Apa itu Iman?

Minggu ke-19 dalam Masa Biasa

10 Agustus 2025

Ibrani 11:1-2, 8-19

Penulis Surat kepada Orang Ibrani memberikan definisi yang mendalam tentang iman: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang diharapkan, bukti dari hal-hal yang tidak terlihat” (Ibrani 11:1). Namun, bagaimana kita memahami definisi ini?

Iman sebagai Fondasi yang Kokoh

Kata Yunani yang digunakan untuk “dasar” adalah ὑπόστασις (hupostasis), yang secara harfiah berarti “yang berada di bawah.” Gambaran yang ingin diberikan adalah iman seperti fondasi yang kokoh. Ini berarti bahwa iman bukanlah emosi yang sementara atau ledakan keyakinan sesaat. Iman bukanlah sesuatu yang dapat dihasilkan secara instan melalui musik yang keras atau teriakan yang kuat. Sebaliknya, iman adalah keyakinan yang kokoh dan tak tergoyahkan terhadap janji-janji Allah. Iman menjadi fondasi bagi kita dan memberikan substansi pada apa yang kita harapkan meskipun kita belum dapat melihatnya.

Iman sebagai Bukti yang Meyakinkan

Penulis juga menggambarkan iman sebagai “bukti” dan dalam bahasa Yunani, ἔλεγχος (elengkos). Istilah yang sering digunakan dalam konteks hukum untuk merujuk pada bukti yang tak terbantahkan. Di ruang sidang, bukti yang terverifikasi menentukan seseorang bersalah atau tidak bersalah. Demikian pula, iman berfungsi sebagai konfirmasi yang tak terbantahkan atas realitas rohani yang tidak dapat kita rasakan dengan indra fisik kita, seperti mata, telinga, dan mulut. Meskipun tidak terlihat, realitas-realitas ini sungguh nyata karena iman bersaksi tentang kebenarannya.

Dari Mana Datangnya Iman Seperti Itu?

Namun, bagaimana mungkin iman bisa begitu kuat? Bagaimana bisa iman berfungsi sebagai dasar dan bukti sekaligus? Jawabannya terletak pada sumbernya: iman tidak berasal dari dalam diri kita, melainkan dari kesetiaan Allah. Janji-janji yang kita harapkan bukanlah keinginan manusia, melainkan jaminan ilahi karena Allah sendiri yang telah mengucapkan janji. Karena Allah dapat dipercaya, iman kita berakar pada komitmen-Nya yang tak berubah untuk menepati janji-janji-Nya.

Lalu, bagaimana kita tahu bahwa Allah benar-benar setia? Sejarah membuktikannya. Perjanjian Lama dipenuhi dengan kisah-kisah Allah yang menepati janji-Nya, dan Surat Ibrani menyoroti Abraham sebagai contoh utama. Pada usia tujuh puluh lima tahun, Abraham menaati panggilan Allah untuk meninggalkan tanah airnya yang nyaman menuju masa depan yang tidak diketahui dan tanah yang belum terjamah. Meskipun usianya sudah tua dan Sarah mandul, ia percaya pada janji Allah tentang keturunan yang sebanyak bintang di langit. Bahkan ketika diuji dengan hal yang tak terbayangkan, yaitu mengorbankan putranya Ishak, Abraham tetap percaya pada kesetiaan Allah bahwa segala sesuatu akan berakhir dengan baik. Ia meninggal tanpa melihat penuhnya janji itu terpenuhi, namun janji-janji Allah pada akhirnya terwujud.

Surat Ibrani menunjukkan kepada kita bahwa kesetiaan Allah, yang ditunjukkan melalui generasi demi generasi, mencapai puncaknya dalam Yesus Kristus. Dia adalah ekspresi akhir dan paling sempurna dari janji-janji Allah. Dia dilahirkan seperti kita manusia, menderita dan wafat bagi kita, dan bangkit dari kematian. Iman kita, oleh karena itu, tidak hanya didasarkan pada emosi atau akal budi manusia saja, tetapi pada tindakan-tindakan historis Allah, yang terbukti dalam kehidupan orang-orang percaya sebelum kita dan dikukuhkan dalam Kristus. Iman lebih dari sekadar keyakinan. Iman adalah fondasi kokoh pada Dia yang tidak pernah gagal. Dan karena Allah setia, kita dapat berdiri teguh, bahkan ketika jalan di depan tidak terlihat.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi

Bagaimana kita memahami iman? Apakah itu sekadar perasaan emosional, hasil logika, atau pertemuan pribadi dengan Allah? Apakah kita pernah menghadapi momen keraguan atau krisis iman? Bagaimana kita mengatasinya? Bagaimana pengakuan akan kesetiaan Allah dalam Kitab Suci memperkuat kepercayaan kita kepada-Nya hari ini?

Semua adalah kesia-siaan

Minggu ke-18 dalam Masa Biasa [C]

3 Agustus 2025

Pengkhotbah 1:2; 2:21-23

“‘Segala sesuatu adalah kesia-siaan!’ kata Qoheleth (Pengkhotbah 1:2; 12:8).” Apa arti pernyataan yang keras ini? Apakah setiap usaha manusia benar-benar sia-sia?

Suara di balik kitab ini memperkenalkan dirinya sebagai Qoheleth—sebuah istilah Ibrani yang berarti “orang yang mengumpulkan orang-orang,” tentunya dengan tujuan untuk memberikan pengajaran. Oleh karena itu, Qoheleth sering diterjemahkan sebagai “sang Guru” atau “sang Pengkhotbah.” Dia mengidentifikasi dirinya sebagai putra Daud dan raja di Yerusalem (1:1), seorang tokoh yang dianugerahi kebijaksanaan, kekuasaan, dan kekayaan yang luar biasa. Namun, dari posisi yang tinggi ini, setelah seumur hidup merenungkan makna hidup, dia akhirnya menyimpulkan: Segala sesuatu adalah “hevel.”

Kata Ibrani hevel (הֶבֶל) menggambarkan uap, angin yang berlalu, atau nafas yang singkat. Seperti kabut yang menghilang di kala fajar, hevel mewakili apa yang sementara, sulit ditangkap, dan pada akhirnya tidak dapat memuaskan. Metafora yang Qoheleth gunakan adalah “seperti mengejar angin” (1:14), dan hal ini menggambarkan dengan jelas perjuangan manusia yang tak henti-hentinya untuk sesuatu yang pada akhirnya tidak dapat digapai.

Perjalanan Qoheleth dimulai dengan mencari kebijaksanaan itu sendiri. Ia menceritakan bagaimana ia mengejar pengetahuan tanpa henti, melampaui semua orang yang datang sebelumnya (1:16). Namun, alih-alih kepuasan, ia menemukan bahwa kebijaksanaan yang lebih besar justru menambah kesedihannya (1:18). Hal ini tampak paradoksal— bukankah kita menganggap bahwa belajar membawa kejelasan dan kedamaian? Qoheleth mengungkapkan batas-batas kebijaksanaan duniawi: semakin kita tahu, semakin kita dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab tentang kehidupan dan kematian kita sendiri.

Kesenangan pun tak lebih baik. Ia menguji setiap kesenangan, seperti kemewahan, seni, kenikmatan sensual (2:1-11), dan dia menyimpulkan bahwa kesenangan ini bersifat sementara. Kekayaan dan prestasi pun terbukti sama kosongnya. Tak ada yang dibawa ke kubur; ahli waris mungkin menghamburkannya, dan bahkan pencapaian terbesar pun lenyap dari ingatan. Kematian, sang penyama, menjadikan semua pencapaian manusia tak berarti (2:14-16; 9:2-6).

Di tengah realisme yang keras ini, Qoheleth mengingatkan pendengarnya pada satu kebenaran yang tak berubah: “Takutlah kepada Allah dan taatilah perintah-Nya, sebab inilah seluruh kewajiban manusia” (12:13). Di dunia di mana segala sesuatu lepas dari jari-jari kita seperti pasir, hanya Allah yang kekal. Tujuan kita bukanlah untuk mengumpulkan apa yang sementara, tetapi untuk menyelaraskan hidup kita dengan kehendak-Nya yang kekal.

Namun, perspektif Qoheleth tetap terikat pada dunia ini. Ia berjuang dengan kehidupan “di bawah matahari” tetapi tidak menawarkan harapan yang jelas setelah kematian. Kematian, baginya, tampak seperti batas akhir yang sunyi (3:19-20; 9:5-6). Adalah Yesus yang kemudian membawa ketegangan ini ke dalam penyelesaian yang sempurna. Dalam perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh (Lukas 12:13–21), Kristus mengulang peringatan Qoheleth tentang bahaya mengikat diri pada harta duniawi, namun memperluasnya dengan janji kehidupan kekal. Apa yang kita lakukan dan apa yang kita memiliki sekarang menjadi berarti karena di dalam Kristus, semua ini mempersiapkan kita untuk hidup kekal. Selama kita tidak menjadi seperti orang bodoh yang terikat pada hal-hal duniawi, kita selalu memiliki harapan bahwa apa yang kita lakukan dan miliki menjadi berkat bagi kita dan sesama.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi:

Bagaimana perspektif Qoheleth menantang asumsi modern tentang kesuksesan? Dalam hal apa kita telah mengalami “kesia-siaan” dalam hidup ini? Bagaimana pengajaran Yesus tentang kehidupan kekal mengubah cara kita berinteraksi dengan hal-hal sementara?

Krisis Kebapaan

Minggu ke-17 dalam Masa Biasa [C]

27 Juli 2025

Lukas 11:1-13

Banyak masyarakat saat ini menghadapi krisis yang sunyi namun sangat berbahaya: krisis kebapaan. Namun, apa sebenarnya krisis ini, dan bagaimana kita dapat menghadapinya?

Pada intinya, krisis ini mencerminkan kenyataan di mana jutaan anak tumbuh tanpa figur ayah yang autentik. Banyak ayah secara fisik tidak hadir; yang lain secara emosional jauh atau gagal mencontohkan nilai-nilai yang sangat dibutuhkan anak-anak mereka. Sementara itu, budaya modern—melalui film, iklan, video game, dan media—sering menggambarkan pria sebagai penjahat yang kejam atau sosok yang ceroboh dan tidak tegas. Jarang sekali mereka digambarkan sebagai pemimpin yang penuh kasih dan bertanggung jawab.

Erosi peran bapak ini lambat laun merusak struktur masyarakat. Studi secara konsisten menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan tanpa keterlibatan sang ayah menghadapi risiko lebih tinggi terhadap penyalahgunaan narkoba dan alkohol, gangguan mental, prestasi akademik yang buruk, kehamilan remaja, dan perilaku kriminal. Akibatnya sangat mendalam dan luas bagi masyarakat kita.

Bagaimana kita menghadapi krisis ini? Tidak ada solusi yang mudah, tetapi kita dapat memulai dengan berpaling kepada Yesus. Di hadapan tantangan global ini, doa yang Dia ajarkan kepada murid-murid-Nya, yang kita kenal sebagai Doa Bapa Kami, menjadi lebih semakin relevan bagi dunia.

Aspek paling mencolok dari doa ini adalah cara Yesus mengajarkan kita untuk memanggil Allah. Meskipun Allah adalah Pencipta Yang Mahakuasa dari langit dan bumi, Allah dari Perjanjian Lama, Yesus tidak hanya mengajarkan kita untuk memanggil-Nya “Allah,” tetapi Dia mengajarkan kita untuk memanggil-Nya, “Bapa Kami yang di surga.” Dengan menggunakan istilah yang intim dan manusiawi ini, Yesus mengungkapkan kebenaran yang mendalam: Allah bukan hanya maha kuasa, tetapi juga sangat dekat dengan kita. Dia bukan tuhan yang jauh, absen, dan acuh tak acuh, tetapi Bapa yang penuh kasih yang menyediakan, melindungi, dan membimbing anak-anak-Nya. Seperti yang diingatkan dalam Ulangan 4:7, Dia dekat “setiap kali kita memanggil-Nya.”

Namun Yesus lebih lanjut menjelaskan bahwa Allah adalah “Bapa di surga”. Dia berbeda dengan ayah-ayah di dunia ini, yang memiliki kelemahan dan keterbatasan. Allah mengasihi kita dengan sempurna, memberikan sinar matahari dan hujan kepada orang yang benar maupun yang tidak benar (Mat 5:45). Bahkan dalam penderitaan, cara-Nya mungkin tampak misterius, tetapi kebijaksanaan-Nya sebagai Bapa tetap bekerja bahkan di tengah cobaan. Pada akhirnya, keinginan-Nya yang paling dalam adalah agar kita tinggal bersama-Nya di surga (1 Tim 2:3-4). Seperti yang Yesus nyatakan dalam Yohanes 3:16, “Sebab Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Bapa mengasihi kita, anak-anak-Nya, begitu dalam sehingga Ia mengutus Anak-Nya sendiri untuk menjadi manusia seperti kita agar membawa kita pulang.

Setiap kali kita berdoa “Bapa Kami,” kita menegaskan dua kebenaran: Pertama, meskipun kita tidak sempurna, kita memiliki Bapa yang sempurna yang mengasihi kita tanpa syarat. Kedua, doa ini memanggil kita, terutama kaum pria, untuk mencerminkan kebaikan-Nya. Yesus menantang kita untuk tumbuh dari ketidakdewasaan dan ketidakpedulian menjadi manusia yang memiliki kasih, dedikasi, dan tanggung jawab, manusia yang bersandar pada kekuatan-Nya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan: Bagaimana kita berhubungan dengan ayah kita? Apa pelajaran yang telah kita pelajari dari mereka? Apakah kita menjadi bapa yang baik (atau teladan) bagi generasi berikutnya? Bagaimana mengakui Allah sebagai “Bapa” mengubah hubungan kita dengan-Nya?

Sukacita dalam Penderitaan

Minggu ke-16 dalam Masa Biasa [C]

20 Juli 2025

Kolose 1:24-28

Penderitaan adalah bagian yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan manusia. Berbagai agama dan filsafat telah berusaha untuk menjelaskan makna dari penderitaan. Namun, bagaimana pandangan Kristiani tentang penderitaan? Apa bedanya dengan pandangan-pandangan lain?

Beberapa orang memandang penderitaan sebagai hukuman ilahi atas kesalahan kita, menyiratkan bahwa mereka yang menderita pastilah orang yang bersalah dan berdosa. Yang lain menganggapnya sebagai ilusi, dan mengajak kita untuk mengabaikannya. Beberapa mengaitkannya dengan “karma” atau hasil dari tindakan buruk di kehidupan sebelumnya. Sementara yang lain melihatnya sebagai sesuatu yang tidak berarti, sesuatu yang harus dihindari dengan cara apa pun.

Namun, apa yang diajarkan oleh Kitab Suci dan iman kita tentang penderitaan? Apakah perspektif kita berbeda dengan yang lain? Perjanjian Lama bergumul juga dengan pertanyaan ini, khususnya dalam Kitab Ayub. Ayub adalah orang yang benar dan saleh, namun ia mengalami penderitaan yang luar biasa. Para sahabat Ayub mengatakan dia berdosa, tetapi Ayub bersikeras bahwa dia tidak bersalah. Akhirnya, Kitab Ayub menjawab bahwa penderitaan Ayub bukanlah hukuman, tetapi bagian dari rencana misterius Tuhan untuk memurnikan imannya. Kitab Ayub menentang pemikiran sederhana bahwa penderitaan selalu merupakan konsekuensi dari dosa.

Dalam Perjanjian Baru, Santo Paulus menawarkan sebuah perspektif yang radikal. Ia menulis, “Aku bersukacita dalam penderitaanku” (Kol 1:24). Sekilas, hal ini tampak mengherankan; bagaimana mungkin seseorang dapat bersukacita dalam penderitaan? Ayub dalam Perjanjian Lama meratapi penderitaannya, namun Paulus mengungkapkan rasa syukurnya. Apakah Paulus adalah seorang masokis, seseorang yang menikmati penderitaan?

Sama sekali bukan! Untuk memahaminya, kita harus membaca pernyataannya secara lengkap: “Sekarang aku bersukacita dalam penderitaanku oleh karena kamu, dan di dalam dagingku aku menggenapi apa yang kurang pada penderitaan Kristus demi tubuh-Nya, yaitu jemaat.” Paulus menanggung banyak penderitaan demi Kristus dan Gereja-Nya. Ia mengalami pemukulan, pemenjaraan, kelaparan, dan pengkhianatan. Namun ia melihat penderitaannya bukan sebagai sesuatu yang sia-sia, tetapi sebagai cara untuk berbagi dalam penderitaan Kristus. Memang, Yesus mengalami penderitaan yang sangat menyakitkan dan kematian yang mengerikan di kayu salib, namun melalui kasih ilahi-Nya, Yesus mengubah penderitaan ini menjadi jalan keselamatan bagi semua orang.

Penyaliban Yesus adalah pengorbanan yang sempurna, yang sepenuhnya cukup untuk keselamatan. Namun, Gereja – tubuh Kristus – terus mengalami penderitaan karena masih mengembara di dunia dan berjalan di jalan salib Yesus. Yesus telah memperingatkan para pengikut-Nya bahwa mereka akan menghadapi penganiayaan karena nama-Nya (Mat 10:38; Yoh 15:20; Kis 9:16). Paulus memiliki pilihan: menyalahkan Tuhan atas penderitaannya, atau melihatnya sebagai kesempatan untuk menyempurnakan penderitaan Gereja. Paulus memilih yang kedua, dan mempersembahkan penderitaannya sebagai sarana berkat bagi umat di Kolose.

Benar bahwa beberapa penderitaan diakibatkan oleh kesalahan kita sendiri, tetapi sering kali, kita mengalami pencobaan di luar kehendak kita. Pada saat-saat seperti itu, kita memiliki pilihan: menyalahkan Tuhan atau menerima penderitaan sebagai bagian dari salib Kristus. Ketika kita menyatukan penderitaan kita dengan penderitaan-Nya, penderitaan itu menjadi lebih dari sekadar penderitaan, tetapi menjadi jalan menuju kekudusan, sebuah sarana berkat dan rahmat bagi diri kita sendiri dan orang lain.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi:

Penderitaan-penderitaan apa yang kita hadapi saat ini? Bagaimana kita memahaminya? Bagaimana kita meresponsnya – dengan kemarahan, keputusasaan, atau kepercayaan? Apakah kita melihat pergumulan kita sebagai bagian dari karya penebusan Kristus?

Tujuh Puluh

Hari Minggu ke-14 dalam Masa Biasa [C]

6 Juli 2025

Lukas 10:1-20

Pengutusan ketujuh puluh murid adalah kisah yang unik dalam Injil Lukas. Episode ini mengungkapkan sebuah kebenaran yang penting: pengikut Yesus jauh lebih banyak daripada sekedar dua belas rasul. Tetapi mengapa Dia memilih angka tujuh puluh?

Ada beberapa alasan:

  1. Sebuah gambaran tentang jumlah pengikut Yesus yang sebenarnya.

Kedua belas rasul bukanlah satu-satunya murid Yesus. Banyak orang lain yang mengikuti dan belajar dari-Nya. Meskipun Dua Belas dipilih sebagai pemimpin komunitas-Nya yang sedang bertumbuh, mereka bukanlah satu-satunya yang berkomitmen pada misi Yesus. Angka tujuh puluh (atau tujuh puluh dua, dalam beberapa manuskrip tua lain) menunjukkan komunitas Yesus yang relatif besar dan juga berdedikasi pada perjuangan Yesus.

  • Penggenapan Perjanjian Lama.

Dalam Perjanjian Lama, ada tujuh puluh penatua ditunjuk untuk membantu Musa dan Harun dalam memimpin bangsa Israel melewati padang gurun (Bil 11:16-17). Para penatua ini mendaki Gunung Sinai, di mana mereka bertemu dengan Tuhan dan bahkan mengadakan perjamuan di hadapan-Nya (Kel 24:9-11). Sama seperti Musa dan Harun yang mengandalkan para pemimpin ini untuk memimpin bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian, demikian juga Yesus memanggil dan mengutus ketujuh puluh murid-Nya untuk memimpin umat Allah menuju Tanah Perjanjian yang sejati, yaitu Kerajaan Allah.

3. Simbol Kepenuhan dan Perjanjian

Di dalam Alkitab, angka tujuh melambangkan kepenuhan dan perjanjian Allah. Sebagai contoh:

  • Penciptaan diselesaikan dalam tujuh hari (Kej 1), yang melambangkan keteraturan dan kesempurnaan ilahi.
  • Kata Ibrani untuk “tujuh” (sheva) juga terkait dengan pembuatan perjanjian dengan sumpah. Jadi, dalam bahasa Ibrani, ketika kita mengatakan bahwa kita membuat “tujuh”, itu berarti kita bersumpah (Gen 21:23).

Dengan mengalikan tujuh dengan sepuluh, angka tujuh puluh memperkuat makna ini: kesempurnaan dan perjanjian Allah diperluas kepada lebih banyak orang lagi. Tujuh puluh murid adalah bagian dari rencana Allah untuk membawa penebusan, keteraturan, dan lebih banyak jiwa ke dalam keluarga dan Kerajaan Allah.

Lebih dari Sekedar Angka

Tujuh puluh murid ini bukanlah sekadar statistik. Mereka adalah individu-individu yang unik dengan kisahnya masing-masing. Meskipun Lukas tidak mencatat nama atau detail mereka, Yesus meyakinkan mereka (dan kita) bahwa pengorbanan mereka diketahui dan tidak sia-sia. Yesus tahu persis kesediaan mereka untuk diutus dan pergi ke tempat asing, menghadapi berbagai hal yang tidak diketahui. Beberapa orang mungkin gagal menemukan tempat tinggal, yang lain mungkin kelaparan, sementara beberapa bahkan ditolak dan diejek. Banyak juga yang harus menghadapi setan-setan yang jauh lebih kuat daripada kekuatan manusia. Injil tidak menceritakan secara rinci tentang hal ini, tetapi Yesus sangat mengenal mereka, dan karena itu, meskipun Injil tidak menceritakan kisah mereka, kisah-kisah mereka tertulis selamanya dalam Kitab Kehidupan.

Seperti ketujuh puluh murid ini, kita mungkin merasa kita tidak ada apa-apanya. Kita hanya satu wajah di antara kerumunan orang banyak, hanyalah angka dan statistik, perbuatan kita terlalu kecil untuk dicatat dalam buku-buku sejarah. Tetapi Injil mengingatkan kita: Yesus mengenal dan mengasihi kita masing-masing secara pribadi. Setiap tindakan kasih, sekecil apa pun, sangat berharga bagi-Nya dan dicatat dalam kekekalan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apa yang dapat kita lakukan untuk membantu membangun Kerajaan Allah? Apakah kita bersedia untuk diutus? Apakah kita membandingkan diri kita dengan orang lain? Apakah kita benar-benar percaya bahwa kita dikasihi?

Petrus dan Paulus

Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus [C]

29 Juni 2025

Matius 16:13-19

Mengapa Gereja merayakan Santo Petrus dan Santo Paulus bersama-sama? Ada beberapa faktor kunci yang menyebabkan hal ini:

1. Tokoh-tokoh penting dalam Perjanjian Baru

Baik Petrus maupun Paulus adalah tokoh-tokoh yang paling sering disebut dalam Perjanjian Baru di antara tokoh lainnya. Petrus (termasuk variasi seperti Simon, Kefas, atau Simon Petrus) muncul sekitar 190 kali, sementara Paulus bahkan lebih sering disebut, sekitar 228 kali. Hal ini jauh melampaui tokoh-tokoh besar lainnya seperti Yohanes Pembaptis (disebutkan sekitar 90 kali). Lukas menulis bukunya yang berjudul Kisah Para Rasul, namun narasinya didominasi oleh kedua tokoh ini. Selain mencatat perbuatan mereka, keduanya juga menyumbangkan tulisan-tulisan yang menjadi bagian dari Perjanjian Baru: Petrus menulis dua surat (1 dan 2 Petrus), sementara Paulus menulis 13 surat, yang membentuk sebagian besar kanon Perjanjian Baru.

2. Kehidupan dan Pelayanan yang Saling Terkait

Jalan mereka bertemu pada saat-saat kritis dalam sejarah Gereja mula-mula. Setelah pertobatannya yang dramatis, Paulus mengunjungi Yerusalem dan menghabiskan waktu 15 hari bersama Petrus (Gal 1:18), kemungkinan besar untuk belajar secara langsung tentang ajaran-ajaran Yesus dari sang rasul. Kemudian, dalam Konsili Yerusalem (Kis 15), Paulus dan Barnabas menentang pemberlakuan adat istiadat Yahudi seperti sunat kepada orang-orang non-Yahudi yang percaya. Petrus, sebagai pemimpin para rasul, akhirnya memutuskan bahwa orang-orang yang percaya ini tidak boleh dibebani oleh adat istiadat Yahudi, dan dengan demikian berpihak pada Paulus. Namun, hubungan mereka bukannya tanpa ketegangan. Paulus kemudian secara terbuka mengkritik Petrus ketika ia menarik diri dari makan bersama dengan orang-orang non-Yahudi (Gal 2:11-14). Namun konflik ini bukanlah akhir bagi mereka.

3. Kemartiran Bersama di Roma

Meskipun Alkitab hanya mencatat beberapa pertemuan mereka, tradisi menyatakan bahwa mereka bertemu di Roma. Kisah Para Rasul diakhiri dengan Paulus yang tiba di kota itu sekitar tahun 60-61 Masehi sebagai seorang tahanan, menunggu pengadilan di hadapan Kaisar. Bahkan dalam tahanan rumah, ia tidak berhenti berkhotbah dan kemungkinan besar menulis surat-suratnya seperti kepada Gereja di Efesus dan Filipi. Setelah dibebaskan (sekitar tahun 63 M), ia ditangkap kembali pada masa penganiayaan Nero dan dieksekusi sekitar tahun 65-66 M. Sementara itu, Petrus kemungkinan besar mencapai Roma pada awal tahun 60-an Masehi, di mana ia segara diakui sebagai pemimpin (uskup) Gereja Roma. Keduanya mungkin telah berkolaborasi di sana dalam pewartaan dan pelayanan sebelum keduanya menghadapi kematian. Petrus disalibkan secara terbalik dan Paulus dipenggal karena dia warga negara Romawi.

4. Warisan Abadi di Roma

Makam mereka tetap menjadi titik fokus ziarah umat Kristiani, terutama di tahun Yubileum ini. Basilika Santo Petrus di Kota Vatikan berdiri di atas lokasi pemakamannya, sementara Basilika Santo Paulus di Luar Tembok di Via Appia menandai tempat Paulus disemayamkan. Yang menarik, Basilika Santo Yohanes Lateran yang adalah katedral di Roma, memiliki patung perunggu Santo Petrus dan Santo Paulus di atas altar utamanya, yang menyimpan relik bagian tengkorak dari kedua santo ini. Simbolisme ini menggarisbawahi peran mereka yang tak terpisahkan sebagai pilar kembar Gereja Roma.

Namun kita perlu ingat bahwa kedua orang itu tidak dimulai sebagai orang hebat. Petrus, yang impulsif dan penakut, menyangkal Kristus tiga kali. Paulus, yang pernah menjadi penganiaya orang-orang Kristen, berusaha menghancurkan Gereja. Namun melalui rahmat Allah, keduanya diubahkan, dan pada akhirnya memberikan hidup mereka bagi Kristus. Hari raya bersama mereka tidak hanya menghormati kemartiran mereka, tetapi juga merayakan bagaimana Tuhan menggunakan orang-orang yang memiliki kekurangan untuk membangun Gereja-Nya.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apakah kelemahan-kelemahan kita sebagai manusia? Bagaimana rahmat Allah memberdayakan dan mentransformasikan kita? Apakah kita mengasihi Gereja seperti Santo Petrus dan Santo Paulus? Bagaimana kita mencintai Gereja?

Roh Kudus dan Karunia-karunia-Nya

Pentekosta [C]

8 Juni 2025

1 Kor 12:3-13

Hari ini, Gereja merayakan Pentekosta, hari Roh Kudus turun di atas para rasul dan murid-murid Yesus yang pertama, yang menandai dimulainya Gereja. Sejak saat itu, Roh Kudus, pribadi ketiga dari Tritunggal Mahakudus, telah memainkan peran sentral dalam membimbing dan menopang kehidupan Gereja. Roh Kudus bekerja melalui rahmat dan karunia-karunia-Nya. Tidaklah mengherankan jika kita menyebut Pentekosta sebagai hari raya Roh Kudus. Namun, ketika kita merenungkan karunia-karunia rohani ini, kita harus bijak karena ada bahaya yang mungkin kita hadapi. Bahaya apakah itu?

Kita hidup di masa ketika banyak umat Kristiani – baik Katolik maupun non-Katolik – mengalami karunia-karunia Roh Kudus dengan cara yang luar biasa. Pencurahan yang berlimpah ini telah menyadarkan kita akan kehadiran Roh Kudus yang aktif dalam hidup kita. Beberapa orang telah menerima karunia bernubuat, mengucapkan kata-kata yang memanggil orang lain untuk bertobat. Yang lainnya telah diberi karunia penyembuhan, menjadi alat Roh Kudus memulihkan kesehatan orang-orang sakit. Yang lainnya lagi berdoa dalam bahasa roh, pujian-pujian mereka mengalir dalam bahasa yang tidak mereka pahami (untuk daftar karunia-karunia Roh Kudus, lihat 1 Kor. 12:8-10). Ini adalah pengalaman-pengalaman yang luar biasa, bahkan mengubah hidup banyak orang.

Namun, meskipun karunia-karunia ini seharusnya memenuhi kita dengan rasa syukur dan memperdalam kesadaran kita akan karya Roh Kudus, ada bahaya jika kita terlalu berfokus pada karunia-karunia itu sendiri. Beberapa dari kita mulai terpaku pada sensasi yang kita rasakan daripada Sang Pemberi, bahkan memperlakukan karunia-karunia rohani sebagai ukuran iman. Beberapa dari kita mungkin percaya bahwa berbahasa roh adalah bukti kekudusan, atau bahwa tidak adanya mukjizat kesembuhan berarti kita jauh dari Allah. Kita yang menerima karunia-karunia dapat menjadi sombong, sementara kita yang tidak menerimanya mungkin merasa gagal dalam kehidupan Kristiani kita.

Pola pikir seperti ini tidak hanya tidak benar tetapi juga berbahaya. Dan meskipun ini mungkin tampak seperti masalah modern, pergumulan yang sama juga terjadi pada Gereja mula-mula. Hampir dua ribu tahun yang lalu, Gereja di Korintus diberkati dengan berbagai karunia rohani, namun komunitas mereka terganggu oleh perpecahan, kekacauan dalam ibadah, dan kesombongan. Mereka membandingkan karunia-karunia, bersaing untuk menentukan siapa yang memiliki karunia yang “lebih baik”, dan bahkan menggunakannya sebagai ukuran keunggulan rohani.

Paulus mengkritisi pola pikir yang salah ini, mengingatkan mereka bahwa karunia-karunia rohani bukanlah untuk kemuliaan pribadi, tetapi untuk membangun Gereja (1 Kor 12:7). Ia mengajarkan kepada mereka bahwa karunia yang paling penting bukanlah karunia bahasa roh, kesembuhan atau mukjizat, tetapi karunia kasih. Ia bahkan menulis secara khusus kepada mereka yang mencari karunia bahasa roh, “Jika aku berkata-kata dengan bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi tidak mempunyai kasih, maka aku adalah gong yang nyaring dan simbal yang bergemerincing (1 Kor 13:1).” Dia memperingatkan bahwa mengejar karunia-karunia yang spektakuler tanpa cinta kasih tidak ada artinya.

Yesus sendiri mengajarkan bahwa karunia terbesar yang diberikan Bapa kepada kita adalah Roh Kudus (Luk. 11:13), dan karunia terbesar yang diberikan Roh Kudus adalah kasih. Karena dengan mengasihi, kita menemukan kepenuhan hidup.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apakah kita meminta Roh Kudus kepada Bapa? Apakah kita berdoa kepada Roh Kudus? Apa yang kita minta dari Roh Kudus? Apakah kita meminta karunia-karunia Roh Kudus dan untuk tujuan apa? Apakah kita memohon karunia untuk mengasihi?

Kita dan Paus Kita

Minggu ke-6 Paskah [C]

25 Mei 2025

Kisah Para Rasul 15:1-2, 22-29

Gereja Katolik menghadapi momen yang penting dan bersejarah pada Paskah 2025 ini. Paus Fransiskus, sosok yang dicintai namun penuh dengan polemik, meninggal dunia hanya sehari setelah menyampaikan berkat Minggu Paskah. Misa pemakamannya pada hari Sabtu berikutnya menarik ratusan ribu pelayat, yang mencerminkan dampak mendalam dari kepausannya. Ketika para kardinal berkumpul untuk konklaf, dunia menyaksikan dengan penuh antisipasi. Kemudian, pada tanggal 8 Mei, asap putih mengepul dari Kapel Sistina. “Habemus Papam!” Kita memiliki paus baru, dan namanya adalah Leo XIV, soerang paus dari Amerika Utara pertama dan juga pertama dari Ordo Santo Agustinus. Ribuan orang bersukacita di Lapangan Santo Petrus, berharap akan sebuah babak baru dalam Gereja.

Warisan Paus Fransiskus diwarnai dengan kekaguman dan kontroversi. Banyak yang mengapresiasi belas kasihnya kepada kaum miskin dan terpinggirkan, sementara yang lain bergumul dengan beberapa pernyataan dan keputusannya. Kini, dengan terpilihnya Paus Leo XIV, ada harapan akan persatuan dan perdamaian dalam Gereja. Namun, seperti halnya pemimpin manusia lainnya, dia juga akan mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita. Lalu, bagaimana kita harus menanggapi kenyataan ini?

Kuncinya terletak pada pembedaan antara devosi sejati dari fanatisme. Fanatisme adalah sebuah ketertarikan yang tidak teratur yang mendistorsi persepsi kita terhadap kepausan. Efeknya adalah mengubah kekaguman menjadi penyembahan berhala. Fanatisme membutakan kita terhadap kemanusiaan seorang paus, membuat kita percaya bahwa ia tidak dapat salah dalam segala hal, tidak hanya dalam hal iman dan moral, dan membuat kita mengabaikan atau menyerang mereka yang mengkritiknya. Lebih buruk lagi, hal ini dapat mengarah pada penghinaan terhadap paus-paus lain hanya karena mereka berbeda dengan paus idaman kita. Fanatisme ini sering menjadi bumerang; ketika paus yang kita idam-idamkan tidak sesuai dengan harapan, kekecewaan pun muncul, bahkan terkadang membuat kita menjauh dari Gereja.

Di sisi lain, devosi yang sejati berakar pada kasih kepada Kristus, yang mempercayakan Petrus dan para penerusnya untuk menjaga kawanan domba-Nya (Yoh 21). Kita menghormati Paus bukan terutama karena kualitas pribadinya, tetapi karena peran sucinya sebagai Wakil Kristus. Secara sederhana, kita mengasihi para paus karena kita mengasihi Yesus.

Bacaan pertama mengingatkan kita akan kepemimpinan Santo Petrus dalam Gereja mula-mula. Ketika para rasul dan penatua berkumpul di Yerusalem dan memperdebatkan apakah orang-orang non-Yahudi yang percaya, perlu mengikuti hukum Musa. Beberapa penatua menginginkan agar mereka menjadi orang Yahudi sebelum menjadi orang Kristen, yang berarti mereka harus disunat dan mengikuti hukum Taurat secara ketat. Paulus dan Barnabas menginginkan agar orang-orang non-Yahudi yang percaya terbebas dari hukum Musa. Akhirnya, Petrus berdiri dan membuat keputusan akhir: mereka tidak terikat oleh hukum Musa. Konsili ini menerima otoritas Petrus, karena mereka tahu bahwa otoritas itu berasal dari Kristus. Namun, Petrus sendiri bukanlah orang yang sempurna. Sebagai contoh, Paulus secara terbuka mengoreksi Petrus karena ia gagal menegakkan ajarannya sendiri (Gal 2:11-14). Teguran Paulus tidak lahir dari kebencian, tetapi dari kasih; sebuah hasrat untuk menguatkan Petrus dalam misinya yang diberikan Allah.

Seperti Petrus, setiap paus memikul tanggung jawab yang berat untuk menggembalakan Gereja. Dan seperti Petrus, mereka tetaplah manusia biasa yang rentan terhadap kelemahan dan kesalahan. Peran kita adalah untuk mendukung mereka dengan doa, terutama pada saat-saat sulit, dan untuk terus membangun Gereja dengan pengharapan dan kebijaksanaan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Bagaimana kita melihat para paus kita? Bagaimana kita mencintai para paus kita? Apakah kita pernah bergumul untuk memahami para paus kita? Seberapa sering kita mendoakan para

Dua Cara Mewartakan Injil

Minggu ke-5 Paskah [C]

18 Mei 2025

Kisah Para Rasul 14:21-27

Dalam bacaan pertama, kita telah mendengar tentang perjalanan misi Santo Paulus dan rekannya Santo Barnabas. Misi mereka menunjukkan kepada kita bagaimana Gereja perdana memenuhi perintah Yesus, “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku (Mat 28:19).” Jadi, apa yang dapat kita temukan dari teladan mereka?

Pertama, mari kita simak kisah Santo Paulus secara keseluruhan. Setelah pertobatannya, Paulus tinggal di Antiokhia (sekarang di Turki bagian tenggara), di mana ia menjadi seorang guru dan nabi yang dihormati. Kemudian Roh Kudus memanggil Paulus dan Barnabas untuk dikhususkan bagi pekerjaan Tuhan. Komunitas Kristiani menugaskan mereka untuk mewartakan di tempat-tempat di mana Injil belum pernah didengar. Mereka melakukan perjalanan ke berbagai tempat termasuk pulau Siprus dan kota-kota di Turki selatan – Antiokhia Pisidia, Ikonium, Derbe, dan Listra.

Mereka memberitakan Kabar Baik kepada orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi di tempat-tempat tersebut, membawa banyak jiwa percaya kepada Yesus Kristus. Namun, Paulus dan Barnabas tahu bahwa mereka tidak akan tinggal di sana secara permanen, tetapi mereka harus melanjutkan perjalanan mereka untuk memberitakan Injil di lebih banyak tempat lagi. Untuk menjaga komunitas Kristiani yang baru didirikan ini, mereka mengangkat “penatua” (Yunani: presbuteroi). Para penatua ini menjadi pemimpin yang stabil dalam komunitas, yang bertanggung jawab untuk memimpin ibadah, memberitakan Injil, dan memelihara disiplin rohani.

Lalu, apa yang dapat kita pelajari dari perjalanan misi Paulus? Kita melihat setidaknya ada dua cara yang sangat penting dalam memberitakan Injil. Cara pertama adalah pergi memberitakan Injil ke tempat yang belum pernah mendengar Injil dan di mana iman belum berakar. Mereka yang mengikuti jalan ini biasanya disebut misionaris. Para misionaris cenderung berpindah dari satu tempat ke tempat lain ketika kebutuhan akan Injil muncul. Cara kedua berfokus pada pendalaman pemahaman Injil dan kedewasaan iman bagi mereka yang sudah percaya, memelihara dan melindungi iman mereka. Dalam tradisi Katolik, cara kedua ini dilakukan oleh para “penatua” – para uskup yang dibantu oleh para imam dan diakon, yang tinggal lebih stabil dalam komunitas yang mereka layani.

Di sisi lain, perbedaan antara misionaris dan penatua tidaklah kaku. Orang yang sama bisa berperan baik sebagai misionaris dan penatua. Contoh sederhana adalah Paus Leo XIV. Sebelum menjadi Paus, beliau adalah seorang imam Ordo St. Agustinus dari Amerika Serikat yang menjadi misionaris di Peru. Kemudian dia menjadi uskup Chiclayo, Peru. Identitas misionaris dan penatua menyatu di dalam dirinya.

Namun, kita harus ingat bahwa tugas pewartaan Injil tidak hanya diberikan kepada para misionaris atau penatua, tetapi juga kepada kita semua. Kita pun dapat dan harus mempraktikkan kedua cara kuno untuk memberitakan Injil. Di dunia modern ini, kesempatan untuk membagikan Injil sangatlah berlimpah. Kita dapat mengkomunikasikan berbagai aspek dari iman kita, mulai dari kebenaran hingga keindahannya, melalui berbagai platform media sosial. Interaksi pribadi dengan teman dan saudara juga memberikan kesempatan untuk memperkenalkan iman kita. Bahkan jika kita merasa sulit untuk menjelaskan iman kita dengan kata-kata, kita selalu dapat mengundang kerabat dan teman-teman kita untuk bergabung dengan kita di Misa.

Para orang tua secara khusus mewujudkan kedua pendekatan ini secara bersamaan. Para orang tua dipanggil untuk memperkenalkan iman kepada anak-anak mereka melalui baptisan dan katekese dasar, mengajar mereka cara berdoa dan membagikan kebenaran-kebenaran mendasar dari iman. Seperti para penatua Gereja, para orang tua kemudian harus terus memelihara iman anak-anak mereka melalui gaya hidup yang sesuai ajaran Injil, doa, dan bimbingan. Kita juga harus mendukung para katekis kita yang bekerja tanpa lelah untuk memperkenalkan dan memperdalam iman, terlepas dari banyaknya tantangan yang mereka hadapi.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Bagaimana kita mewartakan Injil dalam situasi-situasi khusus kita? Siapa yang secara khusus membutuhkan kita untuk memperkenalkan mereka kepada Yesus? Sudahkah kita menolong orang-orang yang dekat dengan kita untuk bertumbuh lebih dekat dengan Tuhan? Apakah orang lain mengenali kita sebagai orang yang membawa Yesus bersama kita?

Mendengarkan Suara Tuhan

Minggu ke-4 Paskah [C]

11 Mei 2025

Yohanes 10:27-30

Pendengaran adalah salah satu indra yang paling mendasar yang membuat kita menjadi manusia. Memang benar bahwa kita sangat bergantung pada penglihatan untuk menavigasi dunia, tetapi pendengaran membedakan kita dengan makhluk lain. Bagaimana penjelasannya?

Tentu saja, manusia tidak memiliki indra pendengaran yang terbaik. Banyak hewan yang memiliki kemampuan pendengaran yang jauh lebih baik. Sebagai contoh, kelelawar memiliki indra pendengaran seperti sonar, yang memungkinkan mereka untuk mengukur jarak melalui suara. Telinga manusia jauh lebih lemah jika dibandingkan dengan hewan-hewan ini. Namun, terlepas dari kapasitas pendengaran kita yang sepertinya biasa saja, kita memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh hewan lain: kemampuan untuk mengasosiasikan suara dengan makna. Dengan kata lain, kita dapat menciptakan bahasa. Kemampuan berbahasa ini berarti kita dapat membedakan kata-kata yang bermakna dari suara yang tidak berarti.

Melalui mendengarkan, manusia purba membangun keluarga dan komunitas. Mereka mendengarkan para pemimpin mereka untuk mendapatkan panduan dalam mempertahankan diri dari binatang buas dan bertahan hidup di lingkungan yang keras. Dengan mendengarkan, mereka menerima kebijaksanaan para tetua mereka dan kisah-kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mendengar kata-kata yang bermakna adalah hal yang membuat kita hidup dan tumbuh sebagai manusia.

Sayangnya, kita sekarang hidup di dunia yang penuh dengan suara kebisingan yang tidak ada artinya sama sekali, dari sekedar polusi pendengaran, musik-musik yang tidak jelas, dan bahkan kata-kata kasar, penuh kebohongan dan bahkan kutukan. Apa yang sering kita dengar tidak lagi berguna bagi kelangsungan hidup atau pertumbuhan kita, melainkan hanya apa yang berteriak paling keras. Kita tidak lagi mendengarkan akal sehat, kebijaksanaan dari masa lalu, dan yang paling penting, firman Tuhan. Jika orang-orang zaman dahulu menyadari bahwa mendengarkan para pemimpin mereka sangat penting untuk kelangsungan hidup mereka, kita pun harus menyadari bahwa mendengarkan Tuhan kita, Yesus Kristus, bukanlah suatu opsi, tetapi ini adalah masalah keselamatan jiwa kita.

Jadi, bagaimana kita dapat belajar untuk mendengarkan dengan penuh perhatian suara Gembala kita yang sejati?

Pertama, sama seperti domba yang mendengarkan suara gembalanya demi keselamatannya, kita harus mengenali suara Gembala kita dan mengikuti petunjuk-Nya – karena keselamatan kekal kita bergantung padanya. Kedua, untuk mengenali suara-Nya, kita harus menjadi terbiasa dengannya. Hal ini dapat dicapai dengan terus mendengarkannya, dengan membaca Kitab Suci secara teratur, mempelajari ajaran-ajaran-Nya secara khusus yang telah diajarkan Gereja, dan terlibat dalam doa yang mendalam. Ketika kita menjadi terbiasa dengan suara Tuhan, kita juga bisa belajar untuk membedakan suara-suara yang tidak berasal dari-Nya, suara-suara dari keinginan kita sendiri, dunia, dan roh-roh jahat. Ketiga, mendengar harus membawa kepada tindakan. Mendengar tanpa ketaatan tidak ada artinya, atau bahkan lebih buruk lagi, itu berarti mengikuti tuntunan musuh.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apakah kita mengenal suara Tuhan kita? Suara-suara seperti apa yang kita dengarkan? Apakah kita dapat membedakan suara-suara yang berbeda dalam hidup kita? Firman Tuhan apa yang paling berkesan dan menjadi panduan hidup kita selama ini?