Minggu kelima belas pada Masa Biasa [15 Juli 2018] Markus 6:7-13
Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” (Markus 6:11)
Injil hari ini berbicara tentang misi dua belas rasul. Mereka dikirim untuk melakukan tiga tugas pokok: mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit dan memberitakan pertobatan. Misi ini mencerminkan misi Yesus dalam Injil Markus. Untuk memfasilitasi misi mereka, mereka perlu melakukan perjalanan dengan ringan. Mereka perlu melakukan perjalanan berdua-dua yang menandakan dimensi komunal dan eklesial misi Yesus. Mereka akan bergantung juga pada kemurahan hati orang-orang yang mereka layani. Ketika mereka menghadapi penolakan, mereka akan mengebaskan debu dari kaki mereka sebagai peringatan simbolis terhadap mereka yang menolaknya. Pada zaman itu, orang-orang Yahudi mengebaskan debu dari kaki mereka ketika mereka masuk kembali ke tanah Israel dari wilayah non-Yahudi, sebagai tanda penolakan dan ketidaksetujuan mereka terhadap bangsa-bangsa non-Yahudi.
Saat ini, saya sedang menjalani program pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Program ini melatih saya untuk menjadi seorang pekerja pastoral yang baik dan penuh kasih. Salah satu tugas pokok saya adalah mengunjungi pasien dan selama kunjungan saya akan mendengarkan pasien serta mendampingi mereka dalam masa pemulihan mereka di rumah sakit. Sampai taraf tertentu, saya merasa bahwa saya berpartisipasi dalam misi dua belas murid Yesus, khususnya dalam pelayanan penyembuhan orang sakit. Namun, tidak seperti para murid Yesus, saya sadar bahwa saya tidak memiliki karunia penyembuhan. Saya sering mendoakan pasien, tetapi sejauh ini tidak ada penyembuhan instan, dan pasien terus berjuang sembuh dengan penyakit mereka. Namun, penyembuhan tidak terbatas hanya pada aspek fisik dan biologis. Penyembuhan adalah menyeluruh mencakup penyembuhan emosional dan spiritual. Dokter, perawat, dan staf rumah sakit telah melakukan yang terbaik untuk menyembuhkan penyakit pasien atau setidaknya membantu mereka untuk menanggung penyakit mereka dengan bermartabat. Saya percaya bahwa mereka merupakan rekan kerja utama Yesus dalam pelayanan penyembuhan. Namun, dengan begitu banyaknya beban kerja yang mereka bawa dan waktu serta energi yang terbatas, mereka harus fokus pada penyembuhan fisik dan biologis. Para pekerja pastoral ada di sana untuk mengisi kekosongan yang tidak bisa dipenuhi oleh praktisi medis untuk memenuhi kebutuhan pemulihan secara emosional dan spiritual.
Dalam beberapa kunjungan saya, saya bersyukur bahwa banyak yang menyambut kehadiran saya. Namun, kadang-kadang, saya merasa keberadaan dan kunjungan saya tidak diinginkan. Pada saat seperti ini, saya tergoda untuk “mengebaskan debu dari kaki saya” sebagai peringatan bagi mereka. Seperti halnya, para murid diinstruksikan untuk melakukan itu. Namun, saya mencoba memahami mengapa pasien tidak begitu ramah. Mungkin, mereka merasa sakit. Mungkin, mereka butuh istirahat. Mungkin, obat mempengaruhi disposisi emosional mereka. Mungkin, mereka masih memiliki beberapa masalah serius yang harus mereka hadapi. Dengan kesadaran ini, saya tidak bisa hanya menilai mereka sebagai “orang jahat”. Mencoba untuk memahami mereka dan berempati dengan mereka, saya juga “mengebaskan debu dari kaki saya”, tetapi kali ini, itu bukan sebagai bentuk peringatan, tetapi mengebaskan “debu” kesalahpahaman, terburu-buru menghakimi dan apatis. Seorang pekerja pastoral adalah orang yang menjalankan misi Kristus untuk membawa kesembuhan, dan jika saya menanggapi penolakan dan kesulitan dengan kemarahan dan kebencian, maka saya hanya menciptakan lebih banyak rasa sakit dan perpecahan.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Today’s Gospel seems to be just another healing miracles of Jesus, but if we read it closely, the story of the healing of the woman with hemorrhage is extraordinary tale of faith. We are not sure what kind of hemorrhage she suffers, but the fact that she bears the sickness for 12 years, spends a lot for the medication, and does not get any better, means it is pretty serious, if not terminal. During this time, the physicians are extremely rare, and expectedly, the patients need to spend a lot of money. The woman may come from a wealthy family, but she is impoverished because her prolong sickness. The woman is losing her life and facing despair. I am currently assigned as an associate chaplain in one of the hospitals in Metro Manila, and my duty is to make pastoral visit to these patients. I encounter some patients who are suffering from certain health conditions that drain all their resources, and it seems the situation does not get any better. I realize the story of the woman with hemorrhage is not only her story happened in the far past, but it is also our stories here and now.
Injil hari ini tampaknya tidak berbeda dengan kisah-kisah mukjizat penyembuhan Yesus, tetapi jika kita membaca dengan seksama, kisah penyembuhan perempuan dengan pendarahan ini sebenarnya luar biasa. Kita tidak tahu dengan pasti pendarahan apa yang dideritanya, tetapi fakta bahwa ia menderita kondisi ini selama 12 tahun, menghabiskan banyak untuk pengobatan dan kondisinya semakin memburuk, ini berarti sangat serius. Pada zaman itu, tabib sangat jarang, dan berobat perlu mengeluarkan banyak uang. Perempuan ini mungkin berasal dari keluarga kaya, tetapi dia jatuh miskin karena kondisinya tersebut. Perempuan ini mulai kehilangan hidupnya dan menghadapi keputusasaan. Saya saat ini ditugaskan sebagai asisten imam di salah satu rumah sakit di Metro Manila, dan tugas saya adalah melakukan kunjungan pastoral ke pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut. Tidak jarang saya menjumpai pasien yang menderita kondisi kesehatan yang menguras semua sumber daya mereka, dan tampaknya situasi mereka tidak menjadi lebih baik. Saya menyadari kisah perempuan dengan pendarahan ini bukan hanya kisahnya yang terjadi di masa lalu, tetapi juga kisah umat manusia di zaman ini.





