Keluarga-Keluarga Kudus

Pesta Keluarga Kudus [B]

27 Desember 2020

Lukas 2: 22-40

Kita merayakan pesta Keluarga Kudus, namun kita tidak hanya merayakan keluarga Yesus, Maria dan Yusuf, tetapi setiap keluarga di dunia. Melalui perayaan liturgi hari ini, Gereja mengundang kita untuk menyadari pentingnya dan berharganya keluarga kita. Tidak hanya menghargai nilai dasar keluarga, kita diundang untuk merangkul dan merayakan kehidupan keluarga.

Di tingkat manusia, banyak ahli sosial telah memahami bahwa masyarakat yang sehat dan berkembang dimulai dari keluarga yang kokoh. Keluarga tidak hanya mengisi komunitas dengan populasi manusia, tetapi juga menyediakan lingkungan di mana anak-anak dapat tumbuh menjadi pria dan wanita yang dewasa secara fisik dan psikologis. Manusia-manusia dewasa yang sehat dan mapan menjadi aset masyarakat dan bangsa.

Dari perspektif iman, Gereja selalu memandang keluarga sebagai unit dasar tidak hanya masyarakat tetapi Gereja itu sendiri. Dalam Seruan Apostoliknya, Familiaris Consorsium, Paus St. Yohanes Paulus II menegaskan peran fundamental keluarga sebagai “komunitas hidup dan kasih”. Dalam keluarga, suami dan istri belajar untuk saling mencintai semakin dalam setiap harinya. Dalam keluarga, orang tua memberikan kasih tanpa pamrih dan pengorbanan untuk anak-anak mereka. Di dalam keluarga, anak-anak belajar untuk menghormati dan menyayangi orang tua serta saudara-saudara mereka. Karena hanya dalam kasih, manusia menemukan pemenuhan sejatinya sebagai citra Tuhan yang adalah Kasih.

Alkitab juga sangat menghargai kehidupan keluarga. Menghormati ibu dan ayah kita adalah salah satu perintah tertinggi dalam Hukum Taurat [Kel 20]. Sirach bahkan mengklaim bahwa menghormati orang tua kita dapat menghapus dosa-dosa kita [Sir 3:3]. St. Paulus sendiri dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, memberikan instruksinya kepada setiap anggota keluarga tentang bagaimana berperilaku yang baik sebagai anggota keluarga [lihat Kol 3: 12-21].

Kembali kepada Yesus, kita menemukan bahwa bagi Dia, keluarga memang sangat esensial. Sebagai Tuhan, Yesus bisa saja datang kepada kita langsung dari surga. Dia tidak membutuhkan bantuan manusia untuk menebus manusia. Namun, Dia memilih untuk dilahirkan dari perawan Maria, dan melalui malaikat, Dia menginstruksikan Yusuf untuk menjadi suami Maria dan dengan demikian, menjadi ayah angkat-Nya. Ketika Yesus menjadi manusia, Dia memasuki keluarga manusia, dan tumbuh melalui bimbingan dan perlindungan Yusuf dan Maria. Yesus telah menjadi bagian dari sebuah keluarga, dan kehadiran-Nya menguduskan keluarga manusia-Nya. Ini adalah pesan penting bagi semua keluarga bahwa keluarga akan menjadi sekolah kekudusan karena Yesus hadir.

Kita akui juga bahwa kehidupan keluarga tidak selalu mulus dan manis. Saat-saat frustrasi, kesalahpahaman, amarah dan kesedihan seringkali datang dan menghantam kita dengan keras. Berbagai masalah mulai dari stabilitas ekonomi hingga ketidakdewasaan emosional melanda hubungan kekeluargaan kita. Namun, situasi buruk ini dapat diubah menjadi sarana kekudusan jika Yesus hadir di antara kita. Membesarkan anak bisa jadi sulit dan bahkan menjengkelkan, tetapi kita bisa mempersembahkan salib ini kepada Tuhan sebagai doa. Hubungan dengan pasangan kita dapat dipenuhi dengan kesalahpahaman, tetapi sebelum kita melampiaskan emosi kita, kita mungkin berhenti sejenak dan bertanya kepada Tuhan tindakan terbaik yang akan kita ambil. Dengan demikian, melalui kesulitan-kesulitan ini, kita menjadi lebih dekat dengan Tuhan.

Kita berterima kasih atas karunia kehidupan, kasih dan keluarga.

Selamat Pesta Keluarga Kudus!

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rejoice Always!

Gaudete Sunday. 3rd Sunday of Advent [B]

December 13, 2020

John 1:6-8, 19-28

This Sunday is special. We are still in the season of Advent, and yet we see a different liturgical color. It is a rose color [not pink!]. This beautiful color symbolizes joy and hope, and it is in line with the spirit of the third Sunday of Advent, the Gaudete Sunday. Gaudete is a Latin word meaning “Rejoice!” The name is rooted in the introit or the opening antiphon of the Mass, from Phil 4:4-5, “Rejoice in the Lord always; again I will say, Rejoice. 5 Let your gentleness be known to everyone. The Lord is near” In the second reading, St Paul reiterates the motif, “Rejoice always. Pray without ceasing. In all circumstances give thanks, for this is the will of God for you in Christ Jesus. [1 The 5:16].”

Yet, the real question is, “Is the Church too naïve in inviting us to rejoice in these difficult times?” This deadly and fast-spreading virus covid-19 has devastated practically the entire planet. While it does not physically destroy the earth like a nuclear bomb, it does kill countless people. It slows down the economy and forces many governments, even the strongest, to panic and struggle. The number of victims keeps increasing, and there is no sign of abating. Indeed, we are going to have a different experience of Christmas this year. Indeed, covid-19 is not the only thing that makes our day so bad. Personal issues, family problems, conflicts in the community, and many other things are still haunting our lives. How do you expect us to rejoice? If we examine the words of St. Paul in 1 Thes 5:16, we discover that to rejoice is not an option, but God’s will for us! It gives us more reason to ask how it is possible?

The key is to understand joy neither as a simple absence of pain nor bodily and emotional pleasure. The Greek word is “kaire” and Angel Gabriel uses the same word to address Mary [Luk 1:28]. If we look at the life of Mary, she does not have a fairy-tale-kind life. Her life will turn upside-down, a sword will pierce her soul, and she will see her son die on the cross. Nothing pleasurable and sensational about that! Yet, she says, “My spirit rejoices in God my savior [Luk 1:47]! Mary is able to discover something precious despite tons of ugly things in her life. She discovers Jesus.

In 1 The 5:16, rejoice cannot be separated from unceasing prayer and giving thanks in all circumstances. That is another key. Through prayer, we are connected to God, and in prayer, we learn to see God and His plan in our lives. Sometimes, we can only see good things in good time, but the Gospel has told us the opposite: there is God in the dirty manger, and even there is God on the horrible cross. When we see God in these broken pieces of lives, we cannot but give thanks. And, when we are always grateful, we are inspired to rejoice.  That is the spirit of Christmas, and we are trained in the school of Gaudete Sunday.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Bersukacitalah Selalu!

Minggu Gaudete. Minggu ke-3 Adven [B]

13 Desember 2020

Yohanes 1: 6-8, 19-28

Minggu ini cukup istimewa. Kita masih dalam masa Adven, namun kita melihat warna liturgi yang berbeda. Itu adalah warna mawar atau merah muda. Warna indah ini melambangkan kegembiraan dan harapan, dan ini sejalan dengan semangat Minggu Adven ketiga, Minggu Gaudete. Gaudete adalah kata Latin yang berarti “Bersukacitalah!” Nama ini berakar pada introit atau antiphon pembukaan Misa, dari Filipi 4: 4-5, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!  Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat !” Dalam bacaan kedua, Santo Paulus mengulangi motif yang sama, “Bersukacitalah senantiasa.  Tetaplah berdoa.  Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. [1 Tesalonika 5:16]. ”

Namun, pertanyaan sebenarnya adalah “Apakah Gereja tidak naif dalam mengajak kita untuk bersukacita di masa-masa sulit ini?” Virus covid-19 yang mematikan dan cepat menyebar ini praktis telah meluluh lantahkan seluruh planet. Meskipun tidak menghancurkan bumi secara fisik seperti bom nuklir, hal ini membunuh banyak orang. Virus ini memperlambat ekonomi dan memaksa banyak pemerintah, bahkan yang terkuat sekalipun, menjadi panik dan bergulat. Jumlah korban terus meningkat dan tidak ada tanda-tanda mereda. Pastinya, kita akan mengalami pengalaman Natal yang berbeda tahun ini. Natal yang tidak lagi ceria. Tentunya, covid-19 bukanlah satu-satunya hal yang membuat hidup kita jadi buruk. Masalah pribadi, masalah keluarga, konflik di masyarakat dan banyak hal lainnya masih menghantui kehidupan kita. Bagaimana Gereja mengharapkan kita untuk bersukacita? Jika kita meneliti perkataan Santo Paulus dalam 1 Tes 5:16, kita menemukan bahwa bersukacita bukanlah pilihan, tetapi kehendak Tuhan bagi kita! Ini memberi kita lebih banyak alasan untuk bertanya bagaimana mungkin?

Kuncinya adalah memahami sukacita bukan hanya sebagai ketiadaan rasa sakit atau kesenangan fisik dan emosional. Kata Yunaninya adalah “kaire” dan ini adalah kata yang sama digunakan oleh Malaikat Gabriel untuk memanggil Maria [Luk 1:28]. Jika kita melihat kehidupan Maria, dia tidak memiliki kehidupan yang penuh dengan kesuksesan duniawi. Hidupnya berantakan saat Yesus hadir, pedang menembus jiwanya dan dia melihat putranya sendiri mati di kayu salib. Tidak ada yang sensasional tentang hidup Maria! Namun, Bunda Maria mampu berkata, “… Hatiku bergembira karena Allah, Juru selamatku [Luk 1:47]! Maria dapat menemukan sesuatu yang berharga di tengah-tengah banyak hal buruk dalam hidupnya. Dia menemukan Yesus.

Dalam 1 Tesalonika 5:16, bersukacita tidak lepas dari doa yang tak henti-hentinya dan mengucap syukur dalam segala keadaan. Itu adalah kunci kedua untuk bersukacita. Melalui doa, kita terhubung dengan Tuhan, dan dalam doa, kita belajar untuk melihat Tuhan dan rencana-Nya dalam hidup kita. Kadang-kadang, kita hanya mau melihat hal-hal yang baik pada saat yang baik, tetapi Injil mengatakan sebaliknya: ada Tuhan di palungan yang kotor dan bahkan ada Tuhan di salib yang mengerikan. Saat kita melihat Tuhan bahkan dalam kegelapan hidup kita, kita akan dimampukan untuk mengucap syukur. Dan, saat kita selalu bersyukur, kita terinspirasi untuk bersukacita. Inilah semangat Natal, dan kita dilatih di sekolah Minggu Gaudete.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: @stevenkyleadair

King of Mercy

The Solemnity of Our Lord Jesus Christ, King of the Universe [A]

November 22, 2020

Matthew 25:31-46

To be the subject of a king is a foreign experience for many of us. I was born in Indonesia, and our country is a republic, and we espouse democracy to elect our leader. Some of us are citizens of kingdoms like Great Britain, Belgium, Thailand, and Japan, but the kings or queens here are serving under the constitution. When we speak of absolute monarchs, we are reminded of the powerful ancient kingdoms like Assyrian, Babylonian, and Persian empires. Here, the king’s words are the highest law, and disobedient to the king’s wish is acts of treason. Surprisingly, we still have some existing absolute monarchs in our time, like Brunei, Saudi Arabia, and the Vatican!

Today we are celebrating the solemnity of Jesus Christ, the King of the Universe. Yet, it is a bit difficult to imagine Christ as a king. He never wears a crown except for thorns. He never sat on the throne except for the cross. And, He never possessed an army except for a bunch of coward disciples.  Is Jesus truly a king? The answer is an absolute yes. Jesus, as the king, is one of the dominant topics in the Gospels. Angel Gabriel announces to Mary, “the Lord God will give to him [Jesus] the throne of his ancestor David. He will reign over the house of Jacob forever, and of his kingdom there will be no end. [Luk 1:32-33]” One of the criminals crucified with Jesus cries, “Jesus, remember me when you come into your kingdom. [Luk 23:42]” And throughout His public ministry, Jesus is tirelessly proclaiming and building the kingdom of God.

In today’s Gospel, Jesus reveals that he is not just an ordinary king, not just a king among many kings. He is the king of kings, and only He can bring people to eternal life and everlasting damnation. We are reminded that since Jesus is the king of the universe, we are all His subjects. However, whether we are good subjects or bad ones, we still have to choose. Like with other kingdoms, we still need to at least two basic things: acknowledging Jesus as our king and being His loyal servant.

The good news is that He does not require us, His subjects, to wage war against other countries or pay taxes! He is the king of mercy, and thus, His order is: do the Works of Mercy. In the Catholic tradition, there are seven corporal works of mercy. These are: to feed the hungry, give water to the thirsty, clothe the naked, shelter the homeless, visit the sick, visit the imprisoned, and bury the dead. The seven corporal works of mercy are not complete with the seven spiritual works of mercy. These are: to instruct the ignorant, counsel the doubtful, admonish the sinners, bear patiently those who wrong us, forgive offenses, comfort the afflicted, and pray for the living and the dead.

Doing these are not always easy, but it is necessary because it proves our loyalty to the great king. Negligence to do works of mercy brings a serious consequence: to be expelled from the kingdom. The choice is ours, and the time is now.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: robert nyman

Raja Belas Kasih

Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus, Raja Semesta Alam [A]

22 November 2020

Matius 25: 31-46

Menjadi abdi seorang raja adalah pengalaman asing bagi banyak dari kita. Saya lahir di Indonesia, dan negara kita adalah republik dan kita menjunjung demokrasi sebagai cara untuk memilih pemimpin kita. Mungkin kita pernah ke negara kerajaan seperti Inggris, Belgia, Thailand, dan Jepang, tetapi raja atau ratu di sini juga berdasarkan konstitusi atau undang-undang dasar. Ketika kita berbicara tentang monarki absolut, kita diingatkan tentang kerajaan kuno yang kuat seperti kerajaan Asyur, Babel, dan Persia. Di sini perkataan raja adalah hukum tertinggi, dan tidak mematuhi keinginan raja adalah tindakan pengkhianatan. Sebenarnya, kita masih memiliki beberapa monarki absolut yang ada di zaman kita, seperti Kerajaan Brunei, Arab Saudi dan Vatikan!

Hari ini kita merayakan Hari Raya Yesus Kristus, Raja Semesta Alam. Namun, agak sulit membayangkan Kristus sebagai seorang raja. Dia tidak pernah memakai mahkota kecuali dari duri. Dia tidak pernah duduk di singgasana kecuali salib. Dan, Dia tidak pernah memiliki pasukan kecuali sekelompok murid-murid yang pengecut. Apakah Yesus benar-benar seorang raja? Jawabannya ya! Faktanya, Yesus sebagai raja adalah salah satu topik dominan dalam Injil. Malaikat Gabriel menyatakan kepada Maria, “…Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,  dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan [Luk 1: 32-33].” Salah satu penjahat yang disalibkan bersama Yesus berseru, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja [Luk 23:42].” Dan sepanjang pelayanan publik-Nya, Yesus tanpa lelah mewartakan dan membangun kerajaan Allah.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengungkapkan bahwa dia bukan hanya raja biasa, bukan hanya raja di antara banyak raja. Dia adalah raja dari segala raja, dan hanya Dia yang dapat membawa orang ke kehidupan kekal atau maut yang abadi. Kita diingatkan bahwa karena Yesus adalah raja alam semesta, kita semua adalah abdi-Nya. Namun, kita tetap harus memilih, apakah kita abdi yang baik atau buruk. Seperti halnya kerajaan lainnya, kita masih melakukan setidaknya dua hal dasar: mengakui Yesus sebagai raja kita dan menjadi abdi-Nya yang setia.

Kabar baiknya adalah untuk menjadi abdi-Nya yang setia, Dia tidak menuntut kita untuk berperang melawan negara lain, atau bahkan membayar pajak! Dia adalah raja belas kasih, dan dengan demikian, perintah-Nya adalah: lakukan karya-karya Belas Kasih. Dalam tradisi Katolik, ada tujuh karya belas kasih jasmani. Ini adalah: memberi makan yang lapar, memberi air kepada yang haus, memberi pakaian bagi yang telanjang, melindungi para tunawisma, mengunjungi yang sakit, mengunjungi yang dipenjara, dan menguburkan yang meninggal. Tujuh karya belas kasih jasmani tidak lengkap tanpa tujuh karya belas kasih rohani. Ini adalah: Menasihati orang yang ragu-ragu, mengajar orang yang belum tahu, menegur pendosa, menghibur orang yang menderita, mengampuni orang yang menyakiti, menerima dengan sabar orang yang menyusahkan, dan berdoa untuk orang yang hidup dan mati.

Melakukan hal-hal ini tidak selalu mudah, tetapi perlu karena itu membuktikan kesetiaan kita kepada sang raja agung. Kelalaian melakukan perbuatan belas kasih membawa konsekuensi serius: diusir dari kerajaan. Pilihan ada di tangan kita dan waktunya sekarang.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: Arturo Rey

Di Balik Talenta

Minggu ke-33 di Masa Biasa

15 November 2020

Matius 25: 14-30

Sejatinya talenta bukanlah bakat atau kemampuan yang diberikan Tuhan, tetapi sebuah unit bobot dan nilai, biasanya dari emas dan perak. Mudahnya, talenta adalah jumlah uang yang sangat besar. Satu talenta setara dengan sekitar enam ribu dinar. Jika satu dinar adalah upah kerja satu hari, satu talenta berarti enam ribu hari kerja atau sekitar tujuh belas hingga dua puluh tahun kerja.

Untuk mencari makna dari perumpamaan ini, kita perlu menemukan bagian dari cerita yang mengejutkan. Kali ini, saya ingin mengajak kita semua fokus pada tuan para hamba ini. Tuannya memberikan total 8 talenta kepada hamba-hambanya [secara harfiah adalah budak]. Jika kita berhenti sejenak, kita mulai menyadari betapa fantastisnya jumlah uang yang mereka terima. Tindakan memberi mengandaikan salah satu dari dua hal: entah sang tuan adalah orang yang sangat kaya sehingga dia tidak benar-benar peduli dengan talenta-talenta ini, atau dia sangat murah hati dan percaya kepada para hambanya. Saya percaya dia adalah orang yang murah hati dan percaya kepada hambanya.

Mempercayakan talenta ini memiliki risiko besar. Salah satu kemungkinannya adalah bahwa para hamba bisa gagal dalam usaha mereka dan dengan demikian, tuannya bisa kehilangan uangnya. Kemungkinan lain adalah para hamba bisa saja kabur dengan membawa talenta, dan dengan demikian, tuannya bisa kehilangan uang dan para hambanya. Namun, terlepas dari kemungkinan sangat buruk ini, sang tuan teguh dalam keputusannya. Dia mempercayai para hambanya, dan kepercayaannya berbuah. Kecuali untuk hambanya yang malas, sang tuan mendapat dua kali lipat!

Dari sini, kita mendapat pelajaran berharga. Cara terbaik untuk mengembangkan talenta kita adalah dengan membagikannya kepada orang lain. Cara yang biasa untuk mengembangkan talenta kita adalah dengan menggunakannya. Namun, metode ini tidak membawa kita pertumbuhan eksponensial. Namun, dengan berbagi talenta, kemungkinan untuk berkembang tidak terbayangkan. Lebih dari itu, perumpamaan ini bukan hanya tentang talenta, tetapi tentang hubungan antara tuan dan hambanya, tentang kepercayaan dan kasih sang tuan dan rasa syukur para hamba. Memang, kemampuan untuk melihat kepercayaan sang tuan akan menghasilkan rasa syukur, dan rasa syukur mendorong para hamba untuk melakukan yang terbaik.

Salah satu kemungkinan alasan hamba menjadi malas adalah karena dia gagal mengenali kepercayaan tuannya dan berfokus pada kecilnya talenta yang ia terima. Ironisnya, satu talenta masih merupakan kekayaan yang sangat besar! Jadi, alih-alih bersyukur, iri hati menghancurkan jiwanya dan kemalasanlah yang menang. Kita juga memperhatikan bahwa hamba ketiga tidak kehilangan talenta, tetapi dia masih menerima hukuman. Meskipun talentanya tidak hilang, kepercayaan tuannya telah hilang. Dan saat kepercayaan ini hilang, semuanya akan hilang.

Belajar dari perumpamaan ini, kita dipanggil untuk memiliki kemampuan untuk mengenali kepercayaan dan kasih Tuhan kepada kita. Berbagai talenta yang kita miliki hanyalah perwujudan sederhana dari kasih ini. Sebagai hamba kita, kita tidak pantas mendapatkan apa pun dari Tuhan, tetapi Tuhan telah memberi kita secara berlebihan. Dari kesadaran ini, hanya rasa syukur yang mengalir dengan sendirinya. Tetapi, jika kita tidak bisa melihat hal ini, kita mungkin jatuh ke dalam banyak dosa lain: iri hati, kemarahan, fitnah, atau sekadar kemalasan. Sekali lagi, ini bukan tentang talenta yang kita miliki, tetapi kepercayaan dan kemurahan yang Tuhan berikan kepada kita.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Commandments

30th Sunday of the Ordinary Time [A]

October 25, 2020

Matthew 22:34-50

The question is, “what is the greatest law?” Once again, the historical and religious context is important. When Jesus and the Pharisees discuss the Law, they are speaking about particular Law. It is neither criminal law nor international law. It is the Law of Moses, the Torah, which points to Moses’s five books. According to the tradition of the Rabbis, the Torah contains 613 specific laws. Thus, the Pharisee is questioning Jesus on the most important among 613 commandments.

For the Jewish people, the answer is not difficult and even expected. The most fundamental law among the laws is the Ten Commandments. It is the first set of laws given to Israelites through Moses in Sinai. The traditional belief holds that the Ten Commandments are traditionally by order of importance, meaning the first is the most essential, and the last is the least essential. Therefore, the first among the Ten Commandments is the greatest among the 613. It says, “I am the Lord your God… there is no other God beside me [Exo 20:2-3].”

However, Jesus escapes the expectation and reconstructs His own answer that will be the moral foundation of Christianity. Jesus’ answer is, “You shall love the Lord, your God, with all your heart, with all your soul, and with all your mind…You shall love your neighbor as yourself.” Though the answer is unusual, it remains orthodox because the source is also the Law of Moses. To love the Lord with our all is rooted in the Jewish basic prayer “Shema” [see Deu 6:4-6], and to love our neighbors as ourselves is springing up from the book of Leviticus [19:18]. What Jesus does is He radically changes the orientation of the Law of Moses. Instead of limiting ourselves to the prohibitions of the Ten Commandments, Jesus sets love as its direction. Love is seeking the goodness of the beloved, and love never stops until we are united to our beloved. To obey the 10 Commandments is foundational, but that is the minimum, and Jesus teaches us not to stay at the boundaries but to go beyond till we are united with God and others in God.

Before, I thought the commandment of Jesus was nice and lovely words. I love God by going to the Church every Sunday, especially during Christmas and Easter, and I love others by occasionally helping them or giving a donation to the poor. But I realize something a bit off. Jesus never says, “this is my greatest recommendation or advice.” What Jesus tells us, “This is the greatest commandments!” Law is meant to be obeyed, and here, we are dealing with the biggest laws! To love the Lord with our all is not optional. It is a must, and to love our brothers and sisters is not based on our convenience, but it is a divine obligation. To love God, neither not a part-time job nor to love our neighbors is our pastime. It is either all or nothing. That is Jesus’ greatest commandments.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo: josh Appel

Perintah Terbesar Yesus

Minggu ke-30 di Waktu Biasa [A]

25 Oktober 2020

Matius 22: 34-50

Pertanyaannya adalah “Apakah Hukum yang terutama?” Sekali lagi, untuk mengerti pertanyaan ini konteks historis dan religius sangat penting. Ketika Yesus dan ahli Hukum Taurat membahas tentang Hukum yang terutama, mereka berbicara tentang Hukum Taurat yang paling utama. Hukum Taurat sendiri menunjuk pada lima kitab Musa [Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan] dan sangat banyak peraturan ada di sana. Menurut tradisi para rabi, Taurat berisi 613 hukum. Jadi, orang Farisi sedang menguji Yesus tentang yang paling penting di antara 613 perintah.

Bagi orang-orang yang mengerti Taurat, jawabannya sebenarnya tidak sulit, dan mungkin kita juga sudah tahu jawabannya. Hukum yang paling mendasar di antara hukum-hukum itu adalah Sepuluh Perintah Allah. Ini adalah hukum pertama yang diberikan kepada orang Israel melalui Musa di Gunung Sinai. Sepuluh Perintah Allah sendiri diurutkan berdasarkan tingkat keutamaannya, yang berarti yang pertama adalah yang paling esensial, dan yang terakhir adalah yang tidak terlalu esensial. Oleh karena itu, yang pertama di antara Sepuluh Perintah adalah yang terbesar di antara 613 hukum. Perintah pertama berbunyi, “Akulah Tuhan, Allahmu … tidak ada Allah lain selain Aku [Kel 20: 2-3].”

Namun, Yesus tidak ingin terkurung dari jawaban standar yang sudah ada, dan merekonstruksi jawaban-Nya sendiri yang akan menjadi dasar moral Gereja. Jawaban Yesus adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap pikiranmu … Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Meskipun jawabannya tidak biasa, tetapi tetap ortodoks karena sumbernya juga adalah Hukum Musa. Untuk mengasihi Tuhan dengan segala yang kita miliki, sebenarnya berakar pada doa dasar Yahudi “Shema” [lihat Ulangan 6: 4-6], dan untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri, juga mengalir dari kitab Imamat [19:18]. Apa yang Yesus lakukan adalah Dia secara radikal mengubah orientasi Hukum Musa. Alih-alih membatasi diri pada Sepuluh Perintah yang bersifat larangan, Yesus menetapkan kasih yang proaktif sebagai arahannya. Kasih mencari kebaikan yang dikasihi, dan kasih tidak pernah berhenti sampai kita bersatu dengan yang kita kasihi. Mematuhi 10 Perintah adalah dasar, tapi itu minimum. Yesus mengajarkan kita untuk tidak sekedar memenuhi yang minimum, tetapi untuk aktif memenuhi kehendak Allah sampai kita bersatu dengan Tuhan dan sesama di dalam Tuhan.

Sebelumnya, saya berpikir bahwa perintah Yesus adalah kata-kata yang indah dan imut. Saya mengasihi Tuhan dengan pergi ke Gereja setiap hari Minggu, terutama selama Natal dan Paskah, dan saya mengasihi sesama dengan sesekali membantu mereka atau memberi sumbangan kepada orang miskin. Tapi saya menyadari bahwa Yesus tidak pernah berkata, “ini adalah saran, anjuran atau nasihat terbesar saya.” Apa yang Yesus katakan kepada kita, “Ini adalah perintah yang terutama!” Hukum dimaksudkan untuk ditaati, dan di sini, kita berurusan dengan hukum terbesar! Untuk mengasihi Tuhan dengan segenap diri kita bukanlah pilihan, itu adalah suatu keharusan, dan untuk mengasihi saudara dan saudari kita tidak didasarkan pada kenyamanan kita, tetapi itu adalah kewajiban ilahi. Mengasihi Tuhan itu bukan pekerjaan paruh waktu atau mengasihi sesama kita bukanlah hobi. Ini adalah perintah terbesar Yesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo: Anna Earl

Untuk Kaisar atau Untuk Tuhan?

Minggu ke-29 di Masa Biasa

18 Oktober 2020

Matius 22: 15-21

Untuk memahami Injil hari ini, kita perlu melakukan perjalanan waktu ke zaman Tuhan Yesus. Orang-orang Yahudi pada abad pertama Masehi Palestina bukanlah orang-orang merdeka, dan mereka tunduk pada kekaisaran Romawi. Sebagai penduduk jajahan, mereka diharuskan membayar pajak yang cukup berat. Uang ini pada akhirnya akan digunakan untuk membayar tentara yang menjaga “keamanan” di Palestina. Tak ayal, membayar pajak adalah salah satu hal yang paling dibenci dan menimbulkan gejolak. “Mengapa saya harus membayar untuk penindasan saya sendiri?”

Masalah pembayaran pajak bahkan lebih sensitif karena koin yang digunakan untuk transaksi memiliki gambar atau citra Kaisar. Tidak hanya berukir wajah Caesar, di sekitar gambar, ada tulisan, “Tiberivs Caesar Divi Avgvsti Filivs Avgvstvs (Kaisar Augustus Tiberius, putra Augustus yang ilahi).” Koin itu menjadi semacam hujatan kepada orang-orang Yahudi yang mengakui bahwa tidak ada tuhan, selain Tuhan Allah.

Dengan latar belakang ini, orang Farisi berencana untuk menjebak Yesus dengan pertanyaan yang sangat dilematis: “haruskah kita membayar pajak kepada Kaisar?” Jika Yesus mengangguk, Dia akan dianggap sebagai pengkhianat bagi banyak nasionalis Yahudi dan penyembah berhala bagi orang Israel yang saleh. Tetapi, jika Yesus menggelengkan kepala, Dia akan segera dicap sebagai pemberontak dan menghadapi murka orang Romawi. Namun, tidak pernah bijaksana untuk menguji Yesus, karena itu tidak akan pernah berhasil. Sekali lagi, Yesus tidak hanya lolos dari dilema dengan bijaksana tetapi juga memberikan pelajaran yang mendalam bagi semua orang.

Dia mengambil koin Romawi dan menunjukkan bahwa koin itu memiliki citra Kaisar. Kemudian, Dia berkata, “berikan kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar …” Dasar kepemilikan adalah kehadiran “citra.” Koin itu milik Kaisar karena memiliki citra Kaisar. Jadi, membayar pajak sejatinya bentuk pengembalian koin yang sejak awal adalah milik Kaisar dan Kekaisaran Romawi. Namun, Yesus tidak berhenti sampai di situ. Dia juga mengajarkan, “berikan kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan.” Dan apakah yang menjadi milik Tuhan? Jawabannya adalah hal-hal yang memiliki citra Tuhan. Kembali ke Kejadian 1:26, kita menemukan bahwa kita diciptakan menurut citra Allah, dan oleh karena itu, Yesus ingin menunjukan bahwa kita adalah milik Allah.

Di sini, Yesus tidak hanya menghindari serangan orang Farisi, tetapi mengajarkan kebenaran mendasar tentang siapa kita dan ke mana kita akan pergi. Kita diciptakan menurut citra Tuhan, bukan citra HP, bukan uang, bukan juga piala. Meskipun mereka mungkin menawarkan kesenangan instan, hal-hal ini tidak bisa memberi kita kebahagiaan sejati. Hanya Tuhan yang benar-benar dapat memenuhi kerinduan kita yang terdalam. Meskipun hal-hal ini secara alami baik dan dapat bermanfaat, mereka hannyalah sarana untuk mencapai tujuan sejati kita, Tuhan sendiri. Kita mungkin sibuk mengejar kekayaan, popularitas atau pengaruh, tetapi apa gunanya kita kehilangan Tuhan?

St Ignatius dari Loyola dalam Latihan Rohaninya mengingatkan kita bahwa, “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, dan melayani Tuhan, dan dengan cara-cara inilah manusia menyelamatkan jiwanya. Hal-hal lain di muka bumi diciptakan bagi manusia untuk membantunya dalam mencapai tujuan penciptaannya… Oleh karena itu, kita harus membuat diri kita sendiri tak terikat terhadap semua ciptaan… Satu keinginan dan pilihan kita haruslah jatuh pada hal-hal yang lebih kondusif untuk mencapai tujuan penciptaan kita.”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Fraternal Correction

23rd Sunday in Ordinary Time [A]

September 6, 2020

Matthew 18:15-20

josh-applegate-_TgzNXPF9IM-unsplash

Today’s Gospel is well known as the fraternal correction or the way to correct our brothers. However, if we carefully read the text, we discover what being corrected is not simply about our appearance, mannerism, or etiquette. The concern of Jesus is about sin. Jesus does not teach us to correct someone who has a weird hairstyle, or someone who sleeps with a huge snore, or someone whose way of talking we do not like. If there is something that makes Jesus angry is none other than sin. Why so? Sin can destroy our relationship with God, and it closes the gate of heaven. Jesus’ mission is to bring forgiveness of sin and to undo the effects of sin, but if we refuse to repent and keep sinning, we throw insults to the sacrifice of Christ.

Jesus gives us the three stages of correcting a brother who lives in sin. The first level is a personal and compassionate reminder. We must not speak behind the person, but rather dare to confront and yet with charity. Just in case, the person is still obstinate, we activate the second level: calling two or three witnesses. The presence of witnesses will substantiate our claim. Yet, if the person remains stubborn, we shall appeal to the Church. We need to remember that the Church in Matthew 18 is not just an assembly of the believers, but the apostles, the authorities of the Church. If again, the person persists in his sin, then the Church has to treat him like gentiles and tax collectors.

Gentiles are non-Jewish nations and because they were not circumcised and worshiped idols, they are considered unclean and sinners. While the tax collectors were people who work for the Roman empire, and because their constant contact with the Romans and their corrupt practices, made them also unclean and sinners. The unclean people are not allowed to enter the Temple and synagogues to worship God. Thus, treating an obstinate brother like a pagan and tax collector means to separate him from the assembly in worship. This technical term for this is excommunication. This word is coming Latin words: “ex-” meaning outside, and “communion” meaning community or fellowship. Thus, being excommunicated is outside of the worshiping community. Thus, excommunicated persons are not allowed to receive the Holy communion, the sign of unity of the Body of Christ.

Excommunication seems to be too cruel, yet looking in a bigger perspective, it is a way of mercy, rather simply a tool of punishment. In fact, the Church rarely pronounced the sentence of excommunication. Most of the cases, it is the people who walk away from the Church and separate themselves from God and His people. We must also remember that Jesus is loving the gentiles and the tax collectors, calling them to repentance and performing many miracles for them. Our love for our brothers who are living sin remains and even gets intensified. The reason is that Jesus does not want them to perish, but live with God. We correct our erring brothers and sisters not because we hate them, but because we love them and because we are part of the same family of God. We are responsible for one another and we shall keep our brothers and sisters in our way toward heaven.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP