Moses and Transfiguration

2nd Sunday of Lent [March 17, 2019] Luke 9:28-36

transfiguration 3One time, during a Bible class I facilitated, one of the participants asked me, “how was Peter able to recognize that it was Moses who stood beside Jesus during the Transfiguration?” It was a valid question, and yet I personally never thought of it. I thought of with several possible answers. Perhaps, Moses appeared bringing two stone tables of the Law. Perhaps, as Jesus was conversing with Moses and Elijah, Peter was able to pick up the names. Perhaps, the divine inspiration enlightened Peter’s mind on the identity of Moses. Eventually, I have to answer, “When you go to heaven, don’t forget to ask both Peter and Moses.”

The event of transfiguration is an important moment in the life of Jesus and His disciples. From here, Jesus begins his Passion toward Jerusalem and the cross. The transfiguration takes place to strengthen the faith of the disciples who will witness the gruesome events to be inflicted to their Teacher. However, the transfiguration is not only important for Jesus and His disciples, but surprisingly it is also the moment that Moses has awaited. Why so?

Moses was one of the greatest figures of the Old Testament. To him, the personal name of God was revealed (Exo 3:16). He challenged the great Pharaoh. He led the Hebrew people from the slavery of Egypt into the Promised Land, even passing through the Red Sea. He mediated the covenant between God and the Israel at Mount Sinai (Exo 20). For forty years, he patiently guided and educated the Israel in the desert. Through his hands, many miracles were performed. However, something happened in the desert. At Meribah, Israel complained and asked for water. Moses was instructed by God to command the rock to flow with water, but instead of saying the word, Moses struck his staff on the rock twice. The water indeed flowed but it displeased the Lord. God then said that Moses will not enter the Promised Land (Num 20:1-14). Indeed, Moses finally passed away at Mount Nebo, just before crossing the Jordan river.

It was a heartbreaking story. After faithfully following the Lord, leading the people through thick and thin of life, and bearing a lot of troubles that Israel created, a single mistake made him unable to taste the Promised Land. Both Jewish and Christian Biblical scholars have been puzzled by this difficult text. Indeed, we may keep questioning God for His unfair treatment. Fortunately, the story does not end there. Moses will surely enter the Promised Land, but he has to wait for someone: Jesus and His transfiguration. Truly, Moses does not only enter the Promised Land, but he also once again witnesses the Lord who appeared to him in the burning bush.

Reading the life of Moses without the transfiguration, we may bump into an image of God who is just but heartless, who judged Moses unworthy of entering the Promised Land because of a small error. Yet, with the transfiguration, God ties a loose end in the life of Moses. Like Moses, we may find some events in our lives, that are beyond our understanding, and violate our image of God who is love and mercy. Yet, God allows us to be puzzled and be at loss, in order that we may see how amazing God is going to tie the loose ends in our lives.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Musa dan Transfigurasi

Minggu ke-2 Prapaskah [17 Maret 2019] Lukas 9: 28-36

transfiguration 4Suatu kali, saat saya mengajar kelas Alkitab, salah satu peserta bertanya kepada saya, “bagaimana Petrus dapat mengenali Musa adalah yang berdiri di samping Yesus saat Transfigurasi?” Itu adalah pertanyaan yang valid, namun saya pribadi tidak pernah memikirkan. Saya datang dengan beberapa kemungkinan jawaban. Mungkin, Musa muncul membawa dua loh batu Taurat. Mungkin, ketika Yesus berbicara dengan Musa dan Elia, Petrus dapat mengambil nama-nama itu. Mungkin, ilham ilahi menerangi pikiran Petrus tentang identitas Musa. Akhirnya, saya harus menjawab, “Ketika Anda pergi ke surga, jangan lupa untuk bertanya kepada Petrus dan Musa!”

Peristiwa transfigurasi adalah momen penting dalam kehidupan Yesus dan para murid-Nya. Dari sini, Yesus memulai kisah sengsara-Nya menuju Yerusalem dan salib. Transfigurasi terjadi untuk memperkuat iman para murid yang akan menyaksikan peristiwa mengerikan yang menimpa Guru mereka. Namun, perubahan rupa tidak hanya penting bagi Yesus dan para murid-Nya, tetapi juga bagi Musa. Kenapa?

Musa adalah salah satu tokoh terbesar dalam Perjanjian Lama. Kepadanya, nama pribadi Allah diwahyukan (Kel 3:16). Dia menantang Firaun yang agung. Dia memimpin orang-orang Ibrani dari perbudakan Mesir ke Tanah Perjanjian, bahkan melewati Laut Merah. Dia memediasi perjanjian antara Allah dan Israel di Gunung Sinai (Kel 20). Selama empat puluh tahun, dia dengan sabar membimbing dan mendidik Israel di padang gurun. Melalui tangannya, banyak mujizat terjadi. Namun, ada sesuatu yang terjadi di padang gurun. Di Meribah, Israel mengeluh dan meminta air. Musa diperintahkan oleh Tuhan untuk bersabda kepada batu untuk mengalir dengan air, tetapi alih-alih mengatakannya, Musa memukul tongkatnya dua kali. Air memang mengalir, tetapi hal ini tidak menyenangkan Tuhan. Tuhan kemudian berkata bahwa Musa tidak akan memasuki Tanah Perjanjian (Bil 20: 1-14). Memang, Musa akhirnya meninggal di Gunung Nebo, tepat sebelum menyeberangi sungai Yordan.

Itu adalah kisah yang memilukan. Setelah dengan setia mengikuti Tuhan, memimpin orang-orang dengan air mata dan cucuran keringat, dan menanggung banyak masalah yang diciptakan bangsa Israel, satu kesalahan tunggal membuatnya tidak dapat menginjak Tanah Perjanjian. Banyak ahli Alkitab Yahudi dan Kristen telah dibuat bingung oleh teks yang sulit ini. Memang, kita dapat terus mempertanyakan Tuhan untuk perlakuan tidak adil-Nya. Untungnya, ceritanya tidak berakhir di sana. Musa akan memasuki Tanah Perjanjian, tetapi dia harus menunggu seseorang: Yesus dan transfigurasi-Nya. Sungguh, Musa tidak hanya memasuki Tanah Perjanjian, tetapi ia juga sekali lagi menyaksikan Tuhan yang menampakkan diri kepadanya di semak yang terbakar [Kel 3:2].

Membaca kehidupan Musa tanpa transfigurasi, kita melihat sosok Allah yang adil namun tidak berperasaan, yang menilai Musa tidak layak memasuki Tanah Perjanjian karena kesalahan kecil. Namun, dengan transfigurasi, Tuhan memberi akhir yang indah bagi Musa. Seperti Musa, kita kadang berhadapan dnegan beberapa peristiwa dalam hidup kita, yang berada di luar pemahaman kita, dan tidak sesuai dengan sosok Allah yang penuh kasih. Namun, kadang, Allah membiarkan kita menjadi bingung, agar kita dapat melihat betapa menakjubkannya Allah akan membawa kita dalam akhir bahagia di hidup kita.

Apakah momen dalam hidup kita yang sulit dipahami? Adakah peristiwa hidup dimana kita merasa Allah sepertinya tidak peduli? Apakah kita mampu seperti Musa untuk menunggu dengan sabar akan kasih Tuhan yang akan datang pada waktu-Nya yang indah?

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Exodus

First Sunday of Lent [March 10, 2019] Luke 4:1-11

missionary of charityThe Spirit leads Jesus to the desert and Jesus remains there for forty days. The questions are: why does the Holy Spirit bring Jesus to the desert? Why does it have to be forty days? If we are familiar with the Old Testament, we recall that the journey of the Israelites in the desert lasted for forty years – the great exodus. After the great escape from the slavery of Egypt, they needed to walk through the desert before entering the Promise Land. Yet, it is not simply about the story of greatest escape in the history, but how God formed Israel as His people. In desert, God made a covenant with Israel through the mediation of Moses. In desert, God gave the Law as the basic guide for the Israelites living as His people. In the desert, God provided them with water, manna from heaven, and protected them from their enemies. However, in the desert also, the Israelites rebelled against God. They made and worship the golden calf. They complained a lot, and they wanted to kill Moses. It was a foundational story that covered almost the four Books of Moses [Exodus, Leviticus, Numbers and Deuteronomy].

The Spirit brings Jesus to the wilderness because Jesus is going to enter into His Exodus. Jesus is the New Moses who leads the New Israel into the new exodus. If we want to follow Jesus and call ourselves as the Christian, we need to follow Jesus to the wilderness and the new Exodus. Yet, the desert is far from being a comfortable place. It is a place of trials and temptation. But, why does Jesus want us to follow Him into the place of trials? Because Jesus understands that faith without temptation is empty, hope without challenges is fantasy and love without sacrifice is cheap.

If we read closely the story of Israel in the desert, they could reach the Promised Land in just two-week time even by walking. But, why did it took them forty years? It is because when they were about to enter the Land, they became afraid of the native people who stayed there, and they complained against God. They were just one step away from the promised land, and yet they squandered the opportunity because they did not have faith in God. Then, God punished them, and placed them in the desert for forty years. They needed to learn the lesson in a hard way.

Living a comfortable life does not make us really grow in faith. In fact, it is in the harshest places that we discover God alive and fresh. When I visited the hospitals, meeting the patients with terrible sickness like cancer and kidney failure; when I visited the jails, talking to inmates, I witnessed the stronger faith, hope and love.

Once I met this lady, just called her Mary. She was a single mother, and her only child was a special child. His brain is shrinking, and he cannot do anything but clap his hands. It was a truly difficult situation, and what made it worse was when some other Christians who professed that Jesus is Lord and Savior said to her that the child was a curse. She was living in a cruel world, and terrible people around him. She was figuratively living in the wilderness. And I asked her what made her remain active in the Church. She said, “because I know God loves me through my special child.” Once again I saw a faith that moves a mountain.

Often it is through trials, challenges and the “desert” that we learn the true value of faith, hope and love.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Eksodus

Hari Minggu Prapaskah Pertama [9 Maret 2019] Lukas 4: 1-11

Satan-Tempts-Jesus-GettyImages-463967715-5808f7b65f9b58564c318113Roh membawa Yesus ke padang gurun dan Yesus tinggal di sana selama empat puluh hari. Pertanyaannya adalah: mengapa Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun? Mengapa harus empat puluh hari? Jika kita akrab dengan Perjanjian Lama, kita tahu bahwa bangsa Israel berjalan di padang gurun selama empat puluh tahun. Sebuah peristiwa yang disebut juga sebagai “eksodus”. Setelah keluar dari dari perbudakan Mesir, mereka harus berjalan melalui padang gurun sebelum memasuki Tanah Perjanjian. Namun, ini bukan hanya tentang kisah pelarian mereka dari Mesir, tetapi bagaimana Allah membentuk Israel sebagai umat-Nya. Di padang gurun Sinai, Allah membuat perjanjian dengan Israel melalui mediasi Musa. Di padang gurun, Allah memberikan Hukum sebagai pedoman dasar bagi Israel yang hidup sebagai umat-Nya. Di padang gurun, Tuhan memberi mereka air, manna dari surga, dan melindungi mereka dari musuh. Namun, di padang gurun juga, Israel memberontak melawan Tuhan. Mereka membuat dan menyembah anak lembu emas. Mereka banyak mengeluh dan tidak tahu berterima kasih. Itu adalah kisah mendasar yang mencakup hampir empat Kitab Musa [Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan].

Roh membawa Yesus ke padang gurun karena Yesus akan menjalani Eksodus-Nya. Yesus adalah sang Musa yang Baru yang memimpin Israel Baru ke dalam eksodus baru. Jika kita ingin mengikuti Yesus dan menyebut diri kita sebagai orang Kristiani, kita perlu mengikuti Yesus ke padang gurun dan eksodus baru. Namun, padang gurun bukanlah tempat yang nyaman. Itu adalah tempat pencobaan dan godaan. Tetapi, mengapa Yesus ingin kita mengikuti Dia ke tempat pencobaan? Karena Yesus mengerti bahwa iman tanpa godaan adalah hampa, harapan tanpa tantangan adalah fantasi dan kasih tanpa pengorbanan adalah murahan.

Jika kita membaca dengan cermat kisah bangsa Israel di padang gurun, mereka sebenarnya dapat mencapai Tanah Perjanjian hanya dalam waktu dua minggu bahkan dengan berjalan kaki. Tetapi, mengapa itu menjadi empat puluh tahun? Hal ini karena ketika mereka akan memasuki Tanah Perjanjian, mereka takut pada penduduk asli yang tinggal di sana, dan mereka mengeluh kepada Tuhan. Hanya satu langkah lagi sebelum sampai di Tanah Terjanji, namun mereka menyia-nyiakan kesempatan itu karena mereka tidak memiliki iman kepada Tuhan. Kemudian, Tuhan menghukum mereka, dan menempatkan mereka di padang gurun selama empat puluh tahun. Mereka perlu belajar dengan cara yang sulit.

Hidup dalam kenyamanan tidak membuat kita benar-benar tumbuh dalam iman. Tanpa terduga, di tempat-tempat terberat saya menemukan Tuhan hidup dan berkuasa. Ketika saya mengunjungi rumah sakit, menemui pasien dengan penyakit mengerikan seperti kanker dan gagal ginjal; Ketika saya mengunjungi penjara, berbicara dengan para tahanan, saya menyaksikan iman, harapan, dan kasih yang luar biasa.

Suatu kali saya bertemu seorang wanita, sebut saja dia Maria. Dia adalah seorang ibu tunggal, dan satu-satunya anak adalah anak yang berkebutuhan khusus. Otaknya menyusut, dan dia tidak bisa melakukan apa pun selain bertepuk tangan. Itu benar-benar situasi yang sulit, dan yang lebih buruk adalah ketika beberapa orang-orang lain yang mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat mengatakan kepadanya bahwa anak itu adalah kutukan. Dia hidup di dunia yang kejam, dan sungguh hidup di padang gurun. Dan saya bertanya kepadanya apa yang membuatnya tetap aktif di Gereja. Dia berkata, “karena saya tahu Tuhan mencintai saya melalui anak saya yang special ini.” Sekali lagi saya melihat iman yang dapat memindahkan gunung.

Seringkali melalui cobaan, tantangan, dan “gurun” kita belajar nilai sebenarnya dari iman, harapan, dan kasih.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ups and Downs of Life

Palms Sunday of the Lord’s Passion [March 25, 2018] Mark 11:1-10; Mk 14:1—15:47

“Though he was in the form of God…Rather, he emptied himself, taking the form of a slave…” (Phil. 2:6-7)

friends
photo by Harry Setianto, SJ

We are celebrating the Palm Sunday of the Lord’s Passion. In today’s celebration, we have the only liturgical celebration in which two different Gospel readings are read. The first Gospel, usually read outside the Church, is about the triumphal entry of Jesus into Jerusalem, and the second Gospel narrates the Passion of Jesus Christ. Reflecting on the two readings, we listen to two different and even opposing themes: triumph and defeat. These are two fundamental themes, not only in the life of Jesus, but in our lives as well.

 

The triumphal entry into Jerusalem represents our times of success and great joy. It is when we achieve something precious in our lives. These are moments like when we accomplish our studies, when we gain new and promising work, or when we welcome the birth of a family’s newest member. These are the “Up” events of life. While the Passion story speaks of times of defeat and great sorrow. It is when we experience great losses in our lives. There are moments like when we fail decisive examinations or projects, whenwe lose our jobs, or we experience death in the family. These are the “Down” events of life. Passing through these Upsand Downs of life, Jesus teaches us valuable lessons.  In times of triumph, like Jesus riding on the colt, we are challenged to remain humble and grateful. In moments of defeat, like Jesus who embraces His sufferings, we are invited to patiently bear these moments and offer them to the Lord.

However, there is something more than this. If we read the second reading from the letter of Paul to the Philippians (2:6-11), we listen to one of the most beautiful hymns in the New Testament that affirms both the divinity and humanity of Christ. If we believe that Jesus is God become man , then God does not only give us success or allow us to undergo suffering but in Jesus, God experiences what it means to be successful as well as to fail. This point is a radical departure from an image of God that is distant yet controlling, or a kind of a teddy bear that we can hug during crying moments, or a trophy we can parade in our victorious time. Our God is one with us in all our experience of joy and sadness, of triumph and defeat.

In the Book of Genesis chapter 3, we read the first story of human failure. Adam and Eve were deceived by the serpent and disobeyed God. It is true that our first parents failed God, and they had to leave the Garden of Eden. Yet, God did not cease to care for them. God made them garments of skin to cloth them, as to cover their nakedness and give them protection. God prepared them to face the harsh life outside the Garden. However, there is something even more remarkable. After Genesis 3, we will never read again about the Garden and what happens inside, but rather the stories of Adam, Eve and their descendants. Why? Because God did not choose to stay in the Garden, and just watch things through a giant LCD monitor, but rather He followed our first parents and walked with them. He accompanied them, struggled with them, cried with them and shared their happiness. Truly, the Bible is a book about God and His people.

As we enter the Holy Week, may we find time to reflect: How is God sharing in our ups and downs? Have we become a good companion to our friends in their ups and downs? Do we accompany Jesus in his way of the cross and resurrection?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pasang Surut Kehidupan

Minggu Palma, Mengenang Sengsara Tuhan [25 Maret 2018] Markus 11: 1-10; Markus 14: 1—15: 47

walaupun dalam rupa Allah…melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Fil. 2: 6-7)”

cross afar
foto oleh Harry Setianto SJ

Kita merayakan Minggu Palma. Hari ini adalah satu-satunya perayaan liturgis di mana dua Injil yang berbeda dibacakan. Injil pertama, biasanya dibacakan di luar Gereja, adalah tentang masuknya Yesus ke Yerusalem, dan Injil kedua menceritakan tentang sengsara dan wafatnya Yesus. Merenungkan pada dua bacaan ini, kita mendengarkan dua tema yang berbeda dan bahkan bertentangan, yakni tentang kemenangan dan kekalahan. Ini adalah dua tema dasar, tidak hanya dalam kehidupan Yesus, tetapi dalam kehidupan kita juga.

 

Yesus yang disambut saat Ia masuk ke Yerusalem melambangkan saat-saat kesuksesan dan sukacita kita. Itu adalah ketika kita meraih sesuatu yang berharga dalam hidup kita. Ini adalah saat-saat ketika kita menyelesaikan sekolah kita, ketika kita mendapatkan pekerjaan baru, atau ketika kita menyambut kelahiran anggota keluarga terbaru. Ini adalah peristiwa “pasang” kehidupan. Sementara, kisah sengsara Yesus berbicara tentang saat-saat kekalahan dan kesedihan kita. Saat inilah kita mengalami kehilangan besar dalam hidup kita. Ada saat-saat seperti ketika kita gagal dalam ujian atau proyek yang menentukan, kita kehilangan pekerjaan kita, dan kita mengalami kematian dalam keluarga. Ini adalah peristiwa “surut” kehidupan. Melewati masa-masa pasang dan surut kehidupan, Yesus mengajarkan kita pelajaran berharga. Pada masa kemenangan, kita ditantang untuk tetap rendah hati dan bersyukur, seperti Yesus yang naik keledai. Di saat-saat kekalahan, kita diajak untuk dengan sabar menanggung saat-saat ini dan mempersembahkannya kepada Tuhan, seperti Yesus yang merangkul salib-Nya.

Namun, ada sesuatu yang lebih dari ini. Jika kita membaca bacaan kedua dari surat Paulus kepada jemaat di Filipi (2: 6-11), kita mendengarkan salah satu madah yang paling indah dalam Perjanjian Baru. Madah ini menegaskan keilahian dan kemanusiaan Kristus. Jika kita percaya bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, Allah tidak hanya memberi kita kesuksesan atau mengizinkan kita mengalami penderitaan, tetapi di dalam Yesus, Allah mengalami sendiri apa artinya menjadi sukses dan juga gagal. Ini menjadi titik perubahan radikal dari citra Allah sebagai Tuhan yang jauh, tapi tidak tersentuh. Dia juga bukan seperti boneka teddy bear yang dapat kita peluk saat kita sedih. Dia juga bukan piala yang kita pamerkan di saat kemenangan kita. Allah kita adalah satu dengan kita dalam semua pengalaman kita, baik sukacita maupun kesedihan, baik kemenangan maupun kekalahan.

Dalam Kitab Kejadian bab 3, kita membaca kisah pertama tentang kegagalan manusia. Adam dan Hawa ditipu oleh ular dan merekapun tidak taat kepada Tuhan. Memang benar bahwa mereka gagal, dan mereka harus meninggalkan Taman Eden. Namun, Tuhan tidak berhenti mengasihi mereka. Tuhan membuatkan mereka pakaian dari kulit untuk menutupi ketelanjangan mereka dan memberi mereka perlindungan. Tuhan mempersiapkan mereka untuk menghadapi kehidupan yang keras di luar Taman. Namun, ada sesuatu yang bahkan lebih luar biasa. Setelah Kejadian bab 3, kita tidak akan pernah membaca lagi tentang Taman Eden dan apa yang terjadi di dalam, melainkan kisah-kisah Adam, Hawa dan keturunan mereka. Mengapa? Karena Tuhan tidak memilih untuk tinggal di Taman Eden, dan memisahkan diri dari para manusia yang lemah, tetapi Dia mengikuti Adam dan Hawa dan berjalan bersama mereka. Dia menemani mereka, bergulat bersama, menangis bersama dan berbagi kebahagiaan mereka. Sungguh, Kitab Suci adalah buku tentang Tuhan dan umat-Nya.

Sata kita memasuki Pekan Suci, semoga kita menemukan waktu untuk merefleksikan: Bagaimana Tuhan menjadi bagian dalam pasang surut kehidupan kita? Sudahkah kita menjadi teman berbagi bagi saudara-saudari dalam pasang surut kehidupan mereka? Apakah kita sungguh menemani Yesus di jalan salib dan kebangkitannya?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Die and Live

Fifth Sunday of Lent [March 18, 2018] John 12:20-33

“Amen, amen, I say to you, unless a grain of wheat falls to the ground and dies, it remains just a grain of wheat; but if it dies, it produces much fruit. (Jn. 12:24)”

seedling
by Harry Setianto SJ

The hour of Jesus’ suffering and death has come. Jesus knows well that Jewish leaders want him dead, and there is no other punishment worse than crucifixion. Yet, Jesus does not see His suffering and death as defeat and shame, but in fact, it is the opposite. His crucifixion shall be the hour that He will be glorified and draw all men and women to Himself. It is the moment of victory because Jesus sees Himself as a grain of wheat that falls to the ground and dies, and then bears many fruits. It is not a kind of positive thinking technique to vilify the suffering or a pep talk to ignore the pain, but rather Jesus chooses to embrace it fully and make it meaningful and fruitful.

 

In the theological level, Jesus’ suffering, death, and resurrection are the summits of the work of redemption, our salvation. Jesus is the resurrection and life so that whoever knows and believes in Him may have the eternal life. Jesus’ choice of a grain of wheat, a basic material for making bread, may allude to the sacrament of the Eucharist through which Jesus gives the fullness of Himself to us in the form of a bread. Thus, through our participation in the Eucharist, we share this fruit of salvation.

However, through His sacrifice and death, Jesus also offers us a radical way to live this life. Truly, there is nothing wrong in pursuing wealth, success and power because these are also gifts from God and necessary for our survival and growth. Yet, when we are too captivated by these alluring things, and make other things and people simply tools to gain these, we choose to live the way of the world. Since the dawn of humanity, the world has offered us an inward-looking and self-seeking way of life. It is “Me First,” my success, my happiness at the expense of others and nature. Some people exploit nature and steal other people’s hard-earned money to enrich themselves. Some objectify and abuse even their family members, people under their care, just to have an instant pleasure. Some others manipulate their co-workers or friends to have more power for themselves. These are precisely what the world offers. These are good as far as they fulfill our transitory needs as a human being, but when we make them as the be-all and end-all, we begin losing our lives. Science calls this effect the hedonic treadmill: We work hard, advance, so we can afford more and nicer things, and yet this doesn’t make us any happier. We fail to find what truly makes us human and alive, and despite breathing, we already dying.  As Jesus says, “Whoever loves his life, loses it (Jn 12:25).”

Paradoxically, it is in dying to ourselves and in giving ourselves, our lives to others that we may find life and bear fruits. Sometimes, we need to offer our lives literally.  St. Maximillian Kolbe offered his life in exchange for a young man who had children in the death camp Auschwitz. Later Pope John Paul II canonized him and declared him as a martyr of charity. Not all of us are called to make the ultimate sacrifice like St. Maximillian, and we can die to ourselves in our little things, and give ourselves for others in simple ways. The questions then for us: how are we going to die to ourselves? How shall we give ourselves to others? What makes our lives fruitful for ourselves and others?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Photo by Harry Setianto SJ

Mati dan Hidup

Minggu kelima Prapaskah [18 Maret 2018] Yohanes 12:20-33

“Amin, amin, saya katakan kepada Anda, kecuali satu butir gandum jatuh ke tanah dan mati, itu tetap hanya sebutir gandum; Tapi jika mati, itu menghasilkan banyak buah. (Yoh 12:24) “

small candle
oleh Harry Setianto SJ

Saat penderitaan dan kematian Yesus telah tiba. Yesus mengerti bahwa para pemimpin Yahudi menginginkan dia mati, dan tidak ada hukuman lain yang lebih keji daripada penyaliban. Namun, Yesus tidak melihat penderitaan dan kematian-Nya sebagai kekalahan dan aib, namun justru sebaliknya. Penyaliban-Nya akan menjadi saat dimana Dia akan dimuliakan. Inilah saat kemenangan karena Yesus melihat diri-Nya sebagai biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati, dan kemudian menghasilkan banyak buah. Ini bukanlah semacam teknik berpikir positif untuk melupakan penderitaan atau mengabaikan rasa sakit, namun Yesus memilih untuk merangkul penderitaan-Nya sepenuhnya dan membuatnya bermakna dan berbuah.

 

Di tingkat teologis, penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus adalah puncak dari karya penebusan, keselamatan kita. Yesus adalah kebangkitan dan hidup dan siapapun yang percaya kepada-Nya akan memiliki hidup yang kekal. Pilihan biji gandum oleh Yesus, yang adalah bahan dasar pembuatan roti, mungkin berbicara tentang sakramen Ekaristi dimana Yesus memberikan kepenuhan diri-Nya kepada kita dalam bentuk roti. Jadi, melalui partisipasi kita dalam Ekaristi, kita menikmati buah-buah keselamatan yang telah dimenangkan oleh Kristus.

Namun, melalui pengorbanan dan kematian-Nya, Yesus juga memberi kita cara radikal untuk menjalani kehidupan ini. Sungguh, tidak ada yang salah dalam mengejar kekayaan, kesuksesan dan kekuasaan karena ini juga merupakan anugerah dari Tuhan. Namun, ketika kita terlalu terpukau, dan sampai membuat sesama hanyalah sebagai alat untuk mendapatkan hal-hal ini, kita memilih jalan dunia. Sejak awal, dunia telah menawari kita jalan hidup yang berwawasan sempit dan egois. Ini adalah mentalitas “Me First,” kesuksesanku, kebahagiaanku, bahkan dengan mengorbankan sesama dan alam. Beberapa orang mengeksploitasi alam dan mencuri uang orang lain untuk memperkaya diri mereka sendiri. Beberapa orang melecehkan bahkan anggota keluarga mereka hanya untuk mendapatkan kesenangan instan. Beberapa orang lainnya memanipulasi rekan kerja atau teman mereka untuk memiliki lebih banyak kekuasaan. Inilah yang ditawarkan dunia.

Hal-hal ini sebenarnya baik sejauh mereka memenuhi kebutuhan sementara kita sebagai manusia, tapi ketika kita menjadikannya sebagai segalanya, kita mulai kehilangan hidup kita. Beberapa ilmuwan menyebut efek ini sebagai “treadmill hedonis”: Kita terus bekerja keras, maju, dan mampu menghasilkan banyak hal yang lebih baik, namun hal ini tidak membuat kita lebih bahagia. Kita gagal menemukan apa yang kita benar-benar membuat kita manusia dan hidup, dan meski bernapas, kita sudah kehilangan hidup. Tidak salah jika Yesus berkata, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya (Yoh 12:25).”

Paradoksnya adalah saat kita mati terhadap diri kita sendiri dan memberikan hidup kita kepada sesama, kita menemukan hidup dan berbuah. Terkadang, kita perlu mengorbankan hidup kita secara radikal. St. Maximilianus Kolbe menawarkan hidupnya sebagai pengganti bagi seorang pemuda yang akan dieksekusi di kamp Auschwitz. Saat dia dikanonisasi, Paus Yohanes Paulus II menyatakannya sebagai martir cinta kasih. Tidak semua dari kita dipanggil untuk membuat pengorbanan radikal seperti St. Maximilianus, tetapi kita dapat mati terhadap diri kita sendiri dalam hal-hal kecil, dan memberikan diri kita kepada sesama dengan cara-cara yang sederhana. Pertanyaan sekarang: bagaimana kita akan mati terhadap diri kita sendiri? Bagaimana kita memberi diri kita kepada sesama? Apa yang membuat hidup kita sungguh berbuah bagi diri kita dan orang lain?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Foto oleh Harry Setianto SJ

Beholding the Crucified Christ

Fourth Sunday of Lent [March 11, 2018] John 3:14-21

“Just as Moses lifted up the serpent in the desert, so must the Son of Man be lifted up, (Jn. 3:14)”

beholding cross
photo by Harry Setianto, SJ

As early as chapter 3 of the Gospel of John, Jesus is aware that he is going to suffer and die on the cross. The crucifixion is the worst kind of punishment in the ancient time. It is reserved for the rebels and foulest criminals. For the Jews, death on the tree is considered accursed by God Himself (Deu 21:22-23). By dying on the cross, Jesus may be seen by Jewish contemporaries as an evil criminal, a great dishonor to the family and the nation, and an accursed by God.

 

However, Jesus sees His death on the cross, not in these horrible perspectives, but rather He likens himself to the bronze serpent lifted up by Moses in the desert. In the book of Numbers (21:4-9), the Israelites complain against the Lord and Moses in the desert. They particularly do not like the manna despite being freely and miraculously given by God. So, God sends serpents to punish the Israelites. When the Israelites repent, Moses lifts a bronze serpent on the pole, so those who behold it, will be healed from the snake’ bite and live. We notice that the serpent that becomes the instrument of punishment and death turns to be the instrument of healing and life. Like the serpent, the cross is originally a means of torture and death, but God transforms it into the means of forgiveness and salvation. Therefore, like the Israelites who see the bronze serpent, those who behold the crucified Jesus and believe in Him will have the eternal life.

The faith in the Crucified Man is fundamental in the life of every Christian. Yet, we, Catholics, seem to take this faith and Gospel verses pretty passionately. We do not only have faith in the Jesus Crucified; we literally behold Him on the cross.  In every church, we see the cross both inside and outside the building. In Catholic schools, hospitals, and homes, the crucifix (cross with the body) is hanging on practically every wall. The crucifix is also inseparable from our religious and liturgical activities. The General Instruction of the Roman Missal no. 270 even states, “There is to be a crucifix, clearly visible to the congregation, either on the altar or near it.” Our rosaries always begin with holding the crucifix and ends by kissing it. During the Way of the Cross, we literally genuflect before the cross, and proclaim, “We adore You, O Christ, and we praise you. Because, by Your holy cross, You have redeemed the world.” Even, during the exorcism rite, a priest finds the crucifix, especially St. Benedict’s cross, as a powerful means against the evil spirits. Finally, we make the sign of the cross every time we pray because we acknowledge that our salvation comes the Jesus Crucified.

Like the Israelites in the desert behold the bronze serpent, we too behold Jesus on the cross. As the Israelites are healed and live, we are also saved and have eternal life in the Son of Man that is lifted up on the cross. This Lenten season, we are invited once again to reflect the meaning of the cross in our lives. Is the cross a mere cute accessory or ornament? Is making the sign of the cross a meaningless repeated practice? Are we ashamed of the cross of Christ? What does it mean for us to be the men and women who behold the cross?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lihatlah Kristus yang Tersalib

Minggu Keempat Prapaskah [11 Maret 2018] Yohanes 3: 14-21

“sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan (Yoh 3:14)”

before the cross
foto oleh Harry Setianto SJ

Sudah dari bab 3 Injil Yohanes, Yesus menyadari bahwa Ia akan menderita dan wafat di kayu salib. Penyaliban adalah hukuman terburuk pada zaman dahulu. Hukuman ini diperuntukkan bagi para pemberontak dan kriminal yang paling jahat. Bagi orang Yahudi, kematian di atas pohon dianggap terkutuk oleh Allah (Ul 21: 22-23). Dengan mati di kayu salib, Yesus dilihat oleh orang-orang sezaman-Nya sebagai penjahat, aib besar terhadap keluarga dan bangsa, dan telah dikutuk oleh Allah.

 

Namun, Yesus melihat kematian-Nya di kayu salib, bukan dalam perspektif negatif ini, melainkan Ia menyamai diri-Nya seperti ular tembaga yang diangkat Musa di padang gurun. Dalam kitab Bilangan (21: 4-9), orang Israel mengeluh kepada Tuhan dan Musa di padang gurun. Mereka tidak suka Manna meski telah diberikan Tuhan secara cuma-cuma dan penuh Mujizat. Tuhan pun mengirim ular-ular tedung untuk menghukum orang Israel. Ketika orang Israel bertobat, Musa mengangkat ular tembaga di atas tiang, sehingga orang-orang yang melihatnya, akan disembuhkan dari gigitan ular dan hidup. Kita melihat bahwa ular yang menjadi alat penghukuman dan kematian ternyata menjadi alat penyembuhan dan kehidupan. Seperti ular, salib pada awalnya merupakan alat penyiksaan dan kematian, tetapi Tuhan mengubahnya menjadi sarana pengampunan dan penyelamatan. Oleh karena itu, seperti orang Israel yang melihat ular tembaga, mereka yang melihat Yesus yang tersalib dan percaya kepada Dia akan memiliki hidup yang kekal.

Iman kepada Yesus tersalib sangat penting dalam kehidupan setiap orang Kristiani. Namun, kita, umat Katolik, tampaknya menghidupi iman ini dan ayat-ayat Injil dengan penuh semangat. Kita tidak hanya memiliki iman kepada Yesus yang tersalib; Kita benar-benar memandang Dia di kayu salib. Di setiap gereja, kita melihat salib baik di dalam maupun di luar gedung. Di sekolah-sekolah Katolik, rumah sakit, dan rumah, salib tergantung di hampir setiap dinding. Salib juga tidak dapat dipisahkan dari kegiatan keagamaan dan liturgis kita. Pedoman Umum Misale Romawi no. 117 bahkan menyatakan, “Hendaknya ada sebuah salib dengan sosok Kristus tersalib yang dipajang pada altar atau di dekatnya.” Rosario kita selalu dimulai dengan salib dan diakhiri dengan menciumnya. Selama Jalan Salib, kita berlutut di depan salib, dan menyatakan, “Kita memuji Engkau, ya Kristus. Karena, oleh salib-Mu kudus, Engkau telah menebus dunia.” Bahkan, selama ritual exorsisme, seorang imam menggunakan salib, khususnya salib St. Benediktus, sebagai sarana yang sangat kuat melawan roh-roh jahat. Akhirnya, kita membuat tanda salib setiap kali kita berdoa karena kita mengetahui bahwa keselamatan kita berasal dari  Yesus yang disalibkan.

Seperti orang Israel di padang gurun melihat ular tembaga, kita juga melihat Yesus di kayu salib. Saat orang Israel disembuhkan dan hidup, kita juga diselamatkan dan memiliki hidup yang kekal karena kita beriman kepada Anak Manusia yang diangkat ke atas kayu salib. Masa Prapaskah ini, kita diajak sekali lagi untuk merefleksikan makna salib dalam kehidupan kita. Apakah salib hanyalah sekedar aksesori atau ornamen cantik untuk rumah kita? Apakah membuat tanda salib merupakan sebuah rutinitas yang tidak berarti? Apakah kita malu dengan salib Kristus? Apakah artinya bagi kita hidup sebagai orang yang menatap salib Yesus?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP