Pentakosta dan Hukum Baru

Minggu Pentakosta [9 Juni 2019] Yohanes 20: 19-23

pentecost mafaHari ini kita merayakan hari raya Pentakosta, hari raya Roh Kudus yang datang dalam bentuk lidah api dan memenuhi hati para murid. Pertanyaannya yang bisa kita angkat adalah: Mengapa kita menyebut hari ini sebagai Pentakosta? Mengapa Roh Kudus datang hanya 50 hari setelah Yesus bangkit dari kematian?

Iman kita bukan hanya ketaatan yang buta dan bodoh, tetapi iman yang mencari pengertian. Pencarian kita akan jawaban membawa kita kembali ke Perjanjian Lama. Dalam tradisi dan sejarah Yahudi, hari raya Pentakosta atau juga dikenal sebagai hari Tujuh Minggu adalah hari di mana mereka merayakan pemberian Hukum Taurat di Sinai. Lima puluh hari setelah hari Sabat Paskah Yahudi, orang-orang Israel berkumpul dan merayakan hari raya Pentakosta. Dalam Kitab Keluaran, kita akan menemukan bahwa sehari setelah tujuh minggu dari eksodus dari Mesir, Tuhan Allah menampakkan diri di Gunung Sinai, membuat perjanjian dengan Israel dan memberi mereka Hukum Taurat untuk mengatur umat-Nya. Jika Paskah Yahudi memperingati pembebasan mereka, hari raya Tujuh Minggu menunjuk pada hari Tuhan memberikan Hukum-Nya kepada Musa dan Israel di Sinai. Jadi, jika lima puluh hari setelah eksodus dari Mesir, orang Israel menerima Hukum Musa, para murid Yesus, lima puluh hari sejak hari kebangkitan menerima Roh Kudus, Hukum Kristus yang baru, yang tertulis dalam hati dan jiwa kita.

Untuk memahami Pentakosta, kita perlu memahami aspek formatif Hukum. Ketika Tuhan memberikan perjanjian dengan bangsa Israel, Dia menuntut mereka berperilaku seperti umat-Nya dan tidak mengikuti contoh bangsa-bangsa sekitar mereka. Untuk memfasilitasi ini, Allah memberi Israel seperangkat Hukum untuk dipatuhi. Sejatinya, Hukum Taurat adalah untuk membentuk bangsa Israel sebagai umat Allah. Dengan mengingat hal ini, kita sekarang dapat melihat pentingnya Pentakosta bagi para murid Yesus. Roh Kudus turun ke atas dan berdiam di dalam para murid sebagai Hukum Baru, dan sebagaimana Hukum Lama membentuk bangsa Israel yang lama, Hukum Baru adalah untuk membangun Israel Baru, yakni Gereja. Itulah sebabnya Pentakosta juga sebagai hari Gereja terbentuk atau hari lahir Gereja.

Menerima Roh Kudus di dalam hati kita adalah hak istimewa yang sangat besar, namun ini juga berarti kita juga harus hidup dalam Roh. Jika Israel kuno menyebut diri mereka sebagai umat Allah karena mereka mematuhi Hukum, maka kita dapat mengenali diri kita sendiri sebagai Umat Allah ketika kita mengikuti Roh. Namun, hidup dalam Roh bukanlah sekedar tentang bahasa roh atau bergabung dengan kelompok-kelompok Karismatik. St. Paulus dengan jelas menyatakan untuk hidup dalam Roh berlawanan dengan desakan kedagingan kita. Ketika kita melepaskan diri dari perbuatan kedagingan seperti amoralitas, penyembahan berhala, kebencian, perpecahan, kemarahan dan kecemburuan [Gal 5:19], kita sudah berjalan dalam Roh, dan ini bahkan lebih sulit daripada berbicara dalam bahasa roh. Roh Kudus telah memberikan kepada kita tujuh karunia-Nya, tetapi apakah kita berusaha untuk menjadi bijaksana, pengertian, saleh, tekun, berpengetahuan dalam iman, takut untuk menyinggung Tuhan [lihat Yesaya 11: 1]? Ini akan menjadi kehilangan terbesar kita jika kita merayakan Pentakosta, namun kita hidup seolah-olah kita tidak pernah menerima Roh Kudus.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Inevitable

Ascension of Jesus Christ [June 2, 2019] Luke24:46-53

goodbyeIf you are a fan of Marvel universe movies, you will easily remember Thanos, the primary villain with twisted moral conviction. After he swept half of the living beings in the universe with the power of the infinity stones, he went into hiding. Yet, the Avenger found him and forced him to restore the world, but he said it was no longer possible because he has destroyed the stones, because what he did was inevitable, and he said, “I am inevitable”.

Thanos’ words echo the message of Jesus in today’s Gospel that any human relation will find its end. Separation is inevitable. Yet, it is natural for us that we do not want to be separated from our loved ones in life. Every separation surely will bring pain and anguish. I still remember when I needed to enter a seminary, and I had to be separated from my mother for good. My mother cried, and I shed some tears, too, but I guess my father was happy that I am leaving!

Thus, we can imagine that when Jesus is going up to heaven, and He will be no longer with the disciples, they are grief-stricken and full of anxiety. They would ask each other, what’s next? They are going to lose their Master, their hope, their expected Messiah and King. Yet, Jesus said that He is leaving for their own good.

Yes, separation can be painful and fearful, but Jesus assures us that separation is part of life, and it is good for us.

We take an example of my mother. Had my mother refused to let me go, I would not have been a priest and served you here in this celebration. Or another example, a mother who is pregnant. We know that she loves her baby, but she must let her baby go from her womb and let the baby breathe using his own lungs. Otherwise, the baby and the mother will both die. The separation is inevitable, but properly understood, it can be something good.

Separation can also mean allowing our loved ones to face life’s adversities and pain. After I entered the seminary, my life did not get any comfortable, yet it went in the opposite direction. No more mother to wake me up, no more father to bring me to school or help in my assignment. But what does not kill you, builds you up. Often, we love so much our children, and we want to shield them from life’s trials and pain, but it may backfire. It may create a soft generation with deadly entitlement mentality: children who believe that they are entitled to the privileges of life, people who too quickly complain about life.

Jesus understands this, and He leaves disciples so that the disciples may grow and bear fruits. Jesus knows that He will stay and protect them; they will remain a group of crying men. After Jesus left, life did not get any easier for the disciples. Eleven out of twelve were martyred. Other Jesus’ followers shared the same lot. Yet, through adversaries, they grew and flourished.  True enough, after two thousand years, the Church Jesus founded, has become the biggest community in the world with more than 1/3 of the earth’s population as its members.

The separation is inevitable, but properly understood, it can be something good and even fruitful.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Salib dan Kemuliaan

Minggu Paskah ke-7 [2 Juni 2019] Yohanes 17: 20-26

“Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.” (Jn. 17:22)

Jesus christ in heavenAda tiga respons terhadap kesulitan dalam hidup. Yang pertama adalah menghindari atau melarikan diri. Yang kedua adalah menyerah pasrah. Yang terakhir adalah merangkul dan mengubahnya menjadi sarana pertumbuhan dan kemuliaan kita. Ini adalah kemuliaan yang  tidak murahan karena mengalir dari kesulitan, kerja keras dan pengorbanan. Ini adalah kemulian sejati karena tidak bisa dibeli dengan uang tetapi diperoleh dari kucuran keringat, air mata dan bahkan darah.

Adalah dorongan alami dalam diri manusia untuk menghindari apa yang menyakitkan dan untuk mengambil apa yang menyenangkan. Namun, paradoksnya adalah bahwa semakin kita merangkul kesulitan hidup, kita semakin didewasakan dan dikuatkan. Inilah kebijaksanaan yang telah diakui oleh orang-orang tempo dulu. Spartan adalah salah satu bangsa terkuat di semenanjung Yunani kuno. Ini karena mereka melatih anak-anak mereka dalam kesulitan. Pada usia 7 tahun, anak laki-laki diambil dari orang tua mereka dan menjalani pelatihan intens di barak sampai mereka mencapai usia 20 tahun. Salah seorang Spartan yang paling terkenal adalah Leonidas, raja kota Sparta. Saat Persia menyerang semenanjung Yunani, dia bersama dengan 300 prajurit pilihannya menahan pasukan Persia yang jauh lebih unggul selama tiga hari di Thermopylae. Ketika mereka kehilangan pertahanan mereka, Leonidas menolak untuk mundur, dan dengan 300 pasukannya mengorbankan nyawa mereka untuk memberi waktu yang cukup bagi orang-orang Yunani untuk berkumpul kembali dan melancarkan serangan balik. Leonidas menerima kemuliaan bukan karena kedudukannya sebagai raja, tetapi ia mau berkorban.

Kebijaksanaan ini mengajarkan bahwa kita jangan lari dari kesulitan hidup tetapi merangkul mereka dan membiarkan diri kita menjadi lebih kuat dan dewasa. Kalau tidak, kita bisa berubah menjadi generasi yang lembek dan tidak tahu berterima kasih. Para siswa tidak dapat menguasai keterampilan dan memperoleh pengetahuan sejati kecuali mereka tunduk pada disiplin studi. Atlet tidak dapat memenangkan medali, kecuali mereka berlatih dengan sangat intens.

Dalam Injil hari ini, Yesus menjanjikan kita, para murid-Nya, sebuah kemuliaan. Namun, ada perbedaan antara kemuliaan dunia dan kemuliaan Yesus. Sementara kemuliaan dunia pada akhirnya adalah tentang kemuliaan, kesuksesan dan keberhasilan pribadi kita, kemuliaan Yesus adalah tentang salib. Terutama dalam Injil Yohanes, waktu kemulian Yesus menunjuk pada salib-Nya. Yesus tidak pernah berbicara tentang Dia disalibkan, tetapi Dia dimuliakan.

Ketika Yesus menganggap salib-Nya sebagai kemuliaan-Nya, maka kita perlu menganggap salib harian kita sebagai kemuliaan kita. Pada zaman Yesus, tidak seorang pun akan menganggap bahwa salib, alat penyiksa Romawi yang brutal, akan berubah menjadi jalan kemuliaan. Salib adalah sebuah absurditas, dan hanya karean kehadiran Yesus yang mengorbankan hidup-Nya untuk kita, salib menemukan makna terdalamnya. Salib bukanlah apa-apa, kecuali itu diarahkan sebagai saran kasih cinta pengorbanan. Kapasitas kita untuk mengasihi ditentukan oleh kemampuan kita untuk memikul salib kita yakni kemampuan kita untuk menderita. Kita memikul salib kita, itu memperbesar kemampuan kita untuk mencintai. Saat kita mencintai sampai akhir, kita dapat menerima kemuliaan kita.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mary Magdalene and Resurrection

Easter Sunday [April 19, 2019] John 20:1-9

mary magdalene n resurrection 2
He Qi_Easter morning

Mary Magdalene is a female disciple that loves her Teacher deeply, and being a woman, there is something that she teaches us. Luke describes her in his Gospel as a woman “from whom seven demons have come out” [see Luk 8:2]. It must be a terrible experience to be tormented by seven demons, and when Jesus heals her, she expresses her deep gratitude by following Jesus. As one of Jesus’ disciples, she is proven to be the most faithful to her Teacher. When many followers of Jesus are running away to save their lives, and even Peter, the leading figure in the group, denies Jesus, Mary follows Jesus in His way of the Cross to the end. She received the insult Jesus receives, she bears the humiliation Jesus bears, she carries the cross Jesus carries. In fact, she is standing beside the cross together with the mother of Jesus and John the beloved.

However, Mary’s love is even bigger than death. She is the first person who visits the tomb early in the morning. We recall that after Jesus died on the cross, his body was hastily brought to the tomb by Nicodemus and Joseph Arimathea because the Sabbath was drawing near. During Sabbath, Jews are not allowed to bury the dead. Mary knows that Jesus’ body was not taken care of properly, and she wants to make sure that Jesus deserves the proper burial. She comes to the tomb to express her love for the last time for the Teacher by anointing the body of Jesus. Yet, she only sees the empty tomb. Fear seizes her. She may think that some bad guys stole, inflicted further damages and desecrated the body. Instinctively, she runs towards the men of authority after Jesus Himself, Peter and John.

After checking the tomb, Peter fails to understand, and he goes back to the house. She also does not understand and weeps for the loss of her love, but unlike Peter, Mary stays at the tomb. In utter confusion and meaninglessness, Mary does not abandon Jesus. Indeed, the Savior does not disappoint and gives Mary Magdalene a singular privilege to witness the resurrected Jesus. Her great love and fidelity lead her to the joy of Resurrection. She becomes the first preacher of Resurrection.

In the Gospel, often female disciples are depicted as a model of love and perseverance. God created man and woman as equal in dignity, but they differ in characters. Indeed, men like Peter, are the figures of authority, but women excel in what often is lacking in male disciples. I have visited many places in Indonesia and the Philippines, and I give talks and reflections, but one thing in common from these places, is that women often outnumber the men. I am newly assigned in Redemptor Mundi Parish, Surabaya, Indonesia, and a simple gaze will prove that more women are attending our daily morning masses.

Mary Magdalene, a woman disciple, shows to us that it is possible to love and to be faithful when things got tough and rough, when life throws us its trash, and when confusion and meaningless seem to reign. Mary is those women who unceasingly pray for the priests despite so many failures they have made Mary are those mothers who make daily sacrifices for their children despite being unappreciated. Mary is those religious sisters who serve the poor committedly despite many setbacks and trails. We must thank many Mary Magdalene around us. They show us that there love truly conquers death and that there is a resurrection in even the senseless empty tomb.

Happy Easter!

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Our Core Memories

Palm Sunday of the Lord’s Passion [April 14, 2019] Luke 19:28-40/Luke 23:1-49

“Blessed is the king who comes in the name of the Lord (Luk 19:38).”

jesus enter jerusalem 3One of the greatest gifts to humanity is the gift of memory. It gives us a sense of identity. Biology teaches us that almost all our body parts are being replaced over the years. One-year-old Stephen is biologically different from thirty-year-old Stephen. All bodily cells, with the sole exception of his eyes’ lens, are changed. What unites thirty-year-old Stephen with his younger self as well as his future self is his memory.

Not only does memory enable us to connect to ourselves, but it also relates us to other people. We are able to recognize our parents, siblings, and friends because we remember all the good thing, we have received from them. Our memories shape who we are. Thus, the illness that ruins our memories like Alzheimer, is one of the most heinous. Persons with Alzheimer gradually can no longer remember persons who love them; they even cannot recall doing their basic functions like eating and going to the restroom.

One of the uniqueness of human beings is that we do not have only individual memory, but we have communal memory. These common memories are passed through generations, and these form the identity of a group. We are Indonesians, Filipinos, Indians, Americans, or other nations because we have common memories that unite us as a nation. When a nation is inflicted by a kind “Alzheimer” that destroys its common memory, it begins to lose its identity as a nation. Cardinal Robert Sarah from Guinea reminds that Europe is in crisis and in danger of dissolution. He argues that the reason is that the European people began to forget their historical and cultural roots, their common memories.

We Christian share the core and fundamental memory. Palm Sunday or Jesus’ entrance to Jerusalem marks the beginning of the most important drama of the Gospel, the drama of the Holy Week. The memory was so significant to the early Christians that the episode was recorded in all four Gospels with great details (Mat 21:1-11, Mark 11:1-11, and John 12:12-19), though with some different emphases. We may even say that the Holy Week especially the Last Supper, the Passion, and Resurrection are the core and foundational memory of every true Christian.

This explains why the Church celebrates Holy Week every year, not because she simply wants to have big events, but because this celebration reconnects us with the core memories that make us as Christians. Yet, we do not only remember the events of the past; we are not just spectators. Through the power of the liturgy, we relive the fundamental stories of Jesus Christ. Together with Christ, we enter Jerusalem. Together with Him, we celebrate the Passover. Together with Him, we are persecuted, crucified and we die. Together with Him, we are buried in the dark tomb. But together with Him, we are raised from the dead.

However, it is our choice whether to follow Him or go against Him: to become people who shout “Hosanna” or people who cry “Crucify Him”; to become a disciple who walks the way of the cross or disciples who run away from Him; to be crucified with Jesus or to crucify Jesus. But it is only the true followers of Jesus who can together with Him be raised from the dead. Holy Week is our time to make that choice: to follow Jesus or to go against Him.

Deacon Valentinus Bayuhadi Rusneo, OP

Memori Kita

Hari Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan [14 April 2019] Lukas 19: 28-40 / Lukas 23: 1-49

jesus enter jerusalem 2Salah satu karunia terbesar bagi umat manusia adalah memori. Ini memberi kesadaran akan identitas kita. Biologi mengajarkan kita bahwa hampir semua bagian tubuh kita akan tergantikan saat kita hidup. Stephen yang berusia satu tahun secara biologis berbeda dari Stephen yang berusia tiga puluh tahun. Semua sel tubuhnya telah digantikan dan akan terus digantikan sampai ia wafat. Apa yang menyatukan Stephen yang berusia tiga puluh tahun dengan dirinya yang lebih muda serta diri di masa depannya adalah ingatannya.

Memori tidak hanya memungkinkan kita terhubung dengan diri kita sendiri, tetapi juga menghubungkan kita dengan orang lain. Kita dapat mengenali orang tua, saudara, dan teman-teman kita karena kita mengingat semua hal baik yang kita terima dari mereka. Ingatan kita membentuk siapa kita. Jadi, penyakit yang merusak ingatan kita seperti Alzheimer, adalah salah satu yang paling kejam. Orang-orang dengan Alzheimer secara bertahap tidak lagi dapat mengingat orang-orang yang mencintai mereka, dan bahkan mereka tidak dapat mengingat melakukan fungsi dasar mereka seperti makan dan pergi ke kamar kecil.

Salah satu keunikan manusia adalah bahwa kita tidak hanya memiliki ingatan individu, tetapi kita memiliki ingatan bersama. Ingatan bersama ini diturunkan dari generasi ke generasi, dan ini membentuk identitas kelompok. Kita adalah orang Indonesia, Filipina, India, Amerika, atau bangsa lain karena kita memiliki memori bersama yang menyatukan kita sebagai suatu bangsa. Ketika suatu bangsa dipengaruhi oleh jenis “alzhaimer” yang menghancurkan ingatan bersama mereka, mereka mulai kehilangan identitas mereka sebagai suatu bangsa. Kardinal Robert Sarah dari Guinea mengingatkan bahwa Eropa sedang dalam krisis dan dalam bahaya pembubaran. Dia berpendapat bahwa alasannya adalah bahwa orang-orang Eropa mulai melupakan akar sejarah dan budaya mereka, memori bersama mereka.

Kita umat Kristiani berbagi memori inti dan fundamental yang sama. Minggu Palma atau Yesus yang memasuki kota Yerusalem menandai dimulainya drama Injil yang paling penting, drama Pekan Suci. Memori ini begitu penting bagi pengikut Yesus perdana sehingga episode ini direkam dalam keempat Injil dengan sangat rinci (Mat 21: 1-11, Markus 11: 1-11, dan Yohanes 12: 12-19), meskipun dengan beberapa tekanan berbeda. Kita bahkan dapat mengatakan bahwa Pekan Suci terutama Perjamuan Terakhir, Kisah Sengsara, Wafat dan Kebangkitan adalah memori inti dan mendasar dari setiap orang Kristiani sejati.

Inilah mengapa Gereja merayakan Pekan Suci setiap tahun bukan karena ia hanya ingin mengadakan acara besar, tetapi perayaan ini menghubungkan kembali kita dengan memori inti yang menjadikan kita sebagai orang Kristiani. Namun, kita tidak hanya mengingat peristiwa masa lalu, dan kita bukan hanya sekedar penonton. Melalui kekuatan liturgi, kita menghidupkan kembali kisah-kisah mendasar tentang Yesus Kristus. Bersama dengan Kristus, kita memasuki Yerusalem. Bersama-sama dengan Dia, kita merayakan Perjamuan Terakhir. Bersama-sama dengan Dia, kita dianiaya, disalibkan dan mati. Bersama-sama dengan Dia, kita dimakamkan di makam yang gelap. Dan bersama-sama dengan Dia, kita dibangkitkan dari kematian.

Namun, itu adalah pilihan kita untuk mengikuti-Nya atau melawan-Nya: untuk menjadi orang-orang yang berseru “Hosanna” atau orang-orang yang berteriak “Salibkan Dia”; untuk menjadi seorang murid yang berjalan di jalan salib atau murid-murid yang melarikan diri dari-Nya; untuk disalibkan bersama Yesus atau untuk menyalibkan Yesus. Sekarang hanya pengikut Yesus yang benar yang dapat bersama-sama dengan Yesus dibangkitkan dari kematian. Pekan Suci adalah waktu kita untuk membuat pilihan untuk mengikuti Yesus atau untuk melawan Dia.

Diakon Valentinus Bayuhadi Rusneo, OP

True Power

29th Sunday in the Ordinary Time [October 21, 2018] Mark 10:35-45

Whoever wishes to be first among you will be the slave of all. (Mk. 10:44)

washing feet“Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” This familiar adage comes from an English noble, Lord Acton in his letter to Bishop Mandell Creighton in 1887. Lord Acton observed that people who possessed absolute control over other persons were inclined to abuse their power and exploit their subjects. This happens throughout human history. Jesus and His disciples themselves witnessed these corrupt powerful leaders during their time and eventually, became victims of this corruption.

We recall how Herod the Great commissioned his army to slaughter all the babies under two years old in Bethlehem. He was having a paranoia that a baby born in this town of David would overthrow him from power someday. Herod Antipas, a son of Herod the Great, ordered the beheading of John the Baptist. This was done just to pacify the anger of his whimsical yet anti-critic wife. A Jewish historian, Josephus, narrated how Pilate, the Roman procurator, ruled Judea with iron and bloody hand. He commanded the crucifixion more than two thousand Jews during his brief stint in Jerusalem. With absolute power in their hands, human lives become so cheap. The only thing that matters is how they remain in power.

Ironically, despite witnessing those horrible events, James and John, as well as the rest of the disciples remain obsessed with power. James and John wish that they sit at the right and left hands of Jesus when His kingdom comes. The throne is the symbol of power. We are familiar with box-office hit “Game of Thrones.” This TV series is about people who are struggling to sit on the Iron Throne of the Seven Kingdom. And just any game, the different characters use various strategies, including deceit and deceptions to capture this throne. Friends and foes are the ones and the same. Enemies turn to be friends, and allies kill each other. If they cannot be on that throne, at least, they can be next to that seat of power.

Why do we want power so much?  It is because, with power, we are in control. When we are in charge, we have this sense of independence and pride. When autonomy is within our grasp, we cannot but feel good about ourselves. The opposite is also true. When we lose control, we feel terrible. Powerlessness is just awful. Thus, the more power we have, the better we feel. However, this is a mere illusion. No matter how powerful we are, we cannot control everything. The mere fact that we are not able to control the desire to possess power is proof how powerless we are.

Knowing well the irony of power, Jesus gives us a solution: be the servant and slave of all. A slave is a person who is under control of somebody else. In a normal situation, to be slaves are dreadful. Yet, when we have power, our decision to be slaves for others can be liberating. Jesus understands that power is not to be acquired, but to be shared. Power is to empower and not to be hoarded. Yet, it is not the same with yielding to fate, powerlessness, and desperation. Pretty the opposite, to serve and empowering others, we need to exercise our power actively. Think of Mother Teresa of Calcutta. She was just a little religious sister who did nothing but dedicated her life for the poor, the abandoned and the dying. She was far from the image of a strong and powerful leader. Yet, because she became the slave of all, she was considered to be one of the most influential and admired persons in the twentieth century. Echoing the words of Her Lord, “God has not called me to be successful. He has called me to be faithful.”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kekuatan Sejati

Minggu ke-29 di Masa Biasa [21 Oktober 2018] Markus 10: 35-45

Barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. (Mk. 10:44)

washing feet 2“Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Pepatah ini berasal dari bangsawan Inggris, Lord Acton dalam suratnya kepada Uskup Mandell Creighton pada 1887. Lord Acton mengamati bahwa orang-orang yang memiliki kekuasaan mutlak atas orang lain cenderung menyalahgunakan kekuasaan mereka dan mengeksploitasi bawahan mereka. Ini terjadi sepanjang sejarah manusia. Yesus dan murid-murid-Nya sendiri menyaksikan para pemimpin korup ini pada zaman mereka dan akhirnya, menjadi korban kekuasaan yang korup tersebut.

Kita ingat bagaimana Herodes menugaskan pasukannya untuk membantai semua bayi di bawah dua tahun di Betlehem. Dia mengalami paranoia bahwa satu bayi yang lahir di kota Daud ini akan menggulingkannya dari kekuasaan suatu hari nanti. Herodes Antipas, putra Herodes, memerintahkan pemenggalan kepala Yohanes Pembaptis. Ini dilakukan hanya untuk menenangkan kemarahan istrinya yang juga haus kekuasaan. Sejarawan Yahudi, Josephus, menceritakan bagaimana Pilatus, wali negara Romawi, memerintah Yudea dengan tangan besi. Dia memerintahkan penyaliban lebih dari dua ribu orang Yahudi selama masa pemerintahannya di Yerusalem. Dengan kekuatan absolut di tangan mereka, hidup manusia menjadi begitu murah. Satu-satunya hal yang penting adalah bagaimana mereka tetap berkuasa.

Ironisnya, meski menyaksikan peristiwa-peristiwa mengerikan itu, Yakobus dan Yohanes, serta para murid lainnya tetap terobsesi dengan kekuasaan. Yakobus dan Yohanes berharap agar mereka duduk di tangan kanan dan kiri Yesus ketika kerajaan-Nya datang. Tahta adalah simbol kekuasaan. Kita akrab dengan hit box-office “Game of Thrones.” Serial TV ini adalah tentang orang-orang yang berjuang untuk duduk di Tahta Besi Tujuh Kerajaan. Berbagai karakter menggunakan berbagai strategi, termasuk tipu daya untuk memenangkan tahta ini. Teman dan musuh tidak bisa dibedakan. Musuh berubah menjadi teman, dan sekutu saling membunuh. Jika mereka tidak dapat berada di tahta itu, setidaknya, mereka dapat berada di sebelah kursi kekuasaan itu.

Mengapa kita sangat menginginkan kekuasaan dan kekuatan? Karena, dengan hal ini, kita memegang kendali. Ketika kita memampu mengendalikan banyak hal, kita memiliki rasa kebebasan dan kemandirian ini. Ketika otonomi ada di dalam genggaman kita, kita pun merasa senang dengan diri kita sendiri. Namun, ketika kita kehilangan kendali, kita merasa tidak nyaman. Ketidakberdayaan tidaklah menyenangkan. Dengan demikian, semakin banyak kekuatan yang kita miliki, semakin baik perasaan kita. Namun, ini hanyalah ilusi belaka. Tidak peduli seberapa kuatnya dan berkuasanya kita, kita tidak bisa mengendalikan semua hal. Fakta bahwa kita tidak dapat mengendalikan hasrat untuk memiliki kekuatan adalah bukti betapa tidak berdayanya diri kita.

Mengetahui dengan baik ironi kekuasaan, Yesus memberi kita solusi: jadilah hamba untuk semuanya. Seorang hamba adalah orang yang di bawah kendali orang lain. Dalam situasi normal, menjadi hamba itu tidak mengenakan. Namun, ketika kita memiliki kekuasaan, keputusan kita untuk menjadi hamba bagi orang lain dapat membebaskan diri kita. Yesus memahami bahwa kuasa bukan untuk diperebutkan, tetapi untuk dibagikan. Kekuatan adalah untuk memberdayakan dan bukan ditimbun. Namun, hal ini tidak sama dengan sekedar menyerah diri pada nasib, ketidakberdayaan, dan keputusasaan. Cukup sebaliknya, untuk melayani dan memberdayakan orang lain, kita perlu menggunakan kekuatan kita secara aktif. Lihatlah Bunda Teresa dari Calcutta. Dia hanyalah seorang suster yang berbadan kecil yang tidak melakukan apa pun selain mengabdikan hidupnya untuk orang miskin dan sakit. Dia jauh dari citra seorang pemimpin yang kuat, kaya dan berkuasa. Namun, karena ia menjadi hamba bagi semua, ia dinobatkan sebagai salah satu orang yang paling berpengaruh dan dikagumi di abad ke-20. Diapun berpesan pada kita semua, “Tuhan belum memanggil saya untuk menjadi sukses. Dia telah memanggil saya untuk setia.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tough Love

Reflection on the 28th Sunday in Ordinary Time [October 14, 2018] Mark 10:17-30

Jesus, looking at him, loved him and said to him, “You are lacking in one thing. Go…follow me.” (Mk. 10:21)

agape crossWe discover at least three instances in the Bible in which Jesus explicitly expresses that He loves someone. The first instance is that Jesus loves the young rich man who seeks the eternal life (Mrk 10:21). The second is Jesus loves Martha, Mary, and Lazarus (Jn 11:5). The third is Jesus’ love for His disciples, especially His beloved disciple (Jn 13:34).

In these three accounts, Jesus’ love is not simply an emotional kind of affection. It is not the love that causes an adrenalin rush, heart’s palpitation, and an explosion of imagination. It is not fickle love that comes in the morning but dies in the afternoon. The love of Jesus is a love rooted in free will and firm decision. No wonder the Greek word used to describe this love is “agape.” Neither it is “eros,” an emotional and sexual love, nor “philia,” an affection for friends. St. Thomas Aquinas succinctly yet powerfully describes “love” as willing the good of the others. When Jesus loves them, Jesus freely chooses that the good things may happen in their lives even though this means Jesus has to forgo His own goodness and benefits. It is the tough love that entails giving up oneself, sacrifice and even pain. It is the love that thrives even when life has turned sour, and feelings have become bitter.

Going back to the story of the rich young man who asks Jesus on how to inherit the eternal life, he is basically a good guy. He has done a lot of good deeds and been faithful to God and the Law of Moses. Jesus Himself gives him score nine out of ten. Only one thing is still lacking. When Jesus invites the young man to sell what he has, to give them to the poor, and follow Jesus, the man goes away sad. Why? The Evangelist gives us the answer: he has many “ ktemata ,” landed properties. This guy is not ordinarily rich, but super rich. Perhaps, the young man thinks that eternal life is something that can be added to his properties, something that is acquired by doing good and avoiding evil or something that can make him even richer. Yet, this is not eternal life, but a mere shopping in the mall.

Eternal life is a gratuitous gift from God given to those whom He loves. This young man is truly blessed because Jesus loves him. The eternal life is just a step away from this good young man. Yet, though the gift is free, it is never cheap. Jesus wants the young man to follow Him because He wishes to teach the young man how to love like Him. Jesus wants him to will the good of the others, and this begins with selling his precious properties and helping the poor. Here comes again the paradox of love: unless we give ourselves for others, we never have ourselves fully. In the words of St. Francis of Assisi, “For it is in giving that we receive, it is in pardoning that we are pardoned, and it’s in dying that we are born to eternal life.”

I have been in the formation for more than 16 years, more than half of my life. I used to get frustrated because I have done well and fulfilled the requirements, and yet the ordination never comes. However, I realize that I was thinking like the rich young man. I forget that the vocation, as well as ordination, are gifts, not reward. This perspective frees me from my pride and makes me humble and grateful. Jesus loves me, and He loves me tough .

Jesus loves us and yet, it is not an easy and pampering love. It is tough love. It is love that challenges us to grow beyond; it is love that dares us to remain in truth, it is love that propels us to love like Jesus.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

.

Kasih yang Tangguh

Renungan untuk Minggu ke-28 pada Masa Biasa [14 Oktober 2018] Markus 10: 17-30

“Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya…” (Markus 10:21)

agapeKita menemukan setidaknya tiga episode dalam Alkitab di mana Yesus secara eksplisit menyatakan bahwa Dia mengasihi seseorang. Yang pertama adalah Yesus yang mengasihi Marta, Maria, dan Lazarus (Yohanes 11: 5). Yang kedua adalah kasih Yesus bagi murid-murid-Nya (Yohanes 13:34). Yang ketiga dan menjadi fokus kita hari ini adalah Yesus yang mengasihi orang muda kaya yang mencari kehidupan kekal (Mrk 10:21).

Dalam ketiga kisah ini, kasih Yesus bukan sekadar kasih sayang yang emosional. Bukan cinta yang menyebabkan meningkatnya kadar adrenalin dan jantung yang berdebar-debar. Bukan cinta yang yang datang di pagi hari tetapi lenyap di sore hari. Kasih Yesus adalah kasih yang berakar dalam kehendak bebas dan keputusan yang tegas. Kata Yunani yang digunakan untuk menggambarkan kasih ini adalah “agape.” Bukan “eros”, cinta emosional dan seksual, ataupun “philia,” kasih sayang di antara sahabat. St. Thomas Aquinas secara ringkas dan tepat menjelaskan “kasih” sebagai menghendaki yang baik bagi sesama. Ketika Yesus mengasihi mereka, Yesus dengan bebas memilih bahwa hal-hal yang baik dapat terjadi dalam kehidupan mereka meskipun ini berarti Yesus harus melupakan diri-Nya sendiri. Ini adalah cinta kasih yang kuat yang memerlukan pengorbanan diri, komitmen dan bahkan rasa sakit. Ini adalah kasih yang tumbuh subur bahkan ketika hidup semakin hambar dan pahit.

Kembali lagi ke kisah pemuda kaya yang bertanya kepada Yesus tentang bagaimana cara mewarisi kehidupan kekal, pada dasarnya dia adalah pria yang baik. Dia telah melakukan banyak perbuatan baik dan setia kepada Tuhan dan Hukum Musa. Yesus sendiri memberinya nilai sembilan. Hanya satu hal yang masih kurang. Ketika Yesus mengajak pemuda itu untuk menjual apa yang dia miliki, memberikannya kepada orang miskin, dan mengikuti Yesus, sang pemuda pun meninggalkan Yesus dengan sedih. Mengapa? Penginjil memberi kita jawaban: ia memiliki banyak “ktemata,” atau properti. Pemuda ini tidak hanya kaya, tapi super kaya. Mungkin, sang pemuda itu berpikir bahwa kehidupan kekal adalah sesuatu yang dapat ditambahkan ke dalam barang-barang koleksinya, sesuatu yang bisa diperoleh dengan melakukan hal-hal baik dan menghindari kejahatan, atau sesuatu yang dapat membuatnya semakin kaya. Namun, ini bukanlah hidup yang kekal, tetapi hanya shopping di mal.

Kehidupan kekal adalah karunia dari Tuhan yang diberikan kepada mereka yang Dia kasihi. Sang pemuda ini sejatinya sungguh diberkati karena Yesus mengasihi dia. Hidup yang kekal sudah ada dalam jangkauannya. Namun, meskipun karunia itu cuma-cuma, itu tidak berarti murahan. Yesus ingin agar pemuda itu mengikuti Dia karena Dia ingin mengajarkan pria muda itu bagaimana mengasihi. Yesus ingin dia melakukan kebaikan bagi orang lain, dan ini dimulai dengan menjual properti berharganya dan membantu orang miskin. Di sinilah terletak paradoks kasih: kecuali kita memberikan diri kita untuk sesama, kita tidak pernah akan mendapatkan diri kita yang sepenuhnya. Dalam kata-kata Santo Fransiskus dari Asisi, “Karena dalam memberi yang kita menerima, dalam mengampuni, kita diampuni, dan  dalam kematian, kita dilahirkan kembalik dalam hidup yang kekal.”

Saya telah menjalani di formasi selama lebih dari 16 tahun, lebih dari separuh hidup saya! Saya sempat frustrasi karena saya telah memenuhi berbagai persyaratan dengan baik, namun tahbisan tidak kunjung datang. Namun, saya menyadari bahwa saya sebenarnya berpikir seperti orang muda yang kaya. Saya lupa bahwa panggilan, serta tahbisan, adalah karunia, bukan hak atau upah. Perspektif ini membebaskan saya dari keangkuhan dan membuat saya rendah hati dan selalu bersyukur. Yesus mengasihi saya, dan Dia mengasihi saya dengan tegar.

Yesus mengasihi kita namun, ini bukan kasih yang mudah dan memanjakan. Ini kasih yang tangguh dan tegar. Ini adalah kasih yang menantang kita untuk tumbuh; itu adalah kasih yang menantang kita untuk tetap hidup dalam kebenaran, itu adalah kasih yang mendorong kita untuk mengasihi seperti Yesus.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP