Yesus, Bait Allah yang Baru

Minggu Prapaskah ke-3

7 Maret 2021

Yohanes 2: 13-25

Sebagai pembaca modern, kita sering gagal paham akan Injil hari ini. Kisah Yesus yang satu ini sering menjadi dasar bagi sebagian dari kita untuk menolak penggunaan bangunan gereja untuk kegiatan non-keagamaan, apalagi untuk keperluan untuk mencari untung. Saya pribadi setuju bahwa bagian dalam gedung Gereja merupakan tempat yang dikhususkan untuk peribadatan dan doa. Ini adalah daerah suci bagi umat untuk bertemu dengan Tuhan dan mengalami surga.

Namun, Injil hari ini lebih kompleks dari apa yang sering kita pahami. Kita cenderung berasumsi bahwa Yesus membersihkan Bait Suci dari para pedagang hewan dan penukar uang karena Yesus melihat mereka sebelumnya bukan bagian dari Bait Allah, tetapi tiba-tiba mereka menjamur di area Bait Suci. Namun, jika kita kembali ke zaman Yesus, pedagang hewan dan penukar koin adalah bagian dari sistem penyembahan dari Bait Suci. Para peziarah dari berbagai belahan Palestina dan dunia berdatangan ke Bait Allah setiap hari, dan meskipun membawa hewan kurban mereka sendiri itu bisa dilakukan, hal ini tidaklah praktis. Hewan-hewan ini akan menambah beban perjalanan dan hewan-hewan ini mungkin mendapatkan cacat atau cedera di sepanjang jalan. Dengan luka atau kerusakan tersebut, hewan-hewan tersebut tidak layak lagi untuk dipersembahkan. Karenanya, sebuah solusi bagi para peziarah yang lelah ini hadir: para pedagang di Yerusalem siap membantu dengan menyediakan hewan kurban yang sehat dan layak.

Penukar uang juga terikat ke Bait Allah. Untuk mendukung pemeliharaan Bait Allah, para peziarah harus menyumbangkan sejumlah uang, namun Bait Allah tidak menerima koin Romawi. Otoritas Bait Allah menganggap koin itu sebagai tanda penindasan asing. Koin Romawi juga dianggap menghujat karena koin itu mengakui Kaisar sebagai dewa. Sementara itu, orang Yahudi tidak diperbolehkan mencetak koin mereka. Sebagai solusinya, mereka menerima koin dari kota tetangga, Tirus. Di sinilah peran para penukar koin. Tanpa penjual hewan dan layanan penukaran uang, Bait Allah Yerusalem tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya. Sama halnya seperti jika kita perlu memproduksi anggur dan roti sendiri untuk perayaan Ekaristi.

Biasanya, pedagang hewan dan pedagang koin berada di dekat tetapi di luar Bait Allah. Namun, masalah bermula ketika otoritas Bait Allah mengizinkan para penjual ini berada di dalam area Bait Allah, terutama di sekitar pelataran bangsa-bangsa [yang diperuntukkan bagi bangsa non-Yahudi]. Pelataran bangsa-bangsa, meskipun terjauh dari tempat yang paling suci, masih merupakan bagian integral dari bait suci dan tetap menjadi tempat berdoa, terutama bagi orang-orang non-Yahudi yang percaya kepada Tuhan Israel.

Yesus tidak hanya ingin melindungi rumah Tuhan sebagai rumah doa dan penyembahan, tetapi Dia juga ingin agar orang-orang bukan Yahudi mendapat tempat di rumah doa ini. Sayangnya, Bait Allah Yerusalem dihancurkan pada 70 M oleh kekaisaran Romawi. Namun, bukan berarti visi Yesus tetap sirna. Keinginan-Nya untuk mempersatukan bangsa-bangsa dalam doa dan penyembahan kepada Tuhan yang benar terwujud dan mencapai kesempurnaan dalam tubuh-Nya, yakni Bait Allah yang baru.

Di manakah kita sekarang menemukan Tubuh [dan Darah] Kristus? Tentunya, ada dalam Ekaristi. Dalam Ekaristi, orang-orang dari berbagai bangsa dan bahasa berkumpul untuk mempersembahkan ibadat yang layak kepada Tuhan yang benar. Setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita menjadi saksi hidup dari visi penyembahan Yesus untuk semua bangsa. Kita bisa menyembah Tuhan yang benar karena Yesus menyiapkan tempat untuk kita.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Climbing the Mountain

Second Sunday of Lent [B]

February 28, 2021

Mark 9:2-11

Mountain is a special place in the Bible. It is a place where God meets His people. In the Old Testament, there are many instances where mountains become a pivotal point of salvation history. After the great flood that cleansed the world, the Ark of Noah landed on Mount Ararat, and there, Noah offered sacrifice to God [see Gen 8:4]. Abraham was asked by God to offer his son Isaac on Mount Moriah. Just right before the sacrifice, the angel of God prevented Abraham and God recognized Abraham’s faith [see Gen 22]. When Moses was tending the flock of his father-in-law, Moses saw a burning bush yet was not consumed, and there, on the mount of Horeb, God called Moses to save Israelites from the Egyptians [see Exo 3]. After the liberation from Egypt, Moses and the Israelites the Law and established a covenant with God on the mount of Sinai [see Exo 24:18].

Jesus’ important life events took place in the Mountains. There is the mountain of temptation, where the devil brought Jesus and offered Him the worldly glories. There is the mountain of prayer, where Jesus spent His solitude with the Father. There is the mountain of teaching, where Jesus taught the most remarkable lessons like Beatitudes and love for enemies. There is a mountain of Transfiguration, where Jesus manifested His divine glory. There is the mountain of the cross, or Golgotha, where Jesus gave His life for our salvation. Lastly, there is the mountain of ascension, where Jesus went back to the heavens and sent His disciples to preach and baptize all the nations.

One distinctive feature in the Mount of Transfiguration is that he invited three disciples: Peter, James, and John. There are many reasons why these three were selected. St. Ambrose of Milan, representing the Fathers of the Church, believed that these three were chosen because of Peter who received the kingdoms’ keys, John, to whom was committed our Lord’s mother, and James who first suffered martyrdom. Meanwhile, St. Thomas Aquinas, a Middle age theologian, argued that James was the first martyr, John was the most beloved, and Peter was the one who loves Jesus most. However, we can also see it in a simple way. These three were disciples who were ready to follow Jesus and climb the high mountain.

Climbing the mountain is a challenging mission. One has to make necessary preparation without being excessive. Climbing requires physical stamina as well as mental toughness. As the climbing progresses, the persons’ authentic characters will be revealed. Facing difficulty, one can be very selfish or selfless. Confronting challenges, one can march with courage or retreat in fear. In a dire situation, one can exhibit decisive leadership or get panicked and lose his way. Peter, James, and John were up for the challenge, and they persevered to see the transfigured Jesus.

Often Jesus calls us to climb a mountain with Him. Sometimes, we climb the mountain of prayer as we need to face many hurdles in our prayer life. Occasionally, we need to climb the mountain of teaching because we are struggling with the Church’s particular teachings. Sometimes, we climb the mountain of Calvary, and we need to carry our cross, and on the top, we find no consolation but the death of the Savior.

Yet, the good news is that Jesus, who invited us to climb the mountain, is also walking with us. As we walk with Jesus, He guides us, strengthens us, and forms us. If we are faithful in mountains of temptations and Calvary, we will participate in His Transfiguration, resurrection, and ascension.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: Tim Foster

Mendaki Gunung Tuhan

Minggu Kedua Prapaskah [B]

28 Februari 2021

Markus 9: 2-11

Gunung adalah tempat khusus di dalam Kitab Suci. Ini adalah tempat dimana Tuhan bertemu dengan umat-Nya. Dalam Perjanjian Lama, ada banyak contoh di mana gunung menjadi titik penting dalam sejarah keselamatan. Setelah banjir besar yang membersihkan dunia, Bahtera nabi Nuh mendarat di Gunung Ararat dan di sana, Nuh mempersembahkan korban kepada Tuhan [lihat Kejadian 8: 4]. Abraham diminta oleh Tuhan untuk mempersembahkan putranya, Ishak, di Gunung Moria. Tepat sebelum pengorbanan, malaikat Tuhan mencegah Abraham dan Tuhan menerima iman Abraham [lihat Kejadian 22]. Ketika Musa sedang menggembalakan kawanan bapa mertuanya, Musa melihat semak bernyala tapi tidak habis terbakar, dan di sana, di gunung Horeb, Tuhan memanggil Musa untuk menyelamatkan bani Israel dari Mesir [lihat Keluaran 3].

Peristiwa-peristiwa penting dalam hidup Yesus terjadi di Pegunungan. Ada gunung pencobaan, di mana iblis membawa Yesus dan memperlihatkan kemuliaan duniawi kepada-Nya. Ada gunung doa, di mana Yesus menghabiskan waktu tenang-Nya dengan Bapa. Ada gunung pengajaran, di mana Yesus mengajarkan pelajaran-pelajaran agung-Nya seperti Sabda Bahagia dan mengasihi musuh. Ada gunung Transfigurasi, di mana Yesus menunjukkan kemuliaan ilahi-Nya. Ada gunung salib, atau Golgota, tempat Yesus memberikan hidup-Nya untuk keselamatan kita. Terakhir, ada gunung kenaikan, di mana Yesus kembali ke surga dan mengutus murid-murid-Nya untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa.

Kembali ke gunung tansfigurasi. Salah satu ciri khas dalam gunung transfigurasi adalah bahwa Yesus mengundang tiga murid-Nya: Petrus, Yakobus dan Yohanes. Ada banyak alasan mengapa ketiganya dipilih. St Ambrosius dari Milan, mewakili para Bapa Gereja, percaya bahwa ketiganya dipilih karena Petrus yang menerima kunci kerajaan, Yohanes, yang menjadi komitmen ibu Tuhan kita, dan Yakobus yang pertama kali mati sebagai martir. Sementara itu, St Thomas Aquinas, seorang teolog Abad Pertengahan, berpendapat bahwa Yakobus adalah martir pertama, Yohanes adalah murid yang paling dikasihi dan Petrus adalah murid yang paling mengasihi Yesus. Namun, kita bisa melihat juga dari cara yang sederhana. Ketiganya adalah murid-murid yang siap mengikuti Yesus dan mampu mendaki gunung yang tinggi.

Mendaki gunung adalah misi yang berat. Seseorang harus membuat persiapan yang matang tanpa berlebihan. Mendaki membutuhkan stamina fisik serta ketangguhan mental. Saat pendakian berlangsung, karakter asli orang tersebut akan terungkap. Menghadapi kesulitan, seseorang bisa menjadi sangat egois, tetapi juga bisa rela berkorban. Menghadapi tantangan, seseorang dapat maju terus dengan keberanian atau mundur dalam ketakutan. Dalam situasi yang mengerikan, seseorang dapat menunjukkan kepemimpinan yang tegas atau menjadi panik dan tersesat. Petrus, Yakobus dan Yohanes siap untuk tantangan itu, dan mereka bertahan untuk melihat Yesus yang berubah rupa.

Seringkali Yesus memanggil kita untuk mendaki gunung bersama-Nya. Terkadang, kita mendaki gunung doa karena kita harus menghadapi banyak rintangan dalam kehidupan doa kita. Terkadang, kita perlu mendaki gunung pengajaran karena kita bergumul dengan ajaran-ajaran tertentu Gereja. Kadang-kadang, kita mendaki gunung Kalvari, dan kita perlu memikul salib kita, dan di puncaknya, kita tidak menemukan penghiburan selain kematian sang Juruselamat.

Namun, kabar baiknya adalah Yesus yang mengundang kita mendaki gunung, juga berjalan bersama kita. Saat kita berjalan dengan Yesus, Dia membimbing kita, menguatkan kita dan membentuk kita. Jika kita setia di gunung godaan dan golgota, kita juga akan ikut serta dalam mendaki gunung transfigurasi, kebangkitan dan kenaikan-Nya.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Forty Days in the Wilderness

First Sunday of Lent [B]

February 21, 2021

Mark 1:12-15

Why did Jesus have to stay in the wilderness for 40 days? The answer is not difficult. He was reperforming what the Israelites did when they were liberated from Egypt. The Israelites stayed for 40 years in the wilderness before they entered the promised land. Yet, there is one more thing! Mark gives us a small, however important detail: in the wilderness, Jesus was staying with the beasts. Why so? If there is one man closely connected to the beasts in the scriptures, he is no other than Adam. Jesus is the new Israel who endured the harsh conditions of the desert and the new Adam who faced the onslaught of the devil.

Jesus entered the wilderness for forty days, and He was tested there by the harsh conditions of the Judean desert. Not only facing the barrenness of the desert, but Jesus was also confronting the devil himself. From here alone, we can draw a strong connection between the Israelites in the wilderness and Jesus, as well as Adam and Jesus. Like the old Israel who struggled with their own ego, Jesus was also enduring human weakness. Like Adam was facing the tempter, the devil tempted Jesus. However, there are significant differences.

While the Israelites murmured and complained, Jesus faithfully fasted and prayed. While the Israelites were grumbling for the food and Adam ate the forbidden fruit, Jesus rejected Satan’s temptation to change stone to bread. While the Israelites were losing faith and worshipping the demon in the form of the golden calf, and Adam wanted to be like God, Jesus refused to bow down to the devil despite all the worldly glory it offered. While the Israelites losing hope in the promised land and Adam blamed the woman, Jesus remained steadfast and refused to test God. Jesus is the new Israel and the new Adam. While the old Israel faltered and Adam succumbed to the trials and temptations, Jesus emerged victorious. Jesus corrected and perfected ancient Israel and old Adam.

We are the body of Christ, and we are part of the new Israel. As Jesus enters the wilderness, so we are going to our spiritual battle. However, we can only become triumphant when we are holding on to God and participating in Christ. The devil is much stronger than us, and without God, we march for sure defeat.

How are we going to win against this spiritual battle? Jesus gives us the answer: fasting-abstinence, almsgiving, and prayer. Fasting makes us hungry, yet it makes us realize that not all our bodily desires need to be fulfilled immediately. Almsgiving may hurt our pockets, but it opens us to the truth that we live meaningfully by giving, not hoarding things. Prayer may be a waste of time, but it offers us the most fundamental reality that we are nothing without God. We are part of the new Adam and the new Israel, and only in Him, we achieve our real victory.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo credit: nathan-mcbride

Empat Puluh Hari di Padang Gurun

Minggu Pertama Prapaskah [B]

21 Februari 2021

Markus 1: 12-15

Mengapa Yesus harus tinggal di padang gurun selama 40 hari? Jawabannya tidak sulit. Dia mengulangi apa yang dilakukan orang Israel ketika mereka dibebaskan dari perbudakan Mesir. Orang Israel tinggal selama 40 tahun di padang gurun sebelum mereka memasuki tanah perjanjian. Namun, ada satu hal lagi! Markus memberi kita detail kecil namun penting: di padang gurun, Yesus tinggal bersama binatang-binatang. Kenapa demikian? Jika ada satu orang yang hidup bersama para binatang di dalam kitab suci, dia tidak lain adalah Adam. Yesus bukan hanya Israel baru yang menanggung kondisi keras padang gurun, tetapi juga Adam baru yang menghadapi serangan setan.

Yesus memasuki padang gurun selama empat puluh hari dan Dia diuji di sana oleh kondisi keras gurun Yudea. Tidak hanya menghadapi tandusnya gurun, tetapi Yesus juga menghadapi iblis itu di sana. Dari sini saja, kita dapat melihat hubungan yang kuat antara bangsa Israel di padang gurun dan Yesus, serta antara Adam dan Yesus. Seperti Israel kuno yang bergumul dengan ego mereka sendiri, Yesus juga menanggung kelemahan manusia. Seperti Adam menghadapi si penggoda, Yesus juga dicobai oleh iblis. Namun terdapat perbedaan yang signifikan.

Sementara orang Israel menggerutu dan mengeluh, Yesus dengan setia berpuasa dan berdoa. Sementara orang Israel menggerutu untuk mendapatkan makanan, dan Adam memakan buah terlarang, Yesus menolak godaan Setan untuk mengubah batu menjadi roti. Sementara orang Israel kehilangan iman dan menyembah iblis dalam bentuk anak lembu emas, dan Adam ingin menjadi seperti Tuhan, Yesus menolak untuk tunduk kepada iblis meskipun semua kemuliaan duniawi yang ditawarkannya. Sementara orang Israel kehilangan harapan atas tanah perjanjian dan Adam menyalahkan sang wanita, Yesus tetap teguh dan menolak untuk menguji Tuhan. Yesus adalah Israel baru dan Adam baru. Sementara Israel lama goyah dan Adam menyerah pada pencobaan dan godaan, Yesus tampil sebagai pemenang. Yesus mengoreksi dan menyempurnakan Israel lama dan Adam lama.

Kita adalah tubuh Kristus, dan kita adalah bagian dari Israel baru. Saat Yesus memasuki padang gurun, demikianlah kita pergi ke pertempuran rohani kita. Namun, kita hanya bisa menjadi pemenang ketika kita mengandalkan kepada Tuhan dan berpartisipasi di dalam Kristus. Iblis jauh lebih kuat dari kita, dan tanpa Tuhan, kita pasti akan kalah.

Bagaimana kita akan menang melawan pertempuran spiritual ini? Yesus memberi kita tipsnya: puasa-pantang, amal dan doa. Puasa membuat kita lapar namun menyadarkan kita bahwa tidak semua keinginan jasmani kita harus segera dipenuhi. Karya amal mungkin melukai kantong kita, tetapi itu membuka kita pada kebenaran bahwa kita bisa hidup bermakna dengan memberi, bukan menimbun. Doa mungkin terkesan hanya membuang-buang waktu, tetapi doa membawa kita kepada kenyataan paling mendasar bahwa tanpa Tuhan, kita bukan apa-apa. Kita adalah bagian dari Adam baru dan Israel baru, dan hanya di dalam Dia, kita mencapai kemenangan sejati kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

God’s Loving Touch

Fifth Sunday of Lent [A]

March 29, 2020

John 11:1-45

Daniel Bonnell, "Jesus Wept." Oil on canvas, 34 x 46 in. Tags: LazarusAmong the five human senses, the sense of touch is the most basic and foundation to other senses. The sense of sight needs to be in touch with the light spectrum. The sense of taste requires to be in contact with the chemical in the food. The sense of hearing must receive air vibration or sound waves. This sense makes us a human being, a bodily being. No wonder that many traumatic experiences [even mental problems] are rooted in the lack (or excess) of touch.

God, our creator, understands our fundamental need of touch. Thus, to fulfill our deepest desire, He made a radical choice and became a man like all of us. Because Jesus is true God and true man, the disciples were able to see, hear, touch and feel Him. Yet, He gave a more radical gesture as He offered Himself as food to eat and drink to eat, “for my flesh is true food and my blood is true drink [Jn 6:55].” While the pagan deities were feasting on the human blood and sacrifice, our God does the opposite. He gave up His life so that we may live and feel His love.

Following the example of our Savior, the Church is filled with tangible means and bodily gestures as a sign and symbols of the divine presence. No wonder our churches are equipped with beautiful crucifixes, adorned with flowers, and mystified by the burning candle and incense. A sacrament is no other than the visible sign of the invisible grace, and sacraments really intend to connect to our bodies, like blessed water and oil that touch our forehead, the bread that we consume, and words of forgiveness that we need to hear. Amazingly, the Church is called the body of Christ, and our call is to unite as one people of God around this table of Eucharist.

However, the terrible thing befalls our Church. The pandemic caused by the Covid-19 is basically reversing the movement of our faith. We are facing a reality that touching can mean illness, the gathering may bring disaster, and worship may mean death. For the good of the flock, our leaders are forced to close the churches. We now feel the pain of separation from the Body of Christ.

Perhaps, we are like Lazarus who are experiencing spiritual suffering and death. Perhaps, we are like Martha who is asking the Lord, “why are you not coming sooner?” Perhaps, we are like Mary who cannot do anything but mourns and is reduced into silence.

The Gospel of John tells us that Jesus loves Lazarus, Martha and Mary as His close friends. Yet, Jesus did not rescue Lazarus when he got gravely ill, and even Jesus visited them after Lazarus died four days. Jesus allowed terrible things to take place in the life of Lazarus, Martha, and Mary, not because He wanted to punish them, or He does not care, but because He loves them.

In His love, God allows us to endure the sense of losing God, and experience suffering and even death. God knows too well that through suffering, we may love even deeper, we grow in faith, and re-discover God, alive and even closer. After all, there is no true resurrection, unless we enter the darkness of the tomb.

My deepest gratitude and prayer for our medical personal who give their all in to fight the disease and save lives.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sentuhan Kasih Allah

Minggu Kelima Masa Prapaskah [A]

29 Maret 2020

Yohanes 11: 1-45

lazarus africanDi antara lima indra manusia, indra peraba [sentuhan] adalah yang paling dasar dan fondasi bagi indra yang lainnya. Indra penglihatan perlu bersentuhan dengan spektrum cahaya. Indra perasa perlu bersentuhan dengan bahan kimia dalam makanan. Indra pendengaran harus menerima getaran suara di udara. Sentuhan menjadikan kita manusia, makhluk yang bertubuh. Tidak mengheran jika banyak pengalaman traumatis [bahkan masalah mental] berakar pada sentuhan yang kurang diterima atau tidak seharusnya diterima.

Tuhan, pencipta kita, memahami kebutuhan mendasar kita akan sentuhan. Dengan demikian, untuk memenuhi hasrat terdalam kita, Dia membuat pilihan radikal, dan menjadi manusia seperti kita semua. Karena Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia, para murid dapat melihat, mendengar, menyentuh dan merasakan Dia. Namun, Dia memberi sesuatu yang lebih radikal ketika Dia mempersembahkan diri-Nya sebagai makanan dan diminum, “karena dagingku adalah makanan yang benar dan darahku adalah minuman yang benar [Yohanes 6:55].” Sementara para dewa berhala menikmati darah manusia dari menjadi korban, Tuhan kita melakukan yang sebaliknya. Dia menyerahkan hidup-Nya sehingga kita dapat hidup dan merasakan kasih-Nya.

Mengikuti contoh Juruselamat kita, Gereja dipenuhi dengan sarana jasmani sebagai tanda dan simbol kehadiran ilahi. Tidak heran gereja-gereja kita dilengkapi dengan salib yang indah, dihiasi dengan bunga, dan diagungkan dengan lilin dan dupa. Sakramen tidak lain adalah tanda yang terlihat dari rahmat yang tak terlihat, dan sakramen benar-benar bermaksud untuk menyentuh tubuh kita, seperti air dan minyak suci yang menyentuh dahi kita, hosti yang kita santap, dan kata-kata pengampunan yang perlu kita dengar. Bahkan, Gereja sendiri disebut sebagai tubuh Kristus, dan panggilan kita adalah untuk bersatu sebagai satu umat Allah di sekitar meja Ekaristi ini.

Namun, hal yang mengerikan menimpa Gereja kita. Pandemi yang disebabkan oleh Covid-19 pada dasarnya membalikkan gerakan dasar iman kita. Kita menghadapi kenyataan bahwa menyentuh dapat berarti penyakit, berkumpul dapat membawa bencana, dan ibadah dapat berarti kematian. Demi kebaikan umat, para pemimpin kita dipaksa untuk menutup gereja. Kita sekarang merasakan sakitnya perpisahan dari Tubuh Kristus.

Mungkin, kita seperti Lazarus yang mengalami penderitaan dan kematian rohani. Mungkin, kita seperti Marta yang bertanya kepada Tuhan, “seandainya Engkau datang, hal ini tidak perlu terjadi?” Mungkin, kita seperti Maria yang tidak bisa berbuat apa-apa selain berduka dan berdiam.

Yesus tidak menyelamatkan Lazarus ketika dia sakit parah, dan bahkan Yesus mengunjungi mereka setelah Lazarus meninggal empat hari. Kenapa Yesus membiarkan hal-hal buruk terjadi dalam kehidupan Lazarus, Marta dan Maria? Apakah Yesus ingin menghukum mereka atau tidak peduli dengan mereka? Injil Yohanes menyatakan bahwa Yesus mengasihi Lazarus, Marta dan Maria sebagai sahabat dekat-Nya. Yesus mengizinkan hal buruk terjadi terhadap sahabat-sahabat-Nya justru karena Dia mengasihi mereka.

Dalam kasih-Nya, Allah mengijinkan kita untuk merakan Tuhan yang jauh, dan mengalami penderitaan dan bahkan kematian. Tuhan tahu betul bahwa melalui penderitaan, kita dapat mencintai lebih dalam, kita tumbuh dalam iman, dan menemukan kembali Tuhan, yang lebih hidup dan bahkan lebih dekat. Kita perlu mengingat bahwa tidak ada kebangkitan sejati, kecuali kita berani memasuki kegelapan makam.

Terima kasih dan doa terdalam saya untuk pribadi medis kami yang telah memberikan segalanya untuk memerangi penyakit dan menyelamatkan nyawa.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Spittle and Eyes

Fourth Sunday of Lent [A]

March 22, 2020

John 9:1-41

In healing the blind man, Jesus did something a bit unusual: He spat on the ground, made clay with His spittle, and smeared the clay on the blind man’s eyes. In this time we are battling the Covid-10, the fast-spreading strain of the coronavirus, we are educated that one of the media of contamination is the human droplets like our saliva, and the entire point of this virus is contact with our eyes. When the infectious saliva meets the eyes, it is the sure reason we fall victim to this terrible virus.

However, Jesus was using the very same means of illness and transforming it into the means of healing both physical and spiritual blindness. Indeed, this kind of reversing action is the favorite pattern of Jesus. St. John Chrysostom, bishop of Constantinople, in his homily, mentioned that three means used by the devil to destroy humanity are the same means utilized by Jesus to save humanity. The three means of the devil are the tree of knowledge of evil and good, the woman which is Eve who disobeyed, and the death of Adam who brought along all his descendants. Jesus then transformed three means into His own ways of salvation: for the tree of knowledge of evil and good, there is the tree of the cross, for Eve, there is Mary who obeys, and for the death of Adam, there is the death of Jesus who saves us all. The devil thought he could outsmart God, but truly, it is God who has the final victory.

In Genesis 2, when God created the man, He was acting like a craftsman or a sculptor. In ancient Rabbinic tradition, God used His own spittle to create a formable clay from the ground. The act of Jesus in healing the blind man brings us back to this story of creation. Jesus is not merely healing, but He is recreating the man into His own image. Even the means of ugliness and illness can be transformed into the means of beauty and salvation.

The covid-19 virus has destroyed many aspects of human life. It spreads fear and panic. It forces the government to take drastic measures, including locking down cities and stop economic activities. It separates people from their friends and loved ones. The faithful are obliged to be far from the houses of the Lord. These are a painful and confusing time for many of us. Even some of us would cry, “Eli, Eli, Lama sabacthani?”

Yet, we must not forget that Jesus can always employ the same means of death and destruction to be His way of salvation. We ask the Lord to open our eyes of faith to see how God works through this time of crisis.

We thank for the gifts of our medical practitioners who put their lives on the line to care for those are sick; for our government officials who tireless work to contain the virus; for volunteers who spend their own resources to help battling the illness; for the priests and Church’s servants who serve the spiritual needs of the people despite many limitations. My prayer also goes for an Italian priest who made the final sacrifice as he asked not to be treated so that the limited respiratory machines may be used by younger and having a better chance to survive.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ludah dan Mata

Hari Minggu Prapaskah Keempat [A]

22 Maret 2020

Yohanes 9: 1-41

blind manDalam menyembuhkan orang buta, Yesus melakukan sesuatu yang agak tidak biasa: Ia meludah ke tanah, membuat tanah liat dengan air liurnya, dan mengolesi tanah liat itu di mata orang buta tersebut. Saat ini kita sedang melawan Covid-19, jenis virus korona yang menyebar dengan cepat, kita dididik bahwa salah satu media kontaminasi adalah tetesan manusia seperti air yang keluar dari mulut kita. Ketika air yang sudah terkontaminasi dengan virus bersentuhan dengan mulut, hidung dan mata, itu menjadi titik awal berjangkitnya si virus di tubuh kita.

Namun, hari in, Yesus menggunakan media yang dipakai virus ini untuk menyebar dan mengubahnya menjadi jalan penyembuhan baik kebutaan fisik maupun spiritual. Memang, tindakan pembalikan semacam ini adalah pola favorit Yesus. St. Yohanes Krisostomus, uskup Konstantinopel, dalam homilinya, menyebutkan bahwa tiga cara yang digunakan oleh iblis untuk menghancurkan umat manusia adalah sarana yang sama yang digunakan oleh Yesus untuk menyelamatkan umat manusia. Tiga cara iblis adalah pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat, wanita yaitu Hawa yang tidak taat, dan kematian Adam yang membawa serta semua keturunannya. Yesus kemudian mengubah tiga sarana ini menjadi sarana keselamatan-Nya: untuk pohon pengetahuan, ada pohon salib, untuk Hawa, ada Maria yang setia, dan untuk kematian Adam, ada kematian Yesus yang menyelamatkan kita semua. Iblis mengira dia bisa mengakali Tuhan, tetapi sesungguhnya, Tuhanlah yang memiliki kemenangan akhir.

Dalam Kejadian 2, ketika Tuhan menciptakan manusia, Dia bertindak seperti seorang seniman atau pematung. Dalam tradisi Yahudi kuno, Tuhan mengambil tanah, dan kemudian agar bisa dibentuk, Dia menggunakan ludah-Nya sendiri untuk membuat tanah liat. Tindakan Yesus dalam menyembuhkan orang buta membawa kita kembali ke kisah penciptaan ini. Yesus tidak hanya menyembuhkan, tetapi Dia menciptakan kembali manusia itu seturut citra-Nya sendiri. Bahkan sarana keburukan dan penyakit dapat diubah menjadi sarana keindahan dan keselamatan.

Virus covid-19 telah menghancurkan banyak aspek kehidupan manusia. Virus ini menyebarkan ketakutan dan kepanikan. Virus ini memaksa pemerintah untuk mengambil tindakan drastis, termasuk “lockdown” kota-kota dan menghentikan kegiatan perekonomian. Virus ini memisahkan orang dari sahabat dan orang yang mereka kasihi. Orang beriman diwajibkan untuk menjauhi rumah Tuhan. Ini adalah waktu yang menyakitkan dan membingungkan bagi banyak dari kita. Bahkan beberapa dari kita akan menangis, “Eli, Eli, Lama sabacthani?”

Namun, kita tidak boleh lupa bahwa Yesus selalu dapat menggunakan sarana-sarana kematian dan kehancuran yang sama untuk menjadi sara keselamatan-Nya. Kita meminta Tuhan untuk membuka mata iman kita untuk melihat bagaimana Tuhan bekerja melalui masa krisis ini, dan saat mata kita terbuka, kita bisa melihat betapa banyaknya kebaikan ditengah-tengah kita.

Kita berterima kasih atas  berkat Tuhan yang menjelma sebagai berbagai praktisi medis kita yang mempertaruhkan nyawanya untuk merawat mereka yang sakit; untuk pejabat pemerintah kita yang bekerja tanpa kenal lelah untuk mencegah penyebaran virus; untuk para sukarelawan yang menyumbangkan sumber daya mereka sendiri untuk membantu memerangi penyakit ini; untuk para imam dan pelayan Gereja yang melayani kebutuhan rohani umat meskipun ada banyak keterbatasan. Doa saya juga tertuju bagi seorang imam Italia yang membuat pengorbanan terakhir saat dia meminta untuk tidak dirawat sehingga mesin pernapasan yang terbatas dapat digunakan oleh yang lebih muda dan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk bertahan hidup.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus, Mempelai Pria Kita

Hari Minggu Prapaskah Ketiga [A]

15 Maret 2020

Yohanes 4: 5-42

jesus n samaritan womanKita melihat Yesus sebagai beberapa figur. Beberapa orang menganggap Dia sebagai guru, beberapa memanggilnya sebagai sahabat, dan beberapa yang lain hanya akan menyatakan Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Namun, sedikit yang kita ketahui bahwa Injil memperkenalkan Dia sebagai mempelai laki-laki.

Gagasan bahwa Yesus sebagai mempelai kita agak canggung dan sulit diterima. Seseorang mungkin berpikir, “Jika saya single, tidak apa-apa menikah dengan Yesus. Tetapi jika saya sudah menikah, apakah itu berarti Yesus akan menjadi suami kedua saya, atau haruskah saya menceraikan suami pertama saya?” Kekhawatiran semacam ini tentu saja valid, namun ini berakar pada pemahaman manusiawi dan bahkan seksual kita tentang pernikahan. Lalu, mempelai laki-laki macam apa Yesus ini?

Untuk menjawab ini, kita perlu memahami beberapa simbol dalam Injil hari ini. Yesus pergi ke sebuah sumur dan Yohanes sang penginjil menegaskan bahwa itu bukan hanya sumur biasa, tetapi sumur Yakub. Seorang wanita Samaria kemudian datang untuk mengambil air, dan bertemu Yesus di sana. Bagi kita, itu hanya kisah biasa tentang pertemuan Yesus dengan seorang wanita, seperti ketika Yesus mengunjungi Maria dan Marta, atau Yesus membantu seorang wanita yang terjebak dalam perzinaan. Namun, ketika kita mengetahui Alkitab kita, pertemuan itu jauh dari biasa. Adegan di sumur adalah saat seorang pria menemukan pengantin wanitanya. Dalam Kejadian 29, Yakub menemukan Rahel di dekat sumur ketika dia akan memberi minum domba. Dalam Kel 3, setelah Musa melarikan diri dari Mesir, ia pergi ke tanah Midian, dan di dekat sumur, ia membela para wanita yang diganggu oleh para gembala. Salah satu dari wanita ini akhirnya akan menjadi istrinya.

Namun, Injil dengan jelas menunjukkan bahwa Yesus tidak mencari istri atau menikahi wanita Samaria itu. Yesus juga tetap sendiri selama seluruh hidupnya, tetapi sekali lagi, kita tidak berbicara di tingkat manusia dan literal. Jika Yesus adalah Mempelai Pria yang ilahi, wanita Samaria juga melambangkan mempelai wanita Kristus yang sejati. Tidak heran, para Bapak Gereja, akan mengidentifikasi wanita Samaria sebagai simbol dari Gereja. Seperti wanita Samaria yang bukan Yahudi, Gereja juga datang dari banyak bangsa. Seperti wanita Samaria yang bergumul dengan kehidupan pernikahannya, Gereja juga bergumul dengan banyak dosa dan kelemahan. Seperti wanita Samaria yang sedang menunggu Mesias, Gereja juga membutuhkan seorang Juru Selamat.

Sungguh aneh melihat Yesus sebagai pengantin laki-laki kita terutama ketika kita terbiasa dalam pemahaman yang terlalu manusiawi. Namun, dalam tingkat spiritual, untuk memiliki Yesus sebagai mempelai laki-laki kita berarti kita memiliki seseorang yang sangat mengasihi kita, seseorang yang akan melindungi dan merawat kita, seseorang yang akan menerima ketidaksempurnaan kita dan seseorang yang akan rela menyerahkan hidupnya demi kita.

Virus Covid-19 hanya dalam waktu tiga bulan telah mendatangkan malapetaka di dunia. Apa yang mengerikan dengan virus ini bukan hanya sangat menular dan belum memiliki obat yang pasti, tetapi juga memaksa manusia untuk menunjukkan naluri bertahan hidup dasarnya: ketakutan dan bahkan keegoisan. Namun, ini adalah juga kesempatan terbaik untuk bertumbuh dalam iman. Iman kita tidak kosong karena kita berpegang pada seseorang, dan Dia adalah Yesus, Mempelai Pria kita yang akan memberikan hidup-Nya bagi kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP