Kebodohan

Minggu ke-32 di Masa Biasa

8 November 2020

Matius 25: 1-13

Upacara pernikahan adalah salah satu acara terindah di banyak budaya dan masyarakat. Ini termasuk di masyarakat Yahudi di Palestina abad pertama Masehi. Bagi orang Ibrani yang hidup pada zaman Yesus tersebut, upacara pernikahan memiliki dua tahap. Yang pertama adalah pertukaran janji. Pasangan tersebut sudah menikah secara resmi, dan mereka diakui sebagai suami dan istri di mata komunitas Yahudi. Namun, mereka akan menunggu sekitar satu tahun sebelum mereka bisa hidup bersama. Sang suami akan mempersiapkan rumah mereka serta perayaan pesta nikah yang mungkin berlangsung selama 7 hari lamanya.

Tahap kedua adalah pesta pernikahan. Ini dimulai dengan pengantin pria menjemput sang istri dari rumah keluarganya, dan membawanya ke rumahnya dengan prosesi tarian dan musik. Karena prosesi biasanya berlangsung pada malam hari, api dan obor sangat diperlukan. Sepuluh gadis ini adalah mungkin beberapa teman dekat dari pengantin wanita dan bahkan kerabat dari pasangan tersebut. Mereka ditempatkan tidak jauh dari tempat pernikahan untuk menyambut pasangan suami istri tersebut. Karena tidak ada internet dan GPS, kesepuluh perawan mungkin tidak dapat mengetahui posisi prosesi tersebut dengan tepat, tetapi mereka diharapkan siap kapanpun pasangan ini datang.

Mari kita perhatikan sikap dari lima gadis yang bodoh ini. Dalam bahasa Yunani, kelima gadis ini disebut “moros” di mana kita mendapatkan kata dalam bahasa Inggris “moron”. Itu pasti kata yang keras. Namun, jika kita amati dengan seksama, apa yang dilakukan perawan ini sungguh bodoh dan ceroboh. Bukan hanya gagal mempersiapkan kedatangan pengantin, mereka juga mencari minyak di tengah malam. Mereka tidak hidup di era modern di mana kita dapat dengan mudah membeli barang-barang di toko seperti indomart atau alfamart. Kita bisa membayangkan bagaimana mereka dengan tergesa-gesa mencari pedagang, dan dengan panik mengetuk pintu toko atau rumah mereka. Hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan bahkan kegaduhan yang tidak perlu dan menimbulkan rasa malu bagi sang pasangan. Ini mungkin juga menjadi alasan mengapa tuan rumah menolak untuk menerima lima gadis bodoh ini.

Perumpamaan Yesus ini memberi kita peringatan yang kuat untuk tidak menjadi bodoh dalam menjalani hidup kita sebagai orang Kristiani. Kita diberi peran dan misi tertentu dalam hidup kita. Beberapa dari kita dipanggil untuk menjadi pasangan suami-istri dan orang tua, dan beberapa dari kita melayani sebagai imam atau rohaniawan seperti para suster. Beberapa dari kita adalah pendidik iman, beberapa dari kita adalah pemimpin komunitas dan yang lainnya terlibat dalam berbagai pelayanan. Dalam peran apapun kita miliki, Yesus meminta kita untuk bijak dalam melakukan hidup dan pelayanan kita, dan menuntut kita untuk tidak melakukan hal-hal bodoh dan bahkan menyebabkan penderitaan yang tidak perlu bagi orang lain.

Jika kita, sebagai orang Kristiani, bertindak bodoh, kita tidak hanya mempermalukan diri kita sendiri, tetapi juga Kristus sendiri. Tapi, jika kita menghasilkan perbuatan bijak, kita membawa kemuliaan bagi Tuhan, dan lebih banyak orang akan memuji Tuhan kita.

St. Josemaria Escriva pernah berkata, “wajah murung, tidak sopan, tampil konyol, tidak ramah. Itukah caramu berharap untuk mengispirasi orang lain untuk mengikuti Kristus?”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Commandments

30th Sunday of the Ordinary Time [A]

October 25, 2020

Matthew 22:34-50

The question is, “what is the greatest law?” Once again, the historical and religious context is important. When Jesus and the Pharisees discuss the Law, they are speaking about particular Law. It is neither criminal law nor international law. It is the Law of Moses, the Torah, which points to Moses’s five books. According to the tradition of the Rabbis, the Torah contains 613 specific laws. Thus, the Pharisee is questioning Jesus on the most important among 613 commandments.

For the Jewish people, the answer is not difficult and even expected. The most fundamental law among the laws is the Ten Commandments. It is the first set of laws given to Israelites through Moses in Sinai. The traditional belief holds that the Ten Commandments are traditionally by order of importance, meaning the first is the most essential, and the last is the least essential. Therefore, the first among the Ten Commandments is the greatest among the 613. It says, “I am the Lord your God… there is no other God beside me [Exo 20:2-3].”

However, Jesus escapes the expectation and reconstructs His own answer that will be the moral foundation of Christianity. Jesus’ answer is, “You shall love the Lord, your God, with all your heart, with all your soul, and with all your mind…You shall love your neighbor as yourself.” Though the answer is unusual, it remains orthodox because the source is also the Law of Moses. To love the Lord with our all is rooted in the Jewish basic prayer “Shema” [see Deu 6:4-6], and to love our neighbors as ourselves is springing up from the book of Leviticus [19:18]. What Jesus does is He radically changes the orientation of the Law of Moses. Instead of limiting ourselves to the prohibitions of the Ten Commandments, Jesus sets love as its direction. Love is seeking the goodness of the beloved, and love never stops until we are united to our beloved. To obey the 10 Commandments is foundational, but that is the minimum, and Jesus teaches us not to stay at the boundaries but to go beyond till we are united with God and others in God.

Before, I thought the commandment of Jesus was nice and lovely words. I love God by going to the Church every Sunday, especially during Christmas and Easter, and I love others by occasionally helping them or giving a donation to the poor. But I realize something a bit off. Jesus never says, “this is my greatest recommendation or advice.” What Jesus tells us, “This is the greatest commandments!” Law is meant to be obeyed, and here, we are dealing with the biggest laws! To love the Lord with our all is not optional. It is a must, and to love our brothers and sisters is not based on our convenience, but it is a divine obligation. To love God, neither not a part-time job nor to love our neighbors is our pastime. It is either all or nothing. That is Jesus’ greatest commandments.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo: josh Appel

Perintah Terbesar Yesus

Minggu ke-30 di Waktu Biasa [A]

25 Oktober 2020

Matius 22: 34-50

Pertanyaannya adalah “Apakah Hukum yang terutama?” Sekali lagi, untuk mengerti pertanyaan ini konteks historis dan religius sangat penting. Ketika Yesus dan ahli Hukum Taurat membahas tentang Hukum yang terutama, mereka berbicara tentang Hukum Taurat yang paling utama. Hukum Taurat sendiri menunjuk pada lima kitab Musa [Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan] dan sangat banyak peraturan ada di sana. Menurut tradisi para rabi, Taurat berisi 613 hukum. Jadi, orang Farisi sedang menguji Yesus tentang yang paling penting di antara 613 perintah.

Bagi orang-orang yang mengerti Taurat, jawabannya sebenarnya tidak sulit, dan mungkin kita juga sudah tahu jawabannya. Hukum yang paling mendasar di antara hukum-hukum itu adalah Sepuluh Perintah Allah. Ini adalah hukum pertama yang diberikan kepada orang Israel melalui Musa di Gunung Sinai. Sepuluh Perintah Allah sendiri diurutkan berdasarkan tingkat keutamaannya, yang berarti yang pertama adalah yang paling esensial, dan yang terakhir adalah yang tidak terlalu esensial. Oleh karena itu, yang pertama di antara Sepuluh Perintah adalah yang terbesar di antara 613 hukum. Perintah pertama berbunyi, “Akulah Tuhan, Allahmu … tidak ada Allah lain selain Aku [Kel 20: 2-3].”

Namun, Yesus tidak ingin terkurung dari jawaban standar yang sudah ada, dan merekonstruksi jawaban-Nya sendiri yang akan menjadi dasar moral Gereja. Jawaban Yesus adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap pikiranmu … Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Meskipun jawabannya tidak biasa, tetapi tetap ortodoks karena sumbernya juga adalah Hukum Musa. Untuk mengasihi Tuhan dengan segala yang kita miliki, sebenarnya berakar pada doa dasar Yahudi “Shema” [lihat Ulangan 6: 4-6], dan untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri, juga mengalir dari kitab Imamat [19:18]. Apa yang Yesus lakukan adalah Dia secara radikal mengubah orientasi Hukum Musa. Alih-alih membatasi diri pada Sepuluh Perintah yang bersifat larangan, Yesus menetapkan kasih yang proaktif sebagai arahannya. Kasih mencari kebaikan yang dikasihi, dan kasih tidak pernah berhenti sampai kita bersatu dengan yang kita kasihi. Mematuhi 10 Perintah adalah dasar, tapi itu minimum. Yesus mengajarkan kita untuk tidak sekedar memenuhi yang minimum, tetapi untuk aktif memenuhi kehendak Allah sampai kita bersatu dengan Tuhan dan sesama di dalam Tuhan.

Sebelumnya, saya berpikir bahwa perintah Yesus adalah kata-kata yang indah dan imut. Saya mengasihi Tuhan dengan pergi ke Gereja setiap hari Minggu, terutama selama Natal dan Paskah, dan saya mengasihi sesama dengan sesekali membantu mereka atau memberi sumbangan kepada orang miskin. Tapi saya menyadari bahwa Yesus tidak pernah berkata, “ini adalah saran, anjuran atau nasihat terbesar saya.” Apa yang Yesus katakan kepada kita, “Ini adalah perintah yang terutama!” Hukum dimaksudkan untuk ditaati, dan di sini, kita berurusan dengan hukum terbesar! Untuk mengasihi Tuhan dengan segenap diri kita bukanlah pilihan, itu adalah suatu keharusan, dan untuk mengasihi saudara dan saudari kita tidak didasarkan pada kenyamanan kita, tetapi itu adalah kewajiban ilahi. Mengasihi Tuhan itu bukan pekerjaan paruh waktu atau mengasihi sesama kita bukanlah hobi. Ini adalah perintah terbesar Yesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo: Anna Earl

Caesar or God?

29th Sunday in Ordinary Time

October 18, 2020

Matthew 22:15-21

To understand today’s Gospel, we need to make time travel to the time of Jesus. The Jewish people in the first century AD Palestine were not free people, and they were subject to the Roman empire. Being subjects, they were required to submit heavy taxes. This money would eventually use to pay the army that maintained “the security” of Palestine. Naturally, paying taxes was one of the most irritating and politically charged issues. “Why should I pay for my own oppression?”

The issue of paying taxes is even more sensitive since the coin used for the transaction is bearing the image of Caesar. Not only having the graven face of Caesar, around the image, but there was also an inscription that said “Tiberivs Caesar Divi Avgvsti Filivs Avgvstvs (Caesar Augustus Tiberius, son of the Divine Augustus).” The coin was simply blasphemous for the Jews who recognized that there is no god, but the Lord God.

With this background, the Pharisees were plotting to trap Jesus with an extremely dilemmatic question: “should we pay tax to Caesar?” If Jesus nodded, He would be considered a traitor for many Jewish nationalists and an idol-worshipper to pious Israelites. But, if Jesus voted negatively, He would be immediately labeled as a rebel and face the wrath of the Romans. However, it was never wise to test Jesus, because it would never be successful. Again, Jesus did not only escape the dilemma wisely but also taught a profound lesson for everyone.

He took a Roman coin and showed that it has an image of Caesar. Then, He said, “render to Caesar what belongs to Caesar…” The basis of ownership is the presence of “image.” The coin belongs to Caesar because it has his image. Thus, paying tax is simply giving back to the coins that since the beginning belongs to Caesar and the Roman Empire.  Yet, Jesus did not stop there. He taught also, “render to God what belongs to God.” And what belongs to God? The answer is those who possess the image of God. Going back to the Genesis 1:26, we discover that we were created in the image of God, and therefore, we belong to God.

Here, Jesus was not dodging the Pharisees’ bullet, but teaching a fundamental truth about who we are and where we are going. We were created in the image of God, not in the image of cellular phone, not of money, not of trophies. While they may offer instant pleasure, not of these things will ever grant us true happiness. Only God can truly fulfill our deepest longing. While these things are naturally good and can be beneficial, they are mere means to achieve our true end, God Himself. We might be preoccupied with pursuing wealth, popularity, or influence, but what is the point when we lose our final purpose?

St. Ignatius of Loyola in his Spiritual Exercises reminds us that, “Man is created to praise, reverence, and serve God our Lord, and by this means to save his soul. The other things on the face of the earth are created for man to help him in attaining the end for which he is created…Therefore, we must make ourselves indifferent [detached] to all created things… Our one desire and choice should be what is more conducive to the end for which we are created”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk Kaisar atau Untuk Tuhan?

Minggu ke-29 di Masa Biasa

18 Oktober 2020

Matius 22: 15-21

Untuk memahami Injil hari ini, kita perlu melakukan perjalanan waktu ke zaman Tuhan Yesus. Orang-orang Yahudi pada abad pertama Masehi Palestina bukanlah orang-orang merdeka, dan mereka tunduk pada kekaisaran Romawi. Sebagai penduduk jajahan, mereka diharuskan membayar pajak yang cukup berat. Uang ini pada akhirnya akan digunakan untuk membayar tentara yang menjaga “keamanan” di Palestina. Tak ayal, membayar pajak adalah salah satu hal yang paling dibenci dan menimbulkan gejolak. “Mengapa saya harus membayar untuk penindasan saya sendiri?”

Masalah pembayaran pajak bahkan lebih sensitif karena koin yang digunakan untuk transaksi memiliki gambar atau citra Kaisar. Tidak hanya berukir wajah Caesar, di sekitar gambar, ada tulisan, “Tiberivs Caesar Divi Avgvsti Filivs Avgvstvs (Kaisar Augustus Tiberius, putra Augustus yang ilahi).” Koin itu menjadi semacam hujatan kepada orang-orang Yahudi yang mengakui bahwa tidak ada tuhan, selain Tuhan Allah.

Dengan latar belakang ini, orang Farisi berencana untuk menjebak Yesus dengan pertanyaan yang sangat dilematis: “haruskah kita membayar pajak kepada Kaisar?” Jika Yesus mengangguk, Dia akan dianggap sebagai pengkhianat bagi banyak nasionalis Yahudi dan penyembah berhala bagi orang Israel yang saleh. Tetapi, jika Yesus menggelengkan kepala, Dia akan segera dicap sebagai pemberontak dan menghadapi murka orang Romawi. Namun, tidak pernah bijaksana untuk menguji Yesus, karena itu tidak akan pernah berhasil. Sekali lagi, Yesus tidak hanya lolos dari dilema dengan bijaksana tetapi juga memberikan pelajaran yang mendalam bagi semua orang.

Dia mengambil koin Romawi dan menunjukkan bahwa koin itu memiliki citra Kaisar. Kemudian, Dia berkata, “berikan kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar …” Dasar kepemilikan adalah kehadiran “citra.” Koin itu milik Kaisar karena memiliki citra Kaisar. Jadi, membayar pajak sejatinya bentuk pengembalian koin yang sejak awal adalah milik Kaisar dan Kekaisaran Romawi. Namun, Yesus tidak berhenti sampai di situ. Dia juga mengajarkan, “berikan kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan.” Dan apakah yang menjadi milik Tuhan? Jawabannya adalah hal-hal yang memiliki citra Tuhan. Kembali ke Kejadian 1:26, kita menemukan bahwa kita diciptakan menurut citra Allah, dan oleh karena itu, Yesus ingin menunjukan bahwa kita adalah milik Allah.

Di sini, Yesus tidak hanya menghindari serangan orang Farisi, tetapi mengajarkan kebenaran mendasar tentang siapa kita dan ke mana kita akan pergi. Kita diciptakan menurut citra Tuhan, bukan citra HP, bukan uang, bukan juga piala. Meskipun mereka mungkin menawarkan kesenangan instan, hal-hal ini tidak bisa memberi kita kebahagiaan sejati. Hanya Tuhan yang benar-benar dapat memenuhi kerinduan kita yang terdalam. Meskipun hal-hal ini secara alami baik dan dapat bermanfaat, mereka hannyalah sarana untuk mencapai tujuan sejati kita, Tuhan sendiri. Kita mungkin sibuk mengejar kekayaan, popularitas atau pengaruh, tetapi apa gunanya kita kehilangan Tuhan?

St Ignatius dari Loyola dalam Latihan Rohaninya mengingatkan kita bahwa, “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, dan melayani Tuhan, dan dengan cara-cara inilah manusia menyelamatkan jiwanya. Hal-hal lain di muka bumi diciptakan bagi manusia untuk membantunya dalam mencapai tujuan penciptaannya… Oleh karena itu, kita harus membuat diri kita sendiri tak terikat terhadap semua ciptaan… Satu keinginan dan pilihan kita haruslah jatuh pada hal-hal yang lebih kondusif untuk mencapai tujuan penciptaan kita.”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Stumbling Stone

22nd Sunday in Ordinary Time [A]

August 30, 2020

Matthew 16:21-27

first communion 1Last Sunday, we listen to the confession of Peter on the true identity of Jesus. Here, Simon received a new name, the keys of the kingdom and the authority to bind and to loosen. He became the prime minister of the kingdom, the first pope. However, today, we witness the dramatic turn around. When Jesus foretold about His incoming passion, Simon reactively put his Master aside, and rebuked Him. As a response, Jesus expressed harshly,
“Get away behind me, Satan! You are a stumbling stone to me!”

Last episode, Simon was Peter, and today, Simon is “Satan.” Last week, Simon was the foundational rock, and today, Simon is the stumbling stone. Previous story, Simon was inspired by the Holy Spirit, and now, he is thinking his self-interest.

To call Simon that he was “Satan” is unexpected, but not uncalled-for. Perhaps Jesus would like to point out that Peter’s action was influenced by the devil himself.  Often, we think that the evil spirits influence us in the case of diabolic possessions, but in reality, diabolic possessions are an extraordinary way of attacking us. There is an ordinary way: it is through temptations and inducing ideas that oppose to the plan of God. The real battle takes place not so much in the possession of our bodies, but of our minds and souls.

Peter is also called as the stumbling stone, and in Greek, it is “scandalon.” Last Sunday, he was given a new identity, Peter, the foundation rock, but now, he turns to be a stumbling stone. Both are stone, but two opposing purposes. The foundation rock is to support the Church and God’s will, but the stumbling stone is to stop or at least, to obstruct and slow down God’s will. Jesus has set his eyes on Jerusalem, to offer His life as sacrifice on the cross and gloriously rise from the death. Yet, Simon, the stumbling stone, tried to oppose and prevent Jesus from fulfilling His Father’s will. Interesting enough, the word “Satanas” in Greek, may mean ‘the adversary.’  Simon becomes the adversary against Jesus’ mission.

Last week, I reflect on the mission of Simon Peter and how we become little Peters as God calls us for particular vocation and service despite our unworthiness. However, Jesus tells us that the real hindrance to our mission is not our weakness and unworthiness, but our selfish interest and agenda. Instead saying, “Your will be done,” we shout, “My will be done.” This is the devil’s game plan, that we put ourselves first, rather than God. Some of us are ordained priests, yet instead serving the people with dedication, we are busy to seek comfort and amass fortune for ourselves. Some of us are parents, yet instead bringing our children to God, we are preoccupied in chasing our own ambitions and careers.

Thus, Jesus makes a bold reminder, “what is the point of gaining the whole world and yet losing our souls?” At the gate of heaven, St. Simon Peter will ask us, “Have you been a stumbling stone to God’s will or have your been a foundation rock to His plan?”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Batu Sandungan

Minggu ke-22 di Waktu Biasa [A]

30 Agustus 2020

Matius 16: 21-27

FILE PHOTO POPE FRANCIS BAPTIZES BABY VATICAN
 (CNS photo/Vatican Media)

Minggu lalu, kita mendengarkan pengakuan Petrus tentang identitas Yesus sebagai Kristus, Putra Allah yang hidup. Simon menerima nama baru dan kunci kerajaan surga. Ia menjadi perdana menteri kerajaan Allah, dan paus pertama. Namun, hari ini, kita menyaksikan perubahan dramatis. Ketika Yesus menubuatkan tentang sengsara-Nya, Simon secara reaktif menarik gurunya ke samping, dan menegur-Nya. Sebagai tanggapan, Yesus menyatakan dengan keras, “Enyahlah Setan. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku…! ”

Minggu lalu, Simon adalah Petrus, dan hari ini, Simon adalah “Setan”. Minggu lalu, Simon adalah batu fondasi, dan hari ini, Simon adalah batu sandungan. Minggu lalu, Simon diilhami oleh Roh Kudus, dan sekarang, dia memikirkan kepentingan dirinya sendiri.

Menyebut Simon  sebagai “Setan” adalah hal yang tidak terduga, tetapi juga sesuatu hal yang menarik di dalami. Mungkin Yesus ingin menunjukkan bahwa tindakan Petrus dipengaruhi oleh setan itu sendiri. Sering kali, kita berpikir bahwa roh jahat mempengaruhi kita dalam bentuk-bentuk kerasukan setan, tetapi kenyataannya, kerasukan setan adalah cara yang luar biasa untuk menyerang kita. Ada cara yang biasa: melalui godaan dan mendorong ide-ide yang bertentangan dengan rencana Tuhan. Pertempuran yang sebenarnya terjadi bukan dalam hal kepemilikan tubuh kita, tetapi dalam pikiran dan jiwa kita.

Petrus juga disebut sebagai batu sandungan, dan dalam bahasa Yunani “skandalon”. Minggu lalu, dia diberi identitas baru, Petrus, batu fondasi, tetapi sekarang, dia berubah menjadi batu sandungan. Keduanya adalah batu, tetapi dua tujuan yang berlawanan. Batu karang fondasi adalah untuk mendukung Gereja dan kehendak Tuhan, tetapi batu sandungan adalah untuk menghentikan atau setidaknya, untuk menghalangi dan memperlambat kehendak Tuhan. Yesus telah mengarahkan pandangannya pada Yerusalem, untuk mempersembahkan hidup-Nya sebagai korban di kayu salib dan dengan mulia, bangkit dari kematian. Namun, Simon, sang batu sandungan, mencoba melawan dan mencegah Yesus memenuhi kehendak Bapa-Nya. Kata “Satanas” dalam bahasa Yunani, dapat berarti ‘musuh’. Simon menjadi musuh yang melawan misi Yesus.

Minggu lalu, kita merenungkan misi Simon Petrus dan bagaimana kita menjadi Petrus-Petrus kecil saat Tuhan memanggil kita untuk sebuah panggilan dan pelayanan tertentu meskipun kita tidak layak. Namun, Yesus menyatakan bahwa hambatan sejati untuk misi kita bukanlah kelemahan dan ketidaklayakan kita, tetapi kepentingan dan agenda egois kita. Alih-alih berkata, “Terjadilah menurut kehendakmu,” kita berteriak, “terjadilah seturut kehendakku.” Ini adalah taktik besar setan, bahwa kita diajak mengutamakan diri kita sendiri, daripada Tuhan. Mungkin ada imam-imam yang tergoda dan sibuk mencari kenyamanan hidup dan mengumpulkan kekayaan untuk diri kita sendiri, daripada melayani umat dengan dedikasi. Mungkin ada orangtua-orangtua, yang alih-alih membawa anak-anak kita kepada Tuhan, malah disibukkan dengan mengejar ambisi dan karier kita pribadi.

Karena itu, Yesus mengingatkan dengan lantang, “apa gunanya mendapatkan seluruh dunia namun kehilangan jiwa kita?” Di gerbang surga, St. Simon Petrus akan bertanya kepada kita, “Apakah selama hidup, kamu menjadi batu sandungan bagi kehendak Tuhan atau telah menjadi batu fondasi bagi rencana-Nya?”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Focus on Jesus

19th Sunday in Ordinary Time

August 9, 2020

Matthew 14:22-33

just walk on waterThe story of Jesus walking on water is a well-known account being shared by three gospels: Matthew 14:22-33, Mark 6:45–52 and John 6:15–21. However, unique to Matthew is the part of Peter who also walked on water, but sank after a few steps. Let us focus our attention on this unique moment in the life of Simon Peter.

The sudden and unusual appearance of Jesus startled the disciples who were still battling the strong wind. The disciples’ natural reaction was fear. They thought they saw a ghost. Matthew gives us a little interesting detail: the disciples were afraid not because of the raft sea, but because of Jesus’ presence. We remember that many of them were seasoned fishermen and dealing with unpredictable conditions in the lake of Galilee was their part of their job description.  Yet, to see someone walked on water was just unprecedented. Thus, Jesus took the initiative to calm the storms inside their hearts and assured them that He is the “I AM” who controlled the forces of nature.

Peter, the bold leader and yet impulsive man, wanted to prove what he saw and heard. He then challenged Jesus and himself by saying, “Lord, if it is you, command me to come to you on the water.” Jesus invited him to come. The miracle took place. Simon Peter was able to walk on water. Yet, his weak human nature once again set in. After a few miraculous steps, he got distracted by the wind, lost his focus on Jesus, and he began to sink. Jesus had to save him and told him, “O you of little faith, why did you doubt?” We notice that Jesus did not say, “You, who have no faith!” but rather, “little faith.” This shows that Peter possessed indeed faith, proven by his several miraculous steps, but it was still small, easily distracted, and doubt-ridden.

Many of us can easily relate to Simon Peter, our first Pope. We believe in Jesus, and we know that we have faith in Him. Yet, we are aware also that our faith is still small. We may go to the Church every Sunday or pray from time to time, believe that Jesus, our God and Savior, and accept the teachings of the Church, but our faith is just tiny part of our life, that can be set aside when other and bigger concerns like work, career, relationship and others. We give God our leftovers, our time and effort. Even in our prayer and worship, we are easily distracted. Rather than focusing ourselves in Jesus, we give our attention to our cellphones and all the excitement they offer. Then, when we face the storms of life, we begin to sink, and when we are drowning, that is that the time, we shout, like Peter, “Lord, save me!”

We are called to set our gaze on Him and to learn to have true eyes of faith. These are eyes to ponder the Eucharist not as mere bread and wine, not as monotonous repetition, but as the real presence of Jesus who has sacrificed His life for us. This is a faith that empowers us to see Jesus’ presence in our daily and ordinary events. Thus, not even the fiercest storms can sink us because we focus our eyes on Jesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Fokus pada Yesus

Minggu ke-19 di Masa Biasa [A]

9 Agustus 2020

Matius 14: 22-33

jesus walk water 2Kisah Yesus berjalan di atas air adalah kisah terkenal yang ditulis oleh tiga Injil: Matius 14: 22-33, Markus 6: 45–52 dan Yohanes 6: 15–21. Namun, yang unik dari Matius adalah bagian dari Petrus yang juga berjalan di atas air, namun tenggelam setelah beberapa langkah. Mari kita fokuskan perhatian kita pada momen unik dalam kehidupan Simon Petrus ini.

Kehadiran Yesus yang tiba-tiba dan tidak biasa mengejutkan para murid yang masih berjuang melawan angin kencang. Reaksi alami para murid adalah ketakutan. Mereka mengira mereka melihat hantu. Matius memberi kita sedikit detail yang menarik: para murid takut bukan karena badai laut, tetapi karena kehadiran Yesus. Kita ingat bahwa banyak dari mereka adalah nelayan berpengalaman dan berurusan dengan kondisi tak terduga di danau Galilea adalah bagian dari pekerjaan mereka. Namun, melihat seseorang berjalan di atas air belum pernah terjadi sebelumnya. Jadi, Yesus mengambil inisiatif untuk menenangkan badai di dalam hati mereka dan meyakinkan mereka bahwa dialah Yesus yang mengendalikan kekuatan alam.

Petrus, pemimpin yang berani namun juga impulsif, ingin membuktikan apa yang dilihat dan didengarnya. Dia kemudian menantang Yesus dan dirinya sendiri dengan berkata, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”  Yesus mengundang dia untuk datang. Mujizat terjadi. Simon Petrus bisa berjalan di atas air! Namun, sifat kemanusiaannya yang lemah sekali lagi muncul. Setelah beberapa langkah mujizat, dia terganggu oleh angin, kehilangan fokusnya pada Yesus, dan dia mulai tenggelam. Yesus harus menyelamatkannya dan berkata kepadanya, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Kita memperhatikan bahwa Yesus tidak berkata, “Kamu, yang tidak memiliki iman!” melainkan, “kurang percaya!” Ini menunjukkan bahwa Petrus sebenarnya memiliki iman, dibuktikan dengan beberapa langkah mukjizatnya, tetapi iman itu masih kecil, mudah terganggu, dan sarat keraguan.

Banyak dari kita dapat dengan mudah melihat diri kita seperti Simon Petrus, Paus pertama kita. Kita percaya kepada Yesus namun, kita sadar juga bahwa iman kita masih kecil. Kita mungkin pergi ke Gereja setiap hari Minggu atau berdoa dari waktu ke waktu, percaya bahwa Yesus, Tuhan dan Juru selamat kita, dan menerima ajaran Gereja, tetapi iman kita hannyalah bagian kecil dari hidup kita, yang dapat dikesampingkan ketika hal-hal yang lebih besar seperti pekerjaan, karier, relasi, dan lainnya mulai memenuhi hati kita. Kita memberikan kepada Tuhan sisa-sisa kita, baik waktu maupun usaha kita. Bahkan dalam doa dan ibadah kita, kita mudah terganggu. Daripada memfokuskan diri kita pada Yesus, kita memberikan perhatian kita pada ponsel kita dan semua kegembiraan yang mereka tawarkan. Kemudian, saat kita menghadapi badai kehidupan, kita mulai tenggelam, dan saat itulah, kita berseru, seperti Petrus, “Tuhan, selamatkan aku!”

Kita dipanggil untuk mengarahkan pandangan kita pada-Nya dan untuk belajar memiliki mata iman yang sejati. Ini adalah mata untuk melihat Ekaristi bukan hanya sebagai roti dan anggur, bukan sebagai pengulangan yang monoton, tetapi sebagai kehadiran nyata Yesus yang telah mengorbankan hidup-Nya bagi kita. Ini adalah iman yang memberdayakan kita untuk melihat kehadiran Yesus dalam kegiatan sehari-hari dan biasa kita. Jika ini sungguh menjadi iman kita, badai yang paling dahsyat sekalipun tidak dapat menenggelamkan kita karena kita memusatkan perhatian pada Yesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

His Co-Workers

18th Sunday in Ordinary Time [A]

August 2, 2020

Matthew 14:13-21

multiplication of bread 1The miracle of the multiplication of the bread is one of the few stories that appear in the four Gospels. This may point to the veracity of the miracle itself that impressed and impacted the lives of the apostles. Though the general plot is the same, every Evangelist has presented their own emphasis. Today we are zeroing in the Gospel of Matthew and his particular emphases.

One of these particular emphases is the special role of the disciples. Certainly, without Jesus, there will be no miracle at all, but Jesus makes sure that His disciples also will participate in His miraculous work, and amazingly, the disciples respond well to Jesus’ invitation. Let us look into some details.

Firstly, the initiative is coming from the disciples. They are the ones who notice the condition of the people, exhausted and famished. They propose a practical solution to the situation: send them away to look for food. They may come up with such a plan because of a noble reason. They wanted their tired teacher as well as the people to find some rest after a long and grilling day of teaching and healing. Yet, they forget that Jesus is the rest Himself, as He once said, “come to me you who labor and are burdened, and I will give you rest [Mat 11:28].” For Jesus, the initiative is commendable, but He is not satisfied with the solution. Thus, He says to them, “You give them food yourselves.”

We can imagine the faces of the disciples as they are looking at each other and baffled. Yet, instead outrightly dismissing His demand as something absurd, they do even something extraordinary. They offer Jesus what they have. It is small and far from enough, yet a sincere offering nonetheless. From here, we can already detect that the disciples have somehow grown. They have followed their Master for some time and they have witnessed many miracles of Jesus, listened to countless of His teachings, and seen how Jesus tenderly loved the people. They have grown like Jesus. They have faith that Jesus can do the impossible, and they become more and more compassionate like Jesus.

It is no wonder that after Jesus blesses and breaks the bread, He chooses to give them to the disciples. He trusts now that the disciples will carry on His mission of caring and loving the people. Indeed, they faithfully bring the broken bread to the people. This miracle is the first yet crucial step for Jesus and His disciples because later, Jesus will entrust the same disciples to bring Jesus Himself to His people in the Eucharist.

Jesus surely can perform the miracle by Himself, and as God, He has no need of any man’s help. Yet, because His very nature is love, He wants people He loves to become the loves themselves. Jesus invites the disciples to participate in His miracle of love, and so that they may learn to love deeper. As Jesus shares His life to them, the disciples as the sharers of His mission will eventually love till the end.

That is how Jesus forms us as His disciples. He invites us to actively participate in His life and mission. This is a mission to feed, to care, and to love His people. This is the beauty of our faith and religion. It is not a passive and powerless faith, yet a faith that is truly alive, shared and enriching, a faith that grows into hope and hope perfected into love.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP