The Glorious Body

Third Sunday of Easter [B]

April 18, 2021

Luke 24:35-48

Miracles are rare occurrences, but some are even rarer and more precious than others. Miraculous healings are exceptional but coming back to life after death is even extraordinary. However, there is one miracle that is wholly unique and incomparable: resurrection. Yet, what makes resurrection different from other miracles?

Resurrection presupposes death or permanent separation between body dan soul. Thus, resurrection is the reunion of body and soul. Our Gospel today informs us that Jesus showed His disciples His body as well as His wounds. He wanted to show them that what disciples experienced in the upper room was not an illusion or fantasy. They did not see a ghost or disembodied spirit. What they encountered was a living human body.

Moreover, the wounds prove that the resurrected body of Christ is the same as the crucified body. He was not an imposter! Jesus even asked for food and ate the baked fish. He acted just like an ordinary living person, and the disciples should not be afraid anymore but believe.

However, Jesus’ resurrection is fundamentally different from what happened to Lazarus [see John 11]. Lazarus was dead, but Jesus raised him from the dead, but Lazarus would eventually face death once more. What happened to Lazarus is usually called ‘resuscitation.’ Meanwhile, Jesus was raised from the dead and will die no more. The resurrected Christ will no longer experience death because He received no ordinary body. His body was a glorious one. It is the same body that Jesus received from Virgin Mary, the same body that walked in Galilee, the same body that preached to the disciples, and the same body that was tortured, crucified, and buried in the tomb. Yet, the divine power has transformed this body.

What makes this glorified body unique? Firstly, this body is immortal. Secondly, it is no longer experiencing suffering like pain, sickness, or aging. Thirdly, the body will be subjected to the laws of nature and freed from the limitation of time and space. This explains why Jesus was able to enter the locked upper room [see CCC 645]. Fourthly, the body can change its appearance. This explains why the disciples often did not recognize the risen Lord. Resurrection does not only about the reunion between the soul and the body but about the body glorified and sanctified for eternal life.

The reality about the resurrection amplifies the fundamental truth about our bodies. The Book of Genesis narrated that God created the physical world as something good. Human persons, including their bodies, were blessed, and called ‘very good.’ God plans that His magnificent creation will not go to waste in death and decay. He wills that this amazing and blessed body continue to exist for eternity and become part of His marvelous heaven.

From this realization, do we prepare our bodies for heaven? Do we abuse our bodies with unhealthy lifestyles? Do we use our bodies to honor God in prayer and good works? Do we destroy our body, the Temple of the Holy Spirit, with vices and addictions? Do we offer our bodies as a living and pleasing sacrifice to God?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tubuh Mulia

Minggu Ketiga Paskah [B]

18 April 2021

Lukas 24: 35-48

Mukjizat adalah kejadian langka, tetapi ada jenis-jenis mukjizat yang bahkan lebih langka dan lebih berharga daripada yang lain. Penyembuhan memang mukjizat dashyat tetapi hidup kembali setelah kematian lebih luar biasa. Namun, ada satu mukjizat yang sepenuhnya unik dan tak tertandingi: kebangkitan. Namun, apa yang membuat kebangkitan berbeda dari mukjizat-mukjizat lainnya?

Kebangkitan mengandaikan kematian, dan definisi kematian adalah keterpisahan permanen antara tubuh dan jiwa. Jadi, kebangkitan adalah penyatuan kembali tubuh dan jiwa yang telah terpisah oleh kematian. Injil hari ini menceritakan bahwa Yesus menunjukkan kepada murid-murid tubuh-Nya serta luka-luka-Nya. Dia ingin menunjukkan kepada mereka bahwa apa yang dialami para murid di ruang atas bukanlah ilusi atau fantasi, mereka juga tidak melihat hantu atau roh tanpa tubuh. Apa yang mereka temui adalah tubuh manusia yang hidup. Apalagi luka itu membuktikan bahwa tubuh Kristus yang bangkit sama dengan tubuh yang disalibkan. Yesus bahkan meminta makanan dan sungguh makan ikan yang diberi. Dia bertingkah laku seperti manusia biasa, dan oleh karena itu, murid-murid-Nya tidak perlu takut lagi, tapi diajak untuk percaya.

Namun, kebangkitan Yesus pada dasarnya berbeda dari yang terjadi pada Lazarus. Kita ingat bahwa Lazarus, saudara Maria dan Marta, wafat, tetapi Yesus membangkitkan dia dari kubur. Namun, Lazarus pada akhirnya akan menghadapi kematian sekali lagi. Apa yang terjadi pada Lazarus biasanya disebut ‘resuscitatio’. Sementara itu, Yesus bangkit dari kematian dan tidak akan mati lagi. Kristus tidak akan lagi mengalami kematian karena Ia tidak menerima tubuh biasa, tetapi tubuh yang sangat mulia. Ini adalah tubuh yang sama yang Yesus terima dari Perawan Maria, ini adalah tubuh yang sama yang berjalan di Galilea, ini adalah tubuh yang sama yang mewartakan Injil kepada para murid, dan ini adalah tubuh yang sama yang disiksa, disalibkan, dan dikuburkan di makam. Dan sekarang, kekuatan ilahi telah mengubah tubuh ini menjadi tubuh yang mulia.

Apa yang membuat tubuh yang dimuliakan ini luar biasa? Pertama, tubuh ini kekal dan tidak akan mati. Kedua, tidak lagi mengalami penderitaan seperti sakit atau penuaan. Ketiga, tubuh ini tidak tunduk pada hukum alam dan terbebas dari batasan ruang dan waktu. Ini menjelaskan mengapa Yesus bisa masuk ke ruang para murid yang terkunci [lihat KGK 645]. Keempat, tubuh ini bisa mengubah wujudnya. Ini menjelaskan mengapa para murid sering tidak mengenali Tuhan yang telah bangkit. Kebangkitan tidak hanya tentang penyatuan kembali antara jiwa dan tubuh, tetapi tentang tubuh yang dimuliakan dan disucikan untuk hidup yang kekal.

Realitas tentang kebangkitan memperkuat kebenaran dasar tentang tubuh kita. Kitab Kejadian mengatakan bahwa Tuhan menciptakan dunia material sebagai sesuatu yang baik. Pribadi manusia, termasuk tubuh kita diberkati dan disebut ‘sangat baik.’ Adalah rencana Tuhan agar ciptaan-Nya yang luar biasa tidak menjadi sia-sia dalam kematian dan dekomposisi. Dia menghendaki agar tubuh yang baik dan diberkati ini terus ada selama-lamanya dan menjadi bagian dari surga-Nya yang menakjubkan.

Dari kesadaran ini, apakah kita mempersiapkan tubuh kita untuk surga? Apakah kita menyalahgunakan tubuh kita dengan gaya hidup yang tidak sehat? Apakah kita menggunakan tubuh kita untuk menghormati Tuhan dalam doa dan perbuatan baik? Apakah kita menghancurkan tubuh kita, Bait Roh Kudus, dengan kejahatan dan kecanduan? Apakah kita mempersembahkan tubuh kita sebagai korban yang hidup dan menyenangkan kepada Tuhan?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Easter Joy

Easter Sunday [B]

April 4, 2021

John 20:1-9

photocredit: Larm Rmah

Jesus has risen! Alleluia! He is indeed alive, and we have reason to celebrate and rejoice exultantly. From Palm Sunday till Good Friday, we have witnessed the most excellent drama at the center of our faith. Jesus was received as a king by his people, who would eventually condemn Him. He gave up His body and blood to His disciples and brothers, who ultimately sold, betrayed, denied, and abandoned Him. He was innocent, yet He was condemned as a criminal and suffer horrible death on the cross. He is God, but He was buried just like any man. Yet, these dreadful things are not the end of the story. There is a marvelous twist! He rose from the dead and conquered death—his love triumphs over hatred and sin.

The good news is that Jesus’ story is real. His story is radically different from the box-office-hit movies like the Marvel series. The Avengers may dramatically defeat Thanos and resurrected the missing half of humanity, but they remain the great work of fiction. Jesus is real, as even more real than all of us. And because He has risen, our faith in Him is not in vain. We are saved, and we are redeemed. This is the unshakable foundation of our joy! Blaise Paschal, a Catholic French Philosopher, once commented, “Nobody is as happy as a real Christian.”

Yet, what does it mean to be joyful in our world now? Many of us are still struggling with pandemic covid-19, and we are not sure when this will end. Some of us are losing our beloved ones, and others must face an uncertain future due to economic meltdown. We are becoming more unsure of our lives. What should be joyful? We need to see that joy of redeemed people is not simply fleeting good feelings or outbursts of emotions. If we know this kind of sensation in the Church, we may get disappointed.

To have faith in Jesus means we believe that our lives will eventually make sense in Jesus. Thus, our joy is coming from following Jesus, participating in His drama of love and redemption, including in His cross and death. Jesus’ suffering is not the suffering of a helpless victim but a courageously loving man. Jesus’s death is not the death of a sore loser but a total sacrifice of the lover. Jesus loves us to the fullness, and absolute love demands death. In Christ, our suffering is not a sign of our weakness but our radical love. Our joy is following from the truth that we discover that in Christ, we are created beyond ourselves, but for the infinite love, for God Himself.

In this time of crisis, we may endure more uncertainties, but we may have this moment to die to our illusion that wealth, position, and power can save us. In this time of trials, we may face more hardship, but we can turn this opportunity to love deeply and even to offer ourselves in Christ.

On March 27, 1996, seven Trappist monks were kidnapped from the monastery of Tribhirine, Algeria, by the extremist group. All eventually murdered. They had been warned to leave the monastery as Algeria’s situation worsened, but they refused to go because they wanted to be with the people they served. Brother Christian, the leader, wrote in a letter, “I am certain that God loves the Algerians and that He has chosen to prove it by giving them our lives. So then, do we truly love them? Do we love them enough? This is a moment of truth for each one of us and a heavy responsibility in these times when our friends feel so little loved.”

Happy and Blessed Easter to all of you!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sukacita Paskah

Minggu Paskah [B]

4 April 2021

Yohanes 20: 1-9

photocredit: Bruno van der Kraan

Yesus telah bangkit! Aleluya! Dia benar-benar hidup dan kita bersukacita. Dari Minggu Palma hingga Jumat Agung, kita telah menjadi saksi drama terbesar di pusat iman kita. Yesus diterima sebagai raja oleh rakyat-Nya yang pada akhirnya akan menghukum Dia. Dia menyerahkan tubuh dan darah-Nya kepada para murid dan saudara-Nya yang akhirnya menjual, mengkhianati, menyangkal, dan meninggalkan-Nya. Dia tidak bersalah, namun Dia dihukum sebagai penjahat dan menderita kematian yang mengerikan di kayu salib. Dia adalah Tuhan, tetapi Dia dikuburkan sama seperti manusia lainnya. Namun, hal-hal mengerikan ini bukanlah akhir dari cerita kita. Ada kejutan yang luar biasa! Dia bangkit dari kematian dan menaklukkan kematian. Kasih-Nya menang atas kebencian dan dosa.

Kabar baiknya adalah kisah Yesus itu nyata. Kisah-Nya sangat berbeda dari film-film box-office seperti film-film Marvel. Avengers mungkin secara dramatis mengalahkan Thanos dan membangkitkan separuh umat manusia yang hilang, tetapi mereka tetap merupakan karya fiksi. Yesus itu nyata, bahkan lebih nyata dari kita semua. Dan karena Dia benar-benar telah bangkit, iman kita kepada-Nya tidak sia-sia. Kita diselamatkan dan kita ditebus. Ini adalah fondasi yang tak tergoyahkan dari sukacita kita! Blaise Paschal, seorang Filsuf Prancis Katolik, pernah berkomentar, “Tidak ada yang sebahagia umat Kristiani sejati.”

Namun, apa artinya bersukacita di dunia kita sekarang? Banyak dari kita masih berjuang dengan pandemi COVID-19 dan kita tidak yakin kapan ini akan berakhir. Beberapa dari kita kehilangan orang yang kita cintai, dan yang lain harus menghadapi masa depan yang tidak pasti karena krisis ekonomi. Kita menjadi lebih tidak yakin dengan hidup kita. Apa bisa kita bersukacita? Kita perlu melihat bahwa sukacita kita bukan hanya perasaan enak yang cepat berlalu atau sebuah luapan emosi. Jika kita hanya mencari sensasi seperti ini di Gereja, kita mungkin kecewa.

Beriman kepada Yesus berarti kita percaya bahwa hidup kita pada akhirnya akan memiliki makna di dalam Yesus. Jadi, sukacita kita datang dari mengikuti Yesus, berpartisipasi dalam drama kasih dan penebusan-Nya, termasuk dalam salib dan kematian-Nya. Penderitaan Yesus bukanlah penderitaan korban yang tidak berdaya, melainkan penderitaan manusia berani. Kematian Yesus bukanlah kematian pecundang, tapi pengorbanan total. Yesus mengasihi kita sepenuhnya, dan kasih total menuntut kematian. Di dalam Kristus, penderitaan kita bukanlah tanda kelemahan kita, tetapi dari kasih radikal kita. Sukacita kita mengalir dari kebenaran yang kita temukan bahwa di dalam Kristus, kita diciptakan melampaui diri kita sendiri, tetapi untuk kasih yang tak terbatas, untuk Tuhan sendiri.

Di masa krisis ini, kita mungkin menanggung lebih banyak ketidakpastian, tetapi kita bisa menjadikan momen ini untuk mati terhadap ilusi kita bahwa kekayaan, posisi, dan kekuasaan dapat menyelamatkan kita. Di masa pencobaan ini, kita mungkin menghadapi lebih banyak kesulitan, tetapi di dalam Kristus, kita dapat mengubah kesempatan ini untuk mengasihi secara mendalam, dan bahkan memberikan diri kita sendiri.

Pada 27 Maret 1996, ada tujuh pertama Trappist diculik dari biara Tribhirine, Aljazair, oleh kelompok ekstremis. Semua akhirnya dibunuh. Beberapa bulan sebelumnya, mereka telah diperingatkan untuk meninggalkan biara karena situasi Aljazair memburuk, tetapi mereka menolak pergi karena mereka ingin tinggal bersama dengan orang yang mereka layani. Brother Christian, pemimpin biara, menulis dalam sebuah surat, “Saya yakin bahwa Tuhan mencintai orang Aljazair dan bahwa Dia telah memilih untuk membuktikannya dengan memberikan hidup kami kepada mereka. Jadi, apakah kami benar-benar mencintai mereka? Apakah kami cukup mencintai mereka? Ini adalah momen kebenaran bagi kami masing-masing dan tanggung jawab yang berat di saat-saat ini ketika teman-teman kami merasa sangat sedikit dicintai. ”

Selamat Paskah!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Birthday of the Church

Pentecost Sunday [A]

May 31, 2020

John 20:19-23

pentecost coptic“Happy Birthday!” today is the feast of Pentecost, and today is the birth of the Church. We should rejoice because our Church is getting older by age, but getting ever stronger by vitality and creativity in preaching the Good News. Yet, the question is why we celebrate the birthday of the Church on the Pentecost Sunday?

To answer this, we need to understand the biblical meaning of the celebration of Pentecost and what took place to the disciples on the day the Holy Spirit descended upon them. The word Pentecost means the fiftieth, and the feast of Pentecost takes place on the fiftieth day after Sunday Easter. However, the Christian feast itself is originally a Jewish religious festival: the feast of Shavuot or the Feast of Weeks. The feast took place seven weeks after the grand celebration of the Passover. Together with Passover and the Feast of Tabernacle (Booths), Pentecost are the major pilgrimage festivals that require any male Jews to make their way to Jerusalem. Initially, the feast is agricultural in nature. The people of Israel gave thanks for the successful harvests and offered the fruits of their harvest to the Lord. Yet, it also gained a religious meaning. In the feast of Shavuot, the Israelites commemorate the giving of the Law and the making of the covenant with the Lord God in Mount Sinai.

This explains why many people from different nations gathered in around the place of the disciples: they were pilgrims of Pentecost. This answers a more fundamental question about the identity of the Holy Spirit: Why did the Holy Spirit have to present Himself as fire, and no other image like a dove? If we go back to the Sinaitic event itself, we are going to find something remarkable. When God made His covenant and handed down His Law, He appeared Himself to entire Israel as fire [see Exo 19:18]. The Holy Spirit appeared in fire simply because He was the same God who manifested Himself in Sinai. The Pentecost Sunday reveals the fundamental truth about the Holy Spirit that the promised Paraclete is divine.

In Sinai, the Israelites received the Law and entered into a covenant with the Lord. God embraced them and made them “a priestly kingdom and a holy nation [see Exo 19:6]. Israelites became a nation that belongs to God. In the new Pentecost, the Holy Spirit came upon the disciples and instilled in them the New Law of Love. He fashioned them to be new People of God [see Pet 2:9]. The new community of God’s family has been born!

Yet, these new people are even greater. The Holy Spirit empowered the disciples to preach the Good News to people from different nations and languages. The Pentecost reversed the negative effect of the tower of Babel [see Gen 11:1-9]. When people were so proud of themselves and tried to become like God with their power, different languages turned out to be a curse that divides them. Yet, with the Holy Spirit that transformed the hearts and instilled humility, languages become a blessing that unites the different people.

We thank the Holy Spirit that gave birth to the Church. We give thanks to the Holy Spirit that has called us to part of the new people of God.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Selamat Ulang Tahun, Gereja!

Minggu Pantekosta [A]

31 Mei 2020

Yohanes 20: 19-23

pentecost 3“Selamat ulang tahun!” Hari ini adalah hari raya Pentekosta, dan hari ini adalah kelahiran Gereja. Kita harus bersukacita karena Gereja kita bertambah dalam usia, tetapi semakin kuat, bijaksana dan kreatif dalam memberitakan Kabar Baik. Namun, pertanyaannya adalah mengapa kita merayakan ulang tahun Gereja pada hari Minggu Pentekosta?

Untuk menjawab ini, kita perlu memahami makna alkitabiah dari perayaan Pentekosta dan apa yang terjadi pada para murid pada saat Roh Kudus turun ke atas mereka. Kata Pentekosta berarti “yang kelima puluh”, dan hari raya Pentekosta terjadi pada hari kelima puluh setelah Minggu Paskah. Namun, pesta Gereja itu sendiri pada awalnya adalah sebuah festival keagamaan Yahudi: Hari Raya Shavuot atau Hari Raya Tujuh Minggu. Perayaan itu berlangsung tujuh minggu setelah perayaan akbar Paskah. Bersama-sama dengan Paskah dan Hari Raya Pondok Daun, Pentekosta adalah perayaan perziarahan utama yang mengharuskan setiap pria Yahudi untuk melakukan perjalanan ke Yerusalem. Awalnya, ini adalah perayaan agrikultural. Orang-orang Israel bersyukur atas panen yang berhasil dan mempersembahkan hasil panen mereka kepada Tuhan. Namun, itu juga memiliki makna religius. Dalam perayaan Shavuot, orang Israel memperingati pemberian Hukum dan pembuatan perjanjian dengan Tuhan Allah di Gunung Sinai.

Ini menjelaskan mengapa banyak orang dari berbagai bangsa berkumpul di sekitar tempat para murid: mereka adalah peziarah Pentekosta. Perayaan ini juga menjawab pertanyaan yang lebih mendasar tentang identitas Roh Kudus: Mengapa Roh Kudus harus menampakkan diri-Nya sebagai api, dan tidak dengan citra yang lain seperti merpati? Jika kita kembali ke peristiwa di gunung Sinai itu sendiri, kita akan menemukan sesuatu yang luar biasa. Ketika Allah membuat perjanjian-Nya dan menyerahkan Hukum-Nya, Dia menampakkan diri-Nya kepada seluruh Israel sebagai api [lihat Kel 19:18]. Roh Kudus hadir dalam api hanya karena Dia adalah Allah yang sama yang memanifestasikan diri-Nya di Sinai. Hari Minggu Pentekosta mengungkapkan kebenaran mendasar tentang Roh Kudus bahwa Parakletos yang dijanjikan itu adalah Tuhan.

Di Sinai, orang Israel menerima Hukum dan masuk ke dalam perjanjian dengan Tuhan. Allah menjadikan mereka “kerajaan imamat dan bangsa yang kudus [lihat Kel 19: 6]. Bangsa Israel menjadi bangsa yang kepemilikan Tuhan. Dalam Pentekosta yang baru, Roh Kudus turun ke atas para murid dan menanamkan dalam diri mereka Hukum Cinta Kasih yang Baru. Dia membentuk mereka untuk menjadi Umat Allah yang baru [lihat Pet 2: 9]. Komunitas baru keluarga Allah telah lahir hari ini!

Namun, umat Allah baru ini bahkan lebih besar. Roh Kudus memberi kuasa kepada para murid untuk memberitakan Kabar Baik kepada orang-orang dari berbagai bangsa dan bahasa. Pentekosta membalikkan efek negatif dari menara Babel [lihat Kejadian 11: 1-9]. Ketika orang-orang begitu bangga pada diri mereka sendiri dan berusaha menjadi seperti Tuhan dengan kekuatan mereka, berbagai bahasa berubah menjadi kutukan yang memecah belah mereka. Namun, dengan Roh Kudus yang mengubah hati dan menanamkan kerendahan hati, bahasa menjadi berkat yang menyatukan orang-orang yang berbeda.

Kita bersyukur kepada Roh Kudus yang telah melahirkan Gereja. Kita bersyukur kepada Roh Kudus yang telah memanggil kita untuk menjadi bagian dari umat Allah yang baru.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pray like Jesus

7th Sunday of Easter

May 24, 2020

John 17:1-11a

man in prayer 2We are aware that prayer is a fundamental part of Jesus’ life. He prays on a regular basis, and especially when He is preparing to embrace decisive events, like Baptism on the Jordan [Luke 3:21], the election of the twelve apostles [Luke 6:12], transfiguration [Luke 9:28], and the Passion [Matt 26:36–44]. However, we seldom hear what Jesus says in His prayers. In the Synoptic Gospels [Matthew, Mark, and Luke], we are fortunate enough to hear Jesus’ compact and emotional prayer in the Garden of Gethsemane before He enters into His Passion. However, John the evangelist makes sure that we are going to discover what Jesus prays, and it is substantially longer than we ever heard before.

John devotes the entire chapter of His Gospel for this prayer [John 17:1-26]. As expected, He prays to the Father with extraordinary affection and confidence. Yet, what makes it noteworthy is that Jesus does not say only about Himself and His mission, but also prays for His disciples. Jesus is acting as the priest who is interceding on behalf of His disciples. That is why we call this section the high priest’s prayer of Jesus Christ.

From Jesus’ prayer, we unearth some powerful lessons:

Firstly, if prayer is essential in the life of Jesus, it is because Jesus understands that prayer is His line of communication to the Father. Jesus knows well that communication is the key to every flourishing relationship. Perhaps, we fail to see this truth, and that is why we feel prayer is burdensome. We are not eager to attend the mass because we simply understand it as an obligation. We relegate personal prayer to the sideline as we make other things as our priority. Sadly, we immediately blame God if our plans do not work according to our whim, or we even threaten God to grant our wishes. Thus, changing perspective about prayer is crucial and even life-transforming.

Secondly, if prayer is communication, then it should always be a dialogue. Often when we start growing in prayer, we think that we need to always say something to the Lord. I remember one seminarian asked me, “Father, what else should I say if I am running out of words in my prayers?” I told him, “Perhaps, it is time to listen to God.” The next expected question is, “How do I listen to God?” Surely there is no one-size-fits-all answer to this, but I like what St. Jerome says, “You pray: You speak to the bridegroom. You read [scriptures]: He speaks to you.” Yet, we need to remember that dialogue of words is not the end of the communication. The end is the unity of the persons in dialogue. Jesus says, “I am in my Father, and you are in me, and I am in you [John 14:20].”

Lastly, our prayer involves the third person. This is the direct consequence of Jesus’ priestly prayer. Prayer is a dialogue, but just like other dialogue, it may speak about other persons. This is when we pray to God for others. Because Jesus leaves us an example in His priestly prayer, it is all the more imperative for us to care for others through prayers. In time we cannot reach other people who need our help; prayers remain the best way to love them. Indeed the saints in heaven continue to care for us despite not able to physically appear to us through their prayers.

Prayer unites us with God in love and prayer also unites us with people we love in God.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Berdoa seperti Yesus

Minggu Paskah ke-7

24 Mei 2020

Yohanes 17: 1-11a

man in prayer 4Doa adalah bagian mendasar dari kehidupan Yesus. Dia berdoa secara teratur, dan terutama ketika Dia bersiap untuk merangkul peristiwa-peristiwa yang menentukan, seperti Pembaptisan di Sungai Yordan [Lukas 3:21], pemilihan kedua belas rasul [Lukas 6:12], transfigurasi [Lukas 9:28], dan jalan salib-Nya [Mat 26:36-44]. Namun, kita jarang mendengar apa yang Yesus katakan dalam doa-doanya. Dalam Injil Sinoptik [Matius, Markus dan Lukas] kita cukup beruntung mendengar doa Yesus yang pendek dan emosional di Taman Getsemani sebelum Dia memasuki sengsara-Nya. Namun, penginjil Yohanes memastikan bahwa kita akan menemukan apa yang Yesus doakan dan hal ini jauh lebih panjang daripada yang pernah kita dengar sebelumnya.

Yohanes mencurahkan seluruh bab untuk doa ini [Yohanes 17: 1-26]. Yesus berdoa kepada Bapa dengan kasih dan keyakinan yang luar biasa. Namun, yang membuat doa ini  penting adalah bahwa Yesus tidak hanya berdoa tentang diri-Nya dan misi-Nya, tetapi juga berdoa untuk para murid-Nya. Yesus bertindak sebagai imam yang menjadi perantara bagi para murid-Nya. Itulah sebabnya kita menyebut bagian ini sebagai doa Yesus Kristus sebagai imam besar.

Dari doa Yesus, kita menggali beberapa pelajaran yang penting:

Pertama, jika doa sangat penting dalam kehidupan Yesus karena Yesus mengerti doa adalah jalur komunikasi-Nya kepada Bapa. Komunikasi adalah kunci untuk setiap hubungan untuk berkembang, dan Yesus mengetahui hal ini dengan baik. Mungkin, kita gagal melihat kebenaran ini, dan itulah sebabnya kita merasa doa itu membosankan. Kita malas menghadiri misa karena kita hanya memahaminya sebagai kewajiban. Kita menempatkan doa pribadi hanya sebagai tambahan karena kita menjadikan hal-hal lain sebagai prioritas kita. Anehnya, kita segera menyalahkan Tuhan jika rencana kita tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita, atau kita bahkan mengancam Tuhan untuk mengabulkan keinginan kita. Jadi, mengubah perspektif tentang doa adalah penting dan bahkan akan mengubah kehidupan.

Kedua, jika doa adalah komunikasi, maka harus selalu berupa dialog. Sering kali ketika mulai tumbuh dalam doa, kita berpikir bahwa kita harus selalu mengatakan sesuatu kepada Tuhan. Saya ingat seorang frater bertanya kepada saya, “Romo, apa lagi yang harus saya katakan jika saya kehabisan kata-kata dalam doa saya?” Saya mengatakan kepadanya, “Mungkin, ini saatnya untuk mendengarkan Tuhan.” Pertanyaan selanjutnya adalah, “Bagaimana saya mendengarkan Tuhan?” Tentunya tidak ada jawaban yang baku, tetapi saya suka apa yang dikatakan St Heronimus, “Kamu berdoa: kamu berbicara kepada mempelai laki-laki [Yesus]. Kamu membaca [Kitab Suci]: Dia berbicara kepadamu. ” Namun, kita perlu ingat bahwa dialog kata-kata bukanlah akhir dari komunikasi. Akhirnya adalah orang-orang dalam dialog menjadi satu. Yesus berkata pada dirinya sendiri, “Aku di dalam Bapa-Ku, dan kamu di dalam Aku, dan Aku di dalam kamu [Yohanes 14:20].”

Terakhir, doa kita melibatkan orang ketiga. Ini adalah konsekuensi langsung dari doa imam Yesus. Doa adalah dialog, tetapi sama seperti dialog lainnya, doa dapat berbicara tentang orang lain. Inilah saatnya kita berdoa kepada Tuhan untuk orang lain. Karena Yesus memberi kita teladan dalam doa-Nya, maka semakin penting bagi kita untuk memelihara sesama melalui doa. Pada saatnya kita tidak dapat menjangkau orang lain yang membutuhkan bantuan kita, doa tetap menjadi cara terbaik untuk mencintai mereka. Sesungguhnya orang-orang kudus di surga terus memelihara kita meskipun tidak mampu secara fisik menampakkan diri kepada kita, melalui doa-doa mereka.

Doa menyatukan kita dengan Tuhan dalam kasih dan doa juga menyatukan kita dengan orang-orang yang kita kasihi di dalam Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Paraclete

6th Sunday of Easter

May 17, 2020

John 14:15-21

holy spirit dove 4In the last supper, Jesus promised the disciples that He would send another advocate to be with them forever. Who is this other advocate?

We all know that He is the Holy Spirit, the third person of the Most Holy Trinity. Yet, how did Jesus describe Him in the Gospel of John, and why did He call the Spirit as such? Jesus named Him as the Paraclete, or in Greek, “Parakletos.” This exceptional word comes from two more basic Greek words, “para” means “at the side,” and “kaleo” means “to call.” Thus, “parakletos” can be understood as someone who is called to be at our side, especially in times of need. It is crucial to see the original setting where this word came: it was the courtroom. No wonder that the word “parakletos” may be translated into English as an advocate like a lawyer who assists us, defend us and speak on our behalf in the legal trial. Yet, as we know, a good lawyer does not only assist within the courtroom, he is there before and after the trial. He gives his advice and prepares us for the proceedings. In the end, he consoles us if we face severe judgment as well as rejoices if we emerge victoriously. No wonder in English, the word “paraclete” can be translated as an advocate, comforter, counselor, and even helper. But why did Jesus choose this image in the first place?

The reason is that Jesus knew that as the disciples preached His Gospel, they would face many trials. Peter and John faced trial before the Sanhedrin [Acts 4:5 ff]. Stephen was accused of blasphemy and stoned to death [acts 7]. And Paul was put under many judgments before he gave up his life for Jesus. In this kind of reality, Jesus did the right thing: to send the Paraclete. The Holy Spirit would be at the side of the disciples facing trials and hardship as they were preaching Jesus. Indeed, it is inconceivable for these disciples to endure and even give up their lives without the Holy Spirit that were at their side.

In our time, as disciples of Christ, we are facing a global trial caused by the virus covid19. Some of us are luckier because we just need to stay at home. Some of us are fortunate because we can enjoy the livestreaming mass, even twice a day! But for many, the pandemic means losing their livelihood and even their lives. For many, they cannot go to the church even when there was no pandemic.

We indeed need the Paraclete, but one of the gifts of the Holy Spirit is that we are also empowered to be a little paraclete to our brothers and sisters. The moment we, the Dominican community in Surabaya, was required to close the church temporarily for the public service, we immediately were eager to provide an online service to our parishioners. We are thankful that many people donate relief goods to our parish, and our parish priests assisted by lay partners work hard to channel this help to those who are in need.

Instead of complaining that we cannot go to the Church or blaming others for the situations, we should ask the Holy Spirit to empower us to become little paracletes and find ways to be advocates, comforters and at the side of our brothers and sisters in need.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Parakletos

Minggu Paskah ke-6 [A]

17 Mei 2020

Yohanes 14: 15-21

holy spirit doveDalam perjamuan terakhir, Yesus berjanji kepada murid-murid bahwa Ia akan mengirim penolong yang lain untuk bersama mereka selamanya. Siapa penolong yang lain ini?

Kita semua tahu bahwa Dia adalah Roh Kudus, pribadi ketiga dari Tritunggal Mahakudus. Namun, bagaimana Yesus menggambarkan Dia dalam Injil Yohanes, dan mengapa Ia menyebut Roh Kudus sebagai “penolong”? Yesus menamai Dia sebagai penolong, atau dalam bahasa Yunani, “Parakletos.” Kata luar biasa ini berasal dari dua kata dasar Yunani, “para” berarti “di samping,” dan “kaleo” berarti “memanggil.” Dengan demikian, “parakletos” dapat dipahami sebagai seseorang yang dipanggil untuk berada di samping kita, terutama pada saat dibutuhkan. Sangat penting untuk melihat konteks asli kata ini muncul: di ruang sidang. Tidak heran bahwa kata “parakletos” dapat diterjemahkan ke juga sebagai advokat yang membantu, membela kita, dan berbicara atas nama kita dalam persidangan. Namun, seperti yang kita ketahui, seorang pembela yang baik tidak hanya membantu di dalam ruang sidang, ia ada baik sebelum maupun sesudah persidangan. Dia memberikan nasihatnya dan mempersiapkan kita untuk proses pengadilan. Pada akhirnya, dia menghibur kita jika kita menghadapi hukuman berat atau juga bersukacita jika kita berhasil menang. Tidak heran jika kata “parakletos” dapat diterjemahkan sebagai advokat, penghibur, penasihat, dan penolong. Tetapi mengapa Yesus memilih kata ini dari kata-kata yang lain?

Alasannya adalah bahwa Yesus tahu bahwa ketika para murid mulai mewartakan Injil-Nya, mereka akan menghadapi banyak kesulitan termasuk diadili. Petrus dan Yohanes menghadapi pengadilan di hadapan Sanhedrin [Kis 4:5 dst]. Stephanus dituduh melakukan penistaan ​​agama dan dilempari batu sampai mati [Kis 7]. Dan Paulus menjalani banyak persidangan sebelum dia menyerahkan hidupnya untuk Yesus. Dalam kenyataan semacam ini, Yesus melakukan hal yang benar: mengirim Parakletos. Roh Kudus akan berada di sisi para murid menghadapi cobaan dan kesulitan ketika mereka mewartakan Yesus. Memang, sulit memahami tindakan para murid ini untuk bertahan dan bahkan menyerahkan hidup mereka tanpa Roh Kudus yang ada di pihak mereka.

Di zaman kita, sebagai murid Kristus, kita menghadapi masa sulit global yang disebabkan oleh virus covid19. Beberapa dari kita beruntung karena kita hanya perlu tinggal di rumah. Beberapa dari kita beruntung karena kita dapat menikmati misa livestreaming, bahkan dua kali sehari! Tetapi bagi banyak orang, pandemi berarti kehilangan mata pencaharian dan bahkan hidup mereka. Bagi banyak orang, mereka tidak dapat pergi ke gereja bahkan ketika tidak ada pandemi.

Kita memang membutuhkan Parakletos, tetapi salah satu karunia Roh Kudus adalah bahwa kita juga diberdayakan untuk menjadi parakletos kecil bagi saudara-saudari kita. Saat kami, komunitas Dominikan di Surabaya, diminta untuk menutup gereja sementara untuk pelayanan publik, kita segera mencari cara agar dapat memberikan layanan online kepada umat paroki kita. Kita juga bersyukur bahwa banyak orang menyumbangkan barang-barang bantuan ke paroki, dan para imam paroki dan juga para pengurus gereja bekerja keras untuk menyalurkan bantuan ini kepada mereka yang membutuhkan.

Alih-alih mengeluh bahwa kita tidak dapat pergi ke Gereja atau menyalahkan orang lain atas situasi buruk yang kita alami, kita harus meminta Roh Kudus untuk memberdayakan kita untuk menjadi parakletos kecil dan menemukan cara untuk menjadi pembela, penghibur dan di pihak saudara-saudari kita yang membutuhkan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP