King of Mercy

The Solemnity of Our Lord Jesus Christ, King of the Universe [A]

November 22, 2020

Matthew 25:31-46

To be the subject of a king is a foreign experience for many of us. I was born in Indonesia, and our country is a republic, and we espouse democracy to elect our leader. Some of us are citizens of kingdoms like Great Britain, Belgium, Thailand, and Japan, but the kings or queens here are serving under the constitution. When we speak of absolute monarchs, we are reminded of the powerful ancient kingdoms like Assyrian, Babylonian, and Persian empires. Here, the king’s words are the highest law, and disobedient to the king’s wish is acts of treason. Surprisingly, we still have some existing absolute monarchs in our time, like Brunei, Saudi Arabia, and the Vatican!

Today we are celebrating the solemnity of Jesus Christ, the King of the Universe. Yet, it is a bit difficult to imagine Christ as a king. He never wears a crown except for thorns. He never sat on the throne except for the cross. And, He never possessed an army except for a bunch of coward disciples.  Is Jesus truly a king? The answer is an absolute yes. Jesus, as the king, is one of the dominant topics in the Gospels. Angel Gabriel announces to Mary, “the Lord God will give to him [Jesus] the throne of his ancestor David. He will reign over the house of Jacob forever, and of his kingdom there will be no end. [Luk 1:32-33]” One of the criminals crucified with Jesus cries, “Jesus, remember me when you come into your kingdom. [Luk 23:42]” And throughout His public ministry, Jesus is tirelessly proclaiming and building the kingdom of God.

In today’s Gospel, Jesus reveals that he is not just an ordinary king, not just a king among many kings. He is the king of kings, and only He can bring people to eternal life and everlasting damnation. We are reminded that since Jesus is the king of the universe, we are all His subjects. However, whether we are good subjects or bad ones, we still have to choose. Like with other kingdoms, we still need to at least two basic things: acknowledging Jesus as our king and being His loyal servant.

The good news is that He does not require us, His subjects, to wage war against other countries or pay taxes! He is the king of mercy, and thus, His order is: do the Works of Mercy. In the Catholic tradition, there are seven corporal works of mercy. These are: to feed the hungry, give water to the thirsty, clothe the naked, shelter the homeless, visit the sick, visit the imprisoned, and bury the dead. The seven corporal works of mercy are not complete with the seven spiritual works of mercy. These are: to instruct the ignorant, counsel the doubtful, admonish the sinners, bear patiently those who wrong us, forgive offenses, comfort the afflicted, and pray for the living and the dead.

Doing these are not always easy, but it is necessary because it proves our loyalty to the great king. Negligence to do works of mercy brings a serious consequence: to be expelled from the kingdom. The choice is ours, and the time is now.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: robert nyman

Raja Belas Kasih

Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus, Raja Semesta Alam [A]

22 November 2020

Matius 25: 31-46

Menjadi abdi seorang raja adalah pengalaman asing bagi banyak dari kita. Saya lahir di Indonesia, dan negara kita adalah republik dan kita menjunjung demokrasi sebagai cara untuk memilih pemimpin kita. Mungkin kita pernah ke negara kerajaan seperti Inggris, Belgia, Thailand, dan Jepang, tetapi raja atau ratu di sini juga berdasarkan konstitusi atau undang-undang dasar. Ketika kita berbicara tentang monarki absolut, kita diingatkan tentang kerajaan kuno yang kuat seperti kerajaan Asyur, Babel, dan Persia. Di sini perkataan raja adalah hukum tertinggi, dan tidak mematuhi keinginan raja adalah tindakan pengkhianatan. Sebenarnya, kita masih memiliki beberapa monarki absolut yang ada di zaman kita, seperti Kerajaan Brunei, Arab Saudi dan Vatikan!

Hari ini kita merayakan Hari Raya Yesus Kristus, Raja Semesta Alam. Namun, agak sulit membayangkan Kristus sebagai seorang raja. Dia tidak pernah memakai mahkota kecuali dari duri. Dia tidak pernah duduk di singgasana kecuali salib. Dan, Dia tidak pernah memiliki pasukan kecuali sekelompok murid-murid yang pengecut. Apakah Yesus benar-benar seorang raja? Jawabannya ya! Faktanya, Yesus sebagai raja adalah salah satu topik dominan dalam Injil. Malaikat Gabriel menyatakan kepada Maria, “…Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,  dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan [Luk 1: 32-33].” Salah satu penjahat yang disalibkan bersama Yesus berseru, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja [Luk 23:42].” Dan sepanjang pelayanan publik-Nya, Yesus tanpa lelah mewartakan dan membangun kerajaan Allah.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengungkapkan bahwa dia bukan hanya raja biasa, bukan hanya raja di antara banyak raja. Dia adalah raja dari segala raja, dan hanya Dia yang dapat membawa orang ke kehidupan kekal atau maut yang abadi. Kita diingatkan bahwa karena Yesus adalah raja alam semesta, kita semua adalah abdi-Nya. Namun, kita tetap harus memilih, apakah kita abdi yang baik atau buruk. Seperti halnya kerajaan lainnya, kita masih melakukan setidaknya dua hal dasar: mengakui Yesus sebagai raja kita dan menjadi abdi-Nya yang setia.

Kabar baiknya adalah untuk menjadi abdi-Nya yang setia, Dia tidak menuntut kita untuk berperang melawan negara lain, atau bahkan membayar pajak! Dia adalah raja belas kasih, dan dengan demikian, perintah-Nya adalah: lakukan karya-karya Belas Kasih. Dalam tradisi Katolik, ada tujuh karya belas kasih jasmani. Ini adalah: memberi makan yang lapar, memberi air kepada yang haus, memberi pakaian bagi yang telanjang, melindungi para tunawisma, mengunjungi yang sakit, mengunjungi yang dipenjara, dan menguburkan yang meninggal. Tujuh karya belas kasih jasmani tidak lengkap tanpa tujuh karya belas kasih rohani. Ini adalah: Menasihati orang yang ragu-ragu, mengajar orang yang belum tahu, menegur pendosa, menghibur orang yang menderita, mengampuni orang yang menyakiti, menerima dengan sabar orang yang menyusahkan, dan berdoa untuk orang yang hidup dan mati.

Melakukan hal-hal ini tidak selalu mudah, tetapi perlu karena itu membuktikan kesetiaan kita kepada sang raja agung. Kelalaian melakukan perbuatan belas kasih membawa konsekuensi serius: diusir dari kerajaan. Pilihan ada di tangan kita dan waktunya sekarang.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: Arturo Rey

Kerendahan Hati dan Kesombongan Rohani

Minggu ke-26 dalam Masa Biasa [A]

27 September 2020

Matius 21: 28-31

Untuk memahami perumpamaan tentang dua anak laki-laki pemilik kebun anggur ini, kita perlu membaca seluruh Matius pasal 21. Yesus baru saja memasuki kota Yerusalem dan disambut oleh orang-orang dengan teriakan “Hosana” dan ranting palem. Kemudian, Dia pergi ke area Bait Allah untuk menyucikannya dari malpraktek yang terjadi. Jadi, para penatua dan imam kepala, yang bertanggung jawab atas Bait Allah, mempertanyakan Yesus, “siapa kamu? Dengan wewenang apa Anda bertindak demikian? ”

Jadi, Yesus menjawab mereka melalui perumpamaan. Perumpamaan ini berbicara tentang dua anak laki-laki; yang pertama mewakili para penatua dan yang kedua mewakili para pemungut pajak dan pelacur. Namun, yang mengejutkan para tetua adalah mereka  menjadi antagonis dari cerita tersebut. Yang memperparah adalah para sesepuh praktis berada dalam kondisi yang lebih buruk dari para pemungut pajak, karena mereka masih jauh dari kebun anggur, dari keselamatan. Namun, alih-alih bertobat, para penatua menjadi marah dan memutuskan untuk menghabisi Yesus selamanya.

Pertanyaannya adalah “mengapa pemungut cukai bisa bertobat sedangkan yang penatua tidak?” Jawabannya ada hubungannya dengan dua kekuatan yang saling bertentangan: di satu sisi adalah kerendahan hati dan yang lainnya adalah kesombongan rohani. Kita mulai dengan kesombongan rohani. Berdasarkan tradisi Gereja, kesombongan adalah yang paling mematikan dari tujuh dosa maut. St. Thomas Aquinas menjelaskan bahwa kesombongan adalah “hasrat berlebihan atas keunggulan diri sendiri dan akhirnya menolak tunduk kepada Tuhan.” Singkatnya, manusia yang sombong menganggap diri mereka lebih baik daripada yang lain. Apa yang membuat kesombongan begitu berbahaya adalah kesombongan membuat orang berpikir bahwa mereka mandiri dan bahkan tidak membutuhkan Tuhan.

Kesombongan juga sangat susah dideteksi karena dapat mengakar bahkan dalam hal-hal rohani. Kita tidak bisa mengatakan bahwa saya bernafsu untuk berdoa, tetapi kita bisa sombong dengan kehidupan rohani kita. Kita melihat diri kita lebih suci dan lebih saleh daripada orang lain berdasarkan standar kita.

Lawan dari kesombongan adalah kerendahan hati. Menurut St. Thomas Aquinas, kerendahan hati adalah keutamaan yang “mengolah jiwa, sehingga tidak menghasratkan yang lebih dari kodratnya.” Singkatnya, kerendahan hati adalah penangkal kesombongan rohani. Kerendahan hati dalam bahasa Latin “humilitas” berakar dari kata “humus” yang berarti tanah. Orang yang rendah hati mengenali identitas mereka yang berasal dari debu, dan nafas kehidupan serta kesempurnaan adalah anugerah Tuhan. Kerendahan hati ini akan mendatangkan rasa syukur karena kita menyadari bahwa meskipun hanya debu, Tuhan sangat murah hati dan penuh belas kasihan kepada kita.

Namun, kadang kita membingungkan antara menjadi rendah hati dengan menjadi minder. Minder itu kurang percaya diri dan biasanya lari dari tanggung jawab, karena belum dewasa. Minder berakar pada citra diri yang tidak lengkap dan bahkan terdistorsi. Sementara kerendahan hati dimulai dengan pemahaman yang benar tentang diri kita sendiri, bahwa kita secara sempurna dikasihi oleh Tuhan. Orang yang rendah hati adalah orang yang kuat karena hanya yang kuat yang bisa mengakui dosa-dosanya. Orang yang rendah hati adalah orang yang dewasa karena hanya yang dewasa yang bisa mengakui kelemahannya, meminta maaf, dan meminta bantuan. Pria dan wanita yang rendah hati adalah orang yang tangguh karena mereka bisa memaafkan walaupun itu sangat sulit.

Tuhan, berikan aku kerendahan hati, agar aku mengikuti kehendak-Mu yang suci.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pride and Humility

26th Sunday in Ordinary Time [A]

September 27, 2020

Matthew 21:28-31

Reading the entire Matthew chapter 21, we will get the sense of the parable of the two sons of the vineyard owner. Jesus just entered the city of Jerusalem and was welcomed by the people with a shout of “Hosanna” and palm branches. Then, he proceeded to the Temple area to cleanse it from the malpractices plaguing the holy ground. Thus, the elders and chief priests, the one who was in charge of the Temple, questioned Jesus, “who are you? By what authority do you act and teach?”

Thus, Jesus answered them through a parable. This parable speaks of two sons; the first representing the elders and the second the tax collectors and prostitutes. Yet, to the surprise of the elders, far from being the protagonists of the story, they turn to be the villains. To add insult to the injury, the elders were practically in the worse condition than these tax collectors, because they are still far from the vineyard, from salvation. However, instead of repenting, the elders got infuriated and decided to finish Jesus once for all.

The question is “why were the tax collectors able to repent while the elders were not?” The answer is something to do with two opposing powers: at one side of the ring is humility and the other is pride. We begin with pride. Based on the Church’s tradition, pride is the deadliest of seven deadly sins. St. Thomas Aquinas explained that pride is “an excessive desire for one’s own excellence which rejects subjection to God.” In short, proud men regard themselves better than others to the point of contempt. What makes pride so dangerous, it may lead even people to think they are self-sufficient and has no need even of God.

Pride is extremely subtle because it can take root even in spiritual matters. We cannot say that I am lustful for prayer, but we can be proud of our spiritual life. We see ourselves holier and more pious than others based on our standards.

At the opposite corner is humility. According to St. Thomas Aquinas, humility is a virtue that “temper and restrain the mind, lest it tends to high things immoderately.” In short, humility is the antidote of pride. Humility is rooted in the Latin word “humus” meaning soil. Humble persons recognize their identity as coming from the dust, and the breath of life and perfections are gifts of God. This humility will bring gratitude because we realized that despite nothing but dust, God is boundlessly generous and merciful to us.

However, humility and cowardice are often confused. Cowardice manifests in low self-esteem, lack of confidence, and poor in responsibility. Cowardice is rooted in incomplete and even distorted self-image. While humility begins with the right understanding of the self, that we are gratuitously loved by God. Humble people are strong people because only strong ones can confess their sins. Humble persons are mature persons because only mature ones are able to own their weakness, say sorry, and ask for help. Humble men and women are tough people because it is hard to forgive.

 

Lord, grant us humility, that we may follow Your holy will.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Parable of Mercy

25th Week in Ordinary Time [A]

September 20, 2020

Matthew 20: 1-16

lambros-lyrarakis vineyard 2

Among the many parables of Jesus, this parable of the owner of the vineyard is one that I find difficult to understand. Every time I read this parable, I always felt that something was wrong. Perhaps, I easily associate myself with the first-coming workers, who work from morning to sunset. They are laborers who spend their time and energy under the heat of the sun and give their efforts to meet the demands of the vineyard owner. However, they receive the same wages as those who only offer one hour of work. Of course the owner of the vineyard did not break the contract, but there still seemed to be injustice.

Maybe, this experience is like when I was studying in Manila. I was studying hard to get the best that I could achieve. Indeed, I got good grades, but what I could not accept was when my classmates who did not spent much effort, got also the same grades as I did. For me, It was not fair, but I could drop my complaint because the final grade is the prerogative of the professor.

However, things started to look different when I became a teacher myself. At one point, I needed to give my students final grades. And this is the utmost dilemma for me because I realize that on the one hand, I need to provide justice, but on the other hand, I want all my students to pass and graduate. Finally, I often chose compassion and allowed my struggling students to pass. I am fully aware that some of my students will feel that I am unfair, and that is the burden I must bear as a lecturer who chooses to be compassionate.

If we try to look closely at what vineyard owner is doing, we will find it funny and even weird. He kept looking for and hiring new persons almost every three hours. To make matters worse, he gave the same daily wages for all. In the economy and business, overspending and excess labor are a recipe for bankruptcy! However, the owner of the vineyard did not seem to care and was constantly looking for laborers. Perhaps, he knew very well that if these people were without jobs, they would starve to death, but if they worked and received less than the minimum wage, they wouldn’t be able to survive either. He couldn’t satisfy everyone, but at least he would be able to save everyone.

Learning from this parable, rather than complaining to God, we need to rejoice because our Lord is full of mercy, who even takes the initiative and seeks to seek out those of us who need salvation, and who willingly give eternal life even to those who have not lived well, but at the last moment repent.

 We should rejoice because in God’s eyes, we are all the last workers to beg mercy. Who knows, the workers who come first are actually the angels, and we really are the last unworthy laborers. With our sin, we all deserve to go to hell, but God stretches out His hand and opens the Gates of Heaven. We should rejoice that heaven is not a lonely place where few righteous people deserve it, but it is full of grateful people who enjoy God’s mercy even if they are not worthy.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pic: lambros lyrarakis

Perumpamaan Kerahiman

Minggu ke-25 dalam Waktu Biasa [A]

20 September 2020

Matius 20: 1-16

Di antara banyak perumpamaan Yesus, perumpamaan tentang pemilik kebun anggur yang satu ini adalah perumpamaan yang sulit saya pahami. Setiap saya membaca perumpamaan ini, saya selalu merasa ada yang tidak beres. Mungkin, saya dengan mudah mengasosiasikan diri dengan pekerja yang pertama datang, yang bekerja dari pagi hingga matahari terbenam. Mereka adalah para buruh yang menghabiskan waktu dan energi mereka di bawah terik matahari dan mengerahkan upaya mereka untuk memenuhi tuntutan pemilik kebun anggur. Namun, mereka menerima upah yang sama dengan mereka yang hanya memberikan satu jam kerja. Tentunya pemilik kebun anggur tidak melanggar kontrak, tapi tetap sepertinya ada ketidakadilan.

Mungkin, pengalaman ini seperti saat saya masih kuliah di Manila. Saya belajar keras untuk mendapatkan yang terbaik yang bisa saya raih. Memang, saya mendapat nilai baik, tetapi yang membuat saya tidak terima adalah ketika teman-teman sekelas saya yang saya tahu bahwa mereka pas-pasan, mendapat nilai yang sama dengan saya. Bagi saya, itu tidak adil, tetapi saya tidak dapat melayangkan keluhan saya karena nilai akhir adalah hak prerogatif dosen.

Namun, hal ini mulai terlihat berbeda ketika saya menjadi dosen. Pada satu titik, saya perlu memberi nilai akhir kepada siswa saya. Dan ini adalah saat yang paling dilematis bagi saya karena saya menyadari bahwa di satu sisi, saya perlu memberikan keadilan, tetapi di sisi lain, saya ingin semua siswa saya lulus dan berhasil. Akhirnya, saya lebih sering memilih belas kasihan dan mengizinkan murid-murid saya yang pas-pasan untuk lulus. Saya sepenuhnya sadar bahwa beberapa siswa saya akan merasa bahwa saya tidak adil, dan itulah beban yang harus saya tanggung sebagai dosen yang memilih untuk berbelas kasihan.

Jika kita mencoba melihat dengan teliti apa yang dilakukan pemilik kebun anggur, kita akan menganggapnya lucu dan bahkan aneh. Dia terus mencari dan memperkerjakan orang baru hampir setiap tiga jam. Lebih parah lagi, dia memberikan upah harian yang sama untuk semua. Dalam ekonomi dan bisnis, pengeluaran berlebihan dan kelebihan tenaga kerja adalah resep kebangkrutan! Tapi, si pemilik kebun anggur sepertinya tidak peduli dan terus mencari tenaga kerja. Mungkin, dia tahu betul jika orang-orang ini tanpa pekerjaan, mereka akan mati kelaparan, namun jika mereka bekerja dan menerima kurang dari upah minimum, mereka juga tidak akan bisa bertahan hidup. Dia tidak bisa memuaskan semua orang, tapi setidaknya dia akan bisa menyelamatkan semuanya.

Belajar dari perumpamaan ini, daripada mengeluh kepada Tuhan, kita perlu bersukacita karena Tuhan kita penuh belas kasihan, yang bahkan Dialah berinisiatif dan berupaya untuk mencari kita yang membutuhkan keselamatan, dan yang dengan sedia memberikan kehidupan kekal bahkan bagi mereka yang selama hidupnya tidak baik, tetapi pada saat terakhir bertobat.

 Kita harus bersukacita karena dalam mata Tuhan, kita semua adalah pekerja terakhir yang memohon belas kasihan pemilik kebun anggur. Siapa tahu, pekerja yang datang pertama sebenarnya adalah para malaikat, dan kita benar-benar pendatang terakhir yang tidak layak. Dengan dosa kita, kita semua pantas masuk neraka, tapi Tuhan mengulurkan tangan-Nya dan membuka Gerbang Surga. Kita harus bersukacita bahwa surga bukanlah tempat yang sepi di mana hanya sedikit orang benar yang layak mendapatkannya, tetapi surga penuh dengan orang-orang yang bersyukur yang menikmati belas kasihan Tuhan walau tidak layak.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Picture: Maja Patric

Belas Kasih: Jalan Kehidupan

Minggu ke-24 di Masa Biasa [A]

13 September 2020

Matius 18: 21-35

josue-escoto-UkpYNiJyx8A-unsplash

Minggu lalu, Injil berbicara tentang bagaimana perlu menegur saudara kita yang berdosa. Jika seorang saudara berdosa kepada kita, kita wajib memberikan koreksi dalam kasih. Minggu ini, Injil berbicara tentang apa yang harus kita lakukan jika seseorang yang telah menerima koreksi, bertobat dan meminta pengampunan. Jawabannya sederhana: kita memaafkannya, dan kita merangkulnya kembali ke dalam persekutuan.

Simon Petrus mencoba untuk mengesankan Guru-nya. Dia menyatakan bahwa dia bersedia memaafkan hingga tujuh kali. Simon Petrus ingin menunjukkan kepada Yesus bahwa dia juga mampu memiliki standar yang tinggi. Yang mengejutkan adalah Yesus tidak terkesan, dan pada kenyataannya, mengajarkan kepada para murid keutamaan lainnya yakni tentang keadilan, belas kasihan dan pengampunan.

Kali ini, Yesus mengajar dengan metode favorit-Nya: menceritakan sebuah perumpamaan, dan kita akan menghargai perumpamaan ini jika kita dapat mengenali konteks sejarah dan hal yang tidak terduga. Seorang hamba berhutang 10.000 talenta kepada seorang raja. Pada zaman Yesus, talenta adalah koin emas yang berharga, dan itu setara dengan 6.000 dinar. Satu dinar sendiri setara dengan upah satu hari kerja. Jadi, hamba ini berhutang 60.000.000 hari kerja kepada tuannya [atau sekitar 160.000 tahun kerja!]. Yang paling mengejutkan bukanlah jumlah hutang sang hamba, tetapi sikap sang raja yang dengan mudah mengampuni dan menghapus seluruh hutang ketika hamba memohon belas kasihan.

Oleh karena itu, ketika raja menerima berita bahwa hamba yang telah dimaafkan ini menolak untuk mengampuni sesama hamba yang memiliki hutang yang jauh lebih kecil [100 dinar], kemarahannya dapat dibenarkan, dan belas kasihannya berubah menjadi keadilan.

Dengan bercermin pada perumpamaan ini, kita memahami bahwa di hadapan Tuhan Allah, kita tidak berbeda dengan hamba ini. Kita tidak berhak mendapatkan apapun dari Tuhan kecuali satu hal: neraka! Dosa telah menghancurkan hubungan kita dengan Tuhan, dan kita menciptakan lubang yang sangat dalam. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk menutup celah yang tidak terbatas ini. Hanya Tuhan yang mahakuasa yang memiliki kemampuan untuk membangun jembatan yang mustahil diseberangi ini. Syukurlah, Yesus telah meyakinkan kita bahwa Bapa-Nya juga adalah kerahiman itu sendiri. Meskipun kita tidak pantas mendapatkan apa-apa selain neraka, Tuhan telah membukakan pintu surga bagi kita.

Karena tidak ada yang bisa mendapatkan belas kasihan Tuhan, kerahiman-Nya selalu cuma-cuma, tetapi tidak berarti hal ini murahan. Tuhan ingin kita melakukan sesuatu juga untuk menerima belas kasihan-Nya. Dia mau kita untuk berbelas kasihan. Dia mengampuni kita, maka kita juga perlu mengampuni mereka yang telah menyakiti kita. Yesus sendiri mengingatkan kita bahwa kita harus berbelas kasihan seperti Bapa kita di surga yang penuh belas kasihan [Luk 6:36]. Berbelas kasihan bukanlah sekedar pilihan. Sesungguhnya, keadilanlah yang akan diterapkan pada kita di penghakiman terakhir.

Kita tahu bahwa mengampuni itu sulit, tetapi sekali lagi kita bisa belajar dari Yesus bagaimana cara mengampuni. Di kayu salib, Dia berkata, “Bapa, ampunilah mereka; karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan [Luk 23:34]. ” Langkah pertama adalah berdoa untuk orang-orang yang telah bersalah kepada kita. Dengan sering berdoa, kita melatih hati kita untuk melepaskan amarah dan kepahitan kita, dan bahkan belajar mengasihi seperti Tuhan mengasihi orang-orang yang memusuhi Dia.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mercy is the Option

24th Sunday in Ordinary Time [A]

September 13, 2020

Matthew 18:21-35

felix-koutchinski-QARM_X5HWyI-unsplash

 

Last Sunday, the Gospel spoke about the fraternal correction. If a brother has offended us, we are obliged to offer charitable correction. This Sunday, the Gospel tells us what to do if a person who has received a correction, is repenting and asking for forgiveness. The answer is simple: we forgive him, and we embrace him back into the communion.

Simon Peter, the spokesperson of the disciples, is trying to impress his Master. He offers that he is willing to forgive up to seven times. Simon Peter wants to show Jesus that he is also capable of having a high standard. To his surprise, Jesus is not impressed, and in fact, teaches the disciples another great lesson about justice, mercy and forgiveness.

This time, Jesus pulls out His favorite method: telling a parable, and we will appreciate the parable if we are able to recognize the historical context and its surprise. A servant owes 10,000 talents to a king. In Jesus’ time, talent is a precious gold coin, and it equals to 6,000 denarii. One denarius itself is equivalent to a wage of one day labor. Thus, this servant owes 60,000,000 days of work to His Master [or around 160,000 years of work!]. Yes, despite the unthinkably fantastic amount of debt, the king easily forgives and erases the entire debt when the servant begs for mercy. This king’s attitude is even more insane!

Therefore, when the king receives the news that this forgiven servant refuses to forgive another fellow servant with infinitely smaller debt [100 denarii], his anger is justifiable, and expectedly, his mercy turns to justice.

Reflecting this parable, we understand that before the Lord God, we are no different from this servant. We deserve nothing from the Lord except one thing: hell! Sin has destroyed our relationship with God, and we created an infinitely bottomless pit. Finite as we are, nothing we can do to close the infinite gap. Only the infinitely powerful God possesses the ability to build the impossible bridge. Fortunately, Jesus has assured us that His Father is also the Mercy Himself. Though we deserve nothing but hell, God has opened the gate of Paradise to us.

Since nobody can earn God’s mercy, His mercy is always free, but it does not mean it is cheap. God wants us to do something also to receive His mercy. He expects us to be merciful. If He forgives us, then we need to forgive those who have hurt us. Jesus Himself reminds us that we should be merciful as our Father in heaven is merciful [Luk 6:36]. Being merciful is not an option. In fact, it is the justice that will be applied to us in the final judgment.

We know that to forgive is tough, but again we may learn from Jesus how to forgive. At the cross, He said, “Father, forgive them; for they do not know what they are doing [Luk 23:34].” The first step is to pray for those people who have offended us. By praying often, we train our heart to let go of our anger and bitterness, and even to learn to love the way God loves even those people who wish Him not to exist at all.

Valentinus Bayuhadi Ruseno

Divine Mercy

Second Sunday of Easter [A]

April 19, 2020

John 20:19-31

ViaDolorosa0181The second Sunday of Easter is also known as the Divine Mercy Sunday. The liturgical celebration of the Divine Mercy Sunday is declared in the year 2000 by Pope St. John Paul II who had a strong devotion to the Divine Mercy revealed to St. Faustina. Though the feast itself is something recent, the truth of divine mercy is fundamental in the Bible and Sacred Tradition. If there is one prevailing character of God, it is not other than mercy. In the Old Testament, there are at least two Hebrew words that can be translated as mercy. One is rāḥam and the other is ḥeṣedh.

The word Raham is closely related to a woman’s womb. It is the feeling and action that flow from the womb, the source and nurturer of new life. Mercy comes from the realization that we belong to the same womb, that we are siblings. Thus, when one of our brothers is suffering or struggling with a difficulty, we easily empathize with him and are moved to alleviate his hardship. Yet, mercy can be also understood as a maternal impulse towards someone who has come from her womb. It is the genuine yearning that moves a mother to do anything for her children. Mercy in this sense, I believe, is more proper to God. He cannot but be merciful and embrace our sufferings and even weakness because we are coming from God’s spiritual womb. No wonder, the Church dare asserts that we are God’s children.

The word “Hesedh” is also a powerful word and it may mean a steadfast love or a relentless fidelity to a covenant. Our God is a person who is unthinkably bold to tie Himself to a covenant with weak humans like Adam and his descendants. Because of this, the Bible is nothing but a story of a faithful God who gives Himself to unfaithful men and women. From Adam who failed to his duty to guard the garden, down to Peter who denied Jesus three times, humanity is terribly disloyal, but God remains faithful and offers His forgiveness to rebuild the shattered relationship.

The choice of the Second Sunday of Easter to be the Divine Mercy is an excellent decision because the Gospel speaks powerfully how God’s mercy operates. The risen Jesus appeared to the disciples and gave them the authority to forgive sins. This is the story of the institution of the sacrament of reconciliation. Forgiveness is the first and foremost manifestation of mercy. Though the authority to forgive belongs properly to God, the risen Christ has willed that this authority is shared with His apostles. Since the apostles are the first bishops, the same power is handed down to their successors. And the bishops shared this divine power and responsibility to their co-workers, the priests.

The Gospel begins with the disciples who were afraid. They were afraid for many reasons, but one of the strongest reasons was that they were afraid of Jesus. They have abandoned and been unfaithful to Him, and they heard that Jesus has risen. They thought that it was the time of judgment, time to get even. Yet, Jesus appeared and His first word is not a word of anger or judgment, but “peace” or “shalom”. The disciples should no longer be afraid and be at peace because despite their unfaithfulness because they have been forgiven.

The Easter season begins with the assurance that God is merciful and offering us the forgiveness we do not deserve. And this season invites us to forgive more because we are forgiven, to become the apostles of peace because we have received peace from Jesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kerahiman Ilahi

Minggu Kedua Paskah [A]

19 April 2020

Yohanes 20: 19-31

confession at streetHari Minggu Paskah kedua juga dikenal sebagai Minggu Kerahiman Ilahi. Perayaan Minggu Kerahiman Ilahi ditetapkan pada tahun 2000 oleh St. Yohanes Paulus II yang memiliki devosi khusus kepada kerahiman Ilahi yang diwahyukan kepada St. Faustina. Meskipun perayaan liturgi ini sendiri adalah sesuatu yang baru, kebenaran akan kerahiman Ilahi adalah sesuatu yang mendasar dalam Alkitab dan Tradisi Suci. Jika ada satu karakter Allah yang paling penting, ini tidak lain adalah kerahiman-Nya. Dalam Perjanjian Lama, setidaknya ada dua kata Ibrani yang dapat diterjemahkan sebagai kerahiman. Yang satu adalah rāḥam dan yang lainnya adalah ḥeṣedh.

Kata “Raham” terkait erat dengan rahim wanita. “Raham” adalah perasaan dan tindakan yang mengalir dari rahim yang adalah sumber dan pemelihara kehidupan baru. Kerahiman datang dari kesadaran bahwa kita berasal dari rahim yang sama, bahwa kita bersaudara. Maka, ketika salah satu saudara kita menderita atau bergulat dengan kesulitan, kita dengan mudah berempati dan tergerak untuk meringankan kesulitannya. Namun, “raham” dapat juga dipahami sebagai perasaan keibuan terhadap seseorang yang telah datang dari rahimnya. Perasaan tulus inilah yang menggerakkan seorang ibu untuk melakukan segalanya untuk anak-anaknya. Kerahiman dalam pengertian ini lebih pantas bagi Tuhan. Dia tidak bisa tidak berbelas kasih dan merangkul penderitaan dan bahkan kelemahan kita karena kita datang dari “rahim rohani” Tuhan. Tidak heran, Gereja berani mengajarkan bahwa kita adalah anak-anak Allah.

Kata “Hesedh” juga merupakan kata yang penting dan ini bisa berarti kasih yang teguh atau kesetiaan yang tak kenal batas. Tuhan kita adalah pribadi yang sangat berani mengikat diri-Nya pada sebuah perjanjian dengan manusia yang lemah seperti Adam dan keturunannya. Karena itu, jika kita rangkum isi Alkitab, ini tidak lain adalah sebuah kisah tentang Allah yang setia yang memberikan diri-Nya kepada manusia yang tidak setia. Dari Adam yang gagal menjalankan tugasnya untuk menjaga taman, sampai ke Petrus yang menyangkal Yesus tiga kali, umat manusia terkenal sebagai makhluk yang sulit untuk setia. Namun, Tuhan tetap setia dan memberikan pengampunan-Nya untuk membangun kembali hubungan yang hancur karena ulah manusia ini.

Pilihan Minggu Kedua Paskah untuk menjadi Minggu kerahiman Ilahi adalah keputusan yang sangat tepat karena Injil berbicara bagaimana kerahiman Ilahi beroperasi. Yesus yang bangkit menampakkan diri kepada para murid dan memberi mereka wewenang untuk mengampuni dosa. Ini adalah kisah tentang institusi sakramen rekonsiliasi. Pengampunan adalah manifestasi pertama dan utama dari kerahiman. Meskipun otoritas untuk mengampuni adalah milik Allah, Kristus yang bangkit telah menghendaki bahwa otoritas ini dibagikan kepada para rasul-Nya. Karena para rasul adalah para uskup pertama, kuasa yang sama diberikan kepada penerus mereka. Dan para uskup membagikan kuasa Ilahi dan tanggung jawab ini kepada rekan kerja mereka, para imam.

Injil dimulai dengan para murid yang takut. Mereka takut karena banyak sebab, tetapi salah satu alasan terkuat adalah mereka takut kepada Yesus. Mereka telah meninggalkan dan tidak setia kepada-Nya, dan mereka mendengar bahwa Yesus telah bangkit. Mereka berpikir bahwa ini adalah saat penghakiman, saat untuk membalas dendam. Namun, Yesus menampakkan diri dan kata-kata pertamanya bukanlah kata kemarahan atau penghakiman, tetapi “damai” atau “shalom”. Para murid seharusnya tidak lagi takut dan damai karena terlepas dari ketidaksetiaan mereka karena mereka telah diampuni.

Masa Paskah dimulai dengan jaminan bahwa Allah berbelas kasih dan menawarkan kepada kita pengampunan yang tidak pantas kita terima. Dan masa ini mengundang kita untuk lebih mengampuni karena kita telah diampuni, dan untuk menjadi rasul perdamaian karena kita telah menerima kedamaian dari Yesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP