Minggu ke-17 dalam Masa Biasa
28 Juli 2024
Yohanes 6:1-15
Mukjizat penggandaan roti merupakan mukjizat yang istimewa karena mukjizat ini berbeda dengan mukjizat-mukjizat Yesus yang lain. Namun, apa yang membuatnya benar-benar unik dari mukjizat-mukjizat lainnya? Bagaimana mukjizat ini membentuk iman dan identitas kita?

Hal pertama yang dapat kita amati adalah bahwa mukjizat ini muncul dari inisiatif Yesus. Yesus melihat orang-orang yang mengikuti-Nya, Dia mengenali kebutuhan mereka dan kemudian, Dia datang membawa solusi. Dari perspektif ini, kita dapat menarik poin-poin yang indah tentang Allah kita. Dia bukanlah Tuhan yang jauh, menyendiri dan hanya menunggu orang-orang untuk datang kepada-Nya dan memohon sesuatu kepada-Nya. Allah kita adalah Allah yang penuh kasih yang tidak pernah gagal mengenali kebutuhan dan kondisi kita, dan bahkan menyediakan kebutuhan kita tanpa kita minta. Tuhan mengantisipasi kebutuhan kita dan memenuhinya bahkan tanpa kita sadari. Inilah kasih yang sejati dan ilahi, yang antisipatif, konsisten, dan sering kali terabaikan. Apakah kita bersyukur kepada Tuhan untuk setiap napas yang kita hirup? Apakah kita bersyukur atas air yang kita minum? Namun, Tuhan menyediakan semua itu untuk kita tanpa kita minta.
Namun, hal kedua dari mukjizat ini membuatnya semakin luar biasa dan unik. Sebelum Yesus melakukan mukjizat, Dia memaparkan situasi yang mereka hadapi kepada murid-murid-Nya, dan meminta mereka untuk menyelesaikannya. Filipus segera mereduksi situasi tersebut menjadi masalah ekonomi, dan menjawab Gurunya bahwa tidak mungkin memberi makan orang banyak tanpa mengeluarkan uang dalam jumlah besar. Untungnya, Andreas menyadari maksud Yesus untuk menguji murid-murid-Nya. Ini bukan masalah uang, tetapi iman kepada Yesus. Dia kemudian membawa seorang anak kecil yang murah hati yang memberikan roti dan ikannya kepada Yesus untuk dibagikan. Kemudian, mukjizat mulai terjadi.
Jika kita mencoba membandingkan dengan mukjizat-mukjizat Yesus yang lain, kita akan menemukan bahwa Yesus menghendaki para murid dan pengikut-Nya untuk berpartisipasi dalam mukjizat tersebut. Dalam mukjizat-mukjizat lain seperti penyembuhan dan pengusiran setan, Yesus melakukannya sendiri. Dia tidak membutuhkan bantuan atau partisipasi dari murid-murid-Nya. Namun, ketika Yesus melakukan salah satu mukjizat terbesar (lima ribu orang kenyang!), Dia ingin para murid-Nya dengan murah hati memberikan apa yang mereka miliki, dan membiarkan Yesus memberkati persembahan mereka, dan dengan demikian menjadi berkat bagi banyak orang.
Inilah keindahan sejati dari mukjizat pelipatgandaan roti. Memang, Tuhan dapat dengan mudah bekerja tanpa kita, seperti yang sering Dia lakukan, tetapi Dia juga memilih untuk bekerja dan melakukan mukjizat-Nya melalui kita. Dan, ketika kita mempersembahkan apa yang kita miliki dan mengizinkan rahmat Allah bekerja di dalam diri kita, Allah menyempurnakan kita dan menjadikan kita sebagai mukjizat bagi banyak orang. Melalui partisipasi ini, martabat kita sebagai anak-anak Allah diangkat, disempurnakan dan semakin dimuliakan.
Sebagai seorang pewarta, saya mempersembahkan kepada Tuhan, waktu, kapasitas intelektual, dan pembelajaran saya akan Kitab Suci, dan sering kali, saya merasa semua itu tidak cukup untuk membuat sebuah khotbah atau homili yang baik. Namun, saya berdoa agar setiap kali saya berkhotbah, Tuhan berkenan melipatgandakan sumber daya yang saya miliki menjadi buah-buah rohani bagi mereka yang mendengarnya. Sebagai orang tua yang baik, kita mempersembahkan waktu, tenaga, dan berbagai sumber daya kepada Tuhan untuk kita membesarkan anak-anak kita. Seringkali, kita merasa semua itu tidak cukup, tetapi Tuhan memberkati kita dan anak-anak kita bertumbuh bagaikan mukjizat, menjadi pribadi-pribadi yang dewasa.
Bagaimana kamu berpartisipasi dalam karya dan mukjizat Tuhan?
Manila
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP









