Pergulatan Seorang Pewarta

Minggu Biasa ke-30 [5 November 2017] Matius 23: 1-12

“Karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. (Mat 23: 3)”

walktlk1Membaca Injil Minggu ini, saya merasa bahwa Yesus menegur para imam dan pewarta sabda-Nya karena “mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” Sayangnya, banyak dari kita gagal dalam hal ini. Kita memberitakan pengampunan, namun beberapa imam hidup dalam pertengkaran berkepanjangan dengan rekan imam lainnya atau dengan beberapa umat mereka. Kita mengajarkan kebaikan dan persahabatan dengan Tuhan, namun beberapa dari kita tidak pernah tersenyum dan tampak sombong. Kita memberitakan keadilan, tapi terkadang kita gagal memberi keadilan kepada mereka yang bekerja di paroki atau biara.

Saya sendiri bergulat dengan hal ini. Sering kali saya berkhotbah atau menulis meminta umat untuk mengambil bagian yang lebih aktif di Gereja atau terlibat dalam memperjuangkan keadilan dan perdamaian, namun saya sendiri kesulitan untuk mewujudkan ajakan tersebut. Saya pernah menjadi anggota KADAUPAN di rumah formasi kami di Manila. Ini adalah kelompok kerasulan para frater Dominikan yang terinspirasi oleh St. Martinus de Porres, seorang bruder Dominikan yang mempersembahkan hidupnya untuk melayani kaum miskin. Salah satu tugas dasar kami adalah membantu orang-orang miskin yang datang ke tempat kami. Terkadang, kami membantu secara finansial, tapi sering kali kita menyediakan makanan, air minum dan pakaian. Harus kuakui bahwa setiap kali orang miskin datang, aku bergulat untuk menemui dan membantu mereka karena aku lebih mudah bagi saya untuk tinggal di perpustakaan dan membaca buku.

Namun, terlepas dari ketidakkonsistenan ini, saya percaya bahwa Yesus penuh belas kasihan kepada kita, para pewarta Sabda-Nya dan pekerja di ladang anggur-Nya, karena Dia mengerti bahwa terlepas dari niat kudus kita, kita terus jatuh karena kelemahan manusiawi kita. Bahkan St. Paulus memahami pergulatan kita dengan kelemahan kita, “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. (Gal 5:17)”

Tuhan Yesus akan sangat berbelaskasihan kepada kita yang bergulat untuk menghidupi apa yang kita wartakan, tetapi Dia tidak akan mentolerir jika pewartaan hanya untuk pamer atau keuntungan pribadi. Inilah konteks Injil hari ini. Yesus mengkritik beberapa orang Farisi dan ahli Taurat yang berkhotbah tentang Hukum Taurat dan mengajarkan penerapannya yang rumit karena ingin memamerkan kelihaian mereka, dan dengan demikian, mendapatkan kehormatan. Tujuan mereka adalah untuk mendapatkan gelar kehormatan, “Rabi” atau “Bapa”, dan diperlakukan sebagai VIP di masyarakat Yahudi. Mereka tidak melayani Tuhan, tapi mereka memanipulasi Hukum Allah untuk melayani kepentingan mereka pribadi. Yesus sangat geram karena ini adalah pelecehan serius terhadap panggilan suci mereka untuk mewartakan dan melayani Allah Israel yang telah memilih mereka.

Pesan yang sama berlaku bagi kita, para pewarta dan pelayan Firman Allah. Apakah ada niat tersembunyi dan egois dalam pewartaan dan pelayanan kita? Apakah kerasulan kita hanya mendapatkan ketenaran dan kepuasan? Apakah kita menimbun kekayaan dan mencari kehidupan yang lebih nyaman? Apakah kita menjadikan panggilan suci kita sebagai pewarta sebuah karir untuk mencapai sukses dan kemuliaan? Dalam suratnya kepada para imam Filipina, Uskup Agung Socrates Villegas dari Lingayen-Dagupan memiliki poin kuat untuk kita refleksikan bersama baik sebagai imam maupun para awam pewarta Sabda-Nya, “Merupakan sebuah skandal bagi seorang imam untuk meninggal kaya raya … Inilah satu-satunya tugas kita – untuk menjadi Yesus dan untuk memberi Yesus yang adalah harta kita yang sejati.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tax

29th Sunday in Ordinary Time. October 22, 2017 [Matthew 22:15-22]

“…repay to Caesar what belongs to Caesar and to God what belongs to God.” (Mat 22:21)

caesar and god“In this world nothing can be said to be certain, except death and taxes.”  Benjamin Franklin once said. Indeed, tax is an unpleasant and unavoidable fact in our lives as ordinary citizen. A portion of our hard-earned wage is suddenly taken away from us, and only God knows where it goes. In modern society, almost all we have, we gain, and we use are taxed. The practice of taxing people goes back to first known organized human societies. The basic idea is that tax will provide a common resource for the improvement of the community, like building roads, free education and quality health care. Yet, the ideal is often met with abuses. In olden time, the kings and chieftains taxed people so they could build their grand palaces and feed their wives. Unfortunately, the situation does not change much in our time.

In the time of Jesus, taxation is a burning issue. Ordinary Jews like Jesus himself are taxed heavily by the Roman colonizers, and for those who are not able to pay, they are dealt with severity. Their properties are confiscated, they are put to jail and even face capital punishment.  Not only that the Jews need to pay tax to the Romans, but they need also to pay the religious tax to support the Temple. These leave simple Jewish farmers or laborers with almost nothing, and the poor become even poorer. Both Jesus and the Pharisees are also victims of this unjust system.

Any Jew would abhor paying tax to the Romans and lament his obligation to support the Temple, but majority of the Jews will prefer to abide with the rules and pay the tax because they do not want to court problems. The Pharisees and other pious Jews detest using the Roman coins because there is engraved the image of Caesar as god. The entire system is simply idolatrous for them. Yet, even many Pharisees pay their share as to maintain peace and order. The usual impression of this Gospel episode is that wise Jesus outwits a team of Pharisees and Herodians, who plan to trap Him with a tricky yet politically charged question. Yet, going deeper, there are so much at stake. Though the question is directly addressed to Jesus, the same question is applicable to all Jews who are forced to pay tax to the Romans. Thus, condemning Jesus as idolatrous means they also condemn the majority of fellow Jews for paying tax.

Jesus’ answer is not a categorical yes or no, rather he formulates it in such a way that does not only save Him from the trap, but saves everyone who are forced to pay tax from the idolatry charge. Ordinary Jews are working extremely hard for their lives and families, and it is simply a merciless act to condemn them as idol worshipers simply because they need to pay tax and avoid severe punishment. Jesus’ answer removes this guilt from poor Jews struggling to feed their family as the same time enables them to be holy in the sight of the Lord. From here, to give what belongs to God does not simply mean to pay the religious tax or to offer sacrifices in the Temple, but it is primarily to help others getting closer to God. What belongs to God? It is His people.

In our own time and situation, we may pay our taxes to the governments and live as good and law-abiding citizen, but do we give what belongs to God? Do we, like the Pharisees, place unnecessary burdens on others’ shoulders? Do we ridicule other who are not able to go the Church because they need to feed their family? Do feel holy simply because we are active in the Church and donate a big amount of money? What have we done to bring people closer to God?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pajak

Hari Minggu Biasa ke-29 [22 Oktober 2017] Matius 22: 15-22

“… Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:21)

ceasar coinBenjamin Franklin pernah berkata, “Di dunia ini tidak ada yang pasti, kecuali kematian dan pajak.” Sungguh, pajak adalah fakta yang tidak menyenangkan dan juga tidak dapat dihindari dalam hidup kita sebagai warga negara. Sebagian dari penghasilan yang diperoleh dari jerih payah kita tiba-tiba diambil, dan hanya Tuhan yang tahu ke mana itu pergi. Praktek perpajakan sebenarnya sudah terjadi sejak komunitas manusia pertama di bumi. Ide dasarnya adalah bahwa pajak akan menyediakan sumber daya yang untuk kemajuan bersama, seperti membangun jalan, pendidikan dan perawatan kesehatan berkualitas. Namun, hal ini sering disalahgunakan. Di zaman dulu, para raja dan kepala suku menarik pajak agar mereka bisa membangun istana megah mereka dari pada membangun rakyatnya. Sayangnya, situasi tersebut tidak banyak berubah di zaman sekarang. Para pejabat korup menarik pajak hanya untuk membangun “istana” mereka yang megah, dan bukannya membangun rakyat.

Pada masa Yesus, pajak adalah isu yang sangat sensitif. Orang-orang Yahudi sederhana dikenai pajak oleh penjajah Romawi, dan bagi mereka yang tidak mampu membayar, mereka akan dipenjara, harta-benda mereka akan disita dan bahkan menghadapi hukuman mati. Ini membuat para petani dan pekerja Yahudi sederhana semakin miskin dan tak berdaya. Baik Yesus maupun orang Farisi juga menjadi korban dari sistem perpajakan yang menindas dan tidak adil ini.

Tidak ada yang suka membayar pajak kepada penjajah Romawi, namun sebagian besar orang Yahudi akan memilih untuk mematuhi peraturan dan membayar pajak karena mereka tidak menginginkan masalah datang. Orang-orang Farisi dan orang-orang Yahudi saleh lainnya membenci menggunakan koin Romawi karena di dalamnya, ada gambar Kaisar yang diukir sebagai dewa. Seluruh sistem perpajakan adalah penyembahan berhala. Namun, banyak orang Farisi tetap membayar pajak agar mereka tetap hidup.

Pesan yang biasanya kita dengar dari Injil hari ini adalah Yesus yang cerdik mengalahkan para Farisi dan Herodian yang ingin menjebak Dia dengan pertanyaan yang rumit. Namun, sebenarnya, ada banyak hal yang dipertaruhkan di sini. Meskipun pertanyaan itu ditujukan kepada Yesus, pertanyaan yang sama berlaku untuk semua orang Yahudi yang terpaksa membayar pajak kepada bangsa Romawi. Dengan demikian, jika mereka menuduh Yesus sebagai penyembah berhala, mereka juga menuduh mayoritas orang Yahudi untuk membayar pajak.

Jawaban Yesus bukanlah jawaban kategoris ya atau tidak, tetapi ini dirumuskan sedemikian rupa sehingga tidak hanya menyelamatkan-Nya dari perangkap, tapi juga menyelamatkan setiap orang yang terpaksa membayar pajak dari tuduhan sebagai penyembah berhala. Orang-orang Yahudi yang sederhana harus bekerja sangat keras bagi keluarga mereka, dan terpaksa membayar pajak demi keselamatan diri mereka. Tidak cukup, para Farisi menuduh mereka sebagai penyembah berhala karena membayar pajak. Ini sungguh kejam karena para Farisi ini yang seharusnya menjadi contoh kekudusan, justru menjauhkan banyak orang jadi Tuhan. Syukurlah, jawaban Yesus menyingkirkan rasa bersalah ini dari orang-orang Yahudi yang berjuang untuk memberi makan keluarga mereka. Ini bukanlah sekedar membayar pajak, tetapi sungguh menjadi kudus di hadapan Tuhan.

Dalam hidup kita sehari-hari, kita mungkin taat membayar pajak kita kepada pemerintah dan hidup sebagai warga negara yang patuh hukum, tetapi sekali lagi Injil hari ini bukanlah sekedar tentang membayar pajak. Apakah kita, seperti orang-orang Farisi, hanya mau menjadi suci sendiri dengan menjadi sangat aktif di Gereja dan memberi kolekte besar, tetapi malah menghalangi sesama yang ingin menjadi kudus? Apakah kita sekedar menghakimi dan mencibir mereka yang tidak bisa aktif di Gereja karena harus bekerja keras menghidupi keluarga mereka? Apakah kita membawa orang lain lebih dekat kepada Tuhan atau malah melakukan hal yang sebaliknya?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

God’s Co-Workers

27th Sunday in Ordinary Time. October 8, 2017 [Matthew 21:33-43]

 There was a landowner who planted a vineyard… (Mat 21:33).”

Red-Vineyard-croppedThe image of a vineyard is close to Israelites’ hearts because this springs from their prophetic tradition. Isaiah uses this metaphor to describe Israel and God (see Isa 5:1-8).  Consistent with this great prophet, Jesus crafts His parable of the vineyard to describe the relation between God and His people. God is the just and generous vineyard owner, and we are His workers. Now, it is up to us to work hard for the Lord in His vineyard and receive abundant harvest, or be lazy, and expelled from the vineyard.

However, there is another way of looking at this parable. For three consecutive Sundays, we have listened to parables that feature a vineyard and people who are involved in this vineyard. If there is one common denominator in these three parables, it is about the difficult and often problematic relationship between the landowner and the workers.

In ancient Israel, big landowners were hiring workers or leasing their land to farmer-tenants. At the end of the day, the workers received their wage, or at the harvest, tenants got their share of their labor. Here the situation became very thorny and conflict-ridden. The owners wanted the highest profit from their land, while the workers desired the greatest income from their labor. At times, the Israelite laborers received very little wage or very small share from the harvest. With very little income, they had to pay high taxes to the Roman colonizers and contributions to the Temple. Thus, what remained was barely enough to feed the family. Disgruntled and hungry workers were very prone to violent actions. However, it was true also that some good landowners gave more than enough wages, but some workers tended to be lazy, abusive to fellow workers, and are even involved in stealing the harvest.

In our time, we seem to face more complex issues in relation to employer, employees and employment. With global networking and communication, an American company may hire Filipino workers working in Manila serving European customers. With almost unrestricted mobility, millions of workers from Indonesia or the Philippines try their luck in Middle East countries. With steady increase of automation, many manual works are gradually replaced by robots. More and more people prefer to buy things or avail service online. One of the hottest debates now in the United Nations is the usage of Artificial Intelligence (AI) to “judge” human right cases in the International Tribunal. The AI has become so sophisticated that it can predict the verdicts of human judges. Now, highly skilled human profession like a judge can even be replaced by an AI. Many professions that were trending years ago have become extinct now, and more seem to follow. Yet, despite these advancements and complexity, the fundamental issue remains: whether both the employers and the employees give what is expected and receive with are due to them?

Jesus’ parable is not only relevant for our time, but it continues to challenge our fundamental understanding of our dignity as God’s co-workers in His vineyard. As workers, do our attitudes in the workplaces reflect the good attitudes of Jesus’ followers? As owners or superiors, do we manifest that delicate balance between God’s justice and His generosity? Finally, as God’s co-workers, do we work for a better world for us and future generations, or we simply aim for our selfish interest and greed?

(Note: today is the feast day of Our Lady of the Holy Rosary of La Naval de Manila, before whom I kneel down every morning and pray for inspiration guiding my Sunday reflections. May she continue to guide us in our journey of faith. Happy Fiesta!)

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Rekan Kerja Allah

Minggu Biasa ke-27 [8 Oktober 2017] Matius 21: 33-43

 Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur…  (Mat 21:33)”

m20-mafaKebun anggur merupakan citra yang dekat dengan hati orang Israel. Nabi Yesaya menggunakan metafora ini untuk menggambarkan relasi Israel dan Allah mereka (lihat Yesaya 5: 1-8). Konsisten dengan nabi agung ini, Yesus menceritakan perumpamaan tentang kebun anggur versi-Nya sendiri untuk menggambarkan hubungan antara Allah dan umat-Nya. Tuhan adalah pemilik kebun anggur yang adil dan juga murah hati, dan kita adalah para pekerja-Nya. Sekarang, terserah kepada kita untuk bekerja keras untuk Tuhan di kebun anggur-Nya dan menerima panen berlimpah, atau bermalas-malasan, dan akhirnya diusir dari kebun anggur.

Namun, ada cara lain untuk membaca perumpamaan ini. Selama tiga hari Minggu berturut-turut, kita mendengarkan perumpamaan yang menampilkan kebun anggur dan orang-orang yang terlibat dalam kebun anggur ini. Jika ada satu kesamaan dari ketiga perumpamaan tersebut, ini adalah hubungan yang sulit dan sering kali bermasalah antara pemilik kebun dan para pekerja.

Di Israel masa lalu, pemilik tanah yang besar mempekerjakan para buruh atau menyewakan tanah mereka kepada petani. Pada akhir hari, para pekerja menerima upah mereka, atau saat panen, penyewa mendapatkan bagian dari panen tersebut. Di sinilah situasi sering menjadi sangat sulit dan penuh konflik. Sang pemilik menginginkan keuntungan tertinggi dari tanah mereka, sementara para pekerja menginginkan penghasilan terbesar dari usaha mereka. sering kali, buruh tani Israel menerima upah yang kecil atau bagian yang sangat kecil dari panen. Dengan pendapatan yang sangat kecil, mereka masih harus membayar pajak yang tinggi kepada penjajah Romawi dan juga sumbangan ke Bait Allah. Apa yang tersisa hampir tidak cukup untuk memberi makan keluarga mereka. Tentunya, pekerja yang tidak puas dan lapar sangat rentan terhadap aksi kekerasan terhadap sesama dan pemilik tanah. Namun, tidak semua pemilik lahan adalah buruk. Mereka yang baik akan memberi upah yang lebih dari cukup, namun mereka juga harus menghadapi masalah seperti beberapa pekerja yang cenderung malas, kasar terhadap rekan kerja, dan bahkan terlibat dalam pencurian panen.

Di zaman ini, kita tampaknya menghadapi masalah yang lebih kompleks dalam kaitannya dengan pemilik modal, pekerja dan pekerjaan. Dengan jaringan dan komunikasi global, perusahaan Amerika dapat mempekerjakan tenaga kerja Filipina yang bekerja di Manila yang melayani pelanggan dari Eropa. Dengan mobilitas yang hampir tidak terbatas, jutaan pekerja dari Indonesia atau Filipina mencoba peruntungannya di negara-negara Timur Tengah. Dengan pengembangan teknologi otomasi, banyak kerja manual secara bertahap digantikan oleh robot. Semakin banyak orang lebih memilih untuk membeli barang atau layanan secara Online. Salah satu perdebatan terpanas yang sekarang ada di Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah penggunaan intelletualitas buatan (Artificial Intellegence) untuk memberi keputusan bagi kasus-kasus hak asasi manusia di Pengadilan Internasional.  Artificial Intellegence telah menjadi begitu canggih sehingga bisa memprediksi putusan hakim manusia. Kini, profesi manusia yang membutuhkan keahlian yang kompleks seperti hakim bahkan bisa digantikan oleh Artificial Intellegence. Banyak profesi yang tren di masa lalu telah punah, dan banyak profesi baru pun bermunculan. Namun, terlepas dari kemajuan dan kompleksitas ini, kita tetap menghadapi masalah mendasar: apakah yang memperkerjakan dan yang diperkerjakan memberikan apa yang diharapkan dan menerima  apa yang menjadi hak mereka?

Oleh karena itu, perumpamaan Yesus tidak hanya relevan untuk masa ini, tetapi juga terus menantang pemahaman mendasar tentang martabat kita sebagai rekan kerja Allah di kebun anggur-Nya. Sebagai pekerja, apakah sikap kita di tempat kerja mencerminkan sikap yang baik para pengikut Yesus? Sebagai pemilik atau atasan, apakah kita mewujudkan keseimbangan antara keadilan Allah dan kemurahan hati-Nya? Akhirnya, sebagai rekan kerja Tuhan, apakah kita bekerja untuk dunia yang lebih baik bagi kita dan generasi masa depan, atau kita hanya ingin mencapai kepentingan egois dan keserakahan kita?

(Catatan: hari ini adalah hari raya Bunda Maria Ratu Rosario La Naval de Manila, dan setiap pagi saya berdoa dihadapannya memohon inspirasi yang membimbing saya dalam menulis refleksi Mingguan ini. Semoga Sang Bunda terus membimbing dan menemani kita dalam perjalanan iman kita.)

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Unworthy, yet Called

25th Sunday in Ordinary Time. September 24, 2017 [Matthew 20:1-16a]

They answered, ‘Because no one has hired us.’ He said to them, ‘You too go into my vineyard.’ (Mat 20:1-16)

vineyard ownerJesus is the storyteller genius. The parable he shares to us today does not only surprise us with its unexpected ending, but it also creates a sense of puzzlement and wonder. We expect that the workers who labored the whole day would get the better wage compared to those who came late. Yet, it did not happen. All got the same wage regardless of their working hours. The vineyard owner was right to explain that he did not violate the agreement with his laborers, but deep inside us, there is something quite off. If we were militant enough, we would stage a rally to protest the vineyard owner’s decision.

This sense of puzzlement and perhaps discontent are born because we can easily identify ourselves with the laborers who came early and worked the whole day, perhaps under the scourging sun and bearing heavy load. Many of us are workers who spend 8 hours or more in the workplace, working hard, just to get something to eat and little to save. Or some of us are students who have to study hard for hours just to pass a subject. Surely, we will feel resentment and even anger when we know that some unqualified workers with less work hours or productivity, receive the same and even higher amount of salary. We, students, will get totally disappointed knowing some lazy students, with their substandard, “copy-paste” assignments, get higher grade than us. It just violates our sense of justice.

However, do we really have to identify ourselves with the laborers who worked the whole day? Who knows they are actually not representing us. In God’s eyes, all of us may be like those people who were standing idle the whole day perhaps because no other vineyard owners think that we deserve the job. Indeed, in the final analysis, we are all but unworthy sinners. Pope Francis is loved by many and working hard for the Church. In his visit to Colombia, when he greeted the people on the streets, he got tripped, his eyebrow was slightly cut, and blood came out. Yet, instead calling off the activity, he proceeded. After receiving quick medical treatment, he insisted to continue greeting the people. Despite the pain, he met the people of God even with brighter smile. Pope Francis is like one of the laborers who came early in vineyard. Once he was asked by reporters to describe himself in one word, he answered he was a sinner! If this loving and holy Pope considers himself a sinner, who are we to think that we are the righteous?

Too much focus on ourselves, we often miss the obvious actions of the vineyard owner. He exerts effort to look for laborers, not just once, but four times. This defies the business logic. Why would you hire more if you have enough workers for the day? Why would you spend much for those worked only for one hour? That’s perfect recipe for bankruptcy! The point is not really about business and profit, but about seeking diligently and embracing those who are the lost, the less and the last. It is about us sinners, unworthy of Him, yet God remains faithful in looking for us.

It is truly humbling experience to know that we are “the people idle on the streets” yet God wants us to be part of His family. Now, it is our duty to respond to his Mercy with commitment and love for others. Like the last workers, we have only “one hour”, and it is time to make the best of it for He who has been very merciful.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Tidak layak, namun Terpanggil

Minggu Biasa ke-25 [24 September 2017] Matius 20: 1-16a

Kata mereka kepadanya, “Karena tidak ada orang mengupah kami”. Katanya kepada mereka, “Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.” (Mat 20:7)

francis-bruised-woundedYesus adalah seorang pencerita yang luar biasa. Perumpamaan Yesus hari ini tidak hanya mengejutkan kita dengan akhir yang tak terduga, tapi juga membuat kita bertanya-tanya. Kita berharap para pekerja yang bekerja sepanjang hari akan mendapatkan upah yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang terlambat datang. Namun, itu tidak terjadi. Semua mendapat upah yang sama. Pemilik kebun anggur menjelaskan bahwa dia tidak melanggar kesepakatan dengan para pekerja, tapi di dalam lubuk hati kita, kita merasa ada sesuatu yang salah.

Rasa bingung dan mungkin ketidakpuasan ini lahir karena kita dapat dengan mudah mengidentifikasi diri kita dengan pekerja yang datang lebih awal dan bekerja sepanjang hari, mungkin di bawah panas matahari dan membawa beban berat. Banyak dari kita adalah pekerja yang bekerja keras selama 8 jam atau lebih di tempat kerja hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Atau beberapa dari kita adalah siswa yang harus belajar berjam-jam agar bisa lulus. Atau kita kita sangat aktif selama bertahun-tahun membantu di paroki. Tentunya, kita akan marah saat mengetahui bahwa beberapa pekerja dengan jam kerja atau produktivitas rendah, menerima gaji yang lebih tinggi dari kita. Sebagai pelajar, kita akan benar-benar kecewa saat mengetahui beberapa siswa yang malas mendapatkan nilai lebih tinggi dari kita. Kita kecewa saat tidak diperhatikan sementara mereka yang baru datang dipuji oleh Romo paroki Itu melanggar rasa keadilan kita.

Namun, apakah kita benar-benar harus mengidentifikasi diri kita dengan para pekerja yang bekerja sepanjang hari? Di mata Tuhan, kita semua mungkin seperti halnya orang-orang yang menganggur sepanjang hari, mungkin karena sebenarnya kita tidak layak mendapat pekerjaan. Kenyataannya, kita semua adalah orang berdosa yang tidak pantas. Paus Fransiskus bekerja keras untuk Gereja. Dalam kunjungannya ke Kolombia, saat dia menyapa umat di jalanan, dia terjatuh, bagian mata kirinya membentur mobil kepausan, dan alisnya pun mengeluarkan darah. Namun, alih-alih menghentikan aktivitasnya, dia melanjutkan. Setelah menerima perawatan medis yang cepat, dia tak berhenti menyapa umatnya. Meski sakit, ia menemui umat Tuhan bahkan dengan senyuman yang lebih cerah. Paus Fransiskus tampak seperti buruh yang bekerja keras. Namun, suatu ketika dia diwawancara dan dia diminta untuk menjelaskan dirinya dalam satu kata. Dia menjawab bahwa dia adalah seorang berdosa! Jika Paus yang penuh kasih dan kudus ini menganggap dirinya berdosa, siapakah kita untuk berpikir bahwa kita adalah orang paling benar?

Terlalu fokus pada diri kita sendiri, kita sering tidak melihat apa yang sebenarnya sang pemilik kebun anggur lakukan di dalam perumpamaan ini. Dia berusaha untuk mencari pekerja, bukan hanya sekali, tapi empat kali. Ini bertentangan dengan logika bisnis. Mengapa kamu mempekerjakan lebih banyak jika kamu memiliki cukup banyak pekerja untuk hari ini? Mengapa kamu menghamburkan uang bagi mereka yang bekerja hanya selama satu jam? Ini adalah resep sempurna untuk kebangkrutan usahamu! Namun, inti perumpamaan ini bukanlah tentang bisnis dan keuntungan, tapi tentang mencari dengan tekun dan merangkul mereka yang tersesat dan hilang. Ini tentang kita orang berdosa, yang tidak layak untuk Dia, namun Tuhan tetap setia dalam mencari dan memanggil kita.

Sungguh sesuatu yang membahagiakan mengetahui bahwa kita adalah “orang-orang yang menganggur di jalanan”, tetapi Tuhan tetap ingin kita menjadi bagian dari keluarga-Nya. Sekarang, tugas kita untuk menanggapi rahmat-Nya dengan komitmen dan kasih bagi sesama. Seperti pekerja yang datang terakhir, kita hanya memiliki “satu jam”, dan sekarang saatnya untuk membuat yang terbaik bagi Dia yang telah sangat berbelaskasihan kepada kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Justice of God and Forgiveness

24th Sunday in Ordinary Time. September 17, 2017 [Matthew 18:21-35]

“Moved with compassion the master of that servant let him go and forgave him the loan. (Mat 18:27)”

justice-law-scaleWhy is it difficult to forgive? One of the reasons is that after we are wronged, the immediate reaction is to seek justice or even revenge. We want that the pain and the loss we experienced are also felt by those who inflicted them on us. We want “a tooth for a tooth, an eye for an eye”. Unfortunately, consumed by anger and hatred, our cry for justice can easily turn into an intense desire of revenge. If justice seeks to balance scale, revenge seeks to inflict a greater punishment, or even to destroy those who have harmed us. Unless we get what is due, unless they receive what they deserve, there is no forgiveness.

Despite this intense desire for vengeance, the good news is that the longing for justice is something that is embedded in every human soul. This sense of justice we have and we embrace is what we call human justice. This kind of justice is essential for our daily life because it propels us to reward good works and punish wrong doings. If we work hard for our companies, we deserve a good wage, but if we do not our job, the company has the right to fire us. If we study hard, we expect a good grade and learning, but if we are lazy, we expect no less that a failing mark. If we pay our taxes, we want the government to provide a dependable public service. This sense of justice regulates our daily lives, the school system, work policies and government conducts. Therefore, we are angered by the violence of this justice system. We are angered knowing our officemate who does little, gets the same salary like us. Though I do not want to focus on grade, I am usually pissed off knowing that after exerting much effort, I get a lower grade compared to those who did not study. We will be indignant if our taxes go to the corrupt and incompetent government officials. With this sense of justice, there is no place for forgiveness.

Thus, Peter’s proposal to forgive seven times sounds extraordinary. Yet, Jesus invites us to understand another sense of justice, the justice of God. The human justice begins with us, what we deserve, what is due to us, but the justice of God starts with God. Like the King in the parable, he demands the servant to pay his debt of astronomical amount. This is human justice. Yet, the king knows that he is so rich that the payment of his servant’s debt would not add much to his treasury. Thus, when the servant begs for mercy, the king could easily forgive him. The servant’s debt now turns to be his richness, and from being extremely poor because of the massive debt, he becomes instantly rich. The servant then is expected to perform his master’s justice and to forgive also his fellow servants who owe him a little. Unfortunately, he remains governed by human justice and even consumed by revenge. This brings about his own doom.

We owe God everything, our lives, all what we have, and even our redemption, yet nothing we do for Him can add to his glory. In His mercy, God forgives us. Our massive debt to God has been erased and in fact, transformed into our own richness. Mercy and forgiveness is not only possible but also the hallmark of God’s justice. As we become rich in His justice, we should forgive our brothers and sisters so that they may be also enriched. We forgive because we have been forgiven. We forgive because we are rich in His mercy. We forgive because God’s justice demands it.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Keadilan Tuhan dan Pengampunan

Minggu Biasa ke-24 [17 September 2017] Matius 18: 21-35

“Bergerak dengan belas kasihan tuan hamba itu membiarkannya pergi dan memaafkannya pinjaman. (Mat 18:27) “

unforgiving_servantMengapa sulit untuk memaafkan? Salah satu alasannya adalah bahwa setelah kita disakiti, reaksi kita adalah untuk mencari keadilan. Kita ingin apa rasa sakit yang kita alami juga dirasakan oleh orang-orang yang melakukannya pada kita. Kita ingin “gigi ganti gigi, mata ganti mata”. Terkadang, termakan oleh kemarahan dan kebencian, usaha kita untuk mencari keadilan dapat dengan mudah berubah menjadi keinginan membalas dendam. Jika rasa keadilan berusaha untuk menyeimbangkan skala, balas dendam berusaha untuk memberi hukuman yang lebih besar, atau bahkan untuk menghancurkan orang-orang yang telah merugikan kita. Jika kita tidak mendapatkan apa yang semestinya, jika mereka tidak menerima apa yang layak mereka dapatkan, tidak ada pengampunan.

Meskipun terkadang bercampur dengan keinginan untuk membalas dendam, kabar baiknya adalah bahwa rasa keadilan adalah sesuatu yang tertanam dalam setiap jiwa manusia. Rasa keadilan yang kita miliki adalah apa yang kita sebut keadilan manusia. Keadilan semacam ini sangat penting untuk kehidupan kita sehari-hari karena ini mendorong kita untuk menghargai perbuatan baik dan menghukum perbuatan salah. Jika kita bekerja keras untuk perusahaan kita, kita layak mendapatkan upah yang baik, tapi jika kita tidak melakukan pekerjaan kita, perusahaan memiliki hak untuk memecat kita. Jika kita belajar dengan giat, kita mengharapkan nilai bagus, tapi jika kita malas, jangan berharap kita berhasil. Jika kita membayar pajak, kita ingin pemerintah menyediakan layanan publik yang andal. Rasa keadilan ini mengatur kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, kita marah jika ada pelanggaran keadilan ini. Kita marah saat mengetahui rekan kerja kita yang tidak banyak bekerja, mendapat gaji yang sama. Meskipun saya tidak ingin fokus pada nilai, saya biasanya kesal mengetahui bahwa setelah mengerahkan banyak usaha, saya mendapat nilai yang lebih rendah daripada teman sekelas yang tidak belajar. Kita akan marah jika pajak kita masuk ke saku pejabat pemerintah yang korup dan tidak kompeten.

Dengan rasa keadilan ini, tidak ada tempat untuk pengampunan. Dengan demikian, usulan Petrus untuk mengampuni tujuh kali terdengar luar biasa. Namun, Yesus mengundang kita untuk memahami rasa keadilan yang berbeda, keadilan Tuhan. Keadilan manusia dimulai dengan kita, apa yang kita layak dapatkan, tapi keadilan Tuhan dimulai dengan Tuhan. Seperti raja dalam perumpamaan hari ini, dia menuntut hambanya untuk membayar hutangnya yang sangat besar. Ini adalah keadilan manusia. Namun, sang raja tahu bahwa dia begitu kaya sehingga pembayaran hutang hambanya tidak akan menambah banyak perbendaharaannya. Jadi, saat sang hamba memohon belas kasihan, raja bisa dengan mudah memaafkannya. Toh, ia tidak kehilangan apa-apa. Hutang sang hamba sekarang berubah menjadi kekayaannya, dan dari orang yang sangat miskin karena hutangnya yang besar, dia menjadi kaya secara instan. Si hamba kemudian diharapkan bisa melakukan keadilan yang sama seperti sang raja, dan juga memaafkan sesama hamba yang berutang padanya. Sayangnya, dia tetap diperintah oleh keadilan manusia dan bahkan termakan oleh dendam. Hal ini membawa malapetaka baginya.

Kita berutang kepada Tuhan segalanya, hidup kita, semua yang kita miliki, dan bahkan penebusan kita, namun segala yang kita lakukan tak akan sanggup untuk membayar-Nya atau menambah kemuliaan-Nya karena Dia itu sempurna. Dalam rahmat dan kesempurnaan-Nya, Tuhan mengampuni kita. Utang kita yang besar kepada Tuhan telah terhapus, dan faktanya, berubah menjadi kekayaan kita. Rahmat dan pengampunan tidak hanya mungkin tapi juga ciri keadilan Tuhan. Seperti sang hamba, kita harus mengampuni saudara dan saudari kita karena kita telah menjadi kaya karena keadilan-Nya. Kita memaafkan karena kita telah dimaafkan. Kita memaafkan karena kita kaya akan rahmat-Nya. Kita memaafkan karena keadilan Tuhan menuntutnya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Fraternal Correction

23rd Sunday in Ordinary Time. September 10, 2017 [Matthew 18:15-20]

“If your brother sins (against you), go and tell him his fault between you and him alone. If he listens to you, you have won over your brother.  (Mat 18:15)”

fraternalcorrectJesus understands that in any human community, including His own community of disciples, or the Church, there are always members affected by human weakness and sinfulness. Even in the Christ-oriented communities like the religious convents, the parishes, and various ministries and groups in the Church, inevitably we are hurting each other. Thus, Jesus, the Just God and merciful man, outlines a procedure or ‘fraternal correction’ to deal with misunderstanding, quarrels, and conflicts. It begins with the individual and personal encounter, then when it does not work, we ask the help of a witness or mediator, and lastly it goes up to the community level.

Every stage is important, but the first step is always decisive. The first level is challenging because it requires both humility to accept one’s weakness as well as prudence to express the message of reconciliation in a charitable manner. Yet, the temptation is that either we skip this preliminary level or we execute it without charity. Without mercy, things will just get worse, and the individual encounter will collapse or even turn violent. Often also, to avoid direct confrontation, we jump to the next level. Instead talking personally and privately to the person, we expose them to the public. Either we talk behind them, even creating gossips, or we shame and humiliate them in public. I myself are struggling with this process of fraternal correction. I am basically introvert, and I have tendency to keep things to myself and avoid direct confrontation. Things may seem peaceful, but I know I do not resolve the problems.

The first step is fundamental because after all, we all are members the same community, the same Church. We are all children of God, and thus, brothers and sisters to one another. As our Father in heaven deals mercifully with us, we are also learning to deal with others in mercy. Being merciful means willing to talk and try to understand the other side of the corner. Often, after being offended, we just do nothing but harbor prejudices, then fueling more anger and grudges, but perhaps, they have their own stories that need to be heard. Once in my Postulancy, I got annoyed with an outspoken brother who often criticized me. Later, I discovered also many brothers had the same sentiment. Sometimes, things got escalated, and some brothers refused to talk to him anymore. Till one day, we had a faith sharing, and we learned that he came from a dysfunctional family. His father left the family, and as the oldest son, he had to work and assume the responsibilities for his younger siblings. He had a hard life and he had to be tough also to discipline his younger siblings. Then, we understood why he was also tough with us, his younger brothers.

Often we understand the stages of fraternal correction ends with things settled by the community or Church, but actually Jesus offers one final step. We need to pray. Before we begin the entire process, we should pray. When we bring things to God in prayer, we are no longer controlled by emotions, we start to suspect the good in others, and we have more serenity to forgive. At the end of the process, we pray together asking for forgiveness and healing. My friend and brother in the Order, John Paul, does not agree that time heals. For him, time does not heal, but only God heals. We remember that when two or three people, especially those are in conflict, gather together in prayer, Jesus is there.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP