The Magi are We

The Solemnity of the Epiphany [C]

January 2, 2022

Matthew 2:1-12

The season of Christmas reaches its culmination in the feast of Epiphany. Epiphany comes from a Greek word that means ‘to appear.’ Thus, the feast is celebrating the appearance of Jesus to the nations represented by the Magi. We are not sure who these Magi are, but the traditions have that they are wise men from the East, most probably from Persia or present-day Iran. The bible does not give us the exact number, let alone the names, but the tradition calls them Baltazar, Gaspar, and Melchior.

photocredit: Jonathan Meyer

If we try to go back to the beginning of Matthew, we will discover the genealogy of Jesus Christ. Matthew begins with Abraham, the patriarch of Israel, David, the greatest king of Israel, and Joseph, a simple yet righteous Jewish man. Matthew demonstrates to us that Jesus is the fulfillment of God’s promise to Abraham, David, and Israel. He is coming as the Jewish Messiah. A Catholic philosopher and theologian, Peter Kreeft, summarizes the Gospel of Matthew as ‘A Gospel from a Jew, for the Jews about the Jewish Messiah.’

Yet, the same evangelist presents us with a large picture. Though Jesus was coming from the line of David and raised as a Jewish man as a devout Israelite family, Jesus was not an ‘exclusivist’ Messiah. Jesus is the Anointed One of the Jewish people only, but He is the Savior for all the world. This identity is manifested in the visit of the Magi.

The three Magi are not Israelites, and in fact, they might worship other gods. Yet, they knew that deep inside, something is still missing. In their human wisdom, they keep on searching for the truth that will satisfy their deepest longing. Their research and investigation prompt them to look for a newborn king. When they finally see the baby Jesus, they prostrate themselves in the act of adoration and worship and acknowledge that this baby is not just an ordinary king of a small nation in the Middle East. He is the king of kings.

We are the Magi. Most of us are not Jewish people, let alone coming from the line of David, but we are looking for something or someone that will fill our deepest desire. However, we are much fortunate than the Magi. They need to learn and gain wisdom through the years, and sometimes, they stumble into errors because of human weakness. God gives a much clearer direction toward truth and salvation by becoming a man. He is the way, the truth, and the life [John 14:6]. His word is a lamp to our feet and a light unto our path [Psa 119:105]. His body is real food, and His blood is real drink, and we who partake in Him shall have life [John 6:51-57].

Compared to the Magi, with Jesus and His Church, we have a highway to true blessedness. Now, the real question is whether we are humble enough like the Magi to acknowledge that we need God and commit ourselves to walk in His way?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Orang Majus adalah Kita

Hari Raya Penampakan Tuhan [C]

2 Januari 2022

Matius 2:1-12

Masa Natal mencapai puncaknya pada hari raya Epifani. Kata Epifani sendiri berasal dari kata Yunani yang berarti ‘penampakan’. Dari nama ini, kita bisa menyimpulkan bahwa Epifani merayakan penampakan Yesus ke bangsa-bangsa yang diwakili oleh orang-orang Majus. Kita tidak yakin siapa sebenarnya orang Majus ini, tetapi tradisi mengatakan bahwa mereka adalah orang bijak dari Timur, kemungkinan besar dari Persia atau Iran saat ini. Alkitab tidak memberi kita jumlah pastinya, apalagi namanya, tetapi tradisi mengatakan bahwa mereka adalah Baltazar, Gaspar dan Melchior.

photocredit: Rod Long

Jika kita mencoba kembali ke awal Injil Matius, kita akan menemukan silsilah Yesus Kristus. Matius mulai dengan Abraham, bapa bangsa Israel, lalu Daud, raja terbesar Israel dan hingga pada Yusuf, seorang pria Yahudi yang sederhana namun benar. Matius menunjukkan kepada kita bahwa Yesus adalah penggenapan janji Allah kepada Abraham, kepada Daud, dan kepada Israel. Dia datang sebagai Mesias Yahudi. Seorang filsuf dan teolog Katolik, Peter Kreeft, merangkum Injil Matius sebagai ‘Sebuah Injil dari seorang Yahudi, untuk orang-orang Yahudi tentang Mesias Yahudi’.

Namun, penginjil yang sama memberi kita gambaran yang jauh lebih besar. Meskipun Yesus berasal dari garis keturunan Daud dan dibesarkan sebagai orang Yahudi oleh keluarga Israel yang taat, Yesus bukanlah Mesias yang ‘eksklusif’. Yesus bukan hanya Mesias untuk orang-orang Yahudi saja, tetapi Dia adalah Juruselamat bagi seluruh dunia. Identitas ini diwujudkan dalam kunjungan orang-orang Majus.

Ketiga orang Majus itu bukan orang Israel, dan kenyataannya, mereka mungkin tidak menyembah Allah yang benar. Namun, mereka tahu bahwa jauh di lubuk hati, ada sesuatu yang masih hilang. Dalam kebijaksanaan manusiawi, mereka terus mencari kebenaran yang akan memuaskan kerinduan terdalam mereka. Penelitian dan penyelidikan mereka mendorong mereka untuk mencari raja yang baru lahir. Ketika akhirnya mereka melihat bayi Yesus, mereka sujud menyembah sang bayi, dan mengakui bahwa bayi ini bukan hanya raja biasa dari sebuah bangsa kecil di Timur Tengah. Dia adalah raja dari segala raja, dan Dia hadir bagi semua orang yang dengan tulus mencari-Nya.

Kita adalah orang Majus. Sebagian besar dari kita bukan orang Yahudi, apalagi berasal dari garis keturunan Daud, tetapi kita sedang mencari sesuatu yang akan memenuhi keinginan terdalam kita. Namun, kita jauh lebih beruntung daripada orang Majus. Mereka perlu belajar dan mencari kebijaksanaan selama bertahun-tahun, dan terkadang, mereka tersandung ke dalam kesalahan karena kelemahan manusia.

Dengan menjadi manusia, Tuhan memberikan arah yang lebih jelas menuju kebenaran dan keselamatan. Dialah jalan, kebenaran dan hidup [Yohanes 14:6]. Firman-Nya adalah pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita [Mzm 119:105]. Tubuh-Nya adalah sungguh-sungguh makanan, dan darah-Nya adalah sungguh-sungguh minuman, dan kita yang mengambil bagian di dalam Dia akan memiliki hidup [Yohanes 6:51-57].

Dibandingkan dengan orang Majus, kita seperti memiliki jalan toll menuju kebahagian yang sejati. Sekarang, pertanyaan sebenarnya adalah apakah kita mau rendah hati seperti orang Majus untuk mengakui bahwa kita membutuhkan Tuhan dan berkomitmen untuk berjalan di jalan-Nya?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

We are the Magi

The Epiphany of the Lord

January 3, 2021

Matthew 2:1-12

The Christmas season ends with the feast of Epiphany of the Lord or the Feast of the Three Kings. However, if we read the Gospel carefully, we will discover that one who visited Jesus is magi, and the word “king” is not used to describe them. The Gospel of Matthew also reveals neither their number nor names. St. Matthew only speaks of three gifts offered: gold, frankincense and myrrh.

Magi is coming from the Greek word ‘magos’, and it is the same root word for magic. In his book ‘Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives,’ Pope Benedict XVI explains that Magi has a wide range of meanings. In one sense, it may point to a black magician like Simon the Magician [see Acts 8:9-24], but in another sense, the magi may refer to the philosophers of noble birth coming from the land of Persia. Ancient philosophers are educated people who devoted themselves to the pursuit of wisdom. This is the reason why we call the magi also the wise men. It seems that the wise men have eventually discovered through their careful study, that the great king who is the embodiment of wisdom herself has been born in the land of Judea.

Are they kings? The Church recognizes that the magi who brought three particular gifts are the fulfillment of ancient prophecy. Isaiah said, “Nations shall walk by your light,

and kings by your shining radiance. Raise your eyes and look about; they all gather and come to you… bearing gold and frankincense, and proclaiming the praises of the LORD [Isa 60:3-4,6; which is our first reading].” In short, Isaiah prophesized that the light will guide kings, and they will come and bring gifts of gold and frankincense, and praise the Lord. The magi match the description of Isaiah’s prophecy, and from here, we can also say that the magi are also kings who were guided by the light of the star and offered precious gifts to Jesus. They might be indeed kings of small nations or perhaps, members of royalty, otherwise Herod the great would not have received them in his palace and welcome them cordially.

What about their names? Writing from the 8th century, ‘Excerpta Latina barbari,’ introduces them as Balthasar, Melchior and Gaspar. Whether these are their real name or not, we are never sure. However, we are invited to have the spirit and character of these wise men.

To find Jesus, they left their homes’ comfort and embarked into a long and challenging journey. They also learned to open their hearts as they discovered that the great king is not in Herod’s palace, but a poor home of Joseph and Mary. Ultimately, they humbled themselves before Jesus as they worshipped Him and offered the best gifts representing their lives. Then, they may go home with great joy.

Epiphany means God’s manifestation to the nations, yet this manifestation requires the magi to get up, search, and be humble. We are the magi. We are invited to look diligently for Jesus. To be baptized, catholic is undoubtedly excellent, but it is just the first step of our incredible journey. We are called to go deeper into the beauty of our faith. We are challenged to see Jesus in even the most unexpected places. Unless we go out and seek, we never find. It is because we are the magi.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kita adalah Orang Majus

Hari Raya Epifani

3 Januari 2021

Matius 2: 1-12

Masa Natal diakhiri dengan hari raya Penampakan Tuhan Yesus atau juga dikenal sebagai Pesta Tiga Raja. Namun, jika kita membaca Injil dengan cermat, kita akan menemukan bahwa orang yang mengunjungi Yesus adalah orang majus, dan kata ‘raja’ tidak digunakan untuk mendeskripsikan mereka. Injil Matius juga tidak menyebutkan berapa atau nama mereka. St. Matius hanya berbicara tentang tiga hadiah yang dipersembahkan: emas, kemenyan dan mur.

Majus berasal dari kata Yunani ‘magos’ dan ini adalah akar kata yang sama untuk ‘magic’. Dalam bukunya ‘Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives’, Paus Benediktus XVI menjelaskan bahwa kata ‘magos’ memiliki arti yang cukup luas. Di satu sisi, kata ‘magos’ menunjuk pada seorang penyihir seperti Simon yang mencoba membeli rahmat dari Petrus [lihat Kisah Para Rasul 8: 9-24], tetapi dalam arti lain, ‘magos’ merujuk pada para filsuf dari keluarga bangsawan yang datang dari tanah Persia. Filsuf kuno adalah orang-orang terpelajar yang mengabdikan diri untuk mencari kebijaksanaan. Inilah alasan mengapa kita menyebut orang majus sebagai orang bijak. Mereka tidak berhenti sampai menemukan sang Kebijaksanaan itu sendiri.

Apakah mereka raja? Gereja melihat bahwa orang majus yang membawa tiga hadiah ini adalah penggenapan nubuat kuno. Yesaya berkata, “Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu. Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu… akan membawa emas dan kemenyan,  serta memberitakan perbuatan masyhur Tuhan. [Yes 60: 3-4,6; yang merupakan bacaan pertama kita].”

Singkatnya, Yesaya menubuatkan bahwa raja-raja akan dibimbing oleh cahaya dan mereka akan datang membawa persembahan emas dan kemenyan, dan memuji Tuhan. Dari sini, kita juga bisa mengatakan bahwa orang majus juga adalah raja yang dibimbing oleh cahaya bintang dan mempersembahkan hadiah berharga kepada Yesus. Mereka mungkin sungguh raja dari kerajaan kecil di timur atau anggota keluarga kerajaan, jika tidak Herodes Agung tidak akan menerima mereka di istananya dan menyambut mereka dengan hormat.

Bagaimana dengan nama mereka? Sebuah tulisan yang berasal dari abad ke-8, ‘Excerpta latina barbari,’ memperkenalkan mereka sebagai Balthasar, Melchior dan Gaspar. Apakah ini nama asli mereka? Kita tidak pernah tahu dengan pasti. Namun, kita diajak untuk memiliki semangat dan karakter orang majus tersebut.

Untuk menemukan Yesus, mereka meninggalkan kenyamanan tempat tinggal mereka, dan memulai perjalanan yang panjang dan sulit. Mereka belajar juga untuk membuka hati mereka ketika mereka menemukan bahwa raja agung tidak ada di istana Herodes, tetapi ada di keluarga miskin Yusuf dan Maria. Akhirnya, mereka merendahkan diri di hadapan Yesus saat mereka menyembah Dia dan mempersembahkan hadiah terbaik yang mewakili hidup mereka. Hanya dengan demikian, mereka bisa pulang dengan penuh sukacita.

Epifani berarti penampakan Tuhan kepada bangsa-bangsa, namun hal ini menuntut orang majus untuk bangkit, mencari dan menjadi rendah hati. Kita adalah orang majus. Kita diundang untuk mencari Yesus dengan tekun. Dibaptis menjadi katolik memang rahmat yang luar biasa, tetapi ini adalah langkah awal dari perjalanan besar kita. Kita dipanggil untuk masuk lebih dalam lagi untuk menemukan keindahan iman kita. Kita ditantang untuk melihat Yesus bahkan di tempat yang paling tidak terduga. Jika kita tidak mau pergi dan mencari, kita tidak pernah menemukan-Nya. Ingat bahwa kita adalah orang majus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: jeff jewiss

Holy Families

Feast of the Holy Family [B]

December 27, 2020

Luke 2:22-40

We are celebrating the feast of the Holy Family, and indeed, we are celebrating not only the family of Jesus, Mary, and Joseph but every human family. Through this liturgical celebration, the Church is inviting us to recognize the importance and the value of our family. Not only acclaiming the fundamental worth of family, but we are also invited to embrace and celebrate family lives.

At a human level, many social experts have understood that healthy and thriving societies begin in robust families. The families do not only fill the communities with human populations, but they provide an environment where children can grow into physically and psychologically mature men and women. A healthy and mature adult turns to be an asset to society.

From the perspective of faith, the Church always considers family as the basic unit of society and the Church herself. In his apostolic exhortation, Familiaris Consortio, Pope St. John Paul II affirmed the family’s fundamental role as the intimate community of life and love. In the family, husband and wife learn to love each other deeper and deeper every day. In the family, parents offer unconditional and sacrificial love for their children. In the family, the children learn to give honor and respect to their parents and their brothers and sisters. Because only in love, human persons find their true fulfillment as God’s image who is Love.

The Scriptures also give premium to family life. To honor our mother and father is one of the Torah’s highest commandments [Exo 20:]. Sirach even claimed that honoring our parents can atone for our sins [Sir 3:3]. St. Paul himself, in his letter to the Colossians, instructed each member of the family on how to behave [see Col 3:12-21].

Yet, going back to Jesus, we discover that for Him, a family is indeed indispensable. As God, Jesus could have come to us directly from heaven. He did not need human aid. Yet, He chose to be born of the virgin Mary, and through the angel, instructed Joseph to become the husband of Mary and, thus, His foster father. When He became man, He entered a human family and grew through Joseph and Mary’s guidance and protection. Jesus has become part of a family, and His presence sanctified His human family. This is a poignant message for all that family is a school of holiness because Jesus is present.

We also admit that family life is not always smooth and sweet. Moments of frustrations, misunderstanding, anger, and sadness often come and struck us. Various problems ranging from economic stability to emotional immaturity beset our familial relationship. However, these ugly situations may be transformed into means of holiness if Jesus is present among us. Raising children can be tough and even irritating, but we can offer this cross to the Lord as prayer. A relationship with our spouse can be filled with misunderstanding, but before we vent our emotions, we may pause a moment and ask the Lord the best course of action we shall take. Thus, through these difficulties, we are made closer to the Lord.

We thank the Lord for the gift of life, love, and family.

Happy feast day of the Holy Family!

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Keluarga-Keluarga Kudus

Pesta Keluarga Kudus [B]

27 Desember 2020

Lukas 2: 22-40

Kita merayakan pesta Keluarga Kudus, namun kita tidak hanya merayakan keluarga Yesus, Maria dan Yusuf, tetapi setiap keluarga di dunia. Melalui perayaan liturgi hari ini, Gereja mengundang kita untuk menyadari pentingnya dan berharganya keluarga kita. Tidak hanya menghargai nilai dasar keluarga, kita diundang untuk merangkul dan merayakan kehidupan keluarga.

Di tingkat manusia, banyak ahli sosial telah memahami bahwa masyarakat yang sehat dan berkembang dimulai dari keluarga yang kokoh. Keluarga tidak hanya mengisi komunitas dengan populasi manusia, tetapi juga menyediakan lingkungan di mana anak-anak dapat tumbuh menjadi pria dan wanita yang dewasa secara fisik dan psikologis. Manusia-manusia dewasa yang sehat dan mapan menjadi aset masyarakat dan bangsa.

Dari perspektif iman, Gereja selalu memandang keluarga sebagai unit dasar tidak hanya masyarakat tetapi Gereja itu sendiri. Dalam Seruan Apostoliknya, Familiaris Consorsium, Paus St. Yohanes Paulus II menegaskan peran fundamental keluarga sebagai “komunitas hidup dan kasih”. Dalam keluarga, suami dan istri belajar untuk saling mencintai semakin dalam setiap harinya. Dalam keluarga, orang tua memberikan kasih tanpa pamrih dan pengorbanan untuk anak-anak mereka. Di dalam keluarga, anak-anak belajar untuk menghormati dan menyayangi orang tua serta saudara-saudara mereka. Karena hanya dalam kasih, manusia menemukan pemenuhan sejatinya sebagai citra Tuhan yang adalah Kasih.

Alkitab juga sangat menghargai kehidupan keluarga. Menghormati ibu dan ayah kita adalah salah satu perintah tertinggi dalam Hukum Taurat [Kel 20]. Sirach bahkan mengklaim bahwa menghormati orang tua kita dapat menghapus dosa-dosa kita [Sir 3:3]. St. Paulus sendiri dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, memberikan instruksinya kepada setiap anggota keluarga tentang bagaimana berperilaku yang baik sebagai anggota keluarga [lihat Kol 3: 12-21].

Kembali kepada Yesus, kita menemukan bahwa bagi Dia, keluarga memang sangat esensial. Sebagai Tuhan, Yesus bisa saja datang kepada kita langsung dari surga. Dia tidak membutuhkan bantuan manusia untuk menebus manusia. Namun, Dia memilih untuk dilahirkan dari perawan Maria, dan melalui malaikat, Dia menginstruksikan Yusuf untuk menjadi suami Maria dan dengan demikian, menjadi ayah angkat-Nya. Ketika Yesus menjadi manusia, Dia memasuki keluarga manusia, dan tumbuh melalui bimbingan dan perlindungan Yusuf dan Maria. Yesus telah menjadi bagian dari sebuah keluarga, dan kehadiran-Nya menguduskan keluarga manusia-Nya. Ini adalah pesan penting bagi semua keluarga bahwa keluarga akan menjadi sekolah kekudusan karena Yesus hadir.

Kita akui juga bahwa kehidupan keluarga tidak selalu mulus dan manis. Saat-saat frustrasi, kesalahpahaman, amarah dan kesedihan seringkali datang dan menghantam kita dengan keras. Berbagai masalah mulai dari stabilitas ekonomi hingga ketidakdewasaan emosional melanda hubungan kekeluargaan kita. Namun, situasi buruk ini dapat diubah menjadi sarana kekudusan jika Yesus hadir di antara kita. Membesarkan anak bisa jadi sulit dan bahkan menjengkelkan, tetapi kita bisa mempersembahkan salib ini kepada Tuhan sebagai doa. Hubungan dengan pasangan kita dapat dipenuhi dengan kesalahpahaman, tetapi sebelum kita melampiaskan emosi kita, kita mungkin berhenti sejenak dan bertanya kepada Tuhan tindakan terbaik yang akan kita ambil. Dengan demikian, melalui kesulitan-kesulitan ini, kita menjadi lebih dekat dengan Tuhan.

Kita berterima kasih atas karunia kehidupan, kasih dan keluarga.

Selamat Pesta Keluarga Kudus!

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Emmanuel

Christmas – Mass during the Night [B]

December 24, 2020

Luke 2:1-14

Christmas is one of the most beautiful and joyous times of the year. Christmas is the time to gather with the families and friends and to have an exchange of gifts. Christmas is the time to put up Christmas trees, place Nativity scenes, and play Christmas songs. Surely, Christmas is the time when families once again go to the church together.

However, this year, things do not go as we want them to be. The pandemic caused by Covid-19 continues to plague our societies, and it significantly affects how we do things and relate with one another. Some of us can no longer go home because of our nature of professions or travel restrictions. Some of us will not attend the beautiful Christmas vigil liturgy because the Church remained closed. Some of us have no special meals on the table because the poor economy hits us hard. For some of us, it is just a lonely and sad Christmas because some of our family members are sick or even have passed away.

Is this still a Christmas? In these difficult situations, all the more, we are invited to reflect on the mystery of Incarnation. The drama of salvation begins with a little baby with His poor parents. Joseph was David’s son, yet he was no more than a poor carpenter, who cannot even provide a decent place for his wife to give birth. Mary was a young mother who had to endure unimaginable shame and various threats to her life. And, at the center of Christmas is the baby boy who is God and yet chose to be born in the most unworthy place of all, a cave filled with animals. He did not opt for much grander places like a royal palace or a magnificent castle. He did not decide to be wrapped with a purple royal garment, but a simple linen cloth. He did not select a golden and comfortable bed, but an unhygienic stone manger.

Looking at the circumstances, Jesus’ birth is not that impressive, but this is what makes the mystery of Incarnation touch every human heart. He did not come as an imposing and authoritarian king like Augustus. He did not come as a shrewd military leader like Julius Caesar. He did not come as a smart politician like Herod. God comes to us as the weakest baby in the humblest place. He is a God who radically loves us and wills to embrace even our weak nature.

Christmas reminds us that Jesus is with us when we are broken by economic conditions; Jesus is with us when we cannot be with our loved ones. Jesus is with us when we are losing our family members. The first Christmas points to us that God does not always spare us from suffering, but He promises to be with us in these terrible times.

One of my friends just lost his father due to Covid-19. It was sudden and untimely death. And what made it very painful is they could not give the last farewell for him as the remain brought immediately to the cemetery. When I had a chance to talk to him, I discovered he could accept the death, and then I asked him the reason. He narrated to me that before his father was admitted to the hospital, he gave his father a brown scapular. He also learned that his father passed away when he was praying the rosary. He believed that his father was not alone when he died; God is with him. Indeed, Jesus is the Emmanuel: God is with us.

Merry Christmas!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: debby hudson

Immanuel

Malam Natal [B]

24 Desember 2020

Lukas 2: 1-14

Natal adalah salah satu masa terindah dan menggembirakan. Natal adalah waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan para sahabat, dan juga bertukar hadiah. Natal adalah waktu memasang pohon Natal, merancang Gua Natal, dan memutar lagu-lagu Natal. Pastinya, Natal adalah saat keluarga pergi ke gereja bersama-sama.

Namun, tahun ini, banyak hal tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Pandemi yang disebabkan oleh Covid-19 terus menghantam masyarakat kita, dan memengaruhi secara signifikan cara kita melakukan sesuatu dan berelasi satu sama lain. Beberapa dari kita tidak bisa lagi pulang karena profesi kita atau pembatasan perjalanan. Beberapa dari kita tidak akan dapat menghadiri liturgi malam Natal yang indah karena Gereja tetap tutup. Beberapa dari kita tidak memiliki makanan spesial di atas meja karena ekonomi yang buruk memukul kita dengan keras. Bagi sebagian dari kita, ini adalah Natal yang dingin dan menyedihkan karena beberapa anggota keluarga kita sakit atau bahkan telah meninggal dunia.

Apakah ini masih Natal? Dalam situasi sulit ini, semakin kita diundang untuk merenungkan misteri Inkarnasi. Drama keselamatan dimulai dengan seorang bayi kecil dengan orang tua-Nya yang miskin. Yusuf adalah putra Daud, namun dia tidak lebih dari seorang tukang kayu yang sederhana, yang bahkan tidak dapat menyediakan tempat yang layak bagi istrinya untuk melahirkan. Maria adalah seorang ibu muda, yang harus menanggung rasa malu yang tak terbayangkan dan berbagai ancaman terhadap hidupnya. Dan, di tengah Natal adalah bayi laki-laki yang adalah Tuhan sendiri, tetapi memilih untuk dilahirkan di tempat yang paling tidak layak, sebuah gua yang dipenuhi dengan binatang. Dia tidak memilih tempat yang sangat megah seperti istana atau kastil yang megah. Ia tidak memilih untuk dibungkus dengan pakaian kerajaan berwarna ungu, melainkan kain linen sederhana. Dia tidak memilih tempat tidur emas dan nyaman, tetapi palungan batu yang tidak higienis.

Melihat keadaannya, kelahiran Yesus memang tidak terlalu mengesankan, tapi inilah yang membuat misteri Inkarnasi menyentuh hati setiap manusia. Dia tidak datang sebagai raja yang mendominasi dan otoriter seperti kaisar Agustus. Dia tidak datang sebagai pemimpin militer yang lihai seperti Julius Caesar. Dia tidak datang sebagai politikus yang cerdas seperti Herodes. Tuhan datang kepada kita sebagai bayi terlemah di tempat yang paling rendah. Dia adalah Tuhan yang sangat mengasihi kita, dan ingin merangkul bahkan kodrat kita yang lemah kita.

Natal mengingatkan kita bahwa Yesus menyertai kita ketika kita bergulat dengan kondisi ekonomi; Yesus menyertai kita saat kita tidak bisa bersama orang yang kita cintai. Yesus menyertai kita saat kita kehilangan anggota keluarga kita. Natal pertama menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan tidak selalu melepaskan kita dari penderitaan, tetapi Dia berjanji untuk selalu menyertai kita di saat-saat yang sulit ini.

Salah satu teman saya baru saja kehilangan ayahnya karena Covid-19. Hal ini adalah kematian yang tiba-tiba dan terlalu cepat. Yang membuatnya sangat menyakitkan adalah mereka tidak bisa memberikan perpisahan terakhir karena jenazah segera dikubur. Ketika saya memiliki kesempatan untuk berbicara dengannya, saya melihat dia sudah dapat menerima kepergian ayahnya. Sayapun menanyakan alasannya. Dia menceritakan kepada saya bahwa sebelum ayahnya dirawat di rumah sakit, dia dapat memberikan skapulir coklat kepada ayahnya. Dia juga mengetahui bahwa ayahnya meninggal ketika dia berdoa rosario. Dia percaya bahwa ayahnya tidak sendirian ketika dia meninggal, Tuhan menyertainya. Sungguh, Yesus adalah Imanuel, Tuhan beserta kita.

Selamat Natal!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: debby hudson

Sincere Pilgrimage

The Solemnity of the Epiphany of the Lord – January 5, 2020 – Matthew 2:1-12

They were overjoyed at seeing the star (Mat 2:10

three magiThe journey of the three wise men from the East embodies the deepest human longing for a meaningful life and true happiness. Balthazar, Melchior and Gaspar, as the tradition called them, were neither Jews nor baptized Christians. In Greek ancient manuscripts of the Gospel, the word used to describe them is ‘magos’, meaning ‘someone with magical power’ or ‘magicians’, and practicing magic is detestable in the eyes of the Jews (2 Cro 33:6). Though we cannot be sure what kind of magic they crafted, but one thing is sure that they read the sign of times and followed the star. Because of this, they were instantaneously accused as one of those astrologers, star-readers who predict the human behaviors and the future, but I would argue that they were actually early astronomers instead astrologers. Like ordinary seamen who gazed the stars and hoped that they would guide them home, the magi did look at the star and believed that they would navigate their way to the true end.

They were people heatedly called the “Gentiles”; people who knew nothing about God and His mighty acts; and people who would fatefully perish because they were far from God’s Law. Yet, God always turns His eyes toward those who are sincerely looking for Him. They became one among the first persons to whom God chose to reveal Himself, and together with them were the simple shepherds. Surprisingly, these people were not learned Jews, wealthy aristocrats and definitely not King Herod the great.

The journey of the wise men is rightly considered as a pilgrimage for a very simple yet essential reason: they have God as their end. It was not a recreational picnic to reenergize oneself. It was never an educational tour to add up knowledge. Surely, it was not a business trip to make one richer. The Gospel tells us they was searching for the “newborn King of the Jews” and intending to pay homage. But, why did they have to give utmost respect to this weak baby whereas there were a lot of powerful kings around them? It was because they were aware that this King was not a typical warlord nor a power-addict politician, but a King that would answer their heart’s desire: the fullness of life and true wisdom. They indeed looked for God Himself and this made them truly wise.

Deep inside us, there is always yearning for real happiness and genuine completeness. Yet, we are often like Herod the Great who boxed himself in his own man-made palace and we seek the answer within ourselves, in richness, power and bodily pleasure. This brings us nothing but frustration and emptiness. The pilgrimage of the three wise men from the east should be ours as well. The three magi give us an authentic example by looking the answer not in ourselves but in God, and only in Him we may find our joy.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Perziarahan Sejati

Hari Raya Epiphani – 5 Januari 2020 – Matius 2:1-12

three magi 2Perjalanan tiga orang bijak dari Timur menjadi symbol dari kerinduan terdalam manusia untuk kehidupan yang bermakna dan kebahagiaan sejati. Balthazar, Melchior dan Gaspar, sebagaimana tradisi menyebut mereka, bukanlah orang Yahudi ataupun Kristiani. Dalam naskah kuno Yunani dari Injil, kata yang digunakan untuk mendeskripsikan mereka adalah ‘magos’, yang berarti ‘seseorang dengan kekuatan magis’ atau ‘penyihir’, dan melakukan magis/sihir adalah kejahatan di mata orang-orang Yahudi (2 Taw 33:6). Meskipun kita tidak bisa memastikan apakah mereka sungguh penyihir apa bukan, satu hal yang pasti bahwa mereka membaca tanda-tanda zaman dan mengikuti sang bintang. Karena itu, mereka sering dituduh sebagai astrolog, pembaca bintang untuk memprediksi perilaku manusia dan masa depan, hal yang dilarang banyak agama, tapi saya berpendapat bahwa mereka sebenarnya adalah astronom. Seperti pelaut yang menatap bintang-bintang dan berharap bahwa bintang-bintang ini akan membimbing mereka pulang, orang majus ini juga melihat bintang dan percaya bahwa mereka akan berjalan di jalan yang benar.

Mereka adalah orang-orang yang disebut sebagai “bangsa-bangsa lain” atau “kafir”, orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang Tuhan, dan orang-orang yang dipercaya akan binasa karena mereka jauh dari Hukum Allah. Namun, Tuhan tidak akan menutup mata-Nya terhadap mereka yang dengan tulus mencari Dia. Sungguh, tiga majus ini menjadi salah satu dari antara orang-orang pertama kepada siapa Allah memilih untuk menampakan diri-Nya, dan bersama-sama dengan mereka adalah para gembala sederhana. Anehnya, orang-orang istimewa ini bukanlah orang Yahudi yang terpelajar, bangsawan kaya raya ataupun Raja Herodes yang agung.

Perjalanan dari orang-orang bijak secara tepat bisa kita dianggap sebagai sebuah perziarahan karena mereka memiliki Tuhan sebagai tujuan akhir mereka. Ini bukanlah sekedar piknik untuk menyegarkan diri sendiri. Ini bukanlah wisata pendidikan untuk menambah pengetahuan. Tentunya, ini bukanlah perjalanan bisnis untuk membuat mereka kaya. Injil menyatakan bahwa mereka mencari “Raja orang Yahudi yang baru lahir” dan berniat untuk memberi penghormatan. Namun, mengapa mereka harus memberikan hormat kepada bayi yang lemah ini sementara ada banyak raja-raja yang lebih berkuasa di sekitar mereka? Hal ini karena mereka sadar bahwa Raja ini bukanlah seorang panglima perang maupun politisi yang haus akan kekuasaan, tapi Raja yang akan memenuhi keinginan hati: sebuah kepenuhan hidup dan kebijaksanaan sejati. Mereka memang mencari Allah dan ini membuat mereka benar-benar bijaksana.

Jauh di dalam lubuk hati kita, selalu ada kerinduan untuk kebahagiaan sejati dan kepenuhan yang sempurna. Namun, kita sering seperti Herodes Agung yang mengunci dirinya sendiri di dalam istana buatan manusia karena kita mencari jawaban dalam diri kita sendiri, dalam kekayaan, kekuasaan dan kenikmatan sesaat. Hal ini hanya membawa kita pada kekosongan dan frustasi. Perziarahan tiga orang bijak dari timur harus menjadi perziarahan kita juga. Tiga orang majus ini memberi kita contoh otentik dengan melihat jawabannya tidak dalam diri kita sendiri tetapi hanya kepada Allah, dan hanya kepada-Nya kita dapat menemukan sukacita kita sejati.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP