Minggu Biasa ke-30 [5 November 2017] Matius 23: 1-12
“Karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. (Mat 23: 3)”
Membaca Injil Minggu ini, saya merasa bahwa Yesus menegur para imam dan pewarta sabda-Nya karena “mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” Sayangnya, banyak dari kita gagal dalam hal ini. Kita memberitakan pengampunan, namun beberapa imam hidup dalam pertengkaran berkepanjangan dengan rekan imam lainnya atau dengan beberapa umat mereka. Kita mengajarkan kebaikan dan persahabatan dengan Tuhan, namun beberapa dari kita tidak pernah tersenyum dan tampak sombong. Kita memberitakan keadilan, tapi terkadang kita gagal memberi keadilan kepada mereka yang bekerja di paroki atau biara.
Saya sendiri bergulat dengan hal ini. Sering kali saya berkhotbah atau menulis meminta umat untuk mengambil bagian yang lebih aktif di Gereja atau terlibat dalam memperjuangkan keadilan dan perdamaian, namun saya sendiri kesulitan untuk mewujudkan ajakan tersebut. Saya pernah menjadi anggota KADAUPAN di rumah formasi kami di Manila. Ini adalah kelompok kerasulan para frater Dominikan yang terinspirasi oleh St. Martinus de Porres, seorang bruder Dominikan yang mempersembahkan hidupnya untuk melayani kaum miskin. Salah satu tugas dasar kami adalah membantu orang-orang miskin yang datang ke tempat kami. Terkadang, kami membantu secara finansial, tapi sering kali kita menyediakan makanan, air minum dan pakaian. Harus kuakui bahwa setiap kali orang miskin datang, aku bergulat untuk menemui dan membantu mereka karena aku lebih mudah bagi saya untuk tinggal di perpustakaan dan membaca buku.
Namun, terlepas dari ketidakkonsistenan ini, saya percaya bahwa Yesus penuh belas kasihan kepada kita, para pewarta Sabda-Nya dan pekerja di ladang anggur-Nya, karena Dia mengerti bahwa terlepas dari niat kudus kita, kita terus jatuh karena kelemahan manusiawi kita. Bahkan St. Paulus memahami pergulatan kita dengan kelemahan kita, “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. (Gal 5:17)”
Tuhan Yesus akan sangat berbelaskasihan kepada kita yang bergulat untuk menghidupi apa yang kita wartakan, tetapi Dia tidak akan mentolerir jika pewartaan hanya untuk pamer atau keuntungan pribadi. Inilah konteks Injil hari ini. Yesus mengkritik beberapa orang Farisi dan ahli Taurat yang berkhotbah tentang Hukum Taurat dan mengajarkan penerapannya yang rumit karena ingin memamerkan kelihaian mereka, dan dengan demikian, mendapatkan kehormatan. Tujuan mereka adalah untuk mendapatkan gelar kehormatan, “Rabi” atau “Bapa”, dan diperlakukan sebagai VIP di masyarakat Yahudi. Mereka tidak melayani Tuhan, tapi mereka memanipulasi Hukum Allah untuk melayani kepentingan mereka pribadi. Yesus sangat geram karena ini adalah pelecehan serius terhadap panggilan suci mereka untuk mewartakan dan melayani Allah Israel yang telah memilih mereka.
Pesan yang sama berlaku bagi kita, para pewarta dan pelayan Firman Allah. Apakah ada niat tersembunyi dan egois dalam pewartaan dan pelayanan kita? Apakah kerasulan kita hanya mendapatkan ketenaran dan kepuasan? Apakah kita menimbun kekayaan dan mencari kehidupan yang lebih nyaman? Apakah kita menjadikan panggilan suci kita sebagai pewarta sebuah karir untuk mencapai sukses dan kemuliaan? Dalam suratnya kepada para imam Filipina, Uskup Agung Socrates Villegas dari Lingayen-Dagupan memiliki poin kuat untuk kita refleksikan bersama baik sebagai imam maupun para awam pewarta Sabda-Nya, “Merupakan sebuah skandal bagi seorang imam untuk meninggal kaya raya … Inilah satu-satunya tugas kita – untuk menjadi Yesus dan untuk memberi Yesus yang adalah harta kita yang sejati.”
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

“In this world nothing can be said to be certain, except death and taxes.” Benjamin Franklin once said. Indeed, tax is an unpleasant and unavoidable fact in our lives as ordinary citizen. A portion of our hard-earned wage is suddenly taken away from us, and only God knows where it goes. In modern society, almost all we have, we gain, and we use are taxed. The practice of taxing people goes back to first known organized human societies. The basic idea is that tax will provide a common resource for the improvement of the community, like building roads, free education and quality health care. Yet, the ideal is often met with abuses. In olden time, the kings and chieftains taxed people so they could build their grand palaces and feed their wives. Unfortunately, the situation does not change much in our time.
Benjamin Franklin pernah berkata, “Di dunia ini tidak ada yang pasti, kecuali kematian dan pajak.” Sungguh, pajak adalah fakta yang tidak menyenangkan dan juga tidak dapat dihindari dalam hidup kita sebagai warga negara. Sebagian dari penghasilan yang diperoleh dari jerih payah kita tiba-tiba diambil, dan hanya Tuhan yang tahu ke mana itu pergi. Praktek perpajakan sebenarnya sudah terjadi sejak komunitas manusia pertama di bumi. Ide dasarnya adalah bahwa pajak akan menyediakan sumber daya yang untuk kemajuan bersama, seperti membangun jalan, pendidikan dan perawatan kesehatan berkualitas. Namun, hal ini sering disalahgunakan. Di zaman dulu, para raja dan kepala suku menarik pajak agar mereka bisa membangun istana megah mereka dari pada membangun rakyatnya. Sayangnya, situasi tersebut tidak banyak berubah di zaman sekarang. Para pejabat korup menarik pajak hanya untuk membangun “istana” mereka yang megah, dan bukannya membangun rakyat.
The image of a vineyard is close to Israelites’ hearts because this springs from their prophetic tradition. Isaiah uses this metaphor to describe Israel and God (see Isa 5:1-8). Consistent with this great prophet, Jesus crafts His parable of the vineyard to describe the relation between God and His people. God is the just and generous vineyard owner, and we are His workers. Now, it is up to us to work hard for the Lord in His vineyard and receive abundant harvest, or be lazy, and expelled from the vineyard.
Kebun anggur merupakan citra yang dekat dengan hati orang Israel. Nabi Yesaya menggunakan metafora ini untuk menggambarkan relasi Israel dan Allah mereka (lihat Yesaya 5: 1-8). Konsisten dengan nabi agung ini, Yesus menceritakan perumpamaan tentang kebun anggur versi-Nya sendiri untuk menggambarkan hubungan antara Allah dan umat-Nya. Tuhan adalah pemilik kebun anggur yang adil dan juga murah hati, dan kita adalah para pekerja-Nya. Sekarang, terserah kepada kita untuk bekerja keras untuk Tuhan di kebun anggur-Nya dan menerima panen berlimpah, atau bermalas-malasan, dan akhirnya diusir dari kebun anggur.
Jesus is the storyteller genius. The parable he shares to us today does not only surprise us with its unexpected ending, but it also creates a sense of puzzlement and wonder. We expect that the workers who labored the whole day would get the better wage compared to those who came late. Yet, it did not happen. All got the same wage regardless of their working hours. The vineyard owner was right to explain that he did not violate the agreement with his laborers, but deep inside us, there is something quite off. If we were militant enough, we would stage a rally to protest the vineyard owner’s decision.
Yesus adalah seorang pencerita yang luar biasa. Perumpamaan Yesus hari ini tidak hanya mengejutkan kita dengan akhir yang tak terduga, tapi juga membuat kita bertanya-tanya. Kita berharap para pekerja yang bekerja sepanjang hari akan mendapatkan upah yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang terlambat datang. Namun, itu tidak terjadi. Semua mendapat upah yang sama. Pemilik kebun anggur menjelaskan bahwa dia tidak melanggar kesepakatan dengan para pekerja, tapi di dalam lubuk hati kita, kita merasa ada sesuatu yang salah.
Why is it difficult to forgive? One of the reasons is that after we are wronged, the immediate reaction is to seek justice or even revenge. We want that the pain and the loss we experienced are also felt by those who inflicted them on us. We want “a tooth for a tooth, an eye for an eye”. Unfortunately, consumed by anger and hatred, our cry for justice can easily turn into an intense desire of revenge. If justice seeks to balance scale, revenge seeks to inflict a greater punishment, or even to destroy those who have harmed us. Unless we get what is due, unless they receive what they deserve, there is no forgiveness.
Mengapa sulit untuk memaafkan? Salah satu alasannya adalah bahwa setelah kita disakiti, reaksi kita adalah untuk mencari keadilan. Kita ingin apa rasa sakit yang kita alami juga dirasakan oleh orang-orang yang melakukannya pada kita. Kita ingin “gigi ganti gigi, mata ganti mata”. Terkadang, termakan oleh kemarahan dan kebencian, usaha kita untuk mencari keadilan dapat dengan mudah berubah menjadi keinginan membalas dendam. Jika rasa keadilan berusaha untuk menyeimbangkan skala, balas dendam berusaha untuk memberi hukuman yang lebih besar, atau bahkan untuk menghancurkan orang-orang yang telah merugikan kita. Jika kita tidak mendapatkan apa yang semestinya, jika mereka tidak menerima apa yang layak mereka dapatkan, tidak ada pengampunan.
Jesus understands that in any human community, including His own community of disciples, or the Church, there are always members affected by human weakness and sinfulness. Even in the Christ-oriented communities like the religious convents, the parishes, and various ministries and groups in the Church, inevitably we are hurting each other. Thus, Jesus, the Just God and merciful man, outlines a procedure or ‘fraternal correction’ to deal with misunderstanding, quarrels, and conflicts. It begins with the individual and personal encounter, then when it does not work, we ask the help of a witness or mediator, and lastly it goes up to the community level.