Iman dan Penderitaan

Minggu ke-21 pada Masa Biasa [26 Agustus 2018] Yohanes 6: 60-69

“Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal (Yoh. 6:68).”

prayer in church
photo by Harry SJ

Dalam Injil kita Minggu ini, Simon Petrus dan murid-murid lain menghadapi pertanyaan penting: apakah mereka akan percaya pada kata-kata Yesus bahwa mereka perlu mengkonsumsi darah dan daging-Nya untuk mendapatkan kehidupan yang kekal, atau mereka akan menganggap Yesus sebagai orang gila dan meninggalkan Dia. Mereka berurusan dengan kebenaran yang sangat sulit dipercaya, dan hal paling termudah untuk dilakukan adalah meninggalkan Yesus. Namun, di tengah keraguan dan kurangnya pemahaman, Petrus menyatakan, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal (Yoh 6:68).” Adalah iman yang menang atas keraguan terbesar, iman yang kita butuhkan juga.

 

Saya mengakhiri karya pastoral saya di salah satu rumah sakit tersibuk di Metro Manila. Pengalaman ini benar-benar memperkaya iman dan membentuk hati saya. Untuk melayani banyak pasien di rumah sakit ini adalah sebuah berkat bagi saya. Salah satu pertemuan yang paling mengesankan adalah dengan Christian [bukan nama sebenarnya].

Ketika saya mengunjungi bangsal anak, saya melihat seorang anak lelaki mungil, mungkin sekitar enam tahun, terbaring di tempat tidurnya. Dia ditutupi oleh selimut tipis dan tampak kesakitan. Kemudian saya berbincang dengan ibunya, Maria [bukan nama sebenarnya]. Dia mengatakan kepada saya bahwa proses dialisis tidak berjalan dengan baik dan dia sedikit demam sekarang. Ketika percakapan berlanjut, saya terkejut bahwa orang Christian tidaklah semuda yang saya kira. Dia sebenarnya berusia 16 tahun. Saya tidak mempercayai mata saya, tetapi sang ibu menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena ginjalnya menyusut dan bahkan hilang, dan karena kondisi yang mengerikan ini, pertumbuhannya berhenti, dan tubuhnya juga menyusut. Christian telah menjalani dialisis selama beberapa tahun, dan karena infeksi yang berulang, rumah sakit telah menjadi rumah keduanya. Maria sendiri kehilangan suaminya yang meninggal beberapa tahun yang lalu, dan berhenti bekerja untuk merawat Christian. Kakak perempuan Christian harus berhenti sekolah dan bekerja untuk mendukung keluarga.

Menyaksika Christian dan mendengarkan Maria, saya hampir mencucurkan air mata saya. Terlepas dari formasi teologis dan filsafat saya yang panjang, saya tetap mempertanyakan Tuhan, “Mengapa Tuhan membiarkan penderitaan mengerikan semacam ini terjadi pada lelaki kecil yang tidak berdosa? Mengapa Tuhan membiarkan hidupnya dan masa depan dirampas oleh penyakit ini?” Iman saya terguncang. Kemudian, saya bertanya kepada Maria bagaimana dia bisa menghadapi situasi itu. Dia menceritakan bahwa hal ini benar-benar sulit, tetapi dia telah menerima kondisinya, dan dia terus berjuang sampai akhir karena dia mengasihi Christian. Saya juga bertanya padanya apa yang membuatnya kuat, dan saya tidak akan pernah melupakan jawabannya. Dia mengatakan bahwa dia kuat ketika dia bisa melihat senyum kecilnya, dan ketika dia merasakan kebahagiaan yang sederhana yang terpancar dari wajah Christian.

Melalui Maria, saya merasa Tuhan telah menjawab pertanyaan dan keraguan saya. Memang benar hal-hal buruk terjadi, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia ada di dalam senyum sederhana Christian. Dia ada di dalam tindakan-tindakan kecil kasih dari Maria untuk putranya. Memang benar bahwa hidup penuh dengan penderitaan yang tidak dapat dimengerti dan momen-momen yang memilukan, seperti kehilangan orang yang dicintai, relasi yang berantakan, masalah kesehatan dan keuangan. Ini dapat memicu kemarahan dan kekecewaan kita terhadap Tuhan. Kita akan tetap marah, bingung dan tersesat jika kita fokus pada realitas yang menyakitkan ini, tetapi Tuhan mengundang kita untuk melihat-Nya dalam hal-hal sederhana yang tanpa diduga memberi kita kenyamanan, kekuatan, dan sukacita. Jika Yesus memanggil kita untuk memiliki iman sebesar biji sesawi, itu karena iman ini memberdayakan kita untuk mengenali Tuhan dalam hal-hal sederhana dalam hidup kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Preaching Faith

Nineteenth Sunday in Ordinary Time [August 12, 2018] John 6:41-51

Amen, amen, I say to you, whoever believes has eternal life. I am the bread of life.  (Jn 6:47-48)

I am currently having my pastoral clinical education in one of the hospitals in the Metro Manila. Aside from visiting the patients and attending to their spiritual needs, we also have processing sessions guided by our supervisor.  During one of the sessions, our supervisor asked me, “Where is the ultimate source of your preaching?” As a member of the Order of Preachers, I was caught off guard. My initial reaction was to say our deeply revered motto, “Contemplare, at contemplata aliis tradere (to contemplate, and to share the fruits of one’s contemplation).” He pressed further and asked what is behind this contemplation. I began scrambling for answers. “Is it study? Community? Or prayer? He said that those were right answers, but there is something more basic. I admitted I am clueless. While he was smiling, he said “It is faith.”

His answer is very simple and yet makes a lot of sense. We pray because we have faith in God. We go to the Church because we have faith in the merciful God who calls us to be His chosen people. As for myself, I entered the Dominican Order because I have faith that generous God invites me to this kind of life. We preach because we trust in the loving God and we want to share this God with others.

I have spent years studying philosophy and theology at one of the top universities in the Philippines, but when I meet the patients with so much pain and problems, I realize that all my achievements, knowledge and pride are coming to naught. How am I going to help patients having troubles to settle hospital bills with astronomical amount?  How am I going to help persons in their dying moments? How am I going to help patients who are angry with God or disappointed with their lives? However, as a chaplain, I need to be there for them, and the best preaching is in fact, the most basic one. It is not preaching in the forms of theological discourse, philosophical discussion, and a long sermon or advice. To preach here is to sharing my faith and to receive their faith. I am there to be with them, to listen to their stories and struggles, to share a little humor and laughter, and to pray together with them. To pray for them is the rare moments that I pray with all my faith because I know that only my faith I can offer to them.

In our Gospel today, we read that some Jews are murmuring because they have no faith in Jesus. Yet, Jesus does not only call them to simply trust in Him, but also to literally eat Him because He is the Bread of Life. The faith in the Eucharist is indeed a tipping point. It is either the craziest of the crazy or the greatest faith that can move even a mountain. As Christians who believe in the Eucharist and receive Jesus in every Mass, we are tremendously privilege and challenged to have and express this faith. However, when we fail to appreciate this meaning and beauty of this faith, and only receive the Bread of Life in a routinely and mechanical fashion, we may lose altogether this faith.

As people who go to Church every Sunday and receive the Eucharist on a regular basis, do we truly believe in Jesus the Bread of Life? Does our faith empower us to see God in the midst of our daily struggles and challenges? Do we have faith that we can share when it matters most?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mewartakan Iman

Minggu ke-19 dalam Masa Biasa [12 Agustus 2018] Yohanes 6: 41-51

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal. 48 Akulah roti hidup. (Yoh 6: 47-48)

faith1Saat ini saya sedang menjalani pelayanan pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Selain mengunjungi pasien dan melayani kebutuhan rohani mereka, kami juga mengikuti sesi pengolahan yang dipandu oleh seorang pengawas. Dalam salah satu sesi, pengawas kami bertanya kepada saya, “Di mana sumber utama pewartaanmu?” Sebagai anggota Ordo Pengkhotbah, saya terperangah. Reaksi awal saya adalah mengucapkan motto kami, “Contemplare, di contemplata aliis tradere (untuk berkontemplasi dan membagikan buah dari kontemplasi).”

Dia menekan lebih jauh dan bertanya apa yang ada di balik kontemplasi itu. Saya mulai bingung mencari jawaban. “Apakah ini studi? Hidup komunistas? Atau doa? Dia mengatakan bahwa semua jawaban saya adalah benar, tetapi ada sesuatu yang lebih mendasar. Saya akui saya tidak tahu. Dia pun tersenyum dan dia mengatakan, ini adalah iman.

Jawabannya sangat sederhana namun sangat masuk akal. Kita berdoa karena kita memiliki iman kepada Tuhan. Kita pergi ke Gereja karena kita memiliki iman kepada Allah yang penuh belas kasih yang memanggil kita untuk menjadi umat pilihan-Nya. Sedangkan, saya sendiri memasuki Ordo Dominikan karena saya memiliki iman bahwa Allah yang murah hati memanggil saya untuk hidup membiara. Kita mewartakan karena kita memiliki iman pada Tuhan yang pengasih dan kita ingin berbagi Tuhan dengan sesama.

Saya telah menghabiskan bertahun-tahun belajar filsafat dan teologi di salah satu universitas ternama di Filipina, tetapi ketika saya bertemu pasien dengan penyakit dan masalah yang sanget berat, saya menyadari bahwa semua pencapaian, pengetahuan, dan kebanggaan saya itu sia-sia. Bagaimana saya akan membantu pasien untuk membayar tagihan rumah sakit dengan jumlah yang sangat besar? Bagaimana saya akan membantu pasien-pasien di saat-saat terakhir mereka? Bagaimana saya akan membantu pasien yang marah pada Tuhan atau kecewa dengan hidup mereka? Namun, saya harus ada di sana untuk mereka menjadi pewartaan yang terbaik dan paling mendasar. Ini bukan pewartaan dalam bentuk diskursus teologis, diskusi filosofis, dan khotbah atau nasihat yang panjang. Untuk mewartakan di sini adalah untuk membagikan iman saya dan untuk menerima iman mereka. Saya ada di sana untuk bersama mereka, untuk mendengarkan kisah dan pergulatan mereka, untuk berbagi sedikit canda dan tawa serta berdoa bersama dengan mereka. Berdoa untuk mereka adalah saat-saat langka, di mana saya berdoa dengan semua iman saya sebab saya tahu bahwa hanya iman ini yang dapat saya berikan kepada mereka.

Dalam Injil kita hari ini, kita membaca bahwa beberapa orang Yahudi bersungut-sungut karena mereka tidak memiliki iman kepada Yesus. Namun, Yesus tidak hanya memanggil mereka untuk hanya percaya kepada-Nya, tetapi juga untuk benar-benar memakan-Nya karena Dia adalah Roti Kehidupan. Iman dalam Ekaristi sungguh menjadi penentu. Hanya dua kemungkinan: sebuah kegilaan atau iman terbesar. Sebagai umat Kristiani yang percaya pada Ekaristi dan menerima Yesus di setiap misa, kita menerima rahmat dan ditantang luar biasa untuk memiliki dan menyatakan iman ini. Namun, ketika kita gagal untuk menghargai arti dan keindahan dari iman ini dan hanya menerima Roti Hidup secara rutin, kita akan kehilangan iman ini.

Sebagai orang yang pergi ke Gereja setiap Minggu dan menerima Ekaristi secara teratur, apakah kita benar-benar percaya kepada Yesus, Sang Roti Hidup? Apakah iman kita mampu memberdayakan kita untuk melihat Tuhan di tengah-tengah perjuangan dan tantangan hidup kita sehari-hari? Apakah kita memiliki iman yang dapat kita bagikan di saat yang paling penting?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

More than Bread

Seventeenth Sunday in Ordinary Time [July 29, 2018] John 6:1-15

Jesus said to Philip, “Where can we buy enough food for them to eat?” (Jn. 6:5)

barley loaves 4Unlike the other Gospels, the Gospel of John does not have the story of the Institution of the Eucharist on the Last Supper. However, it does not mean John the evangelist does not write anything about the Eucharist. In fact, John includes the most sublime discourse on the bread of life in his chapter 6. The chapter itself is relatively long, and the Church has distributed it into several Sunday Gospel readings (from today up to August 26). This discourse on the Bread of Life begins with the lovely story of Jesus feeding the multitude.

The story highlights Jesus’ question to Philip, “Where can we buy enough food for them to eat?” (Jn. 6:5) Philip, who seems to be familiar with the place, gives impossibility as an answer, “Two hundred denarii (or two hundred days’ wages) worth of food would not be enough…” (Jn. 6:7) Philip is just realistic, but he misses the mark. Jesus does not ask “how much,” but “where.” Perhaps, if Philip lives in the 21st century, he would direct Jesus to the nearest shopping mall! The point is that Philip would eagerly reduce the entire problem into a financial matter. Philip is not wrong because finance and economy are the backbones of our daily lives and even our survival as species, But money is not the only thing that matters. Philip will later see during the multiplication of the bread, that the “where” is pointing back to Jesus Himself. And as we will see in succeeding of chapter 6, the bread Jesus offers is not meant only for biological and economic benefits, but for eternal life.

I am currently having my clinical pastoral education at one of the hospitals in Metro Manila. One of the sacred missions entrusted to me as a chaplain is to distribute the Holy Communion to the sick. By ministering to the sick, especially through prayer and giving Holy Communion, I am reminded that the physical and biological aspects of our humanity are not the only things to be taken care of. It is true that many patients I have encountered are struggling with financial issues, like how to get the money to pay the hospital bills and expensive medicines. They have to wrestle also with their sickness that sometimes is incurable. I myself am at a loss on how to help them in these pressing concerns. However, often, the patients themselves are the ones who assure me that God will find a way, as He always does. What I do, then, is to affirm and strengthen their faith. Prayer and giving of the Holy Communion are the visible manifestations of Jesus’ real presence among us, and His presence is even more felt by the sick. Like our Gospel’s today, Jesus does not only take care of the physical aspect of our lives, but more fundamentally, He brings us to the deeper reality that our souls all long for. Paradoxically, in their hunger, they discover Jesus.

Being strong and healthy, we often forget this simple truth. Like Philip, we are more concerned with amassing wealth, attaining fame, and achieving success. Even as people serving the Church and the community, we are spending more time in organizing charity events, raising funds, and even arguing among ourselves over trivial matters. We miss the point why we are going to the Church. We miss encountering Jesus. We pray and hope that we are able to answer Jesus’ question rightly to Philip and us, “Where shall we find food for us to eat?”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lebih dari Roti

Minggu ke-17 dalam Masa Biasa [29 Juli 2018] Yohanes 6: 1-15

Yesus berkata kepada Filipus, ” Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” (Yoh 6: 5)

barley loaves 2Tidak seperti Injil lainnya, Injil Yohanes tidak memiliki kisah tentang penetapan Ekaristi dalam Perjamuan Terakhir. Namun, ini tidak berarti Yohanes penginjil tidak menulis apa pun tentang Ekaristi. Nyatanya, Yohanes menulis tulisan yang paling luhur tentang roti hidup dalam bab 6 Injilnya. Bab itu sendiri relatif panjang, dan Gereja telah distribusikannya ke beberapa bacaan Injil hari Minggu (dari hari ini hingga 26 Agustus). Penjelasan tentang Roti Hidup ini dimulai dengan kisah Yesus yang memberi makan banyak orang.

Mari kita perhatikan pertanyaan Yesus kepada Filipus, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” (Yoh 6:5) Filipus, tampaknya akrab dengan tempat itu, menyatakan bahwa mustahil untuk memberi makan orang sebanyak itu, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini… ” (Yoh. 6: 7) Filipus cukup realistis, tetapi ia tidak menjawab pertanyaan. Yesus tidak menanyakan “berapa,” tetapi “di mana.” Mungkin, jika Filipus hidup di zaman now, dia akan mengarahkan Yesus ke mal terdekat! Intinya adalah bahwa Filipus akan dengan semangat menyederhanakan seluruh masalah ke dalam masalah keuangan. Filipus tidak salah karena keuangan dan ekonomi adalah tulang punggung kehidupan kita sehari-hari dan bahkan kelangsungan hidup kita sebagai spesies, tetapi uang bukanlah satu-satunya hal yang penting. Filipus nantinya akan melihat setelah mujizat penggandaan roti, bahwa “di mana” merujuk pada Yesus sendiri. Dan seperti yang akan kita baca dalam bab 6, roti yang Yesus tawarkan tidak hanya dimaksudkan untuk manfaat biologis dan ekonomi, tetapi untuk kehidupan kekal.

Saat ini saya sedang menjalankan pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Salah satu misi yang dipercayakan kepada saya adalah membagikan Komuni Kudus bagi orang sakit. Dengan melayani orang sakit, khususnya melalui doa dan pemberian Komuni Kudus, saya diingatkan bahwa aspek fisik dan biologis dari kemanusiaan kita bukanlah satu-satunya hal yang harus dijaga. Memang benar bahwa banyak pasien yang saya temui bergulat dengan masalah keuangan, seperti bagaimana mendapatkan uang untuk membayar tagihan rumah sakit dan obat-obatan yang mahal. Mereka juga harus bergumul dengan penyakit mereka yang kadang tidak dapat disembuhkan. Saya sendiri bingung bagaimana cara membantu mereka dalam masalah yang mendesak ini. Namun, seringkali, para pasien sendiri adalah orang yang meyakinkan saya bahwa Tuhan akan membuka jalan. Apa yang saya lakukan, kemudian, adalah memperkuat iman mereka. Doa dan pemberian Komuni Kudus adalah manifestasi nyata dari kehadiran Yesus di antara kita, dan kehadiran-Nya bahkan lebih terasa bagi orang sakit. Seperti Injil kita saat ini, Yesus tidak hanya memperhatikan aspek fisik dari kehidupan kita, tetapi lebih mendasar lagi, Dia membawa kita ke realitas yang lebih dalam yang merupakan kerinduan jiwa kita yang terdalam. Sungguh sebuah paradoks bahwa dalam sakit, mereka menemukan Yesus.

Saat kita masih kuat dan sehat, seringkali kita melupakan kebenaran sederhana ini. Seperti Filipus, kita lebih peduli dengan mengumpulkan kekayaan, meraih ketenaran, dan mencapai kesuksesan. Bahkan sebagai orang yang melayani Gereja dan komunitas, kita menghabiskan lebih banyak waktu dalam mengatur acara-acara amal, mengumpulkan dana, dan bahkan berdebat di antara kita sendiri tentang hal-hal sederhana. Kita kehilangan tujuan utama mengapa kita pergi ke Gereja. Kita gagal bertemu Yesus. Kita berdoa dan berharap bahwa kita dapat menjawab pertanyaan Yesus dengan benar, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya kita ini dapat makan?”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Dying

Sixteenth Sunday in Ordinary Time [July 22, 2018] Mark 6:30-34

He said to them, “Come away by yourselves to a deserted place and rest a while.”  (Mrk 6:31)

mother-holding-childs-hand-who-260nw-232137526I am currently having my clinical pastoral education at one of the hospitals in Metro Manila. It has been one month since I started my pastoral visits. Since then, I have encountered people in different stages of illness. Many of them are fast recovering, some are taking more time to get cured, but some others have to face serious conditions. It is my ministry as a chaplain to accompany them in their journey of healing. I feel immense joy when I can witness their healing process, from one who is weak on the bed, to one who is standing and ready to leave the hospital.

However, the greatest privilege for me is that I am given a chance to accompany some persons in their journey of dying. It seems rather morbid because we are all afraid of death, and many still look at talking about death as taboo. Yet, in the hospital, battling death is a daily business for both the patients and the medical professionals. It is just that some are dying longer than the others. Death and dying are terrifying because they end our life, shatter our dreams, and cut our relationship with the people we love. I befriend a young man who just graduated with a lot of dreams in his heart, yet cancer robs him of his dreams as he has to struggle with painful and unforgiving chemotherapy. I also accompany a young woman who has kidney failures and has to spend a lot on her dialysis and medicine. She is not able to finish her school, to find a job, and to pursue her dreams. A young mother has to leave behind her young children in the province, move to Manila, jump from one hospital to another, just to be cured of her breast cancer. Her only wish is to be reunited with her children.

However, as I journey with them, I discover that dying is not only terrifying but also a privilege. It is true that dying can trigger many negative feelings like denial, anger, bitterness, and even depression. One can blame himself, or get angry with God. One who can only depend on the generosity of the people around him can feel helpless and even depressed. However, when the patient begins to accept his situation, dying can be transformed into a moment of grace. The dying person can now see what truly matter in life. As healthy persons, we do a lot of things; we work hard, we achieve many things. With so much in our hands, we tend to overlook what are the most essential in our lives. Dying slows us down, and gives us time to think clearly. It provides us the rare opportunity to settle the unfinished business and to do the missions God has entrusted to us. Paradoxically, the dying is the one who is truly living. As Mitch Albom writes in Tuesdays with Morrie, “The truth is, once you learn how to die, you learn how to live.”

In today’s Gospel, Jesus invites His disciples to rest. After working so hard for their mission, Jesus brings them to a deserted place. After success in their preaching, the disciples may easily be proud and be full of themselves. Yet, a genuine rest may settle them down and reorient themselves into Jesus, the source of their mission and success.

We do not have to suffer first from terminal illness as to experience dying. We can always avail the privilege of dying through moments of rest, prayer, and reflection. It is always good to reflect the words of St. John of the Cross, “in the twilight of life, God will not judge us on our earthly possessions and human successes, but on how well we have loved.”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menghadapi Kematian

Minggu Keenam Belas dalam Masa Biasa [22 Juli 2018] Markus 6: 30-34

Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” (Mrk 6:31)

person-in-hospital-bed-holding-hands-05Saat ini saya menjalani pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Sudah satu bulan sejak saya melakukan kunjungan pastoral pertama saya. Saya telah bertemu banyak pasien yang bergulat dengan berbagai jenis penyakit. Tugas pelayanan saya sebagai pekerja pastoral adalah untuk menemani mereka dalam perjalanan penyembuhan mereka. Saya merasakan sukacita yang luar biasa ketika saya dapat menjadi saksi dalam proses penyembuhan mereka, dari seseorang yang terbaring lemah di tempat tidur, sampai menjadi seseorang yang berdiri tegak dan siap untuk meninggalkan rumah sakit.

Namun, hak istimewa terbesar bagi saya adalah bahwa saya diberi kesempatan untuk menemani beberapa orang dalam perjalanan mereka menghadapi kematian. Kita tidak suka berbicara tentang kematian karena kita semua takut akan kematian, dan banyak yang masih memandang kematian sebagai hal tabu. Namun, di rumah sakit, memerangi kematian adalah aktivitas sehari-hari baik bagi pasien maupun para tenaga kerja medis. Kematian menjadi menakutkan karena hal ini mengakhiri hidup kita, menghancurkan impian kita, dan memutuskan hubungan kita dengan orang yang kita cintai. Saya berteman dengan seorang pria muda yang baru saja lulus dari sebuah universitas dengan banyak mimpi di dalam benaknya, namun kanker merampas impiannya dan dia harus menjalani kemoterapi yang merusak tubuhnya. Saya juga menemani seorang remaja yang mengalami gagal ginjal dan harus menghabiskan banyak uang untuk dialisis dan obatnya. Dia pun tidak bisa menyelesaikan sekolahnya, mencari pekerjaan, dan mengejar mimpinya. Seorang ibu muda harus meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil di kampung halaman, pindah ke Manila, pindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, hanya untuk sembuh dari kanker payudaranya. Keinginannya hanya satu untuk bersatu kembali dengan anak-anaknya.

Namun, ketika saya melakukan perjalanan bersama mereka, saya menemukan bahwa kematian tidak hanya menakutkan tetapi juga sebuah kesempatan istimewa. Memang benar bahwa menghadapi kematian dapat memicu banyak perasaan negatif seperti penyangkalan, kemarahan, kepahitan, dan bahkan depresi. Seseorang dapat menyalahkan dirinya sendiri, atau marah kepada Tuhan atas apa yang terjadi. Seseorang yang hanya bisa bergantung pada kemurahan hati orang-orang di sekitarnya bisa merasa tidak berdaya dan bahkan putus asa. Namun, ketika pasien mulai menerima situasinya, menghadapi kematian dapat berubah menjadi momen rahmat. Seseorang yang sedang menghadapi kematian dapat melihat apa yang benar-benar penting dalam hidup. Sebagai orang sehat, kita bisa melakukan banyak hal; kita bekerja keras, kita mencapai banyak hal. Dengan begitu banyak hal di hidup kita, kita cenderung mengabaikan apa yang paling penting dalam hidup kita. Menghadapi kematian memperlambat kita, dan memberi kita waktu untuk berpikir jernih. Ini memberi kita kesempatan langka untuk menyelesaikan urusan yang belum selesai dan untuk melakukan misi terakhir yang Tuhan percayakan kepada kita.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengundang murid-murid-Nya untuk beristirahat. Setelah bekerja keras menjalankan misi mereka, Yesus membawa mereka ke tempat yang sepi. Setelah berhasil dalam pewartaan mereka, para murid dapat dengan mudah menjadi angkuh dan penuh dengan diri mereka sendiri. Namun, peristirahatan yang sejati dapat menenangkan mereka dan mengarahkan kembali diri mereka kepada Yesus, sumber dari misi dan kesuksesan mereka.

Kita tidak harus menderita penyakit berat yang menghadapi kematian dan merenungkan hal-hal yang sungguh penting dalam hidup. Kita selalu dapat beristirahat, melalui doa dan refleksi. Tentunya, selalu baik untuk merefleksikan kata-kata Santo Yohanes dari Salib, “di saat kita mencapai senja kehidupan, Tuhan tidak akan menghakimi kita berdasarkan  harta duniawi dan keberhasilan kita, tetapi pada seberapa besar kita mengasihi.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Body

Solemnity of the Body and Blood of Jesus Christ [June 3, 2018] Mark 14:12-16, 22-26

“Take it; this is my body” (Mk 14:22)

last supper africaWe often take for granted that we are created as a bodily creature. Our body is integral to our humanity and created by God as something good; we receive our body as a gift. We freely receive our body from our parents, and our parents from their parents and this goes on till we discover God as the source of this gift. Because our body is a gift from God, we are called to honor our body as we honor the Giver of the gift Himself.

Since the earliest time, the Church has fought against various false teachings that undermine the integrity and sanctity of the body. Early Christians stoutly defended the goodness of the body against the Gnostic sects that condemned the body as evil, a prison to our soul, and a curse to our existence. The Order of Preachers where I belong was founded for the salvation of souls. Some of my friends complain why we only save the soul and disregard other aspects of our humanity. I remind them that the Order was originally established to counter the Albigensian sect, and one of its basic teachings is that the body is evil, that suicide is a great means to achieve final liberation. To preach and fight for the goodness and integrity of our body is essential to the Dominican preaching, as it is to the Church’s preaching.

Unfortunately, the gnostic teaching grows and takes modern forms. Sanctity of our body is ever compromised as our body is trivialized and even commoditized. Human trafficking is one of the greatest abuses of our body. Young women, mostly from a poor background, are lured into prostitution and turned to be sex objects. Young children are forced to work in inhuman conditions in many countries. Organ harvesting has become most luxurious business involving the countless amount of money. There is a price for every organ we have. In fact, there is a nasty story in the social media of a teenager who sells his kidney to buy the latest model of iPhone. For some people, another additional ‘bodies’ in the wombs are just liabilities and hindrance to self-progress and career development, and thus, it is better to abort these ‘bodies’ before they grow and become bigger problems.

In celebrating the solemnity of the body and blood of Jesus Christ, we are invited through our Gospel reading, to go back to Jesus’ Last Supper. There, Jesus freely offers His body as a gift to His disciples, “Take it, this My body.”  He then asks these disciples to share His body they have received to the future generations of disciples. Jesus receives His body as a gift, and now, in His Supper, He passes this gift so that we may have a life. This is the foundation of the Eucharist, as well as the core of the Christian sexuality.

Husband and wife join together in marriage, and they are no longer “two but one body.” As both spouses face the altar of God, they recognize that their bodies are gifts from God, and by lovingly offering to their spouse, they honor God who created them. We oppose any pre-marital and extra-marital sex because unless our body is given freely and totally in lifetime marriage commitment, we are always exposed to objectify our body. A husband’s or wife’s body is not simply the “property” or object to satisfy sexual, psychological needs, but it is a gift from God that even leads us to a deeper appreciation of our own body. In marriage, husband and wife give their body as a gift to each other in love and honor, so that they may have life more abundantly and in fact, they may welcome a new body, a new life, a new gift, into their marriage.

Married life is one among several ways we may accept and offer our body as a gift. Even a celibate life dedicated to service of others is another way to offer our body as a gift. Like Jesus in the Last Supper, it is only by receiving our body as a gift and freely sharing it as a gift that we may have meaningful lives.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tubuh

Hari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus [3 Juni 2018] Markus 14: 12-16, 22-26

“Ambil; inilah tubuhku ”(Markus 14:22)

african-last-supper-lukandwa-dominicTubuh kita adalah bagian integral dari kemanusiaan kita dan diciptakan oleh Tuhan sebagai sesuatu yang baik. Tubuh kita adalah sebuah karunia. Dengan cuma-cuma, kita menerima tubuh kita dari orang tua kita, dan orang tua kita dari orang tua mereka dan ini berlangsung terus sampai kita menemukan Tuhan sebagai sumber dari karunia ini. Karena tubuh kita adalah karunia dari Tuhan, kita dipanggil untuk menghormati tubuh kita sebagaimana kita menghormati Sang pemberi karunia.

Sejak awal mulanya, Gereja telah berjuang melawan berbagai ajaran sesat yang merongrong integritas dan kesucian tubuh. Gereja dengan gigih membela kebaikan tubuh melawan sekte Gnostik yang mengajarkan tubuh sebagai jahat, penjara bagi jiwa kita, dan kutukan bagi eksistensi kita. Saya adalah anggota Order of Pewarta (atau Dominikan), dan Ordo ini didirikan untuk keselamatan jiwa-jiwa. Beberapa teman saya mengomentari mengapa kami hanya menyelamatkan jiwa dan mengabaikan aspek lain dari kemanusiaan kita. Saya mengingatkan mereka bahwa Ordo ini awalnya didirikan untuk memerangi sekte Albigensian, dan salah satu ajaran dasar mereka adalah bahwa tubuh adalah jahat, bahwa bunuh diri adalah sarana yang baik untuk mencapai pembebasan akhir. Untuk mewartakan dan berjuang bagi kebaikan dan integritas tubuh kita adalah mendasar bagi pewartaan Dominikan, seperti juga untuk pewartaan Gereja.

Sayangnya, ajaran gnostik tetap bertumbuh dan mengambil bentuk-bentuk baru di dunia modern. Kesucian tubuh kita terus diremehkan dan bahkan menjadi sebuah komoditas. Perdagangan manusia adalah salah satu pelanggaran terbesar terhadap tubuh kita. Perempuan muda, sebagian besar dari latar belakang miskin, terjebak ke dalam prostitusi dan menjadi objek seks belaka. Anak-anak muda dipaksa bekerja dalam kondisi yang tidak manusiawi di banyak negara. Pengambilan organ tubuh telah menjadi bisnis paling menggiurkan yang melibatkan jumlah uang yang luar biasa besar. Ada harga untuk setiap organ yang kita miliki. Bahkan, ada cerita di media sosial tentang seorang remaja yang menjual ginjalnya untuk membeli iPhone model terbaru. Tambahan ‘tubuh’ lain di dalam rahim menjadi sebuah beban dan hambatan untuk kemajuan diri dan pengembangan karier, dan dengan demikian, lebih baik untuk mengaborsi ‘tubuh’ ini sebelum mereka tumbuh dan menjadi masalah yang lebih besar.

Hari ini kita merayakan tubuh dan darah Yesus Kristus, dan kita diundang melalui bacaan Injil, untuk kembali ke Perjamuan Terakhir Yesus. Di sana, Yesus dengan bebas mempersembahkan tubuh-Nya sebagai karunia kepada murid-murid-Nya, “Ambillah, ini tubuh-Ku.” Dia kemudian meminta para murid ini untuk membagikan tubuh-Nya yang telah mereka terima kepada generasi murid-murid masa depan. Yesus menerima tubuh-Nya sebagai karunia, dan sekarang, dalam Perjamuan Terakhir-Nya, Dia memberikan karunia ini agar kita dapat memiliki kehidupan yang penuh. Ini adalah dasar dari Ekaristi, juga inti dari seksualitas Kristiani.

Di dalam sakramen pernikahan, suami dan istri tidak lagi “dua tetapi satu tubuh.” Ketika kedua pasangan menghadap altar Allah, mereka mengakui bahwa tubuh mereka adalah karunia dari Tuhan, dan dengan mempersembahkan tubuh mereka kepada pasangan mereka, mereka menghormati Tuhan yang telah menciptakan mereka. Kita menentang seks pra-nikah dan seks di luar nikah karena hanya saat tubuh kita diberikan secara bebas dan total dalam komitmen pernikahan, kita selalu akan selalu menghancurkan tubuh kita. Tubuh suami atau istri bukan sekadar “milik” atau objek untuk memuaskan kebutuhan seksual dan psikologis, tetapi itu adalah karunia dari Tuhan yang bahkan menuntun kita untuk menghargai tubuh kita sendiri. Dalam pernikahan, suami dan istri memberikan tubuh mereka sebagai karunia terhadap satu sama lain dalam kasih dan hormat, sehingga mereka dapat memiliki kehidupan yang lebih berlimpah dan juga, mereka dapat menyambut tubuh baru, kehidupan baru, karunia baru, ke dalam pernikahan mereka.

Kehidupan pernikahan adalah salah satu di antara beberapa cara dimana kita bisa menerima dan mempersembahkan tubuh kita sebagai karunia. Kehidupan selibat yang didedikasikan untuk melayani sesama adalah cara lain untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai karunia. Seperti Yesus dalam Perjamuan Terakhir, hanya dengan menerima tubuh kita sebagai karunia dan dengan bebas mempersembahkannya sebagai karunia, kita memiliki kehidupan yang penuh dan bermakna.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Business as Usual

Third Sunday of Lent [March 4, 2018] John 2:13-25

“Take these out of here, and stop making my Father’s house a marketplace.” (Jn. 2:16}

inside the chuch
photo by Harry Setianto SJ

The presence of the animal vendors and money-changers in the Temple of Jerusalem comes out of practical necessity. When Jews from all over Palestine come to Jerusalem, especially during the important days like Passover, they will fulfill their religious obligation to offer their sacrifices in the Temple. Since it is impractical to bring a sacrificial animal like oxen, lambs, or turtledoves from their hometowns, the Jews prefer an easier solution by buying them in Jerusalem. It does not only save those Jewish pilgrims the hassle, but it gives the assurance also that the animals will be unblemished as the Law of Moses has prescribed. Therefore, many vendors have the authorization from the Temple elders that their animals are unblemished and ready for sacrifice. The Jews are also required to support the upkeep the Temple and the priests through so-called “Temple tax.” Yet, they are not allowed to pay the Temple tax with the Roman money because it bears the image of Caesar as a god, a blasphemy. Thus, they need to change their money with more acceptable currency. Here the role of money-changers comes in. It is a kind of win-win solution for the pilgrims, the vendors, and the Temple authorities. We could imagine that with so many people visiting the Temple, the business must be buzzing and thriving.

 

When Jesus comes and drives them all out of the Temple, surely it angers not only the vendors and the money-changers but also the Jewish authority and even ordinary Jewish pilgrims. The disappearance of this vendors and money-changers may mean that some people lose their earnings, some people find their profit disappear, and most people are irked by the inconveniences it causes. Jesus tells the reason behind his action, “the Jews making His Father’s house a marketplace.”  The very core of the Temple of Jerusalem is the encounter between God and his chosen people, between God the Father and His children, but with so many activities, trading, and noise, this essence of the Temple is lost. The Temple means usual business. The priests certify the sacrificial animals for the vendors, the vendors sell them to the pilgrims, and the pilgrims give the animals to the priests for the slaughter. Everyone goes home happy! Jesus’ action is to break this vicious cycle of “normalcy” that makes people’ worship shallow. Jesus criticizes the structure that exploits the Temple for mere profit and superficial fulfillment of religious obligation, and for making God’s house into the marketplace.

In this season of Lent, we ask ourselves, if Jesus comes to our church, diocese, parish, congregation, religious organization, and even our family, what will Jesus do? Will He drive us out like He drives out the vendors from the Temple? Or, will He make His home among you? Financial resources are important in helping our Church grow but do we not make the Church an income-generating institution? While the leadership structure is essential in the Church and our smaller groups, do we serve others, or exploit people? Do we find peace and joy in our communities, or are they full of intrigues, gossips, unhealthy competitions? Do encounter God in our Church, or simply find ourselves? We thank the Lord if we discover God, our Father, in our Church and community, but if we do not, we better call on Jesus to drive us away from His Father’s house.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP