Jesus and His Family

10th Sunday in Ordinary Time [June 10, 2018] Mark 3:20-35

“For whoever does the will of God is my brother and sister and mother (Mrk 3:35).”

family
photo by Harry Setianto, SJ

In ancient Israel as well as in many Asian and African cultures, family and kinship are core to one’s identity. The family is practically everything. A person is born, growing, getting old and dying within a family and clan. In traditional Filipino and Indonesian settings, a house is meant for an extended and expanded family. Several generations are living in one house. When I ask some of my Filipino friends, “If your house is burning, what are the first things you will save?” Their answer is not money, important documents or jewelry, but family pictures! In 1977, the Tanzanian President Julius Nyerere, one of the most prominent African figures during that time, visited the US and talked before the African students who studied there. Before them, he criticized those Africans who received much support from their families and clan, yet refused to go back after their studies. It was an act of cowardice and betrayal to Africa.

 

However, closely reading today’s Gospel from Mark, a good family-oriented and devoted Catholic will be startled. Naturally, we would expect Jesus to welcome Mary, his mother, and his relatives who come and look for Him. Surprisingly, Jesus does not do what is expected, but rather He takes that occasion to show His new family, “looking around at those seated in the circle he said, ‘Here are my mother and my brothers. For whoever does the will of God is my brother and sister and mother.’” (Mk. 3:34-35) Jesus’ words seem to be harsh since Jesus appears to exclude Mary and Jesus’ relatives from the composition of His new family. Does it mean Jesus disrespect Mary, His parent? Does it mean that for Jesus, the biological and traditional family have no value?

The answer is plain no. Certainly, Jesus respects and loves His mother as He fulfills the fourth commandment of the Law, “Thou shall honor thy parents.” Jesus also upholds and teaches the sanctity of both marriage and family life (see Mat 5:31-32; Mat 19:19). The early Christians also follow Jesus’ teaching on the integrity of marriage and family life, as reflected in various letters of St. Paul and other apostles (see 1 Cor 7:1-17; Eph 6:1-5). We are sure that for Jesus, marriage and family are good, but the point of our Gospel is Jesus is calling all of us to go beyond this natural relationship. The new family of Jesus is not based on blood but rooted in following Jesus and doing the will of God. This is also the call that Jesus addresses to Mary and His relatives. Surely, Mary becomes the model of faith as she obeys the will of God in the Annunciation (Lk 2:26-38), follows Jesus even to the cross (Jn 19:25-26) and stays and prays together with the early Church (Acts 1:14). St. Augustine says about Mary in his homily, “It means more for her, an altogether greater blessing, to have been Christ’s disciple than to have been Christ’s mother.”

The family as a natural institution is good, but Jesus teaches that we need to be the good disciples of Jesus first before we become a good family member. Otherwise, the family will be exposed to evil and destruction. Corruption, nepotism, and cronyism are evil practices rooted in the natural family. Another extreme is when brothers fight, even kill, each other over inheritance as if they are not coming from the same womb. It is the will of God that we are faithful to one another, that we do justice, that we are merciful especially to the weak and poor. Without Christian values, the family will not become the source of goodness. Echoing the words of St. Augustine, it is a blessing to be part of a family, but it is an altogether a greater blessing to become Christ’s disciple.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Keluarga-Nya

Minggu ke-10 dalam Masa Biasa [10 Juni 2018] Markus 3: 20-35

“Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku’ (Mrk 3:35).”

aku indonesia
picture by Harry Setiawan SJ

Dalam kebudayaan Israel kuno dan juga banyak budaya di Asia dan Afrika, keluarga adalah inti dari identitas seseorang. Seseorang dilahirkan, tumbuh, menjadi tua dan wafat dalam keluarga. Sewaktu uskup agung Pontianak, Agustinus Agus memberi ceramah di University of Santo Tomas, Manila, dia bangga sebagai bagian suku Dayak yang berasal rumah betang. Dalam budaya tradisional suku Dayak, sebuah keluarga besar atau klan tinggal, hidup dan melakukan rutinitas bersama di rumah besar dan panjang. Inilah rumah betang.

 

Ketika saya bertanya kepada beberapa teman Filipina saya, “Jika rumah kamu terbakar, apa hal pertama yang akan kamu selamatkan?” Jawaban mereka bukanlah uang, dokumen penting atau perhiasan, tetapi foto keluarga! Pada tahun 1977, Presiden Tanzania Julius Nyerere, salah satu tokoh Afrika paling terkenal waktu itu, mengunjungi Amerika Serikat dan berbicara di depan para mahasiswa Afrika yang belajar di sana. Di depan mereka, dia mengkritik orang-orang Afrika yang menerima banyak dukungan dari keluarga dan suku mereka, namun menolak untuk kembali ke tanah Afrika setelah belajar. Itu adalah tindakan pengecut dan pengkhianatan ke Afrika.

Namun, membaca Injil hari ini dengan seksama, umat Katolik yang baik akan terkejut. Kita tentunya mengharapkan Yesus menyambut dengan baik Maria, ibu-Nya, dan saudara-saudaranya yang datang dan mencari Dia. Anehnya, Yesus tidak melakukan apa yang diharapkan, tetapi sebaliknya Dia mengambil kesempatan itu untuk menunjukkan siapa keluarga baru-Nya, “Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata, ‘Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku’”(Mrk 3:34-35) Kata-kata Yesus terkesan keras karena Yesus tampaknya tidak memasukkan Maria dan saudara-saudara-Nya dari komposisi keluarga baru-Nya. Apakah ini berarti Yesus tidak menghormati Maria, yang adalah orang tua-Nya? Apakah ini berarti bahwa keluarga biologis dan tradisional tidak memiliki nilai?

Jawabannya jelas tidak. Tentu saja, Yesus menghormati dan mengasihi ibu-Nya. Yesus juga mengajarkan kekudusan sebuah pernikahan dan kehidupan keluarga (lihat Mat 5:31-32; Mat 19:19). Jemaat Gereja perdana juga mengikuti ajaran Yesus tentang integritas sebuah pernikahan dan kehidupan keluarga, sebagaimana tercermin dalam surat-surat St. Paulus (lihat 1 Kor 7: 1-17; Ef 6: 1-5). Kita yakin bahwa bagi Yesus, pernikahan dan keluarga itu baik. Namun, inti dari Injil kita hari ini adalah Yesus memanggil kita semua untuk melampaui hubungan alami ini. Keluarga baru Yesus tidak didasarkan pada darah tetapi berakar pada iman dan kemauan kita menjalankan kehendak Allah. Ini juga panggilan yang Yesus alamatkan kepada Maria dan sanak saudara-Nya. Tentunya, Maria menjadi model iman ketika dia mematuhi kehendak Allah saat ia menerima Kabar Sukacita (Luk 2: 26-38), ketika ia mengikuti Yesus bahkan sampai ke salib (Yoh 19: 25-26) dan setia berdoa bersama dengan Gereja perdana (Kis 1:14). Santo Agustinus pun mengatakan dalam kotbahnya, “Suatu berkat yang lebih besar bagi Maria karena ia telah menjadi murid Kristus daripada menjadi ibu Kristus.”

Keluarga sebagai institusi itu baik, tetapi Yesus mengajarkan bahwa kita perlu menjadi murid-Nya Yesus terlebih dahulu sebelum kita menjadi anggota keluarga yang baik. Kalau tidak, keluarga akan terbuka terhadap godaan sang jahat. Korupsi, nepotisme, dan kronisme adalah praktik jahat yang berakar dalam keluarga. Sisi ekstrim lainnya adalah ketika saudara saling bertikai, bahkan membunuh, karena rebutan warisan seolah-olah mereka tidak berasal dari rahim yang sama. Adalah kehendak Tuhan bahwa kita setia, bahwa kita melakukan keadilan, bahwa kita berbelas kasih terutama bagi yang lemah dan miskin. Tanpa nilai-nilai Kristiani, keluarga tidak akan menjadi sumber kebaikan. Menggemakan kata-kata St. Agustinus, menjadi bagian dari keluarga adalah sebuah berkat, tetapi menjadi murid Kristus adalah berkat yang jauh lebih besar.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ascension and Mission

The Ascension of the Lord [May 13, 2018] Mark 16:15-20

“Jesus said to them, “Go into the whole world and proclaim the gospel to every creature.” (Mk. 16:15)

father and daughter at beach 2We normally do not want to part away from the people we love. The emotional bond that has grown makes it difficult and painful for us to be away from the persons whom we love. Parents do not want to be separated from their children. Couple hates when they have to be far from each other. Friends cry when they have to go separate ways.

However, Jesus does the opposite when He is ascending into heaven. The resurrected Jesus could have stayed, done more miracles and accompanied the disciples. His permanent physical presence could boost the disciples’ morale, give them comfort and protection. Yet, He chooses to go and leave His disciples on earth. Why does Jesus do that cruel thing?

When we read today’s Gospel closely, Jesus does not simply leave behind His disciples, but He sends them for the mission, “Go to the whole world and preach the Gospel to every creature.” (Mrk 16:15) In fact, the Ascension is more about sending rather than departing. He goes up so that the disciples may go forward. Jesus understands that to stay put means to infantilize the disciples and hinder the disciples to become the men they are meant to be. As they go, they grow to be the persons whom they never expect before. They have faith even more, and to gradually grow in hope and charity. Had Peter stayed behind, he would not have become a leader of the great Church. Had John gone home, he would not have become the elder of the Church in Ephesus and written the Fourth Gospel.

The story of faith begins with a mission. God called Abraham, asked him to go from in his land of Ur, and made his way to Canaan. He became the Father of great nations not in his homeland, his comfort, and his safe zone, but in the dangerous and unknown land. God called Moses and Israelites to go out from the land of Egypt, from the land that gave them cucumber, onion, and garlic. They became people free to worship their only God, not in Egypt, land of thousand gods, but in the land, God has promised them. St. Dominic de Guzman began the Order of Preachers by sending his small and fragile community into various cities. Some brothers doubted others resisted, and few objected his decision. Yet, his decision was proved to be a watershed for the Order. The mission of Order is not to be another ancient stable monastery, but a group of iterant preachers. Dominic’s faith has given birth to the Dominican family that is currently present in more than 100 countries.

I always thank my parents for allowing me to enter the seminary at the tender age of 14. I know it was a tough and painful decision, but their courage has made me a man who I am now. At first, both my parents and I were not sure what would come for me, what my particular mission in life be, but we are sure that I have been sent, from the comfort of my family into the midst of an immensely vast Church. Have we grown and become mature and courageous people? Have we allowed people we love to grow into the person they are meant to be? Have we entrusted ourselves and our loved ones into God’s mission?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kenaikan dan Misi

Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga [10 Mei 2018/ 13 Mei 2018] Markus 16: 15-20

“Yesus berkata kepada mereka, ‘Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.’ ”(Markus 16:15)

father and daughter at beachKita biasanya tidak ingin berpisah dari orang-orang yang kita cintai. Ikatan emosional yang telah terbangun membuat kita sulit untuk menjauh dari mereka yang kita cintai. Orang tua tidak ingin terpisahkan dari anak-anak mereka. Sepasang kekasih benci ketika mereka harus jauh dari satu sama lain. Kita sedih ketika mereka harus berpisah dengan sahabat kita.

Namun, hari ini kita melihat bahwa Yesus justru melakukan hal yang sebaliknya ketika Dia naik ke surga. Kristus yang telah bangkit bisa saja memilih tinggal dan menemani para murid. Kehadiran fisiknya yang permanen dapat meningkatkan semangat para murid, memberi mereka kenyamanan dan perlindungan. Namun, Dia memilih untuk pergi dan meninggalkan para murid-Nya di bumi. Mengapa Yesus melakukan hal yang tampaknya sangat kejam ini?

Ketika kita membaca Injil hari ini dengan seksama, Yesus tidak sekedar meninggalkan murid-muridNya, tetapi Dia juga mengutus mereka untuk menjalankan misi mereka, “Pergi ke seluruh dunia dan mewartakan Injil kepada setiap makhluk.” (Mrk 16:15) Faktanya, Kenaikan Tuhan Yesus lebih banyak berbicara tentang pengutusan daripada perpisahan. Dia naik ke surga supaya murid-murid bisa bergerak maju. Yesus memahami bahwa jika Ia tinggal lebih lama, Ia menghalangi para murid untuk tumbuh dan berkembang. Ketika mereka diutus, mereka tumbuh menjadi orang-orang yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Mereka memiliki iman yang bahkan lebih tinggi, dan secara bertahap tumbuh dalam harapan dan kasih. Seandainya Petrus tetap tinggal, dia tidak akan menjadi pemimpin Gereja. Seandainya Yohanes tidak diutus, dia tidak akan menjadi penatua Gereja di Efesus dan menulis Injil Keempat.

Kisah iman dimulai dengan sebuah misi. Tuhan memanggil Abraham, mengutusnya pergi dari tanahnya di Ur, dan pergi ke Kanaan. Dia menjadi Bapak dari bangsa-bangsa besar bukan di tanah airnya, dimana dia hidup dalam kenyamanan, tetapi di tanah yang berbahaya dan tidak dikenal. Allah memanggil Musa dan orang Israel untuk pergi keluar dari tanah Mesir, dari tanah yang memberi mereka mentimun, bawang, dan melon. Mereka menjadi orang-orang yang bebas untuk menyembah Tuhan mereka, bukan di Mesir, tanah seribu dewa, tetapi di tanah yang Tuhan telah janjikan kepada mereka. St. Dominikus de Guzman memulai Ordo Pewarta (OP) dengan mengirimkan komunitasnya yang kecil dan rapuh ke berbagai kota di Eropa. Beberapa saudaranya meragukannya, beberapa menolak, dan lainnya berkeberatan dengan keputusannya. Namun, keputusannya terbukti menjadi titik balik bagi Ordo. Misi Ordo Pewarta bukanlah untuk membangun pertapaan stabil seperti halnya ordo-ordo lainnya yang lebih dahulu ada, tetapi menjadi sekelompok pewarta yang hidup dalam pengembaraan. Iman St. Dominikus telah melahirkan sebuah keluarga Dominikan yang saat ini hadir di lebih dari 100 negara.

Saya selalu berterima kasih kepada orang tua saya karena mengizinkan saya masuk seminari pada usia muda 14 tahun. Saya mengerti bahwa ini adalah keputusan yang sulit dan menyakitkan, tetapi keberanian mereka telah menjadikan saya seorang manusia yang sekarang ini. Pada mulanya, kedua orang tua saya dan saya sendiri tidak yakin apa yang akan terjadi pada diri saya di seminari, tetapi kami yakin bahwa saya telah diutus, dari kenyamanan sebuah keluarga ke tengah-tengah Gereja yang sangat luas.

Sudahkah kita tumbuh dan menjadi orang yang dewasa dan berani? Beranikah kita mengutus orang yang kita cintai agar tumbuh menjadi orang yang lebih dewasa? Sudahkah kita mempercayakan diri kita dan orang-orang yang kita kasihi ke dalam misi Allah?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Vine

Fifth Sunday of Easter [April 29, 2018] John 15:1-8

I am the true vine, and my Father is the vine grower. (John 15:1)”

running to crossIf Jesus is a carpenter, why does He speak about the vine in today’s Gospel? Does He have the competency to draw wisdom from a field that is not His expertise? We recall that Jesus grows and lives in Galilee, and in this northern region of Israel, the land is relatively fertile and agricultural industry is thriving. Some archeological findings suggest that in Nazareth, despite being a small village, the community members are engaged in small time farming, grapes press, and winemaking. A young Jesus must have been involved with this farming activities and perhaps even helped in a nearby vineyard. Thus, Jesus does not hesitate to teach wisdom using the imageries coming from the agricultural settings, like parables related to the vineyard (Mat 20:1-16), planting seeds (Mat 13:1-9), wheat and weed (Mat 13:24-30), and harvest (Mat 9:35).

In today’s Gospel, Jesus tells His disciples that He is the true vine and His Father is the vine grower. Like Jesus, the disciples are certainly familiar with grapes plantations and wine production. In fact, for the Jews, drinking wine is not mere merriment, but also an essential part of their ritual Passover meal in which they relive the experience of liberation from Egypt. Thus, the images of the vine, vine grower and vine branches are not only familiar to the disciples, but turn out to be potent means to deliver Jesus’ teaching.

The context of this teaching is Jesus’ Last Supper, and we imagine that as Jesus teaches this truth, the disciples are enjoying their meal and cup of wine. As they are drinking the wine, it is at the back of the disciples’ mind that the high-quality wine comes from superior-quality grapes, and these grapes are produced by the best vineyard with its healthy vine and hardworking vine growers. From the taste of the wine, one can assess not only the value of the wine but also the entire production, from the vineyard (viticulture) to the winemaking (vinification). Through this imagery, Jesus has assured His disciples that He and His Father have done their share in making the branches fruitful, and now it is the free choice of the disciples to bear the fruits. As branches, the only way to produce fruits is to remain united with the true vine.

The instruction of Jesus to remain in Him seems not difficult to follow. But, just hours after the Last Supper, Jesus will be arrested, and the disciples immediately forget everything that Jesus says. Judas betrays Him, Peter denies Him, and the rest run away and hide. Only a few disciples remain with Him, some women disciples, the Beloved Disciple, and His mother. The point is clear now. It is easy to remain with Jesus when things are easy and convenient, but when the things get tough, the disciples are facing an existential question whether to remain in Jesus or to abandon Him.

The question is now given to us. When our lives become desert-like and do not yield expected fruits, are we going to remain in Jesus? A friend told me how he was initially excited to serve the Church by joining an organization. Yet, after some time, he got frustrated by scandalizing attitudes of some members. He realized that the group was no different with other organizations that were plagued by gossips, intrigues, and factionalism. Naturally, I advised him to leave the group and look for a better group, like the Dominicans! Yet, he chose to remain and said to me that this difficult group provides him an opportunity to love Jesus more. Then, I realize that the mere fact that he stays, he has unexpectedly borne much fruits: patience, mercy, and understanding.

The same question now is addressed to us. Shall we remain in Christ in challenging times? Do we stay even when we do not feel the fruits? Do we remain faithful till the end?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo by Harry Setianto, SJ

 

Pokok Anggur

Minggu Paskah Kelima [29 April 2018] Yohanes 15: 1-8

 Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. (Yoh 15:1)”

cross among bushJika Yesus adalah seorang tukang kayu, mengapa Ia berbicara tentang pokok anggur? Apakah Dia memiliki kompetensi untuk mengajar dari bidang yang bukan keahlian-Nya? Kita ingat bahwa Yesus tumbuh dan hidup di Galilea, dan di wilayah utara Israel ini, tanahnya relatif subur dan industri agrikultur cukup berkembang. Beberapa temuan arkeologi menunjukkan bahwa di Nazaret, meskipun adalah desa kecil, penduduknya terlibat dalam pertanian skala kecil, dan juga pembuatan anggur. Sebagai penduduk Nazaret, Yesus muda sedikit banyak terlibat dengan kegiatan pertanian ini, dan mungkin pernah membantu di kebun anggur terdekat. Karena pengalaman hidup ini, Yesus tidak ragu untuk mengajarkan kebijaksanaan menggunakan citra-citra yang berasal dari dunia agrikultur, seperti perumpamaan yang berhubungan dengan kebun anggur (Mat 20: 1-16), menanam benih (Mat 13: 1-9), gandum dan lalang (Mat 13: 24-30), dan panenan (Mat 9:35).

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan para murid-Nya bahwa Dia adalah pokok anggur yang benar dan Bapa-Nya adalah sang pengusaha anggur. Seperti Yesus, para murid tentu tidak asing dengan perkebunan anggur dan proses pembuatan anggur. Bahkan, bagi orang Yahudi, minum anggur bukan sekadar masalah kesenangan, tetapi juga bagian penting dari ritual perjamuan Paskah Yahudi yang menghidupkan kembali pengalaman pembebasan dari Mesir. Jadi, citra-citra seperti pokok anggur, penanam anggur dan ranting-ranting anggur tidak hanya akrab bagi para murid, tetapi juga menjadi sarana yang sungguh bermakna untuk menyampaikan ajaran Yesus.

Membaca Injil hari ini dengan seksama, Yesus dan para murid sedang merayakan Perjamuan Terakhir, dan kita membayangkan bahwa ketika Yesus mengajarkan kebenaran ini, para murid sedang menikmati makanan dan minuman anggur mereka. Ketika mereka sedang minum anggur, para murid menyadari bahwa anggur berkualitas tinggi berasal dari buah anggur unggulan, dan buah anggur ini diproduksi oleh kebun anggur terbaik yang memiliki pokok anggur yang sehat dan para pekerja yang tekun. Melalui citra ini, Yesus telah meyakinkan para murid-Nya bahwa Dia dan Bapa-Nya telah melakukan yang terbaik untuk membuat ranting-ranting-Nya berbuah, dan sekarang adalah pilihan para murid untuk menghasilkan buah. Sebagai ranting, satu-satunya cara menghasilkan buah adalah dengan tetap bersatu dengan pokok anggur yang benar.

Instruksi Yesus untuk tinggal di dalam Dia tampaknya tidak sulit untuk diikuti. Tetapi, hanya beberapa jam berselang setelah Perjamuan Terakhir, Yesus akan ditangkap, dan para murid segera melupakan semua yang Yesus ajarkan. Yudas mengkhianati Dia, Petrus menyangkal Dia, dan sisanya melarikan diri dan bersembunyi. Hanya beberapa murid yang tetap tinggal bersama Dia: beberapa murid wanita, Murid yang dikasihi Yesus, dan ibu-Nya. Intinya jelas sekarang. Sangat mudah untuk tinggal di dalam Yesus ketika segala sesuatu mudah dan nyaman, tetapi ketika hal-hal menjadi sulit, para murid menghadapi pertanyaan eksistensial: apakah akan tetap tinggal di dalam Yesus atau pergi meninggalkan Dia?

Ketika hidup kita menjadi seperti gurun dan tidak menghasilkan buah yang diharapkan, apakah kita akan tetap tinggal di dalam Yesus? Seorang teman bercerita bagaimana dia awalnya bersemangat melayani Gereja dengan bergabung dengan sebuah organisasi. Namun, setelah beberapa waktu, ia frustrasi dan kecewa oleh sikap-sikap yang tidak menyenangkan dari beberapa anggota. Dia menyadari bahwa kelompoknya tidak berbeda dengan organisasi lain yang diganggu oleh gosip, intrik, dan perpecahan. Tentu saja, saya menyarankan dia untuk meninggalkan kelompoknya dan mencari kelompok yang lebih baik, seperti Ordo Dominikan! Namun, dia memilih untuk tetap tinggal dan mengatakan kepada saya bahwa kelompok yang sulit ini memberinya kesempatan untuk mengasihi Yesus lebih besar. Saya mulai menyadari bahwa saat dia memilih untuk tinggal, dia telah memiliki banyak buah, yakni kesabaran, belas kasihan, dan pengertian.

Pertanyaan yang sama sekarang ditujukan kepada kita. Apakah kita akan tetap tinggal di dalam Kristus pada masa-masa sulit? Apakah kita tetap tinggal bahkan ketika kita tidak merasakan buahnya? Apakah kita tetap setia sampai akhir?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Poto oleh Harry Setianto, SJ

To Teach, to Exorcise, to Heal

4th Sunday in Ordinary Time [January 28, 2018] Mark 1:21-28

 “Then they came to Capernaum, and on the sabbath he entered the synagogue and taught. (Mk. 1:21)”

healing ministry
photo by Harry Setianto Sunaryo, SJ

After calling the disciples, Jesus begins his ministry proper in Capernaum. There, Jesus performs a threefold task: teaching, exorcism (driving away the evil spirits) and healing. On the Sabbath, He immediately enters the synagogue and teaches with authority. He faces the unclean spirits who possess a man and rebukes them to leave. And in the next Sunday’s reading, he heals Peter’s mother-in-law (Mk. 1:29-39). All these he does with authority.

 

This threefold task is fundamental to the ministry of Jesus, and in the succeeding Sundays, we will listen to many of these actions. Why are these fundamental to Jesus? The answer is because these three aspects make Jesus’ ministry a holistic one. Teaching is to form a sound mind, to drive away evil spirits is to build a holy spiritual life, and healing is to empower our bodies. It is precisely the Good News because the salvation Jesus brings covers all aspects of our humanity. As His disciples, we are all called to preach, drive evil spirits, and to heal.

Healing deals with the health of our bodies. It is true that we do not have the gift of healing, but all are called to respect our bodies and thus, to live a healthy lifestyle and avoid those things that will make us sick, like unnecessary stress and unhealthy food. To respect our bodies flows from the recognition that our bodies are the gift of God and as St. Paul says, “the Temple of the Holy Spirit.” Thus, abuse of our bodies means disrespecting the God who created us, and the Holy Spirit who gives us life. Yet, healing is not limited to our bodies but also includes healing our neighbors. It is to make sure that our brothers and sister have something to eat, something to clothe their bodies and a place to rest their bodies. It is not only to heal our own bodies but our society as well.

Exorcism is truly a special ministry in the Church, and only delegated to few people under the authority of the bishops, but every Christian is called to drive away evil spirits in their lives and hearts. It is our sacred duty to live holy lives, to receive the sacraments frequently, and to pray fervently. These are the ways to get closer to God, and thus, enable us to have healthy spiritual lives. To drive away evils also means to free ourselves from the bondage of sins and vices. It is a kind of spiritual healing. The devil sometimes possesses our bodies, but most of the time, he possesses our hearts. Our excessive attachment to things, like money, sexual pleasure, prestige, is a manifestation of evil spirits working in our hearts.

It is true that not all are teachers by profession, but we are called to form our minds and other peoples’ mind as well. It is fundamental for the parents to teach the basic Christian values, like honesty, fidelity, and compassion, to their young children. It is also important to habitually reflect on our characters, to correct bad habits, and to improve ourselves. After all, education is not only transfer of information, but the formation of characters. Thus, a right understanding of self will affect the way we act. I have been faithfully attending the Eucharist since my childhood, but when I learn more about its theology, history and its rootedness in the Scriptures and Christ Himself, the more I fall in love with the Eucharist.

We are the disciples of Christ, and it is our sacred mission and honor to participate in His threefold ministry in our sown ways and lives: to teach, to drive evil spirits and to heal.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengajar, Mengusir Roh Jahat, dan Menyembuhkan

Minggu di Biasa ke-4 [28 Januari 2018] Markus 1: 21-28

“Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. (Mk. 1:21)”

communion
photo by Harry Setianto Sunaryo, SJ

Setelah memanggil murid-murid-Nya, Yesus memulai misi-Nya di Kapernaum. Di sana, Yesus melakukan tiga tugas dasar: pengajaran, eksorsisme (mengusir roh jahat) dan penyembuhan. Pada hari Sabat, Dia mengajar dengan penuh otoritas di rumah ibadat. Dia menghadapi roh-roh jahat yang merasuki seorang pria dan mengusir mereka. Dan dalam bacaan hari Minggu berikutnya, dia menyembuhkan ibu mertua Petrus (Mrk 1: 29-39).

 

Tiga tugas pokok ini sangat penting bagi pelayanan Yesus, dan di hari-hari Minggu yang akan datang, kita akan mendengarkan banyak penggenapan dari tiga tugas ini. Mengapa tiga tugas ini mendasar bagi Yesus? Jawabannya adalah karena ketiga aspek ini menjadikan pelayanan Yesus sebagai pelayanan yang holistik atau menyeluruh. Pengajaran adalah untuk membentuk pikiran yang sehat, mengusir roh jahat adalah untuk membangun kehidupan rohani yang kudus, dan penyembuhan adalah untuk memberdayakan tubuh kita. Ini adalah Kabar Baik karena keselamatan yang Yesus bawa mencakup semua aspek kemanusiaan kita. Sebagai murid-murid-Nya, kita semua dipanggil untuk mengajar, mengusir roh jahat, dan menyembuhkan.

Yang pertama adalah penyembuhan. Ini berhubungan dengan kesehatan tubuh kita. Memang benar bahwa kita tidak memiliki karunia penyembuhan, tapi semua dipanggil untuk menghormati tubuh kita dan dengan demikian, menjalani gaya hidup sehat dan menghindari hal-hal yang membuat kita sakit, seperti stres yang berlebihan dan makanan yang tidak sehat. Ini bersumber pada sebuah pengakuan bahwa tubuh kita adalah anugerah Allah dan seperti yang dikatakan oleh St. Paulus, “Tubuh adalah Bait Roh Kudus.” Dengan demikian, pelecehan terhadap tubuh kita berarti tidak menghargai Tuhan yang menciptakan kita, dan Roh Kudus yang memberi kita hidup. Namun, penyembuhan tidak terbatas pada tubuh kita saja, tapi juga penyembuhan orang-orang di sekitar kita. Ini adalah tugas kita juga bahwa saudara-saudari kita memiliki sesuatu untuk dimakan, pakaian untuk membalut tubuh mereka dan tempat tinggal. Bukan hanya untuk menyembuhkan tubuh kita sendiri tapi juga masyarakat kita.

Eksorsisme benar-benar merupakan pelayanan khusus di Gereja, dan hanya didelegasikan kepada beberapa orang di bawah wewenang para uskup, namun kita semua dipanggil untuk mengusir roh jahat dalam kehidupan dan hati kita. Ini adalah tugas kita untuk menjalani kehidupan yang kudus dengan menerima sakramen-sakramen secara rutin, dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Inilah beberapa cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dan dengan demikian, memungkinkan kita memiliki kehidupan rohani yang sehat. Mengusir roh jahat juga berarti membebaskan diri kita dari belenggu dosa dan kebiasaan jahat. Ini adalah semacam penyembuhan spiritual. Iblis terkadang merasuki tubuh manusia, namun seringkali, dia merasuki hati kita. Keterikatan kita yang berlebihan terhadap berbagai hal, seperti uang, kesenangan seksual, kehormatan, adalah manifestasi dari roh-roh jahat yang bekerja di dalam hati kita.

Memang benar bahwa tidak semua berprofesi sebagai guru, tapi kita semua dipanggil untuk membentuk pikiran kita dan sesama. Sangat mendasar bagi orang tua untuk mengajarkan nilai-nilai dasar Kristiani, seperti kejujuran, kesetiaan, dan kasih sayang kepada anak-anak kita. Penting juga untuk biasa merefleksikan karakter kita, memperbaiki kebiasaan buruk, dan mengembangkan diri. Toh, pendidikan tidak hanya sekedar transfer informasi, tapi juga pembentukan karakter. Dengan demikian, pemahaman diri yang benar akan mempengaruhi cara kita bertindak. Saya telah menghadiri Ekaristi sejak masa kecil saya, namun ketika saya belajar lebih banyak tentang teologi, sejarah dan fondasinya dalam Kitab Suci dan Kristus sendiri, semakin saya jatuh cinta dengan Ekaristi.

Kita adalah murid Kristus, dan inilah misi dan kehormatan kita untuk berpartisipasi dalam pelayanan Kristus: mengajar, mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ikutlah Aku!

Minggu di Biasa ke-3 [21 Januari 2018] Markus 1:14-20

“Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.(Mar 1:17)”

ordination
foto oleh Harry Setianto Sunaryo, SJ

Yesus memulai pelayanan publik-Nya dengan memanggil empat murid yang pertama untuk mengikuti Dia. Di Palestina zaman Yesus, untuk menjadi murid berarti mengikutinya ke mana pun sang guru pergi. Bahkan, kata-kata Yunani yang digunakan adalah “deute hopiso”, itu berarti “Ikutilah di belakangku” karena para murid benar-benar berjalan beberapa langkah di belakang Yesus, sang Guru. Tidak mengherankan, bahwa ketika empat murid pertama, Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes, dipanggil, mereka harus meninggalkan segala sesuatu, pekerjaan, keluarga dan kampung halaman. Jadi, untuk menjadi murid Yesus adalah sebuah komitmen radikal yang memerlukan pengorbanan besar.

Namun, jika kita mengaplikasikan kehidupan para murid pertama Yesus ke zaman kita, siapa di antara kita yang bisa mengikuti panggilan ini? Siapa di antara kita bersedia meninggalkan pekerjaan, keluarga dan tempat tinggal kita demi Kristus? Jawabannya tidak banyak. Hanya sedikit orang yang memasuki pertapaan atau biara. Bahkan, mereka yang sudah menjadi anggota kongregasi religius pun, diijinkan untuk tetap berhubungan dengan keluarga mereka. Saya sendiri sebagai seorang biarawan bisa berlibur setiap tahun dan mengunjungi keluarga saya di Bandung. Tampaknya kehidupan sebagai murid yang total tetap menjadi ideal yang jauh bagi kita.

Meskipun memang benar bahwa kehidupan seperti ini benar-benar sulit dan langka, namun kita percaya bahwa kehidupan murid sejati juga mungkin bagi kita semua. Injil mengatakan kepada kita bahwa murid pertama meninggalkan banyak hal, namun sebenarnya para murid juga membawa sesuatu bersama mereka ketika mereka memutuskan untuk berjalan dengan Yesus. Mereka sebenarnya membawa “diri mereka sendiri.” Di dalam totalitas pribadi ini ada karakter, pengetahuan, keterampilan, cita-cita, dan impian mereka. Singkatnya, mereka juga membawa serta profesi mereka, keluarga dan tanah air mereka. Inilah sebabnya mengapa Yesus tidak hanya memanggil Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes untuk mengikut Dia, tetapi Dia juga akan menjadikan mereka “penjala manusia.” Yesus tahu bahwa orang-orang ini adalah salah satu nelayan terbaik di Galilea, dan sekarang Yesus mengundang mereka untuk mempersembahkan yang terbaik yang mereka miliki bagi Allah. Mengikuti Yesus tidak berarti meninggalkan segalanya, tetapi  mempersembahkan diri kita kepada Tuhan.

Ketika St. Dominikus de Guzman berkhotbah menentang ajaran sesat di Prancis Selatan, dia meninggalkan kenyamanan hidupnya di gereja di Osma, Spanyol. Namun, ketika dia berkhotbah, dia membawa semua keterampilan dan pengetahuan yang dia dapat sebagai kanon di Osma, dan sebagai mahasiswa di universitas Valencia. Dia meninggalkan segalanya, tetapi dia membawa semuanya saat dia mendirikan Ordo religius pertama yang didedikasikan untuk berkhotbah di Gereja. Sungguh sebuah paradoks!

Kita mungkin tidak dapat meninggalkan keluarga, profesi dan tempat tinggal kita karena kita bertanggung jawab atas kehidupan keluarga dan saudara-saudari kita, namun dengan semangat yang sama, kita dapat secara radikal mengikuti Yesus. Bagaimana? dengan mempersembahkan diri kita bagi Allah dan rencana-Nya. Sebagai orang tua, apa yang kita berikan kepada Tuhan, yang bisa mendidik anak-anak kita dan membangun keluarga Kristiani yang baik? Sebagai bagian dari Gereja, apa yang kita serahkan kepada Yesus, yang dapat membantu pertumbuhan Gereja di dunia ini? Sebagai anggota masyarakat, apa yang kita persembahkan kepada Tuhan, yang dapat memberikan kontribusi pada masyarakat yang adil dan makmur?

Frater. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Come after Me!

3rd Sunday in Ordinary Time (Feast of Sto. Niño in the Philippines) January 21, 2018 [Mark 1:16-20*]

“Come after me, and I will make you fishers of men (Mar 1:17)”

gazing cross
photo by Harry Setianto Sunaryo, SJ

Jesus begins His public ministry by calling His first disciples to follow Him. In ancient Palestine, to become a student of a particular teacher means to follow him wherever he goes and stays. In fact, the Greek words used is “deute hopiso”, that means “come after me” because the disciples are expected to literally walk few steps behind Jesus. No wonder, that when the four first disciples, Peter, Andrew, James and John, are called, they have to leave practically everything behind, their works, their family and their hometowns. Thus, to become Jesus’ disciples are a radical commitment that entails great sacrifices.

However, if we bring back the life of radical discipleship to our time, who among us will be able to follow that call? How many among us will be willing to leave behind our work, family, and hometown for the sake of Christ? Not many. Only a few people are entering the monasteries or the convents. Even, those who are already members of religious congregations, we are allowed to keep in touch with their family. I myself am able to have a vacation every year and visit my family. It seems that the total discipleship remains a far-reached ideal for many of us.

While it is true that this kind of life is genuinely difficult and rare, yet we believe that the life of a true disciple is also available for all of us. The Gospel tells us that the first disciples leave many things behind, but actually, the disciples do also bring something with them when they decide to walk after Jesus. They carry “themselves”, the totality of their own persons. Within this person are their characters, knowledge, skills, ideals, and dreams. In short, they also carry with them their profession, their family, and homeland. This is why Jesus does not only call Simon, Andrew, James, and John to follow Him, but He also is going to make them “the fishers of men.” Jesus knows that these guys are one of the best fishermen in the Galilee, and now Jesus invites them to offer the best they have for God’s purposes. To follow Jesus is not leaving everything behind as much as offering ourselves to the Lord.

When St. Dominic de Guzman preached against the heresy in the Southern French, he left the comfort of his church in Osma, Spain. Yet, when he preached, he brought along all the skills and knowledge he learned as a canon in Osma, and as a student at the University of Valencia. He left everything and yet, paradoxically, he brought everything when he founded the first religious Order that was dedicated for preaching in the Church.

We may not be able to leave our family, our profession, and hometown because we are responsible for the lives of our family and relatives, but with the same spirit, we can radically follow Jesus, by offering ourselves for God’s purposes. As parents in the family, what do we give to God, which may build a solid Christian family? As part of the Church, what do we surrender to Jesus, which may help her growth in the world? As members of society, what do we offer to the Lord, which may contribute to a just and growing society?

Today, the Church in the Philippines is celebrating the feast of Sto. Niño, or the Child Jesus. The image of Sto. Niño is the first to be introduced to the Filipino people, and His intercession has been very instrumental to the evangelization of this country. We pray to Sto. Niño that our self-offering may bear fruits wherever we are sent and live.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

*the reading is taken from the 3rd Sunday of Ordinary Time