Minggu Prapaskah kedua (Tahun A). 12 Maret 2017 [Matius 17: 1-9]
Dalam Alkitab, gunung adalah tempat di mana Allah bertemu umat-Nya. Musa melihat semak duri yang menyala dan menerima panggilannya untuk memimpin Israel keluar dari perbudakan Mesir di Gunung Horeb (lihat Kel 3). Setelah pembebasan, Musa bertemu dengan Tuhan dan menerima Hukum Taurat di Gunung Sinai (lihat Kel 19). Elia menemukan kehadiran Allah yang lembut di Gunung Horeb (1 Raja 19:11-15). Pemazmur juga melihat gunung sebagai tempat Tuhan bersemayam (seperti Mzm 3:5; 24:3). Bahkan, salah satu gelar Tuhan adalah El Shaddai, yang mungkin berarti Tuhan adalah gunung yang kuat (Kej 17:1).
Dalam Injil hari ini, Yesus dan ketiga murid naik ke gunung yang tinggi. Di sana, ia berubah rupa. Wajahnya bersinar seperti matahari dan kain nya berubah menjadi putih seperti cahaya. Kemudian dua tokoh besar dari Perjanjian Lama, Musa dan Elia muncul dan berbicara dengan Yesus. Akhirnya, awan terang menaungi mereka dan suara berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Para murid sangat ketakutan. Beralih kembali ke bentuk biasa, Yesus menyentuh mereka dan meyakinkan mereka, “Berdirilah, jangan takut.” Kemudian mereka turun dari gunung dan melanjutkan perjalanan ke Yerusalem.
Motif Perjanjian Lama berlangsung sekali lagi dalam Perjanjian Baru, tetapi jika kita mencermati lebih dekat, ada beberapa perbedaan mencolok di sini. Pertama, manusia mendaki gunung untuk melihat Allah, tapi ketika para rasul berada di sana, mereka melihat Yesus berubah. Episode menjadi salah satu tanda dari keilahian Yesus dalam Perjanjian Baru. Kedua, Musa dan Elia yang mewakili yang terbaik dari Perjanjian Lama: Hukum dan Nabi. Namun, Musa dan Elia adalah juga tokoh Perjanjian Lama yang ditemui Allah di gunung. Mereka muncul kembali di transfigurasi karena mereka ingin memberitahu kita bahwa Yesus adalah Tuhan yang mereka temui di gunung tinggi. Ketiga, Yesus tidak tinggal selamanya di gunung, tetapi Dia turun dan meneruskan hidup-Nya di antara para murid-Nya dan bangsa Israel. Ini adalah wahyu yang sejatinya menggegerkan: Allah kita tidak tinggal dan duduk manis di atas gunung yang tinggi, tetapi Dia turun dan tinggal bersama kita, di hiruk-pikuk hidup kita.
Kadang-kadang kita mengharapkan untuk menemukan Allah yang mulia hanya pada gunung yang tinggi. Beberapa dari kita merasakan Allah hanya dalam pertemuan ibadah karismatik, dengan musik yang kuat dan doa-doa yang sangat ekspresif. Lainnya berjumpa dengan Allah dalam retret agung dan rekoleksi yang panjang. Tidak ada yang salah dengan praktik-praktik keagamaan ini. Namun, bahayanya adalah bahwa kita mulai memisahkan kehidupan beragama yang terbatas di dalam gereja, dan kehidupan sehari-hari di luar gereja. Kita tidak boleh lupa makna dari transfigurasi adalah bahwa Allah kita juga tinggal di antara kita. Yesus bersama kita dalam keluarga kita dan upaya kita dalam membesarkan anak-anak kita. Tuhan hadir di tempat kerja kita saat kita bekerja keras untuk mencari sesuap nasi. Dia memeluk kita di saat kita mengalami penderitaan. Dia tidak pernah jauh, dan kita tidak pernah sendirian. Dan Dia adalah Allah kita, Allah transfigurasi.
Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



The reality of temptation has taken place even since the dawn of time. In the book of Genesis, we read that our first parents were tempted by the serpent and unfortunately, they were tricked, fell and sinned. Then one after another a biblical character was put into temptation and fell. Cain committed the first murder and fratricide. David was involved in adultery. Solomon worshipped and built temples for other pagan gods. Fortunately, not all fell during the time of trials. Job was pounded by all kinds of woes, but he never sinned and in fact, praised the Lord in the most miserable situation. And we have Jesus who triumphed over Satan and his temptations in the desert. Yet, why are we tempted? Why are we susceptible to this reality that lures us to sin?
Pencobaan telah terjadi bahkan sejak awal sejarah umat manusia. Dalam kitab Kejadian, Adam dan Hawa tergoda oleh sang ular dan sayangnya, merekapun tertipu dan berdosa. Kemudian satu demi satu tokoh di Alkitab mengalami pencobaan dan akhirnya jatuh ke dalam dosa. Kain melakukan pembunuhan pertama dalam sejarah manusia saat dia menghabisi saudaranya sendiri. Daud terlibat dalam perzinahan. Salomo menyembah dan membangun kuil untuk berbagai berhala. Syukurlah, tidak semua jatuh pada pencobaan ini. Diterpa oleh segala jenis malapetaka, tapi Ayub tidak pernah berdosa dan memuji Tuhan bahkan dalam situasi yang paling menyedihkan. Dan kita memiliki Yesus yang menang atas Iblis dan godaannya di padang gurun. Namun, mengapa kita terus masuk ke dalam pencobaan? Mengapa kita rentan terhadap godaan sang Jahat yang memikat kita untuk berbuat dosa?
Palm Sunday or Jesus’ entrance to Jerusalem marks the beginning of the most important drama of the Gospel, the drama of the Holy Week. The memory was so significant to the early Christians that the episode was recorded in all four Gospels (Mat 21:1-11, Mark 11:1-11, and John 12:12-19), though with some different emphases. Why was Jesus’ entrance to the ancient city Jerusalem so significant?
Minggu Palma atau disaat Yesus memasuki kota Yerusalem menandai awal dari drama yang paling penting di Kitab Suci. Ini adalah drama Pekan Suci. Memori ini begitu signifikan bagi Gereja Perdana, sampai-sampai episode ini tercatat di keempat Injil (Matius 21:1-11, Markus 11:1-11, dan Yohanes 12:12-19). Pertanyaannya adalah: Mengapa Minggu Palma begitu penting bagi kita?
In time of Jesus, women were not standing at the same level with men. Crudely speaking, women were considered to be the property of men. Except for several outstanding female figures in the Bible like Deborah, the judge, and Judith, the warrior, the ancient Jewish women had to live under the patriarchal domination. The Bible is not loud at the stories of abused and battered women, but we can safely assume that the exploitations took place here and there.
Dalam masa Yesus, perempuan tidak memiliki posisi yang sama dengan lelaki. Mereka bahkan dianggap sebagai barang kepemilikan kaum adam. Kecuali beberapa tokoh perempuan dalam Alkitab seperti Deborah dan Judith, perempuan Yahudi masa lalu harus hidup di bawah dominasi patriarki. Alkitab juga tidak banyak menjabarkan kisah perempuan korban kekerasan dan pelecehan, tapi kita bisa berasumsi bahwa dengan mentalitas patriarki ini, kekerasan dan eksploitasi berlangsung di berbagai tempat.
The Parable of the Prodigal Son is one of the most moving stories of Jesus and has been regarded as the all-time favorite. The parable is so beautiful that it moved one of the earliest heretics, Marcion of Sinope, to single out the Gospel of Luke as the only valid Gospel. Why does the parable gain such honor among Jesus’ parables? I guess one of the reasons is the unexpected twist of event appears in the parable. Like when we watch movies in the cinema, flat and predicted plot of movies will cause boredom, but movies with sudden and unforeseen twists often create breath-taking excitement. The twist of the parable is that the Mercy of God that goes beyond any human expectation and limitations.
For St. Luke, Jesus is a man of prayer. Luke fondly wrote in his Gospel that Jesus would pray before the decisive events in His life and mission. Jesus prayed the whole night before he chose His disciples (Luk 6:12). One of the reasons why Jesus cleansed the Temple of Jerusalem was that He was well aware of the main function of the holy Temple: House of Prayer (Luk 19:46). He reminded his disciples to pray especially in facing trials and tribulations (Luk 21:36). Before He was embracing His passion and death, He prayed at the garden (Luk 22:44). Finally, enduring a brutal torture, He saved His last breath even to pray for those who have crucified Him (Luk 23:34).
Bagi St. Lukas, Yesus adalah seorang doa. Lukas menulis dalam Injilnya bahwa Yesus berdoa sebelum menghadapi peristiwa-peristiwa penting di dalam hidup dan misi-Nya. Yesus berdoa sepanjang malam sebelum ia memilih murid-murid-Nya (Luk 6:12). Salah satu alasan mengapa Yesus membersihkan Bait Allah Yerusalem dari berbagai malapraktik adalah bahwa Dia sangat menyadari fungsi utama dari Bait Allah ini: Rumah Doa (Luk 19:46). Dia mengingatkan para murid-Nya untuk berdoa terutama saat menghadapi cobaan dan penderitaan (Luk 21:36). Sebelum Ia menghadapi sengsara dan wafat-Nya, Dia berdoa di taman (Luk 22:44). Akhirnya, saat Ia berada di kayu salib, Dia menyimpan nafas terakhirnya bahkan untuk berdoa bagi mereka yang telah menyalibkan-Nya (Luk 23:34).