Roh Koneksi

Hari Raya Pentakosta. 15 Mei 2016 [Yohanes 14: 15-16,23-25]

Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. (Kisah Para Rasul 2: 4).”

pentecostPertama kalinya saya menghadiri pertemuan doa Karismatik Katolik adalah sekitar 10 tahun yang lalu di Singapura. Pertemuan ini ditandai dengan musik yang upbeat dan doa yang intensif. Di tengah ibadat dan disaat doa-doa semakin intens, tiba-tiba saya menyaksikan beberapa peserta mulai mengalami sesuatu yang tidak biasa dan mengucapkan kata-kata tidak jelas. Awalnya, saya tercengang, tapi saya segera menyadari bahwa mereka sedang berbicara dalam bahasa roh. Phenomena ini merujuk pada seseorang yang dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus dan mulai bernubuat sesuai kehendak Roh. Fenomena ini sudah ada sejak Gereja berdiri. St. Paulus sendiri menulis “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. (1 Kor 14: 2)”

Awalnya, saya berpikir bahwa fenomena bahasa Roh ini adalah apa yang terjadi pada hari Pentakosta pertama. Ketika Bunda Maria dan para murid berkumpul di hari ke-lima puluh setelah kebangkitan Yesus dan Roh Kudus turun atas mereka dan memenuhi mereka dengan kuasa-Nya. Mereka mulai berbicara dalam bahasa yang berbeda. Namun, saya salah, mereka tidak berbicara dalam bahasa roh. Roh Kudus menganugerahkan karunia yang berbeda. Ini adalah karunia bahasa pengertian dan pemahaman. Para Rasul tidak berbicara bahasa yang aneh tapi diberdayakan untuk mengkomunikasikan dengan jelas Injil Yesus Kristus. Umat dari berbagai daerah seperti Suriah, Asia Kecil (Turki), Semenanjung Arab, Afrika Utara, bahkan Eropa, tentu berbicara dalam banyak bahasa, tapi mereka mampu memahami para rasul yang sebenarnya orang asli Palestina. Roh memampukan mereka untuk membangun koneksi.

Pentakosta dan karunia bahasa berbicara realitas yang lebih dalam tentang Roh Kudus. Dia adalah Roh yang menyatukan kita. Dia menyembuhkan perpecahan dan kecenderungan kita untuk menjadi egois. Dalam Pentakosta, Roh menghapus kutukan Menara Babel dalam Buku Kejadian 11. Ini adalah kisah simbolis tentang keinginan egosentris manusia untuk mengalahkan Tuhan, untuk menjadi setara dengan Allah, dengan membangun sebuah menara super tinggi yang dapat mencapai Tuhan dengan upaya mereka sendiri. Namun, ambisi manusia dan keserakahan akan kekuasaan membawa perpecahan dan keruntuhan bagi umat manusia. Mungkin, salah satu pencitraan modern dari Menara Babel adalah TV series yang paling diantisipasi Game of Thrones. Seri ini dengan cerdas menceritakan bagaimana nafsu manusia untuk menjadi raja di Tahta Besi membuai berbagai karakter dalam seri tersebut untuk menggunakan berbagai trik licik dan kotor untuk menghancurkan saingan mereka. Tujuh Kerajaan, sebelumnya bersatu, terbagi, jatuh dan mereka pun saling menghancurkan.

John Maxwell dalam bukunya, Everyone Communicates, Few Connects, berpendapat bahwa kepemimpinan sejati hanya mungkin jika sang pemimpin memiliki kemampuan sang untuk membangun koneksi dengan orang lain. Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln pernah juga mengatakan, “Jika Anda ingin memenangkan seseorang untuk tujuan Anda, meyakinkanlah dia bahwa Anda adalah temannya yang tulus.” Namun, fondasi dari kemampuan membangun koneksi adalah kita mau menjadikan orang lain sebagai tujuan kita dan bukan diri kita sendiri. Ini berarti menyisihkan ambisi kosong dan hasrat kita untuk mendapatkan semua hal bagi diri kita sendiri dan kita membuat orang lain, kekhawatiran mereka, perjuangan mereka menjadi bagian dari hidup kita. Ini adalah karya Roh Kudus: menyembuhkan, mempersatukan dan memberdayakan kita.

Roh Kudus datang agar kita sekali lagi mampu membangun koneksi dengan Tuhan dan satu sama lain, koneksi yang rusak oleh dosa Adam dan Menara Babel. Memang benar bahwa tidak selalu kita mengalami bahasa roh atau perasaan ‘high’ seperti yang dialami pada pertemuan doa karismatik, tetapi ini tidak berarti Roh Kudus tidak berkerja. Bahkan, kebanyakan, Dia bekerja dalam keheningan dan cara-cara yang sederhana. Dia bekerja ketika kita menjadi lebih tekun dan tabah dalam penderitaan hidup. Dia bekerja ketika kita lebih sabar mengasihi mereka yang sering memberi kita masalah. Dia memberi kita kegembiraan sederhana dalam realisasi-realisasi kecil dari berbagai berkat yang kita terima saat ini. Saya percaya saat anda membaca refleksi ini dan menemukan makna, ini adalah pekerjaan-Nya di dalam kita.

Saat kita merayakan Pentakosta, kita berdoa agar kita dapat terus membuka diri kepada kasih karunia Roh Kudus dan mengijinkan Dia untuk membuat hidup kita berbuah.

  Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Nothing is Impossible

Fourth Sunday in Ordinary Time. January 31, 2016 [Luke 4:21-30]

“Isn’t this the son of Joseph? (Luk 4:22)”

‘Impossible’ is not part of Jesus’ vocabulary. He multiplied the bread and filled the hungry multitude. He walked on water and calmed the storm. He healed the woman with hemorrhage, opened the eyes of Bartimaeus, and expelled the demons. He forgave the adulterous woman and challenged the legalism of the authorities. He raised Lazarus and Himself resurrected. Not even death can limit Him.

Yet, ‘impossible’ and ‘limitation’ seemed to be the mindset of the people of Nazareth. When they saw Jesus came home and proclaimed the Word of God with authority, the Nazarene amazement was short-lived and they turned the tide against Jesus. One might say, ‘That’s impossible! He is Jesus, the son of the poor carpenter Joseph. He is lowly, ordinary, and incapable. Who does he think himself? God?’ Grace was just around the corner, but they closed their hearts, limited their possibilities, and hampered their own growth. Not only they boxed themselves in narrow-mindedness, they also tried to impose their limitations on Jesus. When Jesus refused to be placed under their closed-mindedness, they attempted to get rid of Jesus. Thus, nothing much happened in Nazareth.

Jesus further explained that this refusal to God’s grace had been a perennial problems of Israel. The great prophets Elijah and Elisha could have done mighty deeds for Israel, but they did not because they were rejected by their own people. Now, this mentality of putting limits to oneself does not solely belong to the Israelites. Unconsciously, this attitude may creep into our lives. We may listen to the Word of God every Sunday in the Eucharist, but do we allow the very Word to be fulfilled in our lives? Is Sunday Worship all about feeling-good experience, and yet going home, we act as if nothing happens to us? We are celebrating the Jubilee Year of Mercy, but does it help us being more merciful and compassionate? Sometimes we are like ‘Shoe’, the main character in old comic strip Shoe by Jeff MacNelly. When Shoe is pitching in a baseball game, in the conference in the mound, his catcher says, “You’ve got to have faith in your curve ball.” “It’s easy for him to say,” grumbles Shoe. “When it comes to believing in myself, I am an agnostic.”

A friend of mine did the incredible in her young age. She finished her doctorate at the age of 27 in Japan. What makes her more incredible is she turned down lucrative offers of big companies and volunteered as elementary school teacher in a far-flung area. She is currently serving the people of Nunukan, North Borneo Province, at the border of civilization. Once she texted me and told how difficult it was to teach, especially when people do not really appreciate yet the importance of education. I was speechless, having no word of consolation, but she immediately replied, ‘It is difficult to love.” Her answer made me smile since I know that despite her troublesome situations, she never stops loving. In the Annunciation, archangel Gabriel said to Mary, “For God, there is nothing impossible.” We shall not put limit to God’s grace, to our own growth in faith and to our ability to love. When we believe and open our hearts to God’s grace, the ‘impossible’ things begin to happen in our lives.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno,OP

Tidak Ada yang Mustahil

Minggu Biasa ke-4. 31 Januari 2016 [Lukas 4:21-30]

“Bukankah Ia ini anak Yusuf? (Luk 4:22)”

Kata ‘mustahil’ tidak ada di dalam kosa kata Yesus. Dia melipatgandakan roti dan memberi makan kepada ribuan orang yang lapar. Dia berjalan di atas air dan menenangkan badai. Ia menyembuhkan wanita dengan perdarahan, membuka mata Bartimeus, dan mengusir setan. Dia mengampuni perempuan yang berzina dan menantang legalisme dari pihak berwenang. Dia membangkitkan Lazarus dan Dia sendiri bangkit dari kematian.

Namun, kata-kata seperti ‘tidak mungkin’ dan ‘tidak bisa’ tampaknya menjadi pola pikir orang-orang Nazaret. Ketika mereka melihat Yesus datang dan memberitakan Firman Tuhan dengan otoritas, orang Nazaret heran dan mereka mulai menyerang Yesus. Mereka mungkin berkata, Mustahil! Dia adalah Yesus, anak dari Joseph, tukang kayu miskin. Dia itu biasa-biasa saja dan tidak memiliki kemampuan. Memangnya dia pikir dirinya siapa? Tuhan?’ Rahmat Tuhan ada di depan mata mereka, tapi mereka menutup hati mereka, membatasi kemungkinan mereka untuk tumbuh dan berkembang. Tidak hanya mereka mengkotakan diri di dalam pikiran yang sempit, mereka juga mencoba untuk memaksakan keterbatasan mereka pada Yesus. Ketika Yesus menolak untuk dibatasi oleh pikiran mereka yang sempit, mereka berusaha untuk menyingkirkan Yesus. Oleh karena ini, Yesus tidak berbuat banyak di kampung halaman-Nya sendiri.

Yesus sendiri menjelaskan bahwa penolakan akan rahmat Tuhan telah menjadi masalah kuno bangsa Israel. Nabi-nabi besar seperti Elia dan Elisa bisa saja melakukan perbuatan-perbuatan besar bagi Israel, tetapi mereka tidak melakukannya karena mereka ditolak. Ironisnya, justru orang-orang bukan Israel yang malah percaya dan menerima rahmat dari mereka. Sekarang, mentalitas yang membatasi ini bukanlah milik orang Israel semata. Tanpa kita sadari, mental kerdil ini dapat merayap masuk ke dalam hidup kita. Kita mungkin mendengarkan Sabda Tuhan setiap hari Minggu dalam perjamuan Ekaristi, tetapi apakah kita membuka diri terhadap Firman untuk terpenuhi di dalam hidup kita? Kita bernyanyi dan memuji Tuhan pada Sunday Worship, tetapi apakah saat kita pulang, kita bertindak seolah-olah tidak ada yang terjadi pada kita? Tahun ini, kita merayakan Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi, tapi apakah ini membantu kita menjadi lebih berbelas kasih kepada sesama? Kadang-kadang kita seperti ‘Shoe’, tokoh utama dalam komik ‘Shoe’ oleh Jeff MacNelly. Ketika Shoe akan menjadi pelempar bola di pertandingan bisbol, teman satu timnya mengatakan, Kamu harus percaya pada lemparan bolamu yang melengkung. Sangat mudah baginya untuk mengatakan itu,” Shoe menggerutu. “Ketika aku harus percaya pada diri sendiri, aku adalah seorang agnostik.”

Seorang teman baik saya melakukan hal yang luar biasa di usia muda. Dia menyelesai pendidikan S3 pada usia 27 di Jepang. Apa yang membuat dia lebih luar biasa adalah ia menolak tawaran menggiurkan dari perusahaan besar dan memilih menjadi guru sukarelawan sekolah dasar di pedalaman. Dia saat ini melayani masyarakat di Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, di daerah perbatasan. Beberapa hari yang lalu dia mengirim pesan dan mengatakan betapa sulitnya untuk mengajar, terutama ketika orang tidak benar-benar menghargai betapa pentingnya pendidikan. Saya terdiam, tidak memiliki kata-kata penghiburan, tapi ia segera menjawab, Mengasihi itu sulit. Jawabannya membuat saya tersenyum karena saya tahu bahwa meskipun situasi sungguh sulit, dia tidak putus asa dan tidak pernah berhenti mengasihi. Dalam Kabar Sukacita, malaikat Gabriel mengatakan kepada Maria, Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk 1:37).” Diciptakan dalam citra Allah, kita tidak akan membatasi kasih karunia Allah, pertumbuhan kita di dalam iman dan kemampuan kita untuk mengasihi. Saat kita percaya dan membuka diri kita pada rahmat, hal-hal luarbiasa yang kita pikir ‘mustahil’ sungguh akan terjadi di dalam hidup kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Rusneo, OP

St. Elizabeth: the Spotter of the Good News

Fourth Sunday of Advent. December 20, 2015 [Luke 1:39-45]

“…for at the moment the sound of your greeting reached my ears, the infant in my womb leaped for joy (Luk 1:44).”

St. Elizabeth seemed to have this special skill that often escaped our eyes. She had this ability to spot that Mary, her relative, was with a child. That was their first encounter after years. Nobody told Elizabeth that Mary was pregnant, and surely, no cellphone and Facebook were yet available during that time for speedy communication. Mary’s pregnancy was not yet physically obvious since it was barely a month since the Annunciation. Yet, she did it. We remember that the primary intention of Mary’s visit was to prove Gabriel’s message that Elizabeth was pregnant, but it turned out that Elizabeth was the first one who recognized the Mary’s pregnancy.

Before the presence of Mary and the baby, Elizabeth’s reaction was astonishing. She did not grill Mary with investigative questions like ‘who is the father?’ or ‘why did you break the Law?’ Neither did she harbor any hatred to Mary for breaking the Jewish sacred Law, nor reporting her to authority. She chose rather to embrace Mary and to rejoice with her in the Lord. Elizabeth did not only have the ability to spot the pregnancy, but more importantly, the ability to discover the Good News.

Our world is loaded with bad news. Wars and bloody violence are raging from Sahara desert to tropical jungles in South East Asia, from North America to Syria. Our news outlets are full of this terrible information: killing within the family, abuses against women and children, and natural and man-made disasters. What is horrified is that we buy these kind of news and serve them as our breakfast. We can easily spot the problems and issues in our lives. Financial difficulties, health issues, broken relationships, name it and you have it. We are trained to see the bad news and linger in them. We, thus, become announcers of the bad news or simply the complainers or gossipers.

However, echoing the words of Antonio Cardinal Tagle, the Archbishop of Manila, in the opening of Dominican Jubilee Door in Santo Domingo Church, Metro Manila few weeks ago, “We do not need another proclaimer of the bad news. Our world has already a lot of bad news. We desperately need the preachers of good news.” No wonder if St. Dominic de Guzman is called the preacher of grace, because it is the main mission of every preacher to discover the working of God in our midst. As Sr. Mary Catherine Hilkert OP once said ‘preaching is to articulate grace’.

The Advent season gives us Elizabeth. Her ability to spot the grace among ordinary events and even among unlikely circumstances makes her a humble yet true model of preacher of the Good News. Yet, we must not forget that Elizabeth’s skill is not merely human effort, but in itself a grace of God. She was under the influenced of the Holy Spirit, when she was able to discover Jesus. Eventually, it is the grace of God within us that enables us to unearth the grace around us. In turn, the grace around us brings joy and meaning in our lives as well as strengthens the grace within us. It is all about grace.

To spot grace and to become happy is not simply a matter of choice, but it is primarily the fruits and gift of Holy Spirit. We constantly pray to God to shower us with His grace and blessings so that in the midst of various earthly concerns and problems, we may not miss Jesus this Christmas.

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

St. Elisabet: Menjadi Penemu Kabar Baik

 

 

Keempat Minggu Adven. 20 Desember 2015 [Lukas 1: 39-45]

“… ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. (Luk 1:44).”

Santa Elisabet tampaknya memiliki keahlian khusus yang sering luput dari mata kita. Dia memiliki kemampuan untuk melihat bahwa Maria, saudaranya, sedang mengandung. Kunjungan Maria adalah pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun. Tidak ada yang memberi tahu Elisabet tentang kehamilan Maria, dan pasti, ponsel dan Facebook yang belum tersedia pada zaman ini untuk berkomunikasi dengan cepat. Kehamilan Maria belum secara fisik tampak jelas karena itu baru saja beberapa minggu sesuah Maria menerima Kabar Baik dari Malaikat Gabriel. Namun, Elisabet bisa mengetahuinya. Kita ingat bahwa tujuan utama dari kunjungan Maria adalah untuk membuktikan pesan Gabriel bahwa Elisabet sedang mengandung, tapi ternyata Elisabet menjadi orang pertama yang memahami kehamilan Maria.

Dihadapan Maria dan sang Bayi di dalam rahimnya, reaksi Elisabet sungguh menakjubkan. Dia tidak menginvestigasi Maria dengan pertanyaan seperti ‘Siapa ayah sang bayi?’ atau ‘Mengapa kamu melanggar Hukum Taurat?’ Begitu pula dia tidak memendam kebencian kepada Maria karena dia melanggar hukum suci Yahudi, atau melaporkan Maria ke otoritas untuk diadili. Dia memilih untuk merangkul Maria dan bersukacita dengan dia di dalam Tuhan. Elisabet tidak hanya memiliki kemampuan untuk melihat kehamilan Maria, tetapi yang jauh lebih penting, kemampuannya untuk menemukan Kabar Baik.

Dunia kita penuh dengan berita buruk. Perang dan kekerasan berdarah yang mengamuk dari gurun Sahara ke hutan tropis di Asia Tenggara, dari Amerika Utara ke Suriah. Berbagai sumber berita kita penuh dengan informasi yang mengerikan: pembunuhan di dalam keluarga, pelecehan terhadap perempuan dan anak-anak, dan bencana alam maupun buatan manusia. Apa yang mengerikan adalah bahwa kita justru membayar untuk berita semacam ini dan menyuguhkan sebagai sarapan pagi kita. Kitapun bisa dengan mudah melihat masalah dan isu-isu dalam kehidupan kita. Kesulitan keuangan, masalah kesehatan, hubungan yang rusak, dan masih banyak lagi. Tanpa sadar kitapun dilatih untuk melihat berita buruk dan tinggal di dalamnya. Dengan demikian, kita berubah menjadi penyiar kabar buruk atau pengeluh atau tukang gosip.

Namun, menggemakan kata-kata dari Kardinal Antonio Tagle, Uskup Agung Manila, dalam pembukaan Pintu Jubilee Dominikan di Gereja Santo Domingo, Metro Manila, Kita tidak perlu tambahan penyebar kabar buruk. Dunia kita memiliki sudah banyak berita buruk. Yang kita sangat butuhkan adalah pengkhotbah kabar baik.Tak heran jika St. Dominikus de Guzman disebut sebagai pewarta rahmat, karena adalah misi utama setiap pengkhotbah untuk menemukan karya Allah di tengah-tengah kita. Sebagaimana Maria Catherine Hilkert OP pernah berkata ‘berkhotbah adalah mengartikulasikan rahmat.’

Mas Adven memberi kita santa Elisabet. Kemampuannya untuk melihat rahmat di antara peristiwa-peristiwa yang biasa dan bahkan di antara keadaan yang tidak terduga menjadikan dia seorang model dari pengkhotbah dari Kabar Baik. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa kemampuan Elisabet ini bukan sekedar usaha manusia biasa, tetapi sebuah rahmat Allah. Dia berada di bawah pengaruh Roh Kudus, ketika ia mampu menemukan Yesus. Sungguhnya, ini adalah rahmat Allah dalam diri kita yang memungkinkan kita untuk mengenali rahmat di sekitar kita. Dan pada gilirannya, rahmat di sekitar kita membawa sukacita dan makna dalam kehidupan kita serta memperkuat rahmat dalam diri kita. Ini adalah semua tentang rahmat Allah.

Untuk melihat rahmat dan menjadi bahagia bukan hanya soal pilihan pribadi kita, tetapi pada dasarnya buah dan karunia Roh Kudus. Kita terus berdoa kepada Tuhan untuk memberikan rahmat dan berkat-Nya sehingga di tengah-tengah berbagai permasalahan dan kepentingan duniawi, kita tidak kehilangan Yesus di Natal ini.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP