Padang Gurun

Hari Minggu Pertama Masa Prapaskah [B]

18 Februari 2024

Markus 1:12-15

Apa yang kita bayangkan ketika mendengar kata padang gurun? Gambaran yang ada di benak kita mungkin sangat beragam, tergantung pada pengalaman dan pengetahuan kita tentang gurun. Namun, kita sepakat bahwa padang gurun adalah tempat yang tandus, diliputi oleh iklim yang tidak bersahabat, dan bukan tempat yang cocok untuk dihuni oleh manusia. Lalu, mengapa Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun? Mengapa kita perlu mengalami momen-momen padang gurun?

Ketika kita memiliki gambaran tentang padang gurun, kita dapat berpikir tentang hutan hijau atau taman yang subur sebagai kebalikannya. Faktanya, Alkitab memberikan dua gambaran ini, taman dan padang gurun, sebagai dua tempat yang kontras. Adam dan Hawa pada awalnya tinggal di taman yang sempurna, dengan segala kenikmatannya. Mereka memiliki makanan terbaik, tempat teraman, dan yang paling penting, Tuhan bersama mereka. Namun, mereka jatuh dalam dosa, dan mereka harus meninggalkan taman itu. Mereka memulai perjalanan mereka di ‘padang gurun’ di mana mereka harus bekerja keras untuk mencari nafkah, di mana banyak bahaya mengintai, dan kematian menjadi tujuan akhir mereka.

Lalu, mengapa Yesus berada di padang gurun? Jawabannya adalah bahwa Yesus ada di padang gurun agar kita dapat menemukan-Nya juga di sana. Bahkan padang gurun pun dapat menjadi tempat yang kudus, karena Juruselamat kita ada di sana dan memberkati tempat itu. Ya, padang gurun adalah tempat yang berbahaya, dan bahkan roh-roh jahat pun mengintai untuk merenggut kita dari Tuhan, namun Yesus juga ada di sana. Kehadiran-Nya membuat tempat yang paling jelek sekalipun di dunia ini menjadi tempat yang indah dan kudus.

Kehadiran Tuhan di padang gurun bukanlah sesuatu yang baru. Kata gurun dalam bahasa Ibrani adalah מדבר (baca: midbar), dan secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai ‘tempat sabda’. Memang, gurun Sinai adalah tempat di mana bangsa Israel mengalami banyak kesulitan, dan diuji, namun juga tempat di mana Tuhan menyatakan diri-Nya dan membuat perjanjian dengan Israel melalui Musa. Bahkan, melalui pengalaman di padang gurun, Tuhan mendisiplinkan dan membentuk umat-Nya.

Kecenderungan alamiah kita adalah menghindari padang gurun, baik itu tempat geografis yang nyata maupun simbol untuk saat-saat sulit dalam hidup kita. Kita tidak ingin mengalami rasa sakit dan penyakit, kita benci menanggung kesulitan keuangan dan ekonomi, dan kita tidak mau hubungan yang sulit dalam keluarga atau komunitas kita. Kita ingin selalu diberkati, berada di Firdaus. Namun, sekarang, kita tidak perlu takut untuk berjalan melewati padang gurun karena Yesus ada di sana. Memang, kesulitan kita dapat membuat kita lelah dan menjadi kesempatan bagi iblis untuk mencobai kita dengan keras, namun bersama Yesus, pengalaman-pengalaman ini dapat menjadi sarana kekudusan.

Pada masa Prapaskah, Gereja mengajarkan kita untuk berpuasa, berdoa lebih intens dan meningkatkan amal kasih. Praktik-praktik ini mengundang kita untuk memasuki padang gurun, merasakan kelaparan, mengalami ketidaknyamanan, dan mengurangi hal-hal yang memberi kita kesenangan. Namun, secara paradoks, ketika kita memasuki padang gurun Prapaskah yang sulit ini dengan sukarela dan setia, kita dapat menemukan Kristus di sana, dan kita diperbaharui dalam kekudusan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lazarus dan Sakramen Krisma

Minggu ke-5 Masa Prapaskah [A]
26 Maret 2023
Yohanes 11:1-45

Ada tujuh tanda (atau mukjizat) dalam Injil Yohanes, dan Gereja telah mengenali bahwa ketujuh mukjizat ini berhubungan dengan ketujuh sakramen. Minggu lalu, kita telah melihat bahwa penyembuhan orang yang buta sejak lahir menjadi tanda dari sakramen Baptisan (lih. Yoh 9:1-41). Sekarang, kita menemukan mukjizat Yesus yang lain, yaitu kebangkitan Lazarus. Mukjizat ini berhubungan dengan sakramen penguatan atau krisma. Mari kita simak penjelasannya.

Sakramen krisma sering kali disalahpahami dan bahkan diabaikan. Ada banyak alasan kenapa hal ini terjadi. Beberapa dari kita mungkin merasa bahwa sakramen ini tidak terlalu dibutuhkan. Kita merasa bahwa kita sudah memenuhi tugas kita ketika kita dibaptis, pergi ke Misa sesekali, dan mungkin pergi ke pengakuan dosa setahun sekali. Yang lainnya menerima katekese yang tidak memadai, dan oleh karena itu, pemahaman kita tentang sakramen ini sangat terbatas dan bahkan salah. Yang lainnya tidak ingin merepotkan diri dengan serangkaian katekese dan pembekalan sebelum menerima sakramen Penguatan. Yang lainnya lagi menerima sakramen tanpa katekese yang memadai karena pernikahan mereka sudah dekat. Dengan demikian, banyak yang melihat krisma sebagai sakramen ‘kelas dua’.

Namun, anggapan ini tidak benar sama sekali. Gereja terus mengajarkan bahwa sakramen ini memiliki peran yang tak tergantikan dalam kehidupan umat beriman. Krisma adalah sakramen kedua dari tiga sakramen inisiasi Gereja (bersama dengan baptisan dan Ekaristi). Ini berarti, untuk menjadi anggota Gereja yang utuh dan dewasa, kita harus menerima rahmat Roh Kudus yang diterima dalam sakramen krisma. Sekarang, bagaimana Injil hari ini berhubungan dengan sakramen krisma?

Pertama, Lazarus, bersama dengan Maria dan Marta, memiliki persahabatan yang penuh kasih dengan Yesus sebelum mukjizat terjadi. Kondisi ini menunjukkan kepada kita bahwa Lazarus adalah simbol orang Kristen yang telah dibaptis yang hidup di dalam Kristus. Kedua, kematian Lazarus dan kebangkitannya menunjuk kepada kehidupan baru di dalam Roh. Yohanes Penginjil menceritakan secara eksplisit bahwa Lazarus telah berada di dalam kubur selama empat hari (Yoh 11:17). Ini adalah detail kecil namun penting. Lazarus benar-benar telah meninggal, dan jiwanya tidak lagi bersama dengan tubuhnya. Dengan demikian, mukjizat Yesus adalah tindakan ilahi yang menghidupkan kembali, menyatukan tubuh dan jiwa. Memang benar bahwa Roh Kudus tidak disebutkan, tetapi mukjizat Yesus membawa kita kembali kepada penciptaan manusia di mana Roh Allah aktif dan memberi kehidupan.

Terakhir, mukjizat ini memiliki dampak yang permanen pada diri Lazarus. Setelah kembali dari kematian, Lazarus menjadi saksi hidup akan kuasa dan kasih Yesus. Karena kesaksian Lazarus, banyak orang datang kepada Yesus dan percaya kepada-Nya. Dan karena alasan yang sama, Lazarus menghadapi penganiayaan dari musuh-musuh Yesus [lih. Yoh 12:9-11]. Namun, Lazarus tidak menjadi pengecut. Dia telah mengalami kematian, tetapi bahkan kematian pun tidak dapat memisahkannya dari kasih Kristus.

Apa yang terjadi pada Lazarus juga terjadi pada kita. Ketika kita dibaptis, kita menerima persahabatan yang penuh kasih dengan Kristus. Namun, dalam sakramen krisma, jiwa kita menerima karunia-karunia Roh Kudus dan kita menjadi orang Kristen yang dewasa. Kita sekarang telah menjadi saksi Yesus Kristus yang hidup dan membawa lebih banyak orang kepada Tuhan. Kita juga diberdayakan untuk menanggung penderitaan dan penganiayaan karena Kristus, dengan sabar dan berani.

Inilah sebabnya mengapa sebelum menerima sakramen perkawinan atau sakramen imamat, kita perlu menerima sakramen peneguhan. Perkawinan dan imamat adalah sakramen pelayanan dan kesaksian, yang membawa orang lain lebih dekat kepada kekudusan. Oleh karena itu, hanya orang-orang Kristen yang sungguh dewasa yang layak untuk melakukan tugas-tugas ini. Kita tidak hanya dipanggil untuk menjadi sahabat-sahabat Yesus, tetapi juga menjadi saksi-saksi-Nya yang berani di dunia, dan sakramen krisma ini menjadikan kita saksi-saksi-Nya.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lazarus and the Sacrament of Confirmation

5th Sunday of Lent [A]
March 26, 2023
John 11:1-45

There are seven signs (or miracles) in the Gospel of John. Naturally, the Church has recognized these seven miracles correspond to the seven sacraments. Last Sunday, we have seen that the healing of the man born blind turns out to be the sign to the sacrament of Baptism (see John 9:1-41). Now, we discover another Jesus’ sign-miracle, that is, the raising Lazarus to life. This miracle points to the sacrament of confirmation.

The sacrament of confirmation is often misunderstood and even neglected. There are many reasons for this. Some of us may feel that it is not necessary. We feel that we are already fulfilling sacred obligation when we are baptized, go to the Mass every now and then, and perhaps go to the confession once a year. Other receive an insufficient catechesis, and therefore, our understanding on the sacrament is very limited and even fussy. Others do not want to trouble themselves with another series of catechesis before the Confirmation. Others receive the sacrament without proper catechesis because their weddings are fast approaching. Thus, many see the confirmation as the second-rate sacrament.

However, this is not true at all. The Church continues to teach that this sacrament has indispensable role in the lives of the faithful. In fact, it is the second of the three sacraments of the initiation (together with baptism and Eucharist). To be full and mature member of the Church, we must receive the grace of the Holy Spirit imparted in the sacrament of confirmation. Now, how does today’s Gospel relate to the sacrament?

Firstly, Lazarus, together with Mary and Martha, has a loving friendship with Jesus before the miracle. This condition shows us that Lazarus is the symbol of baptized Christians who live in Christ. Secondly, Lazarus’ death and his going back to life point to the new life in the Spirit. John the Evangelist narrated explicitly that Lazarus has been in the tomb for four days (John 11:17). This is important detail, that is, Lazarus is truly dead, and his soul is no longer with his body. Thus, miracle of Jesus is a divine act that brings back life, uniting body and soul. While it is true that the Holy Spirit is not mentioned, but Jesus’ miracle brings us back to the creation of man where the Spirit of God was active and life-giving.

Finally, the miracle has enduring effects in Lazarus. After his return from the dead, Lazarus becomes a living witness to Jesus’ power and love. Because of Lazarus’ testimony, many come to Jesus and believe in Him. And for the same reason, Lazarus faces persecutions from Jesus’ enemies [see John 12:9-11]. Yet, Lazarus does not coward. He has been through death, but not even death can separate him from the love of Christ.

What happen to Lazarus are also happening in us. When we are baptized, we receive a loving friendship with Christ. Yet, in the sacrament of confirmation, our souls receive the gifts of the Holy Spirit and we become a mature Christians. We are now transformed to be a living witnesses of Jesus Christ and bring more people to God. We also are empowered to endure hardship and persecution because of Christ.

This is why before receiving the sacrament of holy matrimony or the sacrament of holy orders, we need to receive the confirmation. These two are the sacraments of service and witnessing, that bring other closer to holiness. Thus, only mature Christians are fit for this tasks. We are not only called to be Jesus’ friends, but also His brave witnesses to the world, and this sacrament makes us one.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Penyembuhan Orang Buta dan Pembaptisan

Minggu ke-4 Masa Prapaskah [A]
19 Maret 2023
Yohanes 9:1-41

Ada tujuh tanda (atau mukjizat) dalam Injil Yohanes. Secara naluriah, Gereja melihat ketujuh mukjizat ini sebagai simbol dari tujuh sakramen. Lalu, kisah penyembuhan orang yang buta sejak lahir ini yang kita dengarkan Minggu ini berhubungan dengan sakramen apa? Jawabannya adalah sakramen Pembaptisan. Dan, karena tema dasar dari masa Prapaskah adalah pembaptisan, Gereja pun tidak ragu-ragu untuk menempatkan bacaan ini pada masa suci ini. Namun, benarkah mukjizat ini berhubungan dengan pembaptisan? Dan bagaimana kita sungguh tahu?

Kisah ini dimulai dengan Yesus dan para murid yang melihat seorang yang menderita kebutaaan sejak lahir. Kemudian, murid-murid-Nya mulai bertanya kepada-Nya, “Rabi, siapakah yang berdosa, orang ini atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta (Yoh 9:2)? Murid-murid Yesus percaya bahwa penderitaan yang dialami orang ini adalah akibat dari dosa-dosa pribadinya, atau setidaknya dosa orang-tuanya. Namun, Yesus menunjukkan bahwa baik orang yang buta ini maupun orang tuanya tidak melakukan sebuah dosa yang menyebabkan kebutaan. Meskipun penderitaan dan kematian memang berkaitan dengan dosa, tetapi hubungan tersebut tidaklah sejajar, melainkan sebuah misteri. Orang itu tidak melakukan dosa, tetapi ia menanggung konsekuensi dari dosa. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?

Gereja mengajarkan kondisi ini sebagai dosa asal. Setiap keturunan Adam dan Hawa dilahirkan ke dunia sebagai ‘musuh’ Allah. Sejak dalam kandungan ibu kita, kita adalah ‘orang berdosa’, bukan karena kita melakukan dosa pribadi, tetapi karena kita jauh dari Allah dan tidak memiliki persahabatan rohani dengan-Nya. Oleh karena dosa asal tersebut, kita rentan terhadap berbagai penderitaan dan juga bergumul dengan concupiscentia (lihat juga renungan saya dua minggu yang lalu). Kondisi pria yang buta ini menjadi simbol dari kondisi dosa asal.

Bagaimana Yesus menyembuhkan orang buta ini? Yesus meludah ke tanah dan membuat tanah liat dengan ludah-Nya, lalu mengoleskan tanah liat tersebut ke matanya. Lalu, Dia meminta orang buta itu untuk membasuh dirinya dengan air. Mengapa Yesus melakukan pengobatan yang aneh dan tidak higienis seperti itu? Jawabannya ada di Perjanjian Lama. Yesus melakukan apa yang Allah lakukan di kisah penciptaan manusia. Ketika Allah menciptakan Adam, Dia mengunakan tanah. Ada sebuah tradisi Yahudi yang mengatakan bahwa Allah menggunakan air liur-Nya untuk membuat tanah menjadi lebih mudah dibentuk. Yesus melakukan hal yang sama di sini. Dia membawa orang yang buta menjadi sembuh dengan ‘menciptakannya kembali’. Kemudian, kesembuhan menjadi nyata ketika orang itu membasuh dirinya dengan air.

Apa yang terjadi pada orang yang disembuhkan itu, juga terjadi pada setiap orang saat pembaptisan. Apa yang kita lihat di mata kita, adalah seseorang dibasuh dengan air, tetapi secara rohani, Tuhan sedang membentuk kita menjadi ciptaan yang baru. Semua dosa, baik dosa asal maupun dosa pribadi, dibersihkan. Jiwa kita diubah menjadi serupa dengan Kristus dan diangkat menjadi anak-anak Allah. Dengan demikian, kita memanggil Allah sebagai Bapa kita, bukan dalam arti kiasan, tetapi dalam arti yang sesungguhnya.

Terakhir, menjelang akhir cerita, Yesus bertanya kepada orang itu, “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Lalu, orang itu menyatakan imannya kepada Yesus dan menyembah Dia. Iman adalah bagian yang tidak terpisahkan dari baptisan. Tidak masalah, jika kita percaya sebelum pembaptisan (seperti dalam kasus baptisan orang dewasa) atau setelah pembaptisan (dalam kasus baptisan bayi). Namun, yang terpenting adalah baptisan hanyalah permulaan, dan iman kita harus terus bertumbuh.

Kita tidak tahu apa yang dilakukan orang tersebut setelah kesembuhan yang diterimanya, tetapi kita dapat percaya bahwa ia menjadi murid Yesus dan mengikuti Dia. Setelah pembaptisan dan iman awal kepada Yesus, Gereja mendorong kita untuk melanjutkan perjalanan kekudusan kita. Kita bertumbuh dalam iman melalui hidup di dalam Kristus, menghindari dosa, melakukan karya amal, dan menerima sakramen-sakramen lainnya.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Healing of the Blind Man and Baptism

4th Sunday of Lent [A]
April 19, 2023
John 9:1-41

There are seven signs (or miracles) in the Gospel of John. Naturally, the Church has recognized these seven miracles corresponds to the seven sacraments entrusted to her. The healing of the man born blind turns out to be the sign to the sacrament of Baptism. Since the basic theme of Lenten season is baptism, the Church does not hesitate to place this reading during this holy season. But, is true that this miracles is related to baptism? And how do we know?

The story begins with Jesus and disciples saw a poor blind man. Then, His disciples start to ask Him, ‘Rabbi, who sinned, this man or his parents, that he was born blind (John 9:2)?’ Jesus’ disciples believe that his sufferings are consequences of his personal sins, or at least his parents. Yet, Jesus immediately teaches them the truth. Jesus points out that neither blind man nor his parents have sinned to cause him blindness. Although sufferings and death are indeed related to sin, but the relation is not linear, but a mystery. The man does not commit personal sins, but he bears the consequence of sin. How is it possible?

The Church recognizes this condition as the original sin. Every descendant of Adam and Eve was born into the world as ‘enemies’ of God. Since we are in the womb of our mothers, we were ‘sinners’, not because we commit any personal sins, but because we are far from God and do not have a spiritual friendship with Him. Thus, because of the original sin, we are susceptible to various sufferings as well as struggling with concupiscence (check also my reflection two weeks ago).

How does Jesus heal this blind man? Jesus spats on the ground and makes clay with the saliva, and smears the clay on his eyes. Finally, He asks the blind man to wash himself with water. Why does Jesus perform such a weird and unhygienic treatment? Jesus performs what God did in the beginning: the creation of man. When God created Adam, He molded a soil of the ground. There is a Jewish tradition that says that God used His own saliva to make soil easier to form. Jesus does the same here. He is bringing the man with blindness into healing by ‘re-creating’ him. Then, the final healing takes place when the man wash himself with water.

What happens to the healed man, takes place also in every person during the baptism. What we see in our eyes is someone is washed with water, but spiritually, God is making us a new creation. All sins, both original and personal sins, are cleansed. Our souls are transformed into the likeness of Christ and are elevated into the adopted children of God. Thus, we call God our Father, not in the metaphorical sense, but in the real one.

Lastly, towards the end of the story, Jesus asks him, ‘Do you believe in the Son of Man?’ Eventually, the man professes his faith in Jesus and worships Him. Faith is integral part of baptism; whether we believe before the baptism (like in the case of adult baptism) or after baptism (in the case of infant baptism). However, baptism is just the beginning, and our faith must also grow.

We are not sure what the man does after the healing he received, but we may believe that he becomes Jesus’s disciple and follow Him. After baptism and initial faith in Jesus, the Church encourages us to continue our journey of holiness. We grow in faith through living in Christ, works of charity, and proper reception of other sacraments.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kisah Perempuan Samaria

Minggu Ketiga Masa Prapaskah [A]
12 Maret 2023
Yohanes 4:5-42

Untuk hari Minggu ketiga Prapaskah, Gereja telah memilihkan kisah perempuan Samaria dari Injil Yohanes. Kisah ini tidak hanya muncul pada tahun liturgi ini (Tahun A), tetapi juga pada tahun-tahun lainnya (Tahun B dan C). Mengapa Gereja memilih bacaan ini untuk masa Prapaskah? Mengapa kisah ini menjadi sangat istimewa karena setiap tahun kita diundang untuk mendengarkan dan merenungkan kisah ini?

photocredit: Nandhu Kumar

Kisah perempuan Samaria menawarkan kepada kita sebuah kisah pertobatan. Oleh karena itu, kisah ini sangat cocok untuk masa Prapaskah. Mari kita masuk lebih dalam ke dalam kisah ini. Yohanes Penginjil tidak menyebutkan nama perempuan ini dan juga rincian lainnya, tetapi ada satu informasi yang menonjol. Sang perempuan pernah memiliki lima suami, dan saat ini, ia hidup dengan seorang pria lain. Sekali lagi, kita tidak memiliki rincian tentang hal ini. Tampaknya wanita tersebut telah menjalani siklus pernikahan, perceraian, dan pernikahan kembali. Untuk alasan yang tidak diketahui, para mantannya terus menceraikannya (lihat Ul 24, untuk proses perceraian di Hukum Musa).

Mungkin, ada masalah pernikahan yang serius. Mungkin, juga ada masalah dengan kepribadiannya dan juga karakter suaminya, yang membuat mereka tidak dapat hidup dalam hubungan yang permanen dan sehat. Sekali lagi, kita tidak yakin, tetapi kita dapat mengatakan bahwa ia telah melalui masa yang sangat sulit, dan pengalaman ini sangat menyakitkan dan traumatis, sampai-sampai ia memutuskan untuk hidup dengan seorang pria tanpa pernikahan yang sah. Pada saat yang sama, dia harus menghindari bangsanya karena malu, dan menjauhkan diri dari Tuhannya.

Pada awalnya, mendengar bahwa wanita ini memiliki lima pernikahan terdengar sulit dipercaya. Namun, hal ini tidak sepenuhnya mustahil. Namun, yang lebih penting adalah bahwa perempuan Samaria ini telah menjadi cerminan dari sebagian dari kita, atau orang-orang yang dekat dengan kita. Sebelum saya memulai studi saya di Roma, saya melayani sebagai asisten pastor paroki di Surabaya. Berada di paroki di sebuah kota besar, pelayanan saya terkait dengan pernikahan dan keluarga Katolik. Saya beruntung bahwa saya diberi kesempatan untuk memberkati lebih dari lima puluh pernikahan. Namun, sayangnya, saya juga bertemu dengan banyak pasangan yang mencari bantuan untuk menghadapi masalah perkawinan mereka. Ketika saya mendengarkan cerita mereka, saya dapat merasakan rasa sakit, frustrasi dan terkadang kemarahan. Konsekuensinya sangat menyakitkan dan traumatis: relasi menjadi hancur, keluarga retak, dan anak-anak menderita.

Untungnya, kisah perempuan Samaria tidak berakhir dengan tragedi. Yesus secara tak terduga menunggunya dan dengan penuh belas kasih menawarkan pengampunan dan kehidupan yang baru. Meskipun awalnya perempuan itu ragu-ragu, ia mengakui dosa-dosanya dan menemukan Mesias yang sejati. Kita tidak diberitahu apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupnya, tetapi kita dapat berasumsi bahwa ia mengubah hidupnya karena ia memiliki keberanian baru untuk menghadapi bangsanya dan mewartakan Yesus.

Ketika saya mendampingi pria dan wanita yang bergumul dengan pernikahan mereka, banyak hal yang sulit dan menyakitkan, tetapi bukan berarti tanpa harapan. Beberapa pasangan akhirnya berekonsiliasi, tetapi ada juga yang menghadapi situasi yang lebih sulit. Namun, terlepas dari situasi yang sulit, banyak yang menolak untuk jatuh dalam dosa, tetapi memilih untuk bertumbuh dalam kekudusan. Saya merasa terhormat bertemu dengan beberapa di antaranya. Meskipun ditinggalkan oleh pasangan mereka, mereka menolak untuk membalas dengan kekerasan. Mereka juga menolak godaan untuk hidup dengan pria atau wanita lain di luar pernikahan, tetapi berkomitmen untuk membesarkan anak-anak mereka dengan baik. Mereka memiliki hak untuk marah dan kecewa kepada Tuhan karena kondisi yang mereka alami, tetapi mereka tidak membiarkan emosi negatif mengendalikan mereka. Yang lebih luar biasa lagi, mereka memutuskan untuk melayani juga di dalam Gereja.

Mari kita rangkul dan dukung saudara atau sahabat kita yang sedang bergulat dengan pernikahan mereka.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Writing on the Sand

5th Sunday of Lent [C]
April 3, 2022
John 8:1-11

Jesus was facing an unsurmountable dilemma when confronted with a woman caught in adultery. The Pharisees demanded that Jesus throw her with a stone, following the Mosaic Law, which reads, “If anyone is caught sleeping with a married woman, both of them must die [Deut 22:22].” However, the flip side was that every Israelite at that time knew that they were not allowed by Roman Law to carry out the death penalty. So, if Jesus had not thrown the stone, He would have been accused of being unfaithful to the Law and not a man of God. However, if Jesus threw stones, He would be dealing with the Romans. What did Jesus do?

Jesus wrote on the ground. What did Jesus write? We don’t know for sure, and quite a lot of opinion has developed over the last thousand years. However, there is one interesting tradition about this. Jesus was fulfilling Jeremiah’s prophecy. About 600 years before Christ, Jeremiah once prophesied that ‘those who have turned away from Thee will be written on the earth because they have forsaken God, the fountain of living waters [cf. Jer. 17:13].’ Jesus was writing the names of those who had put Him to the test, the fountain of living water [cf. John 7:38].

Now it’s Jesus’ turn. Jesus threw this question back at them, “Who is without sin, let him throw the first stone.” Of course, Jesus was sinless, but the Pharisees always clamoured that they were an elite group who lived blemished according to the Mosaic Law and even had an obsession to force others to live Mosaic Law their ways. So it’s as if Jesus was saying, ‘OK, you who claim to be the perfect enforcers of the Mosaic Law, throw the first stone and prove that you are truly faithful to the Torah.’

A surprising thing happened. The Pharisees chose not to throw stones. They would rather disobey the Mosaic law than deal with the Romans. This shows that they are nothing more than opportunists and hypocrites. In front of the crowds, they showed themselves to be lovers of the Law, but they were ready to leave the Law in a disadvantageous situation.

It’s incomplete if we don’t see a little bit of Jesus’ action towards the woman. Jesus didn’t throw stones, but that doesn’t mean Jesus condoned or tolerated what happened. Jesus clearly said, ‘Go, and sin no more.’ Jesus stated that this woman was a grave sin that violated the sanctity of married life. However, Jesus, the God who has the right to forgive, read this woman’s contrite heart. Jesus forgave her. However, Jesus’ forgiveness was not cheap. Jesus demanded a radical change from a life of sin.

Who are we in this story? Are we like the Pharisees who are busy finding fault with others? Are we like those busy showing off, but we run away when we face a tough choice? Are we the ones who wallow in sin and don’t know what to do? Or, are we those who cannot appreciate the grace of God?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

From Transfiguration to Calvary

Second Sunday of Lent [C]
March 12, 2022
Luke 9:28b-36

Every second Sunday of Lent, the Church chooses the event of Transfiguration for our Gospel reading. During this moment, Jesus, together with three trusted disciples, went up to the mountain, and there, he was transfigured or changed appearance. He was radiating a divine glory, and His face turned to be a bright light. The two most outstanding persons in the Old Testament, Moses and Elijah, appeared and accompanied Jesus. He was manifesting His divine nature to the three disciples, and it was an overwhelmingly joyful moment. Simon did not want the experience to pass and offered to build tents there. The question is that why does the Church choose this reading for this season of Lent?

The answer lies on the topic that Moses, Elijah and Jesus were discussing: Jesus’ exodus. When we hear the word exodus, the first thing that comes to mind is that the Israelites under Moses escaped the slavery of Egypt. The Israelites passed through the Reed Sea, the desert from Egypt and eventually entered the Promised Land. Their final destination was the city of Jerusalem.
Then, why did Jesus speak about His exodus?
The reason is that Jesus is the new Israel, and as the old Israel passed through exodus, Jesus had to undergo His exodus. However, unlike the old Israel that started their exodus in Egypt, Jesus began His exodus in Jerusalem. Unlike the old Israel that was not faithful to God in the desert and worshipped idols, Jesus was obedient to His Father through suffering and death. Unlike the old Israel who entered the promised Land with many lost battles, Jesus rose from the death and won definitively against Satan and His kingdom. Unlike the old Israel who went up to the earthly city of Jerusalem, Jesus gloriously ascended to the heavenly Jerusalem.
After the event of Transfiguration, Jesus no longer stayed in Galilee but steadily moved toward the city of Jerusalem. This is why we have this reading for the season of Lent. As Jesus journeyed to His exodus in Jerusalem, we are also walking with Jesus in this season of Lent toward the Paschal Triduum: from the Mount of Transfiguration to the mount of Calvary.
The story of Transfiguration in the context of Lent gives us a precious lesson. Like Peter, we like to linger in the glorious moments of our lives. Yet, Jesus teaches that our real glory has to pass exodus. Our Egypt, our starting point, is none other than our old and sinful selves. Any moment of glory without dying to ourselves is fake, fickle and even addictive. It is undoubtedly not easy because we are craving for the feeling of pleasure, and when we get used to it, the harder it is to detach ourselves. Through the disciple of Lent, fasting, prayer and almsgiving, we are learning how to die to our desire to enjoy instant gratifications. When we can adequately order our worldly desires, the more our hearts desire for God, and the moment we are one with God, we find our true joy.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP