Jesus and the Crowd

Palm Sunday of the Lord’s Passion (A)

March 29, 2026

Matthew 21:1-11 and Matthew 26:14 – 27:66

Palm Sunday is a unique moment in the Catholic liturgy where we hear two readings from the Gospel. The first is the story of Jesus’ triumphant entrance into the city of Jerusalem, and the second is the Passion Narrative. Both accounts come from Matthew. We often hear that these two stories are connected by the “crowd.” It is frequently assumed that the people who initially welcome and cheer Jesus as king are the very same people who later shout, “Crucify Him!” Yet, is this true? Or is it just an unrealistic drama to spice up Jesus’ story?

To answer this question, we need to look back at the time of Jesus and understand what was happening in Jerusalem. In first-century Israel, the Jewish people were living under Roman occupation, and life was very difficult for ordinary citizens. The desire for liberation from Roman rule was incredibly strong, drawing inspiration from the Old Testament where God promised a Messiah (the anointed one) to lead them to freedom.

When Jesus appeared, He came as one possessing divine power. He taught the truth with authority and performed unprecedented miracles. Naturally, this raised the excitement of many Israelites, and people started to follow Him, hoping He was the long-awaited Messiah. As Jesus marched toward Jerusalem for His Passion, the Jewish festival of Passover was also approaching. This feast commemorates Israel’s liberation from Egypt (Exodus 12), and during this time, Jews from all over traveled to Jerusalem on pilgrimage.

We can imagine that as Jesus drew closer, more and more pilgrims recognized Him and joined His followers. The people’s expectations were further fueled by Jesus’ unmatched miracle of restoring sight to two blind men in Jericho, not far from Jerusalem (Matthew 20:29-34). As Jesus entered the city riding a donkey, the throng of people who had been following Him began to shout, “Hosanna to the Son of David.”

So, were the people who welcomed Jesus the same ones who demanded His death? I believe these were two different groups. Those who supported Jesus were fellow pilgrims, mostly from outside Jerusalem. In contrast, those who demanded Jesus’ execution were likely Jerusalem elites and some locals whose businesses had been disrupted by Jesus and His followers. In fact, the trial was conducted hastily in the early morning, suggesting it was well-orchestrated. Matthew also notes that the chief priests and elders persuaded the crowd to ask for Barabbas’s release (Matthew 27:20), indicating that this specific crowd was manipulated to follow the Jewish leaders’ plan.

However, despite the existence of two distinct groups, the possibility of individuals switching sides remains. Some of those who initially supported Jesus may have eventually caved and condemned Him. Yet, some of those who approved of Jesus’ crucifixion may have ultimately returned to His side. A good example is Peter, Jesus’ core disciple, who denied Him when He was arrested but returned to Him after the resurrection.

As we enter Holy Week, we follow Jesus in our own lives. When are we like the people who shouted, “Hosanna”? What are those moments when we ardently follow Jesus? When are we like those who shouted, “Crucify Him”? When are the times we fail Him and even rebel against Him? When are we like the weak Peter, running from God or hiding? And when are we like the renewed Peter? What are those moments when we allow God to restore us again?

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Kita

Minggu Palma dalam Kisah Sengsara Tuhan (A)

29 Maret 2026

Matius 21:1-11 dan Matius 26:14 – 27:66

Minggu Palma merupakan momen istimewa dalam liturgi Katolik di mana kita mendengarkan dua bacaan Injil. Yang pertama adalah kisah masuknya Yesus ke kota Yerusalem, dan yang kedua adalah Kisah Sengsara-Nya. Kedua kisah tersebut berasal dari Matius. Kita sering mendengar bahwa kedua kisah ini terhubung oleh “orang-orang”. Seringkali diasumsikan bahwa orang-orang yang pada awalnya menyambut dan bersorak-sorai bagi Yesus sebagai raja adalah orang-orang yang sama yang kemudian berteriak, “Salibkan Dia!” Namun, apakah ini benar? Atau apakah ini hanya drama imaginatif untuk memperkaya kisah Yesus?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu menengok kembali ke masa Yesus dan memahami apa yang terjadi di Yerusalem. Di Israel abad pertama, orang-orang Yahudi hidup di bawah penjajahan Romawi, dan kehidupan sangat sulit bagi banyak orang. Keinginan untuk terbebas dari kekuasaan Romawi sangat kuat, dan terinspirasi dari Perjanjian Lama mereka menanti kehadiran seorang Mesias (yang diurapi) yang dijanjikan Allah untuk memimpin mereka menuju kebebasan.

Ketika Yesus muncul, Dia datang sebagai sosok yang memiliki kuasa ilahi. Ia mengajarkan kebenaran dengan otoritas dan melakukan mukjizat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tentu saja, hal ini memicu kegembiraan banyak orang Israel, dan orang-orang mulai mengikuti-Nya, berharap Ia adalah Mesias yang telah lama dinantikan. Saat Yesus berjalan menuju Yerusalem untuk salib-Nya, perayaan Paskah Yahudi juga semakin dekat. Perayaan ini memperingati pembebasan Israel dari Mesir (Keluaran 12), dan pada masa itu, orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru bangsa berziarah ke Yerusalem.

Kita dapat membayangkan bahwa seiring Yesus yang semakin dekat dengan Yerusalem, semakin banyak peziarah yang mengenali-Nya dan bergabung dengan para pengikut-Nya. Harapan orang-orang semakin membara saat mereka menyaksikan mukjizat tak tertandingi Yesus yang memulihkan penglihatan dua orang buta di Yerikho, tak jauh dari Yerusalem (Mat 20:29-34) . Saat Yesus memasuki kota dengan menunggang seekor keledai, kerumunan orang yang telah mengikuti-Nya mulai berseru, “Hosana bagi putra Daud.” Begitu juga orang-orang yang ada di Yerusalem, terbawa oleh suasana emosional, menyambut Yesus dengan sukacita.

Jadi, apakah orang-orang yang menyambut Yesus adalah orang yang sama dengan mereka yang menuntut kematian-Nya? Saya percaya bahwa ini adalah dua kelompok yang berbeda. Mereka yang mendukung Yesus adalah para peziarah, kebanyakan berasal dari luar Yerusalem. Sebaliknya, mereka yang menuntut eksekusi Yesus kemungkinan adalah para elit kota Yerusalem dan beberapa penduduk lokal yang usahanya terganggu oleh Yesus dan para pengikut-Nya. Faktanya, persidangan dilakukan dengan terburu-buru pada pagi hari, menunjukkan bahwa hal itu telah direncanakan dengan matang. Matius juga mencatat bahwa imam-imam kepala dan para penatua meyakinkan kerumunan untuk meminta pembebasan Barabbas (Matius 27:20), menunjukkan bahwa kerumunan ini telah dimanipulasi untuk mengikuti rencana para pemimpin Yahudi.

Namun, meskipun ada dua kelompok yang berbeda, kemungkinan individu berpindah pihak tetap ada. Beberapa yang awalnya mendukung Yesus mungkin akhirnya terhasut dan ikut menghukum-Nya. Namun, beberapa yang menyetujui penyaliban Yesus mungkin pada akhirnya kembali kepada-Nya. Contoh yang paling menonjol adalah Petrus, murid terdekat Yesus, yang menyangkal-Nya saat ditangkap tetapi kembali kepada-Nya setelah kebangkitan.

Saat kita memasuki Pekan Suci, sejatinya kita seperti “orang-orang” yang mengikuti Yesus. Kita bisa bertanya: Kapan kita seperti orang-orang yang berteriak, “Hosanna”? Kapan saja kita dengan penuh semangat mengikuti Yesus? Kapan kita seperti mereka yang berteriak, “Salibkan Dia”? Kapan kita mengecewakan-Nya bahkan memberontak terhadap-Nya? Kapan kita seperti Petrus yang lemah, lari dari Tuhan atau bersembunyi? Dan kapan kita seperti Petrus yang diperbarui? Kapan kita membiarkan Tuhan memulihkan kita kembali?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus, Not Our Ordinary King

Palm Sunday of the Lord’s Passion

April 13, 2025

Luke 19:28-40 and Luke 22:14–23:56

Palm Sunday is one of the most unique liturgical celebrations in the Church because it features two Gospel readings: Jesus’ triumphal entry into Jerusalem (Luke 19:28-40) and the Passion of Christ (Luke 22:14–23:56). These readings are not accidental; the Church intentionally pairs them to reveal their profound connection. But what is this relationship?

The first Gospel presents Jesus entering Jerusalem, the city of King David and his successors. His disciples follow closely while some residents welcome Him, proclaiming Him as king. Yet the Gospel clarifies that Jesus is no ordinary earthly ruler. He isn’t a militarily powerful king riding a stallion, but a humble sovereign on a donkey. He comes in the name of the Lord – not through royal lineage, political systems, or deception. He reigns not over a single nation, but over all creation, as even “the stones will cry out” to declare His kingship.

The second Gospel, the Passion narrative, further reveals Christ’s kingship. He doesn’t rule through violence but embraces it and bring it to an end on the cross. His kingdom operates not through terror but through law of love, sacrificing Himself so His people might be redeemed from sin and then live.

As we enter Holy Week, we’re invited to examine our identity as God’s people. Do we love our King or fear Him? If we truly love Him, we must learn to love as He loved. For two thousand years, countless martyrs have followed Christ’s example to the point of death. Even today in the 21st century, Christians face persecution: Nigerian priests abducted and murdered; Syrian Christian communities attacked and displaced; growing anti-Christian hostility in Israel.

Many of us live where faith can be expressed freely, yet these environments present different dangers – materialism, complacency, or cowardice in witnessing to Christ. We’re tempted to prioritize self over God, to love ourselves rather than Jesus

We consider St. Catherine of Siena’s example. During her time, the pope was residing in Avignon, France rather than Rome since he was afraid of dealing with people who opposed him there. However, rather than becoming a leader in faith and example of moral, the pope involved himself more in politics. She courageously went to Avignon and confronted Gregory XI, urging his return, “If you die in Rome, you die a martyr – but if you stay here, you die a coward.” Her actions flowed from radical love for Christ the King.

If Jesus is our King, how then shall we follow Him?

Guide Questions:

Do we truly love Jesus as our King? How does our love for Christ manifest practically? Are we prepared to profess our faith in challenging environments? Would we sacrifice for others out of love for Jesus? Are we ready to endure hardship as Christians?

Yesus, Bukan Raja Biasa

Minggu Palma Sengsara Tuhan

13 April 2025

Lukas 19:28-40 dan Lukas 22:14-23:56

Minggu Palma adalah salah satu perayaan liturgi yang paling unik dalam Gereja karena memberikan dua bacaan Injil: Yesus memasuki kota Yerusalem sebagai Raja (Lukas 19:28-40) dan kisah Sengsara Kristus (Lukas 22:14-23:56). Bacaan-bacaan ini bukan kebetulan ada, tetapi Gereja mendampingkan keduanya untuk mengungkapkan hubungan yang mendalam antara kedua bacaan ini. Namun, apakah hubungan ini?

Injil pertama menggambarkan Yesus memasuki Yerusalem, kota Raja Daud dan para penggantinya. Para murid-Nya mengikuti-Nya sementara penduduk Yerusalem menyambut-Nya, menyatakan Dia sebagai raja. Namun Injil ini menjelaskan bahwa Yesus bukanlah seorang penguasa duniawi biasa. Dia bukanlah seorang raja yang berkuasa secara militer dengan menunggang kuda perang, tetapi seorang raja yang rendah hati dan cinta damai dengan menunggang keledai. Dia datang dalam nama Tuhan – tidak melalui garis keturunan kerajaan, sistem politik modern, atau tipu daya. Dia memerintah bukan atas satu bangsa, tetapi atas semua ciptaan, bahkan “batu-batu akan berseru” untuk menyatakan kerajaan-Nya.

Injil kedua, kisah Sengsara, lebih jauh mengungkapkan Kristus sebagai Raja. Dia tidak memerintah dengan kekerasan tetapi merangkulnya dan mengakhirinya di kayu salib. Kerajaan-Nya beroperasi bukan melalui teror tetapi melalui hukum kasih, mengorbankan diri-Nya sendiri agar umat-Nya dapat ditebus dari dosa dan kemudian hidup.

Saat kita memasuki Pekan Suci, kita diundang untuk memeriksa identitas kita sebagai umat kerajaan Allah. Apakah kita mengasihi Raja kita atau takut akan Dia? Jika kita sungguh-sungguh mengasihi Dia, kita harus belajar untuk semakin menyerupai Dia dan juga mengasihi seperti Dia mengasihi. Selama dua ribu tahun, banyak sekali martir yang mengikuti teladan Kristus hingga mati. Bahkan saat ini di abad ke-21, umat Kristiani terus menghadapi penganiayaan: Para imam di Nigeria diculik dan dibunuh; komunitas Kristiani di Suriah diserang dan diusir; juga meningkatnya permusuhan anti-Kristen di Israel.

Banyak dari kita yang hidup di tempat di mana iman dapat diekspresikan dengan bebas, namun lingkungan ini menghadirkan bahaya yang berbeda – materialisme, rasa puas diri, atau kepengecutan dalam bersaksi tentang Kristus. Kita tergoda untuk memprioritaskan diri sendiri di atas Tuhan, untuk mencintai diri kita sendiri daripada Yesus.

Kita bisa belajar dari teladan St. Katarina Siena. Pada masanya, paus lebih memilih tinggal di Avignon, Perancis daripada di Roma karena ia takut berurusan dengan orang-orang yang menentangnya di sana. Namun, alih-alih menjadi pemimpin dalam iman dan teladan moral, paus lebih banyak melibatkan diri dalam politik. Maka, St. Katarina dengan berani pergi ke Avignon dan menghadapi Gregorius XI, mendesaknya untuk kembali, “Jika Anda mati di Roma, anda mati sebagai seorang martir – tetapi jika anda tetap di sini, anda mati sebagai seorang pengecut.” Tindakannya mengalir dari cinta yang radikal kepada Kristus Sang Raja.

Jika Yesus adalah Raja kita, bagaimana kita harus mengikuti-Nya?

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Yesus sebagai Raja kita? Bagaimanakah kasih kita kepada Kristus diwujudkan secara praktis? Apakah kita siap untuk menyatakan iman kita dalam lingkungan yang penuh tantangan? Apakah kita mau berkorban untuk orang lain karena kasih kita kepada Yesus? Apakah kita siap untuk menanggung penderitaan sebagai orang Kristen?

Being Truly Human

Palm Sunday of the Lord’s Passion [B]

March 24, 2024

Mark 14:1 – 15:47

Jesus’ defining moment just before His Passion is His agony in the garden of Gethsemane. This year, we are fortunate to hear from the Gospel of Mark because Mark is not shy to express the inner life of Jesus in this crucial time. For some, this is embarrassing because Jesus was expressing His great sorrow, and thus, Jesus is seen to be too human and weak. However, we believe that God inspired Mark to write God’s words, and thus, we are to learn something precious in Jesus’ desperate moment.

Jesus was aware of what would happen to Him. He would soon face the betrayal of his disciple, a clandestine arrest, unjust trials from His haters, dreadful torture, and humiliating and most painful death. Thus, Jesus who is not only fully divine but also fully human, was experiencing the full weight of human emotions. Mark gave us some important details. Jesus was ‘troubled and distressed’ and then expressed what He felt, “My soul is sorrowful even to the death.”

St. Irenaeus once said, ‘God’s glory is a man truly alive. Here, Jesus teaches us how to be truly human and, thus, become God’s glory. He avoided two dangerous extremes in dealing with His emotions. The first extreme is neglecting or suppressing His emotions. Jesus did not act tough and pretend to be ‘the stoic man’. He did not say, ‘I am okay’, ‘everything will be alright.’ Jesus named the emotions and was frank about it. The second extreme is not to be consumed by emotions. When the emotion is extremely strong, the emotions easily engulf us and, thus, control us. Though recognizing His feelings, Jesus did not yield to them. He stood His ground.

Jesus further gave us two ways to face these overwhelming emotions. The first one is to seek good companions. Jesus invited the three closest disciples in the garden, Peter, James and John. He expressed His grave sorrow and asked them to accompany Him in this crucial moment. Unfortunately, they fell asleep, but the three were there for Jesus in His agony. The second way is to pray. Jesus bent His knees and talked to His Father. Here, we have extremely rare content of Jesus’ prayer.

Jesus said, “Abba, Father, all things are possible to you. Take this cup away from me, but not what I will but what you will (Mk 14:36).” This prayer is short but extraordinarily rich. One can say that this prayer is a short form of Our Father. Here, Jesus expressed and offered His wish that He would have been spared from suffering and violent death, but He also recognized that it is His Father’s will that Jesus would offer Himself up as the sacrifice of love for the world. In this prayer, Jesus reaffirmed His mission and did not allow the emotions to blur His vision.

Gethsemane is the precious moment that Jesus teaches us to fulfil God’s will despite difficulties and, at the same time, to become truly human. It is not God’s will to destroy our humanity but rather to perfect it, and Jesus is our model of a perfect man.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Manusia Sejati

Minggu Palem Sengsara Tuhan [B]

24 Maret 2024

Markus 14:1 – 15:47

Momen yang menentukan bagi Yesus sebelum salib-Nya adalah sakratul maut di taman Getsemani. Tahun ini, kita bersyukur dapat mendengar versi Injil Markus karena Markus tidak ragu mengungkapkan kondisi batin Yesus pada saat yang genting ini. Bagi sebagian orang, hal ini memalukan karena Yesus mengungkapkan kesedihan-Nya yang mendalam, dan dengan demikian, Yesus terlihat terlalu manusiawi dan lemah. Namun, kita percaya bahwa ini adalah Firman Tuhan, dan dengan demikian, kita dapat belajar sesuatu yang berharga dari saat-saat genting Yesus ini.

Yesus menyadari apa yang akan terjadi pada-Nya. Dia akan segera menghadapi pengkhianatan dari murid-Nya, penangkapan, pengadilan yang tidak adil, penghujatan dari para pembenci-Nya, penyiksaan yang mengerikan, dan kematian yang sangat menyakitkan. Yesus yang tidak hanya sepenuhnya ilahi tetapi juga sepenuhnya manusiawi, mengalami beban penuh emosi manusiawi. Markus memberikan kita beberapa detail penting. Yesus ‘sangat takut dan gentar’ dan kemudian mengungkapkan apa yang Yesus rasakan, “Jiwaku sangat sedih seperti mau mati.”

St. Irenaeus pernah berkata, “Kemuliaan Allah adalah manusia yang sungguh-sungguh hidup.” Di sini, Yesus mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi manusia yang sesungguhnya dan dengan demikian menjadi kemuliaan Allah. Yesus mengajarkan kita untuk menghindari dua hal ekstrem yang berbahaya dalam menangani emosi. Ekstrim yang pertama adalah mengabaikan atau menekan emosi. Yesus tidak berpura-pura menjadi ‘orang yang kuat.’ Dia tidak berkata, ‘Saya tidak apa-apa’, atau ‘semuanya akan baik-baik saja’. Yesus mengartikulasikan emosi-emosi yang Dia rasakan, dan dengan demikian, Dia merangkul emosi dan kemanusian-Nya. Ekstrim kedua adalah tidak dikuasai oleh emosi. Ketika emosi itu sangat kuat, emosi dengan mudah menelan kita dan, dengan demikian, mengendalikan kita. Meskipun menyadari perasaan-Nya, Yesus tidak memberikan kendali pada perasaan itu. Dia tetap berdiri teguh.

Yesus kemudian memberikan dua cara agar tidak termakan oleh emosi yang meluap ini. Yang pertama adalah memiliki sahabat-sahabat yang baik. Yesus mengundang tiga murid terdekat-Nya ke taman, yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes. Dia mengungkapkan kesedihan-Nya yang mendalam dan meminta mereka untuk menemani-Nya di saat-saat genting ini. Sayangnya, mereka tertidur, tetapi ketiganya ada di sana untuk menemani Yesus dalam masa sulit ini. Cara kedua adalah dengan doa. Dalam kesedihan, Yesus berbicara kepada Bapa-Nya. Di sini, kita mendengarkan isi doa Yesus yang sangat langka.

Yesus berkata, “Ya, Bapa, bagi-Mu segala sesuatu mungkin. Ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki (Mrk. 14:36).” Doa ini singkat tetapi luar biasa dalam. Bisa dikatakan bahwa doa ini adalah bentuk singkat dari doa ‘Bapa Kami’. Di sini, Yesus mengungkapkan dan mempersembahkan hasrat-Nya agar Dia terhindar dari penderitaan dan kematian yang kejam. Namun, Ia juga menyadari bahwa misi-Nya adalah untuk melaksanakan kehendak Bapa. Inilah kehendak Allah agar Yesus akan mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban kasih bagi dunia. Dalam doa ini, Yesus menegaskan kembali misi-Nya dan tidak membiarkan emosi mengaburkan visi-Nya.

Getsemani adalah momen berharga dimana Yesus mengajarkan kita untuk memenuhi kehendak Tuhan meskipun menghadapi kesulitan dan, pada saat yang sama, menjadi manusia yang sesungguhnya. Bukanlah kehendak Allah untuk menghancurkan kemanusiaan kita melainkan untuk menyempurnakannya, dan Yesus adalah teladan kita sebagai manusia yang sempurna.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Colt

Palm Sunday of the Lord’s Passion [B]

March 28, 2021

Mark 11:1-10; Mark 14 – 15

Palm Sunday marks the beginning of the Holy Week, a most sacred week in our liturgical year. This year’s celebration may be different from other years because of the pandemic, but this does not stop us from having a solemn and meaningful celebration. One of the usual questions people ask about the celebration of Palm Sunday: “Why did Jesus ride a donkey?” Jokingly I replied, “well, an online taxi was not yet available during that time!”

The standard answer to this question is that Jesus would like to show Himself as a meek and humble king, rather than a power-lust and war freak general who rides a stallion. This answer is correct, but it does not give us a complete picture. If we try to go deeper into Mark gospel alone, we will unearth the Old Testaments’ fulfillments.

photocredit: laura gariglio

The choice of the colt is deliberate on the part of Jesus because He is fulfilling the prophecy of Zachariah. In essence, the prophet Zechariah foretold that someday a gentle, yet victorious king will enter Jerusalem, riding a colt [see Zec 9:9]. Yet, there are more!

If we go back to the Old Testament, we will find a king of Israel who indeed rode this humble animal. He was Salomon, David’s son when he was ascending to his throne [1 Kings 1:33]. By riding a colt, He signifies that He is the new Salomon ascending to His new throne, the cross.

Mark is telling us also that people are spreading their clothes also before Jesus. Going back to the Old Testament, we also discover a king of Judah whose ascension to the throne received this kind of gesture also from the people. His name is Jehu [2 Kings 9:12]. Aside from that, Mark is informing us that people welcome Jesus with leafy branches. Again, if we go back to the old testament, green branches were used to receive Judas Maccabeus, who retook Jerusalem from the enemy’s hands [2 Mac 10:7]. Jesus is indeed a gentle king, but He is also a victorious conqueror of His enemies. One more thing is that Mark added the expression ‘… our Father David…” David is undoubtedly not one of the Israelites patriarchs [Abraham, Isaac, and Jacob]. Still, the people of Israel recognized king David as the nation’s father, a king that protects and provides for his people.

From here, we can draw a stunning conclusion on this Palm Sunday. Jesus is riding on the unridden colt to show that He is Messiah King in the line of David, in the likeness of Salomon and Jehu, as well as a victorious king who will conquer His enemies. Yet, there is something even remarkable. Mark gives us a unique detail: this colt is untamed and untrained. Jesus’ choice to ride this wild animal shows His mastery over wild beasts and nature. He is not just the king of Israel, the king of humankind, but He is a king of all nature. Indeed, a colt is a good ride for the king of the universe.

However, we must not be happy too soon. There are more secrets to be opened and more prophesies to be fulfilled as we enter the drama of Holy Week.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Keledai

Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan [B]

28 Maret 2021

Markus 11: 1-10; Markus 14 – 15

Minggu Palma menandai awal Pekan Suci, minggu paling sakral dalam tahun liturgi kita. Perayaan tahun ini mungkin berbeda dari tahun-tahun lainnya karena pandemi, namun hal tersebut tidak menghentikan kita untuk menjalankan perayaan yang khusyuk dan bermakna. Salah satu pertanyaan yang biasa diajukan tentang perayaan Minggu Palma, “Mengapa Yesus menunggangi keledai?” Dengan bercanda, saya menjawab, “Ya, mungkin taksi online belum ada pada saat itu!”

Jawaban standar untuk pertanyaan ini adalah bahwa Yesus ingin menunjukkan diri-Nya sebagai raja yang lemah lembut dan rendah hati, dan bukan seorang jenderal yang haus kekuasaan dan suka berperang yang disimbolkan dengan kuda dewasa. Jawaban ini benar, tetapi tidak memberi kita gambaran yang lengkap. Jika kita mencoba untuk masuk lebih dalam ke Injil Markus saja, kita akan menemukan banyak penggenapan Perjanjian Lama.

Pemilihan keledai ini dilakukan oleh Yesus karena Dia memenuhi nubuat Zakharia. Intinya, nabi Zakharia menubuatkan bahwa suatu hari nanti seorang raja yang lembut namun jaya akan memasuki Yerusalem, menunggangi seekor keledai muda [lihat Zak 9:9]. Tapi, ini bukan satu-satunya nubuat yang dipenuhi Yesus.

Jika kita kembali ke Perjanjian Lama, kita akan menemukan seorang raja Israel yang benar-benar menaiki keledai. Dia adalah Salomon, putra Daud, ketika dia dinobatkan sebagai raja dan naik takhta [1 Raja 1:33]. Dengan mengendarai seekor keledai muda, Yesus menandakan bahwa Dia adalah Salomon baru yang naik ke tahta baru-Nya, salib.

Markus juga memberi kita informasi bahwa orang-orang juga menyebarkan pakaian mereka di hadapan Yesus. Kembali ke Perjanjian Lama, kita juga menemukan seorang raja Yehuda yang menerima perlakuan yang sama seperti ini juga dari rakyatnya. Namanya adalah Yehu [2 Raja 9:12]. Selain itu, Markus menulis bahwa orang-orang menyambut Yesus dengan ranting-ranting yang hijau. Sekali lagi, jika kita kembali ke perjanjian lama, ranting hijau digunakan untuk menerima Yudas Makabe, yang berhasil merebut kembali Yerusalem dari tangan musuh [2 Mak 10:7]. Yesus memang raja yang lembut, tetapi Dia juga pemenang yang jaya atas musuh-musuh-Nya. Satu hal lagi adalah bahwa Markus menambahkan ungkapan ‘… Bapa kita Daud…” Daud sejatinya bukanlah salah satu dari bapa bangsa Israel [yaitu Abraham, Ishak, dan Yakub]. Namun, orang Israel mengakui raja Daud sebagai bapak bangsa mereka, seorang raja yang melindungi dan memimpin rakyatnya.

Dari sini, kita bisa menarik kesimpulan yang menakjubkan pada Minggu Palma ini. Yesus menunggangi keledai muda untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Raja Mesias dalam garis keturunan Daud, seperti Salomon dan Yehu, serta raja yang jaya yang akan menaklukkan musuh-musuh-Nya. Namun, ada sesuatu yang bahkan luar biasa. Markus memberi kita detail unik: keledai ini belum pernah ditunggangi. Artinya keledai ini masih liar dan belum terlatih. Pilihan Yesus untuk menunggangi binatang yang masih liar ini menunjukkan kekuasaann dan otoritas-Nya atas binatang-binatang buas dan alam. Dia bukan hanya raja Israel, raja umat manusia, tetapi Dia adalah raja dari segala alam. Sungguh, seekor keledai adalah tumpangan yang sempurna bagi raja alam semesta.

Namun, kita tidak boleh terlalu cepat gembira. Ada lebih banyak rahasia yang harus dibuka dan lebih banyak nubuatan yang harus digenapi saat kita memasuki drama Pekan Suci.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Getsemani

Jumat Agung

10 April 2020

Yohanes 18 – 19

Jesus praysJika ada satu hal yang menyatukan orang-orang dari berbagai negara, bahasa, dan agama, ini adalah penderitaan. Dengan coronavirus yang menyebar sangat cepat, orang-orang dengan latar belakang yang berbeda, muda dan tua, kaya dan miskin, dan bangsawan dan rakyat jelata, dan awam dan klerus jatuh tersungkur dan gemetar. Memang, virus mikroskopis ini telah meluluh lantahkan kehidupan banyak orang. Orang-orang sakit kerah, rumah sakit kewalahan, kota-kota terisolasi, keluarga-keluarga terpisah, pekerja-pekerja menganggur, pemerintah-pemerintah tak berdaya, dan gereja-gereja kosong. Penderitaan memaksa kita untuk mengakui kelemahan manusiawi kita dan semua yang kita banggakan, ternyata hampa.

Saya mendengar semakin banyak pertanyaan dari beberapa teman dan umat, “Kapan ini akan berakhir? Aku rindu untuk melakukan rutinitas, kapan kita dapat kembali ke Gereja? Apakah kita akan selamat? Apakah kita akan mati? Di manakah Tuhan dalam masa yang paling sulit ini?” Sebagai seorang imam yang bekerja di sebuah paroki, adalah tugas saya untuk menguatkan umat Allah di saat-saat pencobaan ini, namun saya tidak bisa begitu saja memberikan kata-kata penghiburan namun tidak berisi. Saya tidak bisa hanya mengatakan, “itu akan segera berakhir” meskipun, mereka tahu bahwa itu tidak akan berakhir secepat itu. Adalah kebohongan ketika saya memberi tahu orang-orang, “Tidak apa-apa, jangan khawatir.” Sementara saya sendiri berjuang dengan rasa sakit dan kekecewaan. Ini adalah tahun pertamaku sebagai romo, namun, saya mendapati diri saya terasingkan dari orang-orang yang saya layani. Realitas yang paling menyakitkan adalah bahwa saya tidak dapat merayakan Pekan Suci, waktu yang paling suci dengan orang-orang yang saya kasihi, dan umat yang saya cintai.

Pada saat kebingungan, kesakitan, dan penderitaan ini, saya ingin mengajak Anda semua untuk melihat salib, namun dari balik salib itu, mari kita bersama Yesus dalam sakratul maut-Nya.. Yesus bersama dengan ketiga murid-Nya, pergi ke bukit Zaitun, dan ke bagian bawah bukit ini, ada sebuah taman yang disebut Getsemani. Nama Getsemani berarti “tempat memeras zaitun” dan tempat ini menjadi salah satu penyuplai minyak zaitun bagi kota Yerusalem. Zaitun sendiri adalah minyak yang banyak kegunaannya namun juga berharga. Minyak ini digunakan untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari seperti bumbu makanan dan membakar lampu. Minyak berfungsi sebagai obat dan mengurapi orang sakit. Itu juga digunakan untuk tujuan sakral. Minyak zaitun dipersembahkan sebagai bagian dari kurban harian di Bait Suci [Bil. 28: 5]. Dan para imam seperti Harun dan raja-raja seperti Daud diurapi dengan minyak zaitun. Dengan berbagai kegunaan, dari rumah tangga hingga penggunaan sakral, tidak mengherankan bahwa dalam tradisi Yahudi kuno, pohon zaitun disebut sebagai pohon kehidupan di tengah taman Eden.

Namun, untuk menghasilkan minyak, buah zaitun harus dihancurkan dan diperas. Pertama, buah akan digiling oleh batu kilangan besar. Kedua, setelah hancur menjadi bubur, ini diperas untuk mengekstraksi minyak. Buah dari pohon kehidupan harus dihancurkan untuk menghasilkan kehidupan itu sendiri. Dan Yesus mengerti bahwa Dia adalah pohon kehidupan baru, dan Dia harus dihancurkan terlebih dahulu untuk menghasilkan kehidupan yang benar.

Yesus menghadapi saat yang mengerikan dalam hidup-Nya dan Dia memiliki semua pilihan untuk menghadapinya. Yesus bisa saja lari, Dia bisa memanggil pasukan malaikat untuk membela-Nya, atau Dia bisa dengan mudah menempatkan orang lain untuk disalibkan. Namun, Yesus memilih untuk merangkul salib dan kematian-Nya karena Dia tahu ini adalah cara yang berbuah. Hanya melalui penderitaan dan kematian, Dia dapat mengasihi kita sampai akhir, dan kita mungkin memiliki hidup yang berlimpah.

Dalam menghadapi penderitaan kita, kita dipanggil seperti Yesus untuk merangkulnya, dan bahkan dihancurkan olehnya, sehingga kehidupan sejati dapat mengalir. Memang benar bahwa pada tahun pertama saya sebagai seorang imam, Tuhan memiliki rencana yang berbeda untuk saya, dan saya tidak dapat merayakan Minggu Suci dengan umat yang saya kasihi, tetapi Dia bahkan memberi saya hadiah berharga untuk berpartisipasi dalam penderitaan dan kematian-Nya secara lebih penuh.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Olive

Good Friday

April 10, 2020

John 18 – 19

jesus prays 2If there is one thing that unites people from different nations, languages, and religions, that is the experience of suffering. With the ultra-fast spreading coronavirus, covid-19, people with different backgrounds, young and old, rich or poor, and noblemen or commoners, and laypeople or clergy fall in their knees and tremble. Indeed, this microscopic virus has shattered countless lives. People are dying, hospitals are overwhelmed, cities are isolated, families are separated, workers are jobless, governments are at loss, and churches are empty. Pope Francis notes that “we are just one the same boat”, and this boat is sinking. Suffering forces us to admit our human frailty and all that we are proud of, are a mere breath.

I heard more and more questions from some of my friends, “When is it going to end? We miss to do our ordinary routine, when can we go back to the Church? Are we going to survive? Are we going to die? Where is God in this most troubling time?” As a priest working in a parish, it is our duty to strengthen the people of God in this moment of trials, yet I cannot simply offer a consoling yet untrue words. I cannot simply say, “it is going to end soon” though, at the back of their minds, they know that it is not. It is a plain lie when I tell people, “It is fine, don’t worry.” While I am myself struggling with pain and disappointment. This is my first year as a priest, yet, I find myself exiled from the people of I serve. The most painful reality is that I cannot celebrate the Holy Week, the most sacred time with the people I love and care for.

At this moment of confusion, pain, and suffering, I would like to invite all of you to see the cross, and yet before the cross, let us be with Jesus on His agony in the garden. Jesus together with His three disciples, went to the mount of Olivet, and to the part of this mount, the garden called Gethsemane. The name Gethsemane means “olive press” and some of the olive oil needed by the city of Jerusalem came from this place. Olive itself is a basic and yet precious oil. It is used for daily household needs like cooking, seasoning, and burning the lamp. Since it has a therapeutic effect, the oil serves as a medicine. It is also used for sacred purposes. Olive oil is offered as part of daily sacrifice in the Temple [Num 28:5]. And the priests like Aaron and kings like David were anointed with olive oil. With a wide range of utilities, from household to sacred use, no wonder that in ancient Jewish traditions, the olive tree was considered as the tree of life in the middle of the garden of Eden.

However, to produce the oil, the fruits have to be two-step crushing process. Firstly, the fruits shall be ground by a huge millstone. Secondly, the olive pulp shall be squeezed to extract the oil. The fruits of the tree of life have to be crushed to produce life itself. And Jesus understood that He is the new tree of life, and He has to be crushed first to yield the true life.

Jesus is facing the horrifying time in His life and He has all the options to deal with it. Jesus could have run, He could have summoned the legions of angels to defend Him, or He could simply place someone else to be crucified. Yet, Jesus chooses to embrace His cross and death because He knows this is the most fruitful way. Only through suffering and death, He can love us to the end, and we may have life abundantly.

In the face of our suffering, we are called like Jesus to embrace it, and even be crushed by it, so that true life may flow. It is true that in my first year as a priest, God has a different plan for me, and I cannot celebrate the Holy Week with the people I serve, but He gives me even a precious gift to participate in His suffering and death more fully.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP