Orang Kaya dan Lazarus

Renungan pada Minggu ke-26 pada Masa Biasa [C] – 29 September 2019 – Lukas 16: 19-31

The Rich Man and Lazarus - Luke 16:19-31

Sekali lagi, kita mendengarkan salah satu kisah Yesus yang sangat mengesankan. Ada seorang yang sangat kaya. Dia digambarkan sebagai seseorang yang berpakaian jubah ungu dan halus. Pada zaman itu, kain ungu yang halus adalah kemewahan tak terbayangkan, dan biasanya hanya bangsawan yang mampu membeli kain semacam ini. Sebelum adanya pewarnaan sintetis, pewarna ungu berasal dari siput Laut Mediterania, dan dibutuhkan ribuan siput hanya untuk mewarnai satu pakaian biasa. Pria kaya ini juga mengadakan pesta setiap malam. Pada zaman Yesus, di mana mayoritas harus bekerja keras untuk mendapatkan sedikit dan memiliki sesuatu untuk dimakan, untuk menikmati pesta setiap malam adalah sebuah kegilaan. Pada waktu itu, orang makan masih menggunakan tangan. Di rumah-rumah orang yang sangat kaya, mereka akan membersihkan tangan mereka dengan menyekanya pada roti yang kemudian dibuang. Ini adalah potongan roti yang diterima Lazarus.

Lazarus adalah bentuk latin dari kata Ibrani Eleazar, yang berarti “Tuhan adalah pertolongan saya.” Namun, tampaknya ia tidak mendapatkan banyak bantuan dari Tuhan selama masa hidupnya. Dia adalah seorang pengemis, dan sebagai orang yang hidup dengan kebersihan yang buruk, penyakit kulit datang dan menghancurkan tubuhnya. Bahkan anjing-anjing itu menjilati luka-lukanya. Dia sekarang tidak berbeda dari seekor anjing! Namun, Tuhan itu adil dan memberikan bantuan-Nya kepada Lazarus dalam kematiannya. Dia dibawa oleh malaikat ke pangkuan Abraham untuk menerima penghiburan, sementara pria super kaya terlempar ke neraka.

Ini adalah kisah yang mengingatkan kita bahwa sikap apatis dapat mengirim kita ke neraka. Orang kaya itu memiliki kekayaan luar biasa, namun ia menutup mata pada saudaranya yang sangat kesulitan. Akar apatis yang lebih dalam sebenarnya keegoisan kita. Kita hanya peduli pada diri sendiri. Kita perhatikan bagaimana orang kaya di neraka meminta Lazarus untuk memuaskan dahaga, hanya berpikir untuk memenuhi kebutuhan mendesaknya. Kemudian, pria kaya itu tiba-tiba ingat bahwa ia memiliki saudara laki-laki lain dan ia ingin Lazarus memperingatkan mereka. Hal ini mungkin ada sedikit empati, tetapi hal ini bisa menjadi tanda keegoisan yang lebih dalam. Dia ingin hanya mereka yang dekat dengannya yang diselamatkan. Dia tidak pernah mengucapkan kata maaf pada Lazarus. Dia hanya memikirkan dirinya bahkan saat di neraka.

 Tuhan membenci sikap apatis karena sikap apatis secara langsung bertentangan dengan belas kasihan-Nya. Kata Belas kasih dalam bahasa Latin adalah Misericordia, dan itu berarti hati kepada mereka yang menderita. Dalam Alkitab, jika ada satu hal yang selalu menggerakkan Tuhan, itu adalah ketika seseorang memohon belas kasihan. Paus Benediktus XVI mengingatkan kita bahwa Tuhan itu belas kasihan, dan Dia tidak bisa tidak berbelas kasih. Jadi, apatis melawan Tuhan; itu adalah penolakan dari surga.

Tentunya, kita tidak harus menyelesaikan semua masalah dunia; kita juga tidak harus menjadi orang terkaya di dunia untuk memberi perhatian kita kepada sesama. Kita hanya perlu melihat ke luar diri kita sendiri, di luar gadget kita, di luar media sosial kita, di luar tempat dan orang-orang yang memberi kita kenyamanan. Mungkin, anak-anak kita membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, seseorang yang dapat mendengarkan tanpa menghakimi. Mungkin, orang di samping kita mengalami hari yang buruk, dan senyum kecil kita dapat membantu secara signifikan. Bagaimanapun, Bunda Teresa dari Kalkuta pernah berkata, “Kita tidak akan pernah tahu semua kebaikan yang dapat dilakukan dengan senyum sederhana.”

Mari kita membuat misi hari ini untuk mengucapkan kata-kata baik dan melakukan perbuatan baik kepada seseorang yang membutuhkannya. Dan Bunda Teresa sekali lagi berkata, “Kata-kata yang baik bisa singkat dan mudah untuk diucapkan, tetapi gema mereka benar-benar tak ada habisnya.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Marta, Marta

Minggu Biasa ke-16 [C] – 21 Juli 2019 – Lukas 10:38-42

martha-and-mary-1Melakukan sesuatu untuk melayani Tuhan tentu baik dan terpuji. Dan karya-karya ini sangat banyak dan beragam. Tindakan-tindakan ini dapat secara langsung melayani Dia di Gereja, terutama dalam liturgi. Kita dapat berpartisipasi dalam ibadat sebagai anggota paduan suara, lektor, putra altar, asisten imam, atau bahkan sebagai imam yang mempersembahkan Ekaristi itu sendiri. Namun, kita juga dapat melayani Dia melalui sesama ketika kita terlibat dalam inisiatif amal untuk membantu orang miskin, untuk memperjuangkan keadilan dan perdamaian dan integritas ciptaan. Kita memiliki banyak cara, tetapi tujuannya adalah satu dan itu adalah untuk memuliakan Dia.

Dalam Injil hari ini, kita bertemu Marta dan Maria dari Bethania. Mereka berdua melayani Yesus dan mereka melakukannya sesuai dengan karakter unik mereka sendiri. Maria lebih pendiam dan mungkin seorang introvert, memilih untuk tetap dekat dengan Tuan dan mendengarkan-Nya. Sementara Marta, yang sebagian besar aktif dan mungkin ekstrovert, lebih suka memberi Yesus akomodasi terbaik. Keduanya ingin membuat Yesus merasa disambut dengan cara mereka sendiri. Namun, ada sedikit masalah. Tampaknya Yesus pilih kasih. Dia lebih menyukai Maria daripada Marta dan memberi tahu Marta bahwa Maria telah memilih bagian yang lebih baik.

Tentunya Yesus tidak pilih kasih, dan tentu saja itu bukan karena Maria lebih cantik dari Marta! Namun, kita masih harus menjelaskan pilihan Yesus. Pertama, kita perlu melihat bahwa keduanya baik, tetapi yang satu lebih baik dari yang lain karena sebuah alasan. Apakah tindakan mendengarkan lebih baik daripada memberi keramahan? Dalam konteks Yahudi kuno, memberikan keramahan pada seorang tamu adalah salah satu nilai utama. Kita ingat bagaimana Lot menawarkan bahkan putrinya sendiri untuk melindungi tamunya [lihat Kejadian 19]! Dengan standar ini, Marta melakukan hal yang lebih baik, tetapi Yesus berpendapat lain. Mengapa?

Sekali lagi, kita perlu lebih memahami Kitab Suci kita. Tindakan mendengarkan adalah tindakan mendasar baik dalam Perjanjian Lama maupun Baru. Setiap orang Yahudi yang saleh di zaman Yesus maupun di zaman sekarang, setiap hari mendaraskan doa syahadat yang mereka sebut sebagai “Shema Israel” – itu diambil langsung dari Ul 6: 4-5 “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Tindakan mendengarkan tidak hanya berarti mendengar suara dan menerima informasi, tetapi juga untuk mematuhi apa telah didengarkan. Yesus sendiri berkata, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. (Mat 7:24)” Maria mengambil bagian yang lebih baik karena dia telah mendengarkan Yesus yang adalah TUHAN, dan dia mendengarkan karena dia mengasihi TUHAN.

Marta memiliki sedikit masalah dengan pelayanannya karena dia memaksakan jalannya kepada Maria, mungkin dia berpikir cara pelayanannya adalah yang terbaik. Tetapi lebih dari itu, Marta menjadi terlalu terbebani dalam pelayanannya, dan Yesus menunjukkan bahwa Marta sendiri penuh kecemasan dan khawatir dengan banyak hal. Marta kehilangan tujuan pelayanannya; dia kehilangan Yesus dalam proses melayani. Betapa malang ya!

Belajar dari Maria dan Marta, kita dapat bertanya pada diri sendiri, “Apa gunanya pelayanan kita? Kemana kita akan pergi dengan banyak kegiatan yang kita miliki di Gereja? Apakah kita mendengar suara Kristus dalam pelayanan kita? Apakah kita benar-benar mencintai Yesus dalam pelayanan kita atau pada akhirnya kita melayani diri kita sendiri?”

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Martha, Martha

16th Sunday in Ordinary Time [C] – July 21, 2019 – Luke 10:38-42

To perform works to serve the Lord is certainly good and praiseworthy. And these works are numerous and varied. These acts may directly serve Him in the Church, especially during the liturgy. We may participate in the worship as the choir members, lectors, altar servers, ministers of the Holy Communion, or even as the presiders of the Eucharist itself, the priest. Yet, we may also serve Him through others as we involve in charitable initiatives to help the poor, to fight for justice and peace and integrity of creation. We have many ways, but the goal is one: to honor and glorify Him.

In today’s Gospel, we encounter Martha and Mary of Bethania. They both are serving Jesus, and they perform it according to their unique characters. Mary, more reserved and perhaps an introvert, chooses to stay close to the Master and listen to Him. While Marta, predominantly active and perhaps extrovert, prefers to provide Jesus with the best accommodation. Both want to make Jesus feel welcome in their way. However, there is a little problem. It seems that Jesus is playing little favoritism. He favors Mary over Martha and tells Martha that Mary has chosen a better part.

Surely Jesus does not play favoritism, and surely it is not because Mary is more beautiful than Martha!  Yet, we still have to explain Jesus’ choice. First, we need to see that both are good, but one is just happened to be better than the other. Is it the act of listening better than the act of giving hospitality? In an ancient Jewish context, to provide the hospitality to a guest is one of the prime values. We remember how Lot was offering even his daughters to protect his guests [see Gen 19]! By this standard, Martha is doing a better thing, but Jesus insists that it is not hers. Why?

Again, we need to understand better our Scriptures. The act of listening is fundamental in both Old and New Testament. Every devout Jew in the time of Jesus as well as in our time, daily prays a creedal prayer they call as “Shema Israel” – it was taken straight from Deu 6:4-5 “Hear, O Israel! The LORD is our God, the LORD alone! Therefore, you shall love the LORD, your God, with your whole heart, and with your whole being, and with your whole strength.” Acts of listening do not only mean to hear voices and receive information, but it is also to obey what one has heard. Jesus Himself says, “Everyone who listens to these words of mine and acts on them will be like a wise man who built his house on the rock. (Mat 7:24)” Mary is taking a better part because she has listened to Jesus, who is the LORD, and she listens because she loves her LORD.

Martha has a little problem with her service because she imposes her ways to Mary, perhaps thinking her way of service is the best one. But more than that, Martha becomes overburdened in her serving, and Jesus points out that Martha is anxious and worried with many things. Martha is losing the purpose of her service; she is losing Jesus in the process of serving. What a loss!

Learning from Mary and Martha, we may ask ourselves, “What is the point of our services? Where are we going with many activities we have in the Church? Do we hear the voice of Christ in our ministries? Do we love Jesus in our serving or we discover ourselves in the end?”

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Merciful Samaritan

Fifteenth Sunday of the Ordinary Time [C] – July 14, 2019 – Luke 10:25-27

do it anyway 2The journey from Jericho to Jerusalem was notoriously dangerous. The path was narrow, steep, filled by sudden turnings. The road became the favorite spot for the robbers to ambush any unguarded traveler. Some criminals were often violent, not only they took everything from the victims, but they would beat them mercilessly. Up to early twentieth century, some tourists and pilgrims were caught off guard when they passed this path, as their cars were ambushed and robbed. The brigands would swiftly escape before the police came.

When the teacher of the Law asks Jesus, “who is our neighbor whom we shall love?” Jesus offers him three models to imitate. They are a priest, a Levite and a Samaritan. The priest and the Levite are a privileged social class in ancient Jewish society. They are consecrated to serve in the Temple of Jerusalem. The priests who are the descendants of Aaron, are to accept sacrifice from the people and offer the sacrifice to the Lord at the altar. Meanwhile the Levites are assigned to take care of the temple, to do other liturgical services and assist the priests. Both the priest and the Levite represent a group of people who are dedicating themselves to the Lord, the Law and the Temple, who love their religion dearly. Meanwhile the Samaritan represents what the Jews hate. The pure Jews look down the Samaritans because they are products of intermarriage between unorthodox Jews and other pagan nations as well as idolaters who worship God plus other smaller gods.

By religious standard, the priest and the Levite outrank the Samaritan, but Jesus drops the nuclear bomb as He makes the Samaritan as the hero of the story. We may ask why the priest and Levite refuse to help? One reason is that the priest needs to be away from any blood or dead body, otherwise he would be impure for seven days and he will not be able to serve the Temple [see Num 19:11]. The Levi seems to do little better as he goes nearer to the victim, but he decided not to help perhaps because he is afraid that the guy just serves a decoy to ambush him. Here comes the Samaritan who helps without hesitation. Not only coming to his rescue, the Samaritan makes sure that the victim will be healed and recover, though he must spend his own resources.

Placing ourselves in the shoes of the Samaritan man, we know that his decision to help the victim is daring and even reckless. What if it was just a set-up for ambush? What if he runs out of money? What if the victim would never thank him and even hate him even more? Yet, this is what to love our neighbor means. To love someone is to show mercy and to show mercy means to give beyond what is due.

One of the memorable works Mother Teresa did in Calcutta was to establish a home for the dying. One day, she walked pass a hospital and saw a woman who terribly sick. The mother rushed her to the hospital. Yet, the person in the hospital refused her, saying, “there is no room for her in the hospital!” Mother Teresa stayed outside of the hospital, embracing the dying lady till she breathed her last. Since then, the saint promised that she would make sure that the dying would die with dignity. In the early days of this hospice, Mother Teresa was ridiculed and criticized, yet she and her sisters persevered because they knew that for those who were dying, this may be the last act of mercy they received before they passed away.

If we expect something big in return, it is not love, it is investment. If we just want to be appreciated after doing good, it is not love, it is a showoff. If we do not want to get hurt, it is not love, it is comfort zone. Love is tough, mercy is heroic.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Orang Samaria yang berbelas kasih

Minggu Biasa Kelima belas [C] – 14 Juli 2019 – Lukas 10: 25-27

do it anywayPerjalanan dari Yerikho ke Yerusalem terkenal berbahaya. Jalan itu sempit, terjal, dipenuhi belokan mendadak sehingga jalan itu menjadi tempat favorit para perampok untuk menyergap setiap pejalan yang tidak siap. Beberapa penjahat sering melakukan kekerasan, bahwa mereka tidak hanya mengambil semua barang dari para korban, tetapi mereka juga akan memukuli mereka tanpa ampun. Hingga awal abad kedua puluh, beberapa turis dan peziarah menjadi korban ketika mereka melewati jalan ini. Setelah mobil para turis dirampok, para perampok akan dengan cepat melarikan diri sebelum polisi datang.

Ketika ahli Hukum Taurat bertanya kepada Yesus, “siapakah sesama kita yang akan kita kasihi?” Yesus menyodorkan tiga model. Mereka adalah seorang imam, seorang Lewi dan seorang Samaria. Imam dan orang Lewi adalah kelompok istimewa dalam masyarakat Yahudi kuno. Mereka ditahbiskan untuk melayani di Bait Suci Yerusalem. Para imam yang merupakan keturunan Harun, akan menerima pengorbanan dari orang-orang Yahudi dan mempersembahkannya kepada Tuhan di altar. Sementara itu orang-orang Lewi mendapat tugas untuk mengurus Bait Allah, untuk melakukan pelayanan liturgi lainnya dan membantu para imam. Baik imam dan orang Lewi mewakili sekelompok orang terpilih yang mendedikasikan diri mereka kepada Tuhan, Hukum Taurat dan Bait Allah. Tanpa keraguan, mereka sangat mencintai agama mereka. Sementara itu, orang Samaria mewakili apa yang dibenci orang Yahudi. Orang-orang Yahudi memandang rendah orang-orang Samaria karena mereka dianggap sebagai produk perkawinan antara orang-orang Yahudi yang sesat dan bangsa-bangsa kafir lainnya. Orang Samaria juga dianggap sebagai para penyembah berhala karena menyembah Tuhan Yahwe tapi dengan tambahan dewa-dewa kecil lainnya.

Menurut standar agama Yahudi, imam dan orang Lewi jauh mengungguli orang Samaria, tetapi Yesus menjatuhkan bom nuklir ketika Ia menjadikan orang Samaria sebagai pahlawan dalam cerita. Kita mungkin bertanya mengapa imam dan orang Lewi menolak untuk membantu? Salah satu alasannya adalah bahwa imam harus menjauh dari darah atau mayat apa pun, jika tidak ia akan najis selama tujuh hari dan ia ingin melayani Bait Suci [lihat Bil 19:11]. Lewi tampaknya sedikit lebih baik ketika dia mendekati korban, tetapi dia mengurungkan niatnya mungkin karena dia takut orang itu hanya menjadi umpan untuk menyergapnya. Tetapi, orang Samaria datang dan membantu tanpa ragu-ragu. Tidak hanya datang menyelamatkannya, orang Samaria memastikan bahwa sang korban akan disembuhkan dan pulih, meskipun ia harus menghabiskan uangnya sendiri.

Menempatkan diri pada posisi orang Samaria, kita tahu bahwa keputusannya untuk membantu korban yang adalah orang Yahudi adalah sangat berani dan bahkan gegabah. Bagaimana jika itu hanya sebuah jebakan? Bagaimana jika dia kehabisan uang? Bagaimana jika korban tidak pernah mengucapkan terima kasih dan bahkan lebih membencinya? Namun, inilah arti mengasihi sesama kita. Mencintai seseorang berarti menunjukkan belas kasihan dan menunjukkan belas kasihan berarti memberi melampaui apa yang sudah seharusnya.

Salah satu karya yang tak terlupakan yang dilakukan Bunda Teresa di Kalkuta adalah membangun rumah bagi orang yang kritis. Suatu hari, dia berjalan melewati rumah sakit dan melihat seorang wanita sangat sakit. Sang suster bergegas membawanya ke rumah sakit. Namun, orang di rumah sakit menolaknya, mengatakan, “tidak ada ruang untuknya di rumah sakit!” Bunda Teresa tetap berada di luar rumah sakit, memeluk wanita yang sekarat itu sampai dia menghembuskan nafas terakhir. Sejak itu, suster Teresa berjanji bahwa dia akan memastikan bahwa orang dapat meninggal dengan martabat. Pada hari-hari awal karyanya ini, Bunda Teresa diejek dan dikritik, namun ia dan saudara-saudaranya bertahan karena mereka tahu bagi mereka yang kritis, ini mungkin merupakan belas kasih terakhir yang mereka terima sebelum mereka meninggal.

 Jika kita mengharapkan imbalan besar, itu bukan kasih, tapi investasi. Jika kita hanya ingin dihargai setelah berbuat baik, itu bukan kasih, itu hanya pamer. Jika kita tidak ingin terluka, itu bukan kasih, itu tidak lebih dari omong kosong. Kasih sesungguhnya itu tangguh, belas kasihan itu sesuatu yang heroik.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Salib dan Kemuliaan

Minggu Paskah ke-7 [2 Juni 2019] Yohanes 17: 20-26

“Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.” (Jn. 17:22)

Jesus christ in heavenAda tiga respons terhadap kesulitan dalam hidup. Yang pertama adalah menghindari atau melarikan diri. Yang kedua adalah menyerah pasrah. Yang terakhir adalah merangkul dan mengubahnya menjadi sarana pertumbuhan dan kemuliaan kita. Ini adalah kemuliaan yang  tidak murahan karena mengalir dari kesulitan, kerja keras dan pengorbanan. Ini adalah kemulian sejati karena tidak bisa dibeli dengan uang tetapi diperoleh dari kucuran keringat, air mata dan bahkan darah.

Adalah dorongan alami dalam diri manusia untuk menghindari apa yang menyakitkan dan untuk mengambil apa yang menyenangkan. Namun, paradoksnya adalah bahwa semakin kita merangkul kesulitan hidup, kita semakin didewasakan dan dikuatkan. Inilah kebijaksanaan yang telah diakui oleh orang-orang tempo dulu. Spartan adalah salah satu bangsa terkuat di semenanjung Yunani kuno. Ini karena mereka melatih anak-anak mereka dalam kesulitan. Pada usia 7 tahun, anak laki-laki diambil dari orang tua mereka dan menjalani pelatihan intens di barak sampai mereka mencapai usia 20 tahun. Salah seorang Spartan yang paling terkenal adalah Leonidas, raja kota Sparta. Saat Persia menyerang semenanjung Yunani, dia bersama dengan 300 prajurit pilihannya menahan pasukan Persia yang jauh lebih unggul selama tiga hari di Thermopylae. Ketika mereka kehilangan pertahanan mereka, Leonidas menolak untuk mundur, dan dengan 300 pasukannya mengorbankan nyawa mereka untuk memberi waktu yang cukup bagi orang-orang Yunani untuk berkumpul kembali dan melancarkan serangan balik. Leonidas menerima kemuliaan bukan karena kedudukannya sebagai raja, tetapi ia mau berkorban.

Kebijaksanaan ini mengajarkan bahwa kita jangan lari dari kesulitan hidup tetapi merangkul mereka dan membiarkan diri kita menjadi lebih kuat dan dewasa. Kalau tidak, kita bisa berubah menjadi generasi yang lembek dan tidak tahu berterima kasih. Para siswa tidak dapat menguasai keterampilan dan memperoleh pengetahuan sejati kecuali mereka tunduk pada disiplin studi. Atlet tidak dapat memenangkan medali, kecuali mereka berlatih dengan sangat intens.

Dalam Injil hari ini, Yesus menjanjikan kita, para murid-Nya, sebuah kemuliaan. Namun, ada perbedaan antara kemuliaan dunia dan kemuliaan Yesus. Sementara kemuliaan dunia pada akhirnya adalah tentang kemuliaan, kesuksesan dan keberhasilan pribadi kita, kemuliaan Yesus adalah tentang salib. Terutama dalam Injil Yohanes, waktu kemulian Yesus menunjuk pada salib-Nya. Yesus tidak pernah berbicara tentang Dia disalibkan, tetapi Dia dimuliakan.

Ketika Yesus menganggap salib-Nya sebagai kemuliaan-Nya, maka kita perlu menganggap salib harian kita sebagai kemuliaan kita. Pada zaman Yesus, tidak seorang pun akan menganggap bahwa salib, alat penyiksa Romawi yang brutal, akan berubah menjadi jalan kemuliaan. Salib adalah sebuah absurditas, dan hanya karean kehadiran Yesus yang mengorbankan hidup-Nya untuk kita, salib menemukan makna terdalamnya. Salib bukanlah apa-apa, kecuali itu diarahkan sebagai saran kasih cinta pengorbanan. Kapasitas kita untuk mengasihi ditentukan oleh kemampuan kita untuk memikul salib kita yakni kemampuan kita untuk menderita. Kita memikul salib kita, itu memperbesar kemampuan kita untuk mencintai. Saat kita mencintai sampai akhir, kita dapat menerima kemuliaan kita.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Requirement of Love

Sixth Sunday of Easter [May 26, 2019] John 14:23-29

“Whoever loves me will keep my word… (Jn. 14:23)”

adult and child hands holiding red heart, health care love and family concept

The basic form of love is obedience, and the minimum of love is to obey the Law. We can say “I love you”, but do not do what we ought to do as a lover. That’s a plain lie. A man asked a priest whether it is ok to say “I love you” during the Lenten season, especially during the days of fasting and abstinence. The priest immediately replied that it was a violation of God’s Law. The answer shocked the young man, and he asked why. The priest answered, “It is a violation because surely you tell a lie to your girlfriend!”

When we say that we love someone, but we fail to do what is required, we just hurt ourselves and the persons we love. When a child loves his mother, he will follow the instructions coming from his mother even though he does not understand why. Yet, sometimes, a child gets stubborn and refuses his mother’s plea to stop playing outside because it is time for study. This hurts the mother and father who have worked hard to pay the education and long for a better future for their son. In the long run, it also hurts the child and his future.

The same with our love for God, we need to do at least the basic, to observe His Law. From the Old Testament, we have ten commandments. We cannot say that we love the Lord, but we put our faith also in other “gods and idols”. We profess only one and true God, but we also believe in Horoscope, Feng Shui, and superstitions. We go to the Church every Sunday, but in our houses, we collect all kind of statues of animals for charm and luck. We believe in God who is just, but we steal the money or things from the government or the companies.

In the New Testament, we have the New Commandment: love one another as Jesus has loved us. Unfortunately, what we say is different from what we do. We attend the prayer meeting and shout to the top of our voices that we love Jesus, but we still are not able to forgive our enemies and still wish that they be dead. We pray the rosary regularly, but we do not even care for our ageing mothers at home. We say that we condemn the killing of the babies in other countries, but we get easily angry and make our wives as punching bags.

When we say that we love the Lord, but we do not keep His commandment, it hurts God’s heart. Perhaps, it is more hurtful than people who never say love at all to God. We can learn from our brothers and sisters who lived when the Church was still very young. Living in a hostile Roman Empire, they acknowledged that they were Christians means capital punishment. They were a good and a law-abiding citizen of Rome, except for one thing: they refused to worship Caesar. The Roman government believed that the unifying factor of the vast and diverse empire was the cult of the emperor as the embodiment of the Roman spirit. Any Roman citizen was required to offer incense and proclaimed, “Hail, Caesar is Lord.” Then, they may worship their other gods. Christians refused to do this because they loved Jesus dearly as their God, and as proof of their love, they were ready to offer their own lives.

It is the same with us. God loves us immensely that every time we do not observe His Law, we hurt God and make Him jealous. If we cannot do the essential requirement of love, our words are empty and our love cheap.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Persyaratan Kasih

Minggu Paskah keenam [26 Mei 2019] Yohanes 14: 23-29

“Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku… (Yoh. 14:23)”

old-people-handsBentuk dasar dari kasih adalah ketaatan, dan tindakan sederhana dari kasih adalah mematuhi Hukum. Kita tidak bisa mengatakan, “Aku mencintaimu,” tetapi kita tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan sebagai seorang kekasih. Hal ini sama saja dengan sebuah kebohongan yang buruk. Seorang pria bertanya kepada seorang imam apakah boleh mengatakan “I love you” kepada pacarnya, selama masa Prapaskah, terutama selama hari-hari puasa dan pantang. Imam itu segera menjawab bahwa itu adalah pelanggaran terhadap Hukum Tuhan. Jawabannya mengejutkan pemuda itu, dan dia bertanya mengapa. Pastor itu menjawab, “Itu pelanggaran karena pasti kamu bohong kepada pacarmu!”

Ketika kita mengatakan bahwa kita mencintai seseorang, tetapi kita gagal melakukan apa yang seharusnya dilakukan, kita hanya menyakiti diri sendiri dan orang yang kita cintai. Ketika seorang anak mencintai ibunya, dia akan mengikuti perintah yang datang dari ibunya meskipun dia tidak mengerti mengapa. Tetapi, kadang-kadang, seorang anak menjadi keras kepala dan menolak permintaan ibunya untuk berhenti bermain di luar karena sudah waktunya untuk belajar. Ini menyakitkan sang orang tua yang telah bekerja keras untuk membiayai pendidikan dan merindukan masa depan putra mereka yang lebih baik. Dalam jangka panjang, itu juga menyakiti anak dan masa depannya.

Sama dengan kasih kita kepada Tuhan, kita perlu melakukan setidaknya hal yang dasar yakni mematuhi Hukum-Nya. Dari Perjanjian Lama, kita memiliki sepuluh perintah Allah. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita mengasihi Tuhan, tetapi kita juga menaruh iman kita pada “dewa dan berhala” lainnya. Kita hanya mengakui Allah yang benar, tetapi kita juga percaya pada Horoskop, Feng Shui, dan takhayul. Kita pergi ke Gereja setiap hari Minggu, tetapi di rumah-rumah kita, kita mengumpulkan semua jenis patung binatang untuk keberuntungan. Kita percaya pada Tuhan yang adil, tetapi kita mencuri uang atau barang-barang dari pemerintah atau perusahaan.

Dalam Perjanjian Baru, kita memiliki Perintah Baru: saling mengasihi seperti Yesus telah mengasihi kita. Sayangnya, apa yang kita katakan berbeda dari apa yang kita lakukan. Kita menghadiri pertemuan doa dan berteriak dengan suara lantang bahwa kita mencintai Yesus, tetapi kita masih tidak dapat mengampuni musuh-musuh kita dan masih berharap bahwa mereka celaka. Kita berdoa rosario secara teratur, tetapi kita bahkan tidak peduli dengan ibu kita yang sudah lanjut usia di rumah. Kita mengutuk pembunuhan bayi-bayi di negara lain, tetapi kita dengan mudah marah dan menjadikan istri kita sebagai objek pelampiasan amarah kita.

Ketika kita mengatakan bahwa kita mengasihi Tuhan, tetapi kita tidak mematuhi perintah-Nya, itu menyakiti hati Tuhan. Mungkin, ini lebih menyakitkan daripada orang yang tidak pernah mengatakan cinta sama sekali kepada Tuhan. Kita dapat belajar dari saudara dan saudari kita yang hidup ketika Gereja masih sangat muda. Mereka hidup di Kekaisaran Romawi, dan dengan hanya mengakui bahwa mereka adalah umat Kristiani, ini berarti hukuman mati. Sebenarnya, mereka adalah warga negara Roma yang baik dan taat hukum, kecuali satu hal: mereka menolak untuk menyembah sang Kaisar. Pemerintah Romawi percaya bahwa faktor pemersatu kekaisaran yang luas dan beragam adalah pemujaan kaisar sebagai perwujudan dari semangat Romawi. Setiap warga negara Romawi diwajibkan untuk mempersembahkan dupa dan menyatakan, “Salam, Kaisar adalah Tuhan.” Kemudian, mereka dapat menyembah dewa-dewa mereka yang lain. Umat Kristiani menolak untuk melakukan ini karena mereka sangat mengasihi Yesus sebagai Tuhan mereka, dan sebagai bukti kasih mereka, mereka siap untuk mengorbankan hidup mereka sendiri.

Sama halnya dengan kita. Tuhan sangat mengasihi kita bahwa setiap kali kita tidak mematuhi Hukum-Nya, kita menyakiti Tuhan. Jika kita tidak dapat melakukan persyaratan dasar cinta kasih, kata-kata kita kosong dan cinta kita tidak ada artinya.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

New Commandment: Agape

5th Sunday of Easter [May 19, 2019] John 13:31-33a, 34-35

childrenAt the Last Supper, after Jesus washed the feet of the disciples, He gives them a new commandment: “love one another as I have loved you”. If there is one single, most beautiful line in the Gospel of John or even in the entire Bible, this would be one of the strongest candidates. However, why does Jesus give us a new commandment?

To understand what Jesus does in the Last Supper, we need to go back to the Old Testament, particularly when the Lord God gave His commandments. After the Lord God delivered Israel from the slavery of Egypt, He made a covenant with them through the mediation of Moses. They shall be God’s people and the Lord shall be their God. This was the fundamental step in the life of Israel because God formed them as the People of God. This was an unprecedented privilege and grace, but with great privilege comes the great responsibility. God wanted them to live as the People of God and not as the other nations that surrounded them. Thus, the Lord gave them the Law that would separate them from other peoples who worshiped false gods, and the most fundamental among these laws are the Ten Commandments. If they stubbornly failed to observe the Law and lived as if like the Gentiles, they would be cut off from the People of God.

At the Last Supper, Jesus does the same as His Father in the desert. He forms His disciples, His family, His Church by giving them a New Law, the Law of Love. Only when the disciples keep the New Law, they will be different from the rest of nations, and they may call themselves as the followers of Jesus. At first, we may perceive that Jesus’ new law is easier done than the Ten Commandment. Yet, when we go deeper to the meaning of love understood by Jesus, it is actually the opposite. Jesus’ Law is much more difficult and tougher to do. Why?

In Greek of the New Testament, there are several words for love. “Eros” is the love between husband and wife. “Philia” is love among friends. None of these two Jesus used to describe His love. It is “agape”. While eros and philia are love based on emotion, agape is love rooted in free will. It is the love of action. That is why Jesus is able to teach us to love our enemies. Jesus does not say we should like our enemies because it is naturally impossible, but we can still do good to our enemies despite the hatred and anger.

But, this agape is not just any agape, it is agape of Jesus. For Him, there is no greater love than one who lays down his life for his friends. Agape of Jesus is sacrificial. It is Jesus’ cross as well as His glory. Only when we love to the point of sacrifice, we may say that we have kept Jesus’ commandment.

Muelmar “Toto” Magallanes was a young Filipino who worked as a construction worker. In 2009, monstrous tropical storm Ondoy battered Metro Manila and caused an instant flood in many areas. When his area was flooded, Toto first brought to safety his family. Yet, he did not stop there. He decided to rescue others who were still trapped by the mighty water. Braving the strong current, he saved more than 30 people. He was already exhausted when he realized a mother and her baby were still in danger. He made his last rescue attempt and brought the mother and her baby to the higher ground. Yet, losing his strength, he was swept by the current. He was lifeless the following day. “He gave his life for my baby,” Menchie Penalosa, the child’s mother, told Agence France-Presse. “I will never forget his sacrifice.”

This is the new commandment of Jesus and only by keeping His Commandment, we can become His authentic disciples.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Perintah Baru: Agape

Minggu Paskah ke-5 [19 Mei 2019] Yohanes 13: 31-33a, 34-35

love new commandmentPada Perjamuan Terakhir, setelah Yesus membasuh kaki para murid, Dia memberi mereka perintah baru: “Kasihanilah satu sama lain seperti Aku telah mengasihi kamu”. Namun, mengapa Yesus perlu memberi kita perintah baru?

Untuk memahami apa yang Yesus lakukan dalam Perjamuan Terakhir, kita perlu kembali ke Perjanjian Lama, khususnya ketika Tuhan Allah memberikan Hukum-Nya. Setelah Tuhan Allah membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, Dia membuat perjanjian dengan mereka melalui perantaraan Musa. Mereka akan menjadi umat Tuhan dan Tuhan Allah akan menjadi Tuhan mereka. Ini adalah langkah mendasar dalam kehidupan Israel karena Allah membentuk mereka sebagai Umat-Nya. Ini adalah hak istimewa dan rahmat yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi dengan hak istimewa yang besar ini diikuti oleh tanggung jawab besar. Tuhan ingin mereka hidup sebagai Umat Allah dan bukan sebagai bangsa lain yang mengelilingi mereka. Jadi, Tuhan memberi mereka Hukum yang akan memisahkan mereka dari orang-orang lain yang menyembah dewa-dewa palsu, dan yang paling mendasar di antara hukum-hukum ini adalah Sepuluh Perintah Allah. Jika mereka dengan keras kepala gagal mematuhi Hukum Allah dan hidup seolah-olah seperti bangsa-bangsa lain, mereka akan disingkirkan dari Umat Allah.

Pada Perjamuan Terakhir, Yesus melakukan hal yang sama seperti Bapa-Nya di padang gurun. Dia membentuk murid-murid-Nya, keluarga-Nya, Gereja-Nya dengan memberi mereka Hukum Baru, Hukum Kasih. Hanya ketika para murid mematuhi Hukum Baru, mereka akan berbeda dari bangsa-bangsa lain, dan mereka dapat menyebut diri mereka sebagai pengikut Yesus. Pada awalnya, kita dapat merasakan bahwa hukum baru Yesus lebih mudah dilakukan daripada Sepuluh Perintah Allah. Namun, ketika kita masuk lebih dalam ke makna kasih yang dipahami oleh Yesus, kita mulai menyadari bahwa Hukum Yesus jauh lebih sulit untuk dilakukan. Mengapa?

Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, ada beberapa kata untuk kasih. “Eros” adalah kasih antara suami dan istri. “Philia” adalah kasih di antara teman-teman. Tidak satu pun dari kedua kata ini yang digunakan untuk menggambarkan kasih-Nya. Itu adalah “agape”. Sementara eros dan philia adalah cinta berdasarkan perasaan, agape adalah cinta yang berakar pada kehendak bebas. Itu adalah kasih tindakan. Itulah sebabnya Yesus dapat mengajar kita untuk mengasihi musuh kita. Yesus tidak mengatakan kita harus menyukai musuh kita karena itu secara alami tidak mungkin, tetapi kita masih bisa berbuat baik kepada musuh kita meskipun ada kebencian dan kemarahan.

Tetapi agape ini bukan sembarang agape. Bagi-Nya, tidak ada kasih/agape yang lebih besar daripada seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Agape Yesus adalah pengorbanan. Itu adalah salib Yesus dan juga kemuliaan-Nya. Hanya ketika kita mengasihi sampai pada titik pengorbanan, kita dapat mengatakan bahwa kita telah mematuhi perintah Yesus.

Muelmar “Toto” Magallanes adalah seorang pemuda Filipina yang bekerja sebagai pekerja konstruksi. Pada 2009, badai tropis Ondoy yang dahsyat menghantam Metro Manila dan menyebabkan banjir di banyak daerah. Ketika daerahnya dilanda banjir, Toto pertama-tama membawa keluarganya ke tempat aman. Namun, dia tidak berhenti di situ. Dia memutuskan untuk menyelamatkan orang lain yang masih terjebak. Menantang arus kuat, dia menyelamatkan lebih dari 30 orang. Dia sudah kelelahan ketika menyadari seorang ibu dan bayinya masih dalam bahaya. Dia melakukan upaya penyelamatan terakhirnya dan membawa ibu dan bayinya ke tempat yang lebih tinggi. Namun, kehilangan kekuatannya, ia tersapu oleh arus. Dia ditemukan tak bernyawa pada hari berikutnya. “Dia memberikan hidupnya untuk bayiku,” Menchie Penalosa, ibu yang bayinya diselamatkan, mengatakan kepada Agence France-Presse. “Aku tidak akan pernah melupakan pengorbanannya.”

Ini adalah perintah baru Yesus dan hanya dengan mematuhi Perintah-Nya, kita dapat menjadi murid-murid-Nya yang otentik.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP