Featured

Debu dari Bumi

Minggu Pertama Prapaskah [A]

22 Februari 2026

Kejadian 2:7-9, 3:1-7

Secara tradisional, bacaan Injil untuk Minggu Pertama Prapaskah adalah kisah Yesus di padang gurun selama empat puluh hari, di mana Dia berpuasa dan dicobai oleh Setan. Namun, dalam refleksi ini, kita akan menyelami lebih dalam bacaan pertama dari Kitab Kejadian.

Gereja menggabungkan dua kisah dalam bacaan pertama ini: penciptaan Adam (Kej 2:7-9) dan kejatuhan orang tua pertama kita (Kej 3:1-7). Karena hal ini, kita melewatkan sekitar 16 ayat (Kej 2:10-25), secara khusus menghilangkan aktivitas Adam di Taman Eden dan juga kisah penciptaan Hawa. Saya percaya alasan utamanya bukan sekadar praktis (menghindari bacaan yang terlalu panjang), tetapi Gereja ingin menunjukkan kebenaran tersembunyi yang menghubungkan kedua kisah tersebut.

Pertama, kita harus menyadari bahwa kisah penciptaan Adam bukan sekadar pelajaran biologi, tetapi kebenaran teologis yang mendalam. Adam diciptakan dari debu tanah (עפר מן־האדמה – apar min ha-adama). Kita, sebagai manusia, hanyalah tanah belaka—lemah, kotor, dan pada dasarnya tidak berharga. Yang menarik, adanya permainan kata dalam bahasa Ibrani untuk mengingatkan kita akan asal-usul kita yang rendah: kata Adam (manusia pertama) hampir identik dengan kata untuk tanah dalam bahasa Ibrani (Adama).

Kitab Kejadian seolah-olah ingin mengingatkan kita bahwa kita hanyalah debu dan bukan apa-apa, Allah adalah segalanya; kita adalah tak berdaya, Allah adalah Mahakuasa. Namun, meskipun ada jurang yang tak terukur antara Allah dan kita, penulis Kitab Kejadian juga mengungkapkan kasih Allah yang tak terhingga bagi umat manusia. Digambarkan sebagai Sang Seniman ilahi dengan tangan-Nya yang terampil dan nafas-Nya yang menghidupkan, Allah membentuk debu yang tak berharga ini menjadi salah satu makhluk-Nya yang paling mulia. Selain itu, Allah menjadikan kita sebagai mitra kerja di Taman-Nya, mempercayakan kita untuk merawat makhluk-makhluk yang lain. Kita adalah siapa kita sepenuhnya karena kasih Allah.

Beralih ke bab 3, ular datang dan menggoda Adam dan Hawa. Strateginya sederhana namun sangat efektif. Ia mengklaim bahwa Allah tidak berkata jujur dan bahwa Allah tidak ingin Adam dan Hawa menjadi seperti-Nya, sehingga melarang mereka memakan buah pengetahuan baik dan buruk. Ide bahwa Adam dan Hawa bisa menjadi seperti Allah sangatlah menarik, dan kesombongan mulai merusak hati mereka. Mereka menginginkan untuk menjadi seperti Allah tanpa Allah, bertindak sebagai saingan-Nya daripada hidup sebagai hamba-Nya. Mereka melupakan kebenaran paling mendasar tentang diri mereka: mereka hanyalah debu, dan segala kebaikan yang mereka miliki berasal dari Allah. Akibatnya, mereka pun jatuh.

Dengan menggabungkan kisah penciptaan Adam dan kejatuhannya, Gereja mengajarkan kepada kita bahwa ketika kesombongan meracuni hati kita, kita mulai mengabaikan asal-usul kita yang rendah dan akhirnya kita jatuh dalam dosa. Seperti yang dinyatakan oleh Santo Yohanes Krisostomus dalam khotbahnya pada abad ke-4, “[kisah penciptaan Adam] adalah untuk mengajarkan kita pelajaran tentang kerendahan hati, untuk menekan semua kesombongan, dan untuk meyakinkan kita akan kelemahan kita sendiri. Sebab, ketika kita mempertimbangkan asal-usul alamiah kita, meskipun kita mungkin mencapai puncak kesuksesan, kita memiliki alasan yang cukup untuk rendah hati dengan mengingat bahwa asal-usul pertama kita berasal dari bumi.”

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Di bidang mana dalam hidup, saya melupakan asal-usul yang rendah (“debu”) dan gagal menyadari bahwa semua berkat, talenta, dan kesuksesan pada akhirnya berasal dari Allah? Bagaimana kesombongan muncul dalam pilihan-pilihan harian saya? Apakah saya kadang-kadang mencoba menjadi “seperti allah tanpa Allah” dengan mencari kendali total atas hidup saya, daripada mempercayai-Nya sebagai hamba dan rekan kerja-Nya? Ketika saya “melambung ke langit” dalam pencapaian duniawi saya, praktik-praktik praktis apa yang dapat saya terapkan untuk tetap berpijak dan mengingat ketergantungan dasar saya pada kasih Allah?

Featured

Clay of the Ground

1st Sunday of Lent [A]

February 22, 2026

Genesis 2:7-9, 3:1-7

Traditionally, the Gospel reading for the first Sunday of Lent is the story of Jesus in the wilderness for forty days, where He fasted and was tempted by Satan. However, in this reflection, we will look deeper into the first reading from the Book of Genesis.

The Church combines two stories in this first reading: the creation of Adam (Gen 2:7-9) and the fall of our first parents (Gen 3:1-7). In order to do this, the lectionary skips around 16 verses (Gen 2:10-25), omitting Adam’s activities in the Garden of Eden and the creation of Eve. I believe the reason is not purely practical (simply avoiding overly long reading), but rather that the Church wishes to show us a hidden truth that connects the two stories.

First, we must recognize that the story of the creation of Adam is not merely a biological lesson, but a profound theological truth. Adam was created from the dust of the ground (עפר מן־האדמהapar min ha-adama). We, as humans, are nothing but mere soil—fragile, dirty, and essentially worthless. In fact, there is a clear play on words in Hebrew to remind us of our lowly origin: the word Adam (the first man) is almost identical to the word for ground (Adama).

However, the Book of Genesis pushes further by pointing out that while we are nothing, God is everything; while we are powerless, God is omnipotent. Yet, despite the infinite gap between God and us, the author of Genesis reveals God’s immense love for humanity. Depicted as a divine artisan with His skillful hands and life-giving breath, God formed this worthless dust into one of His most refined creatures. Furthermore, God made us His co-workers in His Garden, entrusting us to care for the other creatures. We are who we are solely because of God’s love.

Moving to chapter 3, the serpent tempts Adam and Eve. His strategy is simple yet extremely effective. He claimed that God was not telling the truth and that God did not want Adam and Eve to be like Him, thus forbidding them to eat the fruit. The idea of being like God was extremely attractive, and pride began to corrupt their hearts. They desired to be like God without God, acting as His rivals rather than living as His servants. They forgot the most fundamental truth about themselves: they are nothing but dust, and everything good they have comes from God. Consequently, they fell.

By joining the stories of Adam’s creation and his fall, the Church teaches us that when pride poisons our hearts, we begin to ignore our humble origins and are doomed to fall. As St. John Chrysostom stated in a 4th-century homily: “[the story of Adam’s creation] is to teach us a lesson in humility, to suppress all pride, and to convince us of our own lowliness. For when we consider the origin of our nature, even if we should soar to the heavens in our achievements, we have a sufficient cause for humility in remembering that our first origin was from the earth.”

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:

In what areas of my life do I forget my humble origins (“dust”) and fail to recognize that all my gifts, talents, and successes ultimately come from God? How does pride manifest in my daily choices? Do I sometimes try to be “like God without God” by seeking total control over my life, rather than trusting Him as His servant and co-worker? When I “soar to the heavens” in my earthly achievements, what practical practices can I adopt to stay grounded and remember my fundamental reliance on God’s love?

Jesus, Not Our Ordinary King

Palm Sunday of the Lord’s Passion

April 13, 2025

Luke 19:28-40 and Luke 22:14–23:56

Palm Sunday is one of the most unique liturgical celebrations in the Church because it features two Gospel readings: Jesus’ triumphal entry into Jerusalem (Luke 19:28-40) and the Passion of Christ (Luke 22:14–23:56). These readings are not accidental; the Church intentionally pairs them to reveal their profound connection. But what is this relationship?

The first Gospel presents Jesus entering Jerusalem, the city of King David and his successors. His disciples follow closely while some residents welcome Him, proclaiming Him as king. Yet the Gospel clarifies that Jesus is no ordinary earthly ruler. He isn’t a militarily powerful king riding a stallion, but a humble sovereign on a donkey. He comes in the name of the Lord – not through royal lineage, political systems, or deception. He reigns not over a single nation, but over all creation, as even “the stones will cry out” to declare His kingship.

The second Gospel, the Passion narrative, further reveals Christ’s kingship. He doesn’t rule through violence but embraces it and bring it to an end on the cross. His kingdom operates not through terror but through law of love, sacrificing Himself so His people might be redeemed from sin and then live.

As we enter Holy Week, we’re invited to examine our identity as God’s people. Do we love our King or fear Him? If we truly love Him, we must learn to love as He loved. For two thousand years, countless martyrs have followed Christ’s example to the point of death. Even today in the 21st century, Christians face persecution: Nigerian priests abducted and murdered; Syrian Christian communities attacked and displaced; growing anti-Christian hostility in Israel.

Many of us live where faith can be expressed freely, yet these environments present different dangers – materialism, complacency, or cowardice in witnessing to Christ. We’re tempted to prioritize self over God, to love ourselves rather than Jesus

We consider St. Catherine of Siena’s example. During her time, the pope was residing in Avignon, France rather than Rome since he was afraid of dealing with people who opposed him there. However, rather than becoming a leader in faith and example of moral, the pope involved himself more in politics. She courageously went to Avignon and confronted Gregory XI, urging his return, “If you die in Rome, you die a martyr – but if you stay here, you die a coward.” Her actions flowed from radical love for Christ the King.

If Jesus is our King, how then shall we follow Him?

Guide Questions:

Do we truly love Jesus as our King? How does our love for Christ manifest practically? Are we prepared to profess our faith in challenging environments? Would we sacrifice for others out of love for Jesus? Are we ready to endure hardship as Christians?

Yesus, Bukan Raja Biasa

Minggu Palma Sengsara Tuhan

13 April 2025

Lukas 19:28-40 dan Lukas 22:14-23:56

Minggu Palma adalah salah satu perayaan liturgi yang paling unik dalam Gereja karena memberikan dua bacaan Injil: Yesus memasuki kota Yerusalem sebagai Raja (Lukas 19:28-40) dan kisah Sengsara Kristus (Lukas 22:14-23:56). Bacaan-bacaan ini bukan kebetulan ada, tetapi Gereja mendampingkan keduanya untuk mengungkapkan hubungan yang mendalam antara kedua bacaan ini. Namun, apakah hubungan ini?

Injil pertama menggambarkan Yesus memasuki Yerusalem, kota Raja Daud dan para penggantinya. Para murid-Nya mengikuti-Nya sementara penduduk Yerusalem menyambut-Nya, menyatakan Dia sebagai raja. Namun Injil ini menjelaskan bahwa Yesus bukanlah seorang penguasa duniawi biasa. Dia bukanlah seorang raja yang berkuasa secara militer dengan menunggang kuda perang, tetapi seorang raja yang rendah hati dan cinta damai dengan menunggang keledai. Dia datang dalam nama Tuhan – tidak melalui garis keturunan kerajaan, sistem politik modern, atau tipu daya. Dia memerintah bukan atas satu bangsa, tetapi atas semua ciptaan, bahkan “batu-batu akan berseru” untuk menyatakan kerajaan-Nya.

Injil kedua, kisah Sengsara, lebih jauh mengungkapkan Kristus sebagai Raja. Dia tidak memerintah dengan kekerasan tetapi merangkulnya dan mengakhirinya di kayu salib. Kerajaan-Nya beroperasi bukan melalui teror tetapi melalui hukum kasih, mengorbankan diri-Nya sendiri agar umat-Nya dapat ditebus dari dosa dan kemudian hidup.

Saat kita memasuki Pekan Suci, kita diundang untuk memeriksa identitas kita sebagai umat kerajaan Allah. Apakah kita mengasihi Raja kita atau takut akan Dia? Jika kita sungguh-sungguh mengasihi Dia, kita harus belajar untuk semakin menyerupai Dia dan juga mengasihi seperti Dia mengasihi. Selama dua ribu tahun, banyak sekali martir yang mengikuti teladan Kristus hingga mati. Bahkan saat ini di abad ke-21, umat Kristiani terus menghadapi penganiayaan: Para imam di Nigeria diculik dan dibunuh; komunitas Kristiani di Suriah diserang dan diusir; juga meningkatnya permusuhan anti-Kristen di Israel.

Banyak dari kita yang hidup di tempat di mana iman dapat diekspresikan dengan bebas, namun lingkungan ini menghadirkan bahaya yang berbeda – materialisme, rasa puas diri, atau kepengecutan dalam bersaksi tentang Kristus. Kita tergoda untuk memprioritaskan diri sendiri di atas Tuhan, untuk mencintai diri kita sendiri daripada Yesus.

Kita bisa belajar dari teladan St. Katarina Siena. Pada masanya, paus lebih memilih tinggal di Avignon, Perancis daripada di Roma karena ia takut berurusan dengan orang-orang yang menentangnya di sana. Namun, alih-alih menjadi pemimpin dalam iman dan teladan moral, paus lebih banyak melibatkan diri dalam politik. Maka, St. Katarina dengan berani pergi ke Avignon dan menghadapi Gregorius XI, mendesaknya untuk kembali, “Jika Anda mati di Roma, anda mati sebagai seorang martir – tetapi jika anda tetap di sini, anda mati sebagai seorang pengecut.” Tindakannya mengalir dari cinta yang radikal kepada Kristus Sang Raja.

Jika Yesus adalah Raja kita, bagaimana kita harus mengikuti-Nya?

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Yesus sebagai Raja kita? Bagaimanakah kasih kita kepada Kristus diwujudkan secara praktis? Apakah kita siap untuk menyatakan iman kita dalam lingkungan yang penuh tantangan? Apakah kita mau berkorban untuk orang lain karena kasih kita kepada Yesus? Apakah kita siap untuk menanggung penderitaan sebagai orang Kristen?

Love and Betrayal

5th Sunday of Lent [C]

April 6, 2025

John 8:1-11

The story of the woman caught in adultery is one that frequently appears during Lent, especially in Year C. What lessons can we draw from this story?

At first glance, the narrative seems straightforward, yet it carries profound lessons worth unpacking. While we often associate it with God’s mercy and forgiveness—which is certainly true— there is more to it than what meets the eyes. In Scripture, adultery is not merely a grave sin; it also serves as a metaphor for idolatry, the gravest of spiritual betrayals. The prophet Hosea, for instance, was called to marry an unfaithful woman to symbolize God’s covenant with wayward Israel (Hosea 1–3). Ezekiel condemns Jerusalem and Samaria as “adulterous sisters” who chased after foreign gods (Ezekiel 23:30). Similarly, in the New Testament, James rebukes those who prioritize worldly “friendship” over God, calling them “adulterers.” (James 4:4).

This connection between adultery and idolatry reveals a deeper truth about our relationship with God. He did not create us as slaves driven by fear or as mindless robots bound by programming. Instead, He made us free and capable of love, desiring a relationship with us; one built on devotion rather than obligation. In mystical terms, God invites us to become His spiritual lovers, meaning we must love Him above all else and serve Him not out of fear, but out of deep, sincere love.

One of the earliest saints to speak of this “spiritual marriage” was St. Catherine of Siena. As young as six years old, she declared herself the bride of Christ, refusing earthly marriage to devote herself entirely to Jesus. At the age of 20, she experienced the spiritual marriage with Christ. And her profound love united her deeply to Christ to the point of sharing His wounds. She received stigmata around five years before she passed away.

The Church constantly teaches that we, collectively, are the Bride of Christ. Just as Eve was formed from Adam’s side while he slept, the Church was born from the pierced side of Jesus on the cross. Through baptism, we are reborn as members of His Church—His beloved. Through the Eucharist, we are nourished and sustained by His Body and Blood. Thus, our love for God must surpass all others, and even our love for family and friends should flow from our love for Christ.

This is why preferring anything above God constitutes spiritual adultery. The story of Jesus forgiving the adulterous woman illustrates both God’s unwavering love and mercy and our own unfaithfulness. Lent calls us back to our first and truest love—the only love that brings lasting happiness.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Reflection Questions:

How do we relate to God—as a servant obeying a master, or as a lover responding to Love Himself? Do we love God above all else? Do we love others for the sake of God? What unhealthy attachments to the world do we need to examine? How can we return to my true love—God alone?

Kasih dan Pengkhianatan

Minggu Prapaskah ke-5 [C]

6 April 2025

Yohanes 8:1-11

Kisah perempuan yang tertangkap dalam berzina merupakan kisah yang sering muncul pada masa Prapaskah, terutama pada Tahun C. Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah ini?

Sekilas, kisah ini tampak sederhana, namun mengandung pelajaran yang sangat dalam yang perlu kita gali. Meskipun kita sering mengaitkannya dengan belas kasih dan pengampunan Allah, yang tentunya benar, ada hal yang lebih dalam dari sekadar apa yang terlihat. Dalam Alkitab, perzinaan bukan hanya merupakan dosa besar; perzinaan juga merupakan metafora untuk penyembahan berhala, sebuah pengkhianatan rohani yang paling berat. Nabi Hosea, misalnya, dipanggil untuk menikahi seorang wanita yang tidak setia untuk melambangkan relasi Allah yang setia dengan Israel yang tidak setia (Hosea 1-3). Yehezkiel mengutuk Yerusalem dan Samaria sebagai “saudara perempuan yang berzina” karena mengejar ilah-ilah asing (Yehezkiel 23:30). Demikian pula, dalam Perjanjian Baru, Yakobus menegur mereka yang memprioritaskan “persahabatan” duniawi di atas Tuhan, dengan menyebut mereka sebagai “pezina”. (Yakobus 4:4).

Hubungan antara perzinaan dan penyembahan berhala mengungkapkan kebenaran yang lebih dalam tentang hubungan kita dengan Tuhan. Dia tidak menciptakan kita sebagai budak yang dikendalikan oleh rasa takut atau sebagai robot yang tidak berpikiran yang terikat oleh program. Sebaliknya, Dia menciptakan kita sebagai orang yang bebas dan mampu mengasihi, yang menginginkan sebuah relasi kasih dengan kita; hubungan yang dibangun di atas pengabdian dan bukan kewajiban. Dalam istilah mistik, Tuhan mengundang kita untuk menjadi kekasih rohani-Nya, yang berarti kita mengasihi-Nya di atas segalanya dan melayani Dia bukan karena takut, tetapi karena cinta yang dalam dan tulus.

Salah satu orang kudus yang paling awal berbicara tentang “perkawinan rohani” ini adalah St. Katarina dari Siena. Pada usia enam tahun, ia menyatakan dirinya sebagai mempelai Kristus, menolak pernikahan duniawi untuk mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada Yesus. Pada usia 20 tahun, dia mengalami pernikahan rohani dengan Kristus. Dan cintanya yang luar biasa menyatukannya secara mendalam dengan Kristus sampai-sampai ia ikut merasakan luka-luka-Nya. Dia menerima stigmata sekitar lima tahun sebelum dia meninggal dunia.

Gereja secara terus-menerus mengajarkan bahwa kita, secara kolektif, adalah Mempelai Kristus. Sama seperti Hawa yang dibentuk dari sisi Adam ketika dia tidur, Gereja lahir dari sisi Yesus yang tertusuk di kayu salib. Melalui pembaptisan, kita dilahirkan kembali sebagai anggota Gereja-Nya, yakni Kekasih-Nya. Melalui Ekaristi, kita dipelihara dan ditopang oleh Tubuh dan Darah-Nya. Oleh karena itu, kasih kita kepada Allah haruslah melebihi segala sesuatu yang lain, dan bahkan kasih kita kepada keluarga dan teman-teman haruslah mengalir dari kasih kita kepada Kristus.

Inilah sebabnya mengapa lebih mengutamakan sesuatu yang lain di atas Tuhan merupakan perzinaan rohani. Kisah Yesus yang mengampuni perempuan yang berzina menggambarkan kasih dan kerahiman Allah yang tak tergoyahkan dan juga ketidaksetiaan kita. Masa Prapaskah memanggil kita kembali kepada cinta kita yang pertama dan yang paling sejati; satu-satunya cinta yang membawa kebahagiaan abadi.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi:

Bagaimana kita berelasi dengan Allah – sebagai seorang hamba yang taat kepada tuannya, atau sebagai seorang kekasih yang merespon Cinta-Nya? Apakah kita mengasihi Allah di atas segalanya? Apakah kita mengasihi orang lain demi Tuhan? Keterikatan tidak sehat apa terhadap dunia yang perlu kita periksa? Bagaimana kita dapat kembali kepada cinta sejati kita?

The Prodigal Father

4th Sunday of Lent [C]

March 30, 2025

Luke 15:1-3, 11-32

The story of the Prodigal Son is one of the most beautiful parables in the Gospel. Not only is it masterfully told, but it also teaches profound lessons—especially about parenthood.

Raising children is no easy task. Each child has a unique personality, and each can bring both joy and heartache. Many of us struggle to know how to be good parents. Some rely on the wisdom passed down from their own parents and elders, drawing from memories of how they were raised. Others turn to social media or self-proclaimed parenting “experts” for guidance. A few make the effort to consult real specialists—paediatricians, child psychologists, and educators. Yet, in the end, our children are not carbon copies of us. There will always be surprises beyond our control. All we can do is pray and hope they that will grow into their best selves.

The father in the parable offers us a powerful example. Despite doing his best to raise his two sons, he faced painful relationships with both. The younger son demanded his inheritance, severed ties, and left to live a sinful life. Imagine the father’s heartbreak—his son treated him as disposable, not as a parent. The elder son was no better. When his brother returned, he refused to enter the house and join the celebration. He never called his father “Father,” referring to his brother as “your son” instead of “my brother.” He saw himself not as a son but as a servant, even saying, “Look! All these years I’ve worked for you like a slave! Again, the father’s heart must have ached—he had raised a son, not a slave.

Yet, despite these struggles, the father never gave up. He never stopped hoping for his younger son’s return. When the prodigal son came home, humbled and expecting to be a servant, the father is the first one who saw his son, ran after him, and embraced him. He called him “my son” and not servant. When the first son refused to go home, the father sought him and pleaded with him, calling him “my son” and not servant, explaining that everything he has, belongs also to his son.

Many of us are blessed with children but endure strained relationships. Despite our best efforts, our children may not turn out as we hoped. Some, like the younger son, reject our love or wish us gone. Others, like the elder son, see us as taskmasters, not parents. Yet the parable calls us to love perseveringly, and till the end, because that is true parenthood. That is holiness.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Reflection Questions:

How do we raise our children well? What is the state of our relationship with them? Do we face difficulties in relating to our children? How do we respond to these challenges? Do we rely on God’s grace to guide us?

Kisah Seorang Ayah

Minggu ke-4 Masa Prapaskah [C]

30 Maret 2025

Lukas 15:1-3, 11-32

Kisah Anak yang Hilang adalah salah satu perumpamaan yang paling indah dalam Injil. Tidak hanya diceritakan dengan indah, tetapi juga mengajarkan pelajaran yang mendalam – terutama tentang menjadi orang tua.

Membesarkan anak bukanlah tugas yang mudah. Setiap anak memiliki kepribadian yang unik, dan masing-masing dapat membawa sukacita, namun juga sakit hati. Banyak dari kita yang bergulat menjadi orang tua yang baik. Beberapa mengandalkan kebijaksanaan yang diturunkan dari orang tua kita dan orang sekitar kita, atau  dari pengalaman dan memori bagaimana kita dibesarkan. Sebagian lagi beralih ke media sosial atau influencers yang menyebut diri sebagai “pakar parenting.”  Beberapa orang melakukan langkah lebih jauh dengan berkonsultasi dengan spesialis yang sebenarnya, seperti dokter anak, psikiater dan psikolog anak, dan pendidik. Namun, pada akhirnya, anak-anak kita bukanlah fotokopi dari diri kita. Akan selalu ada kejutan-kejutan di luar kendali kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa dan berharap mereka tumbuh menjadi diri mereka yang terbaik.

Sang ayah dalam perumpamaan ini memberikan teladan yang baik kepada kita. Meskipun telah melakukan yang terbaik untuk membesarkan kedua putranya, dia menghadapi relasi yang menyakitkan dengan keduanya. Anak bungsunya menuntut warisannya, memutuskan hubungan, dan pergi untuk menjalani kehidupan yang penuh dosa. Bayangkan betapa hancurnya hati sang ayah karena putranya memperlakukannya sebagai barang yang bisa dibuang, bukan sebagai orang tua. Anak sulungnya juga tidak lebih baik. Ketika adiknya kembali, dia menolak untuk masuk ke rumah dan bergabung dalam perayaan. Dia tidak pernah memanggil ayahnya dengan sebutan “Ayah,” dan memanggil saudaranya dengan sebutan “anakmu” daripada “saudaraku.” Dia melihat dirinya bukan sebagai anak tetapi sebagai hamba, bahkan berkata, “Lihat! Selama ini saya telah bekerja untukmu seperti seorang budak!” Sekali lagi, hati sang ayah pasti hancur karena ia telah membesarkan seorang anak, bukan seorang budak.

Namun, terlepas dari semua pergulatan ini, sang ayah tidak pernah menyerah. Dia tidak pernah berhenti berharap anak-anaknya kembali. Ketika anak yang hilang itu pulang dan berharap untuk menjadi seorang hamba, sang ayah adalah orang pertama yang melihat anaknya, berlari mengejarnya, dan memeluknya. Dia memanggilnya “anakku” dan bukan hamba. Ketika anak pertama menolak untuk pulang, sang ayah mencarinya dan memohon kepadanya, memanggilnya “anakku” dan bukan hamba, menjelaskan bahwa semua yang dia miliki, adalah juga milik anaknya.

Banyak dari kita yang dikaruniai anak tetapi mengalami hubungan yang tidak selalu sempurna. Terlepas dari upaya terbaik kita, anak-anak kita mungkin tidak menjadi seperti yang kita harapkan. Beberapa, seperti anak bungsu, menolak cinta kita atau berharap kita pergi. Yang lainnya, seperti anak sulung, melihat kita sebagai bos atau atasan, bukan sebagai orang tua. Namun, perumpamaan ini memanggil kita untuk mengasihi dengan tekun, dan sampai akhir. Itulah orang tua yang sejati. Itulah kekudusan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan Refleksi:

Bagaimana kita membesarkan anak-anak kita dengan baik? Bagaimana hubungan kita dengan mereka? Apakah kita menghadapi kesulitan dalam berhubungan dengan anak-anak kita? Bagaimana kita menanggapi tantangan-tantangan ini? Apakah kita mengandalkan kasih karunia Allah untuk membimbing kita?

Moses

3rd Sunday of Lent [C]

March 23, 2025

Exodus 3:1-8a, 13-15

Moses is undoubtedly one of the greatest figures in the Old Testament. He led the Israelites out of slavery in Egypt, mediated the Sinaitic covenant, taught God’s laws, and even performed miracles. His life and teachings are recorded in four books of the Bible: Exodus, Leviticus, Numbers, and Deuteronomy. However, when we look deeper into his life, we discover that his story is not solely about greatness and success. Moses also had a dark past.

Moses was born into the Levite clan during a time when Egypt had ordered the killing of all Hebrew baby boys. To save him, his mother devised a plan to place him in a basket on the Nile River, where he was found by an Egyptian princess. She drew him from the water and named him “Moses” (Exodus 2:10). Though an Israelite by birth, Moses was adopted by the princess and raised as part of the royal family, enjoying the privileges reserved for Egyptian nobility.

Moses’ story might have had a “happy ending” had he not involved himself in the struggles of the Hebrew slaves. He could have lived comfortably as an Egyptian official, married an Egyptian woman, raised a family, and enjoyed a peaceful old age. However, he could not ignore the injustice inflicted on his people. In a moment of anger, he killed an Egyptian who was oppressing an Israelite. Moses believed he had hidden his crime, but he was wrong. When he tried to mediate a dispute between two Israelites, they revealed his secret, exposing him as a murderer. His comfortable life was shattered, and he was forced to flee Egypt. Once drawn from the water, Moses now found himself drowning in despair.

In Midian, Moses started a new life. He protected the daughters of a Midianite priest from harassing shepherds, and as a sign of gratitude, the priest welcomed him and gave him his daughter Zipporah in marriage. This marked Moses’ second life. Though not as luxurious as his life in Egypt, it was peaceful. Yet, when Moses was around 80 years old, God appeared to him in a burning bush and called him to be His instrument in liberating the Israelites from Egyptian slavery. Moses doubted himself deeply. After all, he was a murderer and a fugitive who had betrayed the kindness of the Egyptians, while distrusted his fellow Israelites. He was also old and content with his life in Midian.

Despite Moses’ dark and sinful past—and his current doubts—God insisted on choosing him. Why? Because Moses’ story is ultimately not about Moses but about God, who redeemed Israel through an imperfect man. Yet, Moses was not merely an instrument. As he journeyed with God, he also found his own redemption.

Like Moses, we are far from perfect. We are broken, struggling with sin and disordered attachments. We fail as parents, spouses, children, and friends. We hurt others and ourselves. We doubt our worth and often settle for less. Yet, God insists on bringing out the best in us and invites us to walk with Him to find redemption. In the end, we can only be grateful, for despite our brokenness and imperfections, God makes us beautiful.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Questions:

What do we remember about Moses?  Do we have something in common with Moses? If so, what is it? Do we have a dark past like Moses? Do we experience failures like Moses? Do we doubt God’s plan for us, as Moses did? What can we learn from Moses as he accepted God’s calling? 

Musa

Minggu ke-3 Masa Prapaskah [C]

23 Maret 2025

Keluaran 3:1-8a, 13-15

Musa adalah salah satu tokoh terbesar dalam Perjanjian Lama. Ia memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir, menjadi perantara perjanjian Sinai, mengajarkan hukum-hukum Allah, dan bahkan melakukan mukjizat. Kehidupan dan ajarannya dicatat dalam empat kitab: Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Namun, ketika kita melihat lebih dalam ke dalam kehidupannya, kita menemukan bahwa kisahnya tidak selalu tentang kehebatan dan kesuksesan. Musa juga memiliki masa lalu yang kelam.

Musa dilahirkan sebagai suku Lewi pada saat Mesir memerintahkan pembunuhan terhadap semua bayi laki-laki Ibrani. Untuk menyelamatkannya, ibunya menyusun rencana untuk menempatkannya di dalam keranjang di Sungai Nil, di mana ia ditemukan oleh seorang putri Firaun. Putri itu menariknya dari air dan menamainya “Musa” (Kel 2:10). Meskipun lahir sebagai orang Israel, Musa diadopsi oleh sang putri dan dibesarkan sebagai bagian dari keluarga kerajaan, menikmati hak-hak istimewa yang disediakan untuk bangsawan Mesir.

Kisah Musa mungkin saja memiliki “akhir yang bahagia” seandainya ia tidak melibatkan dirinya dalam penderitaan para budak Ibrani. Dia bisa saja hidup dengan nyaman sebagai seorang pejabat Mesir, menikahi seorang wanita Mesir, membesarkan sebuah keluarga, dan menikmati masa tua yang berkelimpahan. Namun, dia tidak bisa mengabaikan ketidakadilan yang menimpa bangsanya. Dalam sebuah momen kemarahan, dia membunuh seorang Mesir yang menindas seorang Israel. Musa percaya bahwa dia telah menyembunyikan kejahatannya, tetapi dia salah. Ketika dia mencoba menengahi perselisihan antara dua orang Israel, mereka justru membongkar rahasianya, mengekspos dia sebagai seorang pembunuh. Kehidupannya yang nyaman hancur, dan dia terpaksa melarikan diri dari Mesir. Setelah ditarik dari air, Musa kini menemukan dirinya tenggelam dalam keputusasaan.

Di Midian, Musa memulai hidup baru. Dia melindungi anak perempuan seorang imam Midian dari gangguan para gembala, dan sebagai tanda terima kasih, imam itu menyambutnya dan memberikan putrinya, Zippora sebagai istri Musa. Hal ini menandai kehidupan Musa yang kedua. Meskipun tidak semewah kehidupannya di Mesir, namun kehidupan Musa di sana terasa tenang. Namun, ketika Musa berusia sekitar 80 tahun, Tuhan menampakkan diri kepadanya di semak yang menyala dan memanggilnya untuk menjadi alat-Nya dalam membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Musa sangat meragukan dirinya sendiri. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang pembunuh dan buronan yang telah mengkhianati kebaikan hati orang Mesir, dan juga tidak mempercayai rekan-rekannya sesama orang Israel. Dia juga sudah tua dan puas dengan kehidupannya di Midian.

Terlepas dari masa lalu Musa yang kelam dan penuh dosa, dan juga penuh keraguannya, Allah tetap memilihnya. Mengapa? Karena kisah Musa pada akhirnya bukanlah tentang Musa, melainkan tentang Allah, yang menebus Israel melalui seorang manusia yang tidak sempurna dan rapuh. Namun, Musa bukanlah sekadar alat. Ketika ia melakukan perjalanan bersama Tuhan, ia juga menemukan penebusannya sendiri.

Seperti Musa, kita juga jauh dari sempurna. Kita lemah dan bergumul dengan dosa dan keterikatan yang tidak teratur. Kita gagal sebagai orang tua, pasangan, anak, dan teman. Kita menyakiti orang lain dan diri kita sendiri. Kita meragukan diri kita sendiri dan sering kali merasa kurang. Namun, Tuhan tetap memilih kita. Dia ingin kita menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri dan mengundang kita untuk berjalan bersama-Nya untuk menemukan penebusan. Pada akhirnya, kita hanya dapat bersyukur, karena terlepas dari kehancuran dan ketidaksempurnaan kita, Tuhan menjadikan kita indah.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Nilai apa yang kita temukan saat kita mengingat cerita tentang Musa?  Apakah kita memiliki kesamaan dengan Musa? Jika ya, apakah itu? Apakah kita memiliki masa lalu yang kelam seperti Musa? Apakah kita mengalami kegagalan seperti Musa? Apakah kita meragukan rencana Allah bagi kita, seperti Musa? Apa yang dapat kita pelajari dari Musa ketika ia menerima panggilan Allah?