Yesus, Damai Sejahtera Kita

Minggu ke-16 dalam Masa Biasa [B]

21 Juli 2024

Efesus 2:13-18

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Santo Paulus menyebut Yesus sebagai “Damai Sejahtera Kita”. Namun, mengapa Santo Paulus memberikan gelar yang aneh ini kepada Yesus? Apakah arti sebenarnya dari gelar ini? Dan, bagaimana gelar ini mempengaruhi iman kita?

Untuk memahami Paulus, kita juga harus memahami Perjanjian Lama. Bagaimanapun, Paulus pernah menjadi anggota kelompok Farisi, dan dengan demikian, bukan hanya seorang Yahudi yang taat tetapi juga terpelajar. Ketika Santo Paulus menyebut Yesus sebagai ‘damai sejahtera’, ia mengacu pada kurban atau persembahan perdamaian di Bait Allah Yerusalem. Persembahan perdamaian (dalam bahasa Ibrani, Shelomin) adalah salah satu kurban binatang yang diperintahkan oleh Tuhan kepada bangsa Israel melalui Musa (lihat Imamat 3). Ritual kurban yang dimulai dari zaman Musa ini terus berlangsung sampai bangsa Romawi menghancurkan Bait Suci Yerusalem pada tahun 70 Masehi, sekitar dua dekade setelah kemartiran Paulus. Sehingga Paulus sendiri tidak asing dengan kurban yang satu ini, dan bahkan pernah mempersembahkan kurban jenis ini.

Sesuai namanya, tujuan dari kurban ini adalah untuk perdamaian (rekonsiliasi) antara Tuhan, Allah Israel, dengan orang Israel yang telah bersalah kepada Tuhan. Namun, tidak seperti kurban jenis lain yang menekankan pada penghapusan dosa dan pelanggaran, seperti kurban penghapus dosa (Imamat 4) dan kurban penghapus salah (Imamat 5), kurban perdamaian berfokus pada hasil pengampunan Tuhan, yaitu perdamaian. Ketika manusia menyakiti hati Tuhan karena dosa-dosanya, manusia menjadi jauh dari Tuhan, bahkan seperti layaknya orang asing dan bahkan musuh. Ada permusuhan antara Tuhan dan manusia karena dosa, dan karena ada permusuhan, maka tidak ada damai. Namun, ketika orang tersebut diampuni, dan dosa-dosanya dihapuskan, persahabatannya dengan Tuhan dipulihkan, dan ada perdamaian antara Tuhan dan manusia. Kedamaian ini menyebabkan sukacita dan ucapan syukur. Persembahan perdamaian melambangkan sukacita pengampunan, ucapan syukur atas perdamaian yang telah dicapai.

Ketika Santo Paulus menyebut Yesus sebagai ‘damai sejahtera kita’, Santo Paulus mengenali bahwa Yesus mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban perdamaian di kayu salib. Yesus tidak hanya menghapus dosa-dosa kita, tetapi juga memperdamaikan kita dengan Bapa. Yesus adalah damai sejahtera karena Dia telah menghancurkan permusuhan kita dengan Allah, dan membawa kita kembali kepada Allah dalam persahabatan. Hanya di dalam Yesus, kita berdamai dengan Allah.

Namun, kurban perdamaian juga merupakan jenis kurban yang istimewa karena tidak dibakar seluruhnya (tidak seperti kurban bakaran, Imamat 1). Bagian yang berlemak dibakar karena itu untuk Tuhan, beberapa bagian lain dari hewan tersebut untuk dikonsumsi oleh para imam dan bagian lainnya untuk mereka yang mempersembahkan kurban. Dengan demikian, kurban perdamaian menjadi makanan yang dibagikan kepada semua orang. Kurban ini menjadi simbol perdamaian karena hanya orang-orang yang berdamai dengan satu sama lain yang dapat berbagi meja dan makanan yang sama.

Namun, yang lebih luar biasa lagi adalah Gereja Katolik memiliki kurban perdamaian ini. Sesungguhnya, persembahan perdamaian kita adalah Ekaristi. Dalam Ekaristi, Yesus dipersembahkan kepada Allah Bapa, dan kemudian, dikonsumsi tidak hanya oleh imam, tetapi juga oleh umat beriman yang berpartisipasi dalam perayaan tersebut. Yesus Kristus adalah damai sejahtera kita karena dalam Ekaristi, kita berpartisipasi dalam perjamuan yang sama dengan Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kuk Yesus

Minggu ke-14 dalam Waktu Biasa [A]

5 Juli 2020

Matius 11: 25-30

jesus carry crossDari dua hari Minggu sebelumnya, Yesus menunjukkan apa yang harus kita serahkan untuk menjadi murid-Nya. Dan hal-hal yang harus kita lepaskan demi Yesus sanggatlah sulit. Kita harus mengikuti Yesus ke mana pun Dia pergi. Kita harus mengasihi Yesus lebih dari yang lain bahkan orang tua kita. Kita harus siap untuk menderita, menanggung  kesulitan, memikul salib, dan menyerahkan hidup bagi Yesus. Pilihannya adalah Yesus atau tidak sama sekali. Namun, mengikuti Yesus tidak semua tentang kesulitan dan pengorbanan. Hari ini kita mendengarkan bahwa menjadi murid-Nya, kita menerima “hal-hal baik” yang hanya Yesus bisa berikan.

Injil Hari Ini adalah salah satu favorit pribadi saya. Di sini, Yesus menunjukkan sisi yang lain. Hari Minggu terakhir, kita menyaksikan Yesus, yang teguh dan teguh dalam mengikuti kehendak Bapa, dan Dia menuntut hal yang sama dari para murid-Nya. Sekarang, Dia menunjukkan diri-Nya sebagai orang yang lembut dan rendah hati. Dia bahkan berjanji untuk memberi kelegaan atau istirahat kepada mereka yang datang kepada-Nya. Namun, ada satu hal menarik dari apa yang Yesus katakan: bahwa untuk beristirahat, kita perlu memikul kuk Yesus. Kuk adalah alat yang diletakkan di atas bahu untuk membawa beban. Bagi Yesus, istirahat bukanlah membuang kuk. Kita perlu memikul kuk kita, tanggung jawab kita sehari-hari, dan misi dalam hidup. Namun, meski membawa kuk, justru kita akan mendapatkan kelegaan. Bagaimana mungkin?

Kita ingat bahwa Yesus adalah putra seorang tukang kayu dan dia sendiri seorang tukang kayu. Dia tahu betul bahwa kuk yang tidak pas di bahu hanya akan menambah beban dan membuat sakit. Namun, kuk yang dirancang sempurna dan pas dengan bahu akan terasa mudah dan bahkan nyaman diangkat. Ini adalah kuk Yesus, kuk yang cocok untuk kita masing-masing, karena Dia adalah tukang kayu yang baik.

Poin kedua adalah bahwa ada semacam kuk yang bisa dipikul oleh dua binatang secara bersamaan, atau kita sebut “kuk ganda.” Saya percaya bahwa ini adalah jenis kuk yang ditawarkan Yesus kepada kita. Mengapa kuk ganda? Karena kita tidak pernah sendirian membawa kuk ini, dan Yesus akan membawa kuk bersama kita. Dan ketika kita merasa lelah, itulah saatnya Dia mengambil alih dan kita menemukan istirahat dan kelegaan.

Dalam Injil Matius, Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk membawa dua hal di pundak mereka. Yang pertama adalah memikul salib [Mat 10:38], dan yang kedua adalah kuk [Mat 11:29]. Yesus tampaknya membuat hubungan nyata antara keduanya: kuk-Nya adalah salib kita. Jika ini benar, maka implikasinya sangat besar. Salib harian kita sebenarnya tidak seberat yang kita duga karena sangat cocok untuk kita dan bahkan, Yesus membawanya bersama kita. Saya percaya bahwa dalam banyak momen dalam hidup kita, Yesuslah yang membawa salib kita. Pada awalnya, Yesus terdengar sangat tegas dengan tuntutan-Nya yang hampir mustahil, terutama untuk memikul salib kita, tetapi melihat Injil kita lebih dalam, kita menyadari bahwa tidak hanya salib kita ini pas buat kita, Yesus juga yang memikul salib kita. Itulah alasan kenapa memanggul salib-Nya, kita menemukan istirahat dan penghiburan sejati.

Jika kita menemukan diri kita masih terbebani dan kelelahan dengan hidup kita, kita bisa bertanya: Apakah kita memikul salib Yesus atau salib yang lain? Apakah kita membawa kuk sendirian dan hanya mengandalkan kekuatan kita? Apakah kita memikul beban yang tidak perlu yang seharusnya diturunkan sejak lama?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus or Nothing

13th Sunday in Ordinary Time

June 28, 2020

Matthew 10:37-42

Processed with VSCO with p5 preset

In many cultures like Indonesia, Filipino, and Chinese, to honor our parents is of prime importance. In Indonesia, to highlight the value, a folklore “Malin Kudang” was taught even in elementary. In essence, Malin not only failed to respect his parents, but also deliberately ignored them. Thus, his mother cursed him into a stone. it is just unforgivable to disrespect someone who gave your life and raise you to life.

Respecting the parents is also one of the highest values for the Jewish people. What is remarkable is that they are not honoring their parents because it is something natural to do, but because it is a divine commandment. Going back to the Decalogue, to honor our mothers and fathers is, in fact, the fourth commandment, highest among the commandments regulating the human community. Even the Hebrew word used is “kabad”, which can mean “to honor” but may mean also to glorify. Thus, God instructed the Israelites and Christians as well not simply honor but to glorify our parents.

However, today’s Gospel tells us that Jesus demands even something unthinkable, that if we love our parents more than Jesus, we are not worthy of Him. Peter, Andrew, and John and the rest of the disciples have left their stable jobs and the comfort of their home to follow Jesus, but Jesus even lays down a more radical requirement. To follow Him is not just physically be present with Him, but the disciples have to give their total love for Jesus above everyone else. Who is this Jesus who requires His followers the love beyond our parents?

The answer is not that complicated. Jesus deserves all the love and loyalty we have simply because He is God. In Book of Deuteronomy [6:4-5], Moses instructed Israelites how to love and honor God, “Hear, O Israel! The Lord is our God, the Lord alone! Therefore, you shall love the Lord, your God, with your whole heart, and with your whole being, and with your whole strength.”

And how did Jesus know that His disciples love Him more than anybody else, and not merely lips service? As proof of their love, Jesus asks them to show this: “take up your cross and follow me!” In Jesus’ time, the cross is a most gruesome torture and execution method and is designed to prolong the agony. In essence, Jesus tells His disciples if they really love Him above all else, they need to be ready to endure prolonged suffering and even die a horrible death for Him. When we face Jesus, the choice is: all for Jesus or none at all.

Does it mean we shall stop loving our parents and children? Does it mean we no longer do good works for others and just stay in prayers for as long as we can? Not at all. Loving God above other things places us in the right perspective and orients us to the right destination. Now we may love others including our family for the love of God. It means that when we love them, we bring them closer to God. Now we may do our works and service for God, not for the sake of gaining personal benefits. When we work hard and we are blessed with success, the first thing we remember is to give praise to the Lord. And, if we encounter roadblocks in our lives or if we need to endure suffering, we are not losing hope because this is also an opportunity to love God even more.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus atau Tidak Sama Sekali

Minggu ke-13 dalam Masa Biasa

28 Juni 2020

Matius 10: 37-42

simon cyreneDalam banyak budaya seperti di Indonesia, Filipina dan Cina, menghormati orang tua kita adalah hal yang sangat penting. Di Indonesia, untuk mendidik nilai ini, cerita rakyat “Malin Kudang” diajarkan bahkan di sekolah dasar. Intinya, Malin tidak hanya gagal menghormati orang tuanya, tetapi juga sengaja mengabaikan ibunya yang sudah tua. Karena itu, dia dikutuk menjadi batu. Adalah sesuatu yang tidak termaafkan untuk tidak menghormati seseorang yang telah memberikan hidup kita dan mendidik kita untuk  hidup.

Menghargai orang tua juga merupakan salah satu nilai tertinggi bagi bangsa Yahudi. Yang luar biasa adalah bahwa mereka tidak menghormati orang tua mereka karena itu adalah sesuatu yang wajar untuk dilakukan, tetapi karena itu adalah perintah Ilahi. Kembali ke Sepuluh Perintah Allah, untuk menghormati ibu dan ayah kita sebenarnya adalah perintah keempat, tertinggi di antara perintah-perintah yang mengatur komunitas manusia. Bahkan kata Ibrani yang digunakan adalah “kabad”, yang dapat berarti “untuk menghormati” tetapi bisa juga berarti “memuliakan”. Karena itu, Tuhan memerintahkan baik orang Israel dan maupun umat Kristiani untuk tidak hanya menghormati tetapi juga untuk memuliakan orang tua kita.

Namun, Injil hari ini mengatakan bahwa Yesus menuntut bahkan sesuatu yang tidak terpikirkan, bahwa jika kita mengasihi orang tua kita lebih daripada Yesus, kita tidak layak bagi-Nya. Petrus, Andreas, dan Yohanes serta murid-murid lainnya telah meninggalkan pekerjaan mereka yang stabil dan kenyamanan rumah mereka untuk mengikuti Yesus, tetapi Yesus bahkan menetapkan persyaratan yang lebih radikal. Untuk mengikuti-Nya tidak hanya secara fisik hadir bersama-Nya, tetapi para murid harus memberikan kasih total mereka kepada Yesus di atas semua orang. Siapakah Yesus ini sehingga Dia patut menerima kasih para pengikut-Nya lebih dari orang tua kita?

Jawabannya tidak terlalu rumit. Yesus pantas mendapatkan semua cinta dan kesetiaan yang kita miliki hanya karena Dia adalah Allah. Dalam Kitab Ulangan [6:4-5], Musa menginstruksikan orang Israel cara untuk mengasihi dan menghormati Allah, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Hanya Allah yang layak menerima segalanya dari kita.

Dan bagaimana Yesus tahu bahwa murid-murid-Nya mengasihi Dia lebih dari yang lain, dan bukan hanya sekedar kata-kata saja? Sebagai bukti kasih mereka, Yesus meminta mereka untuk menunjukkan ini: “Pikullah salibmu dan ikuti aku!” Pada zaman Yesus, salib adalah metode penyiksaan dan eksekusi yang paling mengerikan, dan dirancang untuk memperpanjang penderitaan. Intinya, Yesus memberi tahu para murid-Nya jika mereka benar-benar mencintai-Nya di atas segalanya, mereka harus siap untuk menanggung penderitaan yang berkepanjangan dan bahkan mati bagi-Nya. Ketika kita menghadapi Yesus, pilihannya adalah: semua untuk Yesus atau tidak sama sekali.

Apakah itu berarti kita akan berhenti mencintai orang tua dan anak-anak kita? Apakah itu berarti kita tidak lagi melakukan pekerjaan baik untuk orang lain dan hanya berdoa selama yang kita bisa? Tentu saja tidak. Mengasihi Tuhan di atas hal-hal lain menempatkan kita dalam perspektif yang benar dan mengarahkan kita ke tujuan yang benar. Sekarang kita dapat mengasihi orang lain termasuk keluarga kita sebagai bentuk kasih kita  bagi Tuhan. Ini berarti bahwa ketika kita mencintai mereka, kita membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan. Sekarang kita dapat melakukan pekerjaan dan pelayanan kita untuk Tuhan, bukan demi mendapatkan keuntungan pribadi. Ketika kita bekerja keras dan kita diberkati dengan kesuksesan, hal pertama yang kita ingat adalah untuk memuji Tuhan. Dan, jika kita menghadapi hambatan dalam hidup kita atau jika kita perlu menanggung penderitaan, kita tidak kehilangan harapan karena ini juga merupakan kesempatan untuk lebih mengasihi sesama dan Tuhan lebih dalam.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Love and Hate

23rd Sunday in Ordinary Time [C] – September 8, 2019 – Luke 14:25-33

carrying crossToday we listen to one of Jesus’ hard sayings. If we want to follow Jesus, we need to hate our fathers, mothers, our other siblings, and even our own lives; otherwise we are not worthy of Him [Luk 14:25]. Is Jesus serious? Jesus must be kidding around. NO, he means what he says. So, how are we going to understand this hard saying? Jesus teaches love, mercy, and compassion, and the only thing He hates is a sin. Does Jesus change his mind and now turn to be the promoter of hatred? If we can hate our family, we now hate practically everyone. Is this what Jesus intending to say?

To answer this hard question, we need to comprehend also the broader context. Jesus is journeying towards Jerusalem, and He knows well what awaits Him in this city: crucifixion and death. There are crowds following Jesus because Jesus is a popular public figure. Many want to be healed, others wish to see Jesus’s miracles, and the rest just like to listen to His authoritative teachings. This is the crowd mentality: following something or someone because of our selfish interest. This is not true discipleship. This is entertainment.

Jesus understands this too well, and He needs to rebuke them that following Him is not entertainment. He makes them decide whether to remain as a crowd or to become disciples, to leave or to walk in His way of the cross. Yet, this kind of decision is only possible when we are not attached to things and persons we hold dear. We cannot carry our cross unless we are ready to give up our lives.

The question remains, though, is Jesus promoting hatred? One of Jesus’ favorite style in preaching is hyperbole, or to exaggerate to emphasize a point. For example, Jesus once says, “And if your eye causes you to sin, tear it out and throw it away [Matt. 18:9]” Of course, Jesus does not literally demand us to plug our eyes out, but He strongly underlines the severe consequences of sin. Thus, when Jesus speaks that we need to “hate” our parents and our lives, Jesus does not mean to promote hatred and violence. Jesus powerfully reminds the people that unless they love Jesus above all, we are not worthy to be His followers.

This has tremendous implications in our lives. Yes, we need to love our family, but we should love Jesus first, or we should love our parents in Jesus. It is just natural to cling to life, but this life only has true meaning when it is offered to Jesus. In marriage, the couple should love each other, but unless they love Jesus first, the marriage will simply be a social contract. It is the duty of the husband to lead his wife to love Jesus and the wife to follow Jesus together with her husband. It is also the primary duty of parents to teach their children to love God and His Law.

Jesus surely loves His mother, Mary and respect his foster father, Joseph, but it is clear to Jesus that His love for them is rooted and directed to His Father in heaven. It is true discipleship, that unless we hate our lives and everything else, we are not worthy of Him.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Cinta dan Benci

Minggu ke-23 dalam Waktu Biasa [C] – 8 September 2019 – Lukas 14: 25-33

carrying cross 2Hari ini kita mendengarkan salah satu ucapan keras Yesus. Jika kita ingin mengikuti Yesus, kita perlu membenci ayah, ibu, saudara kita, dan bahkan hidup kita sendiri; kalau tidak, kita tidak layak bagi-Nya [Luk 14:25]. Apakah Yesus serius? Yesus pasti bercanda!? TIDAK, Dia tidak bercanda dan sungguh-sungguh dengan apa yang Dia katakan. Jadi, bagaimana kita bisa memahami perkataan yang sulit ini? Yesus mengajarkan cinta kasih, belas kasihan, dan pengampunan, dan satu-satunya hal yang Ia benci adalah dosa. Apakah Yesus berubah pikiran dan sekarang berubah menjadi provokator kebencian? Jika kita bisa membenci keluarga kita, kita sekarang bisa membenci semua orang. Apakah ini yang ingin dikatakan Yesus?

Untuk menjawab pertanyaan sulit ini, kita perlu memahami juga konteks perkataan-Nya yang lebih luas. Yesus sedang melakukan perjalanan ke Yerusalem, dan Dia tahu benar apa yang menanti-Nya di kota ini: penyaliban dan kematian. Ada banyak orang yang mengikuti Yesus karena Yesus adalah public figure yang sangat populer. Banyak yang ingin disembuhkan, yang lain ingin melihat mukjizat Yesus, dan sisanya hanya ingin mendengarkan ajaran-Nya yang penuh kuasa. Ini adalah mentalitas kerumunan: mengikuti sesuatu atau seseorang karena kepentingan egois kita. Ini bukan murid-murid sejati. Ini adalah hiburan.

Yesus memahami hal ini dengan baik, dan Dia perlu menegur mereka bahwa mengikuti-Nya bukanlah hiburan. Dia membuat mereka memutuskan apakah akan tetap sebagai kerumunan atau menjadi murid, untuk pergi atau berjalan di jalan salib-Nya. Namun, keputusan semacam ini hanya mungkin terjadi ketika kita tidak terikat pada hal-hal dan orang yang kita sayangi. Kita tidak dapat memikul salib kita kecuali kita siap untuk menyerahkan hidup kita.

Pertanyaannya tetap, apakah Yesus mempromosikan kebencian? Salah satu gaya favorit Yesus dalam berkhotbah adalah hiperbola, atau melebih-lebihkan untuk menekankan suatu hal. Sebagai contoh, Yesus pernah berkata, “jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua. [Mat. 18: 9] ” Tentu saja, Yesus tidak secara harfiah menuntut kita untuk mencabut mata kita, tetapi Dia dengan kuat menggarisbawahi konsekuensi menyedihkan dari dosa. Jadi, ketika Yesus berbicara bahwa kita perlu “membenci” orang tua kita dan hidup kita, Yesus tidak bermaksud untuk mempromosikan kebencian dan kekerasan. Yesus dengan kuat mengingatkan orang-orang bahwa kecuali mereka mencintai Yesus di atas segalanya, kita tidak layak menjadi pengikut-Nya.

Ini memiliki implikasi yang luar biasa dalam kehidupan kita. Ya, kita perlu mencintai keluarga kita, tetapi kita harus mengasihi Yesus terlebih dahulu, atau kita harus mengasihi orang tua kita di dalam Yesus. Adalah wajar untuk berpegang teguh pada kehidupan, tetapi kehidupan ini hanya memiliki makna yang sebenarnya ketika ditawarkan kepada Yesus. Dalam pernikahan, pasangan harus saling mencintai, tetapi kecuali mereka mencintai Yesus terlebih dahulu, pernikahan itu hanya akan menjadi kontrak sosial. Adalah tugas suami untuk memimpin istrinya untuk mengasihi Yesus dan istri untuk mengikuti Yesus bersama suaminya. Adalah juga tugas utama orang tua untuk mengajar anak-anak mereka untuk mengasihi Allah dan Hukum-Nya.

Yesus pasti mencintai ibu-Nya, Maria dan menghormati ayah angkatnya, Yusuf, tetapi jelas bagi Yesus bahwa kasih-Nya bagi mereka berakar dan diarahkan kepada Bapa-Nya di surga. Adalah murid yang sejati yang mau membenci hidup kita dan segala hal lainnya demi Yesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

No Excuse

Thirteenth Sunday of the Ordinary Time [C] – June 30, 2019 – Luke 9:51-62

carrying cross 2Today we listen to one of the most demanding and perhaps harsh teachings of Jesus. For those who follow Him, He demands total allegiance, and He shall become no less than their top priority in life. In both Jewish and Christian tradition, to honor our parents is one of the highest commandments. In fact, it is not a mere honoring, but it is to glorify [Hebrew word used is “kabad”] our parents. But, when a man asks Jesus to bury his father, Jesus tells him, “Let the dead bury the dead.” To one who requests to say goodbye to his family, Jesus says, “No one who sets a hand to the plow and looks to what was left behind is fit for the kingdom of God.” Very harsh. Is this truly Jesus whose heart is moved with pity towards the poor people? Is Jesus no longer observing the Ten Commandments?

We may uncover the reason at the beginning of the Gospel reading. Jesus knows the time has come for Him to go to Jerusalem, and He has set His face toward this city that will persecute, torture, and kill Him. The way of the cross has begun, and for those who wish to follow Him, it is no longer the time to be amused by His miracles or to be inspired by His preaching. They who desire to follow Jesus, shall also carry their cross with Jesus, and to walk with Jesus to His Calvary, one cannot but surrender his life to Jesus and make Jesus’s mission as his utmost concern.

However, we need to clarify also Jesus’ remarks that may sound too harsh. When Jesus says, “Let the dead bury the dead,” most probably the parent of that man is still very much alive, and he wishes to follow Jesus after his parent passes away. A subtle excuse not to follow Jesus. When Jesus says, “No one who sets a hand to the plow and looks to what was left behind is fit for the kingdom of God,” Jesus is alluding to the story of Elijah who called Elisha to follow him [1 Kgs 19:19-21]. When a prophet calls, the one summoned must respond immediately. Otherwise, the opportunity is gone for good. Jesus also points to the story of Lot’s wife. When the city of Sodom and Gomorrah were destroyed by God, the angel instructed Lot and his family to run and not to look back, and yet, his wife looked back. She became the pillar of salt [Gen 19:26]. Someone cannot effectively follow God’s words and new life in Christ if he always looks back and attaches himself to the past. Jewish farmers also know well the irony that when one plows the soil and keeps looking back at the result, he will just ruin the entire field. It is when one is focused and determined in his goal and decision, he will get the best result.

There is a story of an angel who appears to John. The angel said, “John, God calls you to serve Him.” John said, “Not now, I am still 18, and I want to focus on my study.” Then, the angel came again after some years. John said, “Not now, I am just 30, and I have my career.” Then, the angel appeared again after some year. John said, “Not now. I am just 40, and I have my family.” Then, the angel returned for the last time when John was 70. John said, “Now, I am ready to answer God’s calling.” The angel responded, “Yes, God calls you, but not to serve Him, but to see Him!”

A Christian who has a lot of excuses for Jesus is not a real Christian. It is only when we follow Him with determination, walk on His way of the cross without excuse, make Him as our top priority, we can humbly say that we are His disciples.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tanpa Melihat ke Belakang

Minggu Ketiga Belas pada Masa Biasa [C] – 30 Juni 2019 -Lukas 9: 51-62

carrying cross 3Hari ini kita mendengarkan salah satu ajaran Yesus yang paling sulit dimengerti dan diikuti. Bagi mereka yang ingin mengikuti Yesus, Dia menuntut kesetiaan total, dan menjadi prioritas utama mereka dalam hidup. Baik dalam tradisi Yahudi maupun Kristiani, untuk menghormati orang tua kita adalah salah satu perintah tertinggi dalam Sepuluh Perintah Allah. Tetapi, ketika seseorang meminta Yesus untuk menguburkan ayahnya, Yesus mengatakan kepadanya, “Biarkan orang mati menguburkan orang mati.” Kepada orang yang meminta untuk mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya, Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Tidak terbayangkan! Apakah ini benar-benar Yesus yang hatinya tergerak oleh belas kasihan kepada orang-orang miskin? Apakah Yesus tidak lagi memperhatikan Sepuluh Perintah? Bagaimana kita bisa mengerti kata-kata Yesus yang keras ini?

Kita dapat mengungkap jawabannya di awal pembacaan Injil hari ini. Yesus tahu waktu-Nya telah tiba bagi-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Dia telah mengarahkan wajah-Nya ke kota ini yang akan menganiaya, menyiksa, dan membunuh-Nya. Jalan salib Yesus telah dimulai, dan bagi mereka yang ingin mengikuti-Nya, bukan lagi waktunya untuk terhibur oleh mukjizat-mukjizat-Nya atau terinspirasi oleh khotbah-khotbah-Nya. Mereka yang berhasrat untuk mengikuti Yesus, juga harus memikul salib mereka bersama Yesus, dan berjalan bersama Yesus ke Kalvari. Mereka tidak bisa tidak menyerahkan hidup mereka kepada Yesus dan menjadikan misi Yesus sebagai perhatian utama mereka.

Namun, kita perlu mengklarifikasi juga ucapan Yesus yang mungkin terdengar terlalu keras. Ketika Yesus berkata, “Biarkan orang mati menguburkan yang mati,” orang tua dari yang bersangkutan sebenar masih hidup, dan dia ingin mengikuti Yesus setelah orang tuanya meninggal, yang tidak tahu kapan akan terjadi. Ini menjadi sebuah alasan halus untuk tidak mengikuti Yesus. Ketika Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Yesus sebenarnya mengingatkan para pendengar-Nya tentang kisah Elia yang memanggil Elisa untuk mengikutinya [1Raj 19:19 -21]. Ketika seorang nabi memanggil, orang yang dipanggil harus segera merespons. Kalau tidak, kesempatan itu hilang untuk selamanya. Yesus juga menunjukkan kisah istri Lot. Ketika kota Sodom dan Gomora dihancurkan oleh Tuhan, malaikat itu memerintahkan Lot dan keluarganya untuk lari dan tidak melihat ke belakang, namun, istrinya melihat ke belakang. Dia menjadi tiang garam [Kej 19:26]. Seseorang tidak dapat secara efektif mengikuti kata-kata Tuhan dan memiliki kehidupan baru di dalam Kristus jika dia selalu melihat ke belakang dan melekatkan dirinya pada masa lalu. Para petani Yahudi juga tahu betul ironi bahwa ketika seseorang membajak tanah dan terus melihat ke belakang untuk mengecek hasilnya, dia hanya akan merusak seluruh ladang. Ketika seseorang fokus dalam tujuan dan keputusannya, ia akan mendapatkan hasil terbaik.

Ada kisah tentang seorang malaikat yang menampakkan diri kepada John. Malaikat itu berkata, “John, Tuhan memanggilmu untuk melayani Dia.” John berkata, “Tidak sekarang, aku masih 18 tahun, dan aku ingin fokus pada studiku.” Kemudian, malaikat itu datang lagi setelah beberapa tahun. John berkata, “Jangan sekarang, aku hanya 30, dan aku punya karier.” Kemudian, malaikat itu muncul lagi setelah beberapa tahun. John berkata, “Jangan sekarang. Saya baru berusia 40 tahun, dan saya punya keluarga. ”Kemudian, malaikat itu kembali untuk terakhir kalinya ketika Yohanes berusia 70 tahun. Yohanes berkata,“ Sekarang, saya siap untuk menjawab panggilan Tuhan.” Malaikat itu menjawab, “Ya, Tuhan memanggil kamu, tetapi tidak untuk melayani Dia, tetapi untuk menghadap Dia di surga!”

Seorang Kristiani yang memiliki banyak alasan untuk tidak mengikuti Yesus, dia bukanlah seorang Kristiani sejati. Hanya ketika kita mengikuti Dia dengan tekad, berjalan di jalan salib-Nya tanpa alasan, menjadikan Dia sebagai prioritas utama kita, kita dapat dengan rendah hati mengatakan bahwa kita adalah murid-murid-Nya.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Salib dan Kemuliaan

Minggu Paskah ke-7 [2 Juni 2019] Yohanes 17: 20-26

“Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.” (Jn. 17:22)

Jesus christ in heavenAda tiga respons terhadap kesulitan dalam hidup. Yang pertama adalah menghindari atau melarikan diri. Yang kedua adalah menyerah pasrah. Yang terakhir adalah merangkul dan mengubahnya menjadi sarana pertumbuhan dan kemuliaan kita. Ini adalah kemuliaan yang  tidak murahan karena mengalir dari kesulitan, kerja keras dan pengorbanan. Ini adalah kemulian sejati karena tidak bisa dibeli dengan uang tetapi diperoleh dari kucuran keringat, air mata dan bahkan darah.

Adalah dorongan alami dalam diri manusia untuk menghindari apa yang menyakitkan dan untuk mengambil apa yang menyenangkan. Namun, paradoksnya adalah bahwa semakin kita merangkul kesulitan hidup, kita semakin didewasakan dan dikuatkan. Inilah kebijaksanaan yang telah diakui oleh orang-orang tempo dulu. Spartan adalah salah satu bangsa terkuat di semenanjung Yunani kuno. Ini karena mereka melatih anak-anak mereka dalam kesulitan. Pada usia 7 tahun, anak laki-laki diambil dari orang tua mereka dan menjalani pelatihan intens di barak sampai mereka mencapai usia 20 tahun. Salah seorang Spartan yang paling terkenal adalah Leonidas, raja kota Sparta. Saat Persia menyerang semenanjung Yunani, dia bersama dengan 300 prajurit pilihannya menahan pasukan Persia yang jauh lebih unggul selama tiga hari di Thermopylae. Ketika mereka kehilangan pertahanan mereka, Leonidas menolak untuk mundur, dan dengan 300 pasukannya mengorbankan nyawa mereka untuk memberi waktu yang cukup bagi orang-orang Yunani untuk berkumpul kembali dan melancarkan serangan balik. Leonidas menerima kemuliaan bukan karena kedudukannya sebagai raja, tetapi ia mau berkorban.

Kebijaksanaan ini mengajarkan bahwa kita jangan lari dari kesulitan hidup tetapi merangkul mereka dan membiarkan diri kita menjadi lebih kuat dan dewasa. Kalau tidak, kita bisa berubah menjadi generasi yang lembek dan tidak tahu berterima kasih. Para siswa tidak dapat menguasai keterampilan dan memperoleh pengetahuan sejati kecuali mereka tunduk pada disiplin studi. Atlet tidak dapat memenangkan medali, kecuali mereka berlatih dengan sangat intens.

Dalam Injil hari ini, Yesus menjanjikan kita, para murid-Nya, sebuah kemuliaan. Namun, ada perbedaan antara kemuliaan dunia dan kemuliaan Yesus. Sementara kemuliaan dunia pada akhirnya adalah tentang kemuliaan, kesuksesan dan keberhasilan pribadi kita, kemuliaan Yesus adalah tentang salib. Terutama dalam Injil Yohanes, waktu kemulian Yesus menunjuk pada salib-Nya. Yesus tidak pernah berbicara tentang Dia disalibkan, tetapi Dia dimuliakan.

Ketika Yesus menganggap salib-Nya sebagai kemuliaan-Nya, maka kita perlu menganggap salib harian kita sebagai kemuliaan kita. Pada zaman Yesus, tidak seorang pun akan menganggap bahwa salib, alat penyiksa Romawi yang brutal, akan berubah menjadi jalan kemuliaan. Salib adalah sebuah absurditas, dan hanya karean kehadiran Yesus yang mengorbankan hidup-Nya untuk kita, salib menemukan makna terdalamnya. Salib bukanlah apa-apa, kecuali itu diarahkan sebagai saran kasih cinta pengorbanan. Kapasitas kita untuk mengasihi ditentukan oleh kemampuan kita untuk memikul salib kita yakni kemampuan kita untuk menderita. Kita memikul salib kita, itu memperbesar kemampuan kita untuk mencintai. Saat kita mencintai sampai akhir, kita dapat menerima kemuliaan kita.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP