Featured

Mengapa Yesus Dibaptis?

Pembaptisan Tuhan [A]

11 Januari 2026

Mat 3:13-17

Salah satu pertanyaan yang sering membingungkan kita adalah: mengapa Yesus perlu dibaptis oleh Yohanes Pembaptis? Yohanes sendiri menyatakan bahwa baptisannya adalah tanda pertobatan. Mereka yang datang kepadanya harus terlebih dahulu mengakui dosa-dosa, sehingga baptisan air menjadi tanda dari penolakan terhadap dosa dan perubahan hidup. Namun, kita tahu bahwa Yesus itu tanpa dosa [Ibr 4:15; 1 Pet 2:22]. Lalu, bagaimana kita memahami baptisan Yesus?

Domenico Ghirlandaio, The Baptism of Christ, 1486-90

Pertanyaan yang sama juga telah membingungkan banyak teolog besar sepanjang sejarah. Meskipun tidak mungkin mencantumkan setiap tafsiran di sini, Santo Proklus, Patriark Konstantinopel abad ke-5, memberikan wawasan yang mendalam. Dalam khotbahnya berjudul, “Holy Theophany,” ia mengajak kita untuk menyaksikan sebuah paradoks, “Mari datang dan lihatlah mukjizat baru dan mengagumkan: Matahari Keadilan membasuh diri di Sungai Yordan, api terendam dalam air, Allah dikuduskan melalui pelayanan manusia.” Pada dasarnya, Santo Proklus melihat baptisan Yesus bukan sebagai kebutuhan untuk pengampunan, tetapi sebagai “mukjizat kerendahan hati.”

Ketika orang Israel datang kepada Yohanes untuk dibaptis, itu tentu merupakan tindakan kerendahan hati, mengakui di hadapan Allah akan dosa-dosa mereka dan kesediaan untuk bertobat. Namun, ketika Yesus yang ilahi dibaptis oleh Yohanes yang manusia, hal ini melampaui kerendahan hati biasa; itu adalah kerendahan hati yang luar biasa, bahkan bersifat adikodrati. Santo Proclus mengajarkan bahwa meskipun kerendahan hati yang mengagumkan ini sudah ada sejak kelahiran Yesus, pembaptisan berbeda dari Natal. Kelahiran adalah mukjizat yang tersembunyi, tetapi Pembaptisan adalah peristiwa publik yang disaksikan oleh banyak orang, di mana Allah Bapa secara terbuka menyatakan bahwa Ia berkenan dengan tindakan pengosongan diri Putra-Nya.

Hal ini memberikan pelajaran penting bagi kita semua: melalui kerendahan hati ilahi, kita menerima keselamatan dan dikuduskan. Dalam kerendahan hati-Nya, Putra Allah menjadi manusia dan menempatkan diri-Nya di bawah Yusuf dan Maria. Dalam kerendahan hati-Nya, Yesus dibaptis oleh Yohanes, menjadi satu dengan orang-orang yang Dia akan selamatkan. Dalam kerendahan hati-Nya, Kristus dengan sabar menanggung salib, menerima kematian sebagai korban yang sempurna untuk penebusan kita. Yesus mencintai Bapa dengan sempurna; dari kasih yang mendalam ini, kerendahan hati lahir; dari kerendahan hati yang luar biasa ini, ketaatan terlahir; dan melalui ketaatan Yesus sepanjang hidup-Nya, kita diselamatkan.

Santo Filipus Neri dikenal sebagai rasul orang-orang Roma. Sekali peristiwa, Paus pernah meminta dia untuk menyelidiki seorang biarawati yang dikabarkan menerima penglihatan dari Tuhan dan melakukan mukjizat. Dalam perjalanan ke biara tersebut, hujan turun dengan deras, dan jalan-jalan menjadi berlumpur. St. Filipus itu terus melanjutkan perjalanannya, meskipun pakaiannya basah kuyup dan sepatunya berlumpur. Setibanya di sana, biarawati itu menyambutnya dengan gembira, ingin berbagi penglihatannya dengan seorang imam yang dikagumi di kota Roma. Namun, hal pertama yang diminta Santo Filipus adalah agar biarawati itu membantunya melepas sepatunya yang kotor penuh lumpur. Biarawati itu marah, menegurnya, dan menyatakan bahwa permintaan seperti itu terlalu menghina bagi seorang wanita rohani seperti dirinya.

Santo Filipus segera kembali ke Vatikan. Ia melaporkan kepada Paus, “Bapa Suci, dia bukan seorang yang kudus.” Ketika Paus bertanya bagaimana ia bisa mencapai kesimpulan itu begitu cepat, Filipus menjawab, “Ia tidak memiliki kerendahan hati. Dan di mana tidak ada kerendahan hati, tidak ada kekudusan.”

Seperti yang Yesus ajarkan kepada kita hari ini, mari kita memohon kepada Tuhan untuk keutamaan yang sama, agar kita dapat mengikuti kerendahan hati-Nya dan benar-benar tumbuh dalam kekudusan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apakah saya cenderung memisahkan diri dari orang-orang yang saya anggap “lebih rendah”? Apakah saya memandang kerendahan hati sebagai kelemahan yang merusak reputasi saya, atau apakah saya melihatnya sebagai kekuatan ilahi yang harus saya praktikan? Jika saya kesulitan untuk taat kepada Tuhan atau otoritas Gereja, apakah sebenarnya karena saya tidak memiliki kerendahan hati dan kasih?

Para Majus dan Herodes

Epifani [A]

4 Januari 2026

Matius 2:1-12

Cerita tentang Para Majus mengingatkan kita akan sesuatu yang sangat mendasar saat kita mencari Yesus. Apakah hal itu?

Para Majus bukanlah berasal dari bangsa Yahudi, namun mereka dengan tulus mencari Raja Israel yang baru lahir. Identitas Para Majus tetap menjadi misteri. Kata Yunani magos—dari mana kata Inggris Majusc berasal—merujuk pada seseorang yang ahli dalam ilmu-ilmu kuno. Ilmu-ilmu kuno ini sangat berbeda dengan ilmu modern: eksperimen dan mitos, pengamatan alam dan ritual, seringkali saling terkait. Ini adalah masa ketika astronomi erat terkait dengan astrologi, dan kimia dengan alkimia.

    Meskipun tidak dinyatakan secara eksplisit dalam Kitab Suci, banyak tradisi mengidentifikasi para Majus sebagai tiga raja dari Timur. Tertullian (wafat tahun 225 M), menafsirkan kisah Epifani berdasarkan Mazmur 72 dan Yesaya 60, merujuk pada para Majus sebagai raja. Meskipun para Majus tidak mesti raja, mereka kemungkinan besar adalah orang-orang berkedudukan tinggi, karena Herodes, raja Yerusalem, menerima mereka dan memperlakukan mereka dengan hormat. Angka tiga umumnya berasal dari tiga hadiah yang diberikan kepada Kristus: emas, kemenyan, dan mur. Bukti tertulis tertua tentang “tiga” Majus muncul dalam mozaik abad keenam di Gereja Sant’Apollinare Nuovo di Ravenna, Italia. Nama-nama Melkior, Gaspar, dan Balthasar muncul dalam tradisi Latin pada periode yang sama.

    Kisah para Majus menjadi lebih mencolok ketika dibandingkan dengan rekan-rekan Yahudi mereka: Herodes, raja Yerusalem, dan para cendekiawan Yahudi. Ketika Herodes mendengar berita tersebut, ia segera berkonsultasi dengan para ahli agama di istananya. Setelah memeriksa Kitab Suci dengan cermat, mereka mengonfirmasi penemuan para Majus dan mengidentifikasi Betlehem sebagai tempat kelahiran raja baru. Namun, berbeda dengan para Majus—yang menggunakan kebijaksanaan dan pengetahuan mereka untuk menghormati anak itu—Herod dan penasihat-penasihatnya menggunakan pemahaman mereka tentang Kitab Suci untuk merencanakan kehancuran Mesias yang dijanjikan.

    Perbedaan antara para Majus dan Herodes menjadi pola bagi apa yang akan terjadi pada Yesus. Pada awal hidup-Nya, Yesus dihormati oleh para Majus yang bukan Yahudi tetapi dicari untuk dihancurkan oleh Herodes dan penasihatnya. Demikian pula, pada akhir hidup-Nya di bumi, Yesus dihukum oleh imam-imam kepala dan pemimpin agama, dituduh sebagai Mesias palsu, sementara Ia diakui oleh kepala pasukan Romawi sebagai Anak Allah (Mat 27:54).

    Akhirnya, setelah para Majus menemukan Yesus dan memberi hormat kepada-Nya, mereka pulang melalui “jalan yang berbeda”. Rincian ini mengandung simbolisme yang mendalam: bertemu dengan Yesus membawa kepada pertobatan sejati dan transformasi. Kita mungkin sibuk mempelajari Kitab Suci, terlibat dalam karya amal, atau melayani di pelayanan Gereja, tetapi jika kita tidak benar-benar menemukan Yesus di dalamnya, tidak ada pertobatan yang sejati. Tanpa menemukan Yesus, kita mungkin hanya menemukan diri kita sendiri. Bahayanya adalah hal ini dapat menyebabkan frustrasi ketika kita gagal atau kesombongan ketika kita berhasil. Dalam kedua kasus ini, kita tidak menemukan kebahagiaan sejati. Seperti Herodes dan penasihatnya, kita bahkan dapat menyalahgunakan pengetahuan iman kita dengan cara yang merusak kehidupan rohani kita dan melemahkan iman kita pada Kristus.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan Panduan:

    Apakah saya lebih mirip para Majus atau seperti Herodes dan penasihatnya dalam cara saya mencari Yesus? Bagaimana saya menggunakan pengetahuan dan talenta yang Tuhan berikan kepada saya? Apakah kegiatan keagamaan saya benar-benar membawa saya ke dalam pertemuan dengan Yesus? Dalam hal apa pertemuan dengan Kristus telah mengubah arah hidup saya? Apa yang menghalangi saya untuk mengenali Kristus ketika Dia datang dengan tenang dan rentan?

    Featured

    St. Yusuf: Pelindung Keluarga Kudus

    Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria, dan Yusuf
    28 Desember 2025 [A]
    Matius 2:13–15, 19–23a

    Saat kita merayakan Pesta Keluarga Kudus, kita merenungkan apa yang membuat keluarga ini kudus. Tentu saja, di pusatnya adalah kehadiran Yesus, Allah yang menjadi manusia. Namun, kekudusan tidak berarti pasif dan diam saja. Baik Maria maupun Yusuf secara aktif menerima peran unik dan vital dalam rencana Allah dalam keluarga mereka. Injil hari ini dari Matius khususnya berbicara tentang misi Yusuf, pelindung dan kepala Keluarga Kudus. Apa yang dapat kita pelajari dari kesaksiannya?

    Matius menceritakan bagaimana Yusuf memimpin keluarganya ke pengasingan. Diperingatkan dalam mimpi tentang niat jahat Herodes, ia membawa Maria dan Yesus dan melarikan diri pada malam hari ke Mesir. Setelah kematian Herodes, seorang malaikat kembali memerintahkan Yusuf untuk kembali—hanya untuk mengetahui bahwa putra Herodes, Archelaus, memerintah Yudea dengan kekejaman yang lebih besar. Jadi, Yusuf membimbing keluarganya bukan ke Betlehem, tetapi ke utara ke Nazaret di Galilea, di mana mereka dapat bersembunyi dan hidup dengan aman.

    Kisah Keluarga Kudus bukanlah kisah kenyamanan atau kesuksesan duniawi. Mereka mengalami penderitaan pengasingan, kerentanan para pengungsi, kelaparan, kemiskinan, serta tekanan memulai hidup dari awal. Di tengah cobaan-cobaan itu, Yusuf tetap teguh sebagai pelindung dan penyedia bagi keluarga kudus. Ia adalah penjaga yang tenang dan teguh yang memastikan keselamatan Yesus dan Maria.

    Yusuf tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun dalam Injil, namun perbuatannya berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Sebagai kepala keluarga, dia memahami apa yang harus dilakukan dan melaksanakannya dengan kesetiaan yang tenang. Dia adalah pria yang berani, rela menghadapi bahaya, ketidakpastian, dan kesulitan. Pada saat yang sama, dia adalah pria yang penuh cinta, siap mengorbankan waktunya, tenaganya, masa depannya, bahkan nyawanya untuk mereka yang dipercayakan padanya—Yesus dan Maria.

    Di atas segalanya, Yusuf adalah seorang pria yang memiliki iman dan doa yang mendalam. Kehendak Allah diungkapkan kepadanya melalui mimpi, yang dengan mudah dapat ia abaikan sebagai khayalan atau tipu daya sang jahat. Namun, Yusuf mengenali suara Allah yang berbicara melalui malaikat-Nya. Lebih dari sekadar mengenali asal usul ilahi mimpi tersebut, ia merespons dengan ketaatan yang segera dan tanpa ragu. Sadar akan risiko yang dihadapinya, Yusuf menaruh kepercayaan penuh pada Allah. Yusuf menunjukkan kepada kita bahwa kepemimpinan spiritual yang sejati dibangun atas mendengarkan, iman, dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah.

    Kita diundang untuk menjadi Yusuf yang baru dalam keluarga kita sendiri. Meskipun kita jauh dari sempurna, kita dapat memulai dengan meniru Santo Yusuf dalam cara-cara kecil dan setia. Seorang imam Dominikan, juga sahabat saya, pernah berbagi cerita tentang ayahnya. Dia mengakui bahwa ayahnya tidak terlalu religius, namun dia sangat berkomitmen pada satu praktik esensial: setiap Minggu, dia membawa seluruh keluarganya—istri dan lima anaknya—ke Misa. Selain itu, setiap dua bulan, dia memastikan semua anak-anaknya pergi ke pengakuan dosa. Yang paling mengesankan bagi romo ini adalah bahwa ayahnya selalu pergi ke pengakuan dosa terlebih dahulu, dengan tenang memberikan contoh bagi anak-anaknya. Saksi sederhana namun kuat itu meninggalkan bekas yang mendalam di hatinya dan akhirnya membawanya ke imamat.

    Banyak dari kita—termasuk saya sendiri—perlu belajar dari Santo Yusuf dan memohon perantaraannya untuk menjadi suami, orang tua, dan anggota keluarga yang lebih baik. Seperti dia, semoga kita menempatkan Tuhan di atas segalanya, melakukan pengorbanan harian karena kasih, menahan diri dari kemarahan, dan memilih pengampunan saat paling dibutuhkan.

    Santo Yusuf, doakanlah kami!

    Roma
    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan Refleksi:

    • Apakah kita mencintai Allah lebih dari diri kita sendiri?
    • Apakah kita bersedia melakukan pengorbanan kecil setiap hari karena cinta?
    • Bagaimana kita mengekspresikan amarah, terutama saat merasa frustrasi?
    • Bagaimana kita merespons saat hal-hal tidak berjalan sesuai rencana kita?
    • Apakah kita siap untuk memaafkan, bahkan saat itu sulit?

    Yusuf, Orang yang Benar

    Minggu Keempat Advent [C]

    21 Desember 2025

    Matius 1:18-24

    Seiring mendekati Natal, Injil memperkenalkan kita pada tokoh-tokoh kunci yang mengelilingi kelahiran Sang Mesias. Di antara mereka adalah Yusuf, ayah angkat Yesus. Matius, sang Injil, memberinya gelar yang mendalam: seorang “yang benar” (kata “tulus hati” sebenarnya kurang tepat). Apa artinya menjadi seperti Yusuf? Apa artinya menjadi benar?

    Matius menggunakan kata Yunani “δίκαιος” (dikaios), yang biasanya diterjemahkan sebagai “adil” atau “benar.” Dalam Alkitab, menjadi benar berarti hidup dalam ketaatan yang setia terhadap Hukum Allah, khususnya Taurat yang diberikan melalui Musa di Sinai. Kata sifat ini sangat penting bagi seorang Israel. Kitab Suci secara konsisten mengaitkan orang yang “benar”—yang hidup menurut Hukum Allah—dengan kebahagiaan dan berkat yang sejati. Mazmur 1 menyatakan, “Berbahagialah orang yang… bersukacita dalam hukum Tuhan, dan merenungkan hukum-Nya siang dan malam.” Amsal juga memuji, “Ingatan akan orang yang benar diberkati” (10:7). Mengapa hidup yang benar begitu layak dipuji dan memberikan berkat?

    Jawaban terletak pada cara orang Israel memahami Hukum Allah. Mereka tidak memandangnya sebagai pembatasan kebebasan, tetapi sebagai anugerah kasih dan identitas. Allah memberikan Hukum di Sinai setelah memilih Israel sebagai bangsa-Nya yang kudus. Oleh karena itu, hidup menurut Hukum bukanlah sekadar kewajiban; itu adalah tanda kesetiaan perjanjian mereka dan identitas mereka sebagai umat Allah. Pada dasarnya, mereka melihat Hukum sebagai bimbingan kasih Allah—jalan untuk menghindari jurang kesengsaraan dan rambu untuk mendekati-Nya, Sang Sumber segala berkat.

    Oleh karena itu, Yusuf disebut “benar” karena ia adalah orang Israel sejati yang merenungkan, mencintai, dan hidup menurut Hukum Allah. Selama masa pembentukannya, Yesus pasti menerima dari Yusuf tidak hanya pengetahuan tentang huruf-huruf Hukum, tetapi juga cinta Yusuf terhadap Allah dan perintah-perintah-Nya. Dalam Yusuf, Yesus dan Maria melihat seorang pria yang bahagia dan benar.

    Dari Santo Yusuf, kita belajar mencintai Allah melalui ketaatan yang setia. Namun, kita juga harus menghindari jebakan kekakuan dan legalisme, yang mengabsolutkan huruf-huruf hukum. Jika Yusuf memilih legalisme yang kaku, ia mungkin akan menerapkan hukuman terberat pada Maria saat mengetahui kehamilannya, yaitu rajam. Namun, keadilannya disempurnakan oleh kerahiman. Ia menyadari bahwa tujuan akhir Hukum adalah mengasihi Allah dan sesama, dan ini mendorongnya untuk melindungi hidup Maria. Yusuf adalah pria yang bahagia karena, melalui Hukum, ia mengasihi Allah dengan mendalam.

    Akhirnya, Yesus sendiri menghargai orang-orang yang “benar” dengan tinggi. Ia mengajarkan, “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran” (Mat 5:6), dan berjanji, “Maka orang-orang yang benar akan bersinar seperti matahari di kerajaan Bapa mereka” (13:43). Meskipun Yusuf tidak disebutkan secara eksplisit dalam ayat-ayat ini, pantaslah kita melihat dalam ayat-ayat ini cerminan kebajikan-Nya—kebajikan yang membentuk Keluarga Kudus Nazaret.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan untuk Renungan:

    Apakah saya berusaha mengenal Hukum Allah yang diwahyukan dalam Kitab Suci dan diajarkan oleh Gereja?

    Apakah saya merenungkan perintah-perintah Allah, mencari cara terbaik untuk hidup sesuai dengan cinta kepada Allah dan sesama?

    Apakah saya mengikuti aturan secara buta, atau apakah saya berusaha memahami roh dan tujuan di baliknya? Bagaimana saya memperlakukan mereka yang kesulitan hidup sesuai dengan aturan tersebut?

    Yohanes Pembaptis dan Integritas

    Minggu Kedua Advent [A]

    7 Desember 2025

    Matius 3:1-12

    Teguran Yohanes Pembaptis terhadap orang-orang Farisi dan Saduki sebagai “keturunan ular beludak” merupakan salah satu momen paling mengejutkan dalam Injil. Bagi telinga kita, hal itu terdengar seperti hinaan yang sangat keras. Mengapa Yohanes menggunakan bahasa yang begitu keras?

    Untuk memahami kata-katanya, kita harus terlebih dahulu melihat siapa Yohanes itu. Dia diakui secara luas sebagai nabi Allah, seorang pria dengan integritas yang tak tergoyahkan, hidupnya mencerminkan pesan yang dia sampaikan. Memanggil orang untuk bertobat dan kembali kepada Allah, dia sendiri hidup dalam kesederhanaan yang ekstrem—berpakaian bulu unta, makan belalang dan madu liar—mencerminkan penyesalan yang dia ajarkan. Konsistensi antara kata dan perbuatan ini membangun kredibilitasnya, menarik banyak orang ke Sungai Yordan untuk dibaptis sebagai tanda pertobatan mereka.

    Di antara mereka yang datang ada orang-orang Farisi dan Saduki. Meskipun kedua kelompok ini memiliki perbedaan teologis yang signifikan—seperti keyakinan orang Farisi tentang kebangkitan badan dan kanon Kitab Suci yang lebih luas, berbeda dengan orang Saduki—mereka memiliki sikap yang sama: keduanya mengklaim kesalehan yang superior dari orang-orang Israel yang lain berdasarkan pengetahuan mereka tentang Hukum Musa. Pengetahuan ini menjadi landasan untuk mendapatkan keistimewaan, menempatkan mereka dalam posisi kehormatan dan otoritas (lihat Lukas 14:7-11).

    Namun, permasalahan mendasar dari orang-orang Farisi dan Saduki adalah kemunafikan. Banyak di antara mereka mencari kehormatan tanpa mempraktikkan integritas yang menghasilkan penghormatan sejati. Mereka berdoa, berpuasa, dan memberi sedekah secara mencolok, melakukan tindakan-tindakan keagamaan sebagai pertunjukan publik dan bukan sebagai transformasi batin. Iman tanpa integritas, pada dasarnya, adalah kemunafikan.

    Yohanes menyebut mereka sebagai “keturunan ular beludak” karena, seperti ular di Kitab Kejadian yang menipu Hawa, tipu daya mereka juga menjauhkan orang dari Allah. Mereka datang ke Sungai Yordan bukan dengan penyesalan yang tulus, melainkan untuk memanfaatkan popularitas Yohanes dan mempertahankan citra kesalehan mereka. Bukan pertobatan tetapi pencitraan. Melihat niat mereka, Yohanes menegur mereka dengan tajam: “Berilah buah yang sesuai dengan penyesalan” (Matius 3:8).

    Bahaya kemunafikan tidak berakhir dengan para pemimpin agama pada abad pertama. Hal ini tetap menjadi godaan bagi siapa pun yang secara mendalam terlibat dalam kehidupan agama—termasuk kita semua. Menghadiri Misa, berpartisipasi dalam pelayanan, dan melakukan tindakan devosi, tanpa integritas dan pertobatan, dapat menjadi rutinitas yang menipu dan merusak. Kemunafikan tidak hanya merugikan si munafik, tetapi juga komunitasnya. Hal ini dapat melemahkan orang-orang yang beriman, melukai mereka yang tulus, dan memberikan amunisi bagi mereka membenci iman untuk mengejek kita. Tidak jarang karena sudah muak dengan kemunafikan, beberapa orang meninggalkan Gereja sama sekali.

    Advent berfungsi sebagai panggilan bangun yang profetik, menggema seruan Yohanes Pembaptis melintasi abad-abad. Praktik-praktik keagamaan kita—baik Ekaristi, pengakuan dosa, devosi, atau pelayanan—harus erat terhubung dengan tobat yang autentik dan pertumbuhan kekudusan yang tulus.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan untuk Refleksi:

    • Apa yang memotivasi aktivitas keagamaan saya—keinginan untuk dilihat dan dipuji, atau cinta sejati kepada Allah?

    • Apakah pilihan harian saya mencerminkan iman yang saya nyatakan? Apakah saya tetap dalam kebiasaan yang bertentangan dengan Injil sambil mempertahankan pengamalan eksternal?

    • Apakah saya menghakimi orang lain sementara gagal memenuhi standar yang saya tuntut dari diri sendiri?

    Raja di Salib

    Hari Raya Tuhan Yesus Kristus, Raja Semesta Alam

    23 November 2025

    Lukas 23:35-43

    Seiring dengan berakhirnya tahun liturgi, Gereja mengajarkan sebuah kebenaran yang mendalam: Yesus Kristus adalah Raja. Namun, apa arti hal ini?

    Hidup Yesus sepertinya bertolak belakang dengan setiap konsep duniawi tentang seorang raja. Dia bukanlah raja yang memimpin pasukan yang kuat atau mengendalikan sumber daya yang luas. Sungguh, Dia tidak memiliki tentara maupun emas. Bahkan, Dia wafat dengan cara yang paling memalukan, dipaku di salib, dan diolok-olok sebagai raja palsu, mesias tak berguna! Sebagian besar murid-Nya telah melarikan diri, meninggalkan hanya beberapa wanita setia yang menyaksikan akhir tragis-Nya. Jadi, kita harus bertanya: raja seperti apakah Yesus ini?

    Jawaban itu terungkap tepat di salib. Di sini, di tengah ketidakadilan dan ejekan, Yesus mendefinisikan ulang arti menjadi seorang raja. Bahkan dua penjahat yang disalibkan di samping-Nya awalnya ikut mengejek (Mrk 15:32). Namun, sesuatu yang luar biasa terjadi. Salah satunya mengalami perubahan hati dan berpaling kepada Yesus, berkata, “Yesus, ingatlah aku ketika Engkau datang ke dalam Kerajaan-Mu (Luk 23:42).” Di saat keputusasaan yang mendalam ini, “penjahat yang baik” mengakui Yesus sebagai raja sejati di takhta-Nya.

    Apa yang menyebabkan perubahan dramatis ini? Kunci jawabannya terdapat dalam kata-kata pencuri itu kepada penjahat yang lain: “Tidakkah kamu takut kepada Allah, padahal kamu berada di bawah hukuman yang sama? Kami dihukum dengan adil, karena kami menerima apa yang pantas kami dapatkan atas perbuatan kami, tetapi orang ini tidak bersalah (23:40-41).” Dia tahu Yesus tidak bersalah.

    Namun, lebih dari sekadar ketidakbersalahan Yesus, pencuri yang baik melihat sesuatu yang lebih dalam. Ia menyaksikan kasih yang mendalam dan bahkan tak terselami. Di tengah ketidakadilan, ia tidak mendengar kutukan atau kata-kata pahit dari Yesus. Sebaliknya, ia mendengar, “Bapa, ampunilah mereka; sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan (23:34).” Sementara dunia melemparkan amarah, kebencian, dan kekerasan kepada-Nya, Yesus tidak memperbesar hal itu dengan balas dendam. Ia menerimanya, membiarkannya berhenti pada-Nya, dan menjawab dengan kata-kata pengampunan.

    Pencuri yang baik menyadari bahwa kekuatan sejati bukanlah kemampuan untuk menimbulkan penderitaan, untuk memperkaya diri sendiri, atau untuk memperoleh lebih banyak kekuasaan, melainkan kekuatan untuk menanggung penderitaan dan mengubahnya menjadi kesempatan untuk mengasihi. Yesus, yang telah dilucuti dari segala kekuatan duniawi, menggunakan senjata terbesar: kasih dalam pengorbanan diri. Dia menunjukkan bahwa bahkan salib pun tidak dapat menghentikan-Nya untuk mengasihi—bahkan mengasihi mereka yang ingin menghancurkan-Nya.

    Dan dalam momen pengakuan dan permohonan yang rendah hati—“ingatlah aku”—Sang Raja menunjukkan kuasa-Nya yang sejati. Yesus tidak hanya menjanjikan imbalan di masa depan; Dia menyatakan kenyataan saat ini: “Hari ini engkau akan bersama-Ku di Firdaus.” Yesus, sang Raja, mengubah momen tergelap seorang penjahat yang dihukum mati menjadi sebuah Firdaus.

    Inilah kuasa Kristus, Raja kita. Ia mengundang kita, seperti pencuri yang baik, untuk menerima kuasa-Nya dan menghidupi hukum kasih. Ketika kita melakukannya, Dia mulai melakukan transformasi dalam diri kita, mengubah momen-momen penderitaan, kebingungan, dan dosa kita menjadi awal dari Firdaus, yang adalah Kerajaan-Nya.

    Surabaya

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan untuk Refleksi:

    •    Warga Kerajaan Allah adalah pembawa damai yang mencari keadilan tanpa kekerasan. Ketika orang lain menyakiti kita, apa respons kita? Apakah kita menghindar dari mereka, menginginkan mereka menderita, atau berusaha menyakiti mereka dengan cara yang sama? Atau apakah kita, seperti Raja kita, berdoa untuk pertobatan mereka?

    •    Warga Kerajaan Allah adalah orang-orang yang murni hatinya. Apa yang memenuhi hati kita? Apakah kebencian, kepahitan, dan amarah? Atau apakah pengampunan, belas kasih, dan hal-hal ilahi?

    Pekerjaan sebagai Berkat

    Minggu Biasa ke-33 [C]

    16 November 2025

    2 Tesalonika 3:7-12

    Bekerja merupakan bagian esensial dari kehidupan manusia. Kita dapat mendefinisikannya sebagai aktivitas yang membutuhkan usaha untuk menyelesaikan suatu tugas, baik itu mengumpulkan makanan, membangun rumah, atau merawat orang lain. Namun, bekerja bukanlah hal yang unik bagi manusia. Di dunia hewan, kita melihat kerja keras yang luar biasa: lebah pekerja membangun, membersihkan, dan melindungi sarang mereka, mencari nektar, bahkan mengatur suhu sarang, sementara berang-berang membangun bendungan kompleks sebagai tempat tinggal aman dan tempat penyimpanan makanan selama musim dingin.

    Meskipun kita dan hewan sama-sama bekerja, ada perbedaan mendasar. Sebagian besar hewan bekerja berdasarkan insting untuk memastikan kelangsungan hidup dan kelangsungan spesies mereka. Sementara, tujuan kita dalam bekerja bukan hanya sekedar demi kelangsungan hidup. Kita bekerja juga untuk berkembang dan membangun dunia yang lebih baik bagi diri kita sendiri dan anak-anak kita. Hal ini dimungkinkan karena anugerah unik yang kita miliki, yakni akal budi. Dengan akal budi, kita mampu memahami rahasia alam semesta, dan kemudian membangun alat, dan mengembangkan teknologi untuk memanfaatkan alam demi kebaikan bersama.

    Akal budi ini adalah anugerah fundamental dari Allah, yang diberikan kepada kita sebagai makhluk yang diciptakan menurut citra-Nya. Melalui akal budi ini, kita diberi kuasa untuk berpartisipasi dalam karya penciptaan Allah sendiri. Dalam Kejadian 1:28, Allah memerintahkan Adam dan Hawa untuk “menaklukkan” bumi. Penaklukan ini bukan izin untuk merusak, melainkan panggilan untuk menjadi pengelola yang baik. Hal ini dijelaskan lebih lanjut di Kejadian 2:15, di mana Allah menempatkan Adam di taman “untuk melayani dan menjaga taman itu.” Tugas pria dan wanita adalah menggunakan akal budi yang diberikan Allah untuk mengolah dunia sesuai kehendak-Nya—untuk kebaikan semua orang, termasuk generasi mendatang, dan melindunginya dari keserakahan dan eksploitasi manusia.

    Ketika kita bekerja dengan jujur dan tekun, kita benar-benar menjadi rekan kerja Allah dalam membangun dunia yang lebih baik. Dengan berpartisipasi dalam pekerjaan suci-Nya, usaha kita sendiri menjadi sarana pengudusan kita. Itulah mengapa Santo Paulus dengan tegas menegur orang-orang Tesalonika yang meninggalkan pekerjaan dan bergantung pada orang lain untuk penghidupan mereka (2 Tes 3:10). Kemalasan tidak memiliki tempat dalam rencana Allah; bahkan, ini termasuk di antara tujuh dosa pokok.

    Namun, kesalahpahaman tentang tujuan kerja juga menimbulkan bahaya spiritual. Ketika pekerjaan menghabiskan sebagian besar waktu dan energi kita, kita dapat mulai mengidentifikasi diri sepenuhnya dengan profesi kita. Kita menghadapi risiko untuk percaya bahwa “kita adalah apa yang kita lakukan.” Kitapun hidup dalam ketakutan kehilangan pekerjaan, keunggulan kompetitif, atau kemampuan untuk mencapai kesuksesan. Terkadang, kita bahkan tenggelam dalam pekerjaan, bersembunyi di balik gelar “pekerja yang sukses” untuk menghindari tanggung jawab lain atau bahkan untuk menyembunyikan kegagalan kita sebagai seorang suami atau ayah.

    Inilah kebijaksanaan mendalam dari istirahat Allah pada hari ketujuh (Kej 2:1-3). Allah tidak beristirahat karena lelah, tetapi untuk mencontohkan kebebasan yang harus kita klaim: kita tidak boleh menjadi budak pekerjaan kita. Identitas kita jauh lebih besar daripada profesi kita. Meskipun pekerjaan memberi makna pada hidup kita, itu bukanlah makna satu-satunya, dan tentu saja bukan makna akhir kita. Pada hari istirahat, kita diundang untuk meletakkan status, prestasi, dan kesuksesan kita, dan mengingat identitas utama kita sebagai anak-anak yang dikasihi Allah.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan untuk Refleksi:

    • Bagaimana saya memandang pekerjaan dan profesi saya? Apakah itu panggilan, sekadar pekerjaan, atau sesuatu yang lain?
    • Ketika saya takut kehilangan pekerjaan, apa sumber sebenarnya dari ketakutan itu? Apakah itu kehilangan stabilitas finansial, atau ketakutan yang lebih dalam akan kehilangan arah dan identitas saya?
    • Apakah saya benar-benar mengamalkan hari istirahat, meletakkan pekerjaan untuk terhubung kembali dengan Allah dan orang-orang terkasih, atau apakah saya membiarkan pekerjaan mengganggu waktu kudus ini?

    Basilika Santo Yohanes Lateran

    Pesta Pendirian Basilika Lateran di Roma [C]

    9 November 2025

    Yohanes 2:13-22

    Hari ini, Gereja merayakan Peresmian Basilika Santo Yohanes Lateran di Roma. Mungkin banyak dari kita tidak tahu dengan basilika ini, dan yang lain mungkin bertanya-tanya mengapa pemberkatannya dirayakan dengan begitu khidmat. Untuk memahami hal ini, kita harus kembali ke sejarah awal Gereja Katolik.

    Komunitas Kristen pertama di Roma kemungkinan didirikan sekitar tahun 33-34 M. Kisah Para Rasul menceritakan bahwa para peziarah Yahudi dari Roma hadir pada Hari Pentekosta, mendengarkan khotbah Petrus, dibaptis, dan membawa iman kembali ke ibu kota kekaisaran (Kis 2:1-42). Inilah benih Gereja di Roma. Ketika Santo Petrus sendiri tiba di sana, ia diakui sebagai pemimpin—Uskup Roma pertama.

    Selama berabad-abad, Gereja muda ini mengalami penganiayaan yang brutal. Penganiayaan pertama yang disahkan negara dimulai di bawah Kaisar Nero pada tahun 65 M, yang menyalahkan orang-orang Kristen atas kebakaran besar di Roma. Penganiayaan Nero menewaskan Rasul besar Petrus dan Paulus. Namun, penganiayaan yang paling sistematis dan kejam datang kemudian di bawah Kaisar Diocletian (303-311 M), yang memerintahkan penghancuran kitab suci, tempat-tempat suci, dan eksekusi dari anggota Gereja di seluruh kekaisaran.

    Era kegelapan ini berganti menjadi cahaya. Setelah Diocletian, kekaisaran Romawi terjerumus ke dalam perang saudara. Beberapa jenderal, termasuk Konstantinus, bertarung untuk takhta. Pada malam sebelum pertempuran di jembatan Milvian yang menentukan, pada tahun 312 M, Konstantinus melihat penglihatan salib di langit dengan kata-kata, “En Toutō Nika”—“Dalam tanda ini, engkau akan menang.” Setelah penglihatan ini, ia memerintahkan pasukannya untuk menandai perisai mereka dengan simbol Chi-Rho (☧), dua kata huruf pertama dari Kristus di dalam bahasa Yunani. Setelah kemenangan dan menjadi kaisar, Konstantinus tidak hanya mengakhiri penganiayaan terhadap umat Kristiani tetapi juga menjadi pelindung kuat bagi Gereja.

    Sebagai ungkapan syukur, ia mendonasikan tanah milik keluarga Lateran kepada Gereja. Di tanah tersebut, ia membangun basilika besar yang didedikasikan untuk Kristus Sang Penyelamat—basilika kepausan publik pertama (kemudian, basilika ini juga didedikasikan kepada Santo Yohanes Pembaptis dan Santo Yohanes Penginjil). Paus Silvester menerima hadiah ini dan menetapkannya sebagai katedralnya – tahta resmi Uskup Roma. Ini adalah pergeseran monumental: Gereja keluar dari katakombe yang tersembunyi ke ruang publik, tanda kuat akan penyelenggaraan Allah dan kemenangan iman.

    Itulah mengapa Basilika Santo Yohanes Lateran memegang gelar “Omnium Urbis et Orbis Ecclesiarum Mater et Caput”—“Ibu dan Kepala Semua Gereja di Kota dan Dunia.” Meskipun para paus memindahkan kediaman mereka ke Vatikan pada abad ke-14 setelah kebakaran, Lateran tetap menjadi katedral kota Roma. Oleh karena itu, dalam merayakan pendiriannya, kita merayakan sejati dasar Gereja Roma, Takhta Petrus, dan kemenangan Gereja Kristus atas dunia dan kejahatan.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan panduan:

    Apakah kita benar-benar menyadari sejarah yang kaya dan panjang dari Gereja kita? Apakah kita menyadari bahwa kita merupakan bagian dari keluarga Katolik yang lebih besar dan universal yang tersebar di seluruh dunia? Seberapa dalam kita hidup dalam iman kita setiap hari? Apakah kita pernah mengalami penganiayaan, ataukah kita diberkati dengan kebebasan untuk mengekspresikan iman kita secara terbuka? Apa yang kita lakukan—secara pribadi dan sebagai komunitas—untuk membantu Gereja kita tumbuh dalam iman, kasih, dan kesaksian?

    St. Yusuf dan Kematian yang Bahagia

    Peringatan Semua Arwah Orang Beriman

    2 November 2025

    Yohanes 6:37-40

    St. Yusuf, ayah angkat Yesus, dikenal sebagai teladan kudus bagi suami, ayah, dan pekerja. Namun, ia juga memiliki gelar yang jarang orang tahu: santo pelindung bagi kematian yang bahagia. Namun, apa artinya gelar ini? Bagaimana kematian, yang seringkali dipenuhi dengan ketakutan dan kesedihan, bisa dianggap bahagia?

    Untuk memahaminya, kita harus terlebih dahulu mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: Apa yang dimaksud dengan kematian yang bahagia? Apakah itu berarti dikelilingi oleh keluarga saat ajal menjemput di usia tua, dan bebas dari rasa sakit? Atau saat kita mati, kita menerima ibadat kematian yang indah di pemakaman yang terawat dengan baik? Sejatinya, kebahagiaan dan kematian tampaknya merupakan dua konsep yang tak dapat dipertemukan. Kita secara alami diciptakan untuk hidup; kita secara naluriah menolak rasa sakit dan penderitaan yang mengingatkan kita pada kematian. Jadi, bagaimana kita bisa menemukan kebahagiaan dalam kematian, sebuah peristiwa yang ditolak oleh seluruh keberadaan kita? Mencari kematian yang bahagia terasa seperti hal yang mustahil.

    Di sinilah St. Yusuf datang untuk membantu kita. Hidupnya memberikan jawaban atas teka-teki mendalam ini. Tradisi Katolik mengajarkan bahwa pada saat kematiannya, Yusuf tidak sendirian. Ia berada dalam pelukan Yesus dan Maria. Kebersamaan suci ini pada akhir hidup Yusuf merupakan puncak dari kehidupan yang dijalani dalam persekutuan yang konstan dengan Allah. Kunci kematian yang bahagia adalah hidup yang dijalani bersama Allah.

    Dalam iman Katolik, kematian adalah tindakan akhir dan menentukan dalam hidup, yang secara kekal mengukuhkan pilihan kita untuk atau melawan Allah. St. Yusuf mewakili teladan ideal: di ranjang kematiannya, ia berpaling kepada Yesus, anak angkatnya dan juga Tuhan yang maharahim, serta kepada Maria, istrinya dan juga Bunda Allah. Kematiannya bahagia karena Yesus yang ia peluk dengan napas terakhirnya adalah Yesus yang sama yang menyambutnya ke dalam kebahagiaan abadi surga.

    Namun, St. Yusuf tidak hanya hanya mengajarkan tentang bagaimana menghadapi kematian, tetapi secara mendasar bagaimana kita hidup. Injil menggambarkannya sebagai “orang yang benar” (Mat 1:19). Seluruh hidupnya adalah “ya” yang setia kepada Allah. Sebuah pengabdian kepada kehendak Allah yang seringkali membawa Yusuf pada penderitaan. Ia menghadapi ketidakpastian, pengasingan, dan kesulitan demi keluarga yang dipercayakan kepadanya. Karena ia menghabiskan hidupnya mencari Tuhan dalam setiap keadaan, maka sangat alamiah baginya untuk mencari Yesus pada saat terakhirnya. Kematiannya yang baik adalah buah dari hidup yang setia.

    Saat kita berdoa untuk orang-orang terkasih yang telah meninggal, Santo Yusuf memberikan kita harapan yang mendalam. Ia mengingatkan kita bahwa bagi mereka yang hidup dengan setia bersama Kristus, kematian tidak menghancurkan kehidupan tetapi menyempurnakannya. Kematian bukan akhir, tetapi gerbang menuju sukacita yang tak terpadamkan. Inilah kematian yang bahagia.

    Santo Yusuf, pelindung kematian yang bahagia, doakanlah kami!

    Rome

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan Panduan untuk Refleksi:

    Apakah kita menumbuhkan kehidupan bersama Kristus yang mempersiapkan kita untuk menghadapi kematian dengan damai? Apakah kita melihat kematian sebagai akhir yang menakutkan, atau sebagai jalan menuju kehidupan abadi? Dalam pilihan-pilihan harian kita, apakah kita membangun kebiasaan untuk berpaling kepada Yesus, seperti yang dilakukan Yusuf? Apakah kita mencari perantaraan Santo Yusuf, memintanya untuk berdoa bagi kematian yang suci bagi diri kita sendiri dan bagi semua yang paling membutuhkannya?

    Mengapa Perlu Menunggu?

    Minggu ke-29 dalam Masa Biasa [C]

    19 Oktober 2025

    Lukas 18:1-8

    Dalam perumpamaan tentang janda yang gigih dan hakim yang tidak adil, Yesus memberi kita perintah yang jelas: “Berdoalah selalu!” Ia mengajak kita untuk tetap teguh, terutama ketika Allah meminta kita untuk menunggu jawaban-Nya. Namun, mengapa Bapa yang penuh kasih, yang mengetahui kebutuhan kita, mengizinkan penantian ini?

    Periode penantian ini bukanlah tanda ketidakhadiran Allah, melainkan kasih-Nya yang mendalam. Berikut tiga alasan mengapa Allah mungkin mengizinkan kita menanti.

    1. Waktu Menyembuhkan dan Memurnikan Doa-doa Kita

    Seringkali, doa-doa kita lahir dari emosi yang intens—kesedihan, penderitaan, atau bahkan amarah. Dalam kegelisahan kita, kita bisa membingungkan antara kebutuhan sejati kita dengan keinginan egois. Kita tidak selalu tahu apa yang benar-benar baik untuk kita.

    Allah menggunakan waktu untuk membantu kita menenangkan hati dan menyucikan niat kita. Waktu membantu kita untuk membentuk ulang doa-doa kita, mengubahnya dari tuntutan menjadi dialog, dari permohonan untuk keuntungan pribadi menjadi kata-kata penyerahan dan pengharapan, dari “Jadilah sesuai kehendakku” menjadi “Jadilah kepadaku sesuai kehendak-Mu.”

    2. Waktu Membangun Keutamaan

    Kita hidup di dunia yang mengutamakan hasil instan, dan kita dapat membawa ketidaksabaran ini ke dalam hubungan kita dengan Allah. Ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan secara instan, kita dapat menjadi gelisah dan frustrasi, dan bahkan marah.

    Menunggu mengajarkan kita kesabaran—yang bukan hanya kemampuan untuk menunggu, tetapi kemampuan untuk mempertahankan sikap baik saat menunggu. Seperti yang diingatkan oleh St. Fransiskus de Sales, “Setiap dari kita membutuhkan setengah jam doa setiap hari, kecuali ketika kita sibuk, maka kita membutuhkan satu jam.” Semakin kita berdoa dengan sabar, semakin kita menyadari bahwa banyak hal di luar kendali kita. Namun, meskipun kita lemah, kita tidak putus asa atau kehilangan harapan karena kita kini bergantung pada Allah Pencipta langit dan bumi.

    3. Waktu Mendalamkan Kedekatan Kita dengan Allah

    Mudah bagi kita untuk memperlakukan Allah seperti mesin penjual otomatis surgawi. Masa penantian mengalihkan perhatian kita dari pemberian yang kita cari ke Sang Pemberi.

    Semakin banyak waktu yang kita habiskan dalam doa yang penuh kesabaran, semakin kita mencari untuk mengenal Allah sebagaimana Dia adanya—bukan hanya sebagai pemberi keinginan, tetapi sebagai Bapa yang penuh kasih. Kita tidak berfokus lagi pada daftar kebutuhan kita tetapi pada hubungan kita dengan-Nya. Inilah inti doa, yang didefinisikan oleh Santa Teresa dari Ávila sebagai “tidak lain daripada menjalin persahabatan dengan Allah.”

    Seorang biarawati senior pernah berbagi kisah tentang bagaimana, saat masih menjadi novis muda, ia ingin meninggalkan biara untuk bekerja dan mendukung ibunya secara finansial. Doanya dipenuhi dengan berbagai rencana apa yang akan dia lakukan di luar. Pembimbing rohaninya dengan lembut bertanya, “Apakah meninggalkan biara benar-benar yang terbaik? Apakah Allah terbatas pada satu cara saja untuk menolong?”

    Ia mulai mengubah doanya. Ia berhenti memberi tahu Allah apa yang harus dilakukan dan mulai menyerahkan ibunya sepenuhnya kepada penyelenggaraan-Nya. Seiring waktu, kerabat dan teman-temannya datang untuk mendukung ibunya, dan ia menemukan kedamaian untuk tetap setia pada panggilannya. Kisah sederhana ini menunjukkan bagaimana Allah menggunakan waktu untuk menyucikan doa-doa kita dan mendekatkan kita kepada-Nya.

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan Panduan untuk Refleksi Pribadi:

    • Apakah saya berdoa? Apakah ada ruang yang konsisten dan harian untuk Tuhan dalam hidup saya?
    • Bagaimana cara saya berdoa? Apakah doa saya sekadar daftar permintaan, ataukah itu percakapan yang termasuk mendengarkan?
    • Seberapa lama saya berdoa? Apakah saya menyerah ketika jawaban tidak segera datang?
    • Apa yang saya minta dari Allah? Apakah doa-doa saya berfokus pada kehendak saya, atau pada upaya untuk memahami kehendak-Nya?
    • Bagaimana reaksi saya ketika tidak mendapatkan apa yang saya doakan? Apakah hal itu menimbulkan keraguan, atau justru memperdalam kepercayaan pada kebijaksanaan-Nya?
    • Apakah saya meminta anugerah? Apakah saya berdoa tidak hanya untuk hasil tertentu, tetapi juga untuk kekuatan, kedamaian, dan kepercayaan untuk menanggung penantian?