to act and behave like a human person. Thus, God is painted as one who strolled around the garden and suddenly noticed the absence of Adam and Eve.

Moving beyond ‘anthropomorphic language,’ God’s question to Adam is not about geographical location. God certainly knew well where Adam was. Nothing can hide from Him. Yet, the question remains true because God was not asking for a geographical position but rather a personal relationship. “Where are you in relation to me? Are you with me or against me? Are you on my side or the serpent’s side?”

Adam answered, “I was afraid.”  The original relationship between God and men was based on love and true honor. Yet, after sin, fear dominates. Adam no longer saw God as a loving father but a vengeful judge. Thus, he ran away and hid himself because he was fully aware of the judgment that awaited him. He was naked before the Lord, and he realized without God, he was nothing.

God then asked, “Did you eat from the tree?” Surely, God knew Adam had trespassed His law, but He phrased the fact in a rhetorical question as God solicited Adam’s confession. Unfortunately, instead of confessing and asking for forgiveness, Adam blamed the woman. Yet, on closer look, Adam was not exactly blaming the woman, “The woman you gave me, she gave me the fruit.” Indirectly, Adam blamed God! Adam deserves nothing but a miserable death, but did He die there and then? No! God rather pointed out to Adam that his refusal of God’s love had led him to hardship and suffering.

What would have happened if Adam had owned his sin and asked God’s mercy? Perhaps Adam and his descendants would have lived in a better world. Yet, Adam was too arrogant to beg forgiveness, and he and his descendants must walk through the valley of tears till the arrival of Jesus Christ.

Surely, it is pointless to blame Adam for our conditions, but we can always learn from this primordial story. Sin is what separates us from God and distorts our loving relationship into a nightmare. Either we see ourselves as fearful slaves or rebellious renegades. Yet, often, like Adam, our father, we are too arrogant to confess and blame others, situations, or, finally, God. Yet, on the other side of the story, we learn who our God is. He was not a vengeful god who would instantly obliterate Adam, but rather a loving father who patiently educates his rebellious son. He was not a cruel lord who would punish but a merciful God who wanted his stray children to return to Him through the arrival of His Son.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Adam dan Kita

Minggu ke-10 dalam Masa Biasa [B]

9 Juni 2024

Kejadian 3:9-15

Bacaan pertama kita dimulai dengan sebuah pertanyaan dari Tuhan kepada Adam, “Di manakah engkau?” Namun, ini adalah pertanyaan yang aneh. Bukankah Tuhan seharusnya mengetahui di mana Adam berada? Apakah ini menunjukkan ‘ketidaktahuan Tuhan’, atau ada sesuatu yang lebih dalam dari pertanyaan tersebut?

Pertama, kita harus menyadari bahwa bahasa pasal-pasal awal kitab Kejadian jauh berbeda dengan bagian Alkitab lainnya. Gereja mengajarkan, “kisah kejatuhan dalam Kejadian 3 menggunakan bahasa kiasan tetapi menegaskan sebuah peristiwa purba, sebuah perbuatan yang terjadi pada awal sejarah manusia (KGK 390).” Para ahli Kitab Suci sepakat bahwa penulis kitab suci menggunakan ‘bahasa antropomorfis’, yaitu Allah digambarkan bertindak dan berperilaku seperti manusia pada bab ini. Dengan demikian, Allah digambarkan sebagai seseorang yang berjalan-jalan di taman dan tiba-tiba menyadari ketidakhadiran Adam dan Hawa.

Beranjak dari ‘bahasa antropomorfis’, pertanyaan Tuhan kepada Adam sebenarnya bukanlah tentang lokasi geografis. Allah pasti tahu persis di mana Adam berada. Toh, tidak ada yang bisa disembunyikan dari-Nya. Tuhan tidak menanyakan posisi geografis Adam, melainkan hubungan pribadi Adam dengan Tuhan. “Di manakah engkau dalam hubungan dengan-Ku? Apakah engkau bersama-Ku atau melawan-Ku? Apakah engkau berada di pihak-Ku atau di pihak ular itu?”

Adam menjawab, “Aku takut.”  Hubungan primitif antara Allah dan manusia sebenarnya didasarkan pada kasih dan rasa hormat yang sejati. Namun, setelah dosa, rasa takut mendominasi. Adam tidak lagi melihat Allah sebagai Bapa yang penuh kasih, tetapi sebagai hakim yang penuh dendam. Oleh karena itu, dia melarikan diri dan menyembunyikan diri karena dia sepenuhnya sadar akan penghakiman yang menunggunya. Dia telanjang di hadapan Tuhan karena dia menyadari bahwa tanpa Tuhan, dia bukan apa-apa.

Tuhan kemudian bertanya, “Apakah engkau memakan buah pohon itu?” Tentunya, Tuhan tahu Adam telah melanggar hukum-Nya, tetapi Tuhan mengungkapkan fakta tersebut dalam sebuah pertanyaan retoris karena Tuhan ingin mendengarkan pengakuan Adam. Sayangnya, bukannya mengakui dan meminta maaf, Adam malah menyalahkan sang perempuan. Namun, jika dilihat lebih dekat, Adam tidak benar-benar menyalahkan sang perempuan, “Perempuan yang Engkau berikan kepadaku, dialah yang memberikan buah itu kepadaku.” Secara tidak langsung, Adam sebenarnya menyalahkan Tuhan! Sungguh keterlaluan! Adam pantas menerima kematian saat itu juga! Namun, apakah dia langsung mati? Tidak! Allah mengizinkan Adam untuk terus hidup dan juga menunjukkan Adam bahwa penolakan Adam terhadap kasih Allah telah membawanya kepada kesulitan dan penderitaan yang tidak perlu.

Apa yang akan terjadi jika Adam mengakui dosanya dan memohon ampun kepada Allah? Mungkin Adam dan keturunannya akan hidup di dunia yang lebih baik. Namun, Adam terlalu angkuh untuk memohon pengampunan, dan dia dan keturunannya (kita) harus berjalan melalui lembah duka sampai kedatangan Yesus Kristus.

Tentu saja, tidak ada gunanya menyalahkan Adam atas kondisi kita, tetapi kita selalu bisa belajar dari kisah purba ini. Dosa adalah hal yang memisahkan kita dari Tuhan dan mengubah hubungan kasih kita menjadi mimpi buruk. Entah kita melihat diri kita sebagai budak yang melakukan sesuatu karena takut dihukum, atau seorang pemberontak yang terus melawan dan melanggar hukum. Namun, sering kali, seperti Adam, kita terlalu arogan untuk mengakui dosa kita dan bahkan menyalahkan orang lain, situasi, dan, pada akhirnya, Tuhan. Namun, kabar gembiranya adalah kita semakin belajar siapa Allah kita. Dia bukanlah Tuhan pendendam yang langsung melenyapkan Adam, melainkan seorang ayah yang penuh kasih yang dengan sabar mendidik anaknya yang keras kepala. Dia bukanlah Tuhan yang kejam yang akan menghukum sesuka hatinya, melainkan Tuhan yang penuh belas kasihan yang menginginkan anak-anak-Nya yang tersesat untuk kembali kepada-Nya melalui kedatangan Putra-Nya.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Our Worship in the Eucharist

Solemnity of Corpus Christi [B]

June 2, 2024

Mark 14:12-16, 22-26

We are celebrating the solemnity of Corpus Christi, or the Body and Blood of Jesus Christ. Through this feast, the Church reminds us of the infinite value of the Eucharist. St. John Paul II once wrote, “The Eucharist, as Christ’s saving presence in the community of the faithful and its spiritual food, is the most precious possession which the Church can have in her journey through history.” (Ecclesia de Eucharistia, 9). In this reflection, I invite everyone to appreciate this most precious gift; hopefully, we may be more worthy of receiving the Eucharist, and be transformed.

Many of us have been going to the Eucharist for years and even decades. Still, unfortunately, instead of growing in respect and appreciation, some of us are losing true devotion and even becoming disrespectful towards the Eucharist. We skip the Sunday masses without valid reasons. We think it is enough to attend the Mass during Easter and Christmas. We are late to participate in the mass with proper justification. We are busy and distracted with many things in the Eucharist and look for any opportunity to use our gadgets. Some no longer bother to attend the Mass and no longer consider it something meaningful. Some of us still receive the holy Communion in unworthy conditions.

However, these improper things are done not only by the lay people, but also us, the priests. Some offer the Eucharist in inappropriate manners. On one extreme, some treat the Mass just like a performance or theatre; thus, we act excessively, break the rites to entertain the people and seek ovation. On another extreme, some of us are just too lazy to celebrate the Holy Mass; thus, we unjustifiably come late or do not prepare the homily and for the celebration itself. These are abuses, plain and simple. This is grave because these misconducts may cause the sheep to stray away, and the shepherds are responsible for this loss of souls.

Indeed, there are many reasons, but instead of blaming each other, I would like to focus on one thing. We need to recognize and appreciate what the Eucharist is. In most straightforward words, the Eucharist is Jesus Christ Himself. To celebrate worthily, the Eucharist means to offer our due worship to Jesus Christ, the true God. To receive communion is to receive Jesus Himself. The Eucharist is primarily about God, not us and how we get entertained. Therefore, the way we honor (or dishonor) God in the Eucharist will significantly affect our salvation. Indeed, the Eucharist is necessary for our salvation precisely because the Eucharist is about God, who loves us and wants us to be holy like He is holy.

The good news is that we are still on time. We can apply the principle “lex orandi, est lex credendi, est lex vivendi.” (literally, the law of praying is the law of believing, is the law of living). This means how we pray and worship will shape our beliefs, and in turn, our beliefs will form our lives. If we faithfully follow the right ways of worship, with the right intentions and disposition, the right gestures and actions, and with an effort to avoid distractions, we deepen our faith in God. Then, as we have deep faith in God, we will live in ways that will please the Lord.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kita dan Ekaristi

Hari Raya Corpus Christi [B]

2 Juni 2024

Markus 14:12-16, 22-26

Hari ini, kita merayakan hari raya Corpus Christi, atau hari raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Melalui perayaan ini, Gereja mengingatkan kita akan nilai Ekaristi yang tanpa batas. Santo Yohanes Paulus II pernah menulis, “Ekaristi, sebagai kehadiran Kristus yang menyelamatkan dalam komunitas umat beriman dan makanan rohaninya, merupakan harta paling berharga yang dapat dimiliki Gereja dalam perjalanannya melalui sejarah.” (Ecclesia de Eucharistia, 9). Dalam refleksi ini, saya mengundang semua untuk menghargai berkat yang paling berharga ini; semoga kita menjadi lebih layak untuk menerima Ekaristi, dan juga menjadi lebih kudus karenanya.

Banyak dari kita yang telah menghadiri Ekaristi selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Namun, sayangnya, alih-alih bertumbuh dalam rasa hormat dan devosi, beberapa dari kita kehilangan devosi yang sejati dan bahkan menjadi tidak hormat terhadap Ekaristi. Kita melewatkan misa-misa hari Minggu tanpa alasan yang sah. Kita merasa cukup menghadiri misa pada saat Paskah dan Natal saja. Kita terlambat mengikuti misa dengan alasan yang tidak tepat. Kita sibuk dan terganggu dengan banyak hal dalam Ekaristi dan mencari kesempatan untuk menggunakan gadget kita. Beberapa orang tidak lagi mau repot-repot menghadiri Misa dan tidak lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang berarti. Beberapa dari kita masih menerima Komuni Kudus dalam kondisi yang tidak layak.

Namun, hal-hal yang tidak pantas ini tidak hanya dilakukan oleh umat awam, tetapi juga oleh kami, para imam. Beberapa mempersembahkan Ekaristi dengan cara-cara yang tidak pantas. Di satu sisi, ada yang memperlakukan Misa seperti sebuah pertunjukan atau teater; dengan demikian, kami bertindak berlebihan, melanggar ritus (tata ibadat yang benar) hanya untuk menghibur umat dan mencari tepuk tangan. Di sisi lain, beberapa dari kami terlalu malas untuk merayakan Misa Kudus; oleh karena itu, kita secara tidak adil datang terlambat atau tidak mempersiapkan homili dan bahkan mempersembahkan misa secara ugal-ugalan. Ini adalah pelanggaran! Ini sangat serius karena pelanggaran-pelanggaran ini dapat menyebabkan domba-domba tersesat, dan para gembala bertanggung jawab atas hilangnya jiwa-jiwa ini.

Memang, ada banyak alasan, tetapi alih-alih saling menyalahkan, saya ingin fokus pada satu hal. Kita perlu mengenali dan menghargai apa itu Ekaristi. Dengan kata-kata yang paling sederhana, Ekaristi adalah Yesus Kristus sendiri. Menerima komuni berarti menerima Yesus sendiri. Ekaristi terutama adalah tentang Allah, bukan tentang kita dan bagaimana kita dihibur. Oleh karena itu, cara kita menghormati (atau menghina) Allah dalam Ekaristi akan secara signifikan memengaruhi keselamatan kita. Memang, Ekaristi diperlukan untuk keselamatan kita justru karena Ekaristi adalah tentang Allah, yang mengasihi kita dan ingin kita menjadi kudus seperti Dia yang kudus.

Kabar baiknya adalah kita masih memiliki waktu untuk bertobat. Kita dapat menerapkan prinsip “lex orandi, est lex credendi, est lex vivendi.” (secara harfiah, hukum berdoa adalah hukum percaya, adalah hukum hidup). Ini berarti cara kita berdoa dan beribadah akan membentuk kepercayaan kita, dan pada gilirannya, kepercayaan kita akan membentuk hidup kita. Jika kita dengan setia mengikuti cara-cara beribadah yang benar, dengan niat dan disposisi batin yang benar, gerakan dan tindakan yang benar, dan dengan upaya untuk menghindari gangguan, kita memperdalam iman kita kepada Tuhan. Kemudian, saat kita memiliki iman yang dalam kepada Tuhan, kita akan hidup dengan cara-cara yang berkenan pada Tuhan. Semakin kita beribadah dengan benar, semakin dalam iman kita. Begitu juga sebaliknya, semakin kita beribadah dengan salah, semakin dangkal iman kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

When is the Birthday of the Church?

Pentecost [B]

May 19, 2024

John 20:19-23

The solemnity of the Pentecost is usually called the birthday of the Church. But is this really true, or is it just a popular myth?

If we try to go into the official teaching of the Church, we will discover a passage from the Catechism of the Catholic Church, especially paragraph 766. Here, I quote, “The Church is born primarily of Christ’s total self-giving for our salvation, anticipated in the institution of the Eucharist and fulfilled on the cross. “The origin and growth of the Church are symbolized by the blood and water which flowed from the open side of the crucified Jesus.” “For it was from the side of Christ as he slept the sleep of death upon the cross that there came forth the ‘wondrous sacrament of the whole Church.’ ” As Eve was formed from the sleeping Adam’s side, so the Church was born from the pierced heart of Christ hanging dead on the cross.”

In short, the Church’s birthday is on Good Friday. The Church recognizes herself as the new Eve, born from the heart of Christ to be His bride. Consequently, calling the feast of Pentecost the birthday of the Church seems to be false. Yet, the truth is more profound than it seems.

Suppose we carefully observe the liturgy of the Pentecost, especially in the preface of Pentecost (a prayer said by the priest just before the Eucharist prayer). We will discover an interesting piece of information. I quote, “[We] give you thanks, Lord, holy Father… you bestowed the Holy Spirit today on those you made your adopted children uniting them to Your Only Begotten Son. This same Spirit, as the Church came to birth, opened to all people the knowledge of God…” In short, the liturgy of Pentecost is also celebrating the Church’s birthday.

So, how do we make sense of these seemingly conflicting pieces of information? Why does the official teaching of the Church seem to contradict the liturgy? To understand this, we need to see the birth of the Church not as one single instantaneous happening but rather as a process of giving birth. As the baby’s head is the first to come out, and then the rest of the body, we can see the ‘head of the Church’ came to being first under the cross of Christ and then the rest of ‘the body’ in the Pentecost. John, the beloved apostle, and Mary, the mother of Jesus, represented the head. While in the Pentecost, under the influence of the Holy Spirit, Peter, and other disciples began to proclaim God’s great things to all nations.

Another way to see this truth is that the Church was indeed born twice, first from Christ and second from the Holy Spirit. Following St. Paul, the Church is the body of the Church (Eph 1:22; CCC 792), and the Church also is the temple of the Holy Spirit (1 Cor 6:16, CCC 797). As the body of Christ, we are an organic unity between us and Christ, the source of our salvation. As the temple of the Holy Spirit, we are united to the Holy Spirit, the source of our holiness and our reason to sanctify others.

Happy birthday to the Catholic Church!

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kapan Hari Ulang Tahun Gereja?

Pentekosta [B]

19 Mei 2024

Yohanes 20:19-23

Hari raya Pentekosta biasanya disebut sebagai hari ulang tahun Gereja. Namun, apakah hal ini benar adanya, atau hanya mitos yang cukup populer?

Jika kita mencoba masuk ke dalam ajaran resmi Gereja, kita akan menemukan ajaran penting di Katekismus Gereja Katolik, khususnya paragraf 766. Di sini, saya mengutip, “Tetapi Gereja lahir terutama karena penyerahan diri Kristus secara menyeluruh untuk keselamatan kita, yang didahului dalam penciptaan Ekaristi dan direalisasikan pada kayu salib. “Permulaan dan pertumbuhan itulah yang ditandakan dengan darah dan air, yang mengalir dari lambung Yesus yang terluka di kayu salib” (LG 3). “Sebab dari lambung Kristus yang berada di salib, muncullah Sakramen seluruh Gereja yang mengagumkan” (SC 5). Seperti Hawa dibentuk dari rusuk Adam yang sedang tidur, demikian Gereja dilahirkan dari hati tertembus Kristus yang mati di salib (Bdk. St. Ambrosius).

Singkatnya, hari ulang tahun Gereja adalah pada hari Jumat Agung. Gereja mengakui dirinya sebagai Hawa yang baru, yang lahir dari hati Kristus untuk menjadi mempelai-Nya. Oleh karena itu, menyebut hari raya Pentekosta sebagai hari ulang tahun Gereja tampaknya salah. Namun, kebenarannya lebih dalam daripada yang terlihat.

Jika kita mengamati dengan saksama liturgi Pentekosta, terutama dalam prefasi Pentekosta (doa yang diucapkan oleh imam sebelum Doa Syukur Agung), kita akan menemukan sebuah informasi yang menarik. Saya mengutip, “…kami selalu dan di mana pun bersyukur kepada-Mu, Tuhan, Bapa Yang Kudus… Engkau menganugerahkan Roh Kudus kepada mereka yang Engkau jadikan anak-anak angkat-Mu melalui persekutuan dengan Putra Tunggal-Mu. Roh yang sama, pada awal kelahiran Gereja, telah menganugerahkan pengetahuan akan Allah kepada semua bangsa…”  Singkatnya, liturgi Pentekosta juga merupakan perayaan ulang tahun Gereja.

Jadi, bagaimana kita memahami informasi yang tampaknya saling bertentangan ini? Mengapa ajaran resmi Gereja tampaknya bertentangan dengan liturgi Gereja? Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat kelahiran Gereja bukan sebagai satu kejadian yang terjadi seketika, melainkan sebagai sebuah proses melahirkan. Sebagaimana kepala bayi adalah yang pertama kali keluar, dan kemudian seluruh tubuhnya, kita dapat melihat ‘kepala Gereja’ muncul pertama kali di bawah salib Kristus dan kemudian seluruh ‘tubuh’ pada hari Pentekosta. Yohanes, rasul yang dikasihi, dan Maria, ibu Yesus, mewakili kepala. Pada hari Pentekosta, di bawah kuasa Roh Kudus, Petrus dan murid-murid lainnya mulai memberitakan perkara-perkara besar Allah kepada segala bangsa, dan membaptis mereka menjadi anggota Gereja.

Cara lain untuk melihat kebenaran ini adalah bahwa Gereja memang dilahirkan dua kali, pertama dari Kristus dan kedua dari Roh Kudus. Mengikuti Santo Paulus, Gereja adalah tubuh dari Kristus (Ef. 1:22; KGK 792), dan Gereja juga adalah bait Roh Kudus (1 Kor. 6:16, KGK 797). Sebagai tubuh Kristus, kita adalah satu kesatuan organik antara kita dan Kristus, sumber keselamatan kita. Sebagai bait Roh Kudus, kita dipersatukan dengan Roh Kudus, sumber kekudusan kita dan alasan kita untuk menguduskan sesama.

Selamat ulang tahun untuk Gereja Katolik!

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Where is Heaven?

The Ascension of Our Lord

May 9, 2024

Mk 16:15-20

The Church is celebrating the Ascension of our Lord, Jesus Christ. After around forty days since His resurrection, Jesus went up into heaven before the eyes of His disciples. Through Ascension, Jesus wanted to show His disciples that the heavens were real, and He was there. Yet, where is heaven? What is heaven?

In the Old Testament, the word heavens in Hebrew is ‘שָׁמַיִם (samayim), and this term primarily refers to the sky, atmosphere, or realm above the earth. Yet, the Bible points out that ‘שָׁמַיִם (samayim) is also the dwelling place of the Lord and His angels. God is often described as ‘going down from heavens’ (Gen 11:5, 19:24), or angels of God moved up to and down from heavens (Gen 28:12). Heavens are also generally restricted to God and His angels, while humans belong to the earth. After death, men were buried and ‘moving down’ to the realm of the dead, the Gehenna (with Elijah as an extremely rare exception, 2 Kg 2:11).

Now, with the advance of science, technology, and theology, we recognize that God does not literally stay in the sky, atmosphere, or outer space. So, where are the heaven? Is it in another universe? Is it in another dimension? Is it in a realm without time and space? With all honesty, we have very little knowledge about heaven’s whereabouts. Yet, this does not change the basic truth: Heaven is the dwelling place of God and His angels. Then, does Jesus’ ascension make any difference?

Jesus’ ascension now bridges the heaven and earth. He is the way to the Father (John 14:6), and as the Good Shepherd (John 10:14), He leads His flock to a green heavenly pasture. Jesus’ ascension creates a significant difference between the heavens of the Old Testament and those of the New Testament. When Isaiah had a vision of the heavens, he saw God and His angels singing ‘holy, holy, holy!’ (Isa 6:1-3). Then, a hundred years later, apostle John saw the same vision of God and His angels singing ‘holy, holy, holy!’ Yet, there is one big difference. In that heaven, John discovered Jesus, the lamb of God, surrounded by holy people!  Heaven is now filled with people. Jesus fulfilled His promise to go to heaven to prepare dwelling places for us (John 14:2-3).

Lastly, what does it feel like to live in the heavens? Again, as long as we are alive here on earth, we may not fully understand the reality of heaven. The Bible often speaks of heaven metaphorically, like a wedding feast (Isa 25:6; Rev 19:9), a new world, a new promised land, and Jerusalem (Isa 66:17-19; Eze 40; Rev 21).  It is where we find perfect happiness because we are in perfect unity with God and His saints (CCC 1024). However, we are not that far from experiencing heaven. Christ, who was able to go up to heaven, has the same power to go down again to the earth, albeit in a different manner. Unlike His first coming in a lowly place in Bethlehem, now He comes down with His heavenly glory in the Eucharist.

Every time we celebrate the holy mass and receive Jesus worthily in the Eucharist, we are experiencing heaven on earth.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pengudusan

Minggu Paskah ke-7 [B]

12 Mei 2024

Yohanes 17:11-19

Dalam Injil hari ini, Yesus memanjatkan doa kepada Bapa untuk kesatuan dan kekudusan murid-murid-Nya. Secara khusus, Ia meminta Bapa untuk ‘menguduskan mereka dalam kebenaran’ karena ‘firman Allah adalah kebenaran.’ (Yohanes 17:17) Namun, apakah yang dimaksud dengan kata ‘menguduskan’ di sini?

Kata yang digunakan oleh Yesus adalah ‘ἁγιάζω’ (hagiazoo), yang berarti menjadikan kudus. Dalam Alkitab, menjadi kudus berarti dipisahkan dari hal-hal lain dan untuk tujuan tertentu. Dalam Perjanjian Lama, Israel adalah bangsa yang kudus. Mereka telah dipilih, dikhususkan, dan dikuduskan melalui perjanjian di Gunung Sinai (lihat Keluaran 20). Mereka hanya milik Allah dan harus dipisahkan dari ilah-ilah dan berhala-berhala lain. Tuhan juga memberikan hukum-hukum untuk memastikan bahwa orang Israel hidup sesuai dengan identitas baru mereka dan menghindari penodaan terhadap ilah-ilah lain. Mereka juga diminta untuk menghindari kontak yang tidak perlu dengan bangsa-bangsa lain dan tidak meniru praktik-praktik hidup mereka, terutama penyembahan berhala, praktik takhayul, dan perilaku tidak bermoral. Jika mereka setia, mereka akan diberkati dan menjadi berkat. Namun, terkadang mereka gagal dan jatuh dalam penyembahan berhala, sehingga menajiskan diri mereka sendiri (lihat Kel. 32). Dengan kenajisan itu, mereka tidak layak di hadapan Allah dan mengundang segala macam bencana dalam hidup mereka.

Sebagai murid Kristus, kita dikuduskan bagi Tuhan ketika kita dibaptis. Melalui air sakramen pembaptisan dan formula Tritunggal yang diucapkan oleh imam, kita menjadi milik Allah semata, dan kita dipisahkan dari hal-hal dan tindakan yang menjauhkan kita dari Allah. Seperti bangsa Israel kuno yang hidup menurut Hukum Allah, kita juga diharapkan untuk hidup menurut Hukum Yesus Kristus yang Dia wariskan kepada Gereja-Nya. Jika kita setia, kita akan diberkati dan menjadi berkat bagi banyak orang. Namun, pada saat kita mendekatkan diri dengan penyembahan berhala dan berbagai praktik takhayul serta terlibat dalam perilaku amoral, kita menajiskan diri kita sendiri dalam dosa. Dengan kenajisan, kita tidak layak di hadapan Allah dan menarik segala macam kejahatan dalam hidup kita.

Namun, baptisan bukanlah satu-satunya bentuk pengudusan yang kita miliki. Salah satu pengudusan yang sering luput dari perhatian kita adalah pernikahan. Pernikahan itu unik karena kedua pasangan berjanji dengan kata-kata kebenaran untuk memberikan diri mereka secara total dan eksklusif kepada satu sama lain. Suami adalah milik istri sepenuhnya, dan istri adalah milik suami sepenuhnya. Dengan kata lain, pasangan suami-istri menguduskan diri mereka satu sama lain. Dalam pernikahan Katolik, pengudusan ini bersifat permanen karena dilakukan di hadapan Tuhan dan disahkan oleh Tuhan. Tidak heran jika pernikahan ini juga disebut sebagai pernikahan kudus. Jika pasangan setia pada pengudusan mereka, mereka sungguh menjadi kudus, dan hanya dalam kekudusanlah mereka dapat menerima kebahagiaan sejati. Namun, jika tidak setia, pasangan suami istri menajiskan diri mereka sendiri. Dengan kenajisan, mereka menjadi tidak layak bagi pasangannya dan membuka diri mereka terhadap segala macam hal yang buruk.

Pengudusan diri adalah jalan hidup kita sebagai murid Yesus. Setia pada pengudusan adalah kunci kebahagiaan sejati.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

True Happiness and Where to Find It

6th Sunday of Easter [B]
May 5, 2024
John 15:9-17

Happiness is a result of fulfilling our needs and desires. Since human beings have different needs, we also experience various kinds of happiness. We feel happy when we satisfy our hunger and complete our studies, but we also recognize that these are two distinct forms of happiness. Some types of happiness are emotionally intense but short-lived. Others do not give us thrills but are profound and lasting. Then, what kind of happiness do we need to set our eyes on?

To understand human needs, desires, and happiness, we need to understand who we are as a human person. We are beings with biological needs, and fulfilling these needs guarantees our survival. That is why things like good food, nice clothes and a proper house give us immediate pleasure. Part of our biological needs is the need to reproduce. Since this need relates to our basic survival as a species, nature has designed us to experience the most intense pleasure, but it also tends to be short-lived.

Yet, we are also beings with psychological needs. We look for emotional comfort, affirmation, and support. We do not only seek things to satisfy us but also other people who love us and to whom we express our emotions. The fulfilment of psychological needs yields more profound happiness and helps to counter various mental problems and disorders.

More than that, we are also beings with intellect and will. We also have a need to seek the truth and express our freedom and creativity. However, unlike other needs, this intellectual need requires us to spend a lot of effort and time, and often, it does not give us immediate, intense, emotionally charged pleasures. Yet, we know that though a good education is challenging and demands a lot of resources, its completion brings us profound satisfaction. Through education, we have grown, acquired skills and knowledge, and become better persons.

However, the Gospel teaches us that we are not only beings with biological, psychological, and intellectual needs. We are created not only for this earth. As the image of God, we are designed to go beyond this earthly life. The fathers of the Church speak of the human person as ‘capax Dei,’ that is ‘capable of God.’ Men and women are created for God. Then, how do we fulfil this spiritual need?

If we notice the dynamics between needs and happiness, we discover that the higher the needs, the more profound and lasting happiness we receive. Yet, the high-level needs require a higher level of effort. Consequently, to fulfil our need for God, we must be ready to give the most extraordinary effort, offering ourselves. More concretely, Jesus teaches us the way of true love, and the greatest love is to offer our lives to the persons we love. This is the paradox of true happiness. While other types of happiness are related to fulfilling needs for ourselves (we are the center), spiritual joy is moving away from ourselves. The more we are losing ourselves in love, the more we are open to God, the more we experience heavenly joy here on earth.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kebahagiaan Sejati dan Di Mana Menemukannya

Minggu ke-6 Paskah [B]
5 Mei 2024
Yohanes 15:9-17

Manusia ingin bahagia, dan kebahagiaan sendiri datang dari terpenuhinya kebutuhan dan keinginan kita. Karena manusia adalah makhluk yang memiliki berbagai jenis kebutuhan, maka manusia juga mengalami berbagai jenis kebahagiaan. Sebagai contoh, kita merasa senang saat kita kenyang, dan kita juga merasa senang saat kita lulus sekolah, namun kita menyadari bahwa ini adalah dua bentuk kebahagiaan yang berbeda. Yang pertama bahagianya terasa intens tapi singkat, sementara yang kedua, tidak intens tapi mendalam. Lalu, kebahagiaan seperti apa yang perlu kita cari?

Untuk memahami kebahagiaan manusia, kita perlu memahami bahwa kita, manusia, adalah makhluk yang memiliki banyak jenis kebutuhan. Ada kebutuhan biologis, psikologis, dan intelektual. Kebutuhan biologis seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal, dan jika terpenuhi, akan menjamin kelangsungan hidup kita. Inilah sebabnya hal-hal ini memberi kita kesenangan secara cepat dan intens. Karena jika tidak memberikan rasa bahagia yang cepat, maka manusia akan menunda untuk mencari makan, dan terlalu lalu lama menunda maka kita akan mati.

Selain kebutuhan biologis, kita juga memiliki kebutuhan psikologis. Kita mencari kenyamanan, afirmasi, dan dukungan emosional. Kita membutuhkan orang-orang yang menyayangi kita dan juga kita butuh untuk mengekspresikan emosi kita dengan baik. Pemenuhan kebutuhan psikologis menghasilkan kebahagiaan yang lebih mendalam dan membantu mengatasi berbagai masalah dan gangguan mental.

Lebih dari itu, kita juga adalah makhluk yang memiliki akal budi dan kehendak bebas. Akal budi membuat kita mencari kebenaran, sementara kehendak bebas mendorong kita untuk mengekspresikan kebebasan dan kreativitas kita. Namun, tidak seperti kebutuhan lainnya, kebutuhan intelektual ini menuntut kita untuk mengeluarkan banyak usaha dan waktu, dan sering kali tidak memberikan kita kesenangan yang cepat dan intens. Contohnya, menyelesaikan pendidikan yang baik menuntut banyak waktu dan tenaga. Namun, saat kita bisa menyelesaikan pendidikan, kita akan mengalami kepuasan yang jauh lebih mendalam dari sekedar makan kenyang. Karena kita tahu bahwa, melalui pendidikan, kita telah bertumbuh, memperoleh keterampilan dan pengetahuan, dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Namun, Injil mengajarkan bahwa kita bukan hanya makhluk yang memiliki kebutuhan biologis, psikologis, dan intelektual. Kita diciptakan tidak hanya untuk dunia ini. Sebagai citra Allah, kita dirancang untuk melampaui kehidupan duniawi ini. Para Bapa Gereja berbicara tentang pribadi manusia sebagai ‘capax Dei’, yang berarti ‘mampu untuk (hidup bersama) Allah.’ Dengan kata lain, pria dan wanita diciptakan untuk hidup bersama Tuhan. Lalu, bagaimana kita memenuhi kebutuhan rohani ini?

Jika kita memperhatikan dinamika antara kebutuhan dan kebahagiaan, kita akan menemukan bahwa semakin tinggi jenis kebutuhan yang kita penuhi (seperti kebutuhan intelektual), semakin dalam kebahagiaan yang kita terima. Namun, jenis kebutuhan yang tinggi membutuhkan usaha yang lebih tinggi pula. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan kita akan Tuhan (kebutuhan yang paling tinggi), kita harus siap untuk memberikan usaha yang paling luar biasa, yakni mempersembahkan diri kita sendiri. Bagaimana caranya?

Yesus mengajarkan bahwa kasih yang paling besar adalah mempersembahkan hidup kita kepada orang yang kita kasihi. Inilah paradoks dari kebahagiaan sejati. Sementara jenis kebahagiaan lainnya terkait dengan pemenuhan kebutuhan untuk diri kita sendiri (kita adalah pusatnya), sukacita rohani bergerak berlawan arah, yakni pengosongan diri. Semakin kita kehilangan diri kita sendiri dalam kasih, semakin kita terbuka kepada Tuhan, semakin kita mengalami sukacita surgawi di dunia ini.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP