Minggu Paskah Kedua [28 April 2019] Yohanes 20: 19-31
Hari ini adalah Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Dari Injil, Yesus membentuk sakramen rekonsiliasi saat Ia menganugerahkan Roh Kudus-Nya kepada para Murid. Dia memberi mereka otoritas ilahi untuk mengampuni (dan tidak mengampuni) dosa dan mengutus mereka sebagai pekerja Kerahiman. Meskipun benar bahwa hanya imam yang dapat melayani sakramen pengakuan dosa, setiap murid Kristus dipanggil untuk menjadi pekerja Kerahiman dan pengampunan. Namun, bagaimana kita akan menjadi pembawa Kerahiman dan Pengampunan? Kita perlu memahami dulu dinamika antara rasa takut dan kedamaian.
Rasa takut adalah salah satu emosi paling mendasar manusia. Itu membuat kita lari dari bahaya yang akan datang dan biasanya, hal ini baik dan perlu untuk kelangsungan hidup kita. Namun, yang unik dengan kita manusia adalah bahwa objek rasa takut bukan hanya bahaya benda nyata secara fisik seperti gempa bumi, api, atau binatang berbisa, tetapi meluas ke penilaian moral. Ketika kita melakukan kesalahan, kita takut akan penghakiman serta konsekuensinya. Dan seringkali terlalu takut pada penghakiman dan hukuman, kita melarikan diri dan bersembunyi. Sejatinya, kisah ketakutan adalah kisah primordial kita. Kita mengingat orang tua pertama kita, Adam dan Hawa. Setelah mereka melanggar Hukum Allah, mereka menyadari bahwa mereka telah sangat berdosa terhadap Tuhan, dan takut akan hukuman Tuhan, mereka bersembunyi. Kita menjumpai juga bahwa murid-murid Yesus sendiri takut dan bersembunyi seperti halnya Adam dan Hawa.
Para murid mengunci diri di dalam ruangan karena mereka takut. Namun, ketakutan yang sebenarnya bukan dari otoritas Yahudi atau pasukan Romawi, tetapi dari penghakiman Yesus. Kita ingat bahwa Yudas menyerahkan Yesus kepada otoritas Yahudi, Petrus, sang pemimpin, menyangkal Yesus tiga kali, dan sebagian besar murid melarikan diri. Bahkan sebelum saat-saat genting Yesus, mereka telah meninggalkan Sang Guru dan Mesias mereka. Di pengadilan militer, seorang prajurit yang meninggalkan tentaranya, terutama saat pertempuran, dianggap sebagai pengkhianat tidak hanya bagi tentara, tetapi juga bagi seluruh bangsa, dan ia layak menerima hukuman mati. Para murid bersembunyi karena takut bahwa Yesus akan membawa hukuman berat-Nya, dan membalas mereka. Para murid takut bahwa Yesus akan datang kapan saja, mengutuk mereka, dan melemparkan bola api ke atas mereka.
Sungguh, Yesus datang kepada mereka, tetapi ia tidak membawa penghukuman tetapi karunia damai, “Shalom”. Kedamaian ini hanya terjadi karena pengampunan. Namun, kedamaian ini tidak terlahir dari absennya penghakiman, tetapi justru dari penghakiman yang diambil Yesus. Hanya saat para murid mengenali dan mengakui kesalahan mereka yang mengerikan, mereka akan menghargai pengampunan dan kerahiman Yesus. Tanpa penghakiman, kedamaian hanya akan menjadi fatamorgana, dan ketakutan masih berkuasa.
Untuk menjadi pekerja Kerahiman, pertama-tama kita berani mengucapkan penghakiman. Jika kita berpura-pura dosa tidak pernah terjadi, dan terus mengatakan pada diri kita sendiri bahwa semuanya baik-baik saja, kita menipu diri kita sendiri dan tidak pernah menerima rasa damai yang sesungguhnya. Seperti halnya dokter yang tidak dapat menyembuhkan pasien kecuali ada diagnosis yang benar, kita tidak dapat benar-benar memaafkan kecuali ada penghakiman yang benar.
Baru minggu lalu, beberapa pelaku bom bunuh diri meledakkan diri di beberapa gereja di Sri Lanka dan membunuh ratusan jemaat. Seorang suster, yang kehilangan beberapa anggota komunitasnya dalam ledakan itu, menulis surat terbuka kepada para pelaku. Dengan berani dia menyatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah tindakan terorisme, kejahatan yang tak berprikemanusiaan. Namun, dia mengingatkan mereka bahwa umat Katolik tidak akan takut karena kita tahu bagaimana cara mengampuni. Dia mengatakan bahwa Gereja Katolik tetap menjadi Gereja dengan pintu terbuka karena kita tidak takut untuk menyambut semua orang termasuk mereka yang mencoba menghancurkan Gereja.
Tidak ada kedamaian tanpa pengampunan, dan tidak ada pengampunan dan belas kasihan tanpa yang benar.
Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Adultery is a serious sin according to the Law of Moses. It is a violence against the Basic Law, the Ten Commandments. It is in fact, one of the few crimes that are punishable by death [Lev 20:10]. Why so cruel? It is a grave sin because adultery profanes the holiness of marriage and the gift of sexuality. In the Book of Genesis, God has willed that man and woman through marriage and their sexuality participate in God’s work of creation and caring of creation. Since marriage is a sacred calling, violation to this holy mission is an utmost insult to God who calls man and woman into marriage.
Perzinahan adalah dosa serius menurut Hukum Musa. Ini adalah pelanggaran terhadap Sepuluh Perintah Allah. Pezinahan adalah satu dari sedikit dosa yang bisa dihukum mati [Im 20:10]. Kenapa begitu kejam? Ini adalah dosa besar karena perzinahan mencemarkan kekudusan pernikahan dan karunia seksualitas. Dalam Kitab Kejadian, Tuhan menghendaki pria dan wanita melalui pernikahan dan seksualitas mereka berpartisipasi dalam karya penciptaan. Karena pernikahan adalah panggilan suci, pelanggaran terhadap misi suci ini adalah salah satu penghinaan terbesar bagi Allah yang memanggil pria dan wanita ke dalam pernikahan.
Perumpamaan tentang Anak yang Hilang adalah salah satu kisah Yesus yang paling mengharukan dan telah dianggap sebagai yang paling disukai. Mengapa? Saya kira salah satu alasannya adalah kisah Anak yang Hilang adalah kisah hidup kita juga.
One time, during a Bible class I facilitated, one of the participants asked me, “how was Peter able to recognize that it was Moses who stood beside Jesus during the Transfiguration?” It was a valid question, and yet I personally never thought of it. I thought of with several possible answers. Perhaps, Moses appeared bringing two stone tables of the Law. Perhaps, as Jesus was conversing with Moses and Elijah, Peter was able to pick up the names. Perhaps, the divine inspiration enlightened Peter’s mind on the identity of Moses. Eventually, I have to answer, “When you go to heaven, don’t forget to ask both Peter and Moses.”
Suatu kali, saat saya mengajar kelas Alkitab, salah satu peserta bertanya kepada saya, “bagaimana Petrus dapat mengenali Musa adalah yang berdiri di samping Yesus saat Transfigurasi?” Itu adalah pertanyaan yang valid, namun saya pribadi tidak pernah memikirkan. Saya datang dengan beberapa kemungkinan jawaban. Mungkin, Musa muncul membawa dua loh batu Taurat. Mungkin, ketika Yesus berbicara dengan Musa dan Elia, Petrus dapat mengambil nama-nama itu. Mungkin, ilham ilahi menerangi pikiran Petrus tentang identitas Musa. Akhirnya, saya harus menjawab, “Ketika Anda pergi ke surga, jangan lupa untuk bertanya kepada Petrus dan Musa!”
I made my religious vow more than eight years ago with 12 other Dominican brothers. One of the most touching moments within this rite of the religious profession was when Fr. Provincial asked us, “What do you seek?” and we all prostrated, kiss the ground, and declared, “God’s mercy and yours!” After a brief moment, Fr. Provincial asked us to stand, and we began professing our vows before him. As I recall this defining moment in my life, I am pondering in my heart, “Why it has to be mercy?” Why do we not choose other Christian virtues? Why not fortitude, one of the cardinal virtues in the Christian tradition? Why not love, the greatest of all virtues?
Saya mengucapkan kaul lebih dari delapan tahun yang lalu bersama dengan 12 frater lainnya. Salah satu momen paling menyentuh dalam ritual profesi religius ini adalah ketika Romo Provinsial bertanya kepada kami, “Apa yang kamu cari?” Dan kami semua bersujud dan berbaring di lantai, sambil berseru, “Belas kasih Tuhan dan juga komunitas!” Setelah beberapa saat, Pastor Provinsi meminta kami untuk berdiri, dan kami mulai mengucapkan kaul kami di hadapannya. Saat saya mengingat momen yang penting ini, saya merenungkan dalam hati saya, “Mengapa harus meminta belas kasih?” Mengapa kita tidak memilih keutamaan lainnya? Mengapa tidak keadilan, yang adalah salah satu keutamaan penting dalam tradisi Kristiani? Mengapa tidak cinta kasih, yang adalah keutamaan terbesar dari semua keutamaan?
Our Gospel today speaks of the mission of the Twelve. They are sent to perform the threefold task: to exorcise the evil spirits, to heal the sick and to preach repentance. This threefold missionary duty reflects Jesus’ mission also in the Gospel according to Mark. To facilitate their preaching ministry, they need to travel light. No extra baggage, no extra burden. They need to travel two by two as a sign of communal and ecclesial dimension of the mission. They shall depend also their sustenance on the generosity of the people. And, when they face rejection, they shall shake the dust off their feet as a symbolic judgment against those who reject them. In ancient time, the Jews shake the dust off their feet when they reenter the Israel soil from the Gentile territories, as a sign of disowning and disapproval of the Gentiles nations.
Injil hari ini berbicara tentang misi dua belas rasul. Mereka dikirim untuk melakukan tiga tugas pokok: mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit dan memberitakan pertobatan. Misi ini mencerminkan misi Yesus dalam Injil Markus. Untuk memfasilitasi misi mereka, mereka perlu melakukan perjalanan dengan ringan. Mereka perlu melakukan perjalanan berdua-dua yang menandakan dimensi komunal dan eklesial misi Yesus. Mereka akan bergantung juga pada kemurahan hati orang-orang yang mereka layani. Ketika mereka menghadapi penolakan, mereka akan mengebaskan debu dari kaki mereka sebagai peringatan simbolis terhadap mereka yang menolaknya. Pada zaman itu, orang-orang Yahudi mengebaskan debu dari kaki mereka ketika mereka masuk kembali ke tanah Israel dari wilayah non-Yahudi, sebagai tanda penolakan dan ketidaksetujuan mereka terhadap bangsa-bangsa non-Yahudi.