Is Faith Enough?

4th Sunday of Lent [B]

March 10, 2024

Ephesians 2:4-10

St. Paul wrote in his letter to the Ephesians, “For by grace you have been saved through faith, and this is not from you; it is the gift of God; it is not from works, so no one may boast (Eph 2:8-9, first reading).” Does it mean that what we need to do is to believe? Do we still have to receive the Eucharist and other sacraments like the Catholic Church instructs? Are we still required to do good works and acts of charity?

Often, the Catholic teaching of salvation is comically understood as ‘faith and work,’ which means that to be saved, Catholics must both believe in God and do various works prescribed by the Church, like receiving the sacraments and performing acts of mercy. Yet, this is frankly not the authentic teaching of the Church. Council of Trent decreed that “none of those things that precede justification, whether faith or works, merit the grace of justification (Decree on Justification).” The grace of God that brings us salvation, the forgiveness of sins, and holiness is always a gift from God. Nothing we do can earn it.

Since grace is a gift, just like any other gift, we either freely accept or refuse the gift. Thus, Catechism states, “God’s free initiative demands man’s free response, for God has created man in his image by conferring on him, along with freedom, the power to know him and love him (CCC 2002).” Here comes the role of faith. We say ‘yes’ to God through faith and embrace His grace. But does it mean having faith is enough, and we no longer do anything? If we believe, can we do anything we want, even evil things?

St. Paul indeed says that the grace is not from our works (verse 9), but in the next verse, St. Paul adds, “For we are his handiwork, created in Christ Jesus for the good works that God has prepared in advance, that we should live in them (Eph 2:10).” Is St. Paul contradicting himself? To understand this, we must distinguish the two ‘works’ that St. Paul uses. The first work (verse 9) refers to our efforts to get salvation outside of grace, which is futile. Meanwhile, the second work (verse 10) points to our good works in grace that are pleasing to God.

Yes, grace is freely given, but it does not mean a cheap one. Grace is not something static but active and dynamic. Grace gives us the capacity to do good works, and when we respond to it faithfully, we grow spiritually and open ourselves to more grace. The more good works in grace we offer, the more grace we receive, and the more extraordinary grace we receive, the greater capacity we have to do good works. 

We do not see our involvement in the Eucharist and other sacraments as our efforts to bribe God and get grace, but rather our ways of growing in grace. Our acts of mercy in the family and community are not our works but participation in God’s love for His people. 

(For a deeper understanding of grace, please read CCC paragraph 1987-2006)

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Iman saja Cukup?

Minggu Prapaskah ke-4 [B]

10 Maret 2024

Efesus 2:4-10

Paulus menulis dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, “Sebab karena rahmat kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Ef. 2:8-9, bacaan kedua). Apakah ini berarti bahwa satu-satunya yang perlu kita lakukan adalah percaya? Apakah kita masih perlu ke Gereja dan melakukan tindakan amal kasih seperti yang diajarkan Gereja Katolik?

Seringkali, ajaran Katolik tentang keselamatan dipahami secara keliru sebagai ‘iman dan perbuatan’, yang berarti bahwa untuk diselamatkan, umat Katolik harus percaya kepada Tuhan dan juga melakukan berbagai perbuatan yang ditetapkan oleh Gereja, seperti menerima sakramen-sakramen dan melakukan perbuatan amal kasih. Namun, hal ini sebenarnya bukanlah ajaran otentik Gereja. Konsili Trente telah mengajarkan secara definitif bahwa “tidak ada satu pun dari hal-hal yang mendahului pembenaran, baik iman maupun perbuatan, yang layak mendapatkan rahmat pembenaran (Decree on Justification).” Rahmat Allah yang membawa kita kepada keselamatan, pengampunan dosa, dan kekudusan selalu merupakan anugerah dari Allah. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mendapatkannya.

Karena rahmat adalah sebuah anugerah, sama seperti anugerah atau hadiah lainnya, kita bisa memilih untuk menerima atau menolak anugerah tersebut. Dengan demikian, Katekismus Gereja Katolik menyatakan, “Inisiatif bebas Allah menuntut respons bebas manusia, karena Allah telah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dengan menganugerahkan kepadanya, bersama dengan kebebasan, kuasa untuk mengenal-Nya dan mengasihi-Nya (KGK 2002).” Di sinilah terletak peran iman. Iman adalah respons positif pertama kita kepada Allah, dan dengan demikian, membuka diri terhadap rahmat-Nya. Tetapi apakah itu berarti memiliki iman saja sudah cukup, dan kita cukup duduk santai dan tidak lagi melakukan apa pun?

Paulus memang mengatakan bahwa rahmat itu bukan karena perbuatan kita (ayat 9), tetapi di ayat berikutnya, Paulus menambahkan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Ef. 2:10).” Apakah Santo Paulus salah menulis? Untuk memahami hal ini, kita harus membedakan dua ‘perbuatan’ di ayat 9 dan 10. Perbuatan pertama (ayat 9) mengacu pada usaha kita untuk mendapatkan keselamatan di luar rahmat, dan ini yang sia-sia. Sementara itu, perbuatan kedua (ayat 10) menunjuk pada perbuatan baik kita di dalam rahmat, dan ini yang berkenan kepada Allah.

Ya, rahmat diberikan secara cuma-cuma, tetapi bukan berarti murahan. Rahmat bukanlah sesuatu yang statis, tetapi aktif dan dinamis. Rahmat memberi kita kemampuan untuk melakukan perbuatan baik, dan ketika kita meresponsnya dengan setia, kita bertumbuh secara rohani dan membuka diri kita untuk menerima lebih banyak rahmat. Semakin banyak perbuatan baik dalam rahmat yang kita persembahkan, semakin banyak rahmat yang kita terima, dan semakin banyak rahmat yang kita terima, semakin besar kapasitas yang kita miliki untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Ini adalah siklus kekudusan.

Jadi, kita tidak melihat keterlibatan kita dalam Ekaristi dan sakramen-sakramen lainnya sebagai upaya kita untuk menyuap Allah untuk mendapatkan rahmat, melainkan sebagai cara-cara kita untuk bertumbuh di dalam rahmat. Tindakan-tindakan belas kasih kita di dalam keluarga dan komunitas bukanlah perbuatan-perbuatan kita, melainkan partisipasi kita di dalam kasih Allah bagi umat-Nya. Rahmat memampukan kita berbuat baik, dan ini yang berkenan di hadapan Allah.

(Untuk pemahaman yang lebih dalam tentang rahmat, silakan baca KGK paragraf 1987-2006)

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Ten Commandments

3rd Sunday of Lent [B]
March 3, 2024
Exodus 20:1-17

On the third Sunday of Lent, the Church invites us to reflect on the Ten Commandments (our first reading). However, if we read the original Hebrew text, we may find something exciting.
God did not say that He handed down ‘the commandments,’ but instead, He gave ‘the words’ (הַדְּבָרִ֥ים – read: a-debarim). Why did God choose ‘words’ rather than ‘commandments’? After all, the content of what he said was really about laws.

The first answer may return to the creation account (Gen 1). God created the world and humanity with His ‘word,’ and now, in Mount Sinai, God formed Israel as His people with the laws given through His ‘word.’ This parallel points to us that the ‘laws’ passed in Sinai were not new, but God had placed them since the beginning. The ‘ten laws’ were not imposed from outside but an integral part of creation and human persons. God’s design is that by obeying the ‘commandments,’ the Israelites may return to Eden, where they may find their true happiness.

The second answer is that the choice of ‘words’ rather than ‘commandment’ shows the nature of the laws that God gave in Sinai. God did not treat Israelites (and also all of us) like slaves under the regime of terror. He did not force His rules upon us and punished us severely when we disobeyed Him. Yet, God treated us as adult children who can freely embrace these laws because we realize that these ‘laws’ are indeed beneficial for us.

The ‘laws’ are not externally imposed upon us but are following out from our being. Like gravity, it is not something externally added but an integral part of our universe, and so are the ‘ten words.’ We can use our natural reason to discover the laws. Our correct thinking will agree that killing, stealing, and adultery are wrong. Our right mind will support our efforts to honor our parents. And our logical thinking will lead us to one and true God. Since the ‘laws’ are integral to our nature, violating them means we bring harm to ourselves.

The third answer is that ‘words’ are a means of communication. The ten commandments are His words; thus, through them, we may communicate and understand Him better. And, as we get to know God better, we become closer to Him. The Ten Commandments are not a mighty wall to keep us away from God but a bridge connecting us to His immense love.

In this season of Lent, we are invited to reflect deeper into these ‘Ten Words .’We can reflect on each commandment: What is its purpose? What benefits do they bring us? What harm does it cause us when we violate it? What does it tell us about God, who created them?

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sepuluh Perintah Allah

Minggu ke-3 Masa Prapaskah [B]

3 Maret 2024

Keluaran 20:1-17

Pada hari Minggu ini, Gereja mengajak kita untuk merenungkan Sepuluh Perintah Allah (bacaan pertama). Namun, jika kita membaca teks asli bahasa Ibrani, kita akan menemukan sesuatu yang sangat menarik. Allah tidak mengatakan bahwa Dia memberikan ‘perintah-perintah-Nya’, tetapi Dia memberikan ‘Sabda-sabda-Nya’(הַדְּבָרִ֥ים – baca: a-debarim). Mengapa Allah memilih ‘sabda’ daripada ‘perintah’? Lagi pula, isi dari sabda-Nya sebenarnya adalah tentang hukum atau perintah?

Jawaban pertama dapat kita temukan dalam kisah penciptaan (Kej. 1). Allah menciptakan dunia dan umat manusia dengan ‘sabda-Nya’, dan di Gunung Sinai, Allah membentuk Israel sebagai umat-Nya dengan hukum-hukum yang diberikan melalui ‘sabda’-Nya. Paralel ini menunjukkan kepada kita bahwa ‘hukum-hukum’ yang diturunkan di Sinai bukanlah hal yang baru, tetapi Tuhan telah menetapkannya sejak awal mula. ‘Sepuluh Perintah’ bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar, tetapi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ciptaan dan pribadi manusia. Rancangan Allah adalah dengan menaati ‘perintah-perintah’ tersebut, bangsa Israel dapat kembali ke Eden, di mana mereka dapat menemukan kebahagiaan sejati mereka.

Jawaban kedua adalah bahwa pilihan kata ‘sabda’ dan bukan ‘perintah’ menunjukkan kodrat dari hukum-hukum yang Tuhan berikan di Sinai. Allah tidak memperlakukan bangsa Israel (dan juga kita semua) seperti budak di bawah rezim teror. Dia tidak memaksakan aturan-Nya kepada kita dan akan menghukum kita dengan keras ketika kita tidak menaati-Nya. Namun, Tuhan memperlakukan kita sebagai anak-anak-Nya yang dewasa, dan dapat dengan bebas menerima hukum-hukum ini karena kita menyadari bahwa ‘hukum-hukum’ ini memang bermanfaat bagi kita.

‘Hukum-hukum’ ini tidak dipaksakan dari luar kepada kita, tetapi berasal dari dalam diri kita. Seperti gravitasi yang bukanlah sesuatu yang ditambahkan secara eksternal tetapi merupakan bagian integral dari alam semesta, begitu juga dengan ‘sepuluh Sabda Allah’. Kita dapat menggunakan akal sehat kita untuk menemukan hukum-hukum tersebut di dalam hidup kita. Menggunakan pikiran yang jernih, kita akan setuju bahwa membunuh, mencuri, dan berzina adalah hal buruk. Dengan nalar yang benar, kita tahu bahwa menghormati orang tua kita adalah upaya yang baik. Dan, dengan pemikiran logis, kita akan menemukan Tuhan yang esa dan benar. Karena ‘hukum’ adalah bagian integral dari sifat alami kita, melanggarnya berarti kita membahayakan diri kita sendiri.

Jawaban ketiga adalah bahwa ‘sabda’ adalah media komunikasi. Sepuluh perintah Allah adalah sabda-Nya; dengan demikian, melalui sabda-Nya, kita dapat berkomunikasi dan memahami Dia dengan lebih baik. Dan, ketika kita mengenal Allah dengan lebih baik, kita menjadi lebih dekat dengan-Nya. Sepuluh Perintah Allah bukanlah tembok besar yang menjauhkan kita dari Allah, melainkan sebuah jembatan yang menghubungkan kita dengan kasih-Nya yang luar biasa.

Di masa Prapaskah ini, kita diundang untuk merenungkan lebih dalam tentang ‘Sepuluh Sabda’ ini. Kita dapat merenungkan setiap perintah: Apa tujuannya? Manfaat apa yang diberikannya kepada kita? Apa kerugian yang ditimbulkannya jika kita melanggarnya? Allah seperti apa yang menciptakan hukum ini?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Isaac’s Faith

2nd Sunday of Lent [B}

February 25, 2024

Gen 22:1-18

Isaac’s binding is one of the Bible’s most dramatic and intense stories. From this story, the Church sees that Isaac is the type of Christ. Isaac and Jesus were both the sons of the fulfillment of God’s promise. Both were born in the miraculous conditions. Isaac and Jesus were the sacrifices of their fathers. Yet, Isaac’s sacrifice was halted because his sacrifice would be fulfilled in Jesus on the cross. However, though typological analysis is beautiful, some questions remain unanswered. How did Isaac feel when he knew that he was about to sacrifice? Was he forced or freely giving himself? What was his motive?

Whether or not Isaac was forced as a sacrifice revolves around this age during the event. Many imagine that Isaac was still a small child, and thus, Abraham forcibly tied him and made him ready for the sacrifice. Yet, the text suggests that he was no longer a small child because he carried on his shoulder the wood for the sacrifice. Since wood was not for simple fire but a ritual sacrifice, Isaac must have brought a significant amount. Indeed, it was a job for a strong young man. Thus, we can conclude that Isaac was not forced because, as a young man, he had the physical power to resist the aging Abraham. Isaac was freely giving himself as a sacrifice and, perhaps, asked Abraham to bind him.

Yet, the question remains: Why did Isaac feel? Why did he offer himself? Unfortunately, the text of the Bible does not give us a window into Isaac’s heart. Yet, putting ourselves in the place of Isaac, it is not difficult to feel the great distress, sorrow, and fear. He was a young man with many years to come, and yet he was about to lose his life at that moment. He was not only facing death but a violent death. In fact, unlike his father, he had little to ponder about God’s will since he knew about it just a few moments before the sacrifice. Why?

The story usually focuses on the faith of Abraham, who obeyed God’s will and gave up his only son. God Himself blessed Abraham for his steadfast faith (see Gen 22:16-17). Yet, the story is also about Isaac’s faith. In the Bible, Isaac is considered a minor character among Israel’s patriarchs compared to Abraham and Jacob. He has fewer stories and often takes a more passive role. Yet, the story has proved that Isaac is a man of great faith. In fact, without his faith, Abraham would not have received the blessing.

Isaac’s faith is mature and profound. Amid extreme anguish and debilitating fear, he remained steadfast and believed that God would eventually turn things well. His faith also helped him to recognize that his life was a sacrifice to God. As he offered himself as a sacrifice, God’s blessing came to Abraham. Isaac’s faith is not only about ‘believing in God’s existence, not only about passive reception of situations but actively participating in God’s will.

How do we react in the face of uncertain situations and suffering? Fear, anxiety, or anger? What is faith to us? A mere belief in God, a passive surrender to avoidable situations, or proactively seeking God’s will? Do we also offer our lives as sacrifices to God so that others may receive blessings?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Iman Ishak

Minggu Prapaskah ke-2 [B]

25 Februari 2024

[Kejadian 22:1-18]

Pengorbanan Ishak adalah salah satu kisah yang paling dramatis dan intens dalam Alkitab. Dari kisah ini, Gereja melihat bahwa Ishak adalah ‘tipos’ dari Kristus. Ishak dan Yesus sama-sama terlahir sebagai penggenapan janji Allah. Keduanya dilahirkan dalam kondisi yang luar biasa. Ishak dan Yesus sama-sama menjadi kurban dari bapa mereka. Namun, pengorbanan Ishak terhenti, dan pengorbanannya akan digenapi di dalam Yesus di kayu salib. Namun, meskipun analisis tipologi ini sangat mengagumkan, ada beberapa pertanyaan yang masih belum terjawab. Bagaimana perasaan Ishak ketika dia tahu bahwa dia akan dikurbankan? Apakah dia dipaksa atau dengan sukarela memberikan dirinya? Apa alasannya?

Apakah Ishak dipaksa atau tidak untuk menjadi kurban? Jawabannya terletak pada usia Ishak pada saat kejadian. Banyak orang membayangkan bahwa Ishak masih kecil, dan dengan demikian, Abraham secara paksa mengikatnya dan dikorbankan. Namun, teks Kitab Suci menunjukkan bahwa dia bukan lagi seorang anak kecil karena dia memikul kayu untuk pengorbanan di bahunya. Karena kayu yang dibawa Ishak bukan untuk api biasa, melainkan untuk sebuah ritual pengorbanan, maka Ishak pastikan membawa kayu yang cukup banyak. Tentu saja, itu adalah pekerjaan yang TIDAK bisa dilakukan anak kecil. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa Ishak tidak dipaksa karena, sebagai seorang pemuda, ia memiliki kekuatan fisik untuk melawan Abraham yang sudah tua. Ishak dengan sukarela memberikan dirinya sebagai kurban dan, mungkin bahkan, meminta Abraham untuk mengikatnya.

Namun, pertanyaannya belum terjawab: Apa yang Ishak rasakan? Mengapa ia rela untuk mengurbankan dirinya? Sayangnya, teks Alkitab tidak memberi kita jendela ke dalam hati Ishak. Namun, tidaklah sulit untuk merasakan kesusahan, kesedihan, dan ketakutan yang luar biasa. Dia adalah seorang pemuda yang masih memiliki masa depan yang masih panjang, namun dia akan kehilangan nyawanya pada saat itu. Dia tidak hanya menghadapi kematian, tetapi juga kematian yang kejam. Ia tidak memiliki banyak waktu merenungkan kehendak Tuhan. Semua akan terjadi dengan cepat. Tapi, Ishak tetap memberikan dirinya.

Kisah ini biasanya berfokus pada iman Abraham, yang menaati kehendak Allah dengan menyerahkan putra tunggalnya. Allah sendiri memberkati Abraham karena imannya yang teguh (lihat Kej. 22:16-17). Namun, kisah ini juga bercerita tentang iman Ishak. Dalam Alkitab, Ishak dianggap sebagai tokoh kecil di antara para bapa leluhur Israel. Dibandingkan dengan Abraham dan Yakub, kisah Ishak jauh lebih sedikit dan seringkali dia hanya mengambil peran yang lebih pasif. Namun, kisah ini telah membuktikan bahwa Ishak adalah tokoh yang memiliki iman yang besar. Bahkan, tanpa imannya, Abraham tidak akan menerima berkat Tuhan.

Iman Ishak sangat dewasa dan mendalam. Di tengah kesedihan dan ketakutan yang luar biasa, ia tetap teguh dan percaya bahwa Tuhan pada akhirnya akan menjadikan semua baik. Imannya juga membantunya untuk menyadari bahwa hidupnya adalah sebuah persembahan bagi Tuhan. Ketika ia mempersembahkan dirinya sebagai kurban, berkat Tuhan datang kepada Abraham. Iman Ishak bukan hanya tentang ‘percaya bahwa Tuhan itu ada’, bukan hanya tentang penerimaan pasif terhadap situasi, tetapi secara aktif berpartisipasi dalam kehendak Tuhan.

Bagaimana kita bereaksi dalam menghadapi situasi yang tidak pasti dan penderitaan? Takut, cemas, atau marah? Apakah iman itu bagi kita? Sekadar percaya kepada Allah, penyerahan diri secara pasif terhadap situasi yang tidak dapat dihindari, atau secara proaktif mencari kehendak Allah? Apakah kita juga mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan kepada Tuhan sehingga orang lain dapat menerima berkat?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Desert

1st Sunday of Lent [B]

February 18, 2024

Mark 1:12-15

What do we imagine when we hear the word ‘desert’? The image in our mind may vary depending on our experience and knowledge of the desert. Yet, we agree that the desert is barren, plagued by an unfriendly climate, and not a suitable place for humans to live. Then, why does the Spirit lead Jesus to the desert? Why do we need to experience desert moments?

When we have an image of a desert, we can think of a fertile garden as its opposition. The Bible gives us these two images, a garden, and a desert, as two contrasting places. Adam and Eve originally lived in the perfect garden, with everything provided. They had the best food and safest place; most of all, God was with them. Yet, they fell, and they had to leave the garden. They began their journey in a ‘desert’ where they had to work hard to earn their livings, where many dangers lurked, and death was their final destination.

Then, why did Jesus follow the Spirit to the desert? The answer is that Jesus is in the desert for us to find Him. Even the desert may become a holy place because our Saviour is there and blesses this place. Yes, the desert is a dangerous place, and even the evil spirits are lurking to snatch us away from God, yet Jesus is also there. His presence makes even the ugliest place on earth a beautiful and holy ground.

The presence of God in the desert is not even something new. Interestingly, the word desert in Hebrew is מדבר (read: midbar) and can be literally translated as ‘the place of the word.’ Indeed, the desert is where the Israelites endured many hardships and were tested, yet it is also where God manifested Himself and made a covenant with Israel through Moses. In fact, through the desert experience, God disciplined and formed His people.

Our natural inclination is to avoid a desert, whether a natural geographical place or a symbol of our difficult moments in life. We don’t want to experience pain and sickness, we hate to endure financial and economic difficulties, and we detest difficult relationships in our family or community. We want to be blessed, to be in the Paradise. Yet, we must not fear to walk through our deserts because Jesus is there. Indeed, our hardships can exhaust us and become the devil’s opportunity to tempt us hard, yet with Jesus, these experiences can be a means of holiness.

In the season of Lent, the Church teaches us to fast, to pray more frequently, and to increase our acts of charity. These practices invite us into the desert to feel hunger, experience discomfort, and enjoy fewer things that give us pleasure. Yet, paradoxically, when we enter voluntarily and faithfully this difficult desert of Lent, we may find Christ even there, and we are renewed in holiness.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Padang Gurun

Hari Minggu Pertama Masa Prapaskah [B]

18 Februari 2024

Markus 1:12-15

Apa yang kita bayangkan ketika mendengar kata padang gurun? Gambaran yang ada di benak kita mungkin sangat beragam, tergantung pada pengalaman dan pengetahuan kita tentang gurun. Namun, kita sepakat bahwa padang gurun adalah tempat yang tandus, diliputi oleh iklim yang tidak bersahabat, dan bukan tempat yang cocok untuk dihuni oleh manusia. Lalu, mengapa Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun? Mengapa kita perlu mengalami momen-momen padang gurun?

Ketika kita memiliki gambaran tentang padang gurun, kita dapat berpikir tentang hutan hijau atau taman yang subur sebagai kebalikannya. Faktanya, Alkitab memberikan dua gambaran ini, taman dan padang gurun, sebagai dua tempat yang kontras. Adam dan Hawa pada awalnya tinggal di taman yang sempurna, dengan segala kenikmatannya. Mereka memiliki makanan terbaik, tempat teraman, dan yang paling penting, Tuhan bersama mereka. Namun, mereka jatuh dalam dosa, dan mereka harus meninggalkan taman itu. Mereka memulai perjalanan mereka di ‘padang gurun’ di mana mereka harus bekerja keras untuk mencari nafkah, di mana banyak bahaya mengintai, dan kematian menjadi tujuan akhir mereka.

Lalu, mengapa Yesus berada di padang gurun? Jawabannya adalah bahwa Yesus ada di padang gurun agar kita dapat menemukan-Nya juga di sana. Bahkan padang gurun pun dapat menjadi tempat yang kudus, karena Juruselamat kita ada di sana dan memberkati tempat itu. Ya, padang gurun adalah tempat yang berbahaya, dan bahkan roh-roh jahat pun mengintai untuk merenggut kita dari Tuhan, namun Yesus juga ada di sana. Kehadiran-Nya membuat tempat yang paling jelek sekalipun di dunia ini menjadi tempat yang indah dan kudus.

Kehadiran Tuhan di padang gurun bukanlah sesuatu yang baru. Kata gurun dalam bahasa Ibrani adalah מדבר (baca: midbar), dan secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai ‘tempat sabda’. Memang, gurun Sinai adalah tempat di mana bangsa Israel mengalami banyak kesulitan, dan diuji, namun juga tempat di mana Tuhan menyatakan diri-Nya dan membuat perjanjian dengan Israel melalui Musa. Bahkan, melalui pengalaman di padang gurun, Tuhan mendisiplinkan dan membentuk umat-Nya.

Kecenderungan alamiah kita adalah menghindari padang gurun, baik itu tempat geografis yang nyata maupun simbol untuk saat-saat sulit dalam hidup kita. Kita tidak ingin mengalami rasa sakit dan penyakit, kita benci menanggung kesulitan keuangan dan ekonomi, dan kita tidak mau hubungan yang sulit dalam keluarga atau komunitas kita. Kita ingin selalu diberkati, berada di Firdaus. Namun, sekarang, kita tidak perlu takut untuk berjalan melewati padang gurun karena Yesus ada di sana. Memang, kesulitan kita dapat membuat kita lelah dan menjadi kesempatan bagi iblis untuk mencobai kita dengan keras, namun bersama Yesus, pengalaman-pengalaman ini dapat menjadi sarana kekudusan.

Pada masa Prapaskah, Gereja mengajarkan kita untuk berpuasa, berdoa lebih intens dan meningkatkan amal kasih. Praktik-praktik ini mengundang kita untuk memasuki padang gurun, merasakan kelaparan, mengalami ketidaknyamanan, dan mengurangi hal-hal yang memberi kita kesenangan. Namun, secara paradoks, ketika kita memasuki padang gurun Prapaskah yang sulit ini dengan sukarela dan setia, kita dapat menemukan Kristus di sana, dan kita diperbaharui dalam kekudusan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lazarus dan Sakramen Krisma

Minggu ke-5 Masa Prapaskah [A]
26 Maret 2023
Yohanes 11:1-45

Ada tujuh tanda (atau mukjizat) dalam Injil Yohanes, dan Gereja telah mengenali bahwa ketujuh mukjizat ini berhubungan dengan ketujuh sakramen. Minggu lalu, kita telah melihat bahwa penyembuhan orang yang buta sejak lahir menjadi tanda dari sakramen Baptisan (lih. Yoh 9:1-41). Sekarang, kita menemukan mukjizat Yesus yang lain, yaitu kebangkitan Lazarus. Mukjizat ini berhubungan dengan sakramen penguatan atau krisma. Mari kita simak penjelasannya.

Sakramen krisma sering kali disalahpahami dan bahkan diabaikan. Ada banyak alasan kenapa hal ini terjadi. Beberapa dari kita mungkin merasa bahwa sakramen ini tidak terlalu dibutuhkan. Kita merasa bahwa kita sudah memenuhi tugas kita ketika kita dibaptis, pergi ke Misa sesekali, dan mungkin pergi ke pengakuan dosa setahun sekali. Yang lainnya menerima katekese yang tidak memadai, dan oleh karena itu, pemahaman kita tentang sakramen ini sangat terbatas dan bahkan salah. Yang lainnya tidak ingin merepotkan diri dengan serangkaian katekese dan pembekalan sebelum menerima sakramen Penguatan. Yang lainnya lagi menerima sakramen tanpa katekese yang memadai karena pernikahan mereka sudah dekat. Dengan demikian, banyak yang melihat krisma sebagai sakramen ‘kelas dua’.

Namun, anggapan ini tidak benar sama sekali. Gereja terus mengajarkan bahwa sakramen ini memiliki peran yang tak tergantikan dalam kehidupan umat beriman. Krisma adalah sakramen kedua dari tiga sakramen inisiasi Gereja (bersama dengan baptisan dan Ekaristi). Ini berarti, untuk menjadi anggota Gereja yang utuh dan dewasa, kita harus menerima rahmat Roh Kudus yang diterima dalam sakramen krisma. Sekarang, bagaimana Injil hari ini berhubungan dengan sakramen krisma?

Pertama, Lazarus, bersama dengan Maria dan Marta, memiliki persahabatan yang penuh kasih dengan Yesus sebelum mukjizat terjadi. Kondisi ini menunjukkan kepada kita bahwa Lazarus adalah simbol orang Kristen yang telah dibaptis yang hidup di dalam Kristus. Kedua, kematian Lazarus dan kebangkitannya menunjuk kepada kehidupan baru di dalam Roh. Yohanes Penginjil menceritakan secara eksplisit bahwa Lazarus telah berada di dalam kubur selama empat hari (Yoh 11:17). Ini adalah detail kecil namun penting. Lazarus benar-benar telah meninggal, dan jiwanya tidak lagi bersama dengan tubuhnya. Dengan demikian, mukjizat Yesus adalah tindakan ilahi yang menghidupkan kembali, menyatukan tubuh dan jiwa. Memang benar bahwa Roh Kudus tidak disebutkan, tetapi mukjizat Yesus membawa kita kembali kepada penciptaan manusia di mana Roh Allah aktif dan memberi kehidupan.

Terakhir, mukjizat ini memiliki dampak yang permanen pada diri Lazarus. Setelah kembali dari kematian, Lazarus menjadi saksi hidup akan kuasa dan kasih Yesus. Karena kesaksian Lazarus, banyak orang datang kepada Yesus dan percaya kepada-Nya. Dan karena alasan yang sama, Lazarus menghadapi penganiayaan dari musuh-musuh Yesus [lih. Yoh 12:9-11]. Namun, Lazarus tidak menjadi pengecut. Dia telah mengalami kematian, tetapi bahkan kematian pun tidak dapat memisahkannya dari kasih Kristus.

Apa yang terjadi pada Lazarus juga terjadi pada kita. Ketika kita dibaptis, kita menerima persahabatan yang penuh kasih dengan Kristus. Namun, dalam sakramen krisma, jiwa kita menerima karunia-karunia Roh Kudus dan kita menjadi orang Kristen yang dewasa. Kita sekarang telah menjadi saksi Yesus Kristus yang hidup dan membawa lebih banyak orang kepada Tuhan. Kita juga diberdayakan untuk menanggung penderitaan dan penganiayaan karena Kristus, dengan sabar dan berani.

Inilah sebabnya mengapa sebelum menerima sakramen perkawinan atau sakramen imamat, kita perlu menerima sakramen peneguhan. Perkawinan dan imamat adalah sakramen pelayanan dan kesaksian, yang membawa orang lain lebih dekat kepada kekudusan. Oleh karena itu, hanya orang-orang Kristen yang sungguh dewasa yang layak untuk melakukan tugas-tugas ini. Kita tidak hanya dipanggil untuk menjadi sahabat-sahabat Yesus, tetapi juga menjadi saksi-saksi-Nya yang berani di dunia, dan sakramen krisma ini menjadikan kita saksi-saksi-Nya.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lazarus and the Sacrament of Confirmation

5th Sunday of Lent [A]
March 26, 2023
John 11:1-45

There are seven signs (or miracles) in the Gospel of John. Naturally, the Church has recognized these seven miracles correspond to the seven sacraments. Last Sunday, we have seen that the healing of the man born blind turns out to be the sign to the sacrament of Baptism (see John 9:1-41). Now, we discover another Jesus’ sign-miracle, that is, the raising Lazarus to life. This miracle points to the sacrament of confirmation.

The sacrament of confirmation is often misunderstood and even neglected. There are many reasons for this. Some of us may feel that it is not necessary. We feel that we are already fulfilling sacred obligation when we are baptized, go to the Mass every now and then, and perhaps go to the confession once a year. Other receive an insufficient catechesis, and therefore, our understanding on the sacrament is very limited and even fussy. Others do not want to trouble themselves with another series of catechesis before the Confirmation. Others receive the sacrament without proper catechesis because their weddings are fast approaching. Thus, many see the confirmation as the second-rate sacrament.

However, this is not true at all. The Church continues to teach that this sacrament has indispensable role in the lives of the faithful. In fact, it is the second of the three sacraments of the initiation (together with baptism and Eucharist). To be full and mature member of the Church, we must receive the grace of the Holy Spirit imparted in the sacrament of confirmation. Now, how does today’s Gospel relate to the sacrament?

Firstly, Lazarus, together with Mary and Martha, has a loving friendship with Jesus before the miracle. This condition shows us that Lazarus is the symbol of baptized Christians who live in Christ. Secondly, Lazarus’ death and his going back to life point to the new life in the Spirit. John the Evangelist narrated explicitly that Lazarus has been in the tomb for four days (John 11:17). This is important detail, that is, Lazarus is truly dead, and his soul is no longer with his body. Thus, miracle of Jesus is a divine act that brings back life, uniting body and soul. While it is true that the Holy Spirit is not mentioned, but Jesus’ miracle brings us back to the creation of man where the Spirit of God was active and life-giving.

Finally, the miracle has enduring effects in Lazarus. After his return from the dead, Lazarus becomes a living witness to Jesus’ power and love. Because of Lazarus’ testimony, many come to Jesus and believe in Him. And for the same reason, Lazarus faces persecutions from Jesus’ enemies [see John 12:9-11]. Yet, Lazarus does not coward. He has been through death, but not even death can separate him from the love of Christ.

What happen to Lazarus are also happening in us. When we are baptized, we receive a loving friendship with Christ. Yet, in the sacrament of confirmation, our souls receive the gifts of the Holy Spirit and we become a mature Christians. We are now transformed to be a living witnesses of Jesus Christ and bring more people to God. We also are empowered to endure hardship and persecution because of Christ.

This is why before receiving the sacrament of holy matrimony or the sacrament of holy orders, we need to receive the confirmation. These two are the sacraments of service and witnessing, that bring other closer to holiness. Thus, only mature Christians are fit for this tasks. We are not only called to be Jesus’ friends, but also His brave witnesses to the world, and this sacrament makes us one.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP