Raja di kayu Salib

Hari Raya Kristus Raja [November 20, 2016] Lukas 23: 35-43

 Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus. (Luk 23:43)”

king-on-the-crossPerayaan liturgi Kristus Raja merupakan perkembangan baru dalam Gereja. Paus Pius XI menetapkan hari raya ini pada tahun 1925 di bulan Oktober. Paus Paulus VI pada tahun 1969 kemudian mendedikasikan hari Minggu terakhir dari Masa Biasa dalam kalender liturgi Gereja bagi Kristus Raja Semesta Alam. Meskipun perayaan ini tergolong baru di Gereja, kebenaran ini sungguh berakar di dalam Kitab Suci.

Yesus memulai karya-Nya dengan mewartakan Kerajaan Allah. Jika Allah adalah Raja dan Yesus adalah Anak Tunggal Allah, Yesus adalah pewaris sah tahta Kerajaan ini. Namun, Yesus Kristus sebagai raja lebih jelas terlihat dalam kisah sengsara dan wafat-Nya. Para pemimpin agama Yahudi menuduh Yesus menistaan agama Yahudi karena Yesus mengaku sebagai Mesias, Anak Allah, bahkan Allah sendiri (lih. Yoh 8:58). Namun, para pemimpin ini tidak ingin sekedar merajam Yesus. Mereka menginginkan kematian lebih menyakitkan dan memalukan bagi Yesus. Mereka memutuskan untuk membawa-Nya ke Pontius Pilatus, pemimpin Romawi, agar Yesus disalib. Karena Pilatus tidak mau mengurusi permasalahan agama, para pemimpin Yahudi menuduh Yesus memproklamirkan diri-Nya Raja orang-orang Yahudi. Untuk menjadi seorang raja dan memimpin pemberontakan melawan Kaisar Romawi adalah pengkhianatan dan makar, dan pantas dihukum mati. Yesus pun akhirnya dijatuhi  hukuman mati di kayu salib. Alasan Yesus disalib inipun dipaku di kayu yang sama: Yesus dari Nazaret, Raja orang Yahudi, dalam bahasa Latin, Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum atau INRI.

Dalam Injil hari ini, kita membaca dari St. Lukas yang menulis dengan indah. Bagi para musuh Yesus, penyaliban adalah kekalahan telak bagi Yesus sang raja dan Mesias. Salah satu tugas utama seorang raja dan Mesias adalah untuk menyelamatkan umat-Nya, tetapi Yesus dipaku di kayu salib, dan bahkan tidak mampu menyelamatkan diri-Nya sendiri. Orang-orang Yahudi yang membenci-Nya mengejek dia sebagai Mesias tidak berguna, sementara tentara Romawi mencemooh dia sebagai raja yang lemah. Bahkan salah satu penjahat yang tersalib ikut menghujat Yesus. Sungguh, Yesus tidak berdaya, sangat lemah dan menahan rasa sakit yang luar biasa dan berkepanjangan. Teman dan murid-murid-Nya meninggalkan dia. Pengikutnya lari dari-Nya. Kematian menunggu-Nya. Salib adalah momen kegagalan total bagi Yesus.

Namun, di saat kegelapan ini, ketika semua orang berpikir bahwa salib adalah akhir dari Kerajaan Yesus, Ia melakukan tindakan terbesar sebagai seorang raja. Dia mengampuni dan menyelamatkan sang penjahat yang bertobat di kayu salib. Daripada mengeluh atau mengutuk, dia mengucapkan berkat. Alih-alih membalas dendam, Dia menyembuhkan. Bukannya jatuh dalam keputusasaan, Dia justru memberi harapan. Kerajaan-Nya tidak berdasarkan kekerasan dan paksaan, tetapi pada keadilan dan belas kasih. Ini adalah Raja yang sejati, Yesus adalah Raja kita.

Jika kita menyambut Yesus sebagai Raja kita dan kita berbagi kerajaan-Nya dalam pembaptisan, sudah selayaknya bagi kita untuk menjalankan hidup kita seperti Yesus. Pada saat kita menghadapi banyak kesulitan, ketika kita terluka, dan ketika kita merasa begitu lemah, kita diberdayakan untuk bertindak seperti Kristus Raja: untuk memberkati, menyembuhkan, dan memberikan harapan. Ya, tentunya sangat sulit, tetapi jika kita memiliki seorang raja yang mampu mengasihi dihadapan semua keburukan, kita juga bisa mengasihi di tengah-tengah permasalahan hidup.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Our God: the God of the Living

32nd Sunday in Ordinary Time. November 6, 2016 [Luke 20:27-38]

 “He is not God of the dead, but of the living, for to him all are alive.” (Luk 20:38)

resurrection-of-deadThe month of November is dedicated to honor all the saints in heaven as well as to pray for the souls in the purgatory. It begins with the celebration of All Saints’ Day on November 1 and the commemoration of the All Souls Day on November 2. We, the Dominicans, celebrate the all Dominican Saints on November 7 and pray for the souls of our Dominican family on November 8. This Church’s celebration traces its origin to Pope Boniface IV in the 7th century, yet its roots go deeper into Jesus Christ Himself.

In today’s Gospel, Jesus affirmed the truth of the resurrection of the dead. This truth presupposes that life is not ended in death but transformed. There is hope after this earthly sojourn. The probable context behind this verse is that of Jesus’ critique of the Sadducees’ unbelief as well as the pagan belief of the realm of the dead. During those times, ancient civilizations worshiped the gods of death more than other gods because they feared the power of death that could destroy life and bring human existence to nothing. The Greeks had Hades, the Romans worshiped Pluto and the Egyptians honored Osiris. Yet, Jesus revealed fundamentally a different truth: Our God is not God of the dead, but God of the living. He still gives us life despite our physical death. This means that we are not mere afterlife disposable garbage or useless souls wandering on earth. We are loved even if we are no longer here on earth. Thus when Jesus commanded us to love one another, this love is not only for our Christian fellows who are still alive, but also for our brothers and sisters who have gone ahead of us.

In ancient Roman tradition, the cemetery was located far away from the cities. These were called necropolis, literally the city of the dead, because the dead had nothing to do anymore with the living. Yet, early Christians opted to do their liturgy inside the catacomb, the underground cemetery. True, it was a hiding place from the Roman authority who persecuted the early Christians, but it was also reflected their faith that they were actually praying for and with the dead brothers and sisters. In many churches, the burial ground was within the same complex. Even in our place in Manila, the burial place of the departed Dominican brothers and priests is just beside our seminary. Their permanent rest place is just a few meters away from our temporary rest place! This proximity reminds us of the bond of brotherhood and love among us. We are reminded to pray for them and to imitate them who were faithful until death. We are reminded, too, that they also pray for us from heaven.

Following the teaching of Jesus, the Church believes that those who are no longer with us, are still part of the Church. Those in heaven are members of the Church triumphant; those in purgatory belong to the Church suffering, and we here on earth are part of the Church militant. Yet, all are one of the same Church, profess the same faith, and worship the same God. Since all are members of the body of Christ, we are united closely in Christ and His love. Thus, it is proper for us to manifest our love for our departed brothers and sister through our prayers and they help us in prayer and intercessions.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Allah Kita: Allah Orang-Orang yang Hidup

Minggu dalam Pekan Biasa ke-32. [6 November 2016] Lukas 20: 27-38

 Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.”(Luk 20:36)

all-saints-dayBulan November didedikasikan sebagai bulan para kudus di surga dan juga bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Bulan ini dimulai dengan Hari Raya Semua Orang Kudus pada tanggal 1 November dan peringatan jiwa-jiwa orang-orang beriman pada 2 November. Kita, keluarga Dominikan, merayakan hari raya semua orang kudus Dominikan pada 7 November dan bagi jiwa-jiwa keluarga Dominikan pada 8 November. Perayaan besar Gereja ini bermula kepada Paus Bonifasius IV di abad ke-7, namun akarnya sebenarnya ada pada Tuhan Yesus Kristus sendiri.

Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan kebenaran kebangkitan orang-orang yang telah meninggal. Kebenaran ini menyatakan bahwa kehidupan tidak berakhir dengan kematian, tetapi dirubah. Mungkin latar belakang dari Injil hari ini adalah kritik Yesus terhadap para Saduki yang tidak percaya akan kebangkitan dan juga kepada mereka yang menyembah dewa-dewa penguasa dunia orang mati. Di banyak peradaban kuno, banyak orang menyembah dewa-dewa kematian karena mereka takut kuasa maut yang bisa menghancurkan kehidupan dan menghapus eksistensi manusia dengan seketika. Orang-orang Yunani memiliki Hades, orang-orang Romawi menyembah Pluto dan orang-orang Mesir menghormati Osiris. Namun, Yesus mengungkapkan kebenaran fundamental yang berbeda: Allah kita bukanlah Allah orang-orang mati, tetapi orang-orang hidup. Allah kita tetap memberikan kehidupan kepada kita meskipun kematian fisik yang kita alami. Ini berarti bahwa kita bukanlah sekedar manusia-manusia yang menunggu kematian dan keputusasaan. Kita dikasihi bahkan saat kita tidak lagi hidup di dunia ini. Lalu, ketika Yesus memerintahkan kita untuk saling mengasihi satu dengan yang lainnya, kasih ini bukan hanya untuk sesama kita yang masih hidup, tetapi juga untuk saudara-saudari kita yang telah mendahului kita.

Dalam tradisi Romawi kuno, pemakaman terletak jauh dari kota. Mereka menyebutnya sebagai ‘necropolis’, secara harfiah kota orang-orang mati, karena orang mati tidak ada hubungannya lagi dengan yang hidup. Namun, umat beriman awal memilih untuk melakukan liturgi mereka di dalam katakombe, atau pemakaman bawah tanah. Benar, itu adalah tempat persembunyian dari otoritas Romawi yang menganiaya umat beriman, tetapi juga berasal dari iman mereka bahwa mereka benar-benar berdoa untuk dan dengan saudara-saudari yang telah meninggal. Di banyak gereja, tanah pemakaman berada di dalam kompleks gereja. Bahkan di tempat kita di Manila, tempat pemakaman para romo dan bruder Dominikan tepat di samping seminari kita. Tempat istirahat permanen mereka hanya beberapa meter dari tempat istirahat sementara kami! Kedekatan ini mengingatkan kami akan ikatan persaudaraan dan kasih di antara kami. Kita diingatkan untuk berdoa bagi mereka dan meneladani mereka yang setia sampai mati, dan mereka juga berdoa untuk kita dari surga.

Mengikuti ajaran Yesus, Gereja percaya bahwa mereka yang tidak lagi bersama kita, masih bagian dari Gereja. Bagi mereka yang di surga adalah anggota dari Gereja yang mulia, mereka di api penyucian adalah bagian dari Gereja yang menderita, dan kita di bumi ini merupakan bagian dari Gereja yang berziarah. Namun, semua adalah Gereja yang satu dan sama, mengakui iman yang sama, dan menyembah Tuhan yang sama. Karena semua adalah anggota dari tubuh Kristus, kita bersatu erat dalam Kristus dan kasih-Nya. Dengan demikian, sudah selayaknya bagi kita untuk mengasihi saudara-saudari kita yang telah mendahului kita melalui doa-doa kita, dan kita percaya mereka yang di surga terus membantu kita dalam doa mereka.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Conquering Greed

18th Sunday in Ordinary Time. July 31, 2016 [Luke 12:13-21]

 “…is not rich in what matters to God (Luk 12:21).”

rich foolGreed is one of the most sickening sins. It can plague practically anyone, rich and poor, young and old, lay people and even the leaders of the Church. Greed as the inordinate desire for wealth or money. Greed breeds corruption, stealing, cheating and violence. Greed produces injustice and poverty. And injustice and poverty cause nothing but suffering of countless people and permanent destruction to our mother earth.

Sometimes, we can easily accuse some persons in government and in business world as the greedy ones. Indeed, with their positions of power and intellectual capacity, they can suck a massive amount of money just for themselves. Instead using the money of the tax payers for building up the nations, the big portion of it goes to their individual pockets. But, we need to remember that greed does not only affect the affluent, but also the poor.

Movie Slumdog Millionaire (2008) tells us a story of Salim and Jamal Malik who are victims of this injustice and greed. After the killing of their mother because of religious hatred in slam area in India, they were forced to stay in a sanitary landfill. Then, they were adopted by ‘professional beggars’ syndicate. One particular scene that reveals the gruesome manifestation of greed is one little boy with sweet voice, Arwind, was blinded. Jamal later remarks, “Blind singers earn double.” The worst part of the movie is that the movie is not totally fiction, but many events are true to life.

Greed is even more sickening because it is not only about wealth or material possession. It is a vice that consumes our identity as human person, created as the image of God, with the capacity to love and share. In the parable of the rich fool, we discover the rich man only cares for himself, his harvest, his possessions, his life and his future. There is no place for other people, let alone God in his heart. Greed destroys our humanity to its core. We cling to our lives and our possession, and fail to see that all we have is blessings to share.

Just few days ago, Fr. Jacques Hamel was murdered inside the Church by the armed terrorists. The church Saint Etienne-du-Rouvray in Northern French was stormed during the morning mass. He and a mass-goer finally died after their throats were slit. While the world was shocked by this heinous cowardly act, we are once again invited to examine the life of this simple priest who gave his very life to the end. We may believe that life is stripped of him, but we forgot that actually he had given his life even before the day of his martyrdom. He lived a simple life and at age of 84, and he remained faithful to celebrate the sacraments and serve the people all the day of his life. He gave his life for God and the Church. His death is no longer loss but a moment of confirmation of his generosity that inspires the world. As St. Tertulian once said, the blood of the martyrs is the seed of Christians.

This utter generosity is a reflection of our deepest calling as human person, created in the image of God. And only in this true charity and abundant generosity, we may fight the greed that plague our souls.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menaklukan Ketamakan

Minggu Biasa kedelapan belas. 31 Juli 2016 [Lukas 12:13-21]

“…jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah (Luk 12:21)”

Fr Jacques hamelKeserakahan dan ketamakan adalah dosa yang sangat menhancurkan. Ketamakan dapat menjangkiti praktis siapa pun, kaya dan miskin, tua dan muda, awam dan bahkan para pemimpin Gereja. Ketamakan dapat dimengerti sebagai hasrat yang tak terkendali untuk memiliki kekayaan atau harta benda. Keserakahan melahirkan berbagai bentuk korupsi, pencurian, penipuan dan kekerasan. Keserakahan menghasilkan ketidakadilan dan kemiskinan. Dan ketidakadilan dan kemiskinan menyebabkan penderitaan bagi jutaan orang dan kerusakan permanen pada bumi ini.

Kadang-kadang, kita dapat dengan mudah menuduh beberapa orang di pemerintahan dan dunia bisnis sebagai serakah. Memang, dengan posisi kekuasaan dan kapasitas intelektual, mereka dapat menyedot sejumlah besar uang hanya untuk diri mereka sendiri. Dana dari para masyarakat pembayar pajak yang seharusnya digunakan untuk membangun bangsa, malah masuk ke kantong pribadi mereka. Tapi, kita harus ingat bahwa keserakahan tidak hanya mempengaruhi mereka yang kaya tetapi semua orang, termasuk juga orang miskin.

Film Slumdog Millionaire (2008) mengkisahkan Salim dan Jamal Malik yang menjadi korban ketidakadilan dan keserakahan. Setelah pembunuhan ibu mereka karena kebencian agama di daerah kumuh di India, mereka dipaksa untuk tinggal di tempat pembuangan sampah. Kemudian, mereka diadopsi oleh sindikat ‘pengemis profesional’. Salah satu adegan yang mengungkapkan bentuk keserakahan yang mengerikan adalah salah satu anak laki-laki dengan suara merdu, Arwind, dibutakan. Jamal berkomentar kemudian, “penyanyi buta berpenghasilan ganda.” Bagian terburuk dari film ini adalah bahwa film ini tidak sekedar fiksi belaka, tetapi banyak peristiwa seperti ini terjadi dalam kehidupan kita.

Ketamakan bahkan lebih menghacurkan karena dosa ini tidak hanya tentang kekayaan. Ketamakan adalah dosa yang menghancurkan identitas kita sebagai manusia, diciptakan sebagai citra Allah, dengan kapasitas untuk mengasihi dan berbagi. Dalam perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh Minggu ini, kita menemukan orang kaya hanya peduli dirinya sendiri, panenanya, hartanya, hidupnya dan masa depannya sendiri. Tidak ada tempat bagi orang lain, apalagi Tuhan di dalam hatinya. Keserakahan menghancurkan kemanusiaan kita sampai keintinya. Kita menggemgam erat kehidupan kita dan apa yang kita miliki, dan gagal untuk melihat bahwa semua yang kita miliki adalah berkat untuk dibagikan.

Hanya beberapa hari yang lalu, Romo Jacques Hamel dibunuh di dalam Gereja oleh teroris bersenjata. Gereja Saint Etienne-du-Rouvray di Perancis utara diserbu saat misa pagi. Dia dan seorang umat akhirnya meninggal setelah leher mereka digorok. Sementara dunia terkejut dengan tindakan pengecut keji ini, kita sekali lagi diundang untuk melihat lebih dalam kehidupan imam yang sederhana ini yang memberi hidupnya sampai akhir. Kita mungkin percaya bahwa hidup dirampas darinya, tapi kita lupa bahwa sebenarnya dia telah memberikan hidupnya jauh sebelum hari kemartirannya. Dia hidup sederhana dan pada usia 84, dia tetap setia merayakan sakramen dan melayani umat Tuhan setiap hari dalam hidupnya. Dia memberikan hidupnya bagi Tuhan dan Gereja. Kematiannya bukanlah suatu kerugian, tapi sebuah peneguhan atas kemurahan hatinya yang menginspirasi dunia. Sebagaimana St. Tertulian pernah berkata, Darah para martir adalah benih umat Kristiani.

Kemurahan hati dari Rm. Hamel ini adalah refleksi dari panggilan terdalam kita sebagai manusia, sebagai citra Allah. Dan hanya dalam kasih yang sejati dan kemurahan hati yang melimpah, kita dapat melawan keserakahan dan ketamakan yang menjangkiti jiwa kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Do Love and You May Live!

15th Sunday in Ordinary Time. July 10, 2016 [Luke 10:25-37]

“Teacher, what must I do to inherit eternal life? (Luk 10:25)”

good samaritanThe scholars of the Law were representing the intellectual elite in Jewish society at the time of Jesus. While the rest of Jewish people were struggling to fill their stomach and living in bare necessity, this group had a rare access to good education. We may reasonably suspect that the scholars were affluent enough to read and study the Torah extensively and undisturbed. Compared to the ordinary Jews, they were experts with the details and interpretation of the Law. No wonder, they could easily develop the vice of pride.

Luke described the scholar as one who ‘stood up’ and ‘test’ Jesus. Clearly, he came out with his intellectual superiority and confronted Jesus to prove that he was far better than Him. He might think, “Son of carpenter; he knows nothing!” But, his pride brought him nothing but defeat. He attacked Jesus with the most difficult question he had in his arsenal. “Teacher, what must I do to inherit eternal life?” Yet, Jesus was aware of his intention. Jesus reminded him that the answer laid at the very heart of Torah itself, and allowed him to answer for himself. “You shall love the Lord, your God, with all your heart, with all your being, with all your strength, and with all your mind, and your neighbor as yourself (Deu 6:5).” The answer was so simple yet true that every Jew who were with Jesus, would immediately give their nod, and perhaps their little victorious smile.

Refusing to accept his defeat, the scholar made a last-ditch attempt to justify himself. He asked Jesus who is this ‘neighbor’ he had to love. With His ingenuity and wit, Jesus then presented him one of the loveliest parables ever told: the Good Samaritan. To love means to love radically. To love means to do good even to those who do not deserve our love. Yet, the genius of Jesus is not only to force the scholar to acknowledge his defeat, but He allowed the scholar to reflect on his life’s deeper purpose as a Jew.

At times, we are so confident with ourselves. We feel we know a lot. We engage in discussion and debate on various issues in the Church and society. We take sides, either on the progressive team or conservative group, and fight endlessly. We learn theology, spirituality and leadership, and we feel we are better than the rest of Church. We serve a particular ministry for so long, that we look down at newcomers in the group. Unconsciously, we become like this scholar of the Law who stands up and puts other into test. I confess also at times, I manifest this prideful attitude. When I teach, I often project myself as the all-knowing teacher and throw the hardest questions to my students. It gives a sense of pleasure when I know I am the only one who can answer the questions. Lord, have mercy on me!

Yet, Jesus reminds us today a simple yet fundamental truth: pride only brings defeat, only humility can bring us eternal life. And this humility can be best practiced in love. To borrow the words of St. Paul, “And if I have the gift of prophecy and comprehend all mysteries and all knowledge; if I have all faith so as to move mountains but do not have love, I am nothing. If I give away everything I own, and if I hand my body over so that I may boast but do not have love, I gain nothing (1 Cor 13:2-3).”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengasihilah dan Kamu akan Hidup!

Minggu Biasa ke-15/ 10 Juli 2016 [Lukas 10: 25-37]

 “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? (Luk 10:25)”

jesus and scholarPara ahli Taurat mewakili kelompok intelektual elit di dalam masyarakat Yahudi pada zaman Yesus. Saat sebagian besar dari bangsa Yahudi berjuang untuk mengisi perut mereka, kelompok ahli Taurat memiliki akses langka untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Kita bisa menduga bahwa para ahli hukum Taurat adalah cukup kaya untuk membaca dan mempelajari Kitab Suci bangsa Yahudi tak terganggu. Dibandingkan dengan orang-orang Yahudi biasa, mereka tentunya ahli dengan berbagai rincian dan interpretasi hukum Taurat. Tidak heran, mereka bisa dengan mudah menjadi tinggi hati atau sombong.

Lukas menggambarkan sang ahli Taurat sebagai salah seseorang yang ‘berdiri’ dan ‘mencobai’ Yesus. Jelas, ia datang membawa superioritas intelektualnya dan menantang Yesus untuk membuktikan bahwa ia jauh lebih baik dari-Nya. Dia mungkin berpikir, Yesus, anak tukang kayu; dia tahu apa-apa! Tapi, kesombongannya tidak memberinya apa-apa selain kekalahan. Dia menyerang Yesus dengan pertanyaan yang paling sulit. “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Namun, Yesus menyadari niatnya. Yesus mengingatkan bahwa jawabannya terletak di jantung Taurat itu sendiri, dan memungkinkan dia untuk menjawab pertanyaannya sendiri. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Ul 6: 5).” Jawabannya sangat sederhana tapi sungguh benar, dan setiap orang Yahudi yang bersama Yesus, akan segera memberikan anggukan mereka.

Menolak untuk menerima kekalahannya, sang ahli Taurat membuat upaya terakhir untuk membenarkan dirinya sendiri. Dia meminta Yesus untuk menjelaskan siapakah ‘sesama’ ini yang dia harus menkasihi. Yesus kemudian menerangkan kepadanya salah satu perumpamaan terindah yang pernah kita dengar: Orang Samaria yang Baik. Mengasihi berarti mengasihi secara radikal. Mengasihi berarti berbuat baik bahkan bagi mereka yang tidak layak kita kasihi. Namun, Yesus tidak hanya untuk memaksa sarjana untuk mengakui kekalahannya, namun Dia juga mengajak sang ahli untuk merefleksikan tujuan hidupnya lebih dalam sebagai seorang Yahudi.

Ada kalanya, kita sangat yakin dengan diri kita sendiri. Kita merasa kita mengetahui banyak hal. Kita terlibat dalam diskusi dan perdebatan tentang berbagai isu di Gereja dan masyarakat. Kita mengambil kubu, baik di kelompok progresif ataupun konservatif, dan berdebat tanpa henti. Kita belajar teologi, spiritualitas dan kepemimpinan, dan kita merasa kita lebih baik dari seluruh Gereja. Kita terlibat dalam sebuah pelayanan atau kelompok tertentu begitu lama, dan kita melihat dengan rendah para pendatang baru di dalam kelompok. Secara tidak sadar, kita menjadi seperti ahli Taurat di dalam Injil ini yang berdiri dan mencobai sesama. Saya akui juga kadang, saya memiliki sikap sombong ini. Ketika saya mengajar, saya sering memproyeksikan diri saya sebagai guru yang mahatahu dan melemparkan pertanyaan yang paling sulit untuk murid-murid saya. Sungguh menyenangkan ketika saya tahu bahwa hanya saya yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tuhan, ampunilah aku!

Namun, Yesus mengingatkan kita hari ini suatu kebenaran sederhana namun mendasar: kesombongan hanya membawa kekalahan, hanya kerendahan hati yang dapat membawa kita kehidupan yang kekal. Dan kerendahan hati ini hanya bisa dipraktekkan di dalam kasih. Meminjam kata-kata Santo Paulus, “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku (1 Kor 13: 2-3).

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Demand of Love

 13th Sunday in Ordinary Time. June 26, 2016 [Luke 9:51-62]

 “Let the dead bury their dead (Luk 9:60).”

Follow meFollowing Jesus is difficult. In today’s Gospel, He demands that we let go three things. The first is our concern for our enemies. It seems easy to ignore those people whom we don’t like, but in reality, they consume our attention and energy. My friend shared to me how he was bullied at his officemates, and this drained so much of his productivity and focus in work. Often, like James and John, our anger moves to seek revenge and even violence. “Lord, do you want us to call down fire from heaven to consume them (the Samaritans who rejected them)?” Yet, Jesus reminds us to leave these behind.

The second thing is our pursuit for life security and comfort. Jesus put simply, the Son of Man has nowhere to rest his head.” It is part of our nature to look for comfort and enjoyable life, often through seeking material possession. Our modern mentality also trains us to love work and compete for highest position and biggest success. When we work hard and achieve in various fields of our live, like in our career, even our service in the Church, this gives us immeasurable sense of fulfillment. Yet, Jesus also wants us to put this aside.

Thirdly, and I believe most difficult for many of us, it is the family. When a follower wanted to bury his father, Jesus made a strong yet symbolic statement, “Let the dead bury the dead.” Being an Asian, particularly Indonesian, I have strong sense of family-orientation. In almost all major events of my life like graduation and solemn religious profession, my parents were proudly present. Though, it means they needed to fly to Manila and spent a lot of money. For my Filipino brothers in the community, it is unthinkable to totally detach from their families. Yet, even this most precious possession we have, Jesus wants us to set it aside.

It looks like that Jesus’ demand is not only difficult but also impossible. Why does it have to be like this? We read today’s Gospel closely, we realize that by this time, Jesus has fixed His course to Jerusalem. He knew well that nothing but failure, frustration and death awaited Him there. Yet, He still did this because He obeyed His Father’s radical demand. What is this demand of the Father? It is no other than the demand of love: You shall love the Lord, your God, with all your heart, with all your soul, and with all your mind.” Jesus invites us to this radical reorientation of our love. When we love God, then the rest will fall into its proper place.

When we see God first, we will try our best to love those who hate us because people unworthy of our love bear God’s image as well. When we seek God first, the material possession, successful career and life security are seen as blessing from God. Then, they are also blessing to share with others. When we love God first, our love for our family will be purified, as we will bring them to closer to God.

A friend told me how his family is so dear to him. But, thing began to fall apart, as his younger brother was trapped into drug addiction. Initially, he did not like his brother to undergo rehabilitation and be separated from the family for indefinite time. But, after long prayer and discernment, he decided to bring his brother into a center of recovery. It was a painful decision, but his love for God has brought him into a bigger love for his brother. Now, he becomes even more pious as he attends mass every day for the recovery of his brother.

To follow Jesus is difficult and demanding, but it is necessary as we expand our love for God and others.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tuntutan Kasih

Minggu Biasa ke-13/26 Juni 2016 [Lukas 9:51-62]

 “Biarlah orang mati menguburkan orang mati (Luk 9:60).”

following jesusMengikuti Yesus itu sulit. Dalam Injil hari ini, Dia menuntut ada tiga hal penting yang harus kita berani lepaskan. Hal pertama adalah fokus kita pada musuh atau orang tidak kita sukai. Sepertinya mudah untuk mengabaikan orang-orang yang tidak kita sukai, tetapi dalam kenyataannya, mereka mengambil banyak perhatian dan energi kita. Seringkali, seperti Yakobus dan Yohanes, kemarahan kita mendorong kita untuk membalas dendam, bahkan dengan cara kekerasan. Pikiran dan emosi kita terkuras oleh kebencian dan menunggu saat pembalasan. “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka (orang Samaria yang menolak Yesus)?” Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa hal ini harus kita lepas.

Hal Kedua adalah hasrat kita untuk keamanan dan kenyamanan hidup. Untuk mencari kenyamanan dan kehidupan yang menyenangkan adalah bagian dari sifat kita, dan ini tidak lepas dari usaha kita mengumpulkan kekayaan. Mentalitas modern juga melatih kita untuk mencintai kerja dan bersaing untuk posisi tertinggi dan sukses terbesar. Ketika kita bekerja keras dan berprestasi di berbagai bidang hidup kita, seperti dalam karir, bahkan dalam pelayanan kita di Gereja, ini memberi kita kepuasaan. Namun, Yesus juga menginginkan kita untuk lepaskan hal ini. Yesus secara sederhana mengatakan, “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.

Hal ketiga adalah yang paling sulit. Ini adalah keluarga. Ketika seorang pengikut Yesus ingin menguburkan ayahnya, Yesus membuat pernyataan kuat namun simbolik, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati.” Sebagai orang Indonesia, saya memiliki rasa kekeluargaan yang kuat. Hampir semua peristiwa besar dalam hidup saya seperti wisuda dan kaul kekal, orang tua saya hadir dengan bangga. Meskipun, ini berarti mereka perlu terbang ke Manila dan menghabiskan banyak uang. Sama halnya juga dengan frater-frater OP Filipina, tidak terpikirkan bagi mereka untuk benar-benar melepaskan diri dari keluarga mereka. Namun, bahkan yang paling berharga ini, Yesus ingin kita sisihkan.

Sepertinya permintaan yang Yesus tidak hanya sangat sulit, tetapi juga mustahil. Mengapa harus seperti ini? Membaca Injil hari ini, kita melihat bahwa Yesus telah menetapkan tujuan-Nya ke Yerusalem. Dia tahu betul bahwa tidak ada apa-apa selain kegagalan dan kematian-Nya di sana. Namun, Dia tetap melakukan ini karena Dia taat pada kehendak Bapa-Nya. Apakah kehendak Bapa? Hal ini adalah tuntutan kasih: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Yesus mengajak kita untuk membenahi prioritas kasih kita secara radikal. Ketika kita mengasihi Allah, maka selebihnya akan berada di tempat yang tepat.

Ketika kita melihat Allah terlebih dahulu, kita akan mencoba sebaik mungkin untuk mengasihi orang yang membenci kita karena mereka juga diciptakan sebagai citra Allah juga. Ketika kita mencari Tuhan terlebih dahulu, harta benda, kesuksesan dan keamanan hidup dipandang sebagai berkat dari Tuhan. Dan, sebagai berkat, kita dengan mudah berbagi dengan sesama. Ketika kita mengasihi Allah terlebih dahulu, kasih kita untuk keluarga kita akan dimurnikan, karena kita akan membawa mereka lebih dekat dengan Tuhan.

Seorang teman bercerita bagaimana keluarga sangat penting baginya. Tapi, semua mulai berantakan, karena adiknya terterat dalam kecanduan narkoba. Awalnya, ia tidak suka adiknya menjalani rehabilitasi dan terpisah dari keluarga untuk waktu yang lama. Tapi, setelah doa yang panjang, ia memutuskan untuk membawa adiknya untuk masuk pusat pemulihan. Ini adalah keputusan yang menyakitkan, tapi kasihnya kepada Allah telah membawa dia ke sebuah kasih yang lebih besar untuk sang adik. Sekarang, ia menjadi lebih saleh dan ia menghadiri misa setiap hari untuk pemulihan adiknya.

Untuk mengikuti Yesus adalah sulit, tetapi ini adalah bagian dari tuntutan kasih. Dan hanya kasih kita kepada Allah membawa kita pada kepenuhan hidup.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Blood and Life

Solemnity of the Body and Blood of Christ. May 29, 2016. [Luke 9:11-17]

“His cup is the new covenant in my blood. Do this, as often as you drink it, in remembrance of me (1 Cor 11:25).”

chalice n hostOne of my personal ministries is to be a blood donor. If ever someone needs a blood transfusion, I do my best to donate my blood and if possible, visit the ailing person. In biology, we learn that blood is a crucial element of our body that transports nutrition and oxygen to various body parts and also fight the harmful elements inside our body. Thus, losing too much blood will bring us to critical condition even death. No wonder that blood is closely associated with life and I hope that a little blood I share, may save lives.

In time of Jesus, the understanding on blood is not actually far different from our contemporary time. The ancient Jews considered blood as the source of life, if not life itself. Perhaps, they were able to observe that many living things have blood running in their veins and if they were losing so much blood, it means a certain death. Since every living being comes from God, then blood, as the source of life, must be sacred and belong to God (cf. Deu 12:23). Therefore, shading a person’s blood is forbidden (Gen 9:6). Drinking blood of animal is also not allowed (Lev 7:27). But, the sacredness of blood is profoundly manifested at the Jewish rituals.

Blood of an animal is important element of the sacrificial rituals in the Temple of Jerusalem. After the blood is separated from the body, it is poured out around the altar and being burned together with the flesh (cf. Lev 1). The burn sacrifice mainly serves two purposes: as thanksgiving and atonement for sin. Since blood and body are symbols of life and totality of a living creature, the best way to give thanks and atone for one’s mistake is to offer this life totally to God. The Israelites offered their best to God through the mediation of a sacrificial animal.

Unfortunately, blood of animal and even our blood is far from perfect. Thus, perfect thanksgiving and forgiveness is not possible. Yet, we are not hopeless since God provides an answer. He sent His only Son, Jesus Christ, and Jesus offered Himself as the sacrifice of the cross. He is the most pleasing thanksgiving and the perfect atonement for our sins. In his treatise of Corpus Christi, St. Thomas Aquinas wrote, “He offered His body to God the Father on the altar of the cross, as a sacrifice for our reconciliation. He shed His blood for our ransom and purification…” My blood may help saving a person who needs a transfusion, but Jesus’ blood saves the entire creations.

As we drink His blood and eat His body in the Eucharist, our lives are caught in this beautiful offering and sacrifice of Christ. Now, in Christ, our lives are also offerings to God. Every sacrifice we make for God and for the good of others, however small it may be, will be pleasing to God and contribute in the salvation of the world. Our simple prayer may have a great impact for souls in purgatory. Our little contribution in Church may help greatly the parish priest and the poor. Even our daily waking up and works at the office may seem to be monotonous and fruitless, but they may help in building a just society. Our blood, our life is not perfect, but in Christ, it becomes precious. As a psalmist once sang, “From extortion and violence he frees them, for precious is their blood in his sight (Ps 72:14).

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP