Jesus the King

Solemnity of Christ the King – November 24, 2019 – Luke 23:35-43

crossOften we take for granted the name Jesus Christ, without realizing the meaning behind it. The word “Christ” is neither part of the personal name of Jesus nor the family name of Jesus. Jesus earns the name Christ not because of His foster father, Joseph, otherwise, we also call him Joseph Christ and his wife, Mary Christ.

Christ is coming from the Greek word “Christos” meaning “the anointed one”. In Hebrew, the title is even more pronounced, “the Messiah”. For us, the title does not ring us a bell, but for the Jewish people living in the time of Jesus, the Messiah is the fulfillment of God’s promise. In the Old Testament, the title Messiah was given to one of the greatest figures in Israel, King David. He was the Christ because he was anointed by Prophet Samuel, and he was personally chosen by God Himself to rule Israel. During his reign, the kingdom of Israel reached the pick of glory.

Unfortunately, after David’s death, the kingdom was declining and eventually destroyed. In the time of Jesus, almost one millennium after David, Palestine was under the Roman Empire, and lives were awful. No wonder, people were expecting the coming of the Messiah, the new king, that would restore the glory of Israel.

We believe that Jesus is Christ, meaning we believe that Jesus is the expected a king that will fulfill God’s promise. Yet, in today’s Gospel, we discover that Jesus was crucified. He had no army, except disbanded and coward disciples. He had not a palace except a small and poor house in Nazareth. He was insulted, spat upon, and tortured. He bore the greatest human humiliation. Even the criminal who was punished together with Him, mocked Jesus as a good-for-nothing king.

If we focus only on this cross and humiliation, we shall fail to see Jesus as king. For Jesus, being a king is not about gold, guns, and glory. It is neither about force nor control. Jesus is not a war-freak Messiah. So, what does it mean to be a King for Jesus?

 When one of the repented criminals asked Jesus to remember him when Jesus comes into His Kingdom, Jesus said that he would be in Paradise. The word Paradise is a Greek word for “garden”, it originally refers to the garden of Eden. That is what Jesus does as a king: He brings men and women who acknowledge Him as a king to Paradise. And no other kings in the world possess such power to bring us to paradise.

If then we confess that Jesus is the Christ, and now we understand that Jesus is our King, do we honor Him as our King? If Jesus is our King, do we allow Jesus to control us or we control Jesus? If Jesus is our leader, do we align our lives and priorities to His missions, or Jesus has to follow us? When our King summons us for a mission, do we gladly embrace it, or we rather choose our own plans and design?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus sang Raja

Hari Raya Kristus Raja [C] – 24 November 2019 – Lukas 23: 35-43

crossesSeringkali kita menerima begitu saja nama Yesus Kristus, tanpa menyadari makna mendalam di baliknya. Kata “Kristus” bukan bagian dari nama pribadi Yesus atau nama keluarga Yesus. Yesus mendapat nama Kristus bukan karena ayah angkatnya, Yusuf, tetapi senyatanya “Kristus” adalah sebuah gelar yang sangat penting bagi umat Yahudi dan Kristiani pada abad pertama masehi.

Kristus datang dari kata Yunani “Christos” yang berarti “yang diurapi”. Dalam bahasa Ibrani, kata yang digunakan adalah “Mesias”. Bagi kita yang hidup dua ribu tahun setelah Yesus, gelar ini tidak begitu berarti, tetapi bagi orang-orang Yahudi yang hidup di zaman Yesus, Mesias atau Kristus adalah penggenapan dari janji Allah. Dalam Perjanjian Lama, gelar Mesias diberikan kepada salah satu tokoh terbesar di Israel, Raja Daud. Dia adalah Kristus karena dia diurapi oleh Nabi Samuel, dan dia secara pribadi dipilih oleh Allah sendiri untuk memerintah Israel. Selama masa pemerintahannya, Kerajaan Israel mencapai puncak kejayaannya.

Sayangnya, setelah kematian David, kerajaannya terus menurun, dan akhirnya dihancurkan. Pada masa Yesus, hampir satu milenium setelah David, Palestina berada di bawah penjajahan Kekaisaran Romawi, dan kehidupan menjadi sangat buruk. Tidak heran, hampir semua orang Israel mengharapkan kedatangan Mesias, raja baru, yang akan mengembalikan kejayaan Israel.

Kita percaya bahwa Yesus adalah Kristus, artinya kita percaya bahwa Yesus adalah Raja yang telah memenuhi janji Allah. Namun, dalam Injil hari ini, kita menemukan bahwa Yesus disalibkan. Sebagai raja, Dia tidak memiliki pasukan, kecuali para lelaki yang bernyali kecil yang mengaku sebagai murid-murid-Nya. Sebagai raja, Dia tidak memiliki istana kecuali gubuk kecil dan miskin di Nazareth. Dia dihina, diludahi, dan disiksa. Dia menanggung penghinaan manusia terbesar. Bahkan penjahat yang dihukum bersama-sama dengan Dia, mengejek Yesus sebagai raja yang tidak berguna.

Jika kita hanya berfokus pada salib dan penghinaan ini, kita akan gagal melihat Yesus sebagai raja. Bagi Yesus, menjadi raja bukanlah tentang mengumpulkan kekayaan, memiliki senjata paling canggih, dan ketenaran. Ini bukan tentang kemampuan menguasai atau kontrol. Yesus bukanlah Mesias yang hobinya berperang. Jadi, apa artinya menjadi Raja bagi Yesus?

 Ketika salah satu penjahat yang bertobat meminta Yesus untuk mengingatnya ketika Yesus kembali ke Kerajaan-Nya, Yesus berkata bahwa hari itu juga, ia akan berada di Firdaus. Kata Firdaus sebenarnya berasal kata Yunani “paradesos” yang berarti “taman.” Sejatinya, taman ini merujuk pada taman Eden di Kitab Kejadian. Itulah yang dilakukan Yesus sebagai raja: Dia membawa semua orang yang mengakui Dia sebagai raja ke Firdaus. Dan tidak ada raja lain di dunia yang memiliki kekuatan seperti itu untuk membawa kita ke Firdaus.

Jika kemudian kita mengakui bahwa Yesus adalah Kristus, dan sekarang kita mengerti bahwa Yesus adalah Raja kita, apakah kita menghormati Dia sebagai Raja kita? Jika Yesus adalah Raja kita, apakah kita mengizinkan Yesus mengendalikan hidup kita atau malah kita yang mengendalikan Yesus? Jika Yesus adalah pemimpin kita, apakah kita menyelaraskan hidup dan prioritas kita dengan misi-Nya, atau Yesus harus mengikuti kita? Ketika Raja kita memanggil kita untuk sebuah misi, apakah kita dengan senang hati menerimanya, atau kita lebih suka memilih rencana dan desain kita sendiri?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

God’s House

33rd Sunday in Ordinary Time – November 17, 2019 – Luke 21:5-9

Cathedral of Notre-Dame of Paris fire aftermath, France - 16 Apr 2019During the reign of Herod the Great, the Temple of Jerusalem was refurbished, adorned by gold and other precious metals, and expanded, and thus making it the crown jewel of the Jewish nation. However, the Temple was not merely a magnificent building, but primarily the center of Jewish religious worship and religion. Every morning and evening, sacrifices were offered, and every year, Jewish men from all over the world made their pilgrimage, and paid their homage the Lord God. It was the place where God chose to stay, the place where the Israelites meet their God, and the house of God.

Looking at the majestic view of the Temple and its religious significance, many would believe that the Temple would last forever because God Himself would defend His house. Yet, Jesus prophesied against the sentiment of the Israelites and told His disciples that this beautiful Temple would be destroyed. Surely, Jesus’ words offended the religious sensitivity of His time and one of the accusations against Him was precisely because Jesus spoke against the Temple, against God Himself. Yet, 40 years later, in 70 AD, the Romans under General Titus, burned the Temple and razed the city to the ground.

Jesus’ prophesy opens us to the profound truth that even God allows His house on earth to be destroyed. Hagia Sophia in Constantinople (now Istanbul) was the grandest church in the 4th and 5th centuries and considered to be an architectural and engineering marvel. Yet, when Constantinople fell to the Turks, the church stopped functioning as a Christian worship place. In our time, the Cathedral of Notre Dame was an iconic Gothic building at the heart of Paris. Yet, on April 15, 2019, the fire destroyed many parts of this holy building. Just this month, some churches in Chile became the target of violent demonstrators. They forcefully entered the churches, took out the pews and other religious images, and burnt them outside the churches, not to mention, the desecration of the tabernacles. The houses of God have been the object of vandalism, violent anger, and untold destruction, and God allows those to take place in our midst. But why? Is God weak enough to stop these from happening? Does God not care? Has God forsaken us?

The Churches as the house of God symbolize the inner sanctuary of our faith. An attack on the Church means an attack on our cherished faith. If God allows His house to be humiliated, so God also allows our faith to be challenged, shocked, and shaken. God allows trials to batter our lives, doubts to question our faith, and darkness to envelop our vision. But why?

When the fire that burned the Church of Notre Dame was extinguished, many things have been lost, but at the center of the Church, one image survived the blazing fire: the huge cross stood still. God allows His houses destroyed, and our faith was shaken to show us what truly matters in life and our journey of faith. It is God and God alone. It is not so much the monuments we build for Him nor the works and mission for Him, even our talents, charism and fruits of prayers. These are surely important, but these easily vanish. Only one remains God alone. God allows us to be shaken so we may find Him again, surprisingly more alive and ever closer.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rumah Tuhan

Minggu Biasa ke-33 – 17 November 2019 – Lukas 21: 5-9

church in tacloban

Pada masa pemerintahan Herodes Agung, Bait Allah di Yerusalem diperbaharui, dihiasi oleh emas dan batu-batu mulia lainnya, diperluas, dan dengan demikian menjadikannya sebagai kebanggaan bangsa Yahudi. Namun, Bait Allah itu bukan hanya bangunan yang megah, tetapi terutama pusat ibadah agama Yahudi. Setiap pagi dan sore, korban dipersembahkan, dan setiap tahun, orang-orang Yahudi dari seluruh dunia melakukan ziarah ke Bait ini, dan memberi penghormatan kepada Tuhan Allah. Itu adalah tempat di mana Allah memilih untuk tinggal, tempat di mana orang Israel bertemu dengan Allah mereka, dan ini adalah rumah Allah.

Melihat pemandangan Bait Allah yang agung, banyak orang akan percaya bahwa Bait Allah itu akan bertahan selamanya karena Allah Sendiri akan mempertahankan rumah-Nya. Namun, Yesus bernubuat dan memberi tahu para murid-Nya bahwa Bait Allah yang indah ini akan dihancurkan. Tentunya, kata-kata Yesus menyinggung banyak orang Yahudi pada zaman-Nya dan salah satu tuduhan terhadap Yesus adalah Yesus berbicara menghujat Bait Allah, yang berarti melawan Allah Sendiri. Namun, 40 tahun kemudian setelah Yesus diangkat ke Surga, pada tahun 70 Masehi, orang-orang Romawi di bawah komando Jenderal Titus, membakar Bait Allah dan menghancurkan kota Yerusalem sampai rata dengan tanah.

Nubuat Yesus membuka kita pada kebenaran mendalam bahwa bahkan Allah mengizinkan rumah-Nya di dunia dihancurkan. Hagia Sophia di Konstantinopel (sekarang Istanbul) adalah gereja termegah di abad ke-4 dan ke-5 dan dianggap sebagai keajaiban arsitektur. Namun, ketika Konstantinopel jatuh ke tangan orang Turki, gereja ini berhenti berfungsi sebagai tempat ibadah Kristiani. Pada zaman kita, Katedral Notre Dame adalah bangunan Gotik ikonis di jantung kota Paris. Namun, pada 15 April 2019, api menghancurkan banyak bagian bangunan suci ini. Baru bulan ini, beberapa gereja di Chili menjadi sasaran para demonstran yang melakukan kekerasan. Mereka dengan paksa memasuki gereja-gereja, mengambil bangku dan benda-benda religius lainnya, dan membakar mereka di luar gereja, belum lagi, penodaan terhadap tabernakel. Rumah-rumah Tuhan telah menjadi objek vandalisme, brutalitas, dan kehancuran yang tak terhitung, dan Tuhan mengizinkan hal-hal ini terjadi di tengah-tengah kita. Tapi kenapa? Apakah Tuhan cukup lemah untuk menghentikan ini terjadi? Apakah Tuhan tidak peduli? Sudahkah Tuhan meninggalkan kita?

Gereja-gereja sebagai rumah Allah melambangkan iman kita. Serangan terhadap Gereja berarti serangan terhadap iman kita yang berharga. Jika Tuhan membiarkan rumah-Nya dihancurkan, Tuhan juga mengizinkan iman kita ditantang, dikejutkan, dan diguncang. Tuhan mengizinkan pencobaan menerpa hidup kita, keraguan atas iman kita, dan kegelapan untuk menyelimuti visi kita. Tapi kenapa?

Ketika api yang membakar Gereja Notre Dame padam, banyak hal telah hilang, tetapi di pusat Gereja, satu benda selamat dari nyala api yang menyala-nyala: salib besar berdiri tegak. Tuhan membiarkan rumah-Nya hancur, dan iman kita terguncang untuk menunjukkan kepada kita apa yang benar-benar penting dalam hidup dan perjalanan iman kita. Hanya Tuhan. Hal-hal yang kita bangun untuk Tuhan atau pekerjaan dan misi untuk-Nya, bahkan talenta, karisma, dan buah doa kita, dapat diambil oleh Tuhan dari kita. Ini memang penting, tetapi ini tidak kekal. Hanya satu yang kekal yakni Tuhan saja. Tuhan membiarkan kita terguncang sehingga kita dapat menemukan-Nya lagi, secara mengejutkan lebih hidup dan semakin dekat.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Like Angels

32nd Sunday in Ordinary Time – November 10, 2019 – Luke 20:27-38

In today’s Gospel, the Sadducees attempt to test Jesus. Sadducees are a religious faction in first-century Judaism, but unlike the popular Pharisees, they only hold Torah as the only valid source of Jewish religious teachings and practices, and refuse the writings of the prophets, the wisdom books, and later traditions. One of their main doctrines is that they do not believe in the resurrection of the body. Jesus and the Pharisees though always in debate, share in a common fundamental belief in the bodily resurrection. Thus, to ridicule this kind of belief, the Sadducees are using the practice of the levirate marriage. In the Law of Moses, there is a practice to secure the bloodline and inheritance of a man who does not have any offspring. As a solution, the brothers or relatives of the deceased man will marry the widow and produce offspring on his behalf. Then, the Sadducees move to checkmate position. “In the resurrection, whose husband, this woman be?”

However, the Sadducees forget that nobody could win against Jesus in a debate. Jesus thoroughly destroys their plot by revealing what will happen in heaven: we will be like the angels. Who are these angels? Angel or “angelos” in Greek means the messenger. This points to their function, but their true nature is spirit. As a spirit, they have no physical body, and because of this, they are no longer bonded into the limitations of the body. They have no sexual desire or any desire, and therefore, they are not multiplying like humans. What attracts spirit is only a spiritual thing, and since God is the most perfect spirit [John 4:24], only God can give them perfection.

To be like angels in heaven is our destiny. One day, Mother Angelica, the founder of EWTN, talked with two men who had many titles behind their names, and they are proud of those achievements. Yet, during the conversation, they were amazed by Mother Angelica’s wisdom and serenity. She reminded them that the most important title is not what placed behind their names, but one put before their names, and this only has two letters: St. or Saint.

Our journey in this earth only makes sense if we are marching toward a destination beyond this world, and Jesus has pointed out to us that this goal is something spiritual, life like angels. Thus, it is important for us to examine our lives whether we are preparing ourselves every day to life like angels, or we keep ourselves busy with this earthly life. How we are going to prepare ourselves? We give more time to the spiritual things as well as spiritual aspects of our lives. Do we pray enough? Do we worship God often? Do we consult the Holy Spirit in our decision in our lives? Do we read Bible regularly? Do we spend quality time with Jesus? Do we help and love others sincerely?

It is important to remember that our God is the God of the living, thus our lives continue even beyond death. Thus, the kind of life we live here on earth will simply continue to the next life. If we live like an angel in heaven even now in earth, we will not have problem to adjust in the next life. Heaven starts here and now.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Seperti Malaikat

Minggu ke-32 dalam Masa Biasa – 10 November 2019 – Lukas 20: 27-38

angel n manDalam Injil hari ini, orang-orang Saduki berusaha untuk menguji Yesus. Saduki adalah faksi religius dalam agama Yahudi pada zaman Yesus, tetapi tidak seperti orang-orang Farisi yang populer, kaum Saduki hanya memegang Taurat sebagai satu-satunya sumber yang sah dari ajaran dan praktik keagamaan Yahudi, dan menolak tulisan para nabi, dan tradisi selanjutnya. Salah satu doktrin utama mereka adalah bahwa mereka tidak percaya pada kebangkitan badan. Meskipun, Yesus dan orang-orang Farisi selalu berdebat, Yesus dan orang Farisi berbagi kepercayaan dasar yang sama tentang kebangkitan tubuh. Dengan demikian, untuk menyangkal kepercayaan ini, orang Saduki menggunakan Hukum Taurat untuk membuat malu Yesus. Dalam Hukum Taurat, ada praktik untuk mengamankan garis keturunan dan warisan seorang pria yang tidak memiliki keturunan. Sebagai solusi, saudara-saudara lelaki yang meninggal akan menikahi jandanya dan diharapkan memperoleh keturunan bagi sang saudara yang telah meninggal. Kemudian, para Saduki mengajukan kesimpulan seolah-olah kebangkitan badan tidak masuk akal. “Dalam hari kebangkitan, siapakah yang menjadi suami istri ini?”

Namun, orang Saduki lupa bahwa tidak ada yang bisa menang melawan Yesus dalam debat. Yesus benar-benar menghancurkan argumentasi mereka dengan mengungkapkan apa yang akan terjadi di surga: kita akan menjadi seperti para malaikat. Siapakah malaikat ini? Malaikat atau “angelos” dalam bahasa Yunani berarti pembawa pesan. Ini menunjuk pada fungsi mereka, tetapi kodrat sejati mereka adalah roh. Sebagai roh, mereka tidak memiliki tubuh fisik, dan karena itu, mereka tidak lagi terikat pada keterbatasan tubuh. Mereka tidak memiliki hasrat seksual atau keinginan apa pun, dan karena itu, mereka tidak berkembang biak seperti manusia. Yang dapat menarik roh hanyalah hal rohani, dan karena Allah adalah roh yang paling sempurna [Yoh 4:24], hanya Allah yang dapat memberi mereka kesempurnaan.

Menjadi seperti malaikat di surga adalah tujuan akhir kita. Suatu hari, Sr. Angelica, pendiri EWTN (Eternal Word Television Network), berbincang-bincang dengan dua pria yang memiliki banyak gelar, dan mereka bangga dengan prestasi itu. Namun, selama percakapan, mereka kagum dengan kebijaksanaan dan ketenangan Sr. Angelica. Dia mengingatkan mereka bahwa gelar yang paling penting bukanlah yang diletakkan di belakang nama mereka, tetapi yang diletakkan di depan nama mereka, yakni Santo atau Santa

Perjalanan kita di bumi ini hanya masuk akal jika kita berziarah menuju tujuan di luar dunia ini, dan Yesus telah menunjukkan kepada kita bahwa tujuan ini adalah sesuatu yang spiritual, hidup seperti malaikat. Karena itu, penting bagi kita untuk memeriksa kehidupan kita apakah kita mempersiapkan diri kita setiap hari untuk hidup seperti malaikat, atau malah kita masih sibuk dengan kehidupan duniawi ini. Bagaimana kita akan mempersiapkan diri kita? Apakah kita memberi lebih banyak waktu untuk hal-hal rohani maupun aspek spiritual kehidupan kita? Apakah kita memiliki waktu berdoa? Apakah kita sering menyembah Tuhan? Apakah kita berkonsultasi dengan Roh Kudus dalam mengambil keputusan kita? Apakah kita membaca Alkitab secara teratur? Apakah kita menghabiskan waktu berkualitas bersama Yesus? Apakah kita membantu dan mengasihi sesama dengan tulus?

Penting untuk diingat bahwa Allah kita adalah Allah yang hidup, sehingga hidup kita terus berlanjut bahkan setelah kematian. Dengan demikian, jenis kehidupan yang kita jalani di dunia ini akan berlanjut ke kehidupan selanjutnya. Jika kita hidup seperti malaikat bahkan sekarang di bumi, kita tidak akan memiliki masalah untuk menyesuaikan dalam kehidupan selanjutnya. Surga dimulai di sini dan sekarang.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Zacchaeus the Tax Collector

31st Sunday in Ordinary Time [C] – November 3, 2019 – Luke 19:1-10

zacchaeus 1In the time of Jesus, there are at least two kinds of taxes. The first tax goes to the Temple of Jerusalem. This is a “sacred tax”. Those who collect them are performing a sacred duty, and those who pay are fulfilling their due to God. Yet, the second tax is exacted by the Roman government. In order to effectively get the taxes, the Romans employs the local collaborators. The Jews are heavily burdened by this tax because they are unjustly hefty, and often collected by coercion. The Jews understandably loathe those Jewish tax collectors who willingly betray their own people and are involved in greedy malpractices. These are the worst sinners, unclean, corrupt and traitors.

Certainly, Joseph, Mary and Jesus as a poor family, are having a difficult time to pay taxes themselves, and perhaps, fall victims to greedy tax collectors. However, despite this bitter reality, Jesus has a different attitude towards tax collectors. He is known to be the friends of tax collectors and sinners [Mat 11:19]. He shares his table with tax collectors [Luk 5:30]. He presents the tax collector as the protagonist in his parable, while the Pharisee as the bad guy [Luk 18:9ff]. One of His disciples, Matthew, is used to be a tax collector before he leaves everything and follows Jesus.

Today, we listen to the story of Zacchaeus, not ordinary tax collector, but the chief. Despite his high position and richness, he is a small stature. Thus, people look down on him both in a physical and religious sense. Yet, Jesus does something remarkable: He takes the initiative to look upon Zacchaeus who climbs the sycamore tree, calls him by name, and gets Himself invited to Zacchaeus’ house. This is unthinkable: the God-man calls and enters the house of the number-one public enemy in town. We notice that Jesus does not perform any earth-shattering miracles, but Jesus’ simple and loving gesture touches deeply Zacchaeus’ heart. Right there and then, he repents and ready to repair the damages he causes. Jesus declares, “Today salvation has come to this house (Lk. 19:2).”

What Jesus does deeply disturb the minds of orthodox Jews who prefer to distance themselves from the sinners, to avoid the contamination. Thus, they jeer at Jesus. Yet, Jesus takes the opposite direction: to enter the house and share a table even with the worst kind of sinners, chief tax collector, for one reason: “For the Son of Man has come to seek and to save what was lost.” (Lk. 19:10).

The Gospel offers us two attitudes towards our brothers and sisters who are struggling in their lives. We can choose whether like the crowd, to distance ourselves, and let them rot in hell, and even discourage any effort to embrace them, or like Jesus to takes the initiative to help them, even with simple gestures. It is true that when we open ourselves, there is no guarantee that our effort will be successful, and sometimes, we will get betrayed and hurt. Mother Teresa of Calcutta took care hundreds of homeless, but some of them turned against her and threw nasty gossips, and yet Mother Teresa continued to serve till the end of her life. Jesus has made His choice, so also many of His followers, now the choice is ours to make.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Zakheus, sang Pemungut Cukai

Minggu Biasa ke-31 [C] – 3 November 2019 – Lukas 19:1-10

zacchaeus 2Pada zaman Yesus, setidaknya ada dua jenis pajak atau cukai. Pajak pertama adalah untuk Bait Allah di Yerusalem. Ini adalah “pajak suci”. Mereka yang memungutnya melakukan tugas mulia, dan mereka yang membayar memenuhi kewajibannya kepada Allah. Namun, pajak kedua dibebankan oleh pemerintah Romawi. Untuk mendapatkan pajak secara efektif, orang-orang Romawi mempekerjakan kolaborator lokal. Orang-orang Yahudi sangat terbebani oleh pajak ini karena sangat berat, tidak adil, dan dengan paksaan. Orang-orang Yahudi pada umumnya tentu saja membenci para pemungut pajak Yahudi yang dengan sukarela mengkhianati rakyatnya sendiri dan terlibat dalam praktik korupsi yang tamak. Ini adalah pendosa terburuk, karena najis, korup dan pengkhianat.

Tentu saja, Yusuf, Maria dan Yesus sebagai keluarga miskin, mengalami kesulitan untuk membayar pajak sendiri, dan mungkin, menjadi korban pemungut pajak yang rakus ini. Namun, terlepas dari kenyataan pahit ini, Yesus memiliki sikap yang berbeda terhadap pemungut pajak. Ia dikenal sebagai sahabat para pemungut cukai dan pendosa [Mat 11:19]. Dia berbagi mejanya dengan pemungut cukai [Luk 5:30]. Ia menghadirkan pemungut pajak sebagai protagonis dalam perumpamaannya [Luk 18: 9 dst]. Salah satu murid-Nya, Matius, pernah juga menjadi pemungut pajak sebelum dia meninggalkan segalanya dan mengikuti Yesus.

Hari ini, kita mendengarkan kisah Zakheus, bukan pemungut pajak biasa, tetapi kepala kantor pajak di kota besar Yeriko. Meskipun posisinya tinggi dan kaya, ia memiliki perawakan kecil. Jadi, orang memandang rendah dia baik secara fisik maupun agama. Namun, Yesus melakukan sesuatu yang luar biasa: Dia berinisiatif untuk memandang Zakheus yang memanjat pohon ara, memanggilnya dengan nama, dan mengundang diri-Nya ke rumah Zakheus. Ini tidak terpikirkan: Yesus memanggil dan memasuki rumah musuh publik nomor satu di kota. Kita memperhatikan bahwa Yesus tidak melakukan mukjizat yang menghancurkan bumi, tetapi gerakan sederhana dan penuh kasih dari Yesus menyentuh hati Zakheus. Di sana dan kemudian, dia bertobat dan siap untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkannya. Yesus menyatakan, “Hari ini keselamatan telah datang ke rumah ini (Luk 19: 2).”

Apa yang Yesus lakukan sangat mengganggu pikiran orang Yahudi ortodoks yang lebih suka menjauhkan diri dari orang berdosa, untuk menghindari kenajisan. Karena itu, mereka bersungut-sungut. Namun, Yesus mengambil arah yang berlawanan: untuk memasuki rumah dan berbagi meja bahkan dengan orang yang paling berdosa sakali pun, kepala pemungut pajak, untuk satu alasan: “Karena Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Luk. 19:10).

Injil menawarkan kita dua sikap terhadap saudara dan saudari kita yang bergulat dalam kehidupan mereka. Kita dapat memilih seperti kerumunan, untuk menjauhkan diri dari mereka, dan membiarkan mereka hilang, dan bahkan mencegah segala upaya untuk merangkul mereka, atau seperti Yesus untuk mengambil inisiatif untuk membantu mereka, bahkan dengan tindakan-tindakan yang sederhana. Memang benar bahwa ketika kita membuka diri, tidak ada jaminan bahwa upaya kita akan berhasil, dan kadang-kadang, kita akan dikhianati dan terluka. Bunda Teresa dari Kalkuta merawat ratusan tunawisma, tetapi beberapa dari mereka berbalik menyerangnya dan melemparkan gosip bahwa ia hanya mencari ketenaran sendiri. Inilah pilihan Yesus, inilah pilihan yang perlu kita buat.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

External and Internal

30th Sunday in Ordinary Time [October 27, 2019] Luke 18:9-14

pharisee n tax collectorIn Jesus’ time, they were several Jewish religious groups and one of them is the Pharisees. These are the people who love the Lord and devoutly observe the Law of Moses and the traditions of the elders even in their daily lives. Thus, Jewish people regard them as righteous because they are faithful to the Law, and pious because they pray often. Many Pharisees turn to be the caretakers of the local synagogues and zealously teach the Law during Sabbath days. No wonders, the Jewish people offer the Pharisees the best places in the worship places and the parties. The leaders are called the Rabbis or teachers.

In contrast, we have tax collectors. This is the profession that most Jews hate at least for two reasons. Firstly, tax collectors tend to corrupt by demanding more than what is due. Secondly, the tax collectors work for the Roman Empire, a gentile and oppressive nation. This makes them both sinners and unclean.

When Jesus presents these two characters in His parable, His Jewish listeners immediately see that the Pharisee is the good guy and the tax collector is the bad guy. The Temple of Jerusalem consists of several courts, from the Holy of Holies going out to the court of the Gentiles. The Pharisee as a devout and clean Israelite will pray at the inner court of the Temple, closer to the sanctuary. While the tax collector is standing perhaps at the court of the Gentiles, where the unclean people and sinners are allowed to get closer.

However, Jesus once again twists the minds of His listeners. The tax collector comes up as the hero of the story, as God hears his prayers and accepts his sincere repentance.

Before God, we are judged not so much by external appearance and social standing, but primarily by internal disposition, by faith. The Pharisee is full of himself and doing nothing but praying to himself [see verse 11]. How can a person pray to himself? He boastfully compares himself with others and puts down others. This is not a prayer, but rather a litany of self-praise. But, the tax collector in all humility recognizes himself as a sinner and asks nothing but God’s mercy.

Appearances and social standing do not guarantee our holiness, and this has a massive implication in our daily lives. We cannot simply judge that a priest who celebrates the mass, who stands on the sanctuary, is holier than an ordinary man who prays at last pew of the Church. We cannot judge a woman who visits the adoration chapel and recite the rosary every day is holier than a woman who has no time to visit the Church because she has to work hard to feed her children. We cannot judge that a man who is active in the parish is holier than a man who is inside the jail. In the first place, it is not our duty to judge others’ holiness. If we are busy judging others, we are no different from the Pharisee in the story who even prays to himself.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Eksternal dan Internal

Minggu ke-30 dalam Waktu Biasa [27 Oktober 2019] Lukas 18: 9-14

pharisee n tax collector 2Pada zaman Yesus, ada beberapa kelompok di dalam agama Yahudi dan salah satunya adalah orang-orang Farisi. Inilah orang-orang yang mencintai Tuhan dan dengan taat mematuhi Hukum Musa dan tradisi para penatua bahkan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Jadi, orang Yahudi menganggap mereka sebagai orang benar karena mereka setia kepada Hukum, dan saleh karena mereka sering berdoa. Banyak orang Farisi menjadi pengurus sinagoga dan dengan tekun mengajarkan Hukum saat hari-hari Sabat. Tidak heran, orang-orang Yahudi memberikan kepada orang-orang Farisi tempat-tempat terbaik di tempat-tempat ibadah dan pesta-pesta, dan memanggil beberapa dari mereka sebagai Rabi atau guru.

Sebaliknya, ada juga sang pemungut cukai. Ini adalah profesi yang dibenci oleh kebanyakan orang Yahudi setidaknya karena dua alasan. Pertama, pemungut cukai cenderung korup dengan menuntut lebih dari yang seharusnya. Kedua, para pemungut cukai bekerja untuk Kekaisaran Romawi, sebuah bangsa kafir dan penindas. Ini membuat mereka berdosa dan najis.

Ketika Yesus menampilkan dua karakter ini dalam perumpamaan-Nya, para pendengar yang adalaha orang Yahudi-Nya segera melihat bahwa orang Farisi adalah orang baik dan pemungut cukai adalah orang jahat. Bait Allah Yerusalem terdiri dari beberapa lapisan, dari tempat yang  Mahakudus di pusat Bait Allah, dan yang paling luar adalah tempat bagi bangsa-bangsa yang bukan Yahudi. Orang Farisi sebagai orang Israel yang saleh dan bersih, akan berdoa di dalam Bait Suci, lebih dekat ke tempat kudus. Sementara pemungut pajak berdiri mungkin di tempat yang ditujukan bagi mereka yang bukan orang Yahudi, di mana orang-orang najis dan orang berdosa diijinkan untuk lebih dekat.

Namun, Yesus sekali lagi memelintir pikiran para pendengar-Nya. Pemungut cukai muncul sebagai pahlawan dalam cerita ini, ketika Tuhan mendengar doanya dan menerima pertobatannya yang tulus.

Di hadapan Tuhan, kita dihakimi bukan karena penampilan luar dan kedudukan sosial, tetapi terutama oleh disposisi internal, iman kita. Orang Farisi penuh dengan dirinya sendiri dan tidak melakukan apa-apa selain berdoa kepada dirinya sendiri [lihat ayat 11]. Bagaimana seseorang bisa berdoa pada dirinya sendiri? Dia dengan sombong membandingkan dirinya dengan orang lain dan menjatuhkan orang lain. Ini bukan doa, melainkan litani pujian diri. Tapi, pemungut cukai dalam segala kerendahan hati mengakui dirinya sebagai orang berdosa dan tidak meminta apa pun selain belas kasih Tuhan.

Penampilan dan kedudukan sosial tidak menjamin kekudusan kita, dan ini memiliki implikasi besar dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita tidak bisa begitu saja menilai bahwa seorang imam yang merayakan misa, yang berdiri di tempat kudus, lebih suci daripada seorang bapak yang berdoa di bangku terakhir Gereja. Kita tidak dapat menilai seorang wanita yang mengunjungi adorasi kapel dan berdoa rosario setiap hari lebih suci daripada seorang wanita yang tidak memiliki waktu untuk rajin ke Gereja karena dia harus bekerja keras untuk memberi makan anak-anaknya. Kita tidak dapat menilai bahwa seorang pria yang aktif di paroki lebih suci daripada seorang pria yang berada di dalam penjara. Pertama, itu bukan tugas kita untuk menilai kekudusan orang lain. Jika kita sibuk menilai orang lain, kita tidak berbeda dengan orang Farisi dalam cerita yang bahkan berdoa untuk dirinya sendiri.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP