Tidak Ada yang Mustahil

Minggu Biasa ke-4. 31 Januari 2016 [Lukas 4:21-30]

“Bukankah Ia ini anak Yusuf? (Luk 4:22)”

Kata ‘mustahil’ tidak ada di dalam kosa kata Yesus. Dia melipatgandakan roti dan memberi makan kepada ribuan orang yang lapar. Dia berjalan di atas air dan menenangkan badai. Ia menyembuhkan wanita dengan perdarahan, membuka mata Bartimeus, dan mengusir setan. Dia mengampuni perempuan yang berzina dan menantang legalisme dari pihak berwenang. Dia membangkitkan Lazarus dan Dia sendiri bangkit dari kematian.

Namun, kata-kata seperti ‘tidak mungkin’ dan ‘tidak bisa’ tampaknya menjadi pola pikir orang-orang Nazaret. Ketika mereka melihat Yesus datang dan memberitakan Firman Tuhan dengan otoritas, orang Nazaret heran dan mereka mulai menyerang Yesus. Mereka mungkin berkata, Mustahil! Dia adalah Yesus, anak dari Joseph, tukang kayu miskin. Dia itu biasa-biasa saja dan tidak memiliki kemampuan. Memangnya dia pikir dirinya siapa? Tuhan?’ Rahmat Tuhan ada di depan mata mereka, tapi mereka menutup hati mereka, membatasi kemungkinan mereka untuk tumbuh dan berkembang. Tidak hanya mereka mengkotakan diri di dalam pikiran yang sempit, mereka juga mencoba untuk memaksakan keterbatasan mereka pada Yesus. Ketika Yesus menolak untuk dibatasi oleh pikiran mereka yang sempit, mereka berusaha untuk menyingkirkan Yesus. Oleh karena ini, Yesus tidak berbuat banyak di kampung halaman-Nya sendiri.

Yesus sendiri menjelaskan bahwa penolakan akan rahmat Tuhan telah menjadi masalah kuno bangsa Israel. Nabi-nabi besar seperti Elia dan Elisa bisa saja melakukan perbuatan-perbuatan besar bagi Israel, tetapi mereka tidak melakukannya karena mereka ditolak. Ironisnya, justru orang-orang bukan Israel yang malah percaya dan menerima rahmat dari mereka. Sekarang, mentalitas yang membatasi ini bukanlah milik orang Israel semata. Tanpa kita sadari, mental kerdil ini dapat merayap masuk ke dalam hidup kita. Kita mungkin mendengarkan Sabda Tuhan setiap hari Minggu dalam perjamuan Ekaristi, tetapi apakah kita membuka diri terhadap Firman untuk terpenuhi di dalam hidup kita? Kita bernyanyi dan memuji Tuhan pada Sunday Worship, tetapi apakah saat kita pulang, kita bertindak seolah-olah tidak ada yang terjadi pada kita? Tahun ini, kita merayakan Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi, tapi apakah ini membantu kita menjadi lebih berbelas kasih kepada sesama? Kadang-kadang kita seperti ‘Shoe’, tokoh utama dalam komik ‘Shoe’ oleh Jeff MacNelly. Ketika Shoe akan menjadi pelempar bola di pertandingan bisbol, teman satu timnya mengatakan, Kamu harus percaya pada lemparan bolamu yang melengkung. Sangat mudah baginya untuk mengatakan itu,” Shoe menggerutu. “Ketika aku harus percaya pada diri sendiri, aku adalah seorang agnostik.”

Seorang teman baik saya melakukan hal yang luar biasa di usia muda. Dia menyelesai pendidikan S3 pada usia 27 di Jepang. Apa yang membuat dia lebih luar biasa adalah ia menolak tawaran menggiurkan dari perusahaan besar dan memilih menjadi guru sukarelawan sekolah dasar di pedalaman. Dia saat ini melayani masyarakat di Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, di daerah perbatasan. Beberapa hari yang lalu dia mengirim pesan dan mengatakan betapa sulitnya untuk mengajar, terutama ketika orang tidak benar-benar menghargai betapa pentingnya pendidikan. Saya terdiam, tidak memiliki kata-kata penghiburan, tapi ia segera menjawab, Mengasihi itu sulit. Jawabannya membuat saya tersenyum karena saya tahu bahwa meskipun situasi sungguh sulit, dia tidak putus asa dan tidak pernah berhenti mengasihi. Dalam Kabar Sukacita, malaikat Gabriel mengatakan kepada Maria, Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk 1:37).” Diciptakan dalam citra Allah, kita tidak akan membatasi kasih karunia Allah, pertumbuhan kita di dalam iman dan kemampuan kita untuk mengasihi. Saat kita percaya dan membuka diri kita pada rahmat, hal-hal luarbiasa yang kita pikir ‘mustahil’ sungguh akan terjadi di dalam hidup kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Rusneo, OP

We Are Brave

Second Sunday in the Ordinary Time. January 17, 2016. [John 2:1-11]

“Woman, how does your concern affect me (Jn 2:4)?”

We desperately needs courageous people. Our world is torn by so many violence and evil deeds. Wars are raging in many nations. Millions are fleeing their homelands, and facing hunger, exhaustion and uncertainty of their future. Poverty consumes lives across the globe and forces people to horrendous human trafficking. The earth is getting warmer and this causes a tidal wave of destruction to all creatures. In desperation, the world needs brave people to bring a better tomorrow.

However, there is a subtle yet crucial distinction between courage and insanity. Some people called themselves ‘bold and fearless’ as they blew themselves up in Jakarta and shot people at random few days ago. Some people tag themselves as the ‘brave men of God’ as they slaughter the children and turn young women as their sex slaves in the Middle East and Africa. Others exalt themselves as the ‘fighters of freedom and choice’ by aborting innocent and defenseless babies in America and Europe. Yet, what is courage all about?

Today’s Gospel drives home a powerful message. The host was running out of wine. The servants were panicking. The lovely wedding was at the edge of embarrassment and disaster. That was a bad news. A brave woman came into the scene. She implored the Lord of Heaven to help the couple, but she was coldly denied. “Woman, how does your concern affect me?” Adding salt to the wound, this Lord of Heaven is her own Son. Yet, instead succumbing into despair, our mother showed us the true meaning of courage. She pushed herself to the limit and defied even God Himself to save the crumbling humanity. Jesus was moved by her courage and compassion, and the true God came out in the wedding of Cana. The first sign: the ordinary water was turned into the best wine. From Mary, we learn that courage is only genuine if it does not only push us to very limit of our existence but also it is for building up human society and the earth.

Some people, believing doing things in the name of God, destroy human lives and exploit the mother earth. Yet, Mother Mary has taught us even to ‘defy’ our false and poisonous conception of ourselves, of others and of God. The real courage is when we dare to plunge ourselves into the vast sea of human problems and refuse to oversimplify them into one-fit-all answer. It is pretty stupid and even blasphemous to say “God is the only solution and thus, everyone who does not follow our God, is as good as dead.” As we struggle to find the better ways of living in this earth, we join Mary in pushing our own limit of existence and in defying our little gods inside us. The world needs courageous people and it needs people who dare to sacrifice their ego for a better future of our earth.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP