Ketamakan

Minggu ke-18 dalam Waktu Biasa [C] – 4 Agustus 2019 – Lukas 12: 13-21

fool rich manKita semua dilahirkan tanpa membawa apa-apa, dan sama ketika kita mati, kita tidak akan membawa apa pun. Ayub pernah berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21). Namun, seiring bertambahnya usia, kita mulai memperoleh banyak hal dan harta benda. Ketika kita mulai mengakumulasi, kita mulai terikat pada barang-barang materi ini. Beberapa dari kita terobsesi dalam mengumpulkan tas, sepatu, dan baju, beberapa lainnya dengan barang-barang yang lebih mahal seperti perangkat elektronik, mobil dan bahkan mobil. Kita mulai percaya ini adalah milik kita, dan kita dapat memilikinya bahkan sampai kita masuk surga.

Keterikatan semacam ini berakar pada sifat buruk yang lebih besar dan lebih jahat: ketamakan. St Thomas Aquinas mendefinisikan keserakahan atau ketamakan sebagai “keinginan yang tidak teratur akan kekayaan atau uang”. Keinginan untuk kekayaan dan kepemilikan bukanlah sesuatu yang jahat karena pada dasarnya, uang dan barang adalah sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi dalam hidup. Namun, masalah muncul ketika kita mulai tidak bisa melihat mana yang sarana dan mana yang tujuan. Keserakahan memasuki hidup kita ketika kita membuat uang sebagai tujuan kita dan bukan lagi sarana. Kita mulai mengukur kebahagiaan dan arti hidup kita dalam hal kekayaan yang kita akumulasikan. Ketika kita menempatkan kekayaan sebagai tolok ukur kebahagiaan kita, semua masalah lain akan membanjiri hidup kita. Ketika kita tidak memiliki cukup uang, kita menjadi khawatir, tetapi ketika kita memiliki lebih dari cukup uang, kita juga cemas bagaimana agar orang lain tidak mencurinya. Kita berpikir bahwa semakin banyak kita miliki, semakin bahagialah kita, tetapi kebenaran adalah semakin banyak yang kita dapatkan, semakin kita merasa kurang. Sebuah pepatah Romawi kuno pernah mengatakan bahwa hasrat akan kekayaan seperti minum air laut; semakin banyak Anda minum, semakin Anda haus.

Yang memuakkan tentang ketamakan ini adalah hal ini membawa dosa-dosa lain. St. Thomas menyebutkan pengkhianatan, korupsi, penipuan, kecemasan, ketidak pekaan terhadap sesama, dan bahkan kekerasan sebagai anak-anak keserakahan. Film Slumdog Millionaire (2008) menceritakan kepada kita kisah Salim dan Jamal Malik yang menjadi korban ketidakadilan dan keserakahan ini. Setelah pembunuhan ibu mereka karena kebencian religius di daerah kumuh di India, mereka terpaksa tinggal di TPA. Kemudian, mereka diadopsi oleh sindikat ‘pengemis profesional’. Satu adegan khusus yang mengungkapkan manifestasi mengerikan dari keserakahan adalah seorang bocah lelaki dengan suara bagus, Arwind, dibutakan. Jamal kemudian berkomentar, “Penyanyi tunanetra mendapat gaji dua kali lipat.” Bagian terburuk dari film ini adalah bahwa film tersebut tidak sepenuhnya fiksi, tetapi banyak peristiwa yang terjadi dalam kehidupan.

Jadi bagaimana kita akan menyembuhkan ketamakan ini? Jika keserakahan membuat kita membalikkan antara sarana dan tujuan, respons kita haruslah mengembalikan urutan yang benar: menjadikan kekayaan sebagai sarana kita untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Jika kita diberkati dengan banyak uang, kita memuji Tuhan, dan menggunakan harta ini untuk lebih memuji Tuhan. Jika kita tidak memiliki cukup uang, kita dipanggil untuk lebih percaya kepada pemeliharaan Allah. Ini adalah waktu untuk menggunakan kepemilikan duniawi kita untuk melakukan “investasi surgawi” yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. (Luk. 12:33)

Rm. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Orang Samaria yang berbelas kasih

Minggu Biasa Kelima belas [C] – 14 Juli 2019 – Lukas 10: 25-27

do it anywayPerjalanan dari Yerikho ke Yerusalem terkenal berbahaya. Jalan itu sempit, terjal, dipenuhi belokan mendadak sehingga jalan itu menjadi tempat favorit para perampok untuk menyergap setiap pejalan yang tidak siap. Beberapa penjahat sering melakukan kekerasan, bahwa mereka tidak hanya mengambil semua barang dari para korban, tetapi mereka juga akan memukuli mereka tanpa ampun. Hingga awal abad kedua puluh, beberapa turis dan peziarah menjadi korban ketika mereka melewati jalan ini. Setelah mobil para turis dirampok, para perampok akan dengan cepat melarikan diri sebelum polisi datang.

Ketika ahli Hukum Taurat bertanya kepada Yesus, “siapakah sesama kita yang akan kita kasihi?” Yesus menyodorkan tiga model. Mereka adalah seorang imam, seorang Lewi dan seorang Samaria. Imam dan orang Lewi adalah kelompok istimewa dalam masyarakat Yahudi kuno. Mereka ditahbiskan untuk melayani di Bait Suci Yerusalem. Para imam yang merupakan keturunan Harun, akan menerima pengorbanan dari orang-orang Yahudi dan mempersembahkannya kepada Tuhan di altar. Sementara itu orang-orang Lewi mendapat tugas untuk mengurus Bait Allah, untuk melakukan pelayanan liturgi lainnya dan membantu para imam. Baik imam dan orang Lewi mewakili sekelompok orang terpilih yang mendedikasikan diri mereka kepada Tuhan, Hukum Taurat dan Bait Allah. Tanpa keraguan, mereka sangat mencintai agama mereka. Sementara itu, orang Samaria mewakili apa yang dibenci orang Yahudi. Orang-orang Yahudi memandang rendah orang-orang Samaria karena mereka dianggap sebagai produk perkawinan antara orang-orang Yahudi yang sesat dan bangsa-bangsa kafir lainnya. Orang Samaria juga dianggap sebagai para penyembah berhala karena menyembah Tuhan Yahwe tapi dengan tambahan dewa-dewa kecil lainnya.

Menurut standar agama Yahudi, imam dan orang Lewi jauh mengungguli orang Samaria, tetapi Yesus menjatuhkan bom nuklir ketika Ia menjadikan orang Samaria sebagai pahlawan dalam cerita. Kita mungkin bertanya mengapa imam dan orang Lewi menolak untuk membantu? Salah satu alasannya adalah bahwa imam harus menjauh dari darah atau mayat apa pun, jika tidak ia akan najis selama tujuh hari dan ia ingin melayani Bait Suci [lihat Bil 19:11]. Lewi tampaknya sedikit lebih baik ketika dia mendekati korban, tetapi dia mengurungkan niatnya mungkin karena dia takut orang itu hanya menjadi umpan untuk menyergapnya. Tetapi, orang Samaria datang dan membantu tanpa ragu-ragu. Tidak hanya datang menyelamatkannya, orang Samaria memastikan bahwa sang korban akan disembuhkan dan pulih, meskipun ia harus menghabiskan uangnya sendiri.

Menempatkan diri pada posisi orang Samaria, kita tahu bahwa keputusannya untuk membantu korban yang adalah orang Yahudi adalah sangat berani dan bahkan gegabah. Bagaimana jika itu hanya sebuah jebakan? Bagaimana jika dia kehabisan uang? Bagaimana jika korban tidak pernah mengucapkan terima kasih dan bahkan lebih membencinya? Namun, inilah arti mengasihi sesama kita. Mencintai seseorang berarti menunjukkan belas kasihan dan menunjukkan belas kasihan berarti memberi melampaui apa yang sudah seharusnya.

Salah satu karya yang tak terlupakan yang dilakukan Bunda Teresa di Kalkuta adalah membangun rumah bagi orang yang kritis. Suatu hari, dia berjalan melewati rumah sakit dan melihat seorang wanita sangat sakit. Sang suster bergegas membawanya ke rumah sakit. Namun, orang di rumah sakit menolaknya, mengatakan, “tidak ada ruang untuknya di rumah sakit!” Bunda Teresa tetap berada di luar rumah sakit, memeluk wanita yang sekarat itu sampai dia menghembuskan nafas terakhir. Sejak itu, suster Teresa berjanji bahwa dia akan memastikan bahwa orang dapat meninggal dengan martabat. Pada hari-hari awal karyanya ini, Bunda Teresa diejek dan dikritik, namun ia dan saudara-saudaranya bertahan karena mereka tahu bagi mereka yang kritis, ini mungkin merupakan belas kasih terakhir yang mereka terima sebelum mereka meninggal.

 Jika kita mengharapkan imbalan besar, itu bukan kasih, tapi investasi. Jika kita hanya ingin dihargai setelah berbuat baik, itu bukan kasih, itu hanya pamer. Jika kita tidak ingin terluka, itu bukan kasih, itu tidak lebih dari omong kosong. Kasih sesungguhnya itu tangguh, belas kasihan itu sesuatu yang heroik.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hearing His Voice

Fourth Sunday of Easter [May 12, 2019] Jn 10:27-30

“My sheep hear my voice; I know them, and they follow me. (Jn. 10:27)”

jesus shepherdFew of us have a direct encounter with a sheep, let alone shepherding sheep. When Jesus says, “My sheep hear my voice.” I thought it was a kind exaggeration. After all the sheep is not that intelligent compared to the Golden Retriever or Labrador who would listen to their owners. However, one time, I watched a video on YouTube about a group of tourists who visited the vast hill in the countryside of Judea where the flock was grazing. They were asked to call the attention of the sheep. One by one, the tourists shouted to the top of their lungs, but they got not even the slightest response. Yet, when the true shepherd came forward and called them out, all the scattered sheep immediately rushed toward the shepherd! It was an eye-opener. Jesus was right. The sheep literally hear the voice of His shepherd.

The sheep in Judea are raised both for wool and for sacrifice. Especially those intended for wool production, the shepherd shall live together with his flock for years. No wonder if he knows well each sheep, its characters, and even its unique physical features. He will call them by name like ‘small-feet’ or ‘large-ears.’

Modern men and women, especially the Millennials, are heavily visual creatures. Thanks to smartphones, TV, and computers, our span of attention becomes shorter and shorter. One scientist even says that our span of attention is one second shorter than of the goldfish! The teachers or speakers must use all the visual aids to catch the attention of young listeners. PowerPoint presentation is a minimum requirement nowadays, and the teachers need to move all their body’s parts, to crack a joke, to sing, to dance, even to summersault! Simply listening to a plain talk is tedious, and to read a bare and long text like this reflection is boring. This is also one of the reasons why young people are leaving the Church because they experience the Church, especially her preachers, as boring and dry. After five minutes listening to the preacher, we begin to be restless, checking our watch, scratching our heads, and dozing off!

However, hearing remains fundamental because hearing is the key to following Jesus. We call ourselves, Christians, the follower of Christ, and how can we follow Christ if we do not recognize His voice? While the sense of sight attracts us, sense of hearing remains signs of intimacy and love. Like a sheep that identifies the shepherd’s voice because the shepherd takes care of it, so we recognize the voice of someone we love. I have been hearing the voice of my mother since I was inside her womb, and even when I close my eyes, I can still acknowledge her voice. I can even identify whether she is happy, sad, or angry when she calls my name.

One time, a young man asked me, “Brother, how do we know God’s will?” I replied, “Do you hear His voice?” He immediately said, “I pray, but I never heard a voice.” I said in reply, “Ah, how are you going to hear His voice if you talk all the time? And how are you going to know His voice, if you seldom give your time with Him?” To follow Jesus means that we are able to hear Jesus, and to recognize His voice presupposes we have a loving and strong relationship with Him

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mendengar Suara-Nya

Minggu Paskah keempat [12 Mei 2019] Yoh 10: 27-30

“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, (Yoh 10:27)”

jesus shepherd 2Ketika Yesus berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku.” Saya pikir itu agak berlebihan. Kita tahu domba-domba adalah hewan yang tidak secerdas anjing Golden Retriever atau Labrador yang bisa mendengarkan instruksi dari pemiliknya. Namun, suatu kali, saya menonton video di YouTube tentang sekelompok wisatawan yang mengunjungi bukit luas di pedesaan Yudea di mana kawanan domba sedang merumput. Mereka diminta untuk menarik perhatian domba. Satu demi satu, para wisatawan berteriak dengan lantang, tetapi mereka tidak mendapat tanggapan sedikit pun. Namun, ketika sang gembala maju dan memanggil mereka, semua domba yang tercerai-berai segera bergegas menuju gembala itu dan mengerumuni dia! Sungguh menakjubkan! Yesus sungguh benar. Domba-domba sungguh mendengar suara gembala-Nya.

Domba-domba di Yudea dibesarkan untuk wol dan sebagai hewan korban. Khususnya untuk jenis domba-domba yang diperuntukkan bagi produksi wol, mereka akan hidup bersama-sama dengan sang gembala selama bertahun-tahun. Tidak heran jika sang gembala mengenal dengan baik setiap domba, karakternya, dan bahkan fitur fisiknya yang unik. Dia akan memanggil mereka dengan nama seperti ‘si kaki kecil’ atau ‘si telinga besar.’ Dan kawanan domba pun mengenal suara sang gembala.

Berbeda dengan domba, pria dan wanita modern, terutama kaum Millennial, adalah makhluk yang sangat visual. Berkat smartphone, TV, dan komputer, rentang perhatian kita menjadi lebih pendek setiap harinya. Seorang ilmuwan bahkan mengatakan bahwa rentang perhatian kita satu detik lebih pendek daripada ikan mas! Para guru atau pembicara harus menggunakan semua alat bantu visual untuk menarik perhatian pendengar muda. Presentasi PowerPoint adalah persyaratan minimum saat ini, dan para guru perlu menggerakkan semua bagian tubuh mereka, membuat lelucon, bernyanyi, menari, bahkan jungkir balik! Hanya mendengarkan pembicaraan biasa itu membosankan, dan membaca teks yang panjang dan panjang seperti refleksi ini boring. Ini juga salah satu alasan mengapa kaum muda meninggalkan Gereja karena mereka mengalami Gereja, terutama para pengkhotbahnya, membosankan dan kering. Setelah lima menit mendengarkan homili, kita mulai gelisah, memeriksa jam tangan, mengaruk-garuk kepala, dan akhirnya tertidur!

Namun, indera pendengaran tetap mendasar karena pendengaran adalah kunci untuk mengikuti Yesus. Kita menyebut diri kita sendiri, Kristiani, artinya pengikut Kristus, dan bagaimana kita dapat mengikuti Kristus jika kita tidak mengenali suara-Nya? Sementara indera penglihatan menarik kita, indera pendengaran tetap menjadi tanda keintiman dan kasih. Seperti seekor domba yang mengidentifikasi suara gembala karena gembala menjaganya, kitapun mengenali suara seseorang yang kita cintai. Saya telah mendengar suara ibu saya sejak saya di dalam rahimnya, dan bahkan ketika saya menutup mata, saya masih bisa mengenali suaranya dari jauh. Saya bahkan dapat mengidentifikasi apakah dia bahagia, sedih, atau marah ketika dia memanggil nama saya.

Suatu kali, seorang pemuda bertanya kepada saya, “Frater, bagaimana kita tahu kehendak Tuhan?” Saya menjawab, “Apakah kamu mendengar suara-Nya?” Dia segera berkata, “Saya banyak berdoa, tetapi saya tidak pernah mendengar suara.” Saya berkata dalam jawab, “Ah, bagaimana kamu akan mendengar suara-Nya jika kamu yang berbicara sepanjang waktu? Dan bagaimana kamu akan mengetahui suara-Nya, jika kamu jarang memberikan waktumu bersama-Nya?” Mengikuti Yesus berarti bahwa kita dapat mendengar Yesus, dan untuk mengenali suara-Nya, kita perlu memiliki hubungan yang penuh kasih dan kuat dengan-Nya.

 Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Fish and Bread

Third Sunday of Easter [May 5, 2019] John 21:1-19

ichthus 2If we observe the Gospel readings of the past days and Sundays, we will notice that most of them are speaking about the risen Christ’s appearances to His disciples. One unnoticeable yet interesting feature in these stories is that of the presence of food.

The two disciples who walk to Emmaus, invite Jesus to have a dinner. Jesus takes the bread, says the blessing, breaks it, and gives it, and He disappears. The two disciples come to their senses, and realize He is Jesus [Luk 24:30]. When Jesus appears to the Eleven and other disciples, they are terrified. To dispel their doubt on His resurrection, Jesus presents His body and eats the fish given to Him [Luk 24:42]. And in today’s Gospel, Jesus invites His seven disciples to a breakfast at the shore of the Lake of Tiberias. After another miraculous catch, Jesus prepares bread and fish for the disciples who are no longer baffled by the appearance of their Master [John 21:13].

We may ask, “Why bread and fish?” These are simple food that are often available at Jewish household. Yet, looking deeper, bread and fish possess a profound meaning. Bread and fish are earliest symbol of Christ and Christians. Bread, especially the breaking of the bread, is the technical biblical name for the Eucharist. In the Acts of Apostles, the first Christians gather around the apostles for the teaching and breaking of the bread [Acts 2:42]. On a Sunday, Paul leads the community of Troas in worship as he preaches and breaks bread [Acts 20:7]. Fish, in Greek, is “Ichthus” and it stands for “Iesous Christos Theos Hyios Soter”, meaning Jesus Christ God Son [and] Savior. The symbol of fish was scattered inside catacombs of Rome as a sign of Christian gathering in time of persecution.

The question lingers: why does the risen Lord ask for food and invites the disciples to eat? Firstly, eating food is one of the most basic activities of human being. It points to our biological functions that sustains our bodily life and growth. The spiritless body neither consumes food, nor the bodiless spirit enjoys meals. Jesus shows His disciples that his resurrection is not a matter of spiritual enlightenment, but truly a bodily reality. His disciples neither see a spirit floating in the air, nor simply believe that their Teacher is alive in their hearts. The tomb is empty because Jesus, including His body, has risen.

Secondly, eating together does not only satisfy our tummy, but it also brings people closer together. While we are enjoying food, we cannot but share our thoughts and hearts to each other. Eating together builds not only the body, but also the dialogue and community. One of my favorite activities in the convent is the meal time, not because I am fond of eating, but we share a lot of stories and opinions. We practically speak about anything under the sun, from the latest movie, Avenger Endgame, the current political issues, to theological discussion on St. Thomas Aquinas. We also tell our joys, concerns and worries in our ministry and our future as a community. Simple food, yet great bonding.

Upon the simple reality of eating together, Jesus builds His community. In a shared meal, He retells His stories of painful passion and shameful death, and unearths its profound meanings especially as the fulfillment of the Scriptures. The events of his death used to be absurdity and loss of hope, but in the dining table, the risen Lord restores the faith, hope and love that go dim.

Jesus leaves us the Eucharist, the breaking of the bread, the sacred meal. Like the first disciples, it is here that we discover the risen Lord who shares His body as a spiritual food, and His Word as the meaning of our life. In the Eucharist, we are assured that the worst of this world does not have the last say, and the battle against absurdity has already been won.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ikan dan Roti

Minggu Paskah ketiga [5 Mei 2019] Yohanes 21: 1-19

ichthus

Jika kita mengamati bacaan-bacaan Injil pada hari-hari terakhir, kita perhatikan bahwa kebanyakan dari mereka berbicara tentang penampakan Kristus yang bangkit kepada murid-murid-Nya. Salah satu fitur yang sederhana namun menarik dalam cerita-cerita ini adalah adanya makanan.

Kepada dua murid yang berjalan ke Emaus, Yesus diundang untuk makan malam. Bagi mereka, Yesus mengambil roti, mengucapkan berkat, memecahnya, dan memberikannya, dan Dia menghilang. Kedua murid itu segera menyadari bahwa Dia adalah Yesus [Luk 24:30]. Ketika Yesus menampakkan diri kepada sebelas rasul dan murid-murid lainnya, mereka ketakutan. Untuk menghilangkan keraguan mereka tentang kebangkitan-Nya, Yesus menunjukkan tubuh-Nya dan memakan ikan yang diberikan kepada-Nya [Luk 24:42]. Dan dalam Injil hari ini, Yesus mengundang ketujuh murid-Nya untuk sarapan di tepi Danau Tiberias. Setelah mujizat penangkapan ikan, Yesus menyiapkan roti dan ikan untuk para murid yang tidak lagi bingung dengan penampakan Guru mereka [Yoh 21:13].

Kita mungkin bertanya, “Mengapa roti dan ikan?” Ini adalah makanan sederhana yang sering tersedia di rumah tangga Yahudi. Namun, melihat lebih dalam, roti dan ikan memiliki makna yang dalam. Roti dan ikan adalah simbol awal Kristus dan Gereja. Roti, khususnya pemecahan roti, adalah nama teknis Alkitabiah untuk Ekaristi. Dalam Kisah Para Rasul, jemaat pertama berkumpul di sekitar para rasul untuk pengajaran dan pemecahan roti [Kis 2:42]. Pada hari Minggu, Paulus memimpin komunitas di Troas dalam ibadat, dan ia berkhotbah dan memecahkan roti [Kis 20:7]. Ikan, dalam bahasa Yunani, adalah “Ichthus” dan itu singkatan dari “Iesous Christos Theos Hyios Soter”, yang berarti Yesus Kristus, Allah Putra [dan] Juruselamat. Simbol ikan tersebar di katakombe Roma sebagai tanda pertemuan jemaat pada masa penganiayaan.

Pertanyaannya: mengapa Tuhan yang bangkit meminta makanan dan mengundang para murid untuk makan? Pertama, makan makanan adalah salah satu kegiatan paling dasar manusia. Itu menunjuk pada fungsi biologis kita yang menopang kehidupan dan pertumbuhan tubuh kita. Tubuh tanpa roh maupun roh tanpa tubuh tidak mengkonsumsi makanan. Yesus menunjukkan kepada para murid-Nya bahwa kebangkitan-Nya bukanlah masalah pencerahan spiritual, tetapi benar-benar suatu realitas jasmani. Murid-muridnya tidak melihat roh mengambang di udara, juga tidak hanya percaya bahwa Guru mereka hidup di dalam hati mereka. Makam itu kosong karena Yesus, termasuk tubuh-Nya, telah bangkit.

Kedua, makan bersama tidak hanya memuaskan perut kita, tetapi juga membuat kita lebih dekat dengan satu sama lain. Sementara kita menikmati makanan, kita juga berbagi pikiran dan hati kita. Makan bersama membangun tidak hanya tubuh, tetapi juga dialog dan komunitas. Salah satu kegiatan favorit saya di biara adalah waktu makan, bukan karena saya senang makan, tetapi kami bisa berbagi banyak cerita dan pendapat. Kami berbicara tentang apa pun, dari film terbaru, Avenger Endgame, masalah politik saat ini, hingga diskusi teologis tentang St Thomas Aquinas. Kami juga menceritakan kegembiraan, keprihatinan, dan kekhawatiran kami dalam pelayanan dan masa depan kami sebagai sebuah komunitas. Makanan sederhana menjadi ikatan persaudaraan.

Dengan realitas sederhana yakni makan bersama, Yesus membangun komunitas-Nya. Dalam perjamuan bersama, Dia menceritakan kembali kisah-kisah-Nya tentang penderitaan yang menyakitkan dan kematian yang memalukan, dan menggali maknanya yang mendalam terutama sebagai penggenapan dari Kitab Suci. Peristiwa kematiannya dulunya adalah sebuah absurditas dan kehilangan harapan, tetapi di meja makan, Tuhan yang bangkit memulihkan iman, harapan dan cinta yang menjadi redup.

Yesus memberikan kita Ekaristi, memecahkan roti, perjamuan kudus. Seperti para murid pertama, di sinilah kita menemukan Tuhan yang bangkit yang membagikan tubuh-Nya sebagai makanan rohani, dan Firman-Nya sebagai makna hidup kita. Dalam Ekaristi, kita diyakinkan bahwa yang terburuk di dunia ini tidak memiliki suara terakhir, dan makna dan pengertian mengalahkan kegelapan dan keputusasaan.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Fear and Forgiveness

Second Sunday of Easter/ Divine Mercy Sunday [April 28, 2019] John 20:19-31

risen christ 2Today is the Divine Mercy Sunday. From the Gospel, Jesus institutes the sacrament of reconciliation as He bestows His Holy Spirit upon the Disciples. He grants them the divine authority to forgive (and not to forgive) sins and charges them to be the agents of Mercy. While it is true that only priests can minister the sacrament of confession, every disciple of Christ is called to be an agent of Mercy and forgiveness. Yet, how we are going to be the bearers of Mercy and Forgiveness? I think we need to understand first the dynamic of fear and peace.

Fear is one of the human most basic emotions. It makes us flee from impending danger and normally, it is good and necessary for our survival. Yet, what is unique with us humans is that the object of fear is not only physical real danger like an earthquake, fire, or venomous animals, but it extends to moral judgment. When we commit a mistake, we are afraid of the judgment as well as the consequences. Quite often too, fearful of the judgment and condemnation, we are run away and hide. In fact, the story of fear is a primordial story. We recall our first parents, Adam and Eve. After they violated the Law of God, they realized that they have terribly sinned against the Lord, and afraid of God’s judgment, they hid.

After the passion and death of Jesus we find out that Jesus’ disciples themselves are afraid and hiding. The disciples lock themselves inside the room because they are afraid. However, the real fear is not from the Jewish authority or the Roman troops, but from Jesus’ judgment. We remember that Judas handed over Jesus to the Jewish authority, Peter, the leader, denied Jesus three times, and most of the disciples were running away. Even before the crucial moments of Jesus, they have deserted their Master and Messiah. In a court martial, a soldier who deserts his army, especially during the pick of the battle, is considered a traitor not only to the army, but to the entire nation, and he deserves no less than capital punishment. The disciples are hiding because of fear that Jesus will bring His severe judgment, and get back on them. The disciples are afraid that Jesus may come anytime, condemn them, and throw a fireball on them.

Indeed, Jesus comes to them, but he brings not condemnation but the gift of peace, “Shalom”. This peace only ensues from forgiveness. This peace, however, is not the absence of judgment, but rather it presupposes one. Unless the disciples recognize and own up their terrible mistakes, they will not appreciate Jesus’ forgiveness and mercy. The peace will be just a mirage, and fear still reigns.

To become an agent of Mercy, we first dare to pronounce judgment. If we pretend that the sin never happens, and keep telling ourselves that everything is just fine, we deceive ourselves and never become sincerely peaceful. Indeed, it is difficult, but as we cannot heal unless there is prognosis, we cannot truly forgive unless there is judgment.

Just last week, several suicide bombers blew themselves up at several churches in Sri Lanka and killed hundreds of Christians. A religious sister, who lost several of her community members in the explosion, wrote an open letter to the perpetrators. She judged that what they did was an act of terrorism, pure evil. Yet, she reminds them that Christians will not be cowed and afraid because we know how to forgive. She said that the Catholic Church remains an open-door Church because she is not afraid to welcome everyone including those who tried to destroy her.

There is no peace without forgiveness, and there is no forgiveness and mercy without true judgment.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ketakutan dan Pengampunan

Minggu Paskah Kedua [28 April 2019] Yohanes 20: 19-31

risen christ n thomasHari ini adalah Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Dari Injil, Yesus membentuk sakramen rekonsiliasi saat Ia menganugerahkan Roh Kudus-Nya kepada para Murid. Dia memberi mereka otoritas ilahi untuk mengampuni (dan tidak mengampuni) dosa dan mengutus mereka sebagai pekerja Kerahiman. Meskipun benar bahwa hanya imam yang dapat melayani sakramen pengakuan dosa, setiap murid Kristus dipanggil untuk menjadi pekerja Kerahiman dan pengampunan. Namun, bagaimana kita akan menjadi pembawa Kerahiman dan Pengampunan? Kita perlu memahami dulu dinamika antara rasa takut dan kedamaian.

Rasa takut adalah salah satu emosi paling mendasar manusia. Itu membuat kita lari dari bahaya yang akan datang dan biasanya, hal ini baik dan perlu untuk kelangsungan hidup kita. Namun, yang unik dengan kita manusia adalah bahwa objek rasa takut bukan hanya bahaya benda nyata secara fisik seperti gempa bumi, api, atau binatang berbisa, tetapi meluas ke penilaian moral. Ketika kita melakukan kesalahan, kita takut akan penghakiman serta konsekuensinya. Dan seringkali terlalu takut pada penghakiman dan hukuman, kita melarikan diri dan bersembunyi. Sejatinya, kisah ketakutan adalah kisah primordial kita. Kita mengingat orang tua pertama kita, Adam dan Hawa. Setelah mereka melanggar Hukum Allah, mereka menyadari bahwa mereka telah sangat berdosa terhadap Tuhan, dan takut akan hukuman Tuhan, mereka bersembunyi. Kita menjumpai juga bahwa murid-murid Yesus sendiri takut dan bersembunyi seperti halnya Adam dan Hawa.

Para murid mengunci diri di dalam ruangan karena mereka takut. Namun, ketakutan yang sebenarnya bukan dari otoritas Yahudi atau pasukan Romawi, tetapi dari penghakiman Yesus. Kita ingat bahwa Yudas menyerahkan Yesus kepada otoritas Yahudi, Petrus, sang pemimpin, menyangkal Yesus tiga kali, dan sebagian besar murid melarikan diri. Bahkan sebelum saat-saat genting Yesus, mereka telah meninggalkan Sang Guru dan Mesias mereka. Di pengadilan militer, seorang prajurit yang meninggalkan tentaranya, terutama saat pertempuran, dianggap sebagai pengkhianat tidak hanya bagi tentara, tetapi juga bagi seluruh bangsa, dan ia layak menerima hukuman mati. Para murid bersembunyi karena takut bahwa Yesus akan membawa hukuman berat-Nya, dan membalas mereka. Para murid takut bahwa Yesus akan datang kapan saja, mengutuk mereka, dan melemparkan bola api ke atas mereka.

Sungguh, Yesus datang kepada mereka, tetapi ia tidak membawa penghukuman tetapi karunia damai, “Shalom”. Kedamaian ini hanya terjadi karena pengampunan. Namun, kedamaian ini tidak terlahir dari absennya penghakiman, tetapi justru dari penghakiman yang diambil Yesus. Hanya saat para murid mengenali dan mengakui kesalahan mereka yang mengerikan, mereka akan menghargai pengampunan dan kerahiman Yesus. Tanpa penghakiman, kedamaian hanya akan menjadi fatamorgana, dan ketakutan masih berkuasa.

Untuk menjadi pekerja Kerahiman, pertama-tama kita berani mengucapkan penghakiman. Jika kita berpura-pura dosa tidak pernah terjadi, dan terus mengatakan pada diri kita sendiri bahwa semuanya baik-baik saja, kita menipu diri kita sendiri dan tidak pernah menerima rasa damai yang sesungguhnya. Seperti halnya dokter yang tidak dapat menyembuhkan pasien kecuali ada diagnosis yang benar, kita tidak dapat benar-benar memaafkan kecuali ada penghakiman yang benar.

Baru minggu lalu, beberapa pelaku bom bunuh diri meledakkan diri di beberapa gereja di Sri Lanka dan membunuh ratusan jemaat. Seorang suster, yang kehilangan beberapa anggota komunitasnya dalam ledakan itu, menulis surat terbuka kepada para pelaku. Dengan berani dia menyatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah tindakan terorisme, kejahatan yang tak berprikemanusiaan. Namun, dia mengingatkan mereka bahwa umat Katolik tidak akan takut karena kita tahu bagaimana cara mengampuni. Dia mengatakan bahwa Gereja Katolik tetap menjadi Gereja dengan pintu terbuka karena kita tidak takut untuk menyambut semua orang termasuk mereka yang mencoba menghancurkan Gereja.

Tidak ada kedamaian tanpa pengampunan, dan tidak ada pengampunan dan belas kasihan tanpa yang benar.

 Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Our Core Memories

Palm Sunday of the Lord’s Passion [April 14, 2019] Luke 19:28-40/Luke 23:1-49

“Blessed is the king who comes in the name of the Lord (Luk 19:38).”

jesus enter jerusalem 3One of the greatest gifts to humanity is the gift of memory. It gives us a sense of identity. Biology teaches us that almost all our body parts are being replaced over the years. One-year-old Stephen is biologically different from thirty-year-old Stephen. All bodily cells, with the sole exception of his eyes’ lens, are changed. What unites thirty-year-old Stephen with his younger self as well as his future self is his memory.

Not only does memory enable us to connect to ourselves, but it also relates us to other people. We are able to recognize our parents, siblings, and friends because we remember all the good thing, we have received from them. Our memories shape who we are. Thus, the illness that ruins our memories like Alzheimer, is one of the most heinous. Persons with Alzheimer gradually can no longer remember persons who love them; they even cannot recall doing their basic functions like eating and going to the restroom.

One of the uniqueness of human beings is that we do not have only individual memory, but we have communal memory. These common memories are passed through generations, and these form the identity of a group. We are Indonesians, Filipinos, Indians, Americans, or other nations because we have common memories that unite us as a nation. When a nation is inflicted by a kind “Alzheimer” that destroys its common memory, it begins to lose its identity as a nation. Cardinal Robert Sarah from Guinea reminds that Europe is in crisis and in danger of dissolution. He argues that the reason is that the European people began to forget their historical and cultural roots, their common memories.

We Christian share the core and fundamental memory. Palm Sunday or Jesus’ entrance to Jerusalem marks the beginning of the most important drama of the Gospel, the drama of the Holy Week. The memory was so significant to the early Christians that the episode was recorded in all four Gospels with great details (Mat 21:1-11, Mark 11:1-11, and John 12:12-19), though with some different emphases. We may even say that the Holy Week especially the Last Supper, the Passion, and Resurrection are the core and foundational memory of every true Christian.

This explains why the Church celebrates Holy Week every year, not because she simply wants to have big events, but because this celebration reconnects us with the core memories that make us as Christians. Yet, we do not only remember the events of the past; we are not just spectators. Through the power of the liturgy, we relive the fundamental stories of Jesus Christ. Together with Christ, we enter Jerusalem. Together with Him, we celebrate the Passover. Together with Him, we are persecuted, crucified and we die. Together with Him, we are buried in the dark tomb. But together with Him, we are raised from the dead.

However, it is our choice whether to follow Him or go against Him: to become people who shout “Hosanna” or people who cry “Crucify Him”; to become a disciple who walks the way of the cross or disciples who run away from Him; to be crucified with Jesus or to crucify Jesus. But it is only the true followers of Jesus who can together with Him be raised from the dead. Holy Week is our time to make that choice: to follow Jesus or to go against Him.

Deacon Valentinus Bayuhadi Rusneo, OP

Memori Kita

Hari Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan [14 April 2019] Lukas 19: 28-40 / Lukas 23: 1-49

jesus enter jerusalem 2Salah satu karunia terbesar bagi umat manusia adalah memori. Ini memberi kesadaran akan identitas kita. Biologi mengajarkan kita bahwa hampir semua bagian tubuh kita akan tergantikan saat kita hidup. Stephen yang berusia satu tahun secara biologis berbeda dari Stephen yang berusia tiga puluh tahun. Semua sel tubuhnya telah digantikan dan akan terus digantikan sampai ia wafat. Apa yang menyatukan Stephen yang berusia tiga puluh tahun dengan dirinya yang lebih muda serta diri di masa depannya adalah ingatannya.

Memori tidak hanya memungkinkan kita terhubung dengan diri kita sendiri, tetapi juga menghubungkan kita dengan orang lain. Kita dapat mengenali orang tua, saudara, dan teman-teman kita karena kita mengingat semua hal baik yang kita terima dari mereka. Ingatan kita membentuk siapa kita. Jadi, penyakit yang merusak ingatan kita seperti Alzheimer, adalah salah satu yang paling kejam. Orang-orang dengan Alzheimer secara bertahap tidak lagi dapat mengingat orang-orang yang mencintai mereka, dan bahkan mereka tidak dapat mengingat melakukan fungsi dasar mereka seperti makan dan pergi ke kamar kecil.

Salah satu keunikan manusia adalah bahwa kita tidak hanya memiliki ingatan individu, tetapi kita memiliki ingatan bersama. Ingatan bersama ini diturunkan dari generasi ke generasi, dan ini membentuk identitas kelompok. Kita adalah orang Indonesia, Filipina, India, Amerika, atau bangsa lain karena kita memiliki memori bersama yang menyatukan kita sebagai suatu bangsa. Ketika suatu bangsa dipengaruhi oleh jenis “alzhaimer” yang menghancurkan ingatan bersama mereka, mereka mulai kehilangan identitas mereka sebagai suatu bangsa. Kardinal Robert Sarah dari Guinea mengingatkan bahwa Eropa sedang dalam krisis dan dalam bahaya pembubaran. Dia berpendapat bahwa alasannya adalah bahwa orang-orang Eropa mulai melupakan akar sejarah dan budaya mereka, memori bersama mereka.

Kita umat Kristiani berbagi memori inti dan fundamental yang sama. Minggu Palma atau Yesus yang memasuki kota Yerusalem menandai dimulainya drama Injil yang paling penting, drama Pekan Suci. Memori ini begitu penting bagi pengikut Yesus perdana sehingga episode ini direkam dalam keempat Injil dengan sangat rinci (Mat 21: 1-11, Markus 11: 1-11, dan Yohanes 12: 12-19), meskipun dengan beberapa tekanan berbeda. Kita bahkan dapat mengatakan bahwa Pekan Suci terutama Perjamuan Terakhir, Kisah Sengsara, Wafat dan Kebangkitan adalah memori inti dan mendasar dari setiap orang Kristiani sejati.

Inilah mengapa Gereja merayakan Pekan Suci setiap tahun bukan karena ia hanya ingin mengadakan acara besar, tetapi perayaan ini menghubungkan kembali kita dengan memori inti yang menjadikan kita sebagai orang Kristiani. Namun, kita tidak hanya mengingat peristiwa masa lalu, dan kita bukan hanya sekedar penonton. Melalui kekuatan liturgi, kita menghidupkan kembali kisah-kisah mendasar tentang Yesus Kristus. Bersama dengan Kristus, kita memasuki Yerusalem. Bersama-sama dengan Dia, kita merayakan Perjamuan Terakhir. Bersama-sama dengan Dia, kita dianiaya, disalibkan dan mati. Bersama-sama dengan Dia, kita dimakamkan di makam yang gelap. Dan bersama-sama dengan Dia, kita dibangkitkan dari kematian.

Namun, itu adalah pilihan kita untuk mengikuti-Nya atau melawan-Nya: untuk menjadi orang-orang yang berseru “Hosanna” atau orang-orang yang berteriak “Salibkan Dia”; untuk menjadi seorang murid yang berjalan di jalan salib atau murid-murid yang melarikan diri dari-Nya; untuk disalibkan bersama Yesus atau untuk menyalibkan Yesus. Sekarang hanya pengikut Yesus yang benar yang dapat bersama-sama dengan Yesus dibangkitkan dari kematian. Pekan Suci adalah waktu kita untuk membuat pilihan untuk mengikuti Yesus atau untuk melawan Dia.

Diakon Valentinus Bayuhadi Rusneo, OP