Renungan pada Minggu ke-26 pada Masa Biasa [C] – 29 September 2019 – Lukas 16: 19-31

Sekali lagi, kita mendengarkan salah satu kisah Yesus yang sangat mengesankan. Ada seorang yang sangat kaya. Dia digambarkan sebagai seseorang yang berpakaian jubah ungu dan halus. Pada zaman itu, kain ungu yang halus adalah kemewahan tak terbayangkan, dan biasanya hanya bangsawan yang mampu membeli kain semacam ini. Sebelum adanya pewarnaan sintetis, pewarna ungu berasal dari siput Laut Mediterania, dan dibutuhkan ribuan siput hanya untuk mewarnai satu pakaian biasa. Pria kaya ini juga mengadakan pesta setiap malam. Pada zaman Yesus, di mana mayoritas harus bekerja keras untuk mendapatkan sedikit dan memiliki sesuatu untuk dimakan, untuk menikmati pesta setiap malam adalah sebuah kegilaan. Pada waktu itu, orang makan masih menggunakan tangan. Di rumah-rumah orang yang sangat kaya, mereka akan membersihkan tangan mereka dengan menyekanya pada roti yang kemudian dibuang. Ini adalah potongan roti yang diterima Lazarus.
Lazarus adalah bentuk latin dari kata Ibrani Eleazar, yang berarti “Tuhan adalah pertolongan saya.” Namun, tampaknya ia tidak mendapatkan banyak bantuan dari Tuhan selama masa hidupnya. Dia adalah seorang pengemis, dan sebagai orang yang hidup dengan kebersihan yang buruk, penyakit kulit datang dan menghancurkan tubuhnya. Bahkan anjing-anjing itu menjilati luka-lukanya. Dia sekarang tidak berbeda dari seekor anjing! Namun, Tuhan itu adil dan memberikan bantuan-Nya kepada Lazarus dalam kematiannya. Dia dibawa oleh malaikat ke pangkuan Abraham untuk menerima penghiburan, sementara pria super kaya terlempar ke neraka.
Ini adalah kisah yang mengingatkan kita bahwa sikap apatis dapat mengirim kita ke neraka. Orang kaya itu memiliki kekayaan luar biasa, namun ia menutup mata pada saudaranya yang sangat kesulitan. Akar apatis yang lebih dalam sebenarnya keegoisan kita. Kita hanya peduli pada diri sendiri. Kita perhatikan bagaimana orang kaya di neraka meminta Lazarus untuk memuaskan dahaga, hanya berpikir untuk memenuhi kebutuhan mendesaknya. Kemudian, pria kaya itu tiba-tiba ingat bahwa ia memiliki saudara laki-laki lain dan ia ingin Lazarus memperingatkan mereka. Hal ini mungkin ada sedikit empati, tetapi hal ini bisa menjadi tanda keegoisan yang lebih dalam. Dia ingin hanya mereka yang dekat dengannya yang diselamatkan. Dia tidak pernah mengucapkan kata maaf pada Lazarus. Dia hanya memikirkan dirinya bahkan saat di neraka.
Tuhan membenci sikap apatis karena sikap apatis secara langsung bertentangan dengan belas kasihan-Nya. Kata Belas kasih dalam bahasa Latin adalah Misericordia, dan itu berarti hati kepada mereka yang menderita. Dalam Alkitab, jika ada satu hal yang selalu menggerakkan Tuhan, itu adalah ketika seseorang memohon belas kasihan. Paus Benediktus XVI mengingatkan kita bahwa Tuhan itu belas kasihan, dan Dia tidak bisa tidak berbelas kasih. Jadi, apatis melawan Tuhan; itu adalah penolakan dari surga.
Tentunya, kita tidak harus menyelesaikan semua masalah dunia; kita juga tidak harus menjadi orang terkaya di dunia untuk memberi perhatian kita kepada sesama. Kita hanya perlu melihat ke luar diri kita sendiri, di luar gadget kita, di luar media sosial kita, di luar tempat dan orang-orang yang memberi kita kenyamanan. Mungkin, anak-anak kita membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, seseorang yang dapat mendengarkan tanpa menghakimi. Mungkin, orang di samping kita mengalami hari yang buruk, dan senyum kecil kita dapat membantu secara signifikan. Bagaimanapun, Bunda Teresa dari Kalkuta pernah berkata, “Kita tidak akan pernah tahu semua kebaikan yang dapat dilakukan dengan senyum sederhana.”
Mari kita membuat misi hari ini untuk mengucapkan kata-kata baik dan melakukan perbuatan baik kepada seseorang yang membutuhkannya. Dan Bunda Teresa sekali lagi berkata, “Kata-kata yang baik bisa singkat dan mudah untuk diucapkan, tetapi gema mereka benar-benar tak ada habisnya.”
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Melakukan sesuatu untuk melayani Tuhan tentu baik dan terpuji. Dan karya-karya ini sangat banyak dan beragam. Tindakan-tindakan ini dapat secara langsung melayani Dia di Gereja, terutama dalam liturgi. Kita dapat berpartisipasi dalam ibadat sebagai anggota paduan suara, lektor, putra altar, asisten imam, atau bahkan sebagai imam yang mempersembahkan Ekaristi itu sendiri. Namun, kita juga dapat melayani Dia melalui sesama ketika kita terlibat dalam inisiatif amal untuk membantu orang miskin, untuk memperjuangkan keadilan dan perdamaian dan integritas ciptaan. Kita memiliki banyak cara, tetapi tujuannya adalah satu dan itu adalah untuk memuliakan Dia.
The journey from Jericho to Jerusalem was notoriously dangerous. The path was narrow, steep, filled by sudden turnings. The road became the favorite spot for the robbers to ambush any unguarded traveler. Some criminals were often violent, not only they took everything from the victims, but they would beat them mercilessly. Up to early twentieth century, some tourists and pilgrims were caught off guard when they passed this path, as their cars were ambushed and robbed. The brigands would swiftly escape before the police came.
Perjalanan dari Yerikho ke Yerusalem terkenal berbahaya. Jalan itu sempit, terjal, dipenuhi belokan mendadak sehingga jalan itu menjadi tempat favorit para perampok untuk menyergap setiap pejalan yang tidak siap. Beberapa penjahat sering melakukan kekerasan, bahwa mereka tidak hanya mengambil semua barang dari para korban, tetapi mereka juga akan memukuli mereka tanpa ampun. Hingga awal abad kedua puluh, beberapa turis dan peziarah menjadi korban ketika mereka melewati jalan ini. Setelah mobil para turis dirampok, para perampok akan dengan cepat melarikan diri sebelum polisi datang.
Ada tiga respons terhadap kesulitan dalam hidup. Yang pertama adalah menghindari atau melarikan diri. Yang kedua adalah menyerah pasrah. Yang terakhir adalah merangkul dan mengubahnya menjadi sarana pertumbuhan dan kemuliaan kita. Ini adalah kemuliaan yang tidak murahan karena mengalir dari kesulitan, kerja keras dan pengorbanan. Ini adalah kemulian sejati karena tidak bisa dibeli dengan uang tetapi diperoleh dari kucuran keringat, air mata dan bahkan darah.
Bentuk dasar dari kasih adalah ketaatan, dan tindakan sederhana dari kasih adalah mematuhi Hukum. Kita tidak bisa mengatakan, “Aku mencintaimu,” tetapi kita tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan sebagai seorang kekasih. Hal ini sama saja dengan sebuah kebohongan yang buruk. Seorang pria bertanya kepada seorang imam apakah boleh mengatakan “I love you” kepada pacarnya, selama masa Prapaskah, terutama selama hari-hari puasa dan pantang. Imam itu segera menjawab bahwa itu adalah pelanggaran terhadap Hukum Tuhan. Jawabannya mengejutkan pemuda itu, dan dia bertanya mengapa. Pastor itu menjawab, “Itu pelanggaran karena pasti kamu bohong kepada pacarmu!”
At the Last Supper, after Jesus washed the feet of the disciples, He gives them a new commandment: “love one another as I have loved you”. If there is one single, most beautiful line in the Gospel of John or even in the entire Bible, this would be one of the strongest candidates. However, why does Jesus give us a new commandment?
Pada Perjamuan Terakhir, setelah Yesus membasuh kaki para murid, Dia memberi mereka perintah baru: “Kasihanilah satu sama lain seperti Aku telah mengasihi kamu”. Namun, mengapa Yesus perlu memberi kita perintah baru?