Minggu keempat Prapaskah [31 Maret 2019] Lukas 15: 1-3, 11-32
Perumpamaan tentang Anak yang Hilang adalah salah satu kisah Yesus yang paling mengharukan dan telah dianggap sebagai yang paling disukai. Mengapa? Saya kira salah satu alasannya adalah kisah Anak yang Hilang adalah kisah hidup kita juga.
Marilah kita melihat beberapa rincian perumpamaan terutama ayah dan putra bungsunya. Sang putra menuntut warisannya saat ayahnya masih hidup dan sehat. Itu hanya berarti sang putra berharap ayahnya mati! Ia juga menghendaki bahwa dia bukan lagi bagian dari keluarga [lihat Sir 33: 20-24]. Sang ayah memiliki wewenang untuk mendisiplinkan anak yang tidak tahu berterima kasih, tetapi ia tidak melakukannya! Karena cintanya yang luar biasa pada putranya, ia membiarkan putranya mendapatkan apa yang diinginkannya. Seperti sang putra, kita sering berdosa terhadap Tuhan, ingin menjauh diri dari-Nya. Kita memilih “warisan”, hal-hal baik yang Allah ciptakan seperti kekayaan, kuasa, dan kesenangan dari pada Dia. Kita terus menyalahgunakan kasih dan kebaikan-Nya, mengetahui bahwa Dia adalah Bapa yang Baik.
Namun, tindakan putra bungsu memiliki konsekuensi yang mengerikan. Semakin jauh dia dari ayahnya, semakin menyedihkan hidupnya. Warisan tanpa pemilik sejati hanyalah bayangan yang semu. Sang pemuda Yahudi tersebut kehilangan segalanya, dan bahkan menjadi penjaga babi, hewan yang sangat dibenci orang Yahudi! Dia menjadi sangat rendah sampai memakan apa yang dimakan babi peliharaannya. Seperti putra bungsu, tanpa Tuhan, kita menjadi sengsara. Ya, kita mungkin menjadi lebih kaya, lebih perkasa dan terkenal, tetapi tanpa Tuhan, kita telah kehilangan jiwa kita. Kita tidak pernah menjadi benar-benar bahagia karena hal-hal yang menyenangkan ini tanpa Allah hanyalah sebuah kecanduan.
Putranya baru menyadari keadaannya ketika dia ingat ayahnya dan hidupnya bersamanya. Bahkan ketika sang ayah berada jauh, bukan berarti dia tidak peduli. Dia menarik kembali putranya yang hilang melalui kenangan indah yang mereka bagi bersama. Tidak peduli seberapa jauh kita dari Tuhan, Dia terus-menerus menarik kita kembali kepada-Nya melalui cara-cara misterius-Nya. Namun, ini tetaplah pilihan kita untuk mengindahkan suara hati kita atau mengabaikannya dan menceburkan diri kita lebih jauh ke dalam dosa.
Perumpamaan itu juga berbicara tentang ayah yang dengan sabar menunggu, menantikan hari ketika putranya pulang. Saat dia melihat putranya dari jauh, tanpa berpikir dua kali, dia berlari, memeluk putranya serta menciumnya. Putranya tidak pernah berpikir bahwa dia pantas menjadi anaknya, dan hanya ingin diperlakukan seperti pelayan. Tetapi, rahmat sesungguhnya adalah memberi sesuatu yang tidak pantas kita terima. Sang ayah menerima kembali putranya sebagai anaknya.
Izinkan saya untuk menutup refleksi sederhana ini dengan sebuah cerita. Pada tahun 1988, gempa bumi dahsyat melanda Armenia. Hanya dalam empat menit, bangunan-bangunan runtuh, dan ribuan meninggal. Seorang pria segera berlari ke sekolah tempat putranya belajar. Dia telah berjanji kepada putranya bahwa dia akan berada di sana untuk menjemputnya. Dia melihat bahwa sekolah itu sekarang menjadi puing. Dia bergegas ke situs tempat kelas anaknya berada. Dia mulai menggali dengan tangannya. Beberapa orang mencoba membantunya tetapi berhenti ketika mereka lelah. Beberapa orang mengecilkan hatinya, mengatakan, “Itu tidak berguna. Mereka sudah mati! ”Dia menolak menyerah, dan terus menggali selama berjam-jam. Kemudian setelah lebih dari 30 jam mencari, dia mendengar suara kecil dari reruntuhan. Dia berteriak, “Arman!” Dan dia mendengar jawaban, “Ayah!” Putranya masih hidup, dan bersama-sama dengannya ada murid-murid lain. Hari itu, pria tersebut telah menyelamatkan 14 anak yang terjebak. Arman memberi tahu teman-temannya, “Sudah kubilang, ayahku akan datang apa pun yang terjadi!”
Perumpamaan tentang Anak yang Hilang begitu indah karena tidak hanya mencerminkan siapa kita tetapi juga mengungkapkan siapa Allah kita. Dia adalah Bapa yang berbelaskasih yang menolak untuk menyerah pada kita, betapapun buruknya kita.
Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

It normally takes around three years for a fig tree to reach its maturity and fruition. If it does not produce fruit by that time, it is not likely to bear fruit at all. The owner has a reasonable right to cut the tree, but through the effort of the gardener, it is given another chance. Like the fig tree, through the effort of our Chief Gardener, the new Adam of eternal Eden, Jesus Christ, we are given another chance to change and be fruitful.
Biasanya membutuhkan waktu sekitar tiga tahun bagi pohon ara untuk mencapai masa dewasa dan berbuah. Jika tidak menghasilkan buah pada saat ini, kemungkinan besar pohon ara tersebut tidak akan berbuah sama sekali. Tentunya, Sang pemilik memiliki hak untuk menebang pohon tersebut dan menanam pohon baru. Tetapi, melalui upaya sang tukang kebun, pohon ara diberi kesempatan baru. Seperti pohon ara, melalui upaya Sang Tukang Kebun kita, Adam yang baru di taman Eden yang abadi, Yesus Kristus, kita diberi kesempatan baru untuk berubah dan berbuah.
One time, during a Bible class I facilitated, one of the participants asked me, “how was Peter able to recognize that it was Moses who stood beside Jesus during the Transfiguration?” It was a valid question, and yet I personally never thought of it. I thought of with several possible answers. Perhaps, Moses appeared bringing two stone tables of the Law. Perhaps, as Jesus was conversing with Moses and Elijah, Peter was able to pick up the names. Perhaps, the divine inspiration enlightened Peter’s mind on the identity of Moses. Eventually, I have to answer, “When you go to heaven, don’t forget to ask both Peter and Moses.”
Suatu kali, saat saya mengajar kelas Alkitab, salah satu peserta bertanya kepada saya, “bagaimana Petrus dapat mengenali Musa adalah yang berdiri di samping Yesus saat Transfigurasi?” Itu adalah pertanyaan yang valid, namun saya pribadi tidak pernah memikirkan. Saya datang dengan beberapa kemungkinan jawaban. Mungkin, Musa muncul membawa dua loh batu Taurat. Mungkin, ketika Yesus berbicara dengan Musa dan Elia, Petrus dapat mengambil nama-nama itu. Mungkin, ilham ilahi menerangi pikiran Petrus tentang identitas Musa. Akhirnya, saya harus menjawab, “Ketika Anda pergi ke surga, jangan lupa untuk bertanya kepada Petrus dan Musa!”
The Spirit leads Jesus to the desert and Jesus remains there for forty days. The questions are: why does the Holy Spirit bring Jesus to the desert? Why does it have to be forty days? If we are familiar with the Old Testament, we recall that the journey of the Israelites in the desert lasted for forty years – the great exodus. After the great escape from the slavery of Egypt, they needed to walk through the desert before entering the Promise Land. Yet, it is not simply about the story of greatest escape in the history, but how God formed Israel as His people. In desert, God made a covenant with Israel through the mediation of Moses. In desert, God gave the Law as the basic guide for the Israelites living as His people. In the desert, God provided them with water, manna from heaven, and protected them from their enemies. However, in the desert also, the Israelites rebelled against God. They made and worship the golden calf. They complained a lot, and they wanted to kill Moses. It was a foundational story that covered almost the four Books of Moses [Exodus, Leviticus, Numbers and Deuteronomy].
Roh membawa Yesus ke padang gurun dan Yesus tinggal di sana selama empat puluh hari. Pertanyaannya adalah: mengapa Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun? Mengapa harus empat puluh hari? Jika kita akrab dengan Perjanjian Lama, kita tahu bahwa bangsa Israel berjalan di padang gurun selama empat puluh tahun. Sebuah peristiwa yang disebut juga sebagai “eksodus”. Setelah keluar dari dari perbudakan Mesir, mereka harus berjalan melalui padang gurun sebelum memasuki Tanah Perjanjian. Namun, ini bukan hanya tentang kisah pelarian mereka dari Mesir, tetapi bagaimana Allah membentuk Israel sebagai umat-Nya. Di padang gurun Sinai, Allah membuat perjanjian dengan Israel melalui mediasi Musa. Di padang gurun, Allah memberikan Hukum sebagai pedoman dasar bagi Israel yang hidup sebagai umat-Nya. Di padang gurun, Tuhan memberi mereka air, manna dari surga, dan melindungi mereka dari musuh. Namun, di padang gurun juga, Israel memberontak melawan Tuhan. Mereka membuat dan menyembah anak lembu emas. Mereka banyak mengeluh dan tidak tahu berterima kasih. Itu adalah kisah mendasar yang mencakup hampir empat Kitab Musa [Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan].

