Access  

 

Fourth Sunday of Easter. May 7, 2017 [John 10:1-10]

 “I am the gate. Whoever enters through me will be saved, and will come in and go out and find pasture (Joh 10:1)”

gate of the sheep 1Jesus is not the gatekeeper, but Jesus is the gate Himself. A gate or a door gives a passage or access to a sheepfold, a house, a building or a room. It both separates and connects the insiders and the outsiders. In fact, the gate is as essential as the house itself. What is the building without a door or an entry point? It is either a construction error or it is not a sheepfold or a house at all. The gate is not only an accessory to the house, but it also defines the house itself. Is it an accessible house, locked house or not a house at all?

 Being part of the digital generation, we have our own ‘gateway’. In our familiar terms, this is the access, the connection or the networking. We use this access to communicate, to work and even to make important decisions. It turns to be part of who we are, as we crave for it, demand it, and fight for it. Sometimes, I get upset because the connection is poor inside the formation house that I cannot communicate with my family in Indonesia. A child as young as one year old knows how to manipulate an iPhone, and cries loudly when the parents try to take it away from him. Many researchers conclude that Facebook has become another new kind of addiction, as more and more millennials are spending more time on FB.  Lesley Alderman of The New York Times said that we check our cellular phone at an average of 47 to 82 times a day precisely because the access it gives us to almost everything.

Yet, it is not only about addiction or having fun. It is about our lives. A lot companies, jobs and workers are now dependent on this access, something which did not exist twenty years ago. Better connection means faster transaction, the richer the company becomes. The same access is used to control remotely unmanned machines, like drone. Some drones are used for photography, fun and researches, but others can be used to carry powerful explosives. Now, the access can either make us or destroy us.

In today’s Gospel, Jesus introduces Himself as the gate, the access or the connection to the fullness of life. Now, it is up to us whether we enter this gate and use this access, or refuse to enter and waste the connection. If we examine our daily lives, how many hours do we avail of this divine access? We might be upset if we lose our internet connection, but do we get the same feeling when we miss the connection with God? How many hours do we spend for browsing the internet, and eagerly chat with our online friends, compared to the time we use to read the Bible and worship Jesus in the Eucharist? We might be surprised that we actually only remember God on Sunday. And in fact, within the Mass, we are also preoccupied with what inside our phone!

It is one of the fundamental reasons why many of us are unhappy, restless, and at a lost despite the success, riches and other access we possess. Perhaps, it is good to disconnect first from the many connections we have, and connect to the true source of joy. If we are not finding lives meaningful, it is because we are not entering that gate that leads us to the fullness of life.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Akses

Minggu Paskah keempat. 7 Mei 2017 [Yohanes 10: 1-10]

“Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput (Yoh 10: 1).”

gate of the sheep 2Yesus bukanlah sekedar penjaga pintu gerbang, tetapi Yesus adalah sang pintu gerbang. Pintu gerbang atau pintu memberi jalan atau akses ke kandang domba, rumah, bangunan atau ruangan. Pintu memisahkan sekaligus menghubungkan orang dalam dan orang luar. Pintu sama pentingnya dengan rumah itu sendiri. Apa jadinya jika bangunan tanpa pintu masuk? Ini adalah kesalahan konstruksi atau bukan sebuah gedung sama sekali. Pintu bukan hanya aksesori dari sebuah rumah, tapi adalah definisi sebuah rumah. Melalui pintunya, kita bisa menilai apakah rumah ini yang mudah diakses, rumah terkunci atau bukan rumah sama sekali?

 Menjadi bagian dari generasi digital, kita memiliki ‘pintu gerbang’ kita sendiri. Dalam istilah harian kita, inilah akses, koneksi atau jaringan. Kita menggunakan akses untuk berkomunikasi, bekerja dan bahkan membuat keputusan penting. Koneksi telah menjadi bagian dari diri kita, karenanya kita menginginkannya, menyanyanginya, dan memperjuangkannya. Terkadang, saya kesal karena koneksi buruk di dalam rumah formasi sehingga saya tidak dapat berkomunikasi dengan keluarga saya di Indonesia. Seorang anak berumur satu tahun bahkan sudah tahu bagaimana cara memanipulasi iPhone, dan menangis saat orang tuanya mencoba untuk mengambil iPhonenya tersebut. Banyak peneliti menyimpulkan bahwa Facebook telah menjadi jenis kecanduan baru, karena semakin banyak kaum milenial menghabiskan lebih banyak waktu di FB lebih dari hal-hal esensial lainnya. Lesley Alderman dari The New York Times mengatakan bahwa kita mengecek telepon seluler kita rata-rata 47 sampai 82 kali per hari. Ini karena akses yang diberikan bagi kita ke hampir semua hal.

Namun, bukan hanya tentang kecanduan atau bersenang-senang. Akses adalah hidup kita. Banyak perusahaan, profesi dan pekerja sekarang bergantung pada akses internet ini, sesuatu yang tidak terbayangkan dua puluh tahun yang lalu. Adik saya bekerja sebagai coordinator lapangan di sebuah perusahan nasional, dan dia mengkoordinasi anak buahnya, mengecek perkerjaan mereka, dan membeli kebutuhan di lapangan. Semua ini dilakukan di depan laptopnya! Koneksi yang lebih baik berarti transaksi lebih cepat, semakin kaya perusahaan tersebut. Akses yang sama digunakan untuk mengendalikan mesin tak berawak jarak jauh, seperti drone. Beberapa drone digunakan untuk fotografi, hobi dan penelitian, namun beberapa lainnya membawa bahan peledak yang kuat. Sekarang, akses ini bisa membantu kita atau menghancurkan kita.

Dalam Injil hari ini, Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai pintu, akses atau koneksi menuju kepenuhan hidup. Sekarang, terserah kita apakah kita mau masuk ke pintu ini dan menggunakan akses ini, atau menolak untuk memasuk dan menyia-nyiakan koneksi ini. Jika kita memeriksa kehidupan kita sehari-hari, berapa jam kita memanfaatkan akses ilahi ini? Kita mungkin kesal jika kita kehilangan koneksi internet, tapi apakah kita kesal saat kita kehilangan koneksi dengan Tuhan? Berapa jam kita habiskan untuk browsing internet, dan dengan penuh semangat chatting dengan teman-teman online kita? Tetapi berapa jam kita gunakan untuk membaca Alkitab dan menyembah Yesus dalam Ekaristi? Kita mungkin terkejut bahwa kita sebenarnya hanya mengingat Tuhan pada hari Minggu. Dan faktanya, dalam Misa, kita juga sibuk dengan apa yang ada di dalam HP kita!

Ini adalah salah satu alasan mendasar mengapa banyak dari kita tidak bahagia, gelisah, dan tersesat meski sukses, kaya, dan akses lainnya yang kita miliki. Mungkin, sebaiknya lepaskan dulu banyak koneksi yang kita miliki, dan hubungkan diri kita kembali ke sumber sukacita sejati. Jika kita tidak menemukan hidup bermakna, ini karena kita tidak memasuki pintu yang membawa kita pada kepenuhan hidup.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Journey to Emmaus and the Eucharist

Third Sunday of Easter. April 30, 2017 [Luke 24:13-35]

“…while he was with them at table, he took bread, said the blessing, broke it, and gave it to them. 31 With that their eyes were opened and they recognized him… (Luk 24:30-31)”

emmaus 2Luke wonderfully narrated the Journey to Emmaus in such a way that it became a catechetical instruction on the Eucharist. The two disciples were actually running away from Jerusalem. After the death of their master, the situation turned to be dangerous for their lives. They were afraid of the Jewish authorities and their hope and dream of having a Messiah were shattered. Better for them to go away and return to their former lives. Yet, Jesus surprisingly came, healed their wounds, and reappointed them as His apostles. However, let us see some details of today’s Gospel and how this narrative speaks of the Eucharist.

It begins with Jesus coming to the two disciples in their struggles, and inviting them to be with Him. He gathers and listens to all His disciples’ worries, failures and anxieties. The initiative is coming from Jesus. After listening to their stories, He starts to explain the Scriptures. He sheds light on how His life, death and resurrection have become the fulfillment of the scripture. This part is traditionally called ‘kerygma’ or proclamation. Then He connects the meanings of these events to His disciples’ lives. What is happening here is the first part of the Mass, the Liturgy of the Word: God gathers us His people with all our joys and sorrows and then, He nourishes us with His Word.

What follows is the breaking of the bread. Yet, before this takes place, the disciples have to do their part in inviting Jesus to stay with them. The initiative is from God, but we need to do our effort to participate in His work and make it fruitful. Then, Jesus takes the bread, blesses it, breaks it and shares it with the disciples. These very acts remind the disciples of Jesus in the Last Supper. In fact, the breaking of the bread is an ancient and biblical name for the Eucharist. The basic purpose of the Eucharist is to present the real Christ, and indeed, the disciples are able to recognize Him here. This is the first Eucharist after the Resurrection, and this brings healing and forgiveness. It gives meaning to the troubled lives and shattered hopes of the disciples. Then, after being nourished by His Word and His Body, the disciples’ hearts are burning and they go back to Jerusalem to proclaim the risen Jesus. The encounter with the risen Lord always leads to mission and preaching. These depict the second half of the Mass, the liturgy of the Eucharist.

Luke wrote his Gospel more than 1900 years ago, and it is amazing that the basic structure of the Eucharist remains even to this very day. Certainly, there are also many changes along the way, like for example the transformation from the old Latin Mass to the post-Vatican II mass, the ordinary form we have now. Yet, we are still faithful to what are truly essential and foundational: the reading and preaching of the Word and the breaking of the Bread. We are blessed and humbled that we are members of the Church who faithfully encounter Jesus, the Word and the Eucharist, just like the two disciples in the Gospel and like the first Christians in ancient time. It is now our challenge to continue living as the Eucharistic people in our daily lives, the men and women nourished by His Word and Body in the Eucharist.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Emaus dan Ekaristi

Minggu Paskah ketiga. 30 April 2017 [Lukas 24: 13-35]

“…Ia memecah-mecahkan roti dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia… (Luk 24: 30-31)”

emmaus 1Lukas menceritakan kisah Perjalanan ke Emaus dengan sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah instruksi kateketis tentang Ekaristi. Kedua murid tersebut sebenarnya melarikan diri dari Yerusalem. Setelah kematian guru mereka, situasi berubah menjadi berbahaya bagi kehidupan mereka. Mereka takut pada penguasa Yahudi, dan harapan dan impian mereka untuk memiliki seorang Mesias hancur berantakan. Lebih baik mereka pergi dan kembali ke kehidupan yang dulu. Namun, Yesus dengan mengejutkan datang, menyembuhkan luka-luka mereka, dan menunjuk mereka kembali sebagai rasul-rasul-Nya. Mari kita lihat beberapa rincian Injil hari ini dan bagaimana narasi ini berbicara tentang Ekaristi.

Bermula dengan Yesus datang kepada dua murid dalam bergulatan. Diapun mendengarkan dan menyimak semua kekhawatiran, kegagalan, dan kecemasan para murid-Nya. Inisiatif ini datang dari Yesus. Setelah mendengarkan cerita mereka, Dia mulai menjelaskan Kitab Suci. Dia menjelaskan bagaimana kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya telah menjadi pemenuhan kitab suci. Bagian ini secara tradisional disebut ‘kerygma’ atau ‘proklamasi’. Kemudian Dia menghubungkan makna kerygma ini dengan kehidupan murid-murid-Nya. Apa yang terjadi di sini adalah bagian pertama dari Misa, yakni Liturgi Sabda: Tuhan mengumpulkan kita umat-Nya dengan segala kegembiraan dan kesedihan kita dan kemudian, Dia memelihara kita dengan Firman-Nya.

Berikutnya adalah pemecahan roti. Namun, sebelum hal ini terjadi, para murid harus melakukan peran mereka dalam mengundang Yesus untuk tinggal bersama mereka. Inisiatif berasal dari Tuhan, tapi kita perlu melakukan usaha kita untuk berpartisipasi dalam karya-Nya dan menjadikannya berbuah. Kemudian, Yesus mengambil roti itu, memberkatinya, memecahkannya dan membagikannya kepada para murid. Tindakan-tindakan ini mengingatkan para murid Yesus akan Perjamuan Terakhir. Sebenarnya, pemecahan roti adalah nama kuno dan alkitabiah untuk Ekaristi. Tujuan dasar Ekaristi adalah untuk menghadirkan Kristus yang sejati, dan sungguh, para murid dapat mengenali Dia di sini. Ini adalah Ekaristi pertama setelah Kebangkitan, dan ini membawa penyembuhan dan pengampunan. Ini memberi makna pada kehidupan yang bermasalah dan pemulihan kepada harapan para murid yang hancur. Kemudian, setelah mendengarkan Firman dan menyantap Tubuh-Nya, hati para murid terbakar dan mereka kembali ke Yerusalem untuk mewartakan Yesus yang telah bangkit. Pertemuan dengan Tuhan yang bangkit selalu membawa kepada misi dan pemwartaan. Ini menggambarkan paruh kedua Misa, liturgi Ekaristi.

Lukas menulis Injilnya lebih dari 1900 tahun yang lalu, dan sungguh menakjubkan bahwa struktur dasar Ekaristi tetap bertahan sampai hari ini. Tentu saja, ada juga banyak perubahan di sepanjang jalan, seperti misalnya transformasi dari Misa Latin tradisional menjadi MIsa Vatikan II, bentuk Ekaristi yang kita miliki saat ini. Namun, kita masih setia pada apa yang benar-benar penting dan mendasar: pemberitaan Firman dan pemecahaan Roti. Kita sungguh terberkati bahwa kita adalah anggota Gereja yang dengan setia bertemu dengan Yesus, dalam Firman dan Ekaristi, sama seperti kedua murid di dalam Injil dan seperti jemaat pertama di zaman Lukas. Sekarang tantangan bagi kita adalah untuk terus hidup sebagai manusia Ekaristi dalam kehidupan kita sehari-hari, pria dan wanita yang diberdayakan oleh Firman dan Tubuh-Nya dalam Ekaristi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Paradox of Resurrection

Second Sunday of Easter. April 23, 2017 [John 20:19-31]

“Unless I see the mark of the nails in his hands and put my finger into the nailmarks and put my hand into his side, I will not believe (John 20:25).”

doubting thoms 1Thomas was looking for a proof that Jesus truly rose from the dead. Not only seeing Him in person, he required another sign: touching the crucifixion marks that Jesus bore.  He was one of the Twelve, the inner cycle of Jesus’ disciples, and being one, he had the privilege to walk with Jesus, dine with Him, and witness His mighty deeds. At a first glance, he would easily recognize Jesus, his Master, but still, he demanded the marks of the nails. Why did Thomas insist on searching the wounds?

The reason is that Thomas wanted to make sure that he and other disciples were not seeing a ghost or just hallucinating. Moreover, he wanted to confirm that the person he was going to meet was truly Jesus and not an impostor. The crucifixion wounds of Jesus became a practical identification of the risen Christ. Though it is really practical, there is also a downside of it. Thomas identified Jesus primarily with His wounds. Thomas was not alone here. Often, not only doubting, we follow Thomas also in identifying other people with their wounds and weaknesses.

Napoleon Bonaparte was once a great general and he led his army to conquer Europe. Yet, in 1815, in the battle of Waterloo in present-day Belgium, Napoleon was defeated and it was sealed his fate. Waterloo gradually becomes not only the crucifixion mark of Napoleon but also a metaphor for the failures of many people. The same goes with Achilles who was a hero in Greek Mythology and the main protagonist of Homer’s epic, the Iliad. He was the most skillful warrior who brought the mighty Troy to its knees. He had only one vulnerable point in his body, his heel, and indeed, he died after the enemy shot an arrow to his heel. Even the greatest warrior has his weakness, and since then, the Achilles’ heel becomes a symbol of fatal weakness to everyone.

We have our own weaknesses, failures, and vulnerabilities. Often, we associate ourselves or other people with this wounds and marks. Bayu, who is always late; Alex, the jobless; Ram, the sickly; Andre, the obsessed; Francis, the ex-con; Peter, the impulsive denier; Thomas, the doubter; Mary, possessed by the seven demons; Judas, the betrayer; Jesus, the crucified. We are our wounds. We are as good as the mark we bear.

However, in today’s Gospel, Jesus did not rebuke Thomas for looking only for His marks. Jesus did not demand Thomas to focus on the best of Him. He even asked him to see and touch the wounds. Jesus embraced the very marks of His defeat and made it a sign of His resurrection. This has become the proof of God’s marvelous works, and the counter place between Thomas and God. It is not a ‘positive talk’ that goes “if you fail a hundred times, get up one hundred and one times!” It goes beyond it. The resurrection calls us neither to deny nor to hide our weaknesses, but to see the Lord even in these lowest situations of our lives. At times, when we are weak, our defenses are down, and it is the time, God enters our lives. At times, when we fail and lose, we fall to our knees and pray. This is the paradox of the resurrection!

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Paradoks Kebangkitan

Minggu Paskah kedua. 23 April 2017 [Yohanes 20: 19-31]

“Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya (Yoh 20:25).”

Jesus appears to Thomas - John 20:24-29

Thomas sedang mencari bukti bahwa Yesus benar-benar bangkit dari kematian. Tidak cukup  baginya untuk melihat Yesus dengan matanya, Thomas membutuhkan bukti lain: menyentuh luka-luka bekas penyaliban Yesus. Thomas adalah salah satu dari dua belas rasul yang merupakan lingkaran dalam murid Yesus. Sebagai bagian dari dua belas rasul, Thomas memiliki hak istimewa untuk berjalan bersama Yesus, makan bersama-Nya, dan menyaksikan perbuatan-Nya yang perkasa. Sekilas, dia akan dengan mudah mengenali Yesus, Gurunya, tapi tetap saja dia menuntut bekas luka-luka Yesus. Mengapa Thomas bersikeras untuk mencari luka-luka itu?

Alasannya adalah bahwa Thomas ingin memastikan bahwa dia tidak melihat hantu atau hanya berhalusinasi. Selain itu, dia ingin memastikan bahwa orang yang akan dia temui benar-benar Yesus, dan bukan seorang penipu yang menyerupai Yesus. Luka-luka penyaliban Yesus menjadi bukti identifikasi Kristus yang bangkit. Meski sangat praktis, ada juga sisi negatifnya. Thomas mengidentifikasi Yesus terutama dengan luka-luka-Nya, kelemahan-Nya. Thomas tidak sendirian di sini. Seringkali, kita juga mengikuti Thomas dalam mengidentifikasi orang lain dengan luka dan kelemahan mereka.

Kita memiliki kelemahan, kegagalan, dan luka kita masing-masing. Seringkali, kita mengasosiasikan diri kita atau orang lain dengan luka dan kelemahan ini. Bayu, yang selalu terlambat; Alex, seorang pengangguran; Roy, si pesakitan; Andre, yang gemuk; Fransiskus, si pembohong; Petrus, si penyangkal; Thomas, si peragu; Maria, yang dirasuki oleh tujuh setan; Yesus, yang tersalibkan. Kita adalah luka-luka kita. Kita tidaklah lebih baik dari tanda kelemahan yang kita tanggung.

Namun, dalam Injil hari ini, Yesus tidak menegur Thomas karena hanya mencari tanda-tanda-Nya. Yesus tidak menuntut Thomas untuk mencari yang terbaik dari-Nya. Dia bahkan memintanya untuk melihat dan menyentuh luka-luka-Nya. Yesus merangkul tanda-tanda kekalahan-Nya dan menjadikannya tanda kebangkitan-Nya. Ini telah menjadi bukti karya Tuhan yang luar biasa, dan tempat pertemuan antara Thomas dan Tuhan. Ini bukan sekedar ‘berpikiran positif’ yang berseru ,“Jika kamu gagal seratus kali, bangunlah seratus satu kali!” Kebangkitan memanggil kita untuk tidak menyangkal atau menyembunyikan kelemahan kita, tapi untuk melihat Tuhan bahkan dalam situasi hidup kita yang paling rendah ini.

Waktu saya kelas satu SD, nilai saya merah di hampir semua mata pelajaran. Sayapun tidak naik kelas dan diminta untuk mengulang. Ini adalah sesuatu yang memalukan dan menyedihkan bagi saya dan keluarga. Kepercayaan diri saya hilang dan saya mulai berpikir bahwa saya adalah anak bodoh dan tidak memiliki masa depan. Tetapi, orang tua saya tidak menyerah. Mereka terus mendukung dan memberikan yang terbaik bagi saya. Sayapun perlahan maju dan berkembang. Melihat kembali pengalaman ini, saya bersyukur karena saya menemukan Tuhan bahkan di dalam pengalaman paling buruk dalam hidup saya. Tuhan yang bangkit hadir di dalam orang tua saya.

Di saat kita lemah dan terluka, di saat kita tidak lagi bisa membanggakan segala hal keberhasilan kita, inilah saatnya Tuhan masuk ke dalam kehidupan kita. Saat kita gagal dan kalah, kita berlutut dan berdoa. Di dalam luka dan kelemahan, kita menemukan Yesus yang bangkit. Inilah paradoks kebangkitan!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Resurrection and the Dominican Spirituality

(Easter special)

 Easter Sunday. April 16, 2017 [John 20:1-10]

“On the first day of the week, Mary of Magdala came to the tomb early in the morning, while it was still dark, and saw the stone removed from the tomb (Joh 20:1).”

 

women at the tombIf we read the Resurrection narrative in the four Gospels, we will discover that each Evangelist has his own distinct story. Yet, there are some common features in the Resurrection episode: the empty tomb, the presence of women, the appearance of angel followed by the risen Christ, and the women announcing the Good News to the other disciples. Let us focus on one particular feature that we usually miss. The first witnesses of the resurrection were not men, but women. Where were the male disciples? Where were those men who promised to sacrifice their lives for Jesus? They were in hiding. They were afraid. They were scattered.

When Jesus was betrayed and arrested, the male disciples ran for their lives, but the women faithfully followed Jesus. They were there at the foot of the cross. They witnessed Jesus’ death. They brought Him to the tomb. They returned to the tomb to give him proper burial rites at the first day of the week. Because of their fidelity, they were honored to be the first witnesses of the Resurrection. Not only witnesses, they were the first preachers of Resurrection.

This particular feature is an essential part of the Dominican spirituality. One of the patrons of the Order of Preachers is St. Mary Magdalene, and she was chosen because we honor her as the apostle to the apostles, the preacher to the preachers. By making her our patroness, we acknowledge that the task of preaching is not exclusively limited to the members of the clergy, but to lay men and women as well. The first convent St. Dominic established was in Prouille, France, and this was a convent for religious women. For us, Preaching is a family effort, all brothers and sisters take part and contribute in the mission of naming grace.

While it remains true that only the Dominican priests can give the homily in the Mass, it does not mean that non-clerical brothers and sister can not preach. We, the brothers in formation in Manila, are involved in facilitating retreats and recollections, producing video catechesis in the social media, and are coming up with the “Joyful Friars”, a preaching band group. Our sisters are involved in the teaching ministry. Some of them, like Mary Catherine Hilkert and Helen Alford are in fact professors in great universities in the US and Europe. Our lay Dominicans serve as lay preachers or campus ministers. Yet most importantly, they preach to their children and educate them to be mature and committed Christians.

Further more, for the Dominicans, preaching is not limited to verbal communication, but also takes flesh in various forms, depending on the needs of the people. Fr. Mike Deeb, OP is currently a permanent delegate of the Order to the United States in Geneva. He challenges countries that neglect various issues of injustice like human trafficking, violence, human rights abuses, and many more. James MacMillan is a lay Dominican and a renowned composer from Scotland. He composed mass songs when Benedict XVI visited the UK in 2010. Sr. Katarina Pajchel, OP is both a religious sister and a physicist. She is involved in ATLAS project, a particle physics experiment at the Large Hadron Collider. These names are just few of many Dominicans who preach in their own right.

At the core of Dominican spirituality is the belief that each of us is called to witness to His Resurrection and to bring this Good News. Even better the news is that this spirituality is not only for the Dominicans. Every man and woman, clergy or lay, a Dominican or not, are called to this mission. We are to preach the Resurrection in our unique way. We are called to preach as a redeemed people, a family of God.

Blessed Easter!

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kebangkitan dan Spiritualitas Dominikan

(Edisi Khusus Paskah)

Minggu Paskah. 16 April 2017 [Yohanes 20:1-10}

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur (Joh 20:1).”

women at the tomb 2Jika kita membaca narasi Kebangkitan di keempat Injil, kita akan menemukan bahwa setiap Penginjil memiliki cerita unik tersendiri. Namun, walaupun berbeda, ada beberapa hal-hal serupa di dalam narasi Kebangkitan, seperti kubur yang kosong, kehadiran para wanita, hadirnya malaikat diikuti oleh Yesus yang bangkit, dan para wanita mewartakan Kabar Baik bagi murid-murid lainnya. Mari kita fokus pada satu fitur yang biasanya luput dari perhatian kita. Saksi pertama dari kebangkitan bukanlah seorang laki-laki, tapi para perempuan. Pertanyaanya sekarang: Di mana para murid laki-laki? Di mana para pria yang berjanji untuk mengorbankan nyawa mereka demi Yesus? Jawabannya: Mereka bersembunyi, lari dan ketakutan.

Saat Yesus dikhianati dan ditangkap, para murid laki-laki menyelamatkan diri, tetapi para murid perempuan setia mengikuti jalan salib Yesus. Mereka berada di sekitar Yesus yang tersalib. Mereka menyaksikan kematian-Nya. Mereka membawa-Nya ke kubur. Mereka kembali ke kubur untuk memberi-Nya ritus penguburan yang layak. Karena kesetiaan mereka, mereka menerima kehormatan menjadi saksi-saksi pertama kebangkitan-Nya. Tidak hanya saksi, mereka adalah para pewarta pertama kebangkitan-Nya.

Fitur ini menjadi bagian penting dari spiritualitas Dominikan. Salah satu orang kudus pelindung dari Ordo Pengkhotbah adalah St. Maria Magdalena, dan dia dipilih karena kita menghormatinya sebagai pewarta pertama kebangkitan Yesus, seorang rasul kepada para rasul, seorang pewarta kepada para pewarta. Dengan menjadikannya sebagai santa pelindung Ordo, kita mengakui bahwa tugas pewartaan tidak hanya terbatas pada kaum tertahbis, tapi ini adalah misi milik semua, baik pria maupun wanita, baik kaum tertahbis maupun orang awam. Biara pertama yang St. Dominikus didirikan berada di Prouille, Perancis, dan ini adalah sebuah biara bagi wanita. Bagi kita, pewartaan merupakan usaha keluarga. Semua saudara-saudari mengambil bagian dan berkontribusi dalam misi pewartaan yang adalah mengartikulasikan rahmat di antara kita.

Sementara hanya para imam Dominikan yang dapat memberikan homili dalam Misa, ini tidak berarti bahwa para bruder, suster, frater maupun awam tidak bisa mewartakan. Kami, para frater di formasi di Manila, aktif terlibat dalam memberi retret dan rekoleksi, memproduksi video katekese di media sosial, dan memiliki kelompok band untuk lagu-lagu rohani. Para susters kami adalah pengajar-pengajar unggul. Beberapa dari mereka Sr. Mary Catherine Hilkert, OP dan Sr. Helen Alford, OP adalah profesor di universitas-universitas besar di Amerika Serikat dan Eropa. Banyak juga Dominikan awam yang menjadi pewarta awam, aktif di pelayanan katekesis Gereja dan kampus ministri. Namun yang paling penting, mereka menjadi pewarta kepada anak-anak mereka dan mendidik mereka untuk menjadi seorang Katolik yang dewasa dan berkomitmen.

Namun, bagi Dominikan, pewartaan tidak terbatas dalam pelayanan Firman, tetapi juga mengambil berbagai bentuk, tergantung pada kebutuhan umat Allah. Rm. Mike Deeb, OP adalah delegasi permanen Ordo bagi PBB di Genewa. Dengan posisinya, dia mengingatkan perwakilan negara-negara yang teruskan mengabaikan berbagai isu keadilan seperti perdagangan manusia, kekerasan, pelanggaran hak asasi manusia, dan banyak lagi. James MacMillan adalah seorang Dominikan awam dan komposer terkenal dari Skotlandia. Dia mengarang lagu-lagu misa ketika Paus Benediktus XVI mengunjungi Inggris pada tahun 2010. Sr. Katarina Pajchel, OP adalah seorang suster dan juga fisikawan. Dia terlibat dalam projek ATLAS, percobaan fisika partikel di Large Hadron Collider. Ini hanya beberapa nama Dominikan yang menjadi pewarta dengan cara unik mereka sendiri, tentunya masih banyak lagi.

Inti dari spiritualitas Dominikan adalah keyakinan bahwa kita masing-masing dipanggil untuk menyaksikan Kebangkitan-Nya dan untuk membawa Kabar Baik ini ke semua orang. Kabar yang lebih baiknya adalah anda tidak perlu menjadi anggota keluarga Dominikan untuk menjadi pewarta kebangkitan. Kita semua, baik kaum tertahbis maupun awam, baik lelaki maupun perempuan, Dominikan ataupun bukan memiliki misi yang sama, dan bersama-sama kita mewujudkan misi ini sebagai satu keluarga Allah.

Selamat Paskah!

 

Frater Valetinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Spirit Connects!

Pentecost Sunday. May 15, 2016 [John 14:15-16,23-25]

“They were all filled with the Holy Spirit and began to speak in different tongues, as the Spirit enabled them to proclaim (Acts 2:4).”

pentecost 2My first time to attend a Catholic Charismatic prayer meeting was around 10 years ago in Singapore. It was a gathering characterized by upbeat music and intensified prayers. As the prayer was getting intense, suddenly I witnessed some of participants began to experience kind of trance and utter unintelligible words. For a while I was dumbfounded, but soon realized that they may actually speak in tongue. This may refer to the one of the Holy Spirit’s charismatic gifts, described no less than St. Paul himself.  “For one who speaks in a tongue does not speak to human beings but to God, for no one listens; he utters mysteries in spirit (1 Cor 14:2)”

All the way, I thought that this speaking of tongue phenomenon was what took place on the Pentecost Sunday. When mother Mary and the disciples gathered fifty days after Jesus’ resurrection and the Holy Spirit started to descend upon them and filled them with His power. They began to speak in different languages. Yet, I was mistaken, they did not speak in tongue. The Holy Spirit bestowed on them a different kind of gift. That was the gift of understanding and language. The Apostles did speak different tongues but this gift empowered to communicate clearly the Gospel of Jesus Christ. People from different regions like Syria, Asia Minor (present-day Turkey), Arab peninsula, North Africa, even Europe, certainly speaking in multitude of languages, were able to comprehend the apostles who were native Palestinian. The Spirit enabled them to connect.

The Pentecost and the gift of language speaks deeper reality about the Holy Spirit. He is the Spirit that unites us. He heals our brokenness and cures our tendency to be selfishly autonomous. In Pentecost, the Spirit undid the curse of the Tower of Babylon in Genesis 11. This is a symbolical story on human egocentric desire to usurp God, to be equal with God, by building a super-tall tower that can reach God with their own efforts and cunningness. Yet, human ambition and greed for power brought divisions and ruins to human race itself. Perhaps, one of the modern depictions of the Tower of Babel is the best-seller novel and most-anticipated TV series Game of Thrones. The novel smartly narrates how men’s unquenchable passion for the Iron Throne moves various characters in the novel to employ various cunning and dirty tricks to destroy their rivals. The seven Kingdoms, formerly united, divided, falls and they are at each others’ throats.

John Maxwell in his book, Everyone Communicates, Few Connects, argues that everything rises and falls on leadership, and yet, leadership is only possible with the leaders’ ability to connect with others. United States president Abraham Lincoln once also said, “If you would win a man to your cause, first convince him that you are his sincere friend.”  Yet, fundamental to a genuine connecting is all about others. It means setting aside our vain ambition and untamed desire to gain all the attention to ourselves and we make others, their concerns, their struggles as ours.

The Holy Spirit comes to bring us that original connection with God and each other. It is true that often we do not get always the ‘high feeling’ of indwelling of the Spirit, just like in the charismatic prayer meetings, but it does not mean the Holy Spirit is absent. In fact, most of the time, He is working in silence and ordinary ways. He is working when we become more persevering in the sufferings of life. He is working when we are more patient in loving people who often give us problems. He gave us little joy in small realization of various blessing we receive today. I believe fruitful and meaningful reading of this reflection is His work in us.

As we celebrate the Pentecost, we pray that we may continue to open ourselves to the grace of the Holy Spirit and allow Him to make our lives ever fruitful.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Roh Koneksi

Hari Raya Pentakosta. 15 Mei 2016 [Yohanes 14: 15-16,23-25]

Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. (Kisah Para Rasul 2: 4).”

pentecostPertama kalinya saya menghadiri pertemuan doa Karismatik Katolik adalah sekitar 10 tahun yang lalu di Singapura. Pertemuan ini ditandai dengan musik yang upbeat dan doa yang intensif. Di tengah ibadat dan disaat doa-doa semakin intens, tiba-tiba saya menyaksikan beberapa peserta mulai mengalami sesuatu yang tidak biasa dan mengucapkan kata-kata tidak jelas. Awalnya, saya tercengang, tapi saya segera menyadari bahwa mereka sedang berbicara dalam bahasa roh. Phenomena ini merujuk pada seseorang yang dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus dan mulai bernubuat sesuai kehendak Roh. Fenomena ini sudah ada sejak Gereja berdiri. St. Paulus sendiri menulis “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. (1 Kor 14: 2)”

Awalnya, saya berpikir bahwa fenomena bahasa Roh ini adalah apa yang terjadi pada hari Pentakosta pertama. Ketika Bunda Maria dan para murid berkumpul di hari ke-lima puluh setelah kebangkitan Yesus dan Roh Kudus turun atas mereka dan memenuhi mereka dengan kuasa-Nya. Mereka mulai berbicara dalam bahasa yang berbeda. Namun, saya salah, mereka tidak berbicara dalam bahasa roh. Roh Kudus menganugerahkan karunia yang berbeda. Ini adalah karunia bahasa pengertian dan pemahaman. Para Rasul tidak berbicara bahasa yang aneh tapi diberdayakan untuk mengkomunikasikan dengan jelas Injil Yesus Kristus. Umat dari berbagai daerah seperti Suriah, Asia Kecil (Turki), Semenanjung Arab, Afrika Utara, bahkan Eropa, tentu berbicara dalam banyak bahasa, tapi mereka mampu memahami para rasul yang sebenarnya orang asli Palestina. Roh memampukan mereka untuk membangun koneksi.

Pentakosta dan karunia bahasa berbicara realitas yang lebih dalam tentang Roh Kudus. Dia adalah Roh yang menyatukan kita. Dia menyembuhkan perpecahan dan kecenderungan kita untuk menjadi egois. Dalam Pentakosta, Roh menghapus kutukan Menara Babel dalam Buku Kejadian 11. Ini adalah kisah simbolis tentang keinginan egosentris manusia untuk mengalahkan Tuhan, untuk menjadi setara dengan Allah, dengan membangun sebuah menara super tinggi yang dapat mencapai Tuhan dengan upaya mereka sendiri. Namun, ambisi manusia dan keserakahan akan kekuasaan membawa perpecahan dan keruntuhan bagi umat manusia. Mungkin, salah satu pencitraan modern dari Menara Babel adalah TV series yang paling diantisipasi Game of Thrones. Seri ini dengan cerdas menceritakan bagaimana nafsu manusia untuk menjadi raja di Tahta Besi membuai berbagai karakter dalam seri tersebut untuk menggunakan berbagai trik licik dan kotor untuk menghancurkan saingan mereka. Tujuh Kerajaan, sebelumnya bersatu, terbagi, jatuh dan mereka pun saling menghancurkan.

John Maxwell dalam bukunya, Everyone Communicates, Few Connects, berpendapat bahwa kepemimpinan sejati hanya mungkin jika sang pemimpin memiliki kemampuan sang untuk membangun koneksi dengan orang lain. Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln pernah juga mengatakan, “Jika Anda ingin memenangkan seseorang untuk tujuan Anda, meyakinkanlah dia bahwa Anda adalah temannya yang tulus.” Namun, fondasi dari kemampuan membangun koneksi adalah kita mau menjadikan orang lain sebagai tujuan kita dan bukan diri kita sendiri. Ini berarti menyisihkan ambisi kosong dan hasrat kita untuk mendapatkan semua hal bagi diri kita sendiri dan kita membuat orang lain, kekhawatiran mereka, perjuangan mereka menjadi bagian dari hidup kita. Ini adalah karya Roh Kudus: menyembuhkan, mempersatukan dan memberdayakan kita.

Roh Kudus datang agar kita sekali lagi mampu membangun koneksi dengan Tuhan dan satu sama lain, koneksi yang rusak oleh dosa Adam dan Menara Babel. Memang benar bahwa tidak selalu kita mengalami bahasa roh atau perasaan ‘high’ seperti yang dialami pada pertemuan doa karismatik, tetapi ini tidak berarti Roh Kudus tidak berkerja. Bahkan, kebanyakan, Dia bekerja dalam keheningan dan cara-cara yang sederhana. Dia bekerja ketika kita menjadi lebih tekun dan tabah dalam penderitaan hidup. Dia bekerja ketika kita lebih sabar mengasihi mereka yang sering memberi kita masalah. Dia memberi kita kegembiraan sederhana dalam realisasi-realisasi kecil dari berbagai berkat yang kita terima saat ini. Saya percaya saat anda membaca refleksi ini dan menemukan makna, ini adalah pekerjaan-Nya di dalam kita.

Saat kita merayakan Pentakosta, kita berdoa agar kita dapat terus membuka diri kepada kasih karunia Roh Kudus dan mengijinkan Dia untuk membuat hidup kita berbuah.

  Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP