Allah Transfigurasi

Minggu Prapaskah kedua (Tahun A). 12 Maret 2017 [Matius 17: 1-9]

tumblr_inline_njjg9wzNYO1qkqzlvDalam Alkitab, gunung adalah tempat di mana Allah bertemu umat-Nya. Musa melihat semak duri yang menyala dan menerima panggilannya untuk memimpin Israel keluar dari perbudakan Mesir di Gunung Horeb (lihat Kel 3). Setelah pembebasan, Musa bertemu dengan Tuhan dan menerima Hukum Taurat di Gunung Sinai (lihat Kel 19). Elia menemukan kehadiran Allah yang lembut di Gunung Horeb (1 Raja 19:11-15). Pemazmur juga melihat gunung sebagai tempat Tuhan bersemayam (seperti Mzm 3:5; 24:3). Bahkan, salah satu gelar Tuhan adalah El Shaddai, yang  mungkin berarti Tuhan adalah gunung yang kuat (Kej 17:1).

Dalam Injil hari ini, Yesus dan ketiga murid naik ke gunung yang tinggi. Di sana, ia berubah rupa. Wajahnya bersinar seperti matahari dan kain nya berubah menjadi putih seperti cahaya. Kemudian dua tokoh besar dari Perjanjian Lama, Musa dan Elia muncul dan berbicara dengan Yesus. Akhirnya, awan terang menaungi mereka dan suara berkata, Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Para murid sangat ketakutan. Beralih kembali ke bentuk biasa, Yesus menyentuh mereka dan meyakinkan mereka, Berdirilah, jangan takut.” Kemudian mereka turun dari gunung dan melanjutkan perjalanan ke Yerusalem.

Motif Perjanjian Lama berlangsung sekali lagi dalam Perjanjian Baru, tetapi jika kita mencermati lebih dekat, ada beberapa perbedaan mencolok di sini. Pertama, manusia mendaki gunung untuk melihat Allah, tapi ketika para rasul berada di sana, mereka melihat Yesus berubah. Episode menjadi salah satu tanda dari keilahian Yesus dalam Perjanjian Baru. Kedua, Musa dan Elia yang mewakili yang terbaik dari Perjanjian Lama: Hukum dan Nabi. Namun, Musa dan Elia adalah juga tokoh Perjanjian Lama yang ditemui Allah di gunung. Mereka muncul kembali di transfigurasi karena mereka ingin memberitahu kita bahwa Yesus adalah Tuhan yang mereka temui di gunung tinggi. Ketiga, Yesus tidak tinggal selamanya di gunung, tetapi Dia turun dan meneruskan hidup-Nya di antara para murid-Nya dan bangsa Israel. Ini adalah wahyu yang sejatinya menggegerkan: Allah kita tidak tinggal dan duduk manis di atas gunung yang tinggi, tetapi Dia turun dan tinggal bersama kita, di hiruk-pikuk hidup kita.

Kadang-kadang kita mengharapkan untuk menemukan Allah yang mulia hanya pada gunung yang tinggi. Beberapa dari kita merasakan Allah hanya dalam pertemuan ibadah karismatik, dengan musik yang kuat dan doa-doa yang sangat ekspresif. Lainnya berjumpa dengan Allah dalam retret agung dan rekoleksi yang panjang. Tidak ada yang salah dengan praktik-praktik keagamaan ini. Namun, bahayanya adalah bahwa kita mulai memisahkan kehidupan beragama yang terbatas di dalam gereja, dan kehidupan sehari-hari di luar gereja. Kita tidak boleh lupa makna dari transfigurasi adalah bahwa Allah kita juga tinggal di antara kita. Yesus bersama kita dalam keluarga kita dan upaya kita dalam membesarkan anak-anak kita. Tuhan hadir di tempat kerja kita saat kita bekerja keras untuk mencari sesuap nasi. Dia memeluk kita di saat kita mengalami penderitaan. Dia tidak pernah jauh, dan kita tidak pernah sendirian. Dan Dia adalah Allah kita, Allah transfigurasi.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Why Temptation?

First Sunday of Lent (Year A). March 5, 2017 [Matthew 4:1-11]

“Then Jesus was led by the Spirit into the desert to be tempted by the devil. (Mat 4:1)”

jesus-temptation-2The reality of temptation has taken place even since the dawn of time. In the book of Genesis, we read that our first parents were tempted by the serpent and unfortunately, they were tricked, fell and sinned. Then one after another a biblical character was put into temptation and fell. Cain committed the first murder and fratricide. David was involved in adultery. Solomon worshipped and built temples for other pagan gods. Fortunately, not all fell during the time of trials. Job was pounded by all kinds of woes, but he never sinned and in fact, praised the Lord in the most miserable situation. And we have Jesus who triumphed over Satan and his temptations in the desert. Yet, why are we tempted? Why are we susceptible to this reality that lures us to sin?

The book of Genesis narrates to us that we were created on the sixth day (see Gen 1:24ff). We were the summit of creation as we were made in the image of God. Yet, the Bible says that we were not alone on the sixth day. God also fashioned the animals in this day. We were situated between the animals and the image of God. This is a symbolic narrative that we have both the animal side and the spiritual side. Yet, I am not saying that animals are bad. The animal-lovers will rally against me! This means we share what are common to animals: our physical body, emotions, and instinct. A Greek Philosopher, Aristotle correctly defined human being as ‘rational animal’. The purpose of creation is that we nurture all our humanity, both physical and spiritual, so that we may enter into the rest with God on the seventh day.

Unfortunately, that is not the end of the story. The evil forces also will not let us enter God’s rest effortlessly. They will continue to feed the ‘animal’ in us to the point that our spiritual aspect is neglected and overcome. The temptation is an attempt by the Satan and his cohorts to drag us way below the situation of an animal.

In the Gospel, we learn that Satan tempted Jesus to use His divine power to produce bread; to wield his might to amaze the crowd and draw praise to Himself; to submit to Satan so that He receives all glory and honor. Satan was tempting Jesus to yield to His physical, emotional and psychological needs by manipulating His spiritual power. As Satan did to Jesus, he will do to us. We all need food, security, and recognition, and the devil and his army will make sure that we will sacrifice our spiritual identity for these basic needs.

How to counter temptation? Jesus gives us the answer: the Word of God. We need to continue to feed our spiritual life with His Word. I am elated that more and more people, even the laity, study the Sacred Scriptures. Yet, we should be cautious as well since Satan also uses the Bible to deceive us and achieve his end. Thus, Lenten season calls us to intensify our efforts to study the Word of God together and within the Church. In Jesus, the Word of God, we shake off the devil and all his works.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kenapa Pencobaan?

Minggu Prapaskah pertama (Tahun A). 5 Maret 2017 [Matius 4: 1-11]

“Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis (Mat 4:1)”

jesus-temptationPencobaan telah terjadi bahkan sejak awal sejarah umat manusia. Dalam kitab Kejadian, Adam dan Hawa tergoda oleh sang ular dan sayangnya, merekapun tertipu dan berdosa. Kemudian satu demi satu tokoh di Alkitab mengalami pencobaan dan akhirnya jatuh ke dalam dosa. Kain melakukan pembunuhan pertama dalam sejarah manusia saat dia menghabisi saudaranya sendiri. Daud terlibat dalam perzinahan. Salomo menyembah dan membangun kuil untuk berbagai berhala. Syukurlah, tidak semua jatuh pada pencobaan ini. Diterpa oleh segala jenis malapetaka, tapi Ayub tidak pernah berdosa dan memuji Tuhan bahkan dalam situasi yang paling menyedihkan. Dan kita memiliki Yesus yang menang atas Iblis dan godaannya di padang gurun. Namun, mengapa kita terus masuk ke dalam pencobaan? Mengapa kita rentan terhadap godaan sang Jahat yang memikat kita untuk berbuat dosa?

Kitab Kejadian menceritakan bahwa kita diciptakan pada hari keenam (lihat Kej 1: 24-31). Kita adalah puncak dari segala ciptaan terutama karena kita diciptakan menurut citra Allah. Namun, Alkitab mengatakan bahwa kita tidak sendirian di hari keenam. Tuhan juga memciptakan berbagai binatang di hari ini. Kita terletak antara binatang dan citra Allah. Ini adalah narasi simbolik bahwa kita sebagai manusia memiliki sisi hewan dan sisi spiritual. Namun, saya tidak mengatakan bahwa hewan adalah buruk. Ini berarti kita sebagai manusia memiliki beberapa kesamaan dengan hewan seperti: tubuh jasmani kita, emosi dan insting. Tidak salah jika Filsuf Yunani Aristoteles mendefinisikan manusia sebagai ‘hewan rasional.’ Kedua sisi ini, jasmani dan rohani, perlu dikembangkan bersama-sama sehingga kita mencapai tujuan dari penciptaan adalah bahwa kita, dengan semua kemanusiaan kita, bisa masukkan ke dalam peristirahatan dengan Allah di hari ketujuh.

Namun, kekuatan jahat juga tidak akan membiarkan kita untuk masuk ke dalam peristirahatan Allah dengan mudah. Mereka akan terus memberi makan ‘hewan’ di dalam kita sampai pada titik bahwa aspek spiritual kita terabaikan. Godaan merupakan upaya oleh Setan dan para malaikatnya untuk menyeret kita ke dalam situasi yang lebih rendah dari binatang.

Dalam Injil, kita mengerti bahwa Setan mencobai Yesus untuk menyalahgunakan kuasa ilahi-Nya untuk menghasilkan roti; untuk menggunakan kekuasaan-Nya untuk memukau orang banyak dan menarik pujian bagi diri-Nya; untuk menyembah Setan sehingga Ia menerima semua kemuliaan dan hormat di dunia. Setan menggoda Yesus untuk mememunuhi kebutuhan fisik, emosional dan psikologis-Nya dengan memanipulasi kekuatan rohani-Nya. Dengan strategi yang sama, dia akan mencobai kita. Kita semua membutuhkan makanan, keamanan dan pengakuan, dan ia dan pasukannya akan memastikan bahwa kita akan mengorbankan identitas rohani kita untuk memenuhi kebutuhan dasar ini.

Bagaimana untuk menghadapi godaan? Yesus memberi jawabannya: Firman Allah. Kita perlu terus memberi nutrisi bagi kehidupan rohani kita dengan firman-Nya. Saya gembira bahwa semakin banyak orang, bahkan kaum awam, mempelajari Kitab Suci. Namun, kita perlu berhati-hati juga karena Setan juga menggunakan Alkitab untuk menipu kita dan mencapai tujuannya. Dengan demikian, masa Pra-paskah memanggil kita untuk mengintensifkan upaya kita untuk memdalami Firman Tuhan bersama-sama dan di dalam Gereja. Hanya dalam Yesus, Sang Firman Allah yang hidup, kita mengusir setan dan semua karya-karyanya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Christian Life, Authentic Life?

Palm Sunday of the Lord’s Passion. March 20, 2016 [Luke 19:28-40/Luke 23:1-49]

 “Blessed is the king who comes in the name of the Lord (Luk 19:38).”

palm sundayPalm Sunday or Jesus’ entrance to Jerusalem marks the beginning of the most important drama of the Gospel, the drama of the Holy Week. The memory was so significant to the early Christians that the episode was recorded in all four Gospels (Mat 21:1-11, Mark 11:1-11, and John 12:12-19), though with some different emphases. Why was Jesus’ entrance to the ancient city Jerusalem so significant?

His entrance was unusual and less triumphant because he preferred to ride a meek donkey rather than a combat-ready horse. Yet, his unique entrance was not unexpected by the Jewish people looking forward for the Messiah. By riding on the donkey, he was fulfilling the prophecy of Zechariah, “Rejoice heartily, O daughter Zion, shout for joy, O daughter Jerusalem! See, your king shall come to you; a just savior is he, Meek, and riding on an ass, on a colt, the foal of an ass.” (Zec 9:9). The people who gathered in Jerusalem for annual Jewish festival, could not hide their excitement to this Jesus who had been rumored as the expected Christ. Indeed, the people welcome Him as a king as they shouted, “Blessed is the King who comes in the name of the Lord! (Luk 19:38)” Through his action, Jesus no longer hid His true identity, but revealed publicly that He is the Messiah.

Unfortunately, the moment Jesus revealed who He was, both the Jewish authority and the Roman rulers were ready to pin him down. They did not care whether Jesus came as the peaceful and humble leader or war-freak king. Jesus was the potential troublemaker and the sooner they get rid of him, the better. True enough, lest than a week, Jesus was betrayed, deserted by his followers and condemned to death. The people who acclaimed Him king, now cried to the top of their voice, “Crucify him!” The entrance to Jerusalem is significant because Jesus made a firm decision to live and die to the fullest. Jesus knew this horrifying possibility would take place, but He did not run and look for safety. He freely embraced his identity and mission, and because of this, his death was not in vain. He has made a difference that mattered most.

We are called Christian because we indeed the follower of Jesus Christ, but our name is worthless if we fail to follow Him up to Jerusalem. For some of us, being Christian or Catholic is just a matter of social convenience or family tradition. Our family, our society is Christian then we should be Christians. Often we just remember that we are Christians during special events in our life. In the Philippines, there are KBL Catholics, those who attend the Mass only for ‘Kasal’ or marriage, ‘Biyag’ or baptism and ‘Libing’ or funeral mass. In Indonesia, we are familiar with ‘Na-Pas’ (literally means ‘breath’) Christians, those who only go to the Church during ‘Natal’ or Christmas and ‘Paskah’ or Easter.

But, we must not forget that for some being Christians means hardship, sufferings and death. Christians in war-zones like Syria and Iraq, or when the Christians were minority, live in constant danger and discriminations are so real. Just few weeks ago, four sisters of Missionaries of Charity were brutally executed by the terrorists in Yemen. While they were fully aware of the extent of the danger, they refused to live behind the people they served, the elderly and the disabled. They are the disciples of Christ who lived their authentic Christianity to the end. Both in death and life, their faith has made the world a better.

Philosopher Abraham Kaplan noted that if Socrates said ‘unexamined life is not worth living’, so ‘the unlived life is worth examining. As we are entering the most solemn week in our liturgy, we ask ourselves: have we live our lives to the fullest? Is our Christian faith making any difference? Are we willing to make the change that matters most in our lives?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menuju Hidup yang Otentik

Minggu Palma. 20 Maret 2016 [Lukas 19:28-40/Lukas 23:1-49]

 “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan (Luk 19:38).”

palm sunday 2Minggu Palma atau disaat Yesus memasuki kota Yerusalem menandai awal dari drama yang paling penting di Kitab Suci. Ini adalah drama Pekan Suci. Memori ini begitu signifikan bagi Gereja Perdana, sampai-sampai episode ini tercatat di keempat Injil (Matius 21:1-11, Markus 11:1-11, dan Yohanes 12:12-19). Pertanyaannya adalah: Mengapa Minggu Palma begitu penting bagi kita?

Yesus memasuki kota tua Yerusalem dengan cara yang tidak biasa dan tidak begitu meyakinkan karena ia lebih memilih menaiki keledai yang lembut daripada kuda kuat yang siap tempur. Namun, cara yang unik ini sebenarnya tidak dianggap aneh oleh orang-orang Yahudi yang menantikan Mesias. Dengan mengendarai keledai, Yesus memenuhi nubuat nabi Zakharia, Hai penduduk Sion, bergembiralah! Hai penduduk Yerusalem, bersoraklah! Lihatlah! Rajamu datang dengan kemenangan! Ia raja adil yang membawa keselamatan. Tetapi penuh kerendahan hati ia tiba mengendarai keledai, seekor keledai muda (Zak 9:9). Orang-orang yang berkumpul di Yerusalem untuk festival Yahudi tahunan, tidak bisa menyembunyikan kegembiraan mereka kepada Yesus yang telah dikabarkan sebagai Mesias yang diharapkan. Memang, orang-orang menyambut Dia sebagai raja dan merekapun berseru, Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi! (Luk 19:38)Melalui peristiwa ini, Yesus tidak lagi menyembunyikan identitas-Nya, tetapi mengungkapkannya secara terbuka bahwa Dia adalah Mesias bagi bangsa Israel.

Sayangnya, saat Yesus mengungkapkan identitasnya, baik otoritas Yahudi dan penguasa Romawi siap untuk menjatuhkan-Nya. Mereka tidak peduli apakah Yesus datang sebagai pemimpin damai dan rendah hati atau raja yang siap berperang. Yesus adalah sebuah potensi keonaran dan semakin cepat mereka menyingkirkan dia, semakin baik. Benar saja, kurang dari seminggu, Yesus dikhianati, ditinggalkan oleh para pengikutnya dan dihukum mati. Orang-orang yang menyambut-Nya sebagai raja, sekarang berteriak, “Salibkan Dia!” Minggu Palma adalah peristiwa penting karena Yesus membuat keputusan tegas untuk hidup dan mati secara total. Yesus sadar akan kemungkinan mengerikan ini, tetapi Dia tidak lari dan mencari keselamatan pribadi. Dia dengan bebas memeluk identitas dan misi-Nya, dan karena ini, kematian-Nya tidak sia-sia. Pilihan-Nya telah membuat perbedaan yang paling penting di dalam sejarah umat manusia.

Kita dipanggil sebagai Kristiani karena kita memang pengikut Yesus Kristus, tetapi nama kita tidak ada gunanya jika kita gagal untuk mengikuti-Nya ke Yerusalem. Bagi sebagian dari kita, menjadi Kristen atau Katolik hanyalah masalah kenyamanan sosial atau tradisi keluarga. Keluarga kita dan masyarakat kita adalah Kristiani maka kita harus menjadi Kristiani. Seringkali kita hanya ingat bahwa kita adalah Kristen atau Katolik saat acara penting dalam hidup kita. Di Filipina, ada namanya Katolik KBL, orang-orang yang hanya menghadiri Misa ketika ‘Kasal’ atau pernikahan, ‘Biyag’ atau baptisan dan ‘Libing’ atau misa arwah. Di Indonesia, kita mengeenal dengan Katolik ‘Na-Pas’, orang-orang yang hanya pergi ke Gereja saat ‘Natal’ dan ‘Paskah’.

Tapi, kita tidak boleh lupa bahwa untuk sebagian orang, menjadi Kristaini berarti kesulitan, penderitaan dan bahkan kematian. Umat Kristiani di dalam zona perang seperti Suriah dan Irak, atau ketika orang-orang Kristiani adalah minoritas, akan terus hidup dalam bahaya dan diskriminasi yang begitu nyata. Hanya beberapa minggu yang lalu, empat suster dari Missionaries of Charity secara brutal dieksekusi oleh teroris di Yemen. Sementara mereka sepenuhnya menyadari situasi yang membahayakan di Yemen, mereka menolak untuk meninggalkan orang-orang yang mereka layani, para lansia dan kaum difabel. Mereka adalah murid-murid Kristus yang meghidupi panggilan mereka secara otentik sampai akhir. Baik dalam kematian dan kehidupan, iman mereka telah membuat dunia menjadi lebih baik.

Filsuf Abraham Kaplan berpendapat, “Jika Socrates berkata unexamined life is not worth living maka the unlived life is worth examining.” Saat kita memasuki minggu paling kudus dalam liturgi Gereja, kita diajak berefleksi dan menjawab pertanyaan penting bagi hidup kita: Apakah kita telah menjalani hidup secara penuh? Apakah hidup kita sebagai orang Apakah kita bersedia untuk membuat perbedaan yang paling penting dalam hidup kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus and the Woman

Fifth Sunday of Lent. March 13, 2016 [John 8:1-11]

 “The woman replied, ‘No one, sir.’”

jesus and woman caught in adultery 3In time of Jesus, women were not standing at the same level with men. Crudely speaking, women were considered to be the property of men. Except for several outstanding female figures in the Bible like Deborah, the judge, and Judith, the warrior, the ancient Jewish women had to live under the patriarchal domination. The Bible is not loud at the stories of abused and battered women, but we can safely assume that the exploitations took place here and there.

Our today’s Gospel is rarely seen as the story of woman being exploited by the some group of Jewish and religious male, but this was what really happening. The Book of Leviticus has regulated that both the male and female adulterers shall be put to death (Lev 20:10), but the Pharisees only forcefully brought the woman. Their goal was crystal-clear: to trap Jesus, and the rest were means to it, including if they had to use and stone the woman. Here lies the fundamental reason why women always turn to be victims of abuses and violence: the objectification and depersonalization of women. The adulterous woman lost her personhood and became a tool of the Pharisees in achieving their objective. I guess the same underlying motive influence men of different generations. Heartless men change women into their sex objects, cheap labors, or step stone to success.

Jesus got to stop this. Not only He need to save the woman victim, but he had to challenge the corrupt mentality of male abusive domination. He then wrote on the ground. Now, this has been subject of debate and discussion for centuries, and nobody really knew what Jesus wrote. My wild imagination would tell me that he wrote, “Guys, where is the adulterous man?” Jesus read their evil intention not only to Him about to the lady. They were planning for the death for both Jesus and the woman, and the Law says that the murderers and those who pre-meditated on murder shall be put to the death (Lev 21:14). Surely, killing is graver evil than adultery. When Jesus said, Let the one among you who is without sin be the first to throw a stone at her,” Jesus exposed their malicious motivation to kill Him and the woman. The scribes and the Pharisees also deserved death and they should throw the stone to themselves. Losing the battle, they left Jesus and the woman.

Yet, the story does not end there. Jesus had one more mission. After being objectified and depersonalized by her sin and the violent men, Jesus restored her dignity by giving back her voice. Jesus did not unveil her name, but Jesus allowed her to speak for her own. She answered Jesus, “No one, sir.” Indeed, no men shall make her a mere object and no one shall degrade her anymore. She is the beautiful daughter of God and she will remain to be so.

We are living two millennia after Jesus, yet a lot of women still fall victim to this objectification and depersonalization effort of the Evil one. As Jesus fought for the woman, we shall to fight for the women around us. If Jesus was able to expose the subtle form of woman’s exploitation, we shall too expose the various forms of abuses around us. If Jesus restored the dignity of the woman, we shall too respect the dignity of woman around us.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Sang Perempuan

Minggu Prapaskah Kelima. 13 Maret 2016 [Yohanes 8: 1-11]

Jawab sang perempuan, ‘Tidak ada, Tuhan.’”

jesus and woman caught in adultery 5Dalam masa Yesus, perempuan tidak memiliki posisi yang sama dengan lelaki. Mereka bahkan dianggap sebagai barang kepemilikan kaum adam. Kecuali beberapa tokoh perempuan dalam Alkitab seperti Deborah dan Judith, perempuan Yahudi masa lalu harus hidup di bawah dominasi patriarki. Alkitab juga tidak banyak menjabarkan kisah perempuan korban kekerasan dan pelecehan, tapi kita bisa berasumsi bahwa dengan mentalitas patriarki ini, kekerasan dan eksploitasi berlangsung di berbagai tempat.

Injil kita hari ini jarang dilihat sebagai kisah seorang perempuan yang dieksploitasi oleh beberapa kelompok laki-laki Yahudi yang adalah pemuka agama, tapi hal ini benar-benar terjadi. Kitab Imamat telah mengatur bahwa baik laki-laki dan perempuan yang berzinah harus dihukum mati (Im 20:10), tetapi orang-orang Farisi hanya membawa paksa sang perempuan. Tujuan mereka sangat jelas: untuk menjebak Yesus, dan selebihnya adalah sarana untuk mencapai tujuan ini, termasuk jika mereka harus menggunakan dan merajam sang perempuan. Di sinilah terletak alasan mendasar mengapa banyak perempuan selalu menjadi korban pelanggaran dan kekerasan: objektifikasi dan depersonalisasi perempuan. Perempuan yang berzina ini telah kehilangan kepribadian dan menjadi sekedar alat bagi orang-orang Farisi dalam mencapai tujuan mereka. Saya percaya motif ini jugalah yang memgaruhi kaum lelaki dari berbagai generasi. Para laki-laki yang tak berhati menjadikan perempuan sebagai objek kepuasan seksual, tenaga kerja yang murah, atau sebuah langkah menuju kesuksesan.

Yesus harus menghentikan hal ini. Tidak hanya Dia menyelamatkan sang perempuan yang adalah korban, tapi ia harus menantang mentalitas korup dan dominasi kasar kaum adam ini. Dia kemudian menulis di tanah. Apa yang Ia tulis telah menjadi subyek perdebatan dan diskusi selama berabad-abad, dan tak seorang pun benar-benar tahu apa yang Yesus tulis. Namun, dugaan saya adalah Yesus menulis, Di mana lelaki yang berzinah? Kok hanya sang perempuan? Yesus membaca niat jahat para Farisi yang tidak hanya ditujukan kepada-Nya tetapi juga kepada sang perempuan. Mereka merencanakan kematian bagi Yesus dan sang perempuan, dan Hukum Yahudi mengatakan bahwa pembunuh dan mereka yang merencanakan pembunuhan harus dihukum mati (Im 21:14). Tentunya, pembunuhan adalah perbuatan yang jauh lebih jahat dari perzinahan. Ketika Yesus berkata,Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu,” Yesus paham benar motivasi jahat mereka untuk membunuh-Nya dan sang perempuan. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi juga patut dihukum mati dan mereka harusnya melempar batu kepada diri mereka sendiri. Kalah dalam pertempuran, mereka pun meninggalkan Yesus dan sang perempuan.

Namun, cerita tidak berakhir di sana. Yesus memiliki satu misi lagi. Setelah dijadikan sekedar objek dan kehilangan harga dirinya oleh dosa dan para lelaki kejam itu, Yesus memulihkan martabatnya dengan memberikan suara kembali kepadanya. Yesus tidak mengungkap nama sang perempuan, tapi Yesus memungkinkan dia untuk berbicara bagi dirinya sendiri. Dia menjawab Yesus, “Tidak ada, Tuhan.” Sungguh, tidak ada lagi laki-laki yang akan membuatnya sebagai obyek belaka dan tidak ada lagi yang akan menurunkan derajatnya. Dia adalah putri perempuan dari Allah dan dia akan tetap sebagai demikian.

Kita hidup dua ribu tahun setelah Yesus, namun banyak perempuan masih menjadi korban objektifikasi dan depersonalisasi. Seperti Yesus berjuang untuk sang perempuan, kita akan juga berjuang bagi para perempuan di sekitar kita. Jika Yesus mampu mengekspos eksploitasi perempuan pada zaman-Nya, kita akan juga mengekspos berbagai bentuk pelanggaran di sekitar kita. Jika Yesus memulihkan martabat sang perempuan, kita juga akan menghormati martabat para perempuan di sekitar kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mercy of the Father

Fourth Sunday of Lent. March 6, 2016 [Luke 15:1-3, 11-32]

“His father caught sight of him, and was filled with compassion (Luk 15:20).”

 

prodigal son 2The Parable of the Prodigal Son is one of the most moving stories of Jesus and has been regarded as the all-time favorite. The parable is so beautiful that it moved one of the earliest heretics, Marcion of Sinope, to single out the Gospel of Luke as the only valid Gospel. Why does the parable gain such honor among Jesus’ parables? I guess one of the reasons is the unexpected twist of event appears in the parable. Like when we watch movies in the cinema, flat and predicted plot of movies will cause boredom, but movies with sudden and unforeseen twists often create breath-taking excitement. The twist of the parable is that the Mercy of God that goes beyond any human expectation and limitations.

The lost son would simply expect that he would be treated as one of his father’s servants after sinning so greatly. The elder son, meanwhile, expected the same thing would happen to the bad boy. But, the father did not subscribe to their human expectation. He did sudden yet amazing turn: he accepted both as who they really are, his sons. God’s mercy surpasses all our human limitations and logic, because we are all his children.

The story of Rudolf Höss may illustrate how unimaginable God’s Mercy is. Rudolf Höss was a commandant of the Auschwitz concentration camp and he was practically responsible for the extermination of 2.5 million prisoners, mostly Jews, but also Christians like St. Maximillian Kolbe, and Edith Stain. At the end of the war, he was arrested, tried and received capital punishment for his crime against humanity. He was then imprisoned in Wadowice (the birthplace of St. John Paul II) and he would be executed at the very place he used to rule, Auschwitz. Höss was in great fear not only because of his imminent death penalty but also of cruel torture from prison guards. To his surprise, he was treated mercifully by the guards, notwithstanding the fact that their wives and children were also victims of Nazi’s cruelty. Their mercy moved him to tears and conversion. Höss was a baptized Catholic, but left his faith in his adulthood. He eventually asked for a priest for confession. It was truly difficult to find one, until they discovered Fr. Wladyslaw Lohn, a Jesuit who was the chaplain of the sisters of Our Lady of Mercy at the Shrine of Divine Mercy, Krakaw. Höss made his confession and received the underserved forgiveness. A day before he died, he was able to receive the Holy Communion, kneeling and in tears.

Sometimes, we are like the lost son that we have turned away from God and our lives have been so messed up, that we are losing hope of God’s mercy. Sometimes, we become the elder son who has lived a righteous and good life, but we forget how it is to be merciful to others. Thus, this is not coincidence that Pope Francis chose Luke 6:36 as the motto of the Jubilee of Mercy: ‘Merciful like the Father’. The jubilee of Mercy is both time for us to ask mercy as well as to give mercy. The lost son is in need of mercy and the elder son needs to be merciful. Are we humble enough to ask mercy and forgiveness from God and others? Are we ready to be merciful like the Father?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Go Down from the Mount!

Second Sunday of Lent. February 21, 2016 [Luke 9:28-36]

“He took Peter, John, and James and went up the mountain to pray (Luk 9:28).”

transfiguration 2 For St. Luke, Jesus is a man of prayer. Luke fondly wrote in his Gospel that Jesus would pray before the decisive events in His life and mission. Jesus prayed the whole night before he chose His disciples (Luk 6:12). One of the reasons why Jesus cleansed the Temple of Jerusalem was that He was well aware of the main function of the holy Temple: House of Prayer (Luk 19:46). He reminded his disciples to pray especially in facing trials and tribulations (Luk 21:36). Before He was embracing His passion and death, He prayed at the garden (Luk 22:44). Finally, enduring a brutal torture, He saved His last breath even to pray for those who have crucified Him (Luk 23:34).

Another important event wherein Jesus spent time in prayer was the Transfiguration. Two evangelists, Matthew and Luke, placed the story of Transfiguration into their gospels, but only Luke who told the purpose of why Jesus and His three disciples went up to the Mount. It was to pray. For Luke, the Transfiguration is a prayer event. Indeed, reflecting today’s Gospel in the context of prayer will bring us a deeper understanding on our relationship with God.

Firstly, Jesus invited the disciples to climb the Mount and pray. Our desire to meet Him and to pray is actually God’s initiative. If we are able to pray, it is because God calls us and enables us to communicate with Him. Our Liturgy of the Hour prayer begins with a verse ‘O God, come to my assistance (Ps 51:15).’ It is a humble acceptance that without His grace and aid, we are not able to pray. We, Catholics, open our prayer with the sign of the cross and mentioning, “In the name of the Father, the Son and the Holy Spirit (Mat 28:19).” This was born out of conviction that apart from the Holy Trinity, our human words will be futile. St. Paul said it best when he wrote to the Romans, “the Spirit too comes to the aid of our weakness; for we do not know how to pray as we ought, but the Spirit itself intercedes with inexpressible groanings (Rom 8:26).”

Secondly, the Transfiguration teaches us that sometimes, our prayers give sense of delight and contentment, but this is not the most important. We are like the three disciples who were filled with awe in the presence of transfigured Jesus. It is the moment when we feel peace before the Blessed Sacrament. We are enjoying the recitation of the Holy Rosary. We are inspired by a good homily and feel nourished by the Holy Communion in the Eucharist. Sometimes, I attended Worship Service loaded with upbeat songs and electrifying preaching. Truly, the feeling was ecstatic and liberating, especially for persons with messed up lives.

Surely, like the disciples, we want to enjoy the delight for eternity. Yet, our good Lord did not want us to be rooted there. He asked the disciples to go down and face the world. If we rather stay and refuse to go down, then our prayers are no longer genuine and sincere. They become an addiction that helps us escape from the realities. If this happens, Karl Marx’ adage, ‘Religion is the opium to the society’ turns to be a reality.

St. Pope John Paul II reminded us that the Transfiguration would lead eventually Jesus and his disciples to that passion in Jerusalem. Prayer should then empower us to face life with courage and humility, and not to give us a venue to run away from life. The Eucharist, as the summit of all Christian worship, does not end by saying ‘Stay and enjoy some more!’ The last phrase in the Mass is always missionary in spirit, like ‘Go and preach the Gospel’. We are to share the fruits of prayers to others. If we truly find Christ in our prayer, then together with Christ, we shall go down from the Mount and bravely walk to our Jerusalem.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Turun Gunung

Minggu Prapaskah Kedua. 21 Februari 2016 [Lukas 9: 28-36]

“Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. (Luk 9:28).”

 

transfigurationBagi St. Lukas, Yesus adalah seorang doa. Lukas menulis dalam Injilnya bahwa Yesus berdoa sebelum menghadapi peristiwa-peristiwa penting di dalam hidup dan misi-Nya. Yesus berdoa sepanjang malam sebelum ia memilih murid-murid-Nya (Luk 6:12). Salah satu alasan mengapa Yesus membersihkan Bait Allah Yerusalem dari berbagai malapraktik adalah bahwa Dia sangat menyadari fungsi utama dari Bait Allah ini: Rumah Doa (Luk 19:46). Dia mengingatkan para murid-Nya untuk berdoa terutama saat menghadapi cobaan dan penderitaan (Luk 21:36). Sebelum Ia menghadapi sengsara dan wafat-Nya, Dia berdoa di taman (Luk 22:44). Akhirnya, saat Ia berada di kayu salib, Dia menyimpan nafas terakhirnya bahkan untuk berdoa bagi mereka yang telah menyalibkan-Nya (Luk 23:34).

Peristiwa penting lainnya dimana Yesus menghabiskan waktu dalam doa adalah Transfigurasi. Dua penginjil, Matius dan Lukas, menulis kisah Transfigurasi dalam Injil mereka, tapi hanya itu Lukas yang mengatakan tujuan mengapa Yesus dan ketiga murid-Nya naik ke Gunung. Yakni untuk berdoa. Bagi Lukas, Transfigurasi adalah sebuah momen doa. Sungguh, merenungkan Injil hari ini dalam konteks doa akan membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan kita dengan Tuhan.

Pertama, Yesus mengajak para murid untuk mendaki Gunung dan berdoa. Hasrat kita untuk bertemu dengan-Nya dan berdoa sebenarnya adalah inisiatif Allah. Jika kita mampu berdoa, itu karena Tuhan memanggil kita dan memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan-Nya. Liturgi Brevir selalu dimulai dengan ayat Ya Allah, bersegeralah membuka mulutku (Mzm 51:15).” Ini adalah keyakinan bahwa tanpa rahmat dan bantuan-Nya, kita tidak dapat berdoa. Kita, umat Katolik, membuka doa kita dengan tanda salib dan menyebutkan, Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus.” Hal ini lahir dari keyakinan bahwa terpisah dari Allah Tritunggal, kata-kata manusiawi kita akan sia-sia di dalam doa. St. Paulus menyatakan hal ini dengan sangat baik ketika ia menulis kepada jemaat di Roma, Roh Allah datang menolong kita kalau kita lemah. Sebab kita tidak tahu bagaimana seharusnya kita berdoa; Roh itu sendiri menghadap Allah untuk memohonkan bagi kita dengan kerinduan yang sangat dalam sehingga tidak dapat diucapkan. (Rom 8:26).”

Kedua, Transfigurasi mengajarkan kita bahwa kadang, doa-doa kita memberikan kenikmatan dan kepuasan, tapi ini bukan yang paling penting. Kita seperti tiga murid yang sangat takjub di hadapan Yesus yang berubah wujud. Ini adalah saat ketika kita merasakan kedamaian di hadapan Sakramen Mahakudus. Kita menikmati doa Rosario. Kita terinspirasi oleh homili dan merasa diperkuat oleh Komuni Kudus dalam Ekaristi. Kadang, saya menghadiri worship service sarat dengan lagu-lagu pujian dan khotbah menggebu-gebu. Sesungguhnya, hal ini memberi perasaan sangat gembira dan membebaskan apalagi bagi mereka yang memiliki banyak permasalahan dalam hidup.

Tentunya, seperti para murid, kita ingin menikmati kegembiraan dalam doa ini lebih lama lagi dan membangun ‘kemah’. Namun, Tuhan tidak ingin kita tinggal lama di sana. Dia meminta para murid untuk turun dan menghadapi dunia. Jika kita memilih tinggal dan menolak untuk turun, doa-doa kita tidak lagi tulus. Mereka menjadi candu yang membantu kita melarikan diri dari realitas hidup. Jika ini terjadi, perkataan Karl Marx bahwa ‘Agama adalah opium bagi masyarakat’ sungguh menjadi kenyataan.

St. Paus Yohanes Paulus II mengingatkan kita bahwa Transfigurasi akan bawa akhirnya Yesus dan murid-muridnya pada sengsara dan wafat-Nya di Yerusalem. Doa sungguhnya harus memberdayakan kita untuk menghadapi hidup dengan keberanian dan kerendahan hati, dan tidak memberi kita tempat untuk melarikan diri dari kehidupan. Ekaristi, sebagai puncak dari semua ibadah Kristiani, tidak berakhir dengan mengatakan Tetap tinggal dan jangan pulang! Ungkapan terakhir dalam Misa selalu dalam semangat misionaris, seperti Pergilah, kita diutus!”. Kita diutus untuk berbagi buah dari doa-doa kita kepada sesama. Jika kita benar-benar menemukan Kristus dalam doa kita, bersama dengan Kristus, kita akan turun Gunung dan berjalan menghadapi Yerusalem kita.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP