Keindahan Natal

Vigili Natal –  24 Desember 2019 – Lukas 2: 1-14

nativity scene 2Hari ini adalah Natal, hari Yesus lahir di Bethlehem. Biasanya di setiap Gereja atau keluarga Kristiani, ada sebuah kadang atau gua yang menjadi tempat kelahiran Yesus. Di sini, Bayi Yesus ditempatkan di sebuah palungan kayu (tempat makanan binatang). Tentunya, ada patung Maria dan Yusuf yang dengan penuh perhatian mengawasi sang Bayi, sementara binatang-binatang lain seperti domba dan sapi menjadi saksi bisu dari momen terindah ini dalam sejarah manusia ini. Tentunya, kandang ini tidak akan lengkap tanpa gembala dan malaikat. Tempat kelahiran Yesus ini memang indah dan selalu mengingatkan kita akan kesederhanaan Natal yang sering kita lupakan di tengah hiruk pikuk perayaan Natal dan Tahun Baru.

Namun, jika kita kembali ke zamannya Yusuf dan Mary, ke Palestina abad pertama, kita akan menemukan kesederhanaan Natal ini memiliki maknanya sangat dalam. Kemungkinan besar, Yusuf dan Mary tidak beristirahat di kandang, tetapi di dalam gua batu karena ini adalah hal umum yang ditemukan di Bethlehem yang terletak daerah pegunungan Yudea. Di dalam gua batu itu hangat dan terkadang cukup luas, sehingga para gembala menggunakannya sebagai tempat berlindung yang aman dan hangat untuk domba-domba mereka di malam hari. Palungan yang disediakan untuk domba bukan terbuat dari kayu, tetapi batu. Kadang-kadang, kita melihat Bayi Yesus telanjang dada di palungan, tetapi St. Lukas menggambarkan bahwa Yesus dibungkus dengan lampin. Ini adalah hal wajar bahwa bayi yang baru lahir akan dibersihkan, dan kemudian dibalut oleh kain untuk menjaga bayi tetap hangat, terlindungi dan nyaman.

Kita menemukan bahwa Yesus dilahirkan di sebuah gua batu, dibaringkan pada palungan batu dan terbungkus kain. Tiga hal ini menunjuk pada peristiwa yang lebih besar dalam kehidupan Kristus: kematian dan kebangkitan-Nya. Kita ingat setelah penyaliban, tubuhnya ditutupi kain, dimasukkan ke dalam makam batu, dan diletakkan di atas batu besar. Namun, kuburan batu dimana Yesus dimakamkan adalah makam yang sama tempat Yesus bangkit dari kematian. Sejak awal kehidupan Yesus di bumi ini, misi-Nya telah dinubuatkan.

Namun, ada sesuatu yang lebih luar biasa. Yesus ditempatkan di palungan, dan palungan tidak lain adalah tempat untuk memberi makan hewan. Sejak awal, Yesus sudah persembahkan kepada kita sebagai makanan yang akan memuaskan mereka yang datang kepada-Nya. Lalu, “jenis makanan” apa Yesus itu? Bukan kebetulan bahwa Yesus lahir di Bethlehem. Kata Bethlehem berasal dari dua kata Ibrani: “Beth” yang berarti “rumah” dan “Lehem” yang berarti “roti”; dengan demikian, Bethlehem adalah rumah roti. Yesus diberikan kepada kita sebagai roti, dan memang, Yesus menyebut diri-Nya sebagai roti hidup [Yoh 6:35]. Menarik juga untuk bertanya mengapa para gembala adalah orang pertama yang diundang untuk melihat Yesus. Salah satu jawaban yang menarik adalah bahwa para gembala adalah orang pertama yang menyadari kelahiran seekor anak domba. Dengan datangnya para gembala, Bayi Yesus yang kudus ini adalah anak domba yang baru lahir. Tak salah jika Yesus akan disebut sebagai Anak Domba Allah [Yohanes 1:29]. Di Israel kuno, domba juga merupakan hewan kurban utama di Bait Allah. Bayi Yesus datang untuk memberi makan kita, dan Dia datang sebagai roti hidup dan korban yang menyelamatkan kita.

Meskipun baik untuk merayakan Natal dengan liburan atau perayaan meriah, cara terbaik untuk merayakan Natal tidak lain adalah dengan merayakan Ekaristi dimana Yesus telah memberikan diri seutuhnya kepada kita manusia. Bersama-sama kita merenungkan kesederhanaan dan kerendahan hati Allah yang datang kepada kita sebagai bayi, dan untuk merenungkan kasih-Nya yang tak terbatas. Inilah keindahan Natal, yang dipilih Tuhan untuk mencintai kita sampai akhir.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Joseph, the Man of Faith

Fourth Sunday of Advent [A] – December 21, 2019 – Matthew 1:18-24

Let-Mom-Rest(1)A few days ago, a nativity scene went viral. The image is called “Let Mom Rest”. The prominent character of this scene is that Joseph is taking care of the baby Jesus while Mary is resting. This image presents to us untouched yet powerful aspects of Jesus’ birth and thus, Christmas. Often, we focus our attention on Jesus with Mary, His mother. We honor Mary because of her willingness to carry Jesus on her womb despite so many dangers and difficulties and to remain a faithful disciple of Jesus till the end. However, the image brings us to another important character that we often overlook, St. Joseph, as the man of faith.

If God has chosen and prepared the most fitting woman in human history to become the mother of His Son, the same logic governs also the choice of the foster father of Jesus. The most suitable man is chosen for this massive yet wonderful task.

Unfortunately, we do not know much about Joseph. Matthew only gave us very little information, but from this little knowledge, we can extract some important truths. Firstly, Joseph is from the house of David. This means that any child that he begets or accepts legally shall be part of the house of David as well. Joseph is the link that connects between Jesus and David, and thus, Jesus’ birth shall fulfill the prophecy that the Messiah shall come from the line of David.

Secondly, he is a carpenter, and being a carpenter is not a promising job to survive first-century Palestine. Yet, Joseph well knows that hard-work, precision, and perfection are parts of his trade. A tough life is nothing but a daily routine for Joseph. God knows to raise His Son will require a tremendous amount of sacrifice, and Joseph, the carpenter, is up to the challenge.

To accept and to raise a child who is not his own, is certainly a tough call, but Joseph obeyed the will of God that has been expressed in his dream, “Do not be afraid to take Mary as your wife.” Yet, more than that, Joseph made sure that this mission would be brought to completion. From the image of “Let Mom Rest”, it seems that Mary just gave birth to Jesus and giving birth is certainly a draining and tough process. Mary was exhausted. Joseph takes over the responsibility to care for the baby Jesus, while Mary received her most-needed rest. This is just one small concrete example of who Joseph exercised the God-given mission to raise the Child of God. Certainly, his duty is not only manifested in that event. He protected Mary and her Child from dangers, especially from the threat from Herod the Great who would kill Jesus. For the rest of his life, Joseph would work hard to provide, educate and raise Jesus as a man who is ready to give His life for all.

Like Mary, Joseph did not understand also why he had to be a father who someone else’s child, why he had to put his life and future on the line for a son who is not his own? Yet, like Mary, Joseph had faith and accepted the will of God in his life. Not only simply accepting God’s will, but he also made sure that he gave his best and made God’s plan come to fulfillment.

We often do not understand why God’s plan for us. We do know where God will bring us. Yet, like Mary and Joseph, we are called to be the men and women of faith, to receive God’s plan as our own and bring His will into fruitful completion.

 Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yusuf, sang Ayah Penuh Iman

Minggu Keempat Adven [A] – 21 Desember 2019 – Matius 1: 18-24

Let-Mom-Rest(1)Beberapa hari yang lalu, ada sebuah gambar akan  kelahiran Tuhan Yesus menjadi viral. Gambar itu disebut “Biarkan Bunda Beristirahat”. Karakter utama dari gambar ini adalah Yusuf mengendong bayi Yesus sementara Maria beristirahat. Gambaran ini menunjukkan kepada kita aspek yang jarang tersentuh dari kelahiran Yesus. Seringkali, kita memusatkan perhatian kita pada Yesus bersama Maria, ibu-Nya. Kita menghormati Maria karena kesediaannya untuk mengandung Yesus di rahimnya meskipun begitu banyak bahaya dan kesulitan dan untuk tetap menjadi murid Yesus yang setia sampai akhir. Namun, gambar ini membawa kita kepada karakter penting lain yang sering kita abaikan, St Yusuf, sebagai orang beriman.

Jika Tuhan telah memilih dan mempersiapkan wanita yang paling cocok dalam sejarah manusia untuk menjadi ibu dari Anak-Nya, logika yang sama juga mengatur pilihan ayah angkat Yesus. Orang yang paling cocok dipilih untuk tugas besar namun luar biasa ini jatuh ke tangan St. Yusuf.

Sayangnya, kita tidak tahu banyak tentang Yusuf. Matius hanya memberi kita informasi yang sangat sedikit, tetapi dari sedikit pengetahuan ini, kita dapat mengekstraksi beberapa kebenaran penting. Pertama, Yusuf berasal dari keluarga Daud. Ini berarti bahwa setiap anak yang ia terima secara hukum akan menjadi bagian dari keluarga Daud juga. Yusuf adalah mata rantai yang menghubungkan antara Yesus dan Daud, dan dengan demikian, kelahiran Yesus akan menggenapi nubuat bahwa Mesias akan datang dari garis keturunan Daud.

Kedua, dia adalah seorang tukang kayu, dan menjadi seorang tukang kayu bukanlah pekerjaan yang menjanjikan untuk bertahan hidup di Palestina abad pertama. Namun, Yusuf tahu betul bahwa kerja keras, presisi, dan kesempurnaan adalah bagian dari pekerjaannya. Kehidupan yang sulit adalah rutinitas harian bagi Yusuf. Tuhan tahu untuk membesarkan Anak-Nya akan membutuhkan banyak pengorbanan, dan Yusuf, sang tukang kayu, sanggup menghadapi tantangan itu.

Menerima dan membesarkan anak yang bukan miliknya, tentu merupakan panggilan yang sulit, tetapi Yusuf mematuhi kehendak Allah yang telah dinyatakan dalam mimpinya, “Jangan takut untuk mengambil Maria sebagai istrimu.” Selain itu, Yusuf memastikan bahwa misi ini akan tuntas. Dari gambar “Biarkan Bunda Beristirahat”, tampaknya Maria baru saja melahirkan Yesus dan proses melahirkan tentunya yang menguras tenaga. Maria kelelahan. Yusuf mengambil alih tanggung jawab untuk merawat bayi Yesus, sementara Maria mendapatkan kesempatan beristirahat. Ini hanyalah satu contoh konkret kecil dari bagaimana Yusuf menjalankan misi yang diberikan Allah untuk membesarkan Anak Allah. Tentu saja, tugasnya tidak hanya diwujudkan dalam peristiwa ini. Dia melindungi Maria dan Anaknya dari bahaya, terutama dari ancaman dari Herodes Agung yang akan membunuh Yesus. Selama sisa hidupnya, Yusuf akan bekerja keras untuk menyediakan, mendidik, dan membesarkan Yesus sebagai seorang manusia yang siap memberikan hidup-Nya untuk semua.

Seperti Maria, Yusuf juga tidak mengerti mengapa ia harus menjadi ayah dari akan orang lain, mengapa ia harus mempertaruhkan nyawanya dan masa depannya untuk seorang putra yang bukan anaknya? Namun, seperti Maria, Yusuf memiliki iman dan menerima kehendak Allah dalam hidupnya. Tidak hanya sekadar menerima kehendak Tuhan, tetapi dia juga memastikan bahwa dia memberikan yang terbaik dan membuat rencana Tuhan terwujud.

Kita sering tidak mengerti mengapa rencana Tuhan untuk kita. Kita tahu kemana Tuhan akan membawa kita. Namun, seperti Maria dan Yusuf, kita dipanggil untuk menjadi pria dan wanita yang beriman, untuk menerima rencana Allah sebagai milik kita sendiri dan membawa kehendak-Nya ke dalam kesempurnaan.

 Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Suffering and God’s Way

28th Sunday of the Ordinary Time – October 13, 2019 – Luke 17:11-19

Jesus_Mafa_Healing_of_LeperSuffering, sickness, and death do not care whether you are Jews or Samaritans, whether you are rich or poor, whether you are old or young. When it strikes, it strikes. In time of Jesus, leprosy or Hansen’s disease was still one of most dreadful sicknesses. It ate you your skin and made you ugly. It is highly contagious, and thus, cut you from your community. It was incurable and thus brought you a slow and agonizing death.

While it is true, and we thank God, that leprosy is now curable, humanity continues to battle with deadly diseases that bring untold suffering and death. When I was still in a brother in the formation, he was assigned to the hospital in Manila to be a chaplain. My duty was to accompany those people who were struggling with terrible sickness. Some were battling cancers and they had to endure painful chemotherapy. Some were having kidney failures and had to patiently undergo hemodialysis. Some were helpless victims of HIV and had to bear various complications.

I never forgot to meet one young man in that hospital. We just call him John. He was a new college graduate, and he had high hopes for his future life. Yet, all were changed when just several weeks after his graduation, he was diagnosed with cancer, stage 3. Thus, to survive he must take up severe medication like surgery and chemotherapy. In the hospital, I learned how painful chemotherapy was and there was no assurance that the treatment would succeed. In fact, it may destroy the body in the process. He lost his hair, he lost his appetite, and every time he tried to eat, he would throw up. He became terribly weak and sickly.

One day, I decided to visit him and had a little chat. I was expecting a very depressing case, but to my surprise, he said that he was doing fine and in fact grateful. Initially, I thought the medication was working, but it was not really the case. I was confused with his answer. In dealing with patients with grave sickness, the chaplains were told about the five stages of grieving: denial, anger, bargaining, depression, and acceptance. Nowhere in the process, a sick person will be grateful. Yet, John was thankful for his condition. Why?

When I asked further, I heard an unforgettable answer. He said that in his sickness and suffering, he discovered what is truly important and indispensable in his life. He learned how the love of his parents made his life more meaningful. He saw how God has given life that is simple and yet totally free. A very breath, a very heartbeat, a very memory is precious gift from God. He cannot but be grateful for simple blessings from God, despite his deadly sickness.

John teaches me that suffering is sometimes God’s way to remind us to discover what is truly essential in our life. When we are suffering, we realize our beautiful bodies are no longer important, our richness is empty, and our ambitions are just like passing air. We thank the Lord that we are not suffering like John, but we do not have to wait until we get sick, to find the essentials. The time is now and the place is here.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Penderitaan sebagai Jalan Tuhan

Minggu ke-28 pada Masa Biasa – 13 Oktober 2019 – Lukas 17: 11-19

jesushealstenlepers6Penderitaan, penyakit, dan kematian menyerang tanpa pandang bulu. Tidak peduli apakah orang Yahudi atau orang Samaria, apakah kaya atau miskin, apakah tua atau muda. Pada zaman Yesus, kusta atau penyakit Hansen masih merupakan salah satu penyakit yang paling mengerikan. Itu memakan kulit kita dan membuat kita jelek. Ini sangat menular, dan dengan demikian, dikucilkan dari komunitas. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan dan dengan demikian membawa kematian yang lambat dan menyakitkan.

Kita berterima kasih kepada Tuhan, bahwa kusta sekarang dapat disembuhkan,  tetapi umat manusia terus berjuang dengan penyakit mematikan yang membawa penderitaan dan kematian yang tak terhitung. Ketika saya masih seorang frater dalam formasi, saya ditugaskan ke rumah sakit di Manila untuk mendampingi para pasien. Tugas saya adalah menemani orang-orang yang bergulat dengan penyakit yang mengerikan. Beberapa berjuang melawan kanker dan mereka harus menjalani kemoterapi yang menyakitkan. Beberapa mengalami gagal ginjal dan harus menjalani hemodialisis dengan sabar. Beberapa adalah korban HIV yang tak berdaya dan harus menanggung berbagai komplikasi.

Saya tidak pernah lupa bertemu dengan seorang pemuda di rumah sakit itu. Sebutlah dia sebagai John. Dia adalah lulusan perguruan tinggi yang baru diwisuda, dan dia memiliki harapan besar untuk kehidupan masa depannya. Namun, semua berubah ketika hanya beberapa minggu setelah lulus, ia didiagnosis menderita kanker, stadium 3. Dengan demikian, untuk bertahan hidup ia harus mengambil pengobatan yang sangat agresif seperti operasi dan kemoterapi. Di rumah sakit, saya belajar bagaimana kemoterapi yang menyakitkan ini tidak ada jaminan bahwa perawatan ini akan berhasil. Bahkan, itu bisa menghancurkan tubuh dalam proses. Dia kehilangan rambutnya, kehilangan nafsu makan, dan setiap kali dia mencoba makan, dia akan muntah. Dia menjadi sangat lemah dan sakit-sakitan.

Suatu hari, saya memutuskan untuk mengunjunginya dan mengobrol sedikit. Saya melihat kasus yang sangat menyedihkan, tetapi yang mengejutkan saya, dia mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan sebenarnya bersyukur. Awalnya, saya pikir obatnya bekerja, tetapi sebenarnya tidak demikian. Saya bingung dengan jawabannya. Saat berhadapan dengan pasien dengan penyakit serius, kita diberitahu tentang lima tahap menghadapi duka: penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Tidak ada di dalam tahapan ini dimana orang yang sakit akan bersyukur. Namun, John bersyukur atas kondisinya. Mengapa?

Ketika saya bertanya lebih lanjut, saya mendengar jawaban yang tak terlupakan. Dia mengatakan bahwa dalam penyakit dan penderitaannya, dia menemukan apa yang benar-benar penting dan sangat diperlukan dalam hidupnya. Dia mulai mengerti bagaimana kasih orang tuanya membuat hidupnya lebih bermakna. Dia melihat bagaimana Tuhan telah memberikan kehidupan yang sederhana namun sepenuhnya cuma-cuma. Setiap nafas, setiap detak jantung, setiap kenangan adalah anugerah berharga dari Tuhan. Dia tidak bisa tidak bersyukur atas berkat sederhana dari Tuhan, meskipun dia sakit parah.

John mengajarkan saya bahwa penderitaan kadang-kadang cara Tuhan untuk mengingatkan kita untuk menemukan apa yang benar-benar penting dalam hidup kita. Ketika kita menderita, kita menyadari tubuh indah kita bukanlah segalanya, kekayaan kita kosong, dan ambisi kita seperti nafas yang lewat. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa kita tidak menderita seperti John, tetapi kita tidak harus menunggu sampai sakit, untuk menemukan hal-hal yang penting. Waktunya sekarang dan tempatnya ada di sini untuk kita bertanya, apakah yang paling penting di dalam hidup ini.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Dealing with Mammon

25th Sunday in Ordinary Time [C] – September 22, 2019 – Luke 16:1-13

money for othersThere is something strange in our Gospel today. Jesus is praising the cunning steward. Why does Jesus commend his shrewd action? To understand Jesus’ words, we need to comprehend first what really takes place with this servant and his master.

There is a steward who had been entrusted by his master to take care of his master’s house and possession, and yet, instead doing his job, he prefers to squander his master’s wealth and betrays his master’s trust. Angered master does what he is expected to do. He fires his useless servant. Yet, upon this impending judgment, the servant realizes that he is not able to dig, meaning he cannot labor in the farmland or at the construction sites. He is also ashamed to become a beggar. Then, he engineers a way out. He calls all his master’s debtors and cut into half all their debts by manipulating their letter of agreement. By doing this, he is doing a favor to them and making them as their friends. This is to secure way to survive after his expulsion. Surely this is manipulation and corruption, and yet he is praised for doing so. What’s going on?

Jesus gives us an example of how smart the children of this world manage their affairs. In the time of crisis, the wicked servant is able to discern well what is most important in his life, that is his survival. For a while, the servant is attached to the wealth of his master and spending them as if this money is his. But, when he realizes he is in the great trouble, he makes the right choice. He detaches himself from his addiction from wealth and make them as a means to achieve his survival. Jesus then compares the children of this world, and the children of light. If the children of this world can use and manipulate the material possession for their earthly motives, so the children of light shall use the same wealth to attain even a loftier goal.

This teaching of Jesus is important and massive implication. We are not only allowed, but even encouraged to use the material goods and wealth in order to reach heaven. Jesus even uses a stronger term: make friends for yourself with dishonest wealth! Surely, it does not mean we can buy heaven, or we can bribe God! We cannot never do those things. These material possession and money serve us as means to live decent lives, help each other and worship God.

The problem is that we, the children of light, are not friends with wealth. We either hate money or we love money. Firstly, some of us may have a perspective that money is evil, dangerous and leading to sin. Thus, when we hate money, we detest also those who have money. The hatred of money may lead to hatred of others, and we may fail to fulfill Christ’s commandment: to love one another. Secondly, many of us love money. We are attached to earthly wealth that we forget their true purpose. We make means into the end, and end into the means. We turn our family, friends, employees, religion, even God as tools to gain more and more money. It is a disheartening reality nowadays that some people create new religions and churches to enrich themselves. We are only to love God and to love each other for the love of God, but never money. We make friends with earthly wealth in order for us to gain heaven.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tuhan dan Mamon

Minggu Biasa ke-25 [C] – 22 September 2019 – Lukas 16: 1-13

wealth growingAda sesuatu yang aneh dalam Injil kita hari ini. Yesus memuji pelayan yang curang itu. Mengapa Yesus memuji tindakan cerdiknya? Untuk memahami kata-kata Yesus, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi dengan hamba ini dan tuannya.

Ada seorang hamba yang telah dipercayakan oleh tuannya untuk mengurus rumah dan kepemilikan tuannya, namun, alih-alih melakukan pekerjaannya, ia lebih memilih untuk menghambur-hamburkan kekayaan tuannya dan mengkhianati kepercayaan tuannya. Tuannya tentu menjadi marah. Dia memecat hambanya yang tidak berguna itu. Namun, sebelum ia diusir oleh tuannya, sang hamba menyadari bahwa ia tidak dapat menggali, yang berarti ia tidak dapat bekerja di tanah pertanian atau di pekerjaan bangunan. Dia juga malu menjadi pengemis. Lalu, ia merekayasa jalan keluar. Dia memanggil semua orang yang berhutang pada tuannya dan menghapuskan sebagian dari  utang-utang mereka dengan memanipulasi surat perjanjian mereka. Tentunya, orang-orang ini senang hutang mereka berkurang. Dengan melakukan ini, sang hamba melakukan hal menguntungkan bagi dia dan para pengutang, dan menjadikan mereka sebagai teman mereka. Dan jika diusir oleh tuannya, dia memiliki teman untuk menampungnya dan dia bisa bertahan hidup. Sejatinya ini adalah sebuah manipulasi dan korupsi, namun ia malah dipuji karena melakukannya. Apa yang sebenarnya terjadi?

Yesus memberi kita hamba yang cerdik ini sebagai sebuah contoh tentang seberapa pintarnya anak-anak di dunia ini mengelola urusan mereka. Di masa krisis, hamba yang jahat mampu membedakan dengan baik apa yang paling penting dalam hidupnya, yaitu kelangsungan dan masa depan hidupnya. Pada awalnya, hamba terikat pada kekayaan tuannya dan menghambur-hamburkannya seolah-olah uang ini adalah miliknya. Tetapi, ketika dia menyadari bahwa dia berada dalam kesulitan besar, dia membuat pilihan yang tepat. Dia melepaskan diri dari kecanduannya dari kekayaan dan menjadikannya sebagai sarana untuk mencapai kelangsungan hidupnya. Yesus kemudian membandingkan anak-anak dunia ini dengan anak-anak terang. Jika anak-anak di dunia ini dapat menggunakan dan memanipulasi kepemilikan materi untuk motif duniawi mereka, anak-anak terang pun seharusnya menggunakan kekayaan yang sama untuk mencapai bahkan tujuan yang lebih tinggi.

Ajaran Yesus ini memiliki implikasi penting dan masif. Kita tidak hanya diizinkan, tetapi bahkan didorong untuk menggunakan barang-barang materi dan kekayaan untuk mencapai surga. Yesus bahkan menggunakan istilah yang lebih kuat: ikatlah persahabatan dengan mempergunakan kekayaan! Tentunya, itu tidak berarti kita dapat membeli surga, atau kita dapat menyuap Tuhan! Kita tidak bisa melakukan hal-hal itu. Kepemilikan materi dan uang ini ada sebagai sarana untuk hidup yang layak, membantu sesama dan menyembah Tuhan.

Masalahnya adalah kita, anak-anak terang, tidak tahu berteman dengan kekayaan. Ada dua ekstrem: entah kita benci uang atau kita cinta uang. Pertama, beberapa dari kita mungkin memiliki perspektif bahwa uang itu jahat, berbahaya dan sebuah godaan untuk dosa. Jadi, ketika kita membenci uang, kita membenci juga mereka yang punya uang. Kebencian terhadap uang dapat menyebabkan kebencian terhadap orang lain, dan kita bisa gagal memenuhi perintah Kristus: untuk saling mengasihi. Kedua, banyak dari kita cinta uang. Kita terikat pada kekayaan duniawi bahwa kita melupakan tujuan sejati kita. Kita membuat sarana menjadi tujuan, dan tujuan menjadi sarana. Kita menjadikan keluarga, teman, karyawan, agama, bahkan Tuhan kita sebagai sekedar sarana untuk mendapatkan lebih banyak uang. Adalah kenyataan yang menyedihkan saat ini bahwa beberapa orang membuat agama dan gereja baru untuk memperkaya diri mereka sendiri. Kita hanya mencintai Tuhan dan mencintai sesama demi cinta Tuhan, tetapi tidak pernah uang. Kita berteman dengan kekayaan duniawi agar kita mendapatkan surga.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Learn to Be Humble

22nd Sunday in the Ordinary Time [C] – September 1, 2019 – Luke 14: 1, 7-14

humus 1Humility is actually being simple and doing simple, yet it is so simple that many of us find it difficult to be and do.  It seems paradoxical but it is the reality that we experience in our day to day life. It is because we are living in the world that is so proud with itself and it continuously influences us to become proud as well. We can practically be proud of anything. We can be proud of our personality, family and clan, personal achievements, successful careers and status in life. We can be proud of the good things we have done or even the bad things we have committed. Eventually, the awful irony in our life is when we are even proud of our humility.

Pride occupies a prominent place among the seven deadly sins or vices. It seduces people believe that we are self-sufficient and we do not need others and God. We are our own god. The Bible says that the angel of light has fallen from heaven [see Isa 14:12], and according to the Latin tradition, his name is Lucifer, the brightest angel in heaven. He and some other angels revolted against God since they were too proud to serve God that would become man. If lust aligns us with animals, pride makes us coequal with the fallen angels.

To remedy this terrible pride, humility is then chiefly necessary. But, it is simply difficult to become one since it leads us to acknowledge our true nature that we own nothing and everything we have is a gift. Humility is derived from Latin word humus which means soil. Humility brings back us to the ground after the air of pride lifts us our nose up.

Humility is also primarily important since it enables us to listen and through listening we are able to be obedient (Latin word ob-audire means to listen attentively). With pride just around the corner, it is difficult to listen since we start believing that we are the center of the universe and everything else revolves around us. Simon Tugwell, OP writes that humble prayer is just to take a break from our tyrannical and dictatorial self that occupies the center of our life and let God be God. In the same line of thought, Henry Nouwen writes that a sincere prayer is just like opening our tightly closed fist.

St. Augustine believes that humility is one of the most fundamental virtues especially in our relationship with God. He says, “Are you thinking of raising the great fabric of spirituality? Attend first of all to the foundation of humility.” It is because humility is the virtue that facilitates us in listening to God’s words and in following them. In humility, we participate in Mary’s words, “I am the servant of the Lord. Be it done to me according to your word.” And not, “I am the boss here. Be it done to me and to you according to my word.” In humility, we pray in Jesus’ prayer, “Your will be done.” And not, “Your will be changed”.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, O.P

Spiritual Director of Presidium Refugis Peccatorum

Belajar untuk Rendah Hati

Minggu Biasa ke-22 Pada Masa Biasa [C] – 1 September 2019 – Lukas 14:1, 7-14

humus 2Kerendahan hati sebenarnya adalah melakukan hal yang sederhana dan menjadi orang yang sederhana, tetapi karena hal ini sangat sederhana, banyak dari kita merasa sulit untuk melakukannya. Inilah adalah paradoks yang kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal ini dikarenakan kita hidup di dunia yang begitu sombong dengan dirinya sendiri, dengan segala kemajuan, kejayaan, kekayaan, dan dunia ini terus memengaruhi kita untuk menjadi angkuh. Kita bisa jadi sombong karena banyak hal. Kita bisa sombong karena kepribadian, keluarga dan klan kita, prestasi pribadi, karier dan status yang sukses dalam hidup. Kita bisa menyombongkan hal-hal baik yang telah kita lakukan atau bahkan hal-hal buruk yang telah kita lakukan. Akhirnya, ironi mengerikan dalam hidup kita adalah ketika kita bahkan menyombongkan kerendahan hati kita.

Dalam tradisi Gereja, keangkuhan atau tinggi hati menempati tempat yang menonjol di antara tujuh dosa yang mematikan. Keangkuhan membuat kita percaya bahwa kita bisa menjadi independen dan kita tidak membutuhkan orang lain dan Tuhan. Kita adalah tuhan bagi diri kita sendiri. Kitab Suci berbicara tentang seorang malaikat cahaya yang jatuh dari surga [Lih Yes 14:12]. Menurut tradisi dia bernama Lucifer, malaikat paling bercahaya di surga. Dia dan bersama komplotannya memberontak melawan Tuhan karena mereka terlalu angkuh untuk melayani Tuhan yang akan menjadi manusia. Jika hawa nafsu menyejajarkan kita dengan para binatang, kesombongan membuat kita setara dengan malaikat, tetapi malaikat yang jatuh.

Untuk mengalahkan kesombongan yang mengerikan ini, kerendahan hati sangat dibutuhkan. Tetapi, sulit untuk menjadi rendah hati karena hal ini menuntun kita untuk mengakui siapa diri kita sejatinya, bahwa kita tidak memiliki apa pun dan semua yang kita miliki adalah berkat. Kerendahan hati dalam Bahasa Latin adalah “humilitas” yang berasal dari akar kata “humus” yang berarti tanah. Kerendahan hati membawa kita kembali ke tanah setelah kita terbang dan lupa daratan.

Kerendahan hati juga sangat penting karena memungkinkan kita untuk mendengarkan dan melalui mendengarkan kita dapat taat. Dengan keangkuhan di dalam hati kita, sulit untuk mendengarkan karena kita mulai percaya bahwa kita adalah pusat alam semesta dan segala sesuatu yang lain berputar di sekitar kita. Simon Tugwell, OP menulis bahwa doa yang rendah hati memampukan kita untuk mengambil jeda dari tirani diri dan kediktatoran kita yang menempati pusat kehidupan kita, dan membiarkan Tuhan menjadi Tuhan. Sejalan dengan pemikiran ini, Henry Nouwen menulis bahwa doa yang tulus dan rendah hati sama seperti membuka kepalan tangan kita yang tertutup rapat.

Kerendahan hati adalah keutamaan yang memfasilitasi kita dalam mendengarkan kata-kata Tuhan dan mengikuti-Nya. Dalam kerendahan hati, kita berperan serta dalam kata-kata Mary, “Aku adalah hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Dan tidak, “Saya bos di sini. Jadilah kepadaku dan kepadamu sesuai dengan kata-kata saya.” Dalam kerendahan hati, kita mampu berdoa dalam doa Yesus sendiri, “terjadilah kehendak-Mu.” Dan bukan, “Kehendak-Mu akan diubah sesuai denga kehendakku.”

Tak salah jika saat St. Agustinus ditanya apakah tiga syarat untuk masuk surga, Dia menjawab, “Yang pertama adalah kerendahan hati, yang kedua adalah kerendahan hati, dan yang ketiga adalah kerendahan hati.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, O.P

Greed

18th Sunday in Ordinary Time [C] – August 4, 2019 – Luke 12:13-21

fool rich man 2We were all born without bringing anything with us, and for sure, when we die, we will bring nothing with us. Job once said, “Naked I came forth from my mother’s womb, and naked shall I go back there. The LORD gave, and the LORD has taken away; blessed be the name of the LORD!” (Job 1:21). However, as we grow up and old, we begin to acquire things and possessions. Some are given, but some we earn it. As we are accumulating, we start attaching ourselves to these material belongings. Some of us are obsessed with collecting bags, shoes, and clothes, some others with more expensive things like electronic devices and cars. We believe these are ours, and we can own them until the Kingdom comes.

This kind of attachment is rooted in a bigger and more sinister vice: greed. St. Thomas Aquinas defines greed or avarice as “an inordinate desire for wealth or money.” To desire for richness and possession is not evil itself because, in essence, money and belongings are a means to achieve higher goals in life. However, the problem arises when we are confusing between means and the end. Greed enters the picture when we make money as our goal and no longer a means. We begin to measure our happiness and meaningfulness of our lives in terms of wealth. When we place wealth as our yardstick of happiness, all other problems start flooding our lives. When we do not have enough money, we become anxious, but when we have more than enough money, we are also anxious about how to hoard them. We think that the more we have, the happier we become, but the truth is, the more we acquire, the more we feel lacking. An ancient Roman proverb once said that desire for wealth is like drinking seawater; the more you drink, the thirstier you get.

What sickening about this vice is that it brings other sins along. St. Thomas mentions treachery, corruption, fraud, anxiety, insensibility to mercy, and even violence as the daughters of greed. Movie Slumdog Millionaire (2008) tells us a story of Salim and Jamal Malik who are victims of this injustice and greed. After the killing of their mother because of religious hatred in slam area in India, they were forced to stay in a sanitary landfill. Then, they were adopted by ‘professional beggars’ syndicate. One particular scene that reveals the gruesome manifestation of greed is one little boy with a sweet voice, Arwind, was blinded. Jamal later remarks, “Blind singers earn double.” The worst part of the movie is that the movie is not totally fiction, but many events are true to life.

So how are we going to cure this vice? If greed makes us turn means as goal, our response should return the right order: to make wealth as our means to achieve higher goals. If we are blessed with a lot of money, we praise the Lord and use this money to praise the Lord even more. If we do not have enough money, we are called to have more faith in God’s providence.  It is the time to use our worldly possession to make “heavenly investment” that no thief can reach, nor moth destroy (Lk. 12:33)

Fr. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP