Athletes for Salvation

20th Sunday in Ordinary Time [C] – August 25, 2019 – Luke 13:22-30

training-2Salvation is one of the burning topics of discussion in Christian circles. In several discussions I facilitated, I often encountered some participants asked: Who will be saved? By what means are we going to be saved? When will be saved? Do we need to believe in Jesus to be saved? The answers can be as simple as yes or no, but often, the audience with critical minds demand more comprehensive and sensible answers. Yet, I always bring the listeners to see salvation from a different and deeper angle.

I ask them: what is salvation? Most of the people will immediately reply: We are saved from sins. The answer is correct, yet it is not complete and in fact, rather shallow. The good analogy will be the Israelites in Egypt. They were liberated from slavery, yet their freedom is not merely for freedom’s sake. They were freed so that they may worship their God without fear. Like the Israelites, we are also saved from sin, but this freedom from the slavery of sins is for something greater. We are called to share His divine life, to be with Him and enjoy His being. This is what we mean as being holy and being a saint. We are holy when we are united and participating in that Person who is the source of all holiness.

However, Jesus reminds us today that the way to salvation and holiness is not an easy and instant way. While faith is the beginning of our salvation, surely it does not end there. Jesus himself says, “Strive to enter through the narrow door… (Lk. 13:24)” The word “strive” in original Greek is “agonizomai” which means to participate in a contest or gymnastic game. The image is of an athlete who subjects himself to rigorous training and discipline and competes against the best competitors in the field. That is why to achieve a crown is an agonizing process. St. Paul picks up this idea of Jesus when he exhorts the Church in Corinth to “…Run to win. Every athlete exercises discipline in every way. They do it to win a perishable crown, but we an imperishable one. (1 Cor. 9:25)”

One of the most decorative Olympians is American swimmer Michael Phelps. In peak training phases, Phelps swims around 80,000 meters a week. He practices twice a day, at least. Phelps trains for around five to six hours a day at six days a week. Not only in the swimming pool, but he also builds his winning form through weightlifting and crazy diet regiment. But what many of us probably do not know is that Michael was suffering from Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). People with ADHD have trouble with focus, restlessness, and impulsiveness, yet Phelps was able to overcome this disorder and transform it into power. From one who had difficulty to focus, he is able to remain hyperfocused on his goal. Thus, he won 15 Olympic gold medals.

Salvation is essentially a gift. Nobody can claim that he has the right to this salvation. Yet, this gift, though free, is not cheap. We are striving and struggling every day, like an athlete who competes for the medals. We are doing our best so that we are worthy to receive this gift. We are fighting a battle every day against sins and adversaries that pull us away from God. We are putting our best effort that the gift in our hands will become truly a blessing for us and not a curse. So at the end of our lives, together with St. Paul, we may say, “I have competed well; I have finished the race; I have kept the faith. (2 Tim. 4:7)”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Atlit untuk Keselamatan

Minggu ke-20 dalam Masa Biasa [C] -25 Agustus 2019 – Lukas 13: 22-30

Narrow-GateKeselamatan adalah salah satu topik diskusi yang membakar. Dalam beberapa diskusi yang saya fasilitasi, saya sering menemui beberapa peserta yang bertanya: Siapa yang akan diselamatkan? Dengan cara apa kita akan diselamatkan? Kapan akan diselamatkan? Apakah kita perlu percaya kepada Yesus untuk diselamatkan? Jawabannya bisa sesederhana ya atau tidak, tetapi seringkali, peserta dengan pikiran kritis menuntut jawaban yang lebih komprehensif dan masuk akal. Namun, saya selalu membawa pendengar untuk melihat keselamatan dari sudut yang berbeda dan lebih dalam.

Saya bertanya kepada mereka: apakah keselamatan itu sebenarnya? Sebagian besar orang akan segera menjawab: Kita diselamatkan dari dosa, dari neraka. Jawabannya benar, namun tidak lengkap dan pada kenyataannya, dangkal. Analogi yang baik adalah orang Israel di Mesir. Mereka dibebaskan dari perbudakan, namun kebebasan mereka bukan hanya demi kebebasan. Mereka dibebaskan sehingga mereka dapat menyembah Tuhan mereka tanpa rasa takut. Seperti orang Israel, kita juga diselamatkan dari dosa, tetapi kebebasan dari perbudakan dosa ini adalah untuk sesuatu yang lebih besar. Kita dipanggil untuk berbagi kehidupan ilahi-Nya, untuk bersama-Nya dan menikmati keberadaan-Nya. Inilah yang Kita maksud sebagai kudus. Kita kudus ketika kita dipersatukan dan berpartisipasi dalam Pribadi yang merupakan sumber dari semua kekudusan. Inilah kebahagian sejati, inilah surga: merengkuh Tuhan.

Namun, Yesus mengingatkan kita hari ini bahwa jalan menuju keselamatan dan kekudusan bukanlah cara yang mudah dan instan. Sementara iman adalah awal dari keselamatan kita, tetapi ini bukanlah akhir. Yesus sendiri berkata, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit… (Luk. 13:24)” Kata “berjuang” dalam bahasa Yunani asli adalah “agonizomai” yang secara harfiah berarti ikut serta dalam pertandingan atau perlombaan olah raga. Gambarannya adalah seorang atlet yang menekuni pelatihan dan disiplin yang ketat, dan bersaing dengan para pesaing terbaik di bidangnya. Itulah sebabnya untuk merengkuh medali adalah proses yang menyakitkan. Santo Paulus mengambil gagasan Yesus ini ketika ia mendorong Gereja di Korintus untuk “… Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. (1 Kor. 9:25) ”

Salah satu atlet Olimpiade paling terkenal adalah perenang Amerika Michael Phelps. Dalam fase pelatihan, Phelps berenang sekitar 80.000 meter seminggu. Dia berlatih dua kali sehari, setidaknya. Phelps melatih sekitar lima hingga enam jam sehari pada enam hari seminggu. Tidak hanya di kolam renang, ia membangun tubuh kemenangannya melalui latihan angkat berat dan diet yang gila. Tetapi kita sering tidak tahu bahwa Michael menderita Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Orang dengan ADHD memiliki masalah dengan fokus, gelisah dan impulsif, namun Phelps mampu mengatasi gangguan ini dan mengubahnya menjadi kekuatan. Dari orang yang mengalami kesulitan untuk fokus, dia mampu tetap fokus pada tujuannya. Dengan demikian, ia memenangkan 15 medali emas Olimpiade.

Keselamatan pada dasarnya adalah anugerah. Tidak ada yang dapat mengklaim bahwa ia memiliki hak untuk keselamatan ini. Namun, anugerah ini, meskipun cuma-cuma, tidak murahan. Kita berjuang setiap hari, seperti atlet yang bersaing untuk medali. Kita melakukan yang terbaik sehingga kita layak menerima hadiah ini. Kita setiap hari berperang melawan dosa dan musuh yang menjauhkan kita dari Tuhan. Kita berusaha sekuat tenaga agar anugerah di tangan kita menjadi benar-benar berkah bagi dan bukan kutukan. Jadi di akhir hidup kita, bersama dengan St. Paul, kita dapat berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. (2 Tim. 4: 7)”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Magnify

The Solemnity of the Assumption of Mary – August 15, 2019 – Luke 1: 39-56

blessed virgin mary 2Today the Church is celebrating the solemnity of the Assumption of Mary. Rooted in the Scriptures and Tradition, the Church firmly believes that Mary was assumed into heaven body and soul after she completed her life here on earth. This belief is crystallized in the form of Dogma or the highest teaching of the Church. As a dogma, the Assumption requires the assent of faith from the faithful. The assumption itself is not the sole Marian Dogma. There are four dogmas related to her: Mary is the Mother of God, ever-virgin, immaculately conceived, and assumed into heaven. No other human, except Jesus, has accumulated that much honor in the Church and no other men or women have blessed conditions like hers.

However, we are mistaken if we think that all the Dogmas are about the goodness of Mary. When we are celebrating the Dogmas of Mary, we are not merely praising that Mary is good, gentle, and holy, but it is primarily about God and how through Mary, we are thanking God for His mercy toward Mary and all the wonders. Looking at Mary, we cannot but thank God for His mercy on her and His wonders done to her.

In the Gospel today, we listen to the song of Mary is traditionally called the Magnificat [Luk 1:46ff]. In her song,  Mary praises the Lord for the mighty deeds He has done to her and Israel. Mary herself acknowledges who she is, “God’s lowly servant.” She never lets pride get in her mind, but instead, she chooses to recognize what God has done to her that “God has looked with favor on her” and “God has raised the lowly.” Mary realizes that she was nothing without God.

The title is from the first Latin word that appears in the canticle, “Magnificat anima mea Dominum.”  The original Greek is “μεγαλύνω” [megaluno], to make great. The idea is like the magnifying glass that intensifies the light and the heat of the sun, and thus, emits powerful energy. When I was a little boy, my friends and I used to play together outside. One time, a friend brought a magnifying glass. We were amazed that it had another function aside from making a small object looked big. It was able to gather the light and heat of the sun and to focus it into a single spot. It became so intense and hot that it may burn what it touched. Then, when we saw the ants nearby, we started burning them using the magnifying glass!

Mary knows well that she is not the source of light, and she is the receiver. Yet, Mary does not merely receive it and keeps it to herself. Mary also is aware that she does not simply mirror that only reflect the light. Mary sees herself as “magnifying glass.” When she receives the light, she makes sure that light will shine even more brightly, intense, and powerful. Through Mary, the light of Christ becomes more intense, powerful, and penetrating. When we intently look at Mary, we cannot but see God Himself.

The Dogma of the Assumption, indeed all Marian dogmas, points to Mary, who points to God. Following her example, we are also called to make our lives as a signpost that points to God. But more than passive signpost, we need to learn to actively magnify God’s glory and mercy through our lives.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Maria dan Tuhannya

Hari Raya Maria Diangkat ke Surga – 17 Agustus 2019 – Lukas 1: 39-56

blessed virgin mary 1Hari ini Gereja sedang merayakan hari raya Maria Diangkat ke Surga. Berakar dalam Kitab Suci dan Tradisi, Gereja dengan kuat percaya bahwa Maria diasumsikan ke dalam tubuh dan jiwa surga setelah dia menyelesaikan hidupnya di bumi ini. Keyakinan ini terkristalisasi dalam bentuk Dogma atau ajaran tertinggi Gereja. Sebagai dogma, Asumsi membutuhkan persetujuan iman dari umat beriman. Asumsi itu sendiri bukan satu-satunya Dogma Marian. Ada empat dogma yang berkaitan dengannya: Maria adalah Bunda Allah, selalu perawan, dikandung dengan sempurna, dan diasumsikan ke surga. Tidak ada manusia lain, kecuali Yesus, yang mengumpulkan begitu banyak kehormatan di Gereja dan tidak ada pria atau wanita lain yang memberkati kondisi seperti miliknya.

Namun, kita salah jika kita berpikir bahwa semua Dogma adalah tentang kebaikan Maria. Ketika kita merayakan Dogma-Maria, kita tidak hanya memuji bahwa Maria itu baik, lembut, dan suci, tetapi ini terutama tentang Tuhan dan bagaimana kita berterima kasih kepada Tuhan atas rahmat-Nya yang tercurah kepada Maria. Melihat Maria, kita tidak bisa tidak berterima kasih kepada Tuhan atas rahmat-Nya atas dia dan keajaiban-keajaiban yang dilakukan padanya.

Dalam Injil hari ini, kita mendengarkan kidung Maria yang secara tradisional disebut Magnificat [Luk 1:46 dst]. Dalam kidung tersebut, Maria memuji Tuhan atas perbuatan-perbuatan besar yang telah dilakukan-Nya kepadanya dan Israel. Maria sendiri mengakui siapa dirinya, “hamba Tuhan yang rendah.” Dia tidak pernah membiarkan kesombongan masuk ke dalam benaknya, tetapi sebaliknya, dia memilih untuk mengakui apa yang telah Tuhan lakukan kepadanya bahwa “Tuhan telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadanya.” Maria menyadari bahwa dia bukan apa-apa tanpa Tuhan.

Kata Magnificat adalah dari kata Latin pertama yang muncul di kidung tersebut, “Magnificat anima mea Dominum.” Bahasa Yunani aslinya adalah “μεγαλύνω” [megaluno], berarti untuk membuat besar. Idenya seperti kaca pembesar yang mengintensifkan cahaya dan panas matahari, dan dengan demikian, memancarkan energi yang kuat. Ketika saya masih kecil, teman-teman saya dan saya biasa bermain bersama di luar. Suatu kali, seorang teman membawa kaca pembesar. Kami kagum bahwa kaca tersebut memiliki fungsi lain selain membuat benda kecil tampak besar. Itu bisa mengumpulkan cahaya dan panas matahari dan memfokuskannya ke satu tempat. Itu begitu kuat dan panas sehingga bisa membakar apa yang disentuhnya. Kemudian, ketika kami melihat semut di sekitar kami, kami mulai membakar mereka menggunakan kaca pembesar!

Maria tahu betul bahwa dia bukan sumber cahaya, dan dia adalah penerima. Namun, Maria tidak hanya menerimanya dan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Maria juga sadar bahwa dia bukanlah sekadar cermin yang hanya memantulkan cahaya. Maria melihat dirinya sebagai “kaca pembesar.” Ketika dia menerima cahaya, dia memastikan bahwa cahaya akan bersinar lebih terang, intens, dan kuat. Melalui Maria, terang Kristus menjadi lebih kuat, dahsyat dan berdaya guna. Ketika kita dengan penuh perhatian melihat Maria, kita tidak bisa tidak melihat Tuhan sendiri yang lebih megah dan mulia.

Dogma Maria diangkat ke surga, dan juga dogma-dogma Maria yang lain, menunjuk ke Maria, yang menunjuk kepada Tuhan. Mengikuti teladannya, kita juga dipanggil untuk menjadikan hidup kita sebagai rambu yang menunjuk kepada Allah. Tetapi lebih dari sekadar rambu-rambu yang pasif, kita perlu belajar untuk secara aktif meningkatkan kemuliaan dan belas kasihan Tuhan melalui hidup kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Faithful and Wise Stewards

19th Sunday in Ordinary Time [C] – August 11, 2019 – Luke 12:32-48

light lampIn ancient Israel, the masters of the house were often leaving their homes for business trips or attending social gatherings like weddings. They would entrust their houses and their possessions to chief servants. And this was the world without a cellular phone, internet, and GPS. Thus, the servants have no idea of the ETA (estimated time of arrival) of their masters. It could be 8 PM, midnight or even early in the morning. The best attitude of a servant in this scenario is to be always vigilant and prepared for the arrival of his master.

However, being prepared is not understood as being idle or passivity, like someone who does nothing but waits near the door, and opens the door when the master knocks. Jesus says, “Gird your loins and light your lamps… (Lk. 12:35)” In ancient Israel, people were wearing robe or tunic. It is a long dress that covers the entire body, from the neck down to the leg. When people are working, they gird their loins with a robe or belt, to make sure that their tunic will not get in the way. In short, the servants are doing their jobs, making sure that the house is in order, and ready to receive any order just in case their masters arrive. This is a kind of readiness and preparedness that Jesus asks of His disciples.

This kind of preparedness naturally comes the humble recognition of who we are. If the servant accepts that he is a servant and aware that the house belongs to his master, he will not act as if he is the owner of the house and neglect his jobs, but perform his tasks well despite the absence of his master. So, we need also to recognize who we are and do the works that follow from our identity well. If our pride gets in the way, and we fail to understand who we are. We start playing God, and we begin doing whatever we please, even to confidently predict the end of the world.

Based on the Scriptures, the Church always believes that Jesus will come for the second time in glory and bring the final judgment to the world. We do not know when Jesus will come as the King and those who prophesy that they understand when, turn to be a dangerous hoax. In 1997, Marshall Applewhite predicted that the earth would be destroyed by the alien spaceships, and the only way to survive was to “transfer” their souls to another planet by committing suicide. Marshall and 36 followers killed themselves, yet the earth’s destruction never happened. Marshall was playing God, and he brought calamity to himself and his followers.

Be ready for the coming of Jesus means that we realize who we are before God. If we are God’s children, we love and obey our Father, and care for the other creations because God cares for them as well. If we are God’s disciples, we faithfully follow Him and continuously learn from Him. If we are fathers, we love, protect, and provide for their family. If we are mothers, we love, care, and educate our children. And when the Lord truly comes, we may be one of those “Blessed servants who are faithful and prudent [see Lk. 12:42]”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hamba yang Setia dan Bijaksana

Minggu ke-19 dalam Waktu Biasa [C] – 11 Agustus 2019 – Lukas 12: 32-48

faithful servantDi Israel kuno, tuan rumah sering meninggalkan rumah mereka untuk perjalanan bisnis atau menghadiri pertemuan sosial seperti pernikahan. Mereka akan mempercayakan rumah dan harta benda mereka kepada seorang hamba yang adalah hamba utama. Dan kita perlu ingat bahwa ini adalah dunia tanpa telepon seluler, internet dan GPS. Dengan demikian, para pelayan tidak tahu dengan pasti waktu kedatangan dari tuan mereka. Bisa jadi jam 8 malam, tengah malam atau bahkan dini hari. Sikap terbaik seorang pelayan dalam skenario ini adalah untuk selalu waspada dan siap menghadapi kedatangan tuannya.

Namun, bersiap tidak dipahami seperti seseorang yang tidak melakukan apa-apa selain menunggu di dekat pintu, dan hanya membuka pintu ketika tuannya mengetuk. Yesus berkata, “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala… (Luk. 12:35)” Di Israel kuno, orang-orang mengenakan jubah [tunik] sebagai pakaian sehari-hari. Ini adalah pakaian panjang yang menutupi seluruh tubuh, dari leher hingga kaki. Ketika orang-orang bekerja, mereka mengikat pinggang mereka, untuk memastikan bahwa tunik mereka tidak akan menghalangi kerja mereka. Singkatnya, Yesus mengingatkan bahwa para pelayan tetap melakukan pekerjaan mereka walaupun tuan mereka tidak ada, memastikan bahwa rumah sudah rapi, dan siap untuk menerima perintah apa pun sewaktu-waktu tuan mereka tiba. Ini adalah kesiapan yang Yesus minta dari para murid-Nya termasuk kita.

Kesiapsiagaan semacam ini secara alami datang dari pengakuan rendah hati tentang siapa kita. Jika hamba menerima bahwa dia adalah hamba dan dia sadar bahwa rumah itu milik tuannya, dia tidak akan bertindak seolah-olah dia adalah pemilik rumah dan mengabaikan pekerjaannya, tetapi melakukan pekerjaannya dengan baik meskipun tuannya sedang tidak ada. Jadi, kita juga perlu mengenali siapa diri kita dan melakukan pekerjaan yang sesuai dengan identitas kita dengan baik. Satu hal yang menghambat kita mengenali siapa diri kita adalah keangkuhan. Saat kita dipenuhi kesombongan, Kita mulai bertingkah seperti tuhan dan kita mulai melakukan apa pun yang kita suka, bahkan untuk memprediksi akhir dunia dengan penuh percaya diri.

Berdasarkan Kitab Suci, Gereja selalu percaya bahwa Yesus akan datang untuk kedua kalinya dalam kemuliaan dan membawa penghakiman terakhir ke dunia. Kita tidak tahu kapan Yesus akan datang sebagai Raja, dan mereka yang bernubuat bahwa mereka tahu kapan, adalah sebuah hoax yang berbahaya. Pada tahun 1997, Marshall Applewhite meramalkan bahwa bumi akan dihancurkan oleh pesawat ruang angkasa alien dan satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah “memindahkan” jiwa mereka ke planet lain dengan melakukan bunuh diri. Marshall dan 36 pengikut pun bunuh diri, namun alien tidak pernah datang menyerang dan kehancuran bumi tidak pernah terjadi. Marshall bertingkah seperti tuhan dan dia membawa malapetaka bagi dirinya dan para pengikutnya.

Kesiapan untuk kedatangan Yesus berarti kita menyadari siapa kita di hadapan Tuhan. Jika kita adalah anak-anak Tuhan, kita mencintai dan menaati Bapa kita, dan merawat ciptaan lain karena Tuhan juga memperhatikan mereka. Jika kita adalah murid Tuhan, kita dengan setia mengikuti-Nya dan terus-menerus belajar dari-Nya. Jika kita adalah ayah, kita mencintai, melindungi, dan memenuhi kebutuhan keluarga kita. Jika kita adalah ibu, kita mencintai, merawat, dan mendidik anak-anak kita. Dan ketika Tuhan benar-benar datang, kita mungkin salah satu dari mereka “Hamba yang setia dan bijaksana [lihat Luk 12:42]”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Marta, Marta

Minggu Biasa ke-16 [C] – 21 Juli 2019 – Lukas 10:38-42

martha-and-mary-1Melakukan sesuatu untuk melayani Tuhan tentu baik dan terpuji. Dan karya-karya ini sangat banyak dan beragam. Tindakan-tindakan ini dapat secara langsung melayani Dia di Gereja, terutama dalam liturgi. Kita dapat berpartisipasi dalam ibadat sebagai anggota paduan suara, lektor, putra altar, asisten imam, atau bahkan sebagai imam yang mempersembahkan Ekaristi itu sendiri. Namun, kita juga dapat melayani Dia melalui sesama ketika kita terlibat dalam inisiatif amal untuk membantu orang miskin, untuk memperjuangkan keadilan dan perdamaian dan integritas ciptaan. Kita memiliki banyak cara, tetapi tujuannya adalah satu dan itu adalah untuk memuliakan Dia.

Dalam Injil hari ini, kita bertemu Marta dan Maria dari Bethania. Mereka berdua melayani Yesus dan mereka melakukannya sesuai dengan karakter unik mereka sendiri. Maria lebih pendiam dan mungkin seorang introvert, memilih untuk tetap dekat dengan Tuan dan mendengarkan-Nya. Sementara Marta, yang sebagian besar aktif dan mungkin ekstrovert, lebih suka memberi Yesus akomodasi terbaik. Keduanya ingin membuat Yesus merasa disambut dengan cara mereka sendiri. Namun, ada sedikit masalah. Tampaknya Yesus pilih kasih. Dia lebih menyukai Maria daripada Marta dan memberi tahu Marta bahwa Maria telah memilih bagian yang lebih baik.

Tentunya Yesus tidak pilih kasih, dan tentu saja itu bukan karena Maria lebih cantik dari Marta! Namun, kita masih harus menjelaskan pilihan Yesus. Pertama, kita perlu melihat bahwa keduanya baik, tetapi yang satu lebih baik dari yang lain karena sebuah alasan. Apakah tindakan mendengarkan lebih baik daripada memberi keramahan? Dalam konteks Yahudi kuno, memberikan keramahan pada seorang tamu adalah salah satu nilai utama. Kita ingat bagaimana Lot menawarkan bahkan putrinya sendiri untuk melindungi tamunya [lihat Kejadian 19]! Dengan standar ini, Marta melakukan hal yang lebih baik, tetapi Yesus berpendapat lain. Mengapa?

Sekali lagi, kita perlu lebih memahami Kitab Suci kita. Tindakan mendengarkan adalah tindakan mendasar baik dalam Perjanjian Lama maupun Baru. Setiap orang Yahudi yang saleh di zaman Yesus maupun di zaman sekarang, setiap hari mendaraskan doa syahadat yang mereka sebut sebagai “Shema Israel” – itu diambil langsung dari Ul 6: 4-5 “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Tindakan mendengarkan tidak hanya berarti mendengar suara dan menerima informasi, tetapi juga untuk mematuhi apa telah didengarkan. Yesus sendiri berkata, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. (Mat 7:24)” Maria mengambil bagian yang lebih baik karena dia telah mendengarkan Yesus yang adalah TUHAN, dan dia mendengarkan karena dia mengasihi TUHAN.

Marta memiliki sedikit masalah dengan pelayanannya karena dia memaksakan jalannya kepada Maria, mungkin dia berpikir cara pelayanannya adalah yang terbaik. Tetapi lebih dari itu, Marta menjadi terlalu terbebani dalam pelayanannya, dan Yesus menunjukkan bahwa Marta sendiri penuh kecemasan dan khawatir dengan banyak hal. Marta kehilangan tujuan pelayanannya; dia kehilangan Yesus dalam proses melayani. Betapa malang ya!

Belajar dari Maria dan Marta, kita dapat bertanya pada diri sendiri, “Apa gunanya pelayanan kita? Kemana kita akan pergi dengan banyak kegiatan yang kita miliki di Gereja? Apakah kita mendengar suara Kristus dalam pelayanan kita? Apakah kita benar-benar mencintai Yesus dalam pelayanan kita atau pada akhirnya kita melayani diri kita sendiri?”

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Martha, Martha

16th Sunday in Ordinary Time [C] – July 21, 2019 – Luke 10:38-42

To perform works to serve the Lord is certainly good and praiseworthy. And these works are numerous and varied. These acts may directly serve Him in the Church, especially during the liturgy. We may participate in the worship as the choir members, lectors, altar servers, ministers of the Holy Communion, or even as the presiders of the Eucharist itself, the priest. Yet, we may also serve Him through others as we involve in charitable initiatives to help the poor, to fight for justice and peace and integrity of creation. We have many ways, but the goal is one: to honor and glorify Him.

In today’s Gospel, we encounter Martha and Mary of Bethania. They both are serving Jesus, and they perform it according to their unique characters. Mary, more reserved and perhaps an introvert, chooses to stay close to the Master and listen to Him. While Marta, predominantly active and perhaps extrovert, prefers to provide Jesus with the best accommodation. Both want to make Jesus feel welcome in their way. However, there is a little problem. It seems that Jesus is playing little favoritism. He favors Mary over Martha and tells Martha that Mary has chosen a better part.

Surely Jesus does not play favoritism, and surely it is not because Mary is more beautiful than Martha!  Yet, we still have to explain Jesus’ choice. First, we need to see that both are good, but one is just happened to be better than the other. Is it the act of listening better than the act of giving hospitality? In an ancient Jewish context, to provide the hospitality to a guest is one of the prime values. We remember how Lot was offering even his daughters to protect his guests [see Gen 19]! By this standard, Martha is doing a better thing, but Jesus insists that it is not hers. Why?

Again, we need to understand better our Scriptures. The act of listening is fundamental in both Old and New Testament. Every devout Jew in the time of Jesus as well as in our time, daily prays a creedal prayer they call as “Shema Israel” – it was taken straight from Deu 6:4-5 “Hear, O Israel! The LORD is our God, the LORD alone! Therefore, you shall love the LORD, your God, with your whole heart, and with your whole being, and with your whole strength.” Acts of listening do not only mean to hear voices and receive information, but it is also to obey what one has heard. Jesus Himself says, “Everyone who listens to these words of mine and acts on them will be like a wise man who built his house on the rock. (Mat 7:24)” Mary is taking a better part because she has listened to Jesus, who is the LORD, and she listens because she loves her LORD.

Martha has a little problem with her service because she imposes her ways to Mary, perhaps thinking her way of service is the best one. But more than that, Martha becomes overburdened in her serving, and Jesus points out that Martha is anxious and worried with many things. Martha is losing the purpose of her service; she is losing Jesus in the process of serving. What a loss!

Learning from Mary and Martha, we may ask ourselves, “What is the point of our services? Where are we going with many activities we have in the Church? Do we hear the voice of Christ in our ministries? Do we love Jesus in our serving or we discover ourselves in the end?”

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Merciful Samaritan

Fifteenth Sunday of the Ordinary Time [C] – July 14, 2019 – Luke 10:25-27

do it anyway 2The journey from Jericho to Jerusalem was notoriously dangerous. The path was narrow, steep, filled by sudden turnings. The road became the favorite spot for the robbers to ambush any unguarded traveler. Some criminals were often violent, not only they took everything from the victims, but they would beat them mercilessly. Up to early twentieth century, some tourists and pilgrims were caught off guard when they passed this path, as their cars were ambushed and robbed. The brigands would swiftly escape before the police came.

When the teacher of the Law asks Jesus, “who is our neighbor whom we shall love?” Jesus offers him three models to imitate. They are a priest, a Levite and a Samaritan. The priest and the Levite are a privileged social class in ancient Jewish society. They are consecrated to serve in the Temple of Jerusalem. The priests who are the descendants of Aaron, are to accept sacrifice from the people and offer the sacrifice to the Lord at the altar. Meanwhile the Levites are assigned to take care of the temple, to do other liturgical services and assist the priests. Both the priest and the Levite represent a group of people who are dedicating themselves to the Lord, the Law and the Temple, who love their religion dearly. Meanwhile the Samaritan represents what the Jews hate. The pure Jews look down the Samaritans because they are products of intermarriage between unorthodox Jews and other pagan nations as well as idolaters who worship God plus other smaller gods.

By religious standard, the priest and the Levite outrank the Samaritan, but Jesus drops the nuclear bomb as He makes the Samaritan as the hero of the story. We may ask why the priest and Levite refuse to help? One reason is that the priest needs to be away from any blood or dead body, otherwise he would be impure for seven days and he will not be able to serve the Temple [see Num 19:11]. The Levi seems to do little better as he goes nearer to the victim, but he decided not to help perhaps because he is afraid that the guy just serves a decoy to ambush him. Here comes the Samaritan who helps without hesitation. Not only coming to his rescue, the Samaritan makes sure that the victim will be healed and recover, though he must spend his own resources.

Placing ourselves in the shoes of the Samaritan man, we know that his decision to help the victim is daring and even reckless. What if it was just a set-up for ambush? What if he runs out of money? What if the victim would never thank him and even hate him even more? Yet, this is what to love our neighbor means. To love someone is to show mercy and to show mercy means to give beyond what is due.

One of the memorable works Mother Teresa did in Calcutta was to establish a home for the dying. One day, she walked pass a hospital and saw a woman who terribly sick. The mother rushed her to the hospital. Yet, the person in the hospital refused her, saying, “there is no room for her in the hospital!” Mother Teresa stayed outside of the hospital, embracing the dying lady till she breathed her last. Since then, the saint promised that she would make sure that the dying would die with dignity. In the early days of this hospice, Mother Teresa was ridiculed and criticized, yet she and her sisters persevered because they knew that for those who were dying, this may be the last act of mercy they received before they passed away.

If we expect something big in return, it is not love, it is investment. If we just want to be appreciated after doing good, it is not love, it is a showoff. If we do not want to get hurt, it is not love, it is comfort zone. Love is tough, mercy is heroic.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Orang Samaria yang berbelas kasih

Minggu Biasa Kelima belas [C] – 14 Juli 2019 – Lukas 10: 25-27

do it anywayPerjalanan dari Yerikho ke Yerusalem terkenal berbahaya. Jalan itu sempit, terjal, dipenuhi belokan mendadak sehingga jalan itu menjadi tempat favorit para perampok untuk menyergap setiap pejalan yang tidak siap. Beberapa penjahat sering melakukan kekerasan, bahwa mereka tidak hanya mengambil semua barang dari para korban, tetapi mereka juga akan memukuli mereka tanpa ampun. Hingga awal abad kedua puluh, beberapa turis dan peziarah menjadi korban ketika mereka melewati jalan ini. Setelah mobil para turis dirampok, para perampok akan dengan cepat melarikan diri sebelum polisi datang.

Ketika ahli Hukum Taurat bertanya kepada Yesus, “siapakah sesama kita yang akan kita kasihi?” Yesus menyodorkan tiga model. Mereka adalah seorang imam, seorang Lewi dan seorang Samaria. Imam dan orang Lewi adalah kelompok istimewa dalam masyarakat Yahudi kuno. Mereka ditahbiskan untuk melayani di Bait Suci Yerusalem. Para imam yang merupakan keturunan Harun, akan menerima pengorbanan dari orang-orang Yahudi dan mempersembahkannya kepada Tuhan di altar. Sementara itu orang-orang Lewi mendapat tugas untuk mengurus Bait Allah, untuk melakukan pelayanan liturgi lainnya dan membantu para imam. Baik imam dan orang Lewi mewakili sekelompok orang terpilih yang mendedikasikan diri mereka kepada Tuhan, Hukum Taurat dan Bait Allah. Tanpa keraguan, mereka sangat mencintai agama mereka. Sementara itu, orang Samaria mewakili apa yang dibenci orang Yahudi. Orang-orang Yahudi memandang rendah orang-orang Samaria karena mereka dianggap sebagai produk perkawinan antara orang-orang Yahudi yang sesat dan bangsa-bangsa kafir lainnya. Orang Samaria juga dianggap sebagai para penyembah berhala karena menyembah Tuhan Yahwe tapi dengan tambahan dewa-dewa kecil lainnya.

Menurut standar agama Yahudi, imam dan orang Lewi jauh mengungguli orang Samaria, tetapi Yesus menjatuhkan bom nuklir ketika Ia menjadikan orang Samaria sebagai pahlawan dalam cerita. Kita mungkin bertanya mengapa imam dan orang Lewi menolak untuk membantu? Salah satu alasannya adalah bahwa imam harus menjauh dari darah atau mayat apa pun, jika tidak ia akan najis selama tujuh hari dan ia ingin melayani Bait Suci [lihat Bil 19:11]. Lewi tampaknya sedikit lebih baik ketika dia mendekati korban, tetapi dia mengurungkan niatnya mungkin karena dia takut orang itu hanya menjadi umpan untuk menyergapnya. Tetapi, orang Samaria datang dan membantu tanpa ragu-ragu. Tidak hanya datang menyelamatkannya, orang Samaria memastikan bahwa sang korban akan disembuhkan dan pulih, meskipun ia harus menghabiskan uangnya sendiri.

Menempatkan diri pada posisi orang Samaria, kita tahu bahwa keputusannya untuk membantu korban yang adalah orang Yahudi adalah sangat berani dan bahkan gegabah. Bagaimana jika itu hanya sebuah jebakan? Bagaimana jika dia kehabisan uang? Bagaimana jika korban tidak pernah mengucapkan terima kasih dan bahkan lebih membencinya? Namun, inilah arti mengasihi sesama kita. Mencintai seseorang berarti menunjukkan belas kasihan dan menunjukkan belas kasihan berarti memberi melampaui apa yang sudah seharusnya.

Salah satu karya yang tak terlupakan yang dilakukan Bunda Teresa di Kalkuta adalah membangun rumah bagi orang yang kritis. Suatu hari, dia berjalan melewati rumah sakit dan melihat seorang wanita sangat sakit. Sang suster bergegas membawanya ke rumah sakit. Namun, orang di rumah sakit menolaknya, mengatakan, “tidak ada ruang untuknya di rumah sakit!” Bunda Teresa tetap berada di luar rumah sakit, memeluk wanita yang sekarat itu sampai dia menghembuskan nafas terakhir. Sejak itu, suster Teresa berjanji bahwa dia akan memastikan bahwa orang dapat meninggal dengan martabat. Pada hari-hari awal karyanya ini, Bunda Teresa diejek dan dikritik, namun ia dan saudara-saudaranya bertahan karena mereka tahu bagi mereka yang kritis, ini mungkin merupakan belas kasih terakhir yang mereka terima sebelum mereka meninggal.

 Jika kita mengharapkan imbalan besar, itu bukan kasih, tapi investasi. Jika kita hanya ingin dihargai setelah berbuat baik, itu bukan kasih, itu hanya pamer. Jika kita tidak ingin terluka, itu bukan kasih, itu tidak lebih dari omong kosong. Kasih sesungguhnya itu tangguh, belas kasihan itu sesuatu yang heroik.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP